Siklus Batuan
Distribusi batuan
PETROLOGI
BATUAN BEKU
 Batuan beku adalah batuan yang terbentuk akibat
membekunya magma pada waktu perjalanannya ke
permukaan bumi.
 Magma adalah cairan silikat yang panas dan pijar yang
terdiri dari unsur-unsur O, Si, Al, Fe, Mg, Ca, Na, K dll
 Hasil dari rekristalisasi magma tersebut membentuk
berbagai macam jenis mineral dan mengikuti aturan
tingkat kristalisasi dari magma.
 Mengikuti Seri Reaksi Bowen
BOWEN’S REACTION SERIES
Olivin
Ca-plagioklas
Piroksen
Hornblende
Biotit
Na-plagioklas
K-feldspar
Muskovit
Kuarsa
Temperatur
menurun
ultramafik
gabro
diorit
granit
syenit
kontinu
diskontinu
DERET REAKSI BOWEN
Pengelompokkan batuan beku berdasarkan
kelompok mineralnya :
Kelompok Mineral Kelompok Batuan Beku
Olivin
Piroksen
Plagioklas
Olivin, piroksen
Ultramafik dan Ultramafitit
Olivin, piroksen, plagioklas
Olivin, plagioklas
Piroksen, plagioklas
Gabroid dan Basaltoid
Piroksen, hornblenda, plagioklas
Hornblenda, plagioklas
Hornblenda, biotit,plagioklas, <<< kuarsa
Dioritoid dan Andesitoid
Hornblenda, biotit, muskovit, kuarsa
Biotit, muskovit, k-feldspar, kuarsa
Biotit, muskovit, k-feldspar
Granitoid dan Dasitoid
Mineral Pembentuk Batuan
Mineral pembentuk batuan dapat dibagi atas 3 kelompok, yaitu :
1. Mineral Utama (essential minerals) : mineral yang terbentuk
dari kristalisasi magma, yang biasanya hadir dalam jumlah yang
cukup banyak dan menentukan nama/sifat batuan. Contoh :
olivin, piroksen, amfibol, biotit, plagioklas, k-feldspar,
muskovit, kuarsa, feldspartoid.
2. Mineral tambahan (accessory minerals) : mineral yang
terbentuk dari kristalisasi magma, tetapi kehadirannya relatif
sedikit (<5%) dan tidak menentukan nama/sifat batuan. Contoh
: apatit, zirkon, magnetit, hematit, rutil dll
3. Mineral sekunder (secondary minerals) : mineral hasil ubahan
dari mineral-mineral primer karena pelapukan, alterasi
hidrothermal atau metamorfosa. Contoh : klorit, epidot,
serisit, kaolin, aktinolit dll.
Tekstur Batuan Beku
Tekstur adalah kenampakan dari batuan yang dapat
merefleksikan sejarah kejadiannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukkan
tekstur batuan beku adalah derajat kristalinitas,
granulitas/besar butir dan kemas/fabric.
1. Derajat Kristalisasi
1. Holokristalin : terdiri dari kristal seluruhnya
2. Hipokristalin : terdiri dari sebagian kristal dan
sebagian gelas
3. Holohyalin : terdiri dari gelas seluruhnya
2. Granulitas / Besar Butir
 Faneritik : kristal-kristalnya dapat dilihat dengan
mata biasa
Khusus untuk batuan bertekstur faneritik, ukuran
butirnya dapat ditentukan sebagai berikut :
- Halus : besar butir < 1mm
- Sedang : besar butir 1mm – 5mm
- Kasar : besar butir 5mm – 3cm
- Sangat kasar : besar butir > 3cm
 Afanitik : kristal-kristalnya sangat halus atau amorf,
hanya dapat dilihat dengan mikroskop
 Jika batuan bertekstur porfiritik, maka ukuran
fenokris dan masadasar dipisah.
