AGAMA ISLAM III
THAHARAH
Dosen Pembimbing : ABDUL HAMID ALY ,S.Pd ,M.Pd
DISUSUNOLEHKELOMPOK04 MANAJEMEN03:
MOH. NUR DAFA SIDQI (21801081421)
MOHAMMAD HARIYANTO (21801081035)
YUNIAS ADE SAPUTRA (21801081211)
FADILILATUL KHAIRIYAH (21801081427)
INTAN NARDILA (21801081059)
RUMUSAN MASALAH
• Definisi thaharah
• Macam-macam thaharah
• Klasifikasi air alamadzab syafi’iyyah an-nadliyyah
• Tujuan thaharah
• Thaharah secara baik dan benar alamadzhab syifi’iyyah an-nadhliyyah
• Implementasikan hikmah thaharah dalam kehidupan sehari-hari
DEFINISI THAHARAH
Lafadz “at-thaharah” secara bahasa bermakna bersih. Sedangkan secara syara’,
maka terdapat definisi yang cukup banyak di dalam menjelaskan arti lafadz “at-thaharah”.
Di antaranya adalah ungkapan ulama’, “at-thaharah” melakukan sesuatu yang menjadi
sebab diperbolehkannya melakukan shalat. Yaitu perbuatan berupa wudlu, mandi,
tayammum, dan Istinja’.
MACAM-MACAM THAHARAH
Macam thaharah yang akan dibahas dalam makalah ini diantaranya yaitu wudlu,
mandi, tayammum, dan beristinja’. Untuk perinciannya akan dibahas lebih lanjut sebagai
bertikut:
1. Wudlu
Wudlu menurut bahasa adalah sebutan untuk pembersihan sebagian anggota
badan . adapun menurut syara’, wudlu adalah sebutan untuk pembersihan bagian-bagian
tertentu dengan niat yang tertentu . hukum wudlu ada dua, wajib bagi orang yang
hadats dan sunnah bagi orang yang memperbarui wudlu baik setelah shalat ataupun
setelah mandi wajib.
2. Mandi (al ghusl)
Mandi secara bahasa adalah mengalirkan air ke segala sesuatu baik badan,
pakaian dan sebagainya tanpa diiringi dengan niat. Sedangkan menurut syara’ mandi
yaitu mengalirkan air ke seluruh anggota badan dengan niat tertentu.
3. Tayammum
Menurut bahasa, tayammum adalah menyengaja (‫.)القصد‬ Sedangkan menurut
ishtilah yaitu mengusapkan debu suci mensucikan pada wajah dan kedua tangan dengan
niat tertentu.
4. Istinja’
Beristinja’ artinya menghilangkan najis. Beristinja’ dapat dilakukan dengan
menggunakan air mutlak atau air yang suci dan mensucikan saja atau dengan
menggunakan batu saja. Namun yang paling utama bila istinja’ dilakukan dengan
menggunakan batu pada awalnya, kemudian disempurnakan dengan menggunakan air
KLASIFIKASI AIR ALAMADZAB SYAFI’IYYAH AN-
NADLIYYAH
Mengingat pentingnya air dalam beribadah fiqih islam mengatur sedemikian rupa perihal
air. Di dalam madzhab imamsyafi’i, para ulama’ membagi air menjadi empat bagian:
1. Air suci dan bisa mensucikan, dan tidak makruh digunakan, yaitu air mutlaq.Secara
ringkas air mutlak adalah air yang turun dari langit atau yang bersumber dari bumi
dengan sifat asli penciptaannya.
2. Air yang suci dan mensucikan, serta makruh menggunakannya pada badan, tetapi
bukan pada pakaian, yaitu air musyammas. Yakni air yang dipanaskan dengan
pengaruh sinar matahari.
3. Air yang suci tapi tak bisa mensucikan. Yaitu air musta’mal, yakni air yang sudah
digunakan untuk menghilangkan hadast,
4. Air najis, yaitu air yang terkena najis sampai berubah sifatnya ataupun tidak, dan
kondisi air tersebut kurang dua qulla. Ukuran dua qulla adalah kurang lebih 500 rith
negara baghdad
TUJUAN THAHARAH
Ada beberapa hal yang menjadi tujuan disyariatkannya thaharah, diantaranya:
1. Guna menyucikan diri dari kotoran berupa hadats dan najis.
2. Sebagai syarat sahnya shalat dan ibadah seorang hamba.
Nabi saw bersabda:
“Allah tidak menerima shalat seorang diantara kalian jika ia berhadas, sampai ia wudhu”,
karena termasuk yang disukari allah, bahwasanya allah SWT memuji orang-orang yang
bersuci : firman-nya, yang artinya : “sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang
bertaubat dan mensucikan dirinya”.(Al-baqarah:122)
THAHARAH SECARA BAIK DAN BENAR ALAMADZHAB
SYIFI’IYYAH AN-NADHLIYYAH
Tharah yang baik dan benar tentu dengan beberapa ketentuan seperti niat,
menggunakan air yang suci dan mensucikan , terbasuhnya semua bagian-bagian yang
wajib dibasuh saat bersuci, dan tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan
thaharah yang kita lakukan.
