SISTEM PENCERNAAN
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN
KOLELITIASIS
Kolelitiasis adalah adanya batu yang terdapat didalam kandung
empedu atau saluran empedu (duktus koledokus) atau keduanya
(Muttaqin dan Sari, 2011).
Batu empedu bisa terdapat pada kantung empedu, saluran empedu
ekstra hepatik, atau saluran empedu intra hepatik. Bila terletak di
dalam kantung empedu saja disebut kolesistolitiasis, dan yang terletak
di dalam saluran empedu ekstra hepatik (duktus koleduktus) disebut
koledokolitiasis, sedang bila terdapat di dalam saluran empedu intra
hepatik disebelah proksimal duktus hepatikus kanan dan kiri disebut
hepatolitiasis. Kolesistolitiasis dan koledokolitiasis disebut dengan
kolelitiasis.
Defini
si
 Berdasarkan komposisi kimiawi dan
gambaran mikroskopiknya, batu empedu dibagi
menjadi tiga tipe utama oleh Suzuki dan Sato,
yaitu batu kolesterol (batu kolesterol murni, batu
kombinasi, batu campuran), batu pigmen (batu
kasium bilirubinat, batu hitam atau pigmen murni),
dan batu empedu yang jarang (batu kalsium
karbonat, dan batu kalsium asam lemak).
Klasifikasi
 a. Batu Kolesterol
 b. Batu pigmen
 c. Batu Campuran
Menurut Hadi (2002), batu empedu terbagi
menjadi tiga tipe yaitu:
 a). Soliter (single cholesterol stone) atau batu kolesterol tunggal
Tipe batu ini mengandung kristal kasar kekuning-kuningan, pada
foto rontgen terlihat intinya. Bentuknya bulat dengan diameter 4
cm, dengan permukaan licin atau noduler. Batu ini tidak mengandung
kalsium sehingga tidak dapat dilihat pada pemotretan sinar X biasa.
 b). Batu kolesterol campuran
Batu ini terbentuk bilamana terjadi infeksi sekunder pada kandung
empedu yaitu mengandung batu empedu kolesterol yang soliter
dimana pada permukaannya terdapat endapan pigmen kalsium.
 c). Batu kolesterol ganda
Jenis batu ini jarang ditemui dan bersifat radio transulen.
a. Batu
Kolesterol
 Pigmen kalkuli mengandung pigmen empedu dan
berbagai macam kalsium dan matriks dari bahan
organik. Batu ini biasanya berganda, kecil, keras,
amorf, bulat, berwarna hitam atau hijau tua.
Alasannya ± 10 % radioopaque.
b. Batu
pigmen
 Batu ini adalah jenis yang paling banyak dijumpai (± 80
%), dan terdiri atas kolesterol, pigmen empedu, berbagai
garam kalsium dan matriks protein. Biasanya berganda
dan sedikit mengandung kalsium sehingga bersifat
radioopaque.
c. Batu Campuran
 Menurut Sjamsuhidajat (1997), Batu kolesterol mengandung
paling sedikit 70% kolesterol, dan sisanya adalah kalsium
karbonat, kalsium palmitit dan kalsium bilirubinat.
Bentuknya lebih bervariasi dibandingkan bentuk batu
pigmen. Dapat berupa batu soliter atau multiple.
Permukaanya mungkin licin atau multifaset, bulat, berduri,
da nada yang seperti buah murbei.
 Batu pigmen mengandung kurang dari 25% kolesterol, sering
ditemukan kecil-kecil, dapat berjumlah banyak, warnanya
bervariasi antara coklat, kemerahan, sampai hitam, dan
berbentuk seperti lumpur atau tanah yang rapuh.
