PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN
           PENDIDIKAN ISLAM
 (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)




              SKRIPSI



               diajukan oleh:
            Nurul Lahir Sari Ifa
             NIM: 05110095




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
   JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
          FAKULTAS TARBIYAH
 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG

                April, 2009
PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN
             PENDIDIKAN ISLAM
   (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)



                        SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang
 Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
           Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)




                         diajukan oleh:
                     Nurul Lahir Sari Ifa
                      NIM: 05110095




 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
           FAKULTAS TARBIYAH
  UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG

                          April, 2009




                               ii
Kupersembahkan Skripsi Ini Teruntuk:
                               Allah Swt & Rasulullah Saw
    Ya Allah Engkaulah Dzat yang telah menciptakanKu, memberikan karunia nikmat yang tak
terhingga, melindungiku, membimbingku dan mengajariku dalam kehidupanku, Serta Wahai Engkau
   ya Rasulullah ya habiballah yang telah memberikanku pengetahuan akan ajaran Tuhanku dan
                    membawaku dari jurang kejahilan menuju kehidupan yang
                                         terang benderang.

                                   Ayah dan Ibu Tercinta
 Yang telah berjuang dengan penuh keikhlasan, yang telah menorehkan segala kasih dan sayangnya
dengan penuh rasa ketulusan yang tak kenal lelah dan batas waktu. Special FoR My Mam Engkaulah
                   Inspirasiku di saat aku rapuh & ketika semangatku memudar.

                              Bapak Trio Supriyatno, M. Ag
Yang telah membimbing penulis sehingga dapat terselesaikan rangkaian skripsi ini dan semua dewan
  guru / dosen UIN Malang yang telah mengajari penulis dengan setiap jiwa yang dengan ilmunya
                                      penulis menjadi tahu.
                                        Andrea Hirata
 Yang dengan karyanya telah memberikan ispirasi ku untuk berkarya khususnya dalam pembuatan
skripsi ini. Wahai karya sastra “novel laskar pelangi” wujudmu bagaikan dewa penolongku, tanpamu
matilah imajinasiku, jiwaku haus untuk membacamu mesti larut menemaniku, namun ini tiada beban
                              bagiku untuk mewududkan harapanku.

                               Saudara-saudaraku Tercinta
Muhammad Nasihin (Kakak kandungku), Irawati, ida, Novi Erna Nofitasari, Nur Jannah, Ana Azkiya
 Nabila, Pak Agus & Mbak Rohmah, Nurus Saadah, Kak Ruri (yang setia dalam sebuah penantian),
         Keluarga Besar Bani Tasyim, Dan Keluarga Besar Pondok Pesantren Nurul Jadid.

                               Teman-teman Seperjuangan:
Genk’s Ardisia (Aminatus Saidah, Maria Ulfa, Nur Fitria, Iin Aisyah) dalam rangkuman persahabatan
 ini, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada
terkirakan. Me2y & Ruro dua si joli dari Madura yang selalu dekat di hati sekalipun jauh hakikatnya
kalian emang koncoku yang tokcer abis. Konco-konco Kertorejo 15 A (Al Fitriyah, Mbak Titin, Nida,
   Lulu, Icha, & yayik), Keluarga Besar HMJ, PMII Condro D, IMADE, HIMALAYA dan UKM
Pramuka , Serta semua Sahabat - sahabat yang telah dengan rela membantu hingga skripsi ini selesai,
                                        Thank’s For All…?!!
                            Dari Nama-nama yang dimaksud di atas
        Mudah - mudahan amal baktinya diterima oleh Allah SWT, Amin amin…!!!




                                                 iii
MOTTO



Artinya:
     Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah
 orang mengerjakan yang ma’ruf, serta
 berpalinglah dari pada orang-orang yang
 bodoh. (QS. Al-A’raf: 199)

 (Diambil dari : Al Quran Dan Terjemahannya, Depag RI, 1974)




                              iv
Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING

Hal      : Skripsi Nurul Lahir Sari Ifa             Malang, 10 Maret 2009
Lampiran : 4 (Empat) Eksemplar

Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang
di
  Malang


Assalamu'alaikum Wr. Wb.
       Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:
       Nama          : Nurul Lahir Sari Ifa
       NIM           : 05110095
       Jurusan       : Pendidikan Agama Islam
       Judul Skripsi : Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam
                       (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)

Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.




                                               Pembimbing,




                                          Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag
                                              NIP. 150 311 702




                                      v
HALAMAN PERSETUJUAN

PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM
         (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)

                          SKRIPSI


                           Oleh:


                    Nurul Lahir Sari Ifa
                      Nim: 05110095



                       Telah Disetujui
                 Pada Tanggal 10 Maret 2009


                           Oleh:
                     Dosen Pembimbing:




                Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag
                      NIP. 150 311 702



                        Mengetahui,
            Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam




                  Drs. H. Moh. Padil, M. Pd
                       NIP. 150 267 235




                             vi
SURAT PERNYATAAN


       Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya

yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan

tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat

yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis

diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.




                                                     Malang, 10 Maret 2009




                                                     Nurul Lahir Sari Ifa




                                       vii
HALAMAN PENGESAHAN

PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM
         (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI)


                                 SKRIPSI
                      Dipersiapkan dan Disusun Oleh
                     Nurul Lahir Sari Ifa ( 05110095 )
        Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Pada Tanggal
                       13 April 2009 dengan nilai A
       dan Telah Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan
   untuk Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
                       Pada Tanggal: 13 April 2009

                                Panitia Ujian


     Ketua Sidang,                                 Sekretaris Sidang /
                                                     Pembimbing,




 Muhammad Walid, MA                                 M. Amin Nur, MA
   NIP. 150 310 896                                 NIP. 150 327 263



     Pembimbing                                    Penguji Utama




 Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag                   Dr. H. Baharuddin, M. Pd. I
     NIP. 150 311 702                             NIP. 150 215 385

                                Mengesahkan,
                     Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang




                       Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony
                              NIP. 150 042 031



                                    viii
KATA PENGANTAR



       Segala syukur penulis panjatkan kepada Rabbul Izzati yang telah mengatur
roda kehidupan pada porosnya dengan keteraturannya, dan semoga hanya kepada-
Nyalah kita menundukkan hati dengan mengokohkan keimanan dan Izzah kita
dalam keridhoan-Nya. Karena berkat Rahman dan Rahim-Nya pula skripsi yang
berjudul ”Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi
Analisis Novel Laskar Pelangi” dapat terselesaikan dengan baik.
       Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada sang pejuang
sejati kita, yaitu Rasulullah Muhammad SAW, karena atas perjuangan beliau kita
dapat merasakan kehidupan yang lebih bermartabat dengan kemajuan ilmu
pengetahuan yang didasarkan pada iman dan Islam.
       Dengan penuh ketulusan hati, penulis menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar–besarnya dan teriring do’a kepada semua pihak yang telah
membantu demi kelancaran penulisan skripsi ini. Secara khusus penulis
sampaikan kepada yang terhormat:
1. Ayahanda dan Ibunda (Slamet Ahadun (Alm), Muhammad Suwono & Siti
   Julaikha) tercinta yang dengan sabar telah membimbing, mendo’akan,
   mengarahkan, memberi kepercayaan, kerja keras, dan keagungan doa serta
   pengorbanan materi maupun spiritual demi keberhasilan penulis dalam
   menyelesaikan studi di Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah
   Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam Negeri
   (UIN) Malang beserta stafnya yang telah memberikan fasilitas selama proses
   belajar mengajar

3. Bapak Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony selaku Dekan fakultas Tarbiyah




                                      ix
4. Bapak Drs. H. Moh. Padil M. Pd.I Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama
    Islam beserta stafnya atas bantuan yang selama ini diberikan kepada penulis
    dan kerja kerasnya dalam mengemban amanah.

5. Bapak Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag selaku dosen pembimbing skripsi atas
    kesabaran, ketelitian, motivasi, masukan, dan keikhlasan dalam meluangkan
    waktu, tenaga dan pikiran guna membimbing dan mengarahkan penulis dalam
    menyelesaikan skripsi ini dengan baik melalui media e-mail.

6. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini baik secara
    spiritual, moril, maupun materiil.

       Semoga segala bantuan yang diberikan kepada penulis tercatat sebagai
amal shalih yang diterima oleh Allah SWT.
       Ada pepatah yang mengatakan tiada gading yang tak retak, begitu juga
dengan karya tulis ini, tentu masih banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif demi
kesempurnaan skripsi ini dan guna perbaikan penulis selanjutnya.
        Akhirnya, semoga Allah SWT memberikan manfaat bagi penulis dan bagi
siapapun yang membacanya. Amin Ya Robbal’Alamin....




                                                 Malang, 10 Maret 2009
                                                 Penulis,




                                                 Nurul Lahir Sari Ifa




                                         x
DAFTAR TRANSLITERASI


       Dalam naskah skripsi ini dijumpai nama dan istilah teknis yang berasal

dari bahasa Arab ditulis dengan huruf latin. Pedoman transliterasi yang

dipergunakan untuk penulisan tersebut adalah sebagai berikut :

A. Konsonan

       ‫ا‬      = tidak dilambangkan          ‫ض‬      = dl

       ‫ب‬      = b                           ‫ط‬      = th

       ‫ت‬      = t                           ‫ظ‬      = dh

       ‫ث‬      = ts                          ‫ع‬      = ‘ (koma menghadap keatas)

       ‫ج‬      = j                           ‫غ‬      = gh

       ‫ح‬      = h                           ‫ف‬      = f

       ‫خ‬      = kh                          ‫ق‬      = q

       ‫د‬      = d                           ‫ك‬      = k

       ‫ذ‬      = dz                          ‫ل‬      = l

       ‫ر‬      = r                           ‫م‬      = m

       ‫ز‬      = z                           ‫ن‬      = n

       ‫س‬      = s                           ‫و‬      = w

       ‫ش‬      = sy                          ‫ئ‬      = h

       ‫ص‬      = sh                          ‫ي‬      = y




                                       xi
Hamzah (    ‫ء‬       ) yang sering dilambangkan dengan alif, apabila terletak

diawal kata maka dalam transliterasinya mengikuti vokalnya, tidak dilambangkan,

namun apabila terletak ditengah atau akhir kata maka dilambangkan dengan tanda

koma diatas ( ’ ), berbalik dengan koma ( ‘ ), untuk penganti lambang “     ‫ع‬   ”.

B. Vokal, panjang dan diftong

           Setiap penulisan bahasa Arab dalam bentuk tulisan latin vocal fathah

   ditulis dengan “a”, kasrah dengan “i”, dlommah dengan “u”, sedangkan

   bacaan panjang masing-masing ditulis dengan cara berikut ;

           Vocal (a) panjang = a^

           Vocal (i) panjang = i^

           Vocal (u) panjang = u^

           Khusus untuk bacaan ya’ nisbat, maka tidak boleh digantikan dengan

   “i”, melainkan tetap ditulis dengan “iy” agar dapat menggambarkan ya’ nisbat

   diakhirnya. Begitu juga suara diftong, wawu dan ya’ setelah fathah ditulis

   dengan “aw” dan “ay”. Misalnya Qawlun dan khayrun.

C. Ta’marbuthah (      ‫ة‬    )

           Ta’marbuthah ditransliterasikan dengan “t” jika berada ditengah-

   tengah kalimat, akan tetapi apabila Ta’marbuthah tersebut berada diakhir

   kalimat, maka ditransliterasikan dengan menggunakan “h” misalnya al-risalat

   li al-mudarrisah, atau apabila berada ditengah-tengah kalimat yang terdiri dari

   susunan    mudlaf        dan   mudlaf   ilayh,   maka   ditransliterasikan   dengan




                                           xii
menggunakan "t" yang disambungkan dengan kalimat berikutnya, misalnya fi

   rahmatillah.

D. Kata Sandang dan lafdh al-Jalalah

          Kata sandang berupa “al” ( ‫ ) ا ل‬ditulis dengan huruf kecil, kecuali

   terletak diawal kalimat, sedangkan “al” dalam lafdh jalalah yang berada

   ditengah-tengah kalimat yang disandarkan (idhafah) maka dihilangkan.

   Misalnya Al-Imam al-Bukhariy

E. Nama dan Kata Arab Terindonesiakan

          Pada prinsipnya setiap kata yang berasal dari bahasa Arab harus ditulis

   dengan menggunakan system Transliterasi ini, akan tetapi apabila kata

   tersebut merupakan nama Arab dari orang Indonesia atau bahasa Arab yang

   sudah terindonesiakan, maka tidak perlu ditulis dengan menggunakan system

   translitersi ini. Contoh: Abdurrahman Wahid, Salat, Nikah




                                       xiii
DAFTAR TABEL



Tabel I     : Paparan Data Nilai-Nilai Yang Terdapat Dalam Novel Laskar

             Pelangi…………………………………………………………...84

Tabel II    : Paparan Data Metode Pengajaran Nilai Yang Terkandung Dalam

             Novel Laskar Pelangi…………………………………………...103

Tabel III   : Paparan Data Nilai-Nilai Yang Dapat Dikembangkan Dalam

             Pendidikan Islam……………………………………………….106




                                  xiv
DAFTAR GAMBAR



Gambar I : Sepuluh Murid-murid Sekolah Muhammadiyah (Lintang, Ikal,
            Mahar, Trapani, Kucai, Sahara, Harun, Samson, A kiong, dan
            Syahdan).
Gambar II : Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus.
Gambar III : Andrea Hirata (Pengarang Novel Laskar Pelangi) dan dalam
            novelnya digambarkan sebagai tokoh Ikal.
Gambar IV : Cover Laskar Pelangi Edisi Lama (Kiri) dan Edisi Baru (Kanan)




                                     xv
DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran 1   : Bukti Konsultasi
Lampiran 2   : Bukti Konsultasi Via E-mail
Lampiran 3   : Profile Andrea Hirata (Penulis Novel Laskar Pelangi)
Lampiran 4   : Sinopsi Novel Laskar Pelangi
Lampiran 5   : Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata
Lampiran 6   : Daftar Riwayat Hidup




                                      xvi
DAFTAR ISI




HALAMAN SAMPUL......................................................................................i

HALAMAN JUDUL .........................................................................................ii

HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................iii

HALAMAN MOTTO ......................................................................................iv

HALAMAN NOTA DINAS..............................................................................v

HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................vi

HALAMAN PERNYATAAN.........................................................................vii

HALAMAN PENGESAHAN........................................................................viii

KATA PENGANTAR......................................................................................ix

HALAMAN TRANSLITERASI ....................................................................xi

DAFTAR TABEL ..........................................................................................xiv

DAFTAR GAMBAR.......................................................................................xv

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................xvi

DAFTAR ISI..................................................................................................xvii

HALAMAN ABSTRAK ................................................................................xxi


BAB I PENDAHULUAN.................................................................................1

            A. Latar Balakang .................................................................................1

            B. Rumusan Masalah ............................................................................5

            C. Tujuan Penelitian..............................................................................5

            D. Manfaat Penelitian ...........................................................................6

            E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................7



                                                       xvii
F. Definisi Operasional .........................................................................8

          G. Sistematika Pembahasan ..................................................................9


BAB II KAJIAN PUSTAKA ..........................................................................11

          A. Novel..............................................................................................11

              1. Pengertian Novel ........................................................................11

              2. Karakteristik Novel ....................................................................12

              3. Ciri-ciri Novel ............................................................................14

              4. Unsur-unsur Novel .....................................................................16

              5. Bentuk-bentuk Tulisan Novel ....................................................23

              6. Peran Novel ................................................................................26

          B. Konsep Dasar Pendidikan Nilai .....................................................27

              1. Definisi Dan Orientasi Pendidikan Nilai....................................27

              2. Landasan Pendidikan Nilai ........................................................32

              3. Klasifikasi Pendidikan Nilai ......................................................51

          C. Pengembangan Pendidikan Islam...................................................56

              1. Pengertian Pengembangan Pendidikan Islam............................56

              2. Orientasi Pengembangan Pendidikan Islam ..............................59

          D. Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam...........61

              1. Pendidikan Nilai Dalam Pendidikan Agama Islam ...................61

              2. Pendidikan Nilai Dalam Bingkai Cerita dan Kisah Sebagai

                  Bentuk Pengembangan Pendidikan Islam .................................63

              3. Kontribusi Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan

                  Pendidikan Islam .......................................................................65




                                                      xviii
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................67

            A. Pendekatan Penelitian ..................................................................67

            B. Data Dan Sumber Data ................................................................68

            C. Teknik Pengumpulan Data...........................................................69

            D. Instrumen Penelitian ....................................................................70

            E. Analisis Data................................................................................71

            F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan data ..........................................74



BAB IV HASIL PENELITIAN......................................................................76

            A. Deskripsi Unsur-unsur Novel Laskar Pelangi .............................76

            B. Deskripsi Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar

                Pelangi .........................................................................................83

            C. Deskripsi Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam

                Novel Laskar Pelangi.................................................................102

            D. Deskripsi Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan

                Islam...........................................................................................105



BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN.......................................114

            A. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel

                Laskar Pelangi............................................................................114

            B. Pembahasan Hasil Analisis Metode Pengajaran Nilai yang

                Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi..................................138

            C. Pembahasan Hasil Analisis nilai-nilai yang dapat dikembangkan

                dalam pendidikan Islam .............................................................141



                                                       xix
D. Pembahasan Hasil Analisis kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel

                 Laskar Pelangi terhadap Pengembangan Pendidikan Islam ......158


BAB VI PENUTUP ......................................................................................162

             A. Kesimpulan ...............................................................................162

             B. Saran ..........................................................................................165



DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN




                                                        xx
ABSTRAK

Ifa, Nurul, Lahir Sari. Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam
(Studi Analisis Novel Laskar Pelangi). Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam,
Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Malang. Pembimbing Drs. Triyo
Supriyatno, M. Ag.


       Rendahnya mutu Pendidikan Nasional disebabkan oleh kelemahan
pendidikan dalam membekali kemampuan akademis kepada peserta didik. Lebih
dari itu ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kurangnya pendidikan nilai
secara bermakna. Hingga sekarang, dunia pendidikan masih diwarnai perilaku
siswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga
mengkonsumsi minuman keras dan narkotika. Bahkan sudah ada gejala peredaran
adegan porno yang diperankan oleh para pelajar. Fenomena ini tentunya tidak
akan terjadi apabila orang tua dan lembaga pendidikan berhasil mengajarkan nilai-
nilai yang berlaku di masyarakat.
       Novel Laskar Pelangi merupakan salah satu novel yang isi pesannya
mengandung unsur pendidikan nilai. Disinilah, penulis tergugah ingin meneliti
dan menganalisis novel ini. Adapun judul penelitian ini adalah Pendidikan Nilai
Dalam Pengembangan Pedidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi).
Sedangkan rumusan masalahnya yaitu nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam
novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, bagaimana metode pengajaran nilai
yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi, nilai-nilai apa saja terkandung
dalam novel Laskar Pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam,
dan apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar Pelangi terhadap
pengembangan pendidikan Islam.
       Dalam prakteknya, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif
kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang
berupa kata-kata tertulis dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitian
akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan
tersebut. Kutipan-kutipan data yang disajikan dalam penelitian ini ditegaskan
dalam bentuk lampiran tabel pemaparan data yang diperoleh dari pemahaman
makna yang terdapat pada setiap kata, kalimat, paragraf, teks. Dari pemahaman
makna secara keseluruhan, dilakukan penafsiran dan pengkategorian data yang
terkandung dalam novel Laskar Pelangi.
       Penggumpulan data penelitian ini menggunakan metode dengan
menggunakan analisis konten (Content Analysis). Maka kegiatan yang dilakukan
adalah pemberian makna pada paparan bahasa berupa (1) paragraf-paragraf yang
mengemban gagasan tentang Nilai-nilai yang terkandung dalam novel Laskar
Pelangi karya Andrea Hirata, (2) paragraf-paragraf yang mengandung gagasan
tentang metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi, (3)
paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang dapat
dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) paragraf-paragraf yang
mengemban gagasan tentang kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar
Pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. Pemahaman dan analisis



                                      xxi
tersebut dilakukan melalui kegiatan membaca, menganalisis dan merekonstruksi.
Dalam melakukan pemaknaan data peneliti harus memiliki dasar pengetahuan dan
pengalaman tentang klasifikasi pendidikan nilai, metode ngajar pendidikan nilai,
nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam dan kontribusi pendidikan
nilai dalam pengembangan pendidikan Islam sesuai acuan teori.
       Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam novel
Laskar Pelangi karya Andrea Hirata terbagi menjadi tiga kalsifikasi yaitu nilai
personal, nilai sosial, dan nilai estetika. Sedangkan metode pengajaran nilai yang
terkandung dalam novel Laskar Pelangi adalah metode bercerita dan kisah.
Kemudian nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yang
terdapat dalam novel Laskar Pelangi adalah nilai aqidah, nilai syariah dan nilai
akahlak atau budi peketi. Dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar
Pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam adalah memberikan kontribusi
berupa konstruksi ideologi nilai-nilai Islam. Adanya konstruksi idelogi nilai-nilai
Islam tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkan
kualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas,
yang berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan kompentensi ungul yang
dibangun oleh seluruh sinergi positif.
       Oleh karena itu, menurut hemat penulis, nilai-nilai yang terdapat novel
Laskar Pelangi baik nilai personal, nilai sosial, nilai seni, nilai aqidah, nilai
syariah, nilai akahlak (budi pekerti) merupakan nilai-nilai yang dapat ditanamkan
atau diajarkan di setiap lembaga pendidikan. Namun secara khusus untuk nilai
aqidah, syariah, dan akahlak (budi pekerti) lebih sesuai jika dikembangkan pada
Pendidikan Islam, karena ketiga nilai tersebut merupakan pokok ajaran dalam
Islam. Maka dari itu, pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam
mengembangkan nilai-nilai tersebut, sebagai upaya untuk memanifestasikan atau
mengejawantahkan nilai-nilai Islam, baik nilai-nilai ketuhanan maupun nilai-nilai
kemanusiaan, melalui kegiatan pendidikan sebagaimana tercakup dalam praktik
pendidikan Islam. Dan hal ini akan dapat membantu pengembangan pendidikan
Islam untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan.


Kata kunci: Novel Laskar Pelangi, Pendidikan Nilai, Pengembangan
Pendidikan Islam




                                       xxii
BAB I

                                   PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

           Novel laskar pelangi merupakan sebuah produk karya sastra yang

   mencakup nilai-nilai karya cipta kreasi yang mengandung nilai-nilai

   keindahan. Nilai-nilai karya sastra tersebut bersumber dari kenyataan-

   kenyataan yang hidup dan selalu berkembang di masyarakat sebagai bentuk

   realitas yang objektif. Novel karya sastra yang ditulis oleh Andrea Hirata ini

   mengandung esensi yang didalamnya banyak memberikan representasi

   tentang pendidikan nilai. Dari representasi inilah, maka penulis merasa ingin

   melakukan penyelidikan (analisis) terhadap novel laskar pelangi. Adapun

   bagian isi novel yang menunjukkan hal itu adalah;

           Pak Harfan memberikan pelajaran pertama kepada sepuluh muridnya
           tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat
           untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan sepuluh muridnya bahwa
           hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan
           keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau juga menyampaikan
           sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dada serta
           memberikan arah bagi murid-muridnya hingga dewasa, yaitu bahwa
           hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima
           sebanyak-banyaknya1

           Sejak kecil aku tertarik untuk menjadi pengamat kehidupan dan
           sekarang aku menemukan kenyataan yang mempesona dalam sosiologi
           lingkungan kami yang ironis. Disini ada sekolahku yang sederhana,
           para sahabatku yang melarat, orang Melayu yang terabaikan, juga ada
           orang staf dan sekolah PN yang glamor, serta PN Timah yang gemah
           rimpah dengan Gedong, tembok feodalistisnya. Semua elemen itu
           adalah perpustakaan berjalan yang memberiku pengetahuan baru setiap
           hari2

    1
        Andrea Hirata, Laskar Pelangi (Yogyakarta: PT Bentang Pustaka, 2005), hlm. 24
    2
        Ibid., hlm. 84



                                             1
2




         Kutipan cerita di atas merupakan sekelumit representasi dari novel

   lasakar pelangi yang patut diteladani bagi manusia khususnya para tenaga

   pendidik dalam dunia pendidikan. Kutipan cerita di atas mengisyaratkan

   bahwa seorang guru dalam proses pembelajaran memiliki peran dan fungsi

   bukan hanya sebagai mentranformasikan knowledge, tetapi sekaligus juga

   membimbing dan mengajarkan kepada peserta didik agar menyadari nilai

   kebenaran, kebaikan dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang

   tepat dan pembiasaan yang bertindak konsisten. Bimbingan dan pengajaran

   nilai-nilai inilah yang disebut sebagai pendidikan nilai.3

         Pendidikan nilai secara bermakna sangat penting dalam menunjang

   mutu pendidikan. Saat ini rendahnya mutu Pendidikan Nasional tidak hanya

   disebabkan oleh kelemahan pendidikan dalam membekali kemampuan

   akademis kepada peserta didik. Lebih dari itu ada hal lain yang tidak kalah

   penting, yaitu kurangnya pendidikan nilai secara bermakna. Mengapa

   pendidikan nilai sangat diperlukan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut,

   maka perlu mengetahui masalah-masalah yang terjadi dalam pendidikan.

         Adapun masalah yang dihadapi oleh pendidikan saat ini, betapa sekolah

   umum atau lainnya telah merebaknya kasus VCD purno yang dilakukan

   oknum mahasiswa Itenas Bandung menambah panjang daftar asusila yang

   dilakukan peserta didik, lalu muncul kasus yang serupa yang dilakukan para

   yunior mereka di tingkat SMP dan SMU. Di Jawa Barat ada beberapa siswa

   dan siswi SMU Negeri yang berbuat tidak senonoh di dalam kelas dengan

    3
       Rokhmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai (Bandung: Alfabeta, 2004),
hlm. 119
3




   masih menggunakan seragam sekolah. Dalam kasus lain seorang anak SMP

   tega membunuh orang tuanya sendiri, di tempat lain seorang anak madrasah

   ibtidaiyah bunuh diri dengan alasan tidak sanggup membayar SPP, bahkan

   ada anak madrasah yang bunuh diri hanya karena baju seragam hari itu tidak

   bisa dipakai karena basah terkena hujan.4

         Dalam kasus selanjutnya adalah praktik pendidikan sering dikesankan

   sebagai sederetan instruksi guru dan murid-muridnya. Apalagi dengan istilah

   yang sekarang sering digembar-gemborkan dalam dunia pendidikan yaitu

   sebagai pendidikan yang menciptakan manusia ”siap pakai”. Kata ini berarti

   menghasilakan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan

   persaingan bidang industri dan tegnologi. Memerhatikan secara kritis masalah

   ini, tampak bahwa manusia dipandang layaknya material atau komponen

   pendukung industri. Lembaga pendidikan sekedar mampu menjadi lembaga

   produksi penghasil material atau komponen dengan kualitas tertentu yang di

   tuntut pasar. Ironisnya, kenyataannya ini justru disambut antusias oleh banyak

   lembaga pendidikan.5

         Saat sekarang ini, dunia pendidikan masih diwarnai perilaku siswa

   membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga

   mengkonsumsi minuman keras dan narkotika.6




    4
        Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai Mengumpulkan yang Terserak,
Menyambung yang Terputus, dan Menyatukan yang Tercerai (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm.
29
     5
       Ibid., hlm. 31
     6
       Tatik Rejeki, Konsep Pendidikan Nilai yang Menyenangkan (http:www.yahoo.com,
diakses 26 Februari 2008)
4




     Disinilah proses penanaman pendidikan nilai sangat dibutuhkan di

lembaga pendidikan yang bertujuan untuk membantu peserta didik agar

memahami, menyadari, mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya

secara integral dalam kehidupan.

     Pendidikan nilai sangat erat hubungannya dengan pendidikan Islam.

Pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam mengimplementasikan

pendidikan nilai sebagai suatu tindakan pendidikan. Value Education

(pendidikan nilai) dilibatkan dalam setiap tindakan pendidikan, baik dalam

memilih maupun dalam memutuskan setiap hal untuk kebutuhan belajar.

Melalui pendidikan nilai, guru dapat mengevaluasi siswa, demikian pula

sebaliknya, siswa dapat mengukur kadar nilai yang disajikan guru dalam

proses pembelajaran. Singkat kata, dalam bentuk persepsi, sikap, keyakinan,

dan tindakan manusia dalam pendidikan, nilai selalu disertakan. Bahkan

melaui nilai itulah manusia dapat bersikap kritis terhadap dampak-dampak

yang ditimbulkan pendidikan. Untuk itu, selain diposisikan sebagai muatan

pendidikan, nilai juga dapat dijadikan sebagai media kritik bagi setiap orang

yang berkepentingan dengan pendidikan dalam mengevaluasi proses dan hasil

pendidikan. Dari penjelasan tersebut jelaslah bahwa dengan adanya

penanaman pendidikan nilai dalam lembaga Pendidikan Islam, maka akan

dapat membantu pengembangan pendidikan Islam khususnya dalam proses

dan tujuan pendidikan Islam yang dicita-citakan.

     Dari latar belakang di atas, maka penulis mengangkat skripsi yang

berjudul ”Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam
5




   (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)”, dengan harapan novel ini mampu

   menjawab keterpurukan pendidikan Islam saat sekarang dan membawa

   pendidikan Islam kelevel yang lebih baik dan mampu memberikan kontribusi

   dalam pengembangan pendidikan Islam.

B. Rumusan Masalah

         Berdasarkan uraian di atas penulis formulasikan dalam rumusan

   masalah sebagai berikut:

   1. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya

      Andrea Hirata ?

   2. Bagaimana metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar

      pelangi?

   3. Nilai-nilai apa saja terkandung dalam novel laskar pelangi yang dapat

      dikembangkan dalam pendidikan Islam ?

   4. Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap

      pengembangan pendidikan Islam?

C. Tujuan Penelitian

         Tujuan penelitian di dalam karya ilmiah merupakan target yang hendak

   dicapai melalui serangkaian aktivitas penelitian, karena segala sesuatu yang

   diusahakan pasti mempunyai tujuan tertentu sesuai dengan permasalahannya.

         Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka

   penelitian ini bertujuan untuk:

   1. Mendiskripsikan nilai-nilai dalam novel laskar pelangi karya Andrea

      Hirata,
6




   2. Mendiskripsikan metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel

      laskar pelangi,

   3. Mendiskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi

      yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan

   4. Mendiskripsikan kontribusi pendidikan nilai dalam novel ”laskar pelangi”

      tehadap Pengembangan Pendidikan Islam.

D. Manfaat Penelitian

         Setiap kegiatan penelitian pasti mempunyai nilai kemanfaatan bagi

   peneliti maupun orang lain. Karena ini kegiatan ilmiah yang dilakukan secara

   logis dan sistematis, agar penulisan ini harapkan bermanfaat:

   1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan untuk mengetahui nilai-nilai

      yang terkandung dalam novel laskar pelangi, metode pengajaran nilai yang

      terkandung dalam laskar pelangi, nilai-nilai yang dapat dikembangkan

      dalam pendidikan Islam dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel

      laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam.

   2. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi:

      a. Pendidikan Islam, diharapkan pendidikan nilai menjadi bahan rujukan

          dalam praktik sebagai pendukung dalam proses dan tujuan

          pengembangan pendidikan Islam.

      b. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), diharapkan guru dapat

          merealisasikan penanaman pendidikan nilai semisal guru bertugas

          bukan hanya mengajar, tetapi lebih utama sebagai pendidik yang di

          pundaknya digantungkan harapan untuk mencetak generasi bangsa
7




          yang cerdas, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia.

          Dengan demikian, pendidikan nilai bukan hanya dapat mengembalikan

          filosofi dasar pendidikan Indonesia, namun juga karena Indonesia

          sebagai negara Pancasila, dapat kembali menumbuhkan nilai-nilai

          luhur   yang    menjadi   ciri   kepribadian   bangsa    kita,   seperti

          keramahtamahan, kesopanan, gotong royong, tepa selira, dan lain-lain.

          Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya menyediakan manusia

          berintelektual tinggi, namun juga manusia yang merasa (peka)

          terhadap kondisi sekitarnya dan mampu mengatasi situasi krisis yang

          rumit sekali pun.

      c. Peserta didik, pendidikan nilai untuk membekali individu menjadi

          manusia yang professional yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa

          kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, cakap, dan

          menjadi seseorang yang bertanggung jawab.

     d.   Bagi peneliti yang lain, untuk mengembangkan pengetahuan yang

          terkait dengan nilai dan sebagai bekal peneliti apabila sudah terjun di

          lapangan agar dapat membantu lembaga pendidikan Islam yang erat

          kaitannya dengan praktik pendidikan nilai.

E. Ruang Lingkup Penelitian

          Pendidikan nilai merupakan masalah yang mendasar dan urgen dalam

   proses dan tujuan pembelajaran di dunia pendidikan, pembahasan masalah

   pendidikan nilai sangat kompleks sekali, maka dari itu untuk lebih

   mensistematiskan pembahasan masalah ini tidak melebar terlalu jauh dari
8




    sasaran sehingga akan memudahkan pembahasan dan penyusunan laporan

    penelitian ini. Adapun ruang lingkup pembahasan pada penelitian ini adalah

    (1) Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya

    Andrea Hirata? (2) Bagaimana metode pengajaran nilai yang terkandung

    dalam novel laskar pelangi? (3) Nilai-Nilai apa saja yang dapat

    dikembangkan dalam pendidikan Islam dalam novel laskar pelangi? dan (4)

    Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap

    pengembangan pendidikan Islam? Adapun dalam pembahasan apabila ada

    permasalahan diluar tersebut di atas maka sifatnya hanyalah sebagai

    penyempurna sehingga pembahasan ini sampai pada sasaran yang dituju.

E. Definisi Oprasional

         Agar pembahasan lebih fokus, maka perlu dicantumkan penjelasan

    istilah dari skripsi berjudul: Pendidikan Nilai dalam Pengembangan

    Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi), yakni:

    1. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan,

      perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya

      atau Kegiatan mengenali, mengidentifikasi, memberikan tanda-penanda

      dan sebagainya berdasarkan pemikiran yang mendalam pada sebuah teks

      atau keadaan,

    2. Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita

      kehidupan seseorang dengan orang disekelilingnya dan menonjolkan sifat

      dan watak setiap pelaku,
9




   3. Pendidikan Nilai adalah sebagai usaha untuk membimbing peserta didik

       dalam memahami, mengalami dan mengamalkan nilai-nilai ilmiah,

       kewarganegaraan dan sosial yang tidak secara khusus dipusatkan pada

       pandangan agama tertentu atau penanaman dan pengembangan nilai-nilai

       dalam diri seseorang, dan

   4. Pengembangan Pendidikan Islam merupakan suatu proses, cara atau

       perbuatan mengembangkan pendidikan Islam melalui penanaman nilai-

       nilai religi, estetika, sosial dan personal dengan tujuan untuk mewujudkan

       perubahan tingkah laku peserta didik yang Islami, terampil, kreatif,

       berjiwa sosial, dan mandiri dengan bekal nilai personal.

F. Sistematika Pembahasan

         Untuk    mempermudah       pembahasan      dalam    skripsi   ini,    penulis

   memperinci dalam sistematika pembahasan sebagai berikut:

   •   BAB I : Pendahuluan, penulis membahas pokok-pokok pikiran untuk

                  memberikan gambaran terhadap inti pembahasan, pokok

                  pikiran tersebut masih bersifat global. Pada bab ini terdiri dari

                  latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

                  penelitian, penegasan istilah;

   •   BAB II    : Memaparkan tentang landasan teoritis yang berkaitan dengan

                  novel, pendidikan nilai, dan pengembangan pendidikan Islam;

   •   BAB III : Memaparkan tentang metode penelitian, yang meliputi tentang

                  rancangan    penelitian,   data   dan     sumber     data,   teknik

                  pengumpulan data, instrument penelitian dan analisis data;
10




•    BAB VI : Paparan data penelitian novel laskar pelangi yang meliputi;

               deskripsi nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel

               laskar pelangi karya Andrea Hirata, deskripsi metode

               pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi,

               deskripsi     nilai-nilai    yang   dapat     dikembangkan       dalam

               pendidikan Islam, dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel

               laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam;

•    BAB V :   Pembahasan hasil analisis penelitian yang meliputi nilai-nilai

               apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya

               Andrea Hirata, metode pengajaran nilai yang terkandung

               dalam       novel   laskar    pelangi,      nilai-nilai   yang   dapat

               dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan kontribusi

               pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap

               pengembangan pendidikan Islam;

    • BAB VI : Penutup, pada bab ini berisikan tentang kesimpulan dari

               pembahasan dan saran.
BAB II

                                KAJIAN PUSTAKA

A. Novel

  1. Pengertian Novel

            Novel berasal dari bahasa Italia yaitu Novella, yang secara harfiah

     berarti sebuah barang baru yang kecil dan kemudian diartikan sebagai cerita

     pendek dalam bentuk prosa. Dalam The American Colage, dikatakan bahwa

     novel adalah suatu cerita fiksi dengan panjang tertentu, melukiskan para

     tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata representative dalam suatu alur

     atau suatu kehidupan yang agak kacau atau kusut.7

            Sumardjo memberikan pengertian novel sebagai cerita berbentuk

     prosa dalam ukuran yang luas, di sini berkaitan dengan fisik novel maupun

     unsur yang ada dalam novel tersebut, misalnya saja plot yang kompleks,

     keaneka ragaman karakter dan cerita yang beragam. Sedangkan menurut

     Husnan, novel adalah suatu karangan atau karya sastra yang lebih panjang

     daripada cerpen atau lebih pendek daripada roman dan kejadian-kejadian

     yang digambarkan melahirkan suatu konflik jiwa dan mengakibatkan suatu

     perubahan nasib.8

            Viginia Woff mengatakan bahwa, suatu prosa atau novel adalah

     sebuah eksplorasi atau suatu kronik penghidupan, merenungkan dan




     7
       Rini Wiediastutik S, Analisis Nilai-Nilai Humanistik Tokoh dalam Novel Kuncup Berseri
 Karya NH. Dini, Skripsi, (FKIP UMM, 2005), hlm. 9
     8
       Ibid..



                                            11
12




     melukiskan dalam bentuk yang tertentu, pengaruh, ikatan hasil, kehancuran,

     atau tercapainya gerak gerik manusia.9

              Novel merupakan struktur yang bermakna. Novel tidak sekedar

     merupakan serangkaian tulisan yang menggairahkan ketika di baca, tetapi

     merupakan struktur pikiran yang tersusun dari unsur-unsur padu.10

              Novel adalah sebuah cerita fiksi yang jumlah halamannya mencapai

     berpuluh-puluh, ratusan, atau beratus-ratus, seperti: serial Harry Potter,

     Load of The Ring, Eragon atau Ranggamorfosa Sang Penakhluk Istana.11

              Novel merupakan menceritakan suatu peristiwa pada rentang waktu

     yang cukup panjang dengan beragam karakter yang diperankan oleh tokoh.12

              Dari beberapa pengertian novel di atas, maka dapat disimpulkan

     bahwa novel adalah suatu cerita panjang dengan berbagai karakter yang

     mengisahkan        kehidupan     manusia,     mulai    dari   konflik-konflik     dan

     permasalahannya secara rinci, detail, dan kompleks dengan proses berfikir

     yang terstruktur.

 2. Karakteristik Novel

              Menurut Watson, karakteristik novel Indonesia adalah novel-novel

     yang dimulai tahun 1920, yaitu novel yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.

     Menurutnya novel Indonesia tidak muncul begitu saja, melainkan melalui



     9
         Hardjana, Cara Mudah Mengarang Cerita Anak-anak (Jakarta: PT Grasindo, 2006), hlm.
13
     10
        Sugihastuti dan Suhartono, Kritik sastra Feminis Teori dan Aplikasinya (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 43
     11
        Burhan Nurgiantoro, Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak (Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2005), hlm. 287
     12
        Ameliawati, Analisis Instink Pada Tokoh Utama Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya
Ahmad Tohari, Skripsi, (FKIP UMM, 2006), hlm. 16
13




    proses panjang yang terjadi sebelumnya, yaitu sejak perkembangan

    komunikasi di Jawa dan Sumatera di pertengahan abad XIX.13

           Karakteristik novel Indonesia ada sedikit perbedaan antara roman,

    novel dan cerpen. Ada juga yang disebut novellet. Dalam roman biasanya

    kisah berawal dari tokoh lahir sampai dewasa kemudian meninggal, roman

    biasanya mengikuti aliran romantik. Sedangkan novel berdasarkan realisme,

    dan di dalam novel penggambaran tokoh biasanya merupakan sebagian dari

    hidupnya yang dapat berubah dari keadaan sebelumnya.14 Berbeda dengan

    cerita pendek yang tidak berkepentingan pada kesempurnaan cerita atau

    keutuhan sebuah cerita, tetapi lebih berkepentingan pada impresi atau kesan.

           Karakteristik novel Indonesia meliputi empat periode: (1) Angkatan

    Balai Pustaka, (2) Angkatan Pujangga Baru, (3) Angkatan 45, dan (4)

    Angkatan Sesudah 45.

    1. Angkatan Balai Pustaka, pujangga yang termasuk angkatan Balai Pustaka

         beserta karangannya: Marah Rusli dengan salah satu karyanya yang

         berjudul Siti Nurbaya, keinginan Marah Rusli terhadap novel ini adalah

         ia ingin merombak adat yang berlaku pada masa itu dan dianggap sebagai

         pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.15

    2. Angkatan Pujangga Baru, tokoh pujangga baru dan karyanya: Sutan

         Takdir Alisjahbana dengan salah satu karyanya yang berjudul Layar




    13
        Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 87.
    14
        Yandianto, Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia (Bandung: M2S, 2004),
hlm. 160.
     15
        Ibid., hlm. 17.
14




     Terkembang, keinginan Sutan Takdir Alisjahbana terhadap novel ini

     adalah mendambakan pembaharuan pada corak kebudayaan bangsanya.

  3. Angkatan 45, sastrawan dalam angkatan 45 dan karyanya yakni: Idrus

     dengan salah satu karyanya yang berjudul Aki, keinginan Idrus terhadap

     novelnya adalah ia berusaha menampilkan topik lain yang lebih luas dan

     mendasar daripada hanya soal cinta, usaha yang disertai keyakinan penuh

     akan menghasilkan apa yang dicita-citakan.

  4. Angkatan Sesudah 45, setelah memulai proses yang cukup rumit

     akhirnya didapatkan satu nama sastrawan yang termasuk kelompok

     Angkatan Sesudah 45 atau Angkatan 66 ini yakni Montingo Busye

     dengan salah satu karyanya yang berjudul Hari Ini Tak Ada Cinta,

     keinginan pengarang terhadap novel ini adalah hendaknya kita

     bertanggung jawab akan merugikan orang lain.

3. Ciri-ciri Novel

        Sebagai salah satu hasil karya sastra, novel memiliki ciri khas

  tersendiri bila dibandingkan dengan karya sastra yang lain. Dari segi jumlah

  kata ataupun kalimat, novel lebih mengandung banyak kata dan kalimat

  sehingga dalam proses pemaknaannya relative jauh lebih mudah daripada

  memaknai sebuah puisi yang cenderung mengandung beragam bahasa kias.

        Berkaitan dengan masalah tersebut, Sumardjo memberikan ciri-ciri

  novel sebagai berikut: (1) Plot sebuah novel berbentuk tubuh cerita,

  dirangkai dengan plot-plot kecil yang lain, karena struktur bentuk yang luas

  ini maka novel dapat bercerita panjang dengan persoalan yang luas, (2)
15




Tema dalam sebuah novel terdapat tema utama dan pendukung, sehingga

novel mencakup semua persoalan, (3) Dari segi karakter, dalam novel

terdapat penggambaran karakter yang beragam dari tokoh-tokoh hingga

terjalin sebuah cerita yang menarik.16

          Adapun menurut Tarigan ciri-ciri novel diklasifikasikan sebagai

berikut:

a. Jumlah kata, novel jumlah katanya mencapai 35.000 buah;

b. Jumlah halaman, novel mencapai maksimal 100 halaman kuarto;

c. Jumlah waktu, waktu rata-rata yang digunakan untuk membaca novel

      paling pendek diperlukan sekitar 2 jam (120 menit);

d. Novel bergantung pada pelaku dan mungkin lebih dari satu pelaku;

e. Novel menyajikan lebih dari satu impresi (kesan);

f. Novel menyajikan lebih dari satu efek;

g. Novel meyajikan lebih dari satu emosi;

h. Novel memiliki skala yang lebih luas;

i. Seleksi pada novel lebih ketat;

j. Kelajuan dalam novel lebih lambat;

k. Dalam novel unsur-unsur kepadatan dan intensitas tidak begitu

      diutamakan.17

          Selain mempunyai ciri-ciri, novel juga mempunyai beberapa nilai

yang terkandung di dalamnya, antara lain:

1) Nilai moral yaitu nilai baik dan buruk yang terkandung dalam novel;

16
     Rini Wiediastutik S., op.cit., hlm. 10
17
     Ibid., hlm. 10-11
16




    2) Nilai religius yaitu nilai yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan

       tokoh novel;

    3) Nilai kemanusiaan yaitu nilai tentang tindakan tokoh dan kesesuaiannya

       dengan hak asasi manusia;

    4) Nilai kultural yaitu nilai yang berkaitan dengan budaya dalam novel.18

 4. Unsur-unsur Novel

          Unsur-unsur novel meliputi beberapa hal yaitu: (a) tokoh, (b) latar, (c)

    alur atau plot, dan (d) tema.

    a) Tokoh dan Penokohan

       1) Tokoh

                 Tokoh merupakan para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi.

          Tokoh dalam fiksi ialah ciptaan pengarang, meskipun dapat juga

          merupakan gambaran dari orang-orang yang hidup di alam nyata. Oleh

          karena itu, dalam sebuah fiksi tokoh hendaknya dihadirkan secara

          ilmiah. Dalam arti tokoh-tokoh itu memiliki “kehidupan” atau berciri

          “hidup” atau memiliki derajat lifelikeness.19

                 Dalam buku “Pengantar Apresiasi Karya Sastra”, tokoh

          didefinisikan orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau

          drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan

          kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan

          apa yang dilakukan dalam tindakan. Karena peristiwa dalam karya

          sastra (novel) seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari,
    18
       Nurdjanah Kafrawi, dkk, Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia 3 (Jakarta: PT
Grasindo, 2002), hlm. 46
    19
       Wiyatmi, Pengantar Kajian Sastra (Yogyakarta: Pustaka, 2006), hlm. 30
17




         selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Para tokoh

         yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang berbeda-beda.

         Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita

         disebut dengan tokoh utama. Sedangkan tokoh yang tidak memiliki

         peranan penting karena pemunculannya hanya melengkapi saja atau

         sebagai pendukung pelaku utama disebut tokoh pembantu.20

                Seorang tokoh dalam karya sastra merupakan imaji penulis

         dalam membentuk personalitas tertentu dalam cerita. Berhasil tidaknya

         suatu penokohan akan mempengaruhi cerita si pembaca. Sebuah

         penokohan atau perwatakan harus menampilkan tokoh dengan karakter

         berkelakuan seperti dalam kehidupan sebenarnya.

        2) Penokohan

                Penokohan sangat erat hubungannya dengan seorang tokoh

         dalam karya sastra. Penyajian watak dan penciptaan citra tokoh ini

         disebut penokohan. Cara paling sederhana dalam penampilan tokoh

         adalah    pemberian     nama.    Setiap   nama     memiliki    daya   yang

         menghidupkan, menjiwai, dan mengindividualisasikan seorang tokoh.

         Aminuddin mengemukakan bahwa pengetahuan tentang teknik

         penampilan tokoh dalam sebuah proses fiksi berguna sebagai bekal

         menganalisis tokoh. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk

         mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam cerita, yaitu melalui (1) tuturan

         pengarang terhadap karakteristik pelakunya, (2) gambaran yang

   20
     Aminuddin, Pengantar Apresiasi Karya Sastra (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo.
2002), hlm. 80
18




         diberikan pengarang terhadap lingkungan kehidupan pelaku maupun

         cara berpakaian, (3) cara berbicara tokoh tentang diri sendiri, (4)

         pelaku tokoh, (5) jalan pikiran tokoh, (6) bagaimana tokoh-tokoh lain

         membicarakannya, (7) bagaimana cara tokoh lain mereaksi tokoh, dan

         (8) bagaiamana cara tokoh mereaksi tokoh lain.21

                 Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa dalam

         mengenali penokohan dalam suatu cerita pada karya sastra dapat

         dilakukan lewat pengenalan karakteristik tokoh, tingkah laku tokoh,

         jalan pikiran tokoh, maupun dialog-dialog yang terdapat dalam sebuah

         karya sastra (novel).

b) Latar

             Karya fiksi pada hakekatnya berhadapan dengan sebuah dunia yang

      sudah dilengkapi dengan tokoh penghuni dan permasalahannya, sebagai

      halnya kehidupan manusia di dunia nyata. Dengan kata lain, sebuah

      dunia, di samping membutuhkan tokoh, cerita dan plot juga perlu latar,

      karena latar disebut juga sebagai landas tumpu, yang tertuju pada

      pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat

      terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Sedangkan Leo Haliman

      dan Frederick menjelaskan bahwa setting dalam karya sastra (novel)

      bukan hanya tempat, waktu, peristiwa, suasana benda-benda dalam

      lingkungan tertentu, melainkan juga dapat berupa suasana yang

      berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka, maupun gaya hidup


21
     Ameliawati, op.cit., hlm. 19-20
19




      suatu masyarakat dalam menanggapi suatu permasalahan tertentu.22

      Adapun hubungan latar dengan penokohan, misalnya pengarang mau

      menampilkan tokoh seorang petani yang sederhana dan buta huruf, maka

      tidak mungkin petani itu diberi setting kota Jakarta, perkantoran atau

      restoran, begitu juga seorang tokoh yang digambarkan berwatak alim

      tidak mungkin diberi setting kamar yang penuh dengan gambar botol

      minuman keras.

              Seperti yang telah dipaparkan di atas, latar juga mampu

      menuansakan suasana-suasana tertentu. Suasana tertentu akibat penataan

      setting oleh pengarangnya itu lebih lanjut juga akan berhubungan dengan

      suasana penuturan yang terdapat dalam suatu cerita. Latar dalam prosa

      atau fiksi dibedakan menjadi empat, yaitu:

      1) Latar alam (geographic setting) adalah latar yang melukiskan tempat

          atau lokasi terjadinya peristiwa dalam alam mini, misalnya: di desa, di

          kota, di pegunungan, dll;

      2) Latar waktu (temporal setting) adalah latar yang melukiskan kapan

          peristiwa itu terjadi, misalnya: tahun berapa, pada musim apa, senja

          hari, dan akhir bulan;

      3) Latar sosial (social setting) adalah latar yang melukiskan dalam

          lingkungan mana peristiwa itu terjadi, misalnya: lingkungan

          pelayaran, lingkungan buruh pabrik, dll;




22
     Ibid., hlm. 17
20




        4) Latar ruang yaitu latar yang melukiskan dalam ruang yang bagaimana

           peristiwa itu berlangsung, misalnya: dalam kamar, aula, toko, dan

           lain-lain.23

                 Berdasarkan pada pengertian latar di atas, tokoh dan setting

        merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hal itu

        disebabkan karena tokoh dan latar dapat menentukan kelogisan dan

        diterimanya cerita oleh pembaca. Penataan setting yang tepat dan sesuai

        dengan kepribadian tokoh dan juga cerita disajikan akan menimbulkan

        kesan bahwa karya sastra tersebut adalah karya yang logis.

    c) Alur atau Plot

                 Istilah alur sama dengan istilah plot atau struktur cerita. Alur atau

        plot adalah rangkaian peristiwa yang saling berhubungan dan membentuk

        kesatuan cerita.24 Aminuddin mengatakan bahwa alur adalah rangkaian

        cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin

        suatu cerita yang dihadirkan oleh pelaku dalam suatu cerita. Menurut

        Adiwardoyo, alur dapat dibagi berdasarkan kategori kausal (sebab-

        akibat) dan kondisinya. Berdasarkan kausalnya alur dibagi menjadi tiga,

        yaitu:

        1) Alur urutan (episodik), dikatakan alur urutan apabila peristiwa-

           peristiwa yang ada disusun berdasarkan urutan sebab-akibat,

           kronologis (sesuai dengan urutan waktu), tempat, dan hierarkis

           (berurut-urut);
   23
      Rini Wiediastutik S. op.cit., hlm. 14-15
   24
      Dawud, dkk, Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I untuk SMA      Kelas X   (Jakarta:
Erlangga, 2004), hlm. 245
21




      2) Alur mundur (flashback), sebuah cerita dikatakan beralur mundur

          apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun berdasarkan akibat-

          sebab, waktu kini ke waktu lampau;

      3) Alur campuran, dikatakan sebuah cerita ber-alurkan campuran apabila

          peristiwa-peristiwa yang ada disusun secara campuran antara sebab

          akibat waktu kini ke waktu lampau atau waktu lampau ke waktu

          kini.25

      Berdasarkan kondisinya, alur dibedakan menjadi empat, yaitu:

      1) Alur buka yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi

          mula yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikutnya;

      2) Alur tengah yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi

          yang mulai bergerak ke arah kondisi puncak;

      3) Alur puncak yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai klimaks

          dari sekian banyak rangkaian peristiwa yang ada pada cerita itu;

      4) Alur tutup yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi

          yang mulai bergerak kea rah penyelesaian atau pemecahan dari

          kondisi klimaks.26

d) Tema

             Tema merupakan ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang

      melatar belakangi ciptaan karya sastra. Karena sastra merupakan refleksi

      kehidupan masyarakat, maka tema yang diungkapkan dalam karya sastra

      bisa sangat beragam. Tema bisa berupa moral, etika, agama, nilai, social

25
     Rini Wiediastutik S. op.cit., hlm. 13
26
     Ibid., hlm. 14
22




         budaya, teknologi, tradisi yang terkait erat dengan masyarakat kehidupan.

         Namun, tema bisa berupa pandangan pengarang, ide atau keinginan

         pengarang dalam menyiasati persoalan yang muncul.27

                Tema juga merupakan gagasan pokok pikiran yang digunakan

         pengarang untuk mengembangkan cerita. Tema berkaitan dengan makna

         dan tujuan pemaparan karya fiksi oleh pengarangnya. Adiwardoyo

         mengatakan tema adalah gagasan sentral pengarang yang mendasari

         penyusunan suatu cerita dan sekaligus menjadi sasaran dari cerita itu.28

         Menurut Nurgiyantoro, tema dibedakan menjadi dua bagian yaitu tema

         utama yang disebut tema mayor, yang artinya makna pokok yang

         menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu. Tema mayor

         ditentukan dengan cara menentukan persoalan yang paling menonjol,

         yang paling banyak konflik dan waktu penceritaannya. Sedangkan tema

         tambahan disebut tema minor, merupakan tema yang kedua yaitu makna

         yang    hanya    terdapat    pada     bagian-bagian      tertentu   cerita   dan

         diidentifikasikan sebagai makna bagian atau makna tambahan.29

                Oleh sebab itu, dalam menentukan sebuah tema harus memahami

         terlebih dahulu bagian-bagian yang mendukung sebuah cerita, baik latar,

         tokoh dan penokohan, alur atau persoalan yang dibicarakan. Apabila

         pembaca karya sastra telah dapat menentukan dan menemukan tema dari




    27
         Zainuddin Fananie, Telaah Sastra (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2000),
hlm. 84
     28
        Rini Wiediastutik S., op.cit., hlm. 15
     29
        Ibid..
23




     sebuah karya sastra, maka pembaca tersebut telah mengetahui tujuan

     pengarang dalam sebuah cerita yang telah dibuatnya.

5. Bentuk-bentuk Tulisan Novel

        Ada banyak bentuk-bentuk tulisan dalam sebuah cerita. Salah satunya

  dapat dilihat berdasarkan penggolongan dalam cara penyajian dan tujuan

  penyampaiannya. Dan bentuk tulisan sendiri meliputi, deskripsi, eksposisi,

  narasi, persuasi dan argumentasi.

  a. Deskripsi

           Deskripsi adalah bentuk tulisan yang bertujuan memperluas

     pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan jalan melukiskan hakikat

     objek yang sebenarnya. Dalam tulisan deskripsi, penulis tidak boleh

     mencampuradukkan keadaan yang sebenarnya dengan interpretasinya

     sendiri.

  b. Eksposisi

           Di tinjau dari asal katanya, eksposisi berarti membuka dan

     memulai. Bahkan ada yang mengatakan eksposition means explanation

     (eksposisi adalah penjelasan). Ini berarti tulisan eksposisi berusaha untuk

     memberitahu, mengupas, menguraikan atau menerangkan sesuatu.

           Pada dasarnya eksposisi berusaha menjelaskan suatu prosedur atau

     proses, memberikan definisi, menerangkan, menjelaskan, menafsirkan

     gagasan, menerangkan bagan atau table, atau mengulas sesuatu.

     Biasanya, tulisan eksposisi sering ditemukan bersama-sama dengan

     bentuk tulisan deskripsi. Seorang yang menulis eksposisi berusaha
24




  memberitahukan      pembacanya      agar   pembaca      semakin     luas

  pengetahuannya tentang suatu hal.

c. Narasi

        Narasi merupakan bentuk tulisan yang berusaha menciptakan,

  mengisahkan, merangkaikan tindak-tanduk perbuatan manusia dalam

  sebuah peristiwa secara kronologis atau yang berlangsung dalam suatu

  kesatuan waktu tertentu.

        Narasi biasanya ditulis berdasarkan rekaan atau imajinasi. Namun

  demikian, narasi yang ditulis juga bisa ditulis berdasarkan pengalaman

  pribadi penulis, pengamatan atau wawancara. Narasi pada umumnya

  merupakan himpunan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu

  atau urutan kejadian. Dalam tulisan narasi, selalu ada tokoh-tokoh yang

  terlibat dalam suatu atau berbagai peristiwa yang diceritakan. Meskipun

  berdasarkan fakta imajinasi penulis dalam bercerita tetap terkesan kuat

  sekali.

        Melalui narasi, seorang penulis memberitahukan orang lain dengan

  sebuah cerita. Sebab, narasi sering diartikan juga dengan cerita. Sebuah

  cerita adalah sebuah penulisan yang mempunyai karakter, setting, waktu,

  masalah, mencoba untuk memecahkan masalah dan memberi solusi dari

  masalah itu.

d. Argumentasi

        Tulisan argumentasi biasanya bertujuan untuk meyakinkan

  pembaca, termasuk membuktikan pendapat atau pendirian dirinya bisa
25




      juga membujuk pembaca agar pendapat penulis bisa diterima. Bentuk

      argumentasi dikembangkan untuk memberikan penjelasan dan fakta-

      fakta yang tepat terhadap apa yang dikemukakan yang sangat dibutuhkan

      dalam tulisan argumentatif adalah data penunjang yang cukup, logika

      yang baik dalam penulisan dan uaraian yang runtut.

      Berikut ini adalah tugas dari penulis argumentatif:

      1. Harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan

         orang mengenai topik yang akan diargumentasikan;

      2. Berusaha untuk menghindari setiap istilah yang menimbulkan

         prasangka tertentu;

      3. Penulis       argumentatif       berusaha       untuk       menghilangkan

         ketidaksepakatan;

      4. Menetapkan       secara      tepat    titik   ketidaksamaan         yang   di

         argumentasikan.30

e. Persuasi

            Pesuasi berarti membujuk atau meyakinkan. Goris Keraf pernah

      mengatakan, persuasi bertujuan meyakinkan seseorang agar melakukan

      sesuatu yang dikehendaki penulis. Mereka yang menerima persuasi harus

      dapat keyakinan, bahwa keputusan yang diambilnya merupakan

      keputusan yang benar, bijaksana dan dilakukan tanpa paksa.

            Melalui persuasi, seorang penulis mencoba mengubah pandangan

      pembaca       tentang      sebuah       permasalahan       tertentu.     Penulis


30
     Nurudin, Dasar-dasar Penulisan (Malang : UMM Press, 2007), hlm. 79
26




        mempersembahkan fakta dan opini yang bisa didapatkan pembacanya

        untuk mengerti menggapai sesuatu itu adalah benar, salah atau diantara

        keduanya.

              Di samping itu, penulis persuasi harus bisa menampilkan fakta-

        fakta agar apa yang diinginkannya diyakini pembaca, dan pembaca mau

        melakukan sesuai maksud penulis. Persuasi biasanya akan memberikan

        penekanan pada pemilihan kata yang berpengaruh kuat terhadap emosi

        atau perasaan orang lain.

5. Peran Novel

           Setidak-tidaknya sudah seribu tahun sastra menduduki fungsinya yang

       penting dalam masyarakat Indonesia. Sastra dibaca oleh para raja dan

       bangsawan, serta kaum terpelajar pada zamannya. Sejak dahulu sastra

       menduduki fungsi intelektual dalam kehidupan masyarakat. Pentingnya

       kedudukan sastra dalam masyarakat Indonesia lama, disebabkan oleh

       fokus budaya mereka pada unsur agama dan seni. Sastra Jawa Kuno malah

       menduduki fungsi religio-magis, pada zaman Islam, sastra digunakan para

       raja untuk memberikan ajaran rohani kepada rakyatnya.31 Jadi, pada zaman

       dahulu sastra mempunyai fungsi yang sangat penting dalam masyarakat

       Indonesia. Akan tetapi, fungsi ini mulai tergeser dengan masuknya

       kebudayaan barat ke Indonesia.32

           Beberapa fungsi sastra di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa peran

       novel dalam masyarakat juga sangat penting, karena novel bukan saja

  31
       Jakob Sumardjo, Sastra dan Masa (Bandung: ITB, 1995), hlm. 6
  32
       Ibid..
27




      menampilkan sebuah wacana kepada masyarakat, akan tetapi novel juga

      sangat berperan terhadap perkembangan masyarakat, terlihat pada pesan

      dari seorang penulis atau sastrawan dapat dikatakan sebagai pejuang moral

      karena mereka berupaya agar pembaca dapat mengetahui dan memahami

      apa yang ada dalam alur cerita novel tersebut sehingga dapat menggugah

      perasaan si pembaca.

B. Konsep Pendidikan Nilai

   1. Pengertian Definisi dan Orientasi Pendidikan Nilai

           Pendidikan nilai dapat dimulai dari pemahaman tentang definisi dan

     tujuannya. Definisi dapat memberikan petunjuk pada pemaknaan istilah

     pendidikan nilai, sedangkan tujuan dapat memberikan kejelasan tentang

     cita-cita dan arah yang dituju oleh pendidikan nilai.

     a. Definisi Pendidikan Nilai

              Pada dasarnya, pendidikan nilai dirumuskan dari dua pengertian

        dasar yang terkandung dalam istilah pendidikan dan istilah nilai. Ketika

        kedua istilah itu disatukan, arti keduanya menyatu dalam definisi

        pendidikan nilai. Namun karena arti pendidikan dan arti nilai dapat

        dimaknai berbeda, definisi nilai pun dapat beragam, tergantung pada

        tekanan dan rumusan yang diberikan pada kedua istilah itu.

              Seperti dikemukakan oleh Sastrapratedja (Kaswardi, 1993), yang
              dimaksud dengan pendidikan nilai adalah penanaman dan
              pengembangan pada diri seseorang. Dalam pengertian yang hampir
              sama Mardiatmadja (1986) mendefinisikan pendidikan nilai
              sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan
              mengalami niali-nilai serta menempatkannya secara integral dalam
              keseluruhan hidupnya. Dua ahli Pendidikan nilai itu memiliki
              pendangan yang sama bahwa pendidikan nilai tidak hanya
28




               merupakan program khusus yang diajarkan melalui sejumlah mata
               pelajaran, tetapi mencakup pula keseluruhan proses pendidikan33

               Dan dalam pengertian lain, pendidikan nilai ialah penanaman dan
               pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang. Pendidikan nilai
               tidak harus merupakan satu program atau pelajaran khusus, seperti
               pelajaran menggambar atau bahasa inggris, tetapi lebih merupakan
               suatu dimensi dari seluruh usaha pendidikan34

               Sementara itu, dalam laporan Nasional Recource Center For Value
               Education, pendidikan nilai di negara India didefinisikan sebagai
               usaha untuk membimbing peserta didik dalam memahami,
               mengalami dan mengamalkan nilai-nilai ilmiah, kewarganegaraan
               dan sosial yang tidak secara khusus dipusatkan pada pandangan
               agama tertentu (NRCVE, 2003). Dalam pengertian yang lebih
               oprasional David Aspin (2000) membuat definisi pendidikan nilai
               sebagai bantuan untuk mengembangkan dan mengartikulasikan
               kemampuan pertimbangan nilai atau keputusan moral yang dapat
               melembagakan kerangka tindakan manusia35

               Sedangkan dalam buku dengan judul ”memanusiakan manusia
               muda tinjauan pendidikan humaniora”, menjelaskan bahwa
               pendidikan nilai adalah suati pandangan dasar seseorang terhadap
               alam, sesama manusia dan Tuhannya (yang akhir ini terjabar secara
               lebih terperinci dalam pandangan-pandangan keagamaannya) 36

               Dari definisi di atas dapat ditarik suatu definisi pendidikan nilai

         yang mencakup keseluruhan aspek sebagai pengajaran atau bimbingan

         kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan, dan

         keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan

         bertindak yang konsisten. Definisi pendidikan nilai ini perlu dibedakan

         dari arti pendidikan nilai yang dimaknai secara fungsional dan

         situasional.


    33
       Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 119
    34
        Kaswardi, E.M K., Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000 (Jakarta: PT Grasindo,
1993), hlm. 3
    35
       Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 119
    36
       Dick Hartono, Menanusiakan Manusia Muda Tinjauan Pendidikan Humaniora (Jakarta:
 Kanisius, 1985), hlm. 33
29




b. Orientasi Pendidikan Nilai

            Secara Umum, pendidikan nilai dimaksudkan untuk membantu

      peserta didik agar memahami, menyadari, mengalami nilai-nilai serta

      mampu menempatkannya secara integral dalam kehidupan. Untuk

      sampai pada tujuan yang dimaksud, tindakan-tindakan pendidikan yang

      mengarah pada perilaku baik dan benar perlu diperkenalkan oleh para

      pendidik.

            Dalam proses pendidikan nilai, tindakan-tindakan pendidikan yang

      lebih spesifik dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih khusus.

      Seperti dikemukakan Komite APEID (Asia and the Pasific Programme

      of Educational Innovation for Defelopment), pendidikan nilai ditujukan

      secara khusus untuk: (a) menerapkan pembentukan nilai kepada anak, (b)

      menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai-nilai yang diinginkan, dan

      (c) membimbing perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut.

      Dengan demikian tujuan pendidikan nilai meliputi tindakan mendidik

      yang berlangsung mulai dari usaha penyadaran nilai sampai pada

      perwujudan perilaku-perilaku yang bernilai (UNESCO, 1994).37

            Selain itu, tujuan pendidikan nilai disesuaikan pada konsep awal

      pendidikan nilai yang menyentuh filosofi tujuan pendidikan yaitu

      memanusiakan manusia, membangun manusia paripurna dan membentuk

      insan kamil atau manusia seutuhnya. Dari konsep awal pendidikan nilai

      yang menyentuh pada tujuan pendidikan inilah, maka muncul pertanyaan

37
     Rokhmat Mulyana, op. cit., hlm. 119-120
30




mendasar apa yang membuat manusia berkembang menjadi manusia

seutuhnya? Jawabannya menurut N. Diyarkara adalah pengakuan dan

penghargaan akan nilai-nilai kemanusiaan. Pengakuan dan penghargaan

akan nilai-nilai kemanusiaan itu hanya akan timbul manakala ranah

afektif dalam diri seseorang dihidupkan. Hal itu berarti proses belajar

mengajar perkembangan prilaku anak dan pemahamannya mengenai

nilai-nilai moral seperti keadilan, kejujuran, rasa tanggung jawab serta

kepedulian terhadap orang lain merupakan elemen yang tidak dapat

dipisahkan dari unsur pendidikan.

         Kesadaran anak akan nilai humanitas pertama-tama muncul bukan

melalui teori atau konsep, melainkan melalui pengalaman konkrit yang

langsung dirasakannya di sekolah. Pengalaman itu meliputi sikap dan

perilaku guru yang baik, penilaian adil yang diterapkan, pergaulan yang

menyenangkan serta lingkungan yang sehat dengan penekanan sikap

psitif    seperti   penghargaan     terhadap   keunikan    serta   perbedaan.

Pengalaman seperti inilah bereperan membentuk emosi anak berkembang

dengan baik.

         Selanjutnya Driyarkara mengindikasikan bahwa kesadaran moral

mengarahkan anak untuk mampu membuat pertimbangan secara matang

atas perilakunya dalam kehidupannya sehari-hari baik di sekolah maupun

di masyarakat. Mark dan Terence mengatakan:

         Morality Is directed and constructed to perform a large range of
         independent funtions to prohibit destruction and harm, to promote
         harmony and stability, to develop what is best in us. It promotes the
         social and economoc conditions that sustain mutually benefisial
31




             truth and cooperation, articulates ideals and excel lences, sets
             priorities among the activities that constitute our live38

             Kymlicka menegaskan bahwa relevansi penanaman kesadaran
             moral pendidikan yaitu membentuk warga negara yang mempunyai
             rasa keadilan, kamampuan membedakan mana yang baik dan mana
             yang buruk, mempunyai penghargaan akan hak-haka asasi
             manusia, bersikap toleran, dan memiliki rasa solider serta loyalitas
             terhadap yang lain39

             Benang merah yang dapat ditarik dari konsep Driyarkara adalah

      perlunya keseimbangan antara dimensi kognitif dan afektif dalam proses

      pendidikan. Artinya untuk membentuk manusia seutuhnya tidak cukup

      hanya dengan mengembangkan kecerdasan berfikir atau IQ anak didik

      melalui segudang ilmu pengetahuan, melainkan juga harus dibarengi

      dengan pengembangan perilaku dan kesadaran moral. Karena dengan

      kombinasi seperti itulah peserta didik akan mampu menghargai nilai-nilai

      humanistik di dalam dirinya dan orang lain. Disinilah hakikat pendidikan

      nilai yang sebenarnya.

             Disisi lain pendidikan nilai bisa berarti educare      yang berarti

      membimbing, menuntun, dan pemimpin. Filosofi pendidikan sebagai

      educare ini lebih mengutamakan proses pendidikan yang tidak terjebak

      pada banyaknya materi yang dipaksakan kepada peserta didik dan harus

      dikuasai. Proses pendidikan educare lebih merupakan aktivitas hidup

      untuk menyertai, mengantar, mendampingi, membimbing, memampukan

      peserta didik sehingga tumbuh berkembang sampai pada tujuan

      pendidikan yang dicita-citakan.

38
     Zaim Elmubarok, op cit., hlm. 13
39
     Ibid..
32




                Di sini atmosfer pendidikan mendapat tekanan dan peserta didik di

       beri keleluasaan untuk mengesplorasi diri dan dunianya sehingga

       berkembang kreativitas, ide dan ketrampilan diri sebagai bagian dari

       masyarakatnya. Minat dan bakat peserta didik diperlukan sebagai sentral

       dan hal yang amat berharga. Peran pendidik melebihi dari posisi sebagai

       narasumber, pendorong, pemberi motivasi dan fasilitator bagi peserta

       didik.

                Karena itu, suatu usulan rumusan komprehensif menyeluruh yang

       terbuka kiranya jauh lebih menguntungkan untuk menyiapkan generasi

       masa depan. Usulan rumusan tersebut adalah pendidikan nilai bertujuan

       mendampingi dan mengantar peserta didik kepada kemandirian,

       kedewasaan, kecerdasan, agar menjadi manusia profesional (artinya

       memiliki ketrampilan (sklill), komitmen pada nilai-nilai dan semangat

       dasar pengabdian/pengorbanan) yang beriman dan bertanggungjawab

       akan kesejahteraan dan kemakmuran warga masyarakat, nusa dan bangsa

       Indonesia.40

2. Landasan Pendidikan Nilai

          Landasan pendidikan nilai yang akan diketengahkan terdiri atas enam

 bagian, yaitu: landasan filosofis, landasan spikologis, landasan sosiologis,

 landasan estetik, landasan yuridis dan landasan religi. Landasan filosofis

 mengetengahkan akar pemikiran tentang hakikat manusia dari perspektif

 filasat. Landasan psikologis menjelaskan aspek-aspek psikis manusia


 40
      Zaim Elmubarok, op.cit., hlm. 13-14
33




sebagai   individu.    Landasan       sosiologis   meliputi    prinsip-prinsip

pengembangan manusia sebagai anggota masyarakat. Landasan estetik

menguraikan kemampuan manusia dalam mempersepsi nilai keindahan.

