CARA MEMAHAMI AKHLAK
Makalah ini disusun guna memenuhi Tugas Mandiri
Mata Kuliah Akhlak Tasawuf
Dosen Pengampu
Relit Nur Edi, S.Ag., M.Ag
Disusun Oleh:
Nama : Ahmad Ridho Al Amin
NPM : 14117714
KELAS E
PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
JURUSAN SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JURAI SIWO METRO
2014/2015
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat allah SWT yang telah memberi kami kekuatan dan kesabaran,
untuk senantiasa berikhtiar menuntut ilmu guna mencapai hari esok yang lebih baik.
Dengan segala limpahan karunia dan bimbingan-Nya, alhamdullilah tugas akhlak
tasawuf yang di susun dalam bentuk makalah dengan judul ”cara memahami ahklak” dapat
terselesaikan. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak sebagai
dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dan semua pihak yang terlibat dalam
penyelesaian makalah ini.
Semoga makalah sederhana ini dapat menambah pengetahuan kita dalam menjabarkan
sejuta pengetahuan yang selama ini tidak pernah kita hiraukan.Adapun harapan penulis,
penyusunan makalah ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi kita. Penulis menyadari
bahwa tugas makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun.
Demikian makalah ini penulis buat, apabila ada kesalahan dalam penulisan, penulis
mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Metro, 20 Desember 2014
3
Daftar Isi
Kata Pengantar..............................................................................................................2
Daftar Isi.........................................................................................................................3
BAB I...............................................................................................................................4
Pendahuluan
Rumusan masalah
BAB II..............................................................................................................................6
BAB III...........................................................................................................................10
Daftar pustaka.............................................................................................................11
4
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pentingnya penerapan akhlak dalam sehari-hari menjadi tuntutan di era modernisasi ini.
Pengaruh globalisasi yang tinggi menyebabkan tata krama menurun dimasyarakat, terutama
dampak tersebut menuju kepada pemuda zaman sekarang. Media komunikasi seperti; televisi,
handphone, dan lain-lain, sekarang ini hampir rata-rata menayangkan hal-hal yang menurunkan
adab sopan santun, seperti film yang menampilkan tindakan kekerasan. Hal ini akan
berdampak buruk jika ditonton oleh anak-anak. Sehingga dapat menurunkan moralitas anak-
anak. Tidak hanya itu diinternet juga banyak hal-hal yang tidak layak ditonton para remaja,
karena sifat internet yang tidak memiliki batasan dan bersifat universal. Sehingga tidak ada
dinding penghalang bagi siapa saja yang melihat, tentunya ini berdampak negative, seperti; kita
maraknya video porno yang beredar, serta banyak iklan-iklan vulgar yang tidak pantas untuk
dilihat para remaja Indonesia. Hal ini akan menurunkan moralitas pemuda bangsa. Sehingga
tak ayal lagi kualitas SDM (Sumber Daya Masyarakat) suatu bangsa menurun.
Kita harus dapat memfiltrasi di mana budaya yang baik dan buruk. Akhlak menjadi fitrah
setiap manusia, di mana akhlak ada yang baik dan ada yang buruk. Setiap insane dituntut untuk
memiliki akhlak yang baik, karena akhlak yang baik akan membawa kehidupan yang lebih baik.
Di mana kehidupan itu akan membawa ketentraman di masyarakat. Sehingga akan terjamin
kerukunan dimasyarakat, memang watak setiap manusia berbeda-beda, tapi kita dituntut untuk
berakhlak yang baik. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Qalam ayat 4 yang
artinya berbunyi: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Dalam
surat itu kita memang dituntut untuk memiliki akhlak yang baik. Oleh karena itu mari kita
ciptakan generasi yang berakhlak mulia. Sehingga dapat menciptakan ketentraman di
masyarakat dan meningkatkan martabat suatu bangsa.
Akhlak mulia tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada Allah,
rasul-rasul, malaikat-malaikat serta kitab-kitab-Nya. Oleh karena itu penting kita memiliki akhlak
mulia sehingga menjadi tuntutan.
5
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian akhlak?
2. Apa tujuan akhlak itu sendiri?
3. Dari mana sumber akhlak?
4. bagaimana objek kajian akhlak?
C. Tujuan Pembahasan
1. Bagaimana cara membentuk akhlak yang baik.
2. Mengerti hal apa saja yang mempengaruhi akhlak.
3. mengerti bentuk-bentuk dan hakikat akhlak.
4. Mengupayakan untuk berakhlak mulia dalam kehidupan di masyarakat .
D. Manfaat Pembahasan
1. Membentuk kepribadian manusia berakhlak mulia.
2. Mendorong setiap insan untuk berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
3. Menambah wawasan tentang pengertian akhlak dan objek-objek kajian akhlak serta aspek-
aspek yang mempengaruhinya.
6
BAB II
ISI
A. Pengertian Akhlak
Kata akhlak layaknya tak ayal lagi bagi telinga kita, karena penerapan akhlak dalam
kehidupan menjadi prioritas utama sehari-hari. Lantas apa pengertian akhlak itu sendiri?
Menurut bahasa akhlak berasal dari bahasa Arab dari kata khuluq (khuluqun), yang berarti
budi pekerti, peringai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan secara istilah akhlak berarti ilmu
yang menentukan batas antara yang baik dan yang buruk, antara yang terbaik dengan yang
tercela, tentang perbuatan manusia, lahir dan batin. Untuk lebih memahami pengertian akhlak
ini, mari kita lihat pendapat dari para tokoh yaitu:
1. Ahmad Amin, mengartikan akhlak sebagai suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan
buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh sebagian manusia kepada
yang lainnya.1
2. Imam al-Ghazali, mengartikan sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan
macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran
dan pertimbangan.2
3. Ibrahim Anis mentakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya
lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran atau
pertimbangan.3
Dari pendapat tokoh-tokoh tersebut. Penulis lebih cenderung pada pendapat Imam al-
Ghazali dan Ibrahim Anis. Hal tersebut dikarenakan lahirnya akhlak dalam tindakan nyata
merupakan tindakan spontanitas, tidak perlu pertimbangan dan angan-angan lagi. Sebagai
kenyataan yang ada, orang yang telah tertanam jiwa kebaikan pada hatinya akan selalu berbuat
kebaikan, jika ada sesuatu yang kiranya itu memerlukan perwujudan dari kebaikan itu seperti;
menolong orang, maka orang tersebut akan iba dan menolong orang yang dalam kesusahan
tersebut, jika hal tersebut tidak dilakukannya, maka akan selalu timbul kegelisahan dalam
1 Ahmad Amin, Kitab Akhlak, (Kairo:Dar al-Kutub al-Mishriyah,tt), h. 13
2 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta:Raja Grafindo Persada,2009),h.3
3 Ibid.,h. 4
7
hatinya. Begitupun sebaliknya orang yang tidak mempunyai jiwa kebaikan dalam hatinya, maka
akan timbul masa bodoh untuk menolong orang tersebut.
B. Tujuan dan Manfaat Ilmu Akhlak
Secara umum tujuan akhlak adalah tercapainya kebaikan dan keutamaan. Adapun
kebaikan manusia itu menurut al-Ghzali bersumber pada empat hal :
a. Kebaikan jiwa (al-nafs). Ini berasal dari ilmu, kebijaksanaan, kesucian diri, dan keadilan.
b. Kebaikan dan keutamaan badan (jasmaniah). Bisa diperoleh melalui sehat, kuat,
tampan, dan panjang usia.
c. Kebaikan yang datang dari luar (exsternal/ al-Kharijiah). Berasal dari harta, keluarga,
pangkat, nama baik/kehormatan.
d. Kebaikan bimbingan (taufiq-Hidayah). Ini diperoleh dengan; petunjuk, bimbingan,
pelurusan, dan penguatan dari Allah.
Jadi secara kesimpulan, tujuan akhlak adalah tercapainya kebahagian manusia di dunia dan
akhirat berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan sunnah nabi. Sedangkan manfaatnya adalah dapat
dijadikan panduan atau pedoman dalam melakukan sebuah tindakan, sehingga tindakan
tersebut tetap berada dalam jalur yang benar; atau konsep Islam secara spesifik untuk
mendapat keridhaan Allah SWT, dalam kehidupan dunia dan akhirat.
C. Sumber Ajaran Akhlak
Akhlak merupakan pedoman yang harus dilaksanakan umat. Hal ini jelas bersumber dari
Al-Qur’an maupun Hadis Nabi, serta pemikiran manusia itu sendiri yang berupa norma-norma
yang berkembang di masyarat umumnya.
Adapun sumber dari ayat-ayat Al-Qur’an sebagai berikut :
َ‫ه‬‫اّٰلل‬ ‫وا‬ُ‫ج‬ ۡ‫ر‬َ‫ي‬ َ‫َان‬‫ك‬ ۡ‫ن‬َ‫م‬ِ‫ل‬ ٌ‫ة‬َ‫ن‬َ‫س‬َ‫ح‬ ٌ‫ة‬ َ‫و‬ۡ‫س‬ُ‫ا‬ ِ‫ه‬‫اّٰلل‬ ِ‫ل‬ ۡ‫و‬ُ‫س‬ َ‫ر‬ ۡ‫ى‬ِ‫ف‬ ۡ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬ َ‫َان‬‫ك‬ ۡ‫د‬َ‫ق‬َ‫ل‬ِ َ‫ك‬ َ‫ه‬‫اّٰلل‬ َ‫َر‬‫ك‬َ‫ك‬ َ‫و‬ َ‫ر‬ ِ‫ر‬ِ ۡ‫اٰا‬ َ‫م‬ ۡ‫و‬َ‫ي‬ۡ‫ال‬ َ‫و‬‫ا‬‫ا‬‫ر‬ۡ‫ي‬21ؕ)
8
Artinya:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah. (QS.al-Ahzab/33: 21)
ُ‫س‬َّ‫الر‬ ِ‫ة‬َ‫ي‬ ِ‫ص‬ْ‫ع‬َ‫م‬ َ‫و‬ ِ‫ان‬ َ‫ْو‬‫د‬ُ‫ع‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫و‬ ِ‫م‬ْ ‫اإل‬ِ‫ب‬ ‫ا‬ ْ‫و‬َ‫ج‬‫َا‬‫ن‬َ‫ت‬َ‫ت‬ ‫ال‬َ‫ف‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ي‬َ‫ج‬‫َا‬‫ن‬َ‫ت‬ ‫ا‬َ‫ك‬ِ‫إ‬ ‫وا‬ُ‫ن‬َ‫م‬‫آ‬ َ‫ِين‬‫ك‬َّ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُّ‫ي‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫ي‬‫ا‬ ْ‫و‬َ‫ج‬‫َا‬‫ن‬َ‫ت‬ َ‫و‬ ِ‫ل‬‫و‬
َ‫ون‬ُ‫ر‬َ‫ش‬ْ‫ح‬ُ‫ت‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ ‫ِي‬‫ك‬َّ‫ل‬‫ا‬ ََّ‫اّٰلل‬ ‫وا‬ُ‫ق‬َّ‫ت‬‫ا‬ َ‫و‬ ‫ى‬ َ‫و‬ْ‫ق‬َّ‫ت‬‫ال‬ َ‫و‬ ِ‫ر‬ِ‫ب‬ْ‫ل‬‫ا‬ِ‫ب‬9)
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia,
janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul.
