1
BAB I
PENDAHULUAN
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya
stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur
dermatofita (Trichophyton spp, Microsporum spp, dan Epidermophyton spp). Ketiga genus
jamur ini bersifat mencerna keratin atau zat tanduk yang merupakan jaringan mati dalam
epidermis (Tinea corporis, Tinea kruris, Tinea manus et pedis), rambut (Tinea kapitis), kuku
(Tinea unguinum).1
Oleh karena satu spesies dermatofita dapat menyebabkan kelainan yang
berbeda-beda pada satu individu tergantung dari bagian tubuh yang dikenai, dan sebaliknya
berbagai jenis dermatofita dapat menyebabkan kelainan yang secara klinis sama apabila
mengenai bagian tubuh yang sama, maka dari itu klasifikasi dermatofitosis lebih didasarkan
pada regio anatomis yang terkena dari jamur penyebabnya, walaupun sebenarnya pendekatan
kausatif lebih rasional.
Hanya sebagian kecil golongan jamur yang dapat menimbulkan penyakit, dan
sebagian besar lainnya tidak bersifat patogen, namun dapat menjadi patogen apabila terdapat
faktor-faktor predisposisi tertentu baik fisiologis maupun patologis. Faktor-faktor
predisposisi fisologis meliputi kehamilan dan umur, sedangkan yang termasuk faktor
predisposisi patologis adalah keadaan umum yang jelek, penyakit tertentu, iritasi setempat,
dan pemakaian obat-obat tertentu seperti antibiotika, kortikosteroid dan sitostatik.
2
Klinik Dokter Keluarga FK UNISMA No. RM :
Berkas Pembinaan Keluarga Nama pasien : An.F
PKM Wajak Nama KK : Tn. Y
KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA
Nama Kepala Keluarga : Tn. Y
Alamat lengkap : Jalan Brantas, Tempehan
Bentuk Keluarga : Extended Family
No Nama Status L/
P
Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien
PKM
Ket
1 Tn. Y Suami
(KK)
L 41Th SD Buruh Petani T -
2 Ny. S Istri P 35 Th SD Ibu Rumah
Tangga
T -
3 Ny.P Ibu
Istri
P 70th SD - T -
3 Nn.Y Anak P 15 Th SMP Pelajar T -
4 An. B Anak L 4th - - Y Tinea
Kruris
dengan
infeksi
sekunder
ektima
Sumber : Data Primer, november 2014
Kesimpulan :
Keluarga pasien merupakan Extended family yang terdiri atas 5 orang. Pasien adalah
An.B, 4 tahun, beralamat di Jalan Brantas, Tempehan. Diagnosa klinis pasien adalah Tinea
Kruris dengan infeksi sekunder ektima. Pasien tinggal bersama dengan Ayah yaitu (Tn.Y, 50
th), ibu yaitu (Ny.S, 35th), nenek yaitu (Ny.P,70th), kakak yaitu (Nn.Y 15 th).
Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal Dalam Satu Rumah
3
BAB II
STATUS PASIEN
2.1 ANAMNESIS
2.1.1 Identitas Pasien
Nama : An. B
Umur : 4 tahun
Jenis Kelamin : Laki - Laki
Pekerjaan : Belum
Pendidikan : Belum Sekolah
Agama : Islam
Alamat : Jalan Brantas,Tempehan
Status Perkawinan : BelumMenikah
Suku : Jawa
Tanggal Periksa : November 2014
2.1.2 Keluhan utama : Gatal pada Bagian bokong.
2.1.3 Riwayat penyakit sekarang :
Penderita datang ke Balai Pengobatan PKM Wajak dengan keluhan gatal pada
bagian bokong dan punggung belakang yang dialami sejak ± 1 bulan yang lalu, gatal
terutama di rasakan pada siang hari terutama saat berkeringat, awalnya muncul
kemerahan pada kulit awalnya hanya dibagian lipatan bokong sebelah kanan
kemudian bertambah meluas hingga kedua bokong dan semakin menyebar,
kemerahan tersebut terasa gatal sering di garuk oleh pasien dan akhirnya dalam 1
minggu ini timbul luka nanah diatas kulit yang merah, dan meninggalkan bekas
kehitaman, pasien belum pernah mengobainya ataupun ke dokter untuk
mengobatinya, pasien hanya diberi minyak tawon oleh ibu untuk mengurangi gatal.
2.1.4 Riwayat penyakit Dahulu
- Riwayat sakit serupa : Pasien belum pernah menderita penyakit seperti
ini sebelumnya
- Riwayat alergi makanan dan obat : disangkal
- Riwayat cacar air : disangkal
4
2.1.5 Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat keluarga sakit serupa : tidak didapatkan
- Riwayat alergi : disangkal
2.1.6 Riwayat kebiasaan
- Sehari – hari kegiatannya bermain di lingkungan rumah dan menonton televisi. Dalam
satu hari pasien hanya mandi satu kali saat siang hari karena saat musim hujan rumah
sering banjir dan sungai tempat mandi terkadang keruh, sehingga ibunya hanya
mengajak mandi satu kali sehari.
- Pasien juga ganti baju dalam sehari hanya satu kali.
2.1.7 Riwayat sosial ekonomi
Penghasilan keluarga relatif cukup. Penghasilan didapat dari suami yang
bekerja sebagai buruh tani, kadang istri dan anak perempuan Tn.Y membantu
tetangga masak supaya mendapat tambahan uang. Keluarga An.B memiliki hubungan
sosial dengan tetangga yang cukup baik.
Pasien adalah seorang anak laki – laki usia 4 tahun. Pasien anak dari seorang
buruh tani. Saat ini pasien tinggal di rumah dengan ayah, ibu, nenek dan kakak
perempuannya. Saat ini kebutuhan sehari-hari penderita ditanggung oleh ayahnya.
Hubungan An.B dan keluarga nampak saling mendukung, karena pasien
tampak menemani ibu dan nenek saat pasien berobat di Puskesmas wajak. Kesan
riwayat psiko sosio ekonomi cukup namun kurang memperhatikan kondisi kebersihan
dan kesehatan.
2.1.8 Riwayat Gizi :
Pasien makan sehari-hari biasanya 2 - 3 kali/hari. Berupa nasi sepiring, sayur,
dan lauk pauk. Lauk pauk dengan, tahu, tempe. Pasien jarang makan buah - buahan.
Minum air putih ± 5 gelas setiap harinya.
2.1.9 Anamnesis Sistem
1. Kulit :Warna kulit sawo matang, bintil-bintil (-), gatal (+), luka (+) nanah (+)
di daerah bokong.
2. Kepala :Sakit kepala (-), pusing (-), rambut kepala tidak rontok, luka pada
kepala (-), benjolan/borok di kepala (-)
3. Mata :Pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan kabur (-),
ketajaman baik
5
4. Hidung :Tersumbat (-), mimisan (-)
5. Telinga :Pendengaran berkurang (-), berdengung (-), keluar cairan (-)
6. Mulut :Sariawan (-), mulut kering (-),
7. Tenggorokan :Sakit menelan (-), serak (-)
8. Pernafasan :Sesak nafas (-), mengi (-)
9. Kardiovaskuler :Berdebar-debar (-), nyeri dada (-), ampeg (-)
10. Gastrointestinal :Mual (-), muntah (-), diare (-), nafsu makan menurun (-), nyeri
perut (-)
11. Genitourinaria :BAK lancar, 4-6 kali/hari warna dan jumlah biasa
12. Neuropsikiatri
i. Neurologik :Kejang (-), lumpuh (-)
ii. Psikiatrik :Emosi stabil, mudah marah (-)
13. Muskuloskeletal : Kaku sendi (-), nyeri tangan (-), nyeri kaki (-), nyeri otot (-)
14. Ekstremitas
1. Atas sebelah kiri :Bengkak (-), luka (-), nyeri (-)
2. Atas sebelah kanan :Bengkak (-), luka (-), nyeri (-)
3. Bawah sebelah kiri :Bengkak (-), luka (-), nyeri (-)
4. Bawah sebelah kanan :Bengkak (-), luka (-), nyeri (-)
2.2 PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), status gizi kesan
lebih
Tanda vital
T : 100/80 mmHg
Nadi : 88 x/menit, regular, isi tegangan cukup
RR : 20 x/ menit, kedalaman cukup, reguler
Suhu : 36,2 0
C peraksila
BB : 15 kg
TB : 98 cm
1. Kulit
a. Warna : Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-)
b. Status Dermatologis
Lokasi : Regio Genito Crural Anterior Dextra Sinistra
Efloresensi :
6
Tampak plak berwarna putih keabuan dengan dasar eritema dan terdapat
skuama, berbentuk anular, serta berbatas tegas. Tepi lesi aktif dengan gambaran
central healing. Konfigurasi lesi pada regio genito crural dextra polisiklik,
sedangkan pada regio sinistra konfigurasinya geografika. Distribusi pada regio
genito crural anterior dan meluas ke daerah perineum dan punggung.
Tampak pustul, batas tegas, multipel, dengan ukuran bervariasi antara 0,1 cm-
0.3 cm, tersebar. Beberapa pustul pecah meninggalkan ulkus berbentuk bulat,
berbatas tegas, berdinding landai, dasar tampak kotor, pinggiran ulkus
meninggi, multipel, ukuran bervariasi antara 0.2x0.3x0.1 cm hingga 0.5x0.5x0.1
cm, daerah sekitar ulkur hiperpigmentasi, tertutup krusta berwarna coklat
kehitaman
2. Kepala : Bentuk mesocephal, tidak ada luka, rambut tidak mudah dicabut,
atrofi m. Temporalis (-), makula (-), papula (-), nodula (-), kelainan
mimik wajah/bells palsy (-)
3. Mata : Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor
(3mm/3mm), reflek kornea (+/+), warna kelopak (coklat kehitaman),
katarak (-/-), radang/conjunctivitis/uveitis (-/-)
4. Hidung : Nafas cuping hidung (-), sekret (-),epistaksis(-), deformitas hidung (-),
hiperpigmentasi (-), sadle nose (-)
5. Mulut : Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-),
tepi lidah hiperemis (-), tremor (-)
6. Telinga : Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping
telinga dalam batas normal
7. Tenggorokan : Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-)
8. Leher : JVP (5+2) cmH2O tidak meningkat, trakea ditengah, pembesaran
kelenjar tiroid (-), pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-)
9. Thoraks
Simetris, retraksi interkostal (-), retraksi subkostal (-)
a. Cor : I : Ictus cordis tak tampak
P : Ictus cordis tak kuat angkat
P : Batas kiri atas : SIC II Linea parasternalis Sinistra
Batas kiri bawah : SIC IV Linea Mid clavicularis sinistra
Batas kanan atas : SIC II Linea parasternalis Dextra
7
Batas kanan bawah : SIC IV Linea parasternalis Dextra
Batas jantung kesan tidak melebar
A: BJ I–II intensitas normal, regular, bising (-)
b. Pulmo : Statis (depan dan belakang)
I : Pengembangan dada kanan = kiri
P : Fremitus raba kanan = kiri
P : Sonor / sonor
A: Suara dasar vesikuler (+ /+)
suara tambahan RBK (-/-), wheezing (-/-)
Dinamis (depan dan belakang)
I : Pergerakan dada kanan = kiri
P : Fremitus raba kanan = kiri
P : Sonor / sonor
A: Suara dasar vesikuler (+/+)
Suara tambahan RBK (-/-), wheezing (-/-)
10. Abdomen
I :Dinding perut sejajar dengan dinding dada, venektasi (-)
P :Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba
P :Timpani
A :Peristaltik (+) normal
11. Sistem Collumna Vertebralis
I :Deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
P :Nyeri tekan (-)
P :NKCV (-/-)
12. Ektremitas: palmar eritema(-/-)
akral dingin oedem
- - - -
- - - -
13. Sistem genetalia: Dalam batas normal
14. Pemeriksaan Neurologik
Fungsi Luhur : Dalam batas normal
Fungsi Vegetatif : Dalam batas normal
Fungsi Sensorik : Dalam batas normal
8
Fungsi motorik :
K 5 5 T N N RF 2 2 RP - -
5 5 N N 2 2 - -
15. Pemeriksaan Psikiatrik
Penampilan : Sesuai umur, perawatan diri cukup
Kesadaran : Kualitatif tidak berubah; kuantitatif compos mentis
Afek : Appropriate
Psikomotor : Normoaktif
Proses pikir : Bentuk:realistik
Isi : waham (-), halusinasi (-), ilusi (-)
Arus : koheren
Insight : Baik
2.3 RESUME
Pasien adalah An.B, 4 tahun. Penderita datang ke Balai Pengobatan PKM
Wajak diantar ibunya dengan keluhan gatal pada bagian bokong dan punggung
belakang yang dialami sejak ± 1 bulan yang lalu, gatal terutama di rasakan pada siang
hari terutama saat berkeringat, awalnya muncul kemerahan pada kulit awalnya hanya
dibagian lipatan bokong sebelah kanan kemudian bertambah meluas hingga kedua
bokong dan semakin menyebar, kemerahan tersebut terasa gatal sering di garuk oleh
pasien dan akhirnya dalam 1 minggu ini timbul luka nanah diatas kulit yang merah,
dan meninggalkan bekas kehitaman, pasien belum pernah mengobainya ataupun ke
dokter untuk mengobatinya, pasien hanya diberi minyak tawon oleh ibu untuk
mengurangi gatal.
Sehari – hari kegiatannya bermain di lingkungan rumah dan menonton
televisi. Dalam satu hari pasien hanya mandi satu kali saat siang hari karena saat
musim hujan rumah sering banjir dan sungai tempat mandi terkadang keruh, sehingga
ibunya hanya mengajak mandi satu kali sehari. Pasien juga ganti baju dalam sehari
hanya satu kali.
9
Pemeriksaan fisik didapatkan pada status lokalis: Regio Genito Crural
Anterior Dextra Sinistra. Efloresensi : Tampak plak berwarna putih keabuan dengan
dasar eritema dan terdapat skuama, berbentuk anular, serta berbatas tegas. Tepi lesi
aktif dengan gambaran central healing. Konfigurasi lesi pada regio genito crural
dextra polisiklik, sedangkan pada regio sinistra konfigurasinya geografika. Distribusi
pada regio genito crural anterior dan meluas ke daerah perineum dan punggung.
Tampak pustul, batas tegas, multipel, dengan ukuran bervariasi antara 0,1 cm-
0.3 cm, tersebar. Beberapa pustul pecah meninggalkan ulkus berbentuk bulat,
berbatas tegas, berdinding landai, dasar tampak kotor, pinggiran ulkus meninggi,
multipel, ukuran bervariasi antara 0.2x0.3x0.1 cm hingga 0.5x0.5x0.1 cm, daerah
sekitar ulkur hiperpigmentasi, tertutup krusta berwarna coklat kehitaman.
2.4 PENATALAKSANAAN
2.4.1 Non Medika mentosa
 Penderita memakai pakaian tipis yang longgar dan mudah menyerap keringat.
 Pakaian yang telah dipakai langsung dicuci, tidak dipakai berkali-kali
 Jika berkeringat, sebaiknya penderita berganti pakaian. Pakaian yang dipakai
hendaknya pakaian yang betul-betul telah kering setelah dicuci dan dijemur.
 Masing-masing anggota keluarga hendaknya memakai handuk sendiri-sendiri dan
handuk yang dipakai hendaknya sering dicuci.
 Kepada orang tua pasien agar memperhatikan pasien untuk tidak menggaruk atau
memencet lesi.
 Mengompres terlebih dahulu lesi pasien dengan gaas yang telah dibasahi dengan
NaCl sehingga krusta terangkat baru kemudian diolesi dengan salep.
 Untuk menjaga kebersihan diri, pakaian dan lingkungan.
 Memberitahu orang tua penderita bahwa penyakit jamurnya membutuhkan waktu
yang lama untuk sembuh, sehingga penderita diharapkan patuh berobat.
 Kontrol kembali ke poliklinik 1 minggu lagi.
2.4.2 Medikamentosa
 Cream : Ketokonazol 2% 2 x sehari (pagi dan sore)
 Amoksisilin 3 x 25 mg/kgBB
10
IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSI KELUARGA
A. FUNGSI HOLISTIK
1. Fungsi Biologis
Keluarga pasien merupakan Extended family yang terdiri atas 5 orang. Pasien
adalah An.B, 4 tahun, beralamat di Jalan Brantas, Tempehan. Diagnosa klinis pasien
adalah Tinea Kruris dengan infeksi sekunder ektima. Pasien tinggal bersama dengan
Ayah yaitu (Tn.Y, 50 th), ibu yaitu (Ny.S, 35th), nenek yaitu (Ny.P,70th), kakak yaitu
(Nn.Y 15 th). Keluarga pasien menyangka bahwa sakit An.B adalah karena alergi
suatu makanan.
2. Fungsi Psikologis
Penderita tinggal bersama orang tua, kakak perempuan dan neneknya di
rumah. Hubungan An.B dan keluarga cukup terjalin dengan baik dan saling
memperhatikan. Hubungan An.B dan keluarga nampak saling mendukung, karena
pasien tampak menemani ibu dan nenek saat pasien berobat di Puskesmas wajak..
Hubungan antar anggota keluarga terkesan baik, saling mendukung tetapi kurang
saling memperhatikan kondisi kesehatan dan kebersihan.
3. Fungsi Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga An. B hanya sebagai anggota
masyarakat biasa, tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat.
Dalam kehidupan sosial An. B dan Keluarganya berperan aktif dalam kegiatan
kemasyarakatan.
4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan
Penghasilan keluarga relatif cukup. Penghasilan didapat dari suami, sebagai buruh
tani. Terkadang istri dan anak perempuannya bekerja memabntu masak di tetangga.
Kesimpulan :
Dari poin satu sampai empat dari fungsi holistik keluarga kesimpulannya
adalah Keluarga An. B usia 4 tahun dengan tinea kruris dengan sekunder infeksi
ektima, fungsi psikologis dan fungsi sosial ekonomi cukup baik.
B. FUNGSI FISIOLOGIS
Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score adalah skor
yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut pandang setiap anggota
keluarga terhadap hubungannya dengan anggota keluarga yang lain. APGAR score meliputi :
11
1. Adaptasi
Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga yang lain,
serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang lain.
2. Partnership
Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara anggota keluarga
dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut.
3. Growth
Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan anggota
keluarga tersebut.
4. Affection
Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga.
5. Resolve
Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu yang
dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.
Terdapat tiga kategori penilaian yaitu: nilai rata-rata ≤ 5 kurang, 6-7 cukup dan 8-10
adalah baik.
Tabel 1. APGAR score Tn.Y =
APGAR Ny.S Terhadap Keluarga Sering/
Selalu
Kadang-
kadang
Jarang/
Tidak
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah
dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan

12
R Saya puas dengan cara keluarga saya
dan saya membagi waktu bersama-sama

Total poin = 10 poin
Tabel 2. APGAR score Ny.S
APGAR Tn.Y Terhadap Keluarga Sering/
Selalu
Kadang
-kadang
Jarang
/tidak
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah.

P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah dengan
saya.

G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru.

A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan
saya membagi waktu bersama-sama

Total poin = 9
Tabel 3. APGAR score Ny.P
APGAR Tn.Y Terhadap Keluarga Sering/
Selalu
Kadang
-kadang
Jarang
/tidak
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah.

13
P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah dengan
saya.

G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru.

A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan
saya membagi waktu bersama-sama

Total poin = 9
Tabel 4. APGAR score Nn.Y=
APGAR Nn.Y Terhadap Keluarga Sering/
Selalu
Kadang
-kadang
Jarang
/tidak
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah.

P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah dengan
saya.

G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru.

A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan
saya membagi waktu bersama-sama

14
Total poin = 9
Tabel 5. APGAR score An.B =
APGAR An.B Terhadap Keluarga Sering/
Selalu
Kadang
-kadang
Jarang
/tidak
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah.

P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah dengan
saya.

G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru.

A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan
saya membagi waktu bersama-sama