Adapun penjelasan landasan-landasan tersebut adalah sebagai berikut:

a) Landasan Filosofis

          Pemahaman tentang hakikat manusia telah melahirkan beragam

    tafsiran yang mengkristal pada sejumlah aliran filsafat pendidikan dan

    disiplin ilmu. Banyak peneliti yang tertarik pada eksplorasi tentang

    hakikat manusia, tetapi tidak seorang pun dapat memonopoli

    pengetahuan tentang hakikat manusia. Perdebatan panjang yang cukup

    melelahkan tentang silang pendapat mengenai hakikat manusia telah

    berlangsung sejak zaman yunani kuno, namun manusia hingga kini

    tetap sebagai enigma (teka-teki) yang tak pernah tuntas atau dalam

    bahasa Alexis Carrel (Syari’ati, 1996) disebut I’homme cet iconnu

    (makhluk    tak   dikenal).   Karena    itu,   pencarian   alasan   dalam

    memperdebatkan perbedaan sudut pandangan tentang hakikat manusia

    terkadang tidak lebih penting dari upaya pemanfaatan pandangan

    tersebut bagi upaya pendidikan.

          Sebagian besar filosof beranggapan bahwa hakikat manusia

    adalah hewan yang dapat dididik (animal educantum). Hakikat manusia

    ini didukung oleh hakikat lainnya yang dikenal dalam sejarah pemikiran

    Eropa Barat sebagai: homo sapies (manusia yang mengetahui dan

    dibekali dengan akal), homo ludens (manusia yang bermain-main),
34




         homo recens (manusia yang membuat sejarah), homo faber (manusia

         teknis yang menggunakan alat-alat), homo simbolicum (manusia yang

         mengenal simbol-simbol bahasa), homo concors (manusia yang hidup

         seimbang antara dirinya dengan orang lain dan masyarakat sekitar),

         homo economicus (manusia sebagai makhluk ekonomi), dan animal

         rational (hewan yang rasional) (kartono, 1992). Selin itu, ada pula

         pihak yang beranggapan bahwa hakikat manusia justru terletak pada

         semangat spiritualnya dalam menjalin hubungan dengan Tuhan.

         Menurut pandangan ini manusia yang paling hakiki adalah manusia

         yang beragama.

                Untuk mengetahui perbedaan pandangan tadi, kita dapat

         memimjam kerangka analisis Phenix (1964) dalam bukunya Realms of

         Meaning. Ia menempuh dua langkah penting dalam mengungkapkan

         hakikat manusia, yaitu: Pertama, ia mengidentifikasi interpretasi

         wilayah kajian ilmu Kimia, Fisika, Biologi, Psikilogi, Sosiologi,

         Ekonomi, Politik, Antropologi, Linguistik, Seni, Moral, Sejarah Dan

         Teologi dalam menjelaskan hakikat manusia. Kedua, ia melakukan

         rekonstruksi pengertian tentang hakikat manusia berdasarkan sejumlah

         tafsiran yang diajukan ahli dari berbagai disiplin ilmu. Pada akhir

         analisisnya, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa hakikat manusia

         terletak dalam dunia kehidupan makna.41




    41
       Krech, D. dan Crutchfield, R., Individual In Society (Tokyo: Mc Graw-Hill Kogakusha,
1962), hlm. 279
35




        Dengan asumsi bahwa makna memiliki kesejajaran arti dengan

   nilai, maka landasan filosofis pendidikan nilai yang dapat ditegakkan

   pada dua kemungkinan posisi, yaitu: 1) filsafat pendidikan nilai pada

   dasarnya tidak berpihak pada salah satu kebenaran tentang hakikat

   manusia yang dicapai oleh suatu aliran pemikiran, karena nilai adalah

   esensi hakikat manusia yang dapat mewakili semua pandangan. 2)

   filsafat pendidikan berlaku selektif terhadap kebenaran hakikat manusia

   juga menyangkut substansi kebenarannya yang dapat berlaku

   kontektual dan situasional.

b) Landasan Psikologis

        Kehasan psikologi dalam menelaah manusia terletak pada

   pandangannya bahwa sebagai individu selalu tampil unik keunikan

   mansia dilihat dari sisi mental dan tingkah lakunya berimplikasi pada

   asumsi psikologis berikutnya bahwa pada hakikatnya tidak ada seorang

   pun anak manusia dengan anak manusia yang sama persis dengan anak

   manusia lainnya. Asumsi seperti ini memang dapat dikesani ekstrem

   karena dapat menfikan kebenaran generalisasi atau teori perkembangan

   dunia psikologis manusia.

        Walaupun demikian, psikologi mencoba untuk menarik batas

   kemiripan melalui kaedah-kaedah perkembangan mental manusia

   beserta ciri-ciri perilakunya. Keutuhan manusia sebagai organisme

   dijelaskan melalui aspek-aspek psikis yang berkembang secara dinamis.

   Demikian pula bebedaan individu ditarik pada prinsip-prinsip dasar
36




            yang mewakili setiap fase pertumbuhan dan perkembangan manusia.

            Dengan berdasarkan pada kaidah-kaidah umum Psikologi seperti itu,

            landasan pendidikan nilai dapat dijelaskan.

            1. Motivasi

                     Setiap orang memiliki motivasi untuk bertindak sesuai dengan

               keinginan, minat dan kebutuhannya. Motivasi merupakan suatu

               usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang

               agar ia tergerak hatinya untuk bertidak melakukan sesuatu sehingga

               mencapai hasil atau tujuan tertentu. Karena itu dalam kajian

               psikologi, motivasi sering dipertimbangakan sebagai sutu tindakan

               diri seseorang. 42

                     Apabila dikaitkan dengan pendidikan nilai sebagai suatu upaya

               penyadaran nilai pada peserta didik, maka motivasi menjadi aspek

               penting yang perlu dipertimbangkan. Dari sejumlah kajian tentang

               motivasi      menunjukkan    bahwa      dorongan-dorongan     psikologis

               manusia bergerak secara dinamis dalam suatu kontinum yang

               menempatkan nilai pada ujung pertimbangan psikologis. Dalam teori

               sikap dari Newcomb misalnya, nilai ditempatkan di atas sikap dan

               keyakinan seseorang, demikian pula dalam teori kebutuhan dari

               Murray,    nilai     ditempatkan   di   atas   kebutuhan    psikogenetik

               individu”43


    42
          Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002),
hlm. 71
    43
       Hall, C.S dan Linzey, G., Introduction to Personality Theory (New York: John Wiley
dan Sons, 1985), hlm. 316-318
37




        Hal tersebut berimplikasi bahwa pendidikan nilai harus mampu

  membangkitkan motivasi peserta didik ke arah tindakan yang

  didasarkan pada pilihan kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

  Tindakan yang positif itu harus senantiasa dijaga ketahanannya agar

  berlangsung lama dan terinternalisasi pada diri peserta didik.

2. Perbedaan Individu

        Pebedaan individu merupakan aspek lain yang menjadi

  landasan pengembangan pendidikan nilai secara psikologis. Seperti

  telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, pebedaan individu

  mencerinkan adanya keunikan pada peserta didik. Tidak mungkin

  seorang siswa memiliki minat, keinginan, sifat, keyakinan dan nilai

  dalam frekuensi dan intensitas yang sama dengan apa yang dimiliki

  siswa lain. Demikian pula, secara fisik ia tidak mungkin memiliki

  bentuk fisik yang sama, meski dilahirkan sebagai saudara kembar.

        Perbedaan yang dimiliki individu baik secara fisik maupun

  mental dapat menjadi kekuatan atau kelemahan pada dirinya. Dalam

  fenomena pendidikan, misalnya ada siswa yang cerdas, rajin, tekun,

  shaleh atau gemuk, tetapi sebaliknya ada pula yang bodoh, malas,

  nakal, atau kurus. Satu atau lebih ciri berbedaan itu mungkin melekat

  pada diri seseorang dan menjadi kekuatan atau kelemahan pada

  dirinya.

        Perbedaan individu berimplikasi pada kurikulum pendidikan

  nilai dalam membimbing dang mengajarakan peserta didik ke arah
38




             pilhan nilai kehidupan yang tepat, fungsional, kontektual, serta

             sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka. Seperti yang dihadapi

             pendidikan pada umumnya, masalah krusial pendidikan nilai terletak

             bagaimana pendidikan nilai dapat dilakukan secara adil. Adil dalam

             arti nilai diajarkan dengan tidak mengabaikan perkembangan nilai

             subjektif yang lahir secara perorangan dan juga tidak melupakan

             nilai objektif kelompok. Dengan kata lain, nilai subjektif dan nilai

             objektif keduanya harus dikembangkan secara seimbang.

                    Persoalan ini memang tidak sederhana, karena konsep keadilan

             dalam belajar nilai pada akhirnya akan sampai pada pertanyaan

             tentang apa materinya dan bagaimana metodenya. Karena itu, untuk

             mengatasi kompleksitasperbedaan individu dalam belajar nilai

             pendidik sebaiknya memilih materi secara elektik sesuai dengan

             topik pembelajaran, kebutuahan siswa, dan kontek kehidupan.44

             Pilihan secara eklektik jiga dapat dilakukan dalam menentukan

             metode atas dasar pertimbangan konteks pengembangan nilai secara

             mandiri pada peserta didik dan peran-peran penguatan secara

             imperatif artinya sifat pembelajaran yang menekankan atau

             mengharuskan peserta didik memiliki nilai atau moral yang baik.45




     44
        Power, E.J., Philosophy of Education; Studies in Philosoies, Schooling, and Educational
Policies (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1982), hlm. 91
     45
        Tafsir, Ilmu Pendidikan Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995),
hlm. 45-48
39




       3. Tahapan Belajar Nilai

                 Dalam memahami nilai, anak tumbuh dan berkembang sesuai

           dengan pengalamannya. Hal ini tidak berarti semua pengalaman

           anak berlangsung dalam suatu kejadian dan kesatuan yang utuh.

           Pengalaman pada diri anak pada umumnya merupakan petunjuk

           kearah perkembangan persepsi dan tindakan yang pada gilirannnya

           menuntut proses belajar untuk membangun pengalaman itu. Karena

           itu, strategi dasar yang harus dikembangkan oleh guru meliputi: (1)

           identifikasi nilai dan tujuan yang hendak dicapai oleh anak, (2)

           menyusun       pengalaman      kehidupan   yang   matang    terhadap

           pengembangan nilai, dan (3) menyediakan sejumlah pengalaman

           yang memperluas kemampuan anak dalam membangun nilai secara

           mandiri.

                 Untuk itu, pendidikan nilai pada anak perlu disesuaikan

           dengan tahap perkembangan minat dan kepedulian anak terhadap

           nilai. Egan (UNESCO, 1991) menjelaskan bahwa perkembangan

           minat dan kepedulian anak terhadap nilai berlangsung dalam empat

           tahapan, yaitu: tahapan mitos, romantis, filosofis dan ironis. Keepat

           tahap perkembangan itu berlangsung seiring dengan pertumbuhan

           fisik anak yang semakin lama semakin dewasa. Secara rinci empat

           tahapan perkembangan itu dijelaskan pada bagan berikut ini.46




46
     Rokhmat Mulyana, op. cit., hlm. 129-130
40




Tahapan /Usia Jenis      Karakteristik Perkembangan
                      Anak belajar melalui cara
                      bermain dan berceritera. Mereka
                      bahagia bermain dengan objek
                      mainan       yang      melibatkan
   Tahap Mitos        perasaan mereka. Pada tahap ini
   (5-10 tahun)       nilai-moral merupakan perhatian
                      utama yang dibedakan secara
                      hitap putih seperti baik dan jelek,
                      sayang dan benci, suka dan tidak
                      suka, dan sebagainya.
                      Pada rentang usia ini, anak
                      berharap terhadap informasi
                      yang dapat memberikan uraian
 Tahap Romantis       tentang     manusia,     semangat
  (8-15 tahun)        hidup,                petualangan,
                      pengembangan teknologi, olah
                      raga, sampai pada persoalan
                      yang asing bagi dirinya.
                      Tahap ini didominasi oleh
                      keinginan       remaja       untuk
                      menyederhanakan             urutan
                      pengalaman                 melalui
                      pengambilan kesimpulan yang
  Tahap Filosofis     dibuat sendiri tau melalui tatanan
   (14-20 tahun)      hukum dan peraturan yang sudah
                      baku. Pada tahap ini pula
                      biasanya anak merasa frustasi
                      apabila ada perlakuan-perlakuan
                      khusus atau ada pertentangan
                      dalam penegakan hukum.
                      Pada tahap ini, remaja akhir atau
                      orang dewasa mencoba untuk
                      mencari kesimpulan yang jelas
                      berdasarkan pengetahuan dan
                      pengalaman yang dimilikinya.
                      Tetapi penarikan kesimpulan dan
                      penjelasan, termasuk pada hal-
   Tahap Ironis
                      hal yang kontradiktif dan
 (20 tahun ke atas)
                      membingungkan, tidak saja
                      dihargainya       tetapi      juga
                      disenanginya. Pada tahap ini
                      anak remaja akhir dan orang
                      dewasa tidak lagi merasa frustasi
                      dengan adanya sesuatu yang
                      bertentangan atau berlawanan.
41




                   Selain model perkembangan di atas, masih ada model

             perkembangan lainnya yang dapat dirujuk sebagai dasar penyadaran

             nilai pada peserta didik. Tahap perkembangan moral tersebut adalah

             sebagai berikut: Menurut Lawrence Kohlberg ada tiga tahap

             perkembangan moral yaitu: ”pra oprasional, konkret oprasional,

             formal oprasional”.47 Dan menurut Jean Piaget atau tiga tingkat

             pertimbangan moral (prakonvensional, moralitas konvesional,

             moralitas konvesional”.48

                   Tahapan-tahapan perkembangan minat dan kepedulian anak

             terhadap nilai sebagaimana dikemukakan di atas memiliki implikasi

             luas bagi ”pendidikan nilai”.

    c) Landasan Sosial

                Manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup

         sendiri tanpa adanya keterlibatan orang lain atau tanpa melibatkan diri

         dengan orang lain. Hubungan saling membutuhkan antar individu

         menandakan bahwa manusia tidak dapat hidup terisolasi dari dunia

         sekitar. Itulah sebabnya, manusia dalam sejarah pemikiran Eropa Barat

         disebut homo concors; yakni makhluk yang dituntut untuk hidup secara

         harmonis dalam lingkungan masyarakatnya. Adalah tidak mungkin bagi

         manusia untuk secara mutlak mementingkan dirinya sendiri (Absolute

         egoism), demikian pula manusia tidak akan mampu hidup sepenuhnya


    47
        Spilka, B., The Psychology of Religion; An Empirical Approch (New Jersey: Prentice-
Hall, 1985), hlm. 62-72
     48
        Syah, M., Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: PT Rosdakarya,
2000), hlm. 77-78
42




hanya untuk mementingkan orang lain (absolute altruism). Menurut

Durkheim, kedua karakteristik perilaku ekstrem tersebut merupakan

batas ideal yang tidak pernah dicapai dalam realitas kehidupan manusia.

     Eksistensi sosial manusia berada di antara dua kutub tersebut.

Manusia memiliki keyakinan, sikap, dan tindakan sosial yang lahir

karena adanya kebebasan. Tetapi, pilihannya tidak dapat dilepaskan

sepenuhnya dari pengaruh-pengaruh dan kepentingan orang lain. Setiap

tindakan sosial memiliki tindakan sosial memiliki tujuan dan cara

mencapai tujuan itu dilakukan melalui belajar dari pengalaman (trial

and eror) dalam suatu proses sosial. Proses seperti ini dialami oleh

setiap orang, dan semakin lama semakin mencapai kematangan.

     Sebagai jalinan kompleks, proses sosial melibatkan sentimen

moral yang berkadar kebaikan kepada orang lain dan sentimen yang

mengarah pada pemenuhan keinginan pribadi. Sentimen moral dapat

menimbulkan aturan-aturan sosial yang mengarahkan kepentingan diri,

mengendalikan sikap egois dan mendorong hati yang alamiah, sehingga

memungkinkan terwujudnya sebuah kehidupan sosial atas konsesus

bersama. Prinsip moralitas sosial didasarkan pada asumsi bahwa

manusia mengakui tindakan dan sikap orang lain apabila ia

membayangkan dirinya sendiri berada dalam situasi orang lain. Dengan

kata lain ia mampu bersikap simpatik atau empatik pada orang lain.

     Keterikatan antara kebutuhan pribadi dengan kepentingan orang

lain, berada dalam pola-pola tanggapan hubungan interpersonal. Pola
43




        itu meliputi: pergerakan mendekati orang, menentang orang dan

        pergerakan menghindari orang. Kecendrungan mendekatkan diri pada

        orang lain mencerminkan bahwa manusia memilki kebutuhan hubungan

        akrab, kerelaan untuk menjalin persahabatan, pertimbangan suka-tidak

        suka orang lain terhadap dirinya. Kecendrungan menentang orang lain

        berarti keinginan untuk mengetahui kemampuan orang lain dan

        memperhitungkan          andil     orang     lain   bagi    dirinya.   Sedangkan

        menghindari orang lain menunjukkan adanya anggapan bahwa orang

        lain akan mengganggu dirinya. Pola-pola hubungan interpersonal

        seperti itu dalam psikologi-sosial, dirumuskan ke dalam sejumlah

        indikator yang lebih terinci, sehingga kecendrungan sosiometrik

        seseoarang dapat diidentivikasi dengan jelas.

               Teori    psikologi      sosial      menjelaskan     bahwa   ikatan   sosial

        diwujudkan dalam kontek hubungan interpersonal yang melibatkan

        stimulus, respon, dan tafsiran antar pribadi dalam pola-pola interaksi

        sosial. Hubungan menjadi bermakna karena didalamnya melibatkan

        sikap, keyakinan dan tindakan.49 Malim menjelaskan bahwa tindakan

        sosial individu merefleksikan sikap dan keyakinan seseorang terhadap

        objek sosial. Karena itu kognisi, perasaan, dan tindakan merupakan

        aspek-aspek yang saling berkaitan satu sama lainnya dan membentuk

        suatu sistem sikap, keyakinan dan nilai. Konteks hubungan sosial




49
     Hall, C.S dan Linzey, G., op.cit., hlm. 598
44




   dibentuk dalam pola ikatan tertentu dengan menyertakan aspek-aspek

   psikologis individu dan kelompok.

        Pandangan-pandangan di atas memiliki implikasi penting bagi

   pengembangan pengembangan nilai. Sebagai proses penyadaran nilai

   pada peserta didik, pendidikan nilai perlu dirancang dengan

   mengangkat nilai-nilai kehidupan sosial yang aktual dan kontektual.

   Peserta   didik    perlu   diberi   kesempatan   untuk   memeriksa,

   mempertimbangkan, dan membuat keputusan atas isu-isu sosial serta

   bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya.

        Target utama pendidikan nilai secara sosial adalah membangun

   kesadaran-kesadaran interpersonal yang mendalam. Peserta didik

   dibimbing untuk mampu menjalin hubungan sosial secara harmonis

   dengan orang lain, berempati, suka menolong, jujur, bertanggungjawab,

   dan menghargai perbedaan pendapat. Semua sikap dan perilaku itu

   dapat membantu peserta didik untuk hidup secara sehat dan harmonis

   dalam lingkungan sosial yang dihuninya.

d) Landasan Estetik

        Manusia adalah makhluk yang memiliki cinta rasa keindahan.

   Cita rasa keindahan (estetik) berkembang sesuai dengan potensi setiap

   individu dalam menilai obyek-obyek yang bernilai seni. Pada tingkatan

   tertentu cita rasa keindahan berkembang secara subyektif, dalam arti

   setiap orang dapat mengespresikan kualitas dan intensitas keindahan

   yang berbeda. Namun pada tingkatan yang lebih tinggi, cita rasa
45




keindahan dapat sampai pada penemuan makna keindahan yang hakiki,

sehingga ia berada pada wilayah yang obyektif, yakni suatu kebenaran

dan kebaikan estetik yang bernilai universal.

     Dalam proses perkembangannya, cita rasa keindahan melibatkan

semua domain yang ada pada diri seseorang, meski yang paling domain

adalah aspek perasaan. Proses ini berbeda dari verifikasi empirik dalam

menguji kebenaran ilmu pengetahuan. Nilai-nilai estetik berkembang

dan dibangun berdasarkan pada keindahan yang terdapat dalam obyek

seni. Karena itu, seseorang yang hendak mengembangkan intuisi

estetiknya, ia harus mampu mengelompokkan, menimbang, dan menilai

fakta-fakta keindahan atau menciptakan bentuk-bentuk karaya seni.

     Cita rasa keindahan juga berkembang karena manusia memiliki

indra. Manusia dapat memperoleh keindahan melalui penglihatan dan

pendengaran. Dalam teori estetika, cita rasa keindahan yang diperoleh

melalui dua indra tersebut disebut pengalaman estetika tingkat tinggi,

sedangkan cita rasa keindahan yang masuk melalui indra lain (hidung,

kulit, lidah) merupakan pengalaman estetik tingkat rendah. Hirarki

estetik ini dibedakan oleh para ahli berdasarkan jarak antara nilai

keindahan dengan fungsi indra secara fisik.

     Maxine Grenee mengupas detail mengenai komponen estetika

beserta implikasinya terhadap pendidikan. Pada salah stu bagian

pembahasannya ia menyatakan bahwa nilai estetika perlu dibelajarkan

kepada peserta didik agar mereka mengetahui bagaimana cara belajar
46




       yang bermakna. Dalam pendidikan nilai ini baik guru maupun siswa

       melibatkan proses pemahaman rasa, pilihan pribadi, dan tatanan bentuk

       yang erat kaitannya dengan karakteristik estetika.50

e) Landasan Yuridis

              Penyelenggaraan pendidikan nilai dalam konteks Pendidikan

       Nasional sebenarnya memilki landasan hukum yang kuat. Ideologi

       negara, undang-undang, dan GBHN merupakan ketentuan yuridis yang

       banyak mengandung pesan nilai. Karena itu, pendidikan nilai memiliki

       posisi yang sangat strategis dalam pendidikan nasional, walaupun

       istilah pendidikan nilai belum terdefinisikan secara tegas dalam

       kurikilum pendidikan formal.

              Kalau dilacak lebih jauh, landasan-landasan yuridis yang dapat

       dijadikan pijakan dalam mengembangkan pendidikan nilai meliputi

       empat landasan utama, yaitu:

              Pertama, pancasila sebagai landasan ideal bangsa. Sebagai

       kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa, Pancasila kaya dengan pesan nilai,

       moral dan etika asli bangsa. Sebab itu, landasan ideal berbangsa dan

       bernegara ini dapat dijadikan landasan yang kuat bagi penyelenggaraan

       pendidikan nilai di sekolah, keluarga atau masyarakat. Secara hierarkis

       sila-sila yang terdapat dalam Pancasila dengan jelas menempatkan nilai

       ketuhanan sebagai bagian terpenting, yang kemudian diikuti oleh nilai

       kodrat kemanusiaan, dan kemudian nilai etis-filosofis persatuan,


50
     Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 134-135
47




kerakyatan, dan keadilan sosial. Semua nilai yang terkandung dalam

pancasila itu tentunya bukan sekedar simbol-simbol retorik saja, tetapi

merupakan filsafat atau ideologi bangsa yang harus benar-benar

direalisasikan dalam kehidupan berbangsa, berbangsa dan beragama.

     Kedua, Undang-undang Dasar tahun 1945 (UUD ’45) sebagai

landasan konstitusional bangsa. Sebagaimana Pancasila, UUD ’45

memiliki pesan nilai, moral dan norma bangsa. Pesan nilai itu tercermin

baik dalam bagian pembukaan maupun dalam batang tubuhnya. Nilai

ketuhanan, kodrat kemanusiaan, etis-filosofis bangsa tampak dalam

bagian pembukaan, sedangkan pengoganisasian nilai yang terdapat

dalam prinsip-prinsip filsafat, polotik, ekonomi etika dan agama bangsa

dapat ditemukan dalam batang tubuh UUD ’45. Karena itu, suatu upaya

pendidikan nilai memiliki dasar konstitusional yang jelas dan kuat

dalam mengembangkan nilai-nilai kehidupan bangsa.

     Ketiga, Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993

sebagai landasan oprasional bangsa. Sebagai penjabaran dari norma-

norma hukum yang terdapat dalam UUD ’45, GBHN dapat dijadikan

rujukan yang jelas tentang tujuan pendidikan, utamannya pendidikan

nilai. Rumusan tujuan pendidikan nasional yang terdapat dalam GBHN

1993 dengan jelas mengungkapkan lima dari tujuh karakter manusia

Indonesia yang bersifat aktif, yaitu: ketakwaan, budi pekerti,

kepribadian, semangat bangsa, dan cinta tanah air. Pengembangan lima
48




       aspek itu merupakan garapan utama pendidikan nilai, disamping

       membantu bangsa agar menjadi cerdas dan terampil.

              Keempat, Undang-undang Sistem Nasional (UUSPN) Nomor 20

       tahun 2003 sebagai landasan operasional penyelenggaraan Pendidikan

       Nasional. Dengan ditetapkannnya UUSPN ini sebagai pengganti

       UUSPN Nomor 2 tahun 1989, maka status dan peran pendidikan nilai

       semakin kuat. Pengembangan aspek-aspek afektif dalam pendidikan

       formal yang semakin dituntut seimbang dengan dua aspek lainnya, yaitu

       kognitif dan psikomotorik, sekaligus memperkuat posisi Pendidikan

       Nilai dalam kontek pendidikan Nasional. Demikian pula, revitalisasi

       pendidikan agama disekolah mengandung arti bahwa Pendidikan Nilai

       yang     diselenggarakan      atas     dasar   keyakinan   beragama   perlu

       ditumbuhkan secara optimal dan unik sesuai dengan potensi-potensi

       umat beragama. Dengan demikian pendidikan nilai dalam misisnya

       sebagai penyadaran nilai-nilai humanistik maupun nilai-nilai religius

       berapa pada posisi yang kuat dan peranan yang tidak kalah pentingnya

       dari pada pendidikan akademis.51

f) Landasan Religi

              Walaupun Indonesia bukan negara agama, bangsa Indonesia

       adalah bangsa yang beragama. Setiap pribadi bangsa memiliki

       keyakinan bahwa nilai ketuhanan adalah nilai tertinggi. Perwujudan




51
     Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 152-153
49




atas keyakinan yang dianut dicerminkan dalam beragam bentuk

ritualitas peribadatan yang dilakukan oleh setiap komunitas beragama.

     Adanya perbedaan agama yang dianut bangsa Indonesia menuntut

kehati-hatian dalam menafsirkan istilah iman dan taqwa. Iman dan

taqwa yang digunakan sebagai indikator keyakinan beragama dalam

Pancasila, UUD 1945, GBHN 1993, dan UUSPN 2003 menunjukkan

makna tunggal ika, sedangkan pemberian isi yang berbeda dalam kedua

istilah itu berarti bhineka. Dengan kata lain, secara literal terminologi

iman dan takwa berlaku umum untuk semua agama, tetapi secara

subtansial hal itu dapat dimaknai berbeda. Pada pemaknaan seperti ini,

penulis hendak mendudukan landasan religi pendidikan nilai dalam

skripsi ini sebagai landasan agama yang dilihat dari perspektif

pandangan Islam agar lebih fokus.

     Sebagai cara hidup (way of life), Islam telah mengajarkan

berbagai aspek kehidupan kepada manusia agar hidup selamat dan

akhirat. Pemeliharaan dan pengembangan aspek-aspek kehidupa itu

ditempuh melalui proses pendidikan di sekolah, keluarga dan

masyarakat.

     Dalam terminologi Islam, pendidikan memiliki padanan kata

bahasa arab yang beragam. Ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib merupakan tiga

istilah yang mengandung kesetaraan arti dengan pendidikan. Namun,

kalau dikaji lebih jauh tiga istilah tadi memiliki tekanan pemaknaan

pendidikan yang berbeda. Ahli pendidikan Islam tampaknya sepakat
50




kalau ta’lim memiliki kesetaraan arti dengan pengajaran, tetapi ketika

berbicara tentang tarbiyah dan ta’dib, kedua istilah ini sering

ditafsirkan agak berbeda. Sebagai misal, untuk mewakili istilah

pendidikan an-Nahlawi memilih kata tarbiyah, sedangkan Langgulung

memikih kata ta’dib. Keduanya memang memiliki alasan yang rasional.

     Terlepas dari perbedaan itu, pembelajaran nilai-nilai agama

memiliki landasan yang mendasar dalam Islam. Bahkan dapat

dikatakan, landasan pendidikan nilai dalam perspektif Islam yang

mengandung pesan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diperlukan

oleh umat manusia. Dengan demikian, dapat diasumsikan pula bahwa

secara umum pendidikan nilai dalam perspektif Islam adalah

pendidikan Islam itu sendiri. Adapun hal yang agak membedakannya

hanya terletak pada hubungan fungsional antara keduanya. Pendidikan

nilai lebih berkarakter aktif dan berkeinginan untuk mengkonstruksi

cara-cara pembelajaran yang lebih bermakna bagi terciptanya praktik-

praktik pendidikan Islam yang lebih bermutu.

     Selain itu landasan religi, yang menguatkan pentingnya

pendidikan nilai dalam perspektif Islam dapat dilihat dari hakikat fithah

sebagai potensi dasar yang positif. Fitrah adalah kekuatan inti

pencerahan batin manusia yang secar signifikan berbeda dari konsep

tabularasa. Namun, pada diri manusia terdapat fakultas akal, nafsu, dan

hati yang saling mengalahkan, potensi dasar ini bisa saja tidak

berkembang, ia ditutup oleh nafsu yang melakukan pembangkangan
51




         terhadap eksistensinya, sehingga ketajaman intuisi ketauhidan yang

         melekat pada dirinya menjadi tumpul dan kurang berkembang.

         Karenanya, dinamika ruhaniyah yang terjadi pada diri manusia perlu

         dibimbing ke arah kesadaran nilai dan tindakan yang bernilai melalui

         suatu upaya pendidikan nilai yang berbasis pada pendidikan moral

         beragama.52

3. Klasifikasi Pendidikan Nilai

           Pendidikan nilai merupakan penanaman dan pengembangan nilai-nilai

  pada diri seseorang. Untuk itu dalam skripsi ini akan menjelaskan klasifikasi

  nilai yang harus dikembangkan pada seseorang. Adapun klasifikasi

  pendidikan nilai tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan Nilai Sosial

              Pendidikan nilai sosial adalah penanaman nilai-nilai yang

        mengandung unsur-unsur sosial. dalam dimensi ini terkait dengan

        interaksi sesama manusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan,

        kesopanan dan segala macam produk hukum yang ditetapkan manusia.

        Misalnya: Gotong Royong, toleransi, kerjasama, ramah tamah,

        solidaritas, kasih sayang antar sesama, perasaan simpatik dan empatik

        terhadap orang lain, bersahabat dan sebagainya.

  2. Pendidikan Nilai Religi

              Pendidikan nilai agama (religi) adalah penanaman nilai-nilai yang

        mengandung aspek agama. Nilai-nilai yang mengandung aspek agama di


  52
       Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 153-155
52




         sini dimaksudkan sebagai nilai-nilai yang mengandung unsur keislaman.

         Oleh karena itu, kajian penanaman nilai-nilai Islami di sini tidak

         mengupas aspek-aspek tersebut secara terperinci, namun dibatasi pada

         nilai-nilai pokok ajaran Islam. Nilai pokok ajaran Islam tersebut meliputi

         aqidah, syariah dan akhlaq. Berikut ini akan dibahas ketiga komponen

         pokok tersebut adalah sebagai berikut:

         a) Aqidah

                    Aqidah adalah dimensi ideologi atau keyakinan dalam Islam.

            Ia merujuk kepada beberapa tingkat keimanan seseorang muslim

            terhadap kebenaran Islam, terutaman mengenai pokok-pokok

            keimanan Islam.53

                    Dalam hal ini, penanaman nilai-nilai mengenai pokok

            keimanan Islam, ketaqwaan, melaksanakan perintah-Nya dan

            menjauhi larangan-Nya. Contoh pendidikan nilai dalam ranah ini

            adalah kewajiban manusia untuk senantiasa bertaqwa pada Allah dan

            bersyukur yang termuat dalam Surat Lukman ayat 12-13:


             ãä3ô±o„ $yϑΡÎ*sù öà6ô±tƒ tΒuρ 4 ¬! öä3ô©$# Èβr& sπyϑõ3tø:$# z≈yϑø)ä9 $oΨ÷s?#u™ ô‰s)s9uρ
                                                                       Ï

             ß≈yϑø)9 tΑ$s% øŒ)uρ
                    ä         Î         ∩⊇⊄∪ Ó‰‹Ïϑym ;©Í_xî ©!$# ¨βÎ*sù tx x. tΒuρ ( ϵšø uΖÏ9

             ÒΟŠÏàtã íΟù=às9 x8÷ŽÅe³9$# žχÎ) ( «!$$Î/ õ8ÎŽô³è@ ω ©o_ç6≈tƒ …çµÝàÏètƒ uθèδuρ ϵÏΖö/eω
                         Ý                                     Ÿ ¢

                                                                                                     ∩⊇⊂∪



    53
       Mawardi Lubis, Evaluasi Pendidikan Nilai: Perkembangan Moral Keagamaan
Mahasiswa PTAIN (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2008), hlm. 24
53




          Artinya:
          12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman,
          Yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur
          (kepada Allah), Maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya
          sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya
          Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. 13. Dan (ingatlah) ketika
          Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
          kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
          sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
          kezaliman yang besar.54

                Adapun target pendidikan nilai hubungannya dengan term

         aqidah adalah membangun keyakinan interpersonal yang mendalam

         terhadap kebenaran Islam dan pokok ajarannya.

     b) Syariah

                Syariah merupakan aturan atau undang-undang Allah SWT

         tentang pelaksanaan dan penyerahan diri secara total melalui proses

         ibadah secara langsung maupun tidak langsung dengan sesaman

         makhluk lain, baik dengan sesama manusia, maupun dengan alam

         sekitar. Atau menurut Imam Idris As-Sayafi’i mengemukakan bahwa

         syariat adalah peraturan-peraturan lahir bagi umat Islam yang

         bersumber      pada    wahyu     Allah     dan    kesimpulan-kesimpulan

         (deducation) yang dapat ditarik dari wahyu Allah dan sebagainya.

         Peraturan lahir itu mengenai cara bagaimana manusia berhubungan

         dengan Allah dan sesama makhluk lain selain Allah.

                Disinilah fungsi penanaman nilai-nilai syariah bagi seseorang.

         Dengan penanaman nilai-nilai syariah sesorang dapat mengetahui

         cara bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan dan cara-cara

54
     Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Menara Kudus, 1990), hlm. 412
54




           beribadah (ittiqaddiyah) dan mengatur cara bagaimana manusia

           menyelenggarakan makhluk, yaitu antara manusia dengan manusia

           dan manusia dengan makhluk lain selain manusia.55

         c) Akhlak

                  Akhlak adalah bentuk plural dari khuluq yang artinya tabiat,

           budi      pekerti,        kebiasaan.56   Sedangkan       Imam    Al-Ghazali

           mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut:

                      ‫ل‬         ‫را‬                   ‫را‬    ‫ا‬         ‫ه‬     ‫رة‬        ‫ا‬
                                                    ‫و رو‬        ‫إ‬                   ‫و‬

            Artinya:
                  “Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang
                  daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah,
                  dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih
                  dahulu)”.57

                  Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa akhlak adalah

            kebiasaan dan kehendak. Kebiasaan adalah perbuatan yang selalu

            diulang-ulang sehingga mudah untuk melaksanakannya, sedangkan

            kehendak adalah menangnya keinginan manusia setelah mengalami

            bimbingan.

                  Dari uraian di atas, penulis mengasumsikan bahwa akhlak

            merupakan suatu bentuk nilai yang harus ditanamkan pada diri

            seseorang. Tujuan dari penanaman nilai akhlak pada diri seseorang

            yaitu agar seseorang dapat mengetahui batas mana yang baik dan

    55
          Mohd. Idris Ramulyo, Asas-asas Hukum Islam: Sejarah Timbul dan
BerkembangnyaKedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia (Jakarta: Sinar
Grafika, 2004), hlm. 8
     56
        Mawardi Lubis, op.cit., hlm. 26.
     57
        Mustofa, Akhlak Tasawuf (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999), hlm. 12
55




             batas mana yang buruk. Juga dapat menempatkan sesuatu sesuai

             dengan tempatnya.

    3. Pendidikan Nilai Estetik

                   Nilai estetik adalah nilai yang lebih menghasilkan pada

         penilaian pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai

         estetik melekat pada kualitas barang atau memiliki sifat indah.

         Kecendrungan orang yang memiliki jiwa keindahan biasanya memiliki

         jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif. Dan nilai estetik ini biasanya

         banyak dimiliki oleh para seniman, seperti musisi, pelukis atau perancang

         model.

                  Penanaman nilai-nilai yang mengandung unsur-unsur keindahan

         dan keragaman inilah disebut dengan pendidikan nilai estetik. Pendidikan

         nilai estetik ini mengarahkan bakat dan membekali seseorang menjadi

         orang yang ahli sesuai dengan keahliannya.58

    4. Pendidikan Nilai Personal

               Nilai personal adalah nilai-nilai yang bersifat personal terjadi dan

         terkait secara pribadi atas dasar dorongan-dorongan yang lahir secara

         psikologi dalam diri seseorang. Misalnya nilai tanggungjawab, daya

         juang, bekerja keras, percaya diri, berprestasi, rajin, rendah hati, pandai.

         Selain itu dalam al-Qur’an, banyak dijelaskan contoh pendidikan nilai

         dalam ranah ini, yaitu: berlaku adil dan tidak mengumbar kebencian.




    58
       Diane Tillman, Living Value: An Educational Program “Living Value Activities For
Children Ages 8-14” ( Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2004), hlm. 13
56




              Dalam surat Al-Maaidah ayat 8 diterangkan:


              Ÿωuρ ( ÅÝó¡É)ø9$$Î/ u™!#y‰pκà− ¬! šÏΒ≡§θs% (#θçΡθä. (#θãΨtΒ#u™ šÏ%©!$# $pκš‰r'≈tƒ

              ( 3“uθø)−G=Ï9 Ü>tø%r& uθèδ (#θä9ωôã$# 4 #θä9ω÷ès? žωr& #’n?tã BΘöθs% ãβ$t↔oΨx© öΝà6¨ΖtΒ̍ôftƒ
                                                        (

                                              ∩∇∪ šχθè=yϑ÷ès? $yϑ/ 7ŽÎ6yz !$# žχÎ) 4 ©!$# (#θà)¨?$#uρ
                                                                 Î         ©
              Artinya:
              8. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang
              yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi
              dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu
              kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah,
              karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada
              Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
              kerjakan.59

                  Nilai-nilai di atas perlu ditanamkan pada diri seseorang agar

           membangun pribadi-pribadi yang mandiri, tidak mudah goyah dan

           professional.60

C. Pengembangan Pendidikan Islam

   1. Pengertian Pengembangan Pendidikan Islam

                  Pengembangan dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai

          proses, cara, perbuatan              mengembangkan.61 Pengembangan dalam

          pendidikan sangat luas cakupannya. Pada kajian skripsi ini hanya

          difokuskan pada pengembangan pendidikan Islam melalui penanaman

          nilai-nilai (pendidikan nilai).

                Tentunya agar penanaman nilai ini lebih dapat dicapainya, maka

     pendidikan sebenarnya merupakan sebuah proses tingkah laku peserta didik.
     59
         Al-Qur’an dan Terjemahannya, op.cit., hlm. 108
     60
         Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 30
      61
         Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai
 Pustaka, 1989), hlm. 414
57




    Dinyatakan pengertian pendidikan dalam Undang-Undang Republik

    Indonesia No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah

    sebagai berikut:

                Pendidikan adalah usaha agar manusia dapat mengembangkan
                dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau … Undang-Undang
                Dasar Negara Republika Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1)
                menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan
                pendidikan dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah
                mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan
                nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak
                mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur
                dengan undang-undang.62

                Batasan ini dengan sangat nyata bahwa pendidikan Islam memiliki

         peranan penting dalam menyelenggarakan sistem pendidikan nasional.

         Pendidikan Islam yang menurut Ahmad D. Marimba bermaksud untuk

         membimbing jasmani-rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam

         menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran

         Islam.63 Sedangkan Zuhairini, dkk, Pendidikan Agama berarti usaha-usaha

         secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar supaya

         mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.64

                Dan dalam buku “Wacana Pengembangan Pendidikan Islam”

         dijelaskan bahwa Pendidikan Islam adalah pendidikan yang didirikan dan

         diselenggarakan atas dasar hasrat, motivasi, dan semangat untuk

         memanifestasikan atau mengejawantahkan nilai-nilai Islam, baik nilai-


    62
        Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm. 117
     63
        Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1989), hlm.
23
     64
        Zuhairini, dkk, Methodik Khusus Pendidikan Agama (Malang: Biro Ilmiah Fakultas
Tarbiyah, 1983), hlm. 27
58




         nilai ketuhanan maupun nilai-nilai kemanusiaan, melalui kegiatan

         pendidikan sebagaimana tercakup dalam praktik pendidikan Islam.65

                Disinilah pendidikan Islam memiliki perananan penting sebagai

         sebuah proses perubahan tingkah laku dalam menanamkan nilai-nilai

         luhur Islam. Penanaman nilai-nilai Islam ini juga membutuhkan peranan

         guru   sebagai   seorang   pengajar.       Guru     bertanggungjawab    untuk

         mengajarkan atau menanamkan nilai-nilai ajara-ajaran pokok Islam yang

         meliputi tiga kerangka dasar, yaitu: aqidah, syariah dan akhlah, kemudian

         membina peserta didik agar beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.,

         serta memiliki akhlak mulia.

                Penanaman nilai-nilai Islam pada peserta didik inilah yang disebut

         sebagai pendidikan nilai. Dan implementasi pendidikan nilai ini dapat

         mewujudkan suatu pengembangan pendidikan Islam khususnya dalam

         pengembangan      moral,       karakter,    sikap     peserta   didik   yang

         mengejawantahkan nilai luhur Islam yang sesuai dengan visi, misi dan

         tujuan Pendidikan Islam.

                Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu definisi bahwa

         pengembangan pendidikan Islam merupakan suatu proses, cara atau

         perbuatan mengembangkan pendidikan Islam melalui penanaman nilai-

         nilai Islami dengan tujuan untuk mewujudkan perubahan tingkah laku

         seseorang yang mengejawantahkan nilai-nilai Islam.


    65
         Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Surabaya: Pusat Studi Agama,
Politik dan Masyarakat (PSAMP), 2003), hlm. 6
59




2. Orientasi Pengembangan Pendidikan Islam

              Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang sengaja didirikan

      dan diselenggarakan dengan hasrat dan niat (rencana yang sungguh-

      sungguh) untuk        mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai Islam,

      sebagaimana tertuang atau terkandung dalam visi, misi, tujuan program

      kegiatan     maupun     pada    praktik   pelaksanaan      kependidikannya.

      Pengembangan pendidikan nilai merupakan salah satu perwujudan dari

      pengembangan pendidikan Islam.

              Aktivitas-aktivitas    berdasarkan   nilai-nilai    dalam    proses

      pembelajaran yang biasa disebut dengan value education ini dalam

      pengembangan pendidikan Islam berorientasi untuk:

      1. Mengembangkan manusia yang setuhnya, yaitu manusia yang beriman

         dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pengembangan iman itu

         dapat ditempuh melalui pengasahan dan pengasuhan jiwa seseorang,

         pikiran diarahkan untuk menemukan argument baru yang menyangkut

         objek keimanan seseorang sampai menemukan ketenangan dan

         ketentraman, sambil beribadah kepada-Nya. Sikap seseorang terhadap

         Allah ini diaktualisasikan dalam wujud amal shaleh yakni menjalin

         hubungan dengan Allah dan sesama makhluknya. Aktualisasi dari iman

         itu menentukan derajat dan tingkat ketaqwaan seseorang;66

      2. Dapat mengubah sikap, prilaku yang mengejawantahkan nilai Islami

         dan motivasi dalam belajar mengajar;

 66
      Ibid., hlm. 157
60




         3. Memperkuat landasan etika moral. Landasan etika moral harus

           ditumbuh kembangkan sejak awal, dengan melakukan peningkatan

           kemampuan dalam pertimbangan moral terhadap setiap perilaku yang

           akan dipilih;

         4. Mengembangkan        komitmen   seluruh    SDM      terlibat.   Parameter

           komitmen adalah: jujur peduli, tanggung jawab dan lain-lain;67

         5. Memotivasi murid dan mengajak mereka untuk memikirkan diri

           sendiri, orang lain, dan dunianya berdasarkan nilai-nilai keislaman;

         6. Dalam prosesnya akan berkembang keterampilan pribadi, keterampilan

           komunikasi sosial yang positif, dan emosional, sejalan dengan

           keterampilan sosial yang damai dan penuh kerjasama dengan orang

           lain;

         7. Mengajarkan penghargaan dan kehormatan tiap-tiap manusia. Belajar

           menikmati nilai ini menguatkan kesejahteraan tiap individu;

         8. Setiap murid benar-benar memperhatikan nilai-nilai yang sesuai

           dengan pokok ajaran Islam dan mampu menciptakan dan belajar yang

           positif;

         9. Murid-murid berjuang dalam suasana berdasarkan nilai keislaman

           dalam lingkungan yang positif, aman dengan sikap saling menghargai

           dan kasih sayang.68




    67
       A. Malik Fajar, dkk., Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya Merespon
Dinamika Masyarakat Global (Yogyakarta: Aditya Media Yogyakarta Bekerja Sama dengan
UIN Press, 2004), hlm. 10-11
    68
       Diane Tillman, op.cit., hlm. 13-14
61




           Dari uraian tentang orientasi pengembangan pendidikan Islam di atas

      dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya penanaman nilai-nilai

      Islam akan membekali individu menjadi manusia yang professional yaitu

      manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

      berakhlak mulia, mandiri, cakap dan menjadi seseorang yang bertanggung

      jawab.

D. Pendidikan Nilai dalam Pengembangan Pendidikan Islam

   1. Pendidikan Nilai dalam Pendidikan Agama Islam (PAI)

           Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat dimaknai dari dua sisi: yaitu

      Pertama, ia dipandang sebuah mata pelajaran seperti dalam kurikulum

      sekolah umum (SD, SMP, SMA). Kedua, ia berlaku sebagai rumpun

      pelajaran yang terdiri atas mata pelajaran Aqidah, Akhlaq, Fiqh, Qur’an-

      Hadist, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab seperti yang

      diajarkan di madrasah (MI, MTs, dan MA). Pada bagian ini pendidikan

      nilai melalui PAI dimaksudkan pada pemaknaan yang pertama, walaupun

      dalam kerangka umum dapat mencakup keduannya.

           Sebagai mata pelajaran, Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki

      peranan penting dalam menyadarkan nilai-nilai agama Islam kepada

      peserta didik. Muatan pelajaran yang mengandung nilai, moral dan etika

      agama menempatkan PAI pada posisi terdepan dalam pengembangan

      moral beragama siswa. Hal itu sekaligus berimplikasi pada tugas-tugas

      guru PAI yang kemudian dituntut lebih banyak perannya dalam

      penyadaran nilai-nilai keagamaan.
62




           Beberapa karakter PAI sebagai mata pelajaran diungkapkan dalam

     buku pedoman khusus PAI (Depdiknas, 2002), sebagai berikut:

     1. PAI merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran

        pokok agama Islam,

     2. PAI bertujuan membentuk peserta didik agar beriman dan bertakwa

        kepada Allah Swt., serta memiliki akhlak mulia, dan

     3. PAI mencakup tiga kerangka dasar, yaitu: aqidah syariah dan akhlaq.

           Berdasarkan karakter di atas, PAI jelas berbeda dengan pelajaran

     lainnya. Muatan inti PAI adalah nilai-nilai kebenaran dan kebaikan (juga

     keindahan) yang berasal dari wahyu. Nilai-nilai itu tercakup dalam

     kerangka dasar PAI yang harus dikuasai oleh peserta didik.

           Apabila hal itu dikaitkan dengan pendidikan nilai, maka persoalan

     utama yang menjadi tanggungjawab guru PAI adalah bagaimana agar

     pengetahuan tentang tiga kerangka dasar itu menyatu dengan kesadaran

     yang optimal terhadap nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Walaupun

     mudah diprediksi bahwa belajar al-Qur’an dan as-Sunnah secara inherent

     melibatkan nilai, perlu dipikirkan cara-cara terbaik agar peserta didik,

     selain hafal dan mengerti, juga ia memiliki kesadaran yang tinggi untuk

     melakukannya. Oleh karenanya, kebiasaan mengajar yang terjadi selama

     ini memerlukan cara yang lebih eksploratif baik deduktif maupun

     induktif.69




69
     Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 198-199
63




   2. Pendidikan Nilai dalam Bingkai Cerita dan Kisah Sebagai Bentuk

         Pengembangan Pendidikan Islam

               Cerita atau kisah merupakan suatu metode mengajar dengan bentuk

         bercerita atau berkisah.70 Kegiatan cerita atau kisah merupakan salah satu

         cara yang ditempuh guru untuk memberi pengalaman belajar agar anak

         memperoleh penguasaan isi cerita yang disampaikan. Melalui cerita atau

         kisah diharapkan anak dapat menyerap pesan-pesan yang dituturkan

         melalui kegiatan bercerita.71

               Pengenalan cerita dan kisah yang baik terhadap anak didik

         sebenarnya sudah sangat dikenal, baik oleh orang tua maupun kalangan

         pendidik. Akan tetapi dalam kenyataannya, masih saja ada bolong-bolong

         atau bahkan terdapat keteledoran.

               Cerita atau kisah, bagaimanapun lebih mudah untuk dipahami

         dibandingkan dengan wacana yang sering kali kaku dan keras                untuk

         dicerna. Proses identifikasi antara seseorang dan tokoh tertentu sebenarnya

         bersifat alamiah karena setiap orang butuh untuk dituntun dalam

         mengarungi kehidupan dan menjalani dirinya sendiri. Bagaimanapun

         pembentukan karakter melalui tokoh yang baik sangat penting. Misalnya

         dalam guru PAI memberikan cerita atau tentang seorang tokoh Islam yaitu

         Nabi Muhammmad, atau Usman Bin Affan dan lain-lain. Oleh karena

         itulah, cerita atau kisah harusnya selalu ada, diciptakan dan dinikmati.


    70
        Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: PT Rineka
Cipta, 2000), hlm. 205
     71
        Moeslichatoen R, Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanan (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2004), hlm. 170
64




     Akan tetapi tentu saja sangat mengenaskan ketika di negeri ini cerita atau

     kisah yang layak konsumsi tidak terlalu diperhatikan dengan baik.

           Cerita atau kisah hubungannya dengan pendidikan nilai yaitu sesuai

     dengan misi pendidikan nilai adalah memuncakkan domain afektif dalam

     rangka memanusiakan manusia, maka cerita atau kisah yang ditampilkan

     mewakili kisi-kisi tentang kemanusiaan dan menjadi manusia. Diantara

     kisi-kisi itu adalah: menolong sesama, kebermanfaatan, empati, kejujuran,

     saling berbagi, kesejatian, hikmah (pelajaran berharga), kegigihan dan

     keuletan, toleransi, menghargai sesama, kesabaran, mengedepankan

     kebaikan dari pada keburukan, bahaya keburukan, dan kualitas amal.

           Di sini tidak akan dibahas tentang kebenaran dan alur cerita atau

     kisah, karena pembahasan yang sebenarnya adalah mengupas kulit,

     mengambil inti. Bagi sebagian orang, cerita mungkin tidak penting karena

     hanyalah bingkai untuk memperlihatkan isi yang sebenarnya, yaitu pesan

     dan nilai yang ada dalam cerita atau kisah. Namun sebagian yang lain

     cerita atau kisah itu sangat penting karena didalamnya dianggap sebagai

     frame yang membungkus nilai moral yang diembannya.72

           Dari uraian di atas jelaslah bahwa cerita atau kisah sangat membantu

     dalam menanamkan pesan-pesan atau nilai pada peserta didik. Melalui

     metode mengajar cerita atau kisah ini, pendidikan nilai telah dimainkan

     peranannya. Pendidikan nilai dalam bingkai cerita dan kisah ini, sangat

     membantu perkembangan prilaku atau tingkah laku peserta didik baik


72
     Zaim Elmubarok, op.cit., hlm. 142-144
65




         dalam ranah religi sosial, personal, maupun estetika. Aktivitas tersebut,

         jika dikaitkan dengan pendidikan Islam akan dapat membantu dalam

         proses   pembelajaran     yang     nantinya     dapat    mewujudkan        suatu

         pengembangan dalam pendidikan Islam. Disinilah peranan pendidikan

         nilai dalam bingkai cerita dan kisah dalam pengembangan pendidikan

         Islam.

   3. Kontribusi Pendidikan Nilai dalam Pengembangan Pendidikan Islam

              Secara perspektif Islam pendidikan nilai diklasifikasikan ke dalam

         tiga komponen yaitu nilai aqidah, syariah dan akhlak. Nilai-nilai ini di

         dalam    lembaga   pendidikan     Islam     telah   diakomodasikan       dengan

         mengintegrasikan pendidikan nilai-nilai tersebut ke dalam pendidikan

         agama Islam. Sebagai realisasinya, tiga komponen tersebut merupakan

         materi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diajarkan.

              Kegiatan pendidikan nilai yang direalisasikan pada peserta didik

         merupakan suatu proses pembelajaran. Proses pembelajaran berarti

         memberikan para siswa secara terkondisi, mereka belajar dengan

         mendengar, menyimak, melihat, meniru apa-apa yang diinformasikan oleh

         guru atau fasilitator di depan kelas, dengan belajar seperti ini mereka

         memiliki perilaku sesuai dengan tujuan yang telah dirancang guru

         sebelumnya.73 Tercapainya perilaku yang dikehendaki merupakan

         keberhasilan pembelajaran. Apabila pengajaran nilai-nilai tersebut dapat

         merubah perilaku, sikap atau tindakan siswa, ini berarti proses

    73
        Martinis Yamin, Profesionalisme Guru dan Implementasi KTSP (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2007), hlm. 72
66




         pembelajaran    yang   dilakukan    telah   berhasil.74   Dan   keberhasilan

         pembelajaran ini akan mempengarui terhadap mutu atau kualitas sumber

         daya manusia (SDM) yaitu peserta didik.

               Keberhasilan proses pembelajaran dan kualitas sumber daya manusia

         (SDM) ini sangat mempengaruhi terhadap pengembangan pendidikan.

         Pendidikan di sini dikhususkan pada pendidikan Islam. Perihal aktivitas

         pendidikan nilai yang dilakukan sebagai proses pembelajaran di lembaga

         pendidikan Islam dapat mempengaruhi serta mengembangkan kepribadian

         peserta didik menjadi manusia yang berakhlak mulia, baik, memiliki

         pengetahuan tentang nilai-nilai ajaran Islam, mandiri, menerapkan ilmu

         atau nilai yang telah diperolehnya. Ini berarti proses pendidikan nilai telah

         memberikan kontribusi yang berupa konstruksi ideologi nilai-nilai Islam

         terhadap pengembangan pendidikan Islam.

               Kontribusi pendidikan nilai dalam pengembangan pendidikan Islam

         ini yang akan menjadi acuan pembenaran atas sikap dan prilaku dalam

         menjalankan fungsi pelayanan pendidikan Islam. Sebagai konstruksi

         idelogi, nilai-nilai yang dibangun dalam meningkatkan kualitas layanan

         pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dengan

         kompetensi ungul dibangun oleh seluruh sinergi positif.75




    74
       Ibid., hlm. 79
    75
        Direktorat Jenderal Pendidikan Non-Formal dan Informal, Kian Berat Tantangan
Pendidikan Formal (http: www.pnfi.depdiknas.go.id, diakses 14 Februari 2009)
BAB III

                             METODE PENELITIAN


A. Pendekatan Penelitian

          Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sebagai

   prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata

   tertulis dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi

   kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut.

   Kutipan-kutipan data yang disajikan dalam penelitian ini ditegaskan dalam

   bentuk lampiran tabel pemaparan data yang diperoleh dari pemahaman makna

   yang terdapat pada setiap kata, kalimat, paragraf, teks dan juga unsur

   pengembangan karya sastra seperti alur, tokoh, setting dan tema. Dari

   pemahaman       makna     secara    keseluruhan,     dilakukan    penafsiran     dan

   pengkategorian data yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi. Dan

   selanjutnya data-data tersebut dianalisis berdasarkan pengkategoriannya.

          Karakteristik penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif

   memiliki beberapa ciri, yaitu: latar ilmiah, manusia sebagai alat instrumen,

   metode kualitatif, analisis data secara induktif, grounded theory dan

   deskriptif.76 Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua ciri, yaitu:

   manusia sebagai alat atau instrumen, maksudnya peneliti sendiri atau dengan

   bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama dan ciri kedua,

   deskriptif, yakni data yang dikumpulkan berupa kata-kata. Berdasarkan kedua



     76
          Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kuaitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya,
 2002), hlm. 4



                                          67
68




   ciri tersebut analisis pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi sebagai

   pengembangan pendidikan Islam perlu dilakukan pembacaan dan telaah secara

   mendalam tentang makna kata-kata yang terdapat dalam dialog dan narasi

   cerita. Peneliti terlibat secara penuh dan aktif dalam mengapresiasi isi novel

   dan menemukan data-data utama yang menunjukkan pada permasalahan

   sesuai dengan rumusan masalah.


B. Data dan Sumber Data

          Hubberman menegaskan data kualitatif merupakan sumber dari

   deskripsi yang luas dan berlandasan kokoh serta memuat penjelasan tentang

   proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat. Dengan demikian, data

   verbal dapat difahami baik melalui alur peristiwa secara kronologis, narasi,

   maupun dialog yang dituangkan Andrea Hirata dalam novelnya Laskar

   Pelangi harus disikapi sebagai kesatuan tutur yang lebih lengkap berupa kata,

   kalimat, serta paragraf sehingga membentuk suatu wacana yang utuh.77

          Sumber data utama dalam penelitian ini adalah naskah novel karya

   Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi Karya ini memiliki latar belakang

   nilai pendidikan yang kuat pun juga penanaman pendidikan nilai yang

   direpresentasikan dalam novel ini memberikan suatu motivasi dan kontribusi

   yang luas biasa. Perolehan data tersebut dilakukan peneliti dengan cara

   mengidentifikasi data sesuai dengan arah permasalahan yang terurai dalam

   bab IV yakni hasil penelitian.



     77
        Michael Hubberman, A. Miles, Mattew B, Analisis Data Kualitatif ( Jakarta: Universitas
 Indonesia, 1992), hlm. 1
69




C. Teknik Pengumpulan Data

            Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian

   adalah sebagai berikut: (1) teknik observasi, (2) teknik komunikasi, (3) teknik

   pengukuran, (4) tekinik wawancara, dan (5) teknik telaah dokumen. Dari

   kelima teknik pengumpulan data tersebut, peneliti menggunakan teknik telaah

   dokumen atau biasa disebut dengan studi dokumentasi. Dokumentasi berasal

   dari kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Keuntungan telaah

   dokumen ini ialah bahwa bahan itu telah ada, telah tersedia dan siap pakai.

   Menggunakan bahan ini tidak memerlukan biaya, hanya memerlukan waktu

   untuk mempelajarinya. Banyak yang dapat ditimba pengetahuan dari bahan itu

   bila dianalisis dengan cermat yang berguna bagi penelitian yang dijalankan.78

   Dalam melaksanakan studi dokumentasi ini peneliti memilih novel laskar

   pelangi sebagai bahan dalam pengumpulan data tersebut.

            Langkah-langkah yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data

   penelitian adalah sebagai berikut:

   1. peneliti membaca secara komprehensif dan kritis yang dilanjutkan dengan

          mengamati, nilai-nilai dalam novel laskar pelangi, kemudian metode

          pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, nilai-nilai

          apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan kontribusi

          pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan

          pendidikan Islam. Dan dari kegiatan ini peneliti mengajukan pertanyaan-

          pertanyaan yang sesuai dengan rumusan masalah,

     78
        Rochajat Harun, Metode Penelitian Kualitatif untuk Pelatihan (Bandung: Mandar Maju,
 2007), hlm. 70
70




   2. peneliti mencatat paparan bahasa yang terdapat dalam dialog-dialog tokoh,

          prilaku tokoh, tuturan ekspresif maupun deskriptif dari peristiwa yang

          tersaji dalam novel, dan

   3. peneliti mengidentifikasi, mengklasifikasi dan menganalisis novel sesuai

          dengan rumusan masalah.

            Dari langkah-langkah di atas diperoleh data verbal sebagai berikut: (1)

   data berupa paparan bahasa yang mengemban nilai-nilai yang terkandung

   dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, (2) data berupa paparan

   bahasa yang mengemban metode pengajaran nilai yang terkandung dalam

   novel laskar pelangi (3) data berupa paparan bahasa yang mengemban nilai-

   nilai apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) data

   berupa paparan bahasa yang mengemban kontribusi pendidikan nilai dalam

   novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam.

D. Instrumen Penelitian

            Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai

   instrumen. Instrumen penelitian di sini dimaksudkan sebagai alat pengumpul

   data harus benar-benar dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga

   menghasilkan data sebagaimana adanya.79 Di sini kedudukan peneliti sebagai

   isntrumen penelitian artinya dalam penelitian ini, peneliti sendiri yang

   melakukan penafsiran makna dan menemukan nilai-nilai tersebut. Peneliti




     79
          Margono, Metode Penelitian Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), hlm. 155
71




   juga merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir

   data, dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian.80

          Kegiatan yang dilakukan peneliti sehubungan dengan pengambilan data

   yaitu, kegiatan membaca teks novel laskar pelangi dan peneliti bertindak

   sebagai pembaca yang aktif membaca, mengenali, mengidentifikasi satuan-

   satuan tutur yang merupakan penanda dalam satuan-satuan peristiwa yang di

   dalamnya terdapat gagasan-gagasan dan pokok pikiran hingga menjadi sebuah

   keutuhan makna.

E. Analisis Data

          Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1)

   mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya

   Andrea Hirata, (2) mengidentifikasi metode pengajaran nilai yang terkandung

   dalam novel laskar pelangi, (3) mengidentifikasi nilai-nilai apa saja yang dapat

   dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) mengidentifikasi kontribusi

   pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan

   pendidikan Islam.

          Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah analisis

   konten. Analisis konten merupakan model kajian sastra yang tergolong baru.

   Analisis konten digunakan apabila si peneliti hendak mengungkap, memahami

   dan mengungkap pesan karya sastra.81 Dalam buku Content Analysis dan

   Focus Group Discussion dalam Penelitian Sosial bahwa Content Analysis

   adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru
     80
        Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 168
     81
         Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra (Yogyakarta: Pustaka Widyatama,
 2003), hlm. 160
72




  (replicabel), dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis isi

  berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi.82

         Content analysis dalam sastra mendasarkan pada tiga asumsi penting

  karya sastra adalah fenomena komunikasi pesan yang terselubung, didalamnya

  memuat isi yang berharga bagi pembaca. Kajian sastra semacam ini, secara

  epistemologis merupakan penelitian yang banyak menggunakan paham

  positifistik. Analisis harus mendasarkan pada prinsip obyektivitas, sistematis

  dan generalisasi. Objektivitas ditempuh melalui bangunan teoritik. Sistematis

  karena memanfaatkan langkah-langkah yang jelas. Generalisasi berdasarkan

  konteks karya secara menyeluruh untuk memperoleh inferensi.

         Komponen penting dalam analisis konten adalah adanya masalah yang

  dikonsultasikan lewat teori. Itulah sebabnya, karya sastra yang akan dibedah

  lewat content analysis harus memenuhi syarat-syarat: memuat nilai-nilai dan

  pesan yang jelas. Misalnya saja: memuat pesan pendidikan nilai sosial, religi

  dan budi pekerti dan sebagainya.

         Prosedur analisis konten dalam bidang sastra hendaknya memenuhi

  syarat-syarat: (a) teks sastra perlu diproses secara sistematis, menggunakan

  teori yang telah dirancang sebelumnya, (b) teks tersebut dicari unit-unit

  analisis dan dikategorikan sesuai acuan teori, (c) proses analisis harus mampu

  menyumbangkan ke pemahaman teori, (d) proses analisis mendasarkan pada

  deskripsi, dan (e) analisis dilakukan secara kualitatif.83



     82
        Burhan Bungin, Content Analysis dan Focus Group Discussion dalam Penelitian Sosial
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 172
     83
        Suwardi Endraswara, op.cit., hlm. 162
73




         Menurut Noeng Muhadjir, secara teknis content analisis mencakup

  upaya:

  a. klasifikasi tanda-tanda yang dipakai dalam komunikasi,

  b. menggunakan kriteria sebagai dasar klasifikasi, dan

  c. menggunakan teknik analisis tertentu sebagai membuat prediksi.

         Kemudian para ahli mengemukakan beberapa syarat content analisis,

  yaitu: objektivitas, pendekatan sistematis, dan generalisasi.84

         Menurut Patton, dalam metodologi penelitian kualitatif, istilah analisis

  menyangkut kegiatan (1) pengurutan data sesuai dengan tahap permasalahan

  yang akan dijawab, (2) pengorganisasian data dalam formalitas tertentu sesuai

  dengan urutan pilihan dan pengkategorian yang akan dihasilkan, dan (3)

  penafsiran makna sesuai dengan masalah yang harus dijawab.85

           Sesuai dengan masalah yang digarap dalam penelitian ini, maka

  kegiatan yang dilakukan adalah pemberian makna pada paparan bahasa berupa

  (1) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang

  terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, (2) paragraf-

  paragraf yang mengandung gagasan tentang metode pengajaran nilai yang

  terkandung dalam novel laskar pelangi, (3) paragraf-paragraf yang

  mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam

  pendidikan Islam, dan (4) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang

  kontribusi    pendidikan     nilai    dalam    novel     laskar    pelangi    terhadap


    84
       Soejono dan Abdurrahman, Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan ( Jakarta:
Rineka Cipta, 1999), hlm. 14-15
    85
       Ibid., hlm. 103.
74




   pengembangan pendidikan Islam. Pemahaman dan analisis tersebut dilakukan

   melalui kegiatan membaca, menganalisis dan merekonstruksi. Dalam

   melakukan pemaknaan data peneliti harus memiliki dasar pengetahuan dan

   pengalaman tentang klasifikasi pendidikan nilai, metode ngajar pendidikan

   nilai, nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam dan kontribusi

   pendidikan nilai dalam pengembangan pendidikan Islam sesuai acuan teori.

F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

            Sebagai upaya untuk memeriksa keabsahan data peneliti menggunakan

   beberapa teknik antara lain:

   1. Teknik ketekunan pengamat, yakni peneliti secara tekun memusatkan diri

          pada latar penelitian untuk menemukan ciri-ciri dan unsur yang relevan

          dengan persoalan yang diteliti. Peneliti mengamati secara mendalam pada

          novel agar data yang ditemukan dapat dikelompokkan sesuai dengan

          kategori yang telah dibuat dengan tepat;86

   2. Teknik berdiskusi dengan teman sejawat yang mengambil jurusan bahasa

          dan sastra;87

   3. Berdiskusi dengan para pakar sastra, pakar pendidikan nilai dan pakar

          pendidikan Islam.

             Selain itu dalam pengumpulan data peneliti dipandu rambu-rambu

   yang berisi ketentuan studi dokumentasi tentang pendidikan nilai. Perolehan

   tersebut dilakukan peneliti dengan identifikasi data sesuai dengan arah

   permasalahan dalam penelitian. Adapun rambu-rambu tersebut antara lain:
     86
        Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 329-330
     87
         Hamidi, Metode Penelitian Kualitatif (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang,
 2004), hlm. 82
75




1. Dengan bekal pengetahuan, wawasan, kemampuan dan kepekaan yang

   dimiliki, peneliti membaca sumber data secara kritis cermat dan teliti.

   Peneliti membaca berulang-ulang untuk menghayati dan memahami secara

   kritis dan utuh terhadap sumber data;

2. Dengan berbekal pengetahuan, wawasan, kemampuan dan kepekaan

   peneliti melakukan pembacaan sumber data secara berulang-ulang dan

   terus menerus secara berkesinambungan. Langkah ini diikuti kegiatan

   penandaan, pencatatan, dan pemberian kode (coding);

3. Peneliti membaca dan menandai bagian dokumen, catatan, dan transkripsi

   data yang akan dianalisis lebih lanjut. Langkah ini dipandu dengan

   rumusan masalah dan tujuan penelitian.
BAB IV

                               PAPARAN DATA



A. Deskripsi Unsur-unsur Novel Laskar Pelangi

           Unsur-unsur yang terdapat dalam novel laskar pelangi meliputi

   beberapa hal: (1) tokoh atau penokohan, (2) latar, (3) alut atau plot, dan (4)

   tema.

   1. Tokoh atau Penokohan yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi

               Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang

      diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini bercerita

      tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan

      SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong yang penuh

      dengan keterbatasan. Mereka adalah:

      1.    Ikal

      2.    Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara

      3.    Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani

            Fadillah

      4.    Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam

      5.    A Kiong (Chau Chin Kiong); Muhammad Jundullah Gufron Nur

            Zaman

      6.    Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz

      7.    Kucai; Mukharam Kucai Khairani

      8.    Borek aka Samson




                                      76
77




9.    Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari

10. Harun; Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ramadhan


         Mereka bersekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1

SD sampai kelas 3 SMP, dan menyebut diri mereka sebagai Laskar

Pelangi. Adapun tokoh-tokoh lainnya adalah sebagai berikut:


1. Bu Muslimah : Bernama lengkap N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti

     K.A. Abdul Hamid. Dia adalah Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi.

     Wanita lembut ini adalah pengajar pertama Laskar Pelangi dan

     merupakan guru yang paling berharga bagi mereka.

2. Pak Harfan : Nama lengkap K.A. Harfan Efendy Noor bin K.A.

     Fadillah Zein Noor. Kepala sekolah dari sekolah Muhammadiyah. Ia

     adalah orang yang sangat baik hati dan penyabar meski murid-murid

     awalnya takut melihatnya.

3. Flo : Bernama asli adalah Floriana, seorang anak tomboi yang berasal

     dari keluarga kaya. Dia merupakan murid pindahan dari sekolah PN

     yang kaya dan sekaligus tokoh terakhir yang muncul sebagai bagian

     dari laskar pelangi. Awal pertama kali masuk sekolah, ia sempat

     membuat kekacauan dengan mengambil alih tempat duduk Trapani

     sehingga Trapani yang malang terpaksa tergusur. Ia melakukannya

     dengan alasan ingin duduk di sebelah Mahar dan tak mau didebat.
78




  4. A Ling : Cinta pertama Ikal yang merupakan saudara sepupu A Kiong.

     A Ling yang cantik dan tegas ini terpaksa berpisah dengan Ikal karena

     harus menemani bibinya yang tinggal sendiri.


2. Latar yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi

         Awal penulis tertarik membaca novel yang berlatar belakang

  kehidupan anak-anak pada sebuah komunitas Melayu Belitong ini karena

  maraknya pembahasan novel ini di media massa.

         Novel ini mengangkat cerita tentang kehidupan anak-anak yang

  tinggal di daerah pesisir pulau Belitong selama menempuh pendidikan

  dasar di sekolah Muhammadiyah. Pada awal-awal novel, Andrea Hirata

  mencoba menggambarkan realita sosial yang terjadi pada masyarakat asli

  di sana, terutama komunitas Melayu Belitong yang kontradiktif dengan

  kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Tampaknya isi cerita ini

  memberikan kesan yang menyentuh hati bagaimana sebelas anak-anak

  yang menjuluki diri mereka sebagai laskar pelangi ini memiliki motivasi

  tinggi berjuang memperbaiki nasib masyarakat Melayu Belitong yang

  masih jauh tertinggal. Mereka berjuang dengan cara mereka masing-

  masing. Terlihat dari keunikan masing-masing anak dibahas oleh Andrea

  Hirata setiap bab di novel ini. Selain itu, gaya bahasa yang digunakan

  penulis terkesan ilmiah sekali dengan banyaknya istilah-istilah ilmu eksak

  yang ditemukan setiap alur cerita. Namun hal ini tidak mengurangi sisi

  keindahan sebuah karya sastra yang digemari masyarakat awam ini, malah
79




  menurut saya justru memperkaya khazanah berpikir sambil berimajinasi

  dalam membayangkan isi fiksi ini.

