SlideShare a Scribd company logo
1 of 10
Download to read offline
1/10/2021 Aulia
https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 1/10
CERPEN
Aulia
Ahad 22 Juli 2012 10:06 WIB

1/10/2021 Aulia
https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 2/10
Oleh Moh Haris Suhud
“Berangkatlah ke pesantren, Nak. Sudah ada ibu kok yang mengurus Bapak. Kamu,
belajarlah yang rajin!”
Sore itu juga, Aulia langsung kembali ke pesantren tempat ia menimba ilmu.
<>
Langkahnya terasa berat untuk meninggalkan bapaknya yang sedang terkulai lemas karena
1/10/2021 Aulia
https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 3/10
sakit. Padahal bapaknya adalah penopang kebutuhan keluarga sepenuhnya. Ibunya sudah
tak lagi kerja.
***
Di kampung Ilodan, hampir semua wanita bekerja sebagai "penjual" tubuh. Siang hari,
kampung itu tampak sepi. Tapi ketika malam mulai merayap, lelaki hidung belang pencari
kenikmatan sesaat, mulai berkeliaran meramaikan jalanan di setiap sudut kampung;
mencari pasangan yang hendak dikencaninya.
Setiap tahun, menjelang bulan Ramadhan, kampung itu selalu didatangi sekelompok orang
yang ingin membubarkan semua praktik maksiat di tempat itu.
Bagi Pak Sakir, kedatangan mereka selalu mengingatkan ketika ia belum lama tinggal di
kampung itu. Pada suatu  malam, sehari sebelum masuk bulan Ramadhan,  sekelompok
orang datang. Tanpa tedeng aling-aling, mereka merusak rumah yang ada di sana. Tak
tersisa dan tanpa kecuali. Mereka marah membabi-buta.
Pekik dan jerit terdengar di mana-mana. Terutama wanita-wanita dan anak kecil. Pak
Sakir dan istrinya yang sedang berbincang di ruang  tamu juga tak luput amuk mereka.
“Bubarkan tempat-tempat maksiat ini!” pekik pemimpin mereka yang berseragam serba
hitam.
“Hancurkan!” sambut yang lain sambil memecahkan kaca rumah-rumah.
Mendengar keributan, Pak Sakir langsung keluar.
“Hentikan!” cegahnya, “tenang! Tenang! Kita…,” belum sempat ia menyelesaikan bicaranya,
satu pukulan telak mendarat di belakang lehernya. Seketika pandangannya kabur. Ia
tersungkur.
Seseorang datang. Langsung menghadiahi pukulan di perutnya.
“Beggg....” Pak Sakir kemudian hanya melihat gelap, tak tahu lagi apa yang terjadi
selanjutnya.
Setelah ia sadar, pukulan kembali menghunjam. Tapi kali ini, bukan di tubuhnya, tapi
hatinya. Istrinya yang hamil muda harus dibawa ke rumah sakit. Ia terjatuh ketika akan
menolongnya di antara keroyakan orang-orang berseragam hitam tersebut. Tragis, nyawa
istrinya tak dapat diselamatkan, tapi untung, bayi yang sedang ia kandung masih bisa

1/10/2021 Aulia
https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 4/10
ditolong.
Sendirian Pak Sakir merawat bayinya. Baru setelah bayi itu berusia satu tahun, ia menikah
lagi dengan Fatimah, seorang pelacur.
***
Pak Sakir adalah orang yang sederhana. Ia bekerja sebagai guru negeri yang ditugaskan
mengajar di SD kampung Ilodan. Gajinya hanya cukup menutupi kebutuhan keluarga
sebulan.
Ia pindah ke kampung itu sejak 30 tahun lalu bersama istri pertamanya.
Karena terkenal sebagai sarang maksiat, berkali-kali Ilodan akan dibubarkan pemerintah
kota setempat, maupun Ormas. Tapi masalahnya tak pernah tuntas. Sekarang dihancurkan
besok tumbuh lagi. Begitu seterusnya. Sebab, usaha pembubaran tersebut tak pernah
menyentuh akar permasalahan sesungguhnya. Karena sebenaranya, praktik kemaksiatan di
kampung itu adalah demi menyambung nyawa. Hampir 99 persen pemuas birahi itu
terbentur keadaan.
Hal itu diketahui Pak Sakir 28 tahun lalu, ketika ia ngobrol bersama Fatimah, sebelum
menjadi istrinya.
“Kenapa kamu mencari na ah dengan menjual tubuh, bukankah ada pekerjaan lain yang
lebih halal?”
“Mau kerja apa, Mas. Wong ijazah SD saja aku tak punya. Sementara melamar kerja,
semuanya butuh ijazah. Memang ada banyak tawaran kerja ke luar negeri. Tapi setelah aku
tahu, aku jadi miris sendiri. Banyak berita-berita yang mengabarkan sering terjadi
penyiksaan tenaga-tenaga kerja di negeri orang. Dari pada mati, kan  lebih baik memilih
yang lebih aman saja."
 “Ah, hidup ini memang keras, Mas,” lanjutnya. “Sebenarnya bukan keinginan kita bekerja
seperti ini. Semua perempuan di kampung ini mungkin juga punya pikiran sama. Kita
semua pasti mengharapkan punya kerjaan yang halal dan hidup bahagia bersama keluarga.”
“Sejak kapan bekerja seperti ini?” tanya Pak Sakir lagi.
“Yaaa…sudah lama lah pokoknya.”
“Kalau pengen hidup bersama keluarga, kenapa gak cari suami?”

