MATERI KREATIFITAS
education purpose only

DIGITAL FILMMAKING
SCRIPT WRITING

2

we are here!

STEP

DIALOG
SOUND
AMBIENS
SCRIPT WRITING

3

NASKAH

SCRIPTWRITING

SKENARIO

SCRIPT

SCREENPLAY

kemampuan yang secara kreatif
mentransformasi pesan atau cerita ke
dalam bentuk tertulis dengan konteks
visual yang bakal diperformakan oleh
‘aktor’ secara nyata

FADE IN
01. EXT. PINTU KELAS 3 IPA 1 – PAGI
Bangunan sekolah. Suasana lengang. RINA
setengah berlari dan berhenti di depan
pintu kelas yang tertutup.
INSERT tag di pintu : 3 IPA 1.
Rina, 17 tahun, putih, berambut tipis
dan pendek. Satu tindik kecil di hidung.
Napasnya tersengal. Kancing baju teratas
terlepas. Dia menyimak situasi dalam
kelas. Hanya terdengar suara BU TAGOR.
BU TAGOR [OS]
Menyebalkan sekali!
Rina mengatur napas. Kancing bajunya
dirapihkan.

CUT TO

Film
Pentas Panggung
Comm. Ads.
Website
Dokumenter
Profil Bisnis
Pidato

TV Program
Training Video
Radio Program
PSA
News
Press Conference
dan lainnya
SCRIPT WRITING

4
writer

visualizer

we are here!

STORY

TREATMENT
STEP OUTLINE
SCRIPT

director
SCRIPT WRITING

5
selling tool
diagnose a story

TREATMENT

STEP OUTLINE

Cerita akan diangkat ke
dalam bentuk film, clip,
atau tayangan audio
visual. Tentu saja berbeda
sisi pandangnya. Bukan
hanya dari sisi pandang
penulis bercerita, namun
juga harus menyertakan
situasi bagaimana orang
lain ingin melihat cerita
itu.

SCRIPT

element

SHOOTING SCRIPT

TREATMENT berarti membentuk cerita
agar benar visual naratifnya, hingga bisa
dibuat visualisasinya.
Seperti halnya SINOPSIS, namun dengan
penyampaian prosa dan bunyi berbeda.
 difokuskan untuk script
 tanpa dialog bila perlu
 termin waktu sesuai kejadian
 melibatkan bahasa visual
6

SCRIPT WRITING
ILUSTRASI

Masa libur musim gugur telah usai. Anak-anak memulai keriangan di
sekolah, namun guru-guru telah bersepakat menganggap Totto-chan nakal.
Padahal gadis cilik periang itu hanya memiliki keingin-tahuan yang besar.
Seperti memanggil para pemusik jalanan yang langsung membuat para
murid ribut, hingga masalah laci Totto-chan yang selalu dibuka ratusan kali
dan ditutup dengan cara dibanting. Totto-chan akan dikeluarkan dari
sekolah. Mama pun terpaksa dipanggil oleh kepala sekolah, padahal baru
saja sekolah dimulai setelah liburan.

Pagi hari. Dedaunan beterbangan oleh hembusan angin membuat warna merah
dan kuning di halaman sekolah. Toto-chan, anak perempuan kelas satu berdiri di
balik jendela. Tingginya 120 cm, wajahnya mungil dengan dua kuncirnya. Dia
memakai seragam putih berlengan panjang dan bertopi bundar warna cokelat.
Dia terlihat galau menatap ke arah ibunya dan kepala sekolah yang keluar dari
ruangan guru. Toto-chan gelisah. Wajahnya polos memandangi langit yang
sangat biru. Dia tetap berdiri di pinggiran jendela. “Hai, Toto-chan sayang...”,
sapa Ibunya sambil tersenyum manis padanya. Ibunya berdiri di samping Pak
Kepala Sekolah yang terlihat sinis, senyumnya kecut sekali dan tak sudi
memandang pada Toto-chan.
SCRIPT WRITING

7

TREATMENT :

 active voice agar kalimat terdengar
asertif dan bisa divisualisasikan
 tanpa dialog bila perlu, kecuali untuk
situasi teramat penting

Terdengar suara keras. BRAKKK! Mela menjerit
kaget dan ketakutan. Ardy berusaha menenangkan.
Lampu taman sesekali mati, menyala tak stabil.
Ardy melangkah masuk ke teras. Mela berusaha
menarik lengannya. Enggan bertemu Kakek Jelaga.
TREATMENT :

 termin waktu sesuai kejadian
 pilih kata agar kalimat efektif, jelas dan
tidak bertele-tele agar orang lain tahu
persis maksud kejadiannya

1982. Sore hari di peron Stasiun Manggarai. Imam
melongok ke arah pintu masuk. Orang berjejalan di
sekitarnya memaksa lelaki itu meneruskan langkah.
E2-18 tulisan pada tiket. Imam mencari gerbongnya.
Dia sempat menoleh lagi ke arah pintu masuk. Wulan
berdiri di ujung peron. Wajah Imam bergairah. Dia
berteriak memanggil gadis itu sekencangnya.
TREATMENT :

 munculkan ambiens yang membuat
audiens memahami situasi
 buat audiens bisa mencium, merasa
kan, melihatnya dan terlibat dalam
situasinya

Muncul lagu Cinta Satu Malam. Budi tengah ngibing.
Sorot lampu ke arah Murni yang meliukkan pinggul.
Wajah kenesnya menggoda. Budi berteriak kecil.
AAUW! Tabuhan kendang membuat lelaki itu makin
gairah berjoged. Dia acungkan selembar lima
ribuan. Murni mencubit pipinya. BYURRR! Budi basah
kuyup. Wajah Emak yang tegang dan tak sabar ada di
hadapannya. Budi cemberut sambil bangun dari
rebahannya, lalu duduk di pinggiran bale.
8

