Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
hak asasi manusia dan hiv
Edisi Khusus: Nomor 06, Desember 2010 - Januari 2011

Kabar Komunitas
Mengupas kegiatan yang dil...
HdH | 1

Daftar Isi
 
 
 

Dari Meja Redaksi 
 
 
 
 
Kabar Komunitas 
 
 
 
 
 
Tugas Pertama Setelah Menjadi Paralegal 
...
HdH | 2

Kabar Komunitas

 

 

Tugas Pertama Setelah Menjadi Paralegal 
Oleh: Seruni 
 
Sebelum dilantik menjadi paralega...
HdH | 3
Tanpa putus asa, teman‐teman dari LBH Masyarakat mencoba untuk masuk dengan latar belakang kami sebagai kuasa 
huk...
HdH | 4
Dengan  menjadi  paralegal,  saya  berharap  masalah‐masalah  yang  timbul  di  komunitas  napza  bisa  dicoba  di...
HdH | 5

Pembekalan Paralegal sebagai Persiapan Rangkaian Penyuluhan di Komunitas ODHA 
 
Kamis,  27  Januari  2011,  seki...
HdH | 6
misalnya lagi mau melamar pekerjaan, bisa ga sih kita jujur aja misalnya kalau kita ada penyakit HIV/AIDS?” tanya ...
HdH | 7

Mari Bicara Hukum dan HAM

 

 

SKTM, Gakin dan Jamkesmas sebagai Upaya Memperoleh Hak atas Kesehatan 
Oleh: Ale...
HdH | 8
Tahapan tersebut di atas dapat dilakukan juga apabila dalam hal pasien dalam keadaan darurat dan belum mengurus 
G...
HdH | 9

Suara Komunitas

 

 
 
Dalam  rangka  ulang  tahun  LBH  Masyarakat  yang  ketiga,  8  Desember  2010,  kami  be...
HdH | 10

Galeria

 

 
Pelatikan Paralegal dan Diskusi Publik LBH Masyarakat 
Pemberdayaan Hukum Masyaraka bagi Orang den...
HdH | 11

Tentang LBH Masyarakat

 

 
Berangkat  dari  ide  bahwa  setiap  anggota  masyarakat  memiliki  potensi  untuk ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Hak Asasi Manusia dan HIV, No. 6, 2010 - LBH Masyarakat

497 views

Published on

HdH diterbitkan dengan tujuan untuk menjadi sarana informasi, komunikasi dan dialog antar komunitas yang kini tengah diberdayakan oleh LBH Masyarakat. Publikasi ini hendak menyasar pembaca utamanya di lingkungan orang yang hidup dengan HIV/AIDS, pemakai narkotika, pekerja seks dan waria/transjender. Publikasi ini juga bertujuan untuk memicu diskusi di antara anggota komunitas-komunitas tersebut. Tentu inisiatif ini tidak lepas sebagai bentuk upaya untuk melengkapi pemberdayaan hukum masyarakat yang tengah kami lakukan di empat komunitas tersebut.

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Hak Asasi Manusia dan HIV, No. 6, 2010 - LBH Masyarakat

