KONSEP PROBITY -GOOD PROCESS
• pengadaan barang/jasa dilakukan dengan
prinsip-prinsip:
• penegakkan integritas, kebenaran, dan kejujuran
• untuk memenuhi ketentuan peraturan/ perundangan yang berlaku
8.
KONSEP PROBITY INSUBSTANCE
Secara substansi, dengan probity diharapkan :
tahapan-tahapan dalam suatu proyek atau kegiatan
(Pengadaan Barang/Jasa )
dilaksanakan dengan mengacu pada prinsip-prinsip:
ethically, honestly, impartially, and
with fairness to all participants
9.
PROBITY DALAM PENGADAANBARANG/JASA
Probity diartikan sebagai integritas (integrity), kebenaran
(uprightness), dan kejujuran (honesty).
Suatu pola pikir (mindset), sikap (attitude) dan tindakan-
tindakan yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip
probity yang berlandaskan nilai-nilai kejujuran/probity
(kejujuran, kebenaran dan integritas) untuk mencapai
tujuan suatu organisasi/entitas.
KONSEP PROBITY (Probity Concept)
Terkait dengan proses pengadaan barang/jasa:
Probity dapat juga diartikan sebagai ’good process’ yaitu proses PBJ dilakukan dengan prinsip dan etika
PBJ (Principles/probity requirement) yang berlandaskan integritas, kebenaran, dan kejujuran
(Values) untuk memenuhi ketentuan perundangan yang berlaku.
10.
Best value for
company’smoney
Identification and
resolution of
conflict of interest
Accountability
Ethically, honestly,
impartially and fairness
Monitoring and
evaluating performance
Prinsip Probity
Prinsip PBJ Etika PBJ
11.
PRINSIP 1: BESTVALUE FOR MONEY
Tidak sekedar untuk mendapatkan
harga yang paling murah
Kualitas, Experience, Reliability,
Kebutuhan organisasi, Kontinuitas,
Kualifikasi personel, Referensi dari
organisasi lain terkait kinerja
sebelumnya, Contoh-contoh dari
pekerjaan-pekerjaan lain yang relevan
Spesifikasi dan kriteria yang jelas
Kompetisi terbuka dan melakukan
pengetesan pasar untuk
mengidentifikasikan apakah sebuah
layanan jasa dapat dilakukan dengan
lebih efisien dan efektif
PRINSIP PBJ:
1. Efisien
2. Efektif
3. Bersaing
4. Transparan
ETIKA PBJ:
• Tidak saling mempengaruhi yang berakibat persaingan usaha tidak sehat
• Menghindari dan mencegah pemborosan dan kebocoran keuangan negara
12.
PRINSIP 2:
ETHICALLY, HONESTLY,IMPARTIALLY & FAIRNESS
Perlakuan yang setara dan adil pada
semua peserta lelang pada setiap
tahapan proses pengadaan
barang/jasa
Mengurangi kesempatan terjadinya
fraud/korupsi
Proses yang tidak transparan dan tidak
adil mengurangi kualitas kompetensi
dan berdampak pada value for money
PRINSIP PBJ:
4. Transparan
5. Terbuka
6. Adil
ETIKA PBJ:
Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi
13.
PRINSIP 3: IDENTIFICATION& RESOLUTION OF
CONFLICT OF INTEREST
• Staf/personel pengadaan melaksanakan tugasnya secara adil dan tidak bias, serta dalam pengambilan
keputusan tidak dipengaruhi oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, menguntungkan
keluarga/teman baik langsung maupun tidak langsung.
• Penanganan yang tidak memadai terhadap conflict of interest ini akan meningkatkan kemungkinan
terjadinya fraud/korupsi (misalnya: suap).
• Organisasi mengimplentasikan sistem, kebijakan dan prosedur yang bisa meyakinkan bahwa conflicy of
interest diungkapkan dan ditangani
ETIKA PBJ:
• Mencegah dan menghindari terjadinya pertentangan kepentingan yang berakibat persaingan usaha tidak sehat
• Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi
• Tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk meberi atau menerima hadiah, imbalan,
komisi, rabat dan apa saja dari atau kepada siapapun yang diketahui atau patut diduga berkaitan dengan PBJ
14.
PRINSIP 4: ACCOUNTABILITY
•Memiliki mekanisme yang menunjukkan bahwa organisasi sudah akuntabel dalam melaksanakan
proses bisnis dan pengambilan keputusan, termasuk dalam hal ini dalam pengadaan barang/jasa
• Mendokumentasikan secara lengkap seluruh proses pengadaan barang dan jasa, termasuk proses
pengambilan keputusan, dan dasar pengambilan keputusan.
• Dapat mengurangi kesempatan fraud/korupsi, menghemat uang, waktu dan sumber daya lain, serta
mengurangi permasalahan-permasalahan dalam jangka panjang
PRINSIP PBJ:
7. Akuntabel
ETIKA PBJ:
• Melaksanakan tugas secara tertib, rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran, kelancaran dan ketepatan tujuan PBJ
• Bekerja secara professional, mandiri, dan menjaga kerahasiaan informasi untuk mencegah penyimpangan PBJ
• Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan sesuai kesepakatan tertulis
15.
PRINSIP 5: MONITORINGAND EVALUATING
PERFORMANCE
• Monitoring yang sistematis dilakukan secara regular untuk mengevaluasi kinerja kontraktor dalam
proses pelaksanaan pengadaan barang/jasa untuk meyakinkan bahwa target kinerjanya tercapai
sesuai kriteria dan jadwal yang telah ditetapkan pada saat perencanaan
• Pada akhir pelaksanaan kontrak pengadaan barang/jasa dilakukan evaluasi untuk meyakinkan
bahwa kontraktor telah memenuhi kebutuhan pengguna barang/jasa dan menyediakan output
sesuai yang ditetapkan dalam kontrak
• Identifikasi pendekatan yang inovatif, spesifikasi yang menguntungkan, kriteria evaluasi, dan
pengalaman dalam menangani permasalahan yang muncul selama proses pengadaan barang/jasa
akan membantu meningkatkan proses pengadaan di masa mendatang
ETIKA PBJ:
• Melaksanakan tugas secara tertib, rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran, kelancaran dan ketepatan
tujuan PBJ
• Bekerja secara professional, mandiri, dan menjaga kerahasiaan informasi untuk mencegah penyimpangan PBJ
16.
