Hadi Sarosa
Bagian Ilmu Faal
Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Sultan Agung Semarang
Sistem konduksi
•Nodus SA(Sinoaurikularis)
•Nodus AV (Atrioventrikularis)
•Bundle of His
•Serabut Purkinye
Electrical conduction system of the heart
Sinoatrial
node
atrioventricular
node
cartilage
Atrial
muscle
Bundle
Of his
Left bundle
branch
Right bundle
branch
Ventricular
muscle
Gelombang P
Kompleks QRS
Gelombang T
Defleksi
Arah defleksi ditentukan oleh
 Arah penyebaran impuls
 Letak elektrode perekaman
 Fase depolarisasi atau repolarisasi
Arah Defleksi
Fase depolarisasi :
Hukum dasar EKG dari Goldberger
 Arah impuls menuju elektroda : defleksi positif
 Arah impuls menjauhi elektroda : defleksi negatif
 Arah impuls menuju kemudian menjauhi elektroda :
bifasik
Arah Defleksi
Fase Repolarisasi
Gambaran elektrogram pada fase repolarisasi ada 2
kemungkinan
A. Jika arah repolarisasi sama dengan arah depolarisasi, maka
arah defleksi dari fase repolarisasi akan perlawanan dengan
arah fase depolarisasi (kompleks QRS).
Arah Defleksi
B. Jika arah depolarisasi
berlawanan arah
epolarisasi, maka arah
defleksi dari fase
repolarisasi akan sama
dengan arah defleksi
fase depolarisasi.
Sadapan EKG
• Sandapan ekstremitas bipolar (bipolar limb lead)
• Sandapan ekstremitas unipolar (unipolar limb lead)
• Sandapan prekordial (precordial lead)
Sandapan Ekstremitas Bipolar
• Einthoven (1903)
• Vektor : arus listrik depolarisasi polarisasi
• Segitiga sama sisi : tiga ekstremitas membentuk puncak-puncak segitiga, jantung
sebagai sumber bioelektik terletak di tengah-tengah
• Semua cairan tubuh dapat menyalur potensial elektrik sama baiknya
Sandapan Ekstremitas Bipolar
•Standart Limb Lead
• Sandapan I = LA (left arm = positif)
– RA (right arm = negatif)
• Sandapan II = LL (left leg = +) – RA
(-)
• Sandapan III = LL (+) – LA (-)
• Persamaan
II = I + III
Sandapan Ekstremitas Bipolar
Sandapan Unipolar (Unipolar Limb Lead)
• Frank Wilson (1932)
• 3 elektroda positif di 3 elektroda sandapan ekstremitas bipolar
• Elektroda negatif : terminal sentral (central terminal) terletak di pusat
triaksial Einthoven
Unipolar Limb Lead
•Sandapan VL
• Mengukur voltase arus depolarisasi dari sentral ke lengan
kiri
• Sumbu : - 300
•Sandapan VR
• Sentral ke lengan kanan
• Sumbu : - 1500
•Sandapan VF
• Sentral ke tungkai
• Sumbu : + 900
Unipolar Limb Lead
•Goldberger (1942)
• aVL : augmented Voltase
Left
• aVR : augmented Voltase
Right
• aVF : augmented Voltase
Foot
Hubungan Bipolar dan Unipolar : Sistem
Heksadensial
Sistem Heksadensial
Sandapan Plane frontal
•Sistem Hesadensial (hexaxial
reference system) : enam
sadapan ekstemitas
• Sandapan II, III dan aVF : jantung bagian
bawah
• Sandapan I dan aVL : jantung bagian lateral kiri
Sandapan Prekordial (Precordial Lead)
•V1 : sela iga 4 sisi kanan sternum
•V2 : sela iga 4 sisi kiri sternum
•V3 : antara V2 dan V4
•V4 : sela iga 5 garis mid klavikula kiri
•V5 : setinggi V4 pada garis aksila antor kiri
•V6 : setinggi V4 pada garis midaksilaris kiri
Precordial Lead
• V1 & V2 :
• ventrikel kanan, septum interventrikulare
• V3 & V4 :
• dinding anterior jantung (sandapan antor)
• V5 & V6 :
• dinding lateral (sandapan Latal)
KERTAS EKG
• Garis Horizontal
• Garis Vertikal
• Perhatikan
• Kecepatan perekaman
• 25 mm/det
• 50 mm/det
• Amplitudo
• 0,5
• 1
• 2
12 sandapan dan Kertas EKG
Pembacaan
 Irama
 Frequensi (laju QRS)
 Morfologi gelombang P (cari tanda kelainan atrium kiri atau kana)
 Interval PR
 Kompleks QRS
 Axis jantung
 Amplitudo (cari tanda hipertrofi)
 Durasi
 Morfologi (ada/tidak gelombang Q patologis atau gelombang R tinggi
di V1)
 Segmen ST (apakah ada tanda iskemia, injuri atau infark miokard)
 Gelombang T
 Interval QT
Cara Baca EKG 12 Lead
• Irama dan frekuensi?
