BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang latar belakang, tujuan penulis,metode
penulisan dan sistematika penulisan.
A.Latar Belakang
Seiring berkembangnya zaman kini kesehatan merupakan hal yang sangat penting
dalam kehidupan manusia. Ia merupakan nikmat Allah yang paling berharga dalam
kehidupan ini. Setiap orang mendambakan kesehatan baik sehat secara jasmani
maupun rohani, karena apabila manusia sedang sakit akan sangat berpengaruh pada
kehidupannya.
Hal senada juga disampaikan oleh tresnowati dalam bukhori (2006:1) bahwa
kesehatan merupakan permasalahan yang selalu menarik perhatian masyarakat.
Berita-berita mengenai timbunya penyakit baru yang belum ditemukan
penanggulangannya, pengobatan bahkan penyebabnya maupun penyakit kronis yang
telah lama merupakan tantangan dibidang kesehatan, seperti penyakit ginjal, jantung
stroke, dan kanker sangat mencemaskan semua orang.
Penyakit ginjal dapat terjadi karena banyak sebab yang berkembang tanpa disadari.
Awalnya bisa jadi dari penyebab yang sepele, misalnya seperti kurang mium atau
gaya hidup tidak banyak bergerak, pola makan tinggi lemak dan karbohidrat, dan
lingkungan yang buruk. Semua itu mengakibatkan terjadinya gangguan metabolisme
yang berujung pada penyakit degeneratif. Gangguan ginjal tersebut bisa merupakan
serangkaian kejadian yang dapat terjadi tiba-tiba maupun secara bertahap.
Kasus yang terdapat diruang lantai VI Perawatan Umum RSPAD Gatot Soebroto
cukup banyak terutama pada pasien penyakit dalam yang berjumlah 540 orang ,
selama tiga bulan terakhir klien yang dirawat dengan gagal ginjal kronik (CKD) ±25
orang.
Setiap manusia mempunyai dua buah ginjal, disebelah kanan dan kiri tulang
belakang dibungkus oleh lapisan lemak yang tebal di belakang peritoneum. Ginjal
merupakan organ penting didalam tubuh manusia yang salah satunya adalah
mengeliarkan sisa-sisa metabolisme melalui urin yaitu ureum,kreatinin,asam
urat,ammonium,sulfat asam organic, kelebihan cairan dan elektrolit, serta zat-zat
racun lainnya. Pada penderita penyakit gagal ginjal kronik dapat mengakibatkan
fungsi ginjal berkurang atau bahkan tidak dapat berfungsi sama sekali.
Dengan demikian adapun masalah-masalah keperawatan yang dapat terjadi pada
klien dengan gagal ginjal kronik, antara lain: Kelebihan volume cairan, perubahan
nutrisi, Gangguan perfusi jaringan, Resiko penurunan curah jantung , Resiko
kerusakan intregitas kulit dan intoleransi aktivitas
Dengan melihat kompleknya masalah-masalah keperawatan yang terjadi pada klien
dengan gagal ginjal kronik serta pentingnya peran perawat dalam penanganan
masalah klien. Peran perawat sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan
yang tepat sesuai dengan standar-standar praktik keperawatan diantaranya sebagai
provider yang melaksanakan rencana asuhan keperawatan yang telah dibuat oleh
katim.
Selain itu dari segi promotif dimana peran perawat sangat penting untuk
mempertahankan kesehatan pasien. Kuratif dimana perawat berperan dalam
memberikan pengobatan pada pasien dan rehabilitative yaitu pemulihan, melakukan
control dan latihan rehabilitasi untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis ingin mengetahui bagaimana asuhan
keperawatan pada Tn. K dengan Chronic Kidney Diseasedilantai VI Perawatan
umum RSPAD Gatot Soebroto dengan menggunakan proses keperawatan
B. Tujuan penulisan
Tujuan penulisan makalah ini terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus.
1. Tujuan umum
Untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam merawat klien dengan
penerapan teori tentang asuhan keperawatan pada klien dengan gagal ginjal
kronik.
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dengan gagal ginjal
kronik
b. Mahasiswa mampu menganalisa data hasil pengkajian yang ditemukan
untuk menentukan diagnose keperawatan pada klien dengan gagal ginjal
kronik
c. Mahasiswa mampu merencanakan tindakan keperawatan pada klien
dengan gagal ginjal kronik
d. Mahasiswa mampu melaksanan tindakan keperawatan sesuai dengan
rencana keperawatan pada klien dengan gagal ginjal kronik
e. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah
dilakukan pada klien dengan gagal ginjal kronik
f. Mahasiswa mampu mengidentifikasi kesenjangan antara teori dengan
kasus sesuai dengan asuhan keperawatan pada klien dengan gagal ginjal
kronik
g. Mahasiswa mampu mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat dan
dapat mencari solusinya
h. Mahasiswa mampu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan
dalam bentuk narasi
C.Ruang Lingkup
Penulisan makalah ini merupakan pembahasan asuhan keperawatan pada klien Tn. K
dengan Chronik Kidney Disease dilantai VI Perawatan Umum RSPAD Gatot
Soebroto yang dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 23 Juni-25 Juni 2015.
D. Metode Penulisan
1. Studi kasus
Pada studi kasus ini mahasiswa mengambl salah satu kasus pada klien dengan gagal
ginjal kronik di lantai VI Perawatan Umum dan langsung bergabung memberikan
asuhan keperawatan selama 3 hari dari mulai pengkajian (dengan teknik
observasi,wawancara,dan pemeriksaan fisik) ,menganalisa data perencanaan ,
iplementasi dan evaluasi.
2.Studi Kepustakaan
Dengan mempelajari buku-buku pelajaran dan referensi untuk mendapatkan konsep-
konsep yang berhubungan dengan gagal ginjal kronik,dan permasalahan pada
makalah ilmiah ini.
E.Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun secara sistematika yang terdiri dari lima bab yaitu:
Bab satu : Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode
penulisan, dan sistematika penulisan Bab dua : Konsep asuhan keperawatan yang
terdiri dari pengertian, patofisiologi,(etiologi,proses,komplikasi), pengkajian,
diagnosa keperawatan, intervensi dan evaluasi Bab tiga : Laporan kasus yang
meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan,intervensi dan evaluasi Bab empat
:Pembahasan,yang membahas tentang kesenjangan antara konsep asuhan
keperawatan dan laporan kasus Bab lima: Kesimpulan saran dan penutup.
BAB II
TINJAUAN TEORI
Pada bab ini penulis akan membahas tentang konsep asuhan keperawatan yang
meliputi pengertian, patofisiologi, pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, dan
evaluasi.
A.Pengertian
Gagal ginjal kronik ( Chronic kidney disease) adalah kerusakan ginjal progresif yang
berak ibat fatal dan ditandai dengan uremia(uremia dan limbah nitrogen lainnya
yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialisi atau
transplantasi ginjal.) (Nursalam,2006 hal 47)
Gagal ginjal kronik merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dan
irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme
dan keseimbangan elektrolit, yang menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah
nitrogen lain dalam darah).(Brunner suddarth,2002)
Berdasarkan beberapa pengertian menurut para ahli diatas dapat diambil kesimpulan
bahwa gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi renal yang irreversible dan
berlangsung lambat sehingga ginjal tidak mampu mempertahankan metabolisme
tubuh dan keseimbangan cairan dan elektrolit dan menyebabkan uremia.
1.Stadium gagal ginjal kronik
Tahap cronic kidney disease (CKD) menurut kidney.org/professionals(2007)dan
kidney.org.uk (2007) adalah :
A. Tahap 1 : keruakan ginjal dengan GFR normal atau meningkat
GFR>90ml/menit/1,73 m.
B. Tahap II : Penurunan GFRringan,GFR 60-89 ml/menit/1,73m.
a. Tahap III : Penurunan GFR sedang, yaitu 30-59 ml/menit/1,73 m.
b. Tahap IV : Penurunan GFR berat , yaitu 15-29 ml/menit/1,73 m.
c. Tahap V : Gagal ginjal dengan GFR <15 ml/menit/1,73 m.
Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate)/CCT (Clearance Creatinin Test)
dapat digunakan rumus :
Clearance creatinin (ml/menit) = (140-umur) x berat badan / (kg)
72x Creatinin serum
1.Anatomi dan fisiologi ginjal
a.Anatomi ginjal menurut (potter,patricia A , 2005)
Ginjal merupakan sepasang organ berbentuk seperti kacang buncis, berwarna coklat
agak kwmwrahan , yang terdapat di kedua sisi kolumna vertebral posterior terhadap
peritoneum dan terletak pada otot punggung bagian dalam.Ginjal terbentang dari
vertebra torakalis ke dua belas sampai vertebra lumbalis ke tiga. Dalam kondisi
normal, ginjal kiri lebih tinggi 1,5 sampai 2 cm dari ginjal kanan karena posisi
anatomi hati. Setiap ginjal secara khas berukuan 12 cm x 7cm dan memiliki berat
120 sampai 150 gram. Sebuah kelenjar adrenal terletak di kutub superior setiap
ginjal, tetapi tidak behubungan secara langsung dengan poses eliminasi urin. Setiap
ginjal dilapisi oleh sebuah kapsul yang kokoh dan di kelilingioleh lapisan lemak.
Produk buangan (limbah) dari hasil metabolisme yang terkumpul didalam darah
difiltrasi di ginjal. Darah sampai ke setiap ginjal melalui arteri renalis (ginjal) yang
merupakan percabangan di aorta abdominalis. Arteri renalis memasuki ginjal melalui
hilum. Sekitar 20% sampai 25 % curah jantung bersikulasi setiap hari melalui ginjal.
