ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK
Dr. Budhi Mulyadi, SKp., M.Kep., Ns. Sp. Kep. Kom
DEFINISI
 Menjadi tua adalah proses alamiah yang akan dihadapi
oleh setiap mahluk hidup dan meninggal dengan tenang
adalah dambaan setiap insan.
 Keadaan Terminal Adalah suatu keadaan sakit dimana
menurut akal sehat tidak ada harapan lagi bagi si sakit
untuk sembuh. Keadaan sakit itu dapat disebabkan oleh
suatu penyakit atau suatu kecelakaan.
DEFINISI
 Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non-
bakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung
kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi
secara simetris. ( Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu
Bedah Orthopedi, hal. 165 )
 Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik
yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi
(Lemone & Burke, 2001 : 1248).
 Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari
kanak-kanak sampai usia lanjut. Namun resiko akan
meningkat dengan meningkatnya umur (Felson dalam
Budi Darmojo, 1999).
ETIOLOGI
 Penyebab pasti reumatod arthritis tidak diketahui. Biasanya
merupakan kombinasi dari faktor genetic, lingkungan, hormonal
dan faktor system reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar
adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikoplasma dan virus
(Lemone & Burke, 2001).
 Penyebab utama kelainan ini tidak diketahui. Ada beberapa
teori yang dikemukakan mengenai penyebab artritis reumatoid,
yaitu :
1. Infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus non-
hemolitiku
2. Endokrin
3. Autoimun
4. Metabolik
5. Faktor genetik serta faktor pemicu lainnya
Gangguan mobilisasi dapat terjadi
pada semua tingkatan umur, yang
beresiko tinggi terjadi gangguan
mobilisasi adalah orang yang lanjut
usia, post cedera dan post trauma.
FAKTOR PREDISPOSISI :
 Pengobatan
 Terapi pembatasan gerak
 Kurang pengetahuan tentang manfaat pergerakan fisik
 IMT diatas 75% sesuai dengan usia
 Kerusakan sensori persepsi
 Nyeri, tidak nyaman
 Intoleransi aktivitas/ penurunan kekuatan dan stamina
 Depresi mood dan cemas
 Keengganan untuk memulai gerak
 Gaya hidup menetap, tidak fit
 Malnutrisi umum dan spesifik
 Kehilangan integrasi struktur tulang
 Keterbatasan lingkungan fisik dan social
 Keterbatasan daya tahan kardiovaskuler
 Kepercayaan terhadap budaya berhubungan dengan aktivitas yang
tepat disesuaikan dengan umur
MANIFESTASI KLINIS
Pada lansia, artritis reumatoid dapat digolongkan kedalam
tiga kelompok :
• Kelompok pertama adalah artritis reumatoid klasik. Sendi
– sendi kecil pada kaki dan tangan sebagian besar
terlibat. Terdapat faktor reumatoid, dan nodula –nodula
reumatoid sering terjadi. Penyakit dalam kelompok ini
dapat mendorong ke arah kerusakan sendi yang
progresif.
 Kelompok kedua, termasuk klien yang memenuhi kiteria
dari American Rheumatologic Association untuk artritis
reumatoid karena mereka mempunyai radang sinovitis
yang terus – menerus dan simetris, sering melibatkan
pergelangan tangan dan sendi – sendi jari.
LANJUTAN...
 Kelompok ketiga, sinovitis terutama memengaruhi
bagian proksimal sendi, bahu, dan panggul.
Awitannya mendadak, sering ditandai dengan
kekakuan pada pagi hari pergelangan tangan pasien
sering mengalami hal ini, dengan adanya bengkak,
nyeri tekan, penurunan kekuatan genggaman, dan
sindrom carpal tunnel.
UMUR JENIS KELAMIN GENETIK SUKU KEGEMUKAN
i
Kerusakan fokal tulang
rawan yg progresif
pembentukan tulang baru
pada sendi , tulang rawan,
sendi dan tepi sendi
Perubahan metabolisme tulang
Peningkatan aktivitas enzim yang merusak
makro molekul matriks tulang rawan send
Penurunan kadar proteoglikan
Berkurangnya kadar proteoglikan
Perubahan sifat sifat kolagen
Berkurangnya kadar air tulang rawan sendi
Permukaan tulang rawan sendi terbelah pecah dengan
robekan
Timbul laserasi
OSTEOARTRITIS
KOMPLIKASI
• Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah
gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komplikasi utama
penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat
pengubah perjalanan penyakit ( disease modifying antirhematoid
drugs, DMARD ) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan
mortalitas utama pada arthritis reumatoid.
• Komplikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas ,
sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi
neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat
ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat
vaskulitis.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 “pemeriksaan kekuatan otot (neuthopografi)”
KRITERIA :
 Diagnosis arthritis reumatoid tidak bersandar pada satu karakteristik
saja tetapi berdasar pada evaluasi dari sekelompok tanda dan
gejala.
 Kriteria diagnostik adalah sebagai berikut:
 Kekakuan pagi hari (sekurangnya 1 jam)
 Arthritis pada tiga atau lebih sendi
 Arthritis sendi-sendi jari-jari tangan
 Arthritis yang simetris
 Nodula reumatoid dan Faktor reumatoid dalam serum
 Perubahan-perubahan radiologik (erosi atau dekalsifikasi tulang)
Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabila sekurang-
kurangnya empat dari tujuh kriteria ini terpenuhi. Empat kriteria yang
disebutkan terdahulu harus sudah berlangsung sekurang-kurangnya
6 minggu.
DEFINI DEMENSIA ?
 Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan fungsi
vegetatif atau keadaan yang terjadi. Memori, pengetahuan umum, pikiran
abstrak, penilaian, dan interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat
terganggu. (Elizabeth J. Corwin, 2009)
 Menurut Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar
penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa
penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan
tingkah laku.
 Jadi, Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya
berkembang secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran,
penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi
kemunduran kepribadian.
ETIOLOGI
1. Penyebab utama dari penyakit demensia adalah
penyakit alzheimer
2. Penyebab kedua dari Demensia yaitu, serangan
stroke yang berturut-turut.
GEJALA DEMENSIA PADA LANSIA
1. Adanya perubahan kepribadian dan
tingkah laku sehingga mempengaruhi
aktivitas sehari-hari.
2. Berupa depresi pada Lansia
KLASIFIKASI DEMENSIA
1. Menurut Kerusakan Struktur Otak
a. Tipe Alzheimer
b. Demensia vascular
2. Menurut umur
a. Demensia senilis
b. Demensia prasenilis
Asuhan Keperawatan
 Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien tergantung pada keparahan dan
keterlibatan organ-organ lainnya (misalnya mata, jantung,
paru-paru, ginjal), tahapan misalnya eksaserbasi akut atau
remisi dan keberadaaan bersama bentuk – bentuk arthritis
lainnya.
 Pemeriksaan fungsi motorik
1. Tingkat aktivitas sehari-hari
2. Tingkat kelelahan
3. Gangguan pergerakan
4. Pemeriksaan fisik :
 Tingkat kesadaran
 Postur bentuk tubuh
1. Aktivitas/ istirahat
2. Kardiovaskuler
3. Integritas ego
4. Makanan/ cairan
5. Hygiene
6. Neurosensori
7. Nyeri/ kenyamanan
8. Keamanan
9. Interaksi sosial
10. Pemeriksaan kekuatan otot
Kriteria hasil pemeriksaan MMT :
 Normal (5) : mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh, melawan gravitasi dan melawan
tahan maksimal .
 Good (4) : mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh melawan gravitasi dan melawan
tahanan sedang (moderat)
 Fair (3) : mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh dan melawan gravitasi tanpa
tahanan.
 Poor (2) : mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh tanpa melawan gravitasi
 Trace (1) : tidak ada gerakan sendi, tetapi kontraksi otot dapat dipalpasi
 Zero (0): kontraksi otot tidak terdeteksi dengan palpasi
11. Prosedur pelaksanan MMT
12. Pemeriksaan tonus otot
13. Pemeriksaan luas garak sendi
14. Pemeriksaan postur
15. Pemeriksaan kemampuan fungsional
DIAGNOSA KEPERAWATAN
SDKI
 Gangguan mobilitas fisik (D0054)
 Nyeri kronis (D0078)
LUARAN: SLKI
 mobilitas fisik :
 ekspektasi : meningkat : pergerakan ekstremitas,
kekuatan otot, rentang gerak (ROM)
 ekspektasi menurun : nyeri, gerakan terbatas,
kelemahan fisik
 nyeri kronis : ekspektasi menurun : keluhan nyeri,
meringis, sikap protektif, gelisah, ketegangan otot
SIKI
 MOBILITAS
 dukungan mobilisasi, edukasi latihan fisik, manajemen
program latihan, pemberian obat, pengaturan posisi,
terapi aktifitas, terapi poemijatan
 NYERI
 terapi relaksasi, manajemen nyeri, dukungan hipnosis
diri, edukasi aktivitas/ istirahat, pemberian obat,
pengaturan posisi, terapi musik, terapi murottal, terapi
sentuhan
THANK YOU !!

