Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
Learning Style Enrichment Assessment Program
Ketentuan dalam hasil Assessment ...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
Gambaran Mengenai Gaya Belajar
Banyak orang mengira bahwa setiap orang menyuka...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
Hasil (Report) Fingerprint Analysis :
Learning Style Expression
45 %
Visual
(p...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
Potentials Multiple Intelligence Assessment Report
Intrapersonal
kemampuan bak...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
Personal Drives
SENSITIVITY Learning Style
GLOBAL 32%
Balance
GLOBAL (SURFACE ...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
LEARNING PROCESSING STYLE
Pembelajaran yang optimal terjadi dalam sekuen yang ...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
CHARACTER TRAITS
OPENESS
(KETERBUKAAN)
SOLITAIRE (introvert) 37%SOLITAIRE (int...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
LEARNING STRESS LEVEL POTENTIALS
(based on personal drives)
Motivation Drive P...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
Apa yang membuat Stephanie tertarik untuk Belajar ?
Self Learning Motivation
M...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
Gaya Belajar terbaik apakah yang dimiliki Stephanie ?
B. BRAIN STYLES RESULTS ...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
Gaya Belajar terbaik apakah yang dimiliki Stephanie ?
B. BRAIN STYLES RESULTS ...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
Apa Metode Pengajaran terbaik untuk Stephanie di Sekolah
Teaching Suggestion R...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
Apa Metode Pengajaran terbaik untuk Stephanie di Sekolah
Teaching Suggestion R...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
Rekomendasi apa yang terbaik untuk pemilihan pengembangan pendidikan Stephanie...
Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D
Apakah Anda menemukan permasalahan belajar, Stephanie ?
BEHAVIOR PROBLEM RESUL...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Cth dic d(1)

217 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Cth dic d(1)

  1. 1. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D Learning Style Enrichment Assessment Program Ketentuan dalam hasil Assessment Learning Style melalui metode pengukuran Fingerprint Biometric: 1 Assessment ini disusun berdasarkan metode yang dikembangkan oleh Psychobiometric Research, dan tidak berafiliasi dengan metode pengukuran yang dikembangkan dari pihak manapun. Segala interpretasi mengenai isi dalam hasil analisa ini terdapat kemungkinan perbedaan persepsi, sehingga segala bentuk pembandingan dengan metode lain bukan merupakan alat bukti pengujian validitas dari metode analisis ini. 2 Assessment ini bersifat analisa prediktif potensi, bukan sebagai alat diagnosa perilaku aktual. 3 Assessment ini bukanlah alat test dan pula alat vonis untuk mengukur kecerdasan seseorang. Pencapaian kondisi sesorang akan berbeda-beda sesuai dengan upaya setiap orang. 4 Assessment ini bersifat interpretatif sesuai dengan perkembangan berbagai teori dalam bidang neuro-cognitive psychology, serta perkembangan metode pengukuran sistem biometrika. Pengembangan metode analisa dimungkinkan, dalam rangka meng-update assessment ini. SETIAP OTAK ADALAH UNIK, SEUNIK SIDIKJARI Para ilmuwan telah memverifikasi bahwa seperti halnya dengan sidik jari, di dunia ini otak setiap individu adalah unik. Variabilitas otak para pembelajar merefleksikan banyak faktor, termasuk genetika dan pengaruh-pengaruh lingkungan. Koneksi antara sel-sel yang tercipta sebagai hasil dari pengalaman setiap individu membentuk peta kognitif personal individu tersebut. Tidak semua orang memproses informasi dengan cara yang sama; oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana gaya bekerja otak diterjemahkan ke dalam gaya belajar (learning styles) yang berbeda-beda pula. Pemahaman yang baik mengenai perbedaan gaya-gaya yang mendasar ini sangat penting bagi siapapun yang harus menghadapi orang- orang dalam berbagai situasi, termasuk dalam proses belajar mengajar. Kita memerlukan bukti ilmiah untuk membantu individu-individu mengenal kekuatan dan kelemahan mereka sendiri, meyakinkan mereka untuk lebih percaya diri dalam menggunakan kemampuan sejati mereka, dan menjelaskan kepada para orang tua/guru dan siswa itu sendiri bahwa tidak ada satu cara “terbaik”, tidak ada satu gaya tunggal yang bisa menjamin keberhasilan proses belajar, penyerapan informasi, pemecahan masalah, dan penyelesaian tugas. This report is designed to help you understand your results on fingerprint biometric measurement as a tool for identifying inborn potential distribution that can be used as a reference of learning style. No. ID : DIC-D.001.020534 Name : Stephanie Date of Birth: 13 January 2007 50 51Date :19April 2010 Analyst ID :PDS.A01.0811.002 CheckedBy : 1 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  2. 2. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D Gambaran Mengenai Gaya Belajar Banyak orang mengira bahwa setiap orang menyukai cara belajar dan teknik yg berbeda. Belajar berkelompok adalah cara umum bagi setiap orang untuk belajar. Setiap orang mempunyai cara belajar campuran. Sebagian orang mungkin dapat mengetahui bahwa mereka memiliki cara belajar yang dominan, dengan kurang lebih yang di gunakan orang lain. Sebagian orang mungkin mengetahui bahwa mereka menggunakan cara yang berbeda dengan keadaan yang berbeda pula. Tidak ada campuran yang benar. Maupun caranya di rubah/diperbaiki. Anda dapat mengembangkan kemampuan di dalam cara belajar yang kurang dominan, sebaik anda mengembangkan cara yang telah anda gunakan. Menggunakan beberapa cara belajar dan kecerdasan untuk belajar adalah cara pendekatan yang baru. Pendekatan ini baru dikenal di lingkungan pengajar. Sekolah tradisional selama ini menggunakan (dan terus menggunakan) metode pembelajaran linguistik dan logika. Metode ini juga menggunakan jangkauan yang terbatas dalam teknik proses belajar dan mengajar. Banyak sekolah masih mengandalkan pada ruang kelas, pembelajaran buku dasar, banyak pengulangan, dan ujian untuk memperkuat dan mengulas. Satu Hasil yang selalu kita nilai bagi mereka yang menggunakan cara pembelajaran dan teknik ini sebagai 'pintar'. Bagi mereka yang kurang menyukai cara belajar selalu berada di kelas rendah, dengan berbagai penilaian yang tidak terlalu komplementer dan kadang-kadang dengan kualitas belajar yang rendah. Hal ini dapat membuat pemikiran positif dan negatif yang dapat menguatkan kepercayaan bahwa seseorang adalah 'pintar' dan 'bodoh'. Dengan mengenali dan memahami cara belajar anda, anda dapat menggunakan teknik belajar yang lebih baik yang cocok dengan anda. Hal ini dapat memperbaiki kecepatan dan kualitas belajar anda. Cara belajar anda memiliki banyak pengaruh dari apa yang anda bayangkan. Kesukaan cara belajar anda memandu jalan anda untuk belajar. Cara belajar anda juga mengubah cara anda mewakili pengalaman, cara anda menyerap informasi, dan bahkan kata-kata yang anda gunakan. Kami menggali lebih jauh lagi pada bab ini. Penelitian menunjukan bahwa setiap cara pembelajaran menggunakan bagian otak yang berbeda. Dengan melibatkan lebih banyak bagian otak selama proses belajar, kita dapat lebih banyak mengingat dari apa yang kita pelajari. Para peneliti yang menggunakan pencitraan otak telah mampu mengungkap wilayah utama pada otak yang berperan pada setiap gaya belajar. Tingkatkan keberhasilan pendidikan... ... dengan mengungkap cara belajar anak yang terbaik. Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda: mereka belajar, konsentrasi dan memproses informasi dengan jalan yang berbeda. 2 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  3. 3. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D Hasil (Report) Fingerprint Analysis : Learning Style Expression 45 % Visual (pembelajaran melalui indra penglihatan) Text (melihat huruf, angka, simbol, dan obyek dua dimensi) Picture (melihat gambar, foto, diagram, dan obyek tiga dimensi) 28 % Auditory (pembelajaran melalui indera pendengaran) Linguistic (mendengar tata bahasa, kosa kata, rhyme, dan isi kalimat) Musical (mendengar intonasi, nada, rhythmic, dan akustikal) 27 % Kinesthetic (pembelajaran melalui indera gerakan & sentuhan tubuh) Body (Movement) (melakukan gerakan operasional, keterampilan dan kecekatan tubuh) Tactile (Touch) (melakukan gerakan operasional, perabaan dan sentuhan tubuh) Bagi Anda yang dominan gaya belajar VISUAL Lebih mudah ingat dengan melihat, lebih suka membaca, lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar, memiliki kepekaan kuat terhadap warna, disamping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat orang lain melakukan baru kemudian dia sendiri yang bertindak. Duduk tenang saat belajar di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu. Tertarik pada seni lukis, pahat, dan gambar daripada seni musik. Melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar. Mudah menghapal tempat dan lokasi. Bagi Anda yang dominan gaya belajar AUDITORI Mudah ingat dari apa yang didengarnya dan didiskusikannya. Senang dibacakan atau mendengarkan. Lebih suka menuliskan kembali sesuatu, senang membaca dengan suara keras, dan pandai bercerita. Bisa mengulangi apa yang didengarnya, baik nada, irama, dan lainnya. Lebih suka humor lisan ketimbang baca buku. Senang diskusi, bicara