  1. 1. hak asasi manusia dan hiv Edisi Khusus: Nomor 06, Desember 2010 - Januari 2011 Kabar Komunitas Mengupas kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat di empat komunitas yang tengah diberdayakan yakni di komunitas Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pemakai narkotika, pekerja seks, dan wanita-pria. • Tugas Pertama Setelah Menjadi Paralegal • Membangun Semangat Komunitas • Pembekalan Paralegal sebagai Persiapan Rangkaian Penyuluhan di Komunitas ODHA Mari Bicara Hukum dan HAM Seringkali persoalan biaya menjadi penghalang bagi mereka yang kurang mampu untuk mendapatkan hak atas kesehatannya. Padahal, hak atas kesehatan adalah juga hak asasi manusia yang telah dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. Dalam kolom ini, akan sedikit mengurai persoalan seputar SKTM, Gakin dan Jamkesmas dan bagaimana peran ketiganya sebagai upaya untuk memperoleh hak atas kesehatan. Suara Komunitas Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat bertanya kepada paralegal komunitas dan anggota komunitas mengenai harapan mereka terhadap LBH Masyarakat di ulang tahun kami yang ketiga, 8 Desember 2010 silam.
  2. 2. HdH | 1 Daftar Isi       Dari Meja Redaksi          Kabar Komunitas            Tugas Pertama Setelah Menjadi Paralegal    Membangun Semangat Komunitas    Pembekalan Paralegal        Mari Bicara Hukum dan HAM        Suara Komunitas          Galeria             1  2  2  3  5  7  9  10          Yang terhormat pembaca budiman,    Edisi  HdH  kali  ini  adalah  edisi  khusus,  edisi  dua  bulan  terbit  yaitu  Desember  2010  dan  Januari  2011.  Penerbitan  edisi  khusus ini dilatarbelakangi fakta bahwa hari efektif kerja di dua bulan tersebut tidak terlalu banyak. Dengan waktu yang  terbatas  itu,  tentu  penulisan,  pencetakan  dan  distribusi  akan  terhambat  pengerjaannya.  Oleh  karena  itulah,  kami  memutuskan untuk menerbitkan edisi dua‐bulan sebagai edisi khusus.     Di edisi HdH ini kami menyajikan 2 (dua) tulisan di rubrik Kabar Komunitas yang ditulis oleh paralegal LBH Masyarakat.  Dalam  tulisan  tersebut  keduanya  merefleksikan  pengalamannya  sebagai  paralegal  dalam  kerja  penanganan  kasus  dan  juga dalam perannya untuk membangun komunitas. Diharapkan dengan diterbitkannya dua tulisan dari paralegal LBH  Masyarakat, akan semakin banyak lagi paralegal dan anggota komunitas lainnya yang terdorong untuk menulis. Hal ini  penting  karena  dengan  menulis,  kita  akan  menuangkan  ide‐ide  kita  secara  tertulis  yang  artinya  siapapun  akan  mengetahuinya  dan  bisa  terlacak  dengan  baik  (karena  terdokumentasikan).  Di  samping  itu,  dengan  menulis,  sedikit  banyak  akan  berpengaruh  mendorong  budaya  baca  juga  karena  untuk  menulis  kita  membutuhkan  membaca  juga  sebagai  referensi.  Selain  itu,  di  kolom  Mari  Bicara  Hukum  dan  HAM,  kami  terbitkan  tulisan  umum  seputar  SKTM,  Jamkesmas  dan  perannya  untuk  meringankan/membebas‐biayakan  biaya  rumah  sakit  bagi  mereka  yang  berasal  dari  latar belakang ekonomi kurang mampu.     Akhir  kata,    semoga  informasi  yang  kami  sajikan  dalam  HdH  edisi  khusus  ini  dapat  memberikan  banyak  manfaat  bagi  para  pembaca  sekalian.  Kritik  yang  membangun  dan  saran‐saran  untuk  pengembangan  HdH  dapat  ditujukan  kepada  redaksi yang informasinya termuat di bawah ini.     Terima kasih, dan salam hangat          Dari Meja Redaksi   Dewan  Redaksi:  Ricky  Gunawan,  Dhoho  A.  Sastro,  Andri  G.  Wibisana,  Ajeng  Larasati,  Alex  Argo  Hernowo,  Answer  C.  Styannes,  Pebri  Rosmalina,  Antonius  Badar,  Feri  Sahputra,  Grandy Nadeak, Vina Fardhofa, dan Magdalena Blegur  Keuangan dan Sirkulasi: Fajriah Hidayati dan Zaki Wildan    Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat  Tebet Timur Dalam III B No. 10, Jakarta 12820  Telp. 021 830 54 50  Faks. 021 829 80 67  Email. contact@lbhmasyarakat.org  Website. http://www.lbhmasyarakat.org       HdH  diterbitkan  oleh  Lembaga  Bantuan  Hukum  Masyarakat  (LBH  Masyarakat)  dengan  dukungan  oleh  International  Development  Law  Organization  (IDLO)  dan  OPEF Funds for International Development (OFID).   
  3. 3. HdH | 2 Kabar Komunitas     Tugas Pertama Setelah Menjadi Paralegal  Oleh: Seruni    Sebelum dilantik menjadi paralegal, LBH Masyarakat telah melakukan beberapa kali penyuluhan hukum ke komunitas  Blora. Saat itu aku memilih untuk mengikuti penyuluhan tersebut, sambil mengisi waktu luang.    Aku dan komunitas merasa mendapatkan banyak hal baru yang bisa kami ketahui dari penyuluhan yang diberikan oleh  LBH Masyarakat. Setelah penyuluhan tersebut berjalan beberapa bulan, akhirnya aku dan 3 (tiga) orang teman lain dari  komunitas  Blora  terpilih  untuk  mengikuti  pelatihan  yang  lebih  intensif  yang  diadakan  di  hotel  Cemara  selama  3  (tiga)  hari  untuk  menjadi  paralegal.  Saat  itu  aku  merasa  senang  sekali,  karena  tidak  hanya  dari  komunitasku  saja  yang  mengikutinya tetapi dari komunitas lain pun bergabung.     