SCRIPT WRITING

ACTIVE VOICE . VISUALIZED . TIME . EFFECTIVE . AMBIENS
TREATMENT :

Sore yang tenang di halaman rumah Firdaus. Terdengar suara mesin mobil
dinyalakan. FIRLA, 14 tahun, berdiri di halaman memandang ke arah rumah
Firdaus. Gadis itu membawa tas besar dan tas sekolah. Wajahnya tegang
dengan sedikit senyum. Seorang lelaki dari dalam mobil mengatakan agar
Firla harus berupaya untuk bisa dan betah tinggal di rumah ini. Lelaki
itu bilang Firdaus adalah bapaknya dan satu-satunya kerabat tersisa.
Mobil itu segera meninggalkan halaman rumah. Firla masih mematung,
memandang ke arah rumah dan tersenyum.
WRERRNG! Suara motor yang unik dari arah jalan. Firdaus dan motor
gerobaknya memasuki halaman. Dia mengamati Firla yang berdiri menatap
rumahnya. Keduanya beradu pandang tanpa ada perkataan. Firdaus segera
memarkir motor di samping rumah. Dia tertatih menggunakan kruk untuk
berjalan. Firla terhenyak. Wajahnya berubah kaku. Senyumnya hilang. Tas
besar yang dipegangnya terlepas dari genggaman tangannya.
9

SCRIPT WRITING

tidak boleh membuat
banyak dialog, karena
bukan membuat
cerpen atau novel

Siang ini taman kampus tak di hadiri banyak mahasiswa, walaupun cuaca
sangat mendukung. Dari beberapa orang yang singgah disana tampak dua remaja
tengah duduk di kursi batu buatan dengan pohon besar menaunginya. Dua remaja
itu adalah Ringgo dan Citra. Sejak Ringgo mengajak Citra ke taman,ia hanya
memandang langit tanpa berkata apa-apa terlebih dulu membuat gadis di
sampingnya bingung.
“Kenapa? Ada masalah? Kamu ngajak aku kesini,mau ngapain?,“ tanya Citra.
Ringgo menoleh ke arah Citra, ”Kita putus,ya? Aku rasa hubungan ini…mm,ngga
bisa di lanjutin!”
“Kenapa begitu, Nggo...?”. Lalu Citra terdiam. Dadanya terasa sesak. Raut
wajahnya pun nampak terlihat kecewa, sedih dan agak marah. “Tega bener
kamu...!”
SCRIPT WRITING

10

tanda baca dan
huruf tidak boleh
salah
penerapannya

Sore hari. langit mendung dipenuhi awan hitam yang
menutupi matahari.Angin kencang membuat daun-daun
berjatuhan. putra berlari kencang. napas yang terengahengah.Dia langsung menarik tangan tiara dan memeluknya
erat.tiara melpaskan badannya dari pelukan putra. dengan
raut wajah yang sedih serta air mata yang mengalir
membasahi pipi tiara.tiara berkata “kita musti putus”.
sambil menatap wajah putra ,tiara meminta maaf.menurutnya
ini adalah jalan terbaik agar kita bahagia. tiara berlari
langsung meninggalkan putra yang terdiam kaku tanpa menoleh
kearahnya. Kreek! putra membuka pintu rumah.
11

SCRIPT WRITING

hindari hiperbola, majas atau
situasi yang tidak pasti, kecuali
yang sudah dianggap lumrah
atau diperlukan sekali

 Cinta Citra pada Ringgo memang sulit untuk diputuskan. Sedalam
samudera. Seluas jagad raya. Itu yang membuat Ratih memendam
perasaan gelisah. Apalagi perutnya tampak semakin terlihat
membesar.
 Malam ini, Pedro kembali membuka buku latihan ujian matematika
nya. Dia yakin bisa menggapai cita-citanya yang setinggi langit.
Paula yang sulit memejamkan mata jadi makin tak suka pada Pedro.
 Langit dipenuhi awan hitam. Sebentar lagi pasti turun hujan.
Sudah seminggu ini selalu begitu. Ridwan segera memacu motornya
lebih cepat di jalanan berdebu.
12

SCRIPT WRITING

hindari penulisan editorial
Firdaus duduk di meja seorang staf kantor. Di dekatnya tersandar kruk.
Kursi staf itu kosong. Firdaus terlihat polos dan lugu. Pandangannya
mengitari ruangan. Sebuah label koperasi di dinding. Koperasi itu
bergerak di bidang simpan pinjam, selain menerima tabungan dari
anggotanya.
jangan gunakan kata
pasif, seperti baiknya,
seharusnya, mungkin
Pagi hari. Lengang. Nurma tengah memberi pelajaran di kelas 8B. Siswa siswi
menyimak. Dia memandang ke arah Dodi. Anak lelaki itu termenung. Wajahnya
muram dan kedua matanya terlihat sayu. Mungkin saja Dodi belum bisa bertemu
dengan ayahnya. Tidak seharusnya dia berlaku seperti itu. Nurma hanya
tersenyum kecil.
SCRIPT WRITING

13

Buatlah TREATMENT dari sinopsis 2 [dua]
penggalan cerita mengenai kejadian Rina di
ruang kelas, serta Citra di taman kampus.