Tetapi bicarakanlah tentang perbuatan kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah
yang kepada-Nya kamu akan dkumpulkan kembali.(QS.al-Mujadalah/ 58:9)
Sedangkan bunyi hadisnya sebagai berikut:
Dari Sahl bin Sa'ad radiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
‫سفسافها‬ ‫ويكره‬ ‫األرالق‬ ‫معالي‬ ‫يحب‬ ‫هللا‬ ‫إن‬‫األ‬ ‫صححه‬ :‫للطبراني‬ ‫الكبير‬ ‫[المعجم‬‫لباني‬
Sesungguhnya Allah mencintai akhlak yang mulia dan membenci akhlak yang buruk. [Al-
Mu'jam Al-Kabiir: Sahih]
D. Objek Kajian Akhlak
Objek kajian akhlak adalah tingkah laku manusia dalam rangka menetapkan nilainya baik
atau buruk dalam kehidupan, atau berupa penyelidikan tentang tingkah laku manusia baik
sebagai individu maupun kelompok masyarakat. Secara umum perbuatan manusia dapat
dikelompokan menjadi dua:
1) Perbuatan yang lahir dengan kehendak dan disengaja.
2) Perbuatan yang lahir tanpa kehendak dan tidak disengaja.
9
Dari dua bentuk perbuatan itu maka bagian yang pertamalah yang menjadi objek kajian
ilmu akhlak. Sedangkan yang kedua bukanlah menjadi objek kajian ilmu akhlak. Namun
sebagai pertimbangan untuk melihat apakah perbuatan itu disengaja atau tidak, dapat
dikemukakan hal berikut:
a. Situasi memungkinkan adanya pilihan (bukan karena terpaksa atau dipaksa), atau
manusia bebas.
b. Sadar apa yang dilakukan, di mana ia melakukan sebuah perbuatan berdasarkan gerak
reflex dan dapat membedakan baik dan buruknya perbuatan itu.4
Dengan demikian, kajian ilmu akhlak adalah semua perbuatan manusia yang timbul
dari orang yang melaksanakan dengan; sadar, disengaja, mengetahui waktu pelaksanaanya,
dan sadar akibat yang ditimbulkan.
BAB III
KESIMPULAN
Jadi kesimpulannya, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah
macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran atau pertimbangan.
Sumber ajaran akhlak terdapat pada QS.al-Ahzab/33: 21 dan QS.al-Mujadalah/ 58:9, serta
terdapat juga dalam hadis tentang budi luhur.
kajian ilmu akhlak adalah semua perbuatan manusia yang timbul dari orang yang
melaksanakan dengan; sadar, disengaja, mengetahui waktu pelaksanaanya, dan sadar akibat
yang ditimbulkan. Dan akhlak juga mempunyai tujuan, yaitu untuk mencapai kebahagian
manusia di dunia dan akhirat berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan sunnah nabi. Sedangkan
manfaat akhlak itu sendiri dapat dijadikan panduan atau pedoman dalam melakukan sebuah
tindakan, sehingga tindakan tersebut tetap berada dalam jalur yang benar; atau konsep Islam
secara spesifik untuk mendapat keridhaan Allah SWT, dalam kehidupan dunia dan akhirat.
4 Lihat Sidi Gazalba,op.cit.,h.2
10
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Amin, Kitab Akhlak, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyah, tt.
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009.
Al-Qur’an dan terjemahan, Semarang: CV Ponegoro
Ibid.,
Sidi Gaza
11
PENTINGNYA MEMPELAJARI AKHLAK TASAWUF
Makalah ini disusun guna memenuhi Tugas Mandiri
Mata Kuliah Akhlak Tasawuf
Dosen Pengampu
Relit Nur Edi, S.Ag., M.Ag
Disusun Oleh:
Nama : Ahmad Ridho Al Amin
NPM : 14117714
KELAS E
PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
JURUSAN SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JURAI SIWO METRO
2014/2015
12
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat allah SWT yang telah memberi kami kekuatan dan kesabaran,
untuk senantiasa berikhtiar menuntut ilmu guna mencapai hari esok yang lebih baik.
Dengan segala limpahan karunia dan bimbingan-Nya, alhamdullilah tugas akhlak
tasawuf yang di susun dalam bentuk makalah dengan judul ”pentingnya mempelajari akhlak
tasawuf” dapat terselesaikan. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak sebagai dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dan semua pihak yang
terlibat dalam penyelesaian makalah ini.
Semoga makalah sederhana ini dapat menambah pengetahuan kita dalam menjabarkan
sejuta pengetahuan yang selama ini tidak pernah kita hiraukan.Adapun harapan penulis,
penyusunan makalah ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi kita. Penulis menyadari
bahwa tugas makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun.
Demikian makalah ini penulis buat, apabila ada kesalahan dalam penulisan, penulis
mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Metro, 20 Desember 2014
13
Daftar Isi
Kata Pengantar..............................................................................................................2
Daftar Isi.........................................................................................................................3
BAB I...............................................................................................................................4
BAB II..............................................................................................................................6
BAB III...........................................................................................................................10
Daftar pustaka.............................................................................................................11
14
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Ajaran akhlak dalam Islam berumber dari wahyu Illahi yang termasuk dalam Al-
quran dan sunnah. Akhlak dalam Islam bukanlah moral yang kondisional dan
situasional, tetapi akhlak yang benar-benar memiliki nilai yang mutlak untuk
memperoleh kebahagian di dunia ini dan di akhirat kelak. Dalam keseluruhan ajaran
Islam, akhlak menempati kedudukan yang istimewa dan sangat penting.
Di dalam Alquran saja banyak ayat-ayat yang membicarakan masalah akhlak .
belum lagi dengan hadits-hadits Nabi, baik perkataan maupun perbuatan, yang
memberikan pedoman akhlak yang mulia dalam keseluruhan aspek kehidupan. Akhlak
dalam Islam bukanlah moral yang harus disesuaikan dengan suatu kondisi dan situasi,
tetapi akhlak yang benar-benar memiliki nilai yang mutlak, nilai-nilai baik dan buruk,
terpuji dan tercela berlaku kapan saja, dimana saja dalam segala aspek kehidupan
tidak di batasi oleh ruang dan waktu.
Ajaran akhlak dalam Islam sesuai dengan fitrah manusia. Manusia akan
mendapatkan kebahagiaan hakiki bukan semu bila mengikuti nilai-nilai kebaikan yang di
ajarkan oleh Alquran dan Sunnah, dua sumber akhlak dalam Islam. Akhlak Islam benar-
benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat sesuai dengan
fitrahnya itu. Hati nurani / fitrah dalam bahasa Alquran memang dapat menjadi ukuran
baik dan buruk karena manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki fitrah bertauhid,
mengakui keesaanNya. (QS Ar-Rum :30)
Karena fitrah itulah manusia kepada kesucian dan selalu cenderung kepada
kebenaran. Hati nuraninya selalu mendambakan dan merindukan kebenaran, ingin
mengikuti ajaran-ajaran Tuhan, karena kebesaran itu tidak akan di dapat kecuali
dengan Allah sebagai sumber kebenaran mutlak. Namun fitrah manusia tidak selalu
terjamin dapat berfungsi dengan baik karena pengaruh dari luar, misalnya pengaruh
pendidikan dan lingkungan. Fitrah hanyalah merupakan potensi dasar yang perlu
dipelihara dan dikembangkan.
Banyak manusia yang fitrahnya tertutup sehingga hati nuraninya tidak dapat lagi
melihat kebenaran, oleh sebab itu ukuran baik dan buruk tidak di serahkan sepenuhnya
hanya kepada hati nurani / fitrah manusia semata, harus dikembalikan kepada penilaian
syara’ yaitu Alquran dan Hadits. Semua keputusan syara’ tidak akan bertentangan
15
dengan hati nurani manusia, karena kudua-duanya berasal dari sumber yang sama
yauti Allah SWT.
Demikian juga halnya dengan akal pikiran. Ia hanya lah salah satu kekuatan yang
dimilki manusia untuk mencari kebaikan / keburukan . Dan keputusannya bermula dari
pengalaman empiris kemudian diolah menurut kemampuan pengetahuannya, oleh
karena itu keputusan yang diberikan akal hanya bersifat spekulatif dan subjektif.
Demikanlah tentang hati nurani dan akal pikiran.
Di samping istilah akhlak juga di kenal istilah etika dan moral. Ketiga istilah itu
sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap dan perbuatan manusia.
Perbedaanya terletak pada standar masing-masing. Bagi akhlak standarnya adalah
Alquran dan Sunnah, bagi etika standarnya pertimbangan akal pikiran, dan bagi moral
standarnya adalah adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan d kaji diantaranya:
a. Bagaimana pengertian akhlak?
b. Bagaimanakah hubungan akhlak dan tingkahlaku?
c. Apasaja danbagaiman pembagian akhlak?
d. Bagaimanakah kedudukan Akhlakul Karimah?