• Sinus
• Atrial
• Junctional
• Ventrikular
• Regularitas
• Regular
• Irregular
• Rate
• Atrial Rate?
• Ventrikular Rate?
• P wave?
• N
• Pulmonal
• Mitral
• PR interval?
• AV blok?
• Pre-exitasi
• QRS Wave?
• interval
• Axis
• Zona Transisi
• Q patologis/QS
• RBBB/LBBB
• LAFB/LPFB
• RVH
• LVH
• ST Segmen?
• ST Depresi
• ST Elevasi
• T Wave?
• Tall T
• T inversi
• LV strain
Irama
• Pace maker Normal Nodus SA
• 70-80 x/mnt
• Atria
• 75 x/mnt
• Nodus AV
• 60 x/mnt
• Berkas His
• 50 x/mnt
• Serabut Purkinje & Otot
jantung
• 30-40 x/mnt
Irama
Untuk menilai perhatikan
• irama teratur atau tidak : lihat jarak antar QRS sama atau tidak.
• gelombang P normal atau tidak, apakah setiap gelombang P selalu diikuti
gelombang QRS
• interval PR normal atau tidak
• gelombang QRS normal atau tidak
Irama
•Irama normal : irama sinus, irama yang berasal dari
sinus
• Irama : teratur.
• Frekwensi jantung : 60 – 100 x/ menit
• Gelombang P : normal, setiap gelombang P selalu diikuti
gelombang QRS dan T
• Interval PR : normal ( 0,12 – 0,20 detik )
• Gelombang QRS : normal ( 0,06 – 0,12 det )
Penyimpangan : disritmia
Frekuensi : atrial, ventrikular
•Kecepatan 25 mm/det atau 50 mm/det
•Interval R-R atau interval P-P
• Tentukan puncak R atau P yang berhimpitan dengan garis vertikal
kotak sedang
• Cari puncak gel P/R ke dua
• Hitung jarak dalam kotak sedang
• Frekuensi = 300/kotak sedang atau 1500/kotak kecil
•Atau dengan menghitung EKG strip sepanjang 6 detik
hitung jumlah gel. QRS kemudian kalikan 10, atau EKG
selama 12 detik : jumlah QRS X 5
•Puncak P-P
What is Arrhythmia
•Heart normally beat at 60
to 100 tpm
•Started with
depolarization of SA node
normal sinus rhythm
•Disturbance of rate,
regularity, site of origin,
conduction of electrical
impuls Arrhythmia
(Dysrhythmia)
The Four basic types of arrhythmia
1. Aritmia yang berasal dari Sinus. Jadi aktivitas listrik
sesuai dengan jalur biasa (SA node). Contoh : too
slow, too fast or irreguler
2. Ectopic Rhythm, aktivitas listrik berasal dari selain
SA node
3. Blok Konduksi, Aktivitas berasal dari SA node,
tetapi perjalanannya terhambat
4. Sindrom Pre-eksitasi, aktivitas listrik melalui
alternative pathway bypass dan menyebabkan
electrical shortcut/ electrical short circuit