ASKEP Gerontik.pptx

  • 1.
    ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK Dr.Budhi Mulyadi, SKp., M.Kep., Ns. Sp. Kep. Kom
  • 7.
    DEFINISI  Menjadi tuaadalah proses alamiah yang akan dihadapi oleh setiap mahluk hidup dan meninggal dengan tenang adalah dambaan setiap insan.  Keadaan Terminal Adalah suatu keadaan sakit dimana menurut akal sehat tidak ada harapan lagi bagi si sakit untuk sembuh. Keadaan sakit itu dapat disebabkan oleh suatu penyakit atau suatu kecelakaan.
  • 8.
    DEFINISI  Penyakit reumatikadalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris. ( Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi, hal. 165 )  Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248).  Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut. Namun resiko akan meningkat dengan meningkatnya umur (Felson dalam Budi Darmojo, 1999).
  • 9.
    ETIOLOGI  Penyebab pastireumatod arthritis tidak diketahui. Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetic, lingkungan, hormonal dan faktor system reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001).  Penyebab utama kelainan ini tidak diketahui. Ada beberapa teori yang dikemukakan mengenai penyebab artritis reumatoid, yaitu : 1. Infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus non- hemolitiku 2. Endokrin 3. Autoimun 4. Metabolik 5. Faktor genetik serta faktor pemicu lainnya
  • 10.
    Gangguan mobilisasi dapatterjadi pada semua tingkatan umur, yang beresiko tinggi terjadi gangguan mobilisasi adalah orang yang lanjut usia, post cedera dan post trauma.
  • 11.
    FAKTOR PREDISPOSISI : Pengobatan  Terapi pembatasan gerak  Kurang pengetahuan tentang manfaat pergerakan fisik  IMT diatas 75% sesuai dengan usia  Kerusakan sensori persepsi  Nyeri, tidak nyaman  Intoleransi aktivitas/ penurunan kekuatan dan stamina  Depresi mood dan cemas  Keengganan untuk memulai gerak  Gaya hidup menetap, tidak fit  Malnutrisi umum dan spesifik  Kehilangan integrasi struktur tulang  Keterbatasan lingkungan fisik dan social  Keterbatasan daya tahan kardiovaskuler  Kepercayaan terhadap budaya berhubungan dengan aktivitas yang tepat disesuaikan dengan umur
  • 12.
    MANIFESTASI KLINIS Pada lansia,artritis reumatoid dapat digolongkan kedalam tiga kelompok : • Kelompok pertama adalah artritis reumatoid klasik. Sendi – sendi kecil pada kaki dan tangan sebagian besar terlibat. Terdapat faktor reumatoid, dan nodula –nodula reumatoid sering terjadi. Penyakit dalam kelompok ini dapat mendorong ke arah kerusakan sendi yang progresif.  Kelompok kedua, termasuk klien yang memenuhi kiteria dari American Rheumatologic Association untuk artritis reumatoid karena mereka mempunyai radang sinovitis yang terus – menerus dan simetris, sering melibatkan pergelangan tangan dan sendi – sendi jari.
  • 13.
    LANJUTAN...  Kelompok ketiga,sinovitis terutama memengaruhi bagian proksimal sendi, bahu, dan panggul. Awitannya mendadak, sering ditandai dengan kekakuan pada pagi hari pergelangan tangan pasien sering mengalami hal ini, dengan adanya bengkak, nyeri tekan, penurunan kekuatan genggaman, dan sindrom carpal tunnel.
  • 14.
    UMUR JENIS KELAMINGENETIK SUKU KEGEMUKAN i Kerusakan fokal tulang rawan yg progresif pembentukan tulang baru pada sendi , tulang rawan, sendi dan tepi sendi Perubahan metabolisme tulang Peningkatan aktivitas enzim yang merusak makro molekul matriks tulang rawan send
  • 15.
    Penurunan kadar proteoglikan Berkurangnyakadar proteoglikan Perubahan sifat sifat kolagen Berkurangnya kadar air tulang rawan sendi Permukaan tulang rawan sendi terbelah pecah dengan robekan
  • 16.