3. Kemas / Fabric
 Equigranular : ukuran besar butir relatif sama
 Inequigranular : ukuran besar butir tidak sama
- Porfiritik : kristal-kristal yang lebih besar (fenokris)
tertanam dalam masadasar kristal yang lebih halus
- Vitrofirik : kristal-kristal yang lebih besar (fenokris)
tertanam dalam masadasar gelas/amorf.
Tekstur batuan beku berdasarkan bentuk
geometri kristalnya :
 Tabular (plagioklas, k-feldspar)
 Prismatik (piroksen, hornblenda)
 Berlembar (mika)
 Poligonal (kuarsa, olivin)
Struktur Batuan Beku
Struktur yang dimaksud adalah struktur primer,
yang terjadi saat terbentuknya batuan beku
tersebut. Struktur batuan beku sebagian besar
hanya dilihat di lapangan (dimensinya sangat besar),
tetapi kadang-kadang dapat dilihat juga dalam hand
specimen.
Struktur yang berhubungan dengan aliran magma :
 Schlieren : struktur yang dibentuk mineral prismatik, pipih atau
memanjang atau oleh xenolith akibat pergerakan magma.
 Segregasi : struktur pengelompokkan mineral (biasanya mineral mafik)
yang mengakibatkan perbedaan komposisi mineral dengan batuan
induknya.
 Lava bantal : struktur yang diakibatkan oleh pergerakkan lava akibat
interaksi dengan lingkungan air, bentuknya menyerupai bantal, dimana
bagian atas cembung dan bagian bawah cekung.
Struktur yang berhubungan dengan pendinginan magma :
 Vesikuler : lubang-lubang bekas gas pada batuan beku (lava)
 Amigdaloidal : lubang-lubang bekas gas pada batuan beku (lava), yang
telah diisi oleh mineral sekunder seperti zeolit, kalsit, kuarsa.
 Kekar kolom : kekar berbentuk tiang dimana sumbunya tegak lurus arah
aliran.
 Kekar berlembar : kekar berbentuk lembaran, biasanya pada tepi/atap
intrusi besar akibat hilangnya beban.
KLASIFIKASI BATUAN BEKU
 Komposisi batuan : mineralogi dan kimiawi
- mineralogi :
mineral utama (olivin, piroksen, feldspar dll)
mineral tambahan (apatit, rutil, mineral bijih dll)
- Kimiawi :
unsur utama (major elements) : unsur oksida SiO2,
Al2O3 dll
unsur jejak (trace elements) : Sr, Rb, Ba dll  ppm
unsur tanah jarang (rare earth minerals/REE) : ppb
inner transition element  grup lanthanids (57-71)
La, Ce, Pr, … … , Lu
 Dasar klasifikasi
- mineralogi : % mineral utama
- kimiawi ;
 silika (% SiO2)
ultrabasa (< 45%)
basa (45 – 52%)
Intermedier/menengah (52 – 66%)
Asam (> 66%)
 silica saturation,
undersaturated, saturated terhadap  thp free silica
Contoh :
- pembentukan leusit, forsterit (Fe-olivin)  undersaturated
- pembentukan Mg-orthopiroksen, albit  saturated
thp free silica (quartz)
 alumina saturation
- peralumina : saturated thp alumina (Al2O3 > Na2O+K2O+CaO)
- peralkaline : oksida alkalin > oksida alumina
- subalumina : oksida alumina = atau > oksida alkalin (Na2O+K2O)
- metalimina : oksida alumina = atau > Na2O+K2O+CaO)
- Color index (Indeks warna)
 proporsi mineral felsik dan mafik
 mineral felsik : feldspar, feldspartoid, kuarsa, muskovit
 mineral mafik : mineral ferromagnesia  olivin, amfibol,
klinopiroksen;
- C.I. < 30 : leucratic
- 30 – 60 : mesocratic
- 60 – 90 : melanocratic
- > 90 : hypermelanic/ultramafic
KLASIFIKASI BATUAN BEKU