atau menjelaskan panjang lebar. Menyenangi seni musik. Mudah mempelajari bahasa asing. Dapat membaca dengan baik sehingga ia dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya karena ketika membaca, secara otomatis ia mendengarkan suaranya sendiri di dalam hati/batinnya. Bagi Anda yang dominan gaya belajar KINESTETIK Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya. Suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya sedemikian aktif. Suka menggunakan obyek nyata sebagai alat bantu belajar. Banyak gerak fisik dan memiliki koordinasi tubuh yang baik. Menyukai kegiatan /permainan yang menyibukkan secara fisik. Ketika membaca, menunjuk kata- katanya dengan jari tangan. Kalau menghafal sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung. Belajar melalui praktik langsung atau dengan manipulasi (trik, peraga). Unggul dalam pelajaran olahraga dan menyukai keterampilan tangan. Lebih suka mendemonstrasikan sesuatu (peragaan) daripada menjelaskan. Cenderung menggunakan gerakan tubuh (untuk mengekspresikan dan menggantikan kata-kata) saat mengungkapkan sesuatu. 3 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  4. 4. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D Potentials Multiple Intelligence Assessment Report Intrapersonal kemampuan bakat untuk mendapatkan akses kepada naluri, mimpi, dan gagasan dirinya. Pengetahuan pribadi dijadikan pengetahuan dirinya. Intelektual bentuk ini mengikuti kemampuan untuk memahami emosi, tujuan, dan kehendak dirinya Low Middle Strong Very Strong Interpersonal Kemampuan bakat untuk memahami orang lain, mengetahui tujuan, motivasi, kehendaknya, dan untuk bekerja secara efektif dengan mereka. Low Middle Strong Very Strong Logika Matematika Kemampuan bakat untuk mengeksplorasi pola, kategori, dan keterhubungan dengan cara memanipulasi objek atau simbol, dan untuk bereksperimen dalam satu cara yang terkendali dan berurutan. Kemampuan untuk secara deduktif atau induktif mengenali dan memanipulasi pola abstrak dan keterkaitannya. Low Middle Strong Very Strong Visual Spasial Kemampuan bakat untuk mempersepsikan dan secara mental memanipulasi sebuah bentuk atau objek, dan untuk mempersepsikan dan menciptakan kecenderungan, keseimbangan dan komposisi visual-spasial. Kemampuan untuk membuat representasi visual-spasial tentang dunia dan mentransfernya secara mental atau konkret. Low Middle Strong Very Strong Body Kinestetik Kemampuan bakat untuk menggunakan kemampuan motorik kasar dan halus dalam olahraga, seni pertunjukan, atau produksi seni dan kerajinan. Cerdas secara badaniah melibatkan penggunaan badan untuk menyelesaikan masalah, membuat produk, atau menyalurkan gagasan dan emosi. Low Middle Strong Very Strong Verbal Linguistik Kemampuan bakat untuk menggunakan bahasa untuk meningkatkan semangat, kepuasan, keyakinan, stimulasi atau menyalurkan informasi. Melibatkan tidak hanya kemudahan dalam memproduksi bahasa, tapi juga sensitifitas nuansa, urutan, dan ritme kata-kata. Low Middle Strong Very Strong Musikal Kemampuan bakat untuk menikmati, menampilkan atau menkomposisikan potongan musik. Melibatkan sensitivitas pengendalian, ritme suara, juga responsifitas atas dampak emosi dari semua elemen tersebut. Low Middle Strong Very Strong Naturalis Kemampuan bakat untuk mengenali flora dan fauna, bersekutu dengan dunia alami dan fenomenanya Low Middle Strong Very Strong 4 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  5. 5. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D Personal Drives SENSITIVITY Learning Style GLOBAL 32% Balance GLOBAL (SURFACE LEARNER): Menangkap informasi pembelajaran secara garis besar, berorientasi pada kecepatan penangkapan informasi namun kurang memperhatikan detail permasalahan. ANALYTICAL (DEEP LEARNER): Menangkap informasi pembelajaran secara analitis spesifik, berorientasi pada detail informasi namun kurang memperhatikan kecepatan menangkap permasalahan. RESPONSIVITY Learning Style IMPULSIVE 69% Balance IMPULSIVE (QUICK RESPONSE): Memberikan tanggapan/respon terhadap informasi yang diproses secara spontan dan ekspresif, berorientasi kepada kecepatan reaksi namun kurang memperhatikan dampak lebih jauh. SIMULTANT (SLOW RESPONSE): Memberikan tanggapan/respon terhadap informasi yang diprosesnya secara perlahan-lahan dan pasif, berorientasi kepada pertimbangan yang lebih mendalam ketika melakukan sesuatu. RESPONSIVITY OF BRAIN HEMISPHERE DOMINANCE LEFT BRAIN 46% Balance LEFT BRAIN DOMINANCE: Respon Otak kiri yang lebih cepat dalam kerangka berfikir objectives, linear, parsial struktural, dan teknis. RIGHT BRAIN DOMINANCE: Respon Otak Kanan yang lebih cepat dalam kerangka berfikir subyektif, random, holistis, non-struktural dan artistik. 