Setiap ginjal berisi 1 juta nefron. Nefron, yang merupakan unit fungsional ginjal,
membentuk urin. Nefron tersusun atas glomelurus, kapsul Bowman , tubulus
kontortus prosikmal, ansa henle , tubulus distal , dan duktus pengumpul (Gbr.46-2)
Darah masuk ke nefron melalui arteriola aferen sekelompok pembuluh darah ini
membentuk jaringan kapiler glomerulus, yang merupakan tempat pertama awal
pembentukan urin. Kapiler glomerulus memiliki pori-pori sehingga dapat mmfiltrasi
air dan substansi, seperti glukosa, asam amino, urea kreatinin, dan elektrolit-
elektrolit utama ke dalam kapsul Bowman. Dalam kondisi normal, protein yang
berukuran besar dan sel-sel darah tidak di filtrasi melalui glomerulus.. Apabila di
dalam urin terdapat protein yang berukuran besar (proteinuria), maka hal ini
merupakan tanda adanya cedera pada glomerulus. Glomerulus memfiltrasi sekitar
125 ml filtrate per menit. Pada awalnya jumlah filtrate mendekati jumlah plasma
darah dikurangi protein yang berukuran besar.
Tidak semua filtrate glomerulus diekskresi sebagai urin. Setelah filtrate
meninggalkan glomerulus, filtrat masuk ke sistem tubulus dan duktus pengumpul,
yang merupakan tempat air dan substansi, seperti glukosa asam amino, asam urat dan
ion-ion natrium serta kalium direarbsobsi kembali kedalam plasma secara selektif.
Sekitar 99% filtrat direarbsopsi ke dalam plasma, dengan 1% sisanya diekskresikan
sebagai urin. Dengan demikian, ginjal memainkan peranan penting dalam
keseimbangan cairan dan elektrolit. Walaupun haluaran tergantung pada
asupan,haluaran urin normal orang dewasa dalam 24 jam adalah sekitar 1500 sampai
1600 ml. Haluaran urin sebanyak 60 ml per jam pada umumnya adalah normal.
Haluaran urin kurang dari 30 ml per jam dapat mengindikasikan adanya beberapa
hormone penting untuk memproduksi sel darah merah, pengaturan tekanan darah dan
mineralisasi tulang.
1).Fisiologi ginjal
A.Fungsi Ginjal
Menurut price dan Wilson (2005)
Ginjal mempunyai berbagai macam fungsi yaitu ekskresi dan fungsi non ekskresi.
Fungsi ekskresi diantaranya :
- Mempertahankan osmolaritas plasma sekitar 285 mosmol dengan
mengubah-ubah ekskresi air
- Mempertahankan kadar masing-masing elektrolit plasma dalam rentang
normal
- Mempertahankan pH plasma sekitar 7,4 dengan mengeluarkan kelebihan H+
dan membentuk kembali HCO3
- Mengekresikan produk akhir nitrogen dari metabolisme protein terutama
urea, asam urat dan kreatinin
Sedangkan fungsi non- ekskresi ginjal adalah:
- Menghasilkan rennin yang penting untuk pengaturan tekanan darah
- Menghasilkan eritoprotein sebagai faktor penting dalam stimulus
- produksi sel darah merah oleh sumsum tulang.
- Metabolisme vitamin D menjadi bentuk aktifnya.
- Degradasi insulin
- Menghasilkan prostaglandin
Terdapat 3 proses penting yang berhubungan dengan proses pembentukan urin, yaitu:
a. Filtrasi (Penyaringan) : kapula bowman dari badan Malpighi menyaring
darah dalam glomerulus yang mengandung air , garam, gula , urea dan zat
bermolekul besar (protein dan sel darah) sehingga dihasilkan filtrat glomerulus ( urin
primer). Di dalam filtrate ini terlarut zatyang masih berguna bagi tubuh maupun zat
yang tidak bergunabagi tubuh , missal glukosa, asam amino, dan gaam-garam.
b. Rearbsopsi ( penyerapan kembali) : Dalam tubulus kontortus proksimal zat dalam
urin primer yang masih berguna akan direarbsopsi yang dihasilkan filtrate tubulus
(urin sekunder) dengan kadar urea yang tinggi.
c. Ekskresi (pengeluaran) : Dalam tubulus kontortus distal, pembuluh darah
menambahkan zat lain yang tidak digunakan dan terjadi rearbsonsi aktif ion Na dan
cl . Dan sekresi H dan K ditempat sudah terbentuk urin yang sesungguhnya yang
tidak terdapat glukosa dan protein lagi, selanjutnya akan disalurkan ke tubulus
kolektifus ke pelvis renalis.
B.Etiologi
Penyakit infeksi tubulointestinal : Pielonefritis kronik atau refluks nfropati Penyakit
peradangan : Glomerulonefritis Penyakit vaskuler hipertensif : Nefrosklerosis
benigna,nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis Gangguan jaringan ikat :
Lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodosa, sklerosis arteria renalis
Gangguan congenital dan herediter : Penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal
Penyakit metabolic : Diabetes mellitus,gout ,hiperparatiroidisme, amiloidosis.
Nefropati toksik: Penyalahgunaan analgesi, nefropati timah,Nefropati obstruktif
:Traktus urinarius bagian atas (batu/calculi,neoplasma,fibrosis,retroperitoneal)
traktus urinarius bawah (hipertropi prostrat,striktur uretra, anomaly congenital leher
vesika urinaria dan uretra)
C.Patofisiologi
1. Proses perjalanan penyakit
Berdasarkan proses perjalanan penyakit dari berbagai penyebab yaitu infeksi,
vaskuler, zat toksik, obstruksi saluran kemih yang pada akhirnya akan terjadi
kerusakan nefron sehingga menyebabkan penurunan GFR (Glomelular Filtration
Rate) dan menyebabkan CKD (cronic kidney disease), yang mana ginjal mengalami
gangguan dalam fungsi eksresi dan dan fungsi non-eksresi.Fungsi renal menurun,
produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin)
tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh.
Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat (Brunner
& Suddarth, 2001 : 1448
dari proses sindrom uremia terjadi pruritus, perubahan warna kulit. Sindrom uremia
juga bisa menyebabkan asidosis metabolik akibat ginjal tidak mampu menyekresi
asam (H+) yang berlebihan. Penurunan sekrsi asam akibat tubulus ginjal tidak
mampu menyekresi ammonia (NH3-) dan megapsorbsi natrium bikarbonat (HCO3-).
Penurunan eksresi fosfat dan asam organik yang terjadi, maka muntah dan muntah
tidak dapat dihindarkan. Sekresi kalsium mengalami penurunan sehingga
hiperkalemia, penghantaran listrik dalam jantung terganggu akibatnya terjadi
penurunan COP (cardiac output), suplai O2 dalam otak dan jaringan terganggu.
Penurunan sekresi eritropoetin sebagai faktor penting dalam stimulasi produksi sel
darah merah oleh sumsum tulang menyebabkan produk hemoglobin berkurang dan
terjadi anemia sehingga peningkatan oksigen oleh hemoglobin (oksihemoglobin)
berkurang maka tubuh akan mengalami keadaan lemas dan tidak bertenaga.
Gangguan clerence renal terjadi akibat penurunan jumlah glomerulus yang berfungsi.
Penurunan laju filtrasi glomerulus di deteksi dengan memeriksa clerence kretinin
dalam darah yang menunjukkan penurunan clerence kreatinin dan peningkatan kadar
kreatinin serum Retensi cairan dan natrium dapat megakibatkan edema.
Ketidakseimbangan kalsium dan fosfat merupakan gangguan metabolisme Kadar
kalsium dan fosfat tubuh memiliki hubungan timbalbalik. Jika salah satunya
meningkat maka fungsi yang lain akan menurun. Dengan menurunnya filtrasi melaui
glomerulus ginjal maka meningkatkankadar fosfat serum, dan sebaliknya, kadar
serum kalsium menurun. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi
parathhormon dari kelenjar paratiroid, tetapi gagal ginjal tubuh tidak dapat merspons
normal terhadap peningkatan sekresi parathormon sehingga kalsium ditulang
menurun, menyebabkan terjadinya perubahan tulang dan penyakit tulang.
(Nurlasam, 2007).
2.Menifestasi klinis
Manifestasi klinik menurut Price dan Wilson (2005), Smeltzer dan
Bare (2001), Lemine dan Burke (2000) dapat dilihat dari berbagai fungsi system
tubuh yaitu :
1) Manifestasi kardiovaskuler : hipertensi, pitting edema, edema periorbital,
friction rub pericardial, pembesaran vena leher, gagal jantung kongestif, perikarditis,
disritmia, kardiomiopati, efusi pericardial, temponade pericardial.
2) Gejala dermatologis/system integumen : gatal-gatal hebat (pruritus), warna
kulit abu-abu, mengkilat dan hiperpigmentasi, serangan uremik tidak umum karena
pengobatan dini dan agresif, kulit kering, bersisik, ecimosis, kuku tipis dan rapuh,
rambut tipis dan kasar, memar (purpura).
3) Manifestasi pada pulmoner yaitu krekels, edema pulmoner,sputum kental
dan liat,nafas dangkal, pernapasan kusmaul, pneumonitis
4) Gejala gastrointestinal : nafas berbau ammonia, ulserasi danperdarahan pada
mulut, anoreksia, mual, muntah dan cegukan, penurunan aliran saliva, haus, rasa
kecap logam dalam mulut, kehilangan kemampuan penghidu dan pengecap, parotitis
dan stomatitis, peritonitis, konstipasi dan diare, perdarahan darisaluran
gastrointestinal.
5) Perubahan musculoskeletal : kram otot, kekuatan otot hilang, fraktur tulang,
kulai kaki (foot drop).
6) Manifestasi pada neurologi yaitu kelemahan dan keletihan, konfusi,
disorientasi, kejang, kelemahan pada tungkai, rasa panas pada tungkai kaki,
perubahan tingkah laku, kedutan otot, tidak mampu berkonsentrasi, perubahan
tingkat kesadaran, neuropati perifer.
7) Manifestasi pada system repoduktif : amenore, atropi testikuler, impotensi,
penurunan libido, kemandulan
8) Manifestasi pada hematologic yaitu anemia, penurunan kualitas trombosit,
masa pembekuan memanjang, peningkatan kecenderungan perdarahan.