SECARA MEGASKOPIS
Berdasarkan Klasifikasi IUGS (1999)
 Golongan faneritik
 Golongan Afanitik
1. Golongan Faneritik
 Batuan bertekstur faneritik, dapat teramati secara
megaskopis (mata biasa), berbutir sedang – kasar (lebih besar
dari 1mm)
 Golongan faneritik dapat dibagi atas beberapa jenis batuan
 Dasar pembagiannya adalah kandungan mineral kuarsa (Q), atau
mineral feldspartoid (F), feldspar alkali (A), serta kandungan
mineral plagioklas (P)
 Cara menentukan nama batuan dihitung dengan menganggap
jumlah ketiga mineral utama (Q + A + P atau F + A + P) adalah
100%
Q
A P
F
60 60
Granitic-rocks
20 20
10 10
60 60
Syenitic-rock
Dioritic-rock
Gabbroic-rock
Anorthositic-rock
Foid-syenitic-
rock
Foid-dioritic-rock
Foid-
gabbroic-rock
Foidolitik-
rock
P
Px+Ho Ol
90 90
10 10
40
VIII
IV
X+XI IX
Ol
Px Ho
IX
X XI
Q --- quartz
A --- alkali feldspar
P --- plagioclase
F --- foid
Px --- pyroxene
Ho --- hornblende
Ol --- olivine
Quartz-rick-
coarse-grained-
rock
VIII = Anortositic-rock
IX = Peridotic-rock
X = Piroksenitic-rock
XI = Hornblenditic-rock
I = Granitoid
II = Syenitoid
III = Dioritoid
IV = Gabroid
V = Foid Syenitoid
VI = Foid Dioritoid & Gabroid
VII = Foidolit
VIII = Anortosit
IX = Peridotit
X = Piroksenit
XI = Hornblendit
Untuk II dan IV, “ foid bearing” digunakan bila feldspartoid hadir
2. Golongan Afanitik
 Batuan beku bertekstur afanitik, mineral-mineralnya tidak dapat
dibedakan dengan mata biasa atau menggunakan loupe, umumnya
berbutir halus (< 1mm), sehingga batuan beku jenis ini tidak dapat
ditentukan prosentase mineraloginya secara megaskopis.
 Salah satu cara terbaik untuk memperkirakan komposisi mineralnya
adalah didasarkan atas warna batuan, karena warna batuan umumnya
mencerminkan proporsi mineral yang dikandungnya, dalam hal ini
proporsi mineral felsik (berwarna terang) dan mineral mafik (berwarna
gelap). Semakin banyak mineral mafik, semakin gelap warna batuannya.
 Penentuan nama atau jenis batuan beku afanitik masih dapat dilakukan
bagi batuan yang bertekstur porfiritik atau vitrofirik, dimana
fenokrisnya masih dapat terlihat dan dapat dibedakan, sehingga dapat
dibedakan jenis batuannya. Dengan menghitung prosentase mineral
yang hadir sebagai fenokris, serta didasarkan pada warna
batuan/mineral, maka dapat diperkirakan prosentase masing-masing
mineral (Q/F, A. P), maka nama batuan dapat ditentukan.
Q
A P
F
60 60
Rhyolitic-rock
20 20
10 10
60 60
Trachytic-rock
Andesitic-
rock
Basaltic-rock
Phonolitic-rock Tephritic-rock
Foiditic-rock
Ol Px
Ultramafitic
Q --- quartz
A --- alkali feldspar
P --- plagioclase
F --- foid
Px --- pyroxene
Mel --- melilite
Ol --- olivine
Mel
Dacitic-
rock
Hal – hal utama yang perlu dicatat
dalam deskripsi batuan beku :
1. Warna, sebagai petunjuk awal, untuk memperkirakan komposisi
kimia dan mineral dari batuan
2. Tesktur, besar butir dan kemas, yang mana hubungan dengan
sejarah dan cara kejadian batuan, serta kecepatan dan urutan
pertumbuhan kristal.
3. Mineralogi, sebagai petunjuk untuk identifikasi batuan,
biasanya di dalam batuan beku terdapat antara 2 – 4 mineral
utama.
