Hipotesis Korelatif pada
Skala Pengukuran
Numerik dan Kategorik
Memahami hubungan antar variabel melalui pengujian hipotesis korelatif
dengan pendekatan statistik yang tepat
Pengenalan Skala Pengukuran Data
Nominal
Kategori tanpa urutan (contoh: jenis kelamin, warna
favorit)
Ordinal
Kategori dengan urutan bermakna (contoh: tingkat
kepuasan, peringkat)
Interval
Numerik dengan jarak tetap, tanpa nol absolut (contoh:
suhu Celsius)
Rasio
Numerik dengan nol absolut bermakna (contoh: tinggi,
berat badan)
Pemahaman skala pengukuran menjadi fondasi penting dalam memilih metode analisis statistik yang tepat untuk penelitian.
Skala Numerik vs Kategorik
Skala Numerik
Karakteristik:
• Data kuantitatif dengan nilai bermakna
• Jarak antar nilai dapat diukur
• Operasi matematika dapat dilakukan
Contoh: Tinggi badan (170 cm), suhu (25°C), pendapatan (Rp
5 juta)
Skala Kategorik
Karakteristik:
• Data kualitatif berlabel
• Tidak memiliki jarak numerik bermakna
• Operasi matematika terbatas
Contoh: Jenis kelamin (laki-laki/perempuan), tingkat
pendidikan, status pernikahan
Hipotesis Korelatif pada
Skala Numerik
Fokus Analisis
Mengukur hubungan antar variabel numerik untuk menentukan
kekuatan dan arah korelasi
Metode Pengujian
Menggunakan uji korelasi statistik yang sesuai dengan karakteristik
distribusi data
Interpretasi Hasil
Nilai korelasi menunjukkan kekuatan hubungan dari lemah hingga
kuat, positif atau negatif
Uji Pearson (Pearson Product Moment)
Definisi dan Fungsi
Uji Pearson mengukur korelasi linear antara dua variabel interval atau
rasio. Metode ini paling umum digunakan untuk data numerik yang
berdistribusi normal.
Rentang Nilai Korelasi
r = +1: Korelasi positif sempurna
r = 0: Tidak ada korelasi
r = -1: Korelasi negatif sempurna
Semakin mendekati ±1, semakin kuat hubungan linear antar variabel.
Contoh Aplikasi
Mengukur korelasi antara tinggi
badan dan berat badan seseorang.
Biasanya menghasilkan korelasi
positif yang kuat (r 0,7-0,9)
≈
Contoh Kasus Uji Pearson
01
Validitas Instrumen
Menggunakan korelasi Pearson untuk menguji validitas item kuesioner dengan skor total
02
Kriteria Keputusan
Item dengan nilai korelasi 0,25 dianggap valid dan dapat digunakan dalam penelitian
≥
03
Uji Reliabilitas
Menggunakan Cronbach Alpha untuk mengukur konsistensi internal instrumen
04
Standar Reliabilitas
Instrumen dianggap reliabel jika nilai Cronbach Alpha >0,50 (baik jika >0,70)
Uji Spearman Rank
Kapan Menggunakan Spearman?
• Data ordinal (berperingkat)
• Data numerik tidak berdistribusi normal
• Hubungan tidak linear tetapi monotonic
• Terdapat outlier yang ekstrem
Keunggulan
Lebih robust terhadap outlier dan tidak mengharuskan
asumsi normalitas data seperti Pearson.
Contoh Kasus
Penelitian: Hubungan antara peringkat kepuasan
pelanggan (sangat tidak puas hingga sangat puas)
dengan frekuensi pembelian ulang per bulan.
Metode: Data kepuasan diurutkan dalam
peringkat, kemudian dihitung korelasi Spearman.
Uji Gamma
Definisi
Ukuran asosiasi khusus untuk
menganalisis hubungan antara dua
variabel ordinal
Rentang Nilai
Nilai gamma berkisar dari -1
(asosiasi negatif sempurna) hingga
+1 (asosiasi positif sempurna)
Interpretasi
Gamma = 0 menunjukkan tidak ada
asosiasi. Semakin mendekati ±1,
semakin kuat hubungannya
Uji Gamma lebih sensitif terhadap pola hubungan ordinal dibanding Spearman, terutama untuk tabel kontingensi dengan
banyak kategori.
