(belum nemu judul ) 
Kami terbahak di pendopo desa yang tak terlalu luas ini. Kami? Ya, kami; aku dan Steve. Dia adalah teman semasa awal aku memasuki jenjang perkuliahan, hingga kini pastinya, dan —semoga— sampai nanti, jika Tuhanku dan Tuhannya menghendaki kami bersama di alam setelah kami bertemu pati1 nanti. Kalian tak akan mengira jika keakraban kami justru lahir dari keberbedaan. Bukan berbeda dalam hal sepele, ini serius, dan bahkan terlalu serius; ya, kami menyebutnya sebagai keyakinan. Tapi kami —aku dan Steve— mengartikan keberbedaan kami sebagai sesuatu yang saling melengkapi. Entah berbentuk apa itu, yang jelas aku rasa, tak ada Steve, maka tak lengkap kebahagiaan ini. Hawa dingin pedesaan malam ini sedikitpun tak berasa menyentuh kulit kami. Kami telah terbakar oleh panas masalah mereka yang benar-benar hangat dan riuh. Ingin rasanya kami melayangkan beribu pertanyaan kepada ‘narasumber’ kami itu seandainya Steve lupa tak melirik jarum jam yang berada di pergelangan tangannya. Pukul 23:57 WIB. Pantas jika perlahan, suara kami serasa memantul kembali jelas ke telinga kami. Sepi. Kami terbahak. Betapa tidak? Kisah mereka terlalu lucu. Mereka, penduduk desa ini, mungkin menganggap masalah ini terlalu serius, hingga mereka merasa perlu untuk kesana-kemari meminta pertolongan untuk sesuatu yang rumit namun indah yang kami agungkan dan kami sebut sebagai perdamaian. 
Ya, mana ada perdamaian yang tak rumit? Keindahan itu rumit, kebahagiaan itu tak ada yang sederhana. Kata siapa bahagia itu sederhana? Kebahagiaan itu mahal, Bro! Makanya, untuk suatu kebahagiaan yang terangkum dalam kata ‘damai’ saja, banyak negara yang rela menggelontorkan dana milyaran rupiah hanya untuk membeli suara letusan meriam. Hanya untuk mencapai kata mufakat saja, mereka sebagian orang harus rela membayar ‘orang pintar’ yang mereka percaya bisa membantu mereka dalam memperbaiki suatu hubungan. Kata guruku semasa kuliah dulu, untuk bisa berbahagian, kita mewujudkan keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan, hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens. Ah, rumit bukan? 
1 Ajal. Kematian
Oke, sebagian dari kalian mungkin akan mengatakan bahwa kebahagiaan itu sederhana, gratis, hanya dengan memakai rumus ‘Toleransi’, jadi. Apalagi itu, Bro! Toleransi bukan masalah lembaran cek bertuliskan angka berdigit-digit, atau mungkin berlembar-lembar kertas yang disembah para Koruptor. Tapi toleransi adalah masalah hati, toleransi adalah masalah fikiran. Bertoleransi berarti bersikap tidak mendiskriminasi pihak lawan sebagai seseorang yang mempunyai keyakinan berbeda terhadap suatu hal, dan itu sangat sulit. Membutuhkan kelapangan dada serta keikhlasan, kata guru ngajiku dulu di surau dekat rumahku. 
Sudahlah, damai memang sulit digapai jika kita bersikap kaku. Seperti penduduk desa ini. Kami —aku dan Steve— kembali terpingkal ketika bersama-sama kami mengingat dan mencoba menguliti masalah yang diceritakan pamong desa sore tadi. Kami sengaja tak menggelakkan tawa kami di depan mereka —tentu saja— untuk tujuan menghormati mereka sebagai si Empunya masalah. Ah, sesuatu yang rumit menurut segelintir orang, terkadang memang terasa menggelikan bagi sebagian yang lain. Masalah ini misalnya. 
Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian meninggalnya Pak Sumadi yang menimbulkan kontroversi. Kami mendengar, sudah dua minggu jua pendopo ini ramai dikunjungi warga yang ingin tau perkembangan masalah ini. Sudah dua minggu, namun tetap tak menemukan titik temu. Kami mengangguk namun tidak benar-benar mengerti. Dalam rentetan debat yang kami tonton melalui video, perdebatan antar pemuka agama itu jelas terlalu egois. Si Islam memandang dirinya paling benar, dan si Kristen juga tak ada beda. Mereka sama-sama ingin menang, bukan menginginkan kata damai dan mufakat. 
