Cermin politik perawat indonesia

6,383 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
6,383
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
114
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Cermin politik perawat indonesia

  1. 1. Peran Perawat di Bidang Politik Kontroversi Strategi Pendidikan Keperawatan di Era Globalisasi Institusi pendidikankeperawatan sangat bertanggung jawab dan berperan penting dalam rangka melahirkan generasiperawat yang berkualitas dan berdedikasi. Sejalan dengan berkembangnya institusi pendidikankeperawatan di Indonesia semakin bertambah jumlahnya. Motivasi dari pendirian institusipendidikan keperawatan pun sangat bervariasi dari alasan "Bisnis" sampai dengan "Sosial". Danyang kemudian menjadi pertanyaan dan keganjilan adalah banyaknya pemilik dan pengelolainstitusi pendidikan keperawatan ini yang sama sekali tidak memiliki pemahaman yang cukuptentang keperawatan baik secara disiplin ilmu atau profesi. Ini menjadi penyebab rendahnyamutu lulusan dari pendidikan keperawatan yang ada di Indonesia dan tidak siap untuk bersaing.Salah satu tolok ukur kualitas dari perawat di percaturan Internasional adalah kemampuan untukdapat lulus dalam Ujian Kompetensi Keperawatan seperti ujian NCLFX-RN dan CGFNS sebagaisyarat mutlak bagi seorang perawat untuk dapat bekerja di USA. Dalam hal ini kualitas dankemampuan perawat Indonesia masih sangat memprihatinkan. Di Kuwait pernah terjadi faktayang memalukan sekaligus menjatuhkan kredibilitas bangsa terutama sistem pendidikankeperawatan yang ada di Indonesia memiliki permasalahan yang berkaitan dengan HighEducatio bagi perawat Indonesia yang bekerja di Kuwait.Hal tersebut lebih disebabkan karena sistem pendidikan keperawatan kita yang sangat bervariasi.Efek yang paling buruk dari hal tersebut adalah tidak diakuinya perawat yang memiliki ijazah S1Keperawatan (S.Kep) dan mereka hanya disamakan dengan D3 Keperawatan. Institusipendidikan keperawatan harus dilakukan perubahan secara total antara lain :Standarisasi jenjang, kualitas/mutu, dari institusi pendidikan keperawatanMerubah bahasa pengantar dalam pendidikan keperawatan dengan menggunakan bahasa InggrisMenutup institusi pendidikan keperawatan yang tidak berkualitasInstitusi pendidikan keperawatan harus dipimpin oleh seseorangyang memiliki latar belakangpendidikan keperawatanStandarisasi kurikulum dan evaluasi bertahan terhadap staf pengajar di institusi pendidikankeperawatan
  2. 2. Semua dosen dan staf pengajar di institusi pendidikan keperawatan harus berbahasa Inggris aktifMemberantas segala jenis KKN di institusi pendidikan dimulai dari perizinan penerimaanmahasiswa, proses pendidikan dan akreditasi serta proses kelulusan mahasiswa.Strategi Pelayanan Keperawatan di Era GlobalisasiPraktek keperawatan sebagai tindakan profesional harus didasarkan pada penggunaanpengetahuan teoritik yang mantap dan kokoh dari berbagai ilmu dasar serta ilmu keperawatandijadikan sebagai landasan untuk melakukan pengkajia, menegakkan diagnostic, menyusunperencanaan, melaksanakan asuhan keperawatan dan mengevaluasi hasil dari tindakankeperawatan serta mengadakan penyesuaian rencana keperawatan untuk menentukan tindakanselanjutnya.Selain memiliki kemampuan intelektual, interpersonal, dan tekhnikal, perawat juga harusmempunyai otonomi yang berarti mandiri dan bersedia menanggung resiko, bertanggung jawab,dan bertanggung gugat terhadap tindakan yang dilakukannya, termasuk dalam melakukan danmengatur dirinya sendiri. Tapi yang terjadi di lapangan sangat memilukan, banyak sekali rekan-rekan perawat yang melakukan "Praktik Pelayanan Medis / Kedokteran dan Pengobatan" yangsangat tidak relevan dengan ilmu keperawatan itu sendiri. Hal tersebut telah membuat profesiperawat dipandang rendah oleh profesi lain.Banyak hal yang menyebabkan hal ini berlangsung berlarut-larut antara lain :Kurangnya kesadaran diri dan pengetahuan dari individu perawt itu sendiriTidak jelasnya aturan yang ada seperti belum ditetapkannya RUU Keperawatan serta tidaktegasnya komitmen penegakan hukum di IndonesiaMinimnya penghargaan financial dari pihak-pihak terkait terhadap perawatKurang optimalnya perannya organisasi profesi keperawatanRendahnya pengetahuan masyarakat tentang perawat dan keperawatan yang lebih disebabkankarena kurangnya informasi yang diterima oleh masyarakat berkaitan tentang profesi perawatdan keperawatan terutama di daerah yang masih menganggap bahwa "perawat" juga tidakberbeda dengan "dokter".Sementara itu, dunia pelayanan keperawatan di Rumah Sakit juga masih sangat jauh darinyaman, rekan-rekan perawat bekerja selama 24 jam 1 hari dalam 2-3 shift, sedangkanpendapatan mereka masih sangat jauh dari memadai. Sebagai perbandingan perawat Indonesia
  3. 3. yang bekerja di Kuawait mendapatkan gaji berkisar Rp.15 juta-Rp.24 juta/bulan, sedangkanrekan-rekan perawat yang bekerja di Indonesia jauh dibawah kebutuhan hidup mereka.Beberapa contoh diatas lebih disebabkan karena selama ini kita dianggap kecil oleh profesi lain.Perawat mutlak sangat diperlukan dan dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan. Kita harus sudahmulai berani untuk berbicara karena keadilan itu harus ditegakkan, yang harus segeradilaksanakan adalah :Penentuan standarisasi gaji untuk perawat tentu setelah melalui uji kompetensiMenciptakan sistem sirkulasi dalam penempatan perawat Indonesia ke luar negeri sehingga padajangka panjang akan terjadi peningkatan penghargaan dan kesetaran terhadap profesikeperawatan di IndonesiaMemberikan sanksi kepada Rumah Sakit atau Institusi pelayanan kesehatan yang tidak memberigaji sesuai dengan standardPenataan Praktik KeperawatanDalam suatu