PELAKSANAAN AKSI KONVERGENSI
PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING
Implementasi Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021
TA LGCB-ASR 2 DITJEN BANGDA KEMENDAGRI
Palembang, 15 – 17 Maret 2022
Strategi Percepatan Penurunan Stunting
Menurunkan prevalensi Stunting;
Meningkatkan kualitas penyiapan
kehidupan berkeluarga;
Menjamin pemenuhan asupan gizi;
Memperbaiki pola asuh;
Meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan;
Meningkatkan akses air minum dan sanitasi.
5 Pilar Strategi Percepatan Penurunan Stunting
PILAR 1
Peningkatan komitmen dan visi
kepemimpinan di
kementerian/lembaga,
Pemerintah Daerah provinsi,
Pemerintah Daerah
kabupatenfkota, dan
Pemerintah Desa;
Peningkatan
komunikasi
perubahan perilaku
dan pemberdayaan
masyarakat;
PILAR 2
peningkatan
konvergensi
Intervensi Spesifik
dan Intervensi
Sensitif di K/L,
Pemerintah Provinsi,
Pemerintah
Kab/kota, dan
Pemerintah Desa
PILAR 3
Peningkatan
ketahanan pangan
dan gizi pada
tingkat individu,
keluarga, dan
masyarakat;
PILAR 4
Penguatan dan
pengembangan
sistem, data,
informasi, riset,
dan inovasi.
PILAR 5
Indikator Stranas Untuk Pemda Kab/Kota
Kelompok
sasaran
1. Persentase remaja putri yang menerima layanan pemeriksaan status
anemia (hemoglobin)
2. Remaja putri yang mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD)
3. Persentase calon pengantin/calon ibu yang menerima Tablet Tambah
Darah (TTD)
4. Calon pasangan usia subur (PUS) yang memperoleh pemeriksaan
kesehatan sebagai bagian dari pelayanan nikah
5. Cakupan calon PUS yang menerima pendampingan kesehatan
reproduksi dan edukasi gizi sejak 3 bulan pra-nikah
6. Pasangan calon pengantin yang mendapatkan bimbingan perkawinan
dengan materi pencegahan stunting
7. Cakupan PUS dengan status miskin dan penyandang masalah
kesejahteraan sosial yang menerima bantuan tunai bersyarat
8. Cakupan PUS dengan status miskin dan penyandang masalah
kesejahteraan sosial yang menerima bantuan pangan non-tunai
9. Cakupan PUS dengan status miskin dan penyandang masalah
kesejahteraan sosial yang menerima Penerima Bantuan Iuran (PBI)
Calon pengantin/remaja/PUS
1. Persentase bayi usia kurang dari 6
bulan mendapat air susu ibu (ASI)
eksklusif
2. Persentase anak usia 6-23 bulan yang
mendapat Makanan Pendamping Air
Susu Ibu (MP-ASI)
3. Persentase anak berusia di bawah
lima tahun (balita) gizi buruk yang
mendapat pelayanan tata laksana
gizi buruk
4. Anak berusia di bawah lima tahun
(balita) yang dipantau pertumbuhan
dan perkembangannya
5. Persentase anak berusia di bawah
lima tahun (balita) gizi kurang yang
mendapat tambahan asupan gizi
6. Persentase balita yang memperoleh
imunisasi dasar lengkap
1.Persentase ibu hamil
Kurang Energi Kronik
(KEK) yang menerima
tambahan asupan gizi
2.Persentase ibu hamil
yang mengonsumsi
Tablet Tambah Darah
(TTD) minimal 90 tablet
selama masa
kehamilan.
1. Persentase
pelayanan
keluarga
berencana
pasca
melahirka
n
2. Persentase
unmet
need
pelayanan
keluarga
berencana
Ibu hamil
Ibu masa
interval
Balita (0-59 bulan)
Keluarga:
1. Persentase keluarga yang stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS)
2. Persentase keluarga yang melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
3. Persentase Keluarga berisiko stunting yang mendapatkan promosi peningkatan konsumsi ikan dalam negeri
4. Persentase Pelayanan Keluarga Berencana (KB) pascapersalinan
5. Cakupan Keluarga berisiko stunting yang memperoleh pendampingan
6. Persentase Keluarga berisiko stunting yang mendapatkan manfaat sumber daya pekarangan untuk peningkatan asupan gizi
7. Rumah tangga yang mendapatkan akses air minum layak
8. Rumah tangga yang mendapatkan akses sanitasi (air limbah domestik) layak
9. Kelompok Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) yang mengikuti Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) dengan modul kesehatan dan gizi
10. Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan ibu hamil, ibu menyusui, dan baduta yang menerima variasi bantuan pangan selain beras dan telur
Terdapat 29
indikator dengan PJ-
nya adalah Pemerintah
Daerah kab/kota dengan
unit intervensi
remaja, ibu hamil, ibu
masa interval, balita dan
keluarga
(sumber: Perpres
72/2021)
PERAN KABUPATEN/KOTA
DALAM PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING
Menetapkan Tim Percepatan Penurunan Stunting tingkat kabupaten /kota
Merumuskan kebijakan daerah yang mendukung upaya percepatan penurunan stunting,
termasuk peningkatan peran camat dalam mengoordinasikan perencanaan, pelaksanaan,
dan pengendalian percepatan penurunan stunting di wilayahnya
Menetapkan target percepatan penurunan stunting untuk mendukung pencapaian target
nasional
Menetapkan program dan kegiatan terkait penurunan stunting, dalam dokumen
perencanaan dan penganggaran
01
02
03
04
05
Mencanangkan komitmen bersama antara pemerintahan daerah, kecamatan,
desa/kelurahan, dan unsur masyarakat untuk mendukung penuh upaya
percepatan penurunan stunting secara konsisten dan berkelanjutan;
PERAN KABUPATEN/KOTA
DALAM PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING
Menyelenggarakan pelatihan untuk peningkatan kapasitas OPD kabupaten/kota terkait
dan aparat desa/kelurahan dalam melaksanakan Aksi Konvergensi/Aksi Integrasi
penurunan stunting
Meningkatkan dan/atau membangun sistem manajemen data yang terkait dengan
penurunan stunting (Sistem pencatatan dan pelaporan)
Meningkatkan koordinasi dengan K/L, provinsi, desa/kelurahan, dan pihak lainnya yang
terkait dalam pelaksanaan Aksi Konvergensi/Aksi Integrasi penurunan stunting
Mensosialisasikan kebijakan terkait upaya percepatan penurunan stunting sebagai salah
satu prioritas pembangunan nasional, khususnya kepada kecamatan dan desa/kelurahan;
06
07
08
09
PERAN KABUPATEN/KOTA
DALAM PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING
Mengalokasikan dana bantuan khusus bagi desa/kelurahan serta meningkatkan alokasi
penggunaan dana desa untuk penurunan stunting secara efektif.
Melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penurunan
stunting
Melibatkan peran multisektor termasuk non pemerintahah dalam upaya penurunan stunting
11
12
13
10 Melaksanakan 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting
8 Aksi Integrasi di Tingkat Kab/Kota
“Merupakan instrumen dalam bentuk kegiatan untuk
meningkatkan konvergensi intervensi spesifik dan sensitif
percepatan penurunan stunting”
PIC:TPPS
PIC:TPPS
PIC: TPPS
PIC: TPPS
PIC:TPPS
PIC: TPPS
PIC: TPPS
PIC: TPPS
Aksi 1: Mengidentifikasi sebaran prevalensi stunting, Keluarga berisiko stunting,
kondisi cakupan layanan, situasi ketersediaan program, dan praktik
manajemen layanan saatini
Aksi 2: Rencana tindak lanjut kabupaten/kota dalam merealisasikan
rekomendasi hasil analisis situasi dan 64 Indikator target
Aksi 3: Memastikan terjadinya integrasi pelaksanaan intervensi antara OPD
dengan non-pemerintah dan masyarakat luas secara melalui Rembuk Stunting
tingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten/Kota
Aksi 4: Peraturan Bupati/Walikota Tentang upaya percepatan penurunan stunting
dan pembagian peran pihak dari tingkat Desa/Kelurahan hingga tingkat
Kabupaten/Kota
Aksi 5: Pembinaan pemerintah Desa/kelurahan dan masyarakat
Aksi 6: Upaya pengelolaan data di tingkat kabupaten/kota sampai tingkatdesa/
kelurahan dalam mendukung pelaksanaan percepatan penurunan stunting.