Tujuan proses probity
Korporasi3. Menjamin kesesuaian proses dengan kriteria/standar/
pedoman/peraturan perundangan
8. Menghindari potensi kecurangan/fraud dan korupsi
1. Menyediakan Akuntabilitas
2. Menjaga integritas organisasi
4. Menyakinkan semua penawaran dievaluasi dengan
kriteria yang sama
6. Memberikan keyakinan pada publik dan pemasok atas
proses yang dilakukan oleh perusahaan
5. Meminimalkan potensi konflik dan permasalahan hukum
7. Meyakinkan bahwa pelaksanaan pengadaan B/J
menghasilkan keluaran terbaik
Tujuan Proses Probity
17.
PROBITY IN PROCUREMENT
•Probity is the evidence of ethical behaviour in a particular process
• Maintaining probity involves more than simply avoiding corrupt or dishonest
conduct.
• It involves Applying public sector values such as impartiality, accountability and transparency.
Ensuring probity in public sector activities is part of every public official’s duty to adopt processes,
practices and behaviour that enhance and promote public sector values and interests (Queensland Govt)
18.
• Probity principlesshould be integrated into all procurement planning
• Procurement must be conducted with probity in mind
• Probity to enable purchasers and suppliers to deal with each other on the basis of mutual trust
and respect
• Probity to enable business to be conducted reasonably and with integrity
• Achieving an ethical, transparent approach requires that the procurement rules be clear,
open, well understood and applied equally to all parties to the process
PROBITY IN PROCUREMENT
19.
KEEP IN MIND
•Even the best probity processes do not guarantee that a project or activity will be immune from
problems or criticism
• Mistakes, delays and disputes can still arise despite the best efforts to ensure good management of
probity risks.
• However, adopting best practice procurement procedures will minimize such situations and limit
the potential adverse consequences
PENGERTIAN AUDIT
Audit
adalah prosesidentifikasi masalah, analisis, dan
evaluasi yang dilakukan secara independen,
objektif, dan profesional berdasarkan standar audit,
untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas,
efektivitas, efisiensi, dan keandalan informasi
pelaksanaan tugas dan fungsi instansi pemerintah.
(Standar Audit AIPI)
Evaluasi
Identifikasi Masalah
Analisis
Independen
Objektif Profesional
Kebenaran, Kecermatan, Kredibilitas,
Efektif, Efisien, Keandalan Informasi
22.
PENGERTIAN PROBITY AUDIT
•Probity Audit merupakan assurance engagement
atau penugasan pemberian keyakinan,
• Auditor menyediakan pemeriksaan independen
secara mendalam terhadap proses pengadaan
dan menyatakan pendapat secara objektif
tentang apakah persyaratan probity yang
ditentukan telah benar-benar ditaati.
• Kesimpulan yang diungkapkan oleh auditor
didasarkan pada bukti yang dikumpulkan
berdasarkan kriteria yang ditentukan.
Kriteria Probity
(Probity Requirement)
Bukti-Bukti
Probity Audit
Asurance
Engagement
Proses Bisnis PBJ
DITAATI
PROBITY REQUIREMENT
Persyaratan kejujuranyang akan diuji oleh
Auditor Probity adalah bahwa Proses PBJ:
1. telah mematuhi prosedur pengadaan
barang dan jasa pemerintah sesuai
ketentuan yang berlaku,
2. memenuhi prinsip pengadaan barang dan
jasa pemerintah,
3. menerapkan etika pengadaan barang dan
jasa pemerintah.
25.
TUJUAN & RUANGLINGKUP
TUJUAN
• untuk memberikan keyakinan yang memadai
apakah proses pengadaan barang/jasa yang
dilaksanakan manajemen telah sesuai dengan
probity Requirement
• untuk memberikan pendapat dan saran
perbaikan yang diperlukan agar proses PBJ =
Probity Requirement
RUANG LINGKUP
• Seluruh Proses PBJ mulai dari Identifikasi
Kebutuhan sampai dengan Penyerahan BJ
atau :
• Membatasi tahapan terpilih dari proses PBJ;
(Perlu dipastikan bahwa pelaksanaan tahapan
sebelumnya telah sesuai dengan peraturan
dan ketentuan yang berlaku)
26.
BATASAN TANGGUNGJAWAB AUDITORPROBITY
Keyakinan Memadai; Bukan Kebenaran Mutlak
• Simpulan auditor terbatas pada data/dokumen/informasi yang diterima auditor probity
Tidak mengalihkan kewajiban memastikan kejujuran dari manajemen kepada
auditor probity
• Manajemen tetap bertanggungjawab atas kejujuran proses PBJ=probity requirement;
Auditor sebagai pelengkap dalam Proses Probity
27.
RISIKO PENGGUNAAN PROBITYAUDIT -1
Auditi mengandalkan temuan auditor untuk memastikan kejujuran, integritas, kebenaran
Auditi menggunakan auditor probity sebagai “asuransi or Kambing Hitam” jika ada masalah
Auditi dan auditor memiliki pandangan berbeda tentang peran auditor probity
Pengunaan auditor probity sebagai justifikasi langkah auditi tidak melakukan proses kompetitif
ketidakberpihakan dan independensi auditor dipertanyakan
28.
RISIKO PENGGUNAAN PROBITYAUDIT -2
beberapa orang (atau organisasi) yang sama digunakan berulang kali untuk melakukan probity audit
penunjukan orang yang berkualifikasi tidak tepat sebagai auditor probity
dokumentasi dan pelaporan yang tidak memadai oleh auditor probity
penggunaan auditor probity pada tahap pengadaan yang tidak sesuai
29.
KRITERIA PENGGUNAAN PROBITYAUDIT
ICAC
• Integritas proyek telah dipertanyakan
• Terdapat sejarah kontroversi dan litigasi
• Proyek sensitif secara politik dan rentan terhadap kontroversi
• Diperkirakan bahwa mungkin ada penawaran internal dan
pengawasan independen sangat penting untuk menghindari
persepsi bias dan favoritisme
• Ada taruhan besar yang terlibat untuk penawar
• proyek inovatif dan memiliki beberapa alternatif teknologi dan
atau metodologi untuk mencapai outcome yang ditargetkan
• Proyek yang sangat kompleks
BPKP
• Paket pekerjaan melekat risiko yang tinggi dan bersifat
kompleks
• Paket pekerjaan memiliki sejarah/latar belakang yang kontro-
versial atau berhubungan dengan permasalahan hukum
• Paket pekerjaan sangat sensitif terkait isu politis
• Paket pekerjaan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan
• Paket pekerjaan berhubungan dengan kepentingan masyarakat
luas
• Paket pekerjaan untuk memenuhi pelayanan dasar masy.