Visualisasi Korelasi Numerik
Scatter Plot - Uji Pearson
Grafik titik-titik data dengan garis regresi linear menunjukkan
kekuatan dan arah hubungan
Diagram Peringkat - Spearman & Gamma
Visualisasi peringkat data ordinal untuk melihat pola hubungan
monotonic antar variabel
Hipotesis Korelatif pada
Skala Kategorik
Fokus Penelitian
Menguji hubungan dan asosiasi
antara dua atau lebih variabel
kategorik (nominal atau ordinal)
Metode Pengujian
Menggunakan uji asosiasi untuk
mengukur kekuatan hubungan
dalam tabel kontingensi
Berbeda dengan korelasi numerik, uji kategorik tidak mengukur
hubungan linear tetapi menguji independensi dan kekuatan asosiasi antar
kategori.
Uji Contingency Coefficient
Koefisien Kontingensi
Tabel Kontingensi
Data disusun dalam tabel silang baris
× kolom
Perhitungan
Mengukur asosiasi berdasarkan chi-
square
Interpretasi
Nilai 0 = tidak ada asosiasi, maksimum
bergantung ukuran tabel
Contoh Aplikasi
Studi: Menguji hubungan antara jenis kelamin (laki-laki/perempuan) dan preferensi produk (A, B, C, D). Koefisien
kontingensi mengukur seberapa kuat hubungan antara kedua variabel kategorik ini.
Uji Lambda
Karakteristik Uji Lambda
Lambda adalah ukuran asosiasi asimetris untuk variabel kategorik
nominal yang mengukur pengurangan kesalahan prediksi.
Cara Kerja
Lambda menghitung seberapa besar pengetahuan tentang variabel
independen dapat mengurangi kesalahan dalam memprediksi
kategori variabel dependen.
Rentang Nilai
λ = 0: Tidak ada asosiasi (prediksi tidak membaik)
λ = 1: Asosiasi sempurna (prediksi 100% akurat)
Contoh Kasus Uji Lambda dan Kontingensi
Desain Penelitian
Menguji hubungan status pekerjaan
(karyawan tetap, kontrak, freelance)
dengan pilihan produk asuransi (A, B, C)
Analisis Lambda
Nilai lambda = 0,65 menunjukkan
mengetahui status pekerjaan
mengurangi kesalahan prediksi pilihan
produk sebesar 65%
Interpretasi Hasil
Koefisien kontingensi = 0,48
mengindikasikan asosiasi moderat
antara status pekerjaan dan preferensi
produk
Perbandingan Uji Korelasi
Uji Statistik Jenis Skala Rentang Nilai Fungsi Utama
Pearson Interval/Rasio -1 hingga +1 Korelasi linear
Spearman Ordinal/Numerik -1 hingga +1 Korelasi monotonic
Gamma Ordinal -1 hingga +1 Asosiasi ordinal
Kontingensi Nominal/Ordinal 0 hingga maks Asosiasi kategorik
Lambda Nominal 0 hingga 1 Prediksi kategori
Langkah-Langkah Pengujian Hipotesis Korelatif
Merumuskan Hipotesis
H0: Tidak ada hubungan/korelasi antara variabel
H1: Ada hubungan/korelasi antara variabel
Memilih Uji Statistik
Tentukan uji yang sesuai berdasarkan skala pengukuran data dan asumsi statistik
Menentukan Tingkat Signifikansi
Tetapkan nilai α (biasanya 0,05 atau 0,01) sebagai batas toleransi kesalahan
Menghitung Statistik Uji
Hitung nilai korelasi/asosiasi dan p-value menggunakan software statistik
Pengambilan Keputusan
Tolak H0 jika p-value < α, kemudian interpretasikan kekuatan dan arah hubungan
Studi Kasus Lengkap
Kasus 1: Uji Pearson
Data: Tinggi badan (cm) dan berat badan (kg) dari 100 responden
Hasil: r = 0,82, p < 0,001
Interpretasi: Terdapat korelasi positif yang sangat kuat dan signifikan antara tinggi badan dan berat badan. H0
ditolak.
Kasus 2: Uji Lambda
Data: Jenis kelamin dan preferensi produk dari 200 responden
Hasil: λ = 0,45, p = 0,002
Interpretasi: Mengetahui jenis kelamin mengurangi kesalahan prediksi preferensi produk sebesar 45%. H0
ditolak.