Begitu  banyak  pelajaran  dan  pengetahuan  yang  aku  dapat  dari  pelatihan  tersebut  terutama  yang  berkaitan  dengan  hukum  dan  hak  asasi  manusia.  Selain  itu  juga  kami  diberikan  pengetahuan  tentang  proses  persidangan  dan  lain‐lain.  Setelah  semua  proses  penyuluhan  dan  pelatihan  tersebut  akhirnya  kita  semua  dilantik  menjadi  paralegal  untuk  bisa  membantu  masyarakat,  khususnya  bagi  anggota  komunitas  yang  membutuhkan  bantuan  hukum.  Sehingga  paralegal  dapat menjalankan tugasnya sebagai pemberi pertolongan pertama dalam suatu kasus hukum yang melibatkan anggota  komunitas.    Sejak  pelantikan,  aku  selalu  berusaha  untuk  mensosialisasikan  pelajaran  dan pengetahuan  yang  selama  ini  aku  dapat.  Hal  paling  mengesankan  setelah  menjadi  paralegal  terjadi  baru‐baru  ini  ketika  aku  mencoba  untuk  mempraktekkan  langsung  ilmu  yang  didapat  selama  penyuluhan  dan  pelatihan  tersebut  ke  dalam  dunia  nyata.  Saat  itu  salah  satu  temanku yang merupakan anggota komunitasku ditangkap oleh polisi. Sebenarnya kejadian ini sudah terjadi beberapa  bulan  yang  lalu.  Namun  kami  kehilangan  komunikasi  dengan  orang  tersebut  sehingga  kami  baru  mengetahui  keadaannya beberapa minggu terakhir. Saat kami mendapatkan informasi tersebut, temanku itu sudah berada di Rumah  Tahanan (rutan) Salemba.     Pada  saat  mendengar  hal  ini  aku  dan  beberapa  temanku  di  komunitas  Bagiku  pengalaman  tersebut  sangat  Blora sempat kecewa karena temanku tersebut tidak mengabari kami yang  berguna dan aku berpikir bahwa sangat  bermanfaat  menjadi  paralegal.  Banyak  di  Blora  ini  tentang  keadaannya  setelah  ditangkap  dan  apa  yang  terjadi  pelajaran  yang  bisa  kita  petik  dan  kepadanya.  Sementara  kami  sudah  lama  hidup  bersama  di  bawah  satu  kemudahan dalam membela teman kita.  atap  dan  sudah  seperti  keluarga.  Kekecewaan  ini  terutama  sangat  Namun  yang  terpenting  kita  menjadi  dirasakan  oleh  Bunda  Joice  (orang  yang  dituai  di  komunitas  Blora)  yang  tahu  bagaimana  cara  melindungi  diri  mendapatkan amanah dari kakaknya temanku ini untuk melindunginya.   apabila  kita  mendapat  perlakuan  yang    tidak  baik,  dan  bisa  membantu  teman‐ Sempat juga  beredar cerita simpang siur tentang kondisinya dia sekarang  teman  untuk  bersikap  apa  yang  setelah  tertangkap.  Hal  ini  menambah  kegundahan  kami.  Kami  menjadi  seharusnya  bisa  dilakukan  apabila  sangat  khawatir  dan  ingin  mengetahui  bagaimana  keadaannya  setelah  mendapat perlakuan yang tidak baik  ditangkap, bagaimana proses hukum yang dijalaninya dan lain sebagainya  sehingga membuat kami ingin segera menemuinya namun kami mempunyai beberapa kegiatan yang harus segera kami  lakukan sehingga kami harus menunggu beberapa waktu. Sampai akhirnya tibalah di satu hari kami bisa bersama‐sama  menemuinya.     Pada hari itu aku bersama dengan Bunda Joice dan teman‐teman dari LBH Masyarakat datang ke Rutan Salemba. Tujuan  kami menjenguknya adalah untuk mengetahui bagaimana kasus posisi yang menimpa temanku tersebut sehingga kami  bisa memberikan bantuan hukum yang dibutuhkannya. Pada saat itu kita sampai di Rutan siang hari tepat sekali dengan  jam istirahat kantor jadi kita tidak bisa menjenguk dan harus menunggu kurang lebih satu setengah jam. Niat kami untuk  memperjelas situasi temanku tersebut dan menawarkan diri untuk membantu menjadi terhambat. Dengan rasa kecewa  kami menunggu di depan Rutan Salemba.    
  4. 4. HdH | 3 Tanpa putus asa, teman‐teman dari LBH Masyarakat mencoba untuk masuk dengan latar belakang kami sebagai kuasa  hukum  temanku  tersebut  dan  untuk  kepentingan  persidangannya  dan  saya  sebagai  paralegal.  Setelah  beberapa  lama  negosiasi akhirnya kami diperbolehkan untuk masuk. Hal yang mengejutkan bagi saya adalah ketika kami bisa menemui  teman  kami  bukan  di  dalam  ruang  jenguk  tahanan  tetapi  langsung  di  ruang  salah  satu  kepala  rutan.  Bagi  saya  pengalaman tersebut sungguh hebat, dalam ruangan tersebut kami mendengarkan kronologi bagaimana penangkapan  tersebut terjadi dan mengapa tidak ada surat pemberitahuan yang mengabarkan keluarga di Blora maupun keluarganya  di kampung.     Sayangnya,  ternyata  temanku  sudah  menjalani  proses  persidangan.  Majelis  hakim  memvonisnya  dengan  hukuman  penjara. Temanku pun tidak mengajukan banding atas putusan tersebut. Terdapat penyesalan karena tidak mengetahui  kabar ini lebih cepat namun tidak ada yang bisa dilakukan kecuali bersabar dan menunggu sampai tiba saatnya temanku  itu dapat mengajukan Pembebasan Bersyarat.    Bagiku  pengalaman  tersebut  sangat  berguna  dan  aku  berpikir  bahwa  sangat  bermanfaat  menjadi  paralegal.  Banyak  pelajaran yang bisa kita petik dan kemudahan dalam membela  teman  kita.  