• Nilai paket pekerjaan relatif besar dibandingkan dengan nilai
paket-paket pekerjaan yang lain.
30.
FOKUS & KRITERIAPENGUJIAN
Kepatuhan
Kebijakan
Prosedur PBJ
1. Penyusunan Struktur
Organisasi & Pejabat
2. Proses Perencanaan
3. Proses Persiapan
4. Proses Pemilihan
Penyedia
5. Manajemen Kontrak
6. Proses swakelola
Prinsip-Prinsip
Pelaksanaan PBJ
1. Efektif
2. Efisisen
3. Terbuka
4. Transparat
5. Adil Tidak/ Diskri
minatif
6. Bersaing
7. Akuntabel
Pelaksanaan Etika
PBJ
1. Tertib,tg-jawab
2. Prof, mandiri, Rahasia
3. Tdk saling pengaruhi
4. Menerima bertgjwb
5. Hindari COI
6. Cegah Bocor Boros KN
7. Cegah Kolusi
8. Tidak menerima
31.
Kebijakan PBJ
Meningkatkan Kualitas
PerencanaanPBJ
Melaksanakan PBJ yang lebih
transparan, terbuka dan
kompetitif
Memperkuat kapasitas
kelembagaan & SDM PBJ
Mengembangkan
E-marketplace PBJ
Menggunakan teknologi informasi
dan komunikasi serta transaksi
elektronik
Mendorong penggunaan b/j
dalam negeri & SNI
Memberikan kesempatan UMKM
Mendorong pelaksanaan
penelitian & industri kreatif
Melaksanakan Pengadaan
Berkelanjutan
Pasal 5
1 2
3 4
5 6
7 8 9
33.
Pasal 7
Tertib &Tanggung
Jawab
Profesional,
Mandiri &
Menjaga Rahasia
Tidak saling
mem-pengaruhi
Menerima & tanggung
jawab
Menghindari Conflict
Of Interest
Menghindari dan
Mencegah
Pemborosan
Menghindari dan
mencegah penyalah-
gunaan wewenang
Tidak menerima,
menawarkan/
menjanjikan
Etika Pengadaan
32
34.
PROBITY AUDIT DALAM
PENGADAANBARANG /JASA
AUDIT ATAS KEJUJURAN, KEBENARAN DAN KETULUSAN
DALAM PROSES PENGADAAN BARANG DAN JASA
PENGERTIAN AUDIT
Evaluasi
Identifikasi Masalah
Analisis
•Kebenaran
• Kecermatan
• Kredibilitas
• Efektivitas
• Efisiensi
• Keandalan
KRITERIA
Penyimpangan
KONDISI
Memerinci atau mengurai
akar masalah/ PENYEBAB
UTAMA/ CAUSA PRIMA
Menilai DAMPAK/AKIBAT
penyimpangan terhadap
tujuan
Independen : Organisasi Objektif :
Auditor
Profesional : Etik & Standar
INFOR
MASI
PENG
AMBI
LAN
KEPU
TUSA
N
37.
PROSES AUDIT
LAPORAN HASILAUDIT
Bentuk BAB Bentuk SURAT Tindak Lanjut
PROSEDUR AUDIT
Teknik Audit Bukti Audit Kertas Kerja Audit
TAHAPAN AUDIT
Perencanaan Pelaksanaan Pelaporan
METODOLOGI
Control Base Audit Process Based Audit Risk Based Audit
AUDIT
Tujuan Ruang lingkup
LHA menjawab
TUJUAN AUDIT
PENDEKATAN PROBITY AUDIT
RealTime Audit
• Bila tujuan audit pencegahan & membangun pengendalian
Post Audit
• Bila tujuan audit membuktikan pelanggaran prosedur, prinsip &
etika
40.
PENDEKATAN : EVALUASIGRC
TUJUAN
Governance
RISK
control
LINGKUP MANAJEMEN
Struktur &
Proses
Dikomunikasikan, Diarahkan, Dikelola,
Dipantau
LINGKUP INTERNAL AUDIT
Indepen-
dence
Objective
Assurance & Consulting
Add Value & Operation
Evaluate & Improve GRC
Systematic Decipline
design to
By approach
G – R - C
41.
PERSIAPAN PROBITY AUDIT
Mendapatkanmandat probity audit
Penelaahan Awal
Mendapatkan Surat Pernyataan Probity dan Surat Representasi
Manajemen
Penyusunan Kerangka Acua Kerja Probity Audit
Penyusunan Tim Audit probity dan Surat Tugas
42.
1. MANDAT PROBITYAUDIT
Probity Audit kebutuhan manajemen;
Probity Audit Perlu Mandat Tertulis sebagai bentuk KOMITMEN
MANDAT sebagai dasar Pelaksanaan Probity Audit
43.
2. PENELAAHAN AWAL
•Memperoleh gambaran utuh dan menyeluruh dari kegiatan PBJ yang
akan/sedang dilaksanakan, serta ruang lingkup audit yang akan
diaudit
Tujuan
• Membahas : tujuan, ruang lingkup, rencana waktu audit, batasan
tanggung jawab auditor, Probity Requirement dan mekanisme jika
ditemukan masalahan penyimpangan.- Naskah Notulen
Pelaksanaan Ekspose
• tujuan mengidentifikasikan dan memitigasi risiko-risiko dalam
penugasan probity audit
• Output : Hasil penilaian Risiko Penugasan PA
Penilaian Risiko
Penugasan PA
44.
3. SURAT PERNYATAANPROBITY DAN SURAT
REPRESENTASI MANAJEMEN
Surat Pernyataan Probity/Representasi manajemen Memuat :
Pemahaman bahwa tanggung jawab proses PBJ sepenuhnya berada pada manajemen.
Probity audit yang dilakukan adalah proses untuk membantu manajemen.