5 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  6. 6. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D LEARNING PROCESSING STYLE Pembelajaran yang optimal terjadi dalam sekuen yang terprediksi. Sekuen ini meliputi lima tahap (lihat Gambar dibawah ini) : Tahapan Belajar Persiapan 20.43% Penerimaan 15.05% Pendalaman 30.11% Integrasi 27.96% Aplikasi 6.45% Tahap Persiapan Pembelajaran yang memberikan kerangka kerja bagi pembelajaran baru dan mempersiapkan otak pembelajar dengan koneksi-koneksi yang memungkinkan. Tahap ini dapat meliputi sebuah tinjauan terhadap subyek dan sebuah presentasi dari topik terkait. Semakin banyak latar belakang yang dimiliki anak/siswa mengenai subyeknya, semakin cepat mereka menyerap dan memproses informasi baru. Tahap Penerimaan Pembelajaran adalah sebuah tahapan penciptaan koneksi pada saat neuron-neuron saling “berbicara“ satu sama lain. Sumber untuk akuisisi ini tidak pernah berakhir. Mereka bisa meliputi diskusi, perkuliahan, stimulasi, pengalaman, manipulatif, refleksi dan sebagainya. Namun perlu diingat bahwa tahap pertama penciptaan koneksi ini sangat bergantung pada pengetahuan sebelumnya. Tahap Pendalaman Pembelajaran adalah tahapan mengeksplorasi interkoneksi dari topik-topik yang dipelajari dan mendorong terjadinya pemahaman secara lebih mendalam. Untuk memastikan bahwa otak tetap menjaga koneksi-koneksi sinaptik yang diciptakan dari pembelajaran baru, diperlukan proses elaborasi ini. Tahap Pengintegrasian Pembelajaran adalah sebuah tahapan proses merekatkan pembelajaran, supaya apa yang telah dipelajari masa kini, masih tetap ada di masa mendatang. Ada faktor-faktor tambahan yang berkontribusi terhadap pembangkitan kembali memori. Semua faktor penyandian ini memainkan peranan penting dalam pemrosesan dan pembelajaran yang terjadi. Tahap Pengaplikasian Pembelajaran adalah sebuah tahapan untuk mengingatkan anak/siswa untuk menggunakan pembelajaran baru tersebut supaya diperkuat dan diperluas aplikasi/penggunaannya. Petunjuk pembacaan diagram : nilai prosentase pada bagian tersebut, semakin tinggi angka prosentase-nya berarti proses tahapan pembelajaran tersebut akan semakin membutuhkan waktu yang lebih lama dan intensif. Para orangtua/guru harus meningkatkan konsentrasi pembelajaran anak/siswanya pada tahapan tersebut. 6 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  7. 7. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D CHARACTER TRAITS OPENESS (KETERBUKAAN) SOLITAIRE (introvert) 37%SOLITAIRE (introvert) 37% SOCIAL/GROUP (extrovert) 63%SOCIAL/GROUP (extrovert) 63% SOLVING (MEMUTUSKAN) OBJECTIVES (obyektif) 48%OBJECTIVES (obyektif) 48% SUBJECTIVES (subyektif) 52%SUBJECTIVES (subyektif) 52% INFORMATION (MENERIMA MASUKAN) FACTS (fakta) 50%FACTS (fakta) 50% OPINION (opini) 50%OPINION (opini) 50% OPERATION (BERTINDAK) ORGANIZED (terencana) 47%ORGANIZED (terencana) 47% FLEXIBLE (fleksibel) 53%FLEXIBLE (fleksibel) 53% POTENSI SIKAP Pertimbangan Persistensi Bakat Pertimbangan Konsistensi Minat (attitude) (carefulness) (achieveness) Kemandirian (internal) Sosialisasi (eksternal) Inisiatif (keputusan) Ide konseptual Ketangkasan (gerakan) Keluwesan (gerakan halus) Pemahaman Informasi Penyampaian Komunikasi Pengamatan (observasi) Adaptasi (eksperimen) Ketentuan cara membaca grafik : Gambar Hati menunjukkan analisis pertimbangan. Semakin banyak jumlahnya semakin banyak pertimbangan dalam melakukan sesuatu, yang berarti respon bakat semakin rendah (lama). Semakin sedikit gambar hati, semakin tinggi respon bakatnya. Gambar bintang menunjukkan perkembangan minat mencapai tujuan tertentu. Semakin banyak gambar bintang menunjukkan semakin kuat konsistensi terhadap minat dalam bidang tersebut. Bakat yang responsif dan minat yang kuat ditunjukkan oleh grafik dengan gambar hati yang lebih sedikit dan gambar bintang yang lebih banyak. 7 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  8. 8. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D LEARNING STRESS LEVEL POTENTIALS (based on personal drives) Motivation Drive Processing (I/O) Character Traits Potentials Skills Motivation Drive Potensi stress pembelajaran yang bersumber dari Motivation Drive, kemungkinan disebabkan oleh ketidak seimbangan saluran distribusi pada saat informasi pembelajaran diserap dari batang otak, sistem limbik, hingga ke area neokortex. Seorang anak/siswa yang memiliki nilai grafik potensi stress tinggi pada area Motivation Drive, berarti ada kecenderungan mengalami beban dalam mewujudkan banyak keinginan/tujuan yang ingin dicapai dalam konsistensinya. Namun dengan pengalaman/stimulasi pembelajaran yang baik, seorang anak/siswa yang bisa melalui/menangani tekanan/stress tersebut dengan baik, maka anak/siswa