“Padahal biasanya kami akrab lho Mas.” Ungkap Mas Budi, Pamong Desa ini. Kami memanggilnya Mas karna ternyata, umur beliau hanya terpaut 7 tahun dari umurku dan Steve. 
“Akrabnya yang seperti apa, Mas?” Tanya Steve antusias. 
“Biasanya kalau misalnya ada kerja bakti mbersihin masjid, mereka meskipun nonmuslim juga ikut membantu.” 
“Lha... bagus itu.” Sahutku.
“Selain itu, mereka juga bertanggung jawab ngepel lantai mesjid kalau misalnya anjing mereka pipis di emperan masjid. Dengan pengawasan pak Ustadz pastinya Mas, wong katanya beliau, najis anjing itu najis yang perlu penanganan ekstra. Hahahaa....” Aku dan Steve mengiyakan sambil megangguk-anggukkan kepala. “Tapi disini banyak kan Mas yang nikahnya beda agama?” Steve memberi tanggapan. 
“Nggak banyak mas. Tapi adalah satu dua. Biasanya yang seperti itu ditentang sama keluarganya. Lha siapa yang mau jika anaknya dipek2 orang yang berbeda agamanya dengan kita?” “Ya, ya Pak, memang seperti itu.” Aku mengiyakan. “Yoweslah Mas, Sampeyan lanjut dulu ngobrolnya. Besok saya yang bertugas nganter sampeyan-sampeyan ini ke rumah Nimas. Saya pulang dulu nggeh”. Mas budi menyalamiku dan Steve bergantian, lalu beranjak meninggalkan kami. Nimas dan keempat saudaranya adalah akar dari panasnya permasalahan ini. Dan besok, aku dan Steve ingin berbincang dengannya. Bukan sebagai ‘sesepuh’ yang bertugas menasehatinya. Tapi lebih sebagai teman diskusi yang kebetulan lebih mengetahui apa itu pentingnya toleransi. *** Seminggu sudah kami mencoba ikut serta dalam ‘diskusi harian’ yang berlangsung setiap sore di pendopo desa ini. Kami merasa lega saat mereka para penduduk desa juga sesepuh-sesepuh agama yang dipanggil oleh keluarga Nimas menerima kami dengan cukup baik. Diskusi selalu berjalan alot dan panjang, yang selalu diakhiri dengan kata ‘to be continued’ di setiap sorenya. Kami hampir kehabisan stok kesabaran dalam diri. Di hari keenam, aku sempat menyampaikan niatku untuk mengajak Steve pulang ke kota dan menyerahkan masalah ini kepada Tuhan saja. Tapi rupanya Steve masih getol mengikuti perkembangan setiap dari masalah ini. 
2 Diambil kepemilikannya (bahasa Jawa)
“Unik!” Celetuknya berkomentar. 
Diam-diam kekagumanku pada sosok Steve semakin menggebu. 
Memang, keputusasaanku bukan lantaran tidak adanya perkembangan yang bersifat positif. Perkembangan positif jelas telah nampak dari adanya sikap keempat saudara Nimas yang mulai melunak. Mereka —keempat saudara Nimas— telah bersedia mengakui kekeliruan mereka dan mau untuk meminta maaf padanya. Sekarang tugas kami tinggal satu; bagaimana caranya membuat Nimas bisa memaafkan keempat saudara lelakinya tersebut. 
“Baik Mbak Nimas, sekarang keempat kakak Mbak sudah mengakui kesahan dan meminta maaf kepada mbak Nimas dengan tulus. Sekarang apakah Mbak mau memaafkan kakak Mbak?” Steve menengahi. 
“Hanya jika saya diperbolehkan membongkar kuburan ayah saya, dan saya kuburkan beliau sesuai dengan agama yang beliau anut!” Jawab Nimas tegas. Masih saja terlihat jelas aura kekesalan dalam nada suaranya. 
“Begini Mbak Nimas, masalahnya hingga saat ini, mendiang ayah Mbak sudah dikuburkan sejak tiga minggu yang lalu. Untuk mengangkat jasad beliau kembali, dibutuhakan proses yang tidak gampang. Kita perlu mendatangkan pihak medis untuk membantu terlaksananya keinginan Mbak ini..” Salah satu pastor desa menjelaskan. 
