Fungsi dan Kedudukan
Hadits Terhadap Al Qur’an
Sebagai :
Bayan Tasyri dan Bayan Nasakh
Oleh : Iim Kurotulaini
Kedudukan Hadist
Hadist mempunyai kedudukan sebagai sumber hukum islam kedua. Di dalam
Al Quran juga telah dijelaskan berulang kali perintah untuk mengikuti ajaran
Rasulullah SAW, sebagaimana yang terangkum firman Allah SWT di surat An-
Nisa’ ayat 80:
ْ‫ل‬َ‫س‬ ْ‫ر‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫م‬َ‫ف‬ ٰ
‫ى‬َّ‫ل‬ َ‫و‬َ‫ت‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ َ‫و‬ ۖ َ َّ
‫اَّلل‬ َ‫ع‬‫ا‬َ‫ط‬َ‫أ‬ ْ‫د‬َ‫ق‬َ‫ف‬ َ‫ل‬‫و‬ُ‫س‬َّ‫الر‬ ِ‫ع‬ِ‫ط‬ُ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬
‫ا‬ً‫ظ‬‫ي‬ِ‫ف‬َ‫ح‬ ْ‫م‬ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َ‫َاك‬‫ن‬
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan
barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk
menjadi pemelihara bagi mereka.”(QS.An-Nisa: 80)
Allah SWT menekankan kembali dalam surat Al-Asyr ayat 7:
…..… ‫ا‬ ْ‫و‬ُ‫ه‬َ‫ت‬ْ‫ن‬‫ا‬َ‫ف‬ ُ‫ه‬ْ‫ن‬َ‫ع‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬ ‫ا‬َ‫ه‬َ‫ن‬‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬ ُ‫ه‬ ْ‫و‬ُ‫ذ‬ُ‫خ‬َ‫ف‬ ُ‫ل‬ ْ‫و‬ُ‫س‬َّ‫الر‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬‫ا‬َ‫ت‬َ‫ا‬‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬
……
“Apa yang diperintahkan Rasul, maka laksanakanlah, dan apa yang dilarang Rasul
maka hentikanlah” (QS.Al-Hasyr:7)
Kedudukan Hadist
Fungsi Hadits
• Bayan Al- Taqrir (memperjelas isi Al Quran)
• Bayan At-Tafsir (menafsirkan isi Al Quran)
• Bayan at-Tasyri’ (memberi kepastian hukum islam yang tidak ada di
Al Quran)
• Bayan Nasakh (menghapus ketentuan lama pada Al Qur’an)
Bayan at-Tasyri’
(memberi kepastian hukum islam yang tidak ada di Al Quran)
Hadist sebagai bayan At tasyri’ ialah sebagai pemberi kepastian hukum atau ajaran-ajaran islam
yang tidak dijelaskan dalam Al-Quran. Biasanya Al Quran hanya menerangkan pokok-pokoknya
saja.
Contoh perintah Zakat dalam Al Quran :
surat al-Baqarah ayat 267 : "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari
hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu.
Contohnya hadist mengenai zakat fitrah
“Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat Islam pada bulan Ramadhan satu sha’ kurma atau
gandum untuk setiap orang, baik merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan”(HR. Muslim).
Bayan Nasakh
(menghapus ketentuan lama pada Al Qur’an)
Bayan Nasakh berarti ketentuan yang datang kemudian dapat menghapuskan ketentuan yang terdahulu, sebab ketentuan yang
baru dianggap lebih cocok dengan lingkungannya dan lebih luas
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai boleh tidaknya hadis menasakh Al-Qur’an. Ulama yang
membolehkanpun juga berbeda pendapat tentang kategori hadis yang boleh menasakh Al-Qur’an.
Contoh QS. Al-Baqarah :180 :
Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput seseorang di antara kamu, jika dia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua
dan karib kerabat dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. AlBaqarah : 180)
Contoh hadis Nabi Saw:
Maka tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (HR. Abu Dawud).