9) Manifestasi pada system imun yaitu penurunan jumlah leukosit, peningkatan
resiko infeksi.
10) Manifestasi pada system urinaria yaitu perubahan frekuensi berkemih,
hematuria, proteinuria, nocturia, aliguria.
11) Manifestasi pada sisitem endokrin yaitun hiperparatiroid dan intoleran
glukosa.
12) Manifestasi pada proses metabolic yaitu peningkatan urea dan serum
kreatinin (azotemia), kehilangan sodium sehingga terjadi : dehidrasi, asidosis,
hiperkalemia, hipermagnesemia dan hipokalsemia.
13) Funsi psikologis yaitu perubahan kepribadian dan perilaku serta gangguan
proses kognitif.
3.Komplikasi
Komplikasi penyakit gagal ginjal kronik menurut Smletzer dan Bare
(2001) yaitu :
a.Hiperkalemia akibat penurunan eksresi, asidosis metabolic, katabolisme dan
masukan diet berlebihan.
b. Perikarditis, efusi pericardial dan tamponade jantung akibat retensi produk
sampah uremik dan dialysis yang tidak adekuat.
c.Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi system rennin-
angiostensin-aldosteron
d.Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah merah,
perdarahan gastrointestinalakibat iritasi oleh toksin dan kehilangan darah selama
hemodialisis.
e.Penyakit tulang serta kalsifikasi metastatic akibat retensi fosfat, kadar kalsium
serum yang rendah, metabolism vitamin D abnormal dan
f.peningkatan kadar alumunium.
D.Penatalaksanaan Medis
- Dialisis (cuci darah)
- Obat-obatan: antihipertensi, suplemen besi,agen pengikat fosfat, suplemen
kalsium,suplemen furosemid(membantu berkemih)
- Diit rendah protein dan tinggi karbohidrat
- Transfusi darah
- Transplantasi ginjal
Pemeriksaan Diagnostik
1.Pemeriksaan laboratorium untuk menetukan derajat kegawatan CKD , menentukan
gangguan system dan membantu menetapkan etiologi
2.Pemeriksaan USG
Untuk mencari apakah ada batuan, atau massa tumor,juga untuk mengetahui
beberapa pembesaran ginjal
3.Pemeriksaan EKG
Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tandatanda
perikarditis,aritmia,dan gangguan elektrolit
E.Pengkajian Keperawatan
a) Fokus Pengkajian
Pengkajian focus keperawatan yang perlu diperhatikan pada penderita gagal ginjal
kronik menurut Doeges (1999), Le Mone & Burke (2000) dan Smeltzer dan Bare
(2001) ada berbagai macam, meliputi :
Demografi liingkungan yang tercemar oleh timah, cadmium, merkuri, kromium dan
sumber air tinggi kalsium beresiko untuk gagal ginjal kronik, kebanyakan
menyerang umur 20-50 tahun, jenis kelamin lebih banyak
perempuan, kebanyakan ras kulit hitam. Riwayat penyakit dahulu , Riwayat infeksi
saluran kemih, penyakit peradangan, vaskuler hipertensif, gangguan saluran
penyambung, gangguan kongenital dan herediter, penyakit metabolik, nefropati
toksik dan neropati obstruktif. Riwayat kesehatan keluarga Riwayat penyakit
vaskuler hipertensif, penyakit metabolik, riwayat menderita penyakit gagal ginjal
kronik.
e. Pola kesehatan fungsional
1) Pemeliharaan kesehatan, Pola nutrisi dan metabolik ,Pola eliminasi, Pola aktivitas
dan latihan, Pola istirahat dan tidur ,Pola persepsi sensori dan kognitif Persepsi diri
dan konsep diri 2) Pola reproduksi dan seksual Pengkajian fisik Keluhan umum :
lemas, nyeri pinggang. Tingkat kesadaran komposmentis sampai koma.
3) Pengukuran antropometri : beratbadan menurun, lingkar lengan atas (LILA)
menurun.4) Tanda vital : tekanan darah meningkat, suhu meningkat, nadi lemah,
disritmia, pernapasan kusmaul, tidak teratur.5) Kepala a) Mata: konjungtiva anemis,
mata merah, berair, penglihatan kabur, edema periorbital.b) Rambut: rambut mudah
rontok, tipis dan kasar.
c) Hidung : pernapasan cuping hidung d) Mulut : ulserasi dan perdarahan, nafas
berbau ammonia,mual,muntah serta cegukan, peradangan gusi.6) Leher :
pembesaran vena leher.7) Dada dab toraks : penggunaan otot bantu pernafasan,
pernafasan dangkal dan kusmaul serta krekels, nafas dangkal, pneumonitis, edema
pulmoner, friction rub pericardial.
8) Abdomen : nyeri area pinggang, asites.9) Genital : atropi testikuler, amenore.10)
Ekstremitas : capitally revil > 3 detik,kuku rapuh dan kusam serta tipis, kelemahan
pada tungkai, rasa panas pada telapak kaki, foot drop, kekuatan otot.11) Kulit :
ecimosis, kulit kering, bersisik, warnakulit abu-abu, mengkilat atau hiperpigmentasi,
gatal (pruritas), kuku tipis dan rapuh, memar (purpura), edema.
g. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang pada gagal ginjal kronik menurut Doenges
(1999) adalah :
1) Urinea: Volume, biasnya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguria) atau urine tidak
ada.b) Warna, secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus, bakteri,
lemak, pertikel koloid, fosfat atau urat.c) Berat jenis urine, kurang dari 1,015
(menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal berat)d) Klirens kreatinin,
mungkin menurun
e) Natrium, lebih besar dari 40 meq/L karena ginjal tidak mampu mereabsobsi
natrium.f) Protein, derajat tinggi proteinuria (3-4 +) secara kuat menunjukkan
kerusakan glomerulus.2) Darah: Hitung darah lengkap, Hb menurun pada adaya
anemia, Hb:biasanya kurang dari 7-8 gr b) Sel darah merah, menurun pada defesien
eritropoetin seperti azotemia.
c) GDA, PH menurun, asidosis metabolik (kurang dari 7,2) terjadi karena
kehilangan kemampuan ginjal untuk mengeksresi hydrogen dan amonia atau hasil
akhir katabolisme prtein, bikarbonat menurun, PaCO2 menurun.d) Kalium,
peningkatan sehubungan dengan retensi sesuai perpindahan seluler (asidosis) atau
pengeluaran jaringan.
e) Magnesium fosfat meningkat f) Kalsium menurun g) Protein (khusus albumin),
kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine,
perpindahan cairan, penurunan pemasukan atau sintesa karena kurang asam amino
esensial.h) Osmolaritas serum: lebih beasr dari 285 mOsm/kg, sering sama dengan
urin.
3) Pemeriksaan radiologic :Foto ginjal, ureter dan kandung kemih (kidney, ureter
dan bladder/KUB): menunjukkan ukuran ginjal, ureter, kandung kemih, dan adanya
obstruksi (batu).b) Pielogram ginjal: mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi
ekstravaskuler, masa c) Sistouretrogram berkemih menunjukkan ukuran kandung
kemih, refluks kedalam ureter dan retensi.
d) Ultrasonografi ginjal: menentukan ukuran ginjal dan adanya masa, kista,
obstruksi pada saluran perkemuhan bagian atas.e) Biopsy ginjal: mungkin dilakukan
secara endoskopik, untuk menentukan seljaringan untuk diagnosis hostologis.f)
Endoskopi ginjal dan nefroskopi: dilakukan untuk menentukan pelis ginjal (keluar
batu, hematuria dan pengangkatan tumor selektif).
g) Elektrokardiografi/EKG: mingkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan
elektrolit dan asam basa.h) Foto kaki, tengkorak, kolumna spinal dan tangan, dapat
menunjukkan demineralisasi, kalsifikasi.i) Pielogram intravena (IVP), menunjukkan
keberadaan dan posisi ginjal, ukuran dan bentuk ginjal.
j) CT scan untuk mendeteksi massa retroperitoneal (seperti penyebararn tumor).k)
Magnetic Resonan Imaging / MRI untuk mendeteksi struktur ginjal, luasnya lesi
invasif ginjal.
F.Diagnosa keperawatan
pada penyakit gagal ginjal kronik menurut
Doeges (1999), Carpenito (2000) dan Smeltzer dan Bare (2001) adalah
a) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran
urine dan retensi cairan dan natrium.
b) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake inadekuat sekunder terhadap mual, muntah, anoreksia.
c) Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai O2
dan nutrisi ke jaringan sekunder terhadap penurunan COP.
d) Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan
ketidakseimbangan cairan mempengaruhi sirkulasi, kerja miokardial
dan tahanan vaskuler sistemik, gangguan frekuensi, irama, konduksi
jantung (ketidakseimbangan elektrolit).
e) Resiko kerusakan intregitas kulit berhubungan dengan akumulasi
toksik dalam kulit dan gangguan turgor kulit (uremia).
f) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi
produk sampah dan prosedur dialisis.
g) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan alveolus
sekunder terhadap adanya edema pulmoner.
h) Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi paru.
G.Perencanaan keperawatan
Intervensi keperawatan pada penyakit gagal ginjal kronik menurut Doenges (1999),
Carpenito (2000) dan Smeltzer dan Bare (2001) adalah:
Dx 1 Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine dan
retensi cairan dan natrium.
Tujuan: Kelebihan cairan/ede ma tidak terjadi
Kriteria hasil : Pembatasan diet dan cairan. • Turgor kulit normal tanpa edema. •
Tanda-tanda vital normal
Intervensi : 1) kaji status cairan • Timbang berat badan harian • Keseimbangan
masukan dan haluaran. • Turgor kulit dan adanya edema. • Tekanan darah, denyut
dan irama nadi. 2) batasi masukan cairan identifikasi sumber potensial cairan,
medikasi dan cairan yang digunakan untuk pengobatan, oral dan intravena 4)
Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan.5) Bantu pasien dalam
menghadapi ketidaknyamanan akibat pembatasan cairan.
