Nofia Hardarani, A. Purwito dan Dewi Sukma

          PERBANYAKAN IN VITRO PADA TANAMAN JERUJU (Hydrolea spinosa L.)
              DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH

                      IN VITRO MICROPROPAGATION IN JERUJU (Hydrolea spinosa L.)
                         WITH VARIOUS OF PLANT REGULATOR CONCENTRATION
                                              1              2                    2
                                Nofia Hardarani , Agus Purwito , dan Dewi Sukma
                            1
                             Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNLAM
                             Jl. Jend. A. Yani Km.36 PO Box 1028 Banjarbaru 70714
                                    2
                                      Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor,
                                Jl. Meranti Kampus IPB Dramaga Bogor, Indonesia


                                                  ABSTRACT

Hydrolea spinosa(jeruju) is one of the potential plant for antimalarial medicine according to local people in
Kayu Rabah Village in South Kalimantan. The growth of these auxilarry shoots of this plant will be inhibited
when is grown on the soil medium due to the different environment of original habitat (swamp areal).
Therefore, tissue culture is an alternative propagation of this plant. The objectives of this research were to
study in vitro micropropagation in H. spinosa. Shoot induction and proliferation was studied using shoot tip
and node segments in MS medium with various concentration of BAP (0.0, 0.5, 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, and 5.0 mg
 -1
L ). Shoot elongation was done using different strength of MS salts (full-, a half-, one-quarter strength) and
                                      -1
with or without addition of 1.0 mg L gibberellin (GA3). The result showed that cytokinin level produced a
significant response on the numbers of shoot per explants and also showed effect on node number. Both of
shoot tip and node segments had a similar potential as explants in shoot induction and proliferation. The half
strength of MS salts produced root with vigorous planlets. The planlets produced from elongation phase were
acclimatized and had survival rate up to 75%.
Key words: Hydrolea spinosa, in vitro micropropagation, BAP, gibberellin.

                                                  ABSTRAK

Hydrolea spinosa merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai obat antimalaria
menurutmasyarakat di Desa Kayu Rabah,di Kalimantan Selatan. Pertumbuhan tunas aksilar dari tanaman ini
terhambat ketika ditanam pada media tanah yang berbeda dengan lingkungan tumbuh di habitatnya (lahan
rawa). Oleh sebab itu, kultur jaringan menjadi perbanyakan alternatif dari tanaman ini. Tujuan dari penelitian
ini adalah memperoleh metode perbanyakan tanaman jeruju secara in vitro.Induksi dan proliferasi
tunas.Induksi dan proliferasi tunas dilakukan dengan menggunakan eksplan pucuk dan buku dalam media
                                                                                                 -1
MS yang ditambah BAP pada beberapa konsentrasi (0.0, 0.5, 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, and 5.0 mg L ). Elongasi
tunas yang menggunakan media MS dengan berbagai konsentrasi hara (penuh, setengah dan seperempat
                                                                     -1
konsentrasi hara) dan dengan atau tanpa penambahan 1.0 mg L giberelin (GA3). Konsentrasi sitokinin
memberikan pengaruh yang berbeda nyata bagi jumlah tunas per eksplan dan jumlah buku per tanaman.
Baik eksplan pucuk maupun buku memiliki potensi yang sama sebagai bahan tanam dalam induksi dan
proliferasi tunas. Media MS dengan setengah konsentrasi hara menghasilkan perakaran dan tunas yang
vigor. Tunas hasil elongasi pada media MS ½ diaklimatisasi dan memiliki daya tumbuh sebesar 75%.
Kata kunci: Hydrolea spinosa, perbanyakan in vitro, BAP, giberelin.

PENDAHULUAN                                              kajian etnobotani oleh Dharmono (2007) digunakan
                                                         masyarakat sebagai obat antimalaria.Berdasarkan
   Masyarakat     Indonesia  pada      umumnya
                                                         potensi jeruju tersebut maka tanaman ini dapat
menggunakan tanaman tertentu untuk tujuan
                                                         menjadi salah satu herbal untuk obat antimalaria.
pengobatan berdasarkan pengalaman empiris
                                                             Habitat tanaman jeruju berupa lahan basah,
bahwa senyawa metabolit sekunder di dalamnya
                                                         seperti di lahan rawa. Umumnya, tanaman jeruju
mempunyai khasiat obat (Kusumawati et al. 2003).
                                                         yang tumbuh di habitatnya memiliki percabangan
Di daerah Kalimantan Selatan memiliki beberapa
                                                         tunas aksilar yang banyak. Pucuk-pucuk yang
tanaman yang berpotensi sebagai obat yang belum
                                                         tumbuh dari tunas aksilar tersebut yang
dieksplorasi. Salah satunya adalah tanaman
                                                         dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat anti
Jeruju(Hydrolea spinosa L.) yang berdasarkan
                                                         malaria. Namun hasil perbanyakan stek tanaman ini