Kesalahan Umum dalam Pengujian Korelasi
Kesalahan Pemilihan Uji
Menggunakan Pearson untuk data ordinal atau tidak
normal. Solusi: Periksa skala data dan asumsi sebelum
memilih uji.
Mengabaikan Asumsi Normalitas
Uji Pearson memerlukan distribusi normal. Solusi:
Lakukan uji normalitas (Shapiro-Wilk, Kolmogorov-
Smirnov) terlebih dahulu.
Salah Interpretasi Korelasi
Korelasi tidak sama dengan kausalitas. Perhatian: r = 0,9
menunjukkan hubungan kuat, bukan sebab-akibat.
Mengabaikan Outlier
Outlier sangat mempengaruhi Pearson. Solusi:
Identifikasi dan tangani outlier, atau gunakan Spearman.
Diagram Alur Pemilihan Uji Korelasi
Tidak Normal
Pakai Spearman
Normal
Pakai Pearson
Numerik
Periksa normalitas
Tipe Data
Ringkasan dan Takeaway
Pemahaman Skala
Identifikasi skala pengukuran (nominal, ordinal, interval,
rasio) adalah langkah pertama yang krusial
Uji untuk Data Numerik
Pearson untuk data normal, Spearman untuk data tidak
normal/ordinal, Gamma untuk ordinal
Uji untuk Data Kategorik
Kontingensi untuk mengukur asosiasi umum, Lambda
untuk prediksi kategori nominal
Manfaat Hipotesis Korelatif
Mengungkap hubungan antar variabel untuk pengambilan
keputusan berbasis data
Pemilihan uji yang tepat dan interpretasi hasil yang akurat adalah kunci keberhasilan analisis korelatif dalam penelitian.
Matur Tengkiu,
Jazakumullahu Khoiran
Barakallahu Fiikum
Pertanyaan dan Diskusi
Silakan ajukan pertanyaan terkait
materi hipotesis korelatif yang
telah disampaikan
Sumber dan Bacaan
Lanjutan
Field, A. (2018). Discovering
Statistics Using IBM SPSS
Agresti, A. (2018). Statistical
Methods for the Social Sciences
Pallant, J. (2020). SPSS Survival
Manual

Hipotesis-Korelatif-pada-Skala-Pengukuran-Numerik-dan-Kategorik.pptx

  • 1.
    Hipotesis Korelatif pada SkalaPengukuran Numerik dan Kategorik Memahami hubungan antar variabel melalui pengujian hipotesis korelatif dengan pendekatan statistik yang tepat
  • 2.
    Pengenalan Skala PengukuranData Nominal Kategori tanpa urutan (contoh: jenis kelamin, warna favorit) Ordinal Kategori dengan urutan bermakna (contoh: tingkat kepuasan, peringkat) Interval Numerik dengan jarak tetap, tanpa nol absolut (contoh: suhu Celsius) Rasio Numerik dengan nol absolut bermakna (contoh: tinggi, berat badan) Pemahaman skala pengukuran menjadi fondasi penting dalam memilih metode analisis statistik yang tepat untuk penelitian.
  • 3.
    Skala Numerik vsKategorik Skala Numerik Karakteristik: • Data kuantitatif dengan nilai bermakna • Jarak antar nilai dapat diukur • Operasi matematika dapat dilakukan Contoh: Tinggi badan (170 cm), suhu (25°C), pendapatan (Rp 5 juta) Skala Kategorik Karakteristik: • Data kualitatif berlabel • Tidak memiliki jarak numerik bermakna • Operasi matematika terbatas Contoh: Jenis kelamin (laki-laki/perempuan), tingkat pendidikan, status pernikahan
  • 4.
    Hipotesis Korelatif pada SkalaNumerik Fokus Analisis Mengukur hubungan antar variabel numerik untuk menentukan kekuatan dan arah korelasi Metode Pengujian Menggunakan uji korelasi statistik yang sesuai dengan karakteristik distribusi data Interpretasi Hasil Nilai korelasi menunjukkan kekuatan hubungan dari lemah hingga kuat, positif atau negatif
  • 5.