1/10/2021 Aulia
https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 5/10
“Emang ada orang yang mau menikahi seorang wanita pelacur? Aku kira nggak ada yang
mau, Mas,” katanya sambil menebaskan tangan kanannya melambai.
Setelah pertemuan itu, Pak Sakir menawari Fatimah menjadi istrinya. Meskipun dalam
kitab suci yang ia yakini melarang menikahi perempuan ahli zina, tapi ia punyai tafsir
sendiri, bahwa menikahi perempuan pelacur adalah jihad kecilnya untuk menghentikan
prakik pelacuran.
Menurutnya, berani menikahi pelacur adalah pemecahan masalah yang lebih realistis dan
menyentuh akar permasalahan dibandingkan dengan hanya berkoar-koar dan merusaki
tempat-tempat maksiat itu. Mereka yang berani mengambil jatah menikahi empat wanita
pelacur misalanya, adalah meraka orang-orang yang shaleh, orang-orang yang bisa berpikir
panjang. Toh, seorang lelaki boleh menikahi wanita hingga empat, asal bisa adil di antara
istrinya itu. Kalau hanya sekadar menyeru penumpasan kemaksiatan tanpa berpikir ke
depan, burung beo pun bisa. Kalau sekadar menghancurkan, orang edan pun bisa.
***
Sudah seminggu, Pak Sakir hanya bisa berbaring di ranjang ditemani Fatimah. Dokter
mengatakan bahwa penyakitnya hanya bisa sembuh jika dioperasi. Sedangkan uang yang
ada semakin menipis, biaya operasi sangat mahal.
“Aku carikan hutangan lagi di tetangga lagi ya, Pak,” usul istrinya yang tak tega melihat
keadaan suaminya yang semakin hari semakin melemah.
“Ndak usah, Bu. Aku baik-baik aja, kok. Lagian uang yang ibu pinjam di Bu RT buat tebus
obat kemarin belum sempat dibayar, kan?” cegah Pak Sakir dengan suara lirih.
Diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya, Fatimah menawarkan dirinya kepada lelaki
yang dulu pernah menjadi pelanggannya. Tapi sayang, pamornya sudah kalah dengan
pendatang-pendatang baru yang lebih muda.
Ia memutar otak lagi untuk mendapatkan uang untuk biaya operasi suaminya. Dalam
pikiran yang kalut, ia sempat punya pikiran menjemput Aulia di pesantren dan
membujuknya agar ia mau menjual keperawanannya. Tapi sebaiknya ia pulang dulu,
mengatakan niatnya kepada suaminya. Barangkali ia setuju.
***
Di pondok pesantren Al-Islam, Aulia sedang sholat hajat untuk kesembuhan bapaknya.

1/10/2021 Aulia
https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 6/10
Ditemani oleh sahabatnya, Eva. Mereka mendoakan agar bapak Aulia segera sembuh dari
sakit.
Usai berdoa, keduanya beranjak tidur. Tapi di pikiran Aulia muncul wajah bapaknya. Entah
kenapa, pikiran-pikiran negatif hadir mendebarkan jantungnya. Tak sadar iya sesenggukan.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Eva, terbangun.
“Aku takut, Mbak. Bagaimana jika bapakku…”
“Sssttt…” potong Eva. “Semuanya akan baik-baik saja. Yakinlah, Allah akan mendengar doa
hambanya. Kamu ingat kan rman Tuhan: ud’uni astajib lakum. Berdoalah kepadaku, maka
aku (Allah) akan mengabulkan doa kalian. Allah pasti mendengar doa anak yang sholihah
sepertimu, Aulia. Dan doa anak yang sholehah kepada orang tua itu termasuk doa yang
mustajabah, doa yang mudah untuk dikabulkan Allah. Sekarang tidurlah, jangan sampai
tangismu membangunkan yang lain.”
“Terima kasih, Mbak.”
Eva adalah sahabat Aulia di pesantren, sahabat yang setia menemaninya dalam suka atau
duka. Ia selalu ada untuk Aulia, begitupun sebaliknya. Meskipun usianya lebih tua dari
pada Aulia, ia tak pernah merasa bahwa dirinya lebih dewasa atau lebih pintar. Ia sering
menanyakan tentang pelajaran yang tak ia pahami pada Aulia. Dalam bidang akademi,
Aulia memang santri paling cerdas di antara santri yang lainnya.
Baru saja mereka berdua akan memejamkan mata lagi, ada orang yang mengetuk pintu
kamar. Setelah uluk salam, orang itu membuka pintu.
“Ukhti Aulia….. Tantadhiru ummuki d diwan,” orang itu berbicara dengan bahasa Arab.
Aulia mendengar namanya dipanggil, ia langsung bangun kemudian cepat-cepat menutup
kepalanya dengan sehelai kain.
“Na’am, Ustadzah,” jawab Aulia. Ia langsung bergegas, berlari menuju kantor pesantren.
Sampai di kantor, ia langsung mengecup tangan ibunya.
“Ada apa, Ibu, kok datang ke pesantren malam-malam begini?”
“Bapak menyuruhmu pulang, Nak.”
“Bagaimana keadaan Bapak, Bu?” Aulia mulai khawatir ada apa-apa dengan bapaknya.

1/10/2021 Aulia
https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 7/10
“Kita bicarakan di rumah saja.”
***
Aulia langsung memeluk bapaknya yang sedang berbaring di atas ranjang. Airmatanya
mengalir menangisi bapaknya,  keadaannya lebih parah dari pada saat ia tinggalkan
berangkat ke pesantren beberapa waktu silam.
“Sakit bapakmu sudah semakin parah, Nak,” kata ibunya sambil memegang pundak Aulia.
“Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit saja, Bu.”
“Dokter menyuruh agar bapakmu segera dioperasi. Biaya operasi itu sangat mahal bagi
kita. Ibu bingung dari mana harus mendapatkan biaya itu,” dengan mata berkaca-kaca, ia
melanjutkan, “Berhari-hari ibu telah mencoba cari uang dengan menceburkan diri lagi ke
lembah pelacuran, tapi sudah tak laku. Yang mereka cari sekarang adalah gadis-gadis muda
SMA. Mendapatkan gadis semuda itu, sekarang juga tidak sulit. Ibu yang sudah tua ini,
tentu kalah jauh dengan mereka.”
Aulia bangun dari duduknya dan mengajak keluar ibunya dari dalam kamar.
“Apakah aku laku dijual, Bu?” kata Aulia.
Mendengar ungkapan Aulia, tentu ibunya sangat terkejut.
“Kamu adalah anak perempuan satu-satunya. Kamu dididik di pesantren agar menjadi
anak yang sholehah. Bapakmu selalu mengharapkanmu menjadi perempuan yang beradab,
menjadi pemimpin, menjadi contoh, untuk semua perempuan dengan budimu yang luhur.
Bukan menjadi pelacur seperti kebanyakan wanita di kampung ini.”
“Untuk bapak, aku rela melakukan semuanya, Bu.”
***
Keringat dingin keluar dari seluruh tubuh Aulia. Malam ini adalah pertama kalinya ia
berduaan di dalam kamar dengan seorang lelaki. Pria inilah yang menghargai keperawanan
Aulia dengan tawaran paling tinggi di antara penawar lainnya. Ia akan membayar dengan
menanggung semua biaya operasi bapaknya ke luar negeri.
Di dalam kamar bercahaya redup, di atas seprai warna putih, Aulia berbaring. Dalam
ketakutannya, ia mencoba memberanikan diri melirik lelaki yang akan dihiburnya malam