1.3.Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penulisan makalah ini diantaranya:
1. Untuk mendiskripsikan pengertian akhlak.
2. Untuk menjelaskan hubungan akhlak dan tingkahlaku.
3. Untuk lebihmengetahui tentang pembagian akhlak.
4. Untuk lebih memahami kedudukan Akhlakul Karimah.
Adapun kegunaannya adalah:
1. Menambah wawasan dan sebagai bahan bacaan.
2. Memenuhi tugas terstruktur matakuliah akhlak tasawuf.
16
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akhlak
Secara etimologi akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti,
perangai, tingkah laku dan tabi’at. Sinonim kta akhlak adalah budi pekerti, tata krama,
sopan santun, moral dan etic.5
Sedangkan akhlak menurut istilah sebagaimana di ungkapkan oleh Imam Al-
Ghazali adalah sebagai berikut : aklhlak adalah suatu bentuk (naluri asli) dalam jiwa
seorang manusiayang dapat melahirkan suatu tindakan dan kelakuan dengan mudah
dan sopan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Apabila naluri tersebut
melahirkan suatu tindakan dan kelakuan yang baik dan terpuji menurut akal dan
agama, maka disebut budi pekerti yang baik. Namun sebaliknya bila melahirkan
tindakan dan kelakuan yang jahat maka disebut budi pekerti yang buruk.
Yang di maksud melahirkan tindakan dan kelakuan ialah suatu yang dijelmakan
anggota lahir manusia, misalnya tangan, mulut, demikian juga yang dilahirkan oleh
anggota bathin yakni hati yang tidak dibuat-buat. Kalau kebiasaan yang tidak dibuat-
buat itu baik disebut akhlak yang baik dan kalau kebiasaan yang buruk disebut akhlak
yang buruk.
Jadi dapat kita simpulkan awal perbuatan yang itu lahir malalui kebiasaan yang
mudah tanpa adanya pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu . contohnya jika
seseorang memaksakan dirinya untuk mendermakan katanya / menahan amarahnya
dengan terpaksa , maka orang yang semacam ini belum disebut dermawan / orang
yang sabar. Seseorang yang memberikan pertolongan kepada orang lain belumlah
dapat dikatakan ia seorang yang berakhlak baik.
Apabila ia melakukan hal tersebut karena dorongan oleh hati yang tulus, akhlas,
dari rasa kebaikannya / kasihannya sesama manusia maka ia dapat dikatakan
berakhlak dan berbudi pekerti yang baik. Jadi akhlak adalah masalah kejiwaan, bukan
masalah perbuatan, sedangkan yang tampak berupa perbuatan itu sudah tanda / gejala
akhlak.
Sedangkan akhlak menurut Ibrahim Anis adalah sifat yang tertanam di dalam jiwa
yang dengannya malahirkan macam-macam perbuatan baik / buruk tampa
membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Dan menurut Abdul Karim Zaidan akhlak
adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengan sorotan dan
5 DR.H.Yunahar.1999.Kuliah Akhlak.Yogyakarta:Pustaka Pelajar offset.hal
17
timbangannya seseorang dapat menilai perbuatan baik / burk untuk kemudian memilih
melakukan / meninggalkannya.
Dari beberapa pengertian tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa akhlak /
khuluq itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia sehingga dia akan muncul
secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran / pertimbangan
terlebih dahulu serta tidak memerlukan dorongan dari luar.
Sifat spontanitas dari akhlak tersebut ccontohnya adalah apabila ada seseorang
yang menyumbang dalam jumlah besar untuk pembangunan mesjid setelah mendapat
dorongan dari seorang da’i (yang mengemukakan ayat-ayat dan hadist-hadist tentang
keutamaan membangun mesjid di dunia), maka orang tadi belum bisa dikatakan
mempunyai sifat pemurah, karena kemurahannya itu lahir setelah mendapat dorongan
dari luar dan belum tentu muncul lagi pada kesempatan yang lain.
Boleh jadi tanpa dorongan seperti itu, dia tida akan menyumbang. Dari keterangan
di atas jelaslah bagi kita bahwa akhlak itu brsifat spontan dan tidak memerlukan
pemikiran dan pertimbangan serta dorongan dari luar.
Menurut terminologi, filosofis akhlak Islam yang terpengaruh oleh filsafat Yunani ia
memberikan defenisi akhlak yaitu suatu keadaan bagi jiwa yang mendorong ia
melakukan tindakan. Dari keadaan itu tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan.
Keadaan ini terbagi 2 ada yang berasal dari tabiat aslinya ada pula yang diperoleh dari
kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi tindakan itu pda mulanya hanya melalui
pemikiran dan pertimbangan, kemudian dilakukan terus menerus maka jadilah suatu
bakat dan akhlak.
Di samping istilah akhlak juga dikenal istilah etika dan moral. Ketiga istilah itu
sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap dan perbuatan manusia. Akhlak itu
ada yang bersifat tabrat / alami, maksudnya bersifat fitrah sebagai pembawaan sejak
lahir, misalnya sabar, penyayang, malu, sebagaimana di dalam hadist Abdil Qais
disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW berkata kepadaku “sesungguhnya pada diri
kamu ada dua tabiat yang di sukai Allah”, Aku berkata “Apa yang dua itu ya
Rasulullah?”, rasulullah SAW menjawab “Sabar dan malu”.
Kata akhlak dipakai untuk perbuatan terpuji dan perbuatan tercela. Oleh karena itu
akhlak memerlukan batasan agar bisa dikatakan akhlak terpuji / akhlak tercela.
18
B. Hubungan Akhlak dan Tingkah Laku
Jika akhlak merupakan sifat diri secara bathiniahyang bisa diketahui oleh mata
hati, tingkah laku merupakan gambara diri secara lahiriah yang bisa diketahui oleh mata
atau dapat kita katakan bahwa hubungan akhlak dan tingkah laku itu seperti hubungan
antara yang menunjukkan dan yang ditunjukkan.6
Jika tingkah laku manusia itu baik serta terpuji, akhlaknya terpuji, sedangkan jika
tingkah lakunya buruk maka serta tercela maka akhlaknya pun tercela. Inipun terjadi
bila tak ada faktor luar yang mempengaruhi tingkah laku itu, kemudian menyebabkan
tidak mengarakan akhlak secara benar. Contohnya orang yang bersedekah karena
ingin dilihat orang-orang disampingnya.
Rasulullah juga pernah bersabda “Manusia yang paling banyak dimasukkan ke
dalam surga adalah manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT dan akhlak yang baik”.
Akhlak itu merupakan suatu keadaan dalam diri, maksudnya ia merupakan suatu sifat
dimilki aspek jiwa manusia, sebagaimana tindakan merupakan suatu sifat bagi aspek
tubuh manusia.
C. Pembagian Akhlak
Akhlak dibagi menjadi dua macam :
1. Akhlakul Karimah
Akhlakul karimah adalah akhlak yang mulia atau terpuji. Akhlak yanh baik itu dilahirkan
oleh sifat-sifat yang baik pula yaitu sesuai dengan ajaran Allah SWT dan rasil-rasulNya7
Misalnya :
a. Bertqwa kepada Allah SWT
“Dan bertaqwalah kepada Ku, hai orang-orang yang berakal”. (QS Al-Baqarah : 197)
Rasulullah juga telah bersabda yang mana artinya adalah sebagai berikut :
“Bertqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah suatu keburukan
dengan kebaikan, niscaya akan menghapuskannya dan bergaullah dengan sesma
manusia dengan akhlak yang baik”
(H.R Tirmidzi dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal)
6
DR.Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari.2006.Keistimewaan Akhlak Islam.Bandung:Pustaka Setia
7 Drs.KH.Ahmad Dimyathi Badruzzaman,M.A.2004.Panduan Kuliah Agama Islam.Bandung:Sinar Baru
19
b. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
Allah SWT telah berfirman yang mana artinya adalah sebagai berikut :
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia.dan
hendaklah kamu berbuat baik kepad ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia”
(QS Al-Isra’ : 23)
Rasulullah juga telah bersabda
“Ridha Allah SWT itu terletak pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah itu terletak
pada murkanya kedua orang tua”
(H.R Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr).
c. Suka Menolonh Orang yang Lemah
Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Maidah : 2 yang mana artinya adalah
sebagai berikut
“Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa. Dan jangan
tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran”.
Rasulullah juga telah bersabda :
“Dan Allah akan menolong hambaNya, selama hambaNya itu suka menolong
saudaranya”
(H.R Muslim dari Abu Hurairah)
2. Akhlakul Madzmumah
Akhlakul madzmumah adalah akhlah tercela / akhlak yang tidak terpuji. Akhlakul
madzmumah (tercela) ialah akhlak yang lahir dari sifat-sifat yang tidak sesuai dengan
ajaran Allah SWT dan RasulNya.8
Misalnya :
a. Musryik (menyekutukan Allah)
Sebagaiman firman Allah SWT yang artinya :
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata ‘sesungguhnya Allah ialah Al
Masih putra Maryam’ padahal Al Masih sendiri berkata ‘ Hai Bani Israil, sembahlan
Allah Tuhanku dan Tuhanmu!’. Sesungguhnya orang-orang yang
8 Ibid,hal 41
20
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pastilah Allah mengharamkam surga
kepadanya dan tempatnya adalah neraka. Orang-orang zalim itu tidaklah mendapat
seorang penolong pun”
(QS Al Maidah : 72).
Rasulullah SWA juga bersabda yang artinya sebagai berikut :
“Tidaklah kalian mau kuberi tahukah sebesar-besarnya dosa besar? (beliau
mengatakan demikian demikian sampai 3 kali). Para sahabat menjawab,”Tentu ya
Rasulullah “. Rasulullah SAW bersabda yang demikian itu adalah musryik
(menyekutukan Allah)”.
(H.R Bukhari dan Muslim)
b. Pergaulan Bebas (zina)
Allah berfirman
“Dan janganlah kamu mendekati zina , sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
keji dan jalan yang buruk”
(QS Al-Isra’ : 32)
Rasulullah telah bersabda yang artinya :
“tidak ada suatu dosa pun setelah musryik (menyekutukan Allah) yang lebih besar di
sisi Allah dari pada seseorang yang meletakkan spermanya kepada kamaluan
perempuan yang tidak halal baginya”
(H.R Ahmad dan Thabari dari Abdullah bin Al-Harits)
c. Meminum Minuman Keras (narkoba)
Dalam hal ini Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Maidah : 90, yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban
untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji yang
termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan itu agar kamu mendapat
keberuntungan”
(QS Al-Maidah : 90)
Rasulullah dalam hal ini telah bersabda :
“Jauhilah minum minuman keras, karena dia merupakan kunci segala keburukan”
(H.R Al-Hakam dari Ibnu Abbas r.a)
21
D. Kedudukan Akhlakul Karimah
Akhlakul karimah merupakan barometer tinggi rendahnya derajat seseorang
sekalipun orang itu pandai setinggi langit, namun jika ia suka melanggar norma-norma
agama maka ia tidak bisa dikatakan orang yang mulia.