Jaminan bahwa data dan informasi yang disampaikan dalam rangka probity audit telah lengkap dan disajikan
dengan jujur dan transparan.
Komitmen manajemen PBJ untuk tidak melakukan kecurangan selama proses pengadaan barang dan jasa.
Pemahaman bahwa hasil probity audit semata-mata didasarkan pada data dan informasi yang disampaikan oleh
manajemen.
Pernyataan kesediaan untuk diaudit dan persetujuan pemberian akses sepenuhnya
Pemahaman bahwa tanggung jawab tindak lanjut hasil probity audit sepenuhnya berada pada manajemen
Pernyataan bahwa PBJ yang akan dilakukan probity audit tidak sedang dalam penanganan oleh aparat penegak
hukum.
45.
PROBITY REQUIREMENT -PERENCANAAN
Prinsip & Etika
Langkah Penerapan
(Instructions)
Sarana (Tools)
Risiko 1 :
Identifikasi kebutuhan B/J yang
ditetapkan PA/KPA tidak mencerminkan
kebutuhan riil
Prinsip Probity Langkah Penerapan Dalam PBJ
Prinsip 1. Best VFM Identifikasi kebutuhan B/J didasarkan pada
kebutuhan pelaksanaan kegiatan yang tercantum
dalam RKT.
Spesifikasi & jumlah B/J didasarkan pada data yang
akurat dalam RKBU dan telah dikonfirmasikan ke unit
kerja yang membutuhkannya (user)
1. Efektif-Efisien
2. Spesifikasi & Kriteria
yang jelas
Prinsip 2. Etically
Menghindari
penyalahgunaan
wewenang & Kolusi
Identifikasi kebutuhan ditetapkan secara mandiri &
independent dan tidak dipengaruhi oleh
kepentingan calon penyedia ataupun pihak lainnya.
Prinsip 3. menghinda-ri
COI
Tidak menerima sesuatu yang patut diduga terkait
dengan identifikasi kebutuhan
Prinsip 4 & 5 Bekerja
tertib dan profesional
Identifikasi kebutuhan secara professional
didasarkan data yang akurat dan terdokumen-
tasikan dengan tertib
Sarana Pendukung (Tools);
Surat Pernyataan Bebas Konflik
Kepentingan (Conflict of Interest)
Efektif-Efisien
46.
4-5. KUALIFIKASI AUDITOR& KAK PROBITY AUDIT
Kualifikasi Auditor Probity
• Pengetahuan (knowledge) dan Ketrampilan
(skill)
• Kemandirian dan Objektivitas
• Kompetensi Profesional dan due care (kehati-
hatian)
• Integritas
• Kerahasiaan
• Kualifikasi Formal & Personal (BPKP)
KAK Probity Audit
• Standar Audit yang digunakan oleh Auditor dalam
melakukan audit;
• Ruang lingkup pelaksanaan Probity Audit;
• Persyaratan probity (probity requirement);
• Kewenangan dan tanggung jawab penanggung jawab
pengadaan barang/jasa dan Auditor;
• Jangka waktu penugasan audit dan pembiayaan;
• Mekanisme dan waktu pelaporan audit;
• Pembiayaan audit
47.
DISKUSI KELOMPOK
IDENTIFIKASI KELENGKAPANPENUGASAN
NO URAIAN Ada Tidak PENJELASAN
1 Mandat Probity Audit
2 Manajemen Representative
Letter
3 KAK Probity Audit (termasuk di
dalamnya Probity Requirement)
4 Surat Tugas :
Tujuan & Ruang Lingkup
5 Penelaahan Awal Proses PBJ
(Sasaran Audit)
48.
DISKUSI KELOMPOK
PENYSUNAN PROBITYREQUIREMENT
NO PRINSIP & ETIKA RUMUSAN
PROBITY
REQUIREMENT
DOKUMENTASI KETERANGAN
A PRINSIP
1 Efektif
2 Efisien
3 Transparan
4 Terbuka
5 Bersaing
6 Adil
7 Akuntabel
49.
DISKUSI KELOMPOK
PENYSUNAN PROBITYREQUIREMENT
NO PRINSIP & ETIKA RUMUSAN PROBITY
REQUIREMENT
DOKUMENTASI KETERANGAN
B ETIKA
1 Tertib Tanggung Jawab
2 Profesional
3 Tidak saling mempengaruhi
4 Menerima & Tanggung Jawab
5 Menghindari Conflic Interest
6 Menghindari Mencegah pemborosan
7 MenghindariPenyalahgunaan
Kewenangan
8 Tidak Menerima/Menjanjikan
PROBITY REQUIREMENT –PERSIAPAN PEMILIHAN
Prinsip & Etika
Langkah Penerapan
(Instructions)
Sarana (Tools)
Risiko 6 :
Penggelembungan Harga dalam HPS
Prinsip Probity Langkah Penerapan Dalam PBJ
Prinsip 1. Best VFM Penetapan harga dalam perhitungan HPS didasarkan
pada harga standar yang berlaku dan/atau survey
harga pasar yang dilakukan secara objektif dan
independen dan terdokumentasi dengan tertib
Menghindari & mencegah
pemborosan keuangan
negara
Prinsip 2. Etically
Menghindari
penyalahgunaan
wewenang & Kolusi
Penyusunan HPS ditetapkan secara mandiri &
independent dan tidak dipengaruhi oleh
kepentingan calon penyedia ataupun pihak lainnya.
Prinsip 3. menghinda-ri
COI
Tidak menerima sesuatu yang patut diduga terkait
dengan penyusunan HPS
Prinsip 4 & 5 Bekerja
tertib dan profesional
HPS dihitung berdasarkan harga standar yang
berlaku serta harga pasar yang wajar, dan dilakukan
secara keahlian dengan dokungan data dan
dokumen yang lengkap.
Sarana Pendukung (Tools);
Surat Pernyataan Bebas Konflik Kepentingan (Conflict of Interest)
Efektif-Efisien
58.