 Etiologi batu empedu masih belum diketahui
secara pasti. Kolelitiasis dapat terjadi dengan
atau tanpa faktor resiko dibawah ini. Namun,
semakin banyak faktor resiko yang dimiliki
seseorang, semakin besar kemungkinan untuk
terjadinya kolelitiasis. Faktor resiko tersebut
antara lain:
Etiologi
 Jenis Kelamin
 Usia
 Obesitas
 Statis bilier
 Obat-obatan
 Diet
 Infeksi bilier
 Gangguan intestinal
 Aktifitas fisik
 Nutrisi intravena jangka lama
Faktor resiko terjadinya kolelitiasis :
 Batu empedu terdapat di dalam kandung empedu atau dapat bergerak
kearea lain dari system empedu. Pada saat pengososngan kandung empedu
atau pengisian kandung empedu batu dapat pindah dan terjebak dalam leher
kandung empedu. Selain leher cysticduct (saluran cyste), atau saluran
empedu menyebabkan bebuntuan. Ketika empedu tidak bias mengalir dari
kandung empedu. Terjadi bendungan dan iritasi lokakl dari batu empedu
menyebabkan radang batu empedu (cholecystitis)
 Faktor yang mendukung :
 1. Kadar kolesterol yang tinggi pada empedu
 2. Pengeluaran empedu yang berkurang
 3. Kecepatan pengosongan kandung empedu yang menurun
 4. Perubahan pada konsentrasi empedu atau bendungan empedu pada
kandung empedu
Patofisiologi
 a. Pemeriksaan Laboratorium
 1. Leukosit : 12.000 - 15.000 /iu (N : 5000 -
10.000 iu).
 2. Bilirubin : meningkat ringan, (N : < 0,4 mg/dl).
 3. Amilase serum meningkat.( N: 17 - 115
unit/100ml).
 4. Protrombin menurun, bila aliran dari empedu
intestin menurun karena obstruksi sehingga
menyebabkan penurunan absorbsi vitamin K.(cara
Kapilar : 2 - 6 mnt).
Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan sinar-X abdomen bisa dilakukan jika
ada kecurigaan akan penyakit kandung empedu
dan untuk menyingkirkan penyebab gejala yang
lain. Namun demikian, hanya 15-20% batu
empedu yang mengalami cukup kalsifikasi untuk
dapat tampak melalui pemeriksaan sinar-X.
b. Pemeriksaan sinar-X
abdomen
hasil sinar-x pada
kolelitiasis
 Foto polos abdomen biasanya tidak memberikan
gambaran yang khas karena hanya sekitar 10-15% batu
kandung empedu yang bersifat radioopak. Kadang
kandung empedu yang mengandung cairan empedu
berkadar kalsium tinggi dapat dilihat dengan foto polos.
Pada peradangan akut dengan kandung empedu yang
membesar atau hidrops, kandung empedu kadang
terlihat sebagai massa jaringan lunak di kuadran kanan
atas yang menekan gambaran udara dalam usus besar di
fleksura hepatika. Walaupun teknik ini murah, tetapi
jarang dilakukan pada kolik bilier sebab nilai
diagnostiknya rendah.
c. Foto polos abdomen
Hasil foto polos abdomen pada kolelitiasis
 Pemeriksaan USG telah menggantikan
kolesistografi oral sebagai prosedur diagnostik
pilihan karena pemeriksaan ini dapat dilakukan
dengan cepat dan akurat, dan dapat digunakan pada
pendrita disfungsi hati dan icterus. Disamping itu,
pemerikasaan USG tidak membuat pasien terpajan
radiasi ionisasi. Prosedur ini akan memberikan hasil
paling akurat jika pasien sudah berpuasa pada malam
harinya sehingga kandung empedunya dalam keadaan
distensi. Penggunaan ultra sound berdasarkan pada
gelombang suara yang dipantulkan kembali.
