(Tulisan Jadul 01/08/12: Sekedar iseng, biar inget, dan mungkin bermanfaat) 1 
Perkenalan Uji Analisa Regresi Berganda | Doddy Sumardi 
Bismillahirohmanirohim.. 
Mumpung masih awal-awal bulan Syawal dan dekat dengan Idul Fitri. Saya dan 
keluarga mengucapkan,, Hayirli Eayd Bayramlar, Taqoballohu Minna Wamingkum, 
Mohon maaf lahir batin .. 
Sebenernya tulisan ini saya buat sewaktu-waktu biar ingat saja, hal ini karena 
kemarin saya sempat terkendala (baca: lupa) saat melakukan uji analisa hasil kuesioner 
penelitian. Dan siapa tau kedepannya bisa bermanfaat untuk penelitian/disertasi saya, 
InshAlloh klo memang rejeki. Mungkin juga klo ada kawan-kawan yang butuh petunjuk 
ini saya bisa sedikit berbagi. Semoga bermanfaat, aamiin.. 
Ok lets start, saya mungkin bukan orang yang ahli dalam dunia perstatistikan 
dan bukan pula orang yang ahli dalam bidang program SPSS komputer, tapi karena saya 
sedikit tahu tentang pengetahuan ini, jadi bolehlah sedikit saya tuliskan kembali 
mengenai apa yang saya tau.. Oh ya klo ada yang sedikit miss atau kurang sesuatunya 
silahkan ditambahi atau dikoreksi, karena saya juga masih dalam tahap belajar.. 
Berawal dari kesulitan saya menganalisis dan mengolah data kuesioner untuk 
tesis saya, jadi saya kembali membuka tulisan skripsi S1 saya yang dulu. Sebenarnya 
bersyukur juga dulu saya pernah ngejalanin proses panjang dan penuh perjuangan dalam 
pembuatan skripsi, yaa ternyata semua ada hikmahnya saat ini .. 
Dari semua proses analisis yang saya lakukan untuk tesis saya, hampir 90% 
tidak berbeda dengan skripsi saya dalam hal cara analisa datanya. Namun bedanya 
100% kali ini analisa yang saya lakukan itu tanpa bimbingan doping (dosen 
pembimbing). Nah modar dehhh.. Lalu dari analisis yang mesti dilakukan hampir 90%- 
nya saya hampir lupa; harus mulai dari mana dan bagaimana melakukannya.. 
HANYA berbekal output pdf skripsi S1 dulu, saya kembali membuka proses 
pembukaan ingatan saya. Kenapa saya bilang membuka ingatan, ya karena prosesn itu 
butuh konsentrasi yang panjang dalam mengingat. Dan ingat, saya hanya bermodal
(Tulisan Jadul 01/08/12: Sekedar iseng, biar inget, dan mungkin bermanfaat) 2 
skripsi ber-printout pdf serta dibantu oleh si mbah Ggl, ditambah semangat untuk 
menyelesaikannya. Finally, saya bisa menyelesaikan analisis data tesis saya ini.. 
Sebenernya sedikit mudah klo saya tau langkah-langkahnya, tapi karena sudah 
banyak lupa apa yang harus dilakukan setelah turlap (turun lapangan dan kuesioner)* 
dan data kuesioner terkumpul. Jadi saya searching and back up memory lagi untuk 
analisis yang akan dilakukan.. 
Kebetulan dari skripsi dan tesis saya ini, saya menggunakan analisis multiple 
regresion atau analisis regresi berganda. Nah ternyata untuk menuju kesana ada 
beberapa step-step yang saya dilakukan, nah step-stepnya tersebut adalah: 
1. Uji Validitas Pretest/Kuesioner/Pilot. 
2. Uji Validitas Penelitian. 
3. Uji Reliabilitas Penelitian. 
4. Uji Deskripsi Respondances. 
5. Uji Klasik Analisa. 
a. Uji Multicollinearity. 
b. Uji Heteroscedasticity 
c. Uji Normatif. 
d. Uji Autocorrelation (Durbin-Watson). 