1/10/2021 Aulia
https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 8/10
ini. Samar-samar, Aulia melihat lelaki itu sedang melepas dasi dan kemejanya, kemudian ia
mencentelkannya di balik pintu. Setelah itu, ia menelan sesuatu ke dalam mulutnya lalu
berjalan mendekat dan berbaring di samping Aulia.
Jantung Aulia berdebar hebat, ia memejamkan mata, ia tak sanggup membayangkan apa
yang akan terjadi selanjutnya. Lelaki itu memiringkan tubuh seraya memandang ke
arahnya. Aulia tak berani membuka matanya. Dari dalam tubuhnya semakin deras
mengalirkan keringat dingin, mencoba melawan rasa takut. Tapi semuanya, apapun yang
akan terjadi, harus ia lakukan.
Tiba-tiba lelaki itu memegang tangan Aulia yang terbujur kaku di atas dadanya. Lelaki itu
menggenggam tangan kanan Aulia, menggiring ke bagian tubuhnya.Ia hanya pasrah dengan
apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Dari kerut kulit yang menyentuh tanganya, lelaki yang
ada di sampingnya ini dapat dipastikan sudah tidak muda. Mungkin sudah seumuran
bapaknya.
Belum sampai menyentuh apapun, suara keras menggedor-gedor di balik pintu.
“ Dooor….dorrr…..”
“Buka pintu, buka pintu…. dasar pezina laknatullah.”
Setelah pintu terbuka, segerombolan orang berseragam serba hitam langsung memukul
lelaki yang masih berbaring di atas ranjang bersama Aulia.
“Begg….Beggg…Begg..” lelaki itu seketika tak bergerak lagi.
Melihat kejadian itu, Aulia menjerit histeris. Dua orang bertubuh kekar menghampirinya
dan membungkam mulut dan hidungnya dengan kain beraroma sangat menyengat,
membuat kepalanya pusing dan pandangannya kabur, kemudian semuanya menjadi hening.
Ketika ia sadar, ia mendapati dirinya sedang berada di atas mobil yang melaju kencang.
Entah kemana ia akan dibawa, ia tak tahu. Ia kaget ketika melihat dirinya tak tertutup oleh
sehelai benang pun. Ia menjerit sekeras-kerasnya.
“Bapaaaaaaaaaakkkk…..”
“Aulia….Aulia….” suara Eva membangunkan.
Dengan nafas yang masih memburu, Aulia bangun dari mimpi buruknya.

1/10/2021 Aulia
https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 9/10
“Istighfar, Aulia!!!” Eva mencoba menenangkannya. “Mimpi apa kamu?” tanyanya sambil
menyuguhkan segelas air putih.
Setelah Aulia menceritakan semua mimpinya pada Eva, ia mengatakan pada sahabatnya,
“Kata orang tua, mimpi mendekati subuh akan menjadi kenyataan. Aku takut, Mbak.”
“Jangan percaya dengan mimpi, Aulia. Mimpi hanyalah bunga tidur yang diciptakan
menurut imajinasi kita sendiri. Mimpi juga berarti ulah setan untuk mengelabuhi manusia.
Kecuali mimpi bertemu Rasulallah, karena setan nggak bisa menyerupakan dirinya dengan
wajah Rasul kita. Dari pada bahas mimpi, yuk, kita ke masjid. Sudah adzan subuh tuh,”
ajaknya.
Adzan subuh telah selesai berkumandang, Aulia dan Eva berangkat shalat subuh berjamaah
di masjid. Setelah menunaikan shalat subuh mereka kembali ke kamar untuk membaca
surat Al Mulk dan Waqi’ah bersama-sama santriwati sekamar.
“Ukthi Aulia… tantadhiru ummuki d diwan,” tiba-tiba ustadzah mecungul dari balik
pintu.
Kata-kata itu membuat Aulia kaget. Kata-kata yang sama seperti dalam mimpinya. Ia takut
mimpinya akan menjadi kenyataan. Aulia menatap Eva. Eva menatap Aulia. Penuh tanya di
wajah mereka berdua.
Aulia bergegas, berlari menuju kantor pesantren. Eva membuntuti di belakangnya.
Sampai di kantor, ia melihat ibu dan bapaknya sedang berbincang-bincang dengan dewan
guru di ruang kantor pesantren. Ia langsung menyalami ibunya dahulu kemudian memeluk
bapaknya.
“Ini bapakmu sedang kangen sama kamu, Nak. Hari belum terang sudah ngajak berangkat
jenguk kamu.” kata ibu Aulia diiringi senyum menyungging di bibirnya.
“Bapak sudah sembuh, kan?” tanya Aulia.
“Alaaaah… Nduk, orang miskin seperti kita ini, sakit yang paling parah paling-paling cuma
demam. Tuhan itu maha Adil, Nduk. Dia mengerti kekuatan hambanya. Lihatlah orang
yang sakitnya aneh-aneh, kebayakan adalah orang kaya. Karena uang mereka banyak,
mereka mampu buat bayar dokter. Kalaupun kita yang terkena sakit aneh-aneh itu, berarti
memang sudah waktunya mati,” jawab bapaknya dengan gaya bicara  ceplas-ceplos.