Hal-hal yang dapat membatalkan wudhu dan tayamum :
1. Keluarnya sesuatu dari salah satu dua jalan (qubul dan dubur). Apa pun yang keluar
dari lubang depan (qubul) dan lubang belakang (dubur) baik berupa air kencing atau
kotoran, barang yang suci ataupun najis, kering atau basah, itu semua dapat
membatalkan wudhu.
2. Hilangnya akal karena tidur, gila, atau pingsan batal wudhunya karena ia telah
kehilangan akalnya. Hanya saja tidur dengan posisi duduk dengan menetapkan
pantatnya pada tempat duduknya tidak membatalkan wudhu.
3. Bersentuhan kulit seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sama-sama telah
tumbuh besar dan bukan mahramnya dengan tanpa penghalang, allah berfirman
dalam surat al-maidah ayat 6:
4. Menyentuh kelamin atau lubang dubur manusia dengan menggunakan bagian dalam
telapak tangan atau bagian dalam jari jemari, rasulullah bersabda:
ْ‫ن‬َ‫م‬ْ‫س‬َ‫م‬ْ‫ه‬َ‫ر‬َ‫ك‬َ‫ذ‬ْ‫أ‬‫ض‬ َ‫و‬َ‫ت‬َ‫ي‬‫ل‬َ‫ف‬
Artinya: “barangsiapa yang memegang kelaminnya maka berwudhulah.” (Hr. Ahmad)
IMPLEMENTASIKAN HIKMAH THAHARAH DALAM
KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Thaharah terbagi menjadi dua, secara batin dan lahir, keduanya termasuk di
antara cabang keimanan, thaharah bathiniyah ialah menyucikan diri dari kotoran
kesyirikan dan kemaksiatan dari diri dengan cara menegakkan tauhid dan beramal saleh.
Thaharah lahiriyah ialah menyucikan diri menghilangkan hadats dan najis. Allah swt telah
menjadikan taharah (kebersihan) sebagai cabang dari keimanan. Oleh karena itu, dalam
islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa hidup bersih, baik dalam kehidupan
pribadi maupun kehidupan masyarakat. Adapun yang perlu kita perhatikan dalam
menjaga kebersihan adalah kebersihan lingkungan tempat tinggal, lingkungan madrasah,
tempat ibadah, dan tempat umum.
TERIMA KASIH

Ppt thaharah ii

  • 1.
    AGAMA ISLAM III THAHARAH DosenPembimbing : ABDUL HAMID ALY ,S.Pd ,M.Pd
  • 2.
    DISUSUNOLEHKELOMPOK04 MANAJEMEN03: MOH. NURDAFA SIDQI (21801081421) MOHAMMAD HARIYANTO (21801081035) YUNIAS ADE SAPUTRA (21801081211) FADILILATUL KHAIRIYAH (21801081427) INTAN NARDILA (21801081059)
  • 4.
    RUMUSAN MASALAH • Definisithaharah • Macam-macam thaharah • Klasifikasi air alamadzab syafi’iyyah an-nadliyyah • Tujuan thaharah • Thaharah secara baik dan benar alamadzhab syifi’iyyah an-nadhliyyah • Implementasikan hikmah thaharah dalam kehidupan sehari-hari
  • 5.
    DEFINISI THAHARAH Lafadz “at-thaharah”secara bahasa bermakna bersih. Sedangkan secara syara’, maka terdapat definisi yang cukup banyak di dalam menjelaskan arti lafadz “at-thaharah”. Di antaranya adalah ungkapan ulama’, “at-thaharah” melakukan sesuatu yang menjadi sebab diperbolehkannya melakukan shalat. Yaitu perbuatan berupa wudlu, mandi, tayammum, dan Istinja’.
  • 6.
    MACAM-MACAM THAHARAH Macam thaharahyang akan dibahas dalam makalah ini diantaranya yaitu wudlu, mandi, tayammum, dan beristinja’. Untuk perinciannya akan dibahas lebih lanjut sebagai bertikut: 1. Wudlu Wudlu menurut bahasa adalah sebutan untuk pembersihan sebagian anggota badan . adapun menurut syara’, wudlu adalah sebutan untuk pembersihan bagian-bagian tertentu dengan niat yang tertentu . hukum wudlu ada dua, wajib bagi orang yang hadats dan sunnah bagi orang yang memperbarui wudlu baik setelah shalat ataupun setelah mandi wajib.
  • 7.