ARITMIA YANG BERASAL DARI
SINUS (SA NODE)
Sinus Takikardia
Sinus Bradikardia
HR > 100 x/mnt
HR < 60 x/mnt
Normal
Patologis
Ecercise, resting, atlet
CHF, ARDS, Basedow, AMI,
Refleks vagus
Sinus Aritmia
Irama sinus tak teratus terutama pada inspirasi dan ekspirasi
Sinus Arrest
SA node berhenti beraktivitas. Bila aktivitas berhenti dalam
waktu cukup lama : Asystole
Normal Sinus Rhythm
Sinus Tachycardia
Sinus Bradicardia
Sinus Arrest / Blok
Catatan : Semua sel miokardium dapat menjadi
pace maker, dan bila terjadi sinus arrest maka
pace maker yang lain akan melakukan back up
ESCAPE BEAT
Sinus Rhythm Escape beat
Pace Maker Yang lain
 Atrial Pace Maker, berdetak 60-75 x/mnt
 Junctional Pace Maker, berdetak 40-60 x/mnt
 Ventricular Pace Maker, berdetak 30-45 x/mnt
Escape beat bila terjadi sinus arrest
yang paling sering berasal dari
junctional pace maker, dengan
ciri :
• ‘No’ P wave
• P Wave kecil terbalik
Gelombang P
Ciri gelombang P Normal
 selalu positif di II dan selalu
negatif di aVR
 tinggi : < 0,11 mV (2,5 mm)
 lebar : < 3 mm ( 0,11 det)
Kepentingan
 menandakan aktivitas atria
 menunjukan arah aktivitas
atria
 menunjukan tanda-tanda
hipertrofi atria
P – R Interval
• Depolarisasi atrium – depolarisasi Ventrikel
• Lamanya : 0,12 - 0,20 det
• Lamanya > 0,20 det : gangguan konduksi, pada umumnya di Nodus
AV ( AV Block)
Ada beberapa tipe
1. SA Block, berbentuk mirip sinus arrest, SA node depolarisasi
normal tetapi kemudian segera di hambat
2. AV block, Blok antara SA node dan serabut purkinje (A-V
node dan Berkas HIS)
3. Bundle branch block, termasuk juga blok fasikuler.
SA blok
AV Blok derajat I
•PR interval lebih dari 0,20 detik
•Semua beat akan diteruskan ke
ventrikel
AV Blok derajat II
Tipe Mobitz I
(Wenckebach)
• Pemanjangan PR interval progresif
• Diikuti dengan “QRS Dropped”
Tipe Mobitz II
• Tidak ada pemanjangan PR interval
• QRS dropped tanpa PR intermal
memanjang dahulu
AV Blok derajat II
tipe Mobitz I
AV Blok derajat II
tipe Mobitz II
AV Blok derajat III
•Tidak ada beat yang
diteruskan ke ventrikel
•Complete heart block
dengan AV dissociation
•Atrium dan ventrikel
terpacu oleh pace
maker tersendiri
Kompleks QRS
1. Interval QRS
• Interval ini mengambarkan lamanya
aktivitas depolarisasi ventrikel.