Namun yang  terpenting kita menjadi  tahu  bagaimana  cara  melindungi  diri  apabila  kita  mendapat  perlakuan  yang  tidak  baik,  dan  bisa  membantu  teman‐teman  untuk bersikap apa yang seharusnya bisa dilakukan apabila mendapat perlakuan yang tidak baik. (SRN)    *Seruni adalah salah satu paralegal LBH Masyarakat    Membangun Semangat Komunitas  Oleh: Heru Pribadi     Di  saat  masyarakat  korban  narkotika,  psikotropika,  dan  zat  adiktif  lainnya  (napza)  sedang  membangun  kekuatan,  memperkokoh  komunitas  dan  membangun  aliansi,  kepastian  dan  keadilan  hukum  dalam  penanganan  kasus  narkotika  masih  sangat  belum  berpihak  pada  perlindungan  korban  napza  dalam  upaya  mengangkat  derajat  kesehatan  dan  mengembalikan fungsi sosial pecandu di masyarakat.     Aparat penegak hukum belum bisa melepaskan ”setting‐an” cara‐cara lamanya dalam mengungkap kasus narkotika saat  ini. Kekerasan, intimidasi, pemerasan, kriminalisasi, pelecehan seksual, dan diskriminasi terhadap korban napza masih  terus  berlangsung.  Pecandu  narkotika  kerap  kali  dijadikan  objek  dalam  pengungkapan  kasus  narkotika,  salah  satunya  melalui praktik yang dikenal dengan istilah ”tukar kepala”.     Pertengahan  Juni 2008, Lembaga bantuan Hukum  Masyarakat (LBH Masyarakat) dan Forum Korban NAPZA (FORKON)  bertemu  dalam  sebuah  aksi  massa  peringatan  Hari  Anti  Penyiksaan  di  depan  Istana  Negara.  Pertemuan  ini  membuka  terciptanya ruang diskusi yang berkelanjutan sehingga melahirkan paralegal  Dengan  menjadi  paralegal,  saya  angkatan pertama. Dari sinilah cikal bakal pembentukan paralegal komunitas  berharap  masalah‐masalah  yang  timbul  korban napza dibentuk.  di  komunitas  napza  bisa  dicoba    diselesaikan  bersama  di  komunitas.  Tidak  mudah  memang  memahami  Dari diskusi ini, tercetus rencana untuk membangun pasukan paralegal yang  hukum  dan  mengkritisi  hukum  akan  dilatih  khusus  dalam  bidang  pengetahuan  dan  keterampilan  hukum.  narkotika.  Namun,  rangkaian  diskusi  Nantinya,  diharapkan  paralegal  ini  dapat  memberikan  informasi  dan  terkait  hal  tersebut  membuatnya  bantuan hukum guna menyelesaikan masalah‐masalah hukum di komunitas  menjadi mungkin.  korban napza. Keikutsertaan saya dalam kegiatan ini menjadi hal yang baru  dan tentunya sangat menantang.    Pengetahuan dan keterampilan hukum adalah hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh masyarakat. Sayangnya, hal  tersebut terkesan sebagai sesuatu yang eksklusif dimiliki oleh orang‐orang yang mampu menempuh pendidikan tinggi di  bidang hukum. Dengan adanya paralegal, pengetahuan dan keterampilan hukum diharapkan tidak lagi menjadi hal yang  eksklusif.  Satu  orang  paralegal  bisa  berbagi  pengetahuannya  dengan  anggota  komunitas  lainnya  dan  seterusnya,  sehingga perlahan akan banyak jumlah masyarakat yang memiliki pengetahuan hukum.   
  5. 5. HdH | 4 Dengan  menjadi  paralegal,  saya  berharap  masalah‐masalah  yang  timbul  di  komunitas  napza  bisa  dicoba  diselesaikan  bersama di komunitas. Tidak mudah memang memahami hukum dan mengkritisi hukum narkotika. Namun, rangkaian  diskusi terkait hal tersebut membuatnya menjadi mungkin.     Pemberian  informasi  mengenai  peraturan  hukum  yang  mengatur  tentang  peredaran  narkotika  di  komunitas  korban  napza  awalnya  terasa  sangat  sulit.  Hal  ini  dikarenakan  oleh  cara  pandang  dari  pecandu  atau  anggota  komunitas  itu  sendiri  yang  sudah  pesimis  dan  apatis  terhadap  hukum  dan  keadilan  di  negara  ini.  Keadaan  semakin  parah  dengan  adanya  cara  pandang  dari  penegak  hukum  yang  mengkriminalisasi  pecandu  narkotika.  Butuh  waktu  dan  strategi  yang  tepat untuk membongkar cara pandang tersebut.     Bermacam‐macam strategi telah kami aplikasikan. Tidak bisa dibilang sukses besar, tetapi kami terus berusaha mencari  strategi  yang  tepat.  Strategi  yang  menurut  saya  cukup  efektif  dilakukan  adalah  dengan  mengadakan  diskusi‐diskusi  di  basis‐basis  komunitas.  Diskusi  ini  dimulai  dengan  bagaimana  menyikapi  kasus  yang  pernah  terjadi  di  komunitas  atau  pada individu komunitas, yang kemudian dikaitkan dengan teori hukum yang telah saya dapatkan sebagai paralegal, di  antaranya adalah tentang upaya paksa kepolisisan, proses persidangan pidana dan UU Narkotika.    Kepesimistisan komunitas  terhadap  keadaan hukum, dengan didukung oleh stigmatisasi terhadap diri mereka sebagai  pecandu kerap kali membuat mereka selalu memvonis diri mereka sebagai orang yang bersalah. Hal ini berdampak pada  keengganan  mereka  melakukan  pembelaan  terhadap  hak‐hak  mereka  yang  terlanggar.  Padahal,  tersangka  atau  terdakwa pun juga memiliki hak yang harus diperjuangkan. Cara pandang ini selalu dimanfaatkan oleh aparat penegak  hukum, sehingga posisi mereka akan semakin terpojok dan terlanggar hak‐haknya.    