1/10/2021 Aulia
https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 10/10
“Hua…hua…hua…,” kantor itu dipenuhi tawa mendengar ucapan Pak Sakir. Begitupun Eva
yang mendengar dari luar kantor. Ia tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya karena
melihat kebahagian Aulia dikunjungi orang tuannya.
“Haduh, Pak Ustadz, dokter sekarang ini kelakuannya semakin bejat. Satu minggu lalu,
keluarga kami hampir kena tipu. Dia bilang penyakit saya harus dioperasi. ‘Kalau nggak,
tak akan sembuh, katanya’. Karena kami nggak ada uang, akhirnya saya larang istriku
untuk memenuhi saran dokter itu. Istri saya ini sampai mau cari hutangan untuk biaya
operasi, tapi saya larang. Lha wong, aku merasa baik-baik saja kok mau dioperasi. Ya,
mungkin karena waktu itu sedang demam, jadi tubuhku terasa lemas. Gitu aja kata dokter
itu saya terkena penyakit entah apa namanya, istilahnya sangat aneh. Farises atau apa
gitulah, saya lupa.”
“Aku kemarin juga sempat mau cari uang dengan melacur lagi lho, Pak. “ ibu Aulia
menimpali. Kontan, seluruh ruang langsung hening. “Untung nggak ada yang mau dengan
tawaranku itu. Ketika aku balik rumah, e…. ternyata… bapak udah duduk santai di depan
rumah. Maaf ya, Pak, baru ibu katakan sekarang.”
“Astag rullahalngandim, Buuu….,” pekik Pak Sakir sambil menebah dadanya.
Malang, 19 Juli 2012
MOH HARIS SUHUD, adalah mahasiswa akhir di Fakultas Ilmu Budaya di Universitas
Brawijaya, Malang. Semua tulisannya dapat di baca di http://morpiss.blogspot.com
TAGS: Aulia


More Related Content

What's hot (19)

Pendidikan sivik dan kewarganegaraan
Pendidikan sivik dan kewarganegaraanPendidikan sivik dan kewarganegaraan
Pendidikan sivik dan kewarganegaraan
 
Kumpulan Cerpen Fajar Sany: Desember 2014 - Mei 2015
Kumpulan Cerpen Fajar Sany: Desember 2014 - Mei 2015Kumpulan Cerpen Fajar Sany: Desember 2014 - Mei 2015
Kumpulan Cerpen Fajar Sany: Desember 2014 - Mei 2015
 
Cerita rakyat daerah muna
Cerita rakyat daerah munaCerita rakyat daerah muna
Cerita rakyat daerah muna
 
Kisah pendekar bongkok kho ping hoo
Kisah pendekar bongkok kho ping hooKisah pendekar bongkok kho ping hoo
Kisah pendekar bongkok kho ping hoo
 
Layu sebelum berkembang
Layu sebelum berkembangLayu sebelum berkembang
Layu sebelum berkembang
 
Perempuan kedua (labibah zain)
Perempuan kedua (labibah zain)Perempuan kedua (labibah zain)
Perempuan kedua (labibah zain)
 
Cerpen cinta another love story
Cerpen cinta another love storyCerpen cinta another love story
Cerpen cinta another love story
 
Semangat yang tak terkalahkan versi cerpen
Semangat yang tak terkalahkan versi cerpenSemangat yang tak terkalahkan versi cerpen
Semangat yang tak terkalahkan versi cerpen
 
Tika hujan turun
Tika hujan turunTika hujan turun
Tika hujan turun
 
Cerpen kasih salina
Cerpen  kasih salinaCerpen  kasih salina
Cerpen kasih salina
 
Biografi Soekarno
Biografi SoekarnoBiografi Soekarno
Biografi Soekarno
 
Karangan cerpen sendiri
Karangan cerpen sendiriKarangan cerpen sendiri
Karangan cerpen sendiri
 
Bu Kek Siansu Jilid 13
Bu Kek Siansu Jilid 13Bu Kek Siansu Jilid 13
Bu Kek Siansu Jilid 13
 
cerpen karangan sendiri
cerpen karangan sendiricerpen karangan sendiri
cerpen karangan sendiri
 
Akibat tidak sholat
Akibat tidak sholatAkibat tidak sholat
Akibat tidak sholat
 
Deja Vu
Deja VuDeja Vu
Deja Vu
 
Sayap malaikat (hamzah puadi ilyas)
Sayap malaikat (hamzah puadi ilyas)Sayap malaikat (hamzah puadi ilyas)
Sayap malaikat (hamzah puadi ilyas)
 
06. pendekar bongkok
06. pendekar bongkok06. pendekar bongkok
06. pendekar bongkok
 
Banyuwangi jenggirat tangi
Banyuwangi jenggirat tangiBanyuwangi jenggirat tangi
Banyuwangi jenggirat tangi
 

Similar to Aulia

Sh mintardja-tembang tantanganz
Sh mintardja-tembang tantanganzSh mintardja-tembang tantanganz
Sh mintardja-tembang tantanganzBudhi Emha
 
Hikayat Cabe Rawit
Hikayat Cabe RawitHikayat Cabe Rawit
Hikayat Cabe RawitSatria
 
18sx adik pun-tahu
18sx adik pun-tahu18sx adik pun-tahu
18sx adik pun-tahucicakrosfbj6
 
Bawang putih bawang merah
Bawang putih bawang merahBawang putih bawang merah
Bawang putih bawang merahLauriegina Giri
 
latihan PKP 20 oktober.pdf
latihan PKP 20 oktober.pdflatihan PKP 20 oktober.pdf
latihan PKP 20 oktober.pdfg34410386
 
Ebook learning for life (Cerita inspiratif pembangun motivasi hidup)
Ebook learning for life (Cerita inspiratif pembangun motivasi hidup)Ebook learning for life (Cerita inspiratif pembangun motivasi hidup)
Ebook learning for life (Cerita inspiratif pembangun motivasi hidup)Izhan Nassuha
 
cerpen rekomendasi analisis penuh unsur yang bisa di eksplorasi
cerpen rekomendasi analisis penuh unsur yang bisa di eksplorasicerpen rekomendasi analisis penuh unsur yang bisa di eksplorasi
cerpen rekomendasi analisis penuh unsur yang bisa di eksplorasiHendryPutrihijau
 