6. Uji (Multiple) Regresi. 
a. Analisis Model Summary. 
b. Analisis Annova. 
c. Analisis Coefficients. 
Dari kesemuanya itu nanti akan saya bahas satu persatu, tapi bergantian, karena 
panjang analisanya.. Untuk saat ini saya hanya akan mengulas pra awal dari poin 
pertama yaitu pembahasan uji tangguh kuesioner..
(Tulisan Jadul 01/08/12: Sekedar iseng, biar inget, dan mungkin bermanfaat) 3 
Uji Tangguh Kuesioner 
Sebenarnya untuk mengetahui seberapa tangguhnya kuesioner kita sebagai 
peneliti bisa diketahui melalui uji validitas pretest kuesioner/anket di SPSS nanti. 
Namun untuk persiapan awal kita juga harus bisa menunjukan ke responden tentang 
syarat baiknya sebuah kuesioner. Hal ini ditujukan untuk mempermudah responden 
menjawab dan kita pun sebagai peneliti mampu mendapatkan hasil yang baik. Syarat ini 
tidak harus ada, tapi menurut pengalaman saya dilapangan saja selama ini syarat ini 
cukup membantu saya untuk mempermudah responden menjawab. Ok, syarat-syarat 
baiknya tersebut adalah: 
1. Kejelasan arti dari kata, kalimat, atau objek penelitian kita, 
2. Petunjuk kemudahan tentang kuesioner kita, dan 
3. Cara mengisi atau hasil interprestasi responden. 
Ok anggap tidak ada kendala di kuesioner kita. Setelah turlap dan jumlah anket 
terkumpul. Lalu kita lakukan uji tangguh validitas pretest kuesioner/anket. Setelah data 
terkumpul sebanyak diatas 50 kuesioner, klo bisa. 50 kuesioner ini ditujukan untuk 
lebih memastikan tingkat ke validan kuesioner. Dan klo soal teori pendukungnya 
kenapa harus diatas 50, tinggal search aja banyak ko yang membahas. 
Tapi bisa juga dibawah 50 kuesioner asalkan kita sendiri sudah yakin benar dan 
valid dengan kuesioner kita, maksudnya gini. Dulu waktu saya skripsi, saya dikasih tau 
doping untuk pretest hanya dengan 30 kuesioner saja, karena tidak akan berpengaruh 
banyak terhadap hasilnya, lagi pula yang saya tanyai atau saya sebar kuesionernya itu 
adalah kaum terpelajar (mahasiswa) dan teman-teman saya sendiri. Jadi klo ada yang 
kurang jelas mereka bisa saya berikan informasi tambahannya. Hal ini juga karena saat 
itu saya sendirilah yang turlap langsung face to face dengan mereka (para responden). 
Alasan lain kenapa kita bisa atau boleh menggunakan 30 kuesioner ini juga karena kita 
memang yakin dengan kuesioner tersebut. Karena misal, kuesioner tersebut sudah diuji 
ke validannya oleh orang lain pada penelitian sebelumnya. 
Nah pada tesis saya sekarang ini. Saya harus menggunakan 50 kuesioner sebagai 
bahan pretest penelitian. Hal ini dilakukan karena JUJUR ada sebab yang mendasari,
(Tulisan Jadul 01/08/12: Sekedar iseng, biar inget, dan mungkin bermanfaat) 4 
dan adanya “ketakutan” saya ketika ketidak yakinan saya. Sebab-sebab tersebut seperti 
beberapa diantaranya adalah: 
1. Saya tinggal di negeri yang mayoritas penduduk asli/para responden untuk 
kuesioner penelitian tesis saya tidak bisa berbahas Inggris, jadi saya harus bersusah 
payah meminta bantuan pada kawan-kawan saya yang sudah lebih mahir dalam 
berbahasa asing untuk menterjemahkannya secara baik dan benar sehingga mereka 
mengerti. Dari terjemahan kawan ini saja saya harus turlap tiga kali ke responden 
sampai mereka mengerti, dan saya sampai tiga kali juga menerjemahkan kuesioner 
saya ke bahasa ibu mereka. Artinya setiap satu kawan saya menterjemahkan, saya 
langsung turlap, saya lihat bagaimana respon mereka mengerti atau tidaknya, di 
bagian mananya, kendala bahasa apa saja, dll. Dan itu sampai tiga kali turlap. 
