PENYAKIT KELAMIN
(Bakteri)
Created By :
Shamanzixx
1. Kencing Nanah (Gonorrhoea)
Neisseria Gonorrhoeae
Kencing nanah atau Gonore (bahasa Inggris: gonorrhea atau gonorrhoea)
adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang
menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan bagian putih
mata (konjungtiva). Gonore bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh
lainnya, terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa menjalar ke saluran
kelamin dan menginfeksi selaput di dalam pinggul sehingga timbul nyeri pinggul dan
gangguan reproduksi.
Gonorhea merupakan penyakit infeksi yang menyerang lapisan epitel (lapisan
paling atas dari suatu jaringan). Bila tidak diobati, infeksi ini akan menyebar ke jaringan
yang lebih dalam. Biasanya membentuk koloni di daerah mukosa, orofaring, dan
anogenital.
Neisseria gonorrhoeae merupakan bakteri gram negatif, nonmotil, tidak
membentuk spora, berkembang berkoloni membentuk diplokokus, atau pun tunggal
monokokus. Manusia merupakan satu-satunya inang alami bakteri ini. Untuk
menginfeksi, bakteri membutuhkan kontak langsung dengan mukosa tubuh, bisa lewat
hubungan seks, atau penggunaan toilet duduk. Bakteri ini menempel dengan pilinya.
Gejala Gonorrhoea :
Pada pria, gejala awal gonore biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah
terinfeksi. Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra dan beberapa jam
kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih serta keluarnya nanah dari penis.
Sedangkan pada wanita, gejala awal biasanya timbul dalam waktu 7-21 hari setelah
terinfeksi. Penderita seringkali tidak merasakan gejala selama beberapa minggu atau
bulan, dan diketahui menderita penyakit tersebut hanya setelah pasangan hubungan
seksualnya tertular. Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi beberapa
penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri
ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina, dan demam. Infeksi dapat menyerang
leher rahim, rahim, saluran telur, indung telur, uretra, dan rektum serta menyebabkan
nyeri pinggul yang dalam ketika berhubungan seksual.
Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seks melalui anus
(seks anal) dapat menderita gonore pada rektumnya. Penderita akan merasakan tidak
nyaman di sekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah di sekitar anus
tampak merah dan kasar, serta tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah.
Hubungan seksual melalui mulut dengan seorang penderita gonore biasanya
akan menyebabkan gonore pada tenggorokan (faringitis gonokokal). Umumnya,
infeksi tersebut tidak menimbulkan gejala, namun kadang-kadang menyebabkan nyeri
tenggorokan dan gangguan untuk menelan.
Jika cairan yang terinfeksi mengenai mata, maka bisa menyebabkan terjadinya
infeksi mata luar (konjungtivitis gonore). Bayi yang baru lahir juga bisa terinfeksi gonore
dari ibunya selama proses persalinan sehingga terjadi pembengkakan pada kedua
kelopak matanya dan dari matanya keluar nanah. Jika infeksi itu tidak diobati, maka
akan menimbulkan kebutaan.
Pencegahan :
• Cara yang paling pasti untuk mencegah penyebaran penyakit menular seksual
adalah dengan tidak melakukan hubungan seks.
• Berhubungan seks secara monogami, pastikan pasangan tidak terinfeksi.
• Penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penularan penyakit.
• Pastikan toilet yang digunakan higienis, hindari penggunaan toilet duduk di
tempat umum.
2. Sifilis (Syphilis)
Treponema pallidum
Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri spiroset
Treponema pallidum sub-spesies pallidum. Rute utama penularannya melalui kontak
seksual; infeksi ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat
kelahiran, yang menyebabkan terjadinya sifilis kongenital. Penyakit lain yang diderita
manusia yang disebabkan oleh Treponema pallidum termasuk yaws (subspesies
pertenue), pinta(sub-spesies carateum), dan bejel (sub-spesies endemicum).
Tanda dan gejala sifilis bervariasi bergantung pada fase mana penyakit tersebut
muncul (primer, sekunder, laten, dan tersier). Fase primer secara umum ditandai
dengan munculnya chancre tunggal (ulserasi keras, tidak menimbulkan rasa sakit, tidak
gatal di kulit), sifilis sekunder ditandai dengan ruam yang menyebar yang seringkali
muncul di telapak tangan dan tumit kaki, sifilis laten biasanya tidak memiliki atau hanya
menunjukkan sedikit gejala, dan sifilis tersier dengan gejala gumma, neurologis, atau
jantung. Namun, penyakit ini telah dikenal sebagai "peniru ulung" karena
kemunculannya ditandai dengan gejala yang tidak sama. Diagnosis biasanya
dilakukan melalui tes darah; namun, bakteri juga dapat dilihat melalui mikroskop. Sifilis
dapat diobati secara efektif dengan antibiotik, khususnya dengan suntikan penisilin G
(yang disuntikkan untuk neurosifilis), ataupun ceftriakson, dan bagi pasien yang memiliki
alergi berat terhadap penisilin, doksisiklin atau azitromisin dapat diberikan secara oral
atau diminum.