• Merupakan jarak antara permukaan
gelombang Q sampai akhir gelombang
S
• Nilai Normal : < 0,12 detik (0,06-0.12)
• Interval memanjang oleh karena
gangguan konduksi di ventrikel
• BBB (bundle branch block)
• Ectopic ventricle
Kompleks QRS
2. Gelombang Q :
defleksi kebawah pertama dari kompleks
QRS. Menggambarkan awal dari fase
depolarisasi ventrikel
Nilai normal :
• Lebar  0,04 detik
• Dalam < 1/3 tinggi R
Gelombang Q Pathologis ( abnormal ) :
• Lebar ≥ 0,04 detik
• Dalam > 25 % amplitudo gelombang R
• Kepentingan : adanya nekrosis miokard (
infark miokard )
Kompleks QRS
3. Gelombang R
defleksi Positif pertama kompleks QRS disertai atau tidak
disertai gelombang Q
• Menggambarkan fase depolarisasi ventrikel
• Positip di I, II, V5 dan V6
• aVR, V1, V2 biasanya kecil/ tidak ada sama sekali.
Kepentingan :
• Menggambarkan adanya hipertrofi ventrikel
• Adanya tanda-tanda BBB (Bundle Branch Block)
Kompleks QRS
4. Gelombang S
Defleksi negatip setelah gelombang R
- Menggambarkan fase depolarisasi ventrikel
- aVR, V1 dan V2 terlihat lebih dalam
- V4, V5 dan V6 makin berkurang dalamnya.
• Kepentingan : hampir sama dengan gelombang R.
Sumbu : Gelombang QRS
Sistem Heksadential
• > 40 tahun
• -30 º s/d + 90 º
• < 40 tahun :
• 0 º s/d +105 º
Sumbu
Sumbu
Sumbu : Precordial Lead
• Transitional zone : V2-V4
• Delayed transitional : sebelah kanan V5 (clockwise
rotation)
• Early transition : sebelah kiri V2 (counter clockwise
rotation)
Hipertrofi
• Ventrikel kiri
• Sadapan prekordial
• Tinggi R di V5 atau V6 > 27 mm. Dalamnya S di V1+tinggi R di V5 atau V 6 > 35 mm
• Depresi ST segmen dan inversi gel T asimetris di V5 dan V6 (ventricular strain)
• Sadapan ekstremitas
• Jantung horisontal : tinggi R di aVL >/= : 11 mm
• Jantung vertikal : tinggi R di aVF > 20 mm
Hipertrofi Ventrikel kiri
• Kriteria minimal
• R di aVL ≥ 11 mm. R di V5/V6 : > 27 mm
• Dalamnya S di V1 + R di V5 atau V6 : > 35 mm
• Kriteria ekuivokal : terdapat tanda ventricular strain
Hipertrofi
•Ventrikel kanan
• Deviasi aksis ke kanan (tanda awal)
• Gelombang S menetap di V5 dan V6
• R yang tinggi disertai depresi segmen ST dan T terbalik di sadapan
II,III,aVF. aVR sering menunjukan R tinggi : qR, QR atau hanya kompleks R
• R tinggi di V 1. ratio R/S > 1 atau durasi R . 0,03. durasi QRS melebar >
0,03 det menyerupai pola blok berkas
Segmen ST
 Garis horizontal (isoelektrik)
 Titik J : akhir gelombang S, terletak pada garis isoelektrik atau sedikit
positif atau negatif (tidak lebih dari 1 mm)
 High take-off ST segment
 Low take-off ST segment
 Elevasi ST-segmen
 Depresi ST-segmen
 Memberikan gambaran iskemia ventrikel
AMI
Myocardial Infarction
GELOMBANG T
Fase repolarisasi ventrikel
• Selalu positip, kecuali di aVR
•Amplitudo normal :
1. < 10 mm di sadapan prekordial
2. < 5 mm di sadapan ekstremitas
3. Minimum 1 mm
•Kepentingan :
•Menggambarkan adanya iskemia/ infark
•Adanya kelainan elektrolit, dll
T Wave
AMI & Hiperkalemia
MORPHOLOGI & NOMENKLATUR
Sandapan tambahan
1. Sandapan dada Unipolar
2. Sandapan dada bipolar
3. Orthogonal lead (Lewis lead)
4. Oesofagus lead
Resume
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf
Baca EKG.pdf

Baca EKG.pdf

  • 1.