penataan praktik keperawatan perlu adanya Undang-Undang, maka semua itu harussesuai dengan standar kompetensi profesi, salah satunya kompetensi perawat (SKP) yang sudahdiakui secara nasional. SKP Nasional Indonesia mengacu pada kerangka kerja KonsilKeperawatan Internasional (ICN, 2003) yang menekankan pada perawat generalis yang bekerjadengan klien individu, keluarga, dan komunitas dalam tatanan asuhan keperawatan di RumahSakit dan komunitas serta bekerja sama dengan pemberi asuhan kesehatan dan sosial lainnya.Dalam kerangka kerja ICN, kompetensi perawat generalis dikelompokkan menjadi 3 judulkompetensi, utama, yaitu :Praktik keperawatan profesional,Pemberian Asuhan Keperawatan, danManagement keperawatan pengembangan profesionalPeran profesional perawat tidak akan bisa dicapai, kalau model pratik keperawatan di pelayananbelum ditata secara profesional. Model praktik keperawatan profesional yang dilaksanakan olehperawat di tatanan pelayanan keperawatan masih menjadi suatu abstraksi. Pelayanan asuhankeperawatan yang optimal akan terus digunakan sebagai tuntutan bagi organisasi pelayanankesehatan, sistem pemberian pelayanan kesehatan ke sistem desentralisasi. Denganmeningkatnya pendidikan bagi perawat, diharapkan dapat memberikan arah terhadap pelayanan
  4. 4. keperawatan berdasarkan pada isu di masyarakat.Ada 4 model praktik keperawatan profesional yang diharapkan ada yaitu : model praktik diRumah Sakit, rumah, berkelompok, dan individual. Akan tetapi pelaksanaan PERMENKEStersebut masih perlu mendapatkan persiapan yang optimal oleh profesi keperawatan.Etika Politik dalam Merawat PasienEtika adalah mengenai pengawasan bagi orang lain serta kepedulian terhadap perasaan."Merawat seseorang berarti bertindak untuk kebaikan mereka, membantu mengembalikanotonomi mereka, membantu mereka untuk mencapai potensi penuh mereka, mencapai tujuanhidup mereka dan pemenuha kebutuhan".Dalam pengalaman menderita mungkin tidak hanya membuat kita lebih simpati, tapi mungkinjuga membantu kita untuk lebih empati terhadap pasien kita. Simpati adalah perasaan yangtimbul secara spontan yang kita miliki atau tidak dimiliki. Empati adalah kemampuan untukmeletakkan diri kita dalam sesuatu orang lain, dalam suatu seni yang dapat dipelajari, latihanimajinasi yang dapat dilatih. Perasaan ini dapat menjadi motivator yang kuat, yang juga dapatdiperoleh dalam melakukan tanggung jawab profesional kita.Dari suatu pandangan yang lazim, perawat juga merupakan pegawai yang melakukan pekerjaantertentu seefisien dan seefektif mungkin. Hasilnya, pembatasan-pembatasan layakdipertimbangkan batasan praktik dapat dilakukan pada waktu yang tersedia untuk hubunganperawatan dan perhatian terhadap kebutuhan tertentu pasien.Pengalaman perawat menghadapi kenyataan hubungan kekuasaan dalam bekerja dengan pasiendan dokter berarti bahwa mereka mengetahui bahwa etika harus dilakukan dengan kekuasaan danpembagian kekuasaan dalam hubungan langsung antar pribadi. Bagaimana pun, tantangan adalahuntuk memahami sifat alami hubungan kekuasaan dan etika pembagian kekuasaan, dalammengajar, dalam management, dalam pendidikan kesehatan dan riset, dalam mempengaruhisumber daya, dan dalam politik kesehatan lokal dan nasional.Pearawat tidak hanya belajar merawat pasien, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan pasiensecara umum. Ini berati memperhatikan standard dan management pelayanan, kemampuan staff,efisiensi, dan efektifitasprosedur yang digunakan, peningkatan pelayanan kesehatan di RumahSakit, dan kesehatan masyarakat. Jika kepedulian terhadap kesehatn dipahami dari arti perspektif
  5. 5. luas, perawat cepat mengetahui bahwa politik dan etika keperawatan berlanjut satu sama lain,pembagian dan kepedulian, menghormati orang, dan keadilan kaitan kekuasaan dan nilai-nilaiadalah saling berhubungan, dan memaksakan tanggung jawab politis pada mereka. Padaakhirnya perjuangan menjadi lebih baik dan kondisi yang lebih patut untuk pasien dan perawatserta petugas kesehatn lain yang tidak dapat dipisahkan.Bukan tidak mungkin menggabungkan kualitas personal yang sensitif dan peduli dengan yangkompeten dan efisiensi dalam management, atau empati kepada orang lain dengan orang yangkeras dalam susunan staff atau perundingan bersama.Perbedaan Model Zaman Sekarang untuk Etika ProfesionalSulit untuk menyatukan kembali etika personal yang peduli dengan tipe etika yang diperlukanuntuk management sistem pemberian pelayanan kesehatan modern yang kompleks. Hal inimuncul karena tekanan antara perbedaan jenis kompetisi etik dalam kehidupan profesional,perbedaan antara : etika keperawatan, etika pelayanan, etika pelayanan publik dan etika bisnis.Saatnya Perawat Terjun ke Dunia PolitikArti "Politik" secara umum adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalammasyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.Disebutkan juga bahwa politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secarakonstitusional maupun non konstitusional.Ada banyak hal yang dapat dilakukan seorang perawat dalam berperan secara aktif amupun pasifdalam dunia politik. Mulai dari kemampuan yang harus dimiliki dalam bidang politik hinggatalenta yang harus dimiliki mengenai "Sense of Politic". Dalam Wilkipedia Indonesia disebutkanbahwa seseorang dapat mengikuti dan berhak menjadi insan politik dengan mengikuti suatupartai politik, mengikuti ormas atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Dari hal tersebutmaka seseorang berkewajiabn untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai insan politikguna melakukan perilaku politik yang telah disusun secara baik oleh UUD dan perundanganhukum yang berlaku.Dari hal tersebut perawat ayng merupakan bagain dari insan perpolitikan di Indonesia juga