Total poin = 8
A.P.G.A.R SCORE keluarga pasien = (10+9+9+9+8) /5= 9
Kesimpulan : fungsi fisiologis keluarga pasien baik
Secara keseluruhan total poin dari A.P.G.A.R keluarga pasien adalah 45, sehingga rata-rata
A.P.G.A.R dari keluarga pasien adalah 9. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang
dimiliki keluarga pasien dalam keadaan sedang.
C. FUNGSI PATOLOGIS
Fungsi patologis dari keluarga An.B dinilai dengan menggunakan alat S.C.R.E.E.M
sebagai berikut :
Tabel 6. SCREEM keluarga pasien
SUMBER PATOLOGIS KET
15
Social Ikut berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya -
Culture
Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, dapat dilihat
pada pergaulan mereka yang masih menggunakan bahasa Jawa
sebagai bahasa sehari-hari.
-
Religious Pemahaman terhadap ajaran agama cukup, demikian juga dalam
ketaatannya dalam beribadah.
-
Economic Penghasilan keluarga yang relatif stabil -
Educational
Tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga ini kurang. +
Medical
Keluarga ini cukup mampu membiayai pelayanan kesehatan,
sehingga jika ada anggota keluarga yang sakit akan segera
dibawa ke tenaga medis setempat.
-
Kesimpulan
Keluarga An.B mempunyai fungsi patologis dalam hal educational. Pasien tidak memiliki
pendidikan dan pengetahuan yang cukup.
D. GENOGRAM KELUARGA
Alamat lengkap : Desa Wonokerto Rt.17 Rw.04.
Bentuk Keluarga : Extended Family
Diagram 1. Genogram Keluarga Ny.S
Sumber : Data Primer, November 2014
Kesimpulan :
Dari genogram di atas dapat disimpulkan bahwa tinea kruris dengan infeksi sekunder
ektima yang diderita oleh An.B bukan merupakan penyakit yang ditularkan dari anggota
keluarga yang lain.
Ny.P
Ny.PTn.R
Tn.Y
Ny.S
Nn.Y An. B
Tn.J
16
A. Informasi Pola Interaksi Keluarga
Diagram 2. Pola Interaksi Keluarga Tn.K
Sumber : Data Primer, November 2014
Keterangan : hubungan baik
Hubungan kurang baik
Kesimpulan :
Hubungan antara Tn.Y, Ny. S,Ny.P, Nn. Y dan An. B baik. Secara umum dalam keluarga
ini tidak pernah terjadi konflik atau hubungan buruk antar anggota keluarga.
Tn.Y
Ny.S
Nn.Y
Ny.P
An.B
17
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN
A. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga
1. Faktor Perilaku Keluarga
Pasien adalah An.B, 4 tahun. Penderita datang ke Balai Pengobatan PKM
Wajak diantar ibunya dengan keluhan gatal pada bagian bokong dan punggung
belakang yang dialami sejak ± 1 bulan yang lalu, gatal terutama di rasakan pada siang
hari terutama saat berkeringat, awalnya muncul kemerahan pada kulit awalnya hanya
dibagian lipatan bokong sebelah kanan kemudian bertambah meluas hingga kedua
bokong dan semakin menyebar, kemerahan tersebut terasa gatal sering di garuk oleh
pasien dan akhirnya dalam 1 minggu ini timbul luka nanah diatas kulit yang merah,
dan meninggalkan bekas kehitaman, pasien belum pernah mengobainya ataupun ke
dokter untuk mengobatinya, pasien hanya diberi minyak tawon oleh ibu untuk
mengurangi gatal. Keluarga An.B belum banyak memiliki pengetahuan tentang
kesehatan khususnya komplikasi dari tinea kruris dengan infeksi sekunder ektima.
Saat sakit keluarga An.B cukup memperhatikan penderita bahkan peduli dan
mengantarkan untuk berobat ke tempat pelayanan kesehatan yang dekat dari rumah
mereka.
2. Faktor Non Perilaku
Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga reatif cukup.
Sumber penghasilan berasal dari suami, sebagai buruh tani. Rumah yang dihuni
keluarga ini kurang memadai, karena tidak cukup memenuhi standar kesehatan.
Pencahayaan ruangan cukup, ventilasi sangat kurang terutama untuk dikamar, fasilitas
WC dan kamar mandi yang tidak memadai karena keluarga ini menggunakan sungai
sebbagai sumber air bersih. Dapur memiliki akses udara yang bebas dan pencahayaannya
cukup. Fasilitas kesehatan yang sering dikunjungi oleh keluarga ini jika sakit adalah
puskesmas, karena dekat dengan tempat tinggal pasien.
18
Diagram 3. Faktor Perilaku dan Non Perilaku
: Faktor Perilaku
: Faktor Non Perilaku
B. Identifikasi Lingkungan Rumah
1. Gambaran Lingkungan
Keluarga ini tinggal di sebuah rumah yang berdempetan dengan rumah
tetangganya. Tidak memiliki pekarangan rumah dan tanpa pagar pembatas. Dinding
rumah sudah permanen dari batu bata, disemen dan di cat. Rumah Terdiri ruang tamu
yang berhubungan langsung dengan dua tempat tidur, terdapat satu dapur, satu
ruangan kamar tidur,satu ruangan gudang kecil. Pintu masuk dan keluar ada satu, di
bagian depan rumah. Jendela kaca ada. Lantai rumah sudah memakai plester.
Ventilasi kurang memadai dan penerangan rumah cukup. Perabotan rumah tangga
cukup, memasak memakai LPG 3kg dan sumber air dari menumpang PDAM
tetangga.
Rumah An.B juga bersebelahan dengan tetangga yang mempunyai usaha soto
ayam sehingga jalan disekitar rumah banyak kotoran sisa memotong dan
membersihkan ayam.
Tindakan :
An.B diantar
keluarganya berobat
Keturunan/Penularan:
Bukan merupakan
penularan dari anggota
keluarga lain
Keluarga An.B
Pengetahuan :
Keluarga kurang
mengetahui penyakit
pasien
Pelayanan Kesehatan:
Jika sakit An.B berobat ke
puskesmas
Sikap:
Kurang perhatian keluarga
terhadap kesehatan
lingkungan dan kebersihan
penyakit pasien
Lingkungan:
Keluarga kurang memahami
pentingnya kebersihan
lingkungan terhadap kesehatan
pasien
19
2. Denah Rumah
Diagram 4. Denah Rumah Ny. S
Kesimpulan :Lingkungan rumah tidak cukup memenuhi syarat kesehatan
Kamar
tidur 2
Kamar
tidur 1
gudang dapur
8 m
4 m
Ruang tamu
Kamar
tidur 1
20
DAFTAR MASALAH
A. MASALAH MEDIS :
1. Gatal pada sela-sela jari pada kedua tanggan dan perut
B. MASALAH NON MEDIS :
1. Tingkat pengetahuan keluarga Ny. S tentang kesehatan kurang.
2. Kurang memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing anggota keluarga.
3. Kurang memperhatikan kondisi kebersihan diri dan lingkungan masing-masing
anggota keluarga.
C. PERMASALAHAN PASIEN
(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan faktor-
faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)
Diagram 5. Permasalahan An.B
(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan faktor-
faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)
4.4 MATRIKULASI MASALAH
Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks. (Azrul, 1996)
Tabel 5. Matrikulasi masalah
An.B,4 tahun
Dengan tinea kruris +
infeksi sekunder
ektima
Tingkat
pengetahuan
kesehatan kurang
Perhatian terhadap
kondisi kebersihan
keluarga kurang
Perhatian terhadap
kondisi kesehatan
keluarga kurang
21
No
.
Daftar Masalah I T R Jumlah
IxTxRP S SB Mn Mo Ma
1. Tingkat pengetahuan
keluarga An.B tentang
kesehatan kurang
4 5 4 4 5 4 5 32.000
2. Kurang memperhatikan
kondisi kesehatan
masing-masing anggota
keluarga
4 4 3 3 3 4 4 6.912
3. Kurang memperhatikan
kondisi kebersihan
masing-masing anggota
keluarga
4 5 5 3 3 3 5 13.500
Keterangan :
I : Importancy (pentingnya masalah)
P : Prevalence (besarnya masalah)
S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
T : Technology (teknologi yang tersedia)
R : Resources (sumber daya yang tersedia)
Mn : Man (tenaga yang tersedia)
Mo : Money (sarana yang tersedia)
Ma : Material (pentingnya masalah)
Kriteria penilaian :
1 : tidak penting
2 : agak penting
3 : cukup penting
4 : penting
5 : sangat penting
22
D. DIAGNOSIS HOLISTIK
1. Aspek Personal
Keluhan Utama: Gatal pada bagian bokong
Harapan: Pasien dan keluarga berharap agar keluhannya bisa cepat sembuh dan tidak
kambuh lagi.
Kekhawatiran: Pasien dan keluarga takut bertambah para sehingga mengganggu aktifitas
sehari-hari.
2. Aspek Klinis
Tinea kruris dengan sekunder infeksi ektima
3. Aspek Resiko Internal
Pengetahuan tentang sakit yang diderita pasien masih kurang. Pasien mengira penyakit
kulit yang diderita adalah penyakit akibat alergi terhadap makanan.
4. Aspek Resiko Eksternal :
Keluarga tidak memiliki kamar mandi dan jamban dan kondisi rumah yang tidak
memenuhi syarat kesehatan.
5. Aspek Fungsional:
Pasien terganggu aktifitas sehari-hari karna penyakit yang diderita.
E. PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF
1. Promotif :
 Konseling terhadap keluarga agar mengetahui penyakit tinea kruris, perjalanan penyakit
dan komplikasinya.
 Memberitahu orang tua penderita bahwa penyakit jamurnya membutuhkan waktu yang
lama untuk sembuh, sehingga penderita diharapkan patuh berobat.
2. Preventif :
 Perlu dijelaskan agar menjaga kebersihan lingkugan rumah dengan menjemur kasur,
bantal dan guling seminggu sekali.
 Menata dan menjaga kelembapan rumah dan baju yang disimpan.
 Menjaga kebersihan diri dengan mandi minimal 2x sehari dan mengganti baju bila
berkeringat.
3. Kuratif :
 Segera pergi ke puskesmas bila kambuh.
4. Rehabilitatif :
23
Penderita dianjurkan untuk tetap aktif sesuai kemampuan tanpa terganggu dengan sakit yang
diderita
24
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A.Tinea Kruris
3.1 Definisi
Sinonim : Eksema marginatum, Dhobie itch, Jockey itch, Ringworm of the groin. Tinea kruris
adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur dermatofita pada kulit tak berambut, di
daerah genito krusal (lipat paha, genitalia eksterna, sekitar anus dan dapat meluas ke bokong
dan perut bagian bawah).
3.2 Etiologi
Penyebab dari Tinea kruris adalah Trichophyton rubrum dan Epidermophyton floccosum.
Dapat juga disebabkan oleh Trichopyton mentagrophytes dan Trichopyton verrucosum.
Infeksi Tinea kruris dapat disebabkan oleh infeksi langsung (autoinoculation) misalnya
karena penderita sebelumnya menderita Tinea manus, Tinea pedis, atau Tinea unguium.
Dapat juga ditularkan secara tidak langsung, misalnya melalui handuk.
3.3 Epidemiologi
Banyak terjadi pada daerah tropis dan ketika musim panas dimana tingkat kelembapannya
cukup tinggi. Penyakit ini lebih sering mengenai laki-laki, terutama pada individu dengan
obesitas atau pada individu yang sering menggunakan pakaian ketat. Penyakit ini lebih
banyak ditemukan pada orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak.
3.4 Patogenesis
Cara penularan jamur dapat secara langsung maupun tidak langsung. Penularan langsung
dapat secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung jamur baik dari manusia, binatang,
atau tanah. Penularan tidak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur,
pakaian debu. Agen penyebab juga dapat ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian,
handuk atau sprei penderita. Jamur ini menghasilkan keratinase yang mencerna keratin,
sehingga dapat memudahkan invasi ke stratum korneum. Infeksi dimulai dengan kolonisasi
hifa atau cabang-cabangnya didalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim
keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan.
Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit
25
dengan batas yang jelas dan meninggi (ringworm). Reaksi kulit semula berbentuk papula
yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan. Menyebabkan penderita merasa gatal
atau sedikit panas di tempat tersebut akibat timbulnya peradangan dan iritasi. Faktor risiko
infeksi awal atau kekambuhan adalah memakai pakaian ketat atau basah.
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit adalah:
1. Faktor virulensi dari dermatofita
Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik, zoofilik, geofilik.
Selain afinitas ini massing-masing jamur berbeda pula satu dengan yang lain dalam hal
afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian dari tubuh misalnya: Trichopyhton
rubrum jarang menyerang rambut, Epidermophython fluccosum paling sering menyerang
liapt paha bagian dalam.
2. Faktor trauma
Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur.
3. Faktor suhu dan kelembapan
Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada lokalisasi
atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela jari paling sering
terserang penyakit jamur.
4. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan
Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat insiden penyakit
jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah sering ditemukan daripada
golongan ekonomi yang baik
5. Faktor umur dan jenis kelamin
2.5 Tanda dan Gejala Klinis
Secara subyektif, penderita dengan Tinea kruris mengeluh gatal yang kadang-kadang
meningkat waktu berkeringat.
Kelainan kulit yang tampak pada Tinea kruris pada lipat paha merupakan lesi berbatas tegas
yang bilateral pada lipat paha kiri dan kanan, dapat bersifat akut atau menahun. Mula-mula
sebagai bercak eritema yang gatal, lama kelamaan meluas secara sentrifugal dan membentuk
bangun setengah bulan dengan batas tegas, yang dapat meliputi skrotum, pubis, gluteal,
bahkan sampai paha, bokong dan perut bawah. Tepi lesi aktif (peradangan pada tepi lebih
nyata daripada daerah tengahnya), bentuk polimorf, ditutupi skuama dan kadang-kadang
26
dengan banyak papul maupun vesikel di sekelilingnya. Bila penyakit ini menjadi menahun
(kronis), dapat berupa bercak hitam disertai sedikit skuama. Erosi dan ekskoriasi, keluarnya
cairan serum maupun darah, biasanya akibat garukan maupun pengobatan yang diberikan.
Keluhan sering bertambah sewaktu tidur sehingga digaruk-garuk dan timbul erosi dan infeksi
sekunder.
2.6 Diagnosis
Dari anamnesis, gambaran klinis dan lokalisasinya, tidak sulit untuk mendiagnosis Tinea
kruris. Sebagai penunjang diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan sediaan langsung dari
kerokan bagian tepi lesi dengan KOH dan biakan, kadang-kadang diperlukan pemeriksaan
dengan lampu Wood, yang mengeluarkan sinar ultraviolet dengan gelombang 3650 Ao
.
Pemeriksaan sediaan langsung dengan KOH 10-20% positif bila memperlihatkan elemen
jamur berupa hifa panjang dan artrospora.
Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung sediaan
basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan
bahan klinis pada media buatan. Yang dianggap paling baik pada waktu ini adalah medium
agar dekstrosa Sabouraud. Biakan memberikan hasil lebih cukup lengkap, akan tetapi lebih
sulit dikerjakan, lebih mahal biayanya, hasil diperoleh dalam waktu lebih lama dan
sensitivitasnya kurang (± 60%) bila dibandingkan dengan cara pemeriksaan sediaan
langsung.
3.7 Komplikasi
Tinea kruris dapat terinfeksi sekunder oleh candida atau bakteri yang lain. Pada infeksi jamur
yang kronis dapat terjadi likenifikasi dan hiperpigmentasi kulit.
3.8 Diagnosis Banding
1. Kandidiasis inguinalis
Kandidiasis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida.
Kandidosis kadang sulit dibedakan dengan Tinea kruris jika mengenai lipatan paha dan
perianal. Lesi dapat berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah dan berkrusta.
Perbedaannya ialah pada kandidiasis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas tegas
dengan satelit-satelit di sekitarnya. Biasanya kandidiasis dilipat paha mempunyai konfigurasi
27
hen and chicken. Predileksinya juga bukan pada daerah-daerah yang berminyak, tetapi lebih
sering pada daerah yang lembab. Selain itu, pada pemeriksaan dengan larutan KOH 10 %,
terlihat sel ragi, blastospora atau hifa semu.
Pada wanita, ada tidaknya flour albus biasanya dapat membantu diagnosis.
Pada penderita diabetes mellitus, kandidiasis merupakan penyakit yang sering dijumpai.
2. Eritrasma
Eritrasma merupakan penyakit yang sering berlokalisasi di sela paha. Efloresensi yang sama,
yaitu eritema dan skuama, pada seluruh lesi merupakan tanda-tanda khas penyakit ini.
Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan lampu Wood dapat menolong dengan adanya
fluoresensi merah ( red coral ).
3. Psoriasis vulgaris
Psoriasis vulgaris berbeda dengan Tinea kruris karena terdapat kulit mengelupas atau skuama
yang tebal, kasar, dan berlapis-lapis, disertai tanda titisan lilin, Kobner dan Auspitz. Tempat
predileksinya juga berbeda, psoriasis sering terdapat di ekstremitas bagian ekstensor terutama
siku, lutut, kuku dan daerah lumbosakral. Perbedaannya ialah skuamanya lebih tebal dan
putih, seperti kaca. Selain itu, pada pemeriksan histopatologis terdapat papilomatosis.
4. Pitiriasis rosea
Pitiriasis rosea ialah penyakit kulit yang belum diketahui penyebabnya, dimulai dengan lesi
awal berbentuk eritema dan skuama halus. Lesi awal berupa herald patch, umumnya di
badan, soliter, bentuk oval dan terdiri atas eritema serta skuama halus dan tidak berminyak di
pinggir. Lesi berikutnya lebih khas yang dapat dibedakan dengan Tinea kruris, yaitu lesi yang
menyerupai pohon cemara terbalik. Tempat predileksinya juga berbeda, lebih sering pada
badan, lengan atas bagian proksimal dan paha atas, jarang pada kulit kepala
3.9 Penatalaksanaan