Aksi 7: Publikasi hasil analisis prevalensi dan hasil audit stunting
Aksi 8: Review yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota terhadap kinerja
program percepatan penurunan stunting selama satu tahun terakhir
Data Keluarga Berisiko, Prevalensi dan Jumlah Kasus Stunting
Keluarga Berisiko Keluarga yang memiliki satu atau lebih faktor risiko Stunting yang terdiri dari keluarga yang
memiliki anak remaja puteri/calon pengantin/Ibu Hamil/Anak usia 0 (nol)-23 (dua puluh tiga) bulan/anak usia 24
(dua puluh empat)-59 (lima puluh sembilan) bulan berasal dari keluarga miskin, pendidikan orang tua
rendah, sanitasi lingkungan buruk, dan air minum tidak layak. (Perban 12 tahun 2021)
Nominator : Jumlah Keluarga Berisiko Stunting dalam Desa/Kelurahan
Denominator : Jumlah Keluarga dalam Desa/Kelurahan
Penanggungjawab data : OPD KB
Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi
berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar yang ditetapkan
oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan. (Perpres 72/2021)
Nominator : Jumlah Anak Balita Pendek dan Sangat Pendek dalam Desa/Kelurahan
Denominator : Jumlah Anak Balita yang diukur dalam Desa/Kelurahan
Penanggungjawab data : OPD Kesehatan
INDIKATOR TARGET
PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING
No. Nama Indikator Definisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab
1 Persentase remaja
putri yang
mengonsumsi Tablet
Tambah Darah (TTD)
Persentase remaja putri mendapat TTD adalah
jumlah remaja putri yang mendapat TTD secara rutin
setiap minggu terhadap jumlah remaja putri yang ada
dikali 100%.
Dinas Kesehatan,
DPMD, Disdik,
Kemenag,
DP3A,DPPKB
2 Persentase remaja
putri yang menerima
layanan pemeriksaan
status anemia
(hemoglobin)
Persentase remaja putri yang menerima layanan
pemeriksaan status anemia (hemoglobin) terhadap
jumlah remaja putri
Dinas Kesehatan,
DPMD, Disdik,
Kemenag
3 Calon pengantin
/calon ibu yang
menerima Tablet
Tambah Darah (TTD)
Jumlah Calon pengantin /calon ibu yang menerima
Tablet Tambah Darah (TTD) terhadap seluruh calon
PUS
catin: Penyedia TTD adalah Puskesmas,
catin: calon pengantin yang dalam waktu dekat akan
melangsungkan pernikahan, kerjasama dgn kemenag
kmenkes
sumber data :
Dinkes , Kemenag,
Dinas KB
4 Cakupan calon
Pasangan Usia Subur
(PUS) yang
memperoleh
pemeriksaan
kesehatan sebagai
bagian dari pelayanan
pra nikah
Cakupan calon Pasangan Usia Subur (PUS) yang
memperoleh pemeriksaan kesehatan sebagai bagian
dari pelayanan nikah terhadap seluruh Calon
Pasangan Usia Subur.
Catin = Calon Pus, yang mendaftar pra nikah 3 bulan
sebelum menikah
pemeriksaan terutama perempuan: 4 keteranGan,
BB, TB, LiLA, kadar Hb, merokok/Tidak
sumber data :harapan menjadi satu kesatuan dalam
SOP pelayanan pra nikah
Dinkes , Kemenag,
Dinas KB
𝑅𝑒𝑚𝑎𝑗𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑟𝑖 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑇𝑇𝐷
𝑅𝑒𝑚𝑎𝑗𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑟𝑖
x 100
𝑅𝑒𝑚𝑎𝑗𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑟𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛
𝑝𝑒𝑚𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑡𝑢𝑠 𝑎𝑛𝑒𝑚𝑖𝑎 (ℎ𝑒𝑚𝑜𝑔𝑙𝑜𝑏𝑖𝑛)
𝑅𝑒𝑚𝑎𝑗𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑟𝑖
x 100
𝐶𝑎𝑡𝑖𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑇𝑇𝐷
𝐶𝑎𝑙𝑜𝑛 𝑃𝑈𝑆/𝐶𝑎𝑡𝑖𝑛 x 100
𝐶𝑎𝑙𝑜𝑛 𝑃𝑈𝑆 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑝𝑒𝑚𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎𝑎𝑛
𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑝𝑟𝑎 𝑛𝑖𝑘𝑎ℎ
𝐶𝑎𝑙𝑜𝑛 𝑃𝑈𝑆
x 100
No. Nama Indikator Definisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab
5 Cakupan calon Pasangan
Usia Subur (PUS) yang
menerima pendampingan
kesehatan reproduksi dan
edukasi gizi sejak 3 bulan
pra nikah
Cakupan calon Pasangan Usia Subur (PUS)
yang menerima pendampingan kesehatan
reproduksi dan edukasi gizi sejak 3 bulan pra
nikah terhadap seluruh calon PUS
Dinas KB, Dinas
Kesehatan,
Kemenag
6 Persentase pasangan calon
pengantin yang
mendapatkan bimbingan
perkawinan dengan materi
pencegahan stunting
Persentase pasangan calon pengantin yang
mendapatkan bimbingan perkawinan dengan
materi pencegahan stunting terhadap seluruh
calon pengantin
Bimbingan perkawinan : ada buku berkaitan
dengan materi bimbingan tentang stunting
Dinas KB, Dinas
Kesehatan,
Kemenag
7 Cakupan Pasangan Usia
Subur (PUS) dengan status
miskin dan penyandang
masalah kesejahteraan
sosial yang menerima
bantuan tunai bersyarat
Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) dengan
status miskin dan penyandang masalah
kesejahteraan sosial yang menerima bantuan
tunai bersyarat terhadap jumlah PUS dengan
status miskin
Dinsos, Dinas KB
8 Cakupan PUS yang
memperoleh bantuan
pangan non tunai
Cakupan PUS yang memperoleh bantuan
pangan non tunai terhadap seluruh PUS
(bantuan sembako/BPNT)
Dinas KB, Dinas
Sosial
𝐶𝑎𝑙𝑜𝑛 𝑃𝑈𝑆 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑚𝑝𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛
𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑟𝑒𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖
𝑑𝑎𝑛 𝑒𝑑𝑢𝑘𝑎𝑠𝑖 𝑔𝑖𝑧𝑖 3 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑝𝑟𝑎𝑛𝑖𝑘𝑎ℎ
𝐶𝑎𝑙𝑜𝑛 𝑃𝑈𝑆
x 100
𝑐𝑎𝑡𝑖𝑛/𝑐𝑎𝑃𝑈𝑆 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛
𝑏𝑖𝑚𝑏𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑘𝑎𝑤𝑖𝑛𝑎𝑛
𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑡𝑒𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑐𝑒𝑔𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔
𝑐𝑎𝑡𝑖𝑛/𝑐𝑎𝑃𝑈𝑆
x 100
𝑃𝑈𝑆 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑏𝑎𝑛𝑡𝑢𝑎𝑛
𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑛𝑜𝑛 𝑡𝑢𝑛𝑎𝑖
𝑃𝑈𝑆
x 100
𝑃𝑈𝑆 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑡𝑢𝑠 𝑚𝑖𝑠𝑘𝑖𝑛 𝑑𝑎𝑛
𝑝𝑒𝑛𝑦𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ
𝑘𝑒𝑠𝑒𝑗𝑎𝑡𝑒𝑟𝑎𝑎𝑛 𝑠𝑜𝑠𝑖𝑎𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎
𝑏𝑎𝑛𝑡𝑢𝑎𝑛 𝑡𝑢𝑛𝑎𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑦𝑎𝑟𝑎𝑡
𝑃𝑈𝑆 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑡𝑢𝑠 𝑚𝑖𝑠𝑘𝑖𝑛
x 100
No. Nama Indikator Definisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab
9 Cakupan Pasangan Usia
Subur (PUS) fakir miskin
dan orang tidak mampu
yang menjadi Penerima
Bantuan Iuran (PBI)
Jaminan Kesehatan
Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) fakir
miskin dan orang tidak mampu yang menjadi
Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan
Kesehatan terhadap PUS dengan status miskin
Dinsos, Dinas KB
10 Persentase ibu hamil
Kurang Energi Kronik (KEK)
yang mendapatkan
tambahan asupan gizi
Persentase Ibu hamil dengan resiko KEK yang
ditandai dengan ukuran LiLA (lingkar lengan
atas) kurang dari 23,5 cm yang mendapatkan
maknan tambahan asupan zat gizi diluar
makanan utama dalam bentuk tambahan
makanan pabrikan maupun pangan lokal
Dinas Kesehatan
11 Persentase ibu hamil yang
mengonsumsi Tablet
Tambah Darah (TTD)
minimal 90 tablet selama
masa kehamilan
Persentase Ibu hamil mengkonsumsi Tablet
Tambah Darah (TTD) minimal 90 tablet selama
masa kehamilan dibandingkan terhadap
seluruh Ibu Hamil.