Bu Tagor menegur keras Rina yang
terlambat masuk ke ruang kelas. Tapi
bukan itu penyebabnya. Kalimat tak
menyenangkan menghantar Rina ke
bangkunya. Itu membuatnya malu dan
serba salah.
Memang kelabu buat Citra. Baru saja
Ringgo meinggalkannya sendirian di
taman kampus. Citra terdiam, tak
percaya, dan hanya bisa menangis.
Ringgo tega memutus cintanya.
SCRIPT WRITING

14

ACTIVE VOICE . VISUALIZED . TIME . EFFECTIVE . AMBIENS
cari dan tentukan situasi
yang tidak tepat digunakan
dalam penulisan TREATMENT
pada ilustrasi di bawah
TREATMENT :

Rina mengatur nafas saat sudah berada di depan kelasnya, 3 IPA 1. Dari luar
terdengar jelas suara Bu Tagor sedang mengajar, membuat jantungnya berpacu
lebih cepat. Rina mengetuk pintu, ”Assalamualaikum…”. Dia perlahan masuk ke
dalam kelas. Bu Tagor tengah menulis di papan tulis. Teman-temannya dan
gurunya itu menoleh cepat ke arah Rina. Kelas yang tadinya ramai menjadi sepi.
Rina jadi menundukkan kepala. Dia merasa tak beruntung kali ini.
Wajah Bu Tagor tampak kaku mengamati gerak Rina, seperti anjing hutan ingin
menerkam anak domba. Bu Tagor kembali pada papan tulisnya.
Wajah Rina nampak pucat. Ia menghela nafas, menundukkan kepala dan
melangkah pergi menuju tempat duduknya. Bermacam-macam perasaan
menyelimuti dirinya, terutama rasa malu. Fitri, teman sebangkunya menyambut
dengan senyuman dan mengelus pundaknya.
15

SCRIPT WRITING

TREATMENT :

Di depan pintu kelas, Rina mengatur napas. Terdengar suara
Bu Tagor di dalam kelas. Rina gelisah dan dia kembali mengatur
napas. Dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Bu Tagor dan
seisi kelas memandang ke arah pintu. Suasananya jadi agak ramai.
Beberapa temannya berkasak-kusuk. Dahi Bu Tagor berkerut, bola
matanya sedikit membesar. Rina menghentikan langkah sekitar dua
meter dari hadapan gurunya.
"Tiga kali! Sudah tiga kali...!" Gurunya berteriak membuat kelas
langsung hening. Seisi kelas terdiam dan merapihkan duduknya.
Wajah Rina memucat. Bu Tagor bergerak ke papan tulis. Sambil
menundukkan kepala, Rina melangkah ke arah bangkunya. Jeni,
teman sebangkunya menatap kasihan. Dia berbisik menanyakan
alasan terlambat lagi. Suasana masih sepi. Rina ingin menjawab,
namun suara Bu Tagor meneruskan pelajaran, menahannya.
SCRIPT WRITING

16

ACTIVE VOICE . VISUALIZED . TIME . EFFECTIVE . AMBIENS
cari dan tentukan situasi
yang tidak tepat digunakan
dalam penulisan TREATMENT
pada ilustrasi di bawah
TREATMENT :

Siang hari yang kelabu bagi Citra, tapi sejuk dengan daun-daun yang berjatuhan
dan terbang dibawa oleh angin. Citra yang duduk di bangku taman karena ingin
bertemu seseorang yaitu Ringgo pacarnya. Sambil menunggu Ringgo, Citra pun
mengayunkan kakinya ke depan dan ke belakang. Tiba-tiba Citra melihat Ringgo
dari kejauhan yang ingin menghampirinya. Langkah kaki Ringgo sangat lamban
dengan bunyi daun yang diinjaknya serta raut wajahnya yang sedih dan tidak
bersemangat menghampiri Citra dan duduk di sebelahnya.
Sambil menghela napas dan menelan ludah Ringgo mengatakan bahwa dia
ingin memutuskan hubungannya dengan Citra. Ekspresi wajah Citra yang
tersenyum berubah menjadi sangat syok dan heran. Ringgo memegang tangan
Citra sambil minta maaf kalau ini adalah jalan yang terbaik untuk dia dan Citra.
Ringgo sudah menyukai wanita lain dan ingin menikahinya karena wanita itu
hamil. Citra pun menyetujui keputasan Ringgo sambil meneteskan air mata dan
menunduk. Ringo pergi meninggalkan Citra.
17

SCRIPT WRITING

TREATMENT :

Taman kampus. Siang hari diliputi awan mendung di
sebagian langit. Sejuk. Daun-daun berjatuhan dan terbang
dibawa angin. Citra duduk di bangku taman. Dia ayunkan
kaki. Tak lama, dia melihat Ringo berjalan di kejauhan.
Senyum muncul di wajah Rina. Ringo makin mendekati Citra.
Langkah Ringo sangat lamban. KREEK! Bunyi ranting terinjak
sepatunya. Ranting itu patah beberapa bagian. Dengan raut
wajah sedih dan tidak bersemangat dia duduk di sebelah
Citra.
Ringo menghela napas dan menelan ludah. Citra terheran
menatap Ringo. “Kita musti putus...”. Ringo memandang pada
ranting patah tadi. Kedua tangannya menjambak rambut, lalu
menutupi mukanya. Wajah Citra berubah tegang. Tangannya
digenggam oleh Ringo. Dia meminta maaf. Menurutnya ini
adalah
jalan
terbaik
untuk
keduanya,
karena
Ringgo
menghamili wanita lain. Citra meneteskan air mata dan
menunduk. Ringo kembali meminta maaf dan melangkah pergi.
Gadis itu semakin menangis.
SCRIPT WRITING