Bangau menenun songket
Bangau menenun songketBangau menenun songket
Bangau menenun songketRohana Mazelan
 
Dongeng kancil lan pitik sing rebutan endog
Dongeng kancil lan pitik sing rebutan endogDongeng kancil lan pitik sing rebutan endog
Dongeng kancil lan pitik sing rebutan endogMaulana Latif
 
Katak hendak jadi lembu
Katak hendak jadi lembu Katak hendak jadi lembu
Katak hendak jadi lembu Rico L P U
 
Cerpen panggil namaku aisyah p. nuraeni (ponnoer)
Cerpen panggil namaku aisyah p. nuraeni (ponnoer)Cerpen panggil namaku aisyah p. nuraeni (ponnoer)
Cerpen panggil namaku aisyah p. nuraeni (ponnoer)Iwan Sumantri
 
Ketika Kita Berbeda.docx
Ketika Kita Berbeda.docxKetika Kita Berbeda.docx
Ketika Kita Berbeda.docxSarif Hidayat
 
Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)
Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)
Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)Arvinoor Siregar SH MH
 
Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)
Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)
Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)Arvinoor Siregar SH MH
 
Dua tanjung (farizal sikumbang)
Dua tanjung (farizal sikumbang)Dua tanjung (farizal sikumbang)
Dua tanjung (farizal sikumbang)Andri Goodwood
 
Folio songket berbenang emas
Folio songket berbenang emasFolio songket berbenang emas
Folio songket berbenang emasHaziq Hafizi
 
Cinta datang tepat waktu
Cinta datang tepat waktuCinta datang tepat waktu
Cinta datang tepat waktuHeni Handayani
 

Similar to Aulia (20)

Sh mintardja-tembang tantanganz
Sh mintardja-tembang tantanganzSh mintardja-tembang tantanganz
Sh mintardja-tembang tantanganz
 
Hikayat Cabe Rawit
Hikayat Cabe RawitHikayat Cabe Rawit
Hikayat Cabe Rawit
 
18sx adik pun-tahu
18sx adik pun-tahu18sx adik pun-tahu
18sx adik pun-tahu
 
Bicara Buku Teks Besar.pptx
Bicara Buku Teks Besar.pptxBicara Buku Teks Besar.pptx
Bicara Buku Teks Besar.pptx
 
Bawang putih bawang merah
Bawang putih bawang merahBawang putih bawang merah
Bawang putih bawang merah
 
latihan PKP 20 oktober.pdf
latihan PKP 20 oktober.pdflatihan PKP 20 oktober.pdf
latihan PKP 20 oktober.pdf
 
Sebotol mineral (isbedy stiawan zs)
Sebotol mineral (isbedy stiawan zs)Sebotol mineral (isbedy stiawan zs)
Sebotol mineral (isbedy stiawan zs)
 
Ebook learning for life (Cerita inspiratif pembangun motivasi hidup)
Ebook learning for life (Cerita inspiratif pembangun motivasi hidup)Ebook learning for life (Cerita inspiratif pembangun motivasi hidup)
Ebook learning for life (Cerita inspiratif pembangun motivasi hidup)
 
cerpen rekomendasi analisis penuh unsur yang bisa di eksplorasi
cerpen rekomendasi analisis penuh unsur yang bisa di eksplorasicerpen rekomendasi analisis penuh unsur yang bisa di eksplorasi
cerpen rekomendasi analisis penuh unsur yang bisa di eksplorasi
 
Bangau menenun songket
Bangau menenun songketBangau menenun songket
Bangau menenun songket
 
Dongeng kancil lan pitik sing rebutan endog
Dongeng kancil lan pitik sing rebutan endogDongeng kancil lan pitik sing rebutan endog
Dongeng kancil lan pitik sing rebutan endog
 
Katak hendak jadi lembu
Katak hendak jadi lembu Katak hendak jadi lembu
Katak hendak jadi lembu
 
Katak hendak jadi lembu
Katak hendak jadi lembu Katak hendak jadi lembu
Katak hendak jadi lembu
 
Cerpen panggil namaku aisyah p. nuraeni (ponnoer)
Cerpen panggil namaku aisyah p. nuraeni (ponnoer)Cerpen panggil namaku aisyah p. nuraeni (ponnoer)
Cerpen panggil namaku aisyah p. nuraeni (ponnoer)
 
Ketika Kita Berbeda.docx
Ketika Kita Berbeda.docxKetika Kita Berbeda.docx
Ketika Kita Berbeda.docx
 
Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)
Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)
Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)
 
Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)
Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)
Perempuan dan puisi tuhan (restoe prawironegoro ibrahim)
 
Dua tanjung (farizal sikumbang)
Dua tanjung (farizal sikumbang)Dua tanjung (farizal sikumbang)
Dua tanjung (farizal sikumbang)
 
Folio songket berbenang emas
Folio songket berbenang emasFolio songket berbenang emas
Folio songket berbenang emas
 
Cinta datang tepat waktu
Cinta datang tepat waktuCinta datang tepat waktu
Cinta datang tepat waktu
 