  6. 6. berhak dan berkewajiban ikut serta dan mengambil sebuah kekuasaan demi terwujudnya regulasiprofesi keperawatan yang nyata. Dari hal tersebut juga terlihat bahwa perawat dapatmemperjuangkan banyak hal terkait dengan umat maupun nasib perawat itu sendiri.Pentingnya dunia politik bagi profesi keperawatan adalah bahwasanya dunia politik bukanlahdunia yang asing, namun terjun dan berjuang bersamanya mungkin akan terasa asing bagi profesikeperawatan. Hal ini ditunjukkan belum adanya keterwakilan seorang perawat dalam kancahperpolitikan Indonesia.Tidak dipungkiri lagi bahwa seorang perawat juga rakyat Indonesia yang juga memiliki hak pilihdan tentunya telah melakukan haknya untuk memilih wakil-wakilnya sebagai anggota legislatifnamun seakan tidak ada satu pun suara yang menyuarakan hati nurani profesi keperawatan.Tentunya hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena profesi kita pun membutuhkanpenyampaian aspirasi yang patut untuk didengar dan diselesaikannya permasalahan yang ada,yang tentunya akan membawa kesejahteraan rakyat seluruh profesi keperawatan. Sulitnyamenjadikan RUU Keperawatan seringkali dikaitkan dengan tidak adanya keterwakilan seorangperawat di Badan Legislatif sana.Menjadi bagian dari dunia perpolitikan di Indonesia, diharapkan seorang perawat mampumewakili banyaknya aspirasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada di profesi keperawatansalah satunya seperti yang disebutkan diatas yaitu mengenai bagaimana meregulasi pendidikankeperawatan yang hasil akhirnya diharapkan tercapainya kulitas perawat bisa dipertanggungjawabkan.Regulasi pendidikan akan menjadikan menjadikan tidak bermunculnya institusi pendidikankeperawatan yang hanya mencari untung, politik uang, dan institusi yang tidak melakukanpenjaminan mutu akan output perawat yang diluluskan setiap periodenya. Dengan regulasipendidikan keperawatan, semua menjadi terstandarisasi, profesi keperawatan yang mempunyainilai tawar, nilai jual, dan menjadi profesi yang dipertimbangkan.Regulasi kewenangan perawat di lahan klinik tidak kalah pentingnya dengan regulasipendidikan. Regulasi kewenangan perawat di lahan klinik akan menjadikan profesi keperawatansemakin mantap dalam langkahnya. Kewenangan perawat yang mandiri, terstruktur dan ranahyang jelas akan menjadikan perawat semakin profesional dan proporsional sesuai dengantanggung jawab yang harus dipenuhi. Selain itu, dalam regulasi kewenangan ini diharapkan tidakterjadi adanya overlap dan salah satu yang paling penting adalah menghindari terjadinya
  7. 7. malpraktik yang kemungkinan dapat terjadi.Organisasi KeperawatanPersatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) adalah organisasi keperawatan tingkat nasionalyang merupakan wadah bagi semua perawat Indonesia, yang didirikan pada tanggal 17 Maret1974.Menurut catatan ayng ada sebelum PPNI, telah terdapat beberapa macam organisasikeperawatan. PPNI pada awalnya terbentuk dari penggabungan beberapa organisasikeperawatan, seperti :IPI (Ikatan Perawat Indonesia)PPI (Persatuan Perawat Indonesia)IGPI (Ikatan Guru Perawat Indonesia)IPWI (Ikatan Perawat Wanita Indonesia)Setiap orang yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan yang syah dan mendaftarkan dirisebagai anggota PPNI dan semua mahasiswa keperawatan yang sedang belajar dapat disebutcalon anggota.PPNI setiap 4 tahun sekali menyelenggarakan musyawarah nasional. Dalam musyawarah iniselain pengurus pusat juga hadir para pejabat dan pengurus cabang. Berbagai masalahkeperawatan dibahas dalam MUNAS tersebut yang kemudian memberikan hasil yang beruparekomendasi atau keputusan organisasi.Untuk mempertahankan dan mengembangkan profesi, maka organisasi profesi keperawatanharus melakukan 5 fungsi, yaitu :Definisi dan pengaturan profesional melalui penyusunan dan penentuan standar pendidikan danpraktik bagi perawat umum dan spesialis. Pengaturan dapat ditempuh melalui pemberian izinpraktik (lisensi), sertifikat, dan akreditasi. Pengaturan juga dapat dilakukan melalui adopsi kodeetik dan norma perilaku (Styles, 1983)Pengembangan dasar pengetahuan untuk praktik dalam komponen luas dan sempit. Sumbanganutama untuk pengembangan ilmu keperawatan telah diberikan oleh berbagai ahli teori. Tujuanutama teori keperawatan adalah netralisasi ilmu keperawatan. Tantangan bagi perawat di masadepan adalah menggerakkan pertanyaan dan memformulasikan teori dari teori yang telah di
  8. 8. publikasiakn ini dan kemudian melakukan uji hipotesa melalui penelitian keperawatan. Karenahanya penelitian yang dapat menentukan manfaat suatu teori, penelitian memberikan sumbanganutama bagi pengembangan pengetahuan keperawatanTransmisi nilai-nilai, norma, pengetahuan, dan keterampilan kepada anggota profesi untukditerapkan dalam praktik. Fungsi ini dilakukan melalui pendidikan para perawat dan berbagaiproses sosialisasiKomonikasi dan advokasi tentang nilai-nilai dan sumbangsih bidang garap kepada masyarakatdan konstitusi. Fungsi ini menuntutorganisasi perawat untuk berbicara pada perawat dari suatu posisi kesepakatan luas. Penting bagiperawat untuk berpartisipasi secara aktif dalam penyusunan UU dan kebijakan pemerintahMemperhatikan kesejahteraan umum dan sosial anggota. Fungsi ini dilakukan oleh organisasiperawat dimana organisasi perawat ini memberikan dukungan moral dan sosial bagi anggotauntuk menjalankan peranannya sebagai tenaga profesional dan mengatasi masalah profesionalanggotanya.KesimpulanPada akhir diskusi presentasi ini kami ingin lebih menegaskan bahwasanya politik harusnyadisikapi secara serius oleh semua pihak agar perawat Indonesia ke depan lebih siap untukberkompetisi di era globalisasi. Semua pihak yang terkait harus segera bersinergi dalam rangkamenciptakan perbaikan dan perubahan untuk menciptakan sistem yang lebih baik, pihak-pihaktersebut antara lain adalah :PemerintahSwastaOrganisasi Profesi (PPNI)Lembaga PendidikanPerawat dan Calon PerawatAda beberapa hal yang menurut kami perlu segera dilakukan agar perbaikan keperawatan diIndonesia dapat segera tercapai, antara lain :Pengesahan UU Praktik KeperawatanPembentukan Nursing Council (Nursing Board)Reformasi sistem pendidikan keperawatan Indonesia