Ultrasonografi (USG)
hasil USG pada kolelitiasis
 Meskipun sudah digantikan dengan USG sebagai pilihan
utama, namun untuk penderita tertentu, kolesistografi
dengan kontras cukup baik karena relatif murah,
sederhana, dan cukup akurat untuk melihat batu
radiolusen sehingga dapat dihitung jumlah dan ukuran
batu.
e. Kolesistografi
Hasil pemeriksaan kolesistografi
 Pemeriksaan ERCP memungkinkan visualisasi struktur
secara langsung yang hanya dapat dilihat pada saat
melakukan laparotomi. Pemeriksaan ini meliputi insersi
endoskop serat-optik yang fleksibel ke dalam esophagus
hingga mencapai duodenum pasrs desenden.Sebuah
kanula dimasukkan ke dalam duktus koledokus dan duktus
pankreatikus, kemudian bahan kontras disuntikkan ke
dalam duktus tersebut untuk memungkinkan visualisasi
serta evaluasi percabangan bilier. ERCP juga
memungkinkan visualisasi langsung struktur ini dan
memudahkan akses ke dalam duktus koledokus bagian
distal untuk mengambil batu empedu.
f. Endoscopic Retrograde Cholangiopnacreatography
(ERCP)
hasil ERCP pada kolelitiasis
 CT scan juga merupakan metode pemeriksaan
yang akurat untuk menentukan adanya batu
empedu, pelebaran saluran empedu dan
koledokolitiasis. Walaupun demikian, teknik ini
jauh lebih mahal dibanding US.
h. Computed Tomografi (CT)
Hasil CT pada
kolelitiasis
i. Magnetic resonance imaging (MRI) with magnetic resonance
cholangiopancreatography (MRCP)
 a. Penatalaksanaan Non-Pembedahan
Sasaran utama terapi medikal adalah untuk mengurangi insiden
serangan akut nyeri kandung empedu dan kolesistitis dengan
penatalaksanaan suportif dan diit, dan jika memungkinkan, untuk
menyingkirkan penyebab dengan farmakoterapi, prosedur-prosedur
endoskopi, atau intervensi pembedahan.
 b. Penatalaksanaan Supotif dan Diet
Sekitar 80% pasien dengan inflamasi akut kandung empedu sembuh
dengan istirahat, cairan infus, pengisapan nasogastric, analgesic dan
antibiotik. Intervensi bedah harus ditunda sampai gejala akut mereda
dan evaluasi yang lengkap dapat dilaksanakan, kecuali jika kondisi
pasien semakin memburuk.
Penatalaksanaan
 Asam Kenodeoksikolat. Dosisnya 12-15 mg/kg/hari
pada orang yang tidak mengalami kegemukan.
Kegemukan jelas telah meningkatkan kolesterol
bilier, sehingga diperlukan dosis 18-20
mg/kg/hari. Dosis harus ditingkatkan bertahap
yang dimulai dari 500 mg/hari. Efek samping pada
pemberian asam kenodeoksikolat adalah diare.
Farmakoterapi
 Proses Keperawatan adalah pendekatan penyelesaian masalah yang sistematik untuk
merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan yang melalui lima fase berikut yaitu
pengkajian, identifikasi masalah, perencanaan, implementasi, evaluasi.
 a. Pengkajian
 Data yang dikumpulkan meliputi :
 a). Identitas
 Ø Identitas klien
 Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, tanggal
masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medik, alamat, semua data
mengenai identitaas klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.
 Ø Identitas penanggung jawab
 Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi
penanggung jawab klien selama perawatan, data yang terkumpul meliputi nama, umur,
pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.
Rencana Asuhan Keperawatan
 Ø Keluhan utama
 Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien saat pengkajian.
Biasanya keluhan utama yang klien rasakan adalah nyeri abdomen pada kuadran kanan atas.

 Ø Riwayat kesehatan sekarang
 Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui metode PQRST, paliatif
atau provokatif (P) yaitu fokus utama keluhan klien, quality atau kualitas (Q) yaitu
bagaimana nyeri/gatal dirasakan oleh klien, regional (R) yaitu nyeri/gatal menjalar kemana,
Safety (S) yaitu posisi yang bagaimana yang dapat mengurangi nyeri/gatal atau klien merasa
nyaman dan Time (T) yaitu sejak kapan klien merasakan nyeri/gatal tersebut.