Aulia

  • 2. 1/10/2021 Aulia https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 2/10 Oleh Moh Haris Suhud “Berangkatlah ke pesantren, Nak. Sudah ada ibu kok yang mengurus Bapak. Kamu, belajarlah yang rajin!” Sore itu juga, Aulia langsung kembali ke pesantren tempat ia menimba ilmu. <> Langkahnya terasa berat untuk meninggalkan bapaknya yang sedang terkulai lemas karena
  • 3. 1/10/2021 Aulia https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 3/10 sakit. Padahal bapaknya adalah penopang kebutuhan keluarga sepenuhnya. Ibunya sudah tak lagi kerja. *** Di kampung Ilodan, hampir semua wanita bekerja sebagai "penjual" tubuh. Siang hari, kampung itu tampak sepi. Tapi ketika malam mulai merayap, lelaki hidung belang pencari kenikmatan sesaat, mulai berkeliaran meramaikan jalanan di setiap sudut kampung; mencari pasangan yang hendak dikencaninya. Setiap tahun, menjelang bulan Ramadhan, kampung itu selalu didatangi sekelompok orang yang ingin membubarkan semua praktik maksiat di tempat itu. Bagi Pak Sakir, kedatangan mereka selalu mengingatkan ketika ia belum lama tinggal di kampung itu. Pada suatu  malam, sehari sebelum masuk bulan Ramadhan,  sekelompok orang datang. Tanpa tedeng aling-aling, mereka merusak rumah yang ada di sana. Tak tersisa dan tanpa kecuali. Mereka marah membabi-buta. Pekik dan jerit terdengar di mana-mana. Terutama wanita-wanita dan anak kecil. Pak Sakir dan istrinya yang sedang berbincang di ruang  tamu juga tak luput amuk mereka. “Bubarkan tempat-tempat maksiat ini!” pekik pemimpin mereka yang berseragam serba hitam. “Hancurkan!” sambut yang lain sambil memecahkan kaca rumah-rumah. Mendengar keributan, Pak Sakir langsung keluar. “Hentikan!” cegahnya, “tenang! Tenang! Kita…,” belum sempat ia menyelesaikan bicaranya, satu pukulan telak mendarat di belakang lehernya. Seketika pandangannya kabur. Ia tersungkur. Seseorang datang. Langsung menghadiahi pukulan di perutnya. “Beggg....” Pak Sakir kemudian hanya melihat gelap, tak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya. Setelah ia sadar, pukulan kembali menghunjam. Tapi kali ini, bukan di tubuhnya, tapi hatinya. Istrinya yang hamil muda harus dibawa ke rumah sakit. Ia terjatuh ketika akan menolongnya di antara keroyakan orang-orang berseragam hitam tersebut. Tragis, nyawa istrinya tak dapat diselamatkan, tapi untung, bayi yang sedang ia kandung masih bisa 
  • 4. 1/10/2021 Aulia https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 4/10 ditolong. Sendirian Pak Sakir merawat bayinya. Baru setelah bayi itu berusia satu tahun, ia menikah lagi dengan Fatimah, seorang pelacur. *** Pak Sakir adalah orang yang sederhana. Ia bekerja sebagai guru negeri yang ditugaskan mengajar di SD kampung Ilodan. Gajinya hanya cukup menutupi kebutuhan keluarga sebulan. Ia pindah ke kampung itu sejak 30 tahun lalu bersama istri pertamanya. Karena terkenal sebagai sarang maksiat, berkali-kali Ilodan akan dibubarkan pemerintah kota setempat, maupun Ormas. Tapi masalahnya tak pernah tuntas. Sekarang dihancurkan besok tumbuh lagi. Begitu seterusnya. Sebab, usaha pembubaran tersebut tak pernah menyentuh akar permasalahan sesungguhnya. Karena sebenaranya, praktik kemaksiatan di kampung itu adalah demi menyambung nyawa. Hampir 99 persen pemuas birahi itu terbentur keadaan. Hal itu diketahui Pak Sakir 28 tahun lalu, ketika ia ngobrol bersama Fatimah, sebelum menjadi istrinya. “Kenapa kamu mencari na ah dengan menjual tubuh, bukankah ada pekerjaan lain yang lebih halal?” “Mau kerja apa, Mas. Wong ijazah SD saja aku tak punya. Sementara melamar kerja, semuanya butuh ijazah. Memang ada banyak tawaran kerja ke luar negeri. Tapi setelah aku tahu, aku jadi miris sendiri. Banyak berita-berita yang mengabarkan sering terjadi penyiksaan tenaga-tenaga kerja di negeri orang. Dari pada mati, kan  lebih baik memilih yang lebih aman saja."  “Ah, hidup ini memang keras, Mas,” lanjutnya. “Sebenarnya bukan keinginan kita bekerja seperti ini. Semua perempuan di kampung ini mungkin juga punya pikiran sama. Kita semua pasti mengharapkan punya kerjaan yang halal dan hidup bahagia bersama keluarga.” “Sejak kapan bekerja seperti ini?” tanya Pak Sakir lagi. “Yaaa…sudah lama lah pokoknya.” “Kalau pengen hidup bersama keluarga, kenapa gak cari suami?” 
  • 5. 1/10/2021 Aulia https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 5/10 “Emang ada orang yang mau menikahi seorang wanita pelacur? Aku kira nggak ada yang mau, Mas,” katanya sambil menebaskan tangan kanannya melambai. Setelah pertemuan itu, Pak Sakir menawari Fatimah menjadi istrinya. Meskipun dalam kitab suci yang ia yakini melarang menikahi perempuan ahli zina, tapi ia punyai tafsir sendiri, bahwa menikahi perempuan pelacur adalah jihad kecilnya untuk menghentikan prakik pelacuran. Menurutnya, berani menikahi pelacur adalah pemecahan masalah yang lebih realistis dan menyentuh akar permasalahan dibandingkan dengan hanya berkoar-koar dan merusaki tempat-tempat maksiat itu. Mereka yang berani mengambil jatah menikahi empat wanita pelacur misalanya, adalah meraka orang-orang yang shaleh, orang-orang yang bisa berpikir panjang. Toh, seorang lelaki boleh menikahi wanita hingga empat, asal bisa adil di antara istrinya itu. Kalau hanya sekadar menyeru penumpasan kemaksiatan tanpa berpikir ke depan, burung beo pun bisa. Kalau sekadar menghancurkan, orang