Dx 2 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
inadekuat, mual, muntah, anoreksia.
Tujuan: Memperta hankan masukan nutrisi yang adekuat
Kriteria hasil : Pengukuran antropometri dalam batas normal. • Perlambatan atau
penurunan berat badan yang cepat tidak terjadi. • Pengukuran biokomis dalam batas
normal (albumin, kadar elektrolit). • Peneriksaan laboratorium klinis dalam batas
normal. • pematuhan makanan dalam pembatasan diet dan medikasi sesuai jadwal
untuk mengatasi anoreksia.
Intervensi: Kaji status nutrisi • perubahan berat badan • pengukuran antropometrik •
nilai laboratorium (elektrolit serum, BUN, kreatinin, protein, transferin dan kadar
besi). 2) Kaji pola diet dan nutrisi pasien • riwayat diet • makanan kesukaan • hitung
kalori. 3) Kaji faktor-faktor yang dapat merubah masukan nutrisi: • Anoreksia, mual
dan muntah • Diet yang tidak menyenangkan bagi pasien • Kurang memahami diet.
4) Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet. 5) Anjurkan
camilan tinggi kalori, rendah protein, rendah natrium, diantara waktu makan.6)
Jelaskan rasional pembatasan diet dan hubungannya dengan penyakit ginjal dan
peningkatan urea dan kadar kreatinin. 7) Sediakan jadwal makanan yang dianjurkan
secara tertulis dan anjurkan untuk memperbaiki rasa tanpa menggunakan natrium
atau kalium.8) Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan.9)
Timbang berat badan harian.10) Kaji bukti adanya masukan protein yang tidak
adekuat • pembentukan edema • penyembuhan yang lambat • penurunan kadar
albumin
Dx 3: Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai O2 dan
nutrisi ke jaringan sekunder terhadap penurunan COP.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawata n perfusi jaringan adekuat
Kriteria hasil : Membran mukosa warna merah muda. • Kesadaran kompos mentis. •
Tidak ada keluhan sakit kepala. • Tidak ada tanda sianosis ataupun hipoksia •
Capillary refill kurang dari 3 detik. • Nilai laboratorium dalam batas normal (Hb 12-
15 gr%). • Konjungtiva tidak anemis. • Tanda-tanda vital stabil: TD: 120/80 mmHg,
nadi: 60-80x/menit.
Intervensi : Awasi tanda-tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit dan dasar
kuku.2) Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi. 3) Catat keluhan rasa dingin,
pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai dengan indikasi. Kolaborasi
untuk pemberian O2 5) Kolaborasikan pemeriksaan laboratorium (hemoglobin).
Dx. 4 Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi paru.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawata n klien menunjukk an pola nafas
efektif
Kriteria hasil : analisa gas darah dalam rentang normal. • tidak ada tanda sianosis
maupun dispnea. • bunyi nafas tidak mengalami penurunan • TTV dalam batas
normal: RR 16-24 x/menit
Intervensi : Kaji fungsi pernapasan klien, catat kecepatan, adanya gerak, dispnea,
sianosis, dan perubahan tanda vital. 2) Catat pengembangan dada dan posisi trakea3)
Kaji klien adanya keluhan nyeri bila batuk atau nafas dalam. Pertahankan posisi
nyaman misalnya posisi semi fowler 5) Kolaborasikan pemeriksaan laboratorium
(elektrolit)6) Kolaborasikan pemeriksaan analisa gas darah dan foto thoraks7)
Kolaborasikan pemeriksaan oksigen
Dx 5 Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimba ngan
cairan mempengaruhi sirkulasi, kerja miokardial dan tahanan vaskuler sistemik,
gangguan frekuensi, irama, konduksi jantung (ketidakseimba ngan elektrolit).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawata n curah jantung dapat dipertahan kan
Kriteria hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal: tekanan darah: 120/80 mmHg,
nadi 60-80 x/menit, kuat, teratur. • Akral hangat • Capillary refill kurang dari 3 detik
• Nilai laboratorium dalam batas normal (kalium 3,5- 5,1 mmol/L, urea 15-39 mg/dl)
Intervensi : Auskultasi bunyi jantung dan paru, evaluasi adanya edema perifer atau
kongesti vaskuler dan keluhan dispnea, awasi tekanan darah, perhatikan postural
misalnya: duduk, berbaring dan berdiri. 2) Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan
lokasi dan beratnya.3) Evaluasi bunyi jantung akan terjadi friction rub, tekanan
darah, nadi perifer, pengisisan kapiler, kongesti vaskuler, suhu tubuh dan mental, 4)
Kaji tingkat aktivitas dan respon terhadap aktivitas.5) Kolaborasikan pemeriksaan
laboratorium yaitu kalium.6) Berikan obat anti hipertensi sesuai dengan indikasi.
Dx 6 Resiko kerusakan intregitas kulit berhubungan dengan akumulasi toksik dalam
kulit dan gangguan turgor kulit (uremia)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawata n tidak terjadi integritas kulit
Kriteria hasil : Klien menunjukkan perilaku atau tehnik untuk mencegah kerusakan
atau cidera kulit. • Tidak terjadi kerusakan integritas kulit. • Tidak terjadi edema.
Intervensi : Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor dan perhatikan adanya
kemerahan, ekimosis, purpura. 2) Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan
membran mukosa.3) Inspeksi area tubuh terhadap edema. 4) Ubah posisi dengan
sering menggerakkan klien dengan perlahan, beri bantalan pada tonjolan tulang.5)
Pertahankan linen kering, dan selidiki keluhan gatal. 6) Pertahankan kuku pendek
Dx 7 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk
sampah dan prosedur dialisis.
Tujuan : Berpartisip asi dalam aktivitas yang dapat ditoleransi
Kriteria hasil : Berpartisip dalam meningkatkan tingkat aktivitas dan latihan •
Melaporkan peningkatan rasa sejahtera • Melakukan istirahat dan aktivitas secara
bergantian • Berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri yang dipilih
Intervensi : Kaji faktor yang menyebabkan keletihan • anemia • ketidakseimbangan
cairan dan elektrolit • retensi produk sampah • depresi 2) Tingkatkan kemandirian
dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditoleransi, bantu jika keletihan terjadi. 3)
Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat.4) anjurkan untuk beristirahat setelah
dislisis.
Dx 8 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
sekunder terhadap adanya edema pulmoner.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawata n klien menunjukk an pertukaran
gas efektif.
Kriteria hasil : analisa gas darah dalam rentang normal • tidak ada tanda sianosis
maupun hipoksia • taktil fremitus positif kanan dan kiri • bunyi nafas tidak
mengalami penurunan • auskultasi paru sonor. • TTV dalam batas normal:
Intervensi : Kaji fungsi pernapasan klien, catat kecepatan, adanya gerak, dispnea,
sianosis, dan perubahan tanda vital. 2) Auskultasi bunyi nafas 3) Catat
pengembangan dada dan posisi trakea4) Kaji taktil fremitus5) Kaji klien adanya
keluhan nyeri bila batuk atau nafas dalam.6) Pertahankan posisi nyaman
H. Implementasi
Menurut patricia A. Potter (2005) adalah sebagai berikut:
Tindakan keperawatan adalah : Melaksanakan tindakan keperawatan yang telah
ditentukan dengan maksud agar kebutuhan klien terpenuhi secara optimal. Tindakan
keperawatantersebut dilaksanakan sebagian olrh klieb itu senduri,oleh perawat secara
mandiri atau mungkin dilakukan secara kerja sama dengan anggota ti kesehatan
lainnya.Proses pelaksaan dari proses keperawatanmempunyai lima tahap yaitu:
1. Mengkaji ulang klien
2. Mencegah dan memodifikasi rencana asuhan keperawatan meskipun rencana
asuhan keperawatan telah dikembangkan sesuai dengan diagnose keperawatan yang
telah teridentifikasi selama pengkajian.Perubahan dalam status klien mungkin
mengharuskan modifikasi rencana asuhan keperawatan yang telah direncanakan
3. Mengidentifikasi bidang bantuan
Beberapa situasi keperawatan mengharuskan perawat untuk mencari bantuan-
bantuan dapat berupa tambahan tenaga.
4. Mengimplementasikan intervensi keperawatan
Perawat memilih intervensi keperawatan berikut metode untuk mencapai tujuan
asuhan keperawatan yaitu: membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-
sehari. Mengkonsulkan dan memberikan penyuluhan kepada klien dan keluarga,
memberi asuhan keperawatan langsung,mengawasi dan mengevaluasi kerja staf
anggota lainnya.
5. Mengkomunikasikan intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan dituliskan akan dikomunikasikan secara verbal rencana
keperawatan biasanya mencerminkan tujuan intervensi keperawatan. Setelah
intervensi keperawatan, respon klien terhadap pengobatan dicatatkan pada lembar
catatan yang sesuai dengan menuliskan waktu dan rincian tentang intervensi
mendokumentasikan bahwa prosedur telah dilaksanak dan diselesaikan.Pada waktu
tenaga keperawatan memberikan asuhan keperawatan prose pengumpulan data dan
analisa data berjalan terus menerus guna perubahan atau penyesuaian tindakan
keperawatan. Beberapa faktor dapat mempengaruhi pelaksanaan keperawatan antata
lain : fasilitas atau alat yang ada, pengorganisasian pekerjaan perawat serta
lingkungan fisik dimana asuhan keperawatan dilakukan.