Sifilis diyakini telah menginfeksi 12 juta orang di seluruh dunia pada tahun 1999,
dengan lebih dari 90% kasus terjadi di negara berkembang. Setelah jumlah kasus
menurun secara dramatis sejak ketersediaan penicilin di seluruh dunia pada 1940an,
angka infeksi kembali meningkat sejak pergantian milenium di banyak negara,
terkadang muncul bersamaan dengan human immunodeficiency virus (HIV). Angka ini
disebabkan sebagian oleh praktik seks yang tidak aman di antara laki-laki yang
berhubungan seksual dengan laki-laki, seks bebas dan angka prostitusi tinggi, serta
penurunan penggunaan proteksi pelindung.
Gejala Sifilis :
Sifilis primer
Tanda-tanda ini mungkin terjadi dari 10 hari sampai tiga bulan setelah terpapar bakteri
Treponema.
Gejalanya:
- Terjadi lesi kecil dan tanpa rasa sakit pada bagian tubuh tempat bakteri masuk,
biasanya alat kelamin, rektum, lidah atau bibir.
- Luka kecil tapi bisa menyebabkan borok.
- Pembesaran kelenjar getah bening di pangkal paha
- Bagian yang sakit akan sembuh tanpa pengobatan, tetapi infeksi sifilis tetap. Pada
beberapa orang, sifilis kemudian bergerak ke tahap sekunder.
Sifilis sekunder
Tanda-tanda dan gejala sifilis sekunder mulai dua sampai 10 minggu setelah luka
muncul dan mungkin termasuk:
- Ruam kulit, yang sering muncul sebagai luka, merah atau coklat kemerahan, ukuran
kecil, di manapun pada tubuh termasuk telapak tangan dan telapak kaki.
- Demam
- Kelelahan dan perasaan tidak nyaman yang samar
- Rasa sakit
- Kelenjar getah bening yang bengkak
- Sakit tenggorokan
- Kutil seperti luka di mulut atau daerah genital
Tanda-tanda dan gejala bisa hilang dalam beberapa minggu atau berulang kali
datang dan pergi selama setahun.
Pencegahan :
Tidak ada vaksin yang efektif untuk pencegahan. Berpantang dari kontak fisik
intim dengan orang yang terinfeksi secara efektif mengurangi penularan sifilis, seperti
penggunaan yang tepat dari kondom lateks. Namun, penggunaan kondom, tidak
sepenuhnya menghilangkan risiko. Oleh karena itu, Centers for Disease Control and
Prevention merekomendasikan hubungan jangka panjang dengan satu pasangan
yang tidak terinfeksi dan menghindari zat seperti alkohol dan zat terlarang lainnya
yang dapat meningkatkan risiko perilaku seksual.
Infeksi dini :
Pilihan perawatan pertama bagi sifilis rumit tetap satu dosis intramuskular penisilin
G atau satu dosis oral azitromisin, Doksisiklin dan tetrasiklin adalah pilihan lainnya;
namun, karena terdapat risiko kelainan pada janin dosisiklin dan tetrasiklin tidak
direkomendasikan untuk wanita hamil. Resistensi terhadap antibiotik telah berkembang
pada sejumlah agen, termasuk makrolid, klindamisin, dan rifampin, Ceftriakson,
generasi ketiga sefalosporin antibiotik, mungkin saja seefektif perawatan berbasis
penisilin.
Infeksi akhir :
Bagi neurosifilis, akibat penetrasi yang lemah dari penisilin G ke dalam sistem
saraf pusat, mereka yang terkena dampak direkomendasikan untuk diberikan penisilin
intravena dosis tinggi minimal untuk 10 hari. Jika orang mengalami alergi, ceftriakson
bisa digunakan atau desensitisasi penisilin dapat dicoba. Kemunculan akhir lain dapat
diobati dengan penisilin G intramuskular sekali seminggu selama tiga minggu. Jika
alergi, seperti pada kasus awal penyakit, doksisiklin atau tetrasiklin dapat digunakan,
sekalipun untuk jangka waktu lebih lama. Perawatan pada fase ini membatasi
perkembangan lebih lanjut, tetapi hanya mempunyai efek relatif kecil pada kerusakan
yang sudah terjadi.
3. Bacterial Vaginosis
Adalah perubahan keseimbangan bakteri normal yang ada di vagina dan bsia
menyebabkan beberapa gejala-gejala yang menggangu. Dapat terjadi
kemungkinan, akan ada lebih dari satu tipe infeksi yang bisa tumbuh di vagina, dalam
waktu bersamaan.