Akhlakul karimah tidak hanya menentukan tinngi rendahnya derajat seseorang
akan tetapi mencakup pula derajat suatu bangsa. Suatu bangsa dapat dikatakan mulia
karena kemuliaan dan kebesarannya, kalau mereka berakhlak jahat dan hinakarena
yang akan tinggal itu bukan kemewahan dan kebesarannya melainkan akhlaknya.
Oleh karena itu akhlak menjadi peninggalan kekal yang akan terhapus selama
dunia di huni manusia, sedang kemewahan dan kebesaran itu akan lenyap bila bangsa
itu hancur dan binasa. Lenyapnya kemuliaan suatu bangsa karena kehilangan akhlak
yang baik dan utama dari mereka, demikian pula sebaliknya kekalnya suatu bangsa
karena kekalnya akhlak-akhlak dari mereka.
Seorang pujangga Mesir bernama Ahmad Syauqi dalam salah satu qubahannya:
Sesungguhnya suatu bangsa akan menjadi jaya dan terhormat selama bangsa itu
memiliki akhlak yang luhur, apabila bangsa itu telah kehilangan akhlak yang luhur,
maka bangsa itu akan musnah dan hancur lembur.
Oleh karena itu masalah akhlak itu tidak bisa dianggap sepele, karena mencakup
masyarakat luas, yang akan mengangkat derajat manusia ke tingkat yang semulia-
mulianya, namun bila salah jalan justru akan membawa mareka kepada derajat yang
serendah-rendahnya. Masalah akhlak pada masa sekarang ini pada umumnya
kejahatan mengatasi kebaikan,kebatilan mengatasi kebenaran, pencemaran menjadi
perbuatan yang lumrah dilakukan orang.
Pada masa sekarang orang tua sangat mengkhawatirkan moral anaknya, karena
rusaknya pergaulan dikalangan manusia, khususnya pada masa remaja. Masa yang
menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dipengaruhi oleh hawa
nafsu dan bujukan setan. Namun manusia tidak bisa semata-mata mengandalkan
teknologi dan ilmu pengetahuan ini untuk membimbingnya ke jalan kebajikan dan
mengesampingkan ajaran dan tuntutan agama.
Kaum muslim sebaiknya mempraktekkan akhlakul karimah ini,
karena kedatangan Nabi Muhammad SAW adalah sebagai penyempurna akhlak yang
baik dan utama. Sebagaimana diterangkan dalam sabdanya yang artinya:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
(H.R Al-Hakim dari Abu Hurairah)
22
Sebagai anjuran bagi umatnya supaya berakhlak baik, beliau bersabda, yang
artinya adalah :
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik
akhlaknya”
(H.R Tirmidzi dari Abu Hurairah)
Dan Nabipun telah mendorong orang tua agar mengajarkan tata krama dan sopan
santun kepada anak-anaknya tersebut dalam sebuah hadits yang artinya
“Muliakanlah anak-anakmu dan baguskanlah budi pekerti mereka”
(H.R Ibnu Majah dari Anas bin Malik)
Nabi Muhammad tidak hanya menganjurkan umatnya supaya berakhlak baik dan
mulia, tetapi lebih dahulu beliau berakhlak mulia, bersopan santun dan berperangai
terpuji, sehingga Allah SWT memberikan pujian kepada beliau yang belum pernah
diberikannya kepada orang lain, sebagaimana diterangkan dalam firmannya :
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) berbudi pekerti agung”
(QS Al-qalam : 4)
Oleh karena itu setiap muslim berkewajiban mendidik dirinya sendiri dan ank-
anaknya supaya berakhlak baik. Dan di perguruan tinggi masalah akhlak ini perlu
mendapat perhatian. Janganlah mereka hanya mementingkan ilmu pngetahuan dan
teknologi saja, sedangkan akhlak tidak diperhatikan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi serta penghidupan yang serba mewah itu,
tidaklah memiliki arti apa-apa kalau mereka dan anak-anak mereka berakhlak jahat dan
hina, karena ketiadaan akhlak yang baik itu bisa membawa mereka kepada kerusakan
dan kerendahan.
Dalam keseluruhan agama Islam akhlak menempati kedudukan istimewa dan
sangat penting, karena Rasulullah SAW menempatkan penyempurnaan akhlak yang
mulia sebagai misi pokok risalah Islam, beliau bersabda yang artinya :
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
(H.R Baihaqi)
Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam sebagai Rasulullah Saw
pernah mendefenisikan agama itu dengan akhlak yang baik.
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya pada Rasulullah SAW:
Ya Rasulullah, apakah agama itu? Beliau menjawab “Agama itu adalah akhlak yang
baik”. Pendefisian agama (Islam) dengan akhlak yang baikitu sebanding dengan
pendefenisian ibadah haji dengan wuquf di Arafah. Rasulullah menyebutkan haji adalah
wuquf di Arafah. Artinya tidak sah haji seseorang tanpa wuquf di Arafah.
23
Akhlak yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nantipada
hari kiamat. Rasulullah bersabda yang mana artinya :
“Tidak ada satupun yang akan lebih memberatkan timbangan (kebaikan) seorang
hamba mukmin nanti pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik”
(H.R Tirmidzi)
Dan orang yang paling dicintai serta dekat dengan Rasulllah SAW nanti pada
hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Rasulullah menjadikan baik
buruknya akhlak seseorang sebagai ukuran kualitas imannya. Hal ini bisa kita lihat pada
sabda rasulullah yang artinya adalah :
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya,
misalnya shalat, puasa, zakat, dan haji.’’ Sebagaiman firman Allah yang artinya :
“Dan dirikan lah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan
mungkar.”
(QS Al-Ankabut : 29:45)
Rasulullah juga pernah bersabda bahwa puasa itu bukan hanya menahan
makan dan minum saja, tapi puasa itu menahan diri dari perbuatan kotor dan keji. Jika
seoarng mencaci, menjahili kamu maka katakan sesungguhnya aku sedang puasa.
Firman Allah SWT dalam surat At-Taubah 9:103 :
“ Ambilah zakat dari sebagaian harta mereka, demgan zakat itu kamu membersihkan
dan mensucikan mereka”.
Firman allah dalam surat Al-Baqarah : 197
“Musim haji adalah beberapa bulan dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niatnya
dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (mengeluarkan
perkataan yang menimbulakan birahi yang tidak senonoh / bersetubuh dalam masa
mengerjakan haji”.
Dan beberpa arti dari ayat di atas kita dapat melihat adanya kaitan langsung
antara shalat, puasa, haji dan zakat dengan akhlak. Seseorang yang mendirikan shalat
tentu tidak akan mengerjakan segala perbuatan yang tergolong keji dan mungkar.
Sebab apalah arti shalat kalau dia tetap saja mengerjakan kekejian dan kemungkaran.
Seseorang yang benar-benar puasa demi mencari ridha Allah, di samping menahan
keinginannya untuk makan dan minum, tentu saja akan menahan dirinya dari segala
kata-kata yang kotor dan perbuatan yang tercela. Sebab tanpa
meninggalkan perbuatan yang tercela itu dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari
puasanya kecuali hanya lapar dan haus semata.
24
Begitu juga dengan ibadah, zakat dan haji, dikaitkan oleh Allah SWT hikmahnya
dengan aspek akhlak. Jadi kesimpulannya, akhlak yang baik dan diterima oleh Allah
adalah buah dari ibadahyang baik atau ibadah yang baik dan diterima oleh Allah
SWTtentu akan melahirkan akhlak yang baik dan terpuji. Nabi Muhammad Saw selalu
berdoa agar Allah SWT membaikkan akhlak beliau.
Salah satu doa beliau adalah :
“Ya Allah tunjukilah aku jalan menuju akhlak yang baik, karena sesungguhnya tidak ada
yang dapat memberi petunjuk menuju jalan yang lebih baik selain engkau. Hindarilah
aku dari akhlak yang buruk karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menghindarkan
aku dari akhlak yang buruk kecuali engkau”.
Di dalam Alquran banyak terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan
akhlak,baik berupa perintah untuk berakhlak yang baik serta pujian dan pahala yang
diberikan kepada orang-orang yang mematuhi perintah itu, maupn larangan berakhlak
yang buruk serta celaan dan dosa bagi orang-orang yang melanggar.
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab, jamak dari kata khuluq yang artinya budi
pekerti. Pengertian akhlak menurut istilah di ungkapkan oleh Imam Al-Ghazali , Ibrahim
Anis, dan Abdul Karim Zaidan. Menurut Al-Ghazali akhlak adalah suatu bentuk (naluri
asli) dalam jiwa seseorang manusia yang dapat melahirkan suatu indakan dan
kelakuan dengan mudah dan spontan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Sedangkan menurut Ibrahim Anis akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa
yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan baik / buruk tanpa membutuhkan
pemikiran dan pertimbangan. Dan menurut Abdul Karim Zaidan adalah nilai-nilai dan
sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengan sorotan dan pertimbangan seseorang
dapat menilai perbuatannya baik / buruk untuk kemudian memilih melakukan /
meninggalkannnya.
Ketiga defenisi di atas kita bisa menyatakan bahwa akhlak / khuluq itu adalah sifat
yang tertanam dalam jiwa manusia. Sehingga dia muncul secara spontan bilamana
diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran /pertimbangan lebih dahulu, serta tidak
25
memerlukan dorongan dari luar. Berarti akhlak itu haruslah bersifat konstan dan
spontan tidak memerlukan pertimbangan serta dorongan dari luar.
Sedangkan pembagian akhlak terbagi menjadi dua macam yaitu akhlakul karimah
yaitu akhlak yang terpuji (yang mulia). Akhlak yang baik itu dilahirkan oleh sifat-sifat
yang baik pula yaitu sesuai dengan ajaran Allah SWT dan RasulNya, misalnya
bertaqwa kepada Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua, suka menolong orang
yang lemah. Karena akhlak yang baikakan memberatkan timbangan kebaikan
seseorang nanti pada hari kiamat. Rasulullah juga bersabda bahwa tidak ada satu pun
yang akan lebih memberatkan timbangan (kebaikan) seorang hamba mukmin nanti
pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik.
Selain akhlakul karimah juga ada akhlakul madzmumah yaitu akhlak yang tercela /
akhlak yang tidak terpuji. Akhlakul madzmumah ialah akhlak yang lahir dari sifat-sifat
yang tidak sesuai dengan ajaran Allah SWT dan rasulNya, seperti musryik, pergaulan
bebas (zina) dan minum minuman keras.