I. Evaluasi
Evaluasi menurut Patricia A.Potter, (2005) adalah sebagai berikut:
Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian ulang rencana
keperawatan langkah-langkah evaluasi terdiri dari pengumpulan dataperkembangan
pasin, menafsirkan (meginterprestasikan) perkembangan pasien membandingkan
data keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan keperawatan dengan
menggunakan criteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, mengukur dan
membandingkan perkembangan pasien dengan standar normal yang berlaku. Ada
tiga alternative dalam menafsirkan hasil evaluasi yaitu:
a.Tujuan tercapai
Tujuan tercapai apabila pasien menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan
kesehatan sesuai dengan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
b. Tujuan tercapai sebagian
Tujuan tercapai sebagian jika pasien menunjukkan perubahan dan perkembangan
kesehatan hanya sebagai dari kriteria pencapain tujuan yang telah ditetapkan.
c.Tujuan sama sekali tidak tercapai
Tujuan sama sekali tidak tercapai, jika pasien tidak menunjukkan perubahan perilaku
dan perkembangan kesehatan atau bahkan timbul masalah baru.

etika

  • 1.
    BAB I PENDAHULUAN Pada babini penulis akan menguraikan tentang latar belakang, tujuan penulis,metode penulisan dan sistematika penulisan. A.Latar Belakang Seiring berkembangnya zaman kini kesehatan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia merupakan nikmat Allah yang paling berharga dalam kehidupan ini. Setiap orang mendambakan kesehatan baik sehat secara jasmani maupun rohani, karena apabila manusia sedang sakit akan sangat berpengaruh pada kehidupannya. Hal senada juga disampaikan oleh tresnowati dalam bukhori (2006:1) bahwa kesehatan merupakan permasalahan yang selalu menarik perhatian masyarakat. Berita-berita mengenai timbunya penyakit baru yang belum ditemukan penanggulangannya, pengobatan bahkan penyebabnya maupun penyakit kronis yang telah lama merupakan tantangan dibidang kesehatan, seperti penyakit ginjal, jantung stroke, dan kanker sangat mencemaskan semua orang.
  • 2.
    Penyakit ginjal dapatterjadi karena banyak sebab yang berkembang tanpa disadari. Awalnya bisa jadi dari penyebab yang sepele, misalnya seperti kurang mium atau gaya hidup tidak banyak bergerak, pola makan tinggi lemak dan karbohidrat, dan lingkungan yang buruk. Semua itu mengakibatkan terjadinya gangguan metabolisme yang berujung pada penyakit degeneratif. Gangguan ginjal tersebut bisa merupakan serangkaian kejadian yang dapat terjadi tiba-tiba maupun secara bertahap. Kasus yang terdapat diruang lantai VI Perawatan Umum RSPAD Gatot Soebroto cukup banyak terutama pada pasien penyakit dalam yang berjumlah 540 orang , selama tiga bulan terakhir klien yang dirawat dengan gagal ginjal kronik (CKD) ±25 orang. Setiap manusia mempunyai dua buah ginjal, disebelah kanan dan kiri tulang belakang dibungkus oleh lapisan lemak yang tebal di belakang peritoneum. Ginjal merupakan organ penting didalam tubuh manusia yang salah satunya adalah mengeliarkan sisa-sisa metabolisme melalui urin yaitu ureum,kreatinin,asam urat,ammonium,sulfat asam organic, kelebihan cairan dan elektrolit, serta zat-zat racun lainnya. Pada penderita penyakit gagal ginjal kronik dapat mengakibatkan fungsi ginjal berkurang atau bahkan tidak dapat berfungsi sama sekali.
  • 3.
    Dengan demikian adapunmasalah-masalah keperawatan yang dapat terjadi pada klien dengan gagal ginjal kronik, antara lain: Kelebihan volume cairan, perubahan nutrisi, Gangguan perfusi jaringan, Resiko penurunan curah jantung , Resiko kerusakan intregitas kulit dan intoleransi aktivitas Dengan melihat kompleknya masalah-masalah keperawatan yang terjadi pada klien dengan gagal ginjal kronik serta pentingnya peran perawat dalam penanganan masalah klien. Peran perawat sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan yang tepat sesuai dengan standar-standar praktik keperawatan diantaranya sebagai provider yang melaksanakan rencana asuhan keperawatan yang telah dibuat oleh katim. Selain itu dari segi promotif dimana peran perawat sangat penting untuk mempertahankan kesehatan pasien. Kuratif dimana perawat berperan dalam memberikan pengobatan pada pasien dan rehabilitative yaitu pemulihan, melakukan control dan latihan rehabilitasi untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Berdasarkan uraian diatas maka penulis ingin mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada Tn. K dengan Chronic Kidney Diseasedilantai VI Perawatan umum RSPAD Gatot Soebroto dengan menggunakan proses keperawatan
  • 4.
    B. Tujuan penulisan Tujuanpenulisan makalah ini terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus. 1. Tujuan umum Untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam merawat klien dengan penerapan teori tentang asuhan keperawatan pada klien dengan gagal ginjal kronik. 2. Tujuan khusus a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dengan gagal ginjal kronik b. Mahasiswa mampu menganalisa data hasil pengkajian yang ditemukan untuk menentukan diagnose keperawatan pada klien dengan gagal ginjal kronik c. Mahasiswa mampu merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan gagal ginjal kronik d. Mahasiswa mampu melaksanan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana keperawatan pada klien dengan gagal ginjal kronik e. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan pada klien dengan gagal ginjal kronik f. Mahasiswa mampu mengidentifikasi kesenjangan antara teori dengan kasus sesuai dengan asuhan keperawatan pada klien dengan gagal ginjal kronik g. Mahasiswa mampu mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat dan dapat mencari solusinya h. Mahasiswa mampu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam bentuk narasi
  • 5.
    C.Ruang Lingkup Penulisan makalahini merupakan pembahasan asuhan keperawatan pada klien Tn. K dengan Chronik Kidney Disease dilantai VI Perawatan Umum RSPAD Gatot Soebroto yang dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 23 Juni-25 Juni 2015. D. Metode Penulisan 1. Studi kasus Pada studi kasus ini mahasiswa mengambl salah satu kasus pada klien dengan gagal ginjal kronik di lantai VI Perawatan Umum dan langsung bergabung memberikan asuhan keperawatan selama 3 hari dari mulai pengkajian (dengan teknik observasi,wawancara,dan pemeriksaan fisik) ,menganalisa data perencanaan , iplementasi dan evaluasi. 2.Studi Kepustakaan Dengan mempelajari buku-buku pelajaran dan referensi untuk mendapatkan konsep- konsep yang berhubungan dengan gagal ginjal kronik,dan permasalahan pada makalah ilmiah ini. E.Sistematika Penulisan Makalah ini disusun secara sistematika yang terdiri dari lima bab yaitu: Bab satu : Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan Bab dua : Konsep asuhan keperawatan yang terdiri dari pengertian, patofisiologi,(etiologi,proses,komplikasi), pengkajian,
  • 6.
    diagnosa keperawatan, intervensidan evaluasi Bab tiga : Laporan kasus yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan,intervensi dan evaluasi Bab empat :Pembahasan,yang membahas tentang kesenjangan antara konsep asuhan keperawatan dan laporan kasus Bab lima: Kesimpulan saran dan penutup.
  • 7.
    BAB II TINJAUAN TEORI Padabab ini penulis akan membahas tentang konsep asuhan keperawatan yang meliputi pengertian, patofisiologi, pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, dan evaluasi. A.Pengertian Gagal ginjal kronik ( Chronic kidney disease) adalah kerusakan ginjal progresif yang berak ibat fatal dan ditandai dengan uremia(uremia dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialisi atau transplantasi ginjal.) (Nursalam,2006 hal 47) Gagal ginjal kronik merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan elektrolit, yang menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).(Brunner suddarth,2002) Berdasarkan beberapa pengertian menurut para ahli diatas dapat diambil kesimpulan bahwa gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi renal yang irreversible dan berlangsung lambat sehingga ginjal tidak mampu mempertahankan metabolisme tubuh dan keseimbangan cairan dan elektrolit dan menyebabkan uremia.
  • 8.
    1.Stadium gagal ginjalkronik Tahap cronic kidney disease (CKD) menurut kidney.org/professionals(2007)dan kidney.org.uk (2007) adalah : A. Tahap 1 : keruakan ginjal dengan GFR normal atau meningkat GFR>90ml/menit/1,73 m. B. Tahap II : Penurunan GFRringan,GFR 60-89 ml/menit/1,73m. a. Tahap III : Penurunan GFR sedang, yaitu 30-59 ml/menit/1,73 m. b. Tahap IV : Penurunan GFR berat , yaitu 15-29 ml/menit/1,73 m. c. Tahap V : Gagal ginjal dengan GFR <15 ml/menit/1,73 m. Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate)/CCT (Clearance Creatinin Test) dapat digunakan rumus : Clearance creatinin (ml/menit) = (140-umur) x berat badan / (kg) 72x Creatinin serum 1.Anatomi dan fisiologi ginjal a.Anatomi ginjal menurut (potter,patricia A , 2005) Ginjal merupakan sepasang organ berbentuk seperti kacang buncis, berwarna coklat agak kwmwrahan , yang terdapat di kedua sisi kolumna vertebral posterior terhadap peritoneum dan terletak pada otot punggung bagian dalam.Ginjal terbentang dari vertebra torakalis ke dua belas sampai vertebra lumbalis ke tiga. Dalam kondisi normal, ginjal kiri lebih tinggi 1,5 sampai 2 cm dari ginjal kanan karena posisi anatomi hati. Setiap ginjal secara khas berukuan 12 cm x 7cm dan memiliki berat 120 sampai 150 gram. Sebuah kelenjar adrenal terletak di kutub superior setiap
  • 9.
    ginjal, tetapi tidakbehubungan secara langsung dengan poses eliminasi urin. Setiap ginjal dilapisi oleh sebuah kapsul yang kokoh dan di kelilingioleh lapisan lemak. Produk buangan (limbah) dari hasil metabolisme yang terkumpul didalam darah difiltrasi di ginjal. Darah sampai ke setiap ginjal melalui arteri renalis (ginjal) yang merupakan percabangan di aorta abdominalis. Arteri renalis memasuki ginjal melalui hilum. Sekitar 20% sampai 25 % curah jantung bersikulasi setiap hari melalui ginjal. Setiap ginjal berisi 1 juta nefron. Nefron, yang merupakan unit fungsional ginjal, membentuk urin. Nefron tersusun atas glomelurus, kapsul Bowman , tubulus kontortus prosikmal, ansa henle , tubulus distal , dan duktus pengumpul (Gbr.46-2) Darah masuk ke nefron melalui arteriola aferen sekelompok pembuluh darah ini membentuk jaringan kapiler glomerulus, yang merupakan tempat pertama awal pembentukan urin. Kapiler glomerulus memiliki pori-pori sehingga dapat mmfiltrasi air dan substansi, seperti glukosa, asam amino, urea kreatinin, dan elektrolit- elektrolit utama ke dalam kapsul Bowman. Dalam kondisi normal, protein yang berukuran besar dan sel-sel darah tidak di filtrasi melalui glomerulus.. Apabila di dalam urin terdapat protein yang berukuran besar (proteinuria), maka hal ini merupakan tanda adanya cedera pada glomerulus. Glomerulus memfiltrasi sekitar 125 ml filtrate per menit. Pada awalnya jumlah filtrate mendekati jumlah plasma darah dikurangi protein yang berukuran besar.