  9. 9. Peningkatan fungsi organisasi profesiSaranFakta yang ada pada masyarakat, bahwa lulusan perawat masih belum diakui sebagai sosokprofesional yang akan mampu memberikan kontribusi yang hebat dalam sistem pelayanan.Pandangan tersebut harus kita terima dengan lapang dada dan sekaligus sebagai pemicuadrenalin kita untuk membuktikan jati diri kita, bahwa seorang perawat adalah profesionaldengan segala atribut yang menyertainya.Hal yang harus dan terus kita lakukan adalah memperbaiki citra perawat dengan menunjukkanjati diri perawat dengan :Komunikasi,Organisatoris,Responsif and Responsible,Efisiensi dan Efektif,Komitmen,Serta tunjukkan :Aktualisasi,Produktif, danInovatif.Saatnya Perawat Terjun ke Dunia PolitikBAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangKeperawatan bukan profesi yang statis dan tidak berubah tetapi profesi yang secara terus-menerus berkembang dan terlibat dalam masyarakat yang berubah, sehingga pemenuhan danmetode perawatan berubah, karena gaya hidup berubah. Berbicara tentang keperawatan berarti
  10. 10. berbicara tentang keperawatan pada satu waktu tertentu, dan dalam hal ini, bab ini akanmembicarakan tentang “Peran Perawat di Bidang Politik”.Satu trend dalam pendidikan keperawatan adalah berkembangnya jumlah peserta didikkeperawatan yang menerima pendidikan keperawatan dasar di sekolah dan Universitas.Organisasi keperawatan professional terus-menerus menekankan pentingnya pendidikan bagiperawat dalam mendapatkan dan memperluas peran baru.Trend praktik keperawatan meliputi berkembangnya berbagai tempat praktik dimana perawatmemiliki kemandirian yang lebih besar. Perawat secara terus-menerus meningkatkan otonomidan penghargaan sebagai anggota dari tim asuhan kesehatan. Peran perawat meningkat denganmeluasnya focus asuhan keperawatan.Trend dalam keperawatan sebagai profesi meliputi perkembangan aspek-sapek dari keperawatanyang mengkarakteristikkan keperawatan sebagai profesi, meliputi pendidikan, teori, pelayanan,otonomi dan kode etik. Aktivitas dari organisasi professional keperawatan menggambarkanseluruh trend dalam pendidikan dan praktik keperawatan kontemporer.1.2 Rumusan Masalah1) Bagaimana kontroversi strategi pendidikan keperawatan di era globalisasi ini?2) Bagaimana strategi pelayanan keperawatan di era globalisasi ini?3) Bagaimana sistem penataan praktek keperawatan di Indonesia?4) Bagaimana etika politik perawat dalam merawat pasien?5) Bagaimana perbedaan model zaman sekarang dalam etika profesional?6) Apa yang dilakukan seorang perawat di dunia politik?7) Apa PPNI itu?1.3 Tujuan1) Untuk mengetahui politik keperawatan di era globalisasi2) Agar perawat dapat mengaplikasikan etika politiknya dalam merawat pasien3) Untuk mengetahui trend politik keperawatan saat ini4) Untuk mengetahui tatanan pelayanan keperawatan profesional5) Untuk mengetahui organisasi keperawatan di Indonesia
  11. 11. BAB IIPEMBAHASAN2.1 Kontroversi Strategi Pendidikan Keperawatan di Era GlobalisasiProfesionalisme keperawatan merupakan proses dinamis dimana profesi keperawatan yang telahterbentuk mengalami perubahan dan perkembangan karakteristik sesuai dengan tuntutan profesidan kebutuhan masyarakat. Proses profesionalisasi merupakan proses pengakuan terhadapsesuatu yang dirasakan, dinilai dan diterima secara spontan oleh masyarakat. Profesikeperawatan, profesi yang sudah mendapatkan pengakuan dari profesi lain, dituntut untukmengembangkan dirinya untuk berpartisipasi aktif dalamsistem pelayanan kesehatan diIndonesia agar keberadaannya mendapat pengakuan dari masyarakat. Untuk mewujudkanpengakuan tersebut, maka perawat masih memperjuangkan langkah-langkah profesionalismesesuai dengan keadaan dan lingkungan social di Indonesia. Proses ini merupakan tantangan bagiperawat Indonesia dan perlu dipersiapkan dengan baik, berencana, berkelanjutan dan tentunyamemerlukan waktu yang lama.Institusi pendidikan keperawatan sangat bertanggung jawab dan berperan penting dalam rangkamelahirkan generasi perawat yang berkwalitas dan berdedikasi. Sejalan dengan berkembangnyainstitusi pendidikan keperawatan di Indonesia semakin bertambah jumlahnya. Motivasi daripendirian institusi pendidikan keperawatanpun sangat bervariasi dari alasan “Bisnis” sampaidengan “Sosial”. Dan yang kemudian menjadi pertanyaan dan keganjilan adalah banyaknyapemilik dan pengelola institusi pendidikan keperawatan ini yang sama sekali tidak memiliki