Tidak seimbangnya organisme floral yang hidup secara alami di vagina, adalah
penyebab utama gangguan vagina ini menyerang para cewek. Normalnya, ada
sekitar 95 % vagina floral yang berupa bakteri lactobacillus. Bakteri inilah yang
menjaga pH vagina kita tetap dalam kadar normal dan mencegah pertumbuhan
orgaisme-organisme berbahaya atau bakteri pathogen (penyebab infeksi) di daerah
kewanitaan. bacterial vaginosis memiliki tingkat lactobacillus yang lebih rendah dari
keadaan normal, dan mempunyai kelebihan organisme berbahaya di daerah V-nya.
Sayangnya, para ahli pun belum bisa menemukan penyebab spesifik kenapa bisa
terjadi ketidakseimbangan itu. Meski belum diketahui secara pasti, angka kesehatan
dan faktor gaya hidup berkaitan sekali dengan terjadinya bacterial vaginosis.
Gejala Bacterial Vaginosis :
Cairan kental yang dikeluarkan vagina berwarna putih keabu-abuan, dan berlebihan.
Tapi 1 dari 3 Wanita yang terkena bacterial vaginosis, cairan yang dikeluarkan
berwarna kuning pekat. Yang paling terlihat adalah bau busuk yang ditimbulkan oleh
cairan tersebut.
Pencegahan :
1. Medications Treatment, yaitu pemberian antibiotic (tentunya degna saran dan
rekomedasi dari dokter ahli) adalah pilihan paling tepat untuk mencegah atau
menghilangkan bacterial vaginosis. Ada antibiotic yang bisa diminum atau
dimasukkan ke vagina.
2. Home Treatment, banyak yang menyalahartikan peggunaan Lactobacillus
acidhopilus dalam yogurt yang katanya bisa mengobati bacterial vaginosis.
Padahal, susu atau yogurt yang mengandung lactobacillus tidak bekerja sama
sekali dalam pengobatan bacterial vaginosis, karena lactobacillus yang ada
dalam susu atau yogurt bukan tipe bakteri yang bisa hidup normal dalam
vagina. Nah, kalau jenis lactobacillus yag hidup sehat dalam vagina adalah
jenis lactobacillus L. crispatus dan L. jensenii. Ini dia yang terbukti efektif untuk
megobati bacterial vaginosis.
3. Balancing, Cara paling ampuh untuk mencegah terjadinya bacterial vaginosis
adalah dengan menjaga kseimbangan ekosistem vagina.
4. Pelvic Inflammatory Disease
Penyakit radang panggul (PID) adalah infeksi rahim (rahim), saluran tuba
(saluran yang membawa telur dari ovarium ke rahim) dan organ reproduksi lainnya
yang menyebabkan gejala seperti nyeri perut bagian bawah. Ini merupakan
komplikasi serius dari beberapa penyakit menular seksual (PMS), terutama klamidia dan
gonore. PID dapat merusak saluran tuba dan jaringan di dan dekat uterus dan
ovarium. PID dapat menyebabkan konsekuensi serius, termasuk kemandulan,
kehamilan ektopik (kehamilan di tuba fallopi atau di tempat lain di luar rahim),
pembentukan abses, dan nyeri panggul kronis.
PID sulit untuk mendiagnosis karena gejalanya sering halus dan ringan. Banyak
episode PID tidak terdeteksi karena wanita atau penyedia layanan kesehatan dia
gagal untuk mengenali implikasi dari gejala-gejala ringan atau spesifik. Karena tidak
ada tes yang tepat untuk PID, diagnosis biasanya berdasarkan temuan klinis. Jika
gejala seperti sakit perut bagian bawah hadir, penyedia layanan kesehatan harus
melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan sifat dan lokasi rasa sakit dan
memeriksa demam, cairan vagina atau leher rahim normal, dan untuk bukti infeksi
gonorrheal atau klamidia. Jika temuan menunjukkan PID, pengobatan diperlukan.
Gejala PID :
Rawat Inap untuk mengobati PID mungkin dianjurkan jika wanita (1) adalah
sangat sakit (misalnya, mual, muntah, dan demam tinggi), (2) sedang hamil, (3) tidak
menanggapi atau tidak dapat minum obat oral dan kebutuhan antibiotik intravena ;
(4) memiliki abses pada tuba fallopi atau ovarium (abses Tubo-ovarium), atau (5) perlu
dimonitor untuk memastikan bahwa gejala-nya tidak karena kondisi lain yang
memerlukan operasi darurat (misalnya, radang usus buntu) . Jika gejala berlanjut atau
jika abses tidak hilang, operasi mungkin diperlukan. Komplikasi PID, seperti nyeri
panggul kronis dan jaringan parut sulit untuk mengobati, tapi kadang-kadang mereka
memperbaiki dengan operasi.
Pencegahan :
Perempuan dapat melindungi diri dari PID dengan mengambil tindakan untuk
mencegah PMS atau dengan mendapatkan pengobatan dini jika mereka
mendapatkan STD.
Cara paling pasti untuk menghindari penularan PMS adalah untuk menjauhkan diri dari
hubungan seksual, atau berada dalam hubungan saling monogami jangka panjang
dengan pasangan yang telah diuji dan diketahui tidak terinfeksi.
