ANTO APRIYANTO
P E N G E R T I A N I N T E G R A S I
• Kemitraanyang lebih sistematis dan eksentis antara sains dan
agama terjadi di kalangan yang mencari titik temu di antara keduanya.
O B S E R VA S I K R I T I S T E R H A D A P
I L M U I L M U K E I S L A M A N
• Ilmu ilmu keislaman bersifat repetitif selalu mengulang ulang, sarat dengan literatur literatur yang hanya
berupa komentar, penjelasan terhadap suatu karya, dan komentar terhadap komentar tersebut, serta sangat
sedikit membuahkan pikiran pikiran yang baru.
• Selama ini pergumulan intelektual islam tidak di arahkan untuk pencapaian-pencapaian gagasan yang baru,
melainkan hanya di manfaatkan untuk mempertahankan pengetahuan yang ada.
• Observasi kritis terhadap ilmu ilmu keislaman dapat di ungkapkan dengan menggunakan bahasa filsafat ilmu
kontemporer, dengan demikian kita dapat mengajukan pertanyaan mengapa kita seringkali menemukan
banyak hal dalam wilayah orbit konteks justifikasi pada ilmu ilmu keislaman dan amat sedikit sekali yang
berkaitan dengan konteks penemuan baru?
• Dari sudut pandang filsafat ilmu tradisional, penggunaan istilah sains merujuk pada ilmu ilmu sosial,
humaniora dan khususnya ilmu ilmu keislaman.
• Selagi ilmu ilmu keislaman dan studi studi keislaman dapat disebut sebagai sains maka usaha untuk
mempertemukan teori teri dan metodelogi ilmiah dengan bangunan ilmu ilmu keislaman tersebut adalah
suatu langkah yang valid untuk dilakukan, sehingga akan terjadi interaksi dan dialog yang kreatif di antara
komponen komponen tersebut dengan acuan dasar filsafat ilmu.
PERGUMULAN TEORI TEORI DALAM WACANA KEILMUAN:
SEPINTAS MENENGOK MASALAH PERTUMBUHAN ILMU.
• Pertumbuan ilmu pengetahuan adalah problem dari ilmu-ilmu keislaman
• Dua aliran filsafat tentang obyek ini yaitu tradisi yang bersifat naturalistik dan humanistik
• Naturalistik : Fokus kepada corrivibility, incorriibility, explanation, dan falsification.
• Humanistik : fokus kepada meaninf, ilmu sosial yang interpretatif dan explanatif, dan pendekatan-pendekatan yang
bersifat idealis dan reduksionis.
Menurut Kuhn, teori-teori tidak dapat diperbandingkan. Sedangkan hubungan antara paradigma dan teori disebut dengan
normal science. Serta perpindahan dari satu paradigma ke paradigma yang lain disebut scientific revolution.
• Berbeda pandangan dengan Kuhn, Lakatos menegaskan bahwa kita dapat membandingkan secara obyektif
kemajuan-kemajuan relatif yang dicapai oleh tradisi-tradisi riset yan salin berlomba.
• Yang mendorong adanya kemajuan ilmu pengetahuan adalah semangat dan etos dari para ilmuan dan peneliti
sendiri untuk memperbaiki, menyaring, menguji ulang, dan membatalkan teori-teori yang terdaulu.
R E S E A R C H P R O G R A M D A L A M T E R M I N O L O G I
L A K AT O S :
M E M P E R T E G A S W I L AYA H H I S T O R I TA S I L M U -
I L M U K E I S L A M A N
• Kontribusi dalam mengembangkan ilmu-ilmu keislaman tidak diragukan yang menjadi perhatian utama adalah
bagaimana memformulasikan tanggapan dan jawaban yang koheren terhadap hasil observasi kritis
• Islam normatif adalah sama atau paralel dengan yang dinamakan hard core dari sebuah cabang ilmu
• Islam historis adalah domain utama dari apa yang disebut sebuah ilmu, sistem pengetahuan yang secara
langsung dapat dinilai, diuji ulang, diteliti, dipertanyakan kembali.