         Menurut penulis, setting latar cerita, sangat identik dengan tahun

  80-an selain itu juga menggambarkan latar kehidupan salah satu komunitas

  di pulau Belitong dan sepatutnya kita dapat menangkap esensi dari cerita

  ini yang hendak disampaikan oleh Andrea Hirata. Memang tidak mudah

  menceritakan kejadian-kejadian yang dialami oleh seorang anak kecil

  apalagi masa-masa kecil kita dahulu yang penuh dengan idealisme untuk

  dijadikan sebuah pemacu semangat bagi orang-orang dewasa yang

  terlampau berpikir pragmatis dalam menilai hidup ini. Sampai umur

  berapa pun, setiap orang dapat mewujudkan cita-cita masa kecilnya dahulu

  yang masih tersimpan di memori. Oleh karena itulah, Andrea Hirata

  membuktikan hal tersebut dalam novelnya Laskar Pelangi         ini. Oleh

  karena itu, saya cukup terkesan dalam membaca novel ini. Saya juga

  menyarankan novel ini sangat baik dibaca oleh berbagai kalangan yang

  peduli akan pendidikan di Indonesia. Sehingga suatu saat akan

  bermunculan generasi laskar pelangi yang memberikan perubahan

  terhadap nasib bangsa kita, Indonesia.

3. Alur atau Plot yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi

         Salah satu buku sastra paling populer beberapa tahun belakangan

  ini adalah novel Laskar Pelangi karya penulis Andrea Hirata. Ini

  merupakan buku pertama dari tetralogi di samping Sang Pemimpi, Edensor

  dan Maryamah Karpov. Penulis tidak akan membahas keempat buku
80




tersebut secara bersamaan, karena pada tulisan ini penulis akan lebih

banyak mengungkap tentang buku best seller (sebenarnya rata-rata

keempatnya merupakan best seller) yakni Laskar Pelangi.

       Selain laris manis dalam bentuk buku (terbukti dari cetak ulang

yang berkali-kali), Laskar Pelangi juga telah ditampilkan dalam bentuk

layar lebar. Kisahnya menjadi lebih dramatis karena pembaca dapat bisa

secara langsung melihat dengan jelas visualisasi dari novel tersebut. Selain

menyajikan pemandangan alam Belitung yang indah (yang masih belum

banyak terjamah tangan manusia). Membaca novel ini, sadar atau tidak,

pembaca akan terhanyut pada kisah sederhana yang mengharu biru ini.

Semua rasa menjadi satu, ada sedih, senang, suka, duka, lucu, penuh warna

seperti goresan pelangi.

       Buku Laskar Pelangi, sebenarnya bukan “murni” novel. Seperti

yang dijelaskan sendiri oleh penulisnya kalau Laskar Pelangi sebenarnya

merupakan sebuah memoar sebagian kisah hidup penulis beserta teman-

temannya semasa kecil yang mereka namakan sebagai Laskar Pelangi.

Namun, memoar tersebut disajikan alur (plot) bercerita, sehingga bolehlah

kita sebut novel. Novel Laskar Pelangi merupakan sebuah novel yang

terinspirasi dari kisah nyata (true story) penulisnya. Selain memiliki alur

yang jelas, penggambaran tokoh dan setting disajikan oleh Andrea dengan

sangat baik. Selain itu, banyak juga pengetahuan-pengetahuan baru yang

bisa diserap sewaktu membaca buku ini.
81




3. Tema yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi

         Sebuah tema yang sudah jarang diangkat. Pentingnya arti menuntut

  ilmu, adalah makna sentral novel Laskar Pelangi. Ketika dihadapkan pada

  sebuah kondisi yang membuat miris, kita dikejutkan berkali-kali dengan

  gejolak muda para tokoh dalam cerita ini. Dihiasi dengan eksplorasi

  mendetail akan pulau bangka belitung (Belitong kala itu), semuanya

  disajikan dengan gaya bertutur yang menghibur.

         Adalah Ikal, tokoh sentral dalam novel ini. Kisah berjalan melalui

  sudut pandangnya dalam mencermati realita kehidupan. Saat ia

  menyaksikan satu persatu benturan-benturan ketimpangan hidup ini.

  Sebuah jalinan kisah suka dan duka, perputaran yang membuat pembaca

  mengalami gejolak perasaan naik dan turun, rasa miris akan ironi, gelak

  tawa akan kekonyolan para tokohnya, juga golakan perasaan pada saat

  sorak kemenangan.

         Laskar pelangi adalah 10 orang anak pulau Belitong yang disatukan

  saat hari pertama mereka masuk sekolah, di sekolah Muhammadiyah yang

  dilukiskan laksana gudang kopra. Mereka sangat miskin, tidak mampu

  bersekolah di sekolah negeri atau sekolah PN Timah (yang diceritakan

  sebagai sekolah elit khusus anak pegawai kelas tinggi PN Timah). Temui

  Lintang sang jenius, anak nelayan pedalaman yang mampu memcahkan

  soal-soal fisika yang rumit hanya dalam hitungan detik, Mahar yang

  seniman dengan bakat alam yang kerap membuat orang tercengang,

  Trapani yang tampan namun cinta ibu, Sahara, muslimah yang galak
82




gemar mencakar, kucai yang merepresentasikan sosok politikus sejak lahir,

A kiong yang polos namun figur sobat sejati, Samson yang perkasa, Harun

yang 15 tahun lebih tua karena terbelakang, dan syahdan yang tidak

menonjol namun kelak paling sukses diantara mereka. Juga Flo,

perempuan tomboi yang meninggalkan sekolah elitnya untuk bergabung

dengan laskar pelangi.

       Lembaran demi lembaran membawa kita melintasi 9 tahun mereka

berpetualang di sekolah itu hingga menjadi apa mereka disaat dewasa

kelak. Kadang membuat kita berdecak kagum melihat rentetan peristiwa

yang dialami anak-anak ini. Mahar dalam usianya yang belia telah mampu

menjadi arranger sebuah komposisi musik yang rumit perpaduan antara

tabla, sitar dan electone yang menghasilkan penyajian menggugah lagu

owner of the lonely heart-nya yess dan light my fire-nya the doors. Mahar

juga mampu membuat koreografi kontemporer ala suku Masai afrika pada

saat karnaval sekolah. Kemudian lintang, bocah ini adalah sosok jenius

yang menonjol dalam segala mata pelajaran. Ia mampu menguasai

kalkulus sewaktu SD, dan teori fisika optik di bangku kelas dua SMP,

mampu menyelesaikan hitung-hitungan matematika yang paling rumit

dalam hitungan detik tanpa membuat coret-coretan. Dan sosok laskar

pelangi lainnya dengan keunikannya masing-masing.

       Sebuah renungan dalam memandang pendidikan masyarakat kita di

usia dini. Penulis menyajikan cerita ini dengan meluapkan kritik dan

kegundahannya pada setiap kejadian yang dialami para tokoh. Juga
83




       disertakan kekuatan referensinya dalam membedah setiap detail keindahan

       pulau belitong. Meskipun dibeberapa bagian masih tampak berlebihan dan

       dipaksakan, namun pembaca menjadi jelas akan perbedaan kelas,

       ketimpangan sosial, dan kehidupan kalangan miskin di belitong kala itu.

       Juga pembaca akan tersenyum simpul dalam beberapa cerita, seperti cinta

       antar etnis sang tokoh dengan aling, bocah perempuan cina yang masih

       sensitif kala itu. Atau pertemuan dengan Tuk bayan tulla yang dukun

       misterius, atau dengan Bodenga sang pemuja Buaya yang dilukiskan

       seperti Bushman dalam film God Must Be Crazy.


B. Deskripsi Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi

          Pada bab empat ini, penulis akan mendeskripsikan nilai-nilai yang

    terdapat dalam novel laskar pelangi. Deskripsi nilai-nilai tersebut adalah hasil

    analisis penelitian penulis dengan menggunakan teori yang telah dirancang

    sebelumnya.

          Adapun nilai-nilai yang akan penulis deskripsikan yaitu mengenai nilai-

    nilai yang bersifat global, bukan nilai yang bersifat Islami. Nilai-nilai itu

    meliputi: (a) nilai personal, (b) nilai sosial, dan (c) nilai estetika.

          Nilai personal merupakan nilai-nilai yang perlu ditanamkan dan

    dimiliki seorang individu dalam kehidupannya. Nilai personal yang telah

    penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi meliputi: nilai tanggung

    jawab, nilai keteguhan pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk

    mencapai cita-cita, nilai dermawan, nilai perjuangan, nilai kompetisi, nilai

    kecerdasan, nilai percaya diri, nilai keikhlasan, nilai kebahagiaan, nilai
84




disiplin, nilai perjuangan menuntut ilmu, nilai sigap menghadapi masalah,

nilai rendah hati, nilai ketangkasan, nilai gagah berani, nilai kerinduan, nilai

iba, dan nilai tekad untuk lebih baik.

      Nilai sosial adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kemanusiaan.

Nilai-nilai dalam dimensi ini terkait dengan interaksi sesama manusia

mencakup berbagai norma baik kesusilaan, kesopanan dan segala macam

produk hukum yang ditetapkan manusia. Nilai sosial yang terdapat dalam

novel Laskar Pelangi antara lain: nilai multikultural, nilai tolong menolong,

nilai keharmonisan, nilai mutualisme, sopan santun, nilai partisipatif, nilai

sportifitas, nilai dukungan pada seseorang, nilai kepedulian, nilai keakraban,

nilai persahabatan.

      Dan nilai estetika yaitu nilai yang lebih menghasilkan pada penilaian

pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai estetik melekat pada

kualitas barang atau memiliki sifat indah. Kecendrungan orang yang memiliki

jiwa keindahan biasanya memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif.

Dalam hal ini, nilai-nilai estetika yang terdapat pada novel Laskar Pelangi

adalah sebagai berikut: nilai keindahan, nilai imajinatif, nilai seni drama, nilai

seni sastra, dan nilai kreatif atau originalitas.


Table 1 Paparan Data Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar

           Pelangi Karya Andrea Hirata


 No    Deskripsi Nilai-nilai                Teks Dalam Novel Laskar Pelangi

 1.    Nilai tanggung jawab                 ”Pak Harfan tampak amat bahagia
85




                                     menghadapi murid, tipikal guru
                                     yang sesungguhnya, seperti dalam
                                     lingua asalnya, india, yaitu orang
                                     yang tak hanya mentransfer sebuah
                                     pelajaran, tapi juga yang secara
                                     pribadi     menjadi      sahabat     dan
                                     pembimbing          spiritual        bagi
                                     muridnya” (hlm. 23).
2.   Nilai perjuangan                “Pak Harfan menceritakan semua
                                     itu dengan semangat perang Badar
                                     sekaligus setengah embusan angin
                                     pagi. Kami terpesona pada setiap
                                     pilihan kata dan gerak lakunya yang
                                     memikat. Ada semacam pengaruh
                                     yang lembut dan baik terpancar
                                     darinya. Ia mengesankan sebagai
                                     pria yang kenyang akan pahit getir
                                     perjuangan dan kesusahan hidup
                                     berpengetahuan        seluas     samudra,
                                     bijak berani, mengambil resiko, dan
                                     menikmati      daya      tarik     dalam
                                     mencari-cari       bagaimana         cara
                                     menjelaskan sesuatu agar setiap
                                     orang mengerti” (hlm. 23).
3.   Nilai   keteguhan   pendirian, “Pak       Harfan      memberi       kami
                                     pelajaran       pertama           tentang
     ketekunan,   keinginan   kuat
                                     keteguhan      pendirian,         tentang
     untuk mencapai cita-cita, dan
                                     ketekunan, tentang keinginan kuat
     dermawan.                       untuk mencapai cita-cita. Beliau
                                     meyakinkan kami bahwa hidup bisa
86




                           demikian         bahagia           dalam
                           keterbatasan jika dimaknai dengan
                           keikhlasan berkorban untuk sesama.
                           Lalu beliau menyampaikan sebuah
                           prinsip yang diam-diam menyelinap
                           jauh    ke   dalam       dadaku     serta
                           memberi      arah    bagiku        hingga
                           dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk
                           memberi         sebanyak-banyaknya,
                           bukan untuk menerima sebanyak-
                           banyaknya” (hlm. 24).
4.   Nilai multikultural   “Jumlah      orang      Tionghoa       di
                           kampong kami sekitar sepertiga dari
                           total populasi. Ada orang kek, ada
                           orang Hokian, ada orang Tongsan,
                           dan ada yang tak tahu asal usulnya”
                           (hlm. 35).
5.   Nilai keindahan       “Gedung-gedung           sekolah      PN
                           didesain dengan arsitektur yang tak
                           kalah     indahnya      dengan     rumah
                           bergaya      Victoria      disekitarnya.
                           Ruangan kelasnya dicat warna-
                           warni dengan tempelan gambar
                           yang educative, poster operasi dasar
                           matematika, table pemetaan unsur
                           kimia, peta dunia, jam dinding,
                           thermometer, foto para ilmuwan dan
                           penjelajahan yang member inspirasi,
                           dan ada kastok topi. Di setiap kelas
                           ada patung anatomi tubuh yang
87




                              lengkap, globe yang besar, white
                              board, dan alat peraga konstelasi
                              planet-planet” (hlm 57-58).
6.   Nilai kompetisi          “Di dalam kelas-kelas itu puluhan
                              siswa PN brilian bersaing ketat
                              dalam standar mutu yang sangat
                              tinggi” (hlm. 58).
7.   Nilai pertolongan        “Di setiap kelas ada kotak P3K
                              berisi      obat-obat      pertolongan
                              pertama. Kalau ada siswanya yang
                              sakit    maka    ia     akan    langsung
                              mendapatkan       pertolongan      cepat
                              secara     professional   atau    segera
                              dijemput oleh mobil ambulans yang
                              meraung-raung” (hlm. 58).
8.   Nilai keharmonisan       “Demikian harmonisnya ekosistem
                              yang terpusat pada sebatang pohon
                              filicium anggota familia acacia ini.
                              Seperti para guru yang mengabdi
                              dibawahnya, pohon ini tak henti-
                              hentinya     menyokong         kehidupan
                              sekian banyak spesies. Pada musim
                              hujan ia semakin semarak. Puluhan
                              jenis kupu-kupu, belalang sembah,
                              bunglon, lintah, jamur telur beracun,
                              kumbang capung, ulat bulu dan ular
                              daun saling berebutan tempat” (hlm.
                              66).
9.   Nilai seni ketrampilan   “Aku mau ikut ke pasar, Cai,”
                              Syahdan memohon kepada Kucai,
88




                                    ketika kami dibagi kelompok dalam
                                    pelajaran    pekerjaan        tangan    dan
                                    harus membeli kertas kajang di
                                    pasar” (hlm. 66).
10.   Nilai     kebahagiaan    dan “Sembilan         teman           sekelasku
      persahabatan.                 memberiku hari-hari yang lebih dari
                                    cukup untuk suatu ketika di masa
                                    depan nanti kuceritakan pada setiap
                                    orang bahwa masa kecilku amat
                                    bahagia. Kebahagiaan yang spesifik
                                    karena kami hidup dengan persepsi
                                    tentang kesenangan sekolah dan
                                    persahabatan            yang           kami
                                    terjemahkan sendiri” (hlm. 85).
11.   Nilai disiplin                “Tapi lebih dari setengah perjalanan
                                    sudah, aku tak kan kembali pulang
                                    gara-gara buaya bodoh ini. Tak ada
                                    kata bolos dalam kamusku, dan hari
                                    ini ada tarikh Islam, mata pelajaran
                                    yang menarik. Ingin kudebatkan
                                    kisah       ayat-ayat         suci     yang
                                    memastikan                    kemenangan
                                    Byzantium tujuh tahun sebelum
                                    kejadian. Sudah siang, aku maju
                                    sedikit, aku pasti terlambat tiba di
                                    sekolah” (hlm. 88).
12.   Nilai     perjuangan    dalam “Aku hanya sendirian. Jika ada
      menuntut ilmu                 orang lain aku berani lebih frontal.
                                    Tahukah      hewan      ini     pentingnya
                                    pendidikan? Aku tak berani lebih
89




                                     dekat. Ia menganga dan bersuara
                                     rendah,     suara     dari   perut     yang
                                     menggetarkan          seperti     sendawa
                                     seekor singa atau seperti suara
                                     orang menggeser sebuah lemari
                                     yang      sangat    besar.      Aku    diam
                                     menunggu. Tak ada jalur alternatif
                                     dan kekuatan jelas tak berimbang.
                                     Aku mulai frustasi. Suasana sunyi
                                     senyap. Yang ada hanya aku, seekor
                                     buaya ganas yang egois, dan intaian
                                     maut” (hlm. 88)
13.   Nilai pentingnya mencari ilmu “Lintang hanya dapat belajar setelah
      dan       sigap   menghadapi agak larut karena rumahnya gaduh,
      masalah                        sulit menemukan tempat kosong,
                                     dan karena harus berebut lampu
                                     minyak. Namun sekali ia memegang
                                     buku, terbanglah ia meninggalkan
                                     gubuk doyong berdinding kulit itu.
                                     Belajar      adalah      hiburan       yang
                                     membuatnya lupa pada seluruh
                                     penat dan kesulitan hidup. Buku
                                     baginya adalah obat dan sumur
                                     kehidupan      yang      airnya       selalu
                                     memberi kekuatan baru agar ia
                                     mampu          mengayuh               sepeda
                                     menantang angin setiap hari. Jika
                                     berhadapan dengan buku ia akan
                                     terisap oleh setiap kalimat ilmu
                                     yang dibacanya, ia tergoda oleh
                                     sayap-sayap kata yang diucapkan
90




                                   oleh para cerdik cendekia, ia melirik
                                   maksud tersembunyi dari sebuah
                                   rumus, sesuatu yang mungkin tak
                                   kasat mata bagi orang lain” (hlm.
                                   100-101).
14.   Nilai Rendah Hati            “Jika kami kesulitan, ia mengajari
                                   kami dengan sabar dan selalu
                                   membesarkan           hati       kami.
                                   Keunggulannya tidak menimbulkan
                                   perasaan terancam bagi sekitarnya,
                                   kecemerlangannya                 tidak
                                   menerbitkan     iri    dengki,    dan
                                   kehebatannya tidak sedikit pun
                                   mengisyaratkan sifat-sifat angkuh.
                                   Kami bangga dan jatuh hati padanya
                                   sebagai seorang sahabat dan sebagai
                                   seorang murid yang cerdas luar
                                   biasa. Lintang yang miskin duafa
                                   adalah mutiara, galena, kuarsa, dan
                                   topas yang paling berharga bagi
                                   kelas kami” (hlm. 109).
15.   Nilai keingintahuan          “Lintang selalu terobsesi dengan
                                   hal-hal baru, setiap informasi adalah
                                   sumbu ilmu yang dapat meledakkan
                                   rasa ingin tahunya kapan saja.
                                   Kejadian ini terjadi ketika kami
                                   kelas lima, pada hari ketika ia
                                   diselamatkan oleh Bodenga” (109).
16.   Nilai    kecerdasan    dalam “Namun,       sahabatku      Lintang
                                   memiliki hampir semua dimensi
      geometri multidimensional
91




                                   kecerdasan. Dia seperti toko serba
                                   ada     kepandaian.       Yang      paling
                                   menonjol        adalah       kecerdasan
                                   spasialnya,     sehingga     ia     sangat
                                   unggul          dalam             geometri
                                   multidimensional. Ia dengan cepat
                                   dapat membayangkan wajah sebuah
                                   konstruksi suatu fungsi jika digerak-
                                   gerakkan dalam variabel derajat. Ia
                                   mampu memecahkan kasus-kasus
                                   dekomposisi modern yang runyam
                                   dan       mengajari      kami       teknik
                                   menghitung luas poligon dengan
                                   cara membongkar sisi-sisinya sesuai
                                   Dalil Geometri Euclidian. Ingin
                                   kukatakan bahwa ini sama sekali
                                   bukan perkara mudah” (hlm. 113-
                                   114).
17.   Nilai    kecerdasan   secara “Lintang       juga      cerdas     secara
                                   experiential     yang       membuatnya
      experiential
                                   piawai      menghubungkan           setiap
                                   informasi dengan konteks yang
                                   lebih luas. Dalam kaitan ini, ia
                                   memiliki kapasitas metadiscourse
                                   selayaknya       orang-orang         yang
                                   memang dilahirkan sebagai seorang
                                   genius. Artinya adalah jika dalam
                                   pelajaran      biologi     kami       baru
                                   mempelajari       fungsi-fungsi       otot
                                   sebagai        subkomponen           yang
                                   membentuk sistem mekanik parsial
92




                                   sepotong kaki maka Lintang telah
                                   memahami sistem mekanika seluruh
                                   tubuh dan ia mampu menjelaskan
                                   peran sepotong kaki itu dalam
                                   keseluruhan mekanika persendian
                                   dan otot-otot yang terintegrasi”
                                   (hlm. 114-115)
18.   Nilai kecerdasan lingustik   “Kecerdasannya yang lain adalah
                                   kecerdasan linguistik. Ia mudah
                                   memahami bahasa, efektif dalam
                                   berkomunikasi,       memiliki      nalar
                                   verbal dan logika kualitatif. Ia juga
                                   mempunyai        descriptive      power,
                                   yakni        suatu        kemampuan
                                   menggambarkan          sesuatu       dan
                                   mengambil     contoh     yang      tepat.
                                   Pengalamanku       dengan      pelajaran
                                   bahasa Inggris di hari-hari pertama
                                   kelas 2 SMP nanti membuktikan hal
                                   itu” (hlm. 115).
19.   Nilai seni suara             “Dan    di    siang     yang       panas
                                   menggelegak ini, ketika pelajaran
                                   seni suara, di salah satu sudut
                                   kumuh         perguran            miskin
                                   Muhammadiyah,         kami       menjadi
                                   saksi bagaimana nasib menemukan
                                   bakat Mahar. Mulanya Bu Mus
                                   meminta A Kiong maju ke depan
                                   kelas untuk menyanyikan sebuah
                                   lagu, dan seperti diduga hal ini
93




                         sudah delapan belas kali terjadi ia
                         akan membawakan lagu yang sama
                         yaitu Berkibarlah Benderaku karya
                         Ibu Sud.
                         “…berkiballah bendelaku….”
                         “…lambang suci gagah pelwila ….”
                         (hlm. 129).
20.   Nilai Imajinatif   “Mahar sangat imajinatif dan tak
                         logis seseorang dengan bakat seni
                         yang sangat besar. Sesuatu yang
                         berasal     dari       Mahar     selalu
                         menerbitkan inspirasi, aneh, lucu,
                         janggal,   ganjil,     dan    menggoda
                         keyakinan. Namun, mungkin karena
                         otak sebelah kanannya benar-benar
                         aktif maka ia menjadi pengkhayal
                         luar biasa. Di sisi lain ia adalah
                         magnet, simply irresistible!” (hlm.
                         143).
21.   Nilai seni drama   “Mahar     pula      yang    membentuk
                         sekaligus menyutradarai grup teater
                         kecil      SD         Muhammadiyah.
                         Penapilan favorit kami adalah cerita
                         perang Uhud dalam episode Siti
                         Hindun. Dikisahkan bahwa wanita
                         pemarah ini mengupah seorang
                         budak untuk membunuh Hamzah
                         sebagai balas dendam atas kematian
                         suaminya. Setelah Hamzah mati
                         wanita itu membelah dadanya dan
94




                                memakan hati panglima besar itu. A
                                Kiong memerankan Hamzah, dan
                                Sahara sangat menikmati perannya
                                sebagai Siti Hindun. Juga karena
                                inisiatif    Mahar,     akhirnya      kami
                                membentuk sebuah grup band. Alat-
                                alat musik kami adalah electone
                                yang dimainkan Sahara, standing
                                bass yang dibetot tanpa ampun oleh
                                Samson, sebuah drum, tiga buah
                                tabla, serta dua buah rebana yang
                                dipinjam dari badan amil Masjid Al-
                                Hikmah” (hlm. 146).
22.   Nilai seni sastra/puisi   “Aku Bermimpi Melihat Surga.
                                Sungguh,          malam      ketiga      di
                                Pangkalan Punai aku mimpi melihat
                                surge Ternyata surga tidak megah,
                                hanya sebuah istana kecil di tengah
                                hutan tidak ada bidadari seperti
                                disebut di kitab-kitab suci aku
                                meniti      jembatan      kecil   Seorang
                                wanita            berwajah            jernih
                                menyambutku            “inilah     surga”
                                katanya.     Ia    tersenyum,      kerling
                                matanya mengajakku menengadah.
                                Seketika aku terkesiap oleh pantulan
                                sinar matahari senja. Menyirami
                                kubah-kubah istana Mengapa sinar
                                matahari berwarna perak, jingga,
                                dan biru? Sebuah keindahan yang
                                asing. Di istana surge dahan-dahan
95




                        pohon       ara    menjalar         ke     dalam
                        kamar-kamar sunyi yang bertingkat-
                        tingkat.          Gelas-gelas              kristal
                        berdenting        dialiri     air     zamzam.
                        Menebarkan rasa kesejukan. Bunga
                        petunia ditanam di dalam pot-pot
                        kayu. Pot-pot itu digantungkan pada
                        kosen-kosen jendela tua berwarna
                        biru. Di beranda, lampu-lampu kecil
                        disembunyikan di balik tilam, indah
                        sekali.      Sinarnya         memancarkan
                        kedamaian.         Tembus           membelah
                        perdu-perdu        di       halaman         Surga
                        begitu sepi, tapi aku ingin tetap di
                        sini karena kuingat janjimu, Tuhan
                        kalau aku datang dengan berjalan
                        engkau akan menjemputku dengan
                        berlari-lari” (hlm. 181-182).
23.   Nilai kompetisi   “Karnaval         17      Agustus          sangat
                        potensial         untuk       meningkatkan
                        gengsi sekolah, sebab ada penilaian
                        serius di sana. Ada kategori busana
                        terbaik,      parade        paling         megah,
                        peserta paling serasi, dan yang
                        paling bergengsi: penampil seni
                        terbaik. Gengsi ini juga tak terlepas
                        dari      integritas      para      juri    yang
                        dipimpin oleh seorang seniman
                        senior yang sudah kondang, Mbah
                        Suro namanya. Mbah Suro adalah
                        orang Jawa, ia seniman Yogyakarta
96




                           yang hijrah ke Belitong karena
                           idealisme berkeseniannya. Karena
                           sangat idealis maka tentu saja Mbah
                           Suro juga sangat melarat” (hlm.
                           215-216).
                           “Kembali     kami     berada   dalam
                           sebuah          situasi         yang
                           mempertahurkan reputasi. Lomba
                           kecerdasan. Dan kami berkecil hati
                           melihat murid-murid negeri dan
                           sekolah PN membawa buku-buku
                           teks yang belum pernah kami lihat.
                           Tebal berkilat-kilat dengan sampul
                           berwarna-warni, pasti buku-buku
                           mahal. Sebagian manusia berteriak-
                           teriak keras menghafalkan kantor
                           berita” (hlm. 363).
24.   Nilai partisipatif   “Kita harus karnaval! Apa pun yang
                           terjadi! Dan biarlah tahun ini para
                           guru tidak ikut campur, mari kita
                           beri kesempatan kepada orang-
                           orang muda berbakat seperti Mahar
                           untuk menunjukkan kreativitasnya,
                           tahukah kalian...dia adalah seniman
                           yang genius!” (hlm. 222)
25.   Nilai dukungan       “Tabahkan hati kalian, keluarkan
                           seluruh kemampuan!” ledak Bu
                           Mus memberi semangat kepada
                           kami, para mamalia. Pak Harfan
                           sudah tidak bisa bicara apa-apa.
97




                                   Tangannya membekap dada seperti
                                   orang berdoa” (hlm. 239-240).
26.   Nilai sportifitas            “Sekolah     Muhammadiyah              telah
                                   menciptakan daripada suatu arwah
                                   baru dalam karnaval ini. Maka dari
                                   itu mereka telah mencanangkan
                                   suatu daripada standar baru yang
                                   semakin kompetitif dari pada mutu
                                   festival seni ini. Mereka mendobrak
                                   dengan ide kreatif, tampil all out,
                                   dan berhasil menginterpretasikan
                                   dengan sempurna daripada sebuah
                                   tarian dan musik dari negeri yang
                                   jauh. Para penarinya tampil penuh
                                   penghayatan, dengan spontanitas
                                   dan totalitas yang mengagumkan
                                   sebagai suatu manifestasi daripada
                                   penghargaan         daripada        mereka
                                   terhadap     seni     pertunjukan        itu
                                   sendiri.Penampilan Muhammadiyah
                                   tahun ini adalah daripada suatu
                                   puncak pencapaian seni yang gilang
                                   gemilang dan oleh karena itu dewan
                                   juri tak punya daripada pilihan lain
                                   selian daripada menganugerahkan
                                   penghargaan daripada penampila
                                   seni   terbaik      tahun     ini    kepada
                                   sekolah     Muhammadiyah!”            (hlm.
                                   246-247).
27.   Nilai kreatif/originalitas   “Buah-buah       aren       itu     sungguh
98




                                 merupakan        sebuah        rancangan
                                 kalung etnik properti adi busana
                                 koreografi yang bernilai seni, hasil
                                 perenungan       Mahar        berjam-jam
                                 sambil memandangi langit di bawah
                                 pohon      filicium.    Itulah     sebuah
                                 perenungan tingkat tinggi yang
                                 membuat         hatinya        bergejolak
                                 sepanjang malam karena girang
                                 akan      memberi      kami      pelajaran,
                                 sebuah      perenungan        pembalasan
                                 dendam yang telah ia rencanakan
                                 dengan rapi selama bertahun-tahun”
                                 (hlm. 248).
28.   Nilai berkeinginan keras   “Syahdan vulgar dan sok tahu. Aku
                                 segera teringat pada A Kiong.
                                 Beberapa hari ini ia belajar di kelas
                                 sambil berdiri karena lima biji bisul
                                 padi      bermunculan         dipantatnya
                                 sehingga ia tak bisa duduk. Tapi ia
                                 berkeras ingin tetap sekolah” (hlm.
                                 254).
29.   Nilai empati               “Tabahlah, kawan, ambil semua
                                 resiko, begitulah hidup,” demikian
                                 barangkali       maksudnya.           Aku
                                 membalas dengan senyum kecut
                                 karena aku gelisah. Aku gelisah
                                 membayangkan apa yang ada di
                                 pikiran     seorang     wanita       muda
                                 Tionghoa tentang laki-laki Melayu
99




                           kampung seperti aku. Dan berada di
                           tengah lingkungan mereka membuat
                           aku semakin ragu. Apa aku pulang
                           saja? Tapi aku rindu. Dan rinduku
                           telanjur berdarah-darah” (hlm. 265)
30.   Nilai mutualisme     “Pembimbingnya menuntut Eryn
                           menulis sesuatu yang baru, berbeda
                           dan mampu membuat terobosan
                           ilmiah karena ia adalah mahasiswa
                           cerdas pemenang award. Aku setuju
                           dengan       pandangan   itu.     Erny
                           sebenarnya telah memiliki konsep
                           tentang sesuatu yang berbeda itu.
                           Dari pembicaraannya yang meluap-
                           luap aku menangkap bahwa ia telah
                           mempelajari suatu gejala psikologi
                           di mana seorang individu demikian
                           tergantung     pada   individu     lain
                           sehingga tak bisa melakukan apapun
                           tanpa pasangannya itu. Kemudian ia
                           mengajukan        tema       tersebut,
                           pembimbingnya setuju” (hlm. 444).
31.   Nilai percaya diri   “Persoalan       klasiknya       adalah
                           kepercayaan diri. Inilah problem
                           utama jika berasal dari lingkungan
                           marginal dan mencoba bersaing.
                           Kami telah dipersiapkan dengan
                           baik oleh Bu Mus. Beliau memang
                           menaruh harapan besar pada lomba
                           ini lebih dari beliau berharap waktu
100




                          karnaval dulu” (hlm. 364).
32.   Nilai ketangkasan   “Lintang        kembali      menyambar
                          tombol         secepat      kilat      dan
                          jawabannya serta merta memecah
                          ruangan. “Integral batas 5 dan 0, 2x
                          minus x kali dx, hasilnya dua belas
                          koma lima!” (hlm. 370).
33.   Nilai rendah hati   “Maafkan Bapak Guru Muda, atas
                          nama dewan juri saya terpaksa
                          mengatakan       bahwa      pengetahuan
                          kami     agaknya         belum      sampai
                          kesana” (hlm. 379).
34.   Nilai pemberani     “Bantahannya yang terakhir itu
                          adalah pelecehan. Lintang tersengat
                          harga    dirinya,    wajahnya        merah
                          padam, sorot matanya tak lagi
                          jenaka. Lintang, yang baru sekali ini
                          menginjak Tanjung Pandang, berdiri
                          dengan gagah berani menghadapi
                          guru PN yang arogan jebolan
                          perguruan tinggi terkemuka itu”
                          (hlm. 380-381).
35.   Nilai keadilan      “Nilai Flo adalah yang paling parah.
                          Matematika, Bahasa Inggris dan
                          IPA hanya mendapat angka 2.
                          Meskipun            Bapaknya          telah
                          menyumbang          papan   tulis    baru,
                          lonceng, jam dinding dan pompa air
                          untuk Muhammadiyah namun Bu
                          Mus      tak     peduli,    beliau     tak
101




                                     sedikitpunsungkan menganugrahkan
                                     angka-angka bebek berenang itu di
                                     rapor Flo karena memang itulah
                                     nilai anak Gedong itu” (hlm. 402)
36.   Nilai sopan santun             “Nama saya Flo, Floriana,” kata Flo
                                     sambil berusaha menyalami Bu
                                     Frischa.        Pria   flamboyant     itu
                                     menganguk              santun        dan
                                     melemparkan senyum termanisnya
                                     untuk Flo” (hlm. 403).
37.   Nilai pemberani                “Nasib      baik       memihak       para
                                     pemberani!” (hlm. 422)
38.   Nilai pendidikan               “Inilah pesan Tuk Bayan Tula untuk
                                     kalian berdua, jika ingin lulus ujian:
                                     buka buku, belajar!!” (hlm. 424).
39.   Nilai kerinduan                “Sekarang hari kamis, sudah empat
                                     hari Lintang tak muncul juga. Aku
                                     melamun          memandangi        tempat
                                     duduk disebelahku yang kosong.
                                     Aku sedih melihat dahan fisilium
                                     tempat ia bertengger jika kami
                                     memandangi pelangi. Ia tak ada di
                                     sana. Kami sangat kehilangan dan
                                     cemas. Aku rindu pada Lintang”
                                     (hlm. 429).
40.   Nilai tekad untuk lebih baik   “Aku        benar-benar          bertekad
                                     mendapatkan beasiswa itu karena
                                     bagiku     ia     adalah   tiket    untuk
                                     meninggalkan           hidupku      yang
                                     terpuruk” (hlm. 460).
102




    41.     Nilai iba                   “Aku tak berkata apa-apa. Terlihat
                                        jelas ia kelelahan melawan nasib.
                                        Lengannya kaku seperti besi karena
                                        kerja rodi tapi tubuhnya kurus dan
                                        ringkih. Binar mata dan kepintaran
                                        dan senyum manis yang jenaka itu
                                        tak    pernah       hilang   walaupun
                                        sekarang kulitnya kering berkilat
                                        dimakan minyak. Rambutnya merah
                                        awut-awutan.          Lintang     dan
                                        keseluruhan          bangunan     ini
                                        menimbulkan rasa iba, iba karena
                                        kecerdasan yang sia-sia terbuang”
                                        (hlm. 468).
    42.     Nilai kepedulian            “Bagaimana kabarnya si Ikal itu,
                                        ibunda?” Tanya Mahar kepada ibu
                                        Ikal” (hlm. 492).
    43.     Nilai keakraban             “Terakhir ia mengirimku sepucuk
                                        surat dan diselipkannya selembar
                                        foto dalam suratnya itu” (hlm. 493).




C. Deskripsi Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar

  Pelangi

          Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan

  pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode

  pengajaran nilai berarti suatu cara kerja yang bersistem untuk memudahkan

  pelaksanaan suatu kegiatan penanaman nilai-nilai guna mencapai tujuan yang

  ditentukan. Dalam novel laskar pelangi metode pengajaran nilai yang
103




digunakan adalah metode bercerita atau berkisah, dan metode menampilkan

gambar kemudian menceritakan hakikat makna yang tersirat pada gambar

tersebut.

Tabel 2 Paparan Data Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam

            Novel Laskar Pelangi


 No         Deskripsi Metode Pengajaran   Teks Dalam Novel Laskar Pelangi
                       Nilai
 1.    Metode pengajaran nilai dengan “Bapak          yang     jahitan      kerah
                                          kemejanya telah lepas itu bercerita
       bercerita
                                          tentang perahu Nabi Nuh serta
                                          pasangan-pasangan binatang yang
                                          selamat dari banjir bandang”.
                                          “Mereka     yang      ingkar       telah
                                          diingatkan bahwa air bah akan
                                          datang…,”     demikian         ceritanya
                                          dengan wajah penuh penghayatan”.
                                          “Namun,                kesombongan
                                          membutakan mata dan menulikan
                                          telinga mereka, hingga mereka
                                          musnah dilamun ombak….” (hlm.
                                          22).
                                          “Cerita      selanjutnya         sangat
                                          memukau.           Sebuah         cerita
                                          peperangan besar zaman Rasulullah
                                          di mana kekuatan dibentuk oleh
                                          iman bukan oleh jumlah tentara:
                                          perang Badar! Tiga ratus tiga belas
                                          tentara Islam mengalahkan ribuan
104




                                  tentara Quraisy yang kalap dan
                                  bersenjata lengkap” (hlm. 22).
                                  “Ketahuilah        wahai         keluarga
                                  Ghudar, berangkatlah kalian ke
                                  tempat-tempat       kematian        kalian
                                  dalam masa tiga hari!” Demikian
                                  Pak Harfan berteriak lantang sambil
                                  menatap langit melalui jendela
                                  kelas kami. Beliau memekikkan
                                  firasat mimpi seorang penduduk
                                  Mekkah,         firasat       kehancuran
                                  Quraisy dalam kehebatan perang
                                  Badar. Mendengar            teriakan itu
                                  rasanya aku ingin melonjak dari
                                  tempat duduk. Kami ternganga
                                  karena suara Pak Harfan yang berat
                                  menggetarkan benang-benang halus
                                  dalam kalbu kami. Kami menanti
                                  liku demi liku cerita dalam detik-
                                  detik menegangkan dengan dada
                                  berkobar-kobar        ingin      membela
                                  perjuangan para penegak Islam”
                                  (hlm. 22-23).
2.   Metode pengajaran nilai dengan “Lalu Pak Harfan mendinginkan
                                  suasana dengan berkisah tentang
     berkisah
                                  penderitaan     dan       tekanan    yang
                                  dialami   seorang         pria   bernama
                                  Zubair bin Awam. Dulu nun di
                                  tahun 1929 tokoh ini bersusah
                                  payah, seperti kesulitan Rasulullah
                                  ketika pertama tiba di Madinah,
105




                                        mendirikan sekolah dari jerjak kayu
                                        bulat     seperti       kandang.       Itulah
                                        sekolah      pertama        di     Belitong.
                                        Kemudian          muncul     para      tokoh
                                        seperti K.A. Abdul Hamid dan
                                        Ibrahim bin Zaidin yang berkorban
                                        habis-habisan melanjutkan sekolah
                                        kandang          itu    menjadi      sekolah
                                        Muhammadiyah. Sekolah ini adalah
                                        sekolah Islam pertama di Belitong,
                                        bahkan       mungkin        di      Sumatra
                                        Selatan” (hlm. 23).
   3.   Metode pengajaran nilai dengan “Beliau tak menanggapi keluhan itu
                                        tapi mengeluarkan sebuah buku
        menampilkan gambar kemudian
                                        berbahasa               Belanda            dan
        menceritakannya.
                                        memerplihatkan sebuah gambar.
                                        Gambar itu adalah sebuah ruangan
                                        yang sempit, dikelilingi tembok
                                        tebal yang suram, tinggi, gelap, dan
                                        berjeruji. Kesan di dalamnya begitu
                                        pengap, angker, penuh kekerasan
                                        dan kesedihan”. “Inilah sel Pak
                                        Karno       di     sebuah        penjara    di
                                        Bandung, di sini beliau menjalani
                                        hukuman dan setiap hari belajar,
                                        setiap    waktu         membaca        buku.
                                        Beliau adalah salah satu orang
                                        tercerdas        yang    pernah      dimiliki
                                        bangsa ini.” (hlm. 31).



D. Deskripsi Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan Islam
106




      Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam yang terdapat

dalam novel Laskar Pelangi merupakan nilai-nilai yang bersifat Islami yang

meliputi: (1) nilai aqidah, (2) nilai syari’ah, dan nilai akhlaq (nilai budi

pekerti atau nilai moral). Nilai-nilai ini sangat penting untuk ditanamkan atau

dikembangkan dalam pendidikan Islam guna mendukung proses pencapaian

tujuan yang diinginkan.


Tabel 3 Paparan Data Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam

          Pendidikan Islam


 No Deskripsi Nilai-Nilai                 Teks Dalam Novel Laskar Pelangi

 1.   Nilai menebarkan salam              “Pak Harfan berdiri di depan para
                                          orangtua, wajahnya muram. Beliau
                                          bersiap-siap memberikan pidato
                                          terakhir. Wajahnya tampak putus
                                          asa. Namun ketika beliau akan
                                          mengucapkan          kata   pertama
                                          Assalamu’alaikum seluruh hadirin
                                          terperanjat      karena        Tripani
                                          berteriak sambil menunjuk ke
                                          pinggir    lapangan    rumput     luas
                                          halaman sekolah itu” (hlm. 6).
 2.   Nilai   akhlak      tentang   amar ”Lalu persis di bawah mathari tadi
                                          tertera huruf-huruf arab gundul
      ma’ruf nahi mungkar
                                          yang nanti setelah kelas dua,
                                          setelah aku pandai membaca huruf
                                          arab, aku tahu bahwa tulisan itu
                                          berbunyi      amar    makruf     nahi
107




                        mungkar       artinya:        menyuruh
                        kepada       yang      makruf       dan
                        mencegah dari yang mungkar”.
                        Itulah   pedoman       utama     warga
                        Muhammadiyah.          Kata-kata    itu
                        melekat dalam kalbu kami sampai
                        dewasa     nanti.    Kata-kata     yang
                        begitu kami kenal seperti kami
                        mengenal bau alami ibu-ibu kami”
                        (hlm. 19).
3.   Nilai keikhlasan   “Pengetahuan terbesar terutama
                        kudapat dari sekolahku, karena
                        perguruan            Muhammadiyah
                        bukanlah center of excellence, tapi
                        ia merupakan pusat marginalitas
                        sehingga      ia     adalah      sebuah
                        universitas kehidupan. Di sekolah
                        ini aku memahami arti keikhlasan,
                        perjuangan, dan integritas. Lebih
                        dari itu, perintis peruguran ini
                        mewariskan pelajaran yang amat
                        berharga tentang ide-ide besar
                        Islam yang         mulia, keberanian
                        untuk merealisasi ide itu meskipun
                        tak      putus-putus          dirundung
                        kesulitan, dan konsep menjalani
                        hidup dengan gagasan memberi
                        manfaat sebesar-besarnya untuk
                        orang lain melalui pengorbanan
                        tanpa pamrih” (hlm. 84).
                        “Pak Harfan telah puluhan tahun
108




                            mengabdi             di            sekolah
                            Muhammadiyah              nyaris     tanpa
                            imbalan apa pun demi motif syiar
                            Islam. Beliau menghidupi keluarga
                            dari sebidang kebun palawija di
                            pekarangan rumahnya” (hlm. 21).
4.   Nilai syariah/ibadah   “Shalatlah tepat waktu, biar dapat
                            pahala lebih banyak,” demikian
                            Bu Mus selalu menasihati kami”
                            (hlm. 31).
5.   Nilai budi pekerti     “Bu Mus adalah seorang guru
                            yang      pandai,    karismatik,       dan
                            memiliki      pandangan        jauh     ke
                            depan. Beliau menyusun sendiri
                            silabus pelajaran Budi Pekerti dan
                            mengajarkan kepada kami sejak
                            dini pandangan-pandangan dasar
                            moral,       demokrasi,            hukum,
                            keadilan, dan hak-hak asasi jauh
                            hari       sebelum          orang-orang
                            sekarang          meributkan           soal
                            materialisme versus pembangunan
                            spiritual dalam pendidikan. Dasar-
                            dasar moral itu menuntun kami
                            membuat        konstruksi          imajiner
                            nilai-nilai integritas pribadi dalam
                            konteks Islam. Kami diajarkan
                            menggali nilai luhur di dalam diri
                            sendiri    agar     berperilaku       baik
                            karena kesadaran pribadi. Materi
109




                                   pelajaran Budi Pekerti yang hanya
                                   diajarkan           di           sekolah
                                   Muhammadiyah sama sekali tidak
                                   seperti kode perilaku formal yang
                                   ada     dalam     konteks       legalitas
                                   institusional seperti sapta prasetya
                                   atau              pedoman-pedoman
                                   pengalaman lainnya” (hlm. 30).
6.   Nilai akhlak tentang berbakti “Trapani sangat berbakti kepada
                                   orangtua,       khususnya        ibunya.
     pada orang tua
                                   Sebaliknya, ia juga diperhatikan
                                   ibunya      layaknya     anak      emas.
                                   Mungkin karena ia satu-satunya
                                   laki-laki diantara lima saudara
                                   perempuan        lainnya.   Ayahnya
                                   adalah seorang operator vessel
                                   board    di     kantor   telepon     PN
                                   sekaligus tukang sirine. Meskipun
                                   rumahnya dekat dengan sekolah
                                   tapi sampai kelas tiga ia masih
                                   diantar jemput ibunya. Ibu adalah
                                   pusat gravitasi hidupnya” (hlm.
                                   74).
7.   Nilai Kesabaran               “Sebentar lagi Anakku, sebentar
                                   lagi…,” jawab Bu Mus sabar,
                                   berulang-ulang,        puluhan      kali,
                                   sepanjang tahun, lalu Harun pun
                                   bertepuk tangan” (hlm. 77).
8.   Nilai Jujur                   “Ketika ibuku bertanya tentang
                                   tanda itu aku tak berkutik, karena
110




                                       pelajaran            Budi             Pekerti
                                       Kemuhammadiyahan setiap Jumat
                                       pagi     tak       membolehkan           aku
                                       membohongi          orangtua,     apalagi
                                       ibu. Maka dengan amat sangat
                                       terpaksa                     kutelanjangi
                                       kebodohanku          sendiri.     Abang-
                                       abang dan ayahku tertawa sampai
                                       menggigil dan saat itulah untuk
                                       pertama kalinya aku mendengar
                                       teori     canggih      ibuku      tentang
                                       penyakit gila” (hlm. 82)
9.   Nilai Syukur.                     “Maka sejak waktu virtual tercipta
                                       dalam definisi hipotesis manusia
                                       tatkala nebula mengeras dalam
                                       teori lubang hitam, di antara titik-
                                       titik kurunnya yang merentang
                                       panjang tak tahu akan berhenti
                                       sampai kapan, aku pada titik ini, di
                                       tempat      ini,    merasa      bersyukur
                                       menjadi orang Melayu Belitong
                                       yang      sempat      menjadi          murid
                                       Muhammadiyah” (hlm. 85).
10. Nilai    tauhid   tentang   zat-zat “Tempat di atas langit ketujuh,
                                       tempat kebodohan bersemanyam,
     Tuhan
                                       adalah metaphor dari suatu tempat
                                       di      mana       manusia      tak      bisa
                                       mempertanyakan          zat-zat       Allah.
                                       Setiap usaha mempertanyakannya
                                       hanya      akan      berujung     dengan
111




                                  kesimpulan                           yang
                                  mempertontonkan kemahatololan
                                  sang penanya sendiri. Maka semua
                                  jangkauan akal telah berakhir di
                                  langit ketujuh tadi. Di tempat
                                  asing tersebut, barangkali Arasy,
                                  di      sana     kembali         metaphor
                                  kagungan Tuhan bertakhta. Di
                                  bawah takhta-Nya tergelar Lauhul
                                  Mahfuzh,         muara     dari     segala
                                  cabang anak-anak sungai ilmu dan
                                  kebijakan,       kitab     yang      telah
                                  mencatat setiap lembar daun yang
                                  akan jatuh. Ia juga menyimpan
                                  rahasia     ke    mana      nasib     akan
                                  membawa sepuluh siswa baru
                                  perguruan Muhammadiyah tahun
                                  ini. Karena takdir           dan nasib
                                  termasuk dalam zat-Nya” (hlm.
                                  105).
11. Nilai syariah tentang menjaga “Kucai         mengangkangi          dahan
    aurat                         tertinggi, sedangkan Sahara, satu-
                                  satunya betina dalam kawanan itu,
                                  bersilang kaki di atas dahan
                                  terendah. Pengaturan semacam itu
                                  tentu     bukan         karena      budaya
                                  patriarki      begitu     kental    dalam
                                  komunitas Melayu, tapi semata-
                                  mata karena pakaian Sahara tidak
                                  memungkinkan ia berada di atas
                                  kami. Ia adalah muslimah yang
112




                                 menjaga aurat rapat-rapat” (hlm.
                                 159).
12. Nilai Aqidah tentang Larangan ”Disambung         berita    penting:
    Syirik                       ”Klenik,     ilmu    ghaib,   tahayul,
                                 paranormal,        semuanya    sangat
                                 dekat      dengan      pemberhalaan.
                                 Syirik adalah larangan tertinggi
                                 dalam Islam. Ke mana semua
                                 kebijakan dari pelajaran aqidah
                                 setiap selasa? Ke mana semua
                                 hikmah dari pengalaman jahiliyah
                                 masa lampau dalam pelajaran
                                 tarikh Islam? Ke mana etika
                                 kemuhammadiyahan?” (hlm. 350-
                                 351).
13. Nilai Taqwa                  ”Para anggota Societeit adalah
                                 orang-orang biasa, miskin dan
                                 kebanyakan, namun mereka kaya
                                 raya akan pengalaman batin dan
                                 petualangan penuh mara bahaya
                                 untuk mencari kebenaran hakiki.
                                 Mereka        memastikan        setiap
                                 kesangsian,             membuktikan
                                 prasangka dan mitos-mitos, serta
                                 mengalami sendiri apa yang hanya
                                 bisa diduga-duga orang. Mereka
                                 memuaskan            sifat      dasar
                                 keingintahuan       manusia    sampai
                                 batas      akhir     yang     menguji
                                 keyakinan. Mereka adalah orang-
113




                         orang yang menjeput hidayah dan
                         tidak   duduk        termangu-mangu
                         menunggunya.         Kini     mereka
                         menjadi orang-oarang Islam yang
                         taat yang menjauhkan diri dari
                         syrik” (hlm. 474).
14. Nilai Silaturrahmi   ”Setelah acara peluncuran buku,
                         aku, Nur Zaman, Mahar, dan
                         Kucai mengunjungi ibu Ikal untuk
                         bersilaturrahmi             sekalian
                         menanyakan        kabar     anaknya
                         dirantau orang” (hlm. 491).
BAB V

                    PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN



A. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar

  Pelangi

           Pada bab lima ini, penulis akan menafsirkan temuan nilai-nilai yang

   terdapat dalam novel laskar pelangi, kemudian pengintegrasian temuan

   penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang sudah ada dilakukan dengan

   jalan menjelaskan temuan-temuan dalam konteks khasanah yang lebih luas.

           Adapaun nilai-nilai yang telah penulis deskripsikan pada bab empat di

   atas yaitu mengenai nilai-nilai yang bersifat global bukan nilai yang bersifat

   Islami. Nilai-nilai itu meliputi: (a) nilai personal, (b) nilai sosial, dan (c) nilai

   seni.

           Pertama, nilai personal yang telah penulis temukan dalam teks novel

   Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut:

   a. Nilai Tanggungjawab

               Nilai tanggungjawab, paragraf yang mengandung nilai tersebut

      dalam novel laskar pelangi yaitu:

               ”Pak Harfan tampak amat bahagia menghadapi murid, tipikal guru
               yang sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya, india, yaitu
               orang yang tak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang
               secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi
               muridnya” (hlm. 23).

               Deskripsi penafsiran nilai tanggung jawab pada teks di atas adalah

      sikap dan prilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya,




                                         114
115




  yang seharusnya ia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan

  (alam, sosial), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini,

  bahwasanya pak Harfan adalah tipe seorang yang memiliki sikap dan

  prilaku untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai guru kepada

  muridnya untuk selalu membimbing dan mengarahkan muridnya baik

  dalam hal pengetahuan maupun spiritual.

b. Nilai Perjuangan

         Nilai perjuangan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah

     “Pak Harfan menceritakan semua itu dengan semangat perang Badar
     sekaligus setengah embusan angin pagi. Kami terpesona pada setiap
     pilihan kata dan gerak lakunya yang memikat. Ada semacam pengaruh
     yang lembut dan baik terpancar darinya. Ia mengesankan sebagai pria
     yang kenyang akan pahit getir perjuangan dan kesusahan hidup
     berpengetahuan seluas samudra, bijak berani, mengambil resiko, dan
     menikmati daya tarik dalam mencari-cari bagaimana cara menjelaskan
     sesuatu agar setiap orang mengerti” (hlm. 23).

         Deskripsi    penafsiran nilai perjuangan pada teks di atas adalah

  sikap dan prilaku seseorang besunguh-sungguh berjuang dengan segenap

  jiwa dan raganya. Perjuangan pak Harfan terhadap dunia pendidikan

  begitu sangat besar, sekalipun hanya dengan sepuluh murid, beliau tetap

  berjuang untuk mencerdaskan atau memahamkan murid-muridnya dengan

  semangat, daya tarik sehingga dapat memikat perhatian muridnya. pak

  Harfan adalah tipikal guru yang patut diteladani oleh para pendidik

  lainnya. Saat ini, kebanyakan para pendidik memposisikan kedudukannya

  hanya sebagai profesi, akan tetapi tanggung jawab terhadap pekejaannya

  masih perlu dipertanyaan, apakah mereka sudah benar-benar berjuang
116




  untuk mencerdaskan peserta didiknya untuk mencetak dan memelihara

  aset (generasi) yang lebih berkuatlitas dengan bekal pengetahuan dan

  psiritual yang tinggi? Tugas guru sabagai pengajar merupakan pekerjaan

  berat, mereka memeraskan otak, mental, dan fisik untuk mencerdaskan

  kehidupan bangsa. Dan hal tersebut, telah dilaksanakan oleh pak Harfani

  dalam membimbing, melatih dan mengajar sepuluh muridnya di sekolah

  Muhammadiyah.

c. Nilai teguh pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk

  mencapai cita-cita, dan nilai dermawan

         Nilai teguh pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk

  mencapai cita-cita, dan nilai dermawan paragraf yang mengandung nilai

  tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan
         pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk
         mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa
         demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan
         keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan
         sebuah prinsip prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam
         dadaku serta member arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa
         hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk
         menerima sebanyak-banyaknya” (hlm. 24).

         Deskripsi penafsiran nilai teguh pendirian yaitu sikap atau perilaku

  kokoh dan tidak mudah terombang-ambing. Seseorang yang memiliki

  sikap ini cenderung memiliki prinsip yang kuat serta tidak mudah goyah

  dalam segala hal. Sedangkan nilai ketekunan adalah sikap tidak menyerah

  pada rintangan atau hambatan yang dihadapi demi mencapai cita-cita atau

  tujuan. Kemudian nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita dapat
117




  ditafsirkan sebagai sikap atau perilaku seseorang yang bersungguh-

  sungguh dengan motivasi yang tinggi serta usaha yang tiada tara untuk

  mewujudkan harapan atau cita-cita. Dan adapun nilai dermawan

  merupakan tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia sehingga

  menyumbangkan waktu uang dan tenaganya. Jika nilai-nilai tersebut

  diajarkan, maka akan dijadikan bekal seseorang dalam menjalani

  kehidupan dengan prinsip-prinsip yang teguh (tidak mudah ikut-ikutan),

  tekun, bersemangat untuk mengejar cita-cita dan selalu dermawan pada

  sesama manusia.

d. Nilai Kompetisi

         Nilai kompetisi paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa PN brilian bersaing ketat
         dalam standar mutu yang sangat tinggi” (hlm. 58).

         Deskripsi penafsiran nilai kompetisi adalah sikap atau perilaku

  seseorang yang selalu ingin bersaing positif untuk merebutkan kejuaraan

  dalam lingkup dabungan perkumpulan. ”Fastabiqul Khairat” yang artinya

  berlomba-lombalah dalam kebaikan. Ini berarti Islam juga memberikan

  anjuran kepada manusia untuk selalu berkompetisi dalam hal-hal yang

  baik. Maka dari itu, nilai kompetisi ini perlu ditanamkan pada diri

  seseorang. Dengan adanya kompetisi akan membangun jiwa yang

  memiliki daya saing yang tinggi untuk terus maju.
118




e. Nilai Kecerdasan

         Nilai kecerdasan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Namun, sahabatku Lintang memiliki hampir semua dimensi
         kecerdasan. Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling
         menonjol adalah kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul
         dalam geometri multidimensional. Ia dengan cepat dapat
         membayangkan wajah sebuah konstruksi suatu fungsi jika digerak-
         gerakkan dalam variabel derajat. Ia mampu memecahkan kasus-
         kasus dekomposisi modern yang runyam dan mengajari kami
         teknik menghitung luas poligon dengan cara membongkar
         sisisisinya sesuai Dalil Geometri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa
         ini sama sekali bukan perkara mudah” (hlm. 113-114).

         “Lintang juga cerdas secara experiential yang membuyatnya piawai
         menghubungkan setiap informasi dengan konteks yang lebih luas.
         Dalam kaitan ini, ia memiliki kapasitas metadiscourse selayaknya
         orang-orang yang memang dilharikan sebagai seorang genius.
         Artinya adalah jika dalam pelajaran biologi kami baru mempelajari
         fungsi-fungsi otot sebagai subkomponen yang membentuk sistem
         mekanik parsial sepotong kaki maka Liontang telah memahami
         sistem mekanika seluruh tubuh dan ia mampu menjelaskan peran
         sepotong kaki itu dalam keseluruhan mekanika persendian dan
         otot-otot yang terintegrasi” (hlm. 114-115)

         “Kecerdasannya yang lain adalah kecerdasan linguistik. Ia mudah
         memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar
         verbal dan logika kualitatif. Ia juga mempunyai descriptive power,
         yakni suatu kemampuan menggambarkan sesuatu dan mengambil
         contoh yang tepat. Pengalamanku dengan pelajaran bahasa Inggris
         di harihari pertama kelas 2 SMP nanti membuktikan hal itu” (hlm.
         115).

         Deskripsi    penafsiran nilai kecerdasan yaitu kemampuan yang

  dimiliki seseorang yang diberikan oleh Tuhannya. Kemampuan itu akan

  terus berkembang, manakala orang tersebut selalu berusaha untuk terus

  mengembangkan kemampuannya dengan baik. Sebagaimana sosok

  Lintang, ia adalah anak yang cerdas, akan tetapi dengan kecerdasannya itu,
119




  ia tetap untuk rajin membaca atau selalu haus untuk menuntut ilmu. Maka

  dari itu, Lintang menjadi anak yang multitalenta, sebagaimana yang

  terdapat dalam teks di atas Lintang memiliki kecerdasan spesial,

  experiental dan lingual.

f. Nilai Percaya Diri

          Nilai percaya diri, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

          “Persoalan klasiknya adalah kepercayaan diri. Inilah problem
          utama jika berasal dari lingkungan marginal dan mencoba bersaing.
          Kami telah dipersiapkan dengan baik oleh Bu Mus. Beliau memang
          menaruh harapan besar pada lomba ini lebih dari beliau berharap
          waktu karnaval dulu” (hlm. 364).

          Deskripsi penafsiran nilai percaya diri adalah sikap atau tingkah

  laku seseorang yang optimis dalam menghadapi sesuatu. Dengan adanya

  sikap percaya diri seseorang tidak mudah minder dalam segala hal.

  Percaya diri merupakan kunci kesuksesan “al-i’timadu alannafsi

  asasunnajah”.

g. Nilai Disiplin

          Nilai disiplin, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

          “Tapi lebih dari setengah perjalanan sudah, aku tak ‘kan kembali
          pulang gara-gara buaya bodoh ini. Tak ada kata bolos dalam
          kamusku, dan hari ini ada tarikh Islam, mata pelajaran yang
          menarik. Ingin kudebatkan kisah ayat-ayat suci yang memastikan
          kemenangan Byzantium tujuh tahun sebelum kejadian. Sudah
          siang, aku maju sedikit, aku pasti terlambat tiba di sekolah” (hlm.
          88).
120




         Deskripsi nilai disiplin adalah sikap dan perilaku seseorang yang

  berniat untuk menaati dan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan.

  Berkaitan dengan teks di atas, konteks disiplin telah diterapkan oleh

  Lintang. Sekalipun dalam suatu perjalan ada halangan yang dapat

  mengancam nyawanya, namun Lintang tetap tidak ingin terlambat. Ini

  berarti, Lintang memiliki sikap atau prilaku yang berniat untuk menaati

  dan mengikuti peraturan yang ada di sekolah Muhammadiyah.

h. Nilai Perjuangan Menuntut Ilmu

         Nilai perjuangan menuntut ilmu, paragraf yang mengandung nilai

  tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Aku hanya sendirian. Jika ada orang lain aku berani lebih frontal.
         Tahukah hewan ini pentingnya pendidikan? Aku tak berani lebih
         dekat. Ia menganga dan bersuara rendah, suara dari perut yang
         menggetarkan seperti sendawa seekor singa atau seperti suara
         orang menggeser sebuah lemari yang sangat besar. Aku diam
         menunggu. Tak ada jalur alternatif dan kekuatan jelas tak
         berimbang. Aku mulai frustasi. Suasana sunyi senyap. Yang ada
         hanya aku, seekor buaya ganas yang egois, dan intaian maut” (hlm.
         88).

         Deskripsi penafsiran nilai perjuangan menuntut ilmu adalah sikap

  dan tingkah laku seseorang dalam berjuang dengan sungguh-sungguh

  dalam mencari ilmu demi bekal hidupnya. Ilmu adalah petunjuk bagi

  manusia, ilmu juga sebagai alat pengotrol manusia. Berjuang dalam

  menuntut ilmu akan dirasakannya setelah seseorang benar-benar

  menjalankan ilmu yang telah diperolehnya. Lintang adalah tokoh yang

  sangat peduli terhadap pendidikan. Perjuangannya dalam menuntut ilmu

  penuh dengan pengorbanan. Daya juang dan semangatnya begitu tinggi.
121




  Sebagai generasi penerus banggsa, maka kita harus meniru sosok Lintang

  dalam memperjuangkan pendidikan.

i. Nilai Sigap Menghadapi Masalah

         Nilai sigap menghadapi masalah, paragraf yang mengandung nilai

  tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Lintang hanya dapat belajar setelah agak larut karena rumahnya
         gaduh, sulit menemukan tempat kosong, dan karena harus berebut
         lampu minyak. Namun sekali ia memegang buku, terbanglah ia
         meninggalkan gubuk doyong berdinding kulit itu. Belajar adalah
         hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan
         hidup. Buku baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya
         selalu memberi kekuatan baru agar ia mampu mengayuh sepeda
         menantang angin setiap hari. Jika berhdapan dengan buku ia akan
         terisap oleh setiap kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh
         sayap-sayap kata yang diucapkan oleh para cerdik cendekia, ia
         melirik maksud tersembunyi dari sebuah rumus, sesuatu yang
         mungkin tak kasat mata bagi orang lain” (hlm. 100-101).

         Deskripsi penafsiran nilai sigap menghadapi masalah adalah sikap

  tegas dan tegar dalam menghadapi masalah yang dihadapinya. Pribadi

  yang tegas dan tegar dalam menghadapi masalah ini berarti segala urusan

  akan mudah terselesaikan. Seperti halnya Lintang, ia hanya menyempatkan

  diri belajar pada waktu malam hari, karena rumahnya gaduh dan ia sulit

  menemukan tempat kosong. Begitu hebatnya Lintang, ia tidak pernah

  mengeluh pada orang tuanya. Oleh karenanya, sebagai manusia yang telah

  diberikan nikmat yang lebih baik seharusnya kita juga harus bersikap

  seperti halnya Lintang. Belajar dan selalu haus membaca demi

  mendapatkan pengetahuan.
122




j. Nilai Rendah Hati

         Nilai rendah hati, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Jika kami kesulitan, Lintang mengajari kami dengan sabar dan
         selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan
         perasaan terancam bagi sekitarnya, kecemerlangannya tidak
         menerbitkan iri dengki, dan kehebatannya tidak sedikit pun
         mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati
         padanya sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang murid yang
         cerdas luar biasa. Lintang yang miskin duafa adalah mutiara,
         galena, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami”
         (hlm. 109).

         Deskripsi nilai rendah hati adalah sikap atau prilaku tidak sombong

  dengan apa yang dimiliki, serta tidak angkuh dengan apa yang

  diperbutanya. Rendah hati termasuk suatu cara untuk mendapatkan

  kemuliaan. Orang yang rendah hati seperti jurang yang didalamnya

  berhimpun air hujan dan air hujan lainnya, sedangkan orang yang

  sombong seperti bukit yang tidak menetap didalanya air hujan dan air

  hujan yang lain. Di sinilah sosok lintang yang selalu rendah hati, tidak

  pernah sombong sekalipun ia menjadi manusia super cerdas.

k. Nilai Ketangkasan

         Nilai ketangkasan paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Lintang kembali menyambar tombol secepat kilat dan jawabannya
         serta merta memecah ruangan. “Integral batas 5 dan 0, 2x minus x
         kali dx, hasilnya dua belas koma lima!” (hlm. 370).

         Deskripsi penafsiran nilai ketangkasan adalah sikap atau prilaku

  cekatan dalam menjalankan sesuatu. Tangkas di sini bukanlah sikap atau
123




  prilaku     terburu-buru.   Ketangkasan    yang   dimaksudkan    ini   yaitu

  ketangkasan yang memiliki stategi dalam mengambil tindakan. Misalnya

  saja dalam suatu perlombaan yang diikuti oleh Lintang, Ikal dan Mahar

  adalah perlombaan yang amat berat, karena mereka menghadapi lawan

  yang tngguh. Namun ketika perlombaan dimulai dan pertanyaan telah

  dibacakan oleh juri Lintang, Ikal dan Mahar mencoba tenang, bersikap

  percaya diri dan menjawab pertanyaan dengan penuh strategi yang matang.

l. Nilai Gagah Berani

            Nilai gagah berani, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

            “Bantahannya yang terakhir itu adalah pelecehan. Lintang tersengat
            harga dirinya, wajahnya merah padam, sorot matanya tak lagi
            jenaka. Lintang, yang baru sekali ini menginjak Tanjung Pandang,
            berdiri dengan gagah berani menghadapi guru PN yang arogan
            jebolan perguruan tinggi terkemuka itu” (hlm. 380-381).

            Deskripsi penafsiran gagah berani yaitu sikap atau prilaku tangguh

  dan berani dalam membela kebenaran. Sikap atau prilaku berani karena

  benar ini disebut al-jurah. Seseorang yang memiliki sikap al-jurah atau

  berani karena benar, tidak akan perna lekang dengan kebenaran dan tidak

  mudah ditundukkan. Hal ini begitu menonjol pada pribadi Lintang seorang

  murid Muhammadiyah yang mana ia begitu gagah berani dalam

  menyangkal jawaban guru PN yang jawabannya memang benar-benar

  salah. Di sinilah Lintang mulai menjelaskan jawabannya dengan sangat

  rasional dan sikap yang bijak. Ia berani demi kebenaran, ia tidak peduli
124




  siapa yang dihadapinya, yang terpenting ia telah mempertahankan suatu

  kebenaran dengan sikap yang baik.

m. Nilai Kerinduan

          Nilai kerinduan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

          “Sekarang hari kamis, sudah empat hari Lintang tak muncul juga.
          Aku melamun memandangi tempat duduk disebelahku yang
          kososng. Aku sedih melihat dahan fisilium tempat ia bertengger
          jika kami memandangi pelangi. Ia tak ada di sana. Kami sangat
          kehilangan dan cemas. Aku rindu pada Lintang” (hlm. 429).

          Deskripsi penafsiran nilai kerinduan merupakan sikap atau prilaku

  yang dirasakan seseorang karena rindu atau kangen pada orang lain.

  Kerinduan ini berasal dari kata ash-shabwah bermakna condong,

  sebagaimana dikatakan as-shaba ila kadza maksudnya ia condong kepada

  sesuatu. Kaitan nilai kerinduan dengan teks di atas yaitu perasaan yang

  penuh kerinduan dan condong pada seseorang yang selama ini tidak

  pernah hadir dan tampak secara kasat mata. Ia adalah Lintang yang kini

  harus berhenti sekolah demi menghidupi keluarganya sebagai pengganti

  ayahnya yang telah meninggal dunia. Seluruh kawan-kawan lintang

  merasakan kerinduan yang mendalam pada Lintang karena orang yang

  dianggap super cerdas kini harus putus sekolah.

n. Nilai Iba

          Nilai iba, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel

  laskar pelangi adalah sebagai berikut:

          “Aku tak berkata apa-apa. Terlihat jelas ia kelelahan melawan
          nasib. Lengannya kaku seperti besi karena kerja rodi tapi tubuhnya
125




         kurus dan ringkih. Binar mata dan kepintaran dan senyum manis
         yang jenaka itu tak pernah hilang walaupun sekarang kulitnya
         kering berkilat dimakan minyak. Rambutnya merah awut-awutan.
         Lintang dan keseluruhan bangunan ini menimbulkan rasa iba, iba
         karena kecerdasan yang sia-sia terbuang” (hlm. 468).

         Deskripsi penafsiran nilai iba adalah sikap atau prilaku seseorang

  yang yang merasakan kepedihan yang sedang dihadapi orang lain, akan

  tetapi kepekaan rasa itu tidak dapat membantu bebannya hanya dapat

  memberikan solusi nasehat atau pesan. Rasa iba ini dirasakan oleh para

  murid Muhammadiyah yang telah kehilangan Lintang, mereka merasakan

  iba karena kecerdasan Lintang yang terbuang sia-sia.

o. Dan Nilai Tekad Untuk Lebih Baik

         Nilai tekad untuk lebih baik, paragraf yang mengandung nilai

  tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Aku benar-benar bertekad mendapatkan beasiswa itu karena
         bagiku ia adalah tiket untuk meninggalkan hidupku yang terpuruk”
         (hlm. 460).

         Deskripsi penafsiran nilai tekad untuk lebih baik yaitu kekuatan

  jiwa yang tinggi untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik. Individu

  yang memiliki sikap atau prilaku demikian berarti ia memiliki harapan di

  masa depan. Dengan sikap tekad, maka individu akan terus berusaha

  dengan sekuat tenaga dan dengan kesungguhan untuk mewujudkan

  kehidupan yang lebih baik. Hal ini dialami oleh Ikal yang ia benar-benar

  bertekad mendapatkan beasiswa, karena baginya itu merupakan tiket untuk

  menggalkan kehidupan yang terpuruk.
126




     Kedua, nilai sosial adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan

kemanusiaan. Nilai-nilai dalam dimensi ini terkait dengan interaksi sesama

manusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan, kesopanan dan segala

macam produk hukum yang ditetapkan manusia. Nilai sosial yang terdapat

dalam novel Laskar Pelangi antara lain:

a. Nilai Multikultural

          Nilai multikultural, paragraf   yang mengandung nilai tersebut

  dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

          “Jumlah orang Tionghoa di kampong kami sekitar sepertiga dari
           total populasi. Ada orang kek, ada orang Hokian, ada orang
           Tongsan, dan ada yang tak tahu asal usulnya” (hlm. 35).