Pada umumnya pengobatan untuk infeksi jamur dermatofitosis secara topikal saja cukup,
kecuali untuk lesi-lesi kronik dan luas serta infeksi pada rambut dan kuku yang memerlukan
pula pengobatan sistemik, oleh karena dermatofitosis merupakan penyakit jamur superfisial.2
a. Pengobatan topikal
- Kombinasi asam salisilat (3-6%) dan asam benzoat (6-12%) dalam bentuk
salep ( Salep Whitfield).
28
- Kombinasi asam salisilat dan sulfur presipitatum dalam bentuk salep
(salep 2-4, salep 3-10).
- Derivat azol : ketokonazol, mikonazol 2%, klotrimasol 1%, sangat berguna
terhadap kasus-kasus yang diragukan penyebabnya dermatofita atau
candida.
b. Pengobatan sistemik
- Griseofulvin 500 mg sehari untuk dewasa selama 3 minggu, sedangkan
dosis untuk anak-anak adalah 10-25 mg/kgBB sehari untuk anak antara 15
sampai 25 kg berat badan, sedangkan untuk anak dengan berat badan lebih
dari 25 kg dapat diberikan antara 125/250 mg per hari.
- Ketokonazol 200 mg sehari untuk dewasa atau 3-6 mg/kgBB sehari untuk
anak-anak lebih dari 2 tahun.
- Antibiotika diberikan bila terdapat infeksi sekunder.
Pada kasus yang resisten terhadap griseofulvin, dapat diberikan griseofulvin dengan dosis
yang lebih tinggi dan waktu yang lebih lama atau bisa juga dipertimbangkan penggunaan
derivat azol seperti itrakonazol, flukonazol dll. Selain pengobatan kausatif tersebut, penting
juga diperhatikan pengobatan simtomatik untuk menanggulangi rasa gatal, panas, maupun
nyeri.
3.10 Pencegahan
Beberapa faktor yang memudahkan timbulnya residif pada Tinea kruris dan Tinea corporis
harus dihindari atau dihilangkan antara lain :
a. Temperatur lingkungan yang tinggi, keringat berlebihan, pakaian dari karet atau nilon.
b. Pekerjaan yang banyak berhubungan dengan air misalnya perenang.
c. Kegemukan : selain faktor kelembaban, gesekan yang kronis dan keringat berlebihan
disertai higiene yang kurang, memudahkan timbulnya infeksi.
3.11 Prognosis
Prognosis tergantung penyebab, disiplin pengobatan, status imunologis dan sosial budayanya,
tetapi pada umumnya baik.
29
B.Ektima
3.1 Definisi dan Terminologi
Ektima adalah pioderma kulit ulseratif yang umumnya disebabkan oleh streptokokus beta
hemolitikus. Penyebab lainnya bisa Stafilokokus atau kombinasi dari keduanya. Menyerang
epidermis dan dermis membentuk ulkus dangkal yang ditutupi oleh krusta berlapis, biasanya
terdapat pada tungkai bawah. Ektima memiliki sinonim antara lain Ulcerative pyoderma,
Cutaneous pyoderma, Impetigo, Deep impetigo, Skin streptococci, Grup A beta-hemolitik
streptococci, Ecthymatous ulcer, Group A streptococci.
3.2 Epidemiologi
Insiden ektima di seluruh dunia tepatnya tidak diketahui. Di Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, insidennya menduduki tempat ketiga
dan berhubungan erat dengan keadaan sosial ekonomi. Frekuensi terjadinya ektima
berdasarkan umur biasanya terdapat pada anak-anak dan orang tua, tidak ada perbedaan ras
dan jenis kelamin (pria dan wanita sama). Pada anak-anak kebanyakan terjadi pada umur 6
bulan sampai 18 tahun.
Dari hasil penelitian epidemiologi didapatkan bahwa tingkat kebersihan dari pasien dan
kondisi kehidupan sehari-harinya merupakan penyebab yang paling terpenting untuk
perbedaan angka serangan, beratnya lesi, dan dampak sistemik yang didapatkan pada pasien
ektima.
Ektima merupakan penyakit kulit berupa ulkus yang paling sering terjadi pada orang-
orang yang sering bepergian (traveler). Pada suatu studi kasus di Perancis, ditemukan bahwa
dari 60 orang wisatawan, 35 orang (58%) diantaranya mendapatkan infeksi bakteri, dimana
bakteri terbanyak yang ditemukan yaitu Staphylococcus aureus dan Streptococcus B-
hemolyticus grup A yang merupakan penyebab dari penyakit kulit impetigo dan ektima. Dari
studi kasus ini pula, ditemukan bahwa kebanyakan wisatawan yang datang dengan ektima
memiliki riwayat gigitan serangga (73%). Di daerah perkotaan, lesi-lesi pada ektima
disebabkan stafilokokus aureus dan didapatkan pada pengguna obat-obatan intravena dan
pasien terinfeksi HIV.
3.3 Etiologi
Ektima merupakan pioderma ulseratif pada kulit yang umumnya disebabkan oleh
Streptococcus β-hemolyticus grup A. Status bakteriologi dari ektima pada dasarnya mirip
dengan Impetigo. Keduanya dianggap sebagai infeksi Streptococcus, karena pada banyak
30
kasus didapatkan kultur murni Streptococcus pyogenes. Ini didasarkan pada isolasi
Streptococcus dan Staphylococcus dan dari beberapa Staphylococcus saja.
Streptococcus β-hemolyticus grup A dapat menyebabkan lesi atau menginfeksi secara
sekunder lesi yang sudah ada sebelumnya. Adanya kerusakan jaringan (seperti ekskoriasi,
gigitan serangga, dermatitis) dan keadaan imunokompromis (seperti diabetes dan
neutropenia) merupakan predisposisi pada pasien untuk timbulnya ektima. Faktor-faktor
predisposisi terjadinya ektima antara lain: gizi, hygiene perorangan atau lingkungan, iklim,
underlying disease misalnya diabetes melitus, atopik, trauma dan penyakit kronik.
3.4 Patofisiologi
Staphylococcus aureus merupakan penyebab utama dari infeksi kulit dan sistemik. Seperti
halnya Staphylococcus aureus, Streptococcus sp. Juga terkenal sebagai bakteri patogen untuk
kulit. Streptococcus Grup A, B, C, D, dan G merupakan bakteri patogen yang paling sering
ditemukan pada manusia. Kandungan M-protein pada bakteri ini menyebabkan bakteri ini
resisten terhadap fagositosis.
Staphylococcus aureus dan Staphylococcus pyogenes menghasilkan beberapa
toksin yang dapat menyebabkan kerusakan lokal atau gejala sistemik. Gejala sistemik dan
lokal dimediasi oleh superantigens (SA). Antigen ini bekerja dengan cara berikatan
langsung pada molekul HLA-DR (Mayor Histocompability Complex II (MHC II)) pada
antigen-presenting cell tanpa adanya proses antigen. Walaupun biasanya antigen
konvensional memerlukan interaksi dengan kelima elemen dari kompleks reseptor sel T,
superantigen hanya memerlukan interaksi dengan variabel dari pita B. Aktivasi non spesifik
dari sel T menyebabkan pelepasan masif Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α), Interleukin-1
(IL-1), dan Interleukin-6 (IL-6) dari makrofag. Sitokin ini menyebabkan gejala klinis berupa
demam, ruam erythematous, hipotensi, dan cedera jaringan.
Faktor host seperti immunosuppresi, terapi glukokortikoid, dan atopic memainkan
peranan penting dalam pathogenesis dari infeksi Staphylococcus. Adanya trauma ataupun
inflamasi dari jaringan (luka bedah, luka bakar, trauma, dermatitis, benda asing) juga menjadi
faktor yang berpengaruh pada pathogenesis dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini.
3.5 Gambaran Klinis
Penyakit ini dimulai dengan suatu vesikel atau pustul di atas kulit yang eritematosa,
membesar dan pecah (diameter 0,5 – 3 cm) dan beberapa hari kemudian terbentuk krusta
tebal dan kering yang sukar dilepas dari dasarnya. Biasanya terdapat kurang lebih 10 lesi
31
yang muncul. Bila krusta terlepas, tertinggal ulkus superficial dengan gambaran “punched out
appearance” atau berbentuk cawan dengan dasar merah dan tepi meninggi. Lesi cenderung
menjadi sembuh setelah beberapa minggu dan meninggalkan sikatriks. Biasanya lesi dapat
ditemukan pada daerah ekstremitas bawah, wajah dan ketiak.
Gambar 1. Lesi tipikal ektima pada ektremitas bawah
Gambar 2. Tahapan ektima. Lesi dimulai sebagai sebuah pustule yang kemudian pecah
membentuk ulkus.
Gambar 3. Ektima. Ulkus dengan krusta tebal pada tungkai pasien yang menderita diabetes
dan gagal ginjal
32
Gambar 4. Ektima pada aksila
3.6 Diagnosis
3.6.1 Anamnesis
Pasien biasanya datang dengan keluhan luka pada anggota gerak bawah. Pasien biasanya
menderita diabetes dan orang tua yang tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
Anamnesis ektima, antara lain:
1. Keluhan utama. Pasien datang dengan keluhan berupa luka.
2. Durasi. Ektima dapat terjadi dalam waktu yang lama akibat trauma berulang, seperti gigitan
serangga.
3. Lokasi. Ektima terjadi pada lokasi yang relatif sering trauma berulang, seperti tungkai bawah.
4. Perkembangan lesi. Awalnya lesi berupa pustul kemudian pecah membentuk ulkus yang tertutupi
krusta
5. Riwayat penyakit sebelumnya. Misalnya, Diabetes melitus dapat menyebabkan penyembuhan
luka yang lama.
3.6.2 Pemeriksaan Fisis
Effloresensi ektima awalnya berupa pustul kemudian pecah membentuk ulkus yang tertutupi
krusta.
Gambar 5. Krusta coklat berlapis lapis pada ektima
33
Gambar 6. Pada Lesi ektima yang diangkat krustanya akan terlihat ulkus yang dangkal
3.6.3 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan gram dan kultur. Bahan
untuk pemeriksaan bakteri sebaiknya diambil dengan mengerok tepi lesi yang aktif.
Pemeriksaan dengan gram merupakan prosedur yang paling bermanfaat dalam mikrobilologi
diagnostik ketika dicurigai adanya infeksi bakteri. Sebagian besar bahan yang diserahkan
harus diapus pada gelas objek, diwarnai gram dan diperiksa secara mikroskopik.
Pada pemeriksaan mikroskopik, reaksi gram (biru-keunguan menunjukkan organisme
gram positif, merah gram negatif), dan morfologi bakteri (bentuk: kokus, batang, fusiform
atau yang lain) harus diperhatikan. Pada kultur atau biakan, kebanyakan streptokokus tumbuh
dalam pembenihan padat sebagai koloni discoid dengan diameter 1-2 mm. Strain yang
menghasilkan bahan simpai sering membentuk koloni mukoid.
Gambaran histopatologi didapatkan peradangan dalam yang diinfeksi kokus, dengan
infiltrasi PMN dan pembentukan abses mulai dari folikel pilosebasea. Pada dermis, ujung
pembuluh darah melebar dan terdapat sebukan sel PMN. Infiltrasi granulomatous
perivaskuler yang dalam dan superficial terjadi dengan edema endotel. Krusta yang berat
menutupi permukaan dari ulkus pada ektima.
Gambar 7. Pioderma
Neutrofil tersebar pada dasar ulserasi. (Seperti yang ditunjukkan oleh tanda panah)
3.7 Diagnosis Banding
Diagnosis banding ektima, antara lain:
34
1. Folikulitis, didiagnosis banding dengan ektima sebab predileksi biasanya di tungkai bawah dengan
kelainan berupa papul atau pustul yang eritematosa. Perbedaannya, pada folikulitis, di tengah
papul atau pustul terdapat rambut dan biasanya multiple.
Gambar 8. Folikulitis superfisialis. Pustul multiple terlihat pada daerah jenggot.
2. Impetigo krustosa, didiagnosa banding dengan ektima karena memberikan gambaran Effloresensi
yang hampir sama berupa lesi yang ditutupi krusta. Bedanya, pada impetigo krustosa lesi biasanya
lebih dangkal, krustanya lebih mudah diangkat, dan tempat predileksinya biasanya pada wajah dan
punggung serta terdapat pada anak-anak sedangkan pada ektima lesi biasanya lebih dalam berupa
ulkus, krustanya lebih sulit diangkat dan tempat predileksinya biasanya pada tungkai bawah serta
bisa terdapat pada usia dewasa muda.
Gambar 9. Impetigo. Eritema dan krusta pada seluruh daerah centrofacial
35
Gambar 10. Impetigo. Terlihat erosi, krusta, dan blister ruptur
3.8 Komplikasi
Ektima jarang menyebabkan gejala sistemik. Komplikasi invasif pada infeksi kulit
streptokokus termasuk selulitis, erysipelas, gangren, limfadenitis supuratif dan bakterimia.
Komplikasi non supuratif infeksi kulit streptokokus misalnya Scarlet Fever dan
Glomerulonefritis akut. Pemberian terapi antibiotik cepat tidak menunjukkan pengurangan
angka kejadian glomerulonefritis post streptokokus. Akibat sekunder dari pioderma S. Aureus
yang tidak diterapi termasuk celulitis, limfangitis, osteomielitis dan endokarditis infeksi akut.
Beberapa strain S. Aureus menghasilkan eksotoksin yang dapat menyebabkan staphylococcal
scalded skin syndrome dan toxic shock syndrome.
3.9 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ektima, antara lain:
1. Nonfarmakologi
Pengobatan ektima tanpa obat dapat berupa mandi menggunakan sabun antibakteri dan
sering mengganti seprei, handuk, dan pakaian.
2. Farmakologi
Pengobatan farmakologi bertujuan mengurangi morbiditas dan mencegah komplikasi
a. Sistemik
Pengobatan sistemik digunakan jika infeksinya luas. Pengobatan sistemik dibagi
menjadi pengoatan lini pertama dan pengobatan lini kedua.
1) Pengobatan lini pertama (golongan Penisilin)
- Dikloksasilin. Dewasa: Dikloksasilin 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari. Anak : 5 -
15 mg/kgBB/dosis, 3 - 4 kali/hari.
- Amoksisilin + Asam klavulanat 3 x 25 mg/kgBB
36
- Sefalosporin generasi pertama, seperti Sefaleksin 40 - 50 mg/kgBB/hari selama 10 hari
atau sefadroksil 2 x 10-15 mg/kgBB selama 5-7 hari
2) Pengobatan lini kedua (golongan Makrolid)
- Azitromisin 1 x 500 mg, kemudian 1 x 250 mg selama 4 hari
- Klindamisin 15 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 10 hari
- Dewasa: Eritomisin 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari. Anak : 12,5 - 50
mg/kgBB/dosis, 4 kali/hari.
b. Topikal
Pengobatan topikal digunakan jika infeksi terlokalisir, tetapi jika luas maka digunakan
pengobatan sistemik. Neomisin, Asam fusidat 2%, Mupirosin, dan Basitrasin merupakan
antibiotik yang dapat digunakan secara topical.
Neomisin merupakan obat topikal yang stabil dan efektif yang tidak digunakan secara
sistemik, yang menyebabkan reaksi kulit minimal, dan memiliki angka resistensi bakteri yang
rendah sehingga menjadi terapi antibiotik lokal yang valid. Neomisin dapat larut dalam air
dan memiliki kestabilan terhadap perubahan suhu. Neomisin memiliki efek bakterisidal
secara in vitro yang bekerja spektrum luas gram negatif dan gram positif. Efek samping
neomisin berupa kerusakan ginjal dan ketulian timbul pada pemberian secara parenteral
sehingga saat ini penggunaannya secara topical dan oral.
3. Edukasi
Memberi pengertian kepada pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan badan dan
lingkungan untuk mencegah timbulnya dan penularan penyakit kulit.
3.10 Prognosis
Ektima sembuh secara perlahan, tetapi biasanya meninggalkan jaringan parut (skar).
37
BAB IV
PENUTUP
IV.1 KESIMPULAN
Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosa tinea kruris dengan
infeksi sekunder ektima. Penatalaksaan pada pasien tersebut berupa pemberian medikamentosa
oral dan topikal.
Tinea kruris adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur dermatofita
pada kulit tak berambut, di daerah genito krusal (lipat paha, genitalia eksterna, sekitar
anus dan dapat meluas ke bokong dan perut bagian bawah).
Penyebab dari Tinea kruris adalah Trichophyton rubrum dan Epidermophyton
floccosum. Dapat juga disebabkan oleh Trichopyton mentagrophytes dan Trichopyton
verrucosum. Infeksi Tinea kruris dapat disebabkan oleh infeksi langsung
(autoinoculation) misalnya karena penderita sebelumnya menderita Tinea manus, Tinea
pedis, atau Tinea unguium. Dapat juga ditularkan secara tidak langsung, misalnya
melalui handuk.
Banyak terjadi pada daerah tropis dan ketika musim panas dimana tingkat
kelembapannya cukup tinggi. Penyakit ini lebih sering mengenai laki-laki, terutama
pada individu dengan obesitas atau pada individu yang sering menggunakan pakaian
ketat. Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada orang dewasa dibandingkan dengan
anak-anak.
IV.2 SARAN
Pemberian KIE kepada masyarakat awam mengenai Tinea kruris dan
penanganannya perlu dilakukan untuk menghindarkan terjadinya komplikasi dan
infeksi sekunder yang lebih parah.
38
DAFTAR PUSTAKA
Adiguna MS, Rusyati LM. Recent Treatment of Dermatomycosis. In: Kumpulan Makalah
Lengkap Peningkatan Profesionalisme di Bidang Infeksi Kulit dan Kelamin Serta
Pemakaian Anti Mikrobial yang Bijak. Denpasar: Bag/SMF Ilmu Kesehatan Kulit
& Kelamin FK UNUD/RS Sanglah, Bagian Mikrobiologi Klinik FK UNUD/RS
Sanglah 2011. p. 37-38.
Budimulja U. Mikosis. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S (editor). Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin.. 6th
ed. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI 2010. p. 94-105.
Djuanda Adhi, Pioderma, Dalam: Djuanda Adhi,eds. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Edisi 5. Jakarta: FK UI; 2008. p. 57-60.
Gupta AK, Chaudhry M, Elewski B. Tinea Corporis, Tinea Cruris, Tinea Nigra, and Piedra.
Dermatologic Clinics 2003; vol (21). p. 395-400.
Kuswadji. Kandidosis. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S (editor). Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. 6th
ed. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI 2010. p. 106-109.
Siregar R.S,ed. Pioderma, Dalam: Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC;
2002. p. 61-2.
Verma S, Hefferman MP. Tinea Cruris. In: Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine.
Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ (editor). 7th
ed. New York: McGraw-Hill 2008. p. 1807-1821.