“Saya tidak mau tahu. Ayah saya muslim, dan semua warga desa tahu. Jadi yang saya inginkan sekarang, kuburkan secara Islami, atau saya ajukan saja masalah ini ke pengadilan. Sudah tiga minggu saya hanya menghabiskan waktu di pendopo desa ini dan tak juga mendapatkan jalan yang saya inginkan.” 
Karena suasana terus memanas, akhirnya kakak tertua Nimas, Sunyoto menyerah dan mengatakan akan menuruti apa mau adiknya itu. Seketika setelah Sunyoto menyampaikan ketersediaannya untuk memanggil pihak medis esok hari, suasana di pendopo sangat gaduh. Berbagai komentar dilontarkan oleh penduduk desa yang hadir sore itu. Sebagian dari mereka ada yang senang dengan keputusan ‘sidang’, sedangkan sebagian yang lain tak kuasa untuk melontarkan umpatan pelan.
Esok hari akan terjadi peristiwa penting bagi penduduk desa. Andai-andai dari setiap otak warga tak bisa dihindarkan, pun dari otakku dan Steve. Kami sama sekali tak bisa memejamkan mata malam ini. 
“Fa..” 
“Ya?” Aku menoleh ke arah Steve. Aku tahu ia juga tak berhasil memejamkan mata malam ini. 
“Menurutmu, apakah solusi yang aku tawarkan terlalu memihak agamaku?” 
“Ah... nggak! Sudahlah, kita sama-sama mengerti makna ruh dan jasad ketika kita meninggal kelak. Terserah Tuhan ingin menempatkan ruh kita dimana. Persetan manusia di dunia mau ngopeni jasad kita seperti apa. Begitu kan maksudmu?” Aku mengoreksi. 
“Ya. Mungkin posisi Mbak Nimas memang sulit, Fa. Setiap dari orang Islam tak akan terima jika anggota keluarganya disemayamkan tidak dengan cara mereka sendiri.” 
“Iya. Kau juga seperti itu kan? Tapi jika kasusnya seperti ini, kita bisa apa? Jasad Pak Sumadi sudah terlanjur mereka suapkan ke perut bumi. Coba saat beliau meninggal, mbak Nimas ada di rumah. Kejadiannya nggak seperti ini toh? Maaf, aku nggak bermaksud menyalahkan keadaan.” Aku termakan emosi. 
“ Iya.. iya... sudahlah, kita dinginkan pikiran kita dulu malam ini. Sudah untung saudara Mbak Nimas mau minta maaf dan mengijinkan kuburan bapaknya dibongkar. Jika memang hanya ini yang bisa kita usahakan, kita tak usah menyesal lah. Semoga ada hikmahnya.” 
Steve menutup percakapan kami, dan aku malu untuk menjawabnya. Kami kembali mencoba memejamkan mata. 
*** 
Sudah kami prediksikan sebelumnya jika hari ini adalah hari sakral bagi penduduk desa pesisir ini. Tak pernah ada masalah seserius ini sebelumnya. Maka sepanjang perjalanan menuju perkuburan umat Kristiani di ujung desa sana, kami tidak
menemui satupun petani yang sedang mencangkul sawahnya. Semua dari mereka berjalan di belakang kami. Tujuan mereka sama dengan kami, ingin mengetahui proses pembongkaran yang akan dilaksanakan sesaat lagi. 
Rupanya kami tiba terlalu cepat. Pihak medis belum berada di tempat. Mungkin kena macet, celetuk salah satu penduduk setempat. Kami berharap-harap cemas. Bisik- bisik terdengar lirih. Dan aku baru menyadari jika aku tak melihat Mbak Nimas disini. 
26 menit kemudian arak-arakan para medis telah datang ke kompleks pemakaman. Karena telah disetujui oleh kedua belah pihak yang bersengketa, pihak medispun langsung bersiap membongkar makam tersebut. Baru sebatas lutut petugas menggali tanah, kami semua terkagetkan oleh teriakan seorang perempuan. 
“Jangan! Jangan dibongkar kuburan ayah! Ayah telah diterima di sisi Tuhannya!” Nimas berteriak sejadi-jadinya, lengkap dengan air mata bahagia di pipinya. 
Dan semua dari kami benr-benar tercekat dan terdiam tanpa kata. 