Latex kondom laki-laki, bila digunakan secara konsisten dan benar, dapat mengurangi
risiko penularan klamidia dan gonore.
CDC merekomendasikan pengujian klamidia tahunan dari semua wanita aktif seksual
usia 25 tahun atau lebih muda, wanita yang lebih tua dengan faktor risiko untuk infeksi
klamidia (mereka yang memiliki pasangan seks baru atau pasangan seks), dan semua
wanita hamil. Penilaian risiko yang tepat seksual oleh penyedia layanan kesehatan
harus selalu dilakukan dan dapat menunjukkan lebih skrining sering bagi beberapa
wanita.
5. Klamidia
Klamidia atau chlamydia (bahasa Inggris) adalah penyakit menular seksual
yang disebabkan oleh bakteri, yang disebut bacteria Chlamydia trachomatis. Penyakit
ini menginfeksi pria maupun wanita melalui hubungan seksual yang terinfeksi bakteri
tersebut.
Penyakit ini memiliki gejala yang ringan, bahkan tidak disadari oleh si
penderitanya, komplikasi yang serius dapat menyebabkan kerusakan permanen dan
infertilitas. Gejala dari klamidia adalah keputihan yang abnormal, terasa nyeri seperti
terbakar ketika berkemih, mungkin terasa nyeri perut bagian bawah, nyeri punggung
bawah, mual, demam, sakit ketika berhubungan seksual dan lain sebagainya. Jika
pada pria gejalanya adalah cairan yang berlebihan pada penis, perasaan terbakar
dan gatal pada sekitar pembukaan penis.
Cara terbaik agar terhindar dari bakteri Chlamydia adalah menjauhkan diri dari
kontak seksual yang terinfeksi bakteri tersebut, menjalankan hubungan yang sehat
dengan pasangan (suami/istri) yang tidak terinfeksi, serta menjauhkan diri dari
pergaulan yang mengarah kepada seks bebas.
6. NGU (Non-Gonococal Uretris)
Non-gonococcal urethritis (NGU) adalah peradangan pada saluran kencing
yang tidak disebabkan oleh infeksi gonorrhea, melainkan bakteri mycoplasma
genitalium. Untuk keperluan pengobatan, dokter biasanya mengklasifikasikan urethritis
menular dalam dua kategori: gonococcocal urethritis, yang disebabkan oleh gohneria;
dan non-gonococcal urethritis (NGU).
Gejala urethritis dapat berupa rasa sakit atau sensasi terbakar setelah kencing
(dysuria), keluarnya cairan putih/keruh dari urinari dan perasaan ingin selalu kencing.
Untuk laki-laki, gejalanya berupa keluarnya cairan yang tidak biasa dari penis, rasa
terbakar atau perih ketika kencing, gatal, iritasi, atau kesakitan, dan pada celana
dalam bagian depan dapat dijumpai noda. Pada Perempuan, gejalanya berupa
keluarnya cairan yang tidak biasa dari vagina, rasa terbakar atau perih ketika kencing,
dan infeksi anal atau mulut. Sakit abdominal (di sekitar perut) dan pendarahan vagina
yang abnormal mungkin merupakan indikasi bahwa infeksi telah berkembang menjadi
Pelvic Inflammatory Disease (peradangan pada sekitar rahim).
Namun demikian, kadang-kadang NGU tidak menunjukkan gejala (khususnya pada
perempuan).
Penggunaan kondom (latex condom) yang konsisten dan benar, sangat mengurangi
kemungkinan penularan NGU.
7. Vulvovaginitis
Vulvovaginitis adalah iritasi/inflamasi pada kulit daerah vulva dan vagina. Iritasi ini
dapat menyebabkan terjadinya :
• gatal-gatal (45-58%) di sekitar daerah labia mayora (bibir vagina besar), labia
minor (bibir vagina kecil), dan daerah perineal (daerah perbatsan antara
vagina dan anus)
• kemerahan dan rasa seperti terbakar pada kulit (82%)
• rasa tidak nyaman pada kulit terutama pada saat atau setelah buang air kecil
• banyaknya lendir yang keluar dari vagina (62-92%)
• pendarahan (5-10%).
Karena adanya sistem perlindungan normal yang kuat, maka tidak mudah bagi
kuman dan bakteri dapat menimbulkan penyakit pada daerah sekitar vagina dan
vulva. Namun, gangguan dari salah satu pertahanan tersebut dapat menyebabkan
kita menjadi lebih rentan terkena vulvovaginitis. Diantaranya karena bakteri
Gardnertella Vaginalis...
Penggunaan kondom selama hubungan seksual bisa mencegah sebagian besar
infeksi menular seksual vagina. Tepat pas dan memadai penyerap pakaian,
dikombinasikan dengan baik kebersihan daerah genital juga mencegah banyak kasus
infeksi non-vulvovaginitis.