Tinea kruris zilla

  • 1.
    1 BAB I PENDAHULUAN Dermatofitosis adalahpenyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur dermatofita (Trichophyton spp, Microsporum spp, dan Epidermophyton spp). Ketiga genus jamur ini bersifat mencerna keratin atau zat tanduk yang merupakan jaringan mati dalam epidermis (Tinea corporis, Tinea kruris, Tinea manus et pedis), rambut (Tinea kapitis), kuku (Tinea unguinum).1 Oleh karena satu spesies dermatofita dapat menyebabkan kelainan yang berbeda-beda pada satu individu tergantung dari bagian tubuh yang dikenai, dan sebaliknya berbagai jenis dermatofita dapat menyebabkan kelainan yang secara klinis sama apabila mengenai bagian tubuh yang sama, maka dari itu klasifikasi dermatofitosis lebih didasarkan pada regio anatomis yang terkena dari jamur penyebabnya, walaupun sebenarnya pendekatan kausatif lebih rasional. Hanya sebagian kecil golongan jamur yang dapat menimbulkan penyakit, dan sebagian besar lainnya tidak bersifat patogen, namun dapat menjadi patogen apabila terdapat faktor-faktor predisposisi tertentu baik fisiologis maupun patologis. Faktor-faktor predisposisi fisologis meliputi kehamilan dan umur, sedangkan yang termasuk faktor predisposisi patologis adalah keadaan umum yang jelek, penyakit tertentu, iritasi setempat, dan pemakaian obat-obat tertentu seperti antibiotika, kortikosteroid dan sitostatik.
  • 2.
    2 Klinik Dokter KeluargaFK UNISMA No. RM : Berkas Pembinaan Keluarga Nama pasien : An.F PKM Wajak Nama KK : Tn. Y KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA Nama Kepala Keluarga : Tn. Y Alamat lengkap : Jalan Brantas, Tempehan Bentuk Keluarga : Extended Family No Nama Status L/ P Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien PKM Ket 1 Tn. Y Suami (KK) L 41Th SD Buruh Petani T - 2 Ny. S Istri P 35 Th SD Ibu Rumah Tangga T - 3 Ny.P Ibu Istri P 70th SD - T - 3 Nn.Y Anak P 15 Th SMP Pelajar T - 4 An. B Anak L 4th - - Y Tinea Kruris dengan infeksi sekunder ektima Sumber : Data Primer, november 2014 Kesimpulan : Keluarga pasien merupakan Extended family yang terdiri atas 5 orang. Pasien adalah An.B, 4 tahun, beralamat di Jalan Brantas, Tempehan. Diagnosa klinis pasien adalah Tinea Kruris dengan infeksi sekunder ektima. Pasien tinggal bersama dengan Ayah yaitu (Tn.Y, 50 th), ibu yaitu (Ny.S, 35th), nenek yaitu (Ny.P,70th), kakak yaitu (Nn.Y 15 th). Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal Dalam Satu Rumah
  • 3.
    3 BAB II STATUS PASIEN 2.1ANAMNESIS 2.1.1 Identitas Pasien Nama : An. B Umur : 4 tahun Jenis Kelamin : Laki - Laki Pekerjaan : Belum Pendidikan : Belum Sekolah Agama : Islam Alamat : Jalan Brantas,Tempehan Status Perkawinan : BelumMenikah Suku : Jawa Tanggal Periksa : November 2014 2.1.2 Keluhan utama : Gatal pada Bagian bokong. 2.1.3 Riwayat penyakit sekarang : Penderita datang ke Balai Pengobatan PKM Wajak dengan keluhan gatal pada bagian bokong dan punggung belakang yang dialami sejak ± 1 bulan yang lalu, gatal terutama di rasakan pada siang hari terutama saat berkeringat, awalnya muncul kemerahan pada kulit awalnya hanya dibagian lipatan bokong sebelah kanan kemudian bertambah meluas hingga kedua bokong dan semakin menyebar, kemerahan tersebut terasa gatal sering di garuk oleh pasien dan akhirnya dalam 1 minggu ini timbul luka nanah diatas kulit yang merah, dan meninggalkan bekas kehitaman, pasien belum pernah mengobainya ataupun ke dokter untuk mengobatinya, pasien hanya diberi minyak tawon oleh ibu untuk mengurangi gatal. 2.1.4 Riwayat penyakit Dahulu - Riwayat sakit serupa : Pasien belum pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya - Riwayat alergi makanan dan obat : disangkal - Riwayat cacar air : disangkal
  • 4.
    4 2.1.5 Riwayat PenyakitKeluarga - Riwayat keluarga sakit serupa : tidak didapatkan - Riwayat alergi : disangkal 2.1.6 Riwayat kebiasaan - Sehari – hari kegiatannya bermain di lingkungan rumah dan menonton televisi. Dalam satu hari pasien hanya mandi satu kali saat siang hari karena saat musim hujan rumah sering banjir dan sungai tempat mandi terkadang keruh, sehingga ibunya hanya mengajak mandi satu kali sehari. - Pasien juga ganti baju dalam sehari hanya satu kali. 2.1.7 Riwayat sosial ekonomi Penghasilan keluarga relatif cukup. Penghasilan didapat dari suami yang bekerja sebagai buruh tani, kadang istri dan anak perempuan Tn.Y membantu tetangga masak supaya mendapat tambahan uang. Keluarga An.B memiliki hubungan sosial dengan tetangga yang cukup baik. Pasien adalah seorang anak laki – laki usia 4 tahun. Pasien anak dari seorang buruh tani. Saat ini pasien tinggal di rumah dengan ayah, ibu, nenek dan kakak perempuannya. Saat ini kebutuhan sehari-hari penderita ditanggung oleh ayahnya. Hubungan An.B dan keluarga nampak saling mendukung, karena pasien tampak menemani ibu dan nenek saat pasien berobat di Puskesmas wajak. Kesan riwayat psiko sosio ekonomi cukup namun kurang memperhatikan kondisi kebersihan dan kesehatan. 2.1.8 Riwayat Gizi : Pasien makan sehari-hari biasanya 2 - 3 kali/hari. Berupa nasi sepiring, sayur, dan lauk pauk. Lauk pauk dengan, tahu, tempe. Pasien jarang makan buah - buahan. Minum air putih ± 5 gelas setiap harinya. 2.1.9 Anamnesis Sistem 1. Kulit :Warna kulit sawo matang, bintil-bintil (-), gatal (+), luka (+) nanah (+) di daerah bokong. 2. Kepala :Sakit kepala (-), pusing (-), rambut kepala tidak rontok, luka pada kepala (-), benjolan/borok di kepala (-) 3. Mata :Pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan kabur (-), ketajaman baik
  • 5.
    5 4. Hidung :Tersumbat(-), mimisan (-) 5. Telinga :Pendengaran berkurang (-), berdengung (-), keluar cairan (-) 6. Mulut :Sariawan (-), mulut kering (-), 7. Tenggorokan :Sakit menelan (-), serak (-) 8. Pernafasan :Sesak nafas (-), mengi (-) 9. Kardiovaskuler :Berdebar-debar (-), nyeri dada (-), ampeg (-) 10. Gastrointestinal :Mual (-), muntah (-), diare (-), nafsu makan menurun (-), nyeri perut (-) 11. Genitourinaria :BAK lancar, 4-6 kali/hari warna dan jumlah biasa 12. Neuropsikiatri i. Neurologik :Kejang (-), lumpuh (-) ii. Psikiatrik :Emosi stabil, mudah marah (-) 13. Muskuloskeletal : Kaku sendi (-), nyeri tangan (-), nyeri kaki (-), nyeri otot (-) 14. Ekstremitas 1. Atas sebelah kiri :Bengkak (-), luka (-), nyeri (-) 2. Atas sebelah kanan :Bengkak (-), luka (-), nyeri (-) 3. Bawah sebelah kiri :Bengkak (-), luka (-), nyeri (-) 4. Bawah sebelah kanan :Bengkak (-), luka (-), nyeri (-) 2.2 PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum : kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), status gizi kesan lebih Tanda vital T : 100/80 mmHg Nadi : 88 x/menit, regular, isi tegangan cukup RR : 20 x/ menit, kedalaman cukup, reguler Suhu : 36,2 0 C peraksila BB : 15 kg TB : 98 cm 1. Kulit a. Warna : Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-) b. Status Dermatologis Lokasi : Regio Genito Crural Anterior Dextra Sinistra Efloresensi :
  • 6.
    6 Tampak plak berwarnaputih keabuan dengan dasar eritema dan terdapat skuama, berbentuk anular, serta berbatas tegas. Tepi lesi aktif dengan gambaran central healing. Konfigurasi lesi pada regio genito crural dextra polisiklik, sedangkan pada regio sinistra konfigurasinya geografika. Distribusi pada regio genito crural anterior dan meluas ke daerah perineum dan punggung. Tampak pustul, batas tegas, multipel, dengan ukuran bervariasi antara 0,1 cm- 0.3 cm, tersebar. Beberapa pustul pecah meninggalkan ulkus berbentuk bulat, berbatas tegas, berdinding landai, dasar tampak kotor, pinggiran ulkus meninggi, multipel, ukuran bervariasi antara 0.2x0.3x0.1 cm hingga 0.5x0.5x0.1 cm, daerah sekitar ulkur hiperpigmentasi, tertutup krusta berwarna coklat kehitaman 2. Kepala : Bentuk mesocephal, tidak ada luka, rambut tidak mudah dicabut, atrofi m. Temporalis (-), makula (-), papula (-), nodula (-), kelainan mimik wajah/bells palsy (-) 3. Mata : Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (3mm/3mm), reflek kornea (+/+), warna kelopak (coklat kehitaman), katarak (-/-), radang/conjunctivitis/uveitis (-/-) 4. Hidung : Nafas cuping hidung (-), sekret (-),epistaksis(-), deformitas hidung (-), hiperpigmentasi (-), sadle nose (-) 5. Mulut : Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi lidah hiperemis (-), tremor (-) 6. Telinga : Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping telinga dalam batas normal 7. Tenggorokan : Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-) 8. Leher : JVP (5+2) cmH2O tidak meningkat, trakea ditengah, pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-) 9. Thoraks Simetris, retraksi interkostal (-), retraksi subkostal (-) a. Cor : I : Ictus cordis tak tampak P : Ictus cordis tak kuat angkat P : Batas kiri atas : SIC II Linea parasternalis Sinistra Batas kiri bawah : SIC IV Linea Mid clavicularis sinistra Batas kanan atas : SIC II Linea parasternalis Dextra
  • 7.
    7 Batas kanan bawah: SIC IV Linea parasternalis Dextra Batas jantung kesan tidak melebar A: BJ I–II intensitas normal, regular, bising (-) b. Pulmo : Statis (depan dan belakang) I : Pengembangan dada kanan = kiri P : Fremitus raba kanan = kiri P : Sonor / sonor A: Suara dasar vesikuler (+ /+) suara tambahan RBK (-/-), wheezing (-/-) Dinamis (depan dan belakang) I : Pergerakan dada kanan = kiri P : Fremitus raba kanan = kiri P : Sonor / sonor A: Suara dasar vesikuler (+/+) Suara tambahan RBK (-/-), wheezing (-/-) 10. Abdomen I :Dinding perut sejajar dengan dinding dada, venektasi (-) P :Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba P :Timpani A :Peristaltik (+) normal 11. Sistem Collumna Vertebralis I :Deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-) P :Nyeri tekan (-) P :NKCV (-/-) 12. Ektremitas: palmar eritema(-/-) akral dingin oedem - - - - - - - - 13. Sistem genetalia: Dalam batas normal 14. Pemeriksaan Neurologik Fungsi Luhur : Dalam batas normal Fungsi Vegetatif : Dalam batas normal Fungsi Sensorik : Dalam batas normal
  • 8.
    8 Fungsi motorik : K5 5 T N N RF 2 2 RP - - 5 5 N N 2 2 - - 15. Pemeriksaan Psikiatrik Penampilan : Sesuai umur, perawatan diri cukup Kesadaran : Kualitatif tidak berubah; kuantitatif compos mentis Afek : Appropriate Psikomotor : Normoaktif Proses pikir : Bentuk:realistik Isi : waham (-), halusinasi (-), ilusi (-) Arus : koheren Insight : Baik 2.3 RESUME Pasien adalah An.B, 4 tahun. Penderita datang ke Balai Pengobatan PKM Wajak diantar ibunya dengan keluhan gatal pada bagian bokong dan punggung belakang yang dialami sejak ± 1 bulan yang lalu, gatal terutama di rasakan pada siang hari terutama saat berkeringat, awalnya muncul kemerahan pada kulit awalnya hanya dibagian lipatan bokong sebelah kanan kemudian bertambah meluas hingga kedua bokong dan semakin menyebar, kemerahan tersebut terasa gatal sering di garuk oleh pasien dan akhirnya dalam 1 minggu ini timbul luka nanah diatas kulit yang merah, dan meninggalkan bekas kehitaman, pasien belum pernah mengobainya ataupun ke dokter untuk mengobatinya, pasien hanya diberi minyak tawon oleh ibu untuk mengurangi gatal. Sehari – hari kegiatannya bermain di lingkungan rumah dan menonton televisi. Dalam satu hari pasien hanya mandi satu kali saat siang hari karena saat musim hujan rumah sering banjir dan sungai tempat mandi terkadang keruh, sehingga ibunya hanya mengajak mandi satu kali sehari. Pasien juga ganti baju dalam sehari hanya satu kali.
  • 9.
    9 Pemeriksaan fisik didapatkanpada status lokalis: Regio Genito Crural Anterior Dextra Sinistra. Efloresensi : Tampak plak berwarna putih keabuan dengan dasar eritema dan terdapat skuama, berbentuk anular, serta berbatas tegas. Tepi lesi aktif dengan gambaran central healing. Konfigurasi lesi pada regio genito crural dextra polisiklik, sedangkan pada regio sinistra konfigurasinya geografika. Distribusi pada regio genito crural anterior dan meluas ke daerah perineum dan punggung. Tampak pustul, batas tegas, multipel, dengan ukuran bervariasi antara 0,1 cm- 0.3 cm, tersebar. Beberapa pustul pecah meninggalkan ulkus berbentuk bulat, berbatas tegas, berdinding landai, dasar tampak kotor, pinggiran ulkus meninggi, multipel, ukuran bervariasi antara 0.2x0.3x0.1 cm hingga 0.5x0.5x0.1 cm, daerah sekitar ulkur hiperpigmentasi, tertutup krusta berwarna coklat kehitaman. 2.4 PENATALAKSANAAN 2.4.1 Non Medika mentosa  Penderita memakai pakaian tipis yang longgar dan mudah menyerap keringat.  Pakaian yang telah dipakai langsung dicuci, tidak dipakai berkali-kali  Jika berkeringat, sebaiknya penderita berganti pakaian. Pakaian yang dipakai hendaknya pakaian yang betul-betul telah kering setelah dicuci dan dijemur.  Masing-masing anggota keluarga hendaknya memakai handuk sendiri-sendiri dan handuk yang dipakai hendaknya sering dicuci.  Kepada orang tua pasien agar memperhatikan pasien untuk tidak menggaruk atau memencet lesi.  Mengompres terlebih dahulu lesi pasien dengan gaas yang telah dibasahi dengan NaCl sehingga krusta terangkat baru kemudian diolesi dengan salep.  Untuk menjaga kebersihan diri, pakaian dan lingkungan.  Memberitahu orang tua penderita bahwa penyakit jamurnya membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh, sehingga penderita diharapkan patuh berobat.  Kontrol kembali ke poliklinik 1 minggu lagi. 2.4.2 Medikamentosa  Cream : Ketokonazol 2% 2 x sehari (pagi dan sore)  Amoksisilin 3 x 25 mg/kgBB