Meski turlap di batas ini saya hanya melakukannya pada teman-teman (pelajar) 
saya. Dan anehnya setiap beda orang beda juga hasil terjemahan katanya. Ini yang 
buat saya sedikit frustasi. Hingga akhirnya sebelum saya turlap langsung, saya 
cobakan kepada doping saya sendiri, meski dosen saya sendiri kadang bingung 
dengan hasil terjemahan kawan saya tersebut-.-! 
2. Sebagai seorang pendatang yang akan melakukan penelitian di negeri orang, pasti 
akan ada yang namanya penolakan kuesioner atau ibarat kata “kalau pun mengisi ya 
seadanya”. Nah kesulitan untuk mencari responden yang sesuai dengan kriteria 
penelitian kita, yang saat itu bisa dimintai sedikit waktu untuk mengisi kuesioner 
kita adalah hal yang sulit. Mereka kadang atau seringnya menolak, klo sudah 
seperti ini saya gunakan trik pegang “kepalanya”. Artinya kita harus mencari tahu 
siapa atasan mereka, bos mereka, manager mereka, dll. Itu pun kadang atasan 
mereka melempar ke atasannya lagi, lalu melempar ketempat lain. Hingga para bos 
tersebut menyerah, disinilah kesabaran/semangat kita di uji. 
3. Kuesioner penelitian saya ini meski berdasarkan atau saya mengambil beberapa 
dari sumber aslinya tapi penelitian tentang ini (setahu saya) belum pernah 
dilakukan oleh orang asing seperti saya. Meski dari teori asing dan sudah 
dibuktikan ke “ampuhan”nya namun saya tetap harus menjaga-jaga agar tidak 
sampai salah untuk kedua kalinya dalam sebuah turlap. Karena penolakan dari 
seorang responden dapat terjadi. Dan saya disini sudah mengalaminya dua tiga kali.
(Tulisan Jadul 01/08/12: Sekedar iseng, biar inget, dan mungkin bermanfaat) 5 
Dan juga alasan lainnya yang akan panjang ceritanya klo saya ceritakan nanti… 
Dari tiga alasan besar itulah, kenapa saya HARUS mencari 50 orang responden 
untuk pretest penelitian saya. Klo kata saya, dari pada saya harus turlap bolak-balik 
mencari orang lagi karena hasilnya yang belum pasti (jika 30 kuesioner), jadi lebih baik 
saya sekalian saja mencari 50 orang sebagai responden dan nanti hasilnya InshaAlloh 
bisa dapat lebih dipastikan hasilnya. 
Sebagai tambahan, klo dalam ilmu sosial seperti saya, klo bisa tiap dimensi 
sebuah kuesioner penelitian itu harus terdapat jumlah minimal 5 (lima) indikator 
pertanyaan penelitian. Karena hal ini untuk mengurangi 
ketidakpastian/ketidakreliabelan dalam uji pretest nanti. Jadi misalkan hanya terdapat 1 
atau 2 indikator yang tidak sesuai, kita masih bisa melakukan uji pretest, karena setahu 
saya dari doping dulu jumlah minimal indikator dalam satu dimensi itu ada 3 indikator. 
(Ini nanti kita bahas, InshaAlloh) 
Oke, segitu saja dulu untuk uji tangguh kuesioner penelitian yang bisa saya 
berikan saat ini. Nanti kita lanjutkan pada uji data 50 atau 30 kuesioner selanjutnya, dan 
siapkan saja program komputer SPSS-nya. Kebetulan saya sendiri menggunakan SPSS 
seri 18, so see you next… 
Oh ya silahkan juga klo ada yang mau menambahkan, mengkoreksi, atau 
menjelaskan lebih...