18

L.A.T.I.H.A.N
cari dan tentukan situasi yang tidak
tepat digunakan dalam penulisan
TREATMENT pada ilustrasi di bawah
TREATMENT :

Malam hari. Bulan purnama diselimuti sedikit awan hitam. Dua remaja
pria seumur tergesa di halaman rumah menuju sebuah motor terparkir.
Pria yang memakai topi menaiki motor, tapi wajahnya tampak bingung.
Pasti ada yang tak beres dengan dirinya. Tangannya merogoh saku jaket
dan celana. Lalu menatap ke arah bulan. Bisa jadi akan turun hujan. Dia
berlari dan masuk ke dalam rumah.
Di ruang tengah, seorang wanita tua terheran melihat lelaki itu berlari
meliwatinya. Tidak seperti biasa dia berkelakuan begitu. Wanita itu pun
mengikutinya. Si remaja pria masuk ke dalam sebuah kamar berpintu
terbuka. Dia dapati seorang wanita muda terbaring di tempat tidur.
Wajah lelaki itu lantas berseri. Dia berupaya meraih kunci dalam
genggaman wanita. Dia kaget terperanjat. Ternyata wanita itu tidak
dikenalnya. Wajahnya seram bertaring...
SCRIPT WRITING

19

L.A.T.I.H.A.N
cari dan tentukan situasi yang tidak
tepat digunakan dalam penulisan
TREATMENT pada ilustrasi di bawah
TREATMENT :

Suasana lengang di perpustakaan sebuah SMA. Siang sepenggalan
kepala. TENG! Bel sekolah. Beberapa siswa bergegas keluar dari
ruangan perpustakaan. Winda tak menyangka. Dia gusar dan
membereskan bukunya. Wajahnya bersungut dan mengumpat. Dia
kesal sekali pada Tanti. Winda mungkin saja telah dikhianati. Dia
berlari menuju pintu keluar.
Hampir sampai di pintu kelas, Winda berhenti. Dia mendengar suara
seseorang berbicara di depan kelas. Winda melongok sedikit di pintu
itu. Dia terhenyak. Tanti tengah berbicara kepada semua temannya.
“Kita harus menolong Winda...!”. Muka Winda menegang. Mustinya
Tanti tak berbuat sekejam itu. Dia segera melangkah masuk dan marah
besar pada Tanti. Bahkan Winda memulai berbuat kasar. Dia menarik
tangan dan menjambak rambut Tanti dengan kuat. Tanti pun
membalas. Tidak patut Winda berkelakuan seperti itu. Suasananya
hiruk pikuk tak karuan. Beberapa temannya sibuk melerai...
20

HALLOWEEN 7 – Debra Hill, Robert Zappia [1998]
Rachel Loomis, anak dari Dr. Loomis meminta bantuan tetangganya. Dia
menemukan situasi dalam rumahnya berantakan. Timmy, tetangganya
berusaha menelepon polisi Chicago dan memeriksa rumah wanita itu.
TREATMENT :
Pinggiran Chicago. Malam hari. Seorang wanita baru pulang
ke rumah dan menemukan pintunya terbuka sedikit. Dia
ketakutan dan berusaha mendapatkan bantuan tetangga
sebelah. Seorang remaja lelaki. Mereka menelepon polisi.
Wanita itu tampak marah mengatakan ada orang yang merusak
rumahnya. Dia ketakutan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Mereka berbincang, ternyata wanita itu adalah RACHEL
LOOMIS, anak Dr. Loomis. Remaja pria itu adalah TIMMY
yang terlihat kesal karena dia tak bisa menonton program
tvnya.
Terlampau lama menunggu polisi. Dia memutuskan memeriksa
rumah wanita itu sendirian dengan membawa pemukul
baseball. Timmy berhati-hati masuk ke dalam rumah,
sementara wanita itu masih berdiri ketakutan di halaman.
Memang berantakan. Vas bunga dan kertas berserakan. Namun
Timmy tak menemukan seseorang pun.

SCRIPT WRITING
SCRIPT WRITING

21
THE TERMINATOR - James Cameron [1984]

Lelaki itu adalah THE TERMINATOR. Manusia mesin dari galaksi berbeda. Dia
sampai di bumi dengan bertelanjang. Dia membuat kerusuhan di klub malam
untuk mendapatkan satu set pakaian buat dirinya.
TREATMENT :
Masa kini, di sebuah halaman sekolah di Los Angeles. Tampak
berdiri gagah seorang lelaki tanpa berpakaian. Tinggi, berotot
dan terlihat tegap. Sama sekali telanjang. Dia memeriksa ke
sekitarnya dengan mata yang biru, tajam dan akurat. Muncul
proyeksi teknologi virtual pada perspektifnya. Pandangannya
berhenti hingga di kejauhan. Tertuju pada bangunan dengan
lampu berkedap kedip.
Sebuah botol bir terhempas di lantai. Tiga pria tengah asyik
minum di klub. Suasana hingar bingar oleh musik dan tertawa.
Mereka melihat seorang lelaki telanjang berjalan ke arah
mereka. Ada wanita yang tampak takjub menyimaknya. Lelaki itu
meneliti akurasi tubuh beberapa pria di situ dan berhasil
menemukan salah satunya. “Pakaianmu cocok. Berikan pada
saya...”. Ketiga pria itu berpandangan dan tertawa. Pria yang
dimaksud menolak memberikan pakaiannya, bahkan siap menghajar
lelaki telanjang itu. Terjadi perkelahian. Beberapa pria ikut
menyerang. Lelaki itu begitu mudah dan terampil mengatasi
situasi. Tak satu pun pria di situ bisa mengalahkannya. Pria
bertelanjang itu adalah THE TERMINATOR
22