Menurut para ulama yang menerima adanya nasakh hadis terhadap Al- Qur’an, hadis di atas menasakh kewajiban berwasiat kepada
ahli waris, yang dalam ayat di atas dinyatakan wajib.
Hadis tentang Menanggung Anak Yatim
Analisis Fungsi dan Kandungan Hadis Anak yatim mendapatkan perhatian khusus dalam syariat Islam. Dalam banyak landasan normatif Al-
Qur’an dan hadis masalah sosial anak yatim ini dibahas. Di antara hadis yang menyoal ini adalah riwayat al-Bukhari nomor 2560 berikut
‫َا‬‫ن‬َ‫ث‬َّ‫د‬َ‫ح‬
ُ
‫ْد‬‫ب‬َ‫ع‬
ُِ
‫يز‬ ِ
‫ز‬َ‫ع‬ْ‫ال‬
ُ
‫ْن‬‫ب‬
ُ
ِ‫د‬ْ‫ب‬َ‫ع‬
ُ
ِ َّ
‫اّلل‬
َُ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬
‫ي‬ِ‫ن‬َ‫ث‬َّ‫د‬َ‫ح‬
ُ
‫ان‬َ‫م‬ْ‫ي‬َ‫ل‬‫س‬
ُ
‫ْن‬‫ب‬
ُ
‫ل‬ َ
‫َل‬ِ‫ب‬
ُْ‫ن‬َ‫ع‬
ُِ
‫ر‬ ْ‫و‬َ‫ث‬
ُِ‫ْن‬‫ب‬
ُ
‫ْد‬‫ي‬َ‫ز‬
ُ
ِ‫ي‬ِ‫ن‬َ‫د‬َ‫م‬ْ‫ال‬
ُْ‫ن‬َ‫ع‬
‫ي‬ِ‫ب‬َ‫أ‬
ُِ‫ث‬ْ‫ي‬َ‫غ‬ْ‫ال‬
ُْ‫ن‬َ‫ع‬
ُ
َ‫أ‬
‫ي‬ِ‫ب‬
ُ
َ‫ة‬َ‫ْر‬‫ي‬َ‫ر‬‫ه‬
ُ
َ‫ي‬ ِ
‫ض‬َ‫ر‬
َُّ
‫اّلل‬
ُ
‫ه‬ْ‫ن‬َ‫ع‬
ُْ‫ن‬َ‫ع‬
ُ
ِ‫ي‬ِ‫ب‬َّ‫ن‬‫ال‬
‫ى‬َّ‫ل‬َ‫ص‬
َُّ
‫اّلل‬
ُ
ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬
ُ
َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬ َ‫و‬
َُ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬
‫وا‬‫ب‬ِ‫ن‬َ‫ت‬ْ‫اج‬
ُ
َّ‫س‬‫ال‬
ََُْ‫ب‬
ُِ‫ت‬‫ا‬َ‫ق‬ِ‫ب‬‫و‬‫م‬ْ‫ال‬
‫وا‬‫ال‬َ‫ق‬
‫ا‬َ‫ي‬
َُ‫ل‬‫و‬‫س‬َ‫ر‬
ُ
ِ َّ
‫اّلل‬
‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬
َُّ‫ن‬‫ه‬
َُ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬
ُ
‫ك‬ ْ‫ر‬ِ‫الش‬
ُ
ِ َّ
‫اّلل‬ِ‫ب‬
ُ
‫ر‬ْ‫ِح‬‫الس‬ َ‫و‬
ُ
‫ل‬ْ‫ت‬َ‫ق‬ َ‫و‬
ُِ
‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ال‬
‫ي‬ِ‫ت‬َّ‫ال‬
ُ
َ‫م‬َّ‫ر‬َ‫ح‬
َُّ
‫اّلل‬
َُّ
‫ّل‬ِ‫إ‬
ُ
ِ‫ق‬َ‫ح‬ْ‫ال‬ِ‫ب‬
ُ
‫ل‬ْ‫ك‬َ‫أ‬ َ‫و‬
‫ا‬َ‫ب‬ ِ
‫الر‬
ُ
‫ل‬ْ‫ك‬َ‫أ‬ َ‫و‬
ُِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬
‫ي‬ِ‫ت‬َ‫ي‬ْ‫ال‬
ُِ‫م‬
‫ي‬ِ‫ل‬ َ‫و‬َّ‫ت‬‫ال‬ َ‫و‬
ُ
َ‫م‬ ْ‫و‬َ‫ي‬
ُِ‫ف‬ْ‫ح‬َّ‫الز‬
ُ
‫ف‬ْ‫ذ‬َ‫ق‬ َ‫و‬
ُِ‫ت‬‫َا‬‫ن‬َ‫ص‬ْ‫ح‬‫م‬ْ‫ال‬
ُِ‫ت‬‫َا‬‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬‫م‬ْ‫ال‬
ُِ‫ت‬ َ
‫َل‬ِ‫ف‬‫َا‬‫غ‬ْ‫ال‬
Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Jauhilah tujuh dosa besar yang membinasakan”. Para sahabat bertanya “Apa dosa-dosa itu”?