Uji Tangguh Kuesioner Penelitian

  • 1.
    (Tulisan Jadul 01/08/12:Sekedar iseng, biar inget, dan mungkin bermanfaat) 1 Perkenalan Uji Analisa Regresi Berganda | Doddy Sumardi Bismillahirohmanirohim.. Mumpung masih awal-awal bulan Syawal dan dekat dengan Idul Fitri. Saya dan keluarga mengucapkan,, Hayirli Eayd Bayramlar, Taqoballohu Minna Wamingkum, Mohon maaf lahir batin .. Sebenernya tulisan ini saya buat sewaktu-waktu biar ingat saja, hal ini karena kemarin saya sempat terkendala (baca: lupa) saat melakukan uji analisa hasil kuesioner penelitian. Dan siapa tau kedepannya bisa bermanfaat untuk penelitian/disertasi saya, InshAlloh klo memang rejeki. Mungkin juga klo ada kawan-kawan yang butuh petunjuk ini saya bisa sedikit berbagi. Semoga bermanfaat, aamiin.. Ok lets start, saya mungkin bukan orang yang ahli dalam dunia perstatistikan dan bukan pula orang yang ahli dalam bidang program SPSS komputer, tapi karena saya sedikit tahu tentang pengetahuan ini, jadi bolehlah sedikit saya tuliskan kembali mengenai apa yang saya tau.. Oh ya klo ada yang sedikit miss atau kurang sesuatunya silahkan ditambahi atau dikoreksi, karena saya juga masih dalam tahap belajar.. Berawal dari kesulitan saya menganalisis dan mengolah data kuesioner untuk tesis saya, jadi saya kembali membuka tulisan skripsi S1 saya yang dulu. Sebenarnya bersyukur juga dulu saya pernah ngejalanin proses panjang dan penuh perjuangan dalam pembuatan skripsi, yaa ternyata semua ada hikmahnya saat ini .. Dari semua proses analisis yang saya lakukan untuk tesis saya, hampir 90% tidak berbeda dengan skripsi saya dalam hal cara analisa datanya. Namun bedanya 100% kali ini analisa yang saya lakukan itu tanpa bimbingan doping (dosen pembimbing). Nah modar dehhh.. Lalu dari analisis yang mesti dilakukan hampir 90%- nya saya hampir lupa; harus mulai dari mana dan bagaimana melakukannya.. HANYA berbekal output pdf skripsi S1 dulu, saya kembali membuka proses pembukaan ingatan saya. Kenapa saya bilang membuka ingatan, ya karena prosesn itu butuh konsentrasi yang panjang dalam mengingat. Dan ingat, saya hanya bermodal
  • 2.
    (Tulisan Jadul 01/08/12:Sekedar iseng, biar inget, dan mungkin bermanfaat) 2 skripsi ber-printout pdf serta dibantu oleh si mbah Ggl, ditambah semangat untuk menyelesaikannya. Finally, saya bisa menyelesaikan analisis data tesis saya ini.. Sebenernya sedikit mudah klo saya tau langkah-langkahnya, tapi karena sudah banyak lupa apa yang harus dilakukan setelah turlap (turun lapangan dan kuesioner)* dan data kuesioner terkumpul. Jadi saya searching and back up memory lagi untuk analisis yang akan dilakukan.. Kebetulan dari skripsi dan tesis saya ini, saya menggunakan analisis multiple regresion atau analisis regresi berganda. Nah ternyata untuk menuju kesana ada beberapa step-step yang saya dilakukan, nah step-stepnya tersebut adalah: 1. Uji Validitas Pretest/Kuesioner/Pilot. 2. Uji Validitas Penelitian. 3. Uji Reliabilitas Penelitian. 4. Uji Deskripsi Respondances. 5. Uji Klasik Analisa. a. Uji Multicollinearity. b. Uji Heteroscedasticity c. Uji Normatif. d. Uji Autocorrelation (Durbin-Watson). 6. Uji (Multiple) Regresi. a. Analisis Model Summary. b. Analisis Annova. c. Analisis Coefficients. Dari kesemuanya itu nanti akan saya bahas satu persatu, tapi bergantian, karena panjang analisanya.. Untuk saat ini saya hanya akan mengulas pra awal dari poin pertama yaitu pembahasan uji tangguh kuesioner..