tersebut akan memiliki kemampuan penyesuaian (adjustment) yang tinggi. Processing (input/output) Potensi stress pembelajaran yang bersumber dari Processing (input/output), kemungkinan disebabkan oleh ketidak seimbangan saluran distribusi sistem sensory dan motorik. Seorang anak/siswa yang memiliki nilai grafik potensi stress tinggi pada area Processing (input/output), berarti ada kecenderungan mengalami beban dalam mewujudkan banyak masukan ide dan informasi menjadi sebuah hasil pemikiran dan tindakan realitas, atau malahan bisa terjadi sebaliknya, dorongan untuk mengekspresikan pemikiran dan tindakannya yang terlalu tinggi namun kurang ide dan masukan informasi. Namun dengan pengalaman/stimulasi pembelajaran yang baik, seorang anak/siswa yang bisa melalui/menangani tekanan/stress tersebut dengan baik, maka anak/siswa tersebut akan memiliki kemampuan penyesuaian (adjustment) yang tinggi. Character Traits Potensi stress pembelajaran yang bersumber dari Character Traits, kemungkinan disebabkan oleh ketidak seimbangan pengolahan informasi yang telah diterima untuk kemudian diaplikasikan. Seorang anak/siswa yang memiliki nilai grafik potensi stress tinggi pada area Character Traits, berarti ada kecenderungan mengalami beban ketika harus memproses informasi yang masuk dengan cara yang bukan gaya berfikir yang sesuai karakter aslinya. Namun dengan pengalaman/stimulasi pembelajaran yang baik, seorang anak/siswa yang bisa melalui/menangani tekanan/stress tersebut dengan baik, maka anak/siswa tersebut akan memiliki kemampuan penyesuaian (adjustment) yang tinggi. Potentials Skill Potensi stress pembelajaran yang bersumber dari Potentials Skill, kemungkinan disebabkan oleh ketidakseimbangan saluran distribusi bakat. Seorang anak/siswa yang memiliki nilai grafik potensi stress tinggi pada area Potentials Skill, berarti ada kecenderungan mengalami beban dalam mewujudkan kemampuannya menyelesaikan masalah yang bukan pada area bakatnya, karena anak/siswa tersebut hanya menguasai pada keahlian tertentu saja. Namun dengan pengalaman/stimulasi pembelajaran yang baik, seorang anak/siswa yang bisa melalui/menangani tekanan/stress tersebut dengan baik, maka anak/siswa tersebut akan memiliki kemampuan penyesuaian (adjustment) yang tinggi. 8 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  9. 9. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D Apa yang membuat Stephanie tertarik untuk Belajar ? Self Learning Motivation Motivasi Belajar : SELF MOOD & PASSION • Menyukai sesuatu yang berkaitan dengan motivasi diri sendiri berdasarkan kenyamanan dan kesukaan atas kondisi mood perasaannya. • Tidak mudah mempercayai sesuatu selama belum sesuai dengan kondisi perasaannya dan pendapat orang-orang di lingkungan sekitarnya. • Lebih menyukai melakukan berdasarkan sesuatu yang mudah untuk dilakukan dan banyak orang lain melakukannya juga (imitative). • Lebih suka sebagai mengikuti (follow) yang sudah pasti, cenderung tidak berminat pada resiko tinggi. Metode belajar tipe : SELF MOOD & PASSION : • Memerlukan bimbingan (mentoring) yang senantiasa siap untuk menemani, dan memberikan contoh-contoh bagaimana sesuatu harus dilakukan. • Membutuhkan tantangan yang dapat membangkitkan keinginannya untuk menciptakan suatu keadaan yang nyaman buat dirinya maupun orang-orang terdekatnya. • Melakukan peniruan (mencontoh) tindakan orang-orang yang yang telah terbukti berhasil melakukan sesuatu. • Membutuhkan suasana kenyamanan dan menyenangkan, dan kurang memilih suasana kompetitif, karena lebih berorientasi kenyamanan dirinya. Subjects Functions References 1 Pelajaran Agama (Moralitas) Afektif- Represif Gaya belajarnya berlandaskan literatur (text book), dan dengan penekanan utama pada aspek tutorial (metode pengajaran), mempelajari sesuatu yang dianggap lebih mudah. 2 Pelajaran PPKN (Normatif) Afektif- Represif Gaya belajarnya berlandaskan literatur (text book), dan dengan penekanan utama pada aspek tutorial (metode pengajaran), mempelajari sesuatu yang dianggap lebih mudah. 3 Pelajaran Bahasa Kognitif- Integratif Gaya belajarnya berlandaskan literatur (text book), tutorial (metode pengajaran), dengan penekanan utama pada tugas/latihan, keseluruhannya harus menarik bagi dirinya terpadu menjadi satu paket pembelajaran. 4 Pelajaran Matematika Afektif- Represif Gaya belajarnya berlandaskan literatur (text book), dan dengan penekanan utama pada aspek tutorial (metode pengajaran), mempelajari sesuatu yang dianggap lebih mudah. 5 Pelajaran IPA Afektif- Represif Gaya belajarnya berlandaskan literatur (text book), dan dengan penekanan utama pada aspek tutorial (metode pengajaran), mempelajari sesuatu yang dianggap lebih mudah. 