  • 17.
    KOMPLIKASI • Kelainan sistempencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit ( disease modifying antirhematoid drugs, DMARD ) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid. • Komplikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas , sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.
  • 18.
    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK  “pemeriksaankekuatan otot (neuthopografi)” KRITERIA :  Diagnosis arthritis reumatoid tidak bersandar pada satu karakteristik saja tetapi berdasar pada evaluasi dari sekelompok tanda dan gejala.  Kriteria diagnostik adalah sebagai berikut:  Kekakuan pagi hari (sekurangnya 1 jam)  Arthritis pada tiga atau lebih sendi  Arthritis sendi-sendi jari-jari tangan  Arthritis yang simetris  Nodula reumatoid dan Faktor reumatoid dalam serum  Perubahan-perubahan radiologik (erosi atau dekalsifikasi tulang) Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabila sekurang- kurangnya empat dari tujuh kriteria ini terpenuhi. Empat kriteria yang disebutkan terdahulu harus sudah berlangsung sekurang-kurangnya 6 minggu.
  • 19.
    DEFINI DEMENSIA ? Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan fungsi vegetatif atau keadaan yang terjadi. Memori, pengetahuan umum, pikiran abstrak, penilaian, dan interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat terganggu. (Elizabeth J. Corwin, 2009)  Menurut Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.  Jadi, Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran, penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian.
  • 20.
    ETIOLOGI 1. Penyebab utamadari penyakit demensia adalah penyakit alzheimer 2. Penyebab kedua dari Demensia yaitu, serangan stroke yang berturut-turut.
  • 21.
    GEJALA DEMENSIA PADALANSIA 1. Adanya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. 2. Berupa depresi pada Lansia
  • 22.
    KLASIFIKASI DEMENSIA 1. MenurutKerusakan Struktur Otak a. Tipe Alzheimer b. Demensia vascular 2. Menurut umur a. Demensia senilis b. Demensia prasenilis
  • 23.
    Asuhan Keperawatan  Pengkajian Datadasar pengkajian pasien tergantung pada keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya (misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal), tahapan misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk – bentuk arthritis lainnya.  Pemeriksaan fungsi motorik 1. Tingkat aktivitas sehari-hari 2. Tingkat kelelahan 3. Gangguan pergerakan 4. Pemeriksaan fisik :  Tingkat kesadaran  Postur bentuk tubuh
  • 24.
    1. Aktivitas/ istirahat 2.Kardiovaskuler 3. Integritas ego 4. Makanan/ cairan 5. Hygiene 6. Neurosensori 7. Nyeri/ kenyamanan 8. Keamanan 9. Interaksi sosial 10. Pemeriksaan kekuatan otot Kriteria hasil pemeriksaan MMT :  Normal (5) : mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh, melawan gravitasi dan melawan tahan maksimal .  Good (4) : mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh melawan gravitasi dan melawan tahanan sedang (moderat)  Fair (3) : mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh dan melawan gravitasi tanpa tahanan.  Poor (2) : mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh tanpa melawan gravitasi  Trace (1) : tidak ada gerakan sendi, tetapi kontraksi otot dapat dipalpasi  Zero (0): kontraksi otot tidak terdeteksi dengan palpasi 11. Prosedur pelaksanan MMT 12. Pemeriksaan tonus otot 13. Pemeriksaan luas garak sendi 14. Pemeriksaan postur 15. Pemeriksaan kemampuan fungsional
  • 25.
    DIAGNOSA KEPERAWATAN SDKI  Gangguanmobilitas fisik (D0054)  Nyeri kronis (D0078)
  • 26.
    LUARAN: SLKI  mobilitasfisik :  ekspektasi : meningkat : pergerakan ekstremitas, kekuatan otot, rentang gerak (ROM)  ekspektasi menurun : nyeri, gerakan terbatas, kelemahan fisik  nyeri kronis : ekspektasi menurun : keluhan nyeri, meringis, sikap protektif, gelisah, ketegangan otot
  • 27.
    SIKI  MOBILITAS  dukunganmobilisasi, edukasi latihan fisik, manajemen program latihan, pemberian obat, pengaturan posisi, terapi aktifitas, terapi poemijatan  NYERI  terapi relaksasi, manajemen nyeri, dukungan hipnosis diri, edukasi aktivitas/ istirahat, pemberian obat, pengaturan posisi, terapi musik, terapi murottal, terapi sentuhan
  • 28.