6                                                                                 Agroscientiae ISSN 0854-2333
Perbanyakan In Vitro Pada Tanaman Jeruju……

                                                                                           -1
pada media tanah menunjukkan pertumbuhan tunas         atasMS, MS ½, MS ¼, MS + 1 mg L giberelin (GA3),
                                                                         -1                     -1
aksilar yang terhambat. Pertumbuhan bibit yang         MS ½ + 1 mg L GA3, MS ¼ + 1 mg L GA3.
berasal dari satu stek tanaman lebih didominansi       Terdapat enam perlakuan dimana setiap perlakuan
oleh pertumbuhan pucuk apikal dengan sedikit           diulang sebanyak lima kali.
percabangan          aksilar.Dengan       demikian,
perbanyakan stek secara in vivo dari tanaman ini       HASIL DAN PEMBAHASAN
membutuhkan media yang sesuai dengan
habitatnya, yaitu di lahan basah (Nisa et al. 2009).   Induksi dan Proliferasi Tunas
Hal ini yang menyebabkan upaya produksi bibit             Tabel 1 menunjukkan eksplan buku yang
tanaman ini akan membutuhkan jumlah bahan              menggunakan BAP dengan konsentrasi tertinggi
                                                                 -1
tanaman yang besar dan tempat yang luas apabila        (5.0 mg L ) dapat menghasilkan jumlah tunas per
menyesuaikan kebutuhan ekstraksi bagian pucuk          eksplan tertinggi. Hal ini sejalan dengan yang
tanaman yang berkhasiat obat. Oleh sebab itu,          dikemukakan Ntui et al. (2009) yang menyatakan
perbanyakan secara in vitro menjadi alternatif dalam   bahwa induksi tunas tertinggi pada tanaman
produksi bibit tanaman jeruju yang juga dapat          Colocynthis citrullus L. diperoleh pada media MS
                                                                                            -1
menghasilkan bibit yang tersedia sepanjang waktu       yang ditambah dengan 5 mg L BAP, yaitu
dan seragam (Yunita & Lestari 2008).                   sebanyak 3.5 tunas. Interaksi antara konsentrasi
    Penelitian mengenai perbanyakan pada tanaman       BAP dengan sumber eksplan mempengaruhi
jeruju melalui kultur jaringan belum pernah            kemampuan eksplan dalam proliferasi tunas terkait
dilakukan. Oleh sebab itu, optimasi dalam induksi      dengan adanya dominansi apikal pada eksplan
tunas dan akar menjadi tahapan penting dalam           pucuk yang menyebabkan penghambatan pada
protokol perbanyakan tanamanini secara in vitro.       pertumbuhan tunas lateral (Arteca 1995).Sementara
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh              pada eksplan buku terjadi penghilangan ujung tunas
konsentrasi ZPT yang terbaik untuk induksi,            sehingga dapat mengurangi dominansi apikal dan
proliferasi dan elongasi tunastanaman jerujumelalui    meningkatkan respon morfogenesis eksplan tunas
metode perbanyakan tanaman secara in vitro             (Mohamed-Yasseen 1994).