4. Inklusi material asing (sebagai tambahan dalam membantu
identifikasi batuan). Inklusi ini kadang ditemukan dalam batuan
beku dan harus dideskripsi terpisah, inklusi penting ketika kita
ingin menilai cara kejadian dan asal tubuh batuan beku.
sampel
Warna : Hitam bintik-bintik putih/putih kemerahan dll (warna yang representatif)
Struktur : Masif/vesikuler/amigdaloidal/kekar akibat pendinginan dll
Tekstur
Granulitas/Besar butir
Sedang 1-5mm, Kasar 5mm – 3cm, sangat kasar > 3cm Halus < 1mm
Faneritik Afanitik
Derajat Kristalisasi
Holokristalin Holohyalin
Hipokristalin/hipohyalin
Keseragaman butir/kristal
Equigranular Inequagranular Porfiritik/Vitrofirik
Panidiomorfik Granular
(Euhedral)
Hipidiomorfik Granular
(Subhedral)
Alotriomorfik Granular
(Anhedral) Fenokris
Komposisi mineral : Kuarsa (..%), ciri-cirinya dll
Nama Batuan : Granitoid/Syenitoid/Dioritoid dll
KARAKTER BATUAN BEKU
EKSTRUSI DAN INTRUSI
Batuan beku ekstrusi :
 Ukuran butir halus – amorf
 Chilled margin hanya
terdapat di bagian bawah
 Efek bakar (baking effect)
di bagian bawah
 Bagian atas fragmentasi
(autobreksi)
 Ada xenolith di bawahnya
 Vesikular, amigdaloid di
bagian atas
 Batuan yang dilewati tidak
terdeformasi
Batuan beku intrusi :
 Ukuran butir halus – kasar
 Chilled margin terjadi di
bagian luar
 Terjadi metamorfosis
kontak/termal
 Batas tidak beraturan-halus
 Terdapat xenolith samping
batuan yang di bawah
maupun yang di atasnya
 Vesikuler dan amigdaloid
jarang
 Mengakibatkan perlipatan,
atau deformasi batuan yang
diterobos
petrologi-batuan-beku1.ppt
petrologi-batuan-beku1.ppt
petrologi-batuan-beku1.ppt
petrologi-batuan-beku1.ppt
petrologi-batuan-beku1.ppt
petrologi-batuan-beku1.ppt
petrologi-batuan-beku1.ppt
petrologi-batuan-beku1.ppt
petrologi-batuan-beku1.ppt
petrologi-batuan-beku1.ppt

petrologi-batuan-beku1.ppt

  • 2.
  • 3.
  • 5.
  • 6.
     Batuan bekuadalah batuan yang terbentuk akibat membekunya magma pada waktu perjalanannya ke permukaan bumi.  Magma adalah cairan silikat yang panas dan pijar yang terdiri dari unsur-unsur O, Si, Al, Fe, Mg, Ca, Na, K dll  Hasil dari rekristalisasi magma tersebut membentuk berbagai macam jenis mineral dan mengikuti aturan tingkat kristalisasi dari magma.  Mengikuti Seri Reaksi Bowen
  • 7.
  • 8.
  • 9.
    Pengelompokkan batuan bekuberdasarkan kelompok mineralnya : Kelompok Mineral Kelompok Batuan Beku Olivin Piroksen Plagioklas Olivin, piroksen Ultramafik dan Ultramafitit Olivin, piroksen, plagioklas Olivin, plagioklas Piroksen, plagioklas Gabroid dan Basaltoid Piroksen, hornblenda, plagioklas Hornblenda, plagioklas Hornblenda, biotit,plagioklas, <<< kuarsa Dioritoid dan Andesitoid Hornblenda, biotit, muskovit, kuarsa Biotit, muskovit, k-feldspar, kuarsa Biotit, muskovit, k-feldspar Granitoid dan Dasitoid
  • 10.