  12. 12. pemahaman yang cukuptentang keperawatan baik secara disiplin ilmu atau profesi. Ini menjadi penyebab rendahnyamutu lulusan dari pendidikan keperawatan yang ada di Indonesia dan tidak siap untuk bersaing.Salah satu tolok ukur kwalitas dari perawat dipercaturan Internasional adalah kemampuanuntukdapat lulus dalam Ujian Kompetensi Keperawatan seperti ujian NCLEX-RN dan CGFNSsebagai syarat mutlak bagi seorang perawat untuk dapat bekerja di USA. Dalam hal ini kualitasdan kemampuan perawat Indonesia masih sangat memprihatinkan. Di Kuwait pernah terjadifakta yang memalukan sekaligus menjatuhkan kredibilitas bangsa terutama system pendidikankeperawatan yang ada di Indonesia memiliki permasalahan yang berkaitan dengan HigherEducation bagi perawat Indonesia yang bekerja di KuwaitHal tersebut lebih disebabkan karena system pendidikan keperawatan kita yang sangat bervariasi.Efek yang paling buruk dari hal tersebut adalah tidak diakuinya perawat yang memiliki ijazah S1Keperawatan (S.Kep) dan mereka hanya disamakan dengan D3 Keperawatan. Institusipendidikan keperawatan harus dilakukan perubahan secara total antara lain:a. Standarisasi jenjang, kualitas/mutu, dari institusi pendidikan keperawatan.b. Merubah bahasa pengantar dalam pendidikan keperawatan dengan menggunakan bahasaInggris.c. Menutup Institusi pendidikan keperawatan yang tidak berkualitas.d. Institusi pendidikan keperawatan harus di pimpin oleh seseorang yang memiliki latar belakangpendidikan keperawatan.e. Standarisasi kurikulum dan evaluasi bertahan terhadap staf pengajar di Institusi pendidikankeperawatan.f. Semua dosen dan staf pengajar di institusi pendidikan keperawatan harus berbahasa Inggrissecara aktif.g. Memberantas segala jenis KKN di Institusi pendidikan dimulai dari perizinan penerimaanmahasiswa, proses pendidikan dan akreditasi serta proses kelulusan mahasiswa.2.2 Strategi Pelayanan Keperawatan di Era GlobalisasiPraktek keperawatan sebagai tindakan professional harus didasarkan pada penggunaanpengetahuan teoritik yang mantap dan kokoh dari berbagai ilmu dasar serta ilmu keperawatan dijadikan sebagai landasan untuk melakukan pengkajian, menegakkan diagnostic, menyusunperencanaan, malaksanakan asuhan keperawatan dan mengevaluasi hasil dari tindakan
  13. 13. keperawatan serta mengadakan penyesuaian rencana keperawatan untuk menentukan tindakanselanjutnya.Selain memiliki kemampuan intelektual, interpersonal, dan teknikal, perawat juga harusmempunyai otonomi yang berarti mandiri dan bersedia menanggung resiko, bertanggung jawabdan bertanggung gugat terhadap tindakan yang dilakukannya, termasuk dalam melakukan danmengatur dirinya sendiri. Tapi yang terjadi di lapangan sangat memilukan, banyak sekali rekan-rekan perawat yang melakukan “Praktek Pelayanan Medis/Kedokteran dan Pengobatan” yangsangat tidak relevan dengan ilmu keperawatan itu sendiri. Hal tersebut telah membuat profesiperawat di pandang rendah oleh profesi lain.Banyak hal yang menyebabkan hal ini berlangsung berlarut-larut antara lain:a. Kurangnya kesadaran diri dan pengetahuan dari individu perawat itu sendiri.b. Tidak jelasnya aturan yang ada seperti belum di tetapkannya RUU Keperawatan serta tidaktegasnya komitmen penegakan hukum di Indonesia.c. Minimnya penghargaan financial dari pihak-pihak terkait terhadap perawat.d. Kurang optimalnya perannya organisasi profesi keperawatan.e. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang perawat dan keperawatan yang lebih disebabkankarena kurangnya informasi yang diterima oleh masyarakat berkaitan tentang profesi perawatdan keperawatan terutama di daerah yang masih menganggap bahwa perawat juga tidak berbedadenagn “dokter”.Sementara itu, dunia Pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit juga masih sangat jauh darinyaman, rekan-rekan perawat bekerja selama 24 jam 1 hari dalam 2 atau 3 shift, sedangkanpendapatan mereka masih sangat jauh dari memadai. Sebagai perbandingan perawat Indonesiayang bekerja di Kuwait mendapatkan gaji berkisar Rp.15 juta s/d Rp.24 juta sebulan, sedangkanrekan-rekan perawat yang bekerja di Indonesia jauh dibawah kebutuhan hidup mereka.Beberapa contoh diatas lebih disebabkan karena selama ini kita dianggap kecil oleh profesi lain.Perawat mutlak sangat di perlukan dan dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan. Kita harus sudahmulai berani untuk berbicara karena keadilan itu harus ditegakkan, yang harus segeradilaksanakan adalah:a. Penentuan standarisasi gaji untuk perawat tentu setelah melalui uji kompetensi.b. Menciptakan system sirkulasi dalam penempatan perawat Indonesia ke luar negeri sehinggapada jangka panjang akan terjadi peningkatan penghargaan dan kesetaraan terhadap profesi
  14. 14. keperawatan di Indonesia.c. Memberikan sanksi kepada Rumah Sakit atau Institusi pelayanan kesehatan yang tidakmemberi gaji sesuai dengan standard.2.3 Penataan Praktek KeperawatanDalam suatu penataan praktek keperawatan perlu adanya undang-undang, maka semua itu harussesuai dengan standar kompetensi profesi, salah satunya kompetensi perawat ( SKP ) yang sudahdiakui secara nasional. Penetapan SKP telah Konvensi Nasional antara BNSP, PPNI, dan Depkespada tanggal 1-2 Juni 2006 di Gedung Depkes JL. HR Rasuna Said,Kuningan Jakarta Selatan.SKP Nasional Indonesia mengacu pada kerangka kerja Konsil Keperawatan Internasional ( ICN,2003 ) yang menekankan pada perawat generalis yang bekerka dengan klie individu, keluargadan komunitas dalam tatanan asuha keperawatan di rumah sakit dan komunitas serta bekerjasama dengan pemberi asuhan kesehatan dan social lainnya. Dalam kerangka kerja ICN,kompetensi perawat generalis dikelompokkan menjajedi 3 judulkompetensi utama, yaitu Praktekkeperawatan profesional, Pemberian asuhan keperawatan dan menejemen keperawatanPengembangan professional.Peran profesional perawat tidak akan bisa di capai, kalau model praktik keperawatan dipelayanan belum ditata secara professional. Model praktik keperawatan professional yangdilaksanaka oleh perawat di tatanan pelayanan keperawatan masih mejadi suatu abstraksi.Pelayanan asuhan keperawatan yang optimal akan terus digunakan sebagai tuntutan bagiorganisasi pelayanan kesehatansistem pemberian pelayanan kesehatan ke system desentralisasi.Dengan meningkatnya pendidikan bagi perawat, diharapkan dapat memberikan arah terhadappelayanan keperawatan berdasarkan pada issue di masyarakat.Sejak diakuinya keperawatan sebagai profesi dan ditumbuhkannya Pendidikan TinggiKeperawatan (D3 Keperawatan) dan berlakunya UU No.23 Tahun 1992,dan PERMENKESNo.1239/2000; proses registrasi dan legislasi keperawatan, sebagai bentuk pengakuan adanyakewenangan dalam melaksanakan praktik keperawatan professional. Ada 4 model praktik yangdiharapkan ada yaitu: model praktik di Rumah Sakit, rumah, berkelompok, dan individual. Akantetapi pelaksanaan PERMENKES tersebut masih perlu mendapatkan persiapan yang optimaloleh profesi keperawatan.2.4 Etika Politik dalam Merawat PasienEtika adalah mengenai pengawasan bagi orang lain, kepedulian terhadap perasaan, banyak