Dinas Kesehatan
𝑃𝑈𝑆 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑓𝑎𝑘𝑖𝑟 𝑚𝑖𝑠𝑘𝑖𝑛 𝑑𝑎𝑛
𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑚𝑝𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖
𝑝𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝐵𝑎𝑛𝑡𝑢𝑎𝑛 𝐼𝑢𝑟𝑎𝑛
𝐽𝑎𝑚𝑖𝑛𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛
𝑃𝑈𝑆 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑡𝑢𝑠 𝑚𝑖𝑠𝑘𝑖𝑛
x 100
𝐼𝑏𝑢 𝐻𝑎𝑚𝑖𝑙 𝐾𝐸𝐾 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛
𝑎𝑠𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑔𝑖𝑧𝑖
𝐼𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙 𝐾𝐸𝐾
x 100
𝐼𝑏𝑢 𝐻𝑎𝑚𝑖𝑙 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖
𝑇𝑇𝐷 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑎𝑙 90 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒𝑡
𝐼𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙
x 100
No. Nama Indikator Definisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab
12 Persentase Unmet need
pelayanan keluarga
berencana
Persentase wanita kawin 15-49 tahun
(pasangan usia subur) yang tidak ingin
mempunyai anak (lagi) atau ingin
menjarangkan kelahiran berikutnya tetapi tidak
menggunakan metode kontrasepsi apapun.
U : UL+ US
U : Total Unmet Need
UL : Unmet need untuk pembatasan
kelahiran
US : Unmet need untuk penjarangan
kelahiran
Dinas KB
13 Persentase kehamilan yang
tidak diinginkan
Persentase kehamilan yang tidak diinginkan
terhadap seluruh kehamilan
Kehamilan yang dialami oleh perempuan yang
sebenarnya belum menginginkan kehamilan
atau sudah tidak menginginkan kehamilan
tersebut
Dinas KB, ???
14 Persentase pelayanan
Keluarga Berencana (KB)
pasca persalinan
Persentase pelayanan KB Pasca Persalinan
terhadap seluruh Persalinan.
- Penggunaan metode kontrasepsi setelah
melahirkan sampai 6 minggu atau 42 hari
setelah melahirkan (kamus istilah bangga
kencana)
Dinas KB, Dinas
Kesehatan
15 Keluarga berisiko stunting
yang memperoleh
pendampingan
Persentase layanan pendampingan terhadap
seluruh keluarga berisiko stunting
Dinas KB
𝐾𝑒ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑑𝑖𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛
𝐾𝑒ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙𝑎𝑛
x 100
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛 𝐾𝐵 𝑃𝑎𝑠𝑐𝑎 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑎𝑛
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑎𝑛
x 100
𝐾𝑒𝑙𝑢𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔
𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑚𝑝𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛
𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔
x 100
No. Nama Indikator Definisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab
16 Persentase bayi usia
kurang dari 6 bulan
mendapat Air Susu Ibu
(ASI) eksklusif
Persentase bayi usia dibawah 6 bulan yang
mendapatkan ASI eksklusif (ASI saja tanapa
makanan tanpa makanan atau cairan lain
kecuali obat dan vitamin, mineral berdasarkan
recall 24 jam terakhir) terhadap seluruh bayi
dibawah 6 bulan.
Dinas Kesehatan
17 Persentase anak usia 6-23
bulan yang mendapat
Makanan Pendamping Air
Susu Ibu (MP-ASI)
Persentase Anak usia 6-23 bulan
mendapatkan Makanan Pendamping ASI (MP-
ASI) dibandingkan dengan Seluruh anak usia
6-23 bulan.
Dinas Kesehatan
18 Persentase anak berusia
dibawah lima tahun (balita)
gizi buruk yang mendapat
pelayanan tata laksana gizi
buruk
Persentase balita (0-59 bulan) gizi buruk yang
mendapat perawatan (baik rawat inap ataupun
rawat jalan di faskes dan masyarakat sesuai
dengan tata laksana gizi buruk terhadap
jumlah Seluruh balita (0-59 bulan) gizi buruk
Dinas Kesehatan
19 Persentase anak berusia di
bawah lima tahun (balita)
yang dipantau pertumbuhan
dan perkembangannya
Persentase anak berusia di bawah lima tahun
(balita) yang dipantau pertumbuhan dan
perkembangannya terhadap seluruh balita.
Dinas Kesehatan
20 Persentase anak berusia di
bawah lima tahun (balita)
gizi kurang yang mendapat
tambahan asupan gizi
Persentase anak berusia di bawah lima tahun
(balita) gizi kurang yang mendapat tambahan
asupan gizi terhadap seluruh balita kurang gizi.
Balita Gizi kurang adalah balita dengan indeks
berat badan menurut panjang/tinggi badan
memiliki z-score -3 SD smp -2 SD. Tambahan
asupan gizi adalah tambahan asupan selain
makanan utama dalam bentuk makanan
tambahan pabrikan dan pangan lokal
Dinas Kesehatan
𝐵𝑎𝑦𝑖 𝑢𝑠𝑖𝑎 <6 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐴𝑆𝐼 𝐸𝑘𝑠𝑘𝑙𝑢𝑠𝑖𝑓
𝐵𝑎𝑦𝑖 𝑢𝑠𝑖𝑎 <6 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛
x 100
𝐴𝑛𝑎𝑘 𝑢𝑠𝑖𝑎 6 −23 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑀𝑃−𝐴𝑆𝐼
𝐴𝑛𝑎𝑘 𝑢𝑠𝑖𝑎 6−23𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛
x 100
𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝐺𝑖𝑧𝑖 𝐵𝑢𝑟𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛
𝑡𝑎𝑡𝑎 𝑙𝑎𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎 𝑔𝑖𝑧𝑖
𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐺𝑖𝑧𝑖 𝐵𝑢𝑟𝑢𝑘
x 100
𝐴𝑛𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑑𝑖𝑏𝑎𝑤𝑎ℎ 𝑙𝑖𝑚𝑎 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
𝑑𝑖𝑝𝑎𝑛𝑡𝑎𝑢 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ𝑎𝑛
𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛
𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎
x 100
𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝐺𝑖𝑧𝑖 𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡
𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑠𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑔𝑖𝑧𝑖
𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑔𝑖𝑧𝑖 𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔
x 100
No. Nama Indikator Definisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab
21 Persentase anak berusia di
bawah lima tahun (balita)
yang memperoleh imunisasi
dasar lengkap
Persentase anak berusia di bawah lima tahun
(balita) yang memperoleh imunisasi dasar
lengkap (IDL) terhadap seluruh balita.
Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) adalah
imunisasi yang diberikan kepada anak
dibawah 1 tahun yang terdisi dari 5 jenis yaitu
: 1 kali BCG, 3 kali Polio, 3 kali DPT, 3 kali HB,
1 kali Campak. (baris 1261)
Dinas Kesehatan
22 Persentase keluarga yang
stop Buang Air Besar
Sembarangan (BABS)
Persentase keluarga stop Buang Air Besar
Sembarangan (BABS) atau Open Defacation
Free (ODF) terhadap seluruh keluarga.
Dinas Kesehatan
23 Persentase keluarga yang
melaksanakan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS)
Persentase keluarga yang melaksanakan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
terhadap seluruh keluarga
Dinas Kesehatan
24 Persentase keluarga
berisiko Stunting yang
mendapatkan promosi
peningkatan konsumsi ikan
dalam negeri
Persentase keluarga berisiko Stunting yang
mendapatkan promosi peningkatan konsumsi
ikan dalam negeri terhadap keluarga beresiko
stunting (data tahunan dan level nasional,
datanya berasal dari BPS)
Dinas KB
Dinas Perikanan
25 Persentase rumah tangga
yang mendapatkan akses
air minum layak di
kabupaten/kota lokasi
prioritas
Persentase rumah tangga yang mendapatkan
akses air minum (mengacu perataturan BPS
No 4 tahun 2021) layak di kabupaten/kota
lokasi prioritas terhadap seluruh rumah tangga
pada lokasi prioritas.