 (P): Nyeri setelah makan, terutama makanan yang berlemak
 (Q): Nyeri dirasakan hebat
 (R): Nyeri dirasakan pada abdomen kuadran kanan atas dan menjalar ke punggung atau
bahu kanan.
 (S): Nyeri terasa saat melakukan inspirasi
 (T): Nyeri dirasakan sejak dua hari yang lalu
b). Riwayat Kesehatan
 Ø Riwayat kesehatan yang lalu
 Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit sama atau pernah di riwayat sebelumnya.
 Ø Riwayat kesehatan keluarga
 Mengkaji ada atau tidaknya keluarga klien pernah menderita penyakit kolelitiasis.
 c). Pemeriksaan fisik
 Pendekatan dengan metode 6B:
 Ø B1-Breath
 Pernapasan tertekan ditandai dengan napas pendek dan dangkal, terjadi peningkatan frekuensi
pernapasan sebagai kompensasi.
 Ø B2-Blood
 Takikardi dan berkeringat karena peningkatan suhu akibat respon inflamasi.
 Ø B3-Brain
-
 Ø B4-Bladder
 Urine pekat dan berwarna gelap, akibat dari pigmen empedu.
 Ø B5-Bowel
 Feses berwarna kelabu “clay colored” akibat obstruksi duktus biliaris sehingga pigmen empedu tidak
dibuang melalui feses.
 Ø B6-Bone
-
 Ø Nyeri Akut b.b Agen Cedera Biologis: Obstruksi Kandung Empedu
 Ø Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh b.d
Ketidakmampuan Pemasukan Nutrisi
 Ø Mual b.d Iritasi Lambung
 Ø Kekurangan Volume Cairan b.d Kehilangan Volume Cairan Aktif
 Ø Insomnia b.d Ketidaknyamanan Fisik: Nyeri
 Ø Hambatan Mobilitas Fisik b.d Nyeri
 Ø Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Nyeri
 Ø Ansietas b.d Ancaman Kematian
 Ø Kerusakan Integritas Kulit b.d Faktor mekanik
 Ø Risiko Perdarahan
 Ø Risiko Infeksi b.d Kerusakan Integritas Kulit: Prosedur Invasif
b. Diagnosa--NANDA 2012-2014
No Prioritas Diagnosa
1 Nyeri Akut b.b Agen Cedera Biologis: Obstruksi Kandung Empedu.
2 Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Nyeri
3 Kekurangan Volume Cairan b.d Kehilangan Volume Cairan Aktif
4 Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh b.d
Ketidakmampuan Menelan Makanan
5 Mual b.d Iritasi Lambung
6 Ansietas b.d Ancaman Kematian
7 Insomnia b.d Ketidaknyamanan Fisik: Nyeri
8 Hambatan Mobilitas Fisik b.d Nyeri
9 Kerusakan Integritas Kulit
10 Risiko Perdarahan
11 Risiko Infeksi b.d Kerusakan Integritas Kulit: Prosedur Invasif
c. Prioritas Diagnosa
DATA MASALAH ETIOLOGI
Ds : klien mengatakan nyeri pada abdomen atas
dapat menyebar kepunggung atau bahu kanan
Nyeri mulai tiba-tiba dan biasanya memuncak
dalam 30 menit.
Do :
ü Klien tampak gelisah.
ü Klien tampak memegangi perut bagian
atas.
ü Skala nyeri klien 3
Gangguan rasa nyaman nyeri. Obstruksi dan proses pembedahan.
Ds : klien mengatakan tidak nafsu makan.
Do :
ü Berat badan menurun.
ü Klien hanya menghabiskan ½ porsi
makanan.
ü Klien tampak lemah.
Ketidakseimbangan nutrisi di dalam
tubuh.
Tidak adekuatnya dalam mengingesti dan
mengarbsorpsi makanan.
Ds : klien mengatakan sering mual dan muntah
serta berkeringat.