    Hadi Sarosa Bagian IlmuFaal Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang
  • 2.
    Sistem konduksi •Nodus SA(Sinoaurikularis) •NodusAV (Atrioventrikularis) •Bundle of His •Serabut Purkinye
  • 3.
    Electrical conduction systemof the heart Sinoatrial node atrioventricular node cartilage Atrial muscle Bundle Of his Left bundle branch Right bundle branch Ventricular muscle
  • 4.
  • 5.
  • 6.
  • 7.
    Defleksi Arah defleksi ditentukanoleh  Arah penyebaran impuls  Letak elektrode perekaman  Fase depolarisasi atau repolarisasi
  • 8.
    Arah Defleksi Fase depolarisasi: Hukum dasar EKG dari Goldberger  Arah impuls menuju elektroda : defleksi positif  Arah impuls menjauhi elektroda : defleksi negatif  Arah impuls menuju kemudian menjauhi elektroda : bifasik
  • 9.
    Arah Defleksi Fase Repolarisasi Gambaranelektrogram pada fase repolarisasi ada 2 kemungkinan A. Jika arah repolarisasi sama dengan arah depolarisasi, maka arah defleksi dari fase repolarisasi akan perlawanan dengan arah fase depolarisasi (kompleks QRS).
  • 10.
    Arah Defleksi B. Jikaarah depolarisasi berlawanan arah epolarisasi, maka arah defleksi dari fase repolarisasi akan sama dengan arah defleksi fase depolarisasi.
  • 12.
    Sadapan EKG • Sandapanekstremitas bipolar (bipolar limb lead) • Sandapan ekstremitas unipolar (unipolar limb lead) • Sandapan prekordial (precordial lead)
  • 13.
    Sandapan Ekstremitas Bipolar •Einthoven (1903) • Vektor : arus listrik depolarisasi polarisasi • Segitiga sama sisi : tiga ekstremitas membentuk puncak-puncak segitiga, jantung sebagai sumber bioelektik terletak di tengah-tengah • Semua cairan tubuh dapat menyalur potensial elektrik sama baiknya
  • 14.
    Sandapan Ekstremitas Bipolar •StandartLimb Lead • Sandapan I = LA (left arm = positif) – RA (right arm = negatif) • Sandapan II = LL (left leg = +) – RA (-) • Sandapan III = LL (+) – LA (-) • Persamaan II = I + III
  • 15.
  • 16.
    Sandapan Unipolar (UnipolarLimb Lead) • Frank Wilson (1932) • 3 elektroda positif di 3 elektroda sandapan ekstremitas bipolar • Elektroda negatif : terminal sentral (central terminal) terletak di pusat triaksial Einthoven
  • 17.
    Unipolar Limb Lead •SandapanVL • Mengukur voltase arus depolarisasi dari sentral ke lengan kiri • Sumbu : - 300 •Sandapan VR • Sentral ke lengan kanan • Sumbu : - 1500 •Sandapan VF • Sentral ke tungkai • Sumbu : + 900
  • 18.
    Unipolar Limb Lead •Goldberger(1942) • aVL : augmented Voltase Left • aVR : augmented Voltase Right • aVF : augmented Voltase Foot
  • 19.
    Hubungan Bipolar danUnipolar : Sistem Heksadensial
  • 20.
    Sistem Heksadensial Sandapan Planefrontal •Sistem Hesadensial (hexaxial reference system) : enam sadapan ekstemitas • Sandapan II, III dan aVF : jantung bagian bawah • Sandapan I dan aVL : jantung bagian lateral kiri
  • 21.
    Sandapan Prekordial (PrecordialLead) •V1 : sela iga 4 sisi kanan sternum •V2 : sela iga 4 sisi kiri sternum •V3 : antara V2 dan V4 •V4 : sela iga 5 garis mid klavikula kiri •V5 : setinggi V4 pada garis aksila antor kiri •V6 : setinggi V4 pada garis midaksilaris kiri
  • 22.