edan pun bisa. *** Sudah seminggu, Pak Sakir hanya bisa berbaring di ranjang ditemani Fatimah. Dokter mengatakan bahwa penyakitnya hanya bisa sembuh jika dioperasi. Sedangkan uang yang ada semakin menipis, biaya operasi sangat mahal. “Aku carikan hutangan lagi di tetangga lagi ya, Pak,” usul istrinya yang tak tega melihat keadaan suaminya yang semakin hari semakin melemah. “Ndak usah, Bu. Aku baik-baik aja, kok. Lagian uang yang ibu pinjam di Bu RT buat tebus obat kemarin belum sempat dibayar, kan?” cegah Pak Sakir dengan suara lirih. Diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya, Fatimah menawarkan dirinya kepada lelaki yang dulu pernah menjadi pelanggannya. Tapi sayang, pamornya sudah kalah dengan pendatang-pendatang baru yang lebih muda. Ia memutar otak lagi untuk mendapatkan uang untuk biaya operasi suaminya. Dalam pikiran yang kalut, ia sempat punya pikiran menjemput Aulia di pesantren dan membujuknya agar ia mau menjual keperawanannya. Tapi sebaiknya ia pulang dulu, mengatakan niatnya kepada suaminya. Barangkali ia setuju. *** Di pondok pesantren Al-Islam, Aulia sedang sholat hajat untuk kesembuhan bapaknya. 
  • 6. 1/10/2021 Aulia https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 6/10 Ditemani oleh sahabatnya, Eva. Mereka mendoakan agar bapak Aulia segera sembuh dari sakit. Usai berdoa, keduanya beranjak tidur. Tapi di pikiran Aulia muncul wajah bapaknya. Entah kenapa, pikiran-pikiran negatif hadir mendebarkan jantungnya. Tak sadar iya sesenggukan. “Kenapa kamu menangis?” tanya Eva, terbangun. “Aku takut, Mbak. Bagaimana jika bapakku…” “Sssttt…” potong Eva. “Semuanya akan baik-baik saja. Yakinlah, Allah akan mendengar doa hambanya. Kamu ingat kan rman Tuhan: ud’uni astajib lakum. Berdoalah kepadaku, maka aku (Allah) akan mengabulkan doa kalian. Allah pasti mendengar doa anak yang sholihah sepertimu, Aulia. Dan doa anak yang sholehah kepada orang tua itu termasuk doa yang mustajabah, doa yang mudah untuk dikabulkan Allah. Sekarang tidurlah, jangan sampai tangismu membangunkan yang lain.” “Terima kasih, Mbak.” Eva adalah sahabat Aulia di pesantren, sahabat yang setia menemaninya dalam suka atau duka. Ia selalu ada untuk Aulia, begitupun sebaliknya. Meskipun usianya lebih tua dari pada Aulia, ia tak pernah merasa bahwa dirinya lebih dewasa atau lebih pintar. Ia sering menanyakan tentang pelajaran yang tak ia pahami pada Aulia. Dalam bidang akademi, Aulia memang santri paling cerdas di antara santri yang lainnya. Baru saja mereka berdua akan memejamkan mata lagi, ada orang yang mengetuk pintu kamar. Setelah uluk salam, orang itu membuka pintu. “Ukhti Aulia….. Tantadhiru ummuki d diwan,” orang itu berbicara dengan bahasa Arab. Aulia mendengar namanya dipanggil, ia langsung bangun kemudian cepat-cepat menutup kepalanya dengan sehelai kain. “Na’am, Ustadzah,” jawab Aulia. Ia langsung bergegas, berlari menuju kantor pesantren. Sampai di kantor, ia langsung mengecup tangan ibunya. “Ada apa, Ibu, kok datang ke pesantren malam-malam begini?” “Bapak menyuruhmu pulang, Nak.” “Bagaimana keadaan Bapak, Bu?” Aulia mulai khawatir ada apa-apa dengan bapaknya. 
  • 7. 1/10/2021 Aulia https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 7/10 “Kita bicarakan di rumah saja.” *** Aulia langsung memeluk bapaknya yang sedang berbaring di atas ranjang. Airmatanya mengalir menangisi bapaknya,  keadaannya lebih parah dari pada saat ia tinggalkan berangkat ke pesantren beberapa waktu silam. “Sakit bapakmu sudah semakin parah, Nak,” kata ibunya sambil memegang pundak Aulia. “Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit saja, Bu.” “Dokter menyuruh agar bapakmu segera dioperasi. Biaya operasi itu sangat mahal bagi kita. Ibu bingung dari mana harus mendapatkan biaya itu,” dengan mata berkaca-kaca, ia melanjutkan, “Berhari-hari ibu telah mencoba cari uang dengan menceburkan diri lagi ke lembah pelacuran, tapi sudah tak laku. Yang mereka cari sekarang adalah gadis-gadis muda SMA. Mendapatkan gadis semuda itu, sekarang juga tidak sulit. Ibu yang sudah tua ini, tentu kalah jauh dengan mereka.” Aulia bangun dari duduknya dan mengajak keluar ibunya dari dalam kamar. “Apakah aku laku dijual, Bu?” kata Aulia. Mendengar ungkapan Aulia, tentu ibunya sangat terkejut. “Kamu adalah anak perempuan satu-satunya. Kamu dididik di pesantren agar menjadi anak yang sholehah. Bapakmu selalu mengharapkanmu menjadi perempuan yang beradab, menjadi pemimpin, menjadi contoh, untuk semua perempuan dengan budimu yang luhur. Bukan menjadi pelacur seperti kebanyakan wanita di kampung ini.” “Untuk bapak, aku rela melakukan semuanya, Bu.” *** Keringat dingin keluar dari seluruh tubuh Aulia. Malam ini adalah pertama kalinya ia berduaan di dalam kamar dengan seorang lelaki. Pria inilah yang menghargai keperawanan Aulia dengan tawaran paling tinggi di antara penawar lainnya. Ia akan membayar dengan menanggung semua biaya operasi bapaknya ke luar negeri. Di dalam kamar bercahaya redup, di atas seprai warna putih, Aulia berbaring. Dalam ketakutannya, ia mencoba memberanikan diri melirik lelaki yang akan dihiburnya malam 