Dinkes
𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑝𝑡𝑘𝑎𝑛 𝐼𝐷𝐿
𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎
x 100
𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑠𝑡𝑜𝑝 𝐵𝐴𝐵𝑆 𝑑𝑎𝑛 𝑂𝐷𝐹
𝑆𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎
x
100
𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑝𝑒𝑟𝑖𝑙𝑎𝑘𝑢
𝐻𝑖𝑑𝑢𝑝 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝑆𝑒ℎ𝑎𝑡 (𝑃𝐻𝐵𝑆)
𝑆𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎
x 100
𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔
𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑟𝑜𝑚𝑜𝑠𝑖
𝑃𝑒𝑛𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖
𝐼𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑛𝑒𝑔𝑒𝑟𝑖
𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔
x 100
𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑝𝑡
𝑎𝑘𝑠𝑒𝑠 𝑎𝑖𝑟 𝑚𝑖𝑛𝑢𝑚 𝑙𝑎𝑦𝑎𝑘
𝑑𝑖
𝑘𝑎𝑏
𝑘𝑜𝑡𝑎
𝑝𝑟𝑖𝑜𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠
𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑑𝑖
𝑘𝑎𝑏
𝑘𝑜𝑡𝑎
𝑝𝑟𝑖𝑜𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠
x 100
No. Nama Indikator Definisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab
26 Persentase rumah tangga
yang mendapatkan akses
sanitasi (air limbah
domestik) layak di
kabupaten/kota lokasi
prioritas
Persentase rumah tangga yang mendapatkan
akses sanitasi (air limbah domestik) yang layak
di kabupaten/kota lokasi prioritas terhadap
seluruh rumah tangga yang ada di
kabupaten/kota lokasi prioritas. (7 prov dengan
prevalensi tinggi, dan jum penduduk)
Dinas Kesehatan
27 Persentase keluarga
berisiko Stunting yang
mendapatkan manfaat
sumber daya pekarangan
untuk peningkatan asupan
gizi
Persentase keluarga berisiko Stunting yang
mendapatkan manfaat sumber daya
pekarangan untuk peningkatan asupan gizi
terhadap keluarga beresiko stunting
Dinas KB, Dinas
Ketahanan Pangan
𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑝𝑡 𝑎𝑘𝑠𝑒𝑠 𝑠𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎𝑠𝑖
𝑙𝑎𝑦𝑎𝑘 𝑑𝑖
𝑘𝑎𝑏
𝑘𝑜𝑡𝑎
𝑝𝑟𝑖𝑜𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠
𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑑𝑖
𝑘𝑎𝑏
𝑘𝑜𝑡𝑎
𝑝𝑟𝑖𝑜𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠
x 100
𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔
𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡
𝑠𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟𝑑𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘
𝑝𝑒𝑛𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑎𝑠𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑔𝑖𝑧𝑖
𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔
x 100
No. Nama Indikator Definisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab
28 Persentase Kelompok
Keluarga Penerima Manfaat
(KPM) Program Keluarga
Harapan (PKH) yang
mengikuti Pertemuan
Peningkatan Kemampuan
Keluarga (P2K2) dengan
modul kesehatan dan gizi
Persentase Kelompok Keluarga Penerima
Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan
(PKH) yang mengikuti Pertemuan Peningkatan
Kemampuan Keluarga (P2K2) dengan modul
kesehatan dan gizi terhadap keluarga penerima
PKH
data# bulanan
Dinas Sosial
29 Persentase Keluarga
Penerima Manfaat (KPM)
dengan ibu hamil, ibu
menyusui, dan anak berusia
di bawah dua tahun (baduta)
yang menerima variasi
bantuan pangan selain
beras dan telur (karbohidrat,
protein hewani, protein
nabati,
vitamin dan mineral,
dan/atau Makanan
Pendamping Air Susu
Ibu/MP-ASI).
Persentase Keluarga Penerima Manfaat (KPM)
dengan ibu hamil, ibu menyusui, dan anak
berusia di bawah dua tahun (baduta) yang
menerima variasi bantuan pangan selain beras
dan telur (karbohidrat, protein hewani, protein
nabati,
vitamin dan mineral, dan/atau Makanan
Pendamping Air Susu Ibu/MP-ASI) terhadap
keluarga penerima manfaat
berkaitan dengan PKH,
sumber direktorat jaminan sosisal keluarga
Dinas Sosial
𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡 𝑃𝐾𝐻
𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑘𝑢𝑡𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑒𝑚𝑢𝑎𝑛
𝑃𝑒𝑛𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑚𝑎𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛
𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 (𝑃2𝐾2)𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛
𝑚𝑜𝑑𝑢𝑙 𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑔𝑖𝑧𝑖
𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑃𝐾𝐻
x 100
𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡
𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑖𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙,𝑚𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑖,
𝑑𝑎𝑛 𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑏𝑎𝑑𝑢𝑡𝑎
𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑠𝑖
𝑏𝑎𝑛𝑡𝑢𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛
𝑠𝑒𝑙𝑎𝑖𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑙𝑢𝑟
𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡
x 100
NO CAKUPAN LAYANAN SUPPLY URUSAN
1 Cakupan Bantuan Jaminan Nasional Penerima Iuran (PBI) Kesehatan
Sosial
Kesehatan
2 Jumlah Keluarga Miskin dan rentan yang memperoleh bantuan tunai bersyarat Sosial
3 Jumlah keluarga miskin dan rentan yang menerima bantuan sosial pangan Sosial
4
Jumlah pendampingan Program Keluarga Harapan (PKH) yang terlatih modul kesehatan
dan gizi
Sosial
5 Terselenggaranya rembuk stunting tingkat kabupaten/kota
6 Terselenggarannya rembuk stunting tingkat kecamatan
7
Tersedianya kebijakan/peraturan bupati/walikota tentang kewenangan desa/kelurahan dalam
penurunan stunting
8
Terselenggaranya pemantauan dan evaluasi percepatan penurunan stunting di pemerintah
daerah kabupaten/kota
9 Persentase desa/kelurahan yang melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Kesehatan
10
Persentase kabupaten/kota yang mengimplementasikan sistem data Surveilans gizi
elektronik dalam pemantauan intervensi gizi untuk penurunan stunting
Kesehatan
11 Jumlah Desa/Kelurahan yang telah tebebas dari buang air besar sembarangan (ODF) Kesehatan
12
Persentase target sasaran yang memiliki pemahaman yang baik tentang stunting di lokasi
prioritas
Kesehatan
13 Publikasi data stunting tingkat Kabupaten/Kota Kesehatan
14 Terpenuhinya standar pelayanan pemantauan tumbuh kembang di posyandu Kesehatan
15 Terselenggaranya audit anak berusia dibawah dua tahun (baduta) Stunting Kesehatan
16 Tersedianya bidan desa/kelurahan sesuai kebutuhan Kesehatan
NO CAKUPAN LAYANAN SUPPLY URUSAN
17
Jumlah pemerintah desa yang mendapatkan peningkatan kapasitas dalam penanganan
percepatan penurunan stunting
Pemberdayaan Masyarakat
Desa Tata pemerintahan
18
Persentase desa/kelurahan yang kader pembangunan manusianya mendapatkan
pembinaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
Pemberdayaan Masyarakat
Desa Tata pemerintahan
`19
Persentase desa/kelurahan yang mengintegrasikan program dan kegiatan percepatan
penurunan stunting dalam dokumen perencanaan dan penganggaran desa/kelurahan
(Rencana Pembangunan Jangka menengah Desa, Rencana Kerja pemerintah desa, serta
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa dan Rencana Kerja dan Anggaran Desa)
Pemberdayaan Masyarakat
Desa Tata pemerintahan
20
Persentase desa/kelurahan yang meningkatkan alokasi dana desa/kelurahan yang
melakukan konvergensi percepatan penurunan stunting
Pemberdayaan Masyarakat
Desa Tata pemerintahan
21 Persentase desa/kelurahan yang melakukan konvergensi percepatan penurunan stunting
Pemberdayaan Masyarakat
Desa Tata pemerintahan
22
Terselenggaranya pemantauan dan evaluasi percepatan penurunan stunting di
pemerintahan desa
Pemberdayaan Masyarakat
Desa Tata pemerintahan
23 Jumlah Desa/kelurahan Bebas Stunting
Pemberdayaan Masyarakat
Desa Tata pemerintahan
24
Persentase pemerintah desa yang memiliki kinerja baik dalam konvergensi penurunan
stunting
Pemberdayaan Masyarakat
Desa Tata pemerintahan
25 Terlaksanannya Kampanye nasional pencegahan Stunting Komunikasi dan Informasi
NO CAKUPAN LAYANAN SUPPLY URUSAN
26
Jumlah Kabupaten/kota yang memiliki minimal 20 tenaga pelatih berjenjang tingkat dasar
serta pendidikan dan pelatihan pengasuhan stimulasi penanganan stunting bagi guru
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pendidikan
27
Desa/kelurahan yang memiliki guru PAUD terlatih pengasuhan stimulasi penanganan
stunting sebagai hasil pendidikan dan pelatihan di Kabupaten/Kota
Pendidikan
28
Lembaga PAUD yang mengembangkan Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD
HI)
Pendidikan
29
Terlaksananya forum komunikasi perubahan perilaku dalam penurunan stunting lintas
agama
Agama
30 Tersedianya data hasil surveilans keluarga berisiko stunting Dalduk & KB
31 Tersedianya data keluarga risiko Stunting melalui Sistem Informasi Keluarga Dalduk & KB
32
Persentase Kabupaten/kota yang menerima pendampingan percepatan penurunan stunting
melalui Tri Dharma Perguruan tinggi
Dalduk & KB
33
Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja dan Bina Keluarga Remaja (BKR) yang
melaksanakan edukasi kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja
Dalduk & KB
34
Desa/Kelurahan yang melaksanakan kelas Bina Keluarga Balita (BKB) tentang pengasuhan
1000 HPK
Dalduk & KB
35 Pangan fortifikasi yang ditindaklanjuti oleh pelaku usaha
Kesehatan
Badan POM
THANK YOU

AKSI KONVERGENSI SUMSEL.pptx

  • 1.