SCRIPT WRITING

BELAJAR BERLATIH BERMAIN BEKERJA

STORY TREATMENT

  • 1.
    MATERI KREATIFITAS education purposeonly DIGITAL FILMMAKING
  • 2.
    SCRIPT WRITING 2 we arehere! STEP DIALOG SOUND AMBIENS
  • 3.
    SCRIPT WRITING 3 NASKAH SCRIPTWRITING SKENARIO SCRIPT SCREENPLAY kemampuan yangsecara kreatif mentransformasi pesan atau cerita ke dalam bentuk tertulis dengan konteks visual yang bakal diperformakan oleh ‘aktor’ secara nyata FADE IN 01. EXT. PINTU KELAS 3 IPA 1 – PAGI Bangunan sekolah. Suasana lengang. RINA setengah berlari dan berhenti di depan pintu kelas yang tertutup. INSERT tag di pintu : 3 IPA 1. Rina, 17 tahun, putih, berambut tipis dan pendek. Satu tindik kecil di hidung. Napasnya tersengal. Kancing baju teratas terlepas. Dia menyimak situasi dalam kelas. Hanya terdengar suara BU TAGOR. BU TAGOR [OS] Menyebalkan sekali! Rina mengatur napas. Kancing bajunya dirapihkan. CUT TO Film Pentas Panggung Comm. Ads. Website Dokumenter Profil Bisnis Pidato TV Program Training Video Radio Program PSA News Press Conference dan lainnya
  • 4.
    SCRIPT WRITING 4 writer visualizer we arehere! STORY TREATMENT STEP OUTLINE SCRIPT director
  • 5.
    SCRIPT WRITING 5 selling tool diagnosea story TREATMENT STEP OUTLINE Cerita akan diangkat ke dalam bentuk film, clip, atau tayangan audio visual. Tentu saja berbeda sisi pandangnya. Bukan hanya dari sisi pandang penulis bercerita, namun juga harus menyertakan situasi bagaimana orang lain ingin melihat cerita itu. SCRIPT element SHOOTING SCRIPT TREATMENT berarti membentuk cerita agar benar visual naratifnya, hingga bisa dibuat visualisasinya. Seperti halnya SINOPSIS, namun dengan penyampaian prosa dan bunyi berbeda.  difokuskan untuk script  tanpa dialog bila perlu  termin waktu sesuai kejadian  melibatkan bahasa visual
  • 6.
    6 SCRIPT WRITING ILUSTRASI Masa liburmusim gugur telah usai. Anak-anak memulai keriangan di sekolah, namun guru-guru telah bersepakat menganggap Totto-chan nakal. Padahal gadis cilik periang itu hanya memiliki keingin-tahuan yang besar. Seperti memanggil para pemusik jalanan yang langsung membuat para murid ribut, hingga masalah laci Totto-chan yang selalu dibuka ratusan kali dan ditutup dengan cara dibanting. Totto-chan akan dikeluarkan dari sekolah. Mama pun terpaksa dipanggil oleh kepala sekolah, padahal baru saja sekolah dimulai setelah liburan. Pagi hari. Dedaunan beterbangan oleh hembusan angin membuat warna merah dan kuning di halaman sekolah. Toto-chan, anak perempuan kelas satu berdiri di balik jendela. Tingginya 120 cm, wajahnya mungil dengan dua kuncirnya. Dia memakai seragam putih berlengan panjang dan bertopi bundar warna cokelat. Dia terlihat galau menatap ke arah ibunya dan kepala sekolah yang keluar dari ruangan guru. Toto-chan gelisah. Wajahnya polos memandangi langit yang sangat biru. Dia tetap berdiri di pinggiran jendela. “Hai, Toto-chan sayang...”, sapa Ibunya sambil tersenyum manis padanya. Ibunya berdiri di samping Pak Kepala Sekolah yang terlihat sinis, senyumnya kecut sekali dan tak sudi memandang pada Toto-chan.
  • 7.
    SCRIPT WRITING 7 TREATMENT : active voice agar kalimat terdengar asertif dan bisa divisualisasikan  tanpa dialog bila perlu, kecuali untuk situasi teramat penting Terdengar suara keras. BRAKKK! Mela menjerit kaget dan ketakutan. Ardy berusaha menenangkan. Lampu taman sesekali mati, menyala tak stabil. Ardy melangkah masuk ke teras. Mela berusaha menarik lengannya. Enggan bertemu Kakek Jelaga. TREATMENT :  termin waktu sesuai kejadian  pilih kata agar kalimat efektif, jelas dan tidak bertele-tele agar orang lain tahu persis maksud kejadiannya 1982. Sore hari di peron Stasiun Manggarai. Imam melongok ke arah pintu masuk. Orang berjejalan di sekitarnya memaksa lelaki itu meneruskan langkah. E2-18 tulisan pada tiket. Imam mencari gerbongnya. Dia sempat menoleh lagi ke arah pintu masuk. Wulan berdiri di ujung peron. Wajah Imam bergairah. Dia berteriak memanggil gadis itu sekencangnya. TREATMENT :  munculkan ambiens yang membuat audiens memahami situasi  buat audiens bisa mencium, merasa kan, melihatnya dan terlibat dalam situasinya Muncul lagu Cinta Satu Malam. Budi tengah ngibing. Sorot lampu ke arah Murni yang meliukkan pinggul. Wajah kenesnya menggoda. Budi berteriak kecil. AAUW! Tabuhan kendang membuat lelaki itu makin gairah berjoged. Dia acungkan selembar lima ribuan. Murni mencubit pipinya. BYURRR! Budi basah kuyup. Wajah Emak yang tegang dan tak sabar ada di hadapannya. Budi cemberut sambil bangun dari rebahannya, lalu duduk di pinggiran bale.