    Mineral Pembentuk Batuan Mineralpembentuk batuan dapat dibagi atas 3 kelompok, yaitu : 1. Mineral Utama (essential minerals) : mineral yang terbentuk dari kristalisasi magma, yang biasanya hadir dalam jumlah yang cukup banyak dan menentukan nama/sifat batuan. Contoh : olivin, piroksen, amfibol, biotit, plagioklas, k-feldspar, muskovit, kuarsa, feldspartoid. 2. Mineral tambahan (accessory minerals) : mineral yang terbentuk dari kristalisasi magma, tetapi kehadirannya relatif sedikit (<5%) dan tidak menentukan nama/sifat batuan. Contoh : apatit, zirkon, magnetit, hematit, rutil dll 3. Mineral sekunder (secondary minerals) : mineral hasil ubahan dari mineral-mineral primer karena pelapukan, alterasi hidrothermal atau metamorfosa. Contoh : klorit, epidot, serisit, kaolin, aktinolit dll.
  • 11.
    Tekstur Batuan Beku Teksturadalah kenampakan dari batuan yang dapat merefleksikan sejarah kejadiannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukkan tekstur batuan beku adalah derajat kristalinitas, granulitas/besar butir dan kemas/fabric.
  • 12.
    1. Derajat Kristalisasi 1.Holokristalin : terdiri dari kristal seluruhnya 2. Hipokristalin : terdiri dari sebagian kristal dan sebagian gelas 3. Holohyalin : terdiri dari gelas seluruhnya
  • 13.
    2. Granulitas /Besar Butir  Faneritik : kristal-kristalnya dapat dilihat dengan mata biasa Khusus untuk batuan bertekstur faneritik, ukuran butirnya dapat ditentukan sebagai berikut : - Halus : besar butir < 1mm - Sedang : besar butir 1mm – 5mm - Kasar : besar butir 5mm – 3cm - Sangat kasar : besar butir > 3cm  Afanitik : kristal-kristalnya sangat halus atau amorf, hanya dapat dilihat dengan mikroskop  Jika batuan bertekstur porfiritik, maka ukuran fenokris dan masadasar dipisah.
  • 14.
    3. Kemas /Fabric  Equigranular : ukuran besar butir relatif sama  Inequigranular : ukuran besar butir tidak sama - Porfiritik : kristal-kristal yang lebih besar (fenokris) tertanam dalam masadasar kristal yang lebih halus - Vitrofirik : kristal-kristal yang lebih besar (fenokris) tertanam dalam masadasar gelas/amorf.
  • 15.
    Tekstur batuan bekuberdasarkan bentuk geometri kristalnya :  Tabular (plagioklas, k-feldspar)  Prismatik (piroksen, hornblenda)  Berlembar (mika)  Poligonal (kuarsa, olivin)
  • 17.
    Struktur Batuan Beku Strukturyang dimaksud adalah struktur primer, yang terjadi saat terbentuknya batuan beku tersebut. Struktur batuan beku sebagian besar hanya dilihat di lapangan (dimensinya sangat besar), tetapi kadang-kadang dapat dilihat juga dalam hand specimen.
  • 18.
    Struktur yang berhubungandengan aliran magma :  Schlieren : struktur yang dibentuk mineral prismatik, pipih atau memanjang atau oleh xenolith akibat pergerakan magma.  Segregasi : struktur pengelompokkan mineral (biasanya mineral mafik) yang mengakibatkan perbedaan komposisi mineral dengan batuan induknya.  Lava bantal : struktur yang diakibatkan oleh pergerakkan lava akibat interaksi dengan lingkungan air, bentuknya menyerupai bantal, dimana bagian atas cembung dan bagian bawah cekung. Struktur yang berhubungan dengan pendinginan magma :  Vesikuler : lubang-lubang bekas gas pada batuan beku (lava)  Amigdaloidal : lubang-lubang bekas gas pada batuan beku (lava), yang telah diisi oleh mineral sekunder seperti zeolit, kalsit, kuarsa.  Kekar kolom : kekar berbentuk tiang dimana sumbunya tegak lurus arah aliran.  Kekar berlembar : kekar berbentuk lembaran, biasanya pada tepi/atap intrusi besar akibat hilangnya beban.