@fikritaniaa 
05 Oktober 2014, 22.00

Belum nemu judul

  • 1.
    (belum nemu judul) Kami terbahak di pendopo desa yang tak terlalu luas ini. Kami? Ya, kami; aku dan Steve. Dia adalah teman semasa awal aku memasuki jenjang perkuliahan, hingga kini pastinya, dan —semoga— sampai nanti, jika Tuhanku dan Tuhannya menghendaki kami bersama di alam setelah kami bertemu pati1 nanti. Kalian tak akan mengira jika keakraban kami justru lahir dari keberbedaan. Bukan berbeda dalam hal sepele, ini serius, dan bahkan terlalu serius; ya, kami menyebutnya sebagai keyakinan. Tapi kami —aku dan Steve— mengartikan keberbedaan kami sebagai sesuatu yang saling melengkapi. Entah berbentuk apa itu, yang jelas aku rasa, tak ada Steve, maka tak lengkap kebahagiaan ini. Hawa dingin pedesaan malam ini sedikitpun tak berasa menyentuh kulit kami. Kami telah terbakar oleh panas masalah mereka yang benar-benar hangat dan riuh. Ingin rasanya kami melayangkan beribu pertanyaan kepada ‘narasumber’ kami itu seandainya Steve lupa tak melirik jarum jam yang berada di pergelangan tangannya. Pukul 23:57 WIB. Pantas jika perlahan, suara kami serasa memantul kembali jelas ke telinga kami. Sepi. Kami terbahak. Betapa tidak? Kisah mereka terlalu lucu. Mereka, penduduk desa ini, mungkin menganggap masalah ini terlalu serius, hingga mereka merasa perlu untuk kesana-kemari meminta pertolongan untuk sesuatu yang rumit namun indah yang kami agungkan dan kami sebut sebagai perdamaian. Ya, mana ada perdamaian yang tak rumit? Keindahan itu rumit, kebahagiaan itu tak ada yang sederhana. Kata siapa bahagia itu sederhana? Kebahagiaan itu mahal, Bro! Makanya, untuk suatu kebahagiaan yang terangkum dalam kata ‘damai’ saja, banyak negara yang rela menggelontorkan dana milyaran rupiah hanya untuk membeli suara letusan meriam. Hanya untuk mencapai kata mufakat saja, mereka sebagian orang harus rela membayar ‘orang pintar’ yang mereka percaya bisa membantu mereka dalam memperbaiki suatu hubungan. Kata guruku semasa kuliah dulu, untuk bisa berbahagian, kita mewujudkan keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan, hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens. Ah, rumit bukan? 1 Ajal. Kematian
  • 2.
    Oke, sebagian darikalian mungkin akan mengatakan bahwa kebahagiaan itu sederhana, gratis, hanya dengan memakai rumus ‘Toleransi’, jadi. Apalagi itu, Bro! Toleransi bukan masalah lembaran cek bertuliskan angka berdigit-digit, atau mungkin berlembar-lembar kertas yang disembah para Koruptor. Tapi toleransi adalah masalah hati, toleransi adalah masalah fikiran. Bertoleransi berarti bersikap tidak mendiskriminasi pihak lawan sebagai seseorang yang mempunyai keyakinan berbeda terhadap suatu hal, dan itu sangat sulit. Membutuhkan kelapangan dada serta keikhlasan, kata guru ngajiku dulu di surau dekat rumahku. Sudahlah, damai memang sulit digapai jika kita bersikap kaku. Seperti penduduk desa ini. Kami —aku dan Steve— kembali terpingkal ketika bersama-sama kami mengingat dan mencoba menguliti masalah yang diceritakan pamong desa sore tadi. Kami sengaja tak menggelakkan tawa kami di depan mereka —tentu saja— untuk tujuan menghormati mereka sebagai si Empunya masalah. Ah, sesuatu yang rumit menurut segelintir orang, terkadang memang terasa menggelikan bagi sebagian yang lain. Masalah ini misalnya. Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian meninggalnya Pak Sumadi yang menimbulkan kontroversi. Kami mendengar, sudah dua minggu jua pendopo ini ramai dikunjungi warga yang ingin tau perkembangan masalah ini. Sudah dua minggu, namun tetap tak menemukan titik temu. Kami mengangguk namun tidak benar-benar mengerti. Dalam rentetan debat yang kami tonton melalui video, perdebatan antar pemuka agama itu jelas terlalu egois. Si Islam memandang dirinya paling benar, dan si Kristen juga tak ada beda. Mereka sama-sama ingin menang, bukan menginginkan kata damai dan mufakat. “Padahal biasanya kami akrab lho Mas.” Ungkap Mas Budi, Pamong Desa ini. Kami memanggilnya Mas karna ternyata, umur beliau hanya terpaut 7 tahun dari umurku dan Steve. “Akrabnya yang seperti apa, Mas?” Tanya Steve antusias. “Biasanya kalau misalnya ada kerja bakti mbersihin masjid, mereka meskipun nonmuslim juga ikut membantu.” “Lha... bagus itu.” Sahutku.