Do :
ü Muntah > 4x
ü Mukosa kering
ü Turgor kulit tidak elastis.
Defisit volume cairan didalam tubuh. Kehilangan cairan yang berlebihan
(mual,muntah,berkeringat).
SELAMAT BELAJAR

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN KOLELITIASIS P4.pptx

  • 1.
  • 2.
    Kolelitiasis adalah adanyabatu yang terdapat didalam kandung empedu atau saluran empedu (duktus koledokus) atau keduanya (Muttaqin dan Sari, 2011). Batu empedu bisa terdapat pada kantung empedu, saluran empedu ekstra hepatik, atau saluran empedu intra hepatik. Bila terletak di dalam kantung empedu saja disebut kolesistolitiasis, dan yang terletak di dalam saluran empedu ekstra hepatik (duktus koleduktus) disebut koledokolitiasis, sedang bila terdapat di dalam saluran empedu intra hepatik disebelah proksimal duktus hepatikus kanan dan kiri disebut hepatolitiasis. Kolesistolitiasis dan koledokolitiasis disebut dengan kolelitiasis. Defini si
  • 4.
     Berdasarkan komposisikimiawi dan gambaran mikroskopiknya, batu empedu dibagi menjadi tiga tipe utama oleh Suzuki dan Sato, yaitu batu kolesterol (batu kolesterol murni, batu kombinasi, batu campuran), batu pigmen (batu kasium bilirubinat, batu hitam atau pigmen murni), dan batu empedu yang jarang (batu kalsium karbonat, dan batu kalsium asam lemak). Klasifikasi
  • 5.
     a. BatuKolesterol  b. Batu pigmen  c. Batu Campuran Menurut Hadi (2002), batu empedu terbagi menjadi tiga tipe yaitu:
  • 6.
     a). Soliter(single cholesterol stone) atau batu kolesterol tunggal Tipe batu ini mengandung kristal kasar kekuning-kuningan, pada foto rontgen terlihat intinya. Bentuknya bulat dengan diameter 4 cm, dengan permukaan licin atau noduler. Batu ini tidak mengandung kalsium sehingga tidak dapat dilihat pada pemotretan sinar X biasa.  b). Batu kolesterol campuran Batu ini terbentuk bilamana terjadi infeksi sekunder pada kandung empedu yaitu mengandung batu empedu kolesterol yang soliter dimana pada permukaannya terdapat endapan pigmen kalsium.  c). Batu kolesterol ganda Jenis batu ini jarang ditemui dan bersifat radio transulen. a. Batu Kolesterol
  • 7.
     Pigmen kalkulimengandung pigmen empedu dan berbagai macam kalsium dan matriks dari bahan organik. Batu ini biasanya berganda, kecil, keras, amorf, bulat, berwarna hitam atau hijau tua. Alasannya ± 10 % radioopaque. b. Batu pigmen
  • 8.
     Batu iniadalah jenis yang paling banyak dijumpai (± 80 %), dan terdiri atas kolesterol, pigmen empedu, berbagai garam kalsium dan matriks protein. Biasanya berganda dan sedikit mengandung kalsium sehingga bersifat radioopaque. c. Batu Campuran
  • 9.
     Menurut Sjamsuhidajat(1997), Batu kolesterol mengandung paling sedikit 70% kolesterol, dan sisanya adalah kalsium karbonat, kalsium palmitit dan kalsium bilirubinat. Bentuknya lebih bervariasi dibandingkan bentuk batu pigmen. Dapat berupa batu soliter atau multiple. Permukaanya mungkin licin atau multifaset, bulat, berduri, da nada yang seperti buah murbei.  Batu pigmen mengandung kurang dari 25% kolesterol, sering ditemukan kecil-kecil, dapat berjumlah banyak, warnanya bervariasi antara coklat, kemerahan, sampai hitam, dan berbentuk seperti lumpur atau tanah yang rapuh.
  • 11.