  • 10.
    Tidak semua filtrateglomerulus diekskresi sebagai urin. Setelah filtrate meninggalkan glomerulus, filtrat masuk ke sistem tubulus dan duktus pengumpul, yang merupakan tempat air dan substansi, seperti glukosa asam amino, asam urat dan ion-ion natrium serta kalium direarbsobsi kembali kedalam plasma secara selektif. Sekitar 99% filtrat direarbsopsi ke dalam plasma, dengan 1% sisanya diekskresikan sebagai urin. Dengan demikian, ginjal memainkan peranan penting dalam keseimbangan cairan dan elektrolit. Walaupun haluaran tergantung pada asupan,haluaran urin normal orang dewasa dalam 24 jam adalah sekitar 1500 sampai 1600 ml. Haluaran urin sebanyak 60 ml per jam pada umumnya adalah normal. Haluaran urin kurang dari 30 ml per jam dapat mengindikasikan adanya beberapa hormone penting untuk memproduksi sel darah merah, pengaturan tekanan darah dan mineralisasi tulang.
  • 11.
    1).Fisiologi ginjal A.Fungsi Ginjal Menurutprice dan Wilson (2005) Ginjal mempunyai berbagai macam fungsi yaitu ekskresi dan fungsi non ekskresi. Fungsi ekskresi diantaranya : - Mempertahankan osmolaritas plasma sekitar 285 mosmol dengan mengubah-ubah ekskresi air - Mempertahankan kadar masing-masing elektrolit plasma dalam rentang normal - Mempertahankan pH plasma sekitar 7,4 dengan mengeluarkan kelebihan H+ dan membentuk kembali HCO3 - Mengekresikan produk akhir nitrogen dari metabolisme protein terutama urea, asam urat dan kreatinin Sedangkan fungsi non- ekskresi ginjal adalah: - Menghasilkan rennin yang penting untuk pengaturan tekanan darah - Menghasilkan eritoprotein sebagai faktor penting dalam stimulus - produksi sel darah merah oleh sumsum tulang. - Metabolisme vitamin D menjadi bentuk aktifnya. - Degradasi insulin - Menghasilkan prostaglandin
  • 12.
    Terdapat 3 prosespenting yang berhubungan dengan proses pembentukan urin, yaitu: a. Filtrasi (Penyaringan) : kapula bowman dari badan Malpighi menyaring darah dalam glomerulus yang mengandung air , garam, gula , urea dan zat bermolekul besar (protein dan sel darah) sehingga dihasilkan filtrat glomerulus ( urin primer). Di dalam filtrate ini terlarut zatyang masih berguna bagi tubuh maupun zat yang tidak bergunabagi tubuh , missal glukosa, asam amino, dan gaam-garam. b. Rearbsopsi ( penyerapan kembali) : Dalam tubulus kontortus proksimal zat dalam urin primer yang masih berguna akan direarbsopsi yang dihasilkan filtrate tubulus (urin sekunder) dengan kadar urea yang tinggi. c. Ekskresi (pengeluaran) : Dalam tubulus kontortus distal, pembuluh darah menambahkan zat lain yang tidak digunakan dan terjadi rearbsonsi aktif ion Na dan cl . Dan sekresi H dan K ditempat sudah terbentuk urin yang sesungguhnya yang tidak terdapat glukosa dan protein lagi, selanjutnya akan disalurkan ke tubulus kolektifus ke pelvis renalis. B.Etiologi Penyakit infeksi tubulointestinal : Pielonefritis kronik atau refluks nfropati Penyakit peradangan : Glomerulonefritis Penyakit vaskuler hipertensif : Nefrosklerosis benigna,nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis Gangguan jaringan ikat : Lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodosa, sklerosis arteria renalis Gangguan congenital dan herediter : Penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal Penyakit metabolic : Diabetes mellitus,gout ,hiperparatiroidisme, amiloidosis.
  • 13.
    Nefropati toksik: Penyalahgunaananalgesi, nefropati timah,Nefropati obstruktif :Traktus urinarius bagian atas (batu/calculi,neoplasma,fibrosis,retroperitoneal) traktus urinarius bawah (hipertropi prostrat,striktur uretra, anomaly congenital leher vesika urinaria dan uretra) C.Patofisiologi 1. Proses perjalanan penyakit Berdasarkan proses perjalanan penyakit dari berbagai penyebab yaitu infeksi, vaskuler, zat toksik, obstruksi saluran kemih yang pada akhirnya akan terjadi kerusakan nefron sehingga menyebabkan penurunan GFR (Glomelular Filtration Rate) dan menyebabkan CKD (cronic kidney disease), yang mana ginjal mengalami gangguan dalam fungsi eksresi dan dan fungsi non-eksresi.Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448 dari proses sindrom uremia terjadi pruritus, perubahan warna kulit. Sindrom uremia juga bisa menyebabkan asidosis metabolik akibat ginjal tidak mampu menyekresi asam (H+) yang berlebihan. Penurunan sekrsi asam akibat tubulus ginjal tidak mampu menyekresi ammonia (NH3-) dan megapsorbsi natrium bikarbonat (HCO3-). Penurunan eksresi fosfat dan asam organik yang terjadi, maka muntah dan muntah tidak dapat dihindarkan. Sekresi kalsium mengalami penurunan sehingga hiperkalemia, penghantaran listrik dalam jantung terganggu akibatnya terjadi
  • 14.
    penurunan COP (cardiacoutput), suplai O2 dalam otak dan jaringan terganggu. Penurunan sekresi eritropoetin sebagai faktor penting dalam stimulasi produksi sel darah merah oleh sumsum tulang menyebabkan produk hemoglobin berkurang dan terjadi anemia sehingga peningkatan oksigen oleh hemoglobin (oksihemoglobin) berkurang maka tubuh akan mengalami keadaan lemas dan tidak bertenaga. Gangguan clerence renal terjadi akibat penurunan jumlah glomerulus yang berfungsi. Penurunan laju filtrasi glomerulus di deteksi dengan memeriksa clerence kretinin dalam darah yang menunjukkan penurunan clerence kreatinin dan peningkatan kadar kreatinin serum Retensi cairan dan natrium dapat megakibatkan edema. Ketidakseimbangan kalsium dan fosfat merupakan gangguan metabolisme Kadar kalsium dan fosfat tubuh memiliki hubungan timbalbalik. Jika salah satunya meningkat maka fungsi yang lain akan menurun. Dengan menurunnya filtrasi melaui glomerulus ginjal maka meningkatkankadar fosfat serum, dan sebaliknya, kadar serum kalsium menurun. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi parathhormon dari kelenjar paratiroid, tetapi gagal ginjal tubuh tidak dapat merspons normal terhadap peningkatan sekresi parathormon sehingga kalsium ditulang menurun, menyebabkan terjadinya perubahan tulang dan penyakit tulang. (Nurlasam, 2007).
  • 15.
    2.Menifestasi klinis Manifestasi klinikmenurut Price dan Wilson (2005), Smeltzer dan Bare (2001), Lemine dan Burke (2000) dapat dilihat dari berbagai fungsi system tubuh yaitu : 1) Manifestasi kardiovaskuler : hipertensi, pitting edema, edema periorbital, friction rub pericardial, pembesaran vena leher, gagal jantung kongestif, perikarditis, disritmia, kardiomiopati, efusi pericardial, temponade pericardial. 2) Gejala dermatologis/system integumen : gatal-gatal hebat (pruritus), warna kulit abu-abu, mengkilat dan hiperpigmentasi, serangan uremik tidak umum karena pengobatan dini dan agresif, kulit kering, bersisik, ecimosis, kuku tipis dan rapuh, rambut tipis dan kasar, memar (purpura). 3) Manifestasi pada pulmoner yaitu krekels, edema pulmoner,sputum kental dan liat,nafas dangkal, pernapasan kusmaul, pneumonitis 4) Gejala gastrointestinal : nafas berbau ammonia, ulserasi danperdarahan pada mulut, anoreksia, mual, muntah dan cegukan, penurunan aliran saliva, haus, rasa kecap logam dalam mulut, kehilangan kemampuan penghidu dan pengecap, parotitis dan stomatitis, peritonitis, konstipasi dan diare, perdarahan darisaluran gastrointestinal. 5) Perubahan musculoskeletal : kram otot, kekuatan otot hilang, fraktur tulang, kulai kaki (foot drop). 6) Manifestasi pada neurologi yaitu kelemahan dan keletihan, konfusi, disorientasi, kejang, kelemahan pada tungkai, rasa panas pada tungkai kaki,
  • 16.
    perubahan tingkah laku,kedutan otot, tidak mampu berkonsentrasi, perubahan tingkat kesadaran, neuropati perifer. 7) Manifestasi pada system repoduktif : amenore, atropi testikuler, impotensi, penurunan libido, kemandulan 8) Manifestasi pada hematologic yaitu anemia, penurunan kualitas trombosit, masa pembekuan memanjang, peningkatan kecenderungan perdarahan. 9) Manifestasi pada system imun yaitu penurunan jumlah leukosit, peningkatan resiko infeksi. 10) Manifestasi pada system urinaria yaitu perubahan frekuensi berkemih, hematuria, proteinuria, nocturia, aliguria. 11) Manifestasi pada sisitem endokrin yaitun hiperparatiroid dan intoleran glukosa. 12) Manifestasi pada proses metabolic yaitu peningkatan urea dan serum kreatinin (azotemia), kehilangan sodium sehingga terjadi : dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipermagnesemia dan hipokalsemia. 13) Funsi psikologis yaitu perubahan kepribadian dan perilaku serta gangguan proses kognitif. 3.Komplikasi Komplikasi penyakit gagal ginjal kronik menurut Smletzer dan Bare (2001) yaitu : a.Hiperkalemia akibat penurunan eksresi, asidosis metabolic, katabolisme dan masukan diet berlebihan.