  • 19.
    KLASIFIKASI BATUAN BEKU Komposisi batuan : mineralogi dan kimiawi - mineralogi : mineral utama (olivin, piroksen, feldspar dll) mineral tambahan (apatit, rutil, mineral bijih dll) - Kimiawi : unsur utama (major elements) : unsur oksida SiO2, Al2O3 dll unsur jejak (trace elements) : Sr, Rb, Ba dll  ppm unsur tanah jarang (rare earth minerals/REE) : ppb inner transition element  grup lanthanids (57-71) La, Ce, Pr, … … , Lu
  • 22.
     Dasar klasifikasi -mineralogi : % mineral utama - kimiawi ;  silika (% SiO2) ultrabasa (< 45%) basa (45 – 52%) Intermedier/menengah (52 – 66%) Asam (> 66%)  silica saturation, undersaturated, saturated terhadap  thp free silica Contoh : - pembentukan leusit, forsterit (Fe-olivin)  undersaturated - pembentukan Mg-orthopiroksen, albit  saturated thp free silica (quartz)
  • 23.
     alumina saturation -peralumina : saturated thp alumina (Al2O3 > Na2O+K2O+CaO) - peralkaline : oksida alkalin > oksida alumina - subalumina : oksida alumina = atau > oksida alkalin (Na2O+K2O) - metalimina : oksida alumina = atau > Na2O+K2O+CaO) - Color index (Indeks warna)  proporsi mineral felsik dan mafik  mineral felsik : feldspar, feldspartoid, kuarsa, muskovit  mineral mafik : mineral ferromagnesia  olivin, amfibol, klinopiroksen; - C.I. < 30 : leucratic - 30 – 60 : mesocratic - 60 – 90 : melanocratic - > 90 : hypermelanic/ultramafic
  • 24.
    KLASIFIKASI BATUAN BEKU SECARAMEGASKOPIS Berdasarkan Klasifikasi IUGS (1999)  Golongan faneritik  Golongan Afanitik
  • 25.
    1. Golongan Faneritik Batuan bertekstur faneritik, dapat teramati secara megaskopis (mata biasa), berbutir sedang – kasar (lebih besar dari 1mm)  Golongan faneritik dapat dibagi atas beberapa jenis batuan  Dasar pembagiannya adalah kandungan mineral kuarsa (Q), atau mineral feldspartoid (F), feldspar alkali (A), serta kandungan mineral plagioklas (P)  Cara menentukan nama batuan dihitung dengan menganggap jumlah ketiga mineral utama (Q + A + P atau F + A + P) adalah 100%
  • 26.
    Q A P F 60 60 Granitic-rocks 2020 10 10 60 60 Syenitic-rock Dioritic-rock Gabbroic-rock Anorthositic-rock Foid-syenitic- rock Foid-dioritic-rock Foid- gabbroic-rock Foidolitik- rock P Px+Ho Ol 90 90 10 10 40 VIII IV X+XI IX Ol Px Ho IX X XI Q --- quartz A --- alkali feldspar P --- plagioclase F --- foid Px --- pyroxene Ho --- hornblende Ol --- olivine Quartz-rick- coarse-grained- rock VIII = Anortositic-rock IX = Peridotic-rock X = Piroksenitic-rock XI = Hornblenditic-rock
  • 27.
    I = Granitoid II= Syenitoid III = Dioritoid IV = Gabroid V = Foid Syenitoid VI = Foid Dioritoid & Gabroid VII = Foidolit VIII = Anortosit IX = Peridotit X = Piroksenit XI = Hornblendit Untuk II dan IV, “ foid bearing” digunakan bila feldspartoid hadir
  • 28.