    PELAKSANAAN AKSI KONVERGENSI PERCEPATANPENURUNAN STUNTING Implementasi Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 TA LGCB-ASR 2 DITJEN BANGDA KEMENDAGRI Palembang, 15 – 17 Maret 2022
  • 2.
    Strategi Percepatan PenurunanStunting Menurunkan prevalensi Stunting; Meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga; Menjamin pemenuhan asupan gizi; Memperbaiki pola asuh; Meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan; Meningkatkan akses air minum dan sanitasi.
  • 3.
    5 Pilar StrategiPercepatan Penurunan Stunting PILAR 1 Peningkatan komitmen dan visi kepemimpinan di kementerian/lembaga, Pemerintah Daerah provinsi, Pemerintah Daerah kabupatenfkota, dan Pemerintah Desa; Peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat; PILAR 2 peningkatan konvergensi Intervensi Spesifik dan Intervensi Sensitif di K/L, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kab/kota, dan Pemerintah Desa PILAR 3 Peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga, dan masyarakat; PILAR 4 Penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, riset, dan inovasi. PILAR 5
  • 4.
    Indikator Stranas UntukPemda Kab/Kota Kelompok sasaran 1. Persentase remaja putri yang menerima layanan pemeriksaan status anemia (hemoglobin) 2. Remaja putri yang mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) 3. Persentase calon pengantin/calon ibu yang menerima Tablet Tambah Darah (TTD) 4. Calon pasangan usia subur (PUS) yang memperoleh pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari pelayanan nikah 5. Cakupan calon PUS yang menerima pendampingan kesehatan reproduksi dan edukasi gizi sejak 3 bulan pra-nikah 6. Pasangan calon pengantin yang mendapatkan bimbingan perkawinan dengan materi pencegahan stunting 7. Cakupan PUS dengan status miskin dan penyandang masalah kesejahteraan sosial yang menerima bantuan tunai bersyarat 8. Cakupan PUS dengan status miskin dan penyandang masalah kesejahteraan sosial yang menerima bantuan pangan non-tunai 9. Cakupan PUS dengan status miskin dan penyandang masalah kesejahteraan sosial yang menerima Penerima Bantuan Iuran (PBI) Calon pengantin/remaja/PUS 1. Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif 2. Persentase anak usia 6-23 bulan yang mendapat Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) 3. Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) gizi buruk yang mendapat pelayanan tata laksana gizi buruk 4. Anak berusia di bawah lima tahun (balita) yang dipantau pertumbuhan dan perkembangannya 5. Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) gizi kurang yang mendapat tambahan asupan gizi 6. Persentase balita yang memperoleh imunisasi dasar lengkap 1.Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK) yang menerima tambahan asupan gizi 2.Persentase ibu hamil yang mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) minimal 90 tablet selama masa kehamilan. 1. Persentase pelayanan keluarga berencana pasca melahirka n 2. Persentase unmet need pelayanan keluarga berencana Ibu hamil Ibu masa interval Balita (0-59 bulan) Keluarga: 1. Persentase keluarga yang stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) 2. Persentase keluarga yang melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) 3. Persentase Keluarga berisiko stunting yang mendapatkan promosi peningkatan konsumsi ikan dalam negeri 4. Persentase Pelayanan Keluarga Berencana (KB) pascapersalinan 5. Cakupan Keluarga berisiko stunting yang memperoleh pendampingan 6. Persentase Keluarga berisiko stunting yang mendapatkan manfaat sumber daya pekarangan untuk peningkatan asupan gizi 7. Rumah tangga yang mendapatkan akses air minum layak 8. Rumah tangga yang mendapatkan akses sanitasi (air limbah domestik) layak 9. Kelompok Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) yang mengikuti Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) dengan modul kesehatan dan gizi 10. Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan ibu hamil, ibu menyusui, dan baduta yang menerima variasi bantuan pangan selain beras dan telur Terdapat 29 indikator dengan PJ- nya adalah Pemerintah Daerah kab/kota dengan unit intervensi remaja, ibu hamil, ibu masa interval, balita dan keluarga (sumber: Perpres 72/2021)
  • 5.
    PERAN KABUPATEN/KOTA DALAM PERCEPATANPENURUNAN STUNTING Menetapkan Tim Percepatan Penurunan Stunting tingkat kabupaten /kota Merumuskan kebijakan daerah yang mendukung upaya percepatan penurunan stunting, termasuk peningkatan peran camat dalam mengoordinasikan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian percepatan penurunan stunting di wilayahnya Menetapkan target percepatan penurunan stunting untuk mendukung pencapaian target nasional Menetapkan program dan kegiatan terkait penurunan stunting, dalam dokumen perencanaan dan penganggaran 01 02 03 04 05 Mencanangkan komitmen bersama antara pemerintahan daerah, kecamatan, desa/kelurahan, dan unsur masyarakat untuk mendukung penuh upaya percepatan penurunan stunting secara konsisten dan berkelanjutan;
  • 6.
    PERAN KABUPATEN/KOTA DALAM PERCEPATANPENURUNAN STUNTING Menyelenggarakan pelatihan untuk peningkatan kapasitas OPD kabupaten/kota terkait dan aparat desa/kelurahan dalam melaksanakan Aksi Konvergensi/Aksi Integrasi penurunan stunting Meningkatkan dan/atau membangun sistem manajemen data yang terkait dengan penurunan stunting (Sistem pencatatan dan pelaporan) Meningkatkan koordinasi dengan K/L, provinsi, desa/kelurahan, dan pihak lainnya yang terkait dalam pelaksanaan Aksi Konvergensi/Aksi Integrasi penurunan stunting Mensosialisasikan kebijakan terkait upaya percepatan penurunan stunting sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional, khususnya kepada kecamatan dan desa/kelurahan; 06 07 08 09
  • 7.
    PERAN KABUPATEN/KOTA DALAM PERCEPATANPENURUNAN STUNTING Mengalokasikan dana bantuan khusus bagi desa/kelurahan serta meningkatkan alokasi penggunaan dana desa untuk penurunan stunting secara efektif. Melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penurunan stunting Melibatkan peran multisektor termasuk non pemerintahah dalam upaya penurunan stunting 11 12 13 10 Melaksanakan 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting
  • 8.