  • 8.
    8 SCRIPT WRITING ACTIVE VOICE. VISUALIZED . TIME . EFFECTIVE . AMBIENS TREATMENT : Sore yang tenang di halaman rumah Firdaus. Terdengar suara mesin mobil dinyalakan. FIRLA, 14 tahun, berdiri di halaman memandang ke arah rumah Firdaus. Gadis itu membawa tas besar dan tas sekolah. Wajahnya tegang dengan sedikit senyum. Seorang lelaki dari dalam mobil mengatakan agar Firla harus berupaya untuk bisa dan betah tinggal di rumah ini. Lelaki itu bilang Firdaus adalah bapaknya dan satu-satunya kerabat tersisa. Mobil itu segera meninggalkan halaman rumah. Firla masih mematung, memandang ke arah rumah dan tersenyum. WRERRNG! Suara motor yang unik dari arah jalan. Firdaus dan motor gerobaknya memasuki halaman. Dia mengamati Firla yang berdiri menatap rumahnya. Keduanya beradu pandang tanpa ada perkataan. Firdaus segera memarkir motor di samping rumah. Dia tertatih menggunakan kruk untuk berjalan. Firla terhenyak. Wajahnya berubah kaku. Senyumnya hilang. Tas besar yang dipegangnya terlepas dari genggaman tangannya.
  • 9.
    9 SCRIPT WRITING tidak bolehmembuat banyak dialog, karena bukan membuat cerpen atau novel Siang ini taman kampus tak di hadiri banyak mahasiswa, walaupun cuaca sangat mendukung. Dari beberapa orang yang singgah disana tampak dua remaja tengah duduk di kursi batu buatan dengan pohon besar menaunginya. Dua remaja itu adalah Ringgo dan Citra. Sejak Ringgo mengajak Citra ke taman,ia hanya memandang langit tanpa berkata apa-apa terlebih dulu membuat gadis di sampingnya bingung. “Kenapa? Ada masalah? Kamu ngajak aku kesini,mau ngapain?,“ tanya Citra. Ringgo menoleh ke arah Citra, ”Kita putus,ya? Aku rasa hubungan ini…mm,ngga bisa di lanjutin!” “Kenapa begitu, Nggo...?”. Lalu Citra terdiam. Dadanya terasa sesak. Raut wajahnya pun nampak terlihat kecewa, sedih dan agak marah. “Tega bener kamu...!”
  • 10.
    SCRIPT WRITING 10 tanda bacadan huruf tidak boleh salah penerapannya Sore hari. langit mendung dipenuhi awan hitam yang menutupi matahari.Angin kencang membuat daun-daun berjatuhan. putra berlari kencang. napas yang terengahengah.Dia langsung menarik tangan tiara dan memeluknya erat.tiara melpaskan badannya dari pelukan putra. dengan raut wajah yang sedih serta air mata yang mengalir membasahi pipi tiara.tiara berkata “kita musti putus”. sambil menatap wajah putra ,tiara meminta maaf.menurutnya ini adalah jalan terbaik agar kita bahagia. tiara berlari langsung meninggalkan putra yang terdiam kaku tanpa menoleh kearahnya. Kreek! putra membuka pintu rumah.
  • 11.
    11 SCRIPT WRITING hindari hiperbola,majas atau situasi yang tidak pasti, kecuali yang sudah dianggap lumrah atau diperlukan sekali  Cinta Citra pada Ringgo memang sulit untuk diputuskan. Sedalam samudera. Seluas jagad raya. Itu yang membuat Ratih memendam perasaan gelisah. Apalagi perutnya tampak semakin terlihat membesar.  Malam ini, Pedro kembali membuka buku latihan ujian matematika nya. Dia yakin bisa menggapai cita-citanya yang setinggi langit. Paula yang sulit memejamkan mata jadi makin tak suka pada Pedro.  Langit dipenuhi awan hitam. Sebentar lagi pasti turun hujan. Sudah seminggu ini selalu begitu. Ridwan segera memacu motornya lebih cepat di jalanan berdebu.
  • 12.
    12 SCRIPT WRITING hindari penulisaneditorial Firdaus duduk di meja seorang staf kantor. Di dekatnya tersandar kruk. Kursi staf itu kosong. Firdaus terlihat polos dan lugu. Pandangannya mengitari ruangan. Sebuah label koperasi di dinding. Koperasi itu bergerak di bidang simpan pinjam, selain menerima tabungan dari anggotanya. jangan gunakan kata pasif, seperti baiknya, seharusnya, mungkin Pagi hari. Lengang. Nurma tengah memberi pelajaran di kelas 8B. Siswa siswi menyimak. Dia memandang ke arah Dodi. Anak lelaki itu termenung. Wajahnya muram dan kedua matanya terlihat sayu. Mungkin saja Dodi belum bisa bertemu dengan ayahnya. Tidak seharusnya dia berlaku seperti itu. Nurma hanya tersenyum kecil.
  • 13.
    SCRIPT WRITING 13 Buatlah TREATMENTdari sinopsis 2 [dua] penggalan cerita mengenai kejadian Rina di ruang kelas, serta Citra di taman kampus. Bu Tagor menegur keras Rina yang terlambat masuk ke ruang kelas. Tapi bukan itu penyebabnya. Kalimat tak menyenangkan menghantar Rina ke bangkunya. Itu membuatnya malu dan serba salah. Memang kelabu buat Citra. Baru saja Ringgo meinggalkannya sendirian di taman kampus. Citra terdiam, tak percaya, dan hanya bisa menangis. Ringgo tega memutus cintanya.