Apa  yang  kami  lakukan  sebagai  paralegal  dengan  memberikan  informasi  hukum  kepada  komunitas  korban  napza  diharapkan  akan  memunculkan  serta  meningkatkan  kesadaran  akan  hukum  dan  hak‐hak  pengguna  napza.  Dengan  demikian, mereka akan memiliki pengetahuan dan informasi yang kuat dan cukup dalam menyelesaikan masalah yang  terjadi di komunitas.    Diskusi‐diskusi  yang  telah  dilakukan  akhirnya  mendorong  adanya  komitmen  bersama  dalam  hal‐hal  yang  lebih  serius,  seperti  penanganan  kasus  di  komunitas.  Komitmen  dalam  menangani  kasus  berangkat  dari  inisiatif  komunitasnya  itu  sendiri. Kepedulian dalam membantu sesama di komunitas jika ada teman yang berurusan dengan hukum menelurkan  semangat  dan  komitmen  penanganan  kasus  tersebut.  Sehingga,  materi  yang  disampaikan  dalam  diskusi  di  komunitas  menjadi lebih luas, tidak hanya persoalan hukum, tetapi juga teknik‐teknik dasar dalam menangani kasus.    Salah  satu  materi  diskusi  mengenai  teknik  penanganan  kasus  adalah  merangsang  komunitas  agar  dapat  mengatur  strategi  seperti  bagaimana  mencari  info  kronologi,  bagaimana  membentuk  tim  kecil  dari  komunitas,  bagaimana  membangun  jaringan  untuk  advokasi  melibatkan  paralegal  dan  lembaga  bantuan  hukum  dan  melakukan  penyadaran  kepada keluarga korban agar bisa terlibat dalam tim kecil yang dibangun.    Apa  yang  kami  lakukan  sebagai  Dengan  materi‐materi  diskusi  tersebut,  komunitas  dapat  memahami  paralegal dengan memberikan informasi  tindakan  yang  harus  dilakukan  ketika  ada  anggota  komunitas  korban  hukum kepada komunitas korban napza  napza menerima laboran kasus, di antaranya adalah kapan kronologi bisa  diharapkan  akan  memunculkan  serta  di  dapat,  kapan  anggota  komunitas  menghubungi  paralegal,  kapan  meningkatkan  kesadaran  akan  hukum  perwakilan  komunitas  menggubungi  keluarga,  membangun  jaringan  dan  hak‐hak  pengguna  napza.  Dengan  seperti mengupayakan keterlibatan orang‐orang di luar komunitas, kapan  demikian,  mereka  akan  memiliki  harus melakukan kunjungan ke tahanan dan lain sebagainya.  pengetahuan  dan  informasi  yang  kuat    dan  cukup  dalam  menyelesaikan  Membangun  kesadaran  hukum  bagi  keluarga  korban  napza  adalah  masalah yang terjadi di komunitas.  tahapan  yang  juga  cukup  penting.  Peran  keluarga  korban  dalam  pendampingan dan penanganan kasus penting artinya. Keluarga korban juga dapat berperan sebagai jembatan dalam  membangun kepercayaan antara kuasa hukum dan paralegal. (HRP).     *Herru Pribadi adalah salah seorang paralegal LBH Masyarakat.       
  6. 6. HdH | 5 Pembekalan Paralegal sebagai Persiapan Rangkaian Penyuluhan di Komunitas ODHA    Kamis,  27  Januari  2011,  sekitar  pukul  14.00  siang,  dua  orang  paralegal  datang  ke  kantor  Lembaga  Bantuan  Hukum  Masyarakat  (LBH  Masyarakat).  Kedua  orang  tersebut  bernama  Vivi  dan  Erdi.  Mereka  berdua  adalah  paralegal  dari  komunitas  ODHA  (orang  dengan  HIV/AIDS)  dan  komunitas  metadon.  Terapi  Metadon  adalah  pelayanan  pemberian/penggantian  jarum  suntik  steril  kepada  pecandu  dan/atau  pengganti  jenis  putaw  (IDU/jarum  suntik)  ke  metadon (oral). Program terapi metadon ini adalah program resmi pemerintah. Keduanya hadir dalam rangka persiapan  untuk rangkaian penyuluhan ke beberapa komunitas di bulan Februari 2011. Untuk mengoptimalkan penyuluhan yang  nantinya akan disampaikan oleh mereka, maka paralegal tersebut perlu diberikan pembekalan materi lebih dalam dan  teknik presentasi yang komunikatif dan efektif.     Vivi    datang  pertama.  Sambil  menunggu  Erdi  yang  agak  terlambat  datang,  ia  bercerita  masalah  pengalaman  dengan  komunitas  ODHA‐nya.  “Iya  mbak  biasanya  tuh  kalau  pas  pendampingan,  teman‐teman  yang  pernah  ditangkap  polisi,  biasanya  suka  mendapatkan  penyiksaan,”  ujar  Vivi  dengan  wajah  serius.  Banyak  lagi  cerita  Vivi  yang  membuat  kami  betah untuk menunggu Erdi. Tidak lama kemudian Erdi pun datang.     Sebelum  pembekalan  ini  dimulai,  Alex  Argo  Hernowo,  salah  satu  Asisten  Manajer  Bantuan  Hukum  dan  HAM  LBH  Masyarakat  yang  biasa  mendampingi  komunitas  ODHA,  memulai  dengan  menguraikan  kerangka  waktu  penyuluhan  untuk  komunitas  dan  juga  pembekalan  untuk  paralegal  sebagai  persiapan  penyuluhan.  Alex,  begitu  ia  biasa  disapa,  menerangkan dengan detail masalah pembagian waktu. Hal ini diperlukan agar paralegal tidak bingung dengan masalah  waktu antara penyuluhan dan pembekalan. “Nanti sebelum penyuluhan, nanti kita pelatihan dulu untuk paralegal,” kata  Alex.  Ia  juga  menyampaikan,  “saya  tidak  mengharapkan  nanti  Mbak  Vivi  dan  Mas  Erdi  untuk  bisa  menguasai  dalam‐ dalam  karena  saya  sadar  bahwa  sebagai  orang  awam  tentu  ada  kesulitan  untuk  menguasai  materi  hukum,  walaupun  kalau bisa menguasai tentu itu bagus  sekali. Tetapi saya mengharapkan agar teman‐teman cukup mengenal dan tahu  saja. Apabila bingung, nanti silahkan ditanyakan kepada saya.”     