    8 Aksi Integrasidi Tingkat Kab/Kota “Merupakan instrumen dalam bentuk kegiatan untuk meningkatkan konvergensi intervensi spesifik dan sensitif percepatan penurunan stunting” PIC:TPPS PIC:TPPS PIC: TPPS PIC: TPPS PIC:TPPS PIC: TPPS PIC: TPPS PIC: TPPS Aksi 1: Mengidentifikasi sebaran prevalensi stunting, Keluarga berisiko stunting, kondisi cakupan layanan, situasi ketersediaan program, dan praktik manajemen layanan saatini Aksi 2: Rencana tindak lanjut kabupaten/kota dalam merealisasikan rekomendasi hasil analisis situasi dan 64 Indikator target Aksi 3: Memastikan terjadinya integrasi pelaksanaan intervensi antara OPD dengan non-pemerintah dan masyarakat luas secara melalui Rembuk Stunting tingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten/Kota Aksi 4: Peraturan Bupati/Walikota Tentang upaya percepatan penurunan stunting dan pembagian peran pihak dari tingkat Desa/Kelurahan hingga tingkat Kabupaten/Kota Aksi 5: Pembinaan pemerintah Desa/kelurahan dan masyarakat Aksi 6: Upaya pengelolaan data di tingkat kabupaten/kota sampai tingkatdesa/ kelurahan dalam mendukung pelaksanaan percepatan penurunan stunting. Aksi 7: Publikasi hasil analisis prevalensi dan hasil audit stunting Aksi 8: Review yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota terhadap kinerja program percepatan penurunan stunting selama satu tahun terakhir
  • 9.
    Data Keluarga Berisiko,Prevalensi dan Jumlah Kasus Stunting Keluarga Berisiko Keluarga yang memiliki satu atau lebih faktor risiko Stunting yang terdiri dari keluarga yang memiliki anak remaja puteri/calon pengantin/Ibu Hamil/Anak usia 0 (nol)-23 (dua puluh tiga) bulan/anak usia 24 (dua puluh empat)-59 (lima puluh sembilan) bulan berasal dari keluarga miskin, pendidikan orang tua rendah, sanitasi lingkungan buruk, dan air minum tidak layak. (Perban 12 tahun 2021) Nominator : Jumlah Keluarga Berisiko Stunting dalam Desa/Kelurahan Denominator : Jumlah Keluarga dalam Desa/Kelurahan Penanggungjawab data : OPD KB Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan. (Perpres 72/2021) Nominator : Jumlah Anak Balita Pendek dan Sangat Pendek dalam Desa/Kelurahan Denominator : Jumlah Anak Balita yang diukur dalam Desa/Kelurahan Penanggungjawab data : OPD Kesehatan
  • 10.
  • 11.
    No. Nama IndikatorDefinisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab 1 Persentase remaja putri yang mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) Persentase remaja putri mendapat TTD adalah jumlah remaja putri yang mendapat TTD secara rutin setiap minggu terhadap jumlah remaja putri yang ada dikali 100%. Dinas Kesehatan, DPMD, Disdik, Kemenag, DP3A,DPPKB 2 Persentase remaja putri yang menerima layanan pemeriksaan status anemia (hemoglobin) Persentase remaja putri yang menerima layanan pemeriksaan status anemia (hemoglobin) terhadap jumlah remaja putri Dinas Kesehatan, DPMD, Disdik, Kemenag 3 Calon pengantin /calon ibu yang menerima Tablet Tambah Darah (TTD) Jumlah Calon pengantin /calon ibu yang menerima Tablet Tambah Darah (TTD) terhadap seluruh calon PUS catin: Penyedia TTD adalah Puskesmas, catin: calon pengantin yang dalam waktu dekat akan melangsungkan pernikahan, kerjasama dgn kemenag kmenkes sumber data : Dinkes , Kemenag, Dinas KB 4 Cakupan calon Pasangan Usia Subur (PUS) yang memperoleh pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari pelayanan pra nikah Cakupan calon Pasangan Usia Subur (PUS) yang memperoleh pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari pelayanan nikah terhadap seluruh Calon Pasangan Usia Subur. Catin = Calon Pus, yang mendaftar pra nikah 3 bulan sebelum menikah pemeriksaan terutama perempuan: 4 keteranGan, BB, TB, LiLA, kadar Hb, merokok/Tidak sumber data :harapan menjadi satu kesatuan dalam SOP pelayanan pra nikah Dinkes , Kemenag, Dinas KB 𝑅𝑒𝑚𝑎𝑗𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑟𝑖 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑇𝑇𝐷 𝑅𝑒𝑚𝑎𝑗𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑟𝑖 x 100 𝑅𝑒𝑚𝑎𝑗𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑟𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑚𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑡𝑢𝑠 𝑎𝑛𝑒𝑚𝑖𝑎 (ℎ𝑒𝑚𝑜𝑔𝑙𝑜𝑏𝑖𝑛) 𝑅𝑒𝑚𝑎𝑗𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑟𝑖 x 100 𝐶𝑎𝑡𝑖𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑇𝑇𝐷 𝐶𝑎𝑙𝑜𝑛 𝑃𝑈𝑆/𝐶𝑎𝑡𝑖𝑛 x 100 𝐶𝑎𝑙𝑜𝑛 𝑃𝑈𝑆 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑝𝑒𝑚𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑝𝑟𝑎 𝑛𝑖𝑘𝑎ℎ 𝐶𝑎𝑙𝑜𝑛 𝑃𝑈𝑆 x 100
  • 12.
    No. Nama IndikatorDefinisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab 5 Cakupan calon Pasangan Usia Subur (PUS) yang menerima pendampingan kesehatan reproduksi dan edukasi gizi sejak 3 bulan pra nikah Cakupan calon Pasangan Usia Subur (PUS) yang menerima pendampingan kesehatan reproduksi dan edukasi gizi sejak 3 bulan pra nikah terhadap seluruh calon PUS Dinas KB, Dinas Kesehatan, Kemenag 6 Persentase pasangan calon pengantin yang mendapatkan bimbingan perkawinan dengan materi pencegahan stunting Persentase pasangan calon pengantin yang mendapatkan bimbingan perkawinan dengan materi pencegahan stunting terhadap seluruh calon pengantin Bimbingan perkawinan : ada buku berkaitan dengan materi bimbingan tentang stunting Dinas KB, Dinas Kesehatan, Kemenag 7 Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) dengan status miskin dan penyandang masalah kesejahteraan sosial yang menerima bantuan tunai bersyarat Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) dengan status miskin dan penyandang masalah kesejahteraan sosial yang menerima bantuan tunai bersyarat terhadap jumlah PUS dengan status miskin Dinsos, Dinas KB 8 Cakupan PUS yang memperoleh bantuan pangan non tunai Cakupan PUS yang memperoleh bantuan pangan non tunai terhadap seluruh PUS (bantuan sembako/BPNT) Dinas KB, Dinas Sosial 𝐶𝑎𝑙𝑜𝑛 𝑃𝑈𝑆 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑚𝑝𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑟𝑒𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝑒𝑑𝑢𝑘𝑎𝑠𝑖 𝑔𝑖𝑧𝑖 3 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑝𝑟𝑎𝑛𝑖𝑘𝑎ℎ 𝐶𝑎𝑙𝑜𝑛 𝑃𝑈𝑆 x 100 𝑐𝑎𝑡𝑖𝑛/𝑐𝑎𝑃𝑈𝑆 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑖𝑚𝑏𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑘𝑎𝑤𝑖𝑛𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑡𝑒𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑐𝑒𝑔𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑎𝑡𝑖𝑛/𝑐𝑎𝑃𝑈𝑆 x 100 𝑃𝑈𝑆 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑏𝑎𝑛𝑡𝑢𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑛𝑜𝑛 𝑡𝑢𝑛𝑎𝑖 𝑃𝑈𝑆 x 100 𝑃𝑈𝑆 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑡𝑢𝑠 𝑚𝑖𝑠𝑘𝑖𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑗𝑎𝑡𝑒𝑟𝑎𝑎𝑛 𝑠𝑜𝑠𝑖𝑎𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑏𝑎𝑛𝑡𝑢𝑎𝑛 𝑡𝑢𝑛𝑎𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑦𝑎𝑟𝑎𝑡 𝑃𝑈𝑆 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑡𝑢𝑠 𝑚𝑖𝑠𝑘𝑖𝑛 x 100
  • 13.