  • 3.
    “Selain itu, merekajuga bertanggung jawab ngepel lantai mesjid kalau misalnya anjing mereka pipis di emperan masjid. Dengan pengawasan pak Ustadz pastinya Mas, wong katanya beliau, najis anjing itu najis yang perlu penanganan ekstra. Hahahaa....” Aku dan Steve mengiyakan sambil megangguk-anggukkan kepala. “Tapi disini banyak kan Mas yang nikahnya beda agama?” Steve memberi tanggapan. “Nggak banyak mas. Tapi adalah satu dua. Biasanya yang seperti itu ditentang sama keluarganya. Lha siapa yang mau jika anaknya dipek2 orang yang berbeda agamanya dengan kita?” “Ya, ya Pak, memang seperti itu.” Aku mengiyakan. “Yoweslah Mas, Sampeyan lanjut dulu ngobrolnya. Besok saya yang bertugas nganter sampeyan-sampeyan ini ke rumah Nimas. Saya pulang dulu nggeh”. Mas budi menyalamiku dan Steve bergantian, lalu beranjak meninggalkan kami. Nimas dan keempat saudaranya adalah akar dari panasnya permasalahan ini. Dan besok, aku dan Steve ingin berbincang dengannya. Bukan sebagai ‘sesepuh’ yang bertugas menasehatinya. Tapi lebih sebagai teman diskusi yang kebetulan lebih mengetahui apa itu pentingnya toleransi. *** Seminggu sudah kami mencoba ikut serta dalam ‘diskusi harian’ yang berlangsung setiap sore di pendopo desa ini. Kami merasa lega saat mereka para penduduk desa juga sesepuh-sesepuh agama yang dipanggil oleh keluarga Nimas menerima kami dengan cukup baik. Diskusi selalu berjalan alot dan panjang, yang selalu diakhiri dengan kata ‘to be continued’ di setiap sorenya. Kami hampir kehabisan stok kesabaran dalam diri. Di hari keenam, aku sempat menyampaikan niatku untuk mengajak Steve pulang ke kota dan menyerahkan masalah ini kepada Tuhan saja. Tapi rupanya Steve masih getol mengikuti perkembangan setiap dari masalah ini. 2 Diambil kepemilikannya (bahasa Jawa)
  • 4.
    “Unik!” Celetuknya berkomentar. Diam-diam kekagumanku pada sosok Steve semakin menggebu. Memang, keputusasaanku bukan lantaran tidak adanya perkembangan yang bersifat positif. Perkembangan positif jelas telah nampak dari adanya sikap keempat saudara Nimas yang mulai melunak. Mereka —keempat saudara Nimas— telah bersedia mengakui kekeliruan mereka dan mau untuk meminta maaf padanya. Sekarang tugas kami tinggal satu; bagaimana caranya membuat Nimas bisa memaafkan keempat saudara lelakinya tersebut. “Baik Mbak Nimas, sekarang keempat kakak Mbak sudah mengakui kesahan dan meminta maaf kepada mbak Nimas dengan tulus. Sekarang apakah Mbak mau memaafkan kakak Mbak?” Steve menengahi. “Hanya jika saya diperbolehkan membongkar kuburan ayah saya, dan saya kuburkan beliau sesuai dengan agama yang beliau anut!” Jawab Nimas tegas. Masih saja terlihat jelas aura kekesalan dalam nada suaranya. “Begini Mbak Nimas, masalahnya hingga saat ini, mendiang ayah Mbak sudah dikuburkan sejak tiga minggu yang lalu. Untuk mengangkat jasad beliau kembali, dibutuhakan proses yang tidak gampang. Kita perlu mendatangkan pihak medis untuk membantu terlaksananya keinginan Mbak ini..” Salah satu pastor desa menjelaskan. “Saya tidak mau tahu. Ayah saya muslim, dan semua warga desa tahu. Jadi yang saya inginkan sekarang, kuburkan secara Islami, atau saya ajukan saja masalah ini ke pengadilan. Sudah tiga minggu saya hanya menghabiskan waktu di pendopo desa ini dan tak juga mendapatkan jalan yang saya inginkan.” Karena suasana terus memanas, akhirnya kakak tertua Nimas, Sunyoto menyerah dan mengatakan akan menuruti apa mau adiknya itu. Seketika setelah Sunyoto menyampaikan ketersediaannya untuk memanggil pihak medis esok hari, suasana di pendopo sangat gaduh. Berbagai komentar dilontarkan oleh penduduk desa yang hadir sore itu. Sebagian dari mereka ada yang senang dengan keputusan ‘sidang’, sedangkan sebagian yang lain tak kuasa untuk melontarkan umpatan pelan.