Di hari itu, materi yang diberikan kepada mereka adalah mengenai proses persidangan pidana dan hak atas kesehatan  dan  kesejahteraan.  Materi  disampaikan  oleh  para  relawan  LBH  Masyarakat.  Mengapa  topik  ini  dipilih?  Biasanya  pelanggaran  hukum  yang  terjadi  dalam  kasus  hukum  yang  dialami  oleh  orang  dengan  HIV/AIDS  maupun  pemakai  narkotika itu seputar proses upaya paksa, penyidikan, hingga dalam persidangan. Proses hukum tersebut seringkali tidak  berjalan  sesuai  dengan  Kitab  Undang‐Undang  Hukum  Acara  Pidana  (KUHAP).  Misalnya  saja  dalam  hal  penangkapan,  bahwa penangkapan untuk tindak pidana umum harus dilakukan maksimal 1x24 jam (satu kali dua puluh empat jam),  pada kenyataannya seringkali melebihi ketentuan ini. Pembekalan terhadap paralegal tersebut harus dilakukan dengan  tujuan agar mereka menguasai materi dan agar selanjutnya dapat menyampaikan kepada teman‐teman komunitasnya.     Materi  pertama  yaitu  Hak  atas  Kesehatan  dan  Hak  atas  Pekerjaan,  dijelaskan  oleh  Nirmalasari  Ajeng,  relawan  LBH  Masyarakat.  Penjelasan  dimulai  dengan  definisi  dan  dasar  hukum  hak  atas  kesehatan,  mengapa  hak  atas  kesehatan  tergolong  dalam  hak  asasi  manusia,  serta  langkah  hukum  yang  dapat  ditempuh  terkait  dengan  hak  atas  kesehatan  seperti mediasi. Di sesi ini, Vivi sempat bertanya, “bagaiamana kalau ODHA mendapat diskriminasi dari rumah sakit?”  Atas  pertanyaan  tersebut  Alex  menjawab,  “kita  dapat  mengupayakan  mediasi  terlebih  dahulu  dengan  rumah  sakit,  mencari jalan keluar secara musyawarah, apabila jalan yang ditempuh ini tidak membuahkan hasil kita bisa kemudian  melakukan langkah hukum.” “Lalu proses mediasinya seperti apa?” tanya  Di  hari  itu,  materi  yang  diberikan  kepada  Vivi kembali. “Tergantung kasusnya, misalnya apakah tidak mendapatkan  mereka  adalah  mengenai  proses  obat  yang  dibutuhkan  atau  mendapatkan  pelayanan  yang  buruk.  persidangan  pidana  dan  hak  atas  Semuanya  itu  bisa  saja  kita  tempuh  dengan  mediasi  terlebih  dahulu  kesehatan  dan  kesejahteraan.  Materi  dengan  pihak  rumah  sakit,  dan  tidak  perlu  sampai  pada  Menteri  disampaikan  oleh  para  relawan  LBH  Masyarakat.  Mengapa  topik  ini  dipilih?  Kesehatan,” urai Alex.   Biasanya  pelanggaran  hukum  yang  terjadi    Nirmalasari  kemudian  melanjutkan  presentasinya  ke  materi  hak  atas  dalam  kasus  hukum  yang  dialami  oleh  orang  dengan  HIV/AIDS  maupun  pemakai  pekerjaan.  Ia  memulai  dengan  definisi  hak  atas  pekerjaan,  dasar  hukum  narkotika  itu  seputar  proses  upaya  paksa,  hak  atas  pekerjaan,  sengketa  dalam  hubungan  kerja,  pemutusan  penyidikan,  hingga  dalam  persidangan.  hubungan  kerja,  langkah  hukum  yang  bisa  ditempuh  dalam  hak  atas  Proses  hukum  tersebut  seringkali  tidak  pekerjaan  seperti  mediasi,  konsiliasi,  bipartit,  arbitrase  dan  perselisihan  berjalan  sesuai  dengan  Kitab  Undang‐ hubungan  industrial.  Di  sesi  ini  terjadi  tanya  jawab  yang  cukup  banyak,  Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). seperti  yang  di  tanyakan  oleh  Vivi.  “Mas  Alex  bagaimana  kalau  kita 
  7. 7. HdH | 6 misalnya lagi mau melamar pekerjaan, bisa ga sih kita jujur aja misalnya kalau kita ada penyakit HIV/AIDS?” tanya Vivi.  Lalu  Alex  menjawab,  “sebaiknya  tidak  perlu  diberitahu,  karena  memang  tidak  diwajibkan  demikian.  Itu  ibarat  kita  mempunyai penyakit misalnya kanker, dan selama urusan pekerjaan kita tidak ada hubungan dengan penyakit kita ya  tidak  perlu  diberitahukan  juga.  Apabila  setelah  nanti  ODHA  berkerja  dan  ketahuan  status  HIV/AIDS‐nya  lalu  dipecat,  maka  itu  dapat  kita  perkarakan,  karena  itu  termasuk  dalam  perselisihan  hak.”  Lebih  lanjut  Alex  menjelaskan  bahwa  nanti dalam menyelesaikan sengketa dapat diupayakan melalui mediasi terlebih dahulu kalau tidak bisa mencapai titik  temu,  baru  kemudian  mengajukan  gugatan  ke  pengadilan  perselisihan  hubungan  industrial,  apabila  menyangkut  mengenai perselisihan hak biasanya akan diperkerjakan lagi atau tidak mendapatkan suatu kompesasi.     Setelah  mendapatkan  materi  hak  atas  kesehatan  dan  pekerjaan,  lalu  sesi  di  pembekalan  beralih  ke  materi  kedua  mengenai  proses  persidangan  pidana  yang  disampaikan  oleh  Ayudhia  Utami,  relawan  LBH  Masyarakat.  Ayudhia  menjelaskan  materi  ini  mulai  dari  terjadinya  peristiwa  hukum,  penyelidikan,  penyidikan,  penuntutan,  persidangan  hingga putusan hakim, dan upaya hukum yang dapat ditempuh apabila tidak puas dengan putusan hakim. Nampaknya  proses  persidangan  pidana  tidak  mudah  untuk  dipahami  mengingat  banyak  sekali  istilah  teknis  hukum,  sehingga  Alex  perlu menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana. Di sesi ini Erdi sempat bertanya, “Mas Alex, kalau upaya hukum  itu bisa ga sih langsung kasasi aja?” Lalu Alex menjawab, “tidak bisa, karena harus melalui banding terlebih dulu baru  nanti bisa kasasi”. Setelah pembahasan selesai dituntaskan dan tidak ada pertanyaan lagi kemudian Alex menganjurkan  kepada  Vivi  dan  Erdi  untuk  kembali  membaca‐baca  slide  presentasi  yang  telah  dibagikan  dan  brosur  yang  berisikan  materi yang telah dipresentasikan. Pembekalan pun kemudian berakhir sekitar sore hari pukul 17.30 WIB. (GPS).                                                                       