  15. 15. sumber praktis. “Merawat seseorang berarti bertindak untuk kebaikan mereka, membantumengembalikan otonomi mereka, membantu mereka untuk mencapai potensi penuh mereka.Mencapai tujuan hidup mereka dan pemenuhan kebutuhan”.Dalam pengalaman menderita mungkin tidak hanya membuat kita lebih simpati, tapi mungkinjuga membantu kita untuk lebih empati terhadap pasien kita. Simpati adalah perasaan yangtimbul secara spontan yang kita miliki atau tidak dimiliki. Empati adalah kemampuan untukmeletakkan diri kita dalam sesuatu orang lain, dalam suatu seni yang dapat dipelajari, latihanimajinasi yang dapat dilatih. Perasaan ini dapat menjadi motivator yang kuat, yang juga dapatdiperoleh dalam melakukan tanggung jawab professional kita.Jika kita memilih menjadi perawat untuk memenuhi kebutuhan pribadi, atau hanya sebagaiaututerapi tanpa disadari, untuk menghadapimasalah dan kecemasan sendiri, pasien akanmenderita karena pekerjaan kita yang akan menjadi catatan bagi mereka. (Eadie 1975, Shimpsonet all 1983).Merawat bisa menjadi merusak orang lain jika kita tidak mengerti dinamika aslinya, yaitu sepertidorongan psikologis yang kompleks yang muncul dalam operasi ketika kita dalam posisi tangguhsebagai penolong terhadap pasien yang relative tidak mandiri dan lemah. Inilah, mengapapsikiater dalam pelatihan dan perawat psikiatri didukung untuk mengalami psikoanalisis pribadiatau terlibat dalam terapi kelompok, sebagai proses untuk mengungkapkan perasaan yangterdalam dan sering tersembunyi dengan maksud lain.Ketika pengawasan dan perhatian dari perawat yang baik dapat melakukan kekuasaannya denganbaik, over protektif, menguasai atau mengganggu dan pengawasan seperti pada bayi, sepertipengasuhan yang jelek, juga bias menjadi sangat merusak, ini dapat dikatakan bahwa “kebaikanterbesar kita juga merupakan sumber potensial kelemahan dan kejahatan kita”.Beberapa praktik dan sikap perawat dapat membawa mereka kepada konfliklangsung dengan timkesehatan yang terkait dalam merehabilitasi kesehatan pasien,dengan fisioterapis dan ahli terapiyang menjabat. Konflik disini bukan hanya dalam persaingan profesionalitas atau ketidak jelasanbatasan kerja, tapi juga perbedaan dalam interpretasi tentang perawatan dandalam praktikperawatan.Dari suatu pandangan yang lazim, perawat juga merupakan pegawai yang melakukan pekerjaantertentu seefisien dan seefektif mungkin. Hasilnya, pembatasan-pembatasan layak dipertimbangkandan batasan praktik dapat dilakukan pada waktu yang tersedia untuk hubungan
  16. 16. perawatan dan dan perhatian terhadap kebutuhan tertentu pasien.Pengalaman perawat menghadapi kenyataan hubungan kekuasaan dalam bekerja dengan pasiendan dokter,berarti bahwa mereka mengetahui bahwa etika harus dilakukan dengan kekuasaan danpembagian kekuasaan dalam hubungan langsung antar pribadi. Bagaimanapun, tantangan adalahuntuk memahami sifat alami hubungan kekuasaan dan etika pembagian kekuasaan, dalammengajar, dalam management, dalam pendidikan kesehatan dan riset, dalam mempengaruhisumber daya, dan dalam politik kesehatan local dan nasional.Perawat tidak hanya belajar merawat pasien, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan pasiensecara umum. Ini berarti memperhatikan standard dan management pelayanan, kemampuan staff,efisiensi dan efektifitas prosedur yang digunakan, peningkatan pelayanan kesehatan di RumahSakit, dan kesehatan masyarakat. Jika kepedulian terhadap kesehatan dipahami dari artiperspektif luas, perawat cepat mengetahui bahwa politik dan etika perawatan berlanjut satu samalain, pembagian dan kepedulian, menghormati orang dan keadilan, kaitan kekuasaan dan nilai-nilai adalah saling berhubungan, dan memaksakan tanggung jawab politis pada mereka. Padaakhirnya perjuangan menjadi lebih baik dan kondisi yang lebih patut untuk pasien dan perawatserta petugas kesehatan lain yang tidak dapat dipisahkan.Bukan tidak mungkin menggabungkan kualitas personal yang sensitive dan peduli dengan yangkompeten dan efisiensi dalam management, atau empati kepada orang lain dengan orang yangkeras dalam susunan staff, atau perundingan bersama.2.5 Perbedaan Model Zaman Sekarang untuk Etika ProfesionalAdalah sulit untuk menyatukan kembali etika personal yang peduli dengan tipe etika yangdiperlukan untuk management sistem pemberian pelayanan kesehatan modern yang kompleks.Hal ini muncul karena tekanan antara perbedaan jenis kompetisi etik dalam kehidupanprofessional, perbedaan antara: etika keperawatan, etika pelayanan, etika pelayanan public danetika bisnis.2.6 Saatnya Perawat Terjun ke Dunia PolitikAkhir – akhir ini banyak masalah yang melanda profesi keperawatan ini berkaitan dengan tidakadanya seseorang perawat yang menjadi pemegang kebijakan baik di eksekutif maupunlegislative.disamping itu juga disinggung mengenai undang – undang keperawatan yang sampaikini belum juga terselesaikan karena tidak adanya keterwakilan seorang perawat dalam posisitersebut.