          Deskripsi penafsiran nilai multicultural adalah pandangan dunia

   yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan

   yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan yang

   plural dan multicultural yang ada dalam kehidupan masyarakat. Nilai

   multicultural ini telah ditanamkan pada masyarakat Belitong, namun

   sekalipun mereka hidup berdampingan dengan suku atau agama yang

   berbeda namun kerukunan dan keharmonisan tetap terjalin romantis.

b. Nilai Pertolongan

          Nilai pertolongan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

          “Di setiap kelas ada kotak P3K berisi obat-obat pertolongan
          pertama. Kalau ada siswanya yang sakit maka ia akan langsung
          mendapatkan pertolongan cepat secara professional atau segera
          dijemput oleh mobil ambulans yang meraung-raung” (hlm. 58).
127




         Deskripsi penafsiran nilai pertolongan adalah sikap dan prilaku

  seseorang yang mencerminkan adanya kesadaran dan kemauan untuk

  saling membantu atau menolong tanpa pamrih. Nilai pertolongan ini telah

  diajarkan dan dipraktikan oleh sekolah PN, ini terbukti dengan

  diadakannya kotak P3K berisikan obat-obat pertolongan pertama. Dengan

  adanya P3K      murid-murid PN belajar untuk         memahami    makna

  pertolongan.

c. Nilai Keharmonisan

         Nilai keharmonisan, paragraf     yang mengandung nilai tersebut

  dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Demikian harmonisnya ekosistem yang terpusat pada sebatang
         pohon filicium anggota familia acacia ini. Seperti para guru yang
         mengabdi dibawahnya, pohon ini tak henti-hentinya menyokong
         kehidupan sekian banyak spesies. Pada musim hujan ia semakin
         semarak. Puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah, bunglon,
         lintah, jamur telur beracun, kumbang capung, ulat bulu dan ular
         daun saling berebutan tempat” (hlm. 66).

         Deskripsi penafsiran nilai keharmonisan merupakan sikap atau

  prilaku seseorang yang mencerminkan keserasian, keselarasan baik dengan

  sesama manusia atau dengan makhluk lainnya. Selanjutnya nilai

  keharmonisan ini terjalin begitu harmonisnya antara anak-anak sekolah

  Muhammadiyah dengan makhluk hidup lainnya. Mereka tidak pernah

  merusak atau mengganggu makhluk lainnya, mereka juga melaksanakan

  prose pembelajaran kadangkala dibawah pohon filicium deangan ditemani

  puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah dan lain-lain.
128




d. Nilai Empati

         Nilai empati, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel

  laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Tabahlah, kawan, ambil semua resiko, begitulah hidup,” demikian
         barangkali maksudnya. Aku membalas dengan senyum kecut
         karena aku gelisah. Aku gelisah membayangkan apa yang ada di
         pikiran seorang wanita muda Tionghoa tentang laki-laki Melayu
         kampung seperti aku. Dan berada di tengah lingkungan mereka
         membuat aku semakin ragu. Apa aku pulang saja? Tapi aku rindu.
         Dan rinduku telanjur berdarah-darah” (hlm. 265).

         Deskripsi penafsiran nilai empati adalah kemampuan individu

  dalam membaca psikologis dan emosi orang lain. Empati mencerminkan

  seberapa individu mengenali keadaan psikologis dan kebutuhan emosi

  orang lain. Individu yang berempati mampu mendengarkan dan

  memahami orang lain sehingga ia pun mendatangkan reaksi positif dengan

  lingkungan. Rasa empati ini dirasakan oleh A Kiong, yang mana ia

  merasakan kegundahan, kerinduan Ikal pada A Ling, A kiong merasakan

  bahwa Ikal juga takut bahwa ragu akan perbedaan kepercayaan antara Ikal

  dan A Ling. Dengan berempati itulah, akhirnya A Kiong membantu Ikal

  untuk mempertemukannya dengan A Ling. Inilah nilai empati yang

  diekspresikan oleh A King.

e. Nilai Mutualisme

         Nilai Mutualisme, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Pembimbingnya menuntut Eryn menulis sesuatu yang baru,
         berbeda dan mampu membuat terobosan ilmiah karena ia adalah
         mahasiswa cerdas pemenang award. Aku setuju dengan pandangan
         itu. Erny sebenarnya telah memiliki konsep tentang sesuatu yang
129




          berbeda itu. Dari pembicaraannya yang meluap-luap aku
          menangkap bahwa ia telah mempelajari suatu gejala psikologi di
          mana seorang individu demikian tergantung pada individu lain
          sehingga tak bisa melakukan apapun tanpa pasangannya itu.
          Kemudian ia mengajukan tema tersebut, pembimbingnya setuju”
          (hlm. 444).

          Deskripsi penafsiran nilai mutualisme adalah sikap atau prilaku

   seseorang yang mencerminkan adanya unsur sosial, di mana seorang

   individu demikian tergantung pada individu lain. Nilai ini harus difahami

   oleh setiap individu, karena dengan kesadaran bahwa individu merupakan

   makhluk sosial, maka akan memiliki pribadi atau sikap yang tinggi

   terhadap kepentingan umum.

f. Nilai Sopan Santun

          Nilai sopan santun, paragraf     yang mengandung nilai tersebut

  dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

          “Nama saya Flo, Floriana,”kata Flo sambil berusaha menyalami Bu
          Frischa. Pria flamboyant itu menganguk santun dan melemparkan
          senyum termanisnya untuk Flo” (hlm. 403).

          Deskripsi     penafsiran nilai sopan santun merupakan sikap dan

  prilaku sopan santun dalam bertindak dan bertutur kata terhadap orang

  tanpa menyinggung atau menyakiti serta menghargai tata cara yang

  berlaku sesuai dengan norma, budaya, dan adat istiadat.

g. Nilai Partisipatif

          Nilai partisipatif, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

          “Kita harus karnaval! Apa pun yang terjadi! Dan biarlah tahun ini
          para guru tidak ikut campur, mari kita beri kesempatan kepada
          orang-orang muda berbakat seperti Mahar untuk menunjukkan
130




         kreativitasnya, tahukah kalian ... dia adalah seniman yang genius!”
         (hlm. 222).

         Deskripsi penafsiran nilai partisipasi adalah sikap atau prikalu

  seseorang yang mengikutsertakan diri bergabung dengan pihak lain.

  Dalam peningkatan partisipasi tersebut setidaknya dapat dan harus mampu

  meningkatkan rasa harga diri dan ikut memiliki. Selain itu, peningkatan

  partisipasi lebih ditekankan pada segi psikologis dari pada materi, di mana

  dengan melibatkan seseorang didalamnya, maka orang tersebut akan

  merasa ikut bertanggung jawab. Nilai partisipasi ini dicerminkan oleh

  seluruh komponen warga Muhammadiyah yang ikut serta dalam karnaval

  dalam memperingati 17 agustus.

h. Nilai Dukungan Pada Seseorang

         Nilai dukungan pada seseorang, paragraf yang mengandung nilai

  mtersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Tabahkan hati kalian, keluarkan seluruh kemampuan!” ledak Bu
         Mus memberi semangat kepada kami, para mamalia. Pak Harfan
         sudah tidak bisa bicara apa-apa. Tangannya membekap dada seperti
         orang berdoa”.

         Deskripsi penafsiran nilai dukungan pada seseorang adalah sikap

  atau prilaku seseorang yang memberikan motivasi atau dukungan pada

  orang lain untuk lebih optimis, produktif dalam segala hal. Seperti halnya

  bu Muslimah yang memberikan dukungan pada Lintang, Ikal dan Mahar

  ketika mengikuti perlombaan cerdas-cermat. Bu Muslimah begitu tulus

  memberikan dukungan agar muridnya tetap optimis untuk bersaing dalam

  kebaikan.
131




i. Nilai Kepedulian

         Nilai kepedulian, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Sebulan yang lalu seluruh kampong heboh karena Flo hilang.
         Anak Bengal penduduk Gedung itu memisahkan diri rombongan
         teman-teman kelasnya ketika hiking di Gunung Selumar. Polisi, tim
         SAR, anjing pelacak, anjing kampong, kelompok pecinta alam,
         para pendaki professional dan amatir, para petualang, para
         penduduk yang berpengalaman di hutan, para pengangguran yang
         bosan tak melakukan apa-apa, dan ratusan orang kampong tumpah
         ruah mencarinya ditengah hutan lebat ribuan hectare yang
         melingkupi lereng gunung itu. Kami sekelas termasuk didalamnya”
         (hlm. 308-309).

         Deskripsi penafsiran nilai kepedulian adalah sikap atau prilaku

  seseorang yang peka dan proaktif untuk mewujudkan rasa solidaritas

  dengan membantu orang lain. Teks di atas mendeskripsikan tentang

  kepedulian semua orang pada Flo yang hilang. Dan rasa kepedulian itu,

  mereka wujudkan dalam bentuk tindakan yaitu mencari Flo di tengah

  hutan belantara. Rasa solidaritas pada Flo inilah yang dinamakan nilai

  kepedulian.

j. Nilai Keakraban

         Nilai keakraban, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Terakhir ia mengirimku sepucuk surat dan diselipkannya selembar
         foto dalam suratnya itu” (hlm. 493).

         Deskripsi penafsiran nilai keakraban adalah sikap atau prilaku yang

  mencerminkan sikap atau prilaku seseorang mampu bersosialisasi dengan

  orang lain dengan baik, ceria, tidak mau menang sendiri, mau menerima
132




  saran serta kritik dari orang lain dan tidak mau memutuskan hubungan

  persaudaraan. Dan adapun yang dimaksud pada teks di atas tentang

  perealisasian nilai keakraban adalah Ikal, di mana ia adalah sosok orang

  yang tidak mau memutuskan hubungan persaudaraan atau persahabatan

  dengan     teman-temannya,     terbukti   sekalipun   ia   jauh,   Ikal   tetap

  mengirimkan surat pada Mahar, dengan maksud ia tetap menjalin

  keakraban dengan teman-temannya walaupun jauh di mata, akan tetapi

  harus tetap dekat dihati.

k. Nilai Persahabatan

           Nilai persahabatan, paragraf     yang mengandung nilai tersebut

  dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

           ”Kami menuju ke sebuah gubuk pencuri timah di wilayah maut
           pinggiran Sungai Buta hanya untuk menemani Mahar, menemani ia
           memuaskan egonya, membuktikan padanya bahwa insting tidak
           harus selalu benar, dan melindunginya dari ketololannya sendiri.
           Walaupun kami benci pada kefanatikannya tapi ia tetap teman
           kami, anggota laskar pelangi, kami tak ingi kehilangan dia, kadang-
           kadang persahabatansangat menuntut dan menyebalkan” (hlm.
           326).

           Deskripsi penafsiran nilai persahabatan adalah menggambarkan

  prilaku kerjasama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas

  sosial atau suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan

  dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Nilai yang

  terdapat    dalam    persahabatan   secara    konsisten    cenderung      untuk

  menginginkan apa yang terbaik antara satu sama lain, kemudian, simpati-

  empati, saling pengertian dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut tergambar pada

  teks di atas.
133




      Ketiga, nilai estetika yaitu nilai yang lebih menghasilkan pada penilaian

pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai estetik melekat pada

kualitas barang atau memiliki sifat indah. Kecendrungan orang yang memiliki

jiwa keindahan biasanya memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif.

Dalam hal ini, nilai-nilai seni yang terdapat pada novel Laskar Pelangi adalah

sebagai berikut:

a. Nilai Keindahan

          Nilai keindahan, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel

   lascar pelangi adalah sebagai berikut:

          “Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak
          kalah indahnya dengan rumah bergaya Victoria disekitarnya.
          Ruangan kelasnya dicat warna-warni dengan tempelan gambar
          yang educative, poster operasi dasar matematika, table pemetaan
          unsure kimia, peta dunia, jam dinding, thermometer, foto para
          ilmuwan dan penjelajahan yang member inspirasi, dan ada kastok
          topi. Disetiap kelas ada patung anatomi tubuh yang lengkap, globe
          yang besar, white board, dan alat peraga konstelasi planet-planet”
          (hlm 57-58).

          Deskripsi penafsiran nilai keindahan yaitu suatu pikiran yang

   timbul dari rasa individu. Keindahan ketika dikaitkan dengan seni

   mengundang suatu persoalan pemikiran yang membedakan keindahan

   sebagai rasa (sense) dan keindahan sebagai fenomena (kecantikan,

   keserasian, kondisi liris) yang menimbulkan suatu rasa. Seperti halnya

   pada teks di atas penulis menganggap bahwa teks di atas mengandung

   unsur nilai keindahan karena ini adalah persoalan rasa, penulis rasa suatu

   gedung sekolah PN yang didesain dengan arsitektur yang indah, kemudian

   ruangan dicat warna-warni dengan tempelan gambar, poster dan
134




  sebagainya, ini akan menciptakan suatu keindahan. Inilah persoalan rasa

  yang memiliki perbedaan bagi masing-masing individu dalam memaknai

  suatu keindahan.

b. Nilai Imajinatif

          Nilai imajinatif, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel

  lascar pelangi adalah sebagai berikut:

          “Mahar sangat imajinatif dan tak logis—seseorang dengan bakat
          seni yang sangat besar. Sesuatu yang berasal dari Mahar selalu
          menerbitkan inspirasi, aneh, lucu, janggal, ganjil, dan menggoda
          keyakinan. Namun, mungkin karena otak sebelah kanannya benar-
          benar aktif maka ia menjadi pengkhayal luar biasa. Di sisi lain ia
          adalah magnet, simply irresistible!” (hlm. 143).

          Deskripsi penafsiran nilai imajinatif adalah sebuah proses

  menghayal dan berangan-angan tentang sesuatu. Imajinasi sangat

  diperlukan dalam berbagai hal guna memunculkan ide-ide baru. Setiap

  individu bebas untuk berimajinasi, seperti sosok Mahar, ia adalah seorang

  tokoh cilik yang patut diberi penghargaan, Mahar berhasil menciptakan

  ide-ide baru yang tidak dapat dijangkau oleh manusia lainnya. Imajinasi

  ini yang menghasilkan penemuan baru ini bisa berbentuk benda, berbentuk

  konsep, ide atau model. Dan Mahar adalah orang yang dapat menciptakan

  penemuan baru melalui imajinasinya dalam bentuk benda, konsep atau ide

  seperti mengkonsep tarian dengan buah aren pada kegiatan 17 Agustusan.

c. Nilai Seni Suara

          Nilai seni suara, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel

  lascar pelangi adalah sebagai berikut:
135




         “Dan di siang yang panas menggelegak ini, ketika pelajaran seni
         suara, di salah satu sudut kumuh perguran miskin Muhammadiyah,
         kami menjadi saksi bagaimana nasib menemukan bakat Mahar.
         Mulanya Bu Mus meminta A Kiong maju ke depan kelas untuk
         menyanyikan sebuah lagu, dan seperti diduga, hal ini sudah
         delapan belas kali terjadi ia akan membawakan lagu yang sama
         yaitu Berkibarlah Benderaku karya Ibu Sud. “…berkiballah
         bendelaku….”, “…lambang suci gagah pelwila ….”, “… bergelak-
         bergelak! Selentak … selentak …!” (hlm. 129).

         Deskripsi penafsiran nilai seni suara adalah penjelmaan rasa indah

  yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantara alat

  komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indra pendengar.

  Pada pelajaran seni suara ini, bu Muslimah mengetahui siapa yang

  berbakat pada bidang seni suara. Diantara sepuluh muridnya tersebut,

  ternyata Maharlah yang berbakat dalam bidang seni suara ini. Mahar

  begitu menghanyati ketika menyanikan lagu “….I was dancing with my

  darling to the tennesse waltz…” (hlm. 136). Berbeda dengan teman-teman

  lainnya seperti A Kiong yang diperintah oleh bu Muslimah untuk

  menyayikan lagu “berkibarlah benderaku”, ia menyanyi tanpa ada

  penghayatan sama sekali. Inilah tugas para pendidik untuk mengetahui

  bakat masing-masing muridnya serta mengembakan bakat mereka sesuai

  dengan kemampuannya.

d. Nilai Seni Drama

         Nilai seni drama, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel

  lascar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Mahar pula yang membentuk sekaligus menyutradarai grup teater
         kecil SD Muhammadiyah. Penampilan favorit kami adalah cerita
         perang Uhud dalam episode Siti Hindun. Dikisahkan bahwa wanita
         pemarah ini mengupah seorang budak untuk membunuh Hamzah
136




         sebagai balas dendam atas kematian suaminya. Setelah Hamzah
         mati wanita itu membelah dadanya dan memakan hati panglima
         besar itu. A Kiong memerankan Hamzah, dan Sahara sangat
         menikmati perannya sebagai Siti Hindun. Juga karena inisiatif
         Mahar, akhirnya kami membentuk sebuah grup band. Alat-alat
         music kami adalah electone yang dimainkan Sahara, standing bass
         yang dibetot tanpa ampun oleh Samson, sebuah drum, tiga buah
         tabla, serta dua buah rebana yang dipinjam dari badan amil Masjid
         Al-Hikmah” (hlm. 146).

         Deskripsi penafsiran seni drama yaitu jenis karangan yang

  ditunjukkan dalam bentuk tingkah laku, mimik dan perbuatan. Cerita

  perang Uhud dalam episode Siti Hindun yang diperankan oleh A Kiong

  dan Sahara merupakan seni drama yang dirangkai begitu indah oleh

  Mahar. Mahar adalah sutradara cilik yang penuh daya imajinatif yang

  sangat tinggi.

e. Nilai Seni Sastra

         Nilai seni sastra, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel

  lascar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Aku Bermimpi Melihat Surga. Sungguh, malam ketiga di
         Pangkalan Punai aku mimpi melihat surge Ternyata surga tidak
         megah, hanya sebuah istana kecil di tengah hutan Tidak ada
         bidadari seperti disebut di kitab-kitab suci Aku meniti jembatan
         kecil Seorang wanita berwajah jernih menyambutku “Inilah surga”
         katanya. Ia tersenyum, kerling matanya mengajakku menengadah.
         Seketika aku terkesiap oleh pantulan sinar matahari senja
         Menyirami kubah-kubah istana Mengapa sinar matahari berwarna
         perak, jingga, dan biru? Sebuah keindahan yang asing Di istana
         surge. Dahan-dahan pohon ara menjalar ke dalam kamar-kamar
         sunyi yang bertingkattingkat. Gelas-gelas kristal berdenting dialiri
         air zamzam. Menebarkan rasa kesejukan. Bunga petunia ditanam di
         dalam pot-pot kayu. Pot-pot itu digantungkan pada kosen-kosen
         jendela tua berwarna biru Di beranda, lampu-lampu kecil
         disembunyikan di balik tilam, indah sekali Sinarnya memancarkan
         kedamaian Tembus membelah perdu-perdu di halaman Surga
         begitu sepi Tapi aku ingin tetap di sini Karena kuingat janjimu
137




         Tuhan. Kalau aku datang dengan berjalan engkau akan
         menjemputku dengan berlari-lari” (hlm. 181-182).

         Deskripsi penafsiran seni sastra merupakan karangan atau tulisan

  yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang

  indah. Tulisan pada teks di atas merupakan sebuah tulisan atau karya yang

  mengandung suatu nilai keindahan. Nilai keindahan yang tertulis dalam

  sebuah karangan ini mengandung suatu nilai seni sastra.

f. Nilai Kreatif atau Originalitas

         Nilai kreatif atau originalitas. paragraf yang mengandung tersebut

  dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Buah-buah aren itu sungguh merupakan sebuah rancangan kalung
         etnik properti adi busana koreografi yang bernilai seni, hasil
         perenungan Mahar berjamjam sambil memandangi langit di bawah
         pohon filicium. Itulah sebuah perenungan tingkat tinggi yang
         membuat hatinya bergejolak sepanjang malam karena girang akan
         memberi kami pelajaran, sebuah perenungan pembalasan dendam
         yang telah ia rencanakan dengan rapi selama bertahun-tahun” (hlm.
         248).

         “Sekolah Muhammadiyah telah menciptakan daripada suatu arwah
         baru dalam karnaval ini. Maka dari itu mereka telah mencanangkan
         suatu daripada standar baru yang semakin kompetitif dari pada
         mutu festival seni ini. Mereka mendobrak dengan ide kreatif,
         tampil all out, dan berhasil menginterpretasikan dengan sempurna
         daripada sebuah tarian dan musik dari negeri yang jauh. Para
         penarinya tampil penuh penghayatan, dengan spontanitas dan
         totalitas yang mengagumkan sebagai suatu manifestasi daripada
         penghargaan daripada mereka terhadap seni pertunjukan itu sendiri.
         Penampilan Muhammadiyah tahun ini adalah daripada suatu
         puncak pencapaian seni yang gilang gemilang dan oleh karena itu
         dewan juri tak punya daripada pilihan lain selian daripada
         menganugerahkan penghargaan daripada penampila seni terbaik
         tahun ini kepada sekolah Muhammadiyah!” (hlm. 246-247).

         Deskripsi penafsiran nilai kreatif adalah kemampuan atau

  kecakapan yang ada pada diri seseorang, hal ini erat kaitannya dengan
138




      bakat. Kreatifitas yang diciptakan oleh Mahar menghasilkan suatu yang

      gemilang     hingga     sekolah   Muhammadiyah     mendapatkan    suatu

      penghargaan. Penghargaan itu dapat mengharumkan nama baik sekolah

      Muhammadiyah. Inilah suatu kreativitas yang harus selalu dikembangkan

      agar selalu lebih inovatif.

          Nilai-nilai di atas merupakan nilai-nilai yang terdapat dalam novel

   laskar pelangi, apabila nilai-nilai tersebut benar-benar diwujudkan dan

   diterapkan oleh semua lembaga pendidikan serta elemen anggota masyarakat

   di kehidupan nyata, maka akan tercipta suasana dunia pendidikan dan

   lingkungan yang harmonis, damai, aman, tentram dan sejahtera.

B. Pembahasan Hasil Analisis Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung

  dalam Novel Laskar Pelangi

         Dalam proses pembelajaran metode sangat penting guna untuk

  membantu tercapainya tujuan. Metode digunakan untuk mengimplementasikan

  rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata. Keberhasilan implementasi

  kegiatan pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode

  pembelajaran. Masing-masing guru memiliki cara yang berbeda-beda dalam

  menggunakan metode pembelajaran. Seperti halnya dalam novel laskar pelangi

  metode yang digunakan dalam mengajar nilai pada murid-muridnya yaitu

  menggunakan metode cerita dan kisah. Seperti dalam narasi berikut:

  a. Metode Pengajaran Nilai dengan Bercerita

         “Bapak yang jahitan kerah kemejanya telah lepas itu bercerita tentang
         perahu Nabi Nuh serta pasangan-pasangan binatang yang selamat dari
         banjir bandang”. “Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwa air bah
         akan datang…,” demikian ceritanya dengan wajah penuh penghayatan”.
139




      “Namun, kesombongan membutakan mata dan menulikan telinga
      mereka, hingga mereka musnah dilamun ombak…” (hlm. 22).

      “Cerita selanjutnya sangat memukau. Sebuah cerita peperangan besar
      zaman Rasulullah di mana kekuatan dibentuk oleh iman bukan oleh
      jumlah tentara: perang Badar! Tiga ratus tiga belas tentara Islam
      mengalahkan ribuan tentara Quraisy yang kalap dan bersenjata lengkap.
      (hlm. 22).

      “Ketahuilah wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian ke tempat-
      tempat kematian kalian dalam masa tiga hari!” Demikian Pak Harfan
      berteriak lantang sambil menatap langit melalui jendela kelas kami.
      Beliau memekikkan firasat mimpi seorang penduduk Mekkah, firasat
      kehancuran Quraisy dalam kehebatan perang Badar. Mendengar
      teriakan itu rasanya aku ingin melonjak dari tempat duduk. Kami
      ternganga karena suara Pak Harfan yang berat menggetarkan benang-
      benang halus dalam kalbu kami. Kami menanti liku demi liku cerita
      dalam detik-detik menegangkan dengan dada berkobar-kobar ingin
      membela perjuangan para penegak Islam” (hlm. 22-23).

b. Metode Pengajaran Nilai dengan Berkisah

      “Lalu Pak Harfan mendinginkan suasana dengan berkisah tentang
      penderitaan dan tekanan yang dialami seorang pria bernama Zubair bin
      Awam. Dulu nun di tahun 1929 tokoh ini bersusah payah, seperti
      kesulitan Rasulullah ketika pertama tiba di Madinah, mendirikan
      sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang. Itulah sekolah pertama
      di Belitong. Kemudian muncul para tokoh seperti K.A. Abdul Hamid
      dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorban habis-habisan melanjutkan
      sekolah kandang itu menjadi sekolah Muhammadiyah. Sekolah ini
      adalah sekolah Islam pertama di Belitong, bahkan mungkin di Sumatra
      Selatan” (hlm. 23).

c. Metode Pengajaran Nilai dengan menampilkan gambar kemudian

  menceritakannya.

      “Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi mengeluarkan sebuah buku
      berbahasa Belanda dan memerplihatkan sebuah gambar. Gambar itu
      adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingi tembok tebal yang
      suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di dalamnya begitu pengap,
      angker, penuh kekerasan dan kesedihan” . “Inilah sel Pak Karno di
      sebuah penjara di Bandung, di sini beliau menjalani hukuman dan
      setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah
      satu orang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini.” (hlm. 31).
140




     Cerita atau kisah dijadikan metode oleh para tenaga pengajar sekolah

Muhammadiyah yaitu pak Harfan dan bu Muslimah sebagai alat untuk

membantu menjelaskan suatu pemikiran, dan mengungkapkan suatu masalah.

Cerita dan Kisah yang berasal dari Rasulullah SAW, Nabi, tokoh Islam, dan

tokoh-tokoh lainnya, selalu lengkap karena mengandung sekian banyak

manfaat dan terkait sekian masalah. Dengan kisah dan cerita itu beliau

menerangkan ketauhidan yaitu orang-orang yang ingkar pada Allah maka

Allah akan memberikan cobaan, kemudian tentang keimanan dan perjuangan

menegakkan Islam, lalu mengenai perjuangan Zubair bin Awam mendirikan

sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang dan cerita pak Karno yang

menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku.

     Secara pedagogis, para guru dan pendidik harus yakin bahwa

kemampuan bercerita atau berkisah menjadi sebuah keniscayaan dalam setiap

proses belajar mengajar. Kemampuan seorang guru dalam menarasikan setiap

bahan ajar dengan proses bercerita yang menarik pasti akan mendapat respon

yang positif dari setiap siswa. Unsur-unsur virus pengganggu untuk

berprestasi sebagaimana disinggung tadi sangat mungkin terjadi, karena

dongeng atau cerita merupakan salah satu alternatif media belajar di tengah

hiruk pikuknya ragam tayangan dan games (permainan) yang membuat anak-

anak terbius dan terpesona. Cerita atau kisah yang baik juga akan mampu

menyampaikan pesan atau nilai secara langsung kepada seorang anak, selain

alur ceritanya dapat membantu mengasah kemampuan emosional dan nalar

anak-anak sekaligus. Belum lagi manfaat praktis dalam penguasaan kosa kata
141




   anak dalam berbahasa juga merupakan keuntungan lain dari sebuah kisah atau

   cerita yang baik.

         Bahkan sebagai sebuah metode pembelajaran yang efektif, bercerita,

   mendongeng, atau story telling juga memiliki peran yang siginifikan bagi

   proses perekrutan guru. Dalam sebuah micro-teaching process, kemampuan

   bercerita atau mendongeng seorang guru merupakan indikator utama dari

   beberapa indikator kelulusan lainnya. Karena itu amatlah wajar jika otoritas

   pendidikan kita dapat mempertimbangkan kemampuan bercerita atau berkisah

   (story telling skills) sebagai salah satu syarat kelulusan seseorang untuk

   menjadi guru. Bahkan jika perlu kemampuan mendongeng ini juga dilatihkan

   kepada setiap guru pada masing-masing level, baik SD, SMP dan SMA yang

   ada sekarang ini.

C. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam

   Pendidikan Islam

         Nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yang

   terdapat dalam novel Laskar Pelangi merupakan nilai-nilai yang bersifat

   Islami meliputi: (1) nilai aqidah, (2) nilai syari’ah, dan (3) nilai akhlaq (nilai

   budi pekerti atau nilai moral). Adapun nilai tersebut antara lain sebagai

   berikut:

         Pertama, nilai aqidah yang telah penulis temukan dalam teks novel

   Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut:
142




a. Nilai Ketauhidan tentang Zat Tuhan

         Nilai ketauhidan tentang Zat Tuhan, paragraf yang mengandung

  tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Tempat di atas langit ketujuh, tempat kebodohan bersemanyam,
         adalah metaphor dari suatu tempat di mana manusia tak bisa
         mempertanyakan zat-zat Allah. Setiap usaha mempertanyakannya
         hanya akan berujung dengan kesimpulan yang mempertontonkan
         kemahatololan sang penanya sendiri. Maka semua jangkauan akal
         telah berakhir di langit ketujuh tadi. Di tempat asing tersebut,
         barangkali Arasy, di sana kembali metaphor kagungan Tuhan
         bertakhta. Di bawah takhta-Nya tergelar Lauhul Mahfuzh, muara
         dari segala cabang anak-anak sungai ilmu dan kebijakan, kitab
         yang telah mencatat setiap lembar daun yang akan jatuh. Ia juga
         menyimpan rahasia ke mana nasib akan membawa sepuluh siswa
         baru perguruan Muhammadiyah tahun ini. Karena takdir dan nasib
         termasuk dalam zat-Nya” (hlm. 105).

         Deskripsi    penafsiran, teks di atas menjelaskan tentang nilai

  ketauhidan khususnya mengenai Zat Allah. Kalau dikaji lebih dalam

  sesungguhnya Allah adalah nama zat dari Tuhan SWT yang diperkenalkan

  sendiri oleh-Nya. Selain sebagai nama bagi zat Tuhan swt, “Allah“ adalah

  juga tempat terkumpulnya atau terhimpunnya seluruh sifat yang dikandung

  zat-Nya, sehingga “Allah“ sebagai sebutan yang utama untuk Tuhan sudah

  meliputi Tuhan secara keseluruhan yang terdiri dari zat dan sifat-Nya.

  Adapun kaitan dengan teks di atas bahwa zat Allah ini tidak mungkin

  dapat dijangkau, direnungkan atau dipertanyakan, akan tetapi yang harus

  dijangkau, direnungkan dan dipertanyakan yaitu mengenai ciptaan-

  ciptaan-Nya. Nilai ini juga patut untuk diketahui bagi siapa saja, sebagai

  bekal keimanan kepada Tuhannya.
143




b. Nilai Aqidah tentang Larangan Syirik

         Syirik merupakan suatu perbuatan yang dilarang, karena syirik

  merupakan perbuatan menyekutukan Allah. Melakukan syirik termasuk

  dosa besar yang tidak akan pernah diampuni dosanya oleh Allah.

  sebagaimana dicontohkan dalam narasi dibawah ini:

         ”Disambung berita penting: ”Klenik, ilmu ghaib, tahayul,
         paranormal, semuanya sangat dekat dengan pemberhalaan. Syirik
         adalah larangan tertinggi dalam Islam. Ke mana semua kebijakan
         dari pelajaran aqidah setiap selasa? Ke mana semua hikmah dari
         pengalaman jahiliyah masa lampau dalam pelajaran tarikh Islam?
         Ke mana etika kemuhammadiyahan?” (hlm. 350-351).

         Deskripsi penafsiran, dalam narasi di atas menggambarkan bahwa

  Mahar dan Flo termasuk murid Muhammadiyah yang berani melakukan

  perbuatan yang amat dibenci oleh Allah yaitu syirik. Kedua anak tersebut

  amat percaya pada klenik, ilmu ghaib, tahayul dan paranolmal. Melihat

  tindakan Mahar dan Flo yang semakin kelewatan, Ibu Muslimah akhirnya

  mengambil tindakan dan kebijakan untuk menasehati keduanya. Beliau

  memberikan pengarahan bahwa syirik itu termasuk larangan tertinggi

  dalam Islam. Ibu muslimahpun menanyakan pada Mahar dan Flo kemana

  semua kebijakan dari pelajaran aqidah setiap selasa? Ke mana semua

  hikmah dari pengalaman jahiliyah masa lampau dalam pelajaran tarikh

  Islam? Ke mana etika kemuhammadiyahan? Dari sini dapat diambil

  kesimpulan bahwa sekolah Muhammadiayah juga menanamkan dan

  mengajarkan nilai aqidah. Nilai ini sangat perlu ditanamkan agar seorang

  siswa memahami tentang hakikat pengetahuan tentang hal-hal yang

  menyangkut masalah pokok keimanan Islam yaitu keimanan, ketaqwaan,
144




  melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah manfaat

  penanaman nilai aqidah yang diterapkan pada sekolah.

c. Nilai Ketaqwaan

          Ketaqwaan merupakan modal dasar dan paling besar yang harus

  dimiliki semua manusia. Kadar ketaqwaan bisa berkurang dan bertambah

  (yazid wa yankush) oleh karena itulah harus ada upaya-upaya untuk

  senantiasa meningkatkan ketaqwaan. Sebagaimana yang tertuang dalam

  narasi ini:

          ”Para anggota Societeit adalah orang-orang biasa, miskin dan
          kebanyakan, namun mereka kaya raya akan pengalaman batin dan
          petualangan penuh mara bahaya untuk mencari kebenaran hakiki.
          Mereka memastikan setiap kesangsian, membuktikan prasangka
          dan mitos-mitos, serta mengalami sendiri apa yang hanya bisa
          diduga-duga orang. Mereka memuaskan sifat dasar keingintahuan
          manusia sampai batas akhir yang menguji keyakinan. Mereka
          adalah orang-orang yang menjeput hidayah dan tidak duduk
          termangu-mangu menunggunya. Kini mereka menjadi orang-orang
          Islam yang taat yang menjauhkan diri dari syrik.

          Deskripsi penafsiran, dalam narasi di atas menunjukkan bahwa

  dalam rangka meningkatkan ketaqwaan diperlukan suatu pengalaman.

  Sebagaimana para anggota Sicieteit bahwasanya mereka adalah orang-

  orang yang mencari kebenaran hakiki, karena sebelum menjadi orang-

  orang taat pada Allah, mereka telah berpetualang menantang bahaya

  karena ingin meminta bantuan kepada Tuk Bayan Tula yang dianggap

  sebagai dukun. Karena usaha mereka tidak berhasil, mulai itulah mereka

  menyadari bahwa kekuatan Allah tidak ada yang membandinginya,

  Allahlah yang tepat untuk meminta. Namun dengan pengalaman itulah

  yang membuat ketakwaan mereka semakin tinggi dang kuat. Karean dari
145




   kejadian itu mereka mendapatkan pengalaman batin dan memastikan

   setiap kesangsian, membuktikan prasangka dan mitos-mitos, serta

   mengalami sendiri apa yang hanya bisa diduga-duga orang. Dari

   penjelasan di atas bahwa pengalaman itu merupakan salah satu pendukung

   dalam meningkatkan ketakwaan atau ketaatan seseorang.

      Nilai-nilai tersebut merupakan nilai aqidah yang harus dikembangkan

pada pendidikan Islam, dengan tujuan memberikan bekal peserta didik dalam

konteks aqidah yaitu keimanan kepada Allah, Rasul, Kitab, Malaikat, Qoda’

Qadar, dan Hari Akhir. Selain itu, dengan nilai aqidah peserta didik akan

mengerti dan memahami tentang larangan keesaan Allah, larangan berbuat

syirik, kewajiban melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,

dan lain sebagainya.

      Kedua, nilai syariah yang telah penulis temukan dalam teks novel

Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut:

a. Nilai Syariah tentang Menjaga Aurat

          Nilai syariah tentang menjaga aurat. paragraf yang mengandung

   nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

          “Kucai mengangkangi dahan tertinggi, sedangkan Sahara, satu-
          satunya betina dalam kawanan itu, bersilang kaki di atas dahan
          terendah. Pengaturan semacam itu tentu bukan karena budaya
          patriarki begitu kental dalam komunitas Melayu, tapi semata-mata
          karena pakaian Sahara tidak memungkinkan ia berada di atas kami.
          Ia adalah muslimah yang menjaga aurat rapat-rapat” (hlm. 159).

          Deskripsi penafsiran, dalam narasi di atas menggambarkan bahwa

   sahara termasuk wanita muslimah yang selalu menjaga aurat. Dalam ajaran

   Islam menyarankan bahwa Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kepada
146




  Muslimah agar mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya,

  kecuali wajah dan telapak tangan. Cara berpakaian yang diajarkan Islam

  merupakan salah satu bentuk dari peradaban tinggi yang perlu diajarkan

  kepada seluruh ummat manusia. Karena di dalamnya terdapat solusi dari

  banyak permasalahan yang muncul belakangan ini, baik di bidang

  kesehatan maupun moral kemasyarakatan. Di sinilah pentingnya

  pengajaran nilai syariah tentang masalah menjaga aurat wanita.

b. Nilai Syariah Masalah Shalat Tepat Waktu

         Nilai Syariah masalah Shalat, paragraf yang mengandung tersebut

  dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

         “Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,” demikian
         Bu Mus selalu menasihati kami” (hlm. 31).

         Deskripsi penafsiran, dalam teks di atas menggambarkan suatu

  pesan tentang menjaga shalat tepat waktu. Shalat merupakan suatu ibadah

  yang harus dikerjakan bagi setiap muslim. Shalat merupakan suatu

  kewajiban yang harus dlakukan oleh setiap muslim. Shalat merupakan

  bentuk upaya setiap muslim untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan

  kepada Allah. Dan bagi setiap muslim yang melaksanakan shalat, apalagi

  selalu tetapat waktu maka ia termasuk muslim yang sudah menjalankan

  tanggungjawabnya kepada Allah. Shalat tepat waktu itu termasuk suatu

  perbuatan seseorang yang menjaga shalat dengan baik. Menjaga shalat itu

  juga dijelaskan dalam al-qur’an surat Al Baqoroh ayat 238 yakni:


            ∩⊄⊂∇∪ tÏFÏΨ≈s% ¬! (#θãΒθè%uρ 4‘sÜó™âθø9$# Íο4θn=¢Á9$#ρ ÏN≡uθn=¢Á9$# ’n?tã (#θÝàÏ ≈ym
                                                                   u
147




         Artinya: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat
         wusthaa88. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.”

           Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa menutup aurat

  dan shalat tepat waktu merupakan term syariah. Sebenarnya klasifikasi nilai

  syariah bukan hanya nilai yang telah penulis jelaskan di atas, akan tetapi

  masih banyak lagi. Namun dengan keterbatasan penulis, maka penulis hanya

  dapat menyebutkan dua nilai tersebut. Nilai menutup aurat dan shalat tepat

  waktu dikatakan nilai syariah, karena merupakan peraturan-peraturan lahir

  bagi umat Islam yang bersumber pada wahyu Allah. Nilai-nilai ini pun juga

  seharusnya dikembangkan oleh pendidikan Islam agar peserta didik dapat

  mengetahui cara bagaimana mereka berhubungan dengan Tuhan dan cara-

  cara      bagaimana    beribadah     dan    mengatur      cara   bagaimana      mereka

  menyelenggarakan makhluk, baik antara manusia dengan manusia dan

  manusia dengan selain manusia.

           Ketiga, nilai akhlak yang telah penulis temukan dalam teks novel

  Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut:

  a. Nilai Menebarkan Salam

                Menebarkan salam merupakan sebuah etika yang didefinisikan

         dengan jelas, yang diperintahkan oleh AllahYang Maha Kuasa dalam

         kitab-Nya, dan tata cara serta peraturan mengenai salam ini diatur dalam

         sejumlah hadits. Allah juga memerintahkan setiap Muslim untuk saling

    88
       Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang
berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan Shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut
kebanyakan ahli hadits, ayat Ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-
baiknya.
148




memberi salam dengan jelas dan orang yang mendengarkan salam

berkewajiban membalas salam tersebut. Seperti yang terdapat dalam narasi

di bawah ini:

          “Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram.
          Beliau bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak
          putus asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama
          Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani
          berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas
          halaman sekolah itu” (hlm. 6).
          Deskripsi penafsiran, menebarkan salam sangat dianjurkan oleh

agama Islam, kepada setiap muslim dianjurkan untuk memberi salam

kepada mereka yang dikenal maupun mereka yang belum kenal. Karena

salam merupakan salah satu dari tujuh hal yang Nabi SAW perintahkan

kepada shahabat dan umat muslim setelah mereka untuk mengikutinya.

Sebagaimana hadits Nabi di bawah ini yang dicatat oleh Al-Bara’ ibn Azib

(ra):

          “Rasulullah s.a.w memerintahkan kepada kita untuk melakukan
tujuh hal; untuk menjenguk orang sakit, menghadiri pemakaman,
mendoakan orang yang bersin, membantu yang lemah, menyebarkan
salam dan membantu orang yang memenuhi janjinya”. (Muttafaqun
‘alaih)
          Allah sendiri memerintahkan setiap muslim untuk saling memberi

salam dengan jelas. Sebagaimana firman-Nya dalam surat An-Nur ayat 27:


(#θÝ¡ÎΣù'tGó¡n@ 4_®Lym öΝà6Ï?θã‹ç/ uŽöxî $?θã‹ç/ (#θè=äzô‰s? ω (#θãΖtΒ#u™ tÏ%©!# $pκš‰r'≈tƒ
                                                              Ÿ                   $

                  ∩⊄∠∪ šχρ㍩.x‹s? öΝä3ª=yès9 öΝä3©9 Žöyz öΝ3Ï9≡sŒ 4 $yγ=÷δr& #’n?tã (#θßϑÏk=|¡è@uρ
                                                     ×       ä           Î
          Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan
149




     memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu,
     agar kamu (selalu) ingat”.
               Dan Allah memerintahkan kepada setiap muslim untuk membalas

     salam dengan sesuatu yang serupa atau sesuatu yang lebih baik, sehingga

     hal ini merupakan sebuah kewajiban bagi orang yang mendengar salam

     untuk membalasnya dan tidak mengabaikannya. Sebagaimana yang

     terdapat dalam Al Qur’an surat An Nisa’ ayat 86:


     >™ó©x« Èe≅ä. 4’n?tã tβ%x. ©!$# ¨βÎ) 3 !$yδρ–Šâ‘ ÷ρr& $κ÷]ÏΒ z|¡ômr'Î/ (#θ–Šyssù 7π¨ŠÅsFÎ/ ΛäŠÍh‹ãm #sŒÎ)uρ
                                                          !p                                t

                                                                                                ∩∇∉∪ $7ŠÅ¡ym
               Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu
     penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik
     dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)89.
     Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”.


b. Nilai Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

               Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan kadang ia tidak

      atau belum menyadari kesalahannya. Karena itu, ia butuh saran dan kritik

      dari orang lain. Dan banyak orang belum mengetahui mana yang salah

      dan mana yang benar, mana yang patut dan tidak untuk dilakukan, karena

      itu ia butuh bimbingan, anjuran, mauidhoh hasanah terlebih uswatun

      hasanah. Kedua jenis kegiatan dalam rangka menyuruh kepada kebaikan

      dan mencegah dari kemungkaran inilah yang dikenal dengan istilah amar

      ma’ruf nahi munkar.

      Narasi di bawah ini akan memberikan gambaran yang lebih gamblang.

89
     penghormatan dalam Islam ialah: dengan mengucapkan Assalamu'alaikum
150




          ”Lalu persis di bawah mathari tadi tertera huruf-huruf arab gundul
          yang nanti setelah kelas dua, setelah aku pandai membaca huruf
          arab, aku tahu bahwa tulisan itu berbunyi amar makruf nahi
          mungkar artinya :menyuruh kepada yang makruf dan mencegah
          dari yang mungkar”. Itulah pedoman utama warga
          Muhammadiyah. Kata-kata itu melekat dalam kalbu kami sampai
          dewasa nanti. Kata-kata yang begitu kami kenal seperti kami
          mengenal bau alami ibu-ibu kami” (hlm. 19).

          Deskripsi penafsiran, yang dimaksud amar ma’ruf nahi munkar

   yakni menyuruh pada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Narasi di

   atas menunjukkan bahwa dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar

   diperlukan metode yang tepat. Dalam narasi di atas menggambarkan

   pendidikan Islam Muhammadiyah berpedoman pada amar ma’ruf nahi

   munkar.

   Allah SWT berfirman dalam surat Surat Luqman ayat 17:


   !$tΒ 4’n?tã ÷ŽÉ9ô¹$#uρ ̍s3Ζßϑø9$# Çtã tµ÷Ρ$#uρ Å∃ρã÷èyϑø9$$Î/ ãΒù&uρ nο4θn=¢Á9$# ÉΟ%r& ¢©_6≈tƒ
                                                                    ö                     Ï     oç

                                                 ∩⊇∠∪ ‘θãΒW{$# ÇΠ÷“tã ôΒ y79≡sŒ ¨β) ( y7t/$|¹r&
                                                      Í                 Ï   Ï      Î
   Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia)
   mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang
   mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
   Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh
   Allah)”.


c. Nilai kesabaran

        Nilai kesabaran, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam

  novel laskar pelangi adalah sebagai berikut:

  “Sebentar lagi Anakku, sebentar lagi …,” jawab Bu Mus sabar, berulang-
  ulang, puluhan kali, sepanjang tahun, lalu Harun pun bertepuk tangan”,
  (hlm. 77).
151




         Deskripsi penafsiran nilai kesabaran adalah sikap tabah menerima

  cobaan atau ujian yang dihadapinya disertai usaha untuk mengubah atau

  memperbaikinya. Namun konteks sabar yang terdapat dalam novel laskar

  pelangi bukan demikian, akan tetapi sabar diartikan sebagai sikap atau

  tindakan seseorang dalam menahan dirinya untuk tetap sabar dalam

  membimbing dan menghadapi murid-muridnya. Dalam teks di atas bu

  Muslimah terlihat sabar menghadapi lintang yang tampak antusias dalam

  menanyakan     mata   pelajaran   yang     diikutinya.   Kesabaran   dalam

  membimbing peserta didik dalam proses pembelajaran sangat penting

  demi tercapainya tujuan yang diinginkan.

d. Nilai Jujur

        Sikap jujur kepada orang lain akan membuat orang lain merasa

  nyaman. Karenanya, ini termasuk nilai yang mendidik dan sepatutnya

  dimiliki semua orang. Tanpanya, antara satu orang dan orang lainnya akan

  sangat berjarak, bahkan bisa menimbulkan permusuhan. Teks di bawah ini

  merupakan salah satu pesan yang mengandung nilai jujur, yaitu:

        “Ketika ibuku bertanya tentang tanda itu aku tak berkutik, karena
        pelajaran Budi Pekerti Kemuhammadiyahan setiap Jumat pagi tak
        membolehkan aku membohongi orangtua, apalagi ibu. Maka dengan
        amat sangat terpaksa kutelanjangi kebodohanku sendiri. Abang-
        abang dan ayahku tertawa sampai menggigil dan saat itulah untuk
        pertama kalinya aku mendengar teori canggih ibuku tentang penyakit
        gila” (hlm. 82).

        Deskripsi   penafsiran nilai jujur yaitu sikap dan prilaku untuk

  bertindak dengan sesungguhnya dan apa adanya, tidak berbohong, tidak

  dibuat-buat, tidak ditambah, tidak dikurangi, serta tidak menyembunyikan
152




  kejujuran. Tokoh yang berperan dalam menjalankan kejujuran pada teks di

  atas adalah ikal. Ikal adalah murid yang patut dicontoh, ia benar-benar

  melaksanakan pelajaran budi pekerti yang telah diajarkan oleh gurunya. Ini

  terbukti bahwa ia berkata jujur pada ibunya sekalipun abang dan ayahnya

  menertawakannya, hal itu tidak diperdulikannya.

   Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Anfaal ayat 58:


  =Ïtä† Ÿω ©!$# ¨β) 4 >™!#uθy™ 4’n?tã óΟÎγø‹s9Î) õ‹Î7/Ρ$$sù ZπΡ$uŠÅz BΘöθs% ÏΒ  ∅sù$sƒrB $¨ΒÎ)uρ
                   Î                                           t

                                                                                 ∩∈∇∪ ÏΨÍ←!$ƒø:$#
                                                                                      t       s
   Artinya: “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari
   suatu golongan, Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka
   dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-
   orang yang berkhianat”.

e. Nilai Syukur

         Bersyukur merupakan sikap yang harus dilakukan oleh setiap

   manusia. Karena dengan bersyukur berarti kita mengakui bahwa Allah itu

   maha kuasa dan kepadaNyalah kembalinya segala urusan, sebagaimana

   dicontohkan dalam narasi dibawah ini :

         “Maka sejak waktu virtual tercipta dalam definisi hipotesis manusia
         tatkala nebula mengeras dalam teori lubang hitam, di antara titik-titik
         kurunnya yang merentang panjang tak tahu akan berhenti sampai
         kapan, aku pada titik ini, di tempat ini, merasa bersyukur menjadi
         orang Melayu Belitong yang sempat menjadi murid Muhammadiyah.
         Dan sembilan teman sekelasku memberiku hari-hari yang lebih dari
         cukup untuk suatu ketika di masa depan nanti kuceritakan pada
         setiap orang bahwa masa kecilku amat bahagia. Kebahagiaan yang
         spesifik karena kami hidup dengan persepsi tentang kesenangan
         sekolah dan persahabatan yang kami terjemahkan sendiri” (hlm. 85).
153




           Deskripsi penafsiran Bersyukur dapat dilakukan dengan berbagai

  cara, baik syukur dengan hati yaitu kepuasan batin atas anugrah-Nya,

  syukur dengan lidah yaitu dengan mengakui dan memuji anugrah-Nya, dan

  syukur dengan perbuatan yaitu dengan memanfaatkan anugrah yang

  diperoleh sesuai dengan penganugrahannya, syukur dengan melaksanakan

  perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Adapun aku yang dimaksud

  pada teks di atas adalah Ikal, ia amat bahagia dan sangat bersyukur Tuhan

  telah memberikan lingkungan dan mempertemuka sahabat dan orang yang

  dapat memberikan pengalaman, pelajaran, dan makna kehidupan yang baik

  bagi dirinya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur’an surat Al Luqman

  ayat 12:


                                                                                        ô u
  ãä3ô±o„ $yϑΡÎ*sù öà6ô±tƒ tΒuρ 4 ¬! öä3ô©$# Èβr& sπyϑõ3Ïtø:$# z≈yϑø)ä9 $oΨ÷s?#u™ ‰s)s9ρ

                                        ∩⊇⊄∪ Ó‰‹Ïϑym ;©Í_xî ©!$# ¨βÎ*sù tx x. tΒuρ ( ϵšø uΖÏ9
   Artinya: “Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman,
   yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur
   (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri;
   dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha
   Kaya lagi Maha Terpuji”.

f. Nilai Berbakti Pada Orang Tua

         Diantara kewajiban terpenting yang harus diindahkan oleh pendidik

   ialah memperkenalkan anak akan hak-hak kedua orang tu mereka, yaitu

   antara lain berbakti, taat, berbuat ikhlas, memelihara keduanya,

   memelihara pada masa tua, tidak boleh bersua apalagi menghardik
154




 mereka, mendiakan mereka setelah wafat, dan sebagainya termasuk sopan

 santuk terhadap orang tua. Paragraf di bawah ini menunjukkan nilai anak

 yang berbakti pada orang tua, yaitu:

       “Trapani sangat berbakti kepada orangtua, khususnya ibunya.
       Sebaliknya, ia juga diperhatikan ibunya layaknya anak emas.
       Mungkin karena ia satu-satunya laki-laki diantara lima saudara
       perempuan lainnya. Ayahnya adalah seorang operator vessel board
       di kantor telepon PN sekaligus tukang sirine. Meskipun rumahnya
       dekat dengan sekolah tapi sampai kelas tiga ia masih diantar jemput
       ibunya. Ibu adalah pusat gravitasi hidupnya” (hlm. 74).

       Deskripsi penafsiran Teks di atas mendeskripsikan bahwa Trapani

adalah sosok anak yang patut dicontoh, karena ia adalah anak yang selalu

patuh dan taat pada kedua orang tuannya. Sebagai seorang anak, Trapani

adalah seseorang yang telah menjalankan kewajibannya pada orang

tuanya. Al-quranpun menganjurkan pada semua manusia untuk selalu

berbuat baik kepada bapak dan ibu dengan sebaik-baiknya. Dalam surat Al

Isro’ ayat 23 disebutkan:


x8y‰ΨÏã £tóè=ö7tƒ $¨ΒÎ) 4 $Ζ≈|¡ômÎ) Èøt$Î!≡uθø9$$Î/uρ çν$−ƒ) HωÎ) #ÿρ߉ç7÷ès? žωr& y7•/u‘ 4©|Ós%uρ
                                                              Î      (

$yϑßγ©9 ≅è%uρ $yϑèδöpκ÷]s? Ÿωuρ 7e∃é& $ϑçλ°; ≅à)s? Ÿξsù $yϑèδŸξÏ. ÷ρr& !$yϑèδ߉tnr& uŽy9Å6ø9$#
                                       !y

Éb>§‘ ≅è%uρ Ïπyϑôm§9$# ÏΒ Α%!$# yy$uΖ_ $yϑßγs9 ôÙÏ ÷z$#uρ
                        z Ée —         y                                  ∩⊄⊂∪ $VϑƒÌŸ2 Zωöθs%

                                                         ∩⊄⊆∪ #ZŽÉó|¹ ’ÎΤ$u‹−/u‘ $yϑx. $yϑßγ÷Ηxqö‘$#
Artinya: 23. ”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya
atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah"
dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia”.
155




g. Nilai Silaturahmi

         Hubungan kekeluargaan dan silaturrahmi dengan saudara, kerabat,

  teman-teman serta sahabat orang tua haruslah tetap dijaga dengan baik.

  Paragraf yang menjelaskan tentang nilai silaturrahmi pada novel laskar

  pelangi adalah sebagai berikut:

         ”Setelah acara peluncuran buku, aku, Nur Zaman, Mahar, dan
         Kucai mengunjungi ibu Ikal untuk bersilaturrahmi sekalian
         menanyakan kabar anaknya dirantau orang” (hlm. 491).

         Deskripsi penafsiran, dari teks di atas menjelaskan bahwa Nur

  Zaman, Mahar, dan Kucai merupakan seseorang tidak mau memutuskan

  hubungan kekerabatan, sekalipun mereka sudah tidak ladi bersama mereka

  tetap saja untuk tetap menyambung silaturrahmi ke rumah ibu Ikal,

  sekalipun Ikal tidak ada keberadaannya. Ini menunjukkan bahwa merekan

  telah menanamkan nilai silaturrahmi, bagi seseorang yang selalu

  memelihara dengan baik hubungan kekerabatannya akan memberikan

  manfaat yaitu menunjukkan rasa cinta kepada mereka yang terkait dalam

  keluarga, memudahkan jala mencari rizki, sehingga dengan mudah bisa

  mengembangkan usahanya, dan tetap akan diingat oleh keluarga yang

  ditinggalkannya bila yang meninggal berlaku terhadap para kerabatnya.

  Rasulullah dalam hadistnya bersabda:

         ”Ajarkan nasab-nasab (silsilah) kamu yang dapat dipergunakan
         untuk menyambung kekeluargaanmu. Karena hubungan
         kekeluargaan adalah suatu hal yang dicintai dalam keluraga,
         memperkembangkan      harta     dan   memperpanjang     jejak
         (persaudaraan)” (HR. Ahmad, Hakim dan Tirmizi).
156




h. Nilai Keikhlasan

         Nilai keikhlasan adalah sikap ketulusan hati, bersih dari mengharap

  selain Allah. Maksudnya aktivitas apapun yang dilakukan manusia itu

  adalah semata-mata karena Allah. Melaksanakan sesuatu atas dasar

  keikhlasan maka akan diterima dan diberkahi Allah. Oleh Karena itu,

  berupayalah untuk selalu menjaga keihlasan dalam menjalankan sesuatu,

  supaya amal perbuatan itu, diterima dan diberkahi Allah. Adapun paragraf

  yang menjelaskan tentang nilai keikhlasan adalah sebagai berikut:

         “Pengetahuan terbesar terutama kudapat dari sekolahku, karena
         perguruan Muhammadiyah bukanlah center of excellence, tapi ia
         merupakan pusat marginalitas sehingga ia adalah sebuah
         universitas kehidupan. Di sekolah ini aku memahami arti
         keikhlasan, dan integritas. Lebih dari itu, perintis peruguran ini
         mewariskan pelajaran yang amat berharga tentang ide-ide besar
         Islam yang mulia, keberanian untuk merealisasi ide itu meskipun
         tak putus-putus dirundung kesulitan, dan konsep menjalani hidup
         dengan gagasan memberi manfaat sebesar-besarnya untuk orang
         lain melalui pengorbanan tanpa pamrih” (hlm. 84).

         “Pak Harfan telah puluhan tahun mengabdi di sekolah
         Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apapun demi motif syiar
         Islam. Beliau menghidupi keluarga dari sebidang kebun palawija di
         pekaranagan rumahnya” (hlm. 21).

         Deskripsi    penafsiran, teks ini menunjukkan bahwa sekolah

  Muhammadiayah selalu menanamkan nilai keikhlasan dan integritas.

  Seperti halnya Bapak guru (Pak Harfan) dalam karakternya beliau

  mempunyai hidup sederhana, boleh dibilang serba kekurangan. Namun

  pada kenyataannya beliau selalu mencoba untuk mengabdikan diri pada

  pendidikan, selalu melakukan sesuatu nyaris tanpa minta imbalan apaun.

  Perlu diketahui lagi, sekalipun hidup dalam lingkaran kekurangan Bapak
157




  Harfan tidak pernah sibuk mengurus sertifikasi, apalagi melakukan aksi

  untuk menuntut dijadikan PNS, yang merupakan kepentingan dirinya

  sendiri seperti yang terjadi akhir-akhir ini, beliau selalu berfikir bagaimana

  murid-muridnya bisa belajar. Di sinilah konteks keikhlasan yang

  ditanamkan oleh Bapak Harfan seharusnya dijadikan barometer bagi

  tenaga pengajar lainnya.

i. Nilai Budi Pekerti (Akhlak)

         Pendidikan budi       pekerti adalah suatu proses pembentukan

  perilaku atau watak seseorang, sehingga dapat membedakan hal-hal yang

  baik dan yang buruk dan mampu menerapkannya dalam kehidupan.

  Pendidikan budi pekerti pada hakikatnya merupakan konsekuensi

  tanggung jawab seseorang untuk memenuhi suatu kewajiban. Di bawah

  ini adalah narasi tentang nilai budi pekerti atau akhlak, yaitu:

         “Bu Mus adalah seorang guru yang pandai, karismatik, dan
         memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau menyusun sendiri
         silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak
         dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum,
         keadilan, dan hak-hak asasi jauh hari sebelum orang-orang
         sekarang meributkan soal materialisme versus pembangunan
         spiritual dalam pendidikan. Dasar-dasar moral itu menuntun kami
         membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam
         konteks Islam. Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri
         sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi
         pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah
         Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal
         yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya
         atau pedoman-pedoman pengalaman lainnya” (hlm. 30).

         Deskripsi penafsiran, pelaksanaan Budi pekerti yang disusun oleh

  Bu Muslimah merupakan suatu bentuk mata pelajaran yang dapat

  dijadikan dasar moral Bagi peserta didik. Dalam teks di atas dinyatakan
158




      bahwa      Pendidikan budi peketi yang ditanamkan oleh sekolah

      Muhammadiyah dapat membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas

      pribadi peserta didik dalam konteks Islam. Pendidikan budi peketi yang

      direalisasikan sekolah Muhammadiyah dilihat dalam konteks pendidikan

      Islam ini dapat disamakan dengan akhlak. Dan akhlak merupakan bagian

      integral dari materi PAI yang memiliki peran sentral dalam rangka

      pembinaan moral anak didik. Muatan-muatan akhlak dalam PAI jika

      diterapkan melalui pembelajaran yang tepat, akan dapat menjadi sarana

      pendidikan budi pekerti.

              Dari uraian di atas, penulis mengasumsikan bahwa nilai aqidah,

      syariah, dan akhlak merupakan nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam

      pendidikan Islam. Karena ketiga nilai tersebut merupakan tiga kerangkan

      dasar pendidikan Islam yang harus dikejawantahkan untuk meningkatkan

      tujuan yang dicita-citakan.

D. Kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel Laskar Pelangi Terhadap

  Pengembangan Pendidikan Islam

         Pada novel Laskar Pelangi penulis menemukan sebuah teks yang

  berbunyi sebagai berikut:

         Bagi kami Pak Harfan dan Bu Mus adalah pahlawan tanpa tanda jasa
         yang sesungguhnya. Merekalah mentor, penjaga, sahabat, pengajar, dan
         guru spiritual. Mereka yang pertama menjelaskan secara gamblang
         implikasi amar makruf nahi mungkar sebagai pegangan moral kami
         sepanjang hayat. Mereka mengajari kami membuat rumah-rumahan dari
         perdu apit-apit, mengusap luka-luka di kaki kami, membimbing kami
         cara mengambil wudu, melongok ke dalam sarung kami ketika kami
         disunat, mengajari kami doa sebelum tidur, memompa ban sepeda
         kami, dan kadang-kadang membuatkan kami air jeruk sambal” (hlm.
         32).
159




           Maka tak lama kemudian aku telah menjadi mahasiswa. Meskipun
           hanya langkah kecil aku merasa telah membuat sebuah kemajuan dan
           sekarang aku dapat menilai hidupku dari perspektif yang sama sekali
           berbeda. Aku lega terutama karena aku telah membayar utangku pada
           sekolah Muhammadiyah, Bu Mus, Pak Harfan, Lintang, Laskar Pelang,
           A Ling, Bahkan Herriot dan Edensor. Setiap titik yang aku singgahi
           dalam hidupku selalu memberikan pelajaran berharga. Sekolah
           Muhammadiyah dan persahabatan Laskar Pelangi telah membentuk
           karakterku. A Ling, Herriot dan Edensor telah mengajariku optimism
           dan menunjukkan bahwa jalinan nasib dapat menjadi begitu
           menakjubkan, (hlm. 462-463).
.
           Dari teks di atas, membuktikan bahwa sekolah Muhammadiyah telah

    menjalankan proses pembelajaran nilai pada murid-muridnya. Proses

    pembelajaran pendidikan nilai yang diajarkan oleh pak Harfan dan bu Mus

    sangat memiliki arti penting bagi pembentukan karakter muridnya.

           Pembentukan karakter tersebut telah dirasakan oleh Ikal yang telah

    menjadi mahasiswa sukses. Hal ini membuktikan bahwa proses pembelajaran

    pendidikan nilai tersebut telah mencapai prilaku yang dikehendaki. Dan

    tercapainya perilaku yang dikehendaki merupakan keberhasilan pembelajaran.

    Dan dari pengajaran pendidikan nilai tersebut ternyata telah menghasilkan

    lulusan yang diharapkankan. Di sini jelaslah bahwa, proses pendidikan nilai

    yang direpresentasikan oleh novel laskar pelangi memberikan konstruksi

    ideologi nilai-nilai Islam. Dengan adanya konstruksi idelogi nilai-nilai Islam

    tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkan kualitas

    layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang

    berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan kompentensi ungul yang

    dibangun oleh seluruh sinergi positif.
160




       Kontribusi kontruksi ideologi nilai-nilai Islam terhadap pengembangan

pendidikan Islam ini telah dibuktikan oleh salah satu murid sekolah

Muhammadiyah yaitu Andrea Hirata yang berperan sebagai Ikal cilik dalam

penokohan novel Laskar Pelangi, kini ia menjadi mahasiswa yang sukses

sebagai penulis yang handal. Adapun salah satu karyanya yang telah banyak

diminati oleh masyarakat Indonesia pada khususnya yaitu novel Laskar Pelangi

dan masih bayak karya lainnya. Novel laskar pelangi merupakan novel

pendidikan Islam yang dapat membangun citra pendidikan Islam, terbukti

dengan adanya teks, paragraf dan dialog novel Laskar Pelangi yang

medeskripsikan pesan pengajaran yang bukan hanya mentransfer pengetahuan

saja tetapi juga memberikan pesan nilai-nilai Islam yang berupa nilai syariah,

aqidah, dan akhlak atau budi pekerti sebagai bekal atau pegangan moral

muridnya di masa depan.

       Dengan adanya pesan-pesan tentang nilai-nilai tersebut maka hal ini

dapat memberikan sumbangsi dan kontribusi bagi pendidikan Islam lainnya

untuk terus melakukan dan mengaplikasikan kontruksi ideologi nilai-nilai

Islam yang telah dipaparkan oleh Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi

yaitu nilai syariah, nilai aqidah dan nilai akhlak atau budi pekerti. Selain itu,

novel ini juga sangat memberikan pesan bagi tenaga pendidik agar dalam

dunia pendidikan menjadi guru yang profesional yaitu dapat menjadi guru

mentor, penjaga, sahabat, pengajar, fasilitator, dan guru spiritual. Begitupula

memberikan kemanfaatan bagi peserta didik agar mereka meniru terhadap

semangat murid-murid Muhammadiayah dalam mengenyam pendidikan.
161




Mereka bukanlah murid yang malas tetapi mereka adalah murid-murid yang

memiliki daya juang yang tinggi dalam menuntut ilmu.

       Dari uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa pesan-pesan tentang

pendidikan nilai yang terdapat pada novel Laskar Pelangi karaya Andrea

Hirata, yang telah ditanamkan atau diajarkan oleh pak Harfan dan bu Muslimah

pada murid-muridnya baik berupa nilai aqidah, syariah, dan akhlak atau budi

pekerti telah memberikan kontribusi terhadap pendidikan Islam, pendidik,

peserta didik berupa kontruksi ideologi dengan harapan agar pendidikan Islam

dapat menghasilkan lulusan yang bekualitas dan berkompetisi unggul.
BAB VI

                                  PENUTUP


A. Kesimpulan

        Setelah pembahasan dan analisis pada bab-bab sebelumnya, maka dapat

   ditarik kesimpulan, yakni:

   1. Nilai-nilai yang terdapat dalam novel ”Laskar Pelang” karya Andrea

     Hirata terbagi menjadi tiga kalsifikasi antara lain:

     (a) Nilai personal, nilai personal merupakan nilai-nilai yang perlu

          ditanamkan dan dimiliki seorang individu dalam kehidupannya. Nilai

          personal yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi

          meliputi: nilai tanggung jawab, nilai keteguhan pendirian, nilai

          ketekunan, nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, nilai

          dermawan, nilai perjuangan, nilai kompetisi, nilai kecerdasan, nilai

          percaya diri, nilai kebahagiaan, nilai disiplin, nilai perjuangan

          menuntut ilmu, nilai sigap menghadapi masalah, nilai rendah hati,

          nilai ketangkasan, nilai gagah berani, nilai kerinduan, nilai iba, dan

          nilai tekad untuk lebih baik.

     (b) Nilai sosial, nilai sosial adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan

          kemanusiaan. Nilai-nilai dalam dimensi ini terkait dengan interaksi

          sesama manusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan,

          kesopanan dan segala macam produk hukum yang ditetapkan

          manusia. Nilai sosial yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi antara




                                      162
163




      lain: nilai multikultural, nilai tolong menolong, nilai keharmonisan,

      nilai mutualisme, sopan santun, nilai partisipatif, nilai sportifitas, nilai

      dukungan pada seseorang, nilai kepedulian, nilai keakraban, nilai

      persahabatan.

  (c) Dan nilai estetika, nilai estetika yaitu nilai yang lebih menghasilkan

      pada penilaian pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu

      nilai estetik melekat pada kualitas barang atau memiliki sifat indah.

      Kecendrungan orang yang memiliki jiwa keindahan biasanya

      memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif. Dalam hal ini, nilai-

      nilai estetika yang terdapat pada novel Laskar Pelangi adalah sebagai

      berikut: nilai keindahan, nilai imajinatif, nilai seni drama, nilai seni

      sastra, dan nilai kreatif atau originalitas.

2. Metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi

  adalah metode bercerita dan kisah. Cerita atau kisah dijadikan metode oleh

  para tenaga pengajar sekolah Muhammadiyah yaitu pak Harfan dan bu

  Muslimah sebagai alat untuk membantu menjelaskan suatu pemikiran, dan

  mengungkapkan suatu masalah. Cerita dan Kisah yang berasal dari

  Rasulullah SAW, Nabi, tokoh Islam, dan tokoh-tokoh lainnya, selalu

  lengkap karena mengandung sekian banyak manfaat dan terkait sekian

  masalah. Dengan kisah dan cerita itu beliau menerangkan ketauhidan yaitu

  orang-orang yang ingkar pada Allah maka Allah akan memberikan

  cobaan, kemudian tentang keimanan dan perjuangan menegakkan Islam,

  lalu mengenai perjuangan Zubair bin Awam mendirikan sekolah dari
164




  jerjak kayu bulat seperti kandang dan cerita pak Karno yang menjalani

  hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Cerita atau

  kisah yang baik akan mampu menyampaikan pesan atau nilai secara

  langsung kepada seorang anak, selain alur ceritanya dapat membantu

  mengasah kemampuan emosional dan nalar anak-anak sekaligus. Belum

  lagi manfaat praktis dalam penguasaan kosa kata anak dalam berbahasa

  juga merupakan keuntungan lain dari sebuah kisah atau cerita yang baik.

3. Nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yang

  terdapat dalam novel Laskar Pelangi terdiri dari 3 kalsifikasi, yakni:

  (a) Nilai aqidah, adalah dimensi ideology atau keyakinan dalam Islam. Ia

      merujuk kepada beberapa tingkat keimanan seseorang muslim

      terhadap    kebenaran    Islam,   terutaman    mengenai    pokok-pokok

      keimanan Islam. Adapun nilai aqidah yang terdapat dalam novel

      Laskar Pelangi yaitu: (1) nilai ketauhidan tentan zat-zat Allah, (2)

      nilai larangan syirik, dan (3) nilai ketakwaan atau ketaantan.

  (b) Nilai syariah, merupakan aturan atau undang-undang Allah SWT

      tentang pelaksanaan dan penyerahan diri secara total melalui proses

      ibadah secara langsung maupun tidak langsung dengan sesaman

      makhluk lain, baik dengan sesama manusia, maupun dengan alam

      sekitar. Adapun nilai syariah yang terdapat dalam novel Laskar

      Pelangi yaitu: (1) nilai menjaga shalat tepat waktu, dan (2) nilai

      menjaga aurat wanita.
165




     (c) Nilai akhlak (budi pekerti), suatu proses pembentukan perilaku atau

           watak seseorang, sehingga dapat membedakan hal-hal yang baik dan

           yang buruk dan mampu menerapkannya dalam kehidupan. Pendidikan

           budi pekerti (akhlak) pada hakikatnya merupakan konsekuensi

           tanggung jawab         seseorang untuk    memenuhi suatu kewajiban.

           Adapun nilai budi pekerti (akhlak) yang terdapat dalam novel Laskar

           Pelangi yaitu: (1) nilai menebarkan salam, (2) nilai amar ma’ruf nahi

           mungkar, (3) nilai keikhlasan, (4) nilai kesabaran, (5) nilai kejujuran,

           (6) nilai syukur, dan (7) nilai berbakti pada orang tua.

   4. Kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar Pelangi terhadap

     pengembangan pendidikan Islam adalah memberikan kontribusi berupa

     konsruksi ideologi nilai-nilai Islam. Adanya konstruksi idelogi nilai-nilai

     Islam tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkan

     kualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang

     berkualitas, yang berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan

     kompentensi ungul yang dibangun oleh seluruh sinergi positif.


B. Saran

           Berdasarkan    hasil    analisis   terhadap   pendidikan   nilai   dalam

  pengembangan pendidikan Islam, pada bagian ini penulis ingin ikut serta

  memberikan kontribusi berupa saran sebagai berikut:

  1. Terkait dengan eksistensi novel, sudah sepatutnya novel maupun karya

     sastra lainnya, mempertimbangkan sisi edukatif yang bisa disumbangkan

     kepada masyarakat luas dan bukan hanya mempertimbangkan selera pasar,
166




   trend, ataupun profit oriented. Karena, akhir-akhir ini banyak bermunculan

   karya sastra yang jauh dari unsur mendidik, mengeksplorasi seks tanpa

   tedeng aling-aling misalnya. Sebab bagaimanapun, karya sastra terutama

   novel adalah yang paling banyak diminati masyarakat di segala lapisan.

2. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan oleh semua guru untuk dijadikan

   sebuah pengajaran nilai Islami dalam proses belajar mengajar di lembaga

   Pendidikan Islam, karena pada zaman sekarang buku yang berbau ilmiah

   kurang diminati untuk dibaca oleh anak didik, dan sebaliknya buku yang

   berbau sastra, seperti novel banyak diminati oleh peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA



Ameliawati. 2006. Analisis Instink Pada Tokoh Utama Novel Ronggeng
      Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari. Skripsi. FKIP UMM.

Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. (Bandung: PT. Sinar
     Baru Algensindo.

Al-Qur’an dan Terjemahannya. 1990 . Semarang: Menara Kudus.

Burhan Bungin. 2003. Content Analysis dan Focus Group Discussion dalam
      Penelitian Sosial. Jakarta:Raja Grafindo Persada.

Dawud, dkk. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I untuk SMA Kelas X,
     Jakarta : Erlangga.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa
       Indonesia. Balai Pustaka.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak dalam Interaksi Edukatif.
      Jakarta: PT Rineka Cipta.

Direktorat Jenderal Pendidikan Non-Formal dan Informal. 2009. Kian Berat
       Tantangan        Pendidikan     Formal.       Internet:     (http:
       www.pnfi.depdiknas.go.id

Endraswara Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta:
      Pustaka Widyatama.

Elmubarok Zaim. 2008. Membumikan Pendidikan Nilai Mengumpulkan yang
      Terserak, Menyambung yang Terputus, dan Menyatukan yang
      Tercerai. Bandung: Alfabeta.

Faruk. 2003. Pengantar Sosiologi Sastr. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fananie Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah
       University Press.

Fajar, A. Malik, dkk. 2004. Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam:
       Upaya Merespon Dinamika Masyarakat Global. Yogyakarta: Aditya
       Media Yogyakarta Bekerja Sama dengan UIN Press.
Hirata Andrea. 2005. Novel Laskar Pelangi. Yogyakarta: PT Bentang
       Pustaka.
Hardjana. 2006. Cara Mudah Mengarang Cerita Anak-anak. Jakarta: PT
      Grasindo.

Hartono Dick. 1985. Menanusiakan Manusia Muda Tinjauan Pendidikan
       Humaniora . Jakarta: Kanisius.
Hall, C.S dan Linzey, G. 1985. Introduction to Personality Theory. New
       York: John Wiley dan Sons.

Hamidi. 2004. Metode Penelitian         Kualitatif.   Malang:   Universitas
      Muhammadiyah Malang.

Idris Ramulyo, Mohd. 2004. Asas-asas Hukum Islam: Sejarah Timbul dan
       BerkembangnyaKedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di
       Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.

Jakob Sumardjo. 1995. Sastra dan Masa. Bandung: ITB.

Kafrawi Nurdjanah, dkk. 2002. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra
      Indonesia 3. Jakarta: PT Grasindo.

Kaswardi, E.M K. 1993. Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000. Jakarta:
      PT Grasindo.

Krech, D. dan Crutchfield, R. 1962. Individual In Society. Tokyo: Mc Graw-
       Hill Kogakusha.

Lubis Mawardi. 2008. Evaluasi Pendidikan Nilai: Perkembangan Moral
      Keagamaan Mahasiswa PTAIN. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Mulyana Rokhmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung:
      Alfabeta.

Marimba, Ahmad D. 1989. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT. Al-
     Ma’arif.

Muhaimin. 2003. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya: Pusat
     Studi Agama, Politik dan Masyarakat (PSAMP).

Mustofa. 1999. Akhlak Tasawuf . Bandung: CV. Pustaka Setia.


Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kuaitatif. Bandung: Remaja
      Rosda Karya.
Moeslichatoen R. 2004. Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanan.
      Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Michael, Hubberman A. Miles. Mattew B. 1992. Analisis Data Kualitatif.
      Jakarta: Universitas Indonesia.

Margono. 1997. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Nurgiantoro Burhan. 2005. Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak
      Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nurudin. 2007. Dasar-dasar Penulisan. Malang: UMM Press

Purwanto Ngalim. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja
      Rosdakarya.

Power, E.J. 1982. Philosophy of Education; Studies in Philosoies, Schooling,
      and Educational Policies. New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Rejeki Tatik. diakses 26 Februari 2008. Konsep Pendidikan Nilai yang
       Menyenangkan. http:www.yahoo.com.

Rochajat Harun. 2007. Metode Penelitian Kualitatif untuk Pelatihan
      Bandung: Mandar Maju.

Sisdiknas. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003
       tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.

Sugihastuti dan Suhartono. 2002. Kritik sastra Feminis Teori dan
      Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Spilka, B. 1985. The Psychology of Religion; An Empirical Approch. New
       Jersey: Prentice-Hall

Syah, M. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT
      Rosdakarya.

Soejono dan Abdurrahman. 1999. Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan
      Penerapan. Jakarta: Rineka Cipta.

Tafsir. 1995. Ilmu Pendidikan Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja
       Rosdakarya.

Tillman Diane. 2004. Living Value: An Educational Program “Living Value
       Activities For Children Ages 8-14. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana
       Indonesia.

Wiediastutik, Rini S. 2005. Analisis Nilai-Nilai Humanistik Tokoh dalam
      Novel Kuncup Berseri Karya NH. Dini. Skripsi. FKIP UMM.
Wiyatmi, 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Yandianto. 2004. Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia, Bandung:
      M2S.

Yamin Martinis. 2007. Profesionalisme Guru dan Implementasi KTSP.
     Jakarta: Gaung Persada Press

Zuhairini, dkk. 1983. Methodik Khusus Pendidikan Agama, Malang: Biro
       Ilmiah Fakultas Tarbiyah.
DEPARTEMEN AGAMA RI
                          UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
                                FAKULTAS TARBIYAH

                   Jl. Gajayana 50 Malang. Telp. (0341) 551354. Fax. (0341) 572533



                            BUKTI KONSULTASI

Nama                   : Nurul Lahir Sari Ifa
NIM                    : 05110095
Jurusan                : Pendidikan Agama Islam
Pembimbing             : Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag
Judul                  : Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan
                         Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)

No      Hari/tanggal                   Materi Konsultasi                  Paraf
01   Sabtu, 07-02-2009     Konsultasi BAB I
02   Rabu, 11-02-2009      Revisi Rumusan Masalah
03   Sabtu, 28-02-2009     Konsultasi BAB I, II, III, IV
04   Kamis, 28-02-2009     Revisi BAB I, II, III, IV
05   Selasa, 03-03-2009    BAB IV, V, VI dan Abstrak
06   Kamis, 05-03-2009     Revisi BAB IV, V
07   Sabtu, 07-03-2009     Revisi BAB VI, Abstrak Dan Lampiran
08   Selasa, 10-03-2009    ACC BAB I, II, III, IV, V, VI dan Abstrak




                                             Malang, 10 Maret 2009
                                             Dekan Fakultas Tarbiyah




                                              Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony
                                              NIP. 150 042 031
Lampiran-lampiran




Re: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VI

Selasa, 10 Maret, 2009 21:48

Dari:
"triyo supriyatno" <trios70@yahoo.com>
Kepada:
"Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
ok acc u ntuk ujian.
selamat.
tanyakan di jurusan kapan ada ujian skripsi. nanti email saya lagi ya.

--- On Tue, 3/10/09, Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id> wrote:
From: Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id>
Subject: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VI
To: trios70@yahoo.com
Cc: ifho_afi@yahoo.co.id
Date: Tuesday, March 10, 2009, 7:02 PM


--- Pada Sab, 28/2/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis:

Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com>
Topik: Re: konsultasi bab I, II, III, IV
Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
Tanggal: Sabtu, 28 Februari, 2009, 2:26 PM

Assalam.................

Bab IV diisi dengan jawaban rumusan masalah 1 dan 2
bab V diisi dengan jawaban rumusan masalah 3 dan 4.

OK.
Selamat mengerjakan????????????????
Wassalam.............


Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!
Lampiran-lampiran




Dari dosenmu yang jauh tapi dekat
Rabu, 11 Februari, 2009 18:14

Dari:
"triyo supriyatno" <trios70@yahoo.com>
Kepada:
ifho_afi@yahoo.co.id

Ass.

Rumusan masalah kamu perlu dirubah.tadinya seperti ini ya...
        Berdasarkan uraian diatas penulis formulasikan dalam rumusan

       masalah sebagai berikut:

         1. Apa saja Pendidikan nilai yang terkandung Dalam Novel ”Laskar

         Pelangi” karya Andrea Hirata ?

         2. Bagaimana Pendidikan Nilai Novel ”Laskar Pelangi” Dalam Proses

         dan Tujuan Pembelajaran Sebagai Pengembangan Pendidikan Islam?

         3. Apa kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel ”Laskar Pelangi”

         Sebagai Pengembangan Pendidikan Islam?

Untuk
 1. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dlm novel................?
2. Bagaimana metodologi pengajaran nilai yang terkandung dalam novel ......?
3.Nilai-nilai apa saja yang dapat dikembangkan ndalam Pendidikan Islam...........?
4. Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel terhadap Pengembangan PI?

Ya, teruskan. coba lihat skripsi punya munif ya. terus ketemu saya sampai bab
terakhir. outline ok.... selamat mengerjakan.
Wass
Lampiran-lampiran




Konsultasi                                       Kamis, 19 Maret, 2009 17:41

Dari:
"Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
Kepada:
trios70@yahoo.com
Cc:
ifho_afi@yahoo.co.id
Assalamu'alaikum........
Bapak Mohon doanya ge...moga ujian kompre dan skripsi saya lancar dan saya
bisa dengan mudah menjawab semua pertanyaan dari dosen penguji. Dan saya
doakan semoga bapak juga sukses ujiannya. Amien.....!!!!!!! Dan masalah dosen
penguji masih belum pasti pak, tapi seandainya nanti ada pengumuman, akan
napak akan saya beritahukan.

wa'alaikum..............

--- Pada Sel, 17/3/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis:

Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com>
Topik: Re: ujian skripsi
Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
Tanggal: Selasa, 17 Maret, 2009, 3:16 PM

Assalam............

Tolong ke rumah untuk minta tanda tangan saya, biar istri saya yang tanda
tangan. saya usahakan bisa pulang. kalau tidak bisa, tolong beritahu pengujinya
siapa ke saya. nanti saya kontak dari sini. karena paspor saya belum jadi, dan
saya bulan april juga ujian.
Hadapi saja, tidak usah takut. bukti konsultasi dengan saya tunjukkan jika
ditanyakan.
semoga sukses.
Wassalam...........


Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!
Lampiran-lampiran




ujian skripsi
Selasa, 17 Maret, 2009 14:19
Dari:
"Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
Kepada:
trios70@yahoo.com
Cc:
ifho_afi@yahoo.co.id

Assalamu'alaikum Wr. Wb.


(1) Bapak ujian skripsi telah diinformasikan bahwa ujian dilaksanakan pada
tangga 10 April 2009. Pak kami sangat mengharapkan kehadiran bapak untuk
mendampinngi kami dalam ujian skripsi. Kami memohon dengan sangat!!!!
Selain itu, tanda tangan bapak sebagai bukti konsultasi juga kami butuhkan.
Bapak datang ge pak.....biar ada yang membantu kalau ujian sripsi.

(2) Bapak kami minta solusi bagaimana seharusnya nanti ketika kami
menghadapi ujian sripsi agar kami dapat meyakinkan dosen penguji kami??
Kemudian bagaimana agara skripsi yang kami buat ini dapat menghasilkan hasil
yang terbaik?? Terima kasih Pak,,,,

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

--- Pada Sel, 10/3/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis:

Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com>
Topik: Re: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VI
Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
Tanggal: Selasa, 10 Maret, 2009, 9:48 PM

ok acc u ntuk ujian.
selamat.
tanyakan di jurusan kapan ada ujian skripsi. nanti email saya lagi ya.


--- On Tue, 3/10/09, Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id> wrote:
From: Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id>
Subject: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VI
Lampiran-lampiran




To: trios70@yahoo.com
Cc: ifho_afi@yahoo.co.id
Date: Tuesday, March 10, 2009, 7:02 PM



--- Pada Sab, 28/2/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis:

Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com>
Topik: Re: konsultasi bab I, II, III, IV
Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>
Tanggal: Sabtu, 28 Februari, 2009, 2:26 PM

Assalam.................

Bab IV diisi dengan jawaban rumusan masalah 1 dan 2
bab V diisi dengan jawaban rumusan masalah 3 dan 4.

OK.
Selamat mengerjakan????????????????
Wassalam.............


Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!


Pemanasan global? Apa sih itu?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!
Daftar Gambar




                            DAFTAR GAMBAR




              Keterangan Gambar: Sepuluh Murid-murid Sekolah
          Muhammadiyah (Lintang, Ikal, Mahar, Trapani, Kucai, Sahara,
                    Harun, Samson, A kiong, dan Syahdan)




    .




           Keterangan Gambar: Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus
Daftar Gambar




           Keterangan Gambar: Andrea Hirata (Pengarang Novel Laskar
           Pelangi) dan dalam novelnya digambarkan sebagai tokoh Ikal.




       Keterangan Gambar: Cover Laskar Pelangi Edisi Lama (Kiri) dan
                           Edisi Baru (Kanan)
Lampiran-lampiran




                           PROFILE ANDREA HIRATA
                           (Penulis Novel Laskar Pelangi)

                     Gender: male

                     Place of Birth Indonesia

                     Website http://sastrabelitong.multiply.com

                     Genre: Literature & Fiction, Biographies & Memoirs

         Nama Andrea Hirata Seman Said Harun, atau yang lebih sering dikenal

dengan Andrea Hirata. Andrea Hirata lahir di Belitong. Andrea Hirata, yang dalam

buku itu dikisahkan sebagai Ikal, berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya,

Seman Said Harun Hirata (75), adalah pensiunan pegawai rendahan di PN Timah,

sementara ibunya, Masturah (72), adalah ibu rumah tangga. Empat abang dan satu

adiknya menekuni profesi seperti umumnya kaum marjinal di Belitong. Meskipun

studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains--fisika, kimia, biologi,

astronomi--dan tentu saja sastra.

         Buku Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov

merupakan karya Andea Hirata Seman yang mencengangkan banyak orang di negeri

ini. Tiga buku, minus Maryamah Karpov, meledak di pasaran. Selain di Indonesia,

Laskar Pelangi juga diterbitkan di Malaysia, Singapura, Spanyol, dan beberapa

negara Eropa lainnya.

         Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan

backpacker. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye

Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi dari
Lampiran-lampiran




Universitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science

di Universite' de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United

Kingdom.

         Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari

kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam

bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang

ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah.

         Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT

Telkom. Hobinya naik komidi putar.

         Itulah sekilas tentang profile Andrea Hirata yang penulis dapat dari media

internet. Penulis berharap profile Andrea Hirata di atas, dapat dijadikan inspirasi

pemicu semangat bagi manusia untuk terus berkarya, berpendidikan dan bertekad

tinggi untuk menggapai cita-cita.

http://www.bukabuku.com/authorscorner/detail/1950/andrea-hirata.html
Lampiran-lampiran




                     SINOPSIS NOVEL LASKAR PELANGI
                         *KARYA ANDREA HIRATA*

         Cerita terjadi di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur.

Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud

Sumsel jikalau jumlah siswa baru tidak sampai 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang

menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala

sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk

mendaftarkan diri di sekolah kecil itu.

         Mulai dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat

duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di

mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru

mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas

yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar,

pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh

sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah!

         Mereka, Laskar Pelangi nama yang diberikan Bu Muslimah karena

kesenangan mereka terhadap pelangi sempat mengharumkan nama sekolah dengan

berbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-

kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan

manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang

dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal,

dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari
Lampiran-lampiran




menyenangkan, tertawa dan menangis bersama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir

dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan

sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana

Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya.

        Demikianlah cerita singkakat (sinopsis) novel Laskar Pelangi yang dapat

penulis ceritakan. Menurut penulis alur cerita Laskar Pelangi memang sangat

inspiratif, novel ini mampu mengobarkan semangat mereka yang selalu dirudung

kesulitan dalam menjalani blantika pendidikan di mana tokoh-tokoh didalamnya

adalah manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, tawakal dan takwa

yang dituturkan secara indah. Dalam kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka,

indahnya petualangan mereka yang telah diceritakan dalam novel ini dapat membuat

tertawa, menangis dan terseduh ketika penulis membaca setiap lembar bukunya.

Ketika membacanya seolah menemukan Gabriel Garcia Marquez, Nicolai Gogal atau

Alan Lighman ia seperti trance menulis “Laskar Pelangi” dengan kadar emosi

demikian kental, bertabur metafora penuh pesona, deskripsi yang kuat, filmis ketika

memotret lanskep dan budaya yang dikerjakan dalam kurun waktu tiga pekan.
Lampiran-lampiran




                    DAFTAR RIWAYAT HIDUP

                    Nama            : Nurul Lahir Sari Ifa
                    TTL             : Lumajang, 21 Januari 1987
                    Jenis Kelamin   : Female
                    Agama           : Islam
                    Alamat Rumah    : Pantai Purnama Banjar Babakan
                                      Sukawati Gianyar-Bali
                    E-mail          : E-mail ifho_afi@yahoo.co.id
                    HP              : 085735194691


PENDIDIKAN FORMAL
1993-1999   : SDN No. 7 Sukawati
1999-2002   : MTs Nurul Jadid Probolinggo
2002-2005   : MAN Nurul Jadid Probolinggo
2005        : UIN Malang
PENGALAMAN ORGANISASI
2005-2006   : Pimpinan Redaksi Buletin Afsyana Ma’had Ibnu Sina
2005        : Anggota JDFI Defisi Qiroah
2005        : Anggota Jam’iyah Qura Wal Hufadz (JQH)
2006-2007   : Kordinator Bidang Keagamaan Rayon Chondrodimuko PMII UIN
              Malang
2006-2007   : Kordinator Bidang Penalaran Himpunan Mahasiswa Lumajang
              Jaya (HIMALAYA)
2007        : Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Universitas Brawijaya
              Malang
2007-2008   : Pengurus Bidang Penerbitan HMJ PI UIN Malang
2007-2008   : Pengurus Badan Pengaduan Ikatan Mahasiswa Pulau Dewata
              IMADE
2008        : Anggota UKM Pramuka UIN Malang

PENGALAMAN LAIN-LAIN
2004      : The First Winner Has Followed The Activity “Scientific Room
            Contents”
2007      : Peserta Lomba Pentas Cerpen Islami (PENCIL) di forkom FIA
            Universitas Brawijaya Malang
2008      : Juara I Lomba Memasak antar Rayon PMII UIN Malang
2008      : Penerima Beasiswa DIPA
2005-2008 : Artikel dan Karya Seni Puisi Tersebar Di Buletin Kampus dan
            Oraganisasi Ekstra
ABBILITY
Computer    :Windows. MS Office