Anak-anak harus diajarkan bagaimana cara benar membersihkan daerah
genital saat memandikan atau mandi. Tepat menyeka setelah menggunakan toilet
juga akan membantu (anak harus selalu menyeka dari depan ke belakang untuk
menghindari memperkenalkan bakteri dari anus ke vagina). Tangan harus dicuci bersih
sebelum dan setelah menggunakan kamar mandi.

Penyakit Kelamin (Bakteri)

  • 1.
  • 2.
    1. Kencing Nanah(Gonorrhoea) Neisseria Gonorrhoeae Kencing nanah atau Gonore (bahasa Inggris: gonorrhea atau gonorrhoea) adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan bagian putih mata (konjungtiva). Gonore bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa menjalar ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam pinggul sehingga timbul nyeri pinggul dan gangguan reproduksi. Gonorhea merupakan penyakit infeksi yang menyerang lapisan epitel (lapisan paling atas dari suatu jaringan). Bila tidak diobati, infeksi ini akan menyebar ke jaringan yang lebih dalam. Biasanya membentuk koloni di daerah mukosa, orofaring, dan anogenital. Neisseria gonorrhoeae merupakan bakteri gram negatif, nonmotil, tidak membentuk spora, berkembang berkoloni membentuk diplokokus, atau pun tunggal monokokus. Manusia merupakan satu-satunya inang alami bakteri ini. Untuk menginfeksi, bakteri membutuhkan kontak langsung dengan mukosa tubuh, bisa lewat hubungan seks, atau penggunaan toilet duduk. Bakteri ini menempel dengan pilinya.
  • 3.
    Gejala Gonorrhoea : Padapria, gejala awal gonore biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi. Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra dan beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih serta keluarnya nanah dari penis. Sedangkan pada wanita, gejala awal biasanya timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi. Penderita seringkali tidak merasakan gejala selama beberapa minggu atau bulan, dan diketahui menderita penyakit tersebut hanya setelah pasangan hubungan seksualnya tertular. Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina, dan demam. Infeksi dapat menyerang leher rahim, rahim, saluran telur, indung telur, uretra, dan rektum serta menyebabkan nyeri pinggul yang dalam ketika berhubungan seksual. Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seks melalui anus (seks anal) dapat menderita gonore pada rektumnya. Penderita akan merasakan tidak nyaman di sekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah di sekitar anus tampak merah dan kasar, serta tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah. Hubungan seksual melalui mulut dengan seorang penderita gonore biasanya akan menyebabkan gonore pada tenggorokan (faringitis gonokokal). Umumnya, infeksi tersebut tidak menimbulkan gejala, namun kadang-kadang menyebabkan nyeri tenggorokan dan gangguan untuk menelan. Jika cairan yang terinfeksi mengenai mata, maka bisa menyebabkan terjadinya infeksi mata luar (konjungtivitis gonore). Bayi yang baru lahir juga bisa terinfeksi gonore dari ibunya selama proses persalinan sehingga terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan dari matanya keluar nanah. Jika infeksi itu tidak diobati, maka akan menimbulkan kebutaan. Pencegahan : • Cara yang paling pasti untuk mencegah penyebaran penyakit menular seksual adalah dengan tidak melakukan hubungan seks. • Berhubungan seks secara monogami, pastikan pasangan tidak terinfeksi. • Penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penularan penyakit. • Pastikan toilet yang digunakan higienis, hindari penggunaan toilet duduk di tempat umum.
  • 4.
    2. Sifilis (Syphilis) Treponemapallidum Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri spiroset Treponema pallidum sub-spesies pallidum. Rute utama penularannya melalui kontak seksual; infeksi ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat kelahiran, yang menyebabkan terjadinya sifilis kongenital. Penyakit lain yang diderita manusia yang disebabkan oleh Treponema pallidum termasuk yaws (subspesies pertenue), pinta(sub-spesies carateum), dan bejel (sub-spesies endemicum). Tanda dan gejala sifilis bervariasi bergantung pada fase mana penyakit tersebut muncul (primer, sekunder, laten, dan tersier). Fase primer secara umum ditandai dengan munculnya chancre tunggal (ulserasi keras, tidak menimbulkan rasa sakit, tidak gatal di kulit), sifilis sekunder ditandai dengan ruam yang menyebar yang seringkali muncul di telapak tangan dan tumit kaki, sifilis laten biasanya tidak memiliki atau hanya menunjukkan sedikit gejala, dan sifilis tersier dengan gejala gumma, neurologis, atau jantung. Namun, penyakit ini telah dikenal sebagai "peniru ulung" karena kemunculannya ditandai dengan gejala yang tidak sama. Diagnosis biasanya dilakukan melalui tes darah; namun, bakteri juga dapat dilihat melalui mikroskop. Sifilis dapat diobati secara efektif dengan antibiotik, khususnya dengan suntikan penisilin G (yang disuntikkan untuk neurosifilis), ataupun ceftriakson, dan bagi pasien yang memiliki alergi berat terhadap penisilin, doksisiklin atau azitromisin dapat diberikan secara oral atau diminum. Sifilis diyakini telah menginfeksi 12 juta orang di seluruh dunia pada tahun 1999, dengan lebih dari 90% kasus terjadi di negara berkembang. Setelah jumlah kasus menurun secara dramatis sejak ketersediaan penicilin di seluruh dunia pada 1940an,
  • 5.