RISK BASED PROBITYAUDIT : PERENCANAAN
Probity Penyusunan HPS:
1. Pengumpulan Data
2. Survey Harga
3. Menghitung HPS
4. Total HPS diumumkan
Proses Bisnis
1. Data harga tidak update
2. Tidak melakukan survey
harga
3. Kesalahan rumus &
aritmetika
4. Pertemuan PPK dg Calon
Pemenang
5. Tidak disampaikan
aanwizjing
Identifikasi Risiko
1. PPK sertifikasi PBJ
2. Pakta Integritas
Identifikasi
Pengendalian Kunci
Evaluasi
Pengendalian Kunci
PKA
1. Perhitungan HPS tidak
dilakukan reviu.
2. Pakta Integritas
sekedar tandatangan
dokumen.
Pengendalian Lemah
Tujuan
Pengujian
Langkah Kerja
Auditor & HP
59.
PENYUSUNAN PROBITY REQUIREMENT
NO
KEGIATAN/
TAHAPANPROSEDUR PRINSIP ETIKA
RUMUSAN PROBITY
REQUIREMENT
1. Penyusunan HPS PPK Menyusun
HPS secara
keahlian
(Perpre 16,
pasal……)
akuntabel Tertib
bertanggung-
jawab
PPK Menyusun HPS denagn menggunakan
data yang bersumber dari hasil survey
pasar dan didokumentasikan
Survey pasar dilakukan dengan terjun ke
lapangan oleh PPk dan tim
HPS telah dihitung sesuai dengan Pedoman
dan dihitung denga akurat
Tidak saling
mempengaruh
i
Penyusunan HPS dilakukan mandiri tanpa
dipengaruhi pihak yang terlibat dalam
pengadaan
Tidak melakukan pertemuan dengan calon
penyedia B/J
PROGRAM KERJA AUDIT
NOURAIAN
AUDITOR WAKTU KERTAS KERJA
AUDIT
Renca
na
Realis
asi
Renca
na
Realis
asi
A. Tujuan Pengujian
1. Meyakinkan bahwa
perencaan sudah sesuai
dengan probity
Requiremen
2.
B. Langkah Kerja
1. Peroleh….
2. Bandingkan…
3. Wawancara…..
…. Susun Simpulan
Tujuan Pengujian :
Menguji hasil Matriks Risk/control yang nilai Risikonya
masih tinggi > Risk Appetite
Langkah 1,2,3, ……Prosedur Audit….
Langkah kerja berisi :
Teknik audit (Perintah)
Terakhir ditutup susun simpulan
Hasil pelaksanaan Teknik Audit di dokumentasikan
dalam Kertas Kerja Audit
AUDITOR : Diisi Nama Auditor
Waktu : Disisi dalam JAM
PELAKSANAAN PROBITY AUDIT
•Tujuan Audit
• Waktu
Pelaksanaan Audit
Skema Audit
• Tujuan Pengujian
• Langkah Kerja
Program Kerja
Audit
• Alat Bantu
Simpulan Hasil
Audit
Daftar Uji
Hasil Audit
1. Audit atas Tahap Perencanaan dan
Persiapan Pengadaan Barang/Jasa;
2. Audit atas Tahap Persiapan Pemilihan
Penyedia Barang/Jasa;
3. Audit atas Tahap Pelaksanaan
Pemilihan Penyedia Barang/Jasa;
4. Audit atas Tahap Pelaksanaan Kontrak
Jasa Konstruksi;
5. Audit atas Tahap Pelaksanaan dan
Kontrak Jasa Konsultansi Badan Usaha;
6. Audit atas Tahap Pelaksanaan Kontrak
Pengadaan Barang/Jasa lainnya;
7. Audit atas Swakelola.
66.
PELAKSANAAN PROBITY AUDIT
TujuanAudit:
• Meyakinkan bahwa Proses PBJ telah sesuai dengan Probity Requirement (integrity, Honesty,
uprightness)
Pengumpulan & Evaluasi Bukti Audit (Relevan, Kompeten, Cukup)
• Identifikasi Risk PBJ; Titik Kritis dan Pelaksanaan PKA
Simpulan Hasil Audit
• Tools : Daftar Uji Hasil Audit
67.
PELAKSANAAN PROBITY AUDIT
AuditorProbity
Proses Bisnis PBJ
Pengumpulan &
Evaluasi Bukti Audit
Simpulan Hasil Audit
Persiapan
Perencanaan
Pelaksanaan
Tujuan PA
Risiko Penugasan
Probity PBJ :
• Honesty
• Integrity
• Uprightness
Probity Requirement
Kepatuhan
Prinsip & Etika PBJ
Assurance bahwa PBJ
telah = Nilai-2 Probity
(Honesty, Integrity,
Uprigtness)
Daftar Uji Hasil
Audit
68.
CONTOH : PROBITYAUDIT DALAM PROSES HPS
DPA
Identifikasi
Kebutuhan
Penyusunan
Spesifikasi
Teknis
Penyusunan
HPS
Evaluasi
Penawaran
Penyusunan
Kontrak
Ruang Lingkup
Probity Audit
• Penyusunan HPS tergantung pada Proses sebelumnya.
• Probity Audit seharusnya meliputi selueuh proses.
• Teteapi jika proses sebelumnya tidak dilakukan probity
audit, maka Auditor Probity meminta Surat
pernyataan Representasi manajemen
• Surat Representasi menyatakan bahwa Proses
sebelumnya telah dilakukan sesuai dengan Nilai-nilai
Probity
69.
PELAKSANAAN PROBITY AUDITHPS
PPK Menyusun
HPS
Kepatuhan Prosedur:
HPS dihitung secara keahlian
Prinsip Transparan :
Nilai Total HPS diumumkan
secara terbuka
Pelaksanaan Etika
Tidak dipengaruhi pada saat
penysunan HPS
Probity
Requirement
1. Dasar Survey Pasar
2. Perhitungan akurat
3. Dokumnetasi lengkap
4. Nilai Total HPS diumumkan
5. Seluruh Peserta dapat
mengakses HPS Total
6. PPK tidak bertemu dengan
Calon penyedia
Program kerja
Audit
1. Peroleh Dokumen HPS lengkap dengan KK perhitungannya
2. Peroleh sumber harga sebagai dasar perhitungan HPS
3. Bandingkah perhitungan HPS dengan data survey pasar
4. Wawancara dengan PPK atas proses penyusunan HPS
1. Peroleh pengumuman pelaksanaan pelelangan
2. Uji apakah nilai Total HPS dicantumkan dalam Pengumuman
3. Observasi apakah Nilai Total HPS disampaikan dalam aanwizjing
4. Konfirmasi kepada seluruh perserta apakah dapat akses nilai toal HPS
1. Peroleh surat pernyataan bahwa PPK tidak mengadakan pertemuan
dengan Penyedia selama proses PBJ
2. Wawawnca dengan PPK dan beberapa staf PPK yang terkait
3. Konfirmasi seluruh calon peserta baik pemenang maupun yang kalah
4. Bandingkan HPS Total & Rician dengan Penawaran Pemenang
70.
