TUGAS PERKEBUNAN COKLAT
FIQRI KHAYQAL
NIM 2206005
Tahun 2002: Indonesia menjadi produsen kakao terbesar
kedua setelah Pantai Gading
Tahun 2003: Posisi Indonesia tergeser oleh Ghana karena
hama penggerek buah kakao
Kondisi Perkebunan Kakao Indonesia
Di Kalimantan Timur, komoditi
kakao menjadi salah satu mata pencaharian
utama. Beberapa daerah yang tercatat sebagai
sentra penanaman kakao di Kalimantan Timur
antara lain Kabupaten Nunukan (Kecamatan
Lumbis dan Pulau Sebatik), Kabupaten
Malinau (Kecamatan Malinau), Kabupaten
Berau (Kecamatan Talisayan), Kota Samarinda
(Sempaja dan Berambai), dan Kabupaten Kutai
Timur. Pemilihan wilayah Kalimantan Timur
sebagai lokasi produksi kakao Indonesia
dikarenakan wilayahnya yang luas, beriklim
tropis, keadaan tanah yang masih sangat baik
tetapi tetap memiliki kekurangan yaitu sumber
daya manusia yang kurang dan pemanfaatan
wilayah yang belum optimal.
Sebagian besar kakao Indonesia diekspor ke negara- negara Asia
Pasifik, Eropa , Afrika dan Amerika. Dari tahun ke tahun, pengeksporan
kakao Indonesia cenderung meningkat.
Daya Saing Kakao
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh International Managemen Development
menunjukan bahwa daya saing Indonesia dibanding 30 negara-negara utama
antara lain sebagai berikut:
1. Rendahnya kepercayaan dari investor
2. Daya saing bisnis yang rendah karena kualitas SDM yang rendah, hubungan
perburuhan yang tidak harmonis, praktek bisnis yang tidak etis dan lemahnya
corporate governance
3. Daya saing yang rendah
4. Infrastruktur lemah
Daya saing kakao Indonesia sudah termasuk bagus karena sudah dapat menempati
posisi ketiga dunia dibawah Pantai Gading dan Ghana
Masalah Dalam Memproduksi Kakao
1. Penggerek Buah Kakao (PBK)
Hama ini hampir merusak seluruh bagian tanaman. Ulatnya merusak
dengan cara menggerek buah, memakan kulit buah, daging buah dan saluran ke
biji. Buah yang terserang akan lebih awal menjadi berwarna kuning, dan jika
digoyang tidak berbunyi.
2. Kepik Penghisap Buah Kakao
Hama ini biasanya menyerang buah kakao dan pucuk atau ranting muda.
Buah muda yang terserang mengering, lalu rontok tetapi jika tumbuh terus
permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Serangan pada pucuk atau
ranting menyebabkan pucuk layu dan mati, ranting mengering dan meranggas. Hama
ini dapat dikendalikan dengan pemangkasan dan cara hayati.
3. Penggerek batang/cabang
Ulat hama ini merusak bagian batang/cabang dengan cara menggerek
menujum empulur (xylem) batang/cabang. Kemudian gerekan tersebut membelok
kearah atas. Hama ini menyerang tanaman muda. Pada permukaan lubang yang baru
digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Akibat gerekan
ulat, bagian tanaman diatas lubang gerekan akan merana, layu, kering dan mati.
4. Tikus dan tupai / bajing Famili Muridae dan Sciuridae, Ordo Rodentia
Buah akan berlubang dan akan rusak atau busuk karena kemasukan air
hujan dan serangan bakteri atau jamur. Tikus biasanya memakan daging beserta
biji buah kakao sedangkan tupai hanya memakan daging buah saja.
5. Penyakit Vaskular streak dieback (VSD) Oncobasidium theobromae, Kelas
Basidiomycetes, Ordo Uredinales
Gejala tanaman terserang adalah daun-daun menguning lebih awal dari
waktu yang sebenarnya dengan bercak berwarna hijau dan gugur sehingga
terdapat ranting tanpa daun (ompong).
6. Busuk buah Phytophyta palmiyora, Family Pythiaceae,
Ordo Pythiales
Buah yang terserang Nampak bercak-bercak coklat
kehitaman biasanya dimulai dari pangkal tengah atau ujung
buah. Apabila keadaan kebun lembab, maka bercak tersebut
akan meluas dengan cepat ke seluruh permukaan buah,
sehingga menjadi busuk, kehitaman dan apabila ditekan
dengan jari terasa lembek dan basah.
Upaya Meningkatkan Daya Saing
Kakao
Peningkatan sumber daya manusia
Meningkatkan kewirausahaan dan efisiensi
Perbaikan sektor hukum, sosial, politik,
perpajakan dan peningkatan integrasi global
Penguasaan teknologi
TUGAS PERKEBUNAN COKLAT Presentasi Perkebunan Coklat.pptx

TUGAS PERKEBUNAN COKLAT Presentasi Perkebunan Coklat.pptx

  • 1.