  • 10.
    10 IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSIKELUARGA A. FUNGSI HOLISTIK 1. Fungsi Biologis Keluarga pasien merupakan Extended family yang terdiri atas 5 orang. Pasien adalah An.B, 4 tahun, beralamat di Jalan Brantas, Tempehan. Diagnosa klinis pasien adalah Tinea Kruris dengan infeksi sekunder ektima. Pasien tinggal bersama dengan Ayah yaitu (Tn.Y, 50 th), ibu yaitu (Ny.S, 35th), nenek yaitu (Ny.P,70th), kakak yaitu (Nn.Y 15 th). Keluarga pasien menyangka bahwa sakit An.B adalah karena alergi suatu makanan. 2. Fungsi Psikologis Penderita tinggal bersama orang tua, kakak perempuan dan neneknya di rumah. Hubungan An.B dan keluarga cukup terjalin dengan baik dan saling memperhatikan. Hubungan An.B dan keluarga nampak saling mendukung, karena pasien tampak menemani ibu dan nenek saat pasien berobat di Puskesmas wajak.. Hubungan antar anggota keluarga terkesan baik, saling mendukung tetapi kurang saling memperhatikan kondisi kesehatan dan kebersihan. 3. Fungsi Sosial Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga An. B hanya sebagai anggota masyarakat biasa, tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat. Dalam kehidupan sosial An. B dan Keluarganya berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. 4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan Penghasilan keluarga relatif cukup. Penghasilan didapat dari suami, sebagai buruh tani. Terkadang istri dan anak perempuannya bekerja memabntu masak di tetangga. Kesimpulan : Dari poin satu sampai empat dari fungsi holistik keluarga kesimpulannya adalah Keluarga An. B usia 4 tahun dengan tinea kruris dengan sekunder infeksi ektima, fungsi psikologis dan fungsi sosial ekonomi cukup baik. B. FUNGSI FISIOLOGIS Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota keluarga yang lain. APGAR score meliputi :
  • 11.
    11 1. Adaptasi Kemampuan anggotakeluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang lain. 2. Partnership Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut. 3. Growth Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan anggota keluarga tersebut. 4. Affection Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga. 5. Resolve Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain. Terdapat tiga kategori penilaian yaitu: nilai rata-rata ≤ 5 kurang, 6-7 cukup dan 8-10 adalah baik. Tabel 1. APGAR score Tn.Y = APGAR Ny.S Terhadap Keluarga Sering/ Selalu Kadang- kadang Jarang/ Tidak A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah  P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya  G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru  A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan 
  • 12.
    12 R Saya puasdengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama  Total poin = 10 poin Tabel 2. APGAR score Ny.S APGAR Tn.Y Terhadap Keluarga Sering/ Selalu Kadang -kadang Jarang /tidak A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah.  P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya.  G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru.  A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll  R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama  Total poin = 9 Tabel 3. APGAR score Ny.P APGAR Tn.Y Terhadap Keluarga Sering/ Selalu Kadang -kadang Jarang /tidak A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah. 
  • 13.
    13 P Saya puasdengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya.  G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru.  A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll  R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama  Total poin = 9 Tabel 4. APGAR score Nn.Y= APGAR Nn.Y Terhadap Keluarga Sering/ Selalu Kadang -kadang Jarang /tidak A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah.  P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya.  G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru.  A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll  R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama 
  • 14.
    14 Total poin =9 Tabel 5. APGAR score An.B = APGAR An.B Terhadap Keluarga Sering/ Selalu Kadang -kadang Jarang /tidak A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah.  P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya.  G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru.  A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll  R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama  Total poin = 8 A.P.G.A.R SCORE keluarga pasien = (10+9+9+9+8) /5= 9 Kesimpulan : fungsi fisiologis keluarga pasien baik Secara keseluruhan total poin dari A.P.G.A.R keluarga pasien adalah 45, sehingga rata-rata A.P.G.A.R dari keluarga pasien adalah 9. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga pasien dalam keadaan sedang. C. FUNGSI PATOLOGIS Fungsi patologis dari keluarga An.B dinilai dengan menggunakan alat S.C.R.E.E.M sebagai berikut : Tabel 6. SCREEM keluarga pasien SUMBER PATOLOGIS KET
  • 15.
    15 Social Ikut berpartisipasidalam kegiatan di lingkungannya - Culture Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, dapat dilihat pada pergaulan mereka yang masih menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. - Religious Pemahaman terhadap ajaran agama cukup, demikian juga dalam ketaatannya dalam beribadah. - Economic Penghasilan keluarga yang relatif stabil - Educational Tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga ini kurang. + Medical Keluarga ini cukup mampu membiayai pelayanan kesehatan, sehingga jika ada anggota keluarga yang sakit akan segera dibawa ke tenaga medis setempat. - Kesimpulan Keluarga An.B mempunyai fungsi patologis dalam hal educational. Pasien tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan yang cukup. D. GENOGRAM KELUARGA Alamat lengkap : Desa Wonokerto Rt.17 Rw.04. Bentuk Keluarga : Extended Family Diagram 1. Genogram Keluarga Ny.S Sumber : Data Primer, November 2014 Kesimpulan : Dari genogram di atas dapat disimpulkan bahwa tinea kruris dengan infeksi sekunder ektima yang diderita oleh An.B bukan merupakan penyakit yang ditularkan dari anggota keluarga yang lain. Ny.P Ny.PTn.R Tn.Y Ny.S Nn.Y An. B Tn.J
  • 16.
    16 A. Informasi PolaInteraksi Keluarga Diagram 2. Pola Interaksi Keluarga Tn.K Sumber : Data Primer, November 2014 Keterangan : hubungan baik Hubungan kurang baik Kesimpulan : Hubungan antara Tn.Y, Ny. S,Ny.P, Nn. Y dan An. B baik. Secara umum dalam keluarga ini tidak pernah terjadi konflik atau hubungan buruk antar anggota keluarga. Tn.Y Ny.S Nn.Y Ny.P An.B
  • 17.
    17 IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANGMEMPENGARUHI KESEHATAN A. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga 1. Faktor Perilaku Keluarga Pasien adalah An.B, 4 tahun. Penderita datang ke Balai Pengobatan PKM Wajak diantar ibunya dengan keluhan gatal pada bagian bokong dan punggung belakang yang dialami sejak ± 1 bulan yang lalu, gatal terutama di rasakan pada siang hari terutama saat berkeringat, awalnya muncul kemerahan pada kulit awalnya hanya dibagian lipatan bokong sebelah kanan kemudian bertambah meluas hingga kedua bokong dan semakin menyebar, kemerahan tersebut terasa gatal sering di garuk oleh pasien dan akhirnya dalam 1 minggu ini timbul luka nanah diatas kulit yang merah, dan meninggalkan bekas kehitaman, pasien belum pernah mengobainya ataupun ke dokter untuk mengobatinya, pasien hanya diberi minyak tawon oleh ibu untuk mengurangi gatal. Keluarga An.B belum banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan khususnya komplikasi dari tinea kruris dengan infeksi sekunder ektima. Saat sakit keluarga An.B cukup memperhatikan penderita bahkan peduli dan mengantarkan untuk berobat ke tempat pelayanan kesehatan yang dekat dari rumah mereka. 2. Faktor Non Perilaku Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga reatif cukup. Sumber penghasilan berasal dari suami, sebagai buruh tani. Rumah yang dihuni keluarga ini kurang memadai, karena tidak cukup memenuhi standar kesehatan. Pencahayaan ruangan cukup, ventilasi sangat kurang terutama untuk dikamar, fasilitas WC dan kamar mandi yang tidak memadai karena keluarga ini menggunakan sungai sebbagai sumber air bersih. Dapur memiliki akses udara yang bebas dan pencahayaannya cukup. Fasilitas kesehatan yang sering dikunjungi oleh keluarga ini jika sakit adalah puskesmas, karena dekat dengan tempat tinggal pasien.
  • 18.
    18 Diagram 3. FaktorPerilaku dan Non Perilaku : Faktor Perilaku : Faktor Non Perilaku B. Identifikasi Lingkungan Rumah 1. Gambaran Lingkungan Keluarga ini tinggal di sebuah rumah yang berdempetan dengan rumah tetangganya. Tidak memiliki pekarangan rumah dan tanpa pagar pembatas. Dinding rumah sudah permanen dari batu bata, disemen dan di cat. Rumah Terdiri ruang tamu yang berhubungan langsung dengan dua tempat tidur, terdapat satu dapur, satu ruangan kamar tidur,satu ruangan gudang kecil. Pintu masuk dan keluar ada satu, di bagian depan rumah. Jendela kaca ada. Lantai rumah sudah memakai plester. Ventilasi kurang memadai dan penerangan rumah cukup. Perabotan rumah tangga cukup, memasak memakai LPG 3kg dan sumber air dari menumpang PDAM tetangga. Rumah An.B juga bersebelahan dengan tetangga yang mempunyai usaha soto ayam sehingga jalan disekitar rumah banyak kotoran sisa memotong dan membersihkan ayam. Tindakan : An.B diantar keluarganya berobat Keturunan/Penularan: Bukan merupakan penularan dari anggota keluarga lain Keluarga An.B Pengetahuan : Keluarga kurang mengetahui penyakit pasien Pelayanan Kesehatan: Jika sakit An.B berobat ke puskesmas Sikap: Kurang perhatian keluarga terhadap kesehatan lingkungan dan kebersihan penyakit pasien Lingkungan: Keluarga kurang memahami pentingnya kebersihan lingkungan terhadap kesehatan pasien
  • 19.
    19 2. Denah Rumah Diagram4. Denah Rumah Ny. S Kesimpulan :Lingkungan rumah tidak cukup memenuhi syarat kesehatan Kamar tidur 2 Kamar tidur 1 gudang dapur 8 m 4 m Ruang tamu Kamar tidur 1
  • 20.
    20 DAFTAR MASALAH A. MASALAHMEDIS : 1. Gatal pada sela-sela jari pada kedua tanggan dan perut B. MASALAH NON MEDIS : 1. Tingkat pengetahuan keluarga Ny. S tentang kesehatan kurang. 2. Kurang memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing anggota keluarga. 3. Kurang memperhatikan kondisi kebersihan diri dan lingkungan masing-masing anggota keluarga. C. PERMASALAHAN PASIEN (Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan faktor- faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien) Diagram 5. Permasalahan An.B (Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan faktor- faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien) 4.4 MATRIKULASI MASALAH Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks. (Azrul, 1996) Tabel 5. Matrikulasi masalah An.B,4 tahun Dengan tinea kruris + infeksi sekunder ektima Tingkat pengetahuan kesehatan kurang Perhatian terhadap kondisi kebersihan keluarga kurang Perhatian terhadap kondisi kesehatan keluarga kurang
  • 21.
    21 No . Daftar Masalah IT R Jumlah IxTxRP S SB Mn Mo Ma 1. Tingkat pengetahuan keluarga An.B tentang kesehatan kurang 4 5 4 4 5 4 5 32.000 2. Kurang memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing anggota keluarga 4 4 3 3 3 4 4 6.912 3. Kurang memperhatikan kondisi kebersihan masing-masing anggota keluarga 4 5 5 3 3 3 5 13.500 Keterangan : I : Importancy (pentingnya masalah) P : Prevalence (besarnya masalah) S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah) SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah) T : Technology (teknologi yang tersedia) R : Resources (sumber daya yang tersedia) Mn : Man (tenaga yang tersedia) Mo : Money (sarana yang tersedia) Ma : Material (pentingnya masalah) Kriteria penilaian : 1 : tidak penting 2 : agak penting 3 : cukup penting 4 : penting 5 : sangat penting
  • 22.