BUKTI AUDIT PROBITY
•Dokumen HPS beserta kertas Kerjanya (KKA-1)
• Dokuemen pengumuman dan Berita Acara aanwijzing (KKA-2)
Bukti Dokumen
• Hasil Wwaancara dengan PPK, Staf PPK, calon penyedia (baik pememneg maupun yang
kalah) -- KKA 3
Bukti Keterangan
• Analisis perhitungan HPS dibandingkan dengan peraturan/Pedoman, sumber harga (KKA-4)
• Perbandingan Rincian HPS dengan harga penawaran penawaran pemenang (KKA-5)
Bukti Analisis
• Observasi pelaksanaan aanwijzing (KKA-6)
Bukti Fisik
71.
SIMPULAN HASIL AUDITPROBITY
1. Penyusunan HPS tidak didasarkan pada datayang update (informasi harga yang dipakai
adalah harga tahun lalu/kontrak sejenis)
2. PPK tidak melakukan survey harag ke pasar
3. Perhitungan HPS mengandung duplikasi dalam pembenbanan PPN dan PPh 22
4. Perhitungan HPS tidak direviu oleh tim independent ataupun ahli
Perhituhgan HPS
tidak dilakukan
secara keahlian
(X Prosedur – tidak
professional)
1. PPK sudah menandatangani Pakta integritas yang menyatakan akan indeoenden dalam
pelaksanaan proses PBJ, tidak menerima, tidak memberikan janji dll.
2. PPK mengadakan pertemuan dengan calon penyedia yang menang (Pemenang) yang
memberikan data dalam perhitungan HPS
Adanya unsur
mempengaruhi
dalam penyusunan
HPS (X Etika)
1. Tidak seleuruh peserta lelang (calon penyedia) memeroleh akses informasi Nilai Total HPS.
2. Informasi Nilai Total HPS tidak disampaikan keselueuh peserta pada saat aanwijzing
Tidak menerapkan
prinsip Transparansi
(X prinsip)
72.
TEMUAN HASIL AUDITPROBITY
Kondisi:
Pelanggaran
Nilai probity
Kriteria:
Probity
Requirement
Akibat:
HPS Overstated/
Kemahalan
harga
Rekomendasi:
Perbaikan
pengendalian
Sebab:
Kelemahan
pengendalian
Kunci
Jika probity dilakukan Real Time, maka
temuan audit bisa digunakan untuk
mencegah kerugian (koreksi HPS,
atau Koreksi kontrak sebelum kontrak
disusun/ditandatangani)
Jika probity dilakukan Post Audit, maka
temuan audit bisa digunakan untuk
membuktikan penyimpangan
(fraud)/kemahalan harga dan dugunakan
sebagai dasara perbaikan yad dan
pemulihan kerugian keuangan negara
KASUS DIKUSI
• TETAPKAN1 TAHAPAN/PROSES PBJ (Perencanaan, persiapan, pemilihan,
Pelaksanaan, Serah terima)
• Identifikasikan dalam tahapan tersebut : Prosedur, Prinsip dan Etika.
• Rumuskan Probity Requirment nya atas Prosedur, Prinsip dan Etika
• Tetapkan langkah kerja pengumpulan Bukti Audit (PKA)
• Identifiaksikan Bukti Audit yang Diperoleh
• Susun Simpulan.
75.
PKA
A. Tujuan Pengujian
1.meyakinkan bahwa PPK tidak melakukan pertemuan dengan calon penyedia B/J
B. Langkah Kerja :
1. Dapatkan Surat Pernyataan Bebas Konflik Kepentingan (Conflict of Interest) yang ditandatangi PPK
2. Dapatkan Jadwal agenda kerja PPK pada periode pelelangan (pemilihan penyedia)
3. Teliti agenda pertemuan yang dilakan oleh PPK selama proses pelelangann (Buku Tamu)
4. Bandingkan Buku Tamu dengan agenda kerja PPK
5. Wawancara dengan sfat PPK
6. Wawancara dengan PPK
7. Susun Simpulan
STANDAR KOMUNIKASI AUDITINTERN
(STANDAR AUDIT AAIPI_2014)
Standar
Komunikasi
Komunikasi Hasil
PAI
Kriteria Komunikasi HPAI
Kualitas Komunikasi
Metodologi, Bentuk, Isi,
Frekueunsi
Tanggapan Auditi
Kesesuaian dengan
Standar Audit
Pendistribusisan
Pemantauan Tindak
Lanjut
78.
4000 MANFAAT KOMUNIKASIHPAI
• mengomunikasikan HPAI kepada auditi dan pihak lain yang berwenang;
• menghindari kesalahpahaman atas HPAI;
• menjadi bahan untuk melakukan tindakan perbaikan bagi auditi dan
instansi terkait; dan
• memudahkan pemantauan tindak lanjut
79.
4010. KRITERIA KOMUNIKASIHPAI
• Komunikasi HPAI harus mencakup
sasaran dan ruang lingkup penugasan AI
kesimpulan, rekomendasi, dan rencana aksi.
• Auditor harus melaporkan adanya kelemahan atas sistem pengendalian intern
auditi
• Auditor harus melaporkan adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan, kecurangan, dan ketidakpatutan (abuse).
80.
KOMUNIKASI HASIL PENUGASANAI
• Komunikasi HPAI, auditor mempertimbangkan :
Harapan auditi dan pemangku kepentingan lainnya
Harus didukung dengan informasi yang Relevan, KOmpeten,
CUkup dan BerguNA.
auditor mengakui kinerja yang memuaskan auditi
pembatasan distribusi dan penggunaan hasil
• Komunikasi Kelemahan SPI :
Kelemahan signifikan HPAI laporan
Kelemahan tidak signifikan ML
• Komunikasi Ketidakpatuhan, kecurangan dan abuse :
tanpa menunggu audit selesai
dapat menggunakan konsultan hukum
81.