  8. 8. HdH | 7 Mari Bicara Hukum dan HAM     SKTM, Gakin dan Jamkesmas sebagai Upaya Memperoleh Hak atas Kesehatan  Oleh: Alex Argo Hernowo    Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia yang  harus dipenuhi. Dalam konteks  kenegaraan, Indonesia telah menjamin pemenuhan kesehatan di dalam Konstitusi. Hal itu dapat dilihat dalam Undang‐ Undang  Dasar  1945  Pasal  28H:  ”Setiap  orang  berhak  hidup  sejahtera  lahir  dan  batin,  bertempat  tinggal,  dan  mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.” Lebih lanjut lagi,  Pasal  34 ayat (3) menyebutkan bahwa:  “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan  fasilitas pelayanan umum yang layak.” Kedua jaminan konstitusional tersebut juga dikuatkan dalam konsideran Undang‐ Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyebutkan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan  salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita‐cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud  dalam Pancasila dan Undang‐Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.    Di  level  implementasi,  pemerintah  pusat  telah  mengeluarkan  sebuah  program  yang  dinamakan  Jaminan  Kesehatan  Masyarakat  (Jamkesmas).  Program  ini  bertujuan  untuk  memberi  layanan  kesehatan  bagi  masyarakat  miskin  yang  menjadi  pesertanya.  Data  warga  misikin  dari  Badan  Pusat  Statistik  (BPS)  dijadikan  dasar  penetapan  jumlah  sasaran  peserta  secara  nasional  oleh  Menteri  Kesehatan.  Namun  nampaknya  program  Jamkesmas  ini  memiliki  banyak  kekurangan sebab data warga miskin berdasarkan BPS dan data pemohon penerima Jamksesmas berbeda jauh. Hal ini  menjadi  kesulitan  tambahan  bagi  masyarakat  miskin.  Mereka  yang  sebelumnya  sudah  cukup  sulit  dalam  mempertahankan  kesehatan  mereka  dan  mengakses  layanan  kesehatan,  menjadi  lebih  sulit  lagi  karena  mereka  harus  mengakses Jamkesmas dulu untuk mendapatkan akses layanan kesehatan, yang mana akses mendapatkan Jamkesmas  itu  sendiri  juga  sulit.  Substansi  pemenuhan  hak  atas  kesehatan  semakin  sulit  karena  dibenturkan  dengan  mekanisme  prosedural yang tidak tepat.    Menyiasati warga miskin yang tidak terdaftar sebagai peserta Jamkesmas   Bagaimana jika ada warga miskin yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan sedangkan dia tidak terdaftar sebagai  peserta Jamkesmas? Dalam kasus demikian warga miskin dapat menempuh prosedur pengurusan Gakin (warga miskin).  Berikut ini adalah tahapan pengurusan kartu Gakin:     Pasien memiliki Kartu Tanda Penduduk DKI Jakarta     Pasien/keluarga  mengajukan  Surat  Keterangan  Tidak  Mampu  (SKTM)  pada  RT  /                    Pasien/keluarga ke Kelurahan dan Kecamatan dengan membawa SKTM untuk dilegalisir  Pasien datang ke Puskesmas setempat dengan membawa SKTM yang telah dilegalisir  Pihak Puskesmas akan memverifikasi dengan melakukan survey ke rumah pasien        Setelah survey dilakukan, akan ditentukan apabila pasien berhak untuk mendapatkan surat Gakin/SKTM.    Setelah  mendapat  Hasil  Laporan  Verifikasi  yang  menyatakan  pasien  berhak  mendapatkan  surat  Gakin/SKTM,  selanjutnya semua berkas diserahkan kepada pihak rumah sakit.   
  9. 9. HdH | 8 Tahapan tersebut di atas dapat dilakukan juga apabila dalam hal pasien dalam keadaan darurat dan belum mengurus  Gakin (warga miskin) namun harus segra masuk rumah sakit. Caranya adalah:  1. Pasien dan keluarga membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Pengantar dari RT untuk pengurusan surat  keterangan tidak mampu (SKTM) serta Kartu Keluarga (KK) pasien dan menyerahkannya pada loket pendaftaran  pasien di  Rumas sakit milik pemerintah (misalnya: RS Cipto Mangunkusumo)  2. Selanjutnya pada loket pendaftaran pasien, pasien didaftarkan dengan status menggunakan SKTM dalam data  informasi pasien di rumah sakit tersebut.  Namun proses ini hanya dapat berlaku sementara, pihak keluarga pasien tetap harus mengurus SKTM dan melakukan  verifikasi oleh pegawai puskesmas.    Kartu Gakin (Warga Miskin) versus Jamkesmas  Kedua  program  sama–sama  merupakan  program  pelayanan  kesehatan  bagi  masyarakat  miskin  atau  kurang  mampu.  Namun  kartu  Gakin  cenderung  lebih  mudah  diakses  ketimbang  Jamkesmas  yang  pemberian  layanan  kesehatannya   didasarkan  pada  kuota  jumlah  penduduk  miskin.  