    2. Golongan Afanitik Batuan beku bertekstur afanitik, mineral-mineralnya tidak dapat dibedakan dengan mata biasa atau menggunakan loupe, umumnya berbutir halus (< 1mm), sehingga batuan beku jenis ini tidak dapat ditentukan prosentase mineraloginya secara megaskopis.  Salah satu cara terbaik untuk memperkirakan komposisi mineralnya adalah didasarkan atas warna batuan, karena warna batuan umumnya mencerminkan proporsi mineral yang dikandungnya, dalam hal ini proporsi mineral felsik (berwarna terang) dan mineral mafik (berwarna gelap). Semakin banyak mineral mafik, semakin gelap warna batuannya.  Penentuan nama atau jenis batuan beku afanitik masih dapat dilakukan bagi batuan yang bertekstur porfiritik atau vitrofirik, dimana fenokrisnya masih dapat terlihat dan dapat dibedakan, sehingga dapat dibedakan jenis batuannya. Dengan menghitung prosentase mineral yang hadir sebagai fenokris, serta didasarkan pada warna batuan/mineral, maka dapat diperkirakan prosentase masing-masing mineral (Q/F, A. P), maka nama batuan dapat ditentukan.
  • 29.
    Q A P F 60 60 Rhyolitic-rock 2020 10 10 60 60 Trachytic-rock Andesitic- rock Basaltic-rock Phonolitic-rock Tephritic-rock Foiditic-rock Ol Px Ultramafitic Q --- quartz A --- alkali feldspar P --- plagioclase F --- foid Px --- pyroxene Mel --- melilite Ol --- olivine Mel Dacitic- rock
  • 32.
    Hal – halutama yang perlu dicatat dalam deskripsi batuan beku : 1. Warna, sebagai petunjuk awal, untuk memperkirakan komposisi kimia dan mineral dari batuan 2. Tesktur, besar butir dan kemas, yang mana hubungan dengan sejarah dan cara kejadian batuan, serta kecepatan dan urutan pertumbuhan kristal. 3. Mineralogi, sebagai petunjuk untuk identifikasi batuan, biasanya di dalam batuan beku terdapat antara 2 – 4 mineral utama. 4. Inklusi material asing (sebagai tambahan dalam membantu identifikasi batuan). Inklusi ini kadang ditemukan dalam batuan beku dan harus dideskripsi terpisah, inklusi penting ketika kita ingin menilai cara kejadian dan asal tubuh batuan beku.
  • 33.
    sampel Warna : Hitambintik-bintik putih/putih kemerahan dll (warna yang representatif) Struktur : Masif/vesikuler/amigdaloidal/kekar akibat pendinginan dll Tekstur Granulitas/Besar butir Sedang 1-5mm, Kasar 5mm – 3cm, sangat kasar > 3cm Halus < 1mm Faneritik Afanitik Derajat Kristalisasi Holokristalin Holohyalin Hipokristalin/hipohyalin Keseragaman butir/kristal Equigranular Inequagranular Porfiritik/Vitrofirik Panidiomorfik Granular (Euhedral) Hipidiomorfik Granular (Subhedral) Alotriomorfik Granular (Anhedral) Fenokris Komposisi mineral : Kuarsa (..%), ciri-cirinya dll Nama Batuan : Granitoid/Syenitoid/Dioritoid dll
  • 34.
    KARAKTER BATUAN BEKU EKSTRUSIDAN INTRUSI Batuan beku ekstrusi :  Ukuran butir halus – amorf  Chilled margin hanya terdapat di bagian bawah  Efek bakar (baking effect) di bagian bawah  Bagian atas fragmentasi (autobreksi)  Ada xenolith di bawahnya  Vesikular, amigdaloid di bagian atas  Batuan yang dilewati tidak terdeformasi Batuan beku intrusi :  Ukuran butir halus – kasar  Chilled margin terjadi di bagian luar  Terjadi metamorfosis kontak/termal  Batas tidak beraturan-halus  Terdapat xenolith samping batuan yang di bawah maupun yang di atasnya  Vesikuler dan amigdaloid jarang  Mengakibatkan perlipatan, atau deformasi batuan yang diterobos