• Kawasan yang memungkinkan untuk dilakukan rekostruksi adalah pada domain Islam Historis bukan pada
Islam Normatif
• Perkembangan pengetahuan yang sangat signifikan pada saat ini adalah perubahan dari fondationalism ke
holism
• Fondasionalism telah menimbulkan dampak pada wacana teologi modern secara khusus melihat bagaimana
kitab suci telah dipaksa untuk berperan memberikan fondasi.
K E T E R K A I T A N N O R M A T I V I T A S D A N H I S T O R I S I T A S
D A L A M S T U D I K E I S L A M A N :
L I N G K A R A N H E R M E N E U T I K A N T A R A B A H A S A
P E M I K I R A N D A N K E S E J A R A H A N D A L A M I L M U - I L M U
K E I S L A M A N
• Dari perspektif filsafat ilmu setiap ilmu baik ilmu alam, humaniora, sosial, agama atau ilmu-ilmu
keislaman harus diformulasikan yang dibangun diatas teori-teori yang berdasarkan pada kerangka
metodologi yang jelas. Dalam pengertian ini, teori-teori sebagai wujud ekspresi intelektual yang tidak
boleh disakralkan dan dogmatik.
• Teori-teori yang sudah ada terlebih dahulu tidak dijadikan garansi kebenaran
• Dalam pengertian yang demikian, penerapan filsafat ilmu dalam ilmu-ilmu keislaman harus dilakukan
karena pertimbangan filsafat ilmu saling berkaitan dengan sosiologi ilmu pengetahuan. Dua cabang ilmu
pengetahuan ini jarang dimasukkan dalam tradisi ilmu-ilmu keislaman padahal keduanya merupakan
prasyarat dan wacana awal yang harus dimengerti bagi para ilmuwan muslim yang ingin menghindarkan
diri dari tuduhan pembela studi Islam yang hanya bersifat pengulang-ulangan, statis, disakralkan dan
dogmatik
• Para sajana muslim khususnya yang berpegang pada tradisi keislaman dengan paradigma lama akan
menggunakan pendekatan filologi yang wataknya lebih tekstual.Namun,Fazlur Rahman sendiri telah
menempatkan “Islam Normatif” sebagai “Hard Core” yang pada dasarnya merujuk pada pendekatan
fenomenologis.Ilmu-ilmu keislaman yang telah dihubungkan dengan filsafat ilmu,secara lebih lanjut
harus mempertimbangkan tiga pendekatan yang berunsur linguistik-historis,teologis-filosofis,dan
sosiologis-antropologis.Ilmu-ilmu islam yang berdasarkan “teks” menggunakan pendekatan linguistik
dan filologis,studi keislaman yang berasal dari hasil pemikiran,ide-ide,norma-norma,konsep-
konsep,doktrin-doktrin menggunakan pendekatanteologis dan filosofis,serta studi keislaman yang
menekankan pada masalah yang berkaitan dengan interaksi sosial dalam “konteks” budaya dan
kesejarahan menggunakan pendekatan sisiologis,antropologis dan psikologis.
K E T E R K A I T A N N O R M A T I V I T A S D A N H I S T O R I S I T A S
D A L A M S T U D I K E I S L A M A N :
L I N G K A R A N H E R M E N E U T I K A N T A R A B A H A S A
P E M I K I R A N D A N K E S E J A R A H A N D A L A M I L M U - I L M U
K E I S L A M A N
• Lalu kerangka hubungan ketiganya harus menggunakan linier,paralelatau sirkuler? Para pendukung
model “linier” menggunakan pemikiran bahwa harus menguasai satu tradisi pembelajaran
akademik.Para pendukung model “paralel” menggunakan pemikiran menguasai berbagai tradisi,tetapi
tidak untuk meramu berbagai tradisi itu menjadi satu unit analisis terpadu.Sedangkan yang “sirkuler”
mempertimbangkan keseluruhan dari ketiga pendekatan mulyi dimernsi dalam mempelajari ilmu-ilmu
keislaman sebagai sesuatu yang utuh.Mengambil jalan tengah dengan memadukan ketiganya akan
menghasilkan keintegrasian dan kejituan dalam menanggapi dimensi-dimensi dalam keagaman
islam.Dengan demikian dapat disimpulkan tidak ada satu pendekatan ataupun disiplin ilmu yang dapat
berdiri sendiri.Gerakan dinamis ini disebut hermeneutik.