  • 5.
    Esok hari akanterjadi peristiwa penting bagi penduduk desa. Andai-andai dari setiap otak warga tak bisa dihindarkan, pun dari otakku dan Steve. Kami sama sekali tak bisa memejamkan mata malam ini. “Fa..” “Ya?” Aku menoleh ke arah Steve. Aku tahu ia juga tak berhasil memejamkan mata malam ini. “Menurutmu, apakah solusi yang aku tawarkan terlalu memihak agamaku?” “Ah... nggak! Sudahlah, kita sama-sama mengerti makna ruh dan jasad ketika kita meninggal kelak. Terserah Tuhan ingin menempatkan ruh kita dimana. Persetan manusia di dunia mau ngopeni jasad kita seperti apa. Begitu kan maksudmu?” Aku mengoreksi. “Ya. Mungkin posisi Mbak Nimas memang sulit, Fa. Setiap dari orang Islam tak akan terima jika anggota keluarganya disemayamkan tidak dengan cara mereka sendiri.” “Iya. Kau juga seperti itu kan? Tapi jika kasusnya seperti ini, kita bisa apa? Jasad Pak Sumadi sudah terlanjur mereka suapkan ke perut bumi. Coba saat beliau meninggal, mbak Nimas ada di rumah. Kejadiannya nggak seperti ini toh? Maaf, aku nggak bermaksud menyalahkan keadaan.” Aku termakan emosi. “ Iya.. iya... sudahlah, kita dinginkan pikiran kita dulu malam ini. Sudah untung saudara Mbak Nimas mau minta maaf dan mengijinkan kuburan bapaknya dibongkar. Jika memang hanya ini yang bisa kita usahakan, kita tak usah menyesal lah. Semoga ada hikmahnya.” Steve menutup percakapan kami, dan aku malu untuk menjawabnya. Kami kembali mencoba memejamkan mata. *** Sudah kami prediksikan sebelumnya jika hari ini adalah hari sakral bagi penduduk desa pesisir ini. Tak pernah ada masalah seserius ini sebelumnya. Maka sepanjang perjalanan menuju perkuburan umat Kristiani di ujung desa sana, kami tidak
  • 6.
    menemui satupun petaniyang sedang mencangkul sawahnya. Semua dari mereka berjalan di belakang kami. Tujuan mereka sama dengan kami, ingin mengetahui proses pembongkaran yang akan dilaksanakan sesaat lagi. Rupanya kami tiba terlalu cepat. Pihak medis belum berada di tempat. Mungkin kena macet, celetuk salah satu penduduk setempat. Kami berharap-harap cemas. Bisik- bisik terdengar lirih. Dan aku baru menyadari jika aku tak melihat Mbak Nimas disini. 26 menit kemudian arak-arakan para medis telah datang ke kompleks pemakaman. Karena telah disetujui oleh kedua belah pihak yang bersengketa, pihak medispun langsung bersiap membongkar makam tersebut. Baru sebatas lutut petugas menggali tanah, kami semua terkagetkan oleh teriakan seorang perempuan. “Jangan! Jangan dibongkar kuburan ayah! Ayah telah diterima di sisi Tuhannya!” Nimas berteriak sejadi-jadinya, lengkap dengan air mata bahagia di pipinya. Dan semua dari kami benr-benar tercekat dan terdiam tanpa kata. @fikritaniaa 05 Oktober 2014, 22.00