  • 17.
    b. Perikarditis, efusipericardial dan tamponade jantung akibat retensi produk sampah uremik dan dialysis yang tidak adekuat. c.Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi system rennin- angiostensin-aldosteron d.Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah merah, perdarahan gastrointestinalakibat iritasi oleh toksin dan kehilangan darah selama hemodialisis. e.Penyakit tulang serta kalsifikasi metastatic akibat retensi fosfat, kadar kalsium serum yang rendah, metabolism vitamin D abnormal dan f.peningkatan kadar alumunium. D.Penatalaksanaan Medis - Dialisis (cuci darah) - Obat-obatan: antihipertensi, suplemen besi,agen pengikat fosfat, suplemen kalsium,suplemen furosemid(membantu berkemih) - Diit rendah protein dan tinggi karbohidrat - Transfusi darah - Transplantasi ginjal Pemeriksaan Diagnostik
  • 18.
    1.Pemeriksaan laboratorium untukmenetukan derajat kegawatan CKD , menentukan gangguan system dan membantu menetapkan etiologi 2.Pemeriksaan USG Untuk mencari apakah ada batuan, atau massa tumor,juga untuk mengetahui beberapa pembesaran ginjal 3.Pemeriksaan EKG Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tandatanda perikarditis,aritmia,dan gangguan elektrolit
  • 19.
    E.Pengkajian Keperawatan a) FokusPengkajian Pengkajian focus keperawatan yang perlu diperhatikan pada penderita gagal ginjal kronik menurut Doeges (1999), Le Mone & Burke (2000) dan Smeltzer dan Bare (2001) ada berbagai macam, meliputi : Demografi liingkungan yang tercemar oleh timah, cadmium, merkuri, kromium dan sumber air tinggi kalsium beresiko untuk gagal ginjal kronik, kebanyakan menyerang umur 20-50 tahun, jenis kelamin lebih banyak perempuan, kebanyakan ras kulit hitam. Riwayat penyakit dahulu , Riwayat infeksi saluran kemih, penyakit peradangan, vaskuler hipertensif, gangguan saluran penyambung, gangguan kongenital dan herediter, penyakit metabolik, nefropati toksik dan neropati obstruktif. Riwayat kesehatan keluarga Riwayat penyakit vaskuler hipertensif, penyakit metabolik, riwayat menderita penyakit gagal ginjal kronik. e. Pola kesehatan fungsional 1) Pemeliharaan kesehatan, Pola nutrisi dan metabolik ,Pola eliminasi, Pola aktivitas dan latihan, Pola istirahat dan tidur ,Pola persepsi sensori dan kognitif Persepsi diri dan konsep diri 2) Pola reproduksi dan seksual Pengkajian fisik Keluhan umum : lemas, nyeri pinggang. Tingkat kesadaran komposmentis sampai koma. 3) Pengukuran antropometri : beratbadan menurun, lingkar lengan atas (LILA) menurun.4) Tanda vital : tekanan darah meningkat, suhu meningkat, nadi lemah,
  • 20.
    disritmia, pernapasan kusmaul,tidak teratur.5) Kepala a) Mata: konjungtiva anemis, mata merah, berair, penglihatan kabur, edema periorbital.b) Rambut: rambut mudah rontok, tipis dan kasar. c) Hidung : pernapasan cuping hidung d) Mulut : ulserasi dan perdarahan, nafas berbau ammonia,mual,muntah serta cegukan, peradangan gusi.6) Leher : pembesaran vena leher.7) Dada dab toraks : penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan dangkal dan kusmaul serta krekels, nafas dangkal, pneumonitis, edema pulmoner, friction rub pericardial. 8) Abdomen : nyeri area pinggang, asites.9) Genital : atropi testikuler, amenore.10) Ekstremitas : capitally revil > 3 detik,kuku rapuh dan kusam serta tipis, kelemahan pada tungkai, rasa panas pada telapak kaki, foot drop, kekuatan otot.11) Kulit : ecimosis, kulit kering, bersisik, warnakulit abu-abu, mengkilat atau hiperpigmentasi, gatal (pruritas), kuku tipis dan rapuh, memar (purpura), edema. g. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang pada gagal ginjal kronik menurut Doenges (1999) adalah : 1) Urinea: Volume, biasnya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguria) atau urine tidak ada.b) Warna, secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus, bakteri, lemak, pertikel koloid, fosfat atau urat.c) Berat jenis urine, kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal berat)d) Klirens kreatinin, mungkin menurun
  • 21.
    e) Natrium, lebihbesar dari 40 meq/L karena ginjal tidak mampu mereabsobsi natrium.f) Protein, derajat tinggi proteinuria (3-4 +) secara kuat menunjukkan kerusakan glomerulus.2) Darah: Hitung darah lengkap, Hb menurun pada adaya anemia, Hb:biasanya kurang dari 7-8 gr b) Sel darah merah, menurun pada defesien eritropoetin seperti azotemia. c) GDA, PH menurun, asidosis metabolik (kurang dari 7,2) terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengeksresi hydrogen dan amonia atau hasil akhir katabolisme prtein, bikarbonat menurun, PaCO2 menurun.d) Kalium, peningkatan sehubungan dengan retensi sesuai perpindahan seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan. e) Magnesium fosfat meningkat f) Kalsium menurun g) Protein (khusus albumin), kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine, perpindahan cairan, penurunan pemasukan atau sintesa karena kurang asam amino esensial.h) Osmolaritas serum: lebih beasr dari 285 mOsm/kg, sering sama dengan urin. 3) Pemeriksaan radiologic :Foto ginjal, ureter dan kandung kemih (kidney, ureter dan bladder/KUB): menunjukkan ukuran ginjal, ureter, kandung kemih, dan adanya obstruksi (batu).b) Pielogram ginjal: mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskuler, masa c) Sistouretrogram berkemih menunjukkan ukuran kandung kemih, refluks kedalam ureter dan retensi. d) Ultrasonografi ginjal: menentukan ukuran ginjal dan adanya masa, kista, obstruksi pada saluran perkemuhan bagian atas.e) Biopsy ginjal: mungkin dilakukan
  • 22.
    secara endoskopik, untukmenentukan seljaringan untuk diagnosis hostologis.f) Endoskopi ginjal dan nefroskopi: dilakukan untuk menentukan pelis ginjal (keluar batu, hematuria dan pengangkatan tumor selektif). g) Elektrokardiografi/EKG: mingkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa.h) Foto kaki, tengkorak, kolumna spinal dan tangan, dapat menunjukkan demineralisasi, kalsifikasi.i) Pielogram intravena (IVP), menunjukkan keberadaan dan posisi ginjal, ukuran dan bentuk ginjal. j) CT scan untuk mendeteksi massa retroperitoneal (seperti penyebararn tumor).k) Magnetic Resonan Imaging / MRI untuk mendeteksi struktur ginjal, luasnya lesi invasif ginjal.
  • 23.
    F.Diagnosa keperawatan pada penyakitgagal ginjal kronik menurut Doeges (1999), Carpenito (2000) dan Smeltzer dan Bare (2001) adalah a) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine dan retensi cairan dan natrium. b) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat sekunder terhadap mual, muntah, anoreksia. c) Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai O2 dan nutrisi ke jaringan sekunder terhadap penurunan COP. d) Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan cairan mempengaruhi sirkulasi, kerja miokardial dan tahanan vaskuler sistemik, gangguan frekuensi, irama, konduksi jantung (ketidakseimbangan elektrolit). e) Resiko kerusakan intregitas kulit berhubungan dengan akumulasi toksik dalam kulit dan gangguan turgor kulit (uremia). f) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialisis. g) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan alveolus
  • 24.
    sekunder terhadap adanyaedema pulmoner. h) Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi paru. G.Perencanaan keperawatan Intervensi keperawatan pada penyakit gagal ginjal kronik menurut Doenges (1999), Carpenito (2000) dan Smeltzer dan Bare (2001) adalah: Dx 1 Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine dan retensi cairan dan natrium. Tujuan: Kelebihan cairan/ede ma tidak terjadi Kriteria hasil : Pembatasan diet dan cairan. • Turgor kulit normal tanpa edema. • Tanda-tanda vital normal Intervensi : 1) kaji status cairan • Timbang berat badan harian • Keseimbangan masukan dan haluaran. • Turgor kulit dan adanya edema. • Tekanan darah, denyut dan irama nadi. 2) batasi masukan cairan identifikasi sumber potensial cairan, medikasi dan cairan yang digunakan untuk pengobatan, oral dan intravena 4) Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan.5) Bantu pasien dalam menghadapi ketidaknyamanan akibat pembatasan cairan. Dx 2 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat, mual, muntah, anoreksia.
  • 25.