     Etiologi batuempedu masih belum diketahui secara pasti. Kolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko dibawah ini. Namun, semakin banyak faktor resiko yang dimiliki seseorang, semakin besar kemungkinan untuk terjadinya kolelitiasis. Faktor resiko tersebut antara lain: Etiologi
  • 12.
     Jenis Kelamin Usia  Obesitas  Statis bilier  Obat-obatan  Diet  Infeksi bilier  Gangguan intestinal  Aktifitas fisik  Nutrisi intravena jangka lama Faktor resiko terjadinya kolelitiasis :
  • 13.
     Batu empeduterdapat di dalam kandung empedu atau dapat bergerak kearea lain dari system empedu. Pada saat pengososngan kandung empedu atau pengisian kandung empedu batu dapat pindah dan terjebak dalam leher kandung empedu. Selain leher cysticduct (saluran cyste), atau saluran empedu menyebabkan bebuntuan. Ketika empedu tidak bias mengalir dari kandung empedu. Terjadi bendungan dan iritasi lokakl dari batu empedu menyebabkan radang batu empedu (cholecystitis)  Faktor yang mendukung :  1. Kadar kolesterol yang tinggi pada empedu  2. Pengeluaran empedu yang berkurang  3. Kecepatan pengosongan kandung empedu yang menurun  4. Perubahan pada konsentrasi empedu atau bendungan empedu pada kandung empedu Patofisiologi
  • 14.
     a. PemeriksaanLaboratorium  1. Leukosit : 12.000 - 15.000 /iu (N : 5000 - 10.000 iu).  2. Bilirubin : meningkat ringan, (N : < 0,4 mg/dl).  3. Amilase serum meningkat.( N: 17 - 115 unit/100ml).  4. Protrombin menurun, bila aliran dari empedu intestin menurun karena obstruksi sehingga menyebabkan penurunan absorbsi vitamin K.(cara Kapilar : 2 - 6 mnt). Pemeriksaan Penunjang
  • 15.
     Pemeriksaan sinar-Xabdomen bisa dilakukan jika ada kecurigaan akan penyakit kandung empedu dan untuk menyingkirkan penyebab gejala yang lain. Namun demikian, hanya 15-20% batu empedu yang mengalami cukup kalsifikasi untuk dapat tampak melalui pemeriksaan sinar-X. b. Pemeriksaan sinar-X abdomen
  • 16.
  • 17.
     Foto polosabdomen biasanya tidak memberikan gambaran yang khas karena hanya sekitar 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak. Kadang kandung empedu yang mengandung cairan empedu berkadar kalsium tinggi dapat dilihat dengan foto polos. Pada peradangan akut dengan kandung empedu yang membesar atau hidrops, kandung empedu kadang terlihat sebagai massa jaringan lunak di kuadran kanan atas yang menekan gambaran udara dalam usus besar di fleksura hepatika. Walaupun teknik ini murah, tetapi jarang dilakukan pada kolik bilier sebab nilai diagnostiknya rendah. c. Foto polos abdomen
  • 18.
    Hasil foto polosabdomen pada kolelitiasis
  • 19.
     Pemeriksaan USGtelah menggantikan kolesistografi oral sebagai prosedur diagnostik pilihan karena pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cepat dan akurat, dan dapat digunakan pada pendrita disfungsi hati dan icterus. Disamping itu, pemerikasaan USG tidak membuat pasien terpajan radiasi ionisasi. Prosedur ini akan memberikan hasil paling akurat jika pasien sudah berpuasa pada malam harinya sehingga kandung empedunya dalam keadaan distensi. Penggunaan ultra sound berdasarkan pada gelombang suara yang dipantulkan kembali. Ultrasonografi (USG)
  • 20.
    hasil USG padakolelitiasis
  • 21.
     Meskipun sudahdigantikan dengan USG sebagai pilihan utama, namun untuk penderita tertentu, kolesistografi dengan kontras cukup baik karena relatif murah, sederhana, dan cukup akurat untuk melihat batu radiolusen sehingga dapat dihitung jumlah dan ukuran batu. e. Kolesistografi
  • 22.