05110095

  • 1.
    PENDIDIKAN NILAI DALAMPENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI) SKRIPSI diajukan oleh: Nurul Lahir Sari Ifa NIM: 05110095 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG April, 2009
  • 2.
    PENDIDIKAN NILAI DALAMPENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI) SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) diajukan oleh: Nurul Lahir Sari Ifa NIM: 05110095 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG April, 2009 ii
  • 3.
    Kupersembahkan Skripsi IniTeruntuk: Allah Swt & Rasulullah Saw Ya Allah Engkaulah Dzat yang telah menciptakanKu, memberikan karunia nikmat yang tak terhingga, melindungiku, membimbingku dan mengajariku dalam kehidupanku, Serta Wahai Engkau ya Rasulullah ya habiballah yang telah memberikanku pengetahuan akan ajaran Tuhanku dan membawaku dari jurang kejahilan menuju kehidupan yang terang benderang. Ayah dan Ibu Tercinta Yang telah berjuang dengan penuh keikhlasan, yang telah menorehkan segala kasih dan sayangnya dengan penuh rasa ketulusan yang tak kenal lelah dan batas waktu. Special FoR My Mam Engkaulah Inspirasiku di saat aku rapuh & ketika semangatku memudar. Bapak Trio Supriyatno, M. Ag Yang telah membimbing penulis sehingga dapat terselesaikan rangkaian skripsi ini dan semua dewan guru / dosen UIN Malang yang telah mengajari penulis dengan setiap jiwa yang dengan ilmunya penulis menjadi tahu. Andrea Hirata Yang dengan karyanya telah memberikan ispirasi ku untuk berkarya khususnya dalam pembuatan skripsi ini. Wahai karya sastra “novel laskar pelangi” wujudmu bagaikan dewa penolongku, tanpamu matilah imajinasiku, jiwaku haus untuk membacamu mesti larut menemaniku, namun ini tiada beban bagiku untuk mewududkan harapanku. Saudara-saudaraku Tercinta Muhammad Nasihin (Kakak kandungku), Irawati, ida, Novi Erna Nofitasari, Nur Jannah, Ana Azkiya Nabila, Pak Agus & Mbak Rohmah, Nurus Saadah, Kak Ruri (yang setia dalam sebuah penantian), Keluarga Besar Bani Tasyim, Dan Keluarga Besar Pondok Pesantren Nurul Jadid. Teman-teman Seperjuangan: Genk’s Ardisia (Aminatus Saidah, Maria Ulfa, Nur Fitria, Iin Aisyah) dalam rangkuman persahabatan ini, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan. Me2y & Ruro dua si joli dari Madura yang selalu dekat di hati sekalipun jauh hakikatnya kalian emang koncoku yang tokcer abis. Konco-konco Kertorejo 15 A (Al Fitriyah, Mbak Titin, Nida, Lulu, Icha, & yayik), Keluarga Besar HMJ, PMII Condro D, IMADE, HIMALAYA dan UKM Pramuka , Serta semua Sahabat - sahabat yang telah dengan rela membantu hingga skripsi ini selesai, Thank’s For All…?!! Dari Nama-nama yang dimaksud di atas Mudah - mudahan amal baktinya diterima oleh Allah SWT, Amin amin…!!! iii
  • 4.
    MOTTO Artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’raf: 199) (Diambil dari : Al Quran Dan Terjemahannya, Depag RI, 1974) iv
  • 5.
    Drs. Triyo Supriyatno,M. Ag Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang NOTA DINAS PEMBIMBING Hal : Skripsi Nurul Lahir Sari Ifa Malang, 10 Maret 2009 Lampiran : 4 (Empat) Eksemplar Kepada Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang di Malang Assalamu'alaikum Wr. Wb. Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini: Nama : Nurul Lahir Sari Ifa NIM : 05110095 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Judul Skripsi : Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi) Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujikan. Demikian, mohon dimaklumi adanya. Wassalamu'alaikum Wr. Wb. Pembimbing, Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag NIP. 150 311 702 v
  • 6.
    HALAMAN PERSETUJUAN PENDIDIKAN NILAIDALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI) SKRIPSI Oleh: Nurul Lahir Sari Ifa Nim: 05110095 Telah Disetujui Pada Tanggal 10 Maret 2009 Oleh: Dosen Pembimbing: Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag NIP. 150 311 702 Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Drs. H. Moh. Padil, M. Pd NIP. 150 267 235 vi
  • 7.
    SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Malang, 10 Maret 2009 Nurul Lahir Sari Ifa vii
  • 8.
    HALAMAN PENGESAHAN PENDIDIKAN NILAIDALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI) SKRIPSI Dipersiapkan dan Disusun Oleh Nurul Lahir Sari Ifa ( 05110095 ) Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Pada Tanggal 13 April 2009 dengan nilai A dan Telah Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Pada Tanggal: 13 April 2009 Panitia Ujian Ketua Sidang, Sekretaris Sidang / Pembimbing, Muhammad Walid, MA M. Amin Nur, MA NIP. 150 310 896 NIP. 150 327 263 Pembimbing Penguji Utama Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag Dr. H. Baharuddin, M. Pd. I NIP. 150 311 702 NIP. 150 215 385 Mengesahkan, Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony NIP. 150 042 031 viii
  • 9.
    KATA PENGANTAR Segala syukur penulis panjatkan kepada Rabbul Izzati yang telah mengatur roda kehidupan pada porosnya dengan keteraturannya, dan semoga hanya kepada- Nyalah kita menundukkan hati dengan mengokohkan keimanan dan Izzah kita dalam keridhoan-Nya. Karena berkat Rahman dan Rahim-Nya pula skripsi yang berjudul ”Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi” dapat terselesaikan dengan baik. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada sang pejuang sejati kita, yaitu Rasulullah Muhammad SAW, karena atas perjuangan beliau kita dapat merasakan kehidupan yang lebih bermartabat dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang didasarkan pada iman dan Islam. Dengan penuh ketulusan hati, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar–besarnya dan teriring do’a kepada semua pihak yang telah membantu demi kelancaran penulisan skripsi ini. Secara khusus penulis sampaikan kepada yang terhormat: 1. Ayahanda dan Ibunda (Slamet Ahadun (Alm), Muhammad Suwono & Siti Julaikha) tercinta yang dengan sabar telah membimbing, mendo’akan, mengarahkan, memberi kepercayaan, kerja keras, dan keagungan doa serta pengorbanan materi maupun spiritual demi keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi di Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. 2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang beserta stafnya yang telah memberikan fasilitas selama proses belajar mengajar 3. Bapak Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony selaku Dekan fakultas Tarbiyah ix
  • 10.
    4. Bapak Drs.H. Moh. Padil M. Pd.I Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam beserta stafnya atas bantuan yang selama ini diberikan kepada penulis dan kerja kerasnya dalam mengemban amanah. 5. Bapak Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag selaku dosen pembimbing skripsi atas kesabaran, ketelitian, motivasi, masukan, dan keikhlasan dalam meluangkan waktu, tenaga dan pikiran guna membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik melalui media e-mail. 6. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini baik secara spiritual, moril, maupun materiil. Semoga segala bantuan yang diberikan kepada penulis tercatat sebagai amal shalih yang diterima oleh Allah SWT. Ada pepatah yang mengatakan tiada gading yang tak retak, begitu juga dengan karya tulis ini, tentu masih banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif demi kesempurnaan skripsi ini dan guna perbaikan penulis selanjutnya. Akhirnya, semoga Allah SWT memberikan manfaat bagi penulis dan bagi siapapun yang membacanya. Amin Ya Robbal’Alamin.... Malang, 10 Maret 2009 Penulis, Nurul Lahir Sari Ifa x
  • 11.
    DAFTAR TRANSLITERASI Dalam naskah skripsi ini dijumpai nama dan istilah teknis yang berasal dari bahasa Arab ditulis dengan huruf latin. Pedoman transliterasi yang dipergunakan untuk penulisan tersebut adalah sebagai berikut : A. Konsonan ‫ا‬ = tidak dilambangkan ‫ض‬ = dl ‫ب‬ = b ‫ط‬ = th ‫ت‬ = t ‫ظ‬ = dh ‫ث‬ = ts ‫ع‬ = ‘ (koma menghadap keatas) ‫ج‬ = j ‫غ‬ = gh ‫ح‬ = h ‫ف‬ = f ‫خ‬ = kh ‫ق‬ = q ‫د‬ = d ‫ك‬ = k ‫ذ‬ = dz ‫ل‬ = l ‫ر‬ = r ‫م‬ = m ‫ز‬ = z ‫ن‬ = n ‫س‬ = s ‫و‬ = w ‫ش‬ = sy ‫ئ‬ = h ‫ص‬ = sh ‫ي‬ = y xi
  • 12.
    Hamzah ( ‫ء‬ ) yang sering dilambangkan dengan alif, apabila terletak diawal kata maka dalam transliterasinya mengikuti vokalnya, tidak dilambangkan, namun apabila terletak ditengah atau akhir kata maka dilambangkan dengan tanda koma diatas ( ’ ), berbalik dengan koma ( ‘ ), untuk penganti lambang “ ‫ع‬ ”. B. Vokal, panjang dan diftong Setiap penulisan bahasa Arab dalam bentuk tulisan latin vocal fathah ditulis dengan “a”, kasrah dengan “i”, dlommah dengan “u”, sedangkan bacaan panjang masing-masing ditulis dengan cara berikut ; Vocal (a) panjang = a^ Vocal (i) panjang = i^ Vocal (u) panjang = u^ Khusus untuk bacaan ya’ nisbat, maka tidak boleh digantikan dengan “i”, melainkan tetap ditulis dengan “iy” agar dapat menggambarkan ya’ nisbat diakhirnya. Begitu juga suara diftong, wawu dan ya’ setelah fathah ditulis dengan “aw” dan “ay”. Misalnya Qawlun dan khayrun. C. Ta’marbuthah ( ‫ة‬ ) Ta’marbuthah ditransliterasikan dengan “t” jika berada ditengah- tengah kalimat, akan tetapi apabila Ta’marbuthah tersebut berada diakhir kalimat, maka ditransliterasikan dengan menggunakan “h” misalnya al-risalat li al-mudarrisah, atau apabila berada ditengah-tengah kalimat yang terdiri dari susunan mudlaf dan mudlaf ilayh, maka ditransliterasikan dengan xii
  • 13.
    menggunakan "t" yangdisambungkan dengan kalimat berikutnya, misalnya fi rahmatillah. D. Kata Sandang dan lafdh al-Jalalah Kata sandang berupa “al” ( ‫ ) ا ل‬ditulis dengan huruf kecil, kecuali terletak diawal kalimat, sedangkan “al” dalam lafdh jalalah yang berada ditengah-tengah kalimat yang disandarkan (idhafah) maka dihilangkan. Misalnya Al-Imam al-Bukhariy E. Nama dan Kata Arab Terindonesiakan Pada prinsipnya setiap kata yang berasal dari bahasa Arab harus ditulis dengan menggunakan system Transliterasi ini, akan tetapi apabila kata tersebut merupakan nama Arab dari orang Indonesia atau bahasa Arab yang sudah terindonesiakan, maka tidak perlu ditulis dengan menggunakan system translitersi ini. Contoh: Abdurrahman Wahid, Salat, Nikah xiii
  • 14.
    DAFTAR TABEL Tabel I : Paparan Data Nilai-Nilai Yang Terdapat Dalam Novel Laskar Pelangi…………………………………………………………...84 Tabel II : Paparan Data Metode Pengajaran Nilai Yang Terkandung Dalam Novel Laskar Pelangi…………………………………………...103 Tabel III : Paparan Data Nilai-Nilai Yang Dapat Dikembangkan Dalam Pendidikan Islam……………………………………………….106 xiv
  • 15.
    DAFTAR GAMBAR Gambar I: Sepuluh Murid-murid Sekolah Muhammadiyah (Lintang, Ikal, Mahar, Trapani, Kucai, Sahara, Harun, Samson, A kiong, dan Syahdan). Gambar II : Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus. Gambar III : Andrea Hirata (Pengarang Novel Laskar Pelangi) dan dalam novelnya digambarkan sebagai tokoh Ikal. Gambar IV : Cover Laskar Pelangi Edisi Lama (Kiri) dan Edisi Baru (Kanan) xv
  • 16.
    DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Bukti Konsultasi Lampiran 2 : Bukti Konsultasi Via E-mail Lampiran 3 : Profile Andrea Hirata (Penulis Novel Laskar Pelangi) Lampiran 4 : Sinopsi Novel Laskar Pelangi Lampiran 5 : Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata Lampiran 6 : Daftar Riwayat Hidup xvi
  • 17.
    DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL......................................................................................i HALAMANJUDUL .........................................................................................ii HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................iii HALAMAN MOTTO ......................................................................................iv HALAMAN NOTA DINAS..............................................................................v HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................vi HALAMAN PERNYATAAN.........................................................................vii HALAMAN PENGESAHAN........................................................................viii KATA PENGANTAR......................................................................................ix HALAMAN TRANSLITERASI ....................................................................xi DAFTAR TABEL ..........................................................................................xiv DAFTAR GAMBAR.......................................................................................xv DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................xvi DAFTAR ISI..................................................................................................xvii HALAMAN ABSTRAK ................................................................................xxi BAB I PENDAHULUAN.................................................................................1 A. Latar Balakang .................................................................................1 B. Rumusan Masalah ............................................................................5 C. Tujuan Penelitian..............................................................................5 D. Manfaat Penelitian ...........................................................................6 E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................7 xvii
  • 18.
    F. Definisi Operasional.........................................................................8 G. Sistematika Pembahasan ..................................................................9 BAB II KAJIAN PUSTAKA ..........................................................................11 A. Novel..............................................................................................11 1. Pengertian Novel ........................................................................11 2. Karakteristik Novel ....................................................................12 3. Ciri-ciri Novel ............................................................................14 4. Unsur-unsur Novel .....................................................................16 5. Bentuk-bentuk Tulisan Novel ....................................................23 6. Peran Novel ................................................................................26 B. Konsep Dasar Pendidikan Nilai .....................................................27 1. Definisi Dan Orientasi Pendidikan Nilai....................................27 2. Landasan Pendidikan Nilai ........................................................32 3. Klasifikasi Pendidikan Nilai ......................................................51 C. Pengembangan Pendidikan Islam...................................................56 1. Pengertian Pengembangan Pendidikan Islam............................56 2. Orientasi Pengembangan Pendidikan Islam ..............................59 D. Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam...........61 1. Pendidikan Nilai Dalam Pendidikan Agama Islam ...................61 2. Pendidikan Nilai Dalam Bingkai Cerita dan Kisah Sebagai Bentuk Pengembangan Pendidikan Islam .................................63 3. Kontribusi Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam .......................................................................65 xviii
  • 19.
    BAB III METODEPENELITIAN ................................................................67 A. Pendekatan Penelitian ..................................................................67 B. Data Dan Sumber Data ................................................................68 C. Teknik Pengumpulan Data...........................................................69 D. Instrumen Penelitian ....................................................................70 E. Analisis Data................................................................................71 F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan data ..........................................74 BAB IV HASIL PENELITIAN......................................................................76 A. Deskripsi Unsur-unsur Novel Laskar Pelangi .............................76 B. Deskripsi Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi .........................................................................................83 C. Deskripsi Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi.................................................................102 D. Deskripsi Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan Islam...........................................................................................105 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN.......................................114 A. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi............................................................................114 B. Pembahasan Hasil Analisis Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi..................................138 C. Pembahasan Hasil Analisis nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam .............................................................141 xix
  • 20.
    D. Pembahasan HasilAnalisis kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel Laskar Pelangi terhadap Pengembangan Pendidikan Islam ......158 BAB VI PENUTUP ......................................................................................162 A. Kesimpulan ...............................................................................162 B. Saran ..........................................................................................165 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN xx
  • 21.
    ABSTRAK Ifa, Nurul, LahirSari. Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi). Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Malang. Pembimbing Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag. Rendahnya mutu Pendidikan Nasional disebabkan oleh kelemahan pendidikan dalam membekali kemampuan akademis kepada peserta didik. Lebih dari itu ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kurangnya pendidikan nilai secara bermakna. Hingga sekarang, dunia pendidikan masih diwarnai perilaku siswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga mengkonsumsi minuman keras dan narkotika. Bahkan sudah ada gejala peredaran adegan porno yang diperankan oleh para pelajar. Fenomena ini tentunya tidak akan terjadi apabila orang tua dan lembaga pendidikan berhasil mengajarkan nilai- nilai yang berlaku di masyarakat. Novel Laskar Pelangi merupakan salah satu novel yang isi pesannya mengandung unsur pendidikan nilai. Disinilah, penulis tergugah ingin meneliti dan menganalisis novel ini. Adapun judul penelitian ini adalah Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pedidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi). Sedangkan rumusan masalahnya yaitu nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, bagaimana metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi, nilai-nilai apa saja terkandung dalam novel Laskar Pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar Pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. Dalam prakteknya, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut. Kutipan-kutipan data yang disajikan dalam penelitian ini ditegaskan dalam bentuk lampiran tabel pemaparan data yang diperoleh dari pemahaman makna yang terdapat pada setiap kata, kalimat, paragraf, teks. Dari pemahaman makna secara keseluruhan, dilakukan penafsiran dan pengkategorian data yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi. Penggumpulan data penelitian ini menggunakan metode dengan menggunakan analisis konten (Content Analysis). Maka kegiatan yang dilakukan adalah pemberian makna pada paparan bahasa berupa (1) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang Nilai-nilai yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, (2) paragraf-paragraf yang mengandung gagasan tentang metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi, (3) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar Pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. Pemahaman dan analisis xxi
  • 22.
    tersebut dilakukan melaluikegiatan membaca, menganalisis dan merekonstruksi. Dalam melakukan pemaknaan data peneliti harus memiliki dasar pengetahuan dan pengalaman tentang klasifikasi pendidikan nilai, metode ngajar pendidikan nilai, nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam dan kontribusi pendidikan nilai dalam pengembangan pendidikan Islam sesuai acuan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata terbagi menjadi tiga kalsifikasi yaitu nilai personal, nilai sosial, dan nilai estetika. Sedangkan metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi adalah metode bercerita dan kisah. Kemudian nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi adalah nilai aqidah, nilai syariah dan nilai akahlak atau budi peketi. Dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar Pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam adalah memberikan kontribusi berupa konstruksi ideologi nilai-nilai Islam. Adanya konstruksi idelogi nilai-nilai Islam tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan kompentensi ungul yang dibangun oleh seluruh sinergi positif. Oleh karena itu, menurut hemat penulis, nilai-nilai yang terdapat novel Laskar Pelangi baik nilai personal, nilai sosial, nilai seni, nilai aqidah, nilai syariah, nilai akahlak (budi pekerti) merupakan nilai-nilai yang dapat ditanamkan atau diajarkan di setiap lembaga pendidikan. Namun secara khusus untuk nilai aqidah, syariah, dan akahlak (budi pekerti) lebih sesuai jika dikembangkan pada Pendidikan Islam, karena ketiga nilai tersebut merupakan pokok ajaran dalam Islam. Maka dari itu, pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam mengembangkan nilai-nilai tersebut, sebagai upaya untuk memanifestasikan atau mengejawantahkan nilai-nilai Islam, baik nilai-nilai ketuhanan maupun nilai-nilai kemanusiaan, melalui kegiatan pendidikan sebagaimana tercakup dalam praktik pendidikan Islam. Dan hal ini akan dapat membantu pengembangan pendidikan Islam untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Kata kunci: Novel Laskar Pelangi, Pendidikan Nilai, Pengembangan Pendidikan Islam xxii
  • 23.
    BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Novel laskar pelangi merupakan sebuah produk karya sastra yang mencakup nilai-nilai karya cipta kreasi yang mengandung nilai-nilai keindahan. Nilai-nilai karya sastra tersebut bersumber dari kenyataan- kenyataan yang hidup dan selalu berkembang di masyarakat sebagai bentuk realitas yang objektif. Novel karya sastra yang ditulis oleh Andrea Hirata ini mengandung esensi yang didalamnya banyak memberikan representasi tentang pendidikan nilai. Dari representasi inilah, maka penulis merasa ingin melakukan penyelidikan (analisis) terhadap novel laskar pelangi. Adapun bagian isi novel yang menunjukkan hal itu adalah; Pak Harfan memberikan pelajaran pertama kepada sepuluh muridnya tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan sepuluh muridnya bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau juga menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dada serta memberikan arah bagi murid-muridnya hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya1 Sejak kecil aku tertarik untuk menjadi pengamat kehidupan dan sekarang aku menemukan kenyataan yang mempesona dalam sosiologi lingkungan kami yang ironis. Disini ada sekolahku yang sederhana, para sahabatku yang melarat, orang Melayu yang terabaikan, juga ada orang staf dan sekolah PN yang glamor, serta PN Timah yang gemah rimpah dengan Gedong, tembok feodalistisnya. Semua elemen itu adalah perpustakaan berjalan yang memberiku pengetahuan baru setiap hari2 1 Andrea Hirata, Laskar Pelangi (Yogyakarta: PT Bentang Pustaka, 2005), hlm. 24 2 Ibid., hlm. 84 1
  • 24.
    2 Kutipan cerita di atas merupakan sekelumit representasi dari novel lasakar pelangi yang patut diteladani bagi manusia khususnya para tenaga pendidik dalam dunia pendidikan. Kutipan cerita di atas mengisyaratkan bahwa seorang guru dalam proses pembelajaran memiliki peran dan fungsi bukan hanya sebagai mentranformasikan knowledge, tetapi sekaligus juga membimbing dan mengajarkan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan yang bertindak konsisten. Bimbingan dan pengajaran nilai-nilai inilah yang disebut sebagai pendidikan nilai.3 Pendidikan nilai secara bermakna sangat penting dalam menunjang mutu pendidikan. Saat ini rendahnya mutu Pendidikan Nasional tidak hanya disebabkan oleh kelemahan pendidikan dalam membekali kemampuan akademis kepada peserta didik. Lebih dari itu ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kurangnya pendidikan nilai secara bermakna. Mengapa pendidikan nilai sangat diperlukan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu mengetahui masalah-masalah yang terjadi dalam pendidikan. Adapun masalah yang dihadapi oleh pendidikan saat ini, betapa sekolah umum atau lainnya telah merebaknya kasus VCD purno yang dilakukan oknum mahasiswa Itenas Bandung menambah panjang daftar asusila yang dilakukan peserta didik, lalu muncul kasus yang serupa yang dilakukan para yunior mereka di tingkat SMP dan SMU. Di Jawa Barat ada beberapa siswa dan siswi SMU Negeri yang berbuat tidak senonoh di dalam kelas dengan 3 Rokhmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai (Bandung: Alfabeta, 2004), hlm. 119
  • 25.
    3 masih menggunakan seragam sekolah. Dalam kasus lain seorang anak SMP tega membunuh orang tuanya sendiri, di tempat lain seorang anak madrasah ibtidaiyah bunuh diri dengan alasan tidak sanggup membayar SPP, bahkan ada anak madrasah yang bunuh diri hanya karena baju seragam hari itu tidak bisa dipakai karena basah terkena hujan.4 Dalam kasus selanjutnya adalah praktik pendidikan sering dikesankan sebagai sederetan instruksi guru dan murid-muridnya. Apalagi dengan istilah yang sekarang sering digembar-gemborkan dalam dunia pendidikan yaitu sebagai pendidikan yang menciptakan manusia ”siap pakai”. Kata ini berarti menghasilakan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industri dan tegnologi. Memerhatikan secara kritis masalah ini, tampak bahwa manusia dipandang layaknya material atau komponen pendukung industri. Lembaga pendidikan sekedar mampu menjadi lembaga produksi penghasil material atau komponen dengan kualitas tertentu yang di tuntut pasar. Ironisnya, kenyataannya ini justru disambut antusias oleh banyak lembaga pendidikan.5 Saat sekarang ini, dunia pendidikan masih diwarnai perilaku siswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga mengkonsumsi minuman keras dan narkotika.6 4 Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai Mengumpulkan yang Terserak, Menyambung yang Terputus, dan Menyatukan yang Tercerai (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 29 5 Ibid., hlm. 31 6 Tatik Rejeki, Konsep Pendidikan Nilai yang Menyenangkan (http:www.yahoo.com, diakses 26 Februari 2008)
  • 26.
    4 Disinilah proses penanaman pendidikan nilai sangat dibutuhkan di lembaga pendidikan yang bertujuan untuk membantu peserta didik agar memahami, menyadari, mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya secara integral dalam kehidupan. Pendidikan nilai sangat erat hubungannya dengan pendidikan Islam. Pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam mengimplementasikan pendidikan nilai sebagai suatu tindakan pendidikan. Value Education (pendidikan nilai) dilibatkan dalam setiap tindakan pendidikan, baik dalam memilih maupun dalam memutuskan setiap hal untuk kebutuhan belajar. Melalui pendidikan nilai, guru dapat mengevaluasi siswa, demikian pula sebaliknya, siswa dapat mengukur kadar nilai yang disajikan guru dalam proses pembelajaran. Singkat kata, dalam bentuk persepsi, sikap, keyakinan, dan tindakan manusia dalam pendidikan, nilai selalu disertakan. Bahkan melaui nilai itulah manusia dapat bersikap kritis terhadap dampak-dampak yang ditimbulkan pendidikan. Untuk itu, selain diposisikan sebagai muatan pendidikan, nilai juga dapat dijadikan sebagai media kritik bagi setiap orang yang berkepentingan dengan pendidikan dalam mengevaluasi proses dan hasil pendidikan. Dari penjelasan tersebut jelaslah bahwa dengan adanya penanaman pendidikan nilai dalam lembaga Pendidikan Islam, maka akan dapat membantu pengembangan pendidikan Islam khususnya dalam proses dan tujuan pendidikan Islam yang dicita-citakan. Dari latar belakang di atas, maka penulis mengangkat skripsi yang berjudul ”Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam
  • 27.
    5 (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)”, dengan harapan novel ini mampu menjawab keterpurukan pendidikan Islam saat sekarang dan membawa pendidikan Islam kelevel yang lebih baik dan mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas penulis formulasikan dalam rumusan masalah sebagai berikut: 1. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata ? 2. Bagaimana metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi? 3. Nilai-nilai apa saja terkandung dalam novel laskar pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam ? 4. Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian di dalam karya ilmiah merupakan target yang hendak dicapai melalui serangkaian aktivitas penelitian, karena segala sesuatu yang diusahakan pasti mempunyai tujuan tertentu sesuai dengan permasalahannya. Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mendiskripsikan nilai-nilai dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata,
  • 28.
    6 2. Mendiskripsikan metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, 3. Mendiskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan 4. Mendiskripsikan kontribusi pendidikan nilai dalam novel ”laskar pelangi” tehadap Pengembangan Pendidikan Islam. D. Manfaat Penelitian Setiap kegiatan penelitian pasti mempunyai nilai kemanfaatan bagi peneliti maupun orang lain. Karena ini kegiatan ilmiah yang dilakukan secara logis dan sistematis, agar penulisan ini harapkan bermanfaat: 1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, metode pengajaran nilai yang terkandung dalam laskar pelangi, nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. 2. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi: a. Pendidikan Islam, diharapkan pendidikan nilai menjadi bahan rujukan dalam praktik sebagai pendukung dalam proses dan tujuan pengembangan pendidikan Islam. b. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), diharapkan guru dapat merealisasikan penanaman pendidikan nilai semisal guru bertugas bukan hanya mengajar, tetapi lebih utama sebagai pendidik yang di pundaknya digantungkan harapan untuk mencetak generasi bangsa
  • 29.
    7 yang cerdas, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Dengan demikian, pendidikan nilai bukan hanya dapat mengembalikan filosofi dasar pendidikan Indonesia, namun juga karena Indonesia sebagai negara Pancasila, dapat kembali menumbuhkan nilai-nilai luhur yang menjadi ciri kepribadian bangsa kita, seperti keramahtamahan, kesopanan, gotong royong, tepa selira, dan lain-lain. Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya menyediakan manusia berintelektual tinggi, namun juga manusia yang merasa (peka) terhadap kondisi sekitarnya dan mampu mengatasi situasi krisis yang rumit sekali pun. c. Peserta didik, pendidikan nilai untuk membekali individu menjadi manusia yang professional yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, cakap, dan menjadi seseorang yang bertanggung jawab. d. Bagi peneliti yang lain, untuk mengembangkan pengetahuan yang terkait dengan nilai dan sebagai bekal peneliti apabila sudah terjun di lapangan agar dapat membantu lembaga pendidikan Islam yang erat kaitannya dengan praktik pendidikan nilai. E. Ruang Lingkup Penelitian Pendidikan nilai merupakan masalah yang mendasar dan urgen dalam proses dan tujuan pembelajaran di dunia pendidikan, pembahasan masalah pendidikan nilai sangat kompleks sekali, maka dari itu untuk lebih mensistematiskan pembahasan masalah ini tidak melebar terlalu jauh dari
  • 30.
    8 sasaran sehingga akan memudahkan pembahasan dan penyusunan laporan penelitian ini. Adapun ruang lingkup pembahasan pada penelitian ini adalah (1) Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata? (2) Bagaimana metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi? (3) Nilai-Nilai apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam dalam novel laskar pelangi? dan (4) Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam? Adapun dalam pembahasan apabila ada permasalahan diluar tersebut di atas maka sifatnya hanyalah sebagai penyempurna sehingga pembahasan ini sampai pada sasaran yang dituju. E. Definisi Oprasional Agar pembahasan lebih fokus, maka perlu dicantumkan penjelasan istilah dari skripsi berjudul: Pendidikan Nilai dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi), yakni: 1. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya atau Kegiatan mengenali, mengidentifikasi, memberikan tanda-penanda dan sebagainya berdasarkan pemikiran yang mendalam pada sebuah teks atau keadaan, 2. Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang disekelilingnya dan menonjolkan sifat dan watak setiap pelaku,
  • 31.
    9 3. Pendidikan Nilai adalah sebagai usaha untuk membimbing peserta didik dalam memahami, mengalami dan mengamalkan nilai-nilai ilmiah, kewarganegaraan dan sosial yang tidak secara khusus dipusatkan pada pandangan agama tertentu atau penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang, dan 4. Pengembangan Pendidikan Islam merupakan suatu proses, cara atau perbuatan mengembangkan pendidikan Islam melalui penanaman nilai- nilai religi, estetika, sosial dan personal dengan tujuan untuk mewujudkan perubahan tingkah laku peserta didik yang Islami, terampil, kreatif, berjiwa sosial, dan mandiri dengan bekal nilai personal. F. Sistematika Pembahasan Untuk mempermudah pembahasan dalam skripsi ini, penulis memperinci dalam sistematika pembahasan sebagai berikut: • BAB I : Pendahuluan, penulis membahas pokok-pokok pikiran untuk memberikan gambaran terhadap inti pembahasan, pokok pikiran tersebut masih bersifat global. Pada bab ini terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah; • BAB II : Memaparkan tentang landasan teoritis yang berkaitan dengan novel, pendidikan nilai, dan pengembangan pendidikan Islam; • BAB III : Memaparkan tentang metode penelitian, yang meliputi tentang rancangan penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, instrument penelitian dan analisis data;
  • 32.
    10 • BAB VI : Paparan data penelitian novel laskar pelangi yang meliputi; deskripsi nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, deskripsi metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, deskripsi nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam; • BAB V : Pembahasan hasil analisis penelitian yang meliputi nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam; • BAB VI : Penutup, pada bab ini berisikan tentang kesimpulan dari pembahasan dan saran.
  • 33.
    BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Novel 1. Pengertian Novel Novel berasal dari bahasa Italia yaitu Novella, yang secara harfiah berarti sebuah barang baru yang kecil dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. Dalam The American Colage, dikatakan bahwa novel adalah suatu cerita fiksi dengan panjang tertentu, melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata representative dalam suatu alur atau suatu kehidupan yang agak kacau atau kusut.7 Sumardjo memberikan pengertian novel sebagai cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas, di sini berkaitan dengan fisik novel maupun unsur yang ada dalam novel tersebut, misalnya saja plot yang kompleks, keaneka ragaman karakter dan cerita yang beragam. Sedangkan menurut Husnan, novel adalah suatu karangan atau karya sastra yang lebih panjang daripada cerpen atau lebih pendek daripada roman dan kejadian-kejadian yang digambarkan melahirkan suatu konflik jiwa dan mengakibatkan suatu perubahan nasib.8 Viginia Woff mengatakan bahwa, suatu prosa atau novel adalah sebuah eksplorasi atau suatu kronik penghidupan, merenungkan dan 7 Rini Wiediastutik S, Analisis Nilai-Nilai Humanistik Tokoh dalam Novel Kuncup Berseri Karya NH. Dini, Skripsi, (FKIP UMM, 2005), hlm. 9 8 Ibid.. 11
  • 34.
    12 melukiskan dalam bentuk yang tertentu, pengaruh, ikatan hasil, kehancuran, atau tercapainya gerak gerik manusia.9 Novel merupakan struktur yang bermakna. Novel tidak sekedar merupakan serangkaian tulisan yang menggairahkan ketika di baca, tetapi merupakan struktur pikiran yang tersusun dari unsur-unsur padu.10 Novel adalah sebuah cerita fiksi yang jumlah halamannya mencapai berpuluh-puluh, ratusan, atau beratus-ratus, seperti: serial Harry Potter, Load of The Ring, Eragon atau Ranggamorfosa Sang Penakhluk Istana.11 Novel merupakan menceritakan suatu peristiwa pada rentang waktu yang cukup panjang dengan beragam karakter yang diperankan oleh tokoh.12 Dari beberapa pengertian novel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa novel adalah suatu cerita panjang dengan berbagai karakter yang mengisahkan kehidupan manusia, mulai dari konflik-konflik dan permasalahannya secara rinci, detail, dan kompleks dengan proses berfikir yang terstruktur. 2. Karakteristik Novel Menurut Watson, karakteristik novel Indonesia adalah novel-novel yang dimulai tahun 1920, yaitu novel yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Menurutnya novel Indonesia tidak muncul begitu saja, melainkan melalui 9 Hardjana, Cara Mudah Mengarang Cerita Anak-anak (Jakarta: PT Grasindo, 2006), hlm. 13 10 Sugihastuti dan Suhartono, Kritik sastra Feminis Teori dan Aplikasinya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 43 11 Burhan Nurgiantoro, Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005), hlm. 287 12 Ameliawati, Analisis Instink Pada Tokoh Utama Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari, Skripsi, (FKIP UMM, 2006), hlm. 16
  • 35.
    13 proses panjang yang terjadi sebelumnya, yaitu sejak perkembangan komunikasi di Jawa dan Sumatera di pertengahan abad XIX.13 Karakteristik novel Indonesia ada sedikit perbedaan antara roman, novel dan cerpen. Ada juga yang disebut novellet. Dalam roman biasanya kisah berawal dari tokoh lahir sampai dewasa kemudian meninggal, roman biasanya mengikuti aliran romantik. Sedangkan novel berdasarkan realisme, dan di dalam novel penggambaran tokoh biasanya merupakan sebagian dari hidupnya yang dapat berubah dari keadaan sebelumnya.14 Berbeda dengan cerita pendek yang tidak berkepentingan pada kesempurnaan cerita atau keutuhan sebuah cerita, tetapi lebih berkepentingan pada impresi atau kesan. Karakteristik novel Indonesia meliputi empat periode: (1) Angkatan Balai Pustaka, (2) Angkatan Pujangga Baru, (3) Angkatan 45, dan (4) Angkatan Sesudah 45. 1. Angkatan Balai Pustaka, pujangga yang termasuk angkatan Balai Pustaka beserta karangannya: Marah Rusli dengan salah satu karyanya yang berjudul Siti Nurbaya, keinginan Marah Rusli terhadap novel ini adalah ia ingin merombak adat yang berlaku pada masa itu dan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.15 2. Angkatan Pujangga Baru, tokoh pujangga baru dan karyanya: Sutan Takdir Alisjahbana dengan salah satu karyanya yang berjudul Layar 13 Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 87. 14 Yandianto, Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia (Bandung: M2S, 2004), hlm. 160. 15 Ibid., hlm. 17.
  • 36.
    14 Terkembang, keinginan Sutan Takdir Alisjahbana terhadap novel ini adalah mendambakan pembaharuan pada corak kebudayaan bangsanya. 3. Angkatan 45, sastrawan dalam angkatan 45 dan karyanya yakni: Idrus dengan salah satu karyanya yang berjudul Aki, keinginan Idrus terhadap novelnya adalah ia berusaha menampilkan topik lain yang lebih luas dan mendasar daripada hanya soal cinta, usaha yang disertai keyakinan penuh akan menghasilkan apa yang dicita-citakan. 4. Angkatan Sesudah 45, setelah memulai proses yang cukup rumit akhirnya didapatkan satu nama sastrawan yang termasuk kelompok Angkatan Sesudah 45 atau Angkatan 66 ini yakni Montingo Busye dengan salah satu karyanya yang berjudul Hari Ini Tak Ada Cinta, keinginan pengarang terhadap novel ini adalah hendaknya kita bertanggung jawab akan merugikan orang lain. 3. Ciri-ciri Novel Sebagai salah satu hasil karya sastra, novel memiliki ciri khas tersendiri bila dibandingkan dengan karya sastra yang lain. Dari segi jumlah kata ataupun kalimat, novel lebih mengandung banyak kata dan kalimat sehingga dalam proses pemaknaannya relative jauh lebih mudah daripada memaknai sebuah puisi yang cenderung mengandung beragam bahasa kias. Berkaitan dengan masalah tersebut, Sumardjo memberikan ciri-ciri novel sebagai berikut: (1) Plot sebuah novel berbentuk tubuh cerita, dirangkai dengan plot-plot kecil yang lain, karena struktur bentuk yang luas ini maka novel dapat bercerita panjang dengan persoalan yang luas, (2)
  • 37.
    15 Tema dalam sebuahnovel terdapat tema utama dan pendukung, sehingga novel mencakup semua persoalan, (3) Dari segi karakter, dalam novel terdapat penggambaran karakter yang beragam dari tokoh-tokoh hingga terjalin sebuah cerita yang menarik.16 Adapun menurut Tarigan ciri-ciri novel diklasifikasikan sebagai berikut: a. Jumlah kata, novel jumlah katanya mencapai 35.000 buah; b. Jumlah halaman, novel mencapai maksimal 100 halaman kuarto; c. Jumlah waktu, waktu rata-rata yang digunakan untuk membaca novel paling pendek diperlukan sekitar 2 jam (120 menit); d. Novel bergantung pada pelaku dan mungkin lebih dari satu pelaku; e. Novel menyajikan lebih dari satu impresi (kesan); f. Novel menyajikan lebih dari satu efek; g. Novel meyajikan lebih dari satu emosi; h. Novel memiliki skala yang lebih luas; i. Seleksi pada novel lebih ketat; j. Kelajuan dalam novel lebih lambat; k. Dalam novel unsur-unsur kepadatan dan intensitas tidak begitu diutamakan.17 Selain mempunyai ciri-ciri, novel juga mempunyai beberapa nilai yang terkandung di dalamnya, antara lain: 1) Nilai moral yaitu nilai baik dan buruk yang terkandung dalam novel; 16 Rini Wiediastutik S., op.cit., hlm. 10 17 Ibid., hlm. 10-11
  • 38.
    16 2) Nilai religius yaitu nilai yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan tokoh novel; 3) Nilai kemanusiaan yaitu nilai tentang tindakan tokoh dan kesesuaiannya dengan hak asasi manusia; 4) Nilai kultural yaitu nilai yang berkaitan dengan budaya dalam novel.18 4. Unsur-unsur Novel Unsur-unsur novel meliputi beberapa hal yaitu: (a) tokoh, (b) latar, (c) alur atau plot, dan (d) tema. a) Tokoh dan Penokohan 1) Tokoh Tokoh merupakan para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi. Tokoh dalam fiksi ialah ciptaan pengarang, meskipun dapat juga merupakan gambaran dari orang-orang yang hidup di alam nyata. Oleh karena itu, dalam sebuah fiksi tokoh hendaknya dihadirkan secara ilmiah. Dalam arti tokoh-tokoh itu memiliki “kehidupan” atau berciri “hidup” atau memiliki derajat lifelikeness.19 Dalam buku “Pengantar Apresiasi Karya Sastra”, tokoh didefinisikan orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Karena peristiwa dalam karya sastra (novel) seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, 18 Nurdjanah Kafrawi, dkk, Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia 3 (Jakarta: PT Grasindo, 2002), hlm. 46 19 Wiyatmi, Pengantar Kajian Sastra (Yogyakarta: Pustaka, 2006), hlm. 30
  • 39.
    17 selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang berbeda-beda. Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut dengan tokoh utama. Sedangkan tokoh yang tidak memiliki peranan penting karena pemunculannya hanya melengkapi saja atau sebagai pendukung pelaku utama disebut tokoh pembantu.20 Seorang tokoh dalam karya sastra merupakan imaji penulis dalam membentuk personalitas tertentu dalam cerita. Berhasil tidaknya suatu penokohan akan mempengaruhi cerita si pembaca. Sebuah penokohan atau perwatakan harus menampilkan tokoh dengan karakter berkelakuan seperti dalam kehidupan sebenarnya. 2) Penokohan Penokohan sangat erat hubungannya dengan seorang tokoh dalam karya sastra. Penyajian watak dan penciptaan citra tokoh ini disebut penokohan. Cara paling sederhana dalam penampilan tokoh adalah pemberian nama. Setiap nama memiliki daya yang menghidupkan, menjiwai, dan mengindividualisasikan seorang tokoh. Aminuddin mengemukakan bahwa pengetahuan tentang teknik penampilan tokoh dalam sebuah proses fiksi berguna sebagai bekal menganalisis tokoh. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam cerita, yaitu melalui (1) tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya, (2) gambaran yang 20 Aminuddin, Pengantar Apresiasi Karya Sastra (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo. 2002), hlm. 80
  • 40.
    18 diberikan pengarang terhadap lingkungan kehidupan pelaku maupun cara berpakaian, (3) cara berbicara tokoh tentang diri sendiri, (4) pelaku tokoh, (5) jalan pikiran tokoh, (6) bagaimana tokoh-tokoh lain membicarakannya, (7) bagaimana cara tokoh lain mereaksi tokoh, dan (8) bagaiamana cara tokoh mereaksi tokoh lain.21 Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa dalam mengenali penokohan dalam suatu cerita pada karya sastra dapat dilakukan lewat pengenalan karakteristik tokoh, tingkah laku tokoh, jalan pikiran tokoh, maupun dialog-dialog yang terdapat dalam sebuah karya sastra (novel). b) Latar Karya fiksi pada hakekatnya berhadapan dengan sebuah dunia yang sudah dilengkapi dengan tokoh penghuni dan permasalahannya, sebagai halnya kehidupan manusia di dunia nyata. Dengan kata lain, sebuah dunia, di samping membutuhkan tokoh, cerita dan plot juga perlu latar, karena latar disebut juga sebagai landas tumpu, yang tertuju pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Sedangkan Leo Haliman dan Frederick menjelaskan bahwa setting dalam karya sastra (novel) bukan hanya tempat, waktu, peristiwa, suasana benda-benda dalam lingkungan tertentu, melainkan juga dapat berupa suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka, maupun gaya hidup 21 Ameliawati, op.cit., hlm. 19-20
  • 41.
    19 suatu masyarakat dalam menanggapi suatu permasalahan tertentu.22 Adapun hubungan latar dengan penokohan, misalnya pengarang mau menampilkan tokoh seorang petani yang sederhana dan buta huruf, maka tidak mungkin petani itu diberi setting kota Jakarta, perkantoran atau restoran, begitu juga seorang tokoh yang digambarkan berwatak alim tidak mungkin diberi setting kamar yang penuh dengan gambar botol minuman keras. Seperti yang telah dipaparkan di atas, latar juga mampu menuansakan suasana-suasana tertentu. Suasana tertentu akibat penataan setting oleh pengarangnya itu lebih lanjut juga akan berhubungan dengan suasana penuturan yang terdapat dalam suatu cerita. Latar dalam prosa atau fiksi dibedakan menjadi empat, yaitu: 1) Latar alam (geographic setting) adalah latar yang melukiskan tempat atau lokasi terjadinya peristiwa dalam alam mini, misalnya: di desa, di kota, di pegunungan, dll; 2) Latar waktu (temporal setting) adalah latar yang melukiskan kapan peristiwa itu terjadi, misalnya: tahun berapa, pada musim apa, senja hari, dan akhir bulan; 3) Latar sosial (social setting) adalah latar yang melukiskan dalam lingkungan mana peristiwa itu terjadi, misalnya: lingkungan pelayaran, lingkungan buruh pabrik, dll; 22 Ibid., hlm. 17
  • 42.
    20 4) Latar ruang yaitu latar yang melukiskan dalam ruang yang bagaimana peristiwa itu berlangsung, misalnya: dalam kamar, aula, toko, dan lain-lain.23 Berdasarkan pada pengertian latar di atas, tokoh dan setting merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hal itu disebabkan karena tokoh dan latar dapat menentukan kelogisan dan diterimanya cerita oleh pembaca. Penataan setting yang tepat dan sesuai dengan kepribadian tokoh dan juga cerita disajikan akan menimbulkan kesan bahwa karya sastra tersebut adalah karya yang logis. c) Alur atau Plot Istilah alur sama dengan istilah plot atau struktur cerita. Alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang saling berhubungan dan membentuk kesatuan cerita.24 Aminuddin mengatakan bahwa alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh pelaku dalam suatu cerita. Menurut Adiwardoyo, alur dapat dibagi berdasarkan kategori kausal (sebab- akibat) dan kondisinya. Berdasarkan kausalnya alur dibagi menjadi tiga, yaitu: 1) Alur urutan (episodik), dikatakan alur urutan apabila peristiwa- peristiwa yang ada disusun berdasarkan urutan sebab-akibat, kronologis (sesuai dengan urutan waktu), tempat, dan hierarkis (berurut-urut); 23 Rini Wiediastutik S. op.cit., hlm. 14-15 24 Dawud, dkk, Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I untuk SMA Kelas X (Jakarta: Erlangga, 2004), hlm. 245
  • 43.
    21 2) Alur mundur (flashback), sebuah cerita dikatakan beralur mundur apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun berdasarkan akibat- sebab, waktu kini ke waktu lampau; 3) Alur campuran, dikatakan sebuah cerita ber-alurkan campuran apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun secara campuran antara sebab akibat waktu kini ke waktu lampau atau waktu lampau ke waktu kini.25 Berdasarkan kondisinya, alur dibedakan menjadi empat, yaitu: 1) Alur buka yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi mula yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikutnya; 2) Alur tengah yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi yang mulai bergerak ke arah kondisi puncak; 3) Alur puncak yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai klimaks dari sekian banyak rangkaian peristiwa yang ada pada cerita itu; 4) Alur tutup yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi yang mulai bergerak kea rah penyelesaian atau pemecahan dari kondisi klimaks.26 d) Tema Tema merupakan ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatar belakangi ciptaan karya sastra. Karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat, maka tema yang diungkapkan dalam karya sastra bisa sangat beragam. Tema bisa berupa moral, etika, agama, nilai, social 25 Rini Wiediastutik S. op.cit., hlm. 13 26 Ibid., hlm. 14
  • 44.
    22 budaya, teknologi, tradisi yang terkait erat dengan masyarakat kehidupan. Namun, tema bisa berupa pandangan pengarang, ide atau keinginan pengarang dalam menyiasati persoalan yang muncul.27 Tema juga merupakan gagasan pokok pikiran yang digunakan pengarang untuk mengembangkan cerita. Tema berkaitan dengan makna dan tujuan pemaparan karya fiksi oleh pengarangnya. Adiwardoyo mengatakan tema adalah gagasan sentral pengarang yang mendasari penyusunan suatu cerita dan sekaligus menjadi sasaran dari cerita itu.28 Menurut Nurgiyantoro, tema dibedakan menjadi dua bagian yaitu tema utama yang disebut tema mayor, yang artinya makna pokok yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu. Tema mayor ditentukan dengan cara menentukan persoalan yang paling menonjol, yang paling banyak konflik dan waktu penceritaannya. Sedangkan tema tambahan disebut tema minor, merupakan tema yang kedua yaitu makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dan diidentifikasikan sebagai makna bagian atau makna tambahan.29 Oleh sebab itu, dalam menentukan sebuah tema harus memahami terlebih dahulu bagian-bagian yang mendukung sebuah cerita, baik latar, tokoh dan penokohan, alur atau persoalan yang dibicarakan. Apabila pembaca karya sastra telah dapat menentukan dan menemukan tema dari 27 Zainuddin Fananie, Telaah Sastra (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2000), hlm. 84 28 Rini Wiediastutik S., op.cit., hlm. 15 29 Ibid..
  • 45.
    23 sebuah karya sastra, maka pembaca tersebut telah mengetahui tujuan pengarang dalam sebuah cerita yang telah dibuatnya. 5. Bentuk-bentuk Tulisan Novel Ada banyak bentuk-bentuk tulisan dalam sebuah cerita. Salah satunya dapat dilihat berdasarkan penggolongan dalam cara penyajian dan tujuan penyampaiannya. Dan bentuk tulisan sendiri meliputi, deskripsi, eksposisi, narasi, persuasi dan argumentasi. a. Deskripsi Deskripsi adalah bentuk tulisan yang bertujuan memperluas pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan jalan melukiskan hakikat objek yang sebenarnya. Dalam tulisan deskripsi, penulis tidak boleh mencampuradukkan keadaan yang sebenarnya dengan interpretasinya sendiri. b. Eksposisi Di tinjau dari asal katanya, eksposisi berarti membuka dan memulai. Bahkan ada yang mengatakan eksposition means explanation (eksposisi adalah penjelasan). Ini berarti tulisan eksposisi berusaha untuk memberitahu, mengupas, menguraikan atau menerangkan sesuatu. Pada dasarnya eksposisi berusaha menjelaskan suatu prosedur atau proses, memberikan definisi, menerangkan, menjelaskan, menafsirkan gagasan, menerangkan bagan atau table, atau mengulas sesuatu. Biasanya, tulisan eksposisi sering ditemukan bersama-sama dengan bentuk tulisan deskripsi. Seorang yang menulis eksposisi berusaha
  • 46.
    24 memberitahukan pembacanya agar pembaca semakin luas pengetahuannya tentang suatu hal. c. Narasi Narasi merupakan bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, merangkaikan tindak-tanduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa secara kronologis atau yang berlangsung dalam suatu kesatuan waktu tertentu. Narasi biasanya ditulis berdasarkan rekaan atau imajinasi. Namun demikian, narasi yang ditulis juga bisa ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis, pengamatan atau wawancara. Narasi pada umumnya merupakan himpunan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu atau urutan kejadian. Dalam tulisan narasi, selalu ada tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu atau berbagai peristiwa yang diceritakan. Meskipun berdasarkan fakta imajinasi penulis dalam bercerita tetap terkesan kuat sekali. Melalui narasi, seorang penulis memberitahukan orang lain dengan sebuah cerita. Sebab, narasi sering diartikan juga dengan cerita. Sebuah cerita adalah sebuah penulisan yang mempunyai karakter, setting, waktu, masalah, mencoba untuk memecahkan masalah dan memberi solusi dari masalah itu. d. Argumentasi Tulisan argumentasi biasanya bertujuan untuk meyakinkan pembaca, termasuk membuktikan pendapat atau pendirian dirinya bisa
  • 47.
    25 juga membujuk pembaca agar pendapat penulis bisa diterima. Bentuk argumentasi dikembangkan untuk memberikan penjelasan dan fakta- fakta yang tepat terhadap apa yang dikemukakan yang sangat dibutuhkan dalam tulisan argumentatif adalah data penunjang yang cukup, logika yang baik dalam penulisan dan uaraian yang runtut. Berikut ini adalah tugas dari penulis argumentatif: 1. Harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan orang mengenai topik yang akan diargumentasikan; 2. Berusaha untuk menghindari setiap istilah yang menimbulkan prasangka tertentu; 3. Penulis argumentatif berusaha untuk menghilangkan ketidaksepakatan; 4. Menetapkan secara tepat titik ketidaksamaan yang di argumentasikan.30 e. Persuasi Pesuasi berarti membujuk atau meyakinkan. Goris Keraf pernah mengatakan, persuasi bertujuan meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulis. Mereka yang menerima persuasi harus dapat keyakinan, bahwa keputusan yang diambilnya merupakan keputusan yang benar, bijaksana dan dilakukan tanpa paksa. Melalui persuasi, seorang penulis mencoba mengubah pandangan pembaca tentang sebuah permasalahan tertentu. Penulis 30 Nurudin, Dasar-dasar Penulisan (Malang : UMM Press, 2007), hlm. 79
  • 48.
    26 mempersembahkan fakta dan opini yang bisa didapatkan pembacanya untuk mengerti menggapai sesuatu itu adalah benar, salah atau diantara keduanya. Di samping itu, penulis persuasi harus bisa menampilkan fakta- fakta agar apa yang diinginkannya diyakini pembaca, dan pembaca mau melakukan sesuai maksud penulis. Persuasi biasanya akan memberikan penekanan pada pemilihan kata yang berpengaruh kuat terhadap emosi atau perasaan orang lain. 5. Peran Novel Setidak-tidaknya sudah seribu tahun sastra menduduki fungsinya yang penting dalam masyarakat Indonesia. Sastra dibaca oleh para raja dan bangsawan, serta kaum terpelajar pada zamannya. Sejak dahulu sastra menduduki fungsi intelektual dalam kehidupan masyarakat. Pentingnya kedudukan sastra dalam masyarakat Indonesia lama, disebabkan oleh fokus budaya mereka pada unsur agama dan seni. Sastra Jawa Kuno malah menduduki fungsi religio-magis, pada zaman Islam, sastra digunakan para raja untuk memberikan ajaran rohani kepada rakyatnya.31 Jadi, pada zaman dahulu sastra mempunyai fungsi yang sangat penting dalam masyarakat Indonesia. Akan tetapi, fungsi ini mulai tergeser dengan masuknya kebudayaan barat ke Indonesia.32 Beberapa fungsi sastra di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa peran novel dalam masyarakat juga sangat penting, karena novel bukan saja 31 Jakob Sumardjo, Sastra dan Masa (Bandung: ITB, 1995), hlm. 6 32 Ibid..
  • 49.
    27 menampilkan sebuah wacana kepada masyarakat, akan tetapi novel juga sangat berperan terhadap perkembangan masyarakat, terlihat pada pesan dari seorang penulis atau sastrawan dapat dikatakan sebagai pejuang moral karena mereka berupaya agar pembaca dapat mengetahui dan memahami apa yang ada dalam alur cerita novel tersebut sehingga dapat menggugah perasaan si pembaca. B. Konsep Pendidikan Nilai 1. Pengertian Definisi dan Orientasi Pendidikan Nilai Pendidikan nilai dapat dimulai dari pemahaman tentang definisi dan tujuannya. Definisi dapat memberikan petunjuk pada pemaknaan istilah pendidikan nilai, sedangkan tujuan dapat memberikan kejelasan tentang cita-cita dan arah yang dituju oleh pendidikan nilai. a. Definisi Pendidikan Nilai Pada dasarnya, pendidikan nilai dirumuskan dari dua pengertian dasar yang terkandung dalam istilah pendidikan dan istilah nilai. Ketika kedua istilah itu disatukan, arti keduanya menyatu dalam definisi pendidikan nilai. Namun karena arti pendidikan dan arti nilai dapat dimaknai berbeda, definisi nilai pun dapat beragam, tergantung pada tekanan dan rumusan yang diberikan pada kedua istilah itu. Seperti dikemukakan oleh Sastrapratedja (Kaswardi, 1993), yang dimaksud dengan pendidikan nilai adalah penanaman dan pengembangan pada diri seseorang. Dalam pengertian yang hampir sama Mardiatmadja (1986) mendefinisikan pendidikan nilai sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami niali-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Dua ahli Pendidikan nilai itu memiliki pendangan yang sama bahwa pendidikan nilai tidak hanya
  • 50.
    28 merupakan program khusus yang diajarkan melalui sejumlah mata pelajaran, tetapi mencakup pula keseluruhan proses pendidikan33 Dan dalam pengertian lain, pendidikan nilai ialah penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang. Pendidikan nilai tidak harus merupakan satu program atau pelajaran khusus, seperti pelajaran menggambar atau bahasa inggris, tetapi lebih merupakan suatu dimensi dari seluruh usaha pendidikan34 Sementara itu, dalam laporan Nasional Recource Center For Value Education, pendidikan nilai di negara India didefinisikan sebagai usaha untuk membimbing peserta didik dalam memahami, mengalami dan mengamalkan nilai-nilai ilmiah, kewarganegaraan dan sosial yang tidak secara khusus dipusatkan pada pandangan agama tertentu (NRCVE, 2003). Dalam pengertian yang lebih oprasional David Aspin (2000) membuat definisi pendidikan nilai sebagai bantuan untuk mengembangkan dan mengartikulasikan kemampuan pertimbangan nilai atau keputusan moral yang dapat melembagakan kerangka tindakan manusia35 Sedangkan dalam buku dengan judul ”memanusiakan manusia muda tinjauan pendidikan humaniora”, menjelaskan bahwa pendidikan nilai adalah suati pandangan dasar seseorang terhadap alam, sesama manusia dan Tuhannya (yang akhir ini terjabar secara lebih terperinci dalam pandangan-pandangan keagamaannya) 36 Dari definisi di atas dapat ditarik suatu definisi pendidikan nilai yang mencakup keseluruhan aspek sebagai pengajaran atau bimbingan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan bertindak yang konsisten. Definisi pendidikan nilai ini perlu dibedakan dari arti pendidikan nilai yang dimaknai secara fungsional dan situasional. 33 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 119 34 Kaswardi, E.M K., Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000 (Jakarta: PT Grasindo, 1993), hlm. 3 35 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 119 36 Dick Hartono, Menanusiakan Manusia Muda Tinjauan Pendidikan Humaniora (Jakarta: Kanisius, 1985), hlm. 33
  • 51.
    29 b. Orientasi PendidikanNilai Secara Umum, pendidikan nilai dimaksudkan untuk membantu peserta didik agar memahami, menyadari, mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya secara integral dalam kehidupan. Untuk sampai pada tujuan yang dimaksud, tindakan-tindakan pendidikan yang mengarah pada perilaku baik dan benar perlu diperkenalkan oleh para pendidik. Dalam proses pendidikan nilai, tindakan-tindakan pendidikan yang lebih spesifik dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih khusus. Seperti dikemukakan Komite APEID (Asia and the Pasific Programme of Educational Innovation for Defelopment), pendidikan nilai ditujukan secara khusus untuk: (a) menerapkan pembentukan nilai kepada anak, (b) menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai-nilai yang diinginkan, dan (c) membimbing perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian tujuan pendidikan nilai meliputi tindakan mendidik yang berlangsung mulai dari usaha penyadaran nilai sampai pada perwujudan perilaku-perilaku yang bernilai (UNESCO, 1994).37 Selain itu, tujuan pendidikan nilai disesuaikan pada konsep awal pendidikan nilai yang menyentuh filosofi tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia, membangun manusia paripurna dan membentuk insan kamil atau manusia seutuhnya. Dari konsep awal pendidikan nilai yang menyentuh pada tujuan pendidikan inilah, maka muncul pertanyaan 37 Rokhmat Mulyana, op. cit., hlm. 119-120
  • 52.
    30 mendasar apa yangmembuat manusia berkembang menjadi manusia seutuhnya? Jawabannya menurut N. Diyarkara adalah pengakuan dan penghargaan akan nilai-nilai kemanusiaan. Pengakuan dan penghargaan akan nilai-nilai kemanusiaan itu hanya akan timbul manakala ranah afektif dalam diri seseorang dihidupkan. Hal itu berarti proses belajar mengajar perkembangan prilaku anak dan pemahamannya mengenai nilai-nilai moral seperti keadilan, kejujuran, rasa tanggung jawab serta kepedulian terhadap orang lain merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dari unsur pendidikan. Kesadaran anak akan nilai humanitas pertama-tama muncul bukan melalui teori atau konsep, melainkan melalui pengalaman konkrit yang langsung dirasakannya di sekolah. Pengalaman itu meliputi sikap dan perilaku guru yang baik, penilaian adil yang diterapkan, pergaulan yang menyenangkan serta lingkungan yang sehat dengan penekanan sikap psitif seperti penghargaan terhadap keunikan serta perbedaan. Pengalaman seperti inilah bereperan membentuk emosi anak berkembang dengan baik. Selanjutnya Driyarkara mengindikasikan bahwa kesadaran moral mengarahkan anak untuk mampu membuat pertimbangan secara matang atas perilakunya dalam kehidupannya sehari-hari baik di sekolah maupun di masyarakat. Mark dan Terence mengatakan: Morality Is directed and constructed to perform a large range of independent funtions to prohibit destruction and harm, to promote harmony and stability, to develop what is best in us. It promotes the social and economoc conditions that sustain mutually benefisial
  • 53.
    31 truth and cooperation, articulates ideals and excel lences, sets priorities among the activities that constitute our live38 Kymlicka menegaskan bahwa relevansi penanaman kesadaran moral pendidikan yaitu membentuk warga negara yang mempunyai rasa keadilan, kamampuan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mempunyai penghargaan akan hak-haka asasi manusia, bersikap toleran, dan memiliki rasa solider serta loyalitas terhadap yang lain39 Benang merah yang dapat ditarik dari konsep Driyarkara adalah perlunya keseimbangan antara dimensi kognitif dan afektif dalam proses pendidikan. Artinya untuk membentuk manusia seutuhnya tidak cukup hanya dengan mengembangkan kecerdasan berfikir atau IQ anak didik melalui segudang ilmu pengetahuan, melainkan juga harus dibarengi dengan pengembangan perilaku dan kesadaran moral. Karena dengan kombinasi seperti itulah peserta didik akan mampu menghargai nilai-nilai humanistik di dalam dirinya dan orang lain. Disinilah hakikat pendidikan nilai yang sebenarnya. Disisi lain pendidikan nilai bisa berarti educare yang berarti membimbing, menuntun, dan pemimpin. Filosofi pendidikan sebagai educare ini lebih mengutamakan proses pendidikan yang tidak terjebak pada banyaknya materi yang dipaksakan kepada peserta didik dan harus dikuasai. Proses pendidikan educare lebih merupakan aktivitas hidup untuk menyertai, mengantar, mendampingi, membimbing, memampukan peserta didik sehingga tumbuh berkembang sampai pada tujuan pendidikan yang dicita-citakan. 38 Zaim Elmubarok, op cit., hlm. 13 39 Ibid..
  • 54.
    32 Di sini atmosfer pendidikan mendapat tekanan dan peserta didik di beri keleluasaan untuk mengesplorasi diri dan dunianya sehingga berkembang kreativitas, ide dan ketrampilan diri sebagai bagian dari masyarakatnya. Minat dan bakat peserta didik diperlukan sebagai sentral dan hal yang amat berharga. Peran pendidik melebihi dari posisi sebagai narasumber, pendorong, pemberi motivasi dan fasilitator bagi peserta didik. Karena itu, suatu usulan rumusan komprehensif menyeluruh yang terbuka kiranya jauh lebih menguntungkan untuk menyiapkan generasi masa depan. Usulan rumusan tersebut adalah pendidikan nilai bertujuan mendampingi dan mengantar peserta didik kepada kemandirian, kedewasaan, kecerdasan, agar menjadi manusia profesional (artinya memiliki ketrampilan (sklill), komitmen pada nilai-nilai dan semangat dasar pengabdian/pengorbanan) yang beriman dan bertanggungjawab akan kesejahteraan dan kemakmuran warga masyarakat, nusa dan bangsa Indonesia.40 2. Landasan Pendidikan Nilai Landasan pendidikan nilai yang akan diketengahkan terdiri atas enam bagian, yaitu: landasan filosofis, landasan spikologis, landasan sosiologis, landasan estetik, landasan yuridis dan landasan religi. Landasan filosofis mengetengahkan akar pemikiran tentang hakikat manusia dari perspektif filasat. Landasan psikologis menjelaskan aspek-aspek psikis manusia 40 Zaim Elmubarok, op.cit., hlm. 13-14
  • 55.
    33 sebagai individu. Landasan sosiologis meliputi prinsip-prinsip pengembangan manusia sebagai anggota masyarakat. Landasan estetik menguraikan kemampuan manusia dalam mempersepsi nilai keindahan. Adapun penjelasan landasan-landasan tersebut adalah sebagai berikut: a) Landasan Filosofis Pemahaman tentang hakikat manusia telah melahirkan beragam tafsiran yang mengkristal pada sejumlah aliran filsafat pendidikan dan disiplin ilmu. Banyak peneliti yang tertarik pada eksplorasi tentang hakikat manusia, tetapi tidak seorang pun dapat memonopoli pengetahuan tentang hakikat manusia. Perdebatan panjang yang cukup melelahkan tentang silang pendapat mengenai hakikat manusia telah berlangsung sejak zaman yunani kuno, namun manusia hingga kini tetap sebagai enigma (teka-teki) yang tak pernah tuntas atau dalam bahasa Alexis Carrel (Syari’ati, 1996) disebut I’homme cet iconnu (makhluk tak dikenal). Karena itu, pencarian alasan dalam memperdebatkan perbedaan sudut pandangan tentang hakikat manusia terkadang tidak lebih penting dari upaya pemanfaatan pandangan tersebut bagi upaya pendidikan. Sebagian besar filosof beranggapan bahwa hakikat manusia adalah hewan yang dapat dididik (animal educantum). Hakikat manusia ini didukung oleh hakikat lainnya yang dikenal dalam sejarah pemikiran Eropa Barat sebagai: homo sapies (manusia yang mengetahui dan dibekali dengan akal), homo ludens (manusia yang bermain-main),
  • 56.
    34 homo recens (manusia yang membuat sejarah), homo faber (manusia teknis yang menggunakan alat-alat), homo simbolicum (manusia yang mengenal simbol-simbol bahasa), homo concors (manusia yang hidup seimbang antara dirinya dengan orang lain dan masyarakat sekitar), homo economicus (manusia sebagai makhluk ekonomi), dan animal rational (hewan yang rasional) (kartono, 1992). Selin itu, ada pula pihak yang beranggapan bahwa hakikat manusia justru terletak pada semangat spiritualnya dalam menjalin hubungan dengan Tuhan. Menurut pandangan ini manusia yang paling hakiki adalah manusia yang beragama. Untuk mengetahui perbedaan pandangan tadi, kita dapat memimjam kerangka analisis Phenix (1964) dalam bukunya Realms of Meaning. Ia menempuh dua langkah penting dalam mengungkapkan hakikat manusia, yaitu: Pertama, ia mengidentifikasi interpretasi wilayah kajian ilmu Kimia, Fisika, Biologi, Psikilogi, Sosiologi, Ekonomi, Politik, Antropologi, Linguistik, Seni, Moral, Sejarah Dan Teologi dalam menjelaskan hakikat manusia. Kedua, ia melakukan rekonstruksi pengertian tentang hakikat manusia berdasarkan sejumlah tafsiran yang diajukan ahli dari berbagai disiplin ilmu. Pada akhir analisisnya, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa hakikat manusia terletak dalam dunia kehidupan makna.41 41 Krech, D. dan Crutchfield, R., Individual In Society (Tokyo: Mc Graw-Hill Kogakusha, 1962), hlm. 279
  • 57.
    35 Dengan asumsi bahwa makna memiliki kesejajaran arti dengan nilai, maka landasan filosofis pendidikan nilai yang dapat ditegakkan pada dua kemungkinan posisi, yaitu: 1) filsafat pendidikan nilai pada dasarnya tidak berpihak pada salah satu kebenaran tentang hakikat manusia yang dicapai oleh suatu aliran pemikiran, karena nilai adalah esensi hakikat manusia yang dapat mewakili semua pandangan. 2) filsafat pendidikan berlaku selektif terhadap kebenaran hakikat manusia juga menyangkut substansi kebenarannya yang dapat berlaku kontektual dan situasional. b) Landasan Psikologis Kehasan psikologi dalam menelaah manusia terletak pada pandangannya bahwa sebagai individu selalu tampil unik keunikan mansia dilihat dari sisi mental dan tingkah lakunya berimplikasi pada asumsi psikologis berikutnya bahwa pada hakikatnya tidak ada seorang pun anak manusia dengan anak manusia yang sama persis dengan anak manusia lainnya. Asumsi seperti ini memang dapat dikesani ekstrem karena dapat menfikan kebenaran generalisasi atau teori perkembangan dunia psikologis manusia. Walaupun demikian, psikologi mencoba untuk menarik batas kemiripan melalui kaedah-kaedah perkembangan mental manusia beserta ciri-ciri perilakunya. Keutuhan manusia sebagai organisme dijelaskan melalui aspek-aspek psikis yang berkembang secara dinamis. Demikian pula bebedaan individu ditarik pada prinsip-prinsip dasar
  • 58.
    36 yang mewakili setiap fase pertumbuhan dan perkembangan manusia. Dengan berdasarkan pada kaidah-kaidah umum Psikologi seperti itu, landasan pendidikan nilai dapat dijelaskan. 1. Motivasi Setiap orang memiliki motivasi untuk bertindak sesuai dengan keinginan, minat dan kebutuhannya. Motivasi merupakan suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertidak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Karena itu dalam kajian psikologi, motivasi sering dipertimbangakan sebagai sutu tindakan diri seseorang. 42 Apabila dikaitkan dengan pendidikan nilai sebagai suatu upaya penyadaran nilai pada peserta didik, maka motivasi menjadi aspek penting yang perlu dipertimbangkan. Dari sejumlah kajian tentang motivasi menunjukkan bahwa dorongan-dorongan psikologis manusia bergerak secara dinamis dalam suatu kontinum yang menempatkan nilai pada ujung pertimbangan psikologis. Dalam teori sikap dari Newcomb misalnya, nilai ditempatkan di atas sikap dan keyakinan seseorang, demikian pula dalam teori kebutuhan dari Murray, nilai ditempatkan di atas kebutuhan psikogenetik individu”43 42 Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 71 43 Hall, C.S dan Linzey, G., Introduction to Personality Theory (New York: John Wiley dan Sons, 1985), hlm. 316-318
  • 59.
    37 Hal tersebut berimplikasi bahwa pendidikan nilai harus mampu membangkitkan motivasi peserta didik ke arah tindakan yang didasarkan pada pilihan kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Tindakan yang positif itu harus senantiasa dijaga ketahanannya agar berlangsung lama dan terinternalisasi pada diri peserta didik. 2. Perbedaan Individu Pebedaan individu merupakan aspek lain yang menjadi landasan pengembangan pendidikan nilai secara psikologis. Seperti telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, pebedaan individu mencerinkan adanya keunikan pada peserta didik. Tidak mungkin seorang siswa memiliki minat, keinginan, sifat, keyakinan dan nilai dalam frekuensi dan intensitas yang sama dengan apa yang dimiliki siswa lain. Demikian pula, secara fisik ia tidak mungkin memiliki bentuk fisik yang sama, meski dilahirkan sebagai saudara kembar. Perbedaan yang dimiliki individu baik secara fisik maupun mental dapat menjadi kekuatan atau kelemahan pada dirinya. Dalam fenomena pendidikan, misalnya ada siswa yang cerdas, rajin, tekun, shaleh atau gemuk, tetapi sebaliknya ada pula yang bodoh, malas, nakal, atau kurus. Satu atau lebih ciri berbedaan itu mungkin melekat pada diri seseorang dan menjadi kekuatan atau kelemahan pada dirinya. Perbedaan individu berimplikasi pada kurikulum pendidikan nilai dalam membimbing dang mengajarakan peserta didik ke arah
  • 60.
    38 pilhan nilai kehidupan yang tepat, fungsional, kontektual, serta sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka. Seperti yang dihadapi pendidikan pada umumnya, masalah krusial pendidikan nilai terletak bagaimana pendidikan nilai dapat dilakukan secara adil. Adil dalam arti nilai diajarkan dengan tidak mengabaikan perkembangan nilai subjektif yang lahir secara perorangan dan juga tidak melupakan nilai objektif kelompok. Dengan kata lain, nilai subjektif dan nilai objektif keduanya harus dikembangkan secara seimbang. Persoalan ini memang tidak sederhana, karena konsep keadilan dalam belajar nilai pada akhirnya akan sampai pada pertanyaan tentang apa materinya dan bagaimana metodenya. Karena itu, untuk mengatasi kompleksitasperbedaan individu dalam belajar nilai pendidik sebaiknya memilih materi secara elektik sesuai dengan topik pembelajaran, kebutuahan siswa, dan kontek kehidupan.44 Pilihan secara eklektik jiga dapat dilakukan dalam menentukan metode atas dasar pertimbangan konteks pengembangan nilai secara mandiri pada peserta didik dan peran-peran penguatan secara imperatif artinya sifat pembelajaran yang menekankan atau mengharuskan peserta didik memiliki nilai atau moral yang baik.45 44 Power, E.J., Philosophy of Education; Studies in Philosoies, Schooling, and Educational Policies (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1982), hlm. 91 45 Tafsir, Ilmu Pendidikan Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 45-48
  • 61.
    39 3. Tahapan Belajar Nilai Dalam memahami nilai, anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengalamannya. Hal ini tidak berarti semua pengalaman anak berlangsung dalam suatu kejadian dan kesatuan yang utuh. Pengalaman pada diri anak pada umumnya merupakan petunjuk kearah perkembangan persepsi dan tindakan yang pada gilirannnya menuntut proses belajar untuk membangun pengalaman itu. Karena itu, strategi dasar yang harus dikembangkan oleh guru meliputi: (1) identifikasi nilai dan tujuan yang hendak dicapai oleh anak, (2) menyusun pengalaman kehidupan yang matang terhadap pengembangan nilai, dan (3) menyediakan sejumlah pengalaman yang memperluas kemampuan anak dalam membangun nilai secara mandiri. Untuk itu, pendidikan nilai pada anak perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan minat dan kepedulian anak terhadap nilai. Egan (UNESCO, 1991) menjelaskan bahwa perkembangan minat dan kepedulian anak terhadap nilai berlangsung dalam empat tahapan, yaitu: tahapan mitos, romantis, filosofis dan ironis. Keepat tahap perkembangan itu berlangsung seiring dengan pertumbuhan fisik anak yang semakin lama semakin dewasa. Secara rinci empat tahapan perkembangan itu dijelaskan pada bagan berikut ini.46 46 Rokhmat Mulyana, op. cit., hlm. 129-130
  • 62.
    40 Tahapan /Usia Jenis Karakteristik Perkembangan Anak belajar melalui cara bermain dan berceritera. Mereka bahagia bermain dengan objek mainan yang melibatkan Tahap Mitos perasaan mereka. Pada tahap ini (5-10 tahun) nilai-moral merupakan perhatian utama yang dibedakan secara hitap putih seperti baik dan jelek, sayang dan benci, suka dan tidak suka, dan sebagainya. Pada rentang usia ini, anak berharap terhadap informasi yang dapat memberikan uraian Tahap Romantis tentang manusia, semangat (8-15 tahun) hidup, petualangan, pengembangan teknologi, olah raga, sampai pada persoalan yang asing bagi dirinya. Tahap ini didominasi oleh keinginan remaja untuk menyederhanakan urutan pengalaman melalui pengambilan kesimpulan yang Tahap Filosofis dibuat sendiri tau melalui tatanan (14-20 tahun) hukum dan peraturan yang sudah baku. Pada tahap ini pula biasanya anak merasa frustasi apabila ada perlakuan-perlakuan khusus atau ada pertentangan dalam penegakan hukum. Pada tahap ini, remaja akhir atau orang dewasa mencoba untuk mencari kesimpulan yang jelas berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Tetapi penarikan kesimpulan dan penjelasan, termasuk pada hal- Tahap Ironis hal yang kontradiktif dan (20 tahun ke atas) membingungkan, tidak saja dihargainya tetapi juga disenanginya. Pada tahap ini anak remaja akhir dan orang dewasa tidak lagi merasa frustasi dengan adanya sesuatu yang bertentangan atau berlawanan.
  • 63.
    41 Selain model perkembangan di atas, masih ada model perkembangan lainnya yang dapat dirujuk sebagai dasar penyadaran nilai pada peserta didik. Tahap perkembangan moral tersebut adalah sebagai berikut: Menurut Lawrence Kohlberg ada tiga tahap perkembangan moral yaitu: ”pra oprasional, konkret oprasional, formal oprasional”.47 Dan menurut Jean Piaget atau tiga tingkat pertimbangan moral (prakonvensional, moralitas konvesional, moralitas konvesional”.48 Tahapan-tahapan perkembangan minat dan kepedulian anak terhadap nilai sebagaimana dikemukakan di atas memiliki implikasi luas bagi ”pendidikan nilai”. c) Landasan Sosial Manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa adanya keterlibatan orang lain atau tanpa melibatkan diri dengan orang lain. Hubungan saling membutuhkan antar individu menandakan bahwa manusia tidak dapat hidup terisolasi dari dunia sekitar. Itulah sebabnya, manusia dalam sejarah pemikiran Eropa Barat disebut homo concors; yakni makhluk yang dituntut untuk hidup secara harmonis dalam lingkungan masyarakatnya. Adalah tidak mungkin bagi manusia untuk secara mutlak mementingkan dirinya sendiri (Absolute egoism), demikian pula manusia tidak akan mampu hidup sepenuhnya 47 Spilka, B., The Psychology of Religion; An Empirical Approch (New Jersey: Prentice- Hall, 1985), hlm. 62-72 48 Syah, M., Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: PT Rosdakarya, 2000), hlm. 77-78
  • 64.
    42 hanya untuk mementingkanorang lain (absolute altruism). Menurut Durkheim, kedua karakteristik perilaku ekstrem tersebut merupakan batas ideal yang tidak pernah dicapai dalam realitas kehidupan manusia. Eksistensi sosial manusia berada di antara dua kutub tersebut. Manusia memiliki keyakinan, sikap, dan tindakan sosial yang lahir karena adanya kebebasan. Tetapi, pilihannya tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari pengaruh-pengaruh dan kepentingan orang lain. Setiap tindakan sosial memiliki tindakan sosial memiliki tujuan dan cara mencapai tujuan itu dilakukan melalui belajar dari pengalaman (trial and eror) dalam suatu proses sosial. Proses seperti ini dialami oleh setiap orang, dan semakin lama semakin mencapai kematangan. Sebagai jalinan kompleks, proses sosial melibatkan sentimen moral yang berkadar kebaikan kepada orang lain dan sentimen yang mengarah pada pemenuhan keinginan pribadi. Sentimen moral dapat menimbulkan aturan-aturan sosial yang mengarahkan kepentingan diri, mengendalikan sikap egois dan mendorong hati yang alamiah, sehingga memungkinkan terwujudnya sebuah kehidupan sosial atas konsesus bersama. Prinsip moralitas sosial didasarkan pada asumsi bahwa manusia mengakui tindakan dan sikap orang lain apabila ia membayangkan dirinya sendiri berada dalam situasi orang lain. Dengan kata lain ia mampu bersikap simpatik atau empatik pada orang lain. Keterikatan antara kebutuhan pribadi dengan kepentingan orang lain, berada dalam pola-pola tanggapan hubungan interpersonal. Pola
  • 65.
    43 itu meliputi: pergerakan mendekati orang, menentang orang dan pergerakan menghindari orang. Kecendrungan mendekatkan diri pada orang lain mencerminkan bahwa manusia memilki kebutuhan hubungan akrab, kerelaan untuk menjalin persahabatan, pertimbangan suka-tidak suka orang lain terhadap dirinya. Kecendrungan menentang orang lain berarti keinginan untuk mengetahui kemampuan orang lain dan memperhitungkan andil orang lain bagi dirinya. Sedangkan menghindari orang lain menunjukkan adanya anggapan bahwa orang lain akan mengganggu dirinya. Pola-pola hubungan interpersonal seperti itu dalam psikologi-sosial, dirumuskan ke dalam sejumlah indikator yang lebih terinci, sehingga kecendrungan sosiometrik seseoarang dapat diidentivikasi dengan jelas. Teori psikologi sosial menjelaskan bahwa ikatan sosial diwujudkan dalam kontek hubungan interpersonal yang melibatkan stimulus, respon, dan tafsiran antar pribadi dalam pola-pola interaksi sosial. Hubungan menjadi bermakna karena didalamnya melibatkan sikap, keyakinan dan tindakan.49 Malim menjelaskan bahwa tindakan sosial individu merefleksikan sikap dan keyakinan seseorang terhadap objek sosial. Karena itu kognisi, perasaan, dan tindakan merupakan aspek-aspek yang saling berkaitan satu sama lainnya dan membentuk suatu sistem sikap, keyakinan dan nilai. Konteks hubungan sosial 49 Hall, C.S dan Linzey, G., op.cit., hlm. 598
  • 66.
    44 dibentuk dalam pola ikatan tertentu dengan menyertakan aspek-aspek psikologis individu dan kelompok. Pandangan-pandangan di atas memiliki implikasi penting bagi pengembangan pengembangan nilai. Sebagai proses penyadaran nilai pada peserta didik, pendidikan nilai perlu dirancang dengan mengangkat nilai-nilai kehidupan sosial yang aktual dan kontektual. Peserta didik perlu diberi kesempatan untuk memeriksa, mempertimbangkan, dan membuat keputusan atas isu-isu sosial serta bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Target utama pendidikan nilai secara sosial adalah membangun kesadaran-kesadaran interpersonal yang mendalam. Peserta didik dibimbing untuk mampu menjalin hubungan sosial secara harmonis dengan orang lain, berempati, suka menolong, jujur, bertanggungjawab, dan menghargai perbedaan pendapat. Semua sikap dan perilaku itu dapat membantu peserta didik untuk hidup secara sehat dan harmonis dalam lingkungan sosial yang dihuninya. d) Landasan Estetik Manusia adalah makhluk yang memiliki cinta rasa keindahan. Cita rasa keindahan (estetik) berkembang sesuai dengan potensi setiap individu dalam menilai obyek-obyek yang bernilai seni. Pada tingkatan tertentu cita rasa keindahan berkembang secara subyektif, dalam arti setiap orang dapat mengespresikan kualitas dan intensitas keindahan yang berbeda. Namun pada tingkatan yang lebih tinggi, cita rasa
  • 67.
    45 keindahan dapat sampaipada penemuan makna keindahan yang hakiki, sehingga ia berada pada wilayah yang obyektif, yakni suatu kebenaran dan kebaikan estetik yang bernilai universal. Dalam proses perkembangannya, cita rasa keindahan melibatkan semua domain yang ada pada diri seseorang, meski yang paling domain adalah aspek perasaan. Proses ini berbeda dari verifikasi empirik dalam menguji kebenaran ilmu pengetahuan. Nilai-nilai estetik berkembang dan dibangun berdasarkan pada keindahan yang terdapat dalam obyek seni. Karena itu, seseorang yang hendak mengembangkan intuisi estetiknya, ia harus mampu mengelompokkan, menimbang, dan menilai fakta-fakta keindahan atau menciptakan bentuk-bentuk karaya seni. Cita rasa keindahan juga berkembang karena manusia memiliki indra. Manusia dapat memperoleh keindahan melalui penglihatan dan pendengaran. Dalam teori estetika, cita rasa keindahan yang diperoleh melalui dua indra tersebut disebut pengalaman estetika tingkat tinggi, sedangkan cita rasa keindahan yang masuk melalui indra lain (hidung, kulit, lidah) merupakan pengalaman estetik tingkat rendah. Hirarki estetik ini dibedakan oleh para ahli berdasarkan jarak antara nilai keindahan dengan fungsi indra secara fisik. Maxine Grenee mengupas detail mengenai komponen estetika beserta implikasinya terhadap pendidikan. Pada salah stu bagian pembahasannya ia menyatakan bahwa nilai estetika perlu dibelajarkan kepada peserta didik agar mereka mengetahui bagaimana cara belajar
  • 68.
    46 yang bermakna. Dalam pendidikan nilai ini baik guru maupun siswa melibatkan proses pemahaman rasa, pilihan pribadi, dan tatanan bentuk yang erat kaitannya dengan karakteristik estetika.50 e) Landasan Yuridis Penyelenggaraan pendidikan nilai dalam konteks Pendidikan Nasional sebenarnya memilki landasan hukum yang kuat. Ideologi negara, undang-undang, dan GBHN merupakan ketentuan yuridis yang banyak mengandung pesan nilai. Karena itu, pendidikan nilai memiliki posisi yang sangat strategis dalam pendidikan nasional, walaupun istilah pendidikan nilai belum terdefinisikan secara tegas dalam kurikilum pendidikan formal. Kalau dilacak lebih jauh, landasan-landasan yuridis yang dapat dijadikan pijakan dalam mengembangkan pendidikan nilai meliputi empat landasan utama, yaitu: Pertama, pancasila sebagai landasan ideal bangsa. Sebagai kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa, Pancasila kaya dengan pesan nilai, moral dan etika asli bangsa. Sebab itu, landasan ideal berbangsa dan bernegara ini dapat dijadikan landasan yang kuat bagi penyelenggaraan pendidikan nilai di sekolah, keluarga atau masyarakat. Secara hierarkis sila-sila yang terdapat dalam Pancasila dengan jelas menempatkan nilai ketuhanan sebagai bagian terpenting, yang kemudian diikuti oleh nilai kodrat kemanusiaan, dan kemudian nilai etis-filosofis persatuan, 50 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 134-135
  • 69.
    47 kerakyatan, dan keadilansosial. Semua nilai yang terkandung dalam pancasila itu tentunya bukan sekedar simbol-simbol retorik saja, tetapi merupakan filsafat atau ideologi bangsa yang harus benar-benar direalisasikan dalam kehidupan berbangsa, berbangsa dan beragama. Kedua, Undang-undang Dasar tahun 1945 (UUD ’45) sebagai landasan konstitusional bangsa. Sebagaimana Pancasila, UUD ’45 memiliki pesan nilai, moral dan norma bangsa. Pesan nilai itu tercermin baik dalam bagian pembukaan maupun dalam batang tubuhnya. Nilai ketuhanan, kodrat kemanusiaan, etis-filosofis bangsa tampak dalam bagian pembukaan, sedangkan pengoganisasian nilai yang terdapat dalam prinsip-prinsip filsafat, polotik, ekonomi etika dan agama bangsa dapat ditemukan dalam batang tubuh UUD ’45. Karena itu, suatu upaya pendidikan nilai memiliki dasar konstitusional yang jelas dan kuat dalam mengembangkan nilai-nilai kehidupan bangsa. Ketiga, Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993 sebagai landasan oprasional bangsa. Sebagai penjabaran dari norma- norma hukum yang terdapat dalam UUD ’45, GBHN dapat dijadikan rujukan yang jelas tentang tujuan pendidikan, utamannya pendidikan nilai. Rumusan tujuan pendidikan nasional yang terdapat dalam GBHN 1993 dengan jelas mengungkapkan lima dari tujuh karakter manusia Indonesia yang bersifat aktif, yaitu: ketakwaan, budi pekerti, kepribadian, semangat bangsa, dan cinta tanah air. Pengembangan lima