K E T E R K A I T A N N O R M A T I V I T A S D A N H I S T O R I S I T A S
D A L A M S T U D I K E I S L A M A N :
L I N G K A R A N H E R M E N E U T I K A N T A R A B A H A S A
P E M I K I R A N D A N K E S E J A R A H A N D A L A M I L M U - I L M U
K E I S L A M A N
CATATAN
• Dalam kajian epistemologi, terdapat kritik bagi epistemologi keilmuan modern barat, baik yang berasal dari
ilmuwan di Barat (Thomas Kuhn, Imre Lakatos, dll) ataupun dari luar ilmuwan (John Haught, Ian Barbour,
Fazlur Rahman, dll)
• Kritik tsb menunjukkan perlu adanya cara pandang (paradigma) baru dalam menggunakan ilmu di era
kontemporer ini, salah satunya adlah paradigma integrasi antara ilmu dan agama (Islam). Selain paradigma
integrasi banyak pula paradigma baru lainnya
• Amin Abdullah membedah Islam sebagai ilmu melalui kajian Islam historis (islam sebagaimana dipraktikkan
dan dihayati oleh pemeluknya, menjadi objek kajian ilmu pengetahuan) dan Islam normatif (Islam sebagai
doktrin dan ajaran, menjadi objek kajian ilmu-ilmu keagamaan Islam)
• Dalam perjalanannya, kedua aspek keilmuan Islam tidak bisa bergerak sendiri, tetapi saling membutuhkan
satu dengan lainnya. Artinya, kehidupan keberagamaan umat Islam (masuk kajian Islam historis) harus
melibatkan keilmuan2 sosial dan humaniora, yang pada akhirnya akan berkontribusi sebagai masukan atau
kritik bagi kajian Islam normatif (kajian ilmu keagamaan Islam, atau biasa disebut dirasat islamiyyah)

Anto Apriyanto - Integrasi Ilmu dan Agama.ppt

  • 1.
  • 2.
    P E NG E R T I A N I N T E G R A S I • Kemitraanyang lebih sistematis dan eksentis antara sains dan agama terjadi di kalangan yang mencari titik temu di antara keduanya.
  • 3.
    O B SE R VA S I K R I T I S T E R H A D A P I L M U I L M U K E I S L A M A N • Ilmu ilmu keislaman bersifat repetitif selalu mengulang ulang, sarat dengan literatur literatur yang hanya berupa komentar, penjelasan terhadap suatu karya, dan komentar terhadap komentar tersebut, serta sangat sedikit membuahkan pikiran pikiran yang baru. • Selama ini pergumulan intelektual islam tidak di arahkan untuk pencapaian-pencapaian gagasan yang baru, melainkan hanya di manfaatkan untuk mempertahankan pengetahuan yang ada. • Observasi kritis terhadap ilmu ilmu keislaman dapat di ungkapkan dengan menggunakan bahasa filsafat ilmu kontemporer, dengan demikian kita dapat mengajukan pertanyaan mengapa kita seringkali menemukan banyak hal dalam wilayah orbit konteks justifikasi pada ilmu ilmu keislaman dan amat sedikit sekali yang berkaitan dengan konteks penemuan baru? • Dari sudut pandang filsafat ilmu tradisional, penggunaan istilah sains merujuk pada ilmu ilmu sosial, humaniora dan khususnya ilmu ilmu keislaman. • Selagi ilmu ilmu keislaman dan studi studi keislaman dapat disebut sebagai sains maka usaha untuk mempertemukan teori teri dan metodelogi ilmiah dengan bangunan ilmu ilmu keislaman tersebut adalah suatu langkah yang valid untuk dilakukan, sehingga akan terjadi interaksi dan dialog yang kreatif di antara komponen komponen tersebut dengan acuan dasar filsafat ilmu.
  • 4.