    Precordial Lead • V1& V2 : • ventrikel kanan, septum interventrikulare • V3 & V4 : • dinding anterior jantung (sandapan antor) • V5 & V6 : • dinding lateral (sandapan Latal)
  • 23.
    KERTAS EKG • GarisHorizontal • Garis Vertikal • Perhatikan • Kecepatan perekaman • 25 mm/det • 50 mm/det • Amplitudo • 0,5 • 1 • 2
  • 24.
    12 sandapan danKertas EKG
  • 26.
    Pembacaan  Irama  Frequensi(laju QRS)  Morfologi gelombang P (cari tanda kelainan atrium kiri atau kana)  Interval PR  Kompleks QRS  Axis jantung  Amplitudo (cari tanda hipertrofi)  Durasi  Morfologi (ada/tidak gelombang Q patologis atau gelombang R tinggi di V1)  Segmen ST (apakah ada tanda iskemia, injuri atau infark miokard)  Gelombang T  Interval QT
  • 27.
    Cara Baca EKG12 Lead • Irama dan frekuensi? • Sinus • Atrial • Junctional • Ventrikular • Regularitas • Regular • Irregular • Rate • Atrial Rate? • Ventrikular Rate? • P wave? • N • Pulmonal • Mitral • PR interval? • AV blok? • Pre-exitasi • QRS Wave? • interval • Axis • Zona Transisi • Q patologis/QS • RBBB/LBBB • LAFB/LPFB • RVH • LVH • ST Segmen? • ST Depresi • ST Elevasi • T Wave? • Tall T • T inversi • LV strain
  • 28.
    Irama • Pace makerNormal Nodus SA • 70-80 x/mnt • Atria • 75 x/mnt • Nodus AV • 60 x/mnt • Berkas His • 50 x/mnt • Serabut Purkinje & Otot jantung • 30-40 x/mnt
  • 29.
    Irama Untuk menilai perhatikan •irama teratur atau tidak : lihat jarak antar QRS sama atau tidak. • gelombang P normal atau tidak, apakah setiap gelombang P selalu diikuti gelombang QRS • interval PR normal atau tidak • gelombang QRS normal atau tidak
  • 30.
    Irama •Irama normal :irama sinus, irama yang berasal dari sinus • Irama : teratur. • Frekwensi jantung : 60 – 100 x/ menit • Gelombang P : normal, setiap gelombang P selalu diikuti gelombang QRS dan T • Interval PR : normal ( 0,12 – 0,20 detik ) • Gelombang QRS : normal ( 0,06 – 0,12 det ) Penyimpangan : disritmia
  • 31.
    Frekuensi : atrial,ventrikular •Kecepatan 25 mm/det atau 50 mm/det •Interval R-R atau interval P-P • Tentukan puncak R atau P yang berhimpitan dengan garis vertikal kotak sedang • Cari puncak gel P/R ke dua • Hitung jarak dalam kotak sedang • Frekuensi = 300/kotak sedang atau 1500/kotak kecil •Atau dengan menghitung EKG strip sepanjang 6 detik hitung jumlah gel. QRS kemudian kalikan 10, atau EKG selama 12 detik : jumlah QRS X 5 •Puncak P-P
  • 32.
    What is Arrhythmia •Heartnormally beat at 60 to 100 tpm •Started with depolarization of SA node normal sinus rhythm •Disturbance of rate, regularity, site of origin, conduction of electrical impuls Arrhythmia (Dysrhythmia)
  • 33.