4020 KUALITAS KOMUNIKASI
IndikatorKualitas Penjelasan
Komunikasi yang tepat
waktu
tepat dan bijaksana, tergantung pada pentingnya
masalah, memungkinkan manajemen untuk
mengambil tindakan korektif yang tepat.
Komunikasi yang
lengkap
tidak kekurangan apapun hal yang penting dan
mencakup semua informasi penting dan relevan
serta pengamatan untuk mendukung rekomendasi
dan kesimpulan
Komunikasi yang akurat bebas dari kesalahan dan distorsi dan sesuai
kepada fakta-fakta yang mendasari
Komunikasi yang
obyektif
adil, tidak memihak, tidak bias, serta
merupakan hasil dari penilaian adil dan seimbang
dari semua fakta dan keadaan
yang relevan.
82.
4020 KUALITAS KOMUNIKASI
IndikatorKualitas Penjelasan
Meyakinkan hasil penugasan audit intern harus dapat menjawab
sasaran audit, menyajikan fakta, kesimpulan, dan
rekomendasi yang logis
Konstruktif yang membantu auditi dan mengarah pada
perbaikan yang diperlukan.
Jelas mudah dipahami dan logis, menghindari bahasa
teknis yang tidak perlu dan menyediakan semua
informasi yang signifikan dan
relevan.
Ringkas Tidak lebih panjang daripada yang diperlukan untuk
menyampaikan atau pendukung pesan
Singkat langsung ke titik masalah dan menghindari
elaborasi yang tidak perlu, detail berlebihan,
redundansi, dan membuang-buang kata.
83.
4030 METODOLOGI, BENTUK,ISI, FREKEUEUNSI
• Komunikasi audit harus dibuat secara tertulis berupa laporan dan harus segera, yaitu pada
kesempatan pertama setelah berakhirnya pelaksanaan audit.
• Tujuan : menghindari kemungkinan salah tafsir atas kesimpulan, fakta, dan rekomendasi
auditor.
• Komunikasi secara tertulis tidak berarti membatasi atau mencegah komunikasi lisan dengan
auditi selama proses audit.
• Pembuatan komunikasi hasil audit secara tertulis dilakukan :
segera setelah selesainya pekerjaan lapangan
secara berkala (interim) sebelum selesainya pekerjaan lapangan untuk memenuhi
kebutuhan informasi hasil pengawasan yang mendesak bagi stakeholders.
84.
4030 METODOLOGI, BENTUK,ISI, FREKEUEUNSI
• Komunikasi audit intern melalui laporan hasil audit intern, harus dibuat
dalam bentuk dan isi yang dapat dimengerti oleh auditi dan pihak lain yang
terkait.
• Bentuk laporan : berbentuk surat atau bab.
• Bentuk surat :
apabila dari hasil audit tidak diketemukan banyak fakta yang signifikan.
• Bentuk bab :
apabila dari hasil audit ditemukan banyak fakta dan/atau signifikan.
85.
4030 METODOLOGI, BENTUK,ISI, FREKUENSI
Laporan HPAI (bentuk Surat /Bab), setidaknya harus memuat:
• dasar melakukan audit intern;
• identifikasi auditi;
• tujuan/sasaran, lingkup, dan metodologi audit intern;
• pernyataan bahwa penugasan dilaksanakan sesuai dengan standar audit;
• kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi;
• hasil audit intern berupa kesimpulan, fakta, dan rekomendasi;
• tanggapan dari pejabat auditi yang bertanggung jawab;
• pernyataan adanya keterbatasan dalam audit serta pihak-pihak yang
menerima laporan;
• pelaporan informasi rahasia apabila ada.
86.
4040 TANGGAPAN AUDITI
•Auditor harus meminta tanggapan/pendapat auditi terhadap kesimpulan, fakta, dan
rekomendasi termasuk tindakan perbaikan yang direncanakan, secara tertulis dari
pejabat auditi yang bertanggung jawab.
• Tanggapan harus dievaluasi dan dipahami secara seimbang dan objektif, serta
disajikan secara memadai dalam laporan HPAI.
• Tanggapan berupa janji atau rencana tindakan perbaikan, harus dicantumkan,
tetapi tidak untuk menghilangkan fakta dan rekomendasi.
• Reviu dan Tanggapan Auditi : Salah satu cara yang paling efektif untuk memastikan
bahwa suatu laporan HPAI dipandang adil, lengkap, dan objektif
4050 KESESUAIAN DGSTANDAR AUDIT
• Auditor diharuskan untuk menyatakan dalam setiap laporan bahwa
kegiatankegiatannya “dilaksanakan sesuai dengan standar”.
• Jika terdapat ketidaksesuaian dengan Standar Audit AAIPI, komunikasi hasil
audit harus mengungkapkan:
Prinsip atau aturan pelaksanaan yang tidak tercapai;
Alasan mengapa terjadi ketidaksesuaian; dan
Dampak atas ketidaksesuaian pada penugasan dan HPAI
89.
4060 PENDISTRIBUSIAN HPAI
•Auditor harus mengomunikasikan dan mendistribusi -kan hasil penugasan audit
intern kepada pihak yang tepat, sesuai dengan ketentuan peraturan per-UU-an.
• Dalam hal yang diaudit merupakan rahasia negara maka auditor dapat membatasi
pendistribusian hasli audit (untuk tujuan keamanan atau atas dasar ketentuan per-
UU-an).
• Jika suatu penugasan audit dihentikan sebelum berakhir, maka
auditor harus mengikhtisarkan hasil auditnya sd tanggal penghentian
auditor menjelaskan alasan penghentian audit tersebut.
Auditor harus mengomunikasikan tertulis alasan penghentian.
90.
4100 PEMANTAUAN TINDAKLANJUT
• Auditor harus memantau dan mendorong tindak lanjut atas simpulan, fakta,
dan rekomendasi audit.
• Auditor harus mendokumentasikan fakta untuk keperluan pemantauan tindak
lanjut dan memutakhirkannya.
• Manfaat audit intern terletak pada efektifitas tindak lanjut rekomendasi tersebut.
• Jika TL auditi berlainan dengan rekomendasi :
Auditor harus menilai efektifitas penyelesaian TL. ---
Auditor tidak harus memaksakan rekomendasinya, namun harus dapat
menerima langkah lain yang ternyata lebih efektif.