    Uji Pearson (PearsonProduct Moment) Definisi dan Fungsi Uji Pearson mengukur korelasi linear antara dua variabel interval atau rasio. Metode ini paling umum digunakan untuk data numerik yang berdistribusi normal. Rentang Nilai Korelasi r = +1: Korelasi positif sempurna r = 0: Tidak ada korelasi r = -1: Korelasi negatif sempurna Semakin mendekati ±1, semakin kuat hubungan linear antar variabel. Contoh Aplikasi Mengukur korelasi antara tinggi badan dan berat badan seseorang. Biasanya menghasilkan korelasi positif yang kuat (r 0,7-0,9) ≈
  • 6.
    Contoh Kasus UjiPearson 01 Validitas Instrumen Menggunakan korelasi Pearson untuk menguji validitas item kuesioner dengan skor total 02 Kriteria Keputusan Item dengan nilai korelasi 0,25 dianggap valid dan dapat digunakan dalam penelitian ≥ 03 Uji Reliabilitas Menggunakan Cronbach Alpha untuk mengukur konsistensi internal instrumen 04 Standar Reliabilitas Instrumen dianggap reliabel jika nilai Cronbach Alpha >0,50 (baik jika >0,70)
  • 7.
    Uji Spearman Rank KapanMenggunakan Spearman? • Data ordinal (berperingkat) • Data numerik tidak berdistribusi normal • Hubungan tidak linear tetapi monotonic • Terdapat outlier yang ekstrem Keunggulan Lebih robust terhadap outlier dan tidak mengharuskan asumsi normalitas data seperti Pearson. Contoh Kasus Penelitian: Hubungan antara peringkat kepuasan pelanggan (sangat tidak puas hingga sangat puas) dengan frekuensi pembelian ulang per bulan. Metode: Data kepuasan diurutkan dalam peringkat, kemudian dihitung korelasi Spearman.
  • 8.
    Uji Gamma Definisi Ukuran asosiasikhusus untuk menganalisis hubungan antara dua variabel ordinal Rentang Nilai Nilai gamma berkisar dari -1 (asosiasi negatif sempurna) hingga +1 (asosiasi positif sempurna) Interpretasi Gamma = 0 menunjukkan tidak ada asosiasi. Semakin mendekati ±1, semakin kuat hubungannya Uji Gamma lebih sensitif terhadap pola hubungan ordinal dibanding Spearman, terutama untuk tabel kontingensi dengan banyak kategori.
  • 9.
    Visualisasi Korelasi Numerik ScatterPlot - Uji Pearson Grafik titik-titik data dengan garis regresi linear menunjukkan kekuatan dan arah hubungan Diagram Peringkat - Spearman & Gamma Visualisasi peringkat data ordinal untuk melihat pola hubungan monotonic antar variabel
  • 10.
    Hipotesis Korelatif pada SkalaKategorik Fokus Penelitian Menguji hubungan dan asosiasi antara dua atau lebih variabel kategorik (nominal atau ordinal) Metode Pengujian Menggunakan uji asosiasi untuk mengukur kekuatan hubungan dalam tabel kontingensi Berbeda dengan korelasi numerik, uji kategorik tidak mengukur hubungan linear tetapi menguji independensi dan kekuatan asosiasi antar kategori.
  • 11.
    Uji Contingency Coefficient KoefisienKontingensi Tabel Kontingensi Data disusun dalam tabel silang baris × kolom Perhitungan Mengukur asosiasi berdasarkan chi- square Interpretasi Nilai 0 = tidak ada asosiasi, maksimum bergantung ukuran tabel Contoh Aplikasi Studi: Menguji hubungan antara jenis kelamin (laki-laki/perempuan) dan preferensi produk (A, B, C, D). Koefisien kontingensi mengukur seberapa kuat hubungan antara kedua variabel kategorik ini.
  • 12.
    Uji Lambda Karakteristik UjiLambda Lambda adalah ukuran asosiasi asimetris untuk variabel kategorik nominal yang mengukur pengurangan kesalahan prediksi. Cara Kerja Lambda menghitung seberapa besar pengetahuan tentang variabel independen dapat mengurangi kesalahan dalam memprediksi kategori variabel dependen. Rentang Nilai λ = 0: Tidak ada asosiasi (prediksi tidak membaik) λ = 1: Asosiasi sempurna (prediksi 100% akurat)
  • 13.