    The Four basictypes of arrhythmia 1. Aritmia yang berasal dari Sinus. Jadi aktivitas listrik sesuai dengan jalur biasa (SA node). Contoh : too slow, too fast or irreguler 2. Ectopic Rhythm, aktivitas listrik berasal dari selain SA node 3. Blok Konduksi, Aktivitas berasal dari SA node, tetapi perjalanannya terhambat 4. Sindrom Pre-eksitasi, aktivitas listrik melalui alternative pathway bypass dan menyebabkan electrical shortcut/ electrical short circuit
  • 34.
    ARITMIA YANG BERASALDARI SINUS (SA NODE)
  • 35.
    Sinus Takikardia Sinus Bradikardia HR> 100 x/mnt HR < 60 x/mnt Normal Patologis Ecercise, resting, atlet CHF, ARDS, Basedow, AMI, Refleks vagus Sinus Aritmia Irama sinus tak teratus terutama pada inspirasi dan ekspirasi Sinus Arrest SA node berhenti beraktivitas. Bila aktivitas berhenti dalam waktu cukup lama : Asystole
  • 36.
    Normal Sinus Rhythm SinusTachycardia Sinus Bradicardia
  • 37.
    Sinus Arrest /Blok Catatan : Semua sel miokardium dapat menjadi pace maker, dan bila terjadi sinus arrest maka pace maker yang lain akan melakukan back up ESCAPE BEAT Sinus Rhythm Escape beat
  • 38.
    Pace Maker Yanglain  Atrial Pace Maker, berdetak 60-75 x/mnt  Junctional Pace Maker, berdetak 40-60 x/mnt  Ventricular Pace Maker, berdetak 30-45 x/mnt Escape beat bila terjadi sinus arrest yang paling sering berasal dari junctional pace maker, dengan ciri : • ‘No’ P wave • P Wave kecil terbalik
  • 39.
    Gelombang P Ciri gelombangP Normal  selalu positif di II dan selalu negatif di aVR  tinggi : < 0,11 mV (2,5 mm)  lebar : < 3 mm ( 0,11 det) Kepentingan  menandakan aktivitas atria  menunjukan arah aktivitas atria  menunjukan tanda-tanda hipertrofi atria
  • 40.
    P – RInterval • Depolarisasi atrium – depolarisasi Ventrikel • Lamanya : 0,12 - 0,20 det • Lamanya > 0,20 det : gangguan konduksi, pada umumnya di Nodus AV ( AV Block)
  • 41.
    Ada beberapa tipe 1.SA Block, berbentuk mirip sinus arrest, SA node depolarisasi normal tetapi kemudian segera di hambat 2. AV block, Blok antara SA node dan serabut purkinje (A-V node dan Berkas HIS) 3. Bundle branch block, termasuk juga blok fasikuler.
  • 42.
  • 43.
    AV Blok derajatI •PR interval lebih dari 0,20 detik •Semua beat akan diteruskan ke ventrikel
  • 44.
    AV Blok derajatII Tipe Mobitz I (Wenckebach) • Pemanjangan PR interval progresif • Diikuti dengan “QRS Dropped” Tipe Mobitz II • Tidak ada pemanjangan PR interval • QRS dropped tanpa PR intermal memanjang dahulu
  • 45.
    AV Blok derajatII tipe Mobitz I
  • 46.
    AV Blok derajatII tipe Mobitz II
  • 47.
    AV Blok derajatIII •Tidak ada beat yang diteruskan ke ventrikel •Complete heart block dengan AV dissociation •Atrium dan ventrikel terpacu oleh pace maker tersendiri
  • 48.
    Kompleks QRS 1. IntervalQRS • Interval ini mengambarkan lamanya aktivitas depolarisasi ventrikel. • Merupakan jarak antara permukaan gelombang Q sampai akhir gelombang S • Nilai Normal : < 0,12 detik (0,06-0.12) • Interval memanjang oleh karena gangguan konduksi di ventrikel • BBB (bundle branch block) • Ectopic ventricle
  • 49.