    angka infeksi kembalimeningkat sejak pergantian milenium di banyak negara, terkadang muncul bersamaan dengan human immunodeficiency virus (HIV). Angka ini disebabkan sebagian oleh praktik seks yang tidak aman di antara laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki, seks bebas dan angka prostitusi tinggi, serta penurunan penggunaan proteksi pelindung. Gejala Sifilis : Sifilis primer Tanda-tanda ini mungkin terjadi dari 10 hari sampai tiga bulan setelah terpapar bakteri Treponema. Gejalanya: - Terjadi lesi kecil dan tanpa rasa sakit pada bagian tubuh tempat bakteri masuk, biasanya alat kelamin, rektum, lidah atau bibir. - Luka kecil tapi bisa menyebabkan borok. - Pembesaran kelenjar getah bening di pangkal paha - Bagian yang sakit akan sembuh tanpa pengobatan, tetapi infeksi sifilis tetap. Pada beberapa orang, sifilis kemudian bergerak ke tahap sekunder. Sifilis sekunder Tanda-tanda dan gejala sifilis sekunder mulai dua sampai 10 minggu setelah luka muncul dan mungkin termasuk: - Ruam kulit, yang sering muncul sebagai luka, merah atau coklat kemerahan, ukuran kecil, di manapun pada tubuh termasuk telapak tangan dan telapak kaki. - Demam - Kelelahan dan perasaan tidak nyaman yang samar - Rasa sakit - Kelenjar getah bening yang bengkak - Sakit tenggorokan - Kutil seperti luka di mulut atau daerah genital Tanda-tanda dan gejala bisa hilang dalam beberapa minggu atau berulang kali datang dan pergi selama setahun.
  • 6.
    Pencegahan : Tidak adavaksin yang efektif untuk pencegahan. Berpantang dari kontak fisik intim dengan orang yang terinfeksi secara efektif mengurangi penularan sifilis, seperti penggunaan yang tepat dari kondom lateks. Namun, penggunaan kondom, tidak sepenuhnya menghilangkan risiko. Oleh karena itu, Centers for Disease Control and Prevention merekomendasikan hubungan jangka panjang dengan satu pasangan yang tidak terinfeksi dan menghindari zat seperti alkohol dan zat terlarang lainnya yang dapat meningkatkan risiko perilaku seksual. Infeksi dini : Pilihan perawatan pertama bagi sifilis rumit tetap satu dosis intramuskular penisilin G atau satu dosis oral azitromisin, Doksisiklin dan tetrasiklin adalah pilihan lainnya; namun, karena terdapat risiko kelainan pada janin dosisiklin dan tetrasiklin tidak direkomendasikan untuk wanita hamil. Resistensi terhadap antibiotik telah berkembang pada sejumlah agen, termasuk makrolid, klindamisin, dan rifampin, Ceftriakson, generasi ketiga sefalosporin antibiotik, mungkin saja seefektif perawatan berbasis penisilin. Infeksi akhir : Bagi neurosifilis, akibat penetrasi yang lemah dari penisilin G ke dalam sistem saraf pusat, mereka yang terkena dampak direkomendasikan untuk diberikan penisilin intravena dosis tinggi minimal untuk 10 hari. Jika orang mengalami alergi, ceftriakson bisa digunakan atau desensitisasi penisilin dapat dicoba. Kemunculan akhir lain dapat diobati dengan penisilin G intramuskular sekali seminggu selama tiga minggu. Jika alergi, seperti pada kasus awal penyakit, doksisiklin atau tetrasiklin dapat digunakan, sekalipun untuk jangka waktu lebih lama. Perawatan pada fase ini membatasi perkembangan lebih lanjut, tetapi hanya mempunyai efek relatif kecil pada kerusakan yang sudah terjadi.
  • 7.
    3. Bacterial Vaginosis Adalahperubahan keseimbangan bakteri normal yang ada di vagina dan bsia menyebabkan beberapa gejala-gejala yang menggangu. Dapat terjadi kemungkinan, akan ada lebih dari satu tipe infeksi yang bisa tumbuh di vagina, dalam waktu bersamaan. Tidak seimbangnya organisme floral yang hidup secara alami di vagina, adalah penyebab utama gangguan vagina ini menyerang para cewek. Normalnya, ada sekitar 95 % vagina floral yang berupa bakteri lactobacillus. Bakteri inilah yang menjaga pH vagina kita tetap dalam kadar normal dan mencegah pertumbuhan orgaisme-organisme berbahaya atau bakteri pathogen (penyebab infeksi) di daerah kewanitaan. bacterial vaginosis memiliki tingkat lactobacillus yang lebih rendah dari keadaan normal, dan mempunyai kelebihan organisme berbahaya di daerah V-nya. Sayangnya, para ahli pun belum bisa menemukan penyebab spesifik kenapa bisa terjadi ketidakseimbangan itu. Meski belum diketahui secara pasti, angka kesehatan dan faktor gaya hidup berkaitan sekali dengan terjadinya bacterial vaginosis.