6 Pelajaran IPS Afektif- Represif Gaya belajarnya berlandaskan literatur (text book), dan dengan penekanan utama pada aspek tutorial (metode pengajaran), mempelajari sesuatu yang dianggap lebih mudah. 7 Pelajaran Olah Raga Afektif- Represif Gaya belajarnya berlandaskan literatur (text book), dan dengan penekanan utama pada aspek tutorial (metode pengajaran), mempelajari sesuatu yang dianggap lebih mudah. 8 Pelajaran Seni Gerak Tubuh Afektif- Represif Gaya belajarnya berlandaskan literatur (text book), dan dengan penekanan utama pada aspek tutorial (metode pengajaran), mempelajari sesuatu yang dianggap lebih mudah. 9 Pelajaran Musikal Kognitif- Integratif Gaya belajarnya berlandaskan literatur (text book), tutorial (metode pengajaran), dengan penekanan utama pada tugas/latihan, keseluruhannya harus menarik bagi dirinya terpadu menjadi satu paket pembelajaran. 10 Pelajaran Menggambar Afektif- Represif Gaya belajarnya berlandaskan literatur (text book), dan dengan penekanan utama pada aspek tutorial (metode pengajaran), mempelajari sesuatu yang dianggap lebih mudah. 9 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  10. 10. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D Gaya Belajar terbaik apakah yang dimiliki Stephanie ? B. BRAIN STYLES RESULTS REFERENCES 1 RECEIVING STYLE (Gaya seseorang dalam menangkap informasi materi pembelajaran) INTENSIVE LEARNER • Tertarik pada satu hal secara lebih fokus. • Memahami sesuatu yang bersifat mendalam dan spesifik. • Kurang tertarik pada hal-hal terbaru, selama yang lama belum selesai. • Kurang memperhatikan waktu. 2 PROCESSING STYLE (Gaya seseorang dalam memproses materi pembelajaran) RESPONSIVE LEARNER • Tanggap merespon stimulasi baru. • Mengerjakan sesuatu secara garis besarnya saja. • Cenderung jenuh mengerjakan sesuatu pekerjaan yang sama. • Cenderung kurang memperhatikan detail pekerjaan. 3 SENSORY STYLE (Gaya belajar seseorang berdasarkan indra sensori) VISUAL-AUDITORY • Cepat merespon stimulus pembelajaran yang bersifat kegiatan penglihatan dan pengamatan. • Ada kalanya gayanya dikombinasikan dengan gaya auditory, yakni melalui pendengaran, pembicaraan, bahasa atau musical. • Kurang memperhatikan stimulus yang melibatkan kegiatan gerakan, sentuhan dan perabaan. 4 DEVELOPMENT STYLE (Gaya belajar seseorang dalam hubungan pengembangannya) SOCIAL/GROUP LEARNER • Belajar berdasarkan berdasarkan lingkungan sosial. • Lebih menyukai diskusi, dengar pendapat, dan interaksi. • Kurang memperhatikan pembelajaran secara mandiri. 5 THINKING STYLE (Gaya belajar seseorang berdasarkan proses analisa berfikirnya) DIVERGENT THINKING • Menganalisa penyelesaian masalah dengan melihat permasalahan secara menyeluruh (global). • Memikirkan langkah-langkah konseptual dengan berbagai alternative yang bisa untuk digunakan dalam penyelesaian permasalahan tersebut. • Menggunakan metode secara acak (random) dan non-struktur. Notes 10 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  11. 11. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D Gaya Belajar terbaik apakah yang dimiliki Stephanie ? B. BRAIN STYLES RESULTS REFERENCES 6 OPERATIONAL STYLE (Gaya belajar seseorang dalam bentuk kegiatan operasional) FLEXIBLE LEARNER • Belajar berdasarkan situasional dan secara fleksibel menyesuaikan keadaan. • Melakukan tindakan berdasarkan pemahaman umum. • Kurang memperhatikan waktu dan jadwal kegiatan. 7 INFORMATION STYLE (Gaya belajar seseorang ketika mendapatkan informasi pelajaran) FACTS LEARNER • Memperhatikan bukti ilmiah, lebih memilih informasi yang logis dan factual. • Menyukai data yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur. • Kurang memperhatikan opini dan pandangan ide-ide baru. 8 ADAPTATION STYLE (Gaya belajar seseorang ketika melakukan pengamatan tergadap lingkungan sekitarnya) EXPERIMENT LEARNER • Meneliti obyek secara klasifikatif. • Melakukan observasi secara analisis eksternal untuk mendapatkan data klasifikasi obyek, serta melakukan hipotesa berdasarkan asumsi dan prediksi. • Kurang memperhatikan hubungan obyek yang diamati secara spesifik dan mendalam. 9 PERFORMING STYLE (Gaya ekspresi pembelajaran seseorang) HARDSKILL PERFORMING • Belajar lebih potensial menguasai dengan praktek. • Keahlian yang melibatkan indera tubuh. • Kurang memperhatikan konsep, manajemen dan perencanaan. Notes 11 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  12. 12. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D Apa Metode Pengajaran terbaik untuk Stephanie di Sekolah Teaching Suggestion Results 1 CURRICULUM Recommendations: (Bagaimanakah jenis materi pembelajaran /kurikulum yang terbaik untuk anak/siswa ?) 1. Memberikan bahasan kurikulum yang bersifat materi secara pembahasan khusus (spesifik) dan satuan tema yang mendetail. 