  • 23.
     Pemeriksaan ERCPmemungkinkan visualisasi struktur secara langsung yang hanya dapat dilihat pada saat melakukan laparotomi. Pemeriksaan ini meliputi insersi endoskop serat-optik yang fleksibel ke dalam esophagus hingga mencapai duodenum pasrs desenden.Sebuah kanula dimasukkan ke dalam duktus koledokus dan duktus pankreatikus, kemudian bahan kontras disuntikkan ke dalam duktus tersebut untuk memungkinkan visualisasi serta evaluasi percabangan bilier. ERCP juga memungkinkan visualisasi langsung struktur ini dan memudahkan akses ke dalam duktus koledokus bagian distal untuk mengambil batu empedu. f. Endoscopic Retrograde Cholangiopnacreatography (ERCP)
  • 24.
    hasil ERCP padakolelitiasis
  • 25.
     CT scanjuga merupakan metode pemeriksaan yang akurat untuk menentukan adanya batu empedu, pelebaran saluran empedu dan koledokolitiasis. Walaupun demikian, teknik ini jauh lebih mahal dibanding US. h. Computed Tomografi (CT)
  • 26.
  • 27.
    i. Magnetic resonanceimaging (MRI) with magnetic resonance cholangiopancreatography (MRCP)
  • 28.
     a. PenatalaksanaanNon-Pembedahan Sasaran utama terapi medikal adalah untuk mengurangi insiden serangan akut nyeri kandung empedu dan kolesistitis dengan penatalaksanaan suportif dan diit, dan jika memungkinkan, untuk menyingkirkan penyebab dengan farmakoterapi, prosedur-prosedur endoskopi, atau intervensi pembedahan.  b. Penatalaksanaan Supotif dan Diet Sekitar 80% pasien dengan inflamasi akut kandung empedu sembuh dengan istirahat, cairan infus, pengisapan nasogastric, analgesic dan antibiotik. Intervensi bedah harus ditunda sampai gejala akut mereda dan evaluasi yang lengkap dapat dilaksanakan, kecuali jika kondisi pasien semakin memburuk. Penatalaksanaan
  • 29.
     Asam Kenodeoksikolat.Dosisnya 12-15 mg/kg/hari pada orang yang tidak mengalami kegemukan. Kegemukan jelas telah meningkatkan kolesterol bilier, sehingga diperlukan dosis 18-20 mg/kg/hari. Dosis harus ditingkatkan bertahap yang dimulai dari 500 mg/hari. Efek samping pada pemberian asam kenodeoksikolat adalah diare. Farmakoterapi
  • 30.
     Proses Keperawatanadalah pendekatan penyelesaian masalah yang sistematik untuk merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan yang melalui lima fase berikut yaitu pengkajian, identifikasi masalah, perencanaan, implementasi, evaluasi.  a. Pengkajian  Data yang dikumpulkan meliputi :  a). Identitas  Ø Identitas klien  Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medik, alamat, semua data mengenai identitaas klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.  Ø Identitas penanggung jawab  Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi penanggung jawab klien selama perawatan, data yang terkumpul meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat. Rencana Asuhan Keperawatan
  • 31.
     Ø Keluhanutama  Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien saat pengkajian. Biasanya keluhan utama yang klien rasakan adalah nyeri abdomen pada kuadran kanan atas.   Ø Riwayat kesehatan sekarang  Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui metode PQRST, paliatif atau provokatif (P) yaitu fokus utama keluhan klien, quality atau kualitas (Q) yaitu bagaimana nyeri/gatal dirasakan oleh klien, regional (R) yaitu nyeri/gatal menjalar kemana, Safety (S) yaitu posisi yang bagaimana yang dapat mengurangi nyeri/gatal atau klien merasa nyaman dan Time (T) yaitu sejak kapan klien merasakan nyeri/gatal tersebut.   (P): Nyeri setelah makan, terutama makanan yang berlemak  (Q): Nyeri dirasakan hebat  (R): Nyeri dirasakan pada abdomen kuadran kanan atas dan menjalar ke punggung atau bahu kanan.  (S): Nyeri terasa saat melakukan inspirasi  (T): Nyeri dirasakan sejak dua hari yang lalu b). Riwayat Kesehatan
  • 32.