    Tujuan: Memperta hankanmasukan nutrisi yang adekuat Kriteria hasil : Pengukuran antropometri dalam batas normal. • Perlambatan atau penurunan berat badan yang cepat tidak terjadi. • Pengukuran biokomis dalam batas normal (albumin, kadar elektrolit). • Peneriksaan laboratorium klinis dalam batas normal. • pematuhan makanan dalam pembatasan diet dan medikasi sesuai jadwal untuk mengatasi anoreksia. Intervensi: Kaji status nutrisi • perubahan berat badan • pengukuran antropometrik • nilai laboratorium (elektrolit serum, BUN, kreatinin, protein, transferin dan kadar besi). 2) Kaji pola diet dan nutrisi pasien • riwayat diet • makanan kesukaan • hitung kalori. 3) Kaji faktor-faktor yang dapat merubah masukan nutrisi: • Anoreksia, mual dan muntah • Diet yang tidak menyenangkan bagi pasien • Kurang memahami diet. 4) Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet. 5) Anjurkan camilan tinggi kalori, rendah protein, rendah natrium, diantara waktu makan.6) Jelaskan rasional pembatasan diet dan hubungannya dengan penyakit ginjal dan peningkatan urea dan kadar kreatinin. 7) Sediakan jadwal makanan yang dianjurkan secara tertulis dan anjurkan untuk memperbaiki rasa tanpa menggunakan natrium atau kalium.8) Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan.9) Timbang berat badan harian.10) Kaji bukti adanya masukan protein yang tidak adekuat • pembentukan edema • penyembuhan yang lambat • penurunan kadar albumin
  • 26.
    Dx 3: Gangguanperfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai O2 dan nutrisi ke jaringan sekunder terhadap penurunan COP. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawata n perfusi jaringan adekuat Kriteria hasil : Membran mukosa warna merah muda. • Kesadaran kompos mentis. • Tidak ada keluhan sakit kepala. • Tidak ada tanda sianosis ataupun hipoksia • Capillary refill kurang dari 3 detik. • Nilai laboratorium dalam batas normal (Hb 12- 15 gr%). • Konjungtiva tidak anemis. • Tanda-tanda vital stabil: TD: 120/80 mmHg, nadi: 60-80x/menit. Intervensi : Awasi tanda-tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit dan dasar kuku.2) Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi. 3) Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai dengan indikasi. Kolaborasi untuk pemberian O2 5) Kolaborasikan pemeriksaan laboratorium (hemoglobin). Dx. 4 Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi paru. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawata n klien menunjukk an pola nafas efektif Kriteria hasil : analisa gas darah dalam rentang normal. • tidak ada tanda sianosis maupun dispnea. • bunyi nafas tidak mengalami penurunan • TTV dalam batas normal: RR 16-24 x/menit Intervensi : Kaji fungsi pernapasan klien, catat kecepatan, adanya gerak, dispnea, sianosis, dan perubahan tanda vital. 2) Catat pengembangan dada dan posisi trakea3)
  • 27.
    Kaji klien adanyakeluhan nyeri bila batuk atau nafas dalam. Pertahankan posisi nyaman misalnya posisi semi fowler 5) Kolaborasikan pemeriksaan laboratorium (elektrolit)6) Kolaborasikan pemeriksaan analisa gas darah dan foto thoraks7) Kolaborasikan pemeriksaan oksigen Dx 5 Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimba ngan cairan mempengaruhi sirkulasi, kerja miokardial dan tahanan vaskuler sistemik, gangguan frekuensi, irama, konduksi jantung (ketidakseimba ngan elektrolit). Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawata n curah jantung dapat dipertahan kan Kriteria hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal: tekanan darah: 120/80 mmHg, nadi 60-80 x/menit, kuat, teratur. • Akral hangat • Capillary refill kurang dari 3 detik • Nilai laboratorium dalam batas normal (kalium 3,5- 5,1 mmol/L, urea 15-39 mg/dl) Intervensi : Auskultasi bunyi jantung dan paru, evaluasi adanya edema perifer atau kongesti vaskuler dan keluhan dispnea, awasi tekanan darah, perhatikan postural misalnya: duduk, berbaring dan berdiri. 2) Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan lokasi dan beratnya.3) Evaluasi bunyi jantung akan terjadi friction rub, tekanan darah, nadi perifer, pengisisan kapiler, kongesti vaskuler, suhu tubuh dan mental, 4) Kaji tingkat aktivitas dan respon terhadap aktivitas.5) Kolaborasikan pemeriksaan laboratorium yaitu kalium.6) Berikan obat anti hipertensi sesuai dengan indikasi.
  • 28.
    Dx 6 Resikokerusakan intregitas kulit berhubungan dengan akumulasi toksik dalam kulit dan gangguan turgor kulit (uremia) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawata n tidak terjadi integritas kulit Kriteria hasil : Klien menunjukkan perilaku atau tehnik untuk mencegah kerusakan atau cidera kulit. • Tidak terjadi kerusakan integritas kulit. • Tidak terjadi edema. Intervensi : Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor dan perhatikan adanya kemerahan, ekimosis, purpura. 2) Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa.3) Inspeksi area tubuh terhadap edema. 4) Ubah posisi dengan sering menggerakkan klien dengan perlahan, beri bantalan pada tonjolan tulang.5) Pertahankan linen kering, dan selidiki keluhan gatal. 6) Pertahankan kuku pendek Dx 7 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialisis. Tujuan : Berpartisip asi dalam aktivitas yang dapat ditoleransi Kriteria hasil : Berpartisip dalam meningkatkan tingkat aktivitas dan latihan • Melaporkan peningkatan rasa sejahtera • Melakukan istirahat dan aktivitas secara bergantian • Berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri yang dipilih Intervensi : Kaji faktor yang menyebabkan keletihan • anemia • ketidakseimbangan cairan dan elektrolit • retensi produk sampah • depresi 2) Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditoleransi, bantu jika keletihan terjadi. 3)
  • 29.
    Anjurkan aktivitas alternatifsambil istirahat.4) anjurkan untuk beristirahat setelah dislisis. Dx 8 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru sekunder terhadap adanya edema pulmoner. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawata n klien menunjukk an pertukaran gas efektif. Kriteria hasil : analisa gas darah dalam rentang normal • tidak ada tanda sianosis maupun hipoksia • taktil fremitus positif kanan dan kiri • bunyi nafas tidak mengalami penurunan • auskultasi paru sonor. • TTV dalam batas normal: Intervensi : Kaji fungsi pernapasan klien, catat kecepatan, adanya gerak, dispnea, sianosis, dan perubahan tanda vital. 2) Auskultasi bunyi nafas 3) Catat pengembangan dada dan posisi trakea4) Kaji taktil fremitus5) Kaji klien adanya keluhan nyeri bila batuk atau nafas dalam.6) Pertahankan posisi nyaman H. Implementasi Menurut patricia A. Potter (2005) adalah sebagai berikut: Tindakan keperawatan adalah : Melaksanakan tindakan keperawatan yang telah ditentukan dengan maksud agar kebutuhan klien terpenuhi secara optimal. Tindakan keperawatantersebut dilaksanakan sebagian olrh klieb itu senduri,oleh perawat secara
  • 30.
    mandiri atau mungkindilakukan secara kerja sama dengan anggota ti kesehatan lainnya.Proses pelaksaan dari proses keperawatanmempunyai lima tahap yaitu: 1. Mengkaji ulang klien 2. Mencegah dan memodifikasi rencana asuhan keperawatan meskipun rencana asuhan keperawatan telah dikembangkan sesuai dengan diagnose keperawatan yang telah teridentifikasi selama pengkajian.Perubahan dalam status klien mungkin mengharuskan modifikasi rencana asuhan keperawatan yang telah direncanakan 3. Mengidentifikasi bidang bantuan Beberapa situasi keperawatan mengharuskan perawat untuk mencari bantuan- bantuan dapat berupa tambahan tenaga. 4. Mengimplementasikan intervensi keperawatan Perawat memilih intervensi keperawatan berikut metode untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan yaitu: membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari- sehari. Mengkonsulkan dan memberikan penyuluhan kepada klien dan keluarga, memberi asuhan keperawatan langsung,mengawasi dan mengevaluasi kerja staf anggota lainnya. 5. Mengkomunikasikan intervensi keperawatan Intervensi keperawatan dituliskan akan dikomunikasikan secara verbal rencana keperawatan biasanya mencerminkan tujuan intervensi keperawatan. Setelah intervensi keperawatan, respon klien terhadap pengobatan dicatatkan pada lembar catatan yang sesuai dengan menuliskan waktu dan rincian tentang intervensi mendokumentasikan bahwa prosedur telah dilaksanak dan diselesaikan.Pada waktu tenaga keperawatan memberikan asuhan keperawatan prose pengumpulan data dan
  • 31.
    analisa data berjalanterus menerus guna perubahan atau penyesuaian tindakan keperawatan. Beberapa faktor dapat mempengaruhi pelaksanaan keperawatan antata lain : fasilitas atau alat yang ada, pengorganisasian pekerjaan perawat serta lingkungan fisik dimana asuhan keperawatan dilakukan. I. Evaluasi Evaluasi menurut Patricia A.Potter, (2005) adalah sebagai berikut: Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian ulang rencana keperawatan langkah-langkah evaluasi terdiri dari pengumpulan dataperkembangan pasin, menafsirkan (meginterprestasikan) perkembangan pasien membandingkan data keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan keperawatan dengan menggunakan criteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, mengukur dan membandingkan perkembangan pasien dengan standar normal yang berlaku. Ada tiga alternative dalam menafsirkan hasil evaluasi yaitu: a.Tujuan tercapai Tujuan tercapai apabila pasien menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. b. Tujuan tercapai sebagian Tujuan tercapai sebagian jika pasien menunjukkan perubahan dan perkembangan kesehatan hanya sebagai dari kriteria pencapain tujuan yang telah ditetapkan.
  • 32.
    c.Tujuan sama sekalitidak tercapai Tujuan sama sekali tidak tercapai, jika pasien tidak menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan atau bahkan timbul masalah baru.