    Kompleks QRS 2. GelombangQ : defleksi kebawah pertama dari kompleks QRS. Menggambarkan awal dari fase depolarisasi ventrikel Nilai normal : • Lebar  0,04 detik • Dalam < 1/3 tinggi R Gelombang Q Pathologis ( abnormal ) : • Lebar ≥ 0,04 detik • Dalam > 25 % amplitudo gelombang R • Kepentingan : adanya nekrosis miokard ( infark miokard )
  • 50.
    Kompleks QRS 3. GelombangR defleksi Positif pertama kompleks QRS disertai atau tidak disertai gelombang Q • Menggambarkan fase depolarisasi ventrikel • Positip di I, II, V5 dan V6 • aVR, V1, V2 biasanya kecil/ tidak ada sama sekali. Kepentingan : • Menggambarkan adanya hipertrofi ventrikel • Adanya tanda-tanda BBB (Bundle Branch Block)
  • 51.
    Kompleks QRS 4. GelombangS Defleksi negatip setelah gelombang R - Menggambarkan fase depolarisasi ventrikel - aVR, V1 dan V2 terlihat lebih dalam - V4, V5 dan V6 makin berkurang dalamnya. • Kepentingan : hampir sama dengan gelombang R.
  • 54.
    Sumbu : GelombangQRS Sistem Heksadential • > 40 tahun • -30 º s/d + 90 º • < 40 tahun : • 0 º s/d +105 º
  • 55.
  • 56.
  • 57.
    Sumbu : PrecordialLead • Transitional zone : V2-V4 • Delayed transitional : sebelah kanan V5 (clockwise rotation) • Early transition : sebelah kiri V2 (counter clockwise rotation)
  • 58.
    Hipertrofi • Ventrikel kiri •Sadapan prekordial • Tinggi R di V5 atau V6 > 27 mm. Dalamnya S di V1+tinggi R di V5 atau V 6 > 35 mm • Depresi ST segmen dan inversi gel T asimetris di V5 dan V6 (ventricular strain) • Sadapan ekstremitas • Jantung horisontal : tinggi R di aVL >/= : 11 mm • Jantung vertikal : tinggi R di aVF > 20 mm
  • 59.
    Hipertrofi Ventrikel kiri •Kriteria minimal • R di aVL ≥ 11 mm. R di V5/V6 : > 27 mm • Dalamnya S di V1 + R di V5 atau V6 : > 35 mm • Kriteria ekuivokal : terdapat tanda ventricular strain
  • 61.
    Hipertrofi •Ventrikel kanan • Deviasiaksis ke kanan (tanda awal) • Gelombang S menetap di V5 dan V6 • R yang tinggi disertai depresi segmen ST dan T terbalik di sadapan II,III,aVF. aVR sering menunjukan R tinggi : qR, QR atau hanya kompleks R • R tinggi di V 1. ratio R/S > 1 atau durasi R . 0,03. durasi QRS melebar > 0,03 det menyerupai pola blok berkas
  • 63.
    Segmen ST  Garishorizontal (isoelektrik)  Titik J : akhir gelombang S, terletak pada garis isoelektrik atau sedikit positif atau negatif (tidak lebih dari 1 mm)  High take-off ST segment  Low take-off ST segment  Elevasi ST-segmen  Depresi ST-segmen  Memberikan gambaran iskemia ventrikel
  • 64.
  • 65.
  • 69.
    GELOMBANG T Fase repolarisasiventrikel • Selalu positip, kecuali di aVR •Amplitudo normal : 1. < 10 mm di sadapan prekordial 2. < 5 mm di sadapan ekstremitas 3. Minimum 1 mm •Kepentingan : •Menggambarkan adanya iskemia/ infark •Adanya kelainan elektrolit, dll
  • 70.
  • 71.
  • 72.
  • 73.
    Sandapan tambahan 1. Sandapandada Unipolar 2. Sandapan dada bipolar 3. Orthogonal lead (Lewis lead) 4. Oesofagus lead
  • 74.