  • 14.
    SCRIPT WRITING 14 ACTIVE VOICE. VISUALIZED . TIME . EFFECTIVE . AMBIENS cari dan tentukan situasi yang tidak tepat digunakan dalam penulisan TREATMENT pada ilustrasi di bawah TREATMENT : Rina mengatur nafas saat sudah berada di depan kelasnya, 3 IPA 1. Dari luar terdengar jelas suara Bu Tagor sedang mengajar, membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Rina mengetuk pintu, ”Assalamualaikum…”. Dia perlahan masuk ke dalam kelas. Bu Tagor tengah menulis di papan tulis. Teman-temannya dan gurunya itu menoleh cepat ke arah Rina. Kelas yang tadinya ramai menjadi sepi. Rina jadi menundukkan kepala. Dia merasa tak beruntung kali ini. Wajah Bu Tagor tampak kaku mengamati gerak Rina, seperti anjing hutan ingin menerkam anak domba. Bu Tagor kembali pada papan tulisnya. Wajah Rina nampak pucat. Ia menghela nafas, menundukkan kepala dan melangkah pergi menuju tempat duduknya. Bermacam-macam perasaan menyelimuti dirinya, terutama rasa malu. Fitri, teman sebangkunya menyambut dengan senyuman dan mengelus pundaknya.
  • 15.
    15 SCRIPT WRITING TREATMENT : Didepan pintu kelas, Rina mengatur napas. Terdengar suara Bu Tagor di dalam kelas. Rina gelisah dan dia kembali mengatur napas. Dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Bu Tagor dan seisi kelas memandang ke arah pintu. Suasananya jadi agak ramai. Beberapa temannya berkasak-kusuk. Dahi Bu Tagor berkerut, bola matanya sedikit membesar. Rina menghentikan langkah sekitar dua meter dari hadapan gurunya. "Tiga kali! Sudah tiga kali...!" Gurunya berteriak membuat kelas langsung hening. Seisi kelas terdiam dan merapihkan duduknya. Wajah Rina memucat. Bu Tagor bergerak ke papan tulis. Sambil menundukkan kepala, Rina melangkah ke arah bangkunya. Jeni, teman sebangkunya menatap kasihan. Dia berbisik menanyakan alasan terlambat lagi. Suasana masih sepi. Rina ingin menjawab, namun suara Bu Tagor meneruskan pelajaran, menahannya.
  • 16.
    SCRIPT WRITING 16 ACTIVE VOICE. VISUALIZED . TIME . EFFECTIVE . AMBIENS cari dan tentukan situasi yang tidak tepat digunakan dalam penulisan TREATMENT pada ilustrasi di bawah TREATMENT : Siang hari yang kelabu bagi Citra, tapi sejuk dengan daun-daun yang berjatuhan dan terbang dibawa oleh angin. Citra yang duduk di bangku taman karena ingin bertemu seseorang yaitu Ringgo pacarnya. Sambil menunggu Ringgo, Citra pun mengayunkan kakinya ke depan dan ke belakang. Tiba-tiba Citra melihat Ringgo dari kejauhan yang ingin menghampirinya. Langkah kaki Ringgo sangat lamban dengan bunyi daun yang diinjaknya serta raut wajahnya yang sedih dan tidak bersemangat menghampiri Citra dan duduk di sebelahnya. Sambil menghela napas dan menelan ludah Ringgo mengatakan bahwa dia ingin memutuskan hubungannya dengan Citra. Ekspresi wajah Citra yang tersenyum berubah menjadi sangat syok dan heran. Ringgo memegang tangan Citra sambil minta maaf kalau ini adalah jalan yang terbaik untuk dia dan Citra. Ringgo sudah menyukai wanita lain dan ingin menikahinya karena wanita itu hamil. Citra pun menyetujui keputasan Ringgo sambil meneteskan air mata dan menunduk. Ringo pergi meninggalkan Citra.
  • 17.
    17 SCRIPT WRITING TREATMENT : Tamankampus. Siang hari diliputi awan mendung di sebagian langit. Sejuk. Daun-daun berjatuhan dan terbang dibawa angin. Citra duduk di bangku taman. Dia ayunkan kaki. Tak lama, dia melihat Ringo berjalan di kejauhan. Senyum muncul di wajah Rina. Ringo makin mendekati Citra. Langkah Ringo sangat lamban. KREEK! Bunyi ranting terinjak sepatunya. Ranting itu patah beberapa bagian. Dengan raut wajah sedih dan tidak bersemangat dia duduk di sebelah Citra. Ringo menghela napas dan menelan ludah. Citra terheran menatap Ringo. “Kita musti putus...”. Ringo memandang pada ranting patah tadi. Kedua tangannya menjambak rambut, lalu menutupi mukanya. Wajah Citra berubah tegang. Tangannya digenggam oleh Ringo. Dia meminta maaf. Menurutnya ini adalah jalan terbaik untuk keduanya, karena Ringgo menghamili wanita lain. Citra meneteskan air mata dan menunduk. Ringo kembali meminta maaf dan melangkah pergi. Gadis itu semakin menangis.
  • 18.