  17. 17. Arti politik secara umum adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalammasyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam Negara.Disebutkan juga bahwa politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secarakonstitusional maupun nonkonstitusional. Dalam teori politik menunjuk pada kemampuan untukmembuat orang lain melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya.Untuk melembagakan demokrasi diperlukan hukum dan perundang-undangan dan perangkatstructural yang akan terus mendorong terpolanya perilaku demokratis sampai bisa menjadipandangan hidup. Karena diyakini bahwa dengan demikian kesejahteraan yang sesungguhnyabaru bias dicapai, saat tiap individu terlindungi hak-haknya bahkan dibantu oleh Negara untukbias teraktualisasikan, saat tiap individu lain sesuai dengan normadan hukum yang berlaku.Ada banyak hal yang dapat dilakukan seorang perawat dalam berperan secara aktif maupun pasifdalam dunia politik. Mulai dari kemampuan yang harus dimiliki dalam bidang politik hinggatalenta yang harus dimiliki mengenai “Sense of Politic”. Dalam wilkipedia Indonesia disebutkanbahwa seseorang dapat mengikuti dan berhak menjadi insane politik dengan mengikuti suatupartai politik , mengikuti ormas atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Maka dari haltersebut seseorang berkewajiban untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai insan politikguna melakukan perilaku politik yang telah disusun secara baik oleh UUD dan perundanganhukum yang berlaku.Dari hal tersebut, perawat yang merupakan bagian dari insan perpolitikan di Indonesia jugaberhak dan berkewajiban ikut serta dan mengambil sebuah kekuasaan demi terwujudnya regulasiprofesi keperawatan yang nyata. Dari hal tersebut juga terlihat bahwa perawat dapatmemperjuangkan banyak hal terkait dengan umat maupun nasib perawat itu sendiri.Pentingnya dunia politik bagi profesi keperawatan adalah bahwasanya dunia politik bukanlahdunia yang asing, namun terjun dan berjuang bersamanya mungkin akan terasa asing bagi profesikeperawatan. Hal ini ditunjukkan belum adanya keterwakilan seorang perawat dalam kancahperpolitikan Indonesia.Tidak dipungkiri lagi bahwa seorang perawat juga rakyat Indonesia yang juga memiliki hak pilihdan tentunya telah melakukan haknya untuk memilih wakil-wakilnya sebagai anggota legislativenamun seakan tidak ada satu pun suara yang menyuarakan hati nurani profesi keperawatan.Tentunya hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena profesi kita pun membutuhkanpenyampaian aspirasi yang patut untuk didengar dan diselesaikannya permasalahan yang ada,
  18. 18. yang tentunya akan membawa kesejahteraan rakyat seluruh profesi keperawatan. Sulitnyamenjadikan RUU Keperawatan seringkali dikaitkan dengan tidak adanya keterwakilan seorangperawat di badan legislative sana.Menjadi bagian dari dunia perpolitikan di Indonesia, diharapkan seorang perawat mampumewakili banyaknya aspirasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada di profesi keperawatansalah satunya seperti yang disebutkan diatas yaitu mengenai bagaimana meregulasi pendidikankeperawatan yang hasil akhirnya diharapkan tercapainya kualitas perawat bias dipertanggungjawabkan.Regulasi pendidikan akan menjadikan tidak bermunculnya institusi pendidikan keperawatanyang hanya mencari untung, politik uang, dan institusi yang tidak melakukan penjaminan mutuakan output perawat yang di luluskan setiap periodenya. Dengan regulasi pendidikankeperawatan, semua menjadi terstandarisasi, profesi keperawatan yang mempunyai nilai tawar,nilai jual, dan menjadi profesi yang dipertimbangkan.Regulasi kewenangan perawat di lahan kliniktidak kalah pentingnya dengan regulasi pendidikan,dimana regulasi pendidikan merupakan bagaimana kita melakukan persiapan yang matangsebelum membuat dan memulai (perencanaan), dimana kita melakukan pembangunan fondasiyang kokoh dan system yang mensupport akan terbentuknya generasi perawat-perawat yang siaptempur. Regulasi kewenangan perawat dilahan klinik akan menjadiakan profesi keperawatansemakin mantap dalam langkahnya. Kewenangan perawat yang mandiri, terstruktur dan ranahyang jelas akan menjadikan perawat semakin professional dan proporsional sesuai dengantanggung jawab yang harus dipenuhi. Selain itu, dalam regulasi kewenangan ini di harapkantidak terjadi adanya overlap dan salah satu yang paling penting adalah menghindari terjadinyamalpraktik yang kemungkinan dapat terjadi.Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang perawat sehingga mampu terjun ke dunia politik.Salah satu yang paling umum dilakukan adalah mendukung salah satu partai politik. Partaipolitik ini akan menjadi motor penggerak pembawa di kancah perpolitikan Indonesia. Banyakpartai yang menawarkan posisi legislative, ada partai yang melakukan pengkaderan dari awalyang mampu menyiapkan calon-calon legislative dari embrio yang akan diberikan suntikanideology dari partai tersebut, ada juga partai yang memberikan kesempatan kepada siapa sajayang siap untuk berjuang bersama-sama mendukung partainya dan menjadi calon legislative.2.7 Organisasi Keperawatan