    PERGUMULAN TEORI TEORIDALAM WACANA KEILMUAN: SEPINTAS MENENGOK MASALAH PERTUMBUHAN ILMU. • Pertumbuan ilmu pengetahuan adalah problem dari ilmu-ilmu keislaman • Dua aliran filsafat tentang obyek ini yaitu tradisi yang bersifat naturalistik dan humanistik • Naturalistik : Fokus kepada corrivibility, incorriibility, explanation, dan falsification. • Humanistik : fokus kepada meaninf, ilmu sosial yang interpretatif dan explanatif, dan pendekatan-pendekatan yang bersifat idealis dan reduksionis. Menurut Kuhn, teori-teori tidak dapat diperbandingkan. Sedangkan hubungan antara paradigma dan teori disebut dengan normal science. Serta perpindahan dari satu paradigma ke paradigma yang lain disebut scientific revolution. • Berbeda pandangan dengan Kuhn, Lakatos menegaskan bahwa kita dapat membandingkan secara obyektif kemajuan-kemajuan relatif yang dicapai oleh tradisi-tradisi riset yan salin berlomba. • Yang mendorong adanya kemajuan ilmu pengetahuan adalah semangat dan etos dari para ilmuan dan peneliti sendiri untuk memperbaiki, menyaring, menguji ulang, dan membatalkan teori-teori yang terdaulu.
  • 5.
    R E SE A R C H P R O G R A M D A L A M T E R M I N O L O G I L A K AT O S : M E M P E R T E G A S W I L AYA H H I S T O R I TA S I L M U - I L M U K E I S L A M A N • Kontribusi dalam mengembangkan ilmu-ilmu keislaman tidak diragukan yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana memformulasikan tanggapan dan jawaban yang koheren terhadap hasil observasi kritis • Islam normatif adalah sama atau paralel dengan yang dinamakan hard core dari sebuah cabang ilmu • Islam historis adalah domain utama dari apa yang disebut sebuah ilmu, sistem pengetahuan yang secara langsung dapat dinilai, diuji ulang, diteliti, dipertanyakan kembali. • Kawasan yang memungkinkan untuk dilakukan rekostruksi adalah pada domain Islam Historis bukan pada Islam Normatif • Perkembangan pengetahuan yang sangat signifikan pada saat ini adalah perubahan dari fondationalism ke holism • Fondasionalism telah menimbulkan dampak pada wacana teologi modern secara khusus melihat bagaimana kitab suci telah dipaksa untuk berperan memberikan fondasi.
  • 6.
    K E TE R K A I T A N N O R M A T I V I T A S D A N H I S T O R I S I T A S D A L A M S T U D I K E I S L A M A N : L I N G K A R A N H E R M E N E U T I K A N T A R A B A H A S A P E M I K I R A N D A N K E S E J A R A H A N D A L A M I L M U - I L M U K E I S L A M A N • Dari perspektif filsafat ilmu setiap ilmu baik ilmu alam, humaniora, sosial, agama atau ilmu-ilmu keislaman harus diformulasikan yang dibangun diatas teori-teori yang berdasarkan pada kerangka metodologi yang jelas. Dalam pengertian ini, teori-teori sebagai wujud ekspresi intelektual yang tidak boleh disakralkan dan dogmatik. • Teori-teori yang sudah ada terlebih dahulu tidak dijadikan garansi kebenaran • Dalam pengertian yang demikian, penerapan filsafat ilmu dalam ilmu-ilmu keislaman harus dilakukan karena pertimbangan filsafat ilmu saling berkaitan dengan sosiologi ilmu pengetahuan. Dua cabang ilmu pengetahuan ini jarang dimasukkan dalam tradisi ilmu-ilmu keislaman padahal keduanya merupakan prasyarat dan wacana awal yang harus dimengerti bagi para ilmuwan muslim yang ingin menghindarkan diri dari tuduhan pembela studi Islam yang hanya bersifat pengulang-ulangan, statis, disakralkan dan dogmatik
  • 7.