    Contoh Kasus UjiLambda dan Kontingensi Desain Penelitian Menguji hubungan status pekerjaan (karyawan tetap, kontrak, freelance) dengan pilihan produk asuransi (A, B, C) Analisis Lambda Nilai lambda = 0,65 menunjukkan mengetahui status pekerjaan mengurangi kesalahan prediksi pilihan produk sebesar 65% Interpretasi Hasil Koefisien kontingensi = 0,48 mengindikasikan asosiasi moderat antara status pekerjaan dan preferensi produk
  • 14.
    Perbandingan Uji Korelasi UjiStatistik Jenis Skala Rentang Nilai Fungsi Utama Pearson Interval/Rasio -1 hingga +1 Korelasi linear Spearman Ordinal/Numerik -1 hingga +1 Korelasi monotonic Gamma Ordinal -1 hingga +1 Asosiasi ordinal Kontingensi Nominal/Ordinal 0 hingga maks Asosiasi kategorik Lambda Nominal 0 hingga 1 Prediksi kategori
  • 15.
    Langkah-Langkah Pengujian HipotesisKorelatif Merumuskan Hipotesis H0: Tidak ada hubungan/korelasi antara variabel H1: Ada hubungan/korelasi antara variabel Memilih Uji Statistik Tentukan uji yang sesuai berdasarkan skala pengukuran data dan asumsi statistik Menentukan Tingkat Signifikansi Tetapkan nilai α (biasanya 0,05 atau 0,01) sebagai batas toleransi kesalahan Menghitung Statistik Uji Hitung nilai korelasi/asosiasi dan p-value menggunakan software statistik Pengambilan Keputusan Tolak H0 jika p-value < α, kemudian interpretasikan kekuatan dan arah hubungan
  • 16.
    Studi Kasus Lengkap Kasus1: Uji Pearson Data: Tinggi badan (cm) dan berat badan (kg) dari 100 responden Hasil: r = 0,82, p < 0,001 Interpretasi: Terdapat korelasi positif yang sangat kuat dan signifikan antara tinggi badan dan berat badan. H0 ditolak. Kasus 2: Uji Lambda Data: Jenis kelamin dan preferensi produk dari 200 responden Hasil: λ = 0,45, p = 0,002 Interpretasi: Mengetahui jenis kelamin mengurangi kesalahan prediksi preferensi produk sebesar 45%. H0 ditolak.
  • 17.
    Kesalahan Umum dalamPengujian Korelasi Kesalahan Pemilihan Uji Menggunakan Pearson untuk data ordinal atau tidak normal. Solusi: Periksa skala data dan asumsi sebelum memilih uji. Mengabaikan Asumsi Normalitas Uji Pearson memerlukan distribusi normal. Solusi: Lakukan uji normalitas (Shapiro-Wilk, Kolmogorov- Smirnov) terlebih dahulu. Salah Interpretasi Korelasi Korelasi tidak sama dengan kausalitas. Perhatian: r = 0,9 menunjukkan hubungan kuat, bukan sebab-akibat. Mengabaikan Outlier Outlier sangat mempengaruhi Pearson. Solusi: Identifikasi dan tangani outlier, atau gunakan Spearman.
  • 18.
    Diagram Alur PemilihanUji Korelasi Tidak Normal Pakai Spearman Normal Pakai Pearson Numerik Periksa normalitas Tipe Data
  • 19.
    Ringkasan dan Takeaway PemahamanSkala Identifikasi skala pengukuran (nominal, ordinal, interval, rasio) adalah langkah pertama yang krusial Uji untuk Data Numerik Pearson untuk data normal, Spearman untuk data tidak normal/ordinal, Gamma untuk ordinal Uji untuk Data Kategorik Kontingensi untuk mengukur asosiasi umum, Lambda untuk prediksi kategori nominal Manfaat Hipotesis Korelatif Mengungkap hubungan antar variabel untuk pengambilan keputusan berbasis data Pemilihan uji yang tepat dan interpretasi hasil yang akurat adalah kunci keberhasilan analisis korelatif dalam penelitian.
  • 20.
    Matur Tengkiu, Jazakumullahu Khoiran BarakallahuFiikum Pertanyaan dan Diskusi Silakan ajukan pertanyaan terkait materi hipotesis korelatif yang telah disampaikan Sumber dan Bacaan Lanjutan Field, A. (2018). Discovering Statistics Using IBM SPSS Agresti, A. (2018). Statistical Methods for the Social Sciences Pallant, J. (2020). SPSS Survival Manual