    No. Nama IndikatorDefinisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab 9 Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) fakir miskin dan orang tidak mampu yang menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) fakir miskin dan orang tidak mampu yang menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan terhadap PUS dengan status miskin Dinsos, Dinas KB 10 Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK) yang mendapatkan tambahan asupan gizi Persentase Ibu hamil dengan resiko KEK yang ditandai dengan ukuran LiLA (lingkar lengan atas) kurang dari 23,5 cm yang mendapatkan maknan tambahan asupan zat gizi diluar makanan utama dalam bentuk tambahan makanan pabrikan maupun pangan lokal Dinas Kesehatan 11 Persentase ibu hamil yang mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) minimal 90 tablet selama masa kehamilan Persentase Ibu hamil mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) minimal 90 tablet selama masa kehamilan dibandingkan terhadap seluruh Ibu Hamil. Dinas Kesehatan 𝑃𝑈𝑆 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑓𝑎𝑘𝑖𝑟 𝑚𝑖𝑠𝑘𝑖𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑚𝑝𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝐵𝑎𝑛𝑡𝑢𝑎𝑛 𝐼𝑢𝑟𝑎𝑛 𝐽𝑎𝑚𝑖𝑛𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑃𝑈𝑆 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑡𝑢𝑠 𝑚𝑖𝑠𝑘𝑖𝑛 x 100 𝐼𝑏𝑢 𝐻𝑎𝑚𝑖𝑙 𝐾𝐸𝐾 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑠𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑔𝑖𝑧𝑖 𝐼𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙 𝐾𝐸𝐾 x 100 𝐼𝑏𝑢 𝐻𝑎𝑚𝑖𝑙 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑇𝑇𝐷 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑎𝑙 90 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒𝑡 𝐼𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙 x 100
  • 14.
    No. Nama IndikatorDefinisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab 12 Persentase Unmet need pelayanan keluarga berencana Persentase wanita kawin 15-49 tahun (pasangan usia subur) yang tidak ingin mempunyai anak (lagi) atau ingin menjarangkan kelahiran berikutnya tetapi tidak menggunakan metode kontrasepsi apapun. U : UL+ US U : Total Unmet Need UL : Unmet need untuk pembatasan kelahiran US : Unmet need untuk penjarangan kelahiran Dinas KB 13 Persentase kehamilan yang tidak diinginkan Persentase kehamilan yang tidak diinginkan terhadap seluruh kehamilan Kehamilan yang dialami oleh perempuan yang sebenarnya belum menginginkan kehamilan atau sudah tidak menginginkan kehamilan tersebut Dinas KB, ??? 14 Persentase pelayanan Keluarga Berencana (KB) pasca persalinan Persentase pelayanan KB Pasca Persalinan terhadap seluruh Persalinan. - Penggunaan metode kontrasepsi setelah melahirkan sampai 6 minggu atau 42 hari setelah melahirkan (kamus istilah bangga kencana) Dinas KB, Dinas Kesehatan 15 Keluarga berisiko stunting yang memperoleh pendampingan Persentase layanan pendampingan terhadap seluruh keluarga berisiko stunting Dinas KB 𝐾𝑒ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑑𝑖𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝐾𝑒ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙𝑎𝑛 x 100 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛 𝐾𝐵 𝑃𝑎𝑠𝑐𝑎 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑎𝑛 x 100 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑚𝑝𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔 x 100
  • 15.
    No. Nama IndikatorDefinisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab 16 Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif Persentase bayi usia dibawah 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif (ASI saja tanapa makanan tanpa makanan atau cairan lain kecuali obat dan vitamin, mineral berdasarkan recall 24 jam terakhir) terhadap seluruh bayi dibawah 6 bulan. Dinas Kesehatan 17 Persentase anak usia 6-23 bulan yang mendapat Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) Persentase Anak usia 6-23 bulan mendapatkan Makanan Pendamping ASI (MP- ASI) dibandingkan dengan Seluruh anak usia 6-23 bulan. Dinas Kesehatan 18 Persentase anak berusia dibawah lima tahun (balita) gizi buruk yang mendapat pelayanan tata laksana gizi buruk Persentase balita (0-59 bulan) gizi buruk yang mendapat perawatan (baik rawat inap ataupun rawat jalan di faskes dan masyarakat sesuai dengan tata laksana gizi buruk terhadap jumlah Seluruh balita (0-59 bulan) gizi buruk Dinas Kesehatan 19 Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) yang dipantau pertumbuhan dan perkembangannya Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) yang dipantau pertumbuhan dan perkembangannya terhadap seluruh balita. Dinas Kesehatan 20 Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) gizi kurang yang mendapat tambahan asupan gizi Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) gizi kurang yang mendapat tambahan asupan gizi terhadap seluruh balita kurang gizi. Balita Gizi kurang adalah balita dengan indeks berat badan menurut panjang/tinggi badan memiliki z-score -3 SD smp -2 SD. Tambahan asupan gizi adalah tambahan asupan selain makanan utama dalam bentuk makanan tambahan pabrikan dan pangan lokal Dinas Kesehatan 𝐵𝑎𝑦𝑖 𝑢𝑠𝑖𝑎 <6 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐴𝑆𝐼 𝐸𝑘𝑠𝑘𝑙𝑢𝑠𝑖𝑓 𝐵𝑎𝑦𝑖 𝑢𝑠𝑖𝑎 <6 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 x 100 𝐴𝑛𝑎𝑘 𝑢𝑠𝑖𝑎 6 −23 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑀𝑃−𝐴𝑆𝐼 𝐴𝑛𝑎𝑘 𝑢𝑠𝑖𝑎 6−23𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 x 100 𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝐺𝑖𝑧𝑖 𝐵𝑢𝑟𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑡𝑎 𝑙𝑎𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎 𝑔𝑖𝑧𝑖 𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐺𝑖𝑧𝑖 𝐵𝑢𝑟𝑢𝑘 x 100 𝐴𝑛𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑑𝑖𝑏𝑎𝑤𝑎ℎ 𝑙𝑖𝑚𝑎 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑑𝑖𝑝𝑎𝑛𝑡𝑎𝑢 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 x 100 𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝐺𝑖𝑧𝑖 𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑠𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑔𝑖𝑧𝑖 𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑔𝑖𝑧𝑖 𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔 x 100
  • 16.
    No. Nama IndikatorDefinisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab 21 Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) yang memperoleh imunisasi dasar lengkap Persentase anak berusia di bawah lima tahun (balita) yang memperoleh imunisasi dasar lengkap (IDL) terhadap seluruh balita. Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) adalah imunisasi yang diberikan kepada anak dibawah 1 tahun yang terdisi dari 5 jenis yaitu : 1 kali BCG, 3 kali Polio, 3 kali DPT, 3 kali HB, 1 kali Campak. (baris 1261) Dinas Kesehatan 22 Persentase keluarga yang stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) Persentase keluarga stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defacation Free (ODF) terhadap seluruh keluarga. Dinas Kesehatan 23 Persentase keluarga yang melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Persentase keluarga yang melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terhadap seluruh keluarga Dinas Kesehatan 24 Persentase keluarga berisiko Stunting yang mendapatkan promosi peningkatan konsumsi ikan dalam negeri Persentase keluarga berisiko Stunting yang mendapatkan promosi peningkatan konsumsi ikan dalam negeri terhadap keluarga beresiko stunting (data tahunan dan level nasional, datanya berasal dari BPS) Dinas KB Dinas Perikanan 25 Persentase rumah tangga yang mendapatkan akses air minum layak di kabupaten/kota lokasi prioritas Persentase rumah tangga yang mendapatkan akses air minum (mengacu perataturan BPS No 4 tahun 2021) layak di kabupaten/kota lokasi prioritas terhadap seluruh rumah tangga pada lokasi prioritas. Dinkes 𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑝𝑡𝑘𝑎𝑛 𝐼𝐷𝐿 𝐵𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 x 100 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑠𝑡𝑜𝑝 𝐵𝐴𝐵𝑆 𝑑𝑎𝑛 𝑂𝐷𝐹 𝑆𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 x 100 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑝𝑒𝑟𝑖𝑙𝑎𝑘𝑢 𝐻𝑖𝑑𝑢𝑝 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝑆𝑒ℎ𝑎𝑡 (𝑃𝐻𝐵𝑆) 𝑆𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 x 100 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑟𝑜𝑚𝑜𝑠𝑖 𝑃𝑒𝑛𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝐼𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑛𝑒𝑔𝑒𝑟𝑖 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔 x 100 𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑝𝑡 𝑎𝑘𝑠𝑒𝑠 𝑎𝑖𝑟 𝑚𝑖𝑛𝑢𝑚 𝑙𝑎𝑦𝑎𝑘 𝑑𝑖 𝑘𝑎𝑏 𝑘𝑜𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑖𝑜𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑑𝑖 𝑘𝑎𝑏 𝑘𝑜𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑖𝑜𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠 x 100
  • 17.