    SCRIPT WRITING 18 L.A.T.I.H.A.N cari dantentukan situasi yang tidak tepat digunakan dalam penulisan TREATMENT pada ilustrasi di bawah TREATMENT : Malam hari. Bulan purnama diselimuti sedikit awan hitam. Dua remaja pria seumur tergesa di halaman rumah menuju sebuah motor terparkir. Pria yang memakai topi menaiki motor, tapi wajahnya tampak bingung. Pasti ada yang tak beres dengan dirinya. Tangannya merogoh saku jaket dan celana. Lalu menatap ke arah bulan. Bisa jadi akan turun hujan. Dia berlari dan masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, seorang wanita tua terheran melihat lelaki itu berlari meliwatinya. Tidak seperti biasa dia berkelakuan begitu. Wanita itu pun mengikutinya. Si remaja pria masuk ke dalam sebuah kamar berpintu terbuka. Dia dapati seorang wanita muda terbaring di tempat tidur. Wajah lelaki itu lantas berseri. Dia berupaya meraih kunci dalam genggaman wanita. Dia kaget terperanjat. Ternyata wanita itu tidak dikenalnya. Wajahnya seram bertaring...
  • 19.
    SCRIPT WRITING 19 L.A.T.I.H.A.N cari dantentukan situasi yang tidak tepat digunakan dalam penulisan TREATMENT pada ilustrasi di bawah TREATMENT : Suasana lengang di perpustakaan sebuah SMA. Siang sepenggalan kepala. TENG! Bel sekolah. Beberapa siswa bergegas keluar dari ruangan perpustakaan. Winda tak menyangka. Dia gusar dan membereskan bukunya. Wajahnya bersungut dan mengumpat. Dia kesal sekali pada Tanti. Winda mungkin saja telah dikhianati. Dia berlari menuju pintu keluar. Hampir sampai di pintu kelas, Winda berhenti. Dia mendengar suara seseorang berbicara di depan kelas. Winda melongok sedikit di pintu itu. Dia terhenyak. Tanti tengah berbicara kepada semua temannya. “Kita harus menolong Winda...!”. Muka Winda menegang. Mustinya Tanti tak berbuat sekejam itu. Dia segera melangkah masuk dan marah besar pada Tanti. Bahkan Winda memulai berbuat kasar. Dia menarik tangan dan menjambak rambut Tanti dengan kuat. Tanti pun membalas. Tidak patut Winda berkelakuan seperti itu. Suasananya hiruk pikuk tak karuan. Beberapa temannya sibuk melerai...
  • 20.
    20 HALLOWEEN 7 –Debra Hill, Robert Zappia [1998] Rachel Loomis, anak dari Dr. Loomis meminta bantuan tetangganya. Dia menemukan situasi dalam rumahnya berantakan. Timmy, tetangganya berusaha menelepon polisi Chicago dan memeriksa rumah wanita itu. TREATMENT : Pinggiran Chicago. Malam hari. Seorang wanita baru pulang ke rumah dan menemukan pintunya terbuka sedikit. Dia ketakutan dan berusaha mendapatkan bantuan tetangga sebelah. Seorang remaja lelaki. Mereka menelepon polisi. Wanita itu tampak marah mengatakan ada orang yang merusak rumahnya. Dia ketakutan untuk masuk ke dalam rumahnya. Mereka berbincang, ternyata wanita itu adalah RACHEL LOOMIS, anak Dr. Loomis. Remaja pria itu adalah TIMMY yang terlihat kesal karena dia tak bisa menonton program tvnya. Terlampau lama menunggu polisi. Dia memutuskan memeriksa rumah wanita itu sendirian dengan membawa pemukul baseball. Timmy berhati-hati masuk ke dalam rumah, sementara wanita itu masih berdiri ketakutan di halaman. Memang berantakan. Vas bunga dan kertas berserakan. Namun Timmy tak menemukan seseorang pun. SCRIPT WRITING
  • 21.
    SCRIPT WRITING 21 THE TERMINATOR- James Cameron [1984] Lelaki itu adalah THE TERMINATOR. Manusia mesin dari galaksi berbeda. Dia sampai di bumi dengan bertelanjang. Dia membuat kerusuhan di klub malam untuk mendapatkan satu set pakaian buat dirinya. TREATMENT : Masa kini, di sebuah halaman sekolah di Los Angeles. Tampak berdiri gagah seorang lelaki tanpa berpakaian. Tinggi, berotot dan terlihat tegap. Sama sekali telanjang. Dia memeriksa ke sekitarnya dengan mata yang biru, tajam dan akurat. Muncul proyeksi teknologi virtual pada perspektifnya. Pandangannya berhenti hingga di kejauhan. Tertuju pada bangunan dengan lampu berkedap kedip. Sebuah botol bir terhempas di lantai. Tiga pria tengah asyik minum di klub. Suasana hingar bingar oleh musik dan tertawa. Mereka melihat seorang lelaki telanjang berjalan ke arah mereka. Ada wanita yang tampak takjub menyimaknya. Lelaki itu meneliti akurasi tubuh beberapa pria di situ dan berhasil menemukan salah satunya. “Pakaianmu cocok. Berikan pada saya...”. Ketiga pria itu berpandangan dan tertawa. Pria yang dimaksud menolak memberikan pakaiannya, bahkan siap menghajar lelaki telanjang itu. Terjadi perkelahian. Beberapa pria ikut menyerang. Lelaki itu begitu mudah dan terampil mengatasi situasi. Tak satu pun pria di situ bisa mengalahkannya. Pria bertelanjang itu adalah THE TERMINATOR
  • 22.