3.2. SARAN
Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari bahw apenulisan makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran
kepada para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
1. DR.H.Yunahar.1999.Kuliah Akhlak.Yogyakarta:Pustaka Pelajar offset.hal
2. DR.Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari.2006.Keistimewaan Akhlak Islam.Bandung:Pustaka
Setia
3. Drs.KH.Ahmad Dimyathi Badruzzaman,M.A.2004.Panduan Kuliah Agama
Islam.Bandung:Sinar Baru
4. Ibid,hal 41

Cara memahami ahlak

  • 1.
    CARA MEMAHAMI AKHLAK Makalahini disusun guna memenuhi Tugas Mandiri Mata Kuliah Akhlak Tasawuf Dosen Pengampu Relit Nur Edi, S.Ag., M.Ag Disusun Oleh: Nama : Ahmad Ridho Al Amin NPM : 14117714 KELAS E PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM JURUSAN SYARIAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JURAI SIWO METRO 2014/2015
  • 2.
    2 KATA PENGANTAR Puji syukurkehadirat allah SWT yang telah memberi kami kekuatan dan kesabaran, untuk senantiasa berikhtiar menuntut ilmu guna mencapai hari esok yang lebih baik. Dengan segala limpahan karunia dan bimbingan-Nya, alhamdullilah tugas akhlak tasawuf yang di susun dalam bentuk makalah dengan judul ”cara memahami ahklak” dapat terselesaikan. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak sebagai dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dan semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah sederhana ini dapat menambah pengetahuan kita dalam menjabarkan sejuta pengetahuan yang selama ini tidak pernah kita hiraukan.Adapun harapan penulis, penyusunan makalah ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi kita. Penulis menyadari bahwa tugas makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun. Demikian makalah ini penulis buat, apabila ada kesalahan dalam penulisan, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Metro, 20 Desember 2014
  • 3.
    3 Daftar Isi Kata Pengantar..............................................................................................................2 DaftarIsi.........................................................................................................................3 BAB I...............................................................................................................................4 Pendahuluan Rumusan masalah BAB II..............................................................................................................................6 BAB III...........................................................................................................................10 Daftar pustaka.............................................................................................................11
  • 4.
    4 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Pentingnya penerapan akhlak dalam sehari-hari menjadi tuntutan di era modernisasi ini. Pengaruh globalisasi yang tinggi menyebabkan tata krama menurun dimasyarakat, terutama dampak tersebut menuju kepada pemuda zaman sekarang. Media komunikasi seperti; televisi, handphone, dan lain-lain, sekarang ini hampir rata-rata menayangkan hal-hal yang menurunkan adab sopan santun, seperti film yang menampilkan tindakan kekerasan. Hal ini akan berdampak buruk jika ditonton oleh anak-anak. Sehingga dapat menurunkan moralitas anak- anak. Tidak hanya itu diinternet juga banyak hal-hal yang tidak layak ditonton para remaja, karena sifat internet yang tidak memiliki batasan dan bersifat universal. Sehingga tidak ada dinding penghalang bagi siapa saja yang melihat, tentunya ini berdampak negative, seperti; kita maraknya video porno yang beredar, serta banyak iklan-iklan vulgar yang tidak pantas untuk dilihat para remaja Indonesia. Hal ini akan menurunkan moralitas pemuda bangsa. Sehingga tak ayal lagi kualitas SDM (Sumber Daya Masyarakat) suatu bangsa menurun. Kita harus dapat memfiltrasi di mana budaya yang baik dan buruk. Akhlak menjadi fitrah setiap manusia, di mana akhlak ada yang baik dan ada yang buruk. Setiap insane dituntut untuk memiliki akhlak yang baik, karena akhlak yang baik akan membawa kehidupan yang lebih baik. Di mana kehidupan itu akan membawa ketentraman di masyarakat. Sehingga akan terjamin kerukunan dimasyarakat, memang watak setiap manusia berbeda-beda, tapi kita dituntut untuk berakhlak yang baik. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Qalam ayat 4 yang artinya berbunyi: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Dalam surat itu kita memang dituntut untuk memiliki akhlak yang baik. Oleh karena itu mari kita ciptakan generasi yang berakhlak mulia. Sehingga dapat menciptakan ketentraman di masyarakat dan meningkatkan martabat suatu bangsa. Akhlak mulia tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada Allah, rasul-rasul, malaikat-malaikat serta kitab-kitab-Nya. Oleh karena itu penting kita memiliki akhlak mulia sehingga menjadi tuntutan.
  • 5.
    5 B. Rumusan Masalah 1.Apa pengertian akhlak? 2. Apa tujuan akhlak itu sendiri? 3. Dari mana sumber akhlak? 4. bagaimana objek kajian akhlak? C. Tujuan Pembahasan 1. Bagaimana cara membentuk akhlak yang baik. 2. Mengerti hal apa saja yang mempengaruhi akhlak. 3. mengerti bentuk-bentuk dan hakikat akhlak. 4. Mengupayakan untuk berakhlak mulia dalam kehidupan di masyarakat . D. Manfaat Pembahasan 1. Membentuk kepribadian manusia berakhlak mulia. 2. Mendorong setiap insan untuk berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. 3. Menambah wawasan tentang pengertian akhlak dan objek-objek kajian akhlak serta aspek- aspek yang mempengaruhinya.
  • 6.
    6 BAB II ISI A. PengertianAkhlak Kata akhlak layaknya tak ayal lagi bagi telinga kita, karena penerapan akhlak dalam kehidupan menjadi prioritas utama sehari-hari. Lantas apa pengertian akhlak itu sendiri? Menurut bahasa akhlak berasal dari bahasa Arab dari kata khuluq (khuluqun), yang berarti budi pekerti, peringai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan secara istilah akhlak berarti ilmu yang menentukan batas antara yang baik dan yang buruk, antara yang terbaik dengan yang tercela, tentang perbuatan manusia, lahir dan batin. Untuk lebih memahami pengertian akhlak ini, mari kita lihat pendapat dari para tokoh yaitu: 1. Ahmad Amin, mengartikan akhlak sebagai suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh sebagian manusia kepada yang lainnya.1 2. Imam al-Ghazali, mengartikan sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.2 3. Ibrahim Anis mentakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran atau pertimbangan.3 Dari pendapat tokoh-tokoh tersebut. Penulis lebih cenderung pada pendapat Imam al- Ghazali dan Ibrahim Anis. Hal tersebut dikarenakan lahirnya akhlak dalam tindakan nyata merupakan tindakan spontanitas, tidak perlu pertimbangan dan angan-angan lagi. Sebagai kenyataan yang ada, orang yang telah tertanam jiwa kebaikan pada hatinya akan selalu berbuat kebaikan, jika ada sesuatu yang kiranya itu memerlukan perwujudan dari kebaikan itu seperti; menolong orang, maka orang tersebut akan iba dan menolong orang yang dalam kesusahan tersebut, jika hal tersebut tidak dilakukannya, maka akan selalu timbul kegelisahan dalam 1 Ahmad Amin, Kitab Akhlak, (Kairo:Dar al-Kutub al-Mishriyah,tt), h. 13 2 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta:Raja Grafindo Persada,2009),h.3 3 Ibid.,h. 4
  • 7.
    7 hatinya. Begitupun sebaliknyaorang yang tidak mempunyai jiwa kebaikan dalam hatinya, maka akan timbul masa bodoh untuk menolong orang tersebut. B. Tujuan dan Manfaat Ilmu Akhlak Secara umum tujuan akhlak adalah tercapainya kebaikan dan keutamaan. Adapun kebaikan manusia itu menurut al-Ghzali bersumber pada empat hal : a. Kebaikan jiwa (al-nafs). Ini berasal dari ilmu, kebijaksanaan, kesucian diri, dan keadilan. b. Kebaikan dan keutamaan badan (jasmaniah). Bisa diperoleh melalui sehat, kuat, tampan, dan panjang usia. c. Kebaikan yang datang dari luar (exsternal/ al-Kharijiah). Berasal dari harta, keluarga, pangkat, nama baik/kehormatan. d. Kebaikan bimbingan (taufiq-Hidayah). Ini diperoleh dengan; petunjuk, bimbingan, pelurusan, dan penguatan dari Allah. Jadi secara kesimpulan, tujuan akhlak adalah tercapainya kebahagian manusia di dunia dan akhirat berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan sunnah nabi. Sedangkan manfaatnya adalah dapat dijadikan panduan atau pedoman dalam melakukan sebuah tindakan, sehingga tindakan tersebut tetap berada dalam jalur yang benar; atau konsep Islam secara spesifik untuk mendapat keridhaan Allah SWT, dalam kehidupan dunia dan akhirat. C. Sumber Ajaran Akhlak Akhlak merupakan pedoman yang harus dilaksanakan umat. Hal ini jelas bersumber dari Al-Qur’an maupun Hadis Nabi, serta pemikiran manusia itu sendiri yang berupa norma-norma yang berkembang di masyarat umumnya. Adapun sumber dari ayat-ayat Al-Qur’an sebagai berikut : َ‫ه‬‫اّٰلل‬ ‫وا‬ُ‫ج‬ ۡ‫ر‬َ‫ي‬ َ‫َان‬‫ك‬ ۡ‫ن‬َ‫م‬ِ‫ل‬ ٌ‫ة‬َ‫ن‬َ‫س‬َ‫ح‬ ٌ‫ة‬ َ‫و‬ۡ‫س‬ُ‫ا‬ ِ‫ه‬‫اّٰلل‬ ِ‫ل‬ ۡ‫و‬ُ‫س‬ َ‫ر‬ ۡ‫ى‬ِ‫ف‬ ۡ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬ َ‫َان‬‫ك‬ ۡ‫د‬َ‫ق‬َ‫ل‬ِ َ‫ك‬ َ‫ه‬‫اّٰلل‬ َ‫َر‬‫ك‬َ‫ك‬ َ‫و‬ َ‫ر‬ ِ‫ر‬ِ ۡ‫اٰا‬ َ‫م‬ ۡ‫و‬َ‫ي‬ۡ‫ال‬ َ‫و‬‫ا‬‫ا‬‫ر‬ۡ‫ي‬21ؕ)
  • 8.