    • Para sajanamuslim khususnya yang berpegang pada tradisi keislaman dengan paradigma lama akan menggunakan pendekatan filologi yang wataknya lebih tekstual.Namun,Fazlur Rahman sendiri telah menempatkan “Islam Normatif” sebagai “Hard Core” yang pada dasarnya merujuk pada pendekatan fenomenologis.Ilmu-ilmu keislaman yang telah dihubungkan dengan filsafat ilmu,secara lebih lanjut harus mempertimbangkan tiga pendekatan yang berunsur linguistik-historis,teologis-filosofis,dan sosiologis-antropologis.Ilmu-ilmu islam yang berdasarkan “teks” menggunakan pendekatan linguistik dan filologis,studi keislaman yang berasal dari hasil pemikiran,ide-ide,norma-norma,konsep- konsep,doktrin-doktrin menggunakan pendekatanteologis dan filosofis,serta studi keislaman yang menekankan pada masalah yang berkaitan dengan interaksi sosial dalam “konteks” budaya dan kesejarahan menggunakan pendekatan sisiologis,antropologis dan psikologis. K E T E R K A I T A N N O R M A T I V I T A S D A N H I S T O R I S I T A S D A L A M S T U D I K E I S L A M A N : L I N G K A R A N H E R M E N E U T I K A N T A R A B A H A S A P E M I K I R A N D A N K E S E J A R A H A N D A L A M I L M U - I L M U K E I S L A M A N
  • 8.
    • Lalu kerangkahubungan ketiganya harus menggunakan linier,paralelatau sirkuler? Para pendukung model “linier” menggunakan pemikiran bahwa harus menguasai satu tradisi pembelajaran akademik.Para pendukung model “paralel” menggunakan pemikiran menguasai berbagai tradisi,tetapi tidak untuk meramu berbagai tradisi itu menjadi satu unit analisis terpadu.Sedangkan yang “sirkuler” mempertimbangkan keseluruhan dari ketiga pendekatan mulyi dimernsi dalam mempelajari ilmu-ilmu keislaman sebagai sesuatu yang utuh.Mengambil jalan tengah dengan memadukan ketiganya akan menghasilkan keintegrasian dan kejituan dalam menanggapi dimensi-dimensi dalam keagaman islam.Dengan demikian dapat disimpulkan tidak ada satu pendekatan ataupun disiplin ilmu yang dapat berdiri sendiri.Gerakan dinamis ini disebut hermeneutik. K E T E R K A I T A N N O R M A T I V I T A S D A N H I S T O R I S I T A S D A L A M S T U D I K E I S L A M A N : L I N G K A R A N H E R M E N E U T I K A N T A R A B A H A S A P E M I K I R A N D A N K E S E J A R A H A N D A L A M I L M U - I L M U K E I S L A M A N
  • 9.
    CATATAN • Dalam kajianepistemologi, terdapat kritik bagi epistemologi keilmuan modern barat, baik yang berasal dari ilmuwan di Barat (Thomas Kuhn, Imre Lakatos, dll) ataupun dari luar ilmuwan (John Haught, Ian Barbour, Fazlur Rahman, dll) • Kritik tsb menunjukkan perlu adanya cara pandang (paradigma) baru dalam menggunakan ilmu di era kontemporer ini, salah satunya adlah paradigma integrasi antara ilmu dan agama (Islam). Selain paradigma integrasi banyak pula paradigma baru lainnya • Amin Abdullah membedah Islam sebagai ilmu melalui kajian Islam historis (islam sebagaimana dipraktikkan dan dihayati oleh pemeluknya, menjadi objek kajian ilmu pengetahuan) dan Islam normatif (Islam sebagai doktrin dan ajaran, menjadi objek kajian ilmu-ilmu keagamaan Islam) • Dalam perjalanannya, kedua aspek keilmuan Islam tidak bisa bergerak sendiri, tetapi saling membutuhkan satu dengan lainnya. Artinya, kehidupan keberagamaan umat Islam (masuk kajian Islam historis) harus melibatkan keilmuan2 sosial dan humaniora, yang pada akhirnya akan berkontribusi sebagai masukan atau kritik bagi kajian Islam normatif (kajian ilmu keagamaan Islam, atau biasa disebut dirasat islamiyyah)