    2. Mandi (alghusl) Mandi secara bahasa adalah mengalirkan air ke segala sesuatu baik badan, pakaian dan sebagainya tanpa diiringi dengan niat. Sedangkan menurut syara’ mandi yaitu mengalirkan air ke seluruh anggota badan dengan niat tertentu. 3. Tayammum Menurut bahasa, tayammum adalah menyengaja (‫.)القصد‬ Sedangkan menurut ishtilah yaitu mengusapkan debu suci mensucikan pada wajah dan kedua tangan dengan niat tertentu. 4. Istinja’ Beristinja’ artinya menghilangkan najis. Beristinja’ dapat dilakukan dengan menggunakan air mutlak atau air yang suci dan mensucikan saja atau dengan menggunakan batu saja. Namun yang paling utama bila istinja’ dilakukan dengan menggunakan batu pada awalnya, kemudian disempurnakan dengan menggunakan air
  • 8.
    KLASIFIKASI AIR ALAMADZABSYAFI’IYYAH AN- NADLIYYAH Mengingat pentingnya air dalam beribadah fiqih islam mengatur sedemikian rupa perihal air. Di dalam madzhab imamsyafi’i, para ulama’ membagi air menjadi empat bagian: 1. Air suci dan bisa mensucikan, dan tidak makruh digunakan, yaitu air mutlaq.Secara ringkas air mutlak adalah air yang turun dari langit atau yang bersumber dari bumi dengan sifat asli penciptaannya. 2. Air yang suci dan mensucikan, serta makruh menggunakannya pada badan, tetapi bukan pada pakaian, yaitu air musyammas. Yakni air yang dipanaskan dengan pengaruh sinar matahari. 3. Air yang suci tapi tak bisa mensucikan. Yaitu air musta’mal, yakni air yang sudah digunakan untuk menghilangkan hadast, 4. Air najis, yaitu air yang terkena najis sampai berubah sifatnya ataupun tidak, dan kondisi air tersebut kurang dua qulla. Ukuran dua qulla adalah kurang lebih 500 rith negara baghdad
  • 9.
    TUJUAN THAHARAH Ada beberapahal yang menjadi tujuan disyariatkannya thaharah, diantaranya: 1. Guna menyucikan diri dari kotoran berupa hadats dan najis. 2. Sebagai syarat sahnya shalat dan ibadah seorang hamba. Nabi saw bersabda: “Allah tidak menerima shalat seorang diantara kalian jika ia berhadas, sampai ia wudhu”, karena termasuk yang disukari allah, bahwasanya allah SWT memuji orang-orang yang bersuci : firman-nya, yang artinya : “sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan dirinya”.(Al-baqarah:122)
  • 10.
    THAHARAH SECARA BAIKDAN BENAR ALAMADZHAB SYIFI’IYYAH AN-NADHLIYYAH Tharah yang baik dan benar tentu dengan beberapa ketentuan seperti niat, menggunakan air yang suci dan mensucikan , terbasuhnya semua bagian-bagian yang wajib dibasuh saat bersuci, dan tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan thaharah yang kita lakukan. Hal-hal yang dapat membatalkan wudhu dan tayamum : 1. Keluarnya sesuatu dari salah satu dua jalan (qubul dan dubur). Apa pun yang keluar dari lubang depan (qubul) dan lubang belakang (dubur) baik berupa air kencing atau kotoran, barang yang suci ataupun najis, kering atau basah, itu semua dapat membatalkan wudhu. 2. Hilangnya akal karena tidur, gila, atau pingsan batal wudhunya karena ia telah kehilangan akalnya. Hanya saja tidur dengan posisi duduk dengan menetapkan pantatnya pada tempat duduknya tidak membatalkan wudhu.
  • 11.
    3. Bersentuhan kulitseorang laki-laki dan seorang perempuan yang sama-sama telah tumbuh besar dan bukan mahramnya dengan tanpa penghalang, allah berfirman dalam surat al-maidah ayat 6: 4. Menyentuh kelamin atau lubang dubur manusia dengan menggunakan bagian dalam telapak tangan atau bagian dalam jari jemari, rasulullah bersabda: ْ‫ن‬َ‫م‬ْ‫س‬َ‫م‬ْ‫ه‬َ‫ر‬َ‫ك‬َ‫ذ‬ْ‫أ‬‫ض‬ َ‫و‬َ‫ت‬َ‫ي‬‫ل‬َ‫ف‬ Artinya: “barangsiapa yang memegang kelaminnya maka berwudhulah.” (Hr. Ahmad)
  • 12.
    IMPLEMENTASIKAN HIKMAH THAHARAHDALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI Thaharah terbagi menjadi dua, secara batin dan lahir, keduanya termasuk di antara cabang keimanan, thaharah bathiniyah ialah menyucikan diri dari kotoran kesyirikan dan kemaksiatan dari diri dengan cara menegakkan tauhid dan beramal saleh. Thaharah lahiriyah ialah menyucikan diri menghilangkan hadats dan najis. Allah swt telah menjadikan taharah (kebersihan) sebagai cabang dari keimanan. Oleh karena itu, dalam islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa hidup bersih, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan masyarakat. Adapun yang perlu kita perhatikan dalam menjaga kebersihan adalah kebersihan lingkungan tempat tinggal, lingkungan madrasah, tempat ibadah, dan tempat umum.
  • 13.