  • 70.
    48 aspek itu merupakan garapan utama pendidikan nilai, disamping membantu bangsa agar menjadi cerdas dan terampil. Keempat, Undang-undang Sistem Nasional (UUSPN) Nomor 20 tahun 2003 sebagai landasan operasional penyelenggaraan Pendidikan Nasional. Dengan ditetapkannnya UUSPN ini sebagai pengganti UUSPN Nomor 2 tahun 1989, maka status dan peran pendidikan nilai semakin kuat. Pengembangan aspek-aspek afektif dalam pendidikan formal yang semakin dituntut seimbang dengan dua aspek lainnya, yaitu kognitif dan psikomotorik, sekaligus memperkuat posisi Pendidikan Nilai dalam kontek pendidikan Nasional. Demikian pula, revitalisasi pendidikan agama disekolah mengandung arti bahwa Pendidikan Nilai yang diselenggarakan atas dasar keyakinan beragama perlu ditumbuhkan secara optimal dan unik sesuai dengan potensi-potensi umat beragama. Dengan demikian pendidikan nilai dalam misisnya sebagai penyadaran nilai-nilai humanistik maupun nilai-nilai religius berapa pada posisi yang kuat dan peranan yang tidak kalah pentingnya dari pada pendidikan akademis.51 f) Landasan Religi Walaupun Indonesia bukan negara agama, bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama. Setiap pribadi bangsa memiliki keyakinan bahwa nilai ketuhanan adalah nilai tertinggi. Perwujudan 51 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 152-153
  • 71.
    49 atas keyakinan yangdianut dicerminkan dalam beragam bentuk ritualitas peribadatan yang dilakukan oleh setiap komunitas beragama. Adanya perbedaan agama yang dianut bangsa Indonesia menuntut kehati-hatian dalam menafsirkan istilah iman dan taqwa. Iman dan taqwa yang digunakan sebagai indikator keyakinan beragama dalam Pancasila, UUD 1945, GBHN 1993, dan UUSPN 2003 menunjukkan makna tunggal ika, sedangkan pemberian isi yang berbeda dalam kedua istilah itu berarti bhineka. Dengan kata lain, secara literal terminologi iman dan takwa berlaku umum untuk semua agama, tetapi secara subtansial hal itu dapat dimaknai berbeda. Pada pemaknaan seperti ini, penulis hendak mendudukan landasan religi pendidikan nilai dalam skripsi ini sebagai landasan agama yang dilihat dari perspektif pandangan Islam agar lebih fokus. Sebagai cara hidup (way of life), Islam telah mengajarkan berbagai aspek kehidupan kepada manusia agar hidup selamat dan akhirat. Pemeliharaan dan pengembangan aspek-aspek kehidupa itu ditempuh melalui proses pendidikan di sekolah, keluarga dan masyarakat. Dalam terminologi Islam, pendidikan memiliki padanan kata bahasa arab yang beragam. Ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib merupakan tiga istilah yang mengandung kesetaraan arti dengan pendidikan. Namun, kalau dikaji lebih jauh tiga istilah tadi memiliki tekanan pemaknaan pendidikan yang berbeda. Ahli pendidikan Islam tampaknya sepakat
  • 72.
    50 kalau ta’lim memilikikesetaraan arti dengan pengajaran, tetapi ketika berbicara tentang tarbiyah dan ta’dib, kedua istilah ini sering ditafsirkan agak berbeda. Sebagai misal, untuk mewakili istilah pendidikan an-Nahlawi memilih kata tarbiyah, sedangkan Langgulung memikih kata ta’dib. Keduanya memang memiliki alasan yang rasional. Terlepas dari perbedaan itu, pembelajaran nilai-nilai agama memiliki landasan yang mendasar dalam Islam. Bahkan dapat dikatakan, landasan pendidikan nilai dalam perspektif Islam yang mengandung pesan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diperlukan oleh umat manusia. Dengan demikian, dapat diasumsikan pula bahwa secara umum pendidikan nilai dalam perspektif Islam adalah pendidikan Islam itu sendiri. Adapun hal yang agak membedakannya hanya terletak pada hubungan fungsional antara keduanya. Pendidikan nilai lebih berkarakter aktif dan berkeinginan untuk mengkonstruksi cara-cara pembelajaran yang lebih bermakna bagi terciptanya praktik- praktik pendidikan Islam yang lebih bermutu. Selain itu landasan religi, yang menguatkan pentingnya pendidikan nilai dalam perspektif Islam dapat dilihat dari hakikat fithah sebagai potensi dasar yang positif. Fitrah adalah kekuatan inti pencerahan batin manusia yang secar signifikan berbeda dari konsep tabularasa. Namun, pada diri manusia terdapat fakultas akal, nafsu, dan hati yang saling mengalahkan, potensi dasar ini bisa saja tidak berkembang, ia ditutup oleh nafsu yang melakukan pembangkangan
  • 73.
    51 terhadap eksistensinya, sehingga ketajaman intuisi ketauhidan yang melekat pada dirinya menjadi tumpul dan kurang berkembang. Karenanya, dinamika ruhaniyah yang terjadi pada diri manusia perlu dibimbing ke arah kesadaran nilai dan tindakan yang bernilai melalui suatu upaya pendidikan nilai yang berbasis pada pendidikan moral beragama.52 3. Klasifikasi Pendidikan Nilai Pendidikan nilai merupakan penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang. Untuk itu dalam skripsi ini akan menjelaskan klasifikasi nilai yang harus dikembangkan pada seseorang. Adapun klasifikasi pendidikan nilai tersebut adalah sebagai berikut: 1. Pendidikan Nilai Sosial Pendidikan nilai sosial adalah penanaman nilai-nilai yang mengandung unsur-unsur sosial. dalam dimensi ini terkait dengan interaksi sesama manusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan, kesopanan dan segala macam produk hukum yang ditetapkan manusia. Misalnya: Gotong Royong, toleransi, kerjasama, ramah tamah, solidaritas, kasih sayang antar sesama, perasaan simpatik dan empatik terhadap orang lain, bersahabat dan sebagainya. 2. Pendidikan Nilai Religi Pendidikan nilai agama (religi) adalah penanaman nilai-nilai yang mengandung aspek agama. Nilai-nilai yang mengandung aspek agama di 52 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 153-155
  • 74.
    52 sini dimaksudkan sebagai nilai-nilai yang mengandung unsur keislaman. Oleh karena itu, kajian penanaman nilai-nilai Islami di sini tidak mengupas aspek-aspek tersebut secara terperinci, namun dibatasi pada nilai-nilai pokok ajaran Islam. Nilai pokok ajaran Islam tersebut meliputi aqidah, syariah dan akhlaq. Berikut ini akan dibahas ketiga komponen pokok tersebut adalah sebagai berikut: a) Aqidah Aqidah adalah dimensi ideologi atau keyakinan dalam Islam. Ia merujuk kepada beberapa tingkat keimanan seseorang muslim terhadap kebenaran Islam, terutaman mengenai pokok-pokok keimanan Islam.53 Dalam hal ini, penanaman nilai-nilai mengenai pokok keimanan Islam, ketaqwaan, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Contoh pendidikan nilai dalam ranah ini adalah kewajiban manusia untuk senantiasa bertaqwa pada Allah dan bersyukur yang termuat dalam Surat Lukman ayat 12-13: ãä3ô±o„ $yϑΡÎ*sù öà6ô±tƒ tΒuρ 4 ¬! öä3ô©$# Èβr& sπyϑõ3tø:$# z≈yϑø)ä9 $oΨ÷s?#u™ ô‰s)s9uρ Ï ß≈yϑø)9 tΑ$s% øŒ)uρ ä Î ∩⊇⊄∪ Ó‰‹Ïϑym ;©Í_xî ©!$# ¨βÎ*sù tx x. tΒuρ ( ϵšø uΖÏ9 ÒΟŠÏàtã íΟù=às9 x8÷ŽÅe³9$# žχÎ) ( «!$$Î/ õ8ÎŽô³è@ ω ©o_ç6≈tƒ …çµÝàÏètƒ uθèδuρ ϵÏΖö/eω Ý Ÿ ¢ ∩⊇⊂∪ 53 Mawardi Lubis, Evaluasi Pendidikan Nilai: Perkembangan Moral Keagamaan Mahasiswa PTAIN (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2008), hlm. 24
  • 75.
    53 Artinya: 12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. 13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.54 Adapun target pendidikan nilai hubungannya dengan term aqidah adalah membangun keyakinan interpersonal yang mendalam terhadap kebenaran Islam dan pokok ajarannya. b) Syariah Syariah merupakan aturan atau undang-undang Allah SWT tentang pelaksanaan dan penyerahan diri secara total melalui proses ibadah secara langsung maupun tidak langsung dengan sesaman makhluk lain, baik dengan sesama manusia, maupun dengan alam sekitar. Atau menurut Imam Idris As-Sayafi’i mengemukakan bahwa syariat adalah peraturan-peraturan lahir bagi umat Islam yang bersumber pada wahyu Allah dan kesimpulan-kesimpulan (deducation) yang dapat ditarik dari wahyu Allah dan sebagainya. Peraturan lahir itu mengenai cara bagaimana manusia berhubungan dengan Allah dan sesama makhluk lain selain Allah. Disinilah fungsi penanaman nilai-nilai syariah bagi seseorang. Dengan penanaman nilai-nilai syariah sesorang dapat mengetahui cara bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan dan cara-cara 54 Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Menara Kudus, 1990), hlm. 412
  • 76.
    54 beribadah (ittiqaddiyah) dan mengatur cara bagaimana manusia menyelenggarakan makhluk, yaitu antara manusia dengan manusia dan manusia dengan makhluk lain selain manusia.55 c) Akhlak Akhlak adalah bentuk plural dari khuluq yang artinya tabiat, budi pekerti, kebiasaan.56 Sedangkan Imam Al-Ghazali mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut: ‫ل‬ ‫را‬ ‫را‬ ‫ا‬ ‫ه‬ ‫رة‬ ‫ا‬ ‫و رو‬ ‫إ‬ ‫و‬ Artinya: “Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dahulu)”.57 Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa akhlak adalah kebiasaan dan kehendak. Kebiasaan adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga mudah untuk melaksanakannya, sedangkan kehendak adalah menangnya keinginan manusia setelah mengalami bimbingan. Dari uraian di atas, penulis mengasumsikan bahwa akhlak merupakan suatu bentuk nilai yang harus ditanamkan pada diri seseorang. Tujuan dari penanaman nilai akhlak pada diri seseorang yaitu agar seseorang dapat mengetahui batas mana yang baik dan 55 Mohd. Idris Ramulyo, Asas-asas Hukum Islam: Sejarah Timbul dan BerkembangnyaKedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), hlm. 8 56 Mawardi Lubis, op.cit., hlm. 26. 57 Mustofa, Akhlak Tasawuf (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999), hlm. 12
  • 77.
    55 batas mana yang buruk. Juga dapat menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. 3. Pendidikan Nilai Estetik Nilai estetik adalah nilai yang lebih menghasilkan pada penilaian pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai estetik melekat pada kualitas barang atau memiliki sifat indah. Kecendrungan orang yang memiliki jiwa keindahan biasanya memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif. Dan nilai estetik ini biasanya banyak dimiliki oleh para seniman, seperti musisi, pelukis atau perancang model. Penanaman nilai-nilai yang mengandung unsur-unsur keindahan dan keragaman inilah disebut dengan pendidikan nilai estetik. Pendidikan nilai estetik ini mengarahkan bakat dan membekali seseorang menjadi orang yang ahli sesuai dengan keahliannya.58 4. Pendidikan Nilai Personal Nilai personal adalah nilai-nilai yang bersifat personal terjadi dan terkait secara pribadi atas dasar dorongan-dorongan yang lahir secara psikologi dalam diri seseorang. Misalnya nilai tanggungjawab, daya juang, bekerja keras, percaya diri, berprestasi, rajin, rendah hati, pandai. Selain itu dalam al-Qur’an, banyak dijelaskan contoh pendidikan nilai dalam ranah ini, yaitu: berlaku adil dan tidak mengumbar kebencian. 58 Diane Tillman, Living Value: An Educational Program “Living Value Activities For Children Ages 8-14” ( Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2004), hlm. 13
  • 78.
    56 Dalam surat Al-Maaidah ayat 8 diterangkan: Ÿωuρ ( ÅÝó¡É)ø9$$Î/ u™!#y‰pκà− ¬! šÏΒ≡§θs% (#θçΡθä. (#θãΨtΒ#u™ šÏ%©!$# $pκš‰r'≈tƒ ( 3“uθø)−G=Ï9 Ü>tø%r& uθèδ (#θä9ωôã$# 4 #θä9ω÷ès? žωr& #’n?tã BΘöθs% ãβ$t↔oΨx© öΝà6¨ΖtΒ̍ôftƒ ( ∩∇∪ šχθè=yϑ÷ès? $yϑ/ 7ŽÎ6yz !$# žχÎ) 4 ©!$# (#θà)¨?$#uρ Î © Artinya: 8. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.59 Nilai-nilai di atas perlu ditanamkan pada diri seseorang agar membangun pribadi-pribadi yang mandiri, tidak mudah goyah dan professional.60 C. Pengembangan Pendidikan Islam 1. Pengertian Pengembangan Pendidikan Islam Pengembangan dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai proses, cara, perbuatan mengembangkan.61 Pengembangan dalam pendidikan sangat luas cakupannya. Pada kajian skripsi ini hanya difokuskan pada pengembangan pendidikan Islam melalui penanaman nilai-nilai (pendidikan nilai). Tentunya agar penanaman nilai ini lebih dapat dicapainya, maka pendidikan sebenarnya merupakan sebuah proses tingkah laku peserta didik. 59 Al-Qur’an dan Terjemahannya, op.cit., hlm. 108 60 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 30 61 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1989), hlm. 414
  • 79.
    57 Dinyatakan pengertian pendidikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut: Pendidikan adalah usaha agar manusia dapat mengembangkan dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau … Undang-Undang Dasar Negara Republika Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.62 Batasan ini dengan sangat nyata bahwa pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam menyelenggarakan sistem pendidikan nasional. Pendidikan Islam yang menurut Ahmad D. Marimba bermaksud untuk membimbing jasmani-rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.63 Sedangkan Zuhairini, dkk, Pendidikan Agama berarti usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.64 Dan dalam buku “Wacana Pengembangan Pendidikan Islam” dijelaskan bahwa Pendidikan Islam adalah pendidikan yang didirikan dan diselenggarakan atas dasar hasrat, motivasi, dan semangat untuk memanifestasikan atau mengejawantahkan nilai-nilai Islam, baik nilai- 62 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm. 117 63 Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1989), hlm. 23 64 Zuhairini, dkk, Methodik Khusus Pendidikan Agama (Malang: Biro Ilmiah Fakultas Tarbiyah, 1983), hlm. 27
  • 80.
    58 nilai ketuhanan maupun nilai-nilai kemanusiaan, melalui kegiatan pendidikan sebagaimana tercakup dalam praktik pendidikan Islam.65 Disinilah pendidikan Islam memiliki perananan penting sebagai sebuah proses perubahan tingkah laku dalam menanamkan nilai-nilai luhur Islam. Penanaman nilai-nilai Islam ini juga membutuhkan peranan guru sebagai seorang pengajar. Guru bertanggungjawab untuk mengajarkan atau menanamkan nilai-nilai ajara-ajaran pokok Islam yang meliputi tiga kerangka dasar, yaitu: aqidah, syariah dan akhlah, kemudian membina peserta didik agar beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., serta memiliki akhlak mulia. Penanaman nilai-nilai Islam pada peserta didik inilah yang disebut sebagai pendidikan nilai. Dan implementasi pendidikan nilai ini dapat mewujudkan suatu pengembangan pendidikan Islam khususnya dalam pengembangan moral, karakter, sikap peserta didik yang mengejawantahkan nilai luhur Islam yang sesuai dengan visi, misi dan tujuan Pendidikan Islam. Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu definisi bahwa pengembangan pendidikan Islam merupakan suatu proses, cara atau perbuatan mengembangkan pendidikan Islam melalui penanaman nilai- nilai Islami dengan tujuan untuk mewujudkan perubahan tingkah laku seseorang yang mengejawantahkan nilai-nilai Islam. 65 Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Surabaya: Pusat Studi Agama, Politik dan Masyarakat (PSAMP), 2003), hlm. 6
  • 81.
    59 2. Orientasi PengembanganPendidikan Islam Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang sengaja didirikan dan diselenggarakan dengan hasrat dan niat (rencana yang sungguh- sungguh) untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai Islam, sebagaimana tertuang atau terkandung dalam visi, misi, tujuan program kegiatan maupun pada praktik pelaksanaan kependidikannya. Pengembangan pendidikan nilai merupakan salah satu perwujudan dari pengembangan pendidikan Islam. Aktivitas-aktivitas berdasarkan nilai-nilai dalam proses pembelajaran yang biasa disebut dengan value education ini dalam pengembangan pendidikan Islam berorientasi untuk: 1. Mengembangkan manusia yang setuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pengembangan iman itu dapat ditempuh melalui pengasahan dan pengasuhan jiwa seseorang, pikiran diarahkan untuk menemukan argument baru yang menyangkut objek keimanan seseorang sampai menemukan ketenangan dan ketentraman, sambil beribadah kepada-Nya. Sikap seseorang terhadap Allah ini diaktualisasikan dalam wujud amal shaleh yakni menjalin hubungan dengan Allah dan sesama makhluknya. Aktualisasi dari iman itu menentukan derajat dan tingkat ketaqwaan seseorang;66 2. Dapat mengubah sikap, prilaku yang mengejawantahkan nilai Islami dan motivasi dalam belajar mengajar; 66 Ibid., hlm. 157
  • 82.
    60 3. Memperkuat landasan etika moral. Landasan etika moral harus ditumbuh kembangkan sejak awal, dengan melakukan peningkatan kemampuan dalam pertimbangan moral terhadap setiap perilaku yang akan dipilih; 4. Mengembangkan komitmen seluruh SDM terlibat. Parameter komitmen adalah: jujur peduli, tanggung jawab dan lain-lain;67 5. Memotivasi murid dan mengajak mereka untuk memikirkan diri sendiri, orang lain, dan dunianya berdasarkan nilai-nilai keislaman; 6. Dalam prosesnya akan berkembang keterampilan pribadi, keterampilan komunikasi sosial yang positif, dan emosional, sejalan dengan keterampilan sosial yang damai dan penuh kerjasama dengan orang lain; 7. Mengajarkan penghargaan dan kehormatan tiap-tiap manusia. Belajar menikmati nilai ini menguatkan kesejahteraan tiap individu; 8. Setiap murid benar-benar memperhatikan nilai-nilai yang sesuai dengan pokok ajaran Islam dan mampu menciptakan dan belajar yang positif; 9. Murid-murid berjuang dalam suasana berdasarkan nilai keislaman dalam lingkungan yang positif, aman dengan sikap saling menghargai dan kasih sayang.68 67 A. Malik Fajar, dkk., Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya Merespon Dinamika Masyarakat Global (Yogyakarta: Aditya Media Yogyakarta Bekerja Sama dengan UIN Press, 2004), hlm. 10-11 68 Diane Tillman, op.cit., hlm. 13-14
  • 83.
    61 Dari uraian tentang orientasi pengembangan pendidikan Islam di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya penanaman nilai-nilai Islam akan membekali individu menjadi manusia yang professional yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, cakap dan menjadi seseorang yang bertanggung jawab. D. Pendidikan Nilai dalam Pengembangan Pendidikan Islam 1. Pendidikan Nilai dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat dimaknai dari dua sisi: yaitu Pertama, ia dipandang sebuah mata pelajaran seperti dalam kurikulum sekolah umum (SD, SMP, SMA). Kedua, ia berlaku sebagai rumpun pelajaran yang terdiri atas mata pelajaran Aqidah, Akhlaq, Fiqh, Qur’an- Hadist, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab seperti yang diajarkan di madrasah (MI, MTs, dan MA). Pada bagian ini pendidikan nilai melalui PAI dimaksudkan pada pemaknaan yang pertama, walaupun dalam kerangka umum dapat mencakup keduannya. Sebagai mata pelajaran, Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peranan penting dalam menyadarkan nilai-nilai agama Islam kepada peserta didik. Muatan pelajaran yang mengandung nilai, moral dan etika agama menempatkan PAI pada posisi terdepan dalam pengembangan moral beragama siswa. Hal itu sekaligus berimplikasi pada tugas-tugas guru PAI yang kemudian dituntut lebih banyak perannya dalam penyadaran nilai-nilai keagamaan.
  • 84.
    62 Beberapa karakter PAI sebagai mata pelajaran diungkapkan dalam buku pedoman khusus PAI (Depdiknas, 2002), sebagai berikut: 1. PAI merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok agama Islam, 2. PAI bertujuan membentuk peserta didik agar beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., serta memiliki akhlak mulia, dan 3. PAI mencakup tiga kerangka dasar, yaitu: aqidah syariah dan akhlaq. Berdasarkan karakter di atas, PAI jelas berbeda dengan pelajaran lainnya. Muatan inti PAI adalah nilai-nilai kebenaran dan kebaikan (juga keindahan) yang berasal dari wahyu. Nilai-nilai itu tercakup dalam kerangka dasar PAI yang harus dikuasai oleh peserta didik. Apabila hal itu dikaitkan dengan pendidikan nilai, maka persoalan utama yang menjadi tanggungjawab guru PAI adalah bagaimana agar pengetahuan tentang tiga kerangka dasar itu menyatu dengan kesadaran yang optimal terhadap nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Walaupun mudah diprediksi bahwa belajar al-Qur’an dan as-Sunnah secara inherent melibatkan nilai, perlu dipikirkan cara-cara terbaik agar peserta didik, selain hafal dan mengerti, juga ia memiliki kesadaran yang tinggi untuk melakukannya. Oleh karenanya, kebiasaan mengajar yang terjadi selama ini memerlukan cara yang lebih eksploratif baik deduktif maupun induktif.69 69 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 198-199
  • 85.
    63 2. Pendidikan Nilai dalam Bingkai Cerita dan Kisah Sebagai Bentuk Pengembangan Pendidikan Islam Cerita atau kisah merupakan suatu metode mengajar dengan bentuk bercerita atau berkisah.70 Kegiatan cerita atau kisah merupakan salah satu cara yang ditempuh guru untuk memberi pengalaman belajar agar anak memperoleh penguasaan isi cerita yang disampaikan. Melalui cerita atau kisah diharapkan anak dapat menyerap pesan-pesan yang dituturkan melalui kegiatan bercerita.71 Pengenalan cerita dan kisah yang baik terhadap anak didik sebenarnya sudah sangat dikenal, baik oleh orang tua maupun kalangan pendidik. Akan tetapi dalam kenyataannya, masih saja ada bolong-bolong atau bahkan terdapat keteledoran. Cerita atau kisah, bagaimanapun lebih mudah untuk dipahami dibandingkan dengan wacana yang sering kali kaku dan keras untuk dicerna. Proses identifikasi antara seseorang dan tokoh tertentu sebenarnya bersifat alamiah karena setiap orang butuh untuk dituntun dalam mengarungi kehidupan dan menjalani dirinya sendiri. Bagaimanapun pembentukan karakter melalui tokoh yang baik sangat penting. Misalnya dalam guru PAI memberikan cerita atau tentang seorang tokoh Islam yaitu Nabi Muhammmad, atau Usman Bin Affan dan lain-lain. Oleh karena itulah, cerita atau kisah harusnya selalu ada, diciptakan dan dinikmati. 70 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), hlm. 205 71 Moeslichatoen R, Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanan (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), hlm. 170
  • 86.
    64 Akan tetapi tentu saja sangat mengenaskan ketika di negeri ini cerita atau kisah yang layak konsumsi tidak terlalu diperhatikan dengan baik. Cerita atau kisah hubungannya dengan pendidikan nilai yaitu sesuai dengan misi pendidikan nilai adalah memuncakkan domain afektif dalam rangka memanusiakan manusia, maka cerita atau kisah yang ditampilkan mewakili kisi-kisi tentang kemanusiaan dan menjadi manusia. Diantara kisi-kisi itu adalah: menolong sesama, kebermanfaatan, empati, kejujuran, saling berbagi, kesejatian, hikmah (pelajaran berharga), kegigihan dan keuletan, toleransi, menghargai sesama, kesabaran, mengedepankan kebaikan dari pada keburukan, bahaya keburukan, dan kualitas amal. Di sini tidak akan dibahas tentang kebenaran dan alur cerita atau kisah, karena pembahasan yang sebenarnya adalah mengupas kulit, mengambil inti. Bagi sebagian orang, cerita mungkin tidak penting karena hanyalah bingkai untuk memperlihatkan isi yang sebenarnya, yaitu pesan dan nilai yang ada dalam cerita atau kisah. Namun sebagian yang lain cerita atau kisah itu sangat penting karena didalamnya dianggap sebagai frame yang membungkus nilai moral yang diembannya.72 Dari uraian di atas jelaslah bahwa cerita atau kisah sangat membantu dalam menanamkan pesan-pesan atau nilai pada peserta didik. Melalui metode mengajar cerita atau kisah ini, pendidikan nilai telah dimainkan peranannya. Pendidikan nilai dalam bingkai cerita dan kisah ini, sangat membantu perkembangan prilaku atau tingkah laku peserta didik baik 72 Zaim Elmubarok, op.cit., hlm. 142-144
  • 87.
    65 dalam ranah religi sosial, personal, maupun estetika. Aktivitas tersebut, jika dikaitkan dengan pendidikan Islam akan dapat membantu dalam proses pembelajaran yang nantinya dapat mewujudkan suatu pengembangan dalam pendidikan Islam. Disinilah peranan pendidikan nilai dalam bingkai cerita dan kisah dalam pengembangan pendidikan Islam. 3. Kontribusi Pendidikan Nilai dalam Pengembangan Pendidikan Islam Secara perspektif Islam pendidikan nilai diklasifikasikan ke dalam tiga komponen yaitu nilai aqidah, syariah dan akhlak. Nilai-nilai ini di dalam lembaga pendidikan Islam telah diakomodasikan dengan mengintegrasikan pendidikan nilai-nilai tersebut ke dalam pendidikan agama Islam. Sebagai realisasinya, tiga komponen tersebut merupakan materi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diajarkan. Kegiatan pendidikan nilai yang direalisasikan pada peserta didik merupakan suatu proses pembelajaran. Proses pembelajaran berarti memberikan para siswa secara terkondisi, mereka belajar dengan mendengar, menyimak, melihat, meniru apa-apa yang diinformasikan oleh guru atau fasilitator di depan kelas, dengan belajar seperti ini mereka memiliki perilaku sesuai dengan tujuan yang telah dirancang guru sebelumnya.73 Tercapainya perilaku yang dikehendaki merupakan keberhasilan pembelajaran. Apabila pengajaran nilai-nilai tersebut dapat merubah perilaku, sikap atau tindakan siswa, ini berarti proses 73 Martinis Yamin, Profesionalisme Guru dan Implementasi KTSP (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), hlm. 72
  • 88.
    66 pembelajaran yang dilakukan telah berhasil.74 Dan keberhasilan pembelajaran ini akan mempengarui terhadap mutu atau kualitas sumber daya manusia (SDM) yaitu peserta didik. Keberhasilan proses pembelajaran dan kualitas sumber daya manusia (SDM) ini sangat mempengaruhi terhadap pengembangan pendidikan. Pendidikan di sini dikhususkan pada pendidikan Islam. Perihal aktivitas pendidikan nilai yang dilakukan sebagai proses pembelajaran di lembaga pendidikan Islam dapat mempengaruhi serta mengembangkan kepribadian peserta didik menjadi manusia yang berakhlak mulia, baik, memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai ajaran Islam, mandiri, menerapkan ilmu atau nilai yang telah diperolehnya. Ini berarti proses pendidikan nilai telah memberikan kontribusi yang berupa konstruksi ideologi nilai-nilai Islam terhadap pengembangan pendidikan Islam. Kontribusi pendidikan nilai dalam pengembangan pendidikan Islam ini yang akan menjadi acuan pembenaran atas sikap dan prilaku dalam menjalankan fungsi pelayanan pendidikan Islam. Sebagai konstruksi idelogi, nilai-nilai yang dibangun dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dengan kompetensi ungul dibangun oleh seluruh sinergi positif.75 74 Ibid., hlm. 79 75 Direktorat Jenderal Pendidikan Non-Formal dan Informal, Kian Berat Tantangan Pendidikan Formal (http: www.pnfi.depdiknas.go.id, diakses 14 Februari 2009)
  • 89.
    BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut. Kutipan-kutipan data yang disajikan dalam penelitian ini ditegaskan dalam bentuk lampiran tabel pemaparan data yang diperoleh dari pemahaman makna yang terdapat pada setiap kata, kalimat, paragraf, teks dan juga unsur pengembangan karya sastra seperti alur, tokoh, setting dan tema. Dari pemahaman makna secara keseluruhan, dilakukan penafsiran dan pengkategorian data yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi. Dan selanjutnya data-data tersebut dianalisis berdasarkan pengkategoriannya. Karakteristik penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif memiliki beberapa ciri, yaitu: latar ilmiah, manusia sebagai alat instrumen, metode kualitatif, analisis data secara induktif, grounded theory dan deskriptif.76 Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua ciri, yaitu: manusia sebagai alat atau instrumen, maksudnya peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama dan ciri kedua, deskriptif, yakni data yang dikumpulkan berupa kata-kata. Berdasarkan kedua 76 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kuaitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002), hlm. 4 67
  • 90.
    68 ciri tersebut analisis pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi sebagai pengembangan pendidikan Islam perlu dilakukan pembacaan dan telaah secara mendalam tentang makna kata-kata yang terdapat dalam dialog dan narasi cerita. Peneliti terlibat secara penuh dan aktif dalam mengapresiasi isi novel dan menemukan data-data utama yang menunjukkan pada permasalahan sesuai dengan rumusan masalah. B. Data dan Sumber Data Hubberman menegaskan data kualitatif merupakan sumber dari deskripsi yang luas dan berlandasan kokoh serta memuat penjelasan tentang proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat. Dengan demikian, data verbal dapat difahami baik melalui alur peristiwa secara kronologis, narasi, maupun dialog yang dituangkan Andrea Hirata dalam novelnya Laskar Pelangi harus disikapi sebagai kesatuan tutur yang lebih lengkap berupa kata, kalimat, serta paragraf sehingga membentuk suatu wacana yang utuh.77 Sumber data utama dalam penelitian ini adalah naskah novel karya Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi Karya ini memiliki latar belakang nilai pendidikan yang kuat pun juga penanaman pendidikan nilai yang direpresentasikan dalam novel ini memberikan suatu motivasi dan kontribusi yang luas biasa. Perolehan data tersebut dilakukan peneliti dengan cara mengidentifikasi data sesuai dengan arah permasalahan yang terurai dalam bab IV yakni hasil penelitian. 77 Michael Hubberman, A. Miles, Mattew B, Analisis Data Kualitatif ( Jakarta: Universitas Indonesia, 1992), hlm. 1
  • 91.
    69 C. Teknik PengumpulanData Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: (1) teknik observasi, (2) teknik komunikasi, (3) teknik pengukuran, (4) tekinik wawancara, dan (5) teknik telaah dokumen. Dari kelima teknik pengumpulan data tersebut, peneliti menggunakan teknik telaah dokumen atau biasa disebut dengan studi dokumentasi. Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Keuntungan telaah dokumen ini ialah bahwa bahan itu telah ada, telah tersedia dan siap pakai. Menggunakan bahan ini tidak memerlukan biaya, hanya memerlukan waktu untuk mempelajarinya. Banyak yang dapat ditimba pengetahuan dari bahan itu bila dianalisis dengan cermat yang berguna bagi penelitian yang dijalankan.78 Dalam melaksanakan studi dokumentasi ini peneliti memilih novel laskar pelangi sebagai bahan dalam pengumpulan data tersebut. Langkah-langkah yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data penelitian adalah sebagai berikut: 1. peneliti membaca secara komprehensif dan kritis yang dilanjutkan dengan mengamati, nilai-nilai dalam novel laskar pelangi, kemudian metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, nilai-nilai apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. Dan dari kegiatan ini peneliti mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang sesuai dengan rumusan masalah, 78 Rochajat Harun, Metode Penelitian Kualitatif untuk Pelatihan (Bandung: Mandar Maju, 2007), hlm. 70
  • 92.
    70 2. peneliti mencatat paparan bahasa yang terdapat dalam dialog-dialog tokoh, prilaku tokoh, tuturan ekspresif maupun deskriptif dari peristiwa yang tersaji dalam novel, dan 3. peneliti mengidentifikasi, mengklasifikasi dan menganalisis novel sesuai dengan rumusan masalah. Dari langkah-langkah di atas diperoleh data verbal sebagai berikut: (1) data berupa paparan bahasa yang mengemban nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, (2) data berupa paparan bahasa yang mengemban metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi (3) data berupa paparan bahasa yang mengemban nilai- nilai apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) data berupa paparan bahasa yang mengemban kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. D. Instrumen Penelitian Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai instrumen. Instrumen penelitian di sini dimaksudkan sebagai alat pengumpul data harus benar-benar dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan data sebagaimana adanya.79 Di sini kedudukan peneliti sebagai isntrumen penelitian artinya dalam penelitian ini, peneliti sendiri yang melakukan penafsiran makna dan menemukan nilai-nilai tersebut. Peneliti 79 Margono, Metode Penelitian Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), hlm. 155
  • 93.
    71 juga merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian.80 Kegiatan yang dilakukan peneliti sehubungan dengan pengambilan data yaitu, kegiatan membaca teks novel laskar pelangi dan peneliti bertindak sebagai pembaca yang aktif membaca, mengenali, mengidentifikasi satuan- satuan tutur yang merupakan penanda dalam satuan-satuan peristiwa yang di dalamnya terdapat gagasan-gagasan dan pokok pikiran hingga menjadi sebuah keutuhan makna. E. Analisis Data Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, (2) mengidentifikasi metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, (3) mengidentifikasi nilai-nilai apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) mengidentifikasi kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah analisis konten. Analisis konten merupakan model kajian sastra yang tergolong baru. Analisis konten digunakan apabila si peneliti hendak mengungkap, memahami dan mengungkap pesan karya sastra.81 Dalam buku Content Analysis dan Focus Group Discussion dalam Penelitian Sosial bahwa Content Analysis adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru 80 Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 168 81 Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2003), hlm. 160
  • 94.
    72 (replicabel),dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi.82 Content analysis dalam sastra mendasarkan pada tiga asumsi penting karya sastra adalah fenomena komunikasi pesan yang terselubung, didalamnya memuat isi yang berharga bagi pembaca. Kajian sastra semacam ini, secara epistemologis merupakan penelitian yang banyak menggunakan paham positifistik. Analisis harus mendasarkan pada prinsip obyektivitas, sistematis dan generalisasi. Objektivitas ditempuh melalui bangunan teoritik. Sistematis karena memanfaatkan langkah-langkah yang jelas. Generalisasi berdasarkan konteks karya secara menyeluruh untuk memperoleh inferensi. Komponen penting dalam analisis konten adalah adanya masalah yang dikonsultasikan lewat teori. Itulah sebabnya, karya sastra yang akan dibedah lewat content analysis harus memenuhi syarat-syarat: memuat nilai-nilai dan pesan yang jelas. Misalnya saja: memuat pesan pendidikan nilai sosial, religi dan budi pekerti dan sebagainya. Prosedur analisis konten dalam bidang sastra hendaknya memenuhi syarat-syarat: (a) teks sastra perlu diproses secara sistematis, menggunakan teori yang telah dirancang sebelumnya, (b) teks tersebut dicari unit-unit analisis dan dikategorikan sesuai acuan teori, (c) proses analisis harus mampu menyumbangkan ke pemahaman teori, (d) proses analisis mendasarkan pada deskripsi, dan (e) analisis dilakukan secara kualitatif.83 82 Burhan Bungin, Content Analysis dan Focus Group Discussion dalam Penelitian Sosial (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 172 83 Suwardi Endraswara, op.cit., hlm. 162
  • 95.
    73 Menurut Noeng Muhadjir, secara teknis content analisis mencakup upaya: a. klasifikasi tanda-tanda yang dipakai dalam komunikasi, b. menggunakan kriteria sebagai dasar klasifikasi, dan c. menggunakan teknik analisis tertentu sebagai membuat prediksi. Kemudian para ahli mengemukakan beberapa syarat content analisis, yaitu: objektivitas, pendekatan sistematis, dan generalisasi.84 Menurut Patton, dalam metodologi penelitian kualitatif, istilah analisis menyangkut kegiatan (1) pengurutan data sesuai dengan tahap permasalahan yang akan dijawab, (2) pengorganisasian data dalam formalitas tertentu sesuai dengan urutan pilihan dan pengkategorian yang akan dihasilkan, dan (3) penafsiran makna sesuai dengan masalah yang harus dijawab.85 Sesuai dengan masalah yang digarap dalam penelitian ini, maka kegiatan yang dilakukan adalah pemberian makna pada paparan bahasa berupa (1) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, (2) paragraf- paragraf yang mengandung gagasan tentang metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, (3) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap 84 Soejono dan Abdurrahman, Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan ( Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hlm. 14-15 85 Ibid., hlm. 103.
  • 96.
    74 pengembangan pendidikan Islam. Pemahaman dan analisis tersebut dilakukan melalui kegiatan membaca, menganalisis dan merekonstruksi. Dalam melakukan pemaknaan data peneliti harus memiliki dasar pengetahuan dan pengalaman tentang klasifikasi pendidikan nilai, metode ngajar pendidikan nilai, nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam dan kontribusi pendidikan nilai dalam pengembangan pendidikan Islam sesuai acuan teori. F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Sebagai upaya untuk memeriksa keabsahan data peneliti menggunakan beberapa teknik antara lain: 1. Teknik ketekunan pengamat, yakni peneliti secara tekun memusatkan diri pada latar penelitian untuk menemukan ciri-ciri dan unsur yang relevan dengan persoalan yang diteliti. Peneliti mengamati secara mendalam pada novel agar data yang ditemukan dapat dikelompokkan sesuai dengan kategori yang telah dibuat dengan tepat;86 2. Teknik berdiskusi dengan teman sejawat yang mengambil jurusan bahasa dan sastra;87 3. Berdiskusi dengan para pakar sastra, pakar pendidikan nilai dan pakar pendidikan Islam. Selain itu dalam pengumpulan data peneliti dipandu rambu-rambu yang berisi ketentuan studi dokumentasi tentang pendidikan nilai. Perolehan tersebut dilakukan peneliti dengan identifikasi data sesuai dengan arah permasalahan dalam penelitian. Adapun rambu-rambu tersebut antara lain: 86 Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 329-330 87 Hamidi, Metode Penelitian Kualitatif (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2004), hlm. 82
  • 97.
    75 1. Dengan bekalpengetahuan, wawasan, kemampuan dan kepekaan yang dimiliki, peneliti membaca sumber data secara kritis cermat dan teliti. Peneliti membaca berulang-ulang untuk menghayati dan memahami secara kritis dan utuh terhadap sumber data; 2. Dengan berbekal pengetahuan, wawasan, kemampuan dan kepekaan peneliti melakukan pembacaan sumber data secara berulang-ulang dan terus menerus secara berkesinambungan. Langkah ini diikuti kegiatan penandaan, pencatatan, dan pemberian kode (coding); 3. Peneliti membaca dan menandai bagian dokumen, catatan, dan transkripsi data yang akan dianalisis lebih lanjut. Langkah ini dipandu dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.
  • 98.
    BAB IV PAPARAN DATA A. Deskripsi Unsur-unsur Novel Laskar Pelangi Unsur-unsur yang terdapat dalam novel laskar pelangi meliputi beberapa hal: (1) tokoh atau penokohan, (2) latar, (3) alut atau plot, dan (4) tema. 1. Tokoh atau Penokohan yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong yang penuh dengan keterbatasan. Mereka adalah: 1. Ikal 2. Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara 3. Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah 4. Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam 5. A Kiong (Chau Chin Kiong); Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman 6. Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz 7. Kucai; Mukharam Kucai Khairani 8. Borek aka Samson 76
  • 99.
    77 9. Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari 10. Harun; Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ramadhan Mereka bersekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP, dan menyebut diri mereka sebagai Laskar Pelangi. Adapun tokoh-tokoh lainnya adalah sebagai berikut: 1. Bu Muslimah : Bernama lengkap N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid. Dia adalah Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi. Wanita lembut ini adalah pengajar pertama Laskar Pelangi dan merupakan guru yang paling berharga bagi mereka. 2. Pak Harfan : Nama lengkap K.A. Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor. Kepala sekolah dari sekolah Muhammadiyah. Ia adalah orang yang sangat baik hati dan penyabar meski murid-murid awalnya takut melihatnya. 3. Flo : Bernama asli adalah Floriana, seorang anak tomboi yang berasal dari keluarga kaya. Dia merupakan murid pindahan dari sekolah PN yang kaya dan sekaligus tokoh terakhir yang muncul sebagai bagian dari laskar pelangi. Awal pertama kali masuk sekolah, ia sempat membuat kekacauan dengan mengambil alih tempat duduk Trapani sehingga Trapani yang malang terpaksa tergusur. Ia melakukannya dengan alasan ingin duduk di sebelah Mahar dan tak mau didebat.
  • 100.
    78 4.A Ling : Cinta pertama Ikal yang merupakan saudara sepupu A Kiong. A Ling yang cantik dan tegas ini terpaksa berpisah dengan Ikal karena harus menemani bibinya yang tinggal sendiri. 2. Latar yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Awal penulis tertarik membaca novel yang berlatar belakang kehidupan anak-anak pada sebuah komunitas Melayu Belitong ini karena maraknya pembahasan novel ini di media massa. Novel ini mengangkat cerita tentang kehidupan anak-anak yang tinggal di daerah pesisir pulau Belitong selama menempuh pendidikan dasar di sekolah Muhammadiyah. Pada awal-awal novel, Andrea Hirata mencoba menggambarkan realita sosial yang terjadi pada masyarakat asli di sana, terutama komunitas Melayu Belitong yang kontradiktif dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Tampaknya isi cerita ini memberikan kesan yang menyentuh hati bagaimana sebelas anak-anak yang menjuluki diri mereka sebagai laskar pelangi ini memiliki motivasi tinggi berjuang memperbaiki nasib masyarakat Melayu Belitong yang masih jauh tertinggal. Mereka berjuang dengan cara mereka masing- masing. Terlihat dari keunikan masing-masing anak dibahas oleh Andrea Hirata setiap bab di novel ini. Selain itu, gaya bahasa yang digunakan penulis terkesan ilmiah sekali dengan banyaknya istilah-istilah ilmu eksak yang ditemukan setiap alur cerita. Namun hal ini tidak mengurangi sisi keindahan sebuah karya sastra yang digemari masyarakat awam ini, malah
  • 101.
    79 menurutsaya justru memperkaya khazanah berpikir sambil berimajinasi dalam membayangkan isi fiksi ini. Menurut penulis, setting latar cerita, sangat identik dengan tahun 80-an selain itu juga menggambarkan latar kehidupan salah satu komunitas di pulau Belitong dan sepatutnya kita dapat menangkap esensi dari cerita ini yang hendak disampaikan oleh Andrea Hirata. Memang tidak mudah menceritakan kejadian-kejadian yang dialami oleh seorang anak kecil apalagi masa-masa kecil kita dahulu yang penuh dengan idealisme untuk dijadikan sebuah pemacu semangat bagi orang-orang dewasa yang terlampau berpikir pragmatis dalam menilai hidup ini. Sampai umur berapa pun, setiap orang dapat mewujudkan cita-cita masa kecilnya dahulu yang masih tersimpan di memori. Oleh karena itulah, Andrea Hirata membuktikan hal tersebut dalam novelnya Laskar Pelangi ini. Oleh karena itu, saya cukup terkesan dalam membaca novel ini. Saya juga menyarankan novel ini sangat baik dibaca oleh berbagai kalangan yang peduli akan pendidikan di Indonesia. Sehingga suatu saat akan bermunculan generasi laskar pelangi yang memberikan perubahan terhadap nasib bangsa kita, Indonesia. 3. Alur atau Plot yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Salah satu buku sastra paling populer beberapa tahun belakangan ini adalah novel Laskar Pelangi karya penulis Andrea Hirata. Ini merupakan buku pertama dari tetralogi di samping Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Penulis tidak akan membahas keempat buku
  • 102.
    80 tersebut secara bersamaan,karena pada tulisan ini penulis akan lebih banyak mengungkap tentang buku best seller (sebenarnya rata-rata keempatnya merupakan best seller) yakni Laskar Pelangi. Selain laris manis dalam bentuk buku (terbukti dari cetak ulang yang berkali-kali), Laskar Pelangi juga telah ditampilkan dalam bentuk layar lebar. Kisahnya menjadi lebih dramatis karena pembaca dapat bisa secara langsung melihat dengan jelas visualisasi dari novel tersebut. Selain menyajikan pemandangan alam Belitung yang indah (yang masih belum banyak terjamah tangan manusia). Membaca novel ini, sadar atau tidak, pembaca akan terhanyut pada kisah sederhana yang mengharu biru ini. Semua rasa menjadi satu, ada sedih, senang, suka, duka, lucu, penuh warna seperti goresan pelangi. Buku Laskar Pelangi, sebenarnya bukan “murni” novel. Seperti yang dijelaskan sendiri oleh penulisnya kalau Laskar Pelangi sebenarnya merupakan sebuah memoar sebagian kisah hidup penulis beserta teman- temannya semasa kecil yang mereka namakan sebagai Laskar Pelangi. Namun, memoar tersebut disajikan alur (plot) bercerita, sehingga bolehlah kita sebut novel. Novel Laskar Pelangi merupakan sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata (true story) penulisnya. Selain memiliki alur yang jelas, penggambaran tokoh dan setting disajikan oleh Andrea dengan sangat baik. Selain itu, banyak juga pengetahuan-pengetahuan baru yang bisa diserap sewaktu membaca buku ini.
  • 103.
    81 3. Tema yangTerdapat dalam Novel Laskar Pelangi Sebuah tema yang sudah jarang diangkat. Pentingnya arti menuntut ilmu, adalah makna sentral novel Laskar Pelangi. Ketika dihadapkan pada sebuah kondisi yang membuat miris, kita dikejutkan berkali-kali dengan gejolak muda para tokoh dalam cerita ini. Dihiasi dengan eksplorasi mendetail akan pulau bangka belitung (Belitong kala itu), semuanya disajikan dengan gaya bertutur yang menghibur. Adalah Ikal, tokoh sentral dalam novel ini. Kisah berjalan melalui sudut pandangnya dalam mencermati realita kehidupan. Saat ia menyaksikan satu persatu benturan-benturan ketimpangan hidup ini. Sebuah jalinan kisah suka dan duka, perputaran yang membuat pembaca mengalami gejolak perasaan naik dan turun, rasa miris akan ironi, gelak tawa akan kekonyolan para tokohnya, juga golakan perasaan pada saat sorak kemenangan. Laskar pelangi adalah 10 orang anak pulau Belitong yang disatukan saat hari pertama mereka masuk sekolah, di sekolah Muhammadiyah yang dilukiskan laksana gudang kopra. Mereka sangat miskin, tidak mampu bersekolah di sekolah negeri atau sekolah PN Timah (yang diceritakan sebagai sekolah elit khusus anak pegawai kelas tinggi PN Timah). Temui Lintang sang jenius, anak nelayan pedalaman yang mampu memcahkan soal-soal fisika yang rumit hanya dalam hitungan detik, Mahar yang seniman dengan bakat alam yang kerap membuat orang tercengang, Trapani yang tampan namun cinta ibu, Sahara, muslimah yang galak
  • 104.
    82 gemar mencakar, kucaiyang merepresentasikan sosok politikus sejak lahir, A kiong yang polos namun figur sobat sejati, Samson yang perkasa, Harun yang 15 tahun lebih tua karena terbelakang, dan syahdan yang tidak menonjol namun kelak paling sukses diantara mereka. Juga Flo, perempuan tomboi yang meninggalkan sekolah elitnya untuk bergabung dengan laskar pelangi. Lembaran demi lembaran membawa kita melintasi 9 tahun mereka berpetualang di sekolah itu hingga menjadi apa mereka disaat dewasa kelak. Kadang membuat kita berdecak kagum melihat rentetan peristiwa yang dialami anak-anak ini. Mahar dalam usianya yang belia telah mampu menjadi arranger sebuah komposisi musik yang rumit perpaduan antara tabla, sitar dan electone yang menghasilkan penyajian menggugah lagu owner of the lonely heart-nya yess dan light my fire-nya the doors. Mahar juga mampu membuat koreografi kontemporer ala suku Masai afrika pada saat karnaval sekolah. Kemudian lintang, bocah ini adalah sosok jenius yang menonjol dalam segala mata pelajaran. Ia mampu menguasai kalkulus sewaktu SD, dan teori fisika optik di bangku kelas dua SMP, mampu menyelesaikan hitung-hitungan matematika yang paling rumit dalam hitungan detik tanpa membuat coret-coretan. Dan sosok laskar pelangi lainnya dengan keunikannya masing-masing. Sebuah renungan dalam memandang pendidikan masyarakat kita di usia dini. Penulis menyajikan cerita ini dengan meluapkan kritik dan kegundahannya pada setiap kejadian yang dialami para tokoh. Juga
  • 105.
    83 disertakan kekuatan referensinya dalam membedah setiap detail keindahan pulau belitong. Meskipun dibeberapa bagian masih tampak berlebihan dan dipaksakan, namun pembaca menjadi jelas akan perbedaan kelas, ketimpangan sosial, dan kehidupan kalangan miskin di belitong kala itu. Juga pembaca akan tersenyum simpul dalam beberapa cerita, seperti cinta antar etnis sang tokoh dengan aling, bocah perempuan cina yang masih sensitif kala itu. Atau pertemuan dengan Tuk bayan tulla yang dukun misterius, atau dengan Bodenga sang pemuja Buaya yang dilukiskan seperti Bushman dalam film God Must Be Crazy. B. Deskripsi Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Pada bab empat ini, penulis akan mendeskripsikan nilai-nilai yang terdapat dalam novel laskar pelangi. Deskripsi nilai-nilai tersebut adalah hasil analisis penelitian penulis dengan menggunakan teori yang telah dirancang sebelumnya. Adapun nilai-nilai yang akan penulis deskripsikan yaitu mengenai nilai- nilai yang bersifat global, bukan nilai yang bersifat Islami. Nilai-nilai itu meliputi: (a) nilai personal, (b) nilai sosial, dan (c) nilai estetika. Nilai personal merupakan nilai-nilai yang perlu ditanamkan dan dimiliki seorang individu dalam kehidupannya. Nilai personal yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi meliputi: nilai tanggung jawab, nilai keteguhan pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, nilai dermawan, nilai perjuangan, nilai kompetisi, nilai kecerdasan, nilai percaya diri, nilai keikhlasan, nilai kebahagiaan, nilai
  • 106.
    84 disiplin, nilai perjuanganmenuntut ilmu, nilai sigap menghadapi masalah, nilai rendah hati, nilai ketangkasan, nilai gagah berani, nilai kerinduan, nilai iba, dan nilai tekad untuk lebih baik. Nilai sosial adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kemanusiaan. Nilai-nilai dalam dimensi ini terkait dengan interaksi sesama manusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan, kesopanan dan segala macam produk hukum yang ditetapkan manusia. Nilai sosial yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi antara lain: nilai multikultural, nilai tolong menolong, nilai keharmonisan, nilai mutualisme, sopan santun, nilai partisipatif, nilai sportifitas, nilai dukungan pada seseorang, nilai kepedulian, nilai keakraban, nilai persahabatan. Dan nilai estetika yaitu nilai yang lebih menghasilkan pada penilaian pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai estetik melekat pada kualitas barang atau memiliki sifat indah. Kecendrungan orang yang memiliki jiwa keindahan biasanya memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif. Dalam hal ini, nilai-nilai estetika yang terdapat pada novel Laskar Pelangi adalah sebagai berikut: nilai keindahan, nilai imajinatif, nilai seni drama, nilai seni sastra, dan nilai kreatif atau originalitas. Table 1 Paparan Data Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata No Deskripsi Nilai-nilai Teks Dalam Novel Laskar Pelangi 1. Nilai tanggung jawab ”Pak Harfan tampak amat bahagia
  • 107.
    85 menghadapi murid, tipikal guru yang sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya, india, yaitu orang yang tak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi muridnya” (hlm. 23). 2. Nilai perjuangan “Pak Harfan menceritakan semua itu dengan semangat perang Badar sekaligus setengah embusan angin pagi. Kami terpesona pada setiap pilihan kata dan gerak lakunya yang memikat. Ada semacam pengaruh yang lembut dan baik terpancar darinya. Ia mengesankan sebagai pria yang kenyang akan pahit getir perjuangan dan kesusahan hidup berpengetahuan seluas samudra, bijak berani, mengambil resiko, dan menikmati daya tarik dalam mencari-cari bagaimana cara menjelaskan sesuatu agar setiap orang mengerti” (hlm. 23). 3. Nilai keteguhan pendirian, “Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang ketekunan, keinginan kuat keteguhan pendirian, tentang untuk mencapai cita-cita, dan ketekunan, tentang keinginan kuat dermawan. untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa
  • 108.
    86 demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dadaku serta memberi arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak- banyaknya” (hlm. 24). 4. Nilai multikultural “Jumlah orang Tionghoa di kampong kami sekitar sepertiga dari total populasi. Ada orang kek, ada orang Hokian, ada orang Tongsan, dan ada yang tak tahu asal usulnya” (hlm. 35). 5. Nilai keindahan “Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak kalah indahnya dengan rumah bergaya Victoria disekitarnya. Ruangan kelasnya dicat warna- warni dengan tempelan gambar yang educative, poster operasi dasar matematika, table pemetaan unsur kimia, peta dunia, jam dinding, thermometer, foto para ilmuwan dan penjelajahan yang member inspirasi, dan ada kastok topi. Di setiap kelas ada patung anatomi tubuh yang
  • 109.
    87 lengkap, globe yang besar, white board, dan alat peraga konstelasi planet-planet” (hlm 57-58). 6. Nilai kompetisi “Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa PN brilian bersaing ketat dalam standar mutu yang sangat tinggi” (hlm. 58). 7. Nilai pertolongan “Di setiap kelas ada kotak P3K berisi obat-obat pertolongan pertama. Kalau ada siswanya yang sakit maka ia akan langsung mendapatkan pertolongan cepat secara professional atau segera dijemput oleh mobil ambulans yang meraung-raung” (hlm. 58). 8. Nilai keharmonisan “Demikian harmonisnya ekosistem yang terpusat pada sebatang pohon filicium anggota familia acacia ini. Seperti para guru yang mengabdi dibawahnya, pohon ini tak henti- hentinya menyokong kehidupan sekian banyak spesies. Pada musim hujan ia semakin semarak. Puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah, bunglon, lintah, jamur telur beracun, kumbang capung, ulat bulu dan ular daun saling berebutan tempat” (hlm. 66). 9. Nilai seni ketrampilan “Aku mau ikut ke pasar, Cai,” Syahdan memohon kepada Kucai,
  • 110.
    88 ketika kami dibagi kelompok dalam pelajaran pekerjaan tangan dan harus membeli kertas kajang di pasar” (hlm. 66). 10. Nilai kebahagiaan dan “Sembilan teman sekelasku persahabatan. memberiku hari-hari yang lebih dari cukup untuk suatu ketika di masa depan nanti kuceritakan pada setiap orang bahwa masa kecilku amat bahagia. Kebahagiaan yang spesifik karena kami hidup dengan persepsi tentang kesenangan sekolah dan persahabatan yang kami terjemahkan sendiri” (hlm. 85). 11. Nilai disiplin “Tapi lebih dari setengah perjalanan sudah, aku tak kan kembali pulang gara-gara buaya bodoh ini. Tak ada kata bolos dalam kamusku, dan hari ini ada tarikh Islam, mata pelajaran yang menarik. Ingin kudebatkan kisah ayat-ayat suci yang memastikan kemenangan Byzantium tujuh tahun sebelum kejadian. Sudah siang, aku maju sedikit, aku pasti terlambat tiba di sekolah” (hlm. 88). 12. Nilai perjuangan dalam “Aku hanya sendirian. Jika ada menuntut ilmu orang lain aku berani lebih frontal. Tahukah hewan ini pentingnya pendidikan? Aku tak berani lebih
  • 111.
    89 dekat. Ia menganga dan bersuara rendah, suara dari perut yang menggetarkan seperti sendawa seekor singa atau seperti suara orang menggeser sebuah lemari yang sangat besar. Aku diam menunggu. Tak ada jalur alternatif dan kekuatan jelas tak berimbang. Aku mulai frustasi. Suasana sunyi senyap. Yang ada hanya aku, seekor buaya ganas yang egois, dan intaian maut” (hlm. 88) 13. Nilai pentingnya mencari ilmu “Lintang hanya dapat belajar setelah dan sigap menghadapi agak larut karena rumahnya gaduh, masalah sulit menemukan tempat kosong, dan karena harus berebut lampu minyak. Namun sekali ia memegang buku, terbanglah ia meninggalkan gubuk doyong berdinding kulit itu. Belajar adalah hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan hidup. Buku baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberi kekuatan baru agar ia mampu mengayuh sepeda menantang angin setiap hari. Jika berhadapan dengan buku ia akan terisap oleh setiap kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh sayap-sayap kata yang diucapkan
  • 112.
    90 oleh para cerdik cendekia, ia melirik maksud tersembunyi dari sebuah rumus, sesuatu yang mungkin tak kasat mata bagi orang lain” (hlm. 100-101). 14. Nilai Rendah Hati “Jika kami kesulitan, ia mengajari kami dengan sabar dan selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan perasaan terancam bagi sekitarnya, kecemerlangannya tidak menerbitkan iri dengki, dan kehebatannya tidak sedikit pun mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati padanya sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang murid yang cerdas luar biasa. Lintang yang miskin duafa adalah mutiara, galena, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami” (hlm. 109). 15. Nilai keingintahuan “Lintang selalu terobsesi dengan hal-hal baru, setiap informasi adalah sumbu ilmu yang dapat meledakkan rasa ingin tahunya kapan saja. Kejadian ini terjadi ketika kami kelas lima, pada hari ketika ia diselamatkan oleh Bodenga” (109). 16. Nilai kecerdasan dalam “Namun, sahabatku Lintang memiliki hampir semua dimensi geometri multidimensional
  • 113.
    91 kecerdasan. Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling menonjol adalah kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul dalam geometri multidimensional. Ia dengan cepat dapat membayangkan wajah sebuah konstruksi suatu fungsi jika digerak- gerakkan dalam variabel derajat. Ia mampu memecahkan kasus-kasus dekomposisi modern yang runyam dan mengajari kami teknik menghitung luas poligon dengan cara membongkar sisi-sisinya sesuai Dalil Geometri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa ini sama sekali bukan perkara mudah” (hlm. 113- 114). 17. Nilai kecerdasan secara “Lintang juga cerdas secara experiential yang membuatnya experiential piawai menghubungkan setiap informasi dengan konteks yang lebih luas. Dalam kaitan ini, ia memiliki kapasitas metadiscourse selayaknya orang-orang yang memang dilahirkan sebagai seorang genius. Artinya adalah jika dalam pelajaran biologi kami baru mempelajari fungsi-fungsi otot sebagai subkomponen yang membentuk sistem mekanik parsial
  • 114.
    92 sepotong kaki maka Lintang telah memahami sistem mekanika seluruh tubuh dan ia mampu menjelaskan peran sepotong kaki itu dalam keseluruhan mekanika persendian dan otot-otot yang terintegrasi” (hlm. 114-115) 18. Nilai kecerdasan lingustik “Kecerdasannya yang lain adalah kecerdasan linguistik. Ia mudah memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar verbal dan logika kualitatif. Ia juga mempunyai descriptive power, yakni suatu kemampuan menggambarkan sesuatu dan mengambil contoh yang tepat. Pengalamanku dengan pelajaran bahasa Inggris di hari-hari pertama kelas 2 SMP nanti membuktikan hal itu” (hlm. 115). 19. Nilai seni suara “Dan di siang yang panas menggelegak ini, ketika pelajaran seni suara, di salah satu sudut kumuh perguran miskin Muhammadiyah, kami menjadi saksi bagaimana nasib menemukan bakat Mahar. Mulanya Bu Mus meminta A Kiong maju ke depan kelas untuk menyanyikan sebuah lagu, dan seperti diduga hal ini
  • 115.
    93 sudah delapan belas kali terjadi ia akan membawakan lagu yang sama yaitu Berkibarlah Benderaku karya Ibu Sud. “…berkiballah bendelaku….” “…lambang suci gagah pelwila ….” (hlm. 129). 20. Nilai Imajinatif “Mahar sangat imajinatif dan tak logis seseorang dengan bakat seni yang sangat besar. Sesuatu yang berasal dari Mahar selalu menerbitkan inspirasi, aneh, lucu, janggal, ganjil, dan menggoda keyakinan. Namun, mungkin karena otak sebelah kanannya benar-benar aktif maka ia menjadi pengkhayal luar biasa. Di sisi lain ia adalah magnet, simply irresistible!” (hlm. 143). 21. Nilai seni drama “Mahar pula yang membentuk sekaligus menyutradarai grup teater kecil SD Muhammadiyah. Penapilan favorit kami adalah cerita perang Uhud dalam episode Siti Hindun. Dikisahkan bahwa wanita pemarah ini mengupah seorang budak untuk membunuh Hamzah sebagai balas dendam atas kematian suaminya. Setelah Hamzah mati wanita itu membelah dadanya dan
  • 116.
    94 memakan hati panglima besar itu. A Kiong memerankan Hamzah, dan Sahara sangat menikmati perannya sebagai Siti Hindun. Juga karena inisiatif Mahar, akhirnya kami membentuk sebuah grup band. Alat- alat musik kami adalah electone yang dimainkan Sahara, standing bass yang dibetot tanpa ampun oleh Samson, sebuah drum, tiga buah tabla, serta dua buah rebana yang dipinjam dari badan amil Masjid Al- Hikmah” (hlm. 146). 22. Nilai seni sastra/puisi “Aku Bermimpi Melihat Surga. Sungguh, malam ketiga di Pangkalan Punai aku mimpi melihat surge Ternyata surga tidak megah, hanya sebuah istana kecil di tengah hutan tidak ada bidadari seperti disebut di kitab-kitab suci aku meniti jembatan kecil Seorang wanita berwajah jernih menyambutku “inilah surga” katanya. Ia tersenyum, kerling matanya mengajakku menengadah. Seketika aku terkesiap oleh pantulan sinar matahari senja. Menyirami kubah-kubah istana Mengapa sinar matahari berwarna perak, jingga, dan biru? Sebuah keindahan yang asing. Di istana surge dahan-dahan
  • 117.
    95 pohon ara menjalar ke dalam kamar-kamar sunyi yang bertingkat- tingkat. Gelas-gelas kristal berdenting dialiri air zamzam. Menebarkan rasa kesejukan. Bunga petunia ditanam di dalam pot-pot kayu. Pot-pot itu digantungkan pada kosen-kosen jendela tua berwarna biru. Di beranda, lampu-lampu kecil disembunyikan di balik tilam, indah sekali. Sinarnya memancarkan kedamaian. Tembus membelah perdu-perdu di halaman Surga begitu sepi, tapi aku ingin tetap di sini karena kuingat janjimu, Tuhan kalau aku datang dengan berjalan engkau akan menjemputku dengan berlari-lari” (hlm. 181-182). 23. Nilai kompetisi “Karnaval 17 Agustus sangat potensial untuk meningkatkan gengsi sekolah, sebab ada penilaian serius di sana. Ada kategori busana terbaik, parade paling megah, peserta paling serasi, dan yang paling bergengsi: penampil seni terbaik. Gengsi ini juga tak terlepas dari integritas para juri yang dipimpin oleh seorang seniman senior yang sudah kondang, Mbah Suro namanya. Mbah Suro adalah orang Jawa, ia seniman Yogyakarta
  • 118.
    96 yang hijrah ke Belitong karena idealisme berkeseniannya. Karena sangat idealis maka tentu saja Mbah Suro juga sangat melarat” (hlm. 215-216). “Kembali kami berada dalam sebuah situasi yang mempertahurkan reputasi. Lomba kecerdasan. Dan kami berkecil hati melihat murid-murid negeri dan sekolah PN membawa buku-buku teks yang belum pernah kami lihat. Tebal berkilat-kilat dengan sampul berwarna-warni, pasti buku-buku mahal. Sebagian manusia berteriak- teriak keras menghafalkan kantor berita” (hlm. 363). 24. Nilai partisipatif “Kita harus karnaval! Apa pun yang terjadi! Dan biarlah tahun ini para guru tidak ikut campur, mari kita beri kesempatan kepada orang- orang muda berbakat seperti Mahar untuk menunjukkan kreativitasnya, tahukah kalian...dia adalah seniman yang genius!” (hlm. 222) 25. Nilai dukungan “Tabahkan hati kalian, keluarkan seluruh kemampuan!” ledak Bu Mus memberi semangat kepada kami, para mamalia. Pak Harfan sudah tidak bisa bicara apa-apa.
  • 119.
    97 Tangannya membekap dada seperti orang berdoa” (hlm. 239-240). 26. Nilai sportifitas “Sekolah Muhammadiyah telah menciptakan daripada suatu arwah baru dalam karnaval ini. Maka dari itu mereka telah mencanangkan suatu daripada standar baru yang semakin kompetitif dari pada mutu festival seni ini. Mereka mendobrak dengan ide kreatif, tampil all out, dan berhasil menginterpretasikan dengan sempurna daripada sebuah tarian dan musik dari negeri yang jauh. Para penarinya tampil penuh penghayatan, dengan spontanitas dan totalitas yang mengagumkan sebagai suatu manifestasi daripada penghargaan daripada mereka terhadap seni pertunjukan itu sendiri.Penampilan Muhammadiyah tahun ini adalah daripada suatu puncak pencapaian seni yang gilang gemilang dan oleh karena itu dewan juri tak punya daripada pilihan lain selian daripada menganugerahkan penghargaan daripada penampila seni terbaik tahun ini kepada sekolah Muhammadiyah!” (hlm. 246-247). 27. Nilai kreatif/originalitas “Buah-buah aren itu sungguh
  • 120.
    98 merupakan sebuah rancangan kalung etnik properti adi busana koreografi yang bernilai seni, hasil perenungan Mahar berjam-jam sambil memandangi langit di bawah pohon filicium. Itulah sebuah perenungan tingkat tinggi yang membuat hatinya bergejolak sepanjang malam karena girang akan memberi kami pelajaran, sebuah perenungan pembalasan dendam yang telah ia rencanakan dengan rapi selama bertahun-tahun” (hlm. 248). 28. Nilai berkeinginan keras “Syahdan vulgar dan sok tahu. Aku segera teringat pada A Kiong. Beberapa hari ini ia belajar di kelas sambil berdiri karena lima biji bisul padi bermunculan dipantatnya sehingga ia tak bisa duduk. Tapi ia berkeras ingin tetap sekolah” (hlm. 254). 29. Nilai empati “Tabahlah, kawan, ambil semua resiko, begitulah hidup,” demikian barangkali maksudnya. Aku membalas dengan senyum kecut karena aku gelisah. Aku gelisah membayangkan apa yang ada di pikiran seorang wanita muda Tionghoa tentang laki-laki Melayu
  • 121.
    99 kampung seperti aku. Dan berada di tengah lingkungan mereka membuat aku semakin ragu. Apa aku pulang saja? Tapi aku rindu. Dan rinduku telanjur berdarah-darah” (hlm. 265) 30. Nilai mutualisme “Pembimbingnya menuntut Eryn menulis sesuatu yang baru, berbeda dan mampu membuat terobosan ilmiah karena ia adalah mahasiswa cerdas pemenang award. Aku setuju dengan pandangan itu. Erny sebenarnya telah memiliki konsep tentang sesuatu yang berbeda itu. Dari pembicaraannya yang meluap- luap aku menangkap bahwa ia telah mempelajari suatu gejala psikologi di mana seorang individu demikian tergantung pada individu lain sehingga tak bisa melakukan apapun tanpa pasangannya itu. Kemudian ia mengajukan tema tersebut, pembimbingnya setuju” (hlm. 444). 31. Nilai percaya diri “Persoalan klasiknya adalah kepercayaan diri. Inilah problem utama jika berasal dari lingkungan marginal dan mencoba bersaing. Kami telah dipersiapkan dengan baik oleh Bu Mus. Beliau memang menaruh harapan besar pada lomba ini lebih dari beliau berharap waktu
  • 122.
    100 karnaval dulu” (hlm. 364). 32. Nilai ketangkasan “Lintang kembali menyambar tombol secepat kilat dan jawabannya serta merta memecah ruangan. “Integral batas 5 dan 0, 2x minus x kali dx, hasilnya dua belas koma lima!” (hlm. 370). 33. Nilai rendah hati “Maafkan Bapak Guru Muda, atas nama dewan juri saya terpaksa mengatakan bahwa pengetahuan kami agaknya belum sampai kesana” (hlm. 379). 34. Nilai pemberani “Bantahannya yang terakhir itu adalah pelecehan. Lintang tersengat harga dirinya, wajahnya merah padam, sorot matanya tak lagi jenaka. Lintang, yang baru sekali ini menginjak Tanjung Pandang, berdiri dengan gagah berani menghadapi guru PN yang arogan jebolan perguruan tinggi terkemuka itu” (hlm. 380-381). 35. Nilai keadilan “Nilai Flo adalah yang paling parah. Matematika, Bahasa Inggris dan IPA hanya mendapat angka 2. Meskipun Bapaknya telah menyumbang papan tulis baru, lonceng, jam dinding dan pompa air untuk Muhammadiyah namun Bu Mus tak peduli, beliau tak
  • 123.
    101 sedikitpunsungkan menganugrahkan angka-angka bebek berenang itu di rapor Flo karena memang itulah nilai anak Gedong itu” (hlm. 402) 36. Nilai sopan santun “Nama saya Flo, Floriana,” kata Flo sambil berusaha menyalami Bu Frischa. Pria flamboyant itu menganguk santun dan melemparkan senyum termanisnya untuk Flo” (hlm. 403). 37. Nilai pemberani “Nasib baik memihak para pemberani!” (hlm. 422) 38. Nilai pendidikan “Inilah pesan Tuk Bayan Tula untuk kalian berdua, jika ingin lulus ujian: buka buku, belajar!!” (hlm. 424). 39. Nilai kerinduan “Sekarang hari kamis, sudah empat hari Lintang tak muncul juga. Aku melamun memandangi tempat duduk disebelahku yang kosong. Aku sedih melihat dahan fisilium tempat ia bertengger jika kami memandangi pelangi. Ia tak ada di sana. Kami sangat kehilangan dan cemas. Aku rindu pada Lintang” (hlm. 429). 40. Nilai tekad untuk lebih baik “Aku benar-benar bertekad mendapatkan beasiswa itu karena bagiku ia adalah tiket untuk meninggalkan hidupku yang terpuruk” (hlm. 460).
  • 124.
    102 41. Nilai iba “Aku tak berkata apa-apa. Terlihat jelas ia kelelahan melawan nasib. Lengannya kaku seperti besi karena kerja rodi tapi tubuhnya kurus dan ringkih. Binar mata dan kepintaran dan senyum manis yang jenaka itu tak pernah hilang walaupun sekarang kulitnya kering berkilat dimakan minyak. Rambutnya merah awut-awutan. Lintang dan keseluruhan bangunan ini menimbulkan rasa iba, iba karena kecerdasan yang sia-sia terbuang” (hlm. 468). 42. Nilai kepedulian “Bagaimana kabarnya si Ikal itu, ibunda?” Tanya Mahar kepada ibu Ikal” (hlm. 492). 43. Nilai keakraban “Terakhir ia mengirimku sepucuk surat dan diselipkannya selembar foto dalam suratnya itu” (hlm. 493). C. Deskripsi Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode pengajaran nilai berarti suatu cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan penanaman nilai-nilai guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam novel laskar pelangi metode pengajaran nilai yang
  • 125.
    103 digunakan adalah metodebercerita atau berkisah, dan metode menampilkan gambar kemudian menceritakan hakikat makna yang tersirat pada gambar tersebut. Tabel 2 Paparan Data Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi No Deskripsi Metode Pengajaran Teks Dalam Novel Laskar Pelangi Nilai 1. Metode pengajaran nilai dengan “Bapak yang jahitan kerah kemejanya telah lepas itu bercerita bercerita tentang perahu Nabi Nuh serta pasangan-pasangan binatang yang selamat dari banjir bandang”. “Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwa air bah akan datang…,” demikian ceritanya dengan wajah penuh penghayatan”. “Namun, kesombongan membutakan mata dan menulikan telinga mereka, hingga mereka musnah dilamun ombak….” (hlm. 22). “Cerita selanjutnya sangat memukau. Sebuah cerita peperangan besar zaman Rasulullah di mana kekuatan dibentuk oleh iman bukan oleh jumlah tentara: perang Badar! Tiga ratus tiga belas tentara Islam mengalahkan ribuan
  • 126.
    104 tentara Quraisy yang kalap dan bersenjata lengkap” (hlm. 22). “Ketahuilah wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian ke tempat-tempat kematian kalian dalam masa tiga hari!” Demikian Pak Harfan berteriak lantang sambil menatap langit melalui jendela kelas kami. Beliau memekikkan firasat mimpi seorang penduduk Mekkah, firasat kehancuran Quraisy dalam kehebatan perang Badar. Mendengar teriakan itu rasanya aku ingin melonjak dari tempat duduk. Kami ternganga karena suara Pak Harfan yang berat menggetarkan benang-benang halus dalam kalbu kami. Kami menanti liku demi liku cerita dalam detik- detik menegangkan dengan dada berkobar-kobar ingin membela perjuangan para penegak Islam” (hlm. 22-23). 2. Metode pengajaran nilai dengan “Lalu Pak Harfan mendinginkan suasana dengan berkisah tentang berkisah penderitaan dan tekanan yang dialami seorang pria bernama Zubair bin Awam. Dulu nun di tahun 1929 tokoh ini bersusah payah, seperti kesulitan Rasulullah ketika pertama tiba di Madinah,
  • 127.
    105 mendirikan sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang. Itulah sekolah pertama di Belitong. Kemudian muncul para tokoh seperti K.A. Abdul Hamid dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorban habis-habisan melanjutkan sekolah kandang itu menjadi sekolah Muhammadiyah. Sekolah ini adalah sekolah Islam pertama di Belitong, bahkan mungkin di Sumatra Selatan” (hlm. 23). 3. Metode pengajaran nilai dengan “Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi mengeluarkan sebuah buku menampilkan gambar kemudian berbahasa Belanda dan menceritakannya. memerplihatkan sebuah gambar. Gambar itu adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingi tembok tebal yang suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di dalamnya begitu pengap, angker, penuh kekerasan dan kesedihan”. “Inilah sel Pak Karno di sebuah penjara di Bandung, di sini beliau menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah satu orang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini.” (hlm. 31). D. Deskripsi Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan Islam
  • 128.
    106 Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi merupakan nilai-nilai yang bersifat Islami yang meliputi: (1) nilai aqidah, (2) nilai syari’ah, dan nilai akhlaq (nilai budi pekerti atau nilai moral). Nilai-nilai ini sangat penting untuk ditanamkan atau dikembangkan dalam pendidikan Islam guna mendukung proses pencapaian tujuan yang diinginkan. Tabel 3 Paparan Data Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan Islam No Deskripsi Nilai-Nilai Teks Dalam Novel Laskar Pelangi 1. Nilai menebarkan salam “Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak putus asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu” (hlm. 6). 2. Nilai akhlak tentang amar ”Lalu persis di bawah mathari tadi tertera huruf-huruf arab gundul ma’ruf nahi mungkar yang nanti setelah kelas dua, setelah aku pandai membaca huruf arab, aku tahu bahwa tulisan itu berbunyi amar makruf nahi
  • 129.
    107 mungkar artinya: menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar”. Itulah pedoman utama warga Muhammadiyah. Kata-kata itu melekat dalam kalbu kami sampai dewasa nanti. Kata-kata yang begitu kami kenal seperti kami mengenal bau alami ibu-ibu kami” (hlm. 19). 3. Nilai keikhlasan “Pengetahuan terbesar terutama kudapat dari sekolahku, karena perguruan Muhammadiyah bukanlah center of excellence, tapi ia merupakan pusat marginalitas sehingga ia adalah sebuah universitas kehidupan. Di sekolah ini aku memahami arti keikhlasan, perjuangan, dan integritas. Lebih dari itu, perintis peruguran ini mewariskan pelajaran yang amat berharga tentang ide-ide besar Islam yang mulia, keberanian untuk merealisasi ide itu meskipun tak putus-putus dirundung kesulitan, dan konsep menjalani hidup dengan gagasan memberi manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain melalui pengorbanan tanpa pamrih” (hlm. 84). “Pak Harfan telah puluhan tahun
  • 130.
    108 mengabdi di sekolah Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apa pun demi motif syiar Islam. Beliau menghidupi keluarga dari sebidang kebun palawija di pekarangan rumahnya” (hlm. 21). 4. Nilai syariah/ibadah “Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,” demikian Bu Mus selalu menasihati kami” (hlm. 31). 5. Nilai budi pekerti “Bu Mus adalah seorang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau menyusun sendiri silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi jauh hari sebelum orang-orang sekarang meributkan soal materialisme versus pembangunan spiritual dalam pendidikan. Dasar- dasar moral itu menuntun kami membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks Islam. Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi
  • 131.
    109 pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengalaman lainnya” (hlm. 30). 6. Nilai akhlak tentang berbakti “Trapani sangat berbakti kepada orangtua, khususnya ibunya. pada orang tua Sebaliknya, ia juga diperhatikan ibunya layaknya anak emas. Mungkin karena ia satu-satunya laki-laki diantara lima saudara perempuan lainnya. Ayahnya adalah seorang operator vessel board di kantor telepon PN sekaligus tukang sirine. Meskipun rumahnya dekat dengan sekolah tapi sampai kelas tiga ia masih diantar jemput ibunya. Ibu adalah pusat gravitasi hidupnya” (hlm. 74). 7. Nilai Kesabaran “Sebentar lagi Anakku, sebentar lagi…,” jawab Bu Mus sabar, berulang-ulang, puluhan kali, sepanjang tahun, lalu Harun pun bertepuk tangan” (hlm. 77). 8. Nilai Jujur “Ketika ibuku bertanya tentang tanda itu aku tak berkutik, karena
  • 132.
    110 pelajaran Budi Pekerti Kemuhammadiyahan setiap Jumat pagi tak membolehkan aku membohongi orangtua, apalagi ibu. Maka dengan amat sangat terpaksa kutelanjangi kebodohanku sendiri. Abang- abang dan ayahku tertawa sampai menggigil dan saat itulah untuk pertama kalinya aku mendengar teori canggih ibuku tentang penyakit gila” (hlm. 82) 9. Nilai Syukur. “Maka sejak waktu virtual tercipta dalam definisi hipotesis manusia tatkala nebula mengeras dalam teori lubang hitam, di antara titik- titik kurunnya yang merentang panjang tak tahu akan berhenti sampai kapan, aku pada titik ini, di tempat ini, merasa bersyukur menjadi orang Melayu Belitong yang sempat menjadi murid Muhammadiyah” (hlm. 85). 10. Nilai tauhid tentang zat-zat “Tempat di atas langit ketujuh, tempat kebodohan bersemanyam, Tuhan adalah metaphor dari suatu tempat di mana manusia tak bisa mempertanyakan zat-zat Allah. Setiap usaha mempertanyakannya hanya akan berujung dengan
  • 133.
    111 kesimpulan yang mempertontonkan kemahatololan sang penanya sendiri. Maka semua jangkauan akal telah berakhir di langit ketujuh tadi. Di tempat asing tersebut, barangkali Arasy, di sana kembali metaphor kagungan Tuhan bertakhta. Di bawah takhta-Nya tergelar Lauhul Mahfuzh, muara dari segala cabang anak-anak sungai ilmu dan kebijakan, kitab yang telah mencatat setiap lembar daun yang akan jatuh. Ia juga menyimpan rahasia ke mana nasib akan membawa sepuluh siswa baru perguruan Muhammadiyah tahun ini. Karena takdir dan nasib termasuk dalam zat-Nya” (hlm. 105). 11. Nilai syariah tentang menjaga “Kucai mengangkangi dahan aurat tertinggi, sedangkan Sahara, satu- satunya betina dalam kawanan itu, bersilang kaki di atas dahan terendah. Pengaturan semacam itu tentu bukan karena budaya patriarki begitu kental dalam komunitas Melayu, tapi semata- mata karena pakaian Sahara tidak memungkinkan ia berada di atas kami. Ia adalah muslimah yang
  • 134.
    112 menjaga aurat rapat-rapat” (hlm. 159). 12. Nilai Aqidah tentang Larangan ”Disambung berita penting: Syirik ”Klenik, ilmu ghaib, tahayul, paranormal, semuanya sangat dekat dengan pemberhalaan. Syirik adalah larangan tertinggi dalam Islam. Ke mana semua kebijakan dari pelajaran aqidah setiap selasa? Ke mana semua hikmah dari pengalaman jahiliyah masa lampau dalam pelajaran tarikh Islam? Ke mana etika kemuhammadiyahan?” (hlm. 350- 351). 13. Nilai Taqwa ”Para anggota Societeit adalah orang-orang biasa, miskin dan kebanyakan, namun mereka kaya raya akan pengalaman batin dan petualangan penuh mara bahaya untuk mencari kebenaran hakiki. Mereka memastikan setiap kesangsian, membuktikan prasangka dan mitos-mitos, serta mengalami sendiri apa yang hanya bisa diduga-duga orang. Mereka memuaskan sifat dasar keingintahuan manusia sampai batas akhir yang menguji keyakinan. Mereka adalah orang-
  • 135.
    113 orang yang menjeput hidayah dan tidak duduk termangu-mangu menunggunya. Kini mereka menjadi orang-oarang Islam yang taat yang menjauhkan diri dari syrik” (hlm. 474). 14. Nilai Silaturrahmi ”Setelah acara peluncuran buku, aku, Nur Zaman, Mahar, dan Kucai mengunjungi ibu Ikal untuk bersilaturrahmi sekalian menanyakan kabar anaknya dirantau orang” (hlm. 491).
  • 136.
    BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Pada bab lima ini, penulis akan menafsirkan temuan nilai-nilai yang terdapat dalam novel laskar pelangi, kemudian pengintegrasian temuan penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang sudah ada dilakukan dengan jalan menjelaskan temuan-temuan dalam konteks khasanah yang lebih luas. Adapaun nilai-nilai yang telah penulis deskripsikan pada bab empat di atas yaitu mengenai nilai-nilai yang bersifat global bukan nilai yang bersifat Islami. Nilai-nilai itu meliputi: (a) nilai personal, (b) nilai sosial, dan (c) nilai seni. Pertama, nilai personal yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut: a. Nilai Tanggungjawab Nilai tanggungjawab, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi yaitu: ”Pak Harfan tampak amat bahagia menghadapi murid, tipikal guru yang sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya, india, yaitu orang yang tak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi muridnya” (hlm. 23). Deskripsi penafsiran nilai tanggung jawab pada teks di atas adalah sikap dan prilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, 114
  • 137.
    115 yangseharusnya ia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini, bahwasanya pak Harfan adalah tipe seorang yang memiliki sikap dan prilaku untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai guru kepada muridnya untuk selalu membimbing dan mengarahkan muridnya baik dalam hal pengetahuan maupun spiritual. b. Nilai Perjuangan Nilai perjuangan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah “Pak Harfan menceritakan semua itu dengan semangat perang Badar sekaligus setengah embusan angin pagi. Kami terpesona pada setiap pilihan kata dan gerak lakunya yang memikat. Ada semacam pengaruh yang lembut dan baik terpancar darinya. Ia mengesankan sebagai pria yang kenyang akan pahit getir perjuangan dan kesusahan hidup berpengetahuan seluas samudra, bijak berani, mengambil resiko, dan menikmati daya tarik dalam mencari-cari bagaimana cara menjelaskan sesuatu agar setiap orang mengerti” (hlm. 23). Deskripsi penafsiran nilai perjuangan pada teks di atas adalah sikap dan prilaku seseorang besunguh-sungguh berjuang dengan segenap jiwa dan raganya. Perjuangan pak Harfan terhadap dunia pendidikan begitu sangat besar, sekalipun hanya dengan sepuluh murid, beliau tetap berjuang untuk mencerdaskan atau memahamkan murid-muridnya dengan semangat, daya tarik sehingga dapat memikat perhatian muridnya. pak Harfan adalah tipikal guru yang patut diteladani oleh para pendidik lainnya. Saat ini, kebanyakan para pendidik memposisikan kedudukannya hanya sebagai profesi, akan tetapi tanggung jawab terhadap pekejaannya masih perlu dipertanyaan, apakah mereka sudah benar-benar berjuang
  • 138.
    116 untukmencerdaskan peserta didiknya untuk mencetak dan memelihara aset (generasi) yang lebih berkuatlitas dengan bekal pengetahuan dan psiritual yang tinggi? Tugas guru sabagai pengajar merupakan pekerjaan berat, mereka memeraskan otak, mental, dan fisik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan hal tersebut, telah dilaksanakan oleh pak Harfani dalam membimbing, melatih dan mengajar sepuluh muridnya di sekolah Muhammadiyah. c. Nilai teguh pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, dan nilai dermawan Nilai teguh pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, dan nilai dermawan paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan sebuah prinsip prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dadaku serta member arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya” (hlm. 24). Deskripsi penafsiran nilai teguh pendirian yaitu sikap atau perilaku kokoh dan tidak mudah terombang-ambing. Seseorang yang memiliki sikap ini cenderung memiliki prinsip yang kuat serta tidak mudah goyah dalam segala hal. Sedangkan nilai ketekunan adalah sikap tidak menyerah pada rintangan atau hambatan yang dihadapi demi mencapai cita-cita atau tujuan. Kemudian nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita dapat
  • 139.
    117 ditafsirkansebagai sikap atau perilaku seseorang yang bersungguh- sungguh dengan motivasi yang tinggi serta usaha yang tiada tara untuk mewujudkan harapan atau cita-cita. Dan adapun nilai dermawan merupakan tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia sehingga menyumbangkan waktu uang dan tenaganya. Jika nilai-nilai tersebut diajarkan, maka akan dijadikan bekal seseorang dalam menjalani kehidupan dengan prinsip-prinsip yang teguh (tidak mudah ikut-ikutan), tekun, bersemangat untuk mengejar cita-cita dan selalu dermawan pada sesama manusia. d. Nilai Kompetisi Nilai kompetisi paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa PN brilian bersaing ketat dalam standar mutu yang sangat tinggi” (hlm. 58). Deskripsi penafsiran nilai kompetisi adalah sikap atau perilaku seseorang yang selalu ingin bersaing positif untuk merebutkan kejuaraan dalam lingkup dabungan perkumpulan. ”Fastabiqul Khairat” yang artinya berlomba-lombalah dalam kebaikan. Ini berarti Islam juga memberikan anjuran kepada manusia untuk selalu berkompetisi dalam hal-hal yang baik. Maka dari itu, nilai kompetisi ini perlu ditanamkan pada diri seseorang. Dengan adanya kompetisi akan membangun jiwa yang memiliki daya saing yang tinggi untuk terus maju.
  • 140.
    118 e. Nilai Kecerdasan Nilai kecerdasan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Namun, sahabatku Lintang memiliki hampir semua dimensi kecerdasan. Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling menonjol adalah kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul dalam geometri multidimensional. Ia dengan cepat dapat membayangkan wajah sebuah konstruksi suatu fungsi jika digerak- gerakkan dalam variabel derajat. Ia mampu memecahkan kasus- kasus dekomposisi modern yang runyam dan mengajari kami teknik menghitung luas poligon dengan cara membongkar sisisisinya sesuai Dalil Geometri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa ini sama sekali bukan perkara mudah” (hlm. 113-114). “Lintang juga cerdas secara experiential yang membuyatnya piawai menghubungkan setiap informasi dengan konteks yang lebih luas. Dalam kaitan ini, ia memiliki kapasitas metadiscourse selayaknya orang-orang yang memang dilharikan sebagai seorang genius. Artinya adalah jika dalam pelajaran biologi kami baru mempelajari fungsi-fungsi otot sebagai subkomponen yang membentuk sistem mekanik parsial sepotong kaki maka Liontang telah memahami sistem mekanika seluruh tubuh dan ia mampu menjelaskan peran sepotong kaki itu dalam keseluruhan mekanika persendian dan otot-otot yang terintegrasi” (hlm. 114-115) “Kecerdasannya yang lain adalah kecerdasan linguistik. Ia mudah memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar verbal dan logika kualitatif. Ia juga mempunyai descriptive power, yakni suatu kemampuan menggambarkan sesuatu dan mengambil contoh yang tepat. Pengalamanku dengan pelajaran bahasa Inggris di harihari pertama kelas 2 SMP nanti membuktikan hal itu” (hlm. 115). Deskripsi penafsiran nilai kecerdasan yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang yang diberikan oleh Tuhannya. Kemampuan itu akan terus berkembang, manakala orang tersebut selalu berusaha untuk terus mengembangkan kemampuannya dengan baik. Sebagaimana sosok Lintang, ia adalah anak yang cerdas, akan tetapi dengan kecerdasannya itu,
  • 141.
    119 iatetap untuk rajin membaca atau selalu haus untuk menuntut ilmu. Maka dari itu, Lintang menjadi anak yang multitalenta, sebagaimana yang terdapat dalam teks di atas Lintang memiliki kecerdasan spesial, experiental dan lingual. f. Nilai Percaya Diri Nilai percaya diri, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Persoalan klasiknya adalah kepercayaan diri. Inilah problem utama jika berasal dari lingkungan marginal dan mencoba bersaing. Kami telah dipersiapkan dengan baik oleh Bu Mus. Beliau memang menaruh harapan besar pada lomba ini lebih dari beliau berharap waktu karnaval dulu” (hlm. 364). Deskripsi penafsiran nilai percaya diri adalah sikap atau tingkah laku seseorang yang optimis dalam menghadapi sesuatu. Dengan adanya sikap percaya diri seseorang tidak mudah minder dalam segala hal. Percaya diri merupakan kunci kesuksesan “al-i’timadu alannafsi asasunnajah”. g. Nilai Disiplin Nilai disiplin, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Tapi lebih dari setengah perjalanan sudah, aku tak ‘kan kembali pulang gara-gara buaya bodoh ini. Tak ada kata bolos dalam kamusku, dan hari ini ada tarikh Islam, mata pelajaran yang menarik. Ingin kudebatkan kisah ayat-ayat suci yang memastikan kemenangan Byzantium tujuh tahun sebelum kejadian. Sudah siang, aku maju sedikit, aku pasti terlambat tiba di sekolah” (hlm. 88).
  • 142.