91.
4100 PEMANTAUAN TINDAKLANJUT
Pada saat pelaksanaan audit intern, auditor :
• Memantau pelaksanaan TL rekomendasi tahun sebelumnya
• Memperoleh penjelasan penyebab tidak terlaksnaanya TL
• Mempertimbangkan dalam program kerja audit selanjutnya
• menilai pengaruh simpulan, fakta, dan rekomendasi yang tidak
atau belum ditindaklanjuti terhadap simpulan atau pendapat
atas audit intern yang sedang dilaksanakan
92.
PELAPORAN HASIL PROBITYAUDIT
PELAKSANAAN
PROBITY AUDIT
PENGKOMUNIKASIAN
HASIL PROBITY AUDIT
Atensi Manajemen
Apabila dalam pelaksanaan probity audit ditemukan proses pengadaan barang dan jasa yang tidak
sesuai dengan ketentuan dan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip pengadaan barang/jasa serta
etika pengadaan barang/jasa, yg memuat: Pokok/kondisi permasalahan dan ketidaksesuaiannya
dengan probity requirement, penyebab, dampak/potensi dampak, serta saran perbaikkan
LAPORAN HASIL
PROBITY AUDIT
93.
Format Standar LHA
HasilAudit :
1. Simpulan & saran
2. Efektivitas Pengendalian
Internal
3. Temuan Audit :
Penyimpangan
Prosedur, Prinsip, Etika
KOMUNIKASI HASIL PROBITY AUDIT
Laporan Hasil
Probity Audit
Pembahasan
Hasil Audit
Atensi
Manajemen
Selama Proses Probity Audit
Early Warning bagi Auditi
untuk dilakukan perbaikan
segera.
• Kondisi Tidak sesuai
Probity Requirement
• Penyebab
• Dampak/ potensi dampak
terhadap proses PBJ
• Rekomendasi
• Di ttd penangung jawab
atau yang diberikan
delegasi kewenangan
Akhir Proses Audit
Dibahas Temuan, Simpulan termasuk
Surat Atensi Manajemen sebelumnya
BERITA ACARA
PPEMBAHSAN HASIL
PROBITY AUDIT
94.
TUJUAN LAPORAN HASILPROBITY AUDIT
1
2
3
Informasi yg Obyektif ttg Pelaksanaan PBJ
Penilaian Pelaksanaan PBJ
(Pelaksanaan Prinsip2 Pengadaan Quality, Economy, eficiency, transparancy, Non-
discrimination, dan Etika serta memberikan rekomendasi perbaikan)
Pengambilan Keputusan - memperbaiki
perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian PBJ
95.
SUBSTANSI LAPORAN HASILAUDIT
DASAR AUDIT
TUJUAN DAN SASARAN AUDIT
RUANG LINGKUP AUDIT
BATASAN DAN TANGGUNG JAWAB PENUGASAN
METODOLOGI
INFORMASI UMUM AUDITAN
DAFTAR DATA/DOKUMEN YANG DIGUNAKAN DALAM AUDIT
HASIL AUDIT
NO PROSES PROBITY
REQUIREMENT
PENGUJIANPENYEBAB AKIBAT
A PENYUSUNAN HPS
1 PROSEDUR
Penyusunan HS dilakukan secara keahlian
PPK memiliki sertifikasi
keahlian PBJ (cq
Menyusun HPS)
Didampingi Ahli
Dokumen HPS v
Sertifikasi v
Wawancara ttg
penyusunan HPS x
Dampingan Ahi X
Analisis HPS x dokumen
vs hasil wawancara x
Analisis HPS dengan data
harga yang digunakan v
Wawancara proses
penghitungan X
Konfirmasi kepada staf
PPK x
Wawancara dengan
Pimpinan PPK v
Anggaran Ahli tidak
dialokasikan.
Potensi adanya markup
dalam penetapan harga
kontrak
2 PRINSIP
Akuntabilitas PPK mampu
mempertangungjawabka
n kebenaran, keakuratan
dan kebenaran data
dalam penyusunan HPS
Supervisi penyusuan HPS
tidak dilaksanakan oleh
Atasan Langsung
3 ETIKA
Tidak saling mempengaruhi PPK Menyusun HPS
secara mandiri, tidak
mendapatkan pengaruh
dari pihak lain
Aturan perilaku utuk
tidak berhubungan
langsung dengan enyedia
salaam proses PBj tidak
dilaksanakan
SIMPULAN
HPS tidak disusun secara
keahlian
PPK tidak dapat
mempertanggungjawabk
an hasil perhitungan HPS
PPK dipengaruhi Pihak
lain dalam Menyusun
HPS
99.
TEMUAN HASIL AUDIT
PenyusananHPS Pekerjaan XXX Senilai Rp. 30 Milyar tidak didampingi oleh Tim Ahli dan tidak dapat ditelusuri
kebenaran perhitungannya
Berdasarkan hasil pengujian terhadap proses penysuuna HPS diperoleh informasi bahwa:
- PPK tidak didapingi oleh Ahli
- PPK tidak dapat menjelasakan kebenaran perhituangannnya
- PPK mengadakan pertemuan dengan caloan rekanan pada tanggal 10 sept 2021
Kondisi diatas, tidak sesuai dengan Probitu Requirement, nomor…butir…. Yang menyatakan bahwa……….(kutip_
Penyimpangan dar PR disebkna karena, tidak adana alokasi anggaran untuk ahli, tidak adan supervise atasn langsung
atas proses penyusuann HPS dan ketidakataaan PPK melaksanakn Aturan Perilaku.
HPS yang telah disusun tidak sesuai tersebut dapat menimbulkan protensi kemahalan harga dalam penetapan nilia
kontrak pada proses selanjutnya.
Rekomendasi:
1. Alokasikan anggran ahli dalam melalui revisi DIPA
2. PPK agar menysuun kertas kerja perhitungan HPS
3. kenakan sanksi atas pelanggatan aturan perilaku
4. koreksi HPS
Editor's Notes
#31 Petunjuk untuk Fasilitator:
- Berikan contohnya masing-masing kebijakan pengadaan
#33 Instruksi untuk Pengajar :
Jelaskan secara singkat etika pengadaan dan berikan contohnya.