    8 Artinya: Sesungguhnya telah adapada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS.al-Ahzab/33: 21) ُ‫س‬َّ‫الر‬ ِ‫ة‬َ‫ي‬ ِ‫ص‬ْ‫ع‬َ‫م‬ َ‫و‬ ِ‫ان‬ َ‫ْو‬‫د‬ُ‫ع‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫و‬ ِ‫م‬ْ ‫اإل‬ِ‫ب‬ ‫ا‬ ْ‫و‬َ‫ج‬‫َا‬‫ن‬َ‫ت‬َ‫ت‬ ‫ال‬َ‫ف‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ي‬َ‫ج‬‫َا‬‫ن‬َ‫ت‬ ‫ا‬َ‫ك‬ِ‫إ‬ ‫وا‬ُ‫ن‬َ‫م‬‫آ‬ َ‫ِين‬‫ك‬َّ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُّ‫ي‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫ي‬‫ا‬ ْ‫و‬َ‫ج‬‫َا‬‫ن‬َ‫ت‬ َ‫و‬ ِ‫ل‬‫و‬ َ‫ون‬ُ‫ر‬َ‫ش‬ْ‫ح‬ُ‫ت‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ ‫ِي‬‫ك‬َّ‫ل‬‫ا‬ ََّ‫اّٰلل‬ ‫وا‬ُ‫ق‬َّ‫ت‬‫ا‬ َ‫و‬ ‫ى‬ َ‫و‬ْ‫ق‬َّ‫ت‬‫ال‬ َ‫و‬ ِ‫ر‬ِ‫ب‬ْ‫ل‬‫ا‬ِ‫ب‬9) Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Tetapi bicarakanlah tentang perbuatan kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dkumpulkan kembali.(QS.al-Mujadalah/ 58:9) Sedangkan bunyi hadisnya sebagai berikut: Dari Sahl bin Sa'ad radiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ‫سفسافها‬ ‫ويكره‬ ‫األرالق‬ ‫معالي‬ ‫يحب‬ ‫هللا‬ ‫إن‬‫األ‬ ‫صححه‬ :‫للطبراني‬ ‫الكبير‬ ‫[المعجم‬‫لباني‬ Sesungguhnya Allah mencintai akhlak yang mulia dan membenci akhlak yang buruk. [Al- Mu'jam Al-Kabiir: Sahih] D. Objek Kajian Akhlak Objek kajian akhlak adalah tingkah laku manusia dalam rangka menetapkan nilainya baik atau buruk dalam kehidupan, atau berupa penyelidikan tentang tingkah laku manusia baik sebagai individu maupun kelompok masyarakat. Secara umum perbuatan manusia dapat dikelompokan menjadi dua: 1) Perbuatan yang lahir dengan kehendak dan disengaja. 2) Perbuatan yang lahir tanpa kehendak dan tidak disengaja.
  • 9.
    9 Dari dua bentukperbuatan itu maka bagian yang pertamalah yang menjadi objek kajian ilmu akhlak. Sedangkan yang kedua bukanlah menjadi objek kajian ilmu akhlak. Namun sebagai pertimbangan untuk melihat apakah perbuatan itu disengaja atau tidak, dapat dikemukakan hal berikut: a. Situasi memungkinkan adanya pilihan (bukan karena terpaksa atau dipaksa), atau manusia bebas. b. Sadar apa yang dilakukan, di mana ia melakukan sebuah perbuatan berdasarkan gerak reflex dan dapat membedakan baik dan buruknya perbuatan itu.4 Dengan demikian, kajian ilmu akhlak adalah semua perbuatan manusia yang timbul dari orang yang melaksanakan dengan; sadar, disengaja, mengetahui waktu pelaksanaanya, dan sadar akibat yang ditimbulkan. BAB III KESIMPULAN Jadi kesimpulannya, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran atau pertimbangan. Sumber ajaran akhlak terdapat pada QS.al-Ahzab/33: 21 dan QS.al-Mujadalah/ 58:9, serta terdapat juga dalam hadis tentang budi luhur. kajian ilmu akhlak adalah semua perbuatan manusia yang timbul dari orang yang melaksanakan dengan; sadar, disengaja, mengetahui waktu pelaksanaanya, dan sadar akibat yang ditimbulkan. Dan akhlak juga mempunyai tujuan, yaitu untuk mencapai kebahagian manusia di dunia dan akhirat berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan sunnah nabi. Sedangkan manfaat akhlak itu sendiri dapat dijadikan panduan atau pedoman dalam melakukan sebuah tindakan, sehingga tindakan tersebut tetap berada dalam jalur yang benar; atau konsep Islam secara spesifik untuk mendapat keridhaan Allah SWT, dalam kehidupan dunia dan akhirat. 4 Lihat Sidi Gazalba,op.cit.,h.2
  • 10.
    10 DAFTAR PUSTAKA Ahmad Amin,Kitab Akhlak, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyah, tt. Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009. Al-Qur’an dan terjemahan, Semarang: CV Ponegoro Ibid., Sidi Gaza
  • 11.
    11 PENTINGNYA MEMPELAJARI AKHLAKTASAWUF Makalah ini disusun guna memenuhi Tugas Mandiri Mata Kuliah Akhlak Tasawuf Dosen Pengampu Relit Nur Edi, S.Ag., M.Ag Disusun Oleh: Nama : Ahmad Ridho Al Amin NPM : 14117714 KELAS E PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM JURUSAN SYARIAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JURAI SIWO METRO 2014/2015
  • 12.
    12 KATA PENGANTAR Puji syukurkehadirat allah SWT yang telah memberi kami kekuatan dan kesabaran, untuk senantiasa berikhtiar menuntut ilmu guna mencapai hari esok yang lebih baik. Dengan segala limpahan karunia dan bimbingan-Nya, alhamdullilah tugas akhlak tasawuf yang di susun dalam bentuk makalah dengan judul ”pentingnya mempelajari akhlak tasawuf” dapat terselesaikan. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak sebagai dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dan semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah sederhana ini dapat menambah pengetahuan kita dalam menjabarkan sejuta pengetahuan yang selama ini tidak pernah kita hiraukan.Adapun harapan penulis, penyusunan makalah ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi kita. Penulis menyadari bahwa tugas makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun. Demikian makalah ini penulis buat, apabila ada kesalahan dalam penulisan, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Metro, 20 Desember 2014
  • 13.
    13 Daftar Isi Kata Pengantar..............................................................................................................2 DaftarIsi.........................................................................................................................3 BAB I...............................................................................................................................4 BAB II..............................................................................................................................6 BAB III...........................................................................................................................10 Daftar pustaka.............................................................................................................11
  • 14.
    14 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang Ajaran akhlak dalam Islam berumber dari wahyu Illahi yang termasuk dalam Al- quran dan sunnah. Akhlak dalam Islam bukanlah moral yang kondisional dan situasional, tetapi akhlak yang benar-benar memiliki nilai yang mutlak untuk memperoleh kebahagian di dunia ini dan di akhirat kelak. Dalam keseluruhan ajaran Islam, akhlak menempati kedudukan yang istimewa dan sangat penting. Di dalam Alquran saja banyak ayat-ayat yang membicarakan masalah akhlak . belum lagi dengan hadits-hadits Nabi, baik perkataan maupun perbuatan, yang memberikan pedoman akhlak yang mulia dalam keseluruhan aspek kehidupan. Akhlak dalam Islam bukanlah moral yang harus disesuaikan dengan suatu kondisi dan situasi, tetapi akhlak yang benar-benar memiliki nilai yang mutlak, nilai-nilai baik dan buruk, terpuji dan tercela berlaku kapan saja, dimana saja dalam segala aspek kehidupan tidak di batasi oleh ruang dan waktu. Ajaran akhlak dalam Islam sesuai dengan fitrah manusia. Manusia akan mendapatkan kebahagiaan hakiki bukan semu bila mengikuti nilai-nilai kebaikan yang di ajarkan oleh Alquran dan Sunnah, dua sumber akhlak dalam Islam. Akhlak Islam benar- benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat sesuai dengan fitrahnya itu. Hati nurani / fitrah dalam bahasa Alquran memang dapat menjadi ukuran baik dan buruk karena manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki fitrah bertauhid, mengakui keesaanNya. (QS Ar-Rum :30) Karena fitrah itulah manusia kepada kesucian dan selalu cenderung kepada kebenaran. Hati nuraninya selalu mendambakan dan merindukan kebenaran, ingin mengikuti ajaran-ajaran Tuhan, karena kebesaran itu tidak akan di dapat kecuali dengan Allah sebagai sumber kebenaran mutlak. Namun fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan baik karena pengaruh dari luar, misalnya pengaruh pendidikan dan lingkungan. Fitrah hanyalah merupakan potensi dasar yang perlu dipelihara dan dikembangkan. Banyak manusia yang fitrahnya tertutup sehingga hati nuraninya tidak dapat lagi melihat kebenaran, oleh sebab itu ukuran baik dan buruk tidak di serahkan sepenuhnya hanya kepada hati nurani / fitrah manusia semata, harus dikembalikan kepada penilaian syara’ yaitu Alquran dan Hadits. Semua keputusan syara’ tidak akan bertentangan
  • 15.
    15 dengan hati nuranimanusia, karena kudua-duanya berasal dari sumber yang sama yauti Allah SWT. Demikian juga halnya dengan akal pikiran. Ia hanya lah salah satu kekuatan yang dimilki manusia untuk mencari kebaikan / keburukan . Dan keputusannya bermula dari pengalaman empiris kemudian diolah menurut kemampuan pengetahuannya, oleh karena itu keputusan yang diberikan akal hanya bersifat spekulatif dan subjektif. Demikanlah tentang hati nurani dan akal pikiran. Di samping istilah akhlak juga di kenal istilah etika dan moral. Ketiga istilah itu sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap dan perbuatan manusia. Perbedaanya terletak pada standar masing-masing. Bagi akhlak standarnya adalah Alquran dan Sunnah, bagi etika standarnya pertimbangan akal pikiran, dan bagi moral standarnya adalah adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat. 1.2. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang akan d kaji diantaranya: a. Bagaimana pengertian akhlak? b. Bagaimanakah hubungan akhlak dan tingkahlaku? c. Apasaja danbagaiman pembagian akhlak? d. Bagaimanakah kedudukan Akhlakul Karimah? 1.3.Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari penulisan makalah ini diantaranya: 1. Untuk mendiskripsikan pengertian akhlak. 2. Untuk menjelaskan hubungan akhlak dan tingkahlaku. 3. Untuk lebihmengetahui tentang pembagian akhlak. 4. Untuk lebih memahami kedudukan Akhlakul Karimah. Adapun kegunaannya adalah: 1. Menambah wawasan dan sebagai bahan bacaan. 2. Memenuhi tugas terstruktur matakuliah akhlak tasawuf.