    TUGAS PERKEBUNAN COKLAT FIQRIKHAYQAL NIM 2206005
  • 2.
    Tahun 2002: Indonesiamenjadi produsen kakao terbesar kedua setelah Pantai Gading Tahun 2003: Posisi Indonesia tergeser oleh Ghana karena hama penggerek buah kakao
  • 3.
    Kondisi Perkebunan KakaoIndonesia Di Kalimantan Timur, komoditi kakao menjadi salah satu mata pencaharian utama. Beberapa daerah yang tercatat sebagai sentra penanaman kakao di Kalimantan Timur antara lain Kabupaten Nunukan (Kecamatan Lumbis dan Pulau Sebatik), Kabupaten Malinau (Kecamatan Malinau), Kabupaten Berau (Kecamatan Talisayan), Kota Samarinda (Sempaja dan Berambai), dan Kabupaten Kutai Timur. Pemilihan wilayah Kalimantan Timur sebagai lokasi produksi kakao Indonesia dikarenakan wilayahnya yang luas, beriklim tropis, keadaan tanah yang masih sangat baik tetapi tetap memiliki kekurangan yaitu sumber daya manusia yang kurang dan pemanfaatan wilayah yang belum optimal.
  • 4.
    Sebagian besar kakaoIndonesia diekspor ke negara- negara Asia Pasifik, Eropa , Afrika dan Amerika. Dari tahun ke tahun, pengeksporan kakao Indonesia cenderung meningkat.
  • 5.
    Daya Saing Kakao Berdasarkansurvey yang dilakukan oleh International Managemen Development menunjukan bahwa daya saing Indonesia dibanding 30 negara-negara utama antara lain sebagai berikut: 1. Rendahnya kepercayaan dari investor 2. Daya saing bisnis yang rendah karena kualitas SDM yang rendah, hubungan perburuhan yang tidak harmonis, praktek bisnis yang tidak etis dan lemahnya corporate governance 3. Daya saing yang rendah 4. Infrastruktur lemah Daya saing kakao Indonesia sudah termasuk bagus karena sudah dapat menempati posisi ketiga dunia dibawah Pantai Gading dan Ghana
  • 6.
    Masalah Dalam MemproduksiKakao 1. Penggerek Buah Kakao (PBK) Hama ini hampir merusak seluruh bagian tanaman. Ulatnya merusak dengan cara menggerek buah, memakan kulit buah, daging buah dan saluran ke biji. Buah yang terserang akan lebih awal menjadi berwarna kuning, dan jika digoyang tidak berbunyi.
  • 7.
    2. Kepik PenghisapBuah Kakao Hama ini biasanya menyerang buah kakao dan pucuk atau ranting muda. Buah muda yang terserang mengering, lalu rontok tetapi jika tumbuh terus permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan pucuk layu dan mati, ranting mengering dan meranggas. Hama ini dapat dikendalikan dengan pemangkasan dan cara hayati. 3. Penggerek batang/cabang Ulat hama ini merusak bagian batang/cabang dengan cara menggerek menujum empulur (xylem) batang/cabang. Kemudian gerekan tersebut membelok kearah atas. Hama ini menyerang tanaman muda. Pada permukaan lubang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Akibat gerekan ulat, bagian tanaman diatas lubang gerekan akan merana, layu, kering dan mati.
  • 8.
    4. Tikus dantupai / bajing Famili Muridae dan Sciuridae, Ordo Rodentia Buah akan berlubang dan akan rusak atau busuk karena kemasukan air hujan dan serangan bakteri atau jamur. Tikus biasanya memakan daging beserta biji buah kakao sedangkan tupai hanya memakan daging buah saja. 5. Penyakit Vaskular streak dieback (VSD) Oncobasidium theobromae, Kelas Basidiomycetes, Ordo Uredinales Gejala tanaman terserang adalah daun-daun menguning lebih awal dari waktu yang sebenarnya dengan bercak berwarna hijau dan gugur sehingga terdapat ranting tanpa daun (ompong). 6. Busuk buah Phytophyta palmiyora, Family Pythiaceae, Ordo Pythiales Buah yang terserang Nampak bercak-bercak coklat kehitaman biasanya dimulai dari pangkal tengah atau ujung buah. Apabila keadaan kebun lembab, maka bercak tersebut akan meluas dengan cepat ke seluruh permukaan buah, sehingga menjadi busuk, kehitaman dan apabila ditekan dengan jari terasa lembek dan basah.
  • 9.
    Upaya Meningkatkan DayaSaing Kakao Peningkatan sumber daya manusia Meningkatkan kewirausahaan dan efisiensi Perbaikan sektor hukum, sosial, politik, perpajakan dan peningkatan integrasi global Penguasaan teknologi