2. Memberikan bahasan tema kurikulum yang mendorong kerangka berfikir siswa untuk menganalisa permasalahan secara deduktif, dengan melihat peluang kemungkinan-kemungkinan penyelesaian permasalahan. 3. Materi kurikulum bersifat costumized (bisa disesuaikan) dan fleksibel. 4. Materi kurikulum lebih menonjolkan metode eksperimentatif secara adaptatif (mengembangkan materi keluar bahasan). Non Recommendations: 1. Memberikan bahasan kurikulum yang bersifat materi secara pembahasan umum (global), dan beragam tematik. 2. Memberikan bahasan tema kurikulum yang mendorong kerangka berfikir siswa untuk menganalisa permasalahan secara induktif, berfokus pada inti permasalahan dan hubungan sebab-akibat. 3. Materi kurikulum bersifat terjadwalkan dan terstruktur dengan baik. 4. Materi kurikulum lebih menonjolkan metode observasi dan eksplorasi secara spesifikatif (menggali materi secara lebih mendalam). 1. Memberikan pengajaran ke siswa dengan dukungan fasilitas dan kemudahan siswa serta perasaan guru ke siswa. 2. Materi disampaikan dengan metode mengajar lebih banyak dengan gambar, bentuk, warna, foto, video, dan melihat tampilan secara langsung. 3. Perencanaan kegiatan belajar siswa lebih merangsang siswa untuk mampu mengembangkan belajar secara berinteraksi kelompok. 4. Perencanaan kegiatan belajar siswa lebih merangsang siswa untuk melakukan eksperimen/uji coba sesuatu yang belum ditemukan. 2 LESSON PLAN Recommendations: (Bagaimanakah metode proses materi pengajaran disampaikan kepada anak/siswa ?) 1. Memberikan pengajaran ke siswa dengan mengabaikan dukungan fasilitas kemudahan siswa serta perasaan guru ke siswa. 2. Materi disampaikan dengan mengabaikan metode mengajar melalui gambar, bentuk, warna, foto, video dan melihat tampilan secara langsung. 3. Perencanaan kegiatan belajar siswa mengabaikan pengembangan interaksi berkelompok. 4. Perencanaan kegiatan belajar siswa mengabaikan pengembangan eksperimen/uji coba. Non Recommendations: 12 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  13. 13. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D Apa Metode Pengajaran terbaik untuk Stephanie di Sekolah Teaching Suggestion Results 3 TUTORIAL Recommendations: (Bagaimanakah peran guru dalam membantu anak/siswa memahami materi pelajaran yang disampaikan ?) 1. Membutuhkan peran guru yang bersikap sebagai mentor/partner dalam pembelajaran, dimana guru harus ikut berpartisipasi dalam belajar dan senantiasa menemani dan memberikan dorongan motivasi dalam bentuk fasilitas kemudahan kepada siswanya. 2. Peran guru dalam memberikan pengajaran harus senantiasa terlihat oleh siswanya, dan memberikan materi dengan sarana mengajar visual (gambar, foto/video, bentuk, warna, dsb). 3. Peran guru dalam memberikan pengajaran lebih mengasah keahlian penggunaan aplikasi siswanya. 4. Peran guru dalam memberikan pengajaran dengan mengajak bereksprerimen memikirkan sesuatu yang baru dan pengembangan dari tema yang sedang dibahas. Non Recommendations: 1. Guru berperan mengabaikan fungsi kebersamaan dan dukungan perasaan kepada siswanya. 2. Peran guru dalam memberikan pengajaran mengabaikan kontak mata dengan siswanya dan tidak menggunakan sarana visual. 3. Peran guru dalam memberikan mengajaran lebih banyak memberikan konsep tanpa didukung aplikasi yang kuat. 4. Peran guru dalam memberikan pengajaran mengabaikan kecenderungan siswa untuk bereksperimen dan mengembangkan tema yang sedang dibahas. 4 CONDITIONS Recommendations: (Bagaimanakah pengkondisian ruangan dan suasana kelas yang terbaik untuk anak/siswa dalam proses pembelajaran ?) 1. Suasana kelas yang memicu siswa untuk merasakan kenyamanan ketika belajar dengan sarana fasilitas yang memudahkan ia belajar serta bersama teman-teman yang menyenangkan dirinya. 2. Dalam suasana kelas yang memberikan kebebasan pandangan/penglihatan, dan banyak obyek di dalam kelas yang menarik untuk dilihatnya. 3. Dalam ruangan kelas yang memberikan posisi duduk yang mendukung sosialiasi dan interaksi kelompok. 4. Penataan ruang kelas yang memfailitasi siswa untuk melakukan observasi secara eksperimentatif. Non Recommendations: 1. Suasana kelas yang kurang nyaman dan teman-teman yang cenderung kompetitif. 2. Dalam suasana kelas yang membatasi daya pandang/penglihatannya dan tidak ada obyek yang menarik untuk dilihat di dalam kelasnya. 3. Dalam ruangan kelas yang memberikan posisi duduk yang mengabaikan sosialiasi dan interaksi kelompok. 4. Penataan ruang kelas yang kurang menfasilitasi siswa untuk melakukan observasi secara eksperimentatif. 13 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  14. 14. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D Rekomendasi apa yang terbaik untuk pemilihan pengembangan pendidikan Stephanie ? EDUCATION FIELD OPTION RECOMMENDATIONS 1 PENDIDIKAN SEKOLAH SEKOLAH KEJURUAN KELAS KELAS INTENSIVE KELOMPOK KELOMPOK NON-KOMPETITIF JURUSAN REKOMENDASI JURUSAN IPS, Sehubungan dengan kemampuan observasi sosial lingkungan yang lebih responsif. Walau demikian, siswa dapat memilih jurusan IPA selama aspek observasi sosial lingkungannya mendapat stimulasi yang memadai. Rekomendasi pemilihan jurusan/fakultas di bawah ini berdasarkan potensi gaya belajar yang lebih dominan (Visual/Auditory/Kinestetik). Berikut ini merupakan pilihan-pilihan fakultas/jurusan sesuai dengan gaya belajar tipe Visual, silahkan siswa memilih sesuai dengan minatnya karena setiap orang bisa/mampu menjadi apa saja yang dicita-citakannya. 2 PERGURUAN TINGGI FAKULTAS KEDOKTERAN Spesialis Mata, Internist, Radiology dll FAKULTAS TEKNIK Teknik Sipil, Arsitektur, Geologi dll FAKULTAS EKONOMI Ekonomi Pembangunan, akuntansi dll FAKULTAS ILMU SOSIAL Ilmu Politik, Sosiologi, dll FAKULTAS HUKUM Hukum Perdata, Hukum Ekonomi dll FAKULTAS SASTRA BAHASA Pengamat Sastra, Penulis, Penyusun Cergam dll FAKULTAS PSIKOLOGI Psikologi industri, psikologi sosial dll FAKULTAS SENI, GERAKAN & OLAH RAGA Seni Lukis, Seni Patung, Seni Grafis, Fotografi dll Other Choice: (optional) Extra Curriculums (Skill Development) REFERENCES 1 Pengembangan BAKAT Kemampuan VISUAL Menggambar, Fotografi, Mewarnai dll. 2 Pengembangan BAKAT Kemampuan AUDITORY Internet/Chat, Menonton film/konser dll. 3 Pengembangan BAKAT Kemampuan KINESTETIK Games, Outbond, Memelihara hewan/berkebun, Mekanikal dll. 14 DIC-D.001.020534 Rev 2.12
  15. 15. Psycho-Biometric Fingerprint Analysis DIC-D Apakah Anda menemukan permasalahan belajar, Stephanie ? BEHAVIOR PROBLEM RESULTS 1 INTERESTED Jika anak menunjukkan kecendrungan perilaku pasif, dan tidak tertarik untuk belajar, maka kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: Motivasi belajar yang tidak sesuai dengan struktur gaya bekerja otaknya, anak yang dominan fungsi afektif-represifnya, maka harus dibangkitkan motivasi belajar dari dalam dirinya dengan cara memancing perasaan kenyamanan dan kemudahaannya untuk mempelajari sesuatu. Materi pembelajaran yang disampaikan kemungkinan dianggap tidak menarik, karena anak yang dominan tipe intensif cenderung menangkap tema pembelajaran secara detail dan mendalam, sehingga, apabila penyampaian tema terlalu banyak, maka akan menghambat proses pemahaman lebih mendalam terhadap sebuah materi. 2 FOCUS Jika anak menunjukkan kecenderungan perilaku sulit berkonsentrasi / tidak fokus belajar, maka kemungkinan disebabkan faktor-faktor sebagai berikut: Anak yang memiliki sistem syaraf implusif, cenderung untuk melakukan sesuatu dengan cepat selesai dan kurang teliti, serta ingin melakukan hal-hal terkait dengan tema baru, sehingga ketika mereka mengalami gangguan konsentrasi, ada baiknya mengalihkan perhatian dan menyegarkan pikirannya kembali. Kesulitan konsentrasi bisa disebabkan karena gaya belajar yang kurang cocok, sementara anak tersebut memiliki toleransi yang rendah terhadap perbedaan gaya belajarnya. Anak yang bergaya dominan visual akan mudah beralih focus/konsentrasinya apabila materi pembelajarannya tidak banyak menggunakan sarana visual. 3 MEMORY Jika anak menunjukkan kecenderungan perilaku sulit dalam hal hafalan (memory), maka kemungkinan disebabkan faktor-faktor sebagai berikut: Anak tipe Intensif cenderung meningkatkan memori jangka panjangnya, karena sangat memperhatikan detail. Namun demikian, jika terdapat permasalahan dalam kemampuan memorinya, ada kemungkinan disebabkan masalah pemilihan focus pendalaman materi yang mana yang harus penting diingat dan mana yang tidakpenting untuk diingat. Anak tipe akseleratif juga harus dilatih kecepatan waktu untuk mengingat karena biasanya kurang memperhatikan masalah waktu. 4 IMPLEMENTATION Jika anak menunjukkan kesulitan dalam mengimplementasikan pelajarannya ketika mengerjakan soal-soal ketika ujian, maka kemungkinan disebabkan faktor-faktor sebagai berikut: Dalam proses implementasi pembelajaran, anak tipe Afektif-Represif cenderung mengedepankan aspek kenyamanan dan berfikir resiko yang lebih dominan. Padahal, pembelajaran yang efektif untuk bisa diimplementasikan dengan baik adalah melibatkan seluruh aspek dalam dirinya. Anak tipe ini ini cenderung dominan metode belajar yang mendorong kenyamanannya, biasanya ia terlalu banyak melakukan metode pertimbangan analisis resiko. Cobalah menyeimbangkan metode belajarnya dengan kemampuan membaca buku panduan dan proses pembelajaran praktikal melalui latihan soal-soal yang sudah pernah ada, dimulai sesuatu yang mudah lalu kemudian meningkatkan standar kesulitannya. 15 DIC-D.001.020534 Rev 2.12

×