    22 D. DIAGNOSIS HOLISTIK 1.Aspek Personal Keluhan Utama: Gatal pada bagian bokong Harapan: Pasien dan keluarga berharap agar keluhannya bisa cepat sembuh dan tidak kambuh lagi. Kekhawatiran: Pasien dan keluarga takut bertambah para sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari. 2. Aspek Klinis Tinea kruris dengan sekunder infeksi ektima 3. Aspek Resiko Internal Pengetahuan tentang sakit yang diderita pasien masih kurang. Pasien mengira penyakit kulit yang diderita adalah penyakit akibat alergi terhadap makanan. 4. Aspek Resiko Eksternal : Keluarga tidak memiliki kamar mandi dan jamban dan kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. 5. Aspek Fungsional: Pasien terganggu aktifitas sehari-hari karna penyakit yang diderita. E. PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF 1. Promotif :  Konseling terhadap keluarga agar mengetahui penyakit tinea kruris, perjalanan penyakit dan komplikasinya.  Memberitahu orang tua penderita bahwa penyakit jamurnya membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh, sehingga penderita diharapkan patuh berobat. 2. Preventif :  Perlu dijelaskan agar menjaga kebersihan lingkugan rumah dengan menjemur kasur, bantal dan guling seminggu sekali.  Menata dan menjaga kelembapan rumah dan baju yang disimpan.  Menjaga kebersihan diri dengan mandi minimal 2x sehari dan mengganti baju bila berkeringat. 3. Kuratif :  Segera pergi ke puskesmas bila kambuh. 4. Rehabilitatif :
  • 23.
    23 Penderita dianjurkan untuktetap aktif sesuai kemampuan tanpa terganggu dengan sakit yang diderita
  • 24.
    24 BAB III TINJAUAN PUSTAKA A.TineaKruris 3.1 Definisi Sinonim : Eksema marginatum, Dhobie itch, Jockey itch, Ringworm of the groin. Tinea kruris adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur dermatofita pada kulit tak berambut, di daerah genito krusal (lipat paha, genitalia eksterna, sekitar anus dan dapat meluas ke bokong dan perut bagian bawah). 3.2 Etiologi Penyebab dari Tinea kruris adalah Trichophyton rubrum dan Epidermophyton floccosum. Dapat juga disebabkan oleh Trichopyton mentagrophytes dan Trichopyton verrucosum. Infeksi Tinea kruris dapat disebabkan oleh infeksi langsung (autoinoculation) misalnya karena penderita sebelumnya menderita Tinea manus, Tinea pedis, atau Tinea unguium. Dapat juga ditularkan secara tidak langsung, misalnya melalui handuk. 3.3 Epidemiologi Banyak terjadi pada daerah tropis dan ketika musim panas dimana tingkat kelembapannya cukup tinggi. Penyakit ini lebih sering mengenai laki-laki, terutama pada individu dengan obesitas atau pada individu yang sering menggunakan pakaian ketat. Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak. 3.4 Patogenesis Cara penularan jamur dapat secara langsung maupun tidak langsung. Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung jamur baik dari manusia, binatang, atau tanah. Penularan tidak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, pakaian debu. Agen penyebab juga dapat ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk atau sprei penderita. Jamur ini menghasilkan keratinase yang mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan invasi ke stratum korneum. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya didalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit
  • 25.
    25 dengan batas yangjelas dan meninggi (ringworm). Reaksi kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan. Menyebabkan penderita merasa gatal atau sedikit panas di tempat tersebut akibat timbulnya peradangan dan iritasi. Faktor risiko infeksi awal atau kekambuhan adalah memakai pakaian ketat atau basah. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit adalah: 1. Faktor virulensi dari dermatofita Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik, zoofilik, geofilik. Selain afinitas ini massing-masing jamur berbeda pula satu dengan yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian dari tubuh misalnya: Trichopyhton rubrum jarang menyerang rambut, Epidermophython fluccosum paling sering menyerang liapt paha bagian dalam. 2. Faktor trauma Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur. 3. Faktor suhu dan kelembapan Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada lokalisasi atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela jari paling sering terserang penyakit jamur. 4. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat insiden penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah sering ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik 5. Faktor umur dan jenis kelamin 2.5 Tanda dan Gejala Klinis Secara subyektif, penderita dengan Tinea kruris mengeluh gatal yang kadang-kadang meningkat waktu berkeringat. Kelainan kulit yang tampak pada Tinea kruris pada lipat paha merupakan lesi berbatas tegas yang bilateral pada lipat paha kiri dan kanan, dapat bersifat akut atau menahun. Mula-mula sebagai bercak eritema yang gatal, lama kelamaan meluas secara sentrifugal dan membentuk bangun setengah bulan dengan batas tegas, yang dapat meliputi skrotum, pubis, gluteal, bahkan sampai paha, bokong dan perut bawah. Tepi lesi aktif (peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah tengahnya), bentuk polimorf, ditutupi skuama dan kadang-kadang
  • 26.
    26 dengan banyak papulmaupun vesikel di sekelilingnya. Bila penyakit ini menjadi menahun (kronis), dapat berupa bercak hitam disertai sedikit skuama. Erosi dan ekskoriasi, keluarnya cairan serum maupun darah, biasanya akibat garukan maupun pengobatan yang diberikan. Keluhan sering bertambah sewaktu tidur sehingga digaruk-garuk dan timbul erosi dan infeksi sekunder. 2.6 Diagnosis Dari anamnesis, gambaran klinis dan lokalisasinya, tidak sulit untuk mendiagnosis Tinea kruris. Sebagai penunjang diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan sediaan langsung dari kerokan bagian tepi lesi dengan KOH dan biakan, kadang-kadang diperlukan pemeriksaan dengan lampu Wood, yang mengeluarkan sinar ultraviolet dengan gelombang 3650 Ao . Pemeriksaan sediaan langsung dengan KOH 10-20% positif bila memperlihatkan elemen jamur berupa hifa panjang dan artrospora. Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan. Yang dianggap paling baik pada waktu ini adalah medium agar dekstrosa Sabouraud. Biakan memberikan hasil lebih cukup lengkap, akan tetapi lebih sulit dikerjakan, lebih mahal biayanya, hasil diperoleh dalam waktu lebih lama dan sensitivitasnya kurang (± 60%) bila dibandingkan dengan cara pemeriksaan sediaan langsung. 3.7 Komplikasi Tinea kruris dapat terinfeksi sekunder oleh candida atau bakteri yang lain. Pada infeksi jamur yang kronis dapat terjadi likenifikasi dan hiperpigmentasi kulit. 3.8 Diagnosis Banding 1. Kandidiasis inguinalis Kandidiasis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida. Kandidosis kadang sulit dibedakan dengan Tinea kruris jika mengenai lipatan paha dan perianal. Lesi dapat berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah dan berkrusta. Perbedaannya ialah pada kandidiasis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas tegas dengan satelit-satelit di sekitarnya. Biasanya kandidiasis dilipat paha mempunyai konfigurasi
  • 27.
    27 hen and chicken.Predileksinya juga bukan pada daerah-daerah yang berminyak, tetapi lebih sering pada daerah yang lembab. Selain itu, pada pemeriksaan dengan larutan KOH 10 %, terlihat sel ragi, blastospora atau hifa semu. Pada wanita, ada tidaknya flour albus biasanya dapat membantu diagnosis. Pada penderita diabetes mellitus, kandidiasis merupakan penyakit yang sering dijumpai. 2. Eritrasma Eritrasma merupakan penyakit yang sering berlokalisasi di sela paha. Efloresensi yang sama, yaitu eritema dan skuama, pada seluruh lesi merupakan tanda-tanda khas penyakit ini. Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan lampu Wood dapat menolong dengan adanya fluoresensi merah ( red coral ). 3. Psoriasis vulgaris Psoriasis vulgaris berbeda dengan Tinea kruris karena terdapat kulit mengelupas atau skuama yang tebal, kasar, dan berlapis-lapis, disertai tanda titisan lilin, Kobner dan Auspitz. Tempat predileksinya juga berbeda, psoriasis sering terdapat di ekstremitas bagian ekstensor terutama siku, lutut, kuku dan daerah lumbosakral. Perbedaannya ialah skuamanya lebih tebal dan putih, seperti kaca. Selain itu, pada pemeriksan histopatologis terdapat papilomatosis. 4. Pitiriasis rosea Pitiriasis rosea ialah penyakit kulit yang belum diketahui penyebabnya, dimulai dengan lesi awal berbentuk eritema dan skuama halus. Lesi awal berupa herald patch, umumnya di badan, soliter, bentuk oval dan terdiri atas eritema serta skuama halus dan tidak berminyak di pinggir. Lesi berikutnya lebih khas yang dapat dibedakan dengan Tinea kruris, yaitu lesi yang menyerupai pohon cemara terbalik. Tempat predileksinya juga berbeda, lebih sering pada badan, lengan atas bagian proksimal dan paha atas, jarang pada kulit kepala 3.9 Penatalaksanaan Pada umumnya pengobatan untuk infeksi jamur dermatofitosis secara topikal saja cukup, kecuali untuk lesi-lesi kronik dan luas serta infeksi pada rambut dan kuku yang memerlukan pula pengobatan sistemik, oleh karena dermatofitosis merupakan penyakit jamur superfisial.2 a. Pengobatan topikal - Kombinasi asam salisilat (3-6%) dan asam benzoat (6-12%) dalam bentuk salep ( Salep Whitfield).
  • 28.
    28 - Kombinasi asamsalisilat dan sulfur presipitatum dalam bentuk salep (salep 2-4, salep 3-10). - Derivat azol : ketokonazol, mikonazol 2%, klotrimasol 1%, sangat berguna terhadap kasus-kasus yang diragukan penyebabnya dermatofita atau candida. b. Pengobatan sistemik - Griseofulvin 500 mg sehari untuk dewasa selama 3 minggu, sedangkan dosis untuk anak-anak adalah 10-25 mg/kgBB sehari untuk anak antara 15 sampai 25 kg berat badan, sedangkan untuk anak dengan berat badan lebih dari 25 kg dapat diberikan antara 125/250 mg per hari. - Ketokonazol 200 mg sehari untuk dewasa atau 3-6 mg/kgBB sehari untuk anak-anak lebih dari 2 tahun. - Antibiotika diberikan bila terdapat infeksi sekunder. Pada kasus yang resisten terhadap griseofulvin, dapat diberikan griseofulvin dengan dosis yang lebih tinggi dan waktu yang lebih lama atau bisa juga dipertimbangkan penggunaan derivat azol seperti itrakonazol, flukonazol dll. Selain pengobatan kausatif tersebut, penting juga diperhatikan pengobatan simtomatik untuk menanggulangi rasa gatal, panas, maupun nyeri. 3.10 Pencegahan Beberapa faktor yang memudahkan timbulnya residif pada Tinea kruris dan Tinea corporis harus dihindari atau dihilangkan antara lain : a. Temperatur lingkungan yang tinggi, keringat berlebihan, pakaian dari karet atau nilon. b. Pekerjaan yang banyak berhubungan dengan air misalnya perenang. c. Kegemukan : selain faktor kelembaban, gesekan yang kronis dan keringat berlebihan disertai higiene yang kurang, memudahkan timbulnya infeksi. 3.11 Prognosis Prognosis tergantung penyebab, disiplin pengobatan, status imunologis dan sosial budayanya, tetapi pada umumnya baik.
  • 29.
    29 B.Ektima 3.1 Definisi danTerminologi Ektima adalah pioderma kulit ulseratif yang umumnya disebabkan oleh streptokokus beta hemolitikus. Penyebab lainnya bisa Stafilokokus atau kombinasi dari keduanya. Menyerang epidermis dan dermis membentuk ulkus dangkal yang ditutupi oleh krusta berlapis, biasanya terdapat pada tungkai bawah. Ektima memiliki sinonim antara lain Ulcerative pyoderma, Cutaneous pyoderma, Impetigo, Deep impetigo, Skin streptococci, Grup A beta-hemolitik streptococci, Ecthymatous ulcer, Group A streptococci. 3.2 Epidemiologi Insiden ektima di seluruh dunia tepatnya tidak diketahui. Di Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, insidennya menduduki tempat ketiga dan berhubungan erat dengan keadaan sosial ekonomi. Frekuensi terjadinya ektima berdasarkan umur biasanya terdapat pada anak-anak dan orang tua, tidak ada perbedaan ras dan jenis kelamin (pria dan wanita sama). Pada anak-anak kebanyakan terjadi pada umur 6 bulan sampai 18 tahun. Dari hasil penelitian epidemiologi didapatkan bahwa tingkat kebersihan dari pasien dan kondisi kehidupan sehari-harinya merupakan penyebab yang paling terpenting untuk perbedaan angka serangan, beratnya lesi, dan dampak sistemik yang didapatkan pada pasien ektima. Ektima merupakan penyakit kulit berupa ulkus yang paling sering terjadi pada orang- orang yang sering bepergian (traveler). Pada suatu studi kasus di Perancis, ditemukan bahwa dari 60 orang wisatawan, 35 orang (58%) diantaranya mendapatkan infeksi bakteri, dimana bakteri terbanyak yang ditemukan yaitu Staphylococcus aureus dan Streptococcus B- hemolyticus grup A yang merupakan penyebab dari penyakit kulit impetigo dan ektima. Dari studi kasus ini pula, ditemukan bahwa kebanyakan wisatawan yang datang dengan ektima memiliki riwayat gigitan serangga (73%). Di daerah perkotaan, lesi-lesi pada ektima disebabkan stafilokokus aureus dan didapatkan pada pengguna obat-obatan intravena dan pasien terinfeksi HIV. 3.3 Etiologi Ektima merupakan pioderma ulseratif pada kulit yang umumnya disebabkan oleh Streptococcus β-hemolyticus grup A. Status bakteriologi dari ektima pada dasarnya mirip dengan Impetigo. Keduanya dianggap sebagai infeksi Streptococcus, karena pada banyak