  • 8.
    Gejala Bacterial Vaginosis: Cairan kental yang dikeluarkan vagina berwarna putih keabu-abuan, dan berlebihan. Tapi 1 dari 3 Wanita yang terkena bacterial vaginosis, cairan yang dikeluarkan berwarna kuning pekat. Yang paling terlihat adalah bau busuk yang ditimbulkan oleh cairan tersebut. Pencegahan : 1. Medications Treatment, yaitu pemberian antibiotic (tentunya degna saran dan rekomedasi dari dokter ahli) adalah pilihan paling tepat untuk mencegah atau menghilangkan bacterial vaginosis. Ada antibiotic yang bisa diminum atau dimasukkan ke vagina. 2. Home Treatment, banyak yang menyalahartikan peggunaan Lactobacillus acidhopilus dalam yogurt yang katanya bisa mengobati bacterial vaginosis. Padahal, susu atau yogurt yang mengandung lactobacillus tidak bekerja sama sekali dalam pengobatan bacterial vaginosis, karena lactobacillus yang ada dalam susu atau yogurt bukan tipe bakteri yang bisa hidup normal dalam vagina. Nah, kalau jenis lactobacillus yag hidup sehat dalam vagina adalah jenis lactobacillus L. crispatus dan L. jensenii. Ini dia yang terbukti efektif untuk megobati bacterial vaginosis. 3. Balancing, Cara paling ampuh untuk mencegah terjadinya bacterial vaginosis adalah dengan menjaga kseimbangan ekosistem vagina.
  • 9.
    4. Pelvic InflammatoryDisease Penyakit radang panggul (PID) adalah infeksi rahim (rahim), saluran tuba (saluran yang membawa telur dari ovarium ke rahim) dan organ reproduksi lainnya yang menyebabkan gejala seperti nyeri perut bagian bawah. Ini merupakan komplikasi serius dari beberapa penyakit menular seksual (PMS), terutama klamidia dan gonore. PID dapat merusak saluran tuba dan jaringan di dan dekat uterus dan ovarium. PID dapat menyebabkan konsekuensi serius, termasuk kemandulan, kehamilan ektopik (kehamilan di tuba fallopi atau di tempat lain di luar rahim), pembentukan abses, dan nyeri panggul kronis. PID sulit untuk mendiagnosis karena gejalanya sering halus dan ringan. Banyak episode PID tidak terdeteksi karena wanita atau penyedia layanan kesehatan dia gagal untuk mengenali implikasi dari gejala-gejala ringan atau spesifik. Karena tidak ada tes yang tepat untuk PID, diagnosis biasanya berdasarkan temuan klinis. Jika gejala seperti sakit perut bagian bawah hadir, penyedia layanan kesehatan harus melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan sifat dan lokasi rasa sakit dan memeriksa demam, cairan vagina atau leher rahim normal, dan untuk bukti infeksi gonorrheal atau klamidia. Jika temuan menunjukkan PID, pengobatan diperlukan. Gejala PID :
  • 10.
    Rawat Inap untukmengobati PID mungkin dianjurkan jika wanita (1) adalah sangat sakit (misalnya, mual, muntah, dan demam tinggi), (2) sedang hamil, (3) tidak menanggapi atau tidak dapat minum obat oral dan kebutuhan antibiotik intravena ; (4) memiliki abses pada tuba fallopi atau ovarium (abses Tubo-ovarium), atau (5) perlu dimonitor untuk memastikan bahwa gejala-nya tidak karena kondisi lain yang memerlukan operasi darurat (misalnya, radang usus buntu) . Jika gejala berlanjut atau jika abses tidak hilang, operasi mungkin diperlukan. Komplikasi PID, seperti nyeri panggul kronis dan jaringan parut sulit untuk mengobati, tapi kadang-kadang mereka memperbaiki dengan operasi. Pencegahan : Perempuan dapat melindungi diri dari PID dengan mengambil tindakan untuk mencegah PMS atau dengan mendapatkan pengobatan dini jika mereka mendapatkan STD. Cara paling pasti untuk menghindari penularan PMS adalah untuk menjauhkan diri dari hubungan seksual, atau berada dalam hubungan saling monogami jangka panjang dengan pasangan yang telah diuji dan diketahui tidak terinfeksi. Latex kondom laki-laki, bila digunakan secara konsisten dan benar, dapat mengurangi risiko penularan klamidia dan gonore. CDC merekomendasikan pengujian klamidia tahunan dari semua wanita aktif seksual usia 25 tahun atau lebih muda, wanita yang lebih tua dengan faktor risiko untuk infeksi klamidia (mereka yang memiliki pasangan seks baru atau pasangan seks), dan semua wanita hamil. Penilaian risiko yang tepat seksual oleh penyedia layanan kesehatan harus selalu dilakukan dan dapat menunjukkan lebih skrining sering bagi beberapa wanita. 5. Klamidia
  • 11.