  19. 19. Partai Perawat Nasional Indonesia (PPNI) adalah organisasi keperawatan tingkat nasional yangmerupakan wadah bagi semua perawat Indonesia, yang didirikan pada tanggal 17 Maret 1974.Menurut catatan yang ada sebelum PPNI, telah terdapat beberapa macam organisasikeperawatan. PPNI pada awalnya terbentuk dari penggabungan beberapa organisasikeperawatan, seperti:• IPI (Ikatan Perawat Indonesia),• PPI (Persatuan Perawat Indonesia),• IGPI (Ikatan Guru Perawat Indonesia),• IPWI (Ikatan Perawat Wanita Indonesia).Setiap orang yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan yang syah dapat mendaftarkandiri sebagai anggota PPNI dan semua mahasiswa keperawatan yang sedang belajar dapat disebutcalon anggota.PPNI setiap 4 tahun sekali menyelenggarakan musyawarah nasional. Dalam musyawarah iniselain pengurus pusat juga hadir para pejabat dan pengurus cabang. Berbagai masalahkeperawatan dibahas dalam MUNAS tersebut yang kemudian memberikan hasil yang beruparekomendasi atau keputusan organisasi.Untuk mempertahankan dan mengembangkan profesi, maka organisasi profesi keperawatanharus melakukan 5 fungsi, yaitu:1. Definisi dan pengaturan professional melalui penyusunan dan penentuan standar pendidikandan praktik bagi perawat umum dan spesialis. Pengaturan dapat ditempuh melalui pemberian izinpraktik (lisensi), sertifikat, dan akreditasi. Pengaturan juga dapat dilakukan melalui adopsi kodeetik dan norma perilaku (Styles, 1983).2. Pengembangan dasar pengetahuan untuk praktik dalam komponen luas dan sempit.Sumbangan utama untuk pengembangan ilmu keperawatan telah diberikan oleh berbagai ahliteori. Tujuan utama teori keperawatan adalah netralisasi ilmu keperawatan. Tantangan bagi paraperawat di masa depan adalah menggerakkan pertanyaan dan memformulasikan teori dari teoriyang telah dipublikasikan ini dan kemudian melakukan uji hipotesa melalui penelitiankeperawatan. Karena hanya penelitian yang dapat menentukan manfaat suatu teori, penelitianmemberikan sumbangan utama bagi pengembangan pengetahuan keperawatan.3. Transmisi nilai-nilai, norma, pengetahuan, dan keterampilan kepada anggota profesi untukditerapkan dalam praktik. Fungsi ini dilakukan melalui pendidikan para perawat dan berbagai
  20. 20. proses sosialisasi.4. Komunikasi dan advokasi tentang nilai-nilai dan sumbangsih bidang garap kepada masyarakatdan konstitusi. Fungsi ini menuntut organisasi perawat untuk berbicara pada perawat dari suatuposisi kesepakatan luas. Penting bagi perawat untuk berpartisipasi secara aktif dalam penyusunanUU dan kebijakan pemerintah.5. Memperhatikan kesejahteraan umum dan social anggota. Fungsi ini dilakukan oleh organisasiperawat dimana organisasi perawat ini memberikan dukungan moral dan social bagi anggotauntuk menjalankan peranannya sebagai tenaga professional dan mengatasi masalah professionalanggotanya.BAB IIIPENUTUP3.1 SimpulanPada akhir makalah ini kami ingin lebih menegaskan bahwasannya politik harusnya disikapisacara serius oleh semua pihak agar perawat Indonesia ke depan lebih siap umtuk berkompetisidi era globalisasi. Semua pihak yang terkait harus segera bersinergi dalam rangka menciptakanperbaikan dan perubahan untuk menciptakan sistem yang lebih baik, pihak – pihak tersebutantara lain adalah:PemerintahSwastaOrganisasi profesi ( PPNI )Lembaga pendidikanPerawat dan calon perawatAda beberapa hal yang menurut kami perlu segera dilakukan agar perbaikan keperawatan diIndonesia dapat segera tercapai, antara lain:Pengesahan UU Pratek KeperawatanPembentukan Nursing Council (Nursing Board)Reformasi system pendidikan keperawatan IndonesiaPeningkatan fungsi organisasi profesi
  21. 21. 3.2 SaranFakta yang ada pada masyarakat, bahwa lulusan perawat masih belum di akui sebagai sosokprofesional yang akan mampu memberikan kontribusi yang hebat dalam system pelayanan.Pandangan tersebut harus kita terima dengan lapang dada dan sekaligus sebagai pemicuadrenalin kita untuk membuktikan jati diri kita, bahwa seorang perawat adalah profesionaldengan segala atribut yang menyertainya.Hal yang harus dan terus kita lakukan adalah memperbaiki citra perawat dengan menunjukkanjati diri perawat dengan KOREK API (Komunikasi, Organisatoris, Responsif and Responsible,Efisiensi dan Efectif, Komitmen serta tunjukkan API : Aktualisasi, Produktif,dan Inovatif).DAFTAR PUSTAKA
  22. 22. M. Muhammad, Siswanto. 2009. Trend dan Perkenbangan Kebutuhan Pelayanan Keperawatandalam Persaingan Global. Dalam Simposium Nasional Keperawatan Universitas AirlanggaNursalam. 2008. Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. Jakarta: Salemba MedikaNursalam. 2007. Manajement Keperawatan. Konsep dan Praktik. Edisi 2. Jakarta. SalembaMedikaNursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta:Salemba MedikaReformasi Keperawatan Indonesia. Website URL: http: //www.inna-ppni.or.idPriharjo, Robert. 1995. Praktek Keperawatan Profesional: Konsep Dasar Dan Hukum. Jakarta:EGCMenyiapkan Perawat yang Siap Berkompetisi di Era Pasar Global. Website URL: http: //io.ppi-jepang.orgLowenberg & Dolgoff. 1988. Ethical Decisions for Social Work Practice. F.E. PeacockPublishers, IncLancaster, J. 1999. Nursing Issues. In Leading and Managing Change. St. Louis: MosbyCompany Lindberg, JB., Hunter, ML., Kruszewski, AZ. 1990. Introduction to Nursing: Concept, Issues& Opportunities. Philadelphia: JB LippincottBartels, JE. 2005. Educating Nurses for the 21st Century. Nursing and Health SciencesBurns & Grove. 1999. The Practice of Nursing Research. Philadelphia: W.B. Saunders Co Buchan, J. & Calman, L. 2007. Summary of The Global Shortage of Registered Nurses: AnOverview of Issues and Action. International Council of Nurses. Dalam www.icn.chChitty, K.K. 1997. Proffesional Nursing. Concepts & Challenges . 2ed. Philadelphia: W.B.Saunder Company Magnusdottir H. 2005. Overcoming Strangeness and Communication Barriers: APhenomenological Study of Becoming a Foreign Nurse. International Nursing Reviewhttp://pioners07.blogspot.com/2009/02/saatnya-perawat-terjun-ke-dunia-politik.htmlPotter & Perry. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. 2 edition
  23. 23. Diposkan oleh lulu di 23:55

×