  • 3.
    (Tulisan Jadul 01/08/12:Sekedar iseng, biar inget, dan mungkin bermanfaat) 3 Uji Tangguh Kuesioner Sebenarnya untuk mengetahui seberapa tangguhnya kuesioner kita sebagai peneliti bisa diketahui melalui uji validitas pretest kuesioner/anket di SPSS nanti. Namun untuk persiapan awal kita juga harus bisa menunjukan ke responden tentang syarat baiknya sebuah kuesioner. Hal ini ditujukan untuk mempermudah responden menjawab dan kita pun sebagai peneliti mampu mendapatkan hasil yang baik. Syarat ini tidak harus ada, tapi menurut pengalaman saya dilapangan saja selama ini syarat ini cukup membantu saya untuk mempermudah responden menjawab. Ok, syarat-syarat baiknya tersebut adalah: 1. Kejelasan arti dari kata, kalimat, atau objek penelitian kita, 2. Petunjuk kemudahan tentang kuesioner kita, dan 3. Cara mengisi atau hasil interprestasi responden. Ok anggap tidak ada kendala di kuesioner kita. Setelah turlap dan jumlah anket terkumpul. Lalu kita lakukan uji tangguh validitas pretest kuesioner/anket. Setelah data terkumpul sebanyak diatas 50 kuesioner, klo bisa. 50 kuesioner ini ditujukan untuk lebih memastikan tingkat ke validan kuesioner. Dan klo soal teori pendukungnya kenapa harus diatas 50, tinggal search aja banyak ko yang membahas. Tapi bisa juga dibawah 50 kuesioner asalkan kita sendiri sudah yakin benar dan valid dengan kuesioner kita, maksudnya gini. Dulu waktu saya skripsi, saya dikasih tau doping untuk pretest hanya dengan 30 kuesioner saja, karena tidak akan berpengaruh banyak terhadap hasilnya, lagi pula yang saya tanyai atau saya sebar kuesionernya itu adalah kaum terpelajar (mahasiswa) dan teman-teman saya sendiri. Jadi klo ada yang kurang jelas mereka bisa saya berikan informasi tambahannya. Hal ini juga karena saat itu saya sendirilah yang turlap langsung face to face dengan mereka (para responden). Alasan lain kenapa kita bisa atau boleh menggunakan 30 kuesioner ini juga karena kita memang yakin dengan kuesioner tersebut. Karena misal, kuesioner tersebut sudah diuji ke validannya oleh orang lain pada penelitian sebelumnya. Nah pada tesis saya sekarang ini. Saya harus menggunakan 50 kuesioner sebagai bahan pretest penelitian. Hal ini dilakukan karena JUJUR ada sebab yang mendasari,
  • 4.