    120 Deskripsi nilai disiplin adalah sikap dan perilaku seseorang yang berniat untuk menaati dan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan. Berkaitan dengan teks di atas, konteks disiplin telah diterapkan oleh Lintang. Sekalipun dalam suatu perjalan ada halangan yang dapat mengancam nyawanya, namun Lintang tetap tidak ingin terlambat. Ini berarti, Lintang memiliki sikap atau prilaku yang berniat untuk menaati dan mengikuti peraturan yang ada di sekolah Muhammadiyah. h. Nilai Perjuangan Menuntut Ilmu Nilai perjuangan menuntut ilmu, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Aku hanya sendirian. Jika ada orang lain aku berani lebih frontal. Tahukah hewan ini pentingnya pendidikan? Aku tak berani lebih dekat. Ia menganga dan bersuara rendah, suara dari perut yang menggetarkan seperti sendawa seekor singa atau seperti suara orang menggeser sebuah lemari yang sangat besar. Aku diam menunggu. Tak ada jalur alternatif dan kekuatan jelas tak berimbang. Aku mulai frustasi. Suasana sunyi senyap. Yang ada hanya aku, seekor buaya ganas yang egois, dan intaian maut” (hlm. 88). Deskripsi penafsiran nilai perjuangan menuntut ilmu adalah sikap dan tingkah laku seseorang dalam berjuang dengan sungguh-sungguh dalam mencari ilmu demi bekal hidupnya. Ilmu adalah petunjuk bagi manusia, ilmu juga sebagai alat pengotrol manusia. Berjuang dalam menuntut ilmu akan dirasakannya setelah seseorang benar-benar menjalankan ilmu yang telah diperolehnya. Lintang adalah tokoh yang sangat peduli terhadap pendidikan. Perjuangannya dalam menuntut ilmu penuh dengan pengorbanan. Daya juang dan semangatnya begitu tinggi.
  • 143.
    121 Sebagaigenerasi penerus banggsa, maka kita harus meniru sosok Lintang dalam memperjuangkan pendidikan. i. Nilai Sigap Menghadapi Masalah Nilai sigap menghadapi masalah, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Lintang hanya dapat belajar setelah agak larut karena rumahnya gaduh, sulit menemukan tempat kosong, dan karena harus berebut lampu minyak. Namun sekali ia memegang buku, terbanglah ia meninggalkan gubuk doyong berdinding kulit itu. Belajar adalah hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan hidup. Buku baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberi kekuatan baru agar ia mampu mengayuh sepeda menantang angin setiap hari. Jika berhdapan dengan buku ia akan terisap oleh setiap kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh sayap-sayap kata yang diucapkan oleh para cerdik cendekia, ia melirik maksud tersembunyi dari sebuah rumus, sesuatu yang mungkin tak kasat mata bagi orang lain” (hlm. 100-101). Deskripsi penafsiran nilai sigap menghadapi masalah adalah sikap tegas dan tegar dalam menghadapi masalah yang dihadapinya. Pribadi yang tegas dan tegar dalam menghadapi masalah ini berarti segala urusan akan mudah terselesaikan. Seperti halnya Lintang, ia hanya menyempatkan diri belajar pada waktu malam hari, karena rumahnya gaduh dan ia sulit menemukan tempat kosong. Begitu hebatnya Lintang, ia tidak pernah mengeluh pada orang tuanya. Oleh karenanya, sebagai manusia yang telah diberikan nikmat yang lebih baik seharusnya kita juga harus bersikap seperti halnya Lintang. Belajar dan selalu haus membaca demi mendapatkan pengetahuan.
  • 144.
    122 j. Nilai RendahHati Nilai rendah hati, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Jika kami kesulitan, Lintang mengajari kami dengan sabar dan selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan perasaan terancam bagi sekitarnya, kecemerlangannya tidak menerbitkan iri dengki, dan kehebatannya tidak sedikit pun mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati padanya sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang murid yang cerdas luar biasa. Lintang yang miskin duafa adalah mutiara, galena, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami” (hlm. 109). Deskripsi nilai rendah hati adalah sikap atau prilaku tidak sombong dengan apa yang dimiliki, serta tidak angkuh dengan apa yang diperbutanya. Rendah hati termasuk suatu cara untuk mendapatkan kemuliaan. Orang yang rendah hati seperti jurang yang didalamnya berhimpun air hujan dan air hujan lainnya, sedangkan orang yang sombong seperti bukit yang tidak menetap didalanya air hujan dan air hujan yang lain. Di sinilah sosok lintang yang selalu rendah hati, tidak pernah sombong sekalipun ia menjadi manusia super cerdas. k. Nilai Ketangkasan Nilai ketangkasan paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Lintang kembali menyambar tombol secepat kilat dan jawabannya serta merta memecah ruangan. “Integral batas 5 dan 0, 2x minus x kali dx, hasilnya dua belas koma lima!” (hlm. 370). Deskripsi penafsiran nilai ketangkasan adalah sikap atau prilaku cekatan dalam menjalankan sesuatu. Tangkas di sini bukanlah sikap atau
  • 145.
    123 prilaku terburu-buru. Ketangkasan yang dimaksudkan ini yaitu ketangkasan yang memiliki stategi dalam mengambil tindakan. Misalnya saja dalam suatu perlombaan yang diikuti oleh Lintang, Ikal dan Mahar adalah perlombaan yang amat berat, karena mereka menghadapi lawan yang tngguh. Namun ketika perlombaan dimulai dan pertanyaan telah dibacakan oleh juri Lintang, Ikal dan Mahar mencoba tenang, bersikap percaya diri dan menjawab pertanyaan dengan penuh strategi yang matang. l. Nilai Gagah Berani Nilai gagah berani, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Bantahannya yang terakhir itu adalah pelecehan. Lintang tersengat harga dirinya, wajahnya merah padam, sorot matanya tak lagi jenaka. Lintang, yang baru sekali ini menginjak Tanjung Pandang, berdiri dengan gagah berani menghadapi guru PN yang arogan jebolan perguruan tinggi terkemuka itu” (hlm. 380-381). Deskripsi penafsiran gagah berani yaitu sikap atau prilaku tangguh dan berani dalam membela kebenaran. Sikap atau prilaku berani karena benar ini disebut al-jurah. Seseorang yang memiliki sikap al-jurah atau berani karena benar, tidak akan perna lekang dengan kebenaran dan tidak mudah ditundukkan. Hal ini begitu menonjol pada pribadi Lintang seorang murid Muhammadiyah yang mana ia begitu gagah berani dalam menyangkal jawaban guru PN yang jawabannya memang benar-benar salah. Di sinilah Lintang mulai menjelaskan jawabannya dengan sangat rasional dan sikap yang bijak. Ia berani demi kebenaran, ia tidak peduli
  • 146.
    124 siapayang dihadapinya, yang terpenting ia telah mempertahankan suatu kebenaran dengan sikap yang baik. m. Nilai Kerinduan Nilai kerinduan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Sekarang hari kamis, sudah empat hari Lintang tak muncul juga. Aku melamun memandangi tempat duduk disebelahku yang kososng. Aku sedih melihat dahan fisilium tempat ia bertengger jika kami memandangi pelangi. Ia tak ada di sana. Kami sangat kehilangan dan cemas. Aku rindu pada Lintang” (hlm. 429). Deskripsi penafsiran nilai kerinduan merupakan sikap atau prilaku yang dirasakan seseorang karena rindu atau kangen pada orang lain. Kerinduan ini berasal dari kata ash-shabwah bermakna condong, sebagaimana dikatakan as-shaba ila kadza maksudnya ia condong kepada sesuatu. Kaitan nilai kerinduan dengan teks di atas yaitu perasaan yang penuh kerinduan dan condong pada seseorang yang selama ini tidak pernah hadir dan tampak secara kasat mata. Ia adalah Lintang yang kini harus berhenti sekolah demi menghidupi keluarganya sebagai pengganti ayahnya yang telah meninggal dunia. Seluruh kawan-kawan lintang merasakan kerinduan yang mendalam pada Lintang karena orang yang dianggap super cerdas kini harus putus sekolah. n. Nilai Iba Nilai iba, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Aku tak berkata apa-apa. Terlihat jelas ia kelelahan melawan nasib. Lengannya kaku seperti besi karena kerja rodi tapi tubuhnya
  • 147.
    125 kurus dan ringkih. Binar mata dan kepintaran dan senyum manis yang jenaka itu tak pernah hilang walaupun sekarang kulitnya kering berkilat dimakan minyak. Rambutnya merah awut-awutan. Lintang dan keseluruhan bangunan ini menimbulkan rasa iba, iba karena kecerdasan yang sia-sia terbuang” (hlm. 468). Deskripsi penafsiran nilai iba adalah sikap atau prilaku seseorang yang yang merasakan kepedihan yang sedang dihadapi orang lain, akan tetapi kepekaan rasa itu tidak dapat membantu bebannya hanya dapat memberikan solusi nasehat atau pesan. Rasa iba ini dirasakan oleh para murid Muhammadiyah yang telah kehilangan Lintang, mereka merasakan iba karena kecerdasan Lintang yang terbuang sia-sia. o. Dan Nilai Tekad Untuk Lebih Baik Nilai tekad untuk lebih baik, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Aku benar-benar bertekad mendapatkan beasiswa itu karena bagiku ia adalah tiket untuk meninggalkan hidupku yang terpuruk” (hlm. 460). Deskripsi penafsiran nilai tekad untuk lebih baik yaitu kekuatan jiwa yang tinggi untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik. Individu yang memiliki sikap atau prilaku demikian berarti ia memiliki harapan di masa depan. Dengan sikap tekad, maka individu akan terus berusaha dengan sekuat tenaga dan dengan kesungguhan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Hal ini dialami oleh Ikal yang ia benar-benar bertekad mendapatkan beasiswa, karena baginya itu merupakan tiket untuk menggalkan kehidupan yang terpuruk.
  • 148.
    126 Kedua, nilai sosial adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kemanusiaan. Nilai-nilai dalam dimensi ini terkait dengan interaksi sesama manusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan, kesopanan dan segala macam produk hukum yang ditetapkan manusia. Nilai sosial yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi antara lain: a. Nilai Multikultural Nilai multikultural, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Jumlah orang Tionghoa di kampong kami sekitar sepertiga dari total populasi. Ada orang kek, ada orang Hokian, ada orang Tongsan, dan ada yang tak tahu asal usulnya” (hlm. 35). Deskripsi penafsiran nilai multicultural adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan yang plural dan multicultural yang ada dalam kehidupan masyarakat. Nilai multicultural ini telah ditanamkan pada masyarakat Belitong, namun sekalipun mereka hidup berdampingan dengan suku atau agama yang berbeda namun kerukunan dan keharmonisan tetap terjalin romantis. b. Nilai Pertolongan Nilai pertolongan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Di setiap kelas ada kotak P3K berisi obat-obat pertolongan pertama. Kalau ada siswanya yang sakit maka ia akan langsung mendapatkan pertolongan cepat secara professional atau segera dijemput oleh mobil ambulans yang meraung-raung” (hlm. 58).
  • 149.
    127 Deskripsi penafsiran nilai pertolongan adalah sikap dan prilaku seseorang yang mencerminkan adanya kesadaran dan kemauan untuk saling membantu atau menolong tanpa pamrih. Nilai pertolongan ini telah diajarkan dan dipraktikan oleh sekolah PN, ini terbukti dengan diadakannya kotak P3K berisikan obat-obat pertolongan pertama. Dengan adanya P3K murid-murid PN belajar untuk memahami makna pertolongan. c. Nilai Keharmonisan Nilai keharmonisan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Demikian harmonisnya ekosistem yang terpusat pada sebatang pohon filicium anggota familia acacia ini. Seperti para guru yang mengabdi dibawahnya, pohon ini tak henti-hentinya menyokong kehidupan sekian banyak spesies. Pada musim hujan ia semakin semarak. Puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah, bunglon, lintah, jamur telur beracun, kumbang capung, ulat bulu dan ular daun saling berebutan tempat” (hlm. 66). Deskripsi penafsiran nilai keharmonisan merupakan sikap atau prilaku seseorang yang mencerminkan keserasian, keselarasan baik dengan sesama manusia atau dengan makhluk lainnya. Selanjutnya nilai keharmonisan ini terjalin begitu harmonisnya antara anak-anak sekolah Muhammadiyah dengan makhluk hidup lainnya. Mereka tidak pernah merusak atau mengganggu makhluk lainnya, mereka juga melaksanakan prose pembelajaran kadangkala dibawah pohon filicium deangan ditemani puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah dan lain-lain.
  • 150.
    128 d. Nilai Empati Nilai empati, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Tabahlah, kawan, ambil semua resiko, begitulah hidup,” demikian barangkali maksudnya. Aku membalas dengan senyum kecut karena aku gelisah. Aku gelisah membayangkan apa yang ada di pikiran seorang wanita muda Tionghoa tentang laki-laki Melayu kampung seperti aku. Dan berada di tengah lingkungan mereka membuat aku semakin ragu. Apa aku pulang saja? Tapi aku rindu. Dan rinduku telanjur berdarah-darah” (hlm. 265). Deskripsi penafsiran nilai empati adalah kemampuan individu dalam membaca psikologis dan emosi orang lain. Empati mencerminkan seberapa individu mengenali keadaan psikologis dan kebutuhan emosi orang lain. Individu yang berempati mampu mendengarkan dan memahami orang lain sehingga ia pun mendatangkan reaksi positif dengan lingkungan. Rasa empati ini dirasakan oleh A Kiong, yang mana ia merasakan kegundahan, kerinduan Ikal pada A Ling, A kiong merasakan bahwa Ikal juga takut bahwa ragu akan perbedaan kepercayaan antara Ikal dan A Ling. Dengan berempati itulah, akhirnya A Kiong membantu Ikal untuk mempertemukannya dengan A Ling. Inilah nilai empati yang diekspresikan oleh A King. e. Nilai Mutualisme Nilai Mutualisme, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Pembimbingnya menuntut Eryn menulis sesuatu yang baru, berbeda dan mampu membuat terobosan ilmiah karena ia adalah mahasiswa cerdas pemenang award. Aku setuju dengan pandangan itu. Erny sebenarnya telah memiliki konsep tentang sesuatu yang
  • 151.
    129 berbeda itu. Dari pembicaraannya yang meluap-luap aku menangkap bahwa ia telah mempelajari suatu gejala psikologi di mana seorang individu demikian tergantung pada individu lain sehingga tak bisa melakukan apapun tanpa pasangannya itu. Kemudian ia mengajukan tema tersebut, pembimbingnya setuju” (hlm. 444). Deskripsi penafsiran nilai mutualisme adalah sikap atau prilaku seseorang yang mencerminkan adanya unsur sosial, di mana seorang individu demikian tergantung pada individu lain. Nilai ini harus difahami oleh setiap individu, karena dengan kesadaran bahwa individu merupakan makhluk sosial, maka akan memiliki pribadi atau sikap yang tinggi terhadap kepentingan umum. f. Nilai Sopan Santun Nilai sopan santun, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Nama saya Flo, Floriana,”kata Flo sambil berusaha menyalami Bu Frischa. Pria flamboyant itu menganguk santun dan melemparkan senyum termanisnya untuk Flo” (hlm. 403). Deskripsi penafsiran nilai sopan santun merupakan sikap dan prilaku sopan santun dalam bertindak dan bertutur kata terhadap orang tanpa menyinggung atau menyakiti serta menghargai tata cara yang berlaku sesuai dengan norma, budaya, dan adat istiadat. g. Nilai Partisipatif Nilai partisipatif, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Kita harus karnaval! Apa pun yang terjadi! Dan biarlah tahun ini para guru tidak ikut campur, mari kita beri kesempatan kepada orang-orang muda berbakat seperti Mahar untuk menunjukkan
  • 152.
    130 kreativitasnya, tahukah kalian ... dia adalah seniman yang genius!” (hlm. 222). Deskripsi penafsiran nilai partisipasi adalah sikap atau prikalu seseorang yang mengikutsertakan diri bergabung dengan pihak lain. Dalam peningkatan partisipasi tersebut setidaknya dapat dan harus mampu meningkatkan rasa harga diri dan ikut memiliki. Selain itu, peningkatan partisipasi lebih ditekankan pada segi psikologis dari pada materi, di mana dengan melibatkan seseorang didalamnya, maka orang tersebut akan merasa ikut bertanggung jawab. Nilai partisipasi ini dicerminkan oleh seluruh komponen warga Muhammadiyah yang ikut serta dalam karnaval dalam memperingati 17 agustus. h. Nilai Dukungan Pada Seseorang Nilai dukungan pada seseorang, paragraf yang mengandung nilai mtersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Tabahkan hati kalian, keluarkan seluruh kemampuan!” ledak Bu Mus memberi semangat kepada kami, para mamalia. Pak Harfan sudah tidak bisa bicara apa-apa. Tangannya membekap dada seperti orang berdoa”. Deskripsi penafsiran nilai dukungan pada seseorang adalah sikap atau prilaku seseorang yang memberikan motivasi atau dukungan pada orang lain untuk lebih optimis, produktif dalam segala hal. Seperti halnya bu Muslimah yang memberikan dukungan pada Lintang, Ikal dan Mahar ketika mengikuti perlombaan cerdas-cermat. Bu Muslimah begitu tulus memberikan dukungan agar muridnya tetap optimis untuk bersaing dalam kebaikan.
  • 153.
    131 i. Nilai Kepedulian Nilai kepedulian, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Sebulan yang lalu seluruh kampong heboh karena Flo hilang. Anak Bengal penduduk Gedung itu memisahkan diri rombongan teman-teman kelasnya ketika hiking di Gunung Selumar. Polisi, tim SAR, anjing pelacak, anjing kampong, kelompok pecinta alam, para pendaki professional dan amatir, para petualang, para penduduk yang berpengalaman di hutan, para pengangguran yang bosan tak melakukan apa-apa, dan ratusan orang kampong tumpah ruah mencarinya ditengah hutan lebat ribuan hectare yang melingkupi lereng gunung itu. Kami sekelas termasuk didalamnya” (hlm. 308-309). Deskripsi penafsiran nilai kepedulian adalah sikap atau prilaku seseorang yang peka dan proaktif untuk mewujudkan rasa solidaritas dengan membantu orang lain. Teks di atas mendeskripsikan tentang kepedulian semua orang pada Flo yang hilang. Dan rasa kepedulian itu, mereka wujudkan dalam bentuk tindakan yaitu mencari Flo di tengah hutan belantara. Rasa solidaritas pada Flo inilah yang dinamakan nilai kepedulian. j. Nilai Keakraban Nilai keakraban, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Terakhir ia mengirimku sepucuk surat dan diselipkannya selembar foto dalam suratnya itu” (hlm. 493). Deskripsi penafsiran nilai keakraban adalah sikap atau prilaku yang mencerminkan sikap atau prilaku seseorang mampu bersosialisasi dengan orang lain dengan baik, ceria, tidak mau menang sendiri, mau menerima
  • 154.
    132 saranserta kritik dari orang lain dan tidak mau memutuskan hubungan persaudaraan. Dan adapun yang dimaksud pada teks di atas tentang perealisasian nilai keakraban adalah Ikal, di mana ia adalah sosok orang yang tidak mau memutuskan hubungan persaudaraan atau persahabatan dengan teman-temannya, terbukti sekalipun ia jauh, Ikal tetap mengirimkan surat pada Mahar, dengan maksud ia tetap menjalin keakraban dengan teman-temannya walaupun jauh di mata, akan tetapi harus tetap dekat dihati. k. Nilai Persahabatan Nilai persahabatan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: ”Kami menuju ke sebuah gubuk pencuri timah di wilayah maut pinggiran Sungai Buta hanya untuk menemani Mahar, menemani ia memuaskan egonya, membuktikan padanya bahwa insting tidak harus selalu benar, dan melindunginya dari ketololannya sendiri. Walaupun kami benci pada kefanatikannya tapi ia tetap teman kami, anggota laskar pelangi, kami tak ingi kehilangan dia, kadang- kadang persahabatansangat menuntut dan menyebalkan” (hlm. 326). Deskripsi penafsiran nilai persahabatan adalah menggambarkan prilaku kerjasama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial atau suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Nilai yang terdapat dalam persahabatan secara konsisten cenderung untuk menginginkan apa yang terbaik antara satu sama lain, kemudian, simpati- empati, saling pengertian dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut tergambar pada teks di atas.
  • 155.
    133 Ketiga, nilai estetika yaitu nilai yang lebih menghasilkan pada penilaian pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai estetik melekat pada kualitas barang atau memiliki sifat indah. Kecendrungan orang yang memiliki jiwa keindahan biasanya memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif. Dalam hal ini, nilai-nilai seni yang terdapat pada novel Laskar Pelangi adalah sebagai berikut: a. Nilai Keindahan Nilai keindahan, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel lascar pelangi adalah sebagai berikut: “Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak kalah indahnya dengan rumah bergaya Victoria disekitarnya. Ruangan kelasnya dicat warna-warni dengan tempelan gambar yang educative, poster operasi dasar matematika, table pemetaan unsure kimia, peta dunia, jam dinding, thermometer, foto para ilmuwan dan penjelajahan yang member inspirasi, dan ada kastok topi. Disetiap kelas ada patung anatomi tubuh yang lengkap, globe yang besar, white board, dan alat peraga konstelasi planet-planet” (hlm 57-58). Deskripsi penafsiran nilai keindahan yaitu suatu pikiran yang timbul dari rasa individu. Keindahan ketika dikaitkan dengan seni mengundang suatu persoalan pemikiran yang membedakan keindahan sebagai rasa (sense) dan keindahan sebagai fenomena (kecantikan, keserasian, kondisi liris) yang menimbulkan suatu rasa. Seperti halnya pada teks di atas penulis menganggap bahwa teks di atas mengandung unsur nilai keindahan karena ini adalah persoalan rasa, penulis rasa suatu gedung sekolah PN yang didesain dengan arsitektur yang indah, kemudian ruangan dicat warna-warni dengan tempelan gambar, poster dan
  • 156.
    134 sebagainya,ini akan menciptakan suatu keindahan. Inilah persoalan rasa yang memiliki perbedaan bagi masing-masing individu dalam memaknai suatu keindahan. b. Nilai Imajinatif Nilai imajinatif, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel lascar pelangi adalah sebagai berikut: “Mahar sangat imajinatif dan tak logis—seseorang dengan bakat seni yang sangat besar. Sesuatu yang berasal dari Mahar selalu menerbitkan inspirasi, aneh, lucu, janggal, ganjil, dan menggoda keyakinan. Namun, mungkin karena otak sebelah kanannya benar- benar aktif maka ia menjadi pengkhayal luar biasa. Di sisi lain ia adalah magnet, simply irresistible!” (hlm. 143). Deskripsi penafsiran nilai imajinatif adalah sebuah proses menghayal dan berangan-angan tentang sesuatu. Imajinasi sangat diperlukan dalam berbagai hal guna memunculkan ide-ide baru. Setiap individu bebas untuk berimajinasi, seperti sosok Mahar, ia adalah seorang tokoh cilik yang patut diberi penghargaan, Mahar berhasil menciptakan ide-ide baru yang tidak dapat dijangkau oleh manusia lainnya. Imajinasi ini yang menghasilkan penemuan baru ini bisa berbentuk benda, berbentuk konsep, ide atau model. Dan Mahar adalah orang yang dapat menciptakan penemuan baru melalui imajinasinya dalam bentuk benda, konsep atau ide seperti mengkonsep tarian dengan buah aren pada kegiatan 17 Agustusan. c. Nilai Seni Suara Nilai seni suara, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel lascar pelangi adalah sebagai berikut:
  • 157.
    135 “Dan di siang yang panas menggelegak ini, ketika pelajaran seni suara, di salah satu sudut kumuh perguran miskin Muhammadiyah, kami menjadi saksi bagaimana nasib menemukan bakat Mahar. Mulanya Bu Mus meminta A Kiong maju ke depan kelas untuk menyanyikan sebuah lagu, dan seperti diduga, hal ini sudah delapan belas kali terjadi ia akan membawakan lagu yang sama yaitu Berkibarlah Benderaku karya Ibu Sud. “…berkiballah bendelaku….”, “…lambang suci gagah pelwila ….”, “… bergelak- bergelak! Selentak … selentak …!” (hlm. 129). Deskripsi penafsiran nilai seni suara adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantara alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indra pendengar. Pada pelajaran seni suara ini, bu Muslimah mengetahui siapa yang berbakat pada bidang seni suara. Diantara sepuluh muridnya tersebut, ternyata Maharlah yang berbakat dalam bidang seni suara ini. Mahar begitu menghanyati ketika menyanikan lagu “….I was dancing with my darling to the tennesse waltz…” (hlm. 136). Berbeda dengan teman-teman lainnya seperti A Kiong yang diperintah oleh bu Muslimah untuk menyayikan lagu “berkibarlah benderaku”, ia menyanyi tanpa ada penghayatan sama sekali. Inilah tugas para pendidik untuk mengetahui bakat masing-masing muridnya serta mengembakan bakat mereka sesuai dengan kemampuannya. d. Nilai Seni Drama Nilai seni drama, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel lascar pelangi adalah sebagai berikut: “Mahar pula yang membentuk sekaligus menyutradarai grup teater kecil SD Muhammadiyah. Penampilan favorit kami adalah cerita perang Uhud dalam episode Siti Hindun. Dikisahkan bahwa wanita pemarah ini mengupah seorang budak untuk membunuh Hamzah
  • 158.
    136 sebagai balas dendam atas kematian suaminya. Setelah Hamzah mati wanita itu membelah dadanya dan memakan hati panglima besar itu. A Kiong memerankan Hamzah, dan Sahara sangat menikmati perannya sebagai Siti Hindun. Juga karena inisiatif Mahar, akhirnya kami membentuk sebuah grup band. Alat-alat music kami adalah electone yang dimainkan Sahara, standing bass yang dibetot tanpa ampun oleh Samson, sebuah drum, tiga buah tabla, serta dua buah rebana yang dipinjam dari badan amil Masjid Al-Hikmah” (hlm. 146). Deskripsi penafsiran seni drama yaitu jenis karangan yang ditunjukkan dalam bentuk tingkah laku, mimik dan perbuatan. Cerita perang Uhud dalam episode Siti Hindun yang diperankan oleh A Kiong dan Sahara merupakan seni drama yang dirangkai begitu indah oleh Mahar. Mahar adalah sutradara cilik yang penuh daya imajinatif yang sangat tinggi. e. Nilai Seni Sastra Nilai seni sastra, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel lascar pelangi adalah sebagai berikut: “Aku Bermimpi Melihat Surga. Sungguh, malam ketiga di Pangkalan Punai aku mimpi melihat surge Ternyata surga tidak megah, hanya sebuah istana kecil di tengah hutan Tidak ada bidadari seperti disebut di kitab-kitab suci Aku meniti jembatan kecil Seorang wanita berwajah jernih menyambutku “Inilah surga” katanya. Ia tersenyum, kerling matanya mengajakku menengadah. Seketika aku terkesiap oleh pantulan sinar matahari senja Menyirami kubah-kubah istana Mengapa sinar matahari berwarna perak, jingga, dan biru? Sebuah keindahan yang asing Di istana surge. Dahan-dahan pohon ara menjalar ke dalam kamar-kamar sunyi yang bertingkattingkat. Gelas-gelas kristal berdenting dialiri air zamzam. Menebarkan rasa kesejukan. Bunga petunia ditanam di dalam pot-pot kayu. Pot-pot itu digantungkan pada kosen-kosen jendela tua berwarna biru Di beranda, lampu-lampu kecil disembunyikan di balik tilam, indah sekali Sinarnya memancarkan kedamaian Tembus membelah perdu-perdu di halaman Surga begitu sepi Tapi aku ingin tetap di sini Karena kuingat janjimu
  • 159.
    137 Tuhan. Kalau aku datang dengan berjalan engkau akan menjemputku dengan berlari-lari” (hlm. 181-182). Deskripsi penafsiran seni sastra merupakan karangan atau tulisan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah. Tulisan pada teks di atas merupakan sebuah tulisan atau karya yang mengandung suatu nilai keindahan. Nilai keindahan yang tertulis dalam sebuah karangan ini mengandung suatu nilai seni sastra. f. Nilai Kreatif atau Originalitas Nilai kreatif atau originalitas. paragraf yang mengandung tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Buah-buah aren itu sungguh merupakan sebuah rancangan kalung etnik properti adi busana koreografi yang bernilai seni, hasil perenungan Mahar berjamjam sambil memandangi langit di bawah pohon filicium. Itulah sebuah perenungan tingkat tinggi yang membuat hatinya bergejolak sepanjang malam karena girang akan memberi kami pelajaran, sebuah perenungan pembalasan dendam yang telah ia rencanakan dengan rapi selama bertahun-tahun” (hlm. 248). “Sekolah Muhammadiyah telah menciptakan daripada suatu arwah baru dalam karnaval ini. Maka dari itu mereka telah mencanangkan suatu daripada standar baru yang semakin kompetitif dari pada mutu festival seni ini. Mereka mendobrak dengan ide kreatif, tampil all out, dan berhasil menginterpretasikan dengan sempurna daripada sebuah tarian dan musik dari negeri yang jauh. Para penarinya tampil penuh penghayatan, dengan spontanitas dan totalitas yang mengagumkan sebagai suatu manifestasi daripada penghargaan daripada mereka terhadap seni pertunjukan itu sendiri. Penampilan Muhammadiyah tahun ini adalah daripada suatu puncak pencapaian seni yang gilang gemilang dan oleh karena itu dewan juri tak punya daripada pilihan lain selian daripada menganugerahkan penghargaan daripada penampila seni terbaik tahun ini kepada sekolah Muhammadiyah!” (hlm. 246-247). Deskripsi penafsiran nilai kreatif adalah kemampuan atau kecakapan yang ada pada diri seseorang, hal ini erat kaitannya dengan
  • 160.
    138 bakat. Kreatifitas yang diciptakan oleh Mahar menghasilkan suatu yang gemilang hingga sekolah Muhammadiyah mendapatkan suatu penghargaan. Penghargaan itu dapat mengharumkan nama baik sekolah Muhammadiyah. Inilah suatu kreativitas yang harus selalu dikembangkan agar selalu lebih inovatif. Nilai-nilai di atas merupakan nilai-nilai yang terdapat dalam novel laskar pelangi, apabila nilai-nilai tersebut benar-benar diwujudkan dan diterapkan oleh semua lembaga pendidikan serta elemen anggota masyarakat di kehidupan nyata, maka akan tercipta suasana dunia pendidikan dan lingkungan yang harmonis, damai, aman, tentram dan sejahtera. B. Pembahasan Hasil Analisis Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi Dalam proses pembelajaran metode sangat penting guna untuk membantu tercapainya tujuan. Metode digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata. Keberhasilan implementasi kegiatan pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran. Masing-masing guru memiliki cara yang berbeda-beda dalam menggunakan metode pembelajaran. Seperti halnya dalam novel laskar pelangi metode yang digunakan dalam mengajar nilai pada murid-muridnya yaitu menggunakan metode cerita dan kisah. Seperti dalam narasi berikut: a. Metode Pengajaran Nilai dengan Bercerita “Bapak yang jahitan kerah kemejanya telah lepas itu bercerita tentang perahu Nabi Nuh serta pasangan-pasangan binatang yang selamat dari banjir bandang”. “Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwa air bah akan datang…,” demikian ceritanya dengan wajah penuh penghayatan”.
  • 161.
    139 “Namun, kesombongan membutakan mata dan menulikan telinga mereka, hingga mereka musnah dilamun ombak…” (hlm. 22). “Cerita selanjutnya sangat memukau. Sebuah cerita peperangan besar zaman Rasulullah di mana kekuatan dibentuk oleh iman bukan oleh jumlah tentara: perang Badar! Tiga ratus tiga belas tentara Islam mengalahkan ribuan tentara Quraisy yang kalap dan bersenjata lengkap. (hlm. 22). “Ketahuilah wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian ke tempat- tempat kematian kalian dalam masa tiga hari!” Demikian Pak Harfan berteriak lantang sambil menatap langit melalui jendela kelas kami. Beliau memekikkan firasat mimpi seorang penduduk Mekkah, firasat kehancuran Quraisy dalam kehebatan perang Badar. Mendengar teriakan itu rasanya aku ingin melonjak dari tempat duduk. Kami ternganga karena suara Pak Harfan yang berat menggetarkan benang- benang halus dalam kalbu kami. Kami menanti liku demi liku cerita dalam detik-detik menegangkan dengan dada berkobar-kobar ingin membela perjuangan para penegak Islam” (hlm. 22-23). b. Metode Pengajaran Nilai dengan Berkisah “Lalu Pak Harfan mendinginkan suasana dengan berkisah tentang penderitaan dan tekanan yang dialami seorang pria bernama Zubair bin Awam. Dulu nun di tahun 1929 tokoh ini bersusah payah, seperti kesulitan Rasulullah ketika pertama tiba di Madinah, mendirikan sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang. Itulah sekolah pertama di Belitong. Kemudian muncul para tokoh seperti K.A. Abdul Hamid dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorban habis-habisan melanjutkan sekolah kandang itu menjadi sekolah Muhammadiyah. Sekolah ini adalah sekolah Islam pertama di Belitong, bahkan mungkin di Sumatra Selatan” (hlm. 23). c. Metode Pengajaran Nilai dengan menampilkan gambar kemudian menceritakannya. “Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi mengeluarkan sebuah buku berbahasa Belanda dan memerplihatkan sebuah gambar. Gambar itu adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingi tembok tebal yang suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di dalamnya begitu pengap, angker, penuh kekerasan dan kesedihan” . “Inilah sel Pak Karno di sebuah penjara di Bandung, di sini beliau menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah satu orang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini.” (hlm. 31).
  • 162.
    140 Cerita atau kisah dijadikan metode oleh para tenaga pengajar sekolah Muhammadiyah yaitu pak Harfan dan bu Muslimah sebagai alat untuk membantu menjelaskan suatu pemikiran, dan mengungkapkan suatu masalah. Cerita dan Kisah yang berasal dari Rasulullah SAW, Nabi, tokoh Islam, dan tokoh-tokoh lainnya, selalu lengkap karena mengandung sekian banyak manfaat dan terkait sekian masalah. Dengan kisah dan cerita itu beliau menerangkan ketauhidan yaitu orang-orang yang ingkar pada Allah maka Allah akan memberikan cobaan, kemudian tentang keimanan dan perjuangan menegakkan Islam, lalu mengenai perjuangan Zubair bin Awam mendirikan sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang dan cerita pak Karno yang menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Secara pedagogis, para guru dan pendidik harus yakin bahwa kemampuan bercerita atau berkisah menjadi sebuah keniscayaan dalam setiap proses belajar mengajar. Kemampuan seorang guru dalam menarasikan setiap bahan ajar dengan proses bercerita yang menarik pasti akan mendapat respon yang positif dari setiap siswa. Unsur-unsur virus pengganggu untuk berprestasi sebagaimana disinggung tadi sangat mungkin terjadi, karena dongeng atau cerita merupakan salah satu alternatif media belajar di tengah hiruk pikuknya ragam tayangan dan games (permainan) yang membuat anak- anak terbius dan terpesona. Cerita atau kisah yang baik juga akan mampu menyampaikan pesan atau nilai secara langsung kepada seorang anak, selain alur ceritanya dapat membantu mengasah kemampuan emosional dan nalar anak-anak sekaligus. Belum lagi manfaat praktis dalam penguasaan kosa kata
  • 163.
    141 anak dalam berbahasa juga merupakan keuntungan lain dari sebuah kisah atau cerita yang baik. Bahkan sebagai sebuah metode pembelajaran yang efektif, bercerita, mendongeng, atau story telling juga memiliki peran yang siginifikan bagi proses perekrutan guru. Dalam sebuah micro-teaching process, kemampuan bercerita atau mendongeng seorang guru merupakan indikator utama dari beberapa indikator kelulusan lainnya. Karena itu amatlah wajar jika otoritas pendidikan kita dapat mempertimbangkan kemampuan bercerita atau berkisah (story telling skills) sebagai salah satu syarat kelulusan seseorang untuk menjadi guru. Bahkan jika perlu kemampuan mendongeng ini juga dilatihkan kepada setiap guru pada masing-masing level, baik SD, SMP dan SMA yang ada sekarang ini. C. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan Islam Nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi merupakan nilai-nilai yang bersifat Islami meliputi: (1) nilai aqidah, (2) nilai syari’ah, dan (3) nilai akhlaq (nilai budi pekerti atau nilai moral). Adapun nilai tersebut antara lain sebagai berikut: Pertama, nilai aqidah yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut:
  • 164.
    142 a. Nilai Ketauhidantentang Zat Tuhan Nilai ketauhidan tentang Zat Tuhan, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Tempat di atas langit ketujuh, tempat kebodohan bersemanyam, adalah metaphor dari suatu tempat di mana manusia tak bisa mempertanyakan zat-zat Allah. Setiap usaha mempertanyakannya hanya akan berujung dengan kesimpulan yang mempertontonkan kemahatololan sang penanya sendiri. Maka semua jangkauan akal telah berakhir di langit ketujuh tadi. Di tempat asing tersebut, barangkali Arasy, di sana kembali metaphor kagungan Tuhan bertakhta. Di bawah takhta-Nya tergelar Lauhul Mahfuzh, muara dari segala cabang anak-anak sungai ilmu dan kebijakan, kitab yang telah mencatat setiap lembar daun yang akan jatuh. Ia juga menyimpan rahasia ke mana nasib akan membawa sepuluh siswa baru perguruan Muhammadiyah tahun ini. Karena takdir dan nasib termasuk dalam zat-Nya” (hlm. 105). Deskripsi penafsiran, teks di atas menjelaskan tentang nilai ketauhidan khususnya mengenai Zat Allah. Kalau dikaji lebih dalam sesungguhnya Allah adalah nama zat dari Tuhan SWT yang diperkenalkan sendiri oleh-Nya. Selain sebagai nama bagi zat Tuhan swt, “Allah“ adalah juga tempat terkumpulnya atau terhimpunnya seluruh sifat yang dikandung zat-Nya, sehingga “Allah“ sebagai sebutan yang utama untuk Tuhan sudah meliputi Tuhan secara keseluruhan yang terdiri dari zat dan sifat-Nya. Adapun kaitan dengan teks di atas bahwa zat Allah ini tidak mungkin dapat dijangkau, direnungkan atau dipertanyakan, akan tetapi yang harus dijangkau, direnungkan dan dipertanyakan yaitu mengenai ciptaan- ciptaan-Nya. Nilai ini juga patut untuk diketahui bagi siapa saja, sebagai bekal keimanan kepada Tuhannya.
  • 165.
    143 b. Nilai Aqidahtentang Larangan Syirik Syirik merupakan suatu perbuatan yang dilarang, karena syirik merupakan perbuatan menyekutukan Allah. Melakukan syirik termasuk dosa besar yang tidak akan pernah diampuni dosanya oleh Allah. sebagaimana dicontohkan dalam narasi dibawah ini: ”Disambung berita penting: ”Klenik, ilmu ghaib, tahayul, paranormal, semuanya sangat dekat dengan pemberhalaan. Syirik adalah larangan tertinggi dalam Islam. Ke mana semua kebijakan dari pelajaran aqidah setiap selasa? Ke mana semua hikmah dari pengalaman jahiliyah masa lampau dalam pelajaran tarikh Islam? Ke mana etika kemuhammadiyahan?” (hlm. 350-351). Deskripsi penafsiran, dalam narasi di atas menggambarkan bahwa Mahar dan Flo termasuk murid Muhammadiyah yang berani melakukan perbuatan yang amat dibenci oleh Allah yaitu syirik. Kedua anak tersebut amat percaya pada klenik, ilmu ghaib, tahayul dan paranolmal. Melihat tindakan Mahar dan Flo yang semakin kelewatan, Ibu Muslimah akhirnya mengambil tindakan dan kebijakan untuk menasehati keduanya. Beliau memberikan pengarahan bahwa syirik itu termasuk larangan tertinggi dalam Islam. Ibu muslimahpun menanyakan pada Mahar dan Flo kemana semua kebijakan dari pelajaran aqidah setiap selasa? Ke mana semua hikmah dari pengalaman jahiliyah masa lampau dalam pelajaran tarikh Islam? Ke mana etika kemuhammadiyahan? Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa sekolah Muhammadiayah juga menanamkan dan mengajarkan nilai aqidah. Nilai ini sangat perlu ditanamkan agar seorang siswa memahami tentang hakikat pengetahuan tentang hal-hal yang menyangkut masalah pokok keimanan Islam yaitu keimanan, ketaqwaan,
  • 166.
    144 melaksanakanperintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah manfaat penanaman nilai aqidah yang diterapkan pada sekolah. c. Nilai Ketaqwaan Ketaqwaan merupakan modal dasar dan paling besar yang harus dimiliki semua manusia. Kadar ketaqwaan bisa berkurang dan bertambah (yazid wa yankush) oleh karena itulah harus ada upaya-upaya untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan. Sebagaimana yang tertuang dalam narasi ini: ”Para anggota Societeit adalah orang-orang biasa, miskin dan kebanyakan, namun mereka kaya raya akan pengalaman batin dan petualangan penuh mara bahaya untuk mencari kebenaran hakiki. Mereka memastikan setiap kesangsian, membuktikan prasangka dan mitos-mitos, serta mengalami sendiri apa yang hanya bisa diduga-duga orang. Mereka memuaskan sifat dasar keingintahuan manusia sampai batas akhir yang menguji keyakinan. Mereka adalah orang-orang yang menjeput hidayah dan tidak duduk termangu-mangu menunggunya. Kini mereka menjadi orang-orang Islam yang taat yang menjauhkan diri dari syrik. Deskripsi penafsiran, dalam narasi di atas menunjukkan bahwa dalam rangka meningkatkan ketaqwaan diperlukan suatu pengalaman. Sebagaimana para anggota Sicieteit bahwasanya mereka adalah orang- orang yang mencari kebenaran hakiki, karena sebelum menjadi orang- orang taat pada Allah, mereka telah berpetualang menantang bahaya karena ingin meminta bantuan kepada Tuk Bayan Tula yang dianggap sebagai dukun. Karena usaha mereka tidak berhasil, mulai itulah mereka menyadari bahwa kekuatan Allah tidak ada yang membandinginya, Allahlah yang tepat untuk meminta. Namun dengan pengalaman itulah yang membuat ketakwaan mereka semakin tinggi dang kuat. Karean dari
  • 167.
    145 kejadian itu mereka mendapatkan pengalaman batin dan memastikan setiap kesangsian, membuktikan prasangka dan mitos-mitos, serta mengalami sendiri apa yang hanya bisa diduga-duga orang. Dari penjelasan di atas bahwa pengalaman itu merupakan salah satu pendukung dalam meningkatkan ketakwaan atau ketaatan seseorang. Nilai-nilai tersebut merupakan nilai aqidah yang harus dikembangkan pada pendidikan Islam, dengan tujuan memberikan bekal peserta didik dalam konteks aqidah yaitu keimanan kepada Allah, Rasul, Kitab, Malaikat, Qoda’ Qadar, dan Hari Akhir. Selain itu, dengan nilai aqidah peserta didik akan mengerti dan memahami tentang larangan keesaan Allah, larangan berbuat syirik, kewajiban melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dan lain sebagainya. Kedua, nilai syariah yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut: a. Nilai Syariah tentang Menjaga Aurat Nilai syariah tentang menjaga aurat. paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Kucai mengangkangi dahan tertinggi, sedangkan Sahara, satu- satunya betina dalam kawanan itu, bersilang kaki di atas dahan terendah. Pengaturan semacam itu tentu bukan karena budaya patriarki begitu kental dalam komunitas Melayu, tapi semata-mata karena pakaian Sahara tidak memungkinkan ia berada di atas kami. Ia adalah muslimah yang menjaga aurat rapat-rapat” (hlm. 159). Deskripsi penafsiran, dalam narasi di atas menggambarkan bahwa sahara termasuk wanita muslimah yang selalu menjaga aurat. Dalam ajaran Islam menyarankan bahwa Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kepada
  • 168.
    146 Muslimahagar mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Cara berpakaian yang diajarkan Islam merupakan salah satu bentuk dari peradaban tinggi yang perlu diajarkan kepada seluruh ummat manusia. Karena di dalamnya terdapat solusi dari banyak permasalahan yang muncul belakangan ini, baik di bidang kesehatan maupun moral kemasyarakatan. Di sinilah pentingnya pengajaran nilai syariah tentang masalah menjaga aurat wanita. b. Nilai Syariah Masalah Shalat Tepat Waktu Nilai Syariah masalah Shalat, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,” demikian Bu Mus selalu menasihati kami” (hlm. 31). Deskripsi penafsiran, dalam teks di atas menggambarkan suatu pesan tentang menjaga shalat tepat waktu. Shalat merupakan suatu ibadah yang harus dikerjakan bagi setiap muslim. Shalat merupakan suatu kewajiban yang harus dlakukan oleh setiap muslim. Shalat merupakan bentuk upaya setiap muslim untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Dan bagi setiap muslim yang melaksanakan shalat, apalagi selalu tetapat waktu maka ia termasuk muslim yang sudah menjalankan tanggungjawabnya kepada Allah. Shalat tepat waktu itu termasuk suatu perbuatan seseorang yang menjaga shalat dengan baik. Menjaga shalat itu juga dijelaskan dalam al-qur’an surat Al Baqoroh ayat 238 yakni: ∩⊄⊂∇∪ tÏFÏΨ≈s% ¬! (#θãΒθè%uρ 4‘sÜó™âθø9$# Íο4θn=¢Á9$#ρ ÏN≡uθn=¢Á9$# ’n?tã (#θÝàÏ ≈ym u
  • 169.
    147 Artinya: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa88. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.” Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa menutup aurat dan shalat tepat waktu merupakan term syariah. Sebenarnya klasifikasi nilai syariah bukan hanya nilai yang telah penulis jelaskan di atas, akan tetapi masih banyak lagi. Namun dengan keterbatasan penulis, maka penulis hanya dapat menyebutkan dua nilai tersebut. Nilai menutup aurat dan shalat tepat waktu dikatakan nilai syariah, karena merupakan peraturan-peraturan lahir bagi umat Islam yang bersumber pada wahyu Allah. Nilai-nilai ini pun juga seharusnya dikembangkan oleh pendidikan Islam agar peserta didik dapat mengetahui cara bagaimana mereka berhubungan dengan Tuhan dan cara- cara bagaimana beribadah dan mengatur cara bagaimana mereka menyelenggarakan makhluk, baik antara manusia dengan manusia dan manusia dengan selain manusia. Ketiga, nilai akhlak yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut: a. Nilai Menebarkan Salam Menebarkan salam merupakan sebuah etika yang didefinisikan dengan jelas, yang diperintahkan oleh AllahYang Maha Kuasa dalam kitab-Nya, dan tata cara serta peraturan mengenai salam ini diatur dalam sejumlah hadits. Allah juga memerintahkan setiap Muslim untuk saling 88 Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan Shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut kebanyakan ahli hadits, ayat Ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik- baiknya.
  • 170.
    148 memberi salam denganjelas dan orang yang mendengarkan salam berkewajiban membalas salam tersebut. Seperti yang terdapat dalam narasi di bawah ini: “Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak putus asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu” (hlm. 6). Deskripsi penafsiran, menebarkan salam sangat dianjurkan oleh agama Islam, kepada setiap muslim dianjurkan untuk memberi salam kepada mereka yang dikenal maupun mereka yang belum kenal. Karena salam merupakan salah satu dari tujuh hal yang Nabi SAW perintahkan kepada shahabat dan umat muslim setelah mereka untuk mengikutinya. Sebagaimana hadits Nabi di bawah ini yang dicatat oleh Al-Bara’ ibn Azib (ra): “Rasulullah s.a.w memerintahkan kepada kita untuk melakukan tujuh hal; untuk menjenguk orang sakit, menghadiri pemakaman, mendoakan orang yang bersin, membantu yang lemah, menyebarkan salam dan membantu orang yang memenuhi janjinya”. (Muttafaqun ‘alaih) Allah sendiri memerintahkan setiap muslim untuk saling memberi salam dengan jelas. Sebagaimana firman-Nya dalam surat An-Nur ayat 27: (#θÝ¡ÎΣù'tGó¡n@ 4_®Lym öΝà6Ï?θã‹ç/ uŽöxî $?θã‹ç/ (#θè=äzô‰s? ω (#θãΖtΒ#u™ tÏ%©!# $pκš‰r'≈tƒ Ÿ $ ∩⊄∠∪ šχρ㍩.x‹s? öΝä3ª=yès9 öΝä3©9 Žöyz öΝ3Ï9≡sŒ 4 $yγ=÷δr& #’n?tã (#θßϑÏk=|¡è@uρ × ä Î Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan
  • 171.
    149 memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”. Dan Allah memerintahkan kepada setiap muslim untuk membalas salam dengan sesuatu yang serupa atau sesuatu yang lebih baik, sehingga hal ini merupakan sebuah kewajiban bagi orang yang mendengar salam untuk membalasnya dan tidak mengabaikannya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al Qur’an surat An Nisa’ ayat 86: >™ó©x« Èe≅ä. 4’n?tã tβ%x. ©!$# ¨βÎ) 3 !$yδρ–Šâ‘ ÷ρr& $κ÷]ÏΒ z|¡ômr'Î/ (#θ–Šyssù 7π¨ŠÅsFÎ/ ΛäŠÍh‹ãm #sŒÎ)uρ !p t ∩∇∉∪ $7ŠÅ¡ym Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)89. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”. b. Nilai Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan kadang ia tidak atau belum menyadari kesalahannya. Karena itu, ia butuh saran dan kritik dari orang lain. Dan banyak orang belum mengetahui mana yang salah dan mana yang benar, mana yang patut dan tidak untuk dilakukan, karena itu ia butuh bimbingan, anjuran, mauidhoh hasanah terlebih uswatun hasanah. Kedua jenis kegiatan dalam rangka menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran inilah yang dikenal dengan istilah amar ma’ruf nahi munkar. Narasi di bawah ini akan memberikan gambaran yang lebih gamblang. 89 penghormatan dalam Islam ialah: dengan mengucapkan Assalamu'alaikum
  • 172.
    150 ”Lalu persis di bawah mathari tadi tertera huruf-huruf arab gundul yang nanti setelah kelas dua, setelah aku pandai membaca huruf arab, aku tahu bahwa tulisan itu berbunyi amar makruf nahi mungkar artinya :menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar”. Itulah pedoman utama warga Muhammadiyah. Kata-kata itu melekat dalam kalbu kami sampai dewasa nanti. Kata-kata yang begitu kami kenal seperti kami mengenal bau alami ibu-ibu kami” (hlm. 19). Deskripsi penafsiran, yang dimaksud amar ma’ruf nahi munkar yakni menyuruh pada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Narasi di atas menunjukkan bahwa dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar diperlukan metode yang tepat. Dalam narasi di atas menggambarkan pendidikan Islam Muhammadiyah berpedoman pada amar ma’ruf nahi munkar. Allah SWT berfirman dalam surat Surat Luqman ayat 17: !$tΒ 4’n?tã ÷ŽÉ9ô¹$#uρ ̍s3Ζßϑø9$# Çtã tµ÷Ρ$#uρ Å∃ρã÷èyϑø9$$Î/ ãΒù&uρ nο4θn=¢Á9$# ÉΟ%r& ¢©_6≈tƒ ö Ï oç ∩⊇∠∪ ‘θãΒW{$# ÇΠ÷“tã ôΒ y79≡sŒ ¨β) ( y7t/$|¹r& Í Ï Ï Î Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. c. Nilai kesabaran Nilai kesabaran, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Sebentar lagi Anakku, sebentar lagi …,” jawab Bu Mus sabar, berulang- ulang, puluhan kali, sepanjang tahun, lalu Harun pun bertepuk tangan”, (hlm. 77).
  • 173.
    151 Deskripsi penafsiran nilai kesabaran adalah sikap tabah menerima cobaan atau ujian yang dihadapinya disertai usaha untuk mengubah atau memperbaikinya. Namun konteks sabar yang terdapat dalam novel laskar pelangi bukan demikian, akan tetapi sabar diartikan sebagai sikap atau tindakan seseorang dalam menahan dirinya untuk tetap sabar dalam membimbing dan menghadapi murid-muridnya. Dalam teks di atas bu Muslimah terlihat sabar menghadapi lintang yang tampak antusias dalam menanyakan mata pelajaran yang diikutinya. Kesabaran dalam membimbing peserta didik dalam proses pembelajaran sangat penting demi tercapainya tujuan yang diinginkan. d. Nilai Jujur Sikap jujur kepada orang lain akan membuat orang lain merasa nyaman. Karenanya, ini termasuk nilai yang mendidik dan sepatutnya dimiliki semua orang. Tanpanya, antara satu orang dan orang lainnya akan sangat berjarak, bahkan bisa menimbulkan permusuhan. Teks di bawah ini merupakan salah satu pesan yang mengandung nilai jujur, yaitu: “Ketika ibuku bertanya tentang tanda itu aku tak berkutik, karena pelajaran Budi Pekerti Kemuhammadiyahan setiap Jumat pagi tak membolehkan aku membohongi orangtua, apalagi ibu. Maka dengan amat sangat terpaksa kutelanjangi kebodohanku sendiri. Abang- abang dan ayahku tertawa sampai menggigil dan saat itulah untuk pertama kalinya aku mendengar teori canggih ibuku tentang penyakit gila” (hlm. 82). Deskripsi penafsiran nilai jujur yaitu sikap dan prilaku untuk bertindak dengan sesungguhnya dan apa adanya, tidak berbohong, tidak dibuat-buat, tidak ditambah, tidak dikurangi, serta tidak menyembunyikan
  • 174.
    152 kejujuran.Tokoh yang berperan dalam menjalankan kejujuran pada teks di atas adalah ikal. Ikal adalah murid yang patut dicontoh, ia benar-benar melaksanakan pelajaran budi pekerti yang telah diajarkan oleh gurunya. Ini terbukti bahwa ia berkata jujur pada ibunya sekalipun abang dan ayahnya menertawakannya, hal itu tidak diperdulikannya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Anfaal ayat 58: =Ïtä† Ÿω ©!$# ¨β) 4 >™!#uθy™ 4’n?tã óΟÎγø‹s9Î) õ‹Î7/Ρ$$sù ZπΡ$uŠÅz BΘöθs% ÏΒ  ∅sù$sƒrB $¨ΒÎ)uρ Î t ∩∈∇∪ ÏΨÍ←!$ƒø:$# t s Artinya: “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang berkhianat”. e. Nilai Syukur Bersyukur merupakan sikap yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Karena dengan bersyukur berarti kita mengakui bahwa Allah itu maha kuasa dan kepadaNyalah kembalinya segala urusan, sebagaimana dicontohkan dalam narasi dibawah ini : “Maka sejak waktu virtual tercipta dalam definisi hipotesis manusia tatkala nebula mengeras dalam teori lubang hitam, di antara titik-titik kurunnya yang merentang panjang tak tahu akan berhenti sampai kapan, aku pada titik ini, di tempat ini, merasa bersyukur menjadi orang Melayu Belitong yang sempat menjadi murid Muhammadiyah. Dan sembilan teman sekelasku memberiku hari-hari yang lebih dari cukup untuk suatu ketika di masa depan nanti kuceritakan pada setiap orang bahwa masa kecilku amat bahagia. Kebahagiaan yang spesifik karena kami hidup dengan persepsi tentang kesenangan sekolah dan persahabatan yang kami terjemahkan sendiri” (hlm. 85).
  • 175.
    153 Deskripsi penafsiran Bersyukur dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik syukur dengan hati yaitu kepuasan batin atas anugrah-Nya, syukur dengan lidah yaitu dengan mengakui dan memuji anugrah-Nya, dan syukur dengan perbuatan yaitu dengan memanfaatkan anugrah yang diperoleh sesuai dengan penganugrahannya, syukur dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Adapun aku yang dimaksud pada teks di atas adalah Ikal, ia amat bahagia dan sangat bersyukur Tuhan telah memberikan lingkungan dan mempertemuka sahabat dan orang yang dapat memberikan pengalaman, pelajaran, dan makna kehidupan yang baik bagi dirinya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur’an surat Al Luqman ayat 12: ô u ãä3ô±o„ $yϑΡÎ*sù öà6ô±tƒ tΒuρ 4 ¬! öä3ô©$# Èβr& sπyϑõ3Ïtø:$# z≈yϑø)ä9 $oΨ÷s?#u™ ‰s)s9ρ ∩⊇⊄∪ Ó‰‹Ïϑym ;©Í_xî ©!$# ¨βÎ*sù tx x. tΒuρ ( ϵšø uΖÏ9 Artinya: “Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. f. Nilai Berbakti Pada Orang Tua Diantara kewajiban terpenting yang harus diindahkan oleh pendidik ialah memperkenalkan anak akan hak-hak kedua orang tu mereka, yaitu antara lain berbakti, taat, berbuat ikhlas, memelihara keduanya, memelihara pada masa tua, tidak boleh bersua apalagi menghardik
  • 176.
    154 mereka, mendiakanmereka setelah wafat, dan sebagainya termasuk sopan santuk terhadap orang tua. Paragraf di bawah ini menunjukkan nilai anak yang berbakti pada orang tua, yaitu: “Trapani sangat berbakti kepada orangtua, khususnya ibunya. Sebaliknya, ia juga diperhatikan ibunya layaknya anak emas. Mungkin karena ia satu-satunya laki-laki diantara lima saudara perempuan lainnya. Ayahnya adalah seorang operator vessel board di kantor telepon PN sekaligus tukang sirine. Meskipun rumahnya dekat dengan sekolah tapi sampai kelas tiga ia masih diantar jemput ibunya. Ibu adalah pusat gravitasi hidupnya” (hlm. 74). Deskripsi penafsiran Teks di atas mendeskripsikan bahwa Trapani adalah sosok anak yang patut dicontoh, karena ia adalah anak yang selalu patuh dan taat pada kedua orang tuannya. Sebagai seorang anak, Trapani adalah seseorang yang telah menjalankan kewajibannya pada orang tuanya. Al-quranpun menganjurkan pada semua manusia untuk selalu berbuat baik kepada bapak dan ibu dengan sebaik-baiknya. Dalam surat Al Isro’ ayat 23 disebutkan: x8y‰ΨÏã £tóè=ö7tƒ $¨ΒÎ) 4 $Ζ≈|¡ômÎ) Èøt$Î!≡uθø9$$Î/uρ çν$−ƒ) HωÎ) #ÿρ߉ç7÷ès? žωr& y7•/u‘ 4©|Ós%uρ Î ( $yϑßγ©9 ≅è%uρ $yϑèδöpκ÷]s? Ÿωuρ 7e∃é& $ϑçλ°; ≅à)s? Ÿξsù $yϑèδŸξÏ. ÷ρr& !$yϑèδ߉tnr& uŽy9Å6ø9$# !y Éb>§‘ ≅è%uρ Ïπyϑôm§9$# ÏΒ Α%!$# yy$uΖ_ $yϑßγs9 ôÙÏ ÷z$#uρ z Ée — y ∩⊄⊂∪ $VϑƒÌŸ2 Zωöθs% ∩⊄⊆∪ #ZŽÉó|¹ ’ÎΤ$u‹−/u‘ $yϑx. $yϑßγ÷Ηxqö‘$# Artinya: 23. ”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.
  • 177.
    155 g. Nilai Silaturahmi Hubungan kekeluargaan dan silaturrahmi dengan saudara, kerabat, teman-teman serta sahabat orang tua haruslah tetap dijaga dengan baik. Paragraf yang menjelaskan tentang nilai silaturrahmi pada novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: ”Setelah acara peluncuran buku, aku, Nur Zaman, Mahar, dan Kucai mengunjungi ibu Ikal untuk bersilaturrahmi sekalian menanyakan kabar anaknya dirantau orang” (hlm. 491). Deskripsi penafsiran, dari teks di atas menjelaskan bahwa Nur Zaman, Mahar, dan Kucai merupakan seseorang tidak mau memutuskan hubungan kekerabatan, sekalipun mereka sudah tidak ladi bersama mereka tetap saja untuk tetap menyambung silaturrahmi ke rumah ibu Ikal, sekalipun Ikal tidak ada keberadaannya. Ini menunjukkan bahwa merekan telah menanamkan nilai silaturrahmi, bagi seseorang yang selalu memelihara dengan baik hubungan kekerabatannya akan memberikan manfaat yaitu menunjukkan rasa cinta kepada mereka yang terkait dalam keluarga, memudahkan jala mencari rizki, sehingga dengan mudah bisa mengembangkan usahanya, dan tetap akan diingat oleh keluarga yang ditinggalkannya bila yang meninggal berlaku terhadap para kerabatnya. Rasulullah dalam hadistnya bersabda: ”Ajarkan nasab-nasab (silsilah) kamu yang dapat dipergunakan untuk menyambung kekeluargaanmu. Karena hubungan kekeluargaan adalah suatu hal yang dicintai dalam keluraga, memperkembangkan harta dan memperpanjang jejak (persaudaraan)” (HR. Ahmad, Hakim dan Tirmizi).
  • 178.
    156 h. Nilai Keikhlasan Nilai keikhlasan adalah sikap ketulusan hati, bersih dari mengharap selain Allah. Maksudnya aktivitas apapun yang dilakukan manusia itu adalah semata-mata karena Allah. Melaksanakan sesuatu atas dasar keikhlasan maka akan diterima dan diberkahi Allah. Oleh Karena itu, berupayalah untuk selalu menjaga keihlasan dalam menjalankan sesuatu, supaya amal perbuatan itu, diterima dan diberkahi Allah. Adapun paragraf yang menjelaskan tentang nilai keikhlasan adalah sebagai berikut: “Pengetahuan terbesar terutama kudapat dari sekolahku, karena perguruan Muhammadiyah bukanlah center of excellence, tapi ia merupakan pusat marginalitas sehingga ia adalah sebuah universitas kehidupan. Di sekolah ini aku memahami arti keikhlasan, dan integritas. Lebih dari itu, perintis peruguran ini mewariskan pelajaran yang amat berharga tentang ide-ide besar Islam yang mulia, keberanian untuk merealisasi ide itu meskipun tak putus-putus dirundung kesulitan, dan konsep menjalani hidup dengan gagasan memberi manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain melalui pengorbanan tanpa pamrih” (hlm. 84). “Pak Harfan telah puluhan tahun mengabdi di sekolah Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apapun demi motif syiar Islam. Beliau menghidupi keluarga dari sebidang kebun palawija di pekaranagan rumahnya” (hlm. 21). Deskripsi penafsiran, teks ini menunjukkan bahwa sekolah Muhammadiayah selalu menanamkan nilai keikhlasan dan integritas. Seperti halnya Bapak guru (Pak Harfan) dalam karakternya beliau mempunyai hidup sederhana, boleh dibilang serba kekurangan. Namun pada kenyataannya beliau selalu mencoba untuk mengabdikan diri pada pendidikan, selalu melakukan sesuatu nyaris tanpa minta imbalan apaun. Perlu diketahui lagi, sekalipun hidup dalam lingkaran kekurangan Bapak
  • 179.
    157 Harfantidak pernah sibuk mengurus sertifikasi, apalagi melakukan aksi untuk menuntut dijadikan PNS, yang merupakan kepentingan dirinya sendiri seperti yang terjadi akhir-akhir ini, beliau selalu berfikir bagaimana murid-muridnya bisa belajar. Di sinilah konteks keikhlasan yang ditanamkan oleh Bapak Harfan seharusnya dijadikan barometer bagi tenaga pengajar lainnya. i. Nilai Budi Pekerti (Akhlak) Pendidikan budi pekerti adalah suatu proses pembentukan perilaku atau watak seseorang, sehingga dapat membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk dan mampu menerapkannya dalam kehidupan. Pendidikan budi pekerti pada hakikatnya merupakan konsekuensi tanggung jawab seseorang untuk memenuhi suatu kewajiban. Di bawah ini adalah narasi tentang nilai budi pekerti atau akhlak, yaitu: “Bu Mus adalah seorang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau menyusun sendiri silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi jauh hari sebelum orang-orang sekarang meributkan soal materialisme versus pembangunan spiritual dalam pendidikan. Dasar-dasar moral itu menuntun kami membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks Islam. Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengalaman lainnya” (hlm. 30). Deskripsi penafsiran, pelaksanaan Budi pekerti yang disusun oleh Bu Muslimah merupakan suatu bentuk mata pelajaran yang dapat dijadikan dasar moral Bagi peserta didik. Dalam teks di atas dinyatakan
  • 180.
    158 bahwa Pendidikan budi peketi yang ditanamkan oleh sekolah Muhammadiyah dapat membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi peserta didik dalam konteks Islam. Pendidikan budi peketi yang direalisasikan sekolah Muhammadiyah dilihat dalam konteks pendidikan Islam ini dapat disamakan dengan akhlak. Dan akhlak merupakan bagian integral dari materi PAI yang memiliki peran sentral dalam rangka pembinaan moral anak didik. Muatan-muatan akhlak dalam PAI jika diterapkan melalui pembelajaran yang tepat, akan dapat menjadi sarana pendidikan budi pekerti. Dari uraian di atas, penulis mengasumsikan bahwa nilai aqidah, syariah, dan akhlak merupakan nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam. Karena ketiga nilai tersebut merupakan tiga kerangkan dasar pendidikan Islam yang harus dikejawantahkan untuk meningkatkan tujuan yang dicita-citakan. D. Kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel Laskar Pelangi Terhadap Pengembangan Pendidikan Islam Pada novel Laskar Pelangi penulis menemukan sebuah teks yang berbunyi sebagai berikut: Bagi kami Pak Harfan dan Bu Mus adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Merekalah mentor, penjaga, sahabat, pengajar, dan guru spiritual. Mereka yang pertama menjelaskan secara gamblang implikasi amar makruf nahi mungkar sebagai pegangan moral kami sepanjang hayat. Mereka mengajari kami membuat rumah-rumahan dari perdu apit-apit, mengusap luka-luka di kaki kami, membimbing kami cara mengambil wudu, melongok ke dalam sarung kami ketika kami disunat, mengajari kami doa sebelum tidur, memompa ban sepeda kami, dan kadang-kadang membuatkan kami air jeruk sambal” (hlm. 32).
  • 181.
    159 Maka tak lama kemudian aku telah menjadi mahasiswa. Meskipun hanya langkah kecil aku merasa telah membuat sebuah kemajuan dan sekarang aku dapat menilai hidupku dari perspektif yang sama sekali berbeda. Aku lega terutama karena aku telah membayar utangku pada sekolah Muhammadiyah, Bu Mus, Pak Harfan, Lintang, Laskar Pelang, A Ling, Bahkan Herriot dan Edensor. Setiap titik yang aku singgahi dalam hidupku selalu memberikan pelajaran berharga. Sekolah Muhammadiyah dan persahabatan Laskar Pelangi telah membentuk karakterku. A Ling, Herriot dan Edensor telah mengajariku optimism dan menunjukkan bahwa jalinan nasib dapat menjadi begitu menakjubkan, (hlm. 462-463). . Dari teks di atas, membuktikan bahwa sekolah Muhammadiyah telah menjalankan proses pembelajaran nilai pada murid-muridnya. Proses pembelajaran pendidikan nilai yang diajarkan oleh pak Harfan dan bu Mus sangat memiliki arti penting bagi pembentukan karakter muridnya. Pembentukan karakter tersebut telah dirasakan oleh Ikal yang telah menjadi mahasiswa sukses. Hal ini membuktikan bahwa proses pembelajaran pendidikan nilai tersebut telah mencapai prilaku yang dikehendaki. Dan tercapainya perilaku yang dikehendaki merupakan keberhasilan pembelajaran. Dan dari pengajaran pendidikan nilai tersebut ternyata telah menghasilkan lulusan yang diharapkankan. Di sini jelaslah bahwa, proses pendidikan nilai yang direpresentasikan oleh novel laskar pelangi memberikan konstruksi ideologi nilai-nilai Islam. Dengan adanya konstruksi idelogi nilai-nilai Islam tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan kompentensi ungul yang dibangun oleh seluruh sinergi positif.
  • 182.
    160 Kontribusi kontruksi ideologi nilai-nilai Islam terhadap pengembangan pendidikan Islam ini telah dibuktikan oleh salah satu murid sekolah Muhammadiyah yaitu Andrea Hirata yang berperan sebagai Ikal cilik dalam penokohan novel Laskar Pelangi, kini ia menjadi mahasiswa yang sukses sebagai penulis yang handal. Adapun salah satu karyanya yang telah banyak diminati oleh masyarakat Indonesia pada khususnya yaitu novel Laskar Pelangi dan masih bayak karya lainnya. Novel laskar pelangi merupakan novel pendidikan Islam yang dapat membangun citra pendidikan Islam, terbukti dengan adanya teks, paragraf dan dialog novel Laskar Pelangi yang medeskripsikan pesan pengajaran yang bukan hanya mentransfer pengetahuan saja tetapi juga memberikan pesan nilai-nilai Islam yang berupa nilai syariah, aqidah, dan akhlak atau budi pekerti sebagai bekal atau pegangan moral muridnya di masa depan. Dengan adanya pesan-pesan tentang nilai-nilai tersebut maka hal ini dapat memberikan sumbangsi dan kontribusi bagi pendidikan Islam lainnya untuk terus melakukan dan mengaplikasikan kontruksi ideologi nilai-nilai Islam yang telah dipaparkan oleh Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi yaitu nilai syariah, nilai aqidah dan nilai akhlak atau budi pekerti. Selain itu, novel ini juga sangat memberikan pesan bagi tenaga pendidik agar dalam dunia pendidikan menjadi guru yang profesional yaitu dapat menjadi guru mentor, penjaga, sahabat, pengajar, fasilitator, dan guru spiritual. Begitupula memberikan kemanfaatan bagi peserta didik agar mereka meniru terhadap semangat murid-murid Muhammadiayah dalam mengenyam pendidikan.
  • 183.
    161 Mereka bukanlah muridyang malas tetapi mereka adalah murid-murid yang memiliki daya juang yang tinggi dalam menuntut ilmu. Dari uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa pesan-pesan tentang pendidikan nilai yang terdapat pada novel Laskar Pelangi karaya Andrea Hirata, yang telah ditanamkan atau diajarkan oleh pak Harfan dan bu Muslimah pada murid-muridnya baik berupa nilai aqidah, syariah, dan akhlak atau budi pekerti telah memberikan kontribusi terhadap pendidikan Islam, pendidik, peserta didik berupa kontruksi ideologi dengan harapan agar pendidikan Islam dapat menghasilkan lulusan yang bekualitas dan berkompetisi unggul.
  • 184.
    BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Setelah pembahasan dan analisis pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan, yakni: 1. Nilai-nilai yang terdapat dalam novel ”Laskar Pelang” karya Andrea Hirata terbagi menjadi tiga kalsifikasi antara lain: (a) Nilai personal, nilai personal merupakan nilai-nilai yang perlu ditanamkan dan dimiliki seorang individu dalam kehidupannya. Nilai personal yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi meliputi: nilai tanggung jawab, nilai keteguhan pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, nilai dermawan, nilai perjuangan, nilai kompetisi, nilai kecerdasan, nilai percaya diri, nilai kebahagiaan, nilai disiplin, nilai perjuangan menuntut ilmu, nilai sigap menghadapi masalah, nilai rendah hati, nilai ketangkasan, nilai gagah berani, nilai kerinduan, nilai iba, dan nilai tekad untuk lebih baik. (b) Nilai sosial, nilai sosial adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kemanusiaan. Nilai-nilai dalam dimensi ini terkait dengan interaksi sesama manusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan, kesopanan dan segala macam produk hukum yang ditetapkan manusia. Nilai sosial yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi antara 162
  • 185.
    163 lain: nilai multikultural, nilai tolong menolong, nilai keharmonisan, nilai mutualisme, sopan santun, nilai partisipatif, nilai sportifitas, nilai dukungan pada seseorang, nilai kepedulian, nilai keakraban, nilai persahabatan. (c) Dan nilai estetika, nilai estetika yaitu nilai yang lebih menghasilkan pada penilaian pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai estetik melekat pada kualitas barang atau memiliki sifat indah. Kecendrungan orang yang memiliki jiwa keindahan biasanya memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif. Dalam hal ini, nilai- nilai estetika yang terdapat pada novel Laskar Pelangi adalah sebagai berikut: nilai keindahan, nilai imajinatif, nilai seni drama, nilai seni sastra, dan nilai kreatif atau originalitas. 2. Metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi adalah metode bercerita dan kisah. Cerita atau kisah dijadikan metode oleh para tenaga pengajar sekolah Muhammadiyah yaitu pak Harfan dan bu Muslimah sebagai alat untuk membantu menjelaskan suatu pemikiran, dan mengungkapkan suatu masalah. Cerita dan Kisah yang berasal dari Rasulullah SAW, Nabi, tokoh Islam, dan tokoh-tokoh lainnya, selalu lengkap karena mengandung sekian banyak manfaat dan terkait sekian masalah. Dengan kisah dan cerita itu beliau menerangkan ketauhidan yaitu orang-orang yang ingkar pada Allah maka Allah akan memberikan cobaan, kemudian tentang keimanan dan perjuangan menegakkan Islam, lalu mengenai perjuangan Zubair bin Awam mendirikan sekolah dari
  • 186.
    164 jerjakkayu bulat seperti kandang dan cerita pak Karno yang menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Cerita atau kisah yang baik akan mampu menyampaikan pesan atau nilai secara langsung kepada seorang anak, selain alur ceritanya dapat membantu mengasah kemampuan emosional dan nalar anak-anak sekaligus. Belum lagi manfaat praktis dalam penguasaan kosa kata anak dalam berbahasa juga merupakan keuntungan lain dari sebuah kisah atau cerita yang baik. 3. Nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi terdiri dari 3 kalsifikasi, yakni: (a) Nilai aqidah, adalah dimensi ideology atau keyakinan dalam Islam. Ia merujuk kepada beberapa tingkat keimanan seseorang muslim terhadap kebenaran Islam, terutaman mengenai pokok-pokok keimanan Islam. Adapun nilai aqidah yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi yaitu: (1) nilai ketauhidan tentan zat-zat Allah, (2) nilai larangan syirik, dan (3) nilai ketakwaan atau ketaantan. (b) Nilai syariah, merupakan aturan atau undang-undang Allah SWT tentang pelaksanaan dan penyerahan diri secara total melalui proses ibadah secara langsung maupun tidak langsung dengan sesaman makhluk lain, baik dengan sesama manusia, maupun dengan alam sekitar. Adapun nilai syariah yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi yaitu: (1) nilai menjaga shalat tepat waktu, dan (2) nilai menjaga aurat wanita.
  • 187.
    165 (c) Nilai akhlak (budi pekerti), suatu proses pembentukan perilaku atau watak seseorang, sehingga dapat membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk dan mampu menerapkannya dalam kehidupan. Pendidikan budi pekerti (akhlak) pada hakikatnya merupakan konsekuensi tanggung jawab seseorang untuk memenuhi suatu kewajiban. Adapun nilai budi pekerti (akhlak) yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi yaitu: (1) nilai menebarkan salam, (2) nilai amar ma’ruf nahi mungkar, (3) nilai keikhlasan, (4) nilai kesabaran, (5) nilai kejujuran, (6) nilai syukur, dan (7) nilai berbakti pada orang tua. 4. Kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar Pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam adalah memberikan kontribusi berupa konsruksi ideologi nilai-nilai Islam. Adanya konstruksi idelogi nilai-nilai Islam tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan kompentensi ungul yang dibangun oleh seluruh sinergi positif. B. Saran Berdasarkan hasil analisis terhadap pendidikan nilai dalam pengembangan pendidikan Islam, pada bagian ini penulis ingin ikut serta memberikan kontribusi berupa saran sebagai berikut: 1. Terkait dengan eksistensi novel, sudah sepatutnya novel maupun karya sastra lainnya, mempertimbangkan sisi edukatif yang bisa disumbangkan kepada masyarakat luas dan bukan hanya mempertimbangkan selera pasar,
  • 188.
    166 trend, ataupun profit oriented. Karena, akhir-akhir ini banyak bermunculan karya sastra yang jauh dari unsur mendidik, mengeksplorasi seks tanpa tedeng aling-aling misalnya. Sebab bagaimanapun, karya sastra terutama novel adalah yang paling banyak diminati masyarakat di segala lapisan. 2. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan oleh semua guru untuk dijadikan sebuah pengajaran nilai Islami dalam proses belajar mengajar di lembaga Pendidikan Islam, karena pada zaman sekarang buku yang berbau ilmiah kurang diminati untuk dibaca oleh anak didik, dan sebaliknya buku yang berbau sastra, seperti novel banyak diminati oleh peserta didik.
  • 189.
    DAFTAR PUSTAKA Ameliawati. 2006.Analisis Instink Pada Tokoh Utama Novel Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari. Skripsi. FKIP UMM. Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo. Al-Qur’an dan Terjemahannya. 1990 . Semarang: Menara Kudus. Burhan Bungin. 2003. Content Analysis dan Focus Group Discussion dalam Penelitian Sosial. Jakarta:Raja Grafindo Persada. Dawud, dkk. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I untuk SMA Kelas X, Jakarta : Erlangga. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta. Direktorat Jenderal Pendidikan Non-Formal dan Informal. 2009. Kian Berat Tantangan Pendidikan Formal. Internet: (http: www.pnfi.depdiknas.go.id Endraswara Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama. Elmubarok Zaim. 2008. Membumikan Pendidikan Nilai Mengumpulkan yang Terserak, Menyambung yang Terputus, dan Menyatukan yang Tercerai. Bandung: Alfabeta. Faruk. 2003. Pengantar Sosiologi Sastr. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Fananie Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press. Fajar, A. Malik, dkk. 2004. Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya Merespon Dinamika Masyarakat Global. Yogyakarta: Aditya Media Yogyakarta Bekerja Sama dengan UIN Press. Hirata Andrea. 2005. Novel Laskar Pelangi. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.
  • 190.
    Hardjana. 2006. CaraMudah Mengarang Cerita Anak-anak. Jakarta: PT Grasindo. Hartono Dick. 1985. Menanusiakan Manusia Muda Tinjauan Pendidikan Humaniora . Jakarta: Kanisius. Hall, C.S dan Linzey, G. 1985. Introduction to Personality Theory. New York: John Wiley dan Sons. Hamidi. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. Idris Ramulyo, Mohd. 2004. Asas-asas Hukum Islam: Sejarah Timbul dan BerkembangnyaKedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika. Jakob Sumardjo. 1995. Sastra dan Masa. Bandung: ITB. Kafrawi Nurdjanah, dkk. 2002. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia 3. Jakarta: PT Grasindo. Kaswardi, E.M K. 1993. Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000. Jakarta: PT Grasindo. Krech, D. dan Crutchfield, R. 1962. Individual In Society. Tokyo: Mc Graw- Hill Kogakusha. Lubis Mawardi. 2008. Evaluasi Pendidikan Nilai: Perkembangan Moral Keagamaan Mahasiswa PTAIN. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Mulyana Rokhmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta. Marimba, Ahmad D. 1989. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT. Al- Ma’arif. Muhaimin. 2003. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya: Pusat Studi Agama, Politik dan Masyarakat (PSAMP). Mustofa. 1999. Akhlak Tasawuf . Bandung: CV. Pustaka Setia. Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kuaitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Moeslichatoen R. 2004. Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  • 191.
    Michael, Hubberman A.Miles. Mattew B. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia. Margono. 1997. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Nurgiantoro Burhan. 2005. Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Nurudin. 2007. Dasar-dasar Penulisan. Malang: UMM Press Purwanto Ngalim. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Power, E.J. 1982. Philosophy of Education; Studies in Philosoies, Schooling, and Educational Policies. New Jersey: Prentice-Hall Inc. Rejeki Tatik. diakses 26 Februari 2008. Konsep Pendidikan Nilai yang Menyenangkan. http:www.yahoo.com. Rochajat Harun. 2007. Metode Penelitian Kualitatif untuk Pelatihan Bandung: Mandar Maju. Sisdiknas. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara. Sugihastuti dan Suhartono. 2002. Kritik sastra Feminis Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Spilka, B. 1985. The Psychology of Religion; An Empirical Approch. New Jersey: Prentice-Hall Syah, M. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Rosdakarya. Soejono dan Abdurrahman. 1999. Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan. Jakarta: Rineka Cipta. Tafsir. 1995. Ilmu Pendidikan Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Tillman Diane. 2004. Living Value: An Educational Program “Living Value Activities For Children Ages 8-14. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Wiediastutik, Rini S. 2005. Analisis Nilai-Nilai Humanistik Tokoh dalam Novel Kuncup Berseri Karya NH. Dini. Skripsi. FKIP UMM.
  • 192.
    Wiyatmi, 2006. PengantarKajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka. Yandianto. 2004. Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia, Bandung: M2S. Yamin Martinis. 2007. Profesionalisme Guru dan Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada Press Zuhairini, dkk. 1983. Methodik Khusus Pendidikan Agama, Malang: Biro Ilmiah Fakultas Tarbiyah.
  • 193.
    DEPARTEMEN AGAMA RI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG FAKULTAS TARBIYAH Jl. Gajayana 50 Malang. Telp. (0341) 551354. Fax. (0341) 572533 BUKTI KONSULTASI Nama : Nurul Lahir Sari Ifa NIM : 05110095 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Pembimbing : Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag Judul : Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi) No Hari/tanggal Materi Konsultasi Paraf 01 Sabtu, 07-02-2009 Konsultasi BAB I 02 Rabu, 11-02-2009 Revisi Rumusan Masalah 03 Sabtu, 28-02-2009 Konsultasi BAB I, II, III, IV 04 Kamis, 28-02-2009 Revisi BAB I, II, III, IV 05 Selasa, 03-03-2009 BAB IV, V, VI dan Abstrak 06 Kamis, 05-03-2009 Revisi BAB IV, V 07 Sabtu, 07-03-2009 Revisi BAB VI, Abstrak Dan Lampiran 08 Selasa, 10-03-2009 ACC BAB I, II, III, IV, V, VI dan Abstrak Malang, 10 Maret 2009 Dekan Fakultas Tarbiyah Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony NIP. 150 042 031
  • 194.
    Lampiran-lampiran Re: Konsultasi Abstrak,Bab I, II, III, IV, V dan VI Selasa, 10 Maret, 2009 21:48 Dari: "triyo supriyatno" <trios70@yahoo.com> Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id> ok acc u ntuk ujian. selamat. tanyakan di jurusan kapan ada ujian skripsi. nanti email saya lagi ya. --- On Tue, 3/10/09, Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id> wrote: From: Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id> Subject: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VI To: trios70@yahoo.com Cc: ifho_afi@yahoo.co.id Date: Tuesday, March 10, 2009, 7:02 PM --- Pada Sab, 28/2/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis: Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> Topik: Re: konsultasi bab I, II, III, IV Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id> Tanggal: Sabtu, 28 Februari, 2009, 2:26 PM Assalam................. Bab IV diisi dengan jawaban rumusan masalah 1 dan 2 bab V diisi dengan jawaban rumusan masalah 3 dan 4. OK. Selamat mengerjakan???????????????? Wassalam............. Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!
  • 195.
    Lampiran-lampiran Dari dosenmu yangjauh tapi dekat Rabu, 11 Februari, 2009 18:14 Dari: "triyo supriyatno" <trios70@yahoo.com> Kepada: ifho_afi@yahoo.co.id Ass. Rumusan masalah kamu perlu dirubah.tadinya seperti ini ya... Berdasarkan uraian diatas penulis formulasikan dalam rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa saja Pendidikan nilai yang terkandung Dalam Novel ”Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata ? 2. Bagaimana Pendidikan Nilai Novel ”Laskar Pelangi” Dalam Proses dan Tujuan Pembelajaran Sebagai Pengembangan Pendidikan Islam? 3. Apa kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel ”Laskar Pelangi” Sebagai Pengembangan Pendidikan Islam? Untuk 1. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dlm novel................? 2. Bagaimana metodologi pengajaran nilai yang terkandung dalam novel ......? 3.Nilai-nilai apa saja yang dapat dikembangkan ndalam Pendidikan Islam...........? 4. Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel terhadap Pengembangan PI? Ya, teruskan. coba lihat skripsi punya munif ya. terus ketemu saya sampai bab terakhir. outline ok.... selamat mengerjakan. Wass
  • 196.
    Lampiran-lampiran Konsultasi Kamis, 19 Maret, 2009 17:41 Dari: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id> Kepada: trios70@yahoo.com Cc: ifho_afi@yahoo.co.id Assalamu'alaikum........ Bapak Mohon doanya ge...moga ujian kompre dan skripsi saya lancar dan saya bisa dengan mudah menjawab semua pertanyaan dari dosen penguji. Dan saya doakan semoga bapak juga sukses ujiannya. Amien.....!!!!!!! Dan masalah dosen penguji masih belum pasti pak, tapi seandainya nanti ada pengumuman, akan napak akan saya beritahukan. wa'alaikum.............. --- Pada Sel, 17/3/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis: Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> Topik: Re: ujian skripsi Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id> Tanggal: Selasa, 17 Maret, 2009, 3:16 PM Assalam............ Tolong ke rumah untuk minta tanda tangan saya, biar istri saya yang tanda tangan. saya usahakan bisa pulang. kalau tidak bisa, tolong beritahu pengujinya siapa ke saya. nanti saya kontak dari sini. karena paspor saya belum jadi, dan saya bulan april juga ujian. Hadapi saja, tidak usah takut. bukti konsultasi dengan saya tunjukkan jika ditanyakan. semoga sukses. Wassalam........... Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!
  • 197.
    Lampiran-lampiran ujian skripsi Selasa, 17Maret, 2009 14:19 Dari: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id> Kepada: trios70@yahoo.com Cc: ifho_afi@yahoo.co.id Assalamu'alaikum Wr. Wb. (1) Bapak ujian skripsi telah diinformasikan bahwa ujian dilaksanakan pada tangga 10 April 2009. Pak kami sangat mengharapkan kehadiran bapak untuk mendampinngi kami dalam ujian skripsi. Kami memohon dengan sangat!!!! Selain itu, tanda tangan bapak sebagai bukti konsultasi juga kami butuhkan. Bapak datang ge pak.....biar ada yang membantu kalau ujian sripsi. (2) Bapak kami minta solusi bagaimana seharusnya nanti ketika kami menghadapi ujian sripsi agar kami dapat meyakinkan dosen penguji kami?? Kemudian bagaimana agara skripsi yang kami buat ini dapat menghasilkan hasil yang terbaik?? Terima kasih Pak,,,, Wassalamu'alaikum Wr. Wb. --- Pada Sel, 10/3/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis: Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> Topik: Re: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VI Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id> Tanggal: Selasa, 10 Maret, 2009, 9:48 PM ok acc u ntuk ujian. selamat. tanyakan di jurusan kapan ada ujian skripsi. nanti email saya lagi ya. --- On Tue, 3/10/09, Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id> wrote: From: Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id> Subject: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VI
  • 198.
    Lampiran-lampiran To: trios70@yahoo.com Cc: ifho_afi@yahoo.co.id Date:Tuesday, March 10, 2009, 7:02 PM --- Pada Sab, 28/2/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis: Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> Topik: Re: konsultasi bab I, II, III, IV Kepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id> Tanggal: Sabtu, 28 Februari, 2009, 2:26 PM Assalam................. Bab IV diisi dengan jawaban rumusan masalah 1 dan 2 bab V diisi dengan jawaban rumusan masalah 3 dan 4. OK. Selamat mengerjakan???????????????? Wassalam............. Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang! Pemanasan global? Apa sih itu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!
  • 199.
    Daftar Gambar DAFTAR GAMBAR Keterangan Gambar: Sepuluh Murid-murid Sekolah Muhammadiyah (Lintang, Ikal, Mahar, Trapani, Kucai, Sahara, Harun, Samson, A kiong, dan Syahdan) . Keterangan Gambar: Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus
  • 200.
    Daftar Gambar Keterangan Gambar: Andrea Hirata (Pengarang Novel Laskar Pelangi) dan dalam novelnya digambarkan sebagai tokoh Ikal. Keterangan Gambar: Cover Laskar Pelangi Edisi Lama (Kiri) dan Edisi Baru (Kanan)
  • 201.
    Lampiran-lampiran PROFILE ANDREA HIRATA (Penulis Novel Laskar Pelangi) Gender: male Place of Birth Indonesia Website http://sastrabelitong.multiply.com Genre: Literature & Fiction, Biographies & Memoirs Nama Andrea Hirata Seman Said Harun, atau yang lebih sering dikenal dengan Andrea Hirata. Andrea Hirata lahir di Belitong. Andrea Hirata, yang dalam buku itu dikisahkan sebagai Ikal, berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Seman Said Harun Hirata (75), adalah pensiunan pegawai rendahan di PN Timah, sementara ibunya, Masturah (72), adalah ibu rumah tangga. Empat abang dan satu adiknya menekuni profesi seperti umumnya kaum marjinal di Belitong. Meskipun studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains--fisika, kimia, biologi, astronomi--dan tentu saja sastra. Buku Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov merupakan karya Andea Hirata Seman yang mencengangkan banyak orang di negeri ini. Tiga buku, minus Maryamah Karpov, meledak di pasaran. Selain di Indonesia, Laskar Pelangi juga diterbitkan di Malaysia, Singapura, Spanyol, dan beberapa negara Eropa lainnya. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi dari
  • 202.
    Lampiran-lampiran Universitas Indonesia. Iamendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Universite' de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT Telkom. Hobinya naik komidi putar. Itulah sekilas tentang profile Andrea Hirata yang penulis dapat dari media internet. Penulis berharap profile Andrea Hirata di atas, dapat dijadikan inspirasi pemicu semangat bagi manusia untuk terus berkarya, berpendidikan dan bertekad tinggi untuk menggapai cita-cita. http://www.bukabuku.com/authorscorner/detail/1950/andrea-hirata.html
  • 203.
    Lampiran-lampiran SINOPSIS NOVEL LASKAR PELANGI *KARYA ANDREA HIRATA* Cerita terjadi di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau jumlah siswa baru tidak sampai 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu. Mulai dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah! Mereka, Laskar Pelangi nama yang diberikan Bu Muslimah karena kesenangan mereka terhadap pelangi sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan- kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal, dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari
  • 204.
    Lampiran-lampiran menyenangkan, tertawa danmenangis bersama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya. Demikianlah cerita singkakat (sinopsis) novel Laskar Pelangi yang dapat penulis ceritakan. Menurut penulis alur cerita Laskar Pelangi memang sangat inspiratif, novel ini mampu mengobarkan semangat mereka yang selalu dirudung kesulitan dalam menjalani blantika pendidikan di mana tokoh-tokoh didalamnya adalah manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, tawakal dan takwa yang dituturkan secara indah. Dalam kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka, indahnya petualangan mereka yang telah diceritakan dalam novel ini dapat membuat tertawa, menangis dan terseduh ketika penulis membaca setiap lembar bukunya. Ketika membacanya seolah menemukan Gabriel Garcia Marquez, Nicolai Gogal atau Alan Lighman ia seperti trance menulis “Laskar Pelangi” dengan kadar emosi demikian kental, bertabur metafora penuh pesona, deskripsi yang kuat, filmis ketika memotret lanskep dan budaya yang dikerjakan dalam kurun waktu tiga pekan.
  • 205.
    Lampiran-lampiran DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Nurul Lahir Sari Ifa TTL : Lumajang, 21 Januari 1987 Jenis Kelamin : Female Agama : Islam Alamat Rumah : Pantai Purnama Banjar Babakan Sukawati Gianyar-Bali E-mail : E-mail ifho_afi@yahoo.co.id HP : 085735194691 PENDIDIKAN FORMAL 1993-1999 : SDN No. 7 Sukawati 1999-2002 : MTs Nurul Jadid Probolinggo 2002-2005 : MAN Nurul Jadid Probolinggo 2005 : UIN Malang PENGALAMAN ORGANISASI 2005-2006 : Pimpinan Redaksi Buletin Afsyana Ma’had Ibnu Sina 2005 : Anggota JDFI Defisi Qiroah 2005 : Anggota Jam’iyah Qura Wal Hufadz (JQH) 2006-2007 : Kordinator Bidang Keagamaan Rayon Chondrodimuko PMII UIN Malang 2006-2007 : Kordinator Bidang Penalaran Himpunan Mahasiswa Lumajang Jaya (HIMALAYA) 2007 : Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Universitas Brawijaya Malang 2007-2008 : Pengurus Bidang Penerbitan HMJ PI UIN Malang 2007-2008 : Pengurus Badan Pengaduan Ikatan Mahasiswa Pulau Dewata IMADE 2008 : Anggota UKM Pramuka UIN Malang PENGALAMAN LAIN-LAIN 2004 : The First Winner Has Followed The Activity “Scientific Room Contents” 2007 : Peserta Lomba Pentas Cerpen Islami (PENCIL) di forkom FIA Universitas Brawijaya Malang 2008 : Juara I Lomba Memasak antar Rayon PMII UIN Malang 2008 : Penerima Beasiswa DIPA 2005-2008 : Artikel dan Karya Seni Puisi Tersebar Di Buletin Kampus dan Oraganisasi Ekstra ABBILITY Computer :Windows. MS Office