Rasulullah menjawab: “Syirik, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan 82
harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina terhadap orang-orang perempuan yang menjaga kehormatannya”. (HR.
Bukhari, 2560)
Hadis ini berfungsi ta’kid/taqrir karena menegaskan dan menguatkan ketentuan syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an surat al-An’am ayat
152 berikut:
َُ
‫ّل‬ َ‫و‬
‫ا‬ ْ‫و‬‫ب‬َ‫ر‬ْ‫ق‬َ‫ت‬
َُ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬
ُِ‫ْم‬‫ي‬ِ‫ت‬َ‫ي‬ْ‫ال‬
َُّ
‫ِّل‬‫ا‬
ُْ‫ي‬ِ‫ت‬َّ‫ال‬ِ‫ب‬
ُ
َ‫ِي‬‫ه‬
ُ
‫ن‬َ‫س‬ْ‫ح‬َ‫ا‬
‫ى‬ّٰ‫ت‬َ‫ح‬
َُ‫غ‬‫ْل‬‫ب‬َ‫ي‬
Artinya: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat), hingga sampai ia dewasa.”
Terima Kasih 

Fungsi_dan_Kedudukan_Hadits (1).pptx

  • 1.
    Fungsi dan Kedudukan HaditsTerhadap Al Qur’an Sebagai : Bayan Tasyri dan Bayan Nasakh Oleh : Iim Kurotulaini
  • 2.
    Kedudukan Hadist Hadist mempunyaikedudukan sebagai sumber hukum islam kedua. Di dalam Al Quran juga telah dijelaskan berulang kali perintah untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW, sebagaimana yang terangkum firman Allah SWT di surat An- Nisa’ ayat 80: ْ‫ل‬َ‫س‬ ْ‫ر‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫م‬َ‫ف‬ ٰ ‫ى‬َّ‫ل‬ َ‫و‬َ‫ت‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ َ‫و‬ ۖ َ َّ ‫اَّلل‬ َ‫ع‬‫ا‬َ‫ط‬َ‫أ‬ ْ‫د‬َ‫ق‬َ‫ف‬ َ‫ل‬‫و‬ُ‫س‬َّ‫الر‬ ِ‫ع‬ِ‫ط‬ُ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ‫ا‬ً‫ظ‬‫ي‬ِ‫ف‬َ‫ح‬ ْ‫م‬ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َ‫َاك‬‫ن‬ “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”(QS.An-Nisa: 80)
  • 3.
    Allah SWT menekankankembali dalam surat Al-Asyr ayat 7: …..… ‫ا‬ ْ‫و‬ُ‫ه‬َ‫ت‬ْ‫ن‬‫ا‬َ‫ف‬ ُ‫ه‬ْ‫ن‬َ‫ع‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬ ‫ا‬َ‫ه‬َ‫ن‬‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬ ُ‫ه‬ ْ‫و‬ُ‫ذ‬ُ‫خ‬َ‫ف‬ ُ‫ل‬ ْ‫و‬ُ‫س‬َّ‫الر‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬‫ا‬َ‫ت‬َ‫ا‬‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬ …… “Apa yang diperintahkan Rasul, maka laksanakanlah, dan apa yang dilarang Rasul maka hentikanlah” (QS.Al-Hasyr:7) Kedudukan Hadist
  • 4.