    (Tulisan Jadul 01/08/12:Sekedar iseng, biar inget, dan mungkin bermanfaat) 4 dan adanya “ketakutan” saya ketika ketidak yakinan saya. Sebab-sebab tersebut seperti beberapa diantaranya adalah: 1. Saya tinggal di negeri yang mayoritas penduduk asli/para responden untuk kuesioner penelitian tesis saya tidak bisa berbahas Inggris, jadi saya harus bersusah payah meminta bantuan pada kawan-kawan saya yang sudah lebih mahir dalam berbahasa asing untuk menterjemahkannya secara baik dan benar sehingga mereka mengerti. Dari terjemahan kawan ini saja saya harus turlap tiga kali ke responden sampai mereka mengerti, dan saya sampai tiga kali juga menerjemahkan kuesioner saya ke bahasa ibu mereka. Artinya setiap satu kawan saya menterjemahkan, saya langsung turlap, saya lihat bagaimana respon mereka mengerti atau tidaknya, di bagian mananya, kendala bahasa apa saja, dll. Dan itu sampai tiga kali turlap. Meski turlap di batas ini saya hanya melakukannya pada teman-teman (pelajar) saya. Dan anehnya setiap beda orang beda juga hasil terjemahan katanya. Ini yang buat saya sedikit frustasi. Hingga akhirnya sebelum saya turlap langsung, saya cobakan kepada doping saya sendiri, meski dosen saya sendiri kadang bingung dengan hasil terjemahan kawan saya tersebut-.-! 2. Sebagai seorang pendatang yang akan melakukan penelitian di negeri orang, pasti akan ada yang namanya penolakan kuesioner atau ibarat kata “kalau pun mengisi ya seadanya”. Nah kesulitan untuk mencari responden yang sesuai dengan kriteria penelitian kita, yang saat itu bisa dimintai sedikit waktu untuk mengisi kuesioner kita adalah hal yang sulit. Mereka kadang atau seringnya menolak, klo sudah seperti ini saya gunakan trik pegang “kepalanya”. Artinya kita harus mencari tahu siapa atasan mereka, bos mereka, manager mereka, dll. Itu pun kadang atasan mereka melempar ke atasannya lagi, lalu melempar ketempat lain. Hingga para bos tersebut menyerah, disinilah kesabaran/semangat kita di uji. 3. Kuesioner penelitian saya ini meski berdasarkan atau saya mengambil beberapa dari sumber aslinya tapi penelitian tentang ini (setahu saya) belum pernah dilakukan oleh orang asing seperti saya. Meski dari teori asing dan sudah dibuktikan ke “ampuhan”nya namun saya tetap harus menjaga-jaga agar tidak sampai salah untuk kedua kalinya dalam sebuah turlap. Karena penolakan dari seorang responden dapat terjadi. Dan saya disini sudah mengalaminya dua tiga kali.
  • 5.
    (Tulisan Jadul 01/08/12:Sekedar iseng, biar inget, dan mungkin bermanfaat) 5 Dan juga alasan lainnya yang akan panjang ceritanya klo saya ceritakan nanti… Dari tiga alasan besar itulah, kenapa saya HARUS mencari 50 orang responden untuk pretest penelitian saya. Klo kata saya, dari pada saya harus turlap bolak-balik mencari orang lagi karena hasilnya yang belum pasti (jika 30 kuesioner), jadi lebih baik saya sekalian saja mencari 50 orang sebagai responden dan nanti hasilnya InshaAlloh bisa dapat lebih dipastikan hasilnya. Sebagai tambahan, klo dalam ilmu sosial seperti saya, klo bisa tiap dimensi sebuah kuesioner penelitian itu harus terdapat jumlah minimal 5 (lima) indikator pertanyaan penelitian. Karena hal ini untuk mengurangi ketidakpastian/ketidakreliabelan dalam uji pretest nanti. Jadi misalkan hanya terdapat 1 atau 2 indikator yang tidak sesuai, kita masih bisa melakukan uji pretest, karena setahu saya dari doping dulu jumlah minimal indikator dalam satu dimensi itu ada 3 indikator. (Ini nanti kita bahas, InshaAlloh) Oke, segitu saja dulu untuk uji tangguh kuesioner penelitian yang bisa saya berikan saat ini. Nanti kita lanjutkan pada uji data 50 atau 30 kuesioner selanjutnya, dan siapkan saja program komputer SPSS-nya. Kebetulan saya sendiri menggunakan SPSS seri 18, so see you next… Oh ya silahkan juga klo ada yang mau menambahkan, mengkoreksi, atau menjelaskan lebih...