  • 16.
    16 BAB II PEMBAHASAN A. PengertianAkhlak Secara etimologi akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabi’at. Sinonim kta akhlak adalah budi pekerti, tata krama, sopan santun, moral dan etic.5 Sedangkan akhlak menurut istilah sebagaimana di ungkapkan oleh Imam Al- Ghazali adalah sebagai berikut : aklhlak adalah suatu bentuk (naluri asli) dalam jiwa seorang manusiayang dapat melahirkan suatu tindakan dan kelakuan dengan mudah dan sopan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Apabila naluri tersebut melahirkan suatu tindakan dan kelakuan yang baik dan terpuji menurut akal dan agama, maka disebut budi pekerti yang baik. Namun sebaliknya bila melahirkan tindakan dan kelakuan yang jahat maka disebut budi pekerti yang buruk. Yang di maksud melahirkan tindakan dan kelakuan ialah suatu yang dijelmakan anggota lahir manusia, misalnya tangan, mulut, demikian juga yang dilahirkan oleh anggota bathin yakni hati yang tidak dibuat-buat. Kalau kebiasaan yang tidak dibuat- buat itu baik disebut akhlak yang baik dan kalau kebiasaan yang buruk disebut akhlak yang buruk. Jadi dapat kita simpulkan awal perbuatan yang itu lahir malalui kebiasaan yang mudah tanpa adanya pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu . contohnya jika seseorang memaksakan dirinya untuk mendermakan katanya / menahan amarahnya dengan terpaksa , maka orang yang semacam ini belum disebut dermawan / orang yang sabar. Seseorang yang memberikan pertolongan kepada orang lain belumlah dapat dikatakan ia seorang yang berakhlak baik. Apabila ia melakukan hal tersebut karena dorongan oleh hati yang tulus, akhlas, dari rasa kebaikannya / kasihannya sesama manusia maka ia dapat dikatakan berakhlak dan berbudi pekerti yang baik. Jadi akhlak adalah masalah kejiwaan, bukan masalah perbuatan, sedangkan yang tampak berupa perbuatan itu sudah tanda / gejala akhlak. Sedangkan akhlak menurut Ibrahim Anis adalah sifat yang tertanam di dalam jiwa yang dengannya malahirkan macam-macam perbuatan baik / buruk tampa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Dan menurut Abdul Karim Zaidan akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengan sorotan dan 5 DR.H.Yunahar.1999.Kuliah Akhlak.Yogyakarta:Pustaka Pelajar offset.hal
  • 17.
    17 timbangannya seseorang dapatmenilai perbuatan baik / burk untuk kemudian memilih melakukan / meninggalkannya. Dari beberapa pengertian tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa akhlak / khuluq itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran / pertimbangan terlebih dahulu serta tidak memerlukan dorongan dari luar. Sifat spontanitas dari akhlak tersebut ccontohnya adalah apabila ada seseorang yang menyumbang dalam jumlah besar untuk pembangunan mesjid setelah mendapat dorongan dari seorang da’i (yang mengemukakan ayat-ayat dan hadist-hadist tentang keutamaan membangun mesjid di dunia), maka orang tadi belum bisa dikatakan mempunyai sifat pemurah, karena kemurahannya itu lahir setelah mendapat dorongan dari luar dan belum tentu muncul lagi pada kesempatan yang lain. Boleh jadi tanpa dorongan seperti itu, dia tida akan menyumbang. Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita bahwa akhlak itu brsifat spontan dan tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan dari luar. Menurut terminologi, filosofis akhlak Islam yang terpengaruh oleh filsafat Yunani ia memberikan defenisi akhlak yaitu suatu keadaan bagi jiwa yang mendorong ia melakukan tindakan. Dari keadaan itu tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan. Keadaan ini terbagi 2 ada yang berasal dari tabiat aslinya ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi tindakan itu pda mulanya hanya melalui pemikiran dan pertimbangan, kemudian dilakukan terus menerus maka jadilah suatu bakat dan akhlak. Di samping istilah akhlak juga dikenal istilah etika dan moral. Ketiga istilah itu sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap dan perbuatan manusia. Akhlak itu ada yang bersifat tabrat / alami, maksudnya bersifat fitrah sebagai pembawaan sejak lahir, misalnya sabar, penyayang, malu, sebagaimana di dalam hadist Abdil Qais disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW berkata kepadaku “sesungguhnya pada diri kamu ada dua tabiat yang di sukai Allah”, Aku berkata “Apa yang dua itu ya Rasulullah?”, rasulullah SAW menjawab “Sabar dan malu”. Kata akhlak dipakai untuk perbuatan terpuji dan perbuatan tercela. Oleh karena itu akhlak memerlukan batasan agar bisa dikatakan akhlak terpuji / akhlak tercela.
  • 18.
    18 B. Hubungan Akhlakdan Tingkah Laku Jika akhlak merupakan sifat diri secara bathiniahyang bisa diketahui oleh mata hati, tingkah laku merupakan gambara diri secara lahiriah yang bisa diketahui oleh mata atau dapat kita katakan bahwa hubungan akhlak dan tingkah laku itu seperti hubungan antara yang menunjukkan dan yang ditunjukkan.6 Jika tingkah laku manusia itu baik serta terpuji, akhlaknya terpuji, sedangkan jika tingkah lakunya buruk maka serta tercela maka akhlaknya pun tercela. Inipun terjadi bila tak ada faktor luar yang mempengaruhi tingkah laku itu, kemudian menyebabkan tidak mengarakan akhlak secara benar. Contohnya orang yang bersedekah karena ingin dilihat orang-orang disampingnya. Rasulullah juga pernah bersabda “Manusia yang paling banyak dimasukkan ke dalam surga adalah manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT dan akhlak yang baik”. Akhlak itu merupakan suatu keadaan dalam diri, maksudnya ia merupakan suatu sifat dimilki aspek jiwa manusia, sebagaimana tindakan merupakan suatu sifat bagi aspek tubuh manusia. C. Pembagian Akhlak Akhlak dibagi menjadi dua macam : 1. Akhlakul Karimah Akhlakul karimah adalah akhlak yang mulia atau terpuji. Akhlak yanh baik itu dilahirkan oleh sifat-sifat yang baik pula yaitu sesuai dengan ajaran Allah SWT dan rasil-rasulNya7 Misalnya : a. Bertqwa kepada Allah SWT “Dan bertaqwalah kepada Ku, hai orang-orang yang berakal”. (QS Al-Baqarah : 197) Rasulullah juga telah bersabda yang mana artinya adalah sebagai berikut : “Bertqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah suatu keburukan dengan kebaikan, niscaya akan menghapuskannya dan bergaullah dengan sesma manusia dengan akhlak yang baik” (H.R Tirmidzi dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal) 6 DR.Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari.2006.Keistimewaan Akhlak Islam.Bandung:Pustaka Setia 7 Drs.KH.Ahmad Dimyathi Badruzzaman,M.A.2004.Panduan Kuliah Agama Islam.Bandung:Sinar Baru
  • 19.
    19 b. Berbuat baikkepada kedua orang tua. Allah SWT telah berfirman yang mana artinya adalah sebagai berikut : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia.dan hendaklah kamu berbuat baik kepad ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS Al-Isra’ : 23) Rasulullah juga telah bersabda “Ridha Allah SWT itu terletak pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murkanya kedua orang tua” (H.R Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr). c. Suka Menolonh Orang yang Lemah Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Maidah : 2 yang mana artinya adalah sebagai berikut “Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa. Dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran”. Rasulullah juga telah bersabda : “Dan Allah akan menolong hambaNya, selama hambaNya itu suka menolong saudaranya” (H.R Muslim dari Abu Hurairah) 2. Akhlakul Madzmumah Akhlakul madzmumah adalah akhlah tercela / akhlak yang tidak terpuji. Akhlakul madzmumah (tercela) ialah akhlak yang lahir dari sifat-sifat yang tidak sesuai dengan ajaran Allah SWT dan RasulNya.8 Misalnya : a. Musryik (menyekutukan Allah) Sebagaiman firman Allah SWT yang artinya : “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata ‘sesungguhnya Allah ialah Al Masih putra Maryam’ padahal Al Masih sendiri berkata ‘ Hai Bani Israil, sembahlan Allah Tuhanku dan Tuhanmu!’. Sesungguhnya orang-orang yang 8 Ibid,hal 41
  • 20.
    20 mempersekutukan (sesuatu dengan)Allah, maka pastilah Allah mengharamkam surga kepadanya dan tempatnya adalah neraka. Orang-orang zalim itu tidaklah mendapat seorang penolong pun” (QS Al Maidah : 72). Rasulullah SWA juga bersabda yang artinya sebagai berikut : “Tidaklah kalian mau kuberi tahukah sebesar-besarnya dosa besar? (beliau mengatakan demikian demikian sampai 3 kali). Para sahabat menjawab,”Tentu ya Rasulullah “. Rasulullah SAW bersabda yang demikian itu adalah musryik (menyekutukan Allah)”. (H.R Bukhari dan Muslim) b. Pergaulan Bebas (zina) Allah berfirman “Dan janganlah kamu mendekati zina , sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk” (QS Al-Isra’ : 32) Rasulullah telah bersabda yang artinya : “tidak ada suatu dosa pun setelah musryik (menyekutukan Allah) yang lebih besar di sisi Allah dari pada seseorang yang meletakkan spermanya kepada kamaluan perempuan yang tidak halal baginya” (H.R Ahmad dan Thabari dari Abdullah bin Al-Harits) c. Meminum Minuman Keras (narkoba) Dalam hal ini Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Maidah : 90, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji yang termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS Al-Maidah : 90) Rasulullah dalam hal ini telah bersabda : “Jauhilah minum minuman keras, karena dia merupakan kunci segala keburukan” (H.R Al-Hakam dari Ibnu Abbas r.a)
  • 21.
    21 D. Kedudukan AkhlakulKarimah Akhlakul karimah merupakan barometer tinggi rendahnya derajat seseorang sekalipun orang itu pandai setinggi langit, namun jika ia suka melanggar norma-norma agama maka ia tidak bisa dikatakan orang yang mulia. Akhlakul karimah tidak hanya menentukan tinngi rendahnya derajat seseorang akan tetapi mencakup pula derajat suatu bangsa. Suatu bangsa dapat dikatakan mulia karena kemuliaan dan kebesarannya, kalau mereka berakhlak jahat dan hinakarena yang akan tinggal itu bukan kemewahan dan kebesarannya melainkan akhlaknya. Oleh karena itu akhlak menjadi peninggalan kekal yang akan terhapus selama dunia di huni manusia, sedang kemewahan dan kebesaran itu akan lenyap bila bangsa itu hancur dan binasa. Lenyapnya kemuliaan suatu bangsa karena kehilangan akhlak yang baik dan utama dari mereka, demikian pula sebaliknya kekalnya suatu bangsa karena kekalnya akhlak-akhlak dari mereka. Seorang pujangga Mesir bernama Ahmad Syauqi dalam salah satu qubahannya: Sesungguhnya suatu bangsa akan menjadi jaya dan terhormat selama bangsa itu memiliki akhlak yang luhur, apabila bangsa itu telah kehilangan akhlak yang luhur, maka bangsa itu akan musnah dan hancur lembur. Oleh karena itu masalah akhlak itu tidak bisa dianggap sepele, karena mencakup masyarakat luas, yang akan mengangkat derajat manusia ke tingkat yang semulia- mulianya, namun bila salah jalan justru akan membawa mareka kepada derajat yang serendah-rendahnya. Masalah akhlak pada masa sekarang ini pada umumnya kejahatan mengatasi kebaikan,kebatilan mengatasi kebenaran, pencemaran menjadi perbuatan yang lumrah dilakukan orang. Pada masa sekarang orang tua sangat mengkhawatirkan moral anaknya, karena rusaknya pergaulan dikalangan manusia, khususnya pada masa remaja. Masa yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dipengaruhi oleh hawa nafsu dan bujukan setan. Namun manusia tidak bisa semata-mata mengandalkan teknologi dan ilmu pengetahuan ini untuk membimbingnya ke jalan kebajikan dan mengesampingkan ajaran dan tuntutan agama. Kaum muslim sebaiknya mempraktekkan akhlakul karimah ini, karena kedatangan Nabi Muhammad SAW adalah sebagai penyempurna akhlak yang baik dan utama. Sebagaimana diterangkan dalam sabdanya yang artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (H.R Al-Hakim dari Abu Hurairah)
  • 22.
    22 Sebagai anjuran bagiumatnya supaya berakhlak baik, beliau bersabda, yang artinya adalah : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya” (H.R Tirmidzi dari Abu Hurairah) Dan Nabipun telah mendorong orang tua agar mengajarkan tata krama dan sopan santun kepada anak-anaknya tersebut dalam sebuah hadits yang artinya “Muliakanlah anak-anakmu dan baguskanlah budi pekerti mereka” (H.R Ibnu Majah dari Anas bin Malik) Nabi Muhammad tidak hanya menganjurkan umatnya supaya berakhlak baik dan mulia, tetapi lebih dahulu beliau berakhlak mulia, bersopan santun dan berperangai terpuji, sehingga Allah SWT memberikan pujian kepada beliau yang belum pernah diberikannya kepada orang lain, sebagaimana diterangkan dalam firmannya : “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berbudi pekerti agung” (QS Al-qalam : 4) Oleh karena itu setiap muslim berkewajiban mendidik dirinya sendiri dan ank- anaknya supaya berakhlak baik. Dan di perguruan tinggi masalah akhlak ini perlu mendapat perhatian. Janganlah mereka hanya mementingkan ilmu pngetahuan dan teknologi saja, sedangkan akhlak tidak diperhatikan. Ilmu pengetahuan dan teknologi serta penghidupan yang serba mewah itu, tidaklah memiliki arti apa-apa kalau mereka dan anak-anak mereka berakhlak jahat dan hina, karena ketiadaan akhlak yang baik itu bisa membawa mereka kepada kerusakan dan kerendahan. Dalam keseluruhan agama Islam akhlak menempati kedudukan istimewa dan sangat penting, karena Rasulullah SAW menempatkan penyempurnaan akhlak yang mulia sebagai misi pokok risalah Islam, beliau bersabda yang artinya : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (H.R Baihaqi) Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam sebagai Rasulullah Saw pernah mendefenisikan agama itu dengan akhlak yang baik. Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya pada Rasulullah SAW: Ya Rasulullah, apakah agama itu? Beliau menjawab “Agama itu adalah akhlak yang baik”. Pendefisian agama (Islam) dengan akhlak yang baikitu sebanding dengan pendefenisian ibadah haji dengan wuquf di Arafah. Rasulullah menyebutkan haji adalah wuquf di Arafah. Artinya tidak sah haji seseorang tanpa wuquf di Arafah.
  • 23.
    23 Akhlak yang baikakan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nantipada hari kiamat. Rasulullah bersabda yang mana artinya : “Tidak ada satupun yang akan lebih memberatkan timbangan (kebaikan) seorang hamba mukmin nanti pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik” (H.R Tirmidzi) Dan orang yang paling dicintai serta dekat dengan Rasulllah SAW nanti pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Rasulullah menjadikan baik buruknya akhlak seseorang sebagai ukuran kualitas imannya. Hal ini bisa kita lihat pada sabda rasulullah yang artinya adalah : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, misalnya shalat, puasa, zakat, dan haji.’’ Sebagaiman firman Allah yang artinya : “Dan dirikan lah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS Al-Ankabut : 29:45) Rasulullah juga pernah bersabda bahwa puasa itu bukan hanya menahan makan dan minum saja, tapi puasa itu menahan diri dari perbuatan kotor dan keji. Jika seoarng mencaci, menjahili kamu maka katakan sesungguhnya aku sedang puasa. Firman Allah SWT dalam surat At-Taubah 9:103 : “ Ambilah zakat dari sebagaian harta mereka, demgan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka”. Firman allah dalam surat Al-Baqarah : 197 “Musim haji adalah beberapa bulan dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (mengeluarkan perkataan yang menimbulakan birahi yang tidak senonoh / bersetubuh dalam masa mengerjakan haji”. Dan beberpa arti dari ayat di atas kita dapat melihat adanya kaitan langsung antara shalat, puasa, haji dan zakat dengan akhlak. Seseorang yang mendirikan shalat tentu tidak akan mengerjakan segala perbuatan yang tergolong keji dan mungkar. Sebab apalah arti shalat kalau dia tetap saja mengerjakan kekejian dan kemungkaran. Seseorang yang benar-benar puasa demi mencari ridha Allah, di samping menahan keinginannya untuk makan dan minum, tentu saja akan menahan dirinya dari segala kata-kata yang kotor dan perbuatan yang tercela. Sebab tanpa meninggalkan perbuatan yang tercela itu dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus semata.
  • 24.
    24 Begitu juga denganibadah, zakat dan haji, dikaitkan oleh Allah SWT hikmahnya dengan aspek akhlak. Jadi kesimpulannya, akhlak yang baik dan diterima oleh Allah adalah buah dari ibadahyang baik atau ibadah yang baik dan diterima oleh Allah SWTtentu akan melahirkan akhlak yang baik dan terpuji. Nabi Muhammad Saw selalu berdoa agar Allah SWT membaikkan akhlak beliau. Salah satu doa beliau adalah : “Ya Allah tunjukilah aku jalan menuju akhlak yang baik, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk menuju jalan yang lebih baik selain engkau. Hindarilah aku dari akhlak yang buruk karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menghindarkan aku dari akhlak yang buruk kecuali engkau”. Di dalam Alquran banyak terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlak,baik berupa perintah untuk berakhlak yang baik serta pujian dan pahala yang diberikan kepada orang-orang yang mematuhi perintah itu, maupn larangan berakhlak yang buruk serta celaan dan dosa bagi orang-orang yang melanggar. BAB III PENUTUP 3.1. KESIMPULAN Kata akhlak berasal dari bahasa Arab, jamak dari kata khuluq yang artinya budi pekerti. Pengertian akhlak menurut istilah di ungkapkan oleh Imam Al-Ghazali , Ibrahim Anis, dan Abdul Karim Zaidan. Menurut Al-Ghazali akhlak adalah suatu bentuk (naluri asli) dalam jiwa seseorang manusia yang dapat melahirkan suatu indakan dan kelakuan dengan mudah dan spontan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sedangkan menurut Ibrahim Anis akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan baik / buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Dan menurut Abdul Karim Zaidan adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengan sorotan dan pertimbangan seseorang dapat menilai perbuatannya baik / buruk untuk kemudian memilih melakukan / meninggalkannnya. Ketiga defenisi di atas kita bisa menyatakan bahwa akhlak / khuluq itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia. Sehingga dia muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran /pertimbangan lebih dahulu, serta tidak
  • 25.
    25 memerlukan dorongan dariluar. Berarti akhlak itu haruslah bersifat konstan dan spontan tidak memerlukan pertimbangan serta dorongan dari luar. Sedangkan pembagian akhlak terbagi menjadi dua macam yaitu akhlakul karimah yaitu akhlak yang terpuji (yang mulia). Akhlak yang baik itu dilahirkan oleh sifat-sifat yang baik pula yaitu sesuai dengan ajaran Allah SWT dan RasulNya, misalnya bertaqwa kepada Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua, suka menolong orang yang lemah. Karena akhlak yang baikakan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat. Rasulullah juga bersabda bahwa tidak ada satu pun yang akan lebih memberatkan timbangan (kebaikan) seorang hamba mukmin nanti pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik. Selain akhlakul karimah juga ada akhlakul madzmumah yaitu akhlak yang tercela / akhlak yang tidak terpuji. Akhlakul madzmumah ialah akhlak yang lahir dari sifat-sifat yang tidak sesuai dengan ajaran Allah SWT dan rasulNya, seperti musryik, pergaulan bebas (zina) dan minum minuman keras. 3.2. SARAN Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari bahw apenulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran kepada para pembaca. DAFTAR PUSTAKA 1. DR.H.Yunahar.1999.Kuliah Akhlak.Yogyakarta:Pustaka Pelajar offset.hal 2. DR.Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari.2006.Keistimewaan Akhlak Islam.Bandung:Pustaka Setia 3. Drs.KH.Ahmad Dimyathi Badruzzaman,M.A.2004.Panduan Kuliah Agama Islam.Bandung:Sinar Baru 4. Ibid,hal 41