    No. Nama IndikatorDefinisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab 26 Persentase rumah tangga yang mendapatkan akses sanitasi (air limbah domestik) layak di kabupaten/kota lokasi prioritas Persentase rumah tangga yang mendapatkan akses sanitasi (air limbah domestik) yang layak di kabupaten/kota lokasi prioritas terhadap seluruh rumah tangga yang ada di kabupaten/kota lokasi prioritas. (7 prov dengan prevalensi tinggi, dan jum penduduk) Dinas Kesehatan 27 Persentase keluarga berisiko Stunting yang mendapatkan manfaat sumber daya pekarangan untuk peningkatan asupan gizi Persentase keluarga berisiko Stunting yang mendapatkan manfaat sumber daya pekarangan untuk peningkatan asupan gizi terhadap keluarga beresiko stunting Dinas KB, Dinas Ketahanan Pangan 𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑝𝑡 𝑎𝑘𝑠𝑒𝑠 𝑠𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎𝑠𝑖 𝑙𝑎𝑦𝑎𝑘 𝑑𝑖 𝑘𝑎𝑏 𝑘𝑜𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑖𝑜𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑅𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑑𝑖 𝑘𝑎𝑏 𝑘𝑜𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑖𝑜𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠 x 100 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡 𝑠𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟𝑑𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑝𝑒𝑛𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑎𝑠𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑔𝑖𝑧𝑖 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑜 𝑠𝑡𝑢𝑛𝑡𝑖𝑛𝑔 x 100
  • 18.
    No. Nama IndikatorDefinisi Metode/Rumus Penghitungan Penanggungjawab 28 Persentase Kelompok Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) yang mengikuti Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) dengan modul kesehatan dan gizi Persentase Kelompok Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) yang mengikuti Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) dengan modul kesehatan dan gizi terhadap keluarga penerima PKH data# bulanan Dinas Sosial 29 Persentase Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia di bawah dua tahun (baduta) yang menerima variasi bantuan pangan selain beras dan telur (karbohidrat, protein hewani, protein nabati, vitamin dan mineral, dan/atau Makanan Pendamping Air Susu Ibu/MP-ASI). Persentase Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia di bawah dua tahun (baduta) yang menerima variasi bantuan pangan selain beras dan telur (karbohidrat, protein hewani, protein nabati, vitamin dan mineral, dan/atau Makanan Pendamping Air Susu Ibu/MP-ASI) terhadap keluarga penerima manfaat berkaitan dengan PKH, sumber direktorat jaminan sosisal keluarga Dinas Sosial 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡 𝑃𝐾𝐻 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑘𝑢𝑡𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑒𝑚𝑢𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑛𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑚𝑎𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 (𝑃2𝐾2)𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑜𝑑𝑢𝑙 𝑘𝑒𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑔𝑖𝑧𝑖 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑃𝐾𝐻 x 100 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑖𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙,𝑚𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑖, 𝑑𝑎𝑛 𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑏𝑎𝑑𝑢𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑠𝑖 𝑏𝑎𝑛𝑡𝑢𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑖𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑙𝑢𝑟 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡 x 100
  • 19.
    NO CAKUPAN LAYANANSUPPLY URUSAN 1 Cakupan Bantuan Jaminan Nasional Penerima Iuran (PBI) Kesehatan Sosial Kesehatan 2 Jumlah Keluarga Miskin dan rentan yang memperoleh bantuan tunai bersyarat Sosial 3 Jumlah keluarga miskin dan rentan yang menerima bantuan sosial pangan Sosial 4 Jumlah pendampingan Program Keluarga Harapan (PKH) yang terlatih modul kesehatan dan gizi Sosial 5 Terselenggaranya rembuk stunting tingkat kabupaten/kota 6 Terselenggarannya rembuk stunting tingkat kecamatan 7 Tersedianya kebijakan/peraturan bupati/walikota tentang kewenangan desa/kelurahan dalam penurunan stunting 8 Terselenggaranya pemantauan dan evaluasi percepatan penurunan stunting di pemerintah daerah kabupaten/kota 9 Persentase desa/kelurahan yang melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Kesehatan 10 Persentase kabupaten/kota yang mengimplementasikan sistem data Surveilans gizi elektronik dalam pemantauan intervensi gizi untuk penurunan stunting Kesehatan 11 Jumlah Desa/Kelurahan yang telah tebebas dari buang air besar sembarangan (ODF) Kesehatan 12 Persentase target sasaran yang memiliki pemahaman yang baik tentang stunting di lokasi prioritas Kesehatan 13 Publikasi data stunting tingkat Kabupaten/Kota Kesehatan 14 Terpenuhinya standar pelayanan pemantauan tumbuh kembang di posyandu Kesehatan 15 Terselenggaranya audit anak berusia dibawah dua tahun (baduta) Stunting Kesehatan 16 Tersedianya bidan desa/kelurahan sesuai kebutuhan Kesehatan
  • 20.
    NO CAKUPAN LAYANANSUPPLY URUSAN 17 Jumlah pemerintah desa yang mendapatkan peningkatan kapasitas dalam penanganan percepatan penurunan stunting Pemberdayaan Masyarakat Desa Tata pemerintahan 18 Persentase desa/kelurahan yang kader pembangunan manusianya mendapatkan pembinaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Pemberdayaan Masyarakat Desa Tata pemerintahan `19 Persentase desa/kelurahan yang mengintegrasikan program dan kegiatan percepatan penurunan stunting dalam dokumen perencanaan dan penganggaran desa/kelurahan (Rencana Pembangunan Jangka menengah Desa, Rencana Kerja pemerintah desa, serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa dan Rencana Kerja dan Anggaran Desa) Pemberdayaan Masyarakat Desa Tata pemerintahan 20 Persentase desa/kelurahan yang meningkatkan alokasi dana desa/kelurahan yang melakukan konvergensi percepatan penurunan stunting Pemberdayaan Masyarakat Desa Tata pemerintahan 21 Persentase desa/kelurahan yang melakukan konvergensi percepatan penurunan stunting Pemberdayaan Masyarakat Desa Tata pemerintahan 22 Terselenggaranya pemantauan dan evaluasi percepatan penurunan stunting di pemerintahan desa Pemberdayaan Masyarakat Desa Tata pemerintahan 23 Jumlah Desa/kelurahan Bebas Stunting Pemberdayaan Masyarakat Desa Tata pemerintahan 24 Persentase pemerintah desa yang memiliki kinerja baik dalam konvergensi penurunan stunting Pemberdayaan Masyarakat Desa Tata pemerintahan 25 Terlaksanannya Kampanye nasional pencegahan Stunting Komunikasi dan Informasi
  • 21.
    NO CAKUPAN LAYANANSUPPLY URUSAN 26 Jumlah Kabupaten/kota yang memiliki minimal 20 tenaga pelatih berjenjang tingkat dasar serta pendidikan dan pelatihan pengasuhan stimulasi penanganan stunting bagi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pendidikan 27 Desa/kelurahan yang memiliki guru PAUD terlatih pengasuhan stimulasi penanganan stunting sebagai hasil pendidikan dan pelatihan di Kabupaten/Kota Pendidikan 28 Lembaga PAUD yang mengembangkan Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) Pendidikan 29 Terlaksananya forum komunikasi perubahan perilaku dalam penurunan stunting lintas agama Agama 30 Tersedianya data hasil surveilans keluarga berisiko stunting Dalduk & KB 31 Tersedianya data keluarga risiko Stunting melalui Sistem Informasi Keluarga Dalduk & KB 32 Persentase Kabupaten/kota yang menerima pendampingan percepatan penurunan stunting melalui Tri Dharma Perguruan tinggi Dalduk & KB 33 Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja dan Bina Keluarga Remaja (BKR) yang melaksanakan edukasi kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja Dalduk & KB 34 Desa/Kelurahan yang melaksanakan kelas Bina Keluarga Balita (BKB) tentang pengasuhan 1000 HPK Dalduk & KB 35 Pangan fortifikasi yang ditindaklanjuti oleh pelaku usaha Kesehatan Badan POM
  • 22.