  • 30.
    30 kasus didapatkan kulturmurni Streptococcus pyogenes. Ini didasarkan pada isolasi Streptococcus dan Staphylococcus dan dari beberapa Staphylococcus saja. Streptococcus β-hemolyticus grup A dapat menyebabkan lesi atau menginfeksi secara sekunder lesi yang sudah ada sebelumnya. Adanya kerusakan jaringan (seperti ekskoriasi, gigitan serangga, dermatitis) dan keadaan imunokompromis (seperti diabetes dan neutropenia) merupakan predisposisi pada pasien untuk timbulnya ektima. Faktor-faktor predisposisi terjadinya ektima antara lain: gizi, hygiene perorangan atau lingkungan, iklim, underlying disease misalnya diabetes melitus, atopik, trauma dan penyakit kronik. 3.4 Patofisiologi Staphylococcus aureus merupakan penyebab utama dari infeksi kulit dan sistemik. Seperti halnya Staphylococcus aureus, Streptococcus sp. Juga terkenal sebagai bakteri patogen untuk kulit. Streptococcus Grup A, B, C, D, dan G merupakan bakteri patogen yang paling sering ditemukan pada manusia. Kandungan M-protein pada bakteri ini menyebabkan bakteri ini resisten terhadap fagositosis. Staphylococcus aureus dan Staphylococcus pyogenes menghasilkan beberapa toksin yang dapat menyebabkan kerusakan lokal atau gejala sistemik. Gejala sistemik dan lokal dimediasi oleh superantigens (SA). Antigen ini bekerja dengan cara berikatan langsung pada molekul HLA-DR (Mayor Histocompability Complex II (MHC II)) pada antigen-presenting cell tanpa adanya proses antigen. Walaupun biasanya antigen konvensional memerlukan interaksi dengan kelima elemen dari kompleks reseptor sel T, superantigen hanya memerlukan interaksi dengan variabel dari pita B. Aktivasi non spesifik dari sel T menyebabkan pelepasan masif Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α), Interleukin-1 (IL-1), dan Interleukin-6 (IL-6) dari makrofag. Sitokin ini menyebabkan gejala klinis berupa demam, ruam erythematous, hipotensi, dan cedera jaringan. Faktor host seperti immunosuppresi, terapi glukokortikoid, dan atopic memainkan peranan penting dalam pathogenesis dari infeksi Staphylococcus. Adanya trauma ataupun inflamasi dari jaringan (luka bedah, luka bakar, trauma, dermatitis, benda asing) juga menjadi faktor yang berpengaruh pada pathogenesis dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini. 3.5 Gambaran Klinis Penyakit ini dimulai dengan suatu vesikel atau pustul di atas kulit yang eritematosa, membesar dan pecah (diameter 0,5 – 3 cm) dan beberapa hari kemudian terbentuk krusta tebal dan kering yang sukar dilepas dari dasarnya. Biasanya terdapat kurang lebih 10 lesi
  • 31.
    31 yang muncul. Bilakrusta terlepas, tertinggal ulkus superficial dengan gambaran “punched out appearance” atau berbentuk cawan dengan dasar merah dan tepi meninggi. Lesi cenderung menjadi sembuh setelah beberapa minggu dan meninggalkan sikatriks. Biasanya lesi dapat ditemukan pada daerah ekstremitas bawah, wajah dan ketiak. Gambar 1. Lesi tipikal ektima pada ektremitas bawah Gambar 2. Tahapan ektima. Lesi dimulai sebagai sebuah pustule yang kemudian pecah membentuk ulkus. Gambar 3. Ektima. Ulkus dengan krusta tebal pada tungkai pasien yang menderita diabetes dan gagal ginjal
  • 32.
    32 Gambar 4. Ektimapada aksila 3.6 Diagnosis 3.6.1 Anamnesis Pasien biasanya datang dengan keluhan luka pada anggota gerak bawah. Pasien biasanya menderita diabetes dan orang tua yang tidak peduli dengan kebersihan dirinya. Anamnesis ektima, antara lain: 1. Keluhan utama. Pasien datang dengan keluhan berupa luka. 2. Durasi. Ektima dapat terjadi dalam waktu yang lama akibat trauma berulang, seperti gigitan serangga. 3. Lokasi. Ektima terjadi pada lokasi yang relatif sering trauma berulang, seperti tungkai bawah. 4. Perkembangan lesi. Awalnya lesi berupa pustul kemudian pecah membentuk ulkus yang tertutupi krusta 5. Riwayat penyakit sebelumnya. Misalnya, Diabetes melitus dapat menyebabkan penyembuhan luka yang lama. 3.6.2 Pemeriksaan Fisis Effloresensi ektima awalnya berupa pustul kemudian pecah membentuk ulkus yang tertutupi krusta. Gambar 5. Krusta coklat berlapis lapis pada ektima
  • 33.
    33 Gambar 6. PadaLesi ektima yang diangkat krustanya akan terlihat ulkus yang dangkal 3.6.3 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan gram dan kultur. Bahan untuk pemeriksaan bakteri sebaiknya diambil dengan mengerok tepi lesi yang aktif. Pemeriksaan dengan gram merupakan prosedur yang paling bermanfaat dalam mikrobilologi diagnostik ketika dicurigai adanya infeksi bakteri. Sebagian besar bahan yang diserahkan harus diapus pada gelas objek, diwarnai gram dan diperiksa secara mikroskopik. Pada pemeriksaan mikroskopik, reaksi gram (biru-keunguan menunjukkan organisme gram positif, merah gram negatif), dan morfologi bakteri (bentuk: kokus, batang, fusiform atau yang lain) harus diperhatikan. Pada kultur atau biakan, kebanyakan streptokokus tumbuh dalam pembenihan padat sebagai koloni discoid dengan diameter 1-2 mm. Strain yang menghasilkan bahan simpai sering membentuk koloni mukoid. Gambaran histopatologi didapatkan peradangan dalam yang diinfeksi kokus, dengan infiltrasi PMN dan pembentukan abses mulai dari folikel pilosebasea. Pada dermis, ujung pembuluh darah melebar dan terdapat sebukan sel PMN. Infiltrasi granulomatous perivaskuler yang dalam dan superficial terjadi dengan edema endotel. Krusta yang berat menutupi permukaan dari ulkus pada ektima. Gambar 7. Pioderma Neutrofil tersebar pada dasar ulserasi. (Seperti yang ditunjukkan oleh tanda panah) 3.7 Diagnosis Banding Diagnosis banding ektima, antara lain:
  • 34.
    34 1. Folikulitis, didiagnosisbanding dengan ektima sebab predileksi biasanya di tungkai bawah dengan kelainan berupa papul atau pustul yang eritematosa. Perbedaannya, pada folikulitis, di tengah papul atau pustul terdapat rambut dan biasanya multiple. Gambar 8. Folikulitis superfisialis. Pustul multiple terlihat pada daerah jenggot. 2. Impetigo krustosa, didiagnosa banding dengan ektima karena memberikan gambaran Effloresensi yang hampir sama berupa lesi yang ditutupi krusta. Bedanya, pada impetigo krustosa lesi biasanya lebih dangkal, krustanya lebih mudah diangkat, dan tempat predileksinya biasanya pada wajah dan punggung serta terdapat pada anak-anak sedangkan pada ektima lesi biasanya lebih dalam berupa ulkus, krustanya lebih sulit diangkat dan tempat predileksinya biasanya pada tungkai bawah serta bisa terdapat pada usia dewasa muda. Gambar 9. Impetigo. Eritema dan krusta pada seluruh daerah centrofacial
  • 35.
    35 Gambar 10. Impetigo.Terlihat erosi, krusta, dan blister ruptur 3.8 Komplikasi Ektima jarang menyebabkan gejala sistemik. Komplikasi invasif pada infeksi kulit streptokokus termasuk selulitis, erysipelas, gangren, limfadenitis supuratif dan bakterimia. Komplikasi non supuratif infeksi kulit streptokokus misalnya Scarlet Fever dan Glomerulonefritis akut. Pemberian terapi antibiotik cepat tidak menunjukkan pengurangan angka kejadian glomerulonefritis post streptokokus. Akibat sekunder dari pioderma S. Aureus yang tidak diterapi termasuk celulitis, limfangitis, osteomielitis dan endokarditis infeksi akut. Beberapa strain S. Aureus menghasilkan eksotoksin yang dapat menyebabkan staphylococcal scalded skin syndrome dan toxic shock syndrome. 3.9 Penatalaksanaan Penatalaksanaan ektima, antara lain: 1. Nonfarmakologi Pengobatan ektima tanpa obat dapat berupa mandi menggunakan sabun antibakteri dan sering mengganti seprei, handuk, dan pakaian. 2. Farmakologi Pengobatan farmakologi bertujuan mengurangi morbiditas dan mencegah komplikasi a. Sistemik Pengobatan sistemik digunakan jika infeksinya luas. Pengobatan sistemik dibagi menjadi pengoatan lini pertama dan pengobatan lini kedua. 1) Pengobatan lini pertama (golongan Penisilin) - Dikloksasilin. Dewasa: Dikloksasilin 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari. Anak : 5 - 15 mg/kgBB/dosis, 3 - 4 kali/hari. - Amoksisilin + Asam klavulanat 3 x 25 mg/kgBB
  • 36.
    36 - Sefalosporin generasipertama, seperti Sefaleksin 40 - 50 mg/kgBB/hari selama 10 hari atau sefadroksil 2 x 10-15 mg/kgBB selama 5-7 hari 2) Pengobatan lini kedua (golongan Makrolid) - Azitromisin 1 x 500 mg, kemudian 1 x 250 mg selama 4 hari - Klindamisin 15 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 10 hari - Dewasa: Eritomisin 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari. Anak : 12,5 - 50 mg/kgBB/dosis, 4 kali/hari. b. Topikal Pengobatan topikal digunakan jika infeksi terlokalisir, tetapi jika luas maka digunakan pengobatan sistemik. Neomisin, Asam fusidat 2%, Mupirosin, dan Basitrasin merupakan antibiotik yang dapat digunakan secara topical. Neomisin merupakan obat topikal yang stabil dan efektif yang tidak digunakan secara sistemik, yang menyebabkan reaksi kulit minimal, dan memiliki angka resistensi bakteri yang rendah sehingga menjadi terapi antibiotik lokal yang valid. Neomisin dapat larut dalam air dan memiliki kestabilan terhadap perubahan suhu. Neomisin memiliki efek bakterisidal secara in vitro yang bekerja spektrum luas gram negatif dan gram positif. Efek samping neomisin berupa kerusakan ginjal dan ketulian timbul pada pemberian secara parenteral sehingga saat ini penggunaannya secara topical dan oral. 3. Edukasi Memberi pengertian kepada pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan badan dan lingkungan untuk mencegah timbulnya dan penularan penyakit kulit. 3.10 Prognosis Ektima sembuh secara perlahan, tetapi biasanya meninggalkan jaringan parut (skar).
  • 37.
    37 BAB IV PENUTUP IV.1 KESIMPULAN Darihasil anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosa tinea kruris dengan infeksi sekunder ektima. Penatalaksaan pada pasien tersebut berupa pemberian medikamentosa oral dan topikal. Tinea kruris adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur dermatofita pada kulit tak berambut, di daerah genito krusal (lipat paha, genitalia eksterna, sekitar anus dan dapat meluas ke bokong dan perut bagian bawah). Penyebab dari Tinea kruris adalah Trichophyton rubrum dan Epidermophyton floccosum. Dapat juga disebabkan oleh Trichopyton mentagrophytes dan Trichopyton verrucosum. Infeksi Tinea kruris dapat disebabkan oleh infeksi langsung (autoinoculation) misalnya karena penderita sebelumnya menderita Tinea manus, Tinea pedis, atau Tinea unguium. Dapat juga ditularkan secara tidak langsung, misalnya melalui handuk. Banyak terjadi pada daerah tropis dan ketika musim panas dimana tingkat kelembapannya cukup tinggi. Penyakit ini lebih sering mengenai laki-laki, terutama pada individu dengan obesitas atau pada individu yang sering menggunakan pakaian ketat. Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak. IV.2 SARAN Pemberian KIE kepada masyarakat awam mengenai Tinea kruris dan penanganannya perlu dilakukan untuk menghindarkan terjadinya komplikasi dan infeksi sekunder yang lebih parah.
  • 38.
    38 DAFTAR PUSTAKA Adiguna MS,Rusyati LM. Recent Treatment of Dermatomycosis. In: Kumpulan Makalah Lengkap Peningkatan Profesionalisme di Bidang Infeksi Kulit dan Kelamin Serta Pemakaian Anti Mikrobial yang Bijak. Denpasar: Bag/SMF Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin FK UNUD/RS Sanglah, Bagian Mikrobiologi Klinik FK UNUD/RS Sanglah 2011. p. 37-38. Budimulja U. Mikosis. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S (editor). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.. 6th ed. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI 2010. p. 94-105. Djuanda Adhi, Pioderma, Dalam: Djuanda Adhi,eds. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 5. Jakarta: FK UI; 2008. p. 57-60. Gupta AK, Chaudhry M, Elewski B. Tinea Corporis, Tinea Cruris, Tinea Nigra, and Piedra. Dermatologic Clinics 2003; vol (21). p. 395-400. Kuswadji. Kandidosis. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S (editor). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 6th ed. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI 2010. p. 106-109. Siregar R.S,ed. Pioderma, Dalam: Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC; 2002. p. 61-2. Verma S, Hefferman MP. Tinea Cruris. In: Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ (editor). 7th ed. New York: McGraw-Hill 2008. p. 1807-1821.