    Klamidia atau chlamydia(bahasa Inggris) adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri, yang disebut bacteria Chlamydia trachomatis. Penyakit ini menginfeksi pria maupun wanita melalui hubungan seksual yang terinfeksi bakteri tersebut. Penyakit ini memiliki gejala yang ringan, bahkan tidak disadari oleh si penderitanya, komplikasi yang serius dapat menyebabkan kerusakan permanen dan infertilitas. Gejala dari klamidia adalah keputihan yang abnormal, terasa nyeri seperti terbakar ketika berkemih, mungkin terasa nyeri perut bagian bawah, nyeri punggung bawah, mual, demam, sakit ketika berhubungan seksual dan lain sebagainya. Jika pada pria gejalanya adalah cairan yang berlebihan pada penis, perasaan terbakar dan gatal pada sekitar pembukaan penis. Cara terbaik agar terhindar dari bakteri Chlamydia adalah menjauhkan diri dari kontak seksual yang terinfeksi bakteri tersebut, menjalankan hubungan yang sehat dengan pasangan (suami/istri) yang tidak terinfeksi, serta menjauhkan diri dari pergaulan yang mengarah kepada seks bebas. 6. NGU (Non-Gonococal Uretris)
  • 12.
    Non-gonococcal urethritis (NGU)adalah peradangan pada saluran kencing yang tidak disebabkan oleh infeksi gonorrhea, melainkan bakteri mycoplasma genitalium. Untuk keperluan pengobatan, dokter biasanya mengklasifikasikan urethritis menular dalam dua kategori: gonococcocal urethritis, yang disebabkan oleh gohneria; dan non-gonococcal urethritis (NGU). Gejala urethritis dapat berupa rasa sakit atau sensasi terbakar setelah kencing (dysuria), keluarnya cairan putih/keruh dari urinari dan perasaan ingin selalu kencing. Untuk laki-laki, gejalanya berupa keluarnya cairan yang tidak biasa dari penis, rasa terbakar atau perih ketika kencing, gatal, iritasi, atau kesakitan, dan pada celana dalam bagian depan dapat dijumpai noda. Pada Perempuan, gejalanya berupa keluarnya cairan yang tidak biasa dari vagina, rasa terbakar atau perih ketika kencing, dan infeksi anal atau mulut. Sakit abdominal (di sekitar perut) dan pendarahan vagina yang abnormal mungkin merupakan indikasi bahwa infeksi telah berkembang menjadi Pelvic Inflammatory Disease (peradangan pada sekitar rahim). Namun demikian, kadang-kadang NGU tidak menunjukkan gejala (khususnya pada perempuan). Penggunaan kondom (latex condom) yang konsisten dan benar, sangat mengurangi kemungkinan penularan NGU. 7. Vulvovaginitis
  • 13.
    Vulvovaginitis adalah iritasi/inflamasipada kulit daerah vulva dan vagina. Iritasi ini dapat menyebabkan terjadinya : • gatal-gatal (45-58%) di sekitar daerah labia mayora (bibir vagina besar), labia minor (bibir vagina kecil), dan daerah perineal (daerah perbatsan antara vagina dan anus) • kemerahan dan rasa seperti terbakar pada kulit (82%) • rasa tidak nyaman pada kulit terutama pada saat atau setelah buang air kecil • banyaknya lendir yang keluar dari vagina (62-92%) • pendarahan (5-10%). Karena adanya sistem perlindungan normal yang kuat, maka tidak mudah bagi kuman dan bakteri dapat menimbulkan penyakit pada daerah sekitar vagina dan vulva. Namun, gangguan dari salah satu pertahanan tersebut dapat menyebabkan kita menjadi lebih rentan terkena vulvovaginitis. Diantaranya karena bakteri Gardnertella Vaginalis... Penggunaan kondom selama hubungan seksual bisa mencegah sebagian besar infeksi menular seksual vagina. Tepat pas dan memadai penyerap pakaian, dikombinasikan dengan baik kebersihan daerah genital juga mencegah banyak kasus infeksi non-vulvovaginitis. Anak-anak harus diajarkan bagaimana cara benar membersihkan daerah genital saat memandikan atau mandi. Tepat menyeka setelah menggunakan toilet juga akan membantu (anak harus selalu menyeka dari depan ke belakang untuk menghindari memperkenalkan bakteri dari anus ke vagina). Tangan harus dicuci bersih sebelum dan setelah menggunakan kamar mandi.