Gakin  merupakan  program  yang  diselenggarakan  oleh  Pemerintah  Daerah, dalam hal ini Pemda DKI Jakarta, apabila di luar DKI namanya Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah) sedangkan  Jamkesmas adalah program dari Pemerintah Pusat.    Dalam  implementasi  kesehariannya,  program  Jamkesmas  ini  menemui  banyak  tantangan,  oleh  karenanya,  pelaksanaannya harus segera diperbaiki mengingat Jamkesmas merupakan progam yang dilaksanakan oleh pemerintah  pusat yang mencakup seluruh wilayah Indonesia, dan hak atas kesehatan adalah hak asai manusia yang pemenuhannya  menjadi tanggung jawab Negara – sebagaimana telah disampaikan dalam paragraf awal tulisan ini. (AAH).    *Alex Argo Hernowo adalah salah satu Asisten Manajer Bantuan Hukum dan HAM di LBH Masyarakat.                                                      
  10. 10. HdH | 9 Suara Komunitas       Dalam  rangka  ulang  tahun  LBH  Masyarakat  yang  ketiga,  8  Desember  2010,  kami  bertanya:  “Apa  harapan  teman‐ teman semua terhadap LBH Masyarakat?”    Thalia, Paralegal Blora:  “Semoga  LBH  Masyarakat  lebih  sukses  lagi  dan  jangan  pernah  menyerah  dan  lelah  untuk  memberdayakan  seluruh  masyarakat Indonesia tentang hukum.”     Indra, Paralegal Klender:  “Semoga  di  tahun  ke  depan  LBH  Masyarakat  makin  memperluas  paralegalnya,  agar  masyarakat  awam  lebih  tahu  hukum.”     Ajid, remaja Kali Adem (REMKA):  “Selamat untuk LBH Masyarakat yang sudah berulang tahun yang ke‐3. Harapannya semoga LBH Masyarakat tetap jaya  dan akan selalu ada untuk kedepannya. Mudah‐mudahan LBH Masyarakat bisa membantu semakin banyak orang yang  membutuhkan bantuan hukum.”     Apay, Paralegal Forkon:  “Harapan  saya  untuk  LBH  Masyarakat  semoga  dapar  menjadi  lembaga  yang  benar‐benar  mendampingi  rakyat  dan  kaum‐kaum minoritas terkait dengan permasalahan hukum yang ada di bumi pertiwi Indonesia.”    Beni, Paralegal Depok:  “Dengan penuh semangat, kami, paralegal dari komunitas kaum marjinal Depok, mengharapkan agar LBH Masyarakat  menjadi  mitra  kami  dalam  hal  memperjuangkan  permasalahan  kesejahteraan  sosial  yang  selalu  dikalahkan  oleh  hukum.”    Danang, Paralegal Klender:  “Semoga di tahun yang akan datang, LBH Masyarakat lebih tambah maju lagi dan lebih peduli kepada remaja agar para  remaja tidak terjebak ke arah yang salah!”     Aldi, Relawan LBH Masyarakat:  “Happy 3rd birthday LBH Masyarakat! Tetapkan visi setinggi langit. Tegakkan keadilan walaupun langit runtuh.”     Nur Aida, Paralegal Forkon:  “Semoga LBH Masyarakat mampu mendorong lahirnya kebijakan baru terkait Napza di Indonesia.”    Erdi, Paralegal:  “Harapan saya semoga LBH Masyarakat menjadi lembaga yang besar yang selalu membela hak‐hak kaum minoritas yang  tertindas  dan  selalu  melakukan  penyuluhan  hukum  kepada  teman‐teman  ODHA  dan  teman‐teman  di  komunitas  lainnya.”                         
  11. 11. HdH | 10 Galeria     Pelatikan Paralegal dan Diskusi Publik LBH Masyarakat  Pemberdayaan Hukum Masyaraka bagi Orang dengan HIV/AIDS dan Populasi Kunci:  Mempertahankan Hak, Melawan Stigma  30 November 2010                            Diskusi  publik  mengenai  HIV  dan  Hak  Asasi  Manusia,  dengan pembicara (dari kiri‐kanan): Yoseph A. Prasetyo  (Komnas HAM), Ajeng Larasati (LBH Masyarakat), Setyo  Warsono  (Komisi  Penanggulangan  AIDS  Nasional)  dan  Thalia (perwakilan komunitas).                                                           Direktur  Program  LBH  Masyarakat,  Ricky  Gunawan,  sedang  mengalungkan  ID  card  kepada  salah seorang paralegal.         Keluarga besar LBH Masyarakat beserta paralegal yang baru dilantik 
  12. 12. HdH | 11 Tentang LBH Masyarakat     Berangkat  dari  ide  bahwa  setiap  anggota  masyarakat  memiliki  potensi  untuk  turut  berpartisipasi  aktif  mewujudkan  negara  hukum  yang  demokratis,  sekelompok  Advokat,  aktivis  Hak  Asasi  Manusia  (HAM)  dan  demokrasi  mendirikan  sebuah  organisisasi  masyarakat  sipil  nirlaba  bernama  Perkumpulan  Lembaga  Bantuan  Hukum  Masyarakat  (LBH  Masyarakat).     Visi LBH Masyarakat adalah terwujudnya partisipasi aktif dan solidaritas masyarakat dalam melakukan pembelaan dan  bantuan  hukum,  penegakan  keadilan  serta  pemenuhan  HAM.  Sementara  misinya  adalah  mengembangkan  potensi  hukum yang dimiliki oleh masyarakat untuk secara mandiri dapat melakukan gerakan bantuan hukum serta penyadaran  hak‐hak warga negara, dari dan untuk masyakarat.    Secara ringkas, visi dan misi LBH Masyarakat diimplementasikan melalui tiga program kerja utama, yakni:  (1)  Pemberdayaan  hukum  masyarakat  melalui  pendidikan  hukum,  penyadaran  hak‐hak  masyarakat,  pemberian  informasi mengenai hukum dan hak‐hak masyarakat serta pelatihan‐pelatihan bantuan hukum bagi masyarakat;   (2) Advokasi kasus dan kebijakan publik;   (3) Penelitian permasalahan publik dan kampanye hak asasi manusia baik di tingkat nasional maupun internasional.                           

×