  • 8. 1/10/2021 Aulia https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 8/10 ini. Samar-samar, Aulia melihat lelaki itu sedang melepas dasi dan kemejanya, kemudian ia mencentelkannya di balik pintu. Setelah itu, ia menelan sesuatu ke dalam mulutnya lalu berjalan mendekat dan berbaring di samping Aulia. Jantung Aulia berdebar hebat, ia memejamkan mata, ia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Lelaki itu memiringkan tubuh seraya memandang ke arahnya. Aulia tak berani membuka matanya. Dari dalam tubuhnya semakin deras mengalirkan keringat dingin, mencoba melawan rasa takut. Tapi semuanya, apapun yang akan terjadi, harus ia lakukan. Tiba-tiba lelaki itu memegang tangan Aulia yang terbujur kaku di atas dadanya. Lelaki itu menggenggam tangan kanan Aulia, menggiring ke bagian tubuhnya.Ia hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Dari kerut kulit yang menyentuh tanganya, lelaki yang ada di sampingnya ini dapat dipastikan sudah tidak muda. Mungkin sudah seumuran bapaknya. Belum sampai menyentuh apapun, suara keras menggedor-gedor di balik pintu. “ Dooor….dorrr…..” “Buka pintu, buka pintu…. dasar pezina laknatullah.” Setelah pintu terbuka, segerombolan orang berseragam serba hitam langsung memukul lelaki yang masih berbaring di atas ranjang bersama Aulia. “Begg….Beggg…Begg..” lelaki itu seketika tak bergerak lagi. Melihat kejadian itu, Aulia menjerit histeris. Dua orang bertubuh kekar menghampirinya dan membungkam mulut dan hidungnya dengan kain beraroma sangat menyengat, membuat kepalanya pusing dan pandangannya kabur, kemudian semuanya menjadi hening. Ketika ia sadar, ia mendapati dirinya sedang berada di atas mobil yang melaju kencang. Entah kemana ia akan dibawa, ia tak tahu. Ia kaget ketika melihat dirinya tak tertutup oleh sehelai benang pun. Ia menjerit sekeras-kerasnya. “Bapaaaaaaaaaakkkk…..” “Aulia….Aulia….” suara Eva membangunkan. Dengan nafas yang masih memburu, Aulia bangun dari mimpi buruknya. 
  • 9. 1/10/2021 Aulia https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 9/10 “Istighfar, Aulia!!!” Eva mencoba menenangkannya. “Mimpi apa kamu?” tanyanya sambil menyuguhkan segelas air putih. Setelah Aulia menceritakan semua mimpinya pada Eva, ia mengatakan pada sahabatnya, “Kata orang tua, mimpi mendekati subuh akan menjadi kenyataan. Aku takut, Mbak.” “Jangan percaya dengan mimpi, Aulia. Mimpi hanyalah bunga tidur yang diciptakan menurut imajinasi kita sendiri. Mimpi juga berarti ulah setan untuk mengelabuhi manusia. Kecuali mimpi bertemu Rasulallah, karena setan nggak bisa menyerupakan dirinya dengan wajah Rasul kita. Dari pada bahas mimpi, yuk, kita ke masjid. Sudah adzan subuh tuh,” ajaknya. Adzan subuh telah selesai berkumandang, Aulia dan Eva berangkat shalat subuh berjamaah di masjid. Setelah menunaikan shalat subuh mereka kembali ke kamar untuk membaca surat Al Mulk dan Waqi’ah bersama-sama santriwati sekamar. “Ukthi Aulia… tantadhiru ummuki d diwan,” tiba-tiba ustadzah mecungul dari balik pintu. Kata-kata itu membuat Aulia kaget. Kata-kata yang sama seperti dalam mimpinya. Ia takut mimpinya akan menjadi kenyataan. Aulia menatap Eva. Eva menatap Aulia. Penuh tanya di wajah mereka berdua. Aulia bergegas, berlari menuju kantor pesantren. Eva membuntuti di belakangnya. Sampai di kantor, ia melihat ibu dan bapaknya sedang berbincang-bincang dengan dewan guru di ruang kantor pesantren. Ia langsung menyalami ibunya dahulu kemudian memeluk bapaknya. “Ini bapakmu sedang kangen sama kamu, Nak. Hari belum terang sudah ngajak berangkat jenguk kamu.” kata ibu Aulia diiringi senyum menyungging di bibirnya. “Bapak sudah sembuh, kan?” tanya Aulia. “Alaaaah… Nduk, orang miskin seperti kita ini, sakit yang paling parah paling-paling cuma demam. Tuhan itu maha Adil, Nduk. Dia mengerti kekuatan hambanya. Lihatlah orang yang sakitnya aneh-aneh, kebayakan adalah orang kaya. Karena uang mereka banyak, mereka mampu buat bayar dokter. Kalaupun kita yang terkena sakit aneh-aneh itu, berarti memang sudah waktunya mati,” jawab bapaknya dengan gaya bicara  ceplas-ceplos. 
  • 10. 1/10/2021 Aulia https://www.nu.or.id/post/read/38905/aulia 10/10 “Hua…hua…hua…,” kantor itu dipenuhi tawa mendengar ucapan Pak Sakir. Begitupun Eva yang mendengar dari luar kantor. Ia tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya karena melihat kebahagian Aulia dikunjungi orang tuannya. “Haduh, Pak Ustadz, dokter sekarang ini kelakuannya semakin bejat. Satu minggu lalu, keluarga kami hampir kena tipu. Dia bilang penyakit saya harus dioperasi. ‘Kalau nggak, tak akan sembuh, katanya’. Karena kami nggak ada uang, akhirnya saya larang istriku untuk memenuhi saran dokter itu. Istri saya ini sampai mau cari hutangan untuk biaya operasi, tapi saya larang. Lha wong, aku merasa baik-baik saja kok mau dioperasi. Ya, mungkin karena waktu itu sedang demam, jadi tubuhku terasa lemas. Gitu aja kata dokter itu saya terkena penyakit entah apa namanya, istilahnya sangat aneh. Farises atau apa gitulah, saya lupa.” “Aku kemarin juga sempat mau cari uang dengan melacur lagi lho, Pak. “ ibu Aulia menimpali. Kontan, seluruh ruang langsung hening. “Untung nggak ada yang mau dengan tawaranku itu. Ketika aku balik rumah, e…. ternyata… bapak udah duduk santai di depan rumah. Maaf ya, Pak, baru ibu katakan sekarang.” “Astag rullahalngandim, Buuu….,” pekik Pak Sakir sambil menebah dadanya. Malang, 19 Juli 2012 MOH HARIS SUHUD, adalah mahasiswa akhir di Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Brawijaya, Malang. Semua tulisannya dapat di baca di http://morpiss.blogspot.com TAGS: Aulia 