    Fungsi Hadits • BayanAl- Taqrir (memperjelas isi Al Quran) • Bayan At-Tafsir (menafsirkan isi Al Quran) • Bayan at-Tasyri’ (memberi kepastian hukum islam yang tidak ada di Al Quran) • Bayan Nasakh (menghapus ketentuan lama pada Al Qur’an)
  • 5.
    Bayan at-Tasyri’ (memberi kepastianhukum islam yang tidak ada di Al Quran) Hadist sebagai bayan At tasyri’ ialah sebagai pemberi kepastian hukum atau ajaran-ajaran islam yang tidak dijelaskan dalam Al-Quran. Biasanya Al Quran hanya menerangkan pokok-pokoknya saja. Contoh perintah Zakat dalam Al Quran : surat al-Baqarah ayat 267 : "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Contohnya hadist mengenai zakat fitrah “Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat Islam pada bulan Ramadhan satu sha’ kurma atau gandum untuk setiap orang, baik merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan”(HR. Muslim).
  • 6.
    Bayan Nasakh (menghapus ketentuanlama pada Al Qur’an) Bayan Nasakh berarti ketentuan yang datang kemudian dapat menghapuskan ketentuan yang terdahulu, sebab ketentuan yang baru dianggap lebih cocok dengan lingkungannya dan lebih luas Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai boleh tidaknya hadis menasakh Al-Qur’an. Ulama yang membolehkanpun juga berbeda pendapat tentang kategori hadis yang boleh menasakh Al-Qur’an. Contoh QS. Al-Baqarah :180 : Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput seseorang di antara kamu, jika dia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. AlBaqarah : 180) Contoh hadis Nabi Saw: Maka tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (HR. Abu Dawud). Menurut para ulama yang menerima adanya nasakh hadis terhadap Al- Qur’an, hadis di atas menasakh kewajiban berwasiat kepada ahli waris, yang dalam ayat di atas dinyatakan wajib.
  • 7.
    Hadis tentang MenanggungAnak Yatim Analisis Fungsi dan Kandungan Hadis Anak yatim mendapatkan perhatian khusus dalam syariat Islam. Dalam banyak landasan normatif Al- Qur’an dan hadis masalah sosial anak yatim ini dibahas. Di antara hadis yang menyoal ini adalah riwayat al-Bukhari nomor 2560 berikut ‫َا‬‫ن‬َ‫ث‬َّ‫د‬َ‫ح‬ ُ ‫ْد‬‫ب‬َ‫ع‬ ُِ ‫يز‬ ِ ‫ز‬َ‫ع‬ْ‫ال‬ ُ ‫ْن‬‫ب‬ ُ ِ‫د‬ْ‫ب‬َ‫ع‬ ُ ِ َّ ‫اّلل‬ َُ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ‫ي‬ِ‫ن‬َ‫ث‬َّ‫د‬َ‫ح‬ ُ ‫ان‬َ‫م‬ْ‫ي‬َ‫ل‬‫س‬ ُ ‫ْن‬‫ب‬ ُ ‫ل‬ َ ‫َل‬ِ‫ب‬ ُْ‫ن‬َ‫ع‬ ُِ ‫ر‬ ْ‫و‬َ‫ث‬ ُِ‫ْن‬‫ب‬ ُ ‫ْد‬‫ي‬َ‫ز‬ ُ ِ‫ي‬ِ‫ن‬َ‫د‬َ‫م‬ْ‫ال‬ ُْ‫ن‬َ‫ع‬ ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫أ‬ ُِ‫ث‬ْ‫ي‬َ‫غ‬ْ‫ال‬ ُْ‫ن‬َ‫ع‬ ُ َ‫أ‬ ‫ي‬ِ‫ب‬ ُ َ‫ة‬َ‫ْر‬‫ي‬َ‫ر‬‫ه‬ ُ َ‫ي‬ ِ ‫ض‬َ‫ر‬ َُّ ‫اّلل‬ ُ ‫ه‬ْ‫ن‬َ‫ع‬ ُْ‫ن‬َ‫ع‬ ُ ِ‫ي‬ِ‫ب‬َّ‫ن‬‫ال‬ ‫ى‬َّ‫ل‬َ‫ص‬ َُّ ‫اّلل‬ ُ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬ َ‫و‬ َُ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ‫وا‬‫ب‬ِ‫ن‬َ‫ت‬ْ‫اج‬ ُ َّ‫س‬‫ال‬ ََُْ‫ب‬ ُِ‫ت‬‫ا‬َ‫ق‬ِ‫ب‬‫و‬‫م‬ْ‫ال‬ ‫وا‬‫ال‬َ‫ق‬ ‫ا‬َ‫ي‬ َُ‫ل‬‫و‬‫س‬َ‫ر‬ ُ ِ َّ ‫اّلل‬ ‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬ َُّ‫ن‬‫ه‬ َُ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ُ ‫ك‬ ْ‫ر‬ِ‫الش‬ ُ ِ َّ ‫اّلل‬ِ‫ب‬ ُ ‫ر‬ْ‫ِح‬‫الس‬ َ‫و‬ ُ ‫ل‬ْ‫ت‬َ‫ق‬ َ‫و‬ ُِ ‫س‬ْ‫ف‬َّ‫ن‬‫ال‬ ‫ي‬ِ‫ت‬َّ‫ال‬ ُ َ‫م‬َّ‫ر‬َ‫ح‬ َُّ ‫اّلل‬ َُّ ‫ّل‬ِ‫إ‬ ُ ِ‫ق‬َ‫ح‬ْ‫ال‬ِ‫ب‬ ُ ‫ل‬ْ‫ك‬َ‫أ‬ َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ب‬ ِ ‫الر‬ ُ ‫ل‬ْ‫ك‬َ‫أ‬ َ‫و‬ ُِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬ ‫ي‬ِ‫ت‬َ‫ي‬ْ‫ال‬ ُِ‫م‬ ‫ي‬ِ‫ل‬ َ‫و‬َّ‫ت‬‫ال‬ َ‫و‬ ُ َ‫م‬ ْ‫و‬َ‫ي‬ ُِ‫ف‬ْ‫ح‬َّ‫الز‬ ُ ‫ف‬ْ‫ذ‬َ‫ق‬ َ‫و‬ ُِ‫ت‬‫َا‬‫ن‬َ‫ص‬ْ‫ح‬‫م‬ْ‫ال‬ ُِ‫ت‬‫َا‬‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬‫م‬ْ‫ال‬ ُِ‫ت‬ َ ‫َل‬ِ‫ف‬‫َا‬‫غ‬ْ‫ال‬ Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Jauhilah tujuh dosa besar yang membinasakan”. Para sahabat bertanya “Apa dosa-dosa itu”? Rasulullah menjawab: “Syirik, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan 82 harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina terhadap orang-orang perempuan yang menjaga kehormatannya”. (HR. Bukhari, 2560) Hadis ini berfungsi ta’kid/taqrir karena menegaskan dan menguatkan ketentuan syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an surat al-An’am ayat 152 berikut: َُ ‫ّل‬ َ‫و‬ ‫ا‬ ْ‫و‬‫ب‬َ‫ر‬ْ‫ق‬َ‫ت‬ َُ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬ ُِ‫ْم‬‫ي‬ِ‫ت‬َ‫ي‬ْ‫ال‬ َُّ ‫ِّل‬‫ا‬ ُْ‫ي‬ِ‫ت‬َّ‫ال‬ِ‫ب‬ ُ َ‫ِي‬‫ه‬ ُ ‫ن‬َ‫س‬ْ‫ح‬َ‫ا‬ ‫ى‬ّٰ‫ت‬َ‫ح‬ َُ‫غ‬‫ْل‬‫ب‬َ‫ي‬ Artinya: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat), hingga sampai ia dewasa.”
  • 8.