     Ø Riwayatkesehatan yang lalu  Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit sama atau pernah di riwayat sebelumnya.  Ø Riwayat kesehatan keluarga  Mengkaji ada atau tidaknya keluarga klien pernah menderita penyakit kolelitiasis.  c). Pemeriksaan fisik  Pendekatan dengan metode 6B:  Ø B1-Breath  Pernapasan tertekan ditandai dengan napas pendek dan dangkal, terjadi peningkatan frekuensi pernapasan sebagai kompensasi.  Ø B2-Blood  Takikardi dan berkeringat karena peningkatan suhu akibat respon inflamasi.  Ø B3-Brain -  Ø B4-Bladder  Urine pekat dan berwarna gelap, akibat dari pigmen empedu.  Ø B5-Bowel  Feses berwarna kelabu “clay colored” akibat obstruksi duktus biliaris sehingga pigmen empedu tidak dibuang melalui feses.  Ø B6-Bone -
  • 33.
     Ø NyeriAkut b.b Agen Cedera Biologis: Obstruksi Kandung Empedu  Ø Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh b.d Ketidakmampuan Pemasukan Nutrisi  Ø Mual b.d Iritasi Lambung  Ø Kekurangan Volume Cairan b.d Kehilangan Volume Cairan Aktif  Ø Insomnia b.d Ketidaknyamanan Fisik: Nyeri  Ø Hambatan Mobilitas Fisik b.d Nyeri  Ø Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Nyeri  Ø Ansietas b.d Ancaman Kematian  Ø Kerusakan Integritas Kulit b.d Faktor mekanik  Ø Risiko Perdarahan  Ø Risiko Infeksi b.d Kerusakan Integritas Kulit: Prosedur Invasif b. Diagnosa--NANDA 2012-2014
  • 34.
    No Prioritas Diagnosa 1Nyeri Akut b.b Agen Cedera Biologis: Obstruksi Kandung Empedu. 2 Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Nyeri 3 Kekurangan Volume Cairan b.d Kehilangan Volume Cairan Aktif 4 Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh b.d Ketidakmampuan Menelan Makanan 5 Mual b.d Iritasi Lambung 6 Ansietas b.d Ancaman Kematian 7 Insomnia b.d Ketidaknyamanan Fisik: Nyeri 8 Hambatan Mobilitas Fisik b.d Nyeri 9 Kerusakan Integritas Kulit 10 Risiko Perdarahan 11 Risiko Infeksi b.d Kerusakan Integritas Kulit: Prosedur Invasif c. Prioritas Diagnosa
  • 35.
    DATA MASALAH ETIOLOGI Ds: klien mengatakan nyeri pada abdomen atas dapat menyebar kepunggung atau bahu kanan Nyeri mulai tiba-tiba dan biasanya memuncak dalam 30 menit. Do : ü Klien tampak gelisah. ü Klien tampak memegangi perut bagian atas. ü Skala nyeri klien 3 Gangguan rasa nyaman nyeri. Obstruksi dan proses pembedahan. Ds : klien mengatakan tidak nafsu makan. Do : ü Berat badan menurun. ü Klien hanya menghabiskan ½ porsi makanan. ü Klien tampak lemah. Ketidakseimbangan nutrisi di dalam tubuh. Tidak adekuatnya dalam mengingesti dan mengarbsorpsi makanan. Ds : klien mengatakan sering mual dan muntah serta berkeringat. Do : ü Muntah > 4x ü Mukosa kering ü Turgor kulit tidak elastis. Defisit volume cairan didalam tubuh. Kehilangan cairan yang berlebihan (mual,muntah,berkeringat).
  • 36.