METODE PENELITIAN                                      Tabel 1. Interaksi konsentrasi BAP dengan jenis
                                                                 eksplan pada media MS terhadap jumlah
Lokasi dan Waktu Penelitian                                      tunas per eksplan pada pengamatan 4
                                                                 MST
   Penelitian   dilaksanakan pada bulan Januari
                                                       Table 1. Interaction of BAP concentration and type
2010 hingga Pebruari 2011 di Laboratorium Kultur
                                                                 of explants on MS medium to the number
Jaringan Departemen Agronomi dan Hortikultura
                                                                 of shoot per explants 4 weeks after
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bahan
                                                                 planting
tanam (eksplan) yang digunakan adalah bagian dari
                                                             Perlakuan               Jenis eksplan
tanaman Jeruju (Hydrolea spinosa L.) yang berasal           (Treatment)            (Type of explants)
dari Desa Kayu Rabah Kecamatan Pandawan,                             -1
                                                            BAP (mg L )          Pucuk            Buku
Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan                                       (Shoot tip)       (Node)
Selatan. Media dasar yang digunakan untuk semua                 0.0              1.00 i         1.67 hi
perlakuan adalah media Murashige & Skoog (MS).                  0.5              1.73 hi        2.07 gh
                                                                1.0              2.00 gh        3.93 de
Metode Penelitian
                                                                2.0               3.00 f         2.73 fg
Induksi dan Proliferasi Tunas                                   3.0               3.07 f         3.40 ef
   Percobaan menggunakan rancangan acak                         4.0              4.40 cd        5.60 ab
kelompok faktorial dua faktor. Faktor pertama                    5.0
adalah jenis eksplan yang terdiri atas pucuk dan                                  5.07 bc      6.07 a
                                                       Ket. : MST = minggu setelah tanam. Angka yang diikuti
buku, sedangkanfaktor kedua adalah konsentrasi 6-
                                                              huruf yang sama pada baris dan kolom tidak
benzylaminopurine (BAP) yang terdiri atas0.0, 0.5,            berbeda nyata pada DMRT dengan α=5%
                             -1
1.0, 2.0, 3.0, 4.0dan 5.0mg L . Terdapat 14(empat
belas) perlakuan dengan tiga kelompok yang dibagi         Senyawa BAP meningkatkan kemampuan
berdasarkan waktu tanam. Setiap kelompok terdiri       regenerasi dengan menstimulasi kemampuan
dari lima botol tanam.                                 pembelahan sel dalam jaringan.Pengaruh aplikasi
                                                       BAP bekerja melalui siklus pembelahan sel dengan
Elongasi Tunas In Vitro                                mengendalikan aktivitas enzim cyclin-dependent
   Percobaan menggunakan rancangan acak                kinase (CDKs) pada akhir fase S, M dan G1 (Taiz &
lengkap satu faktor berupa jenis mediayang terdiri     Zeiger 2002). Respon terhadap sinyal hormonal


Agroscientiae                      Volume 19 Nomor 1 April 2012                                            7
Nofia Hardarani, A. Purwito dan Dewi Sukma

tersebut menunjukkan sel-sel dalam eksplan                  meristematik dimana sel-selnya aktif membelah
menjadi sel yang kompeten (Sugiyama 1999).                  (Wattimena et al. 1992).
Semakin tinggi konsentrasi BAP menyebabkan                     Aplikasi konsentrasi yang lebih rendah dari 4.0
                                                                 -1
semakin banyak sel yang kompeten dalam satu                 mg L BAP belum mampu mendukung pertumbuhan
jaringan sehingga potensi regenerasi menjadi lebih          buku tunas secara optimal sedangkan pada
                                                                                                       -1
tinggi (Veltcheva & Svetleva 2005).                         konsentrasi yang lebih tinggi dari 4.0 mg L dapat
                                                            memecah dominansi apikal dan meningkatkan
Tabel 2. Interaksi konsentrasi BAP dengan jenis             pembentukan tunas (Ntui et al. 2009; Arigita et al.
          eksplan pada media MS terhadap jumlah             2005). Hal ini yang menyebabkan morfogenesis
          buku per tanaman pada pengamatan 4                tanaman diarahkan pada pembentukan tunas baru,
          MST                                               bukan pembentukan buku di bagian bawah apikal
Table 2. Interaction of BAP concentration and type          (Wattimena et al. 1992).
          of explants on MS medium to the number
          of node per plant 4 weeks after planting          Elongasi Tunas In Vitro
       Perlakuan                   Jenis eksplan
      (Treatment)                (Type of explants)             Selama tahap proliferasi tunas, diperoleh
               -1
      BAP (mg L )               Pucuk            Buku       pertumbuhan tunas yang banyak dan berakar
                              (Shoot tip)       (Node)      namun tunas yang tumbuh memiliki buku yang rapat
           0.0                16.93 b           9.93 c      sehingga memberikan penampilan tunas yang
           0.5                17.07 b          10.07 c      kerdil.    Oleh     sebab   itu,    tahap   elongasi
           1.0                18.93 b          13.73 bc     tunasdilakukan agar diperoleh tunas yang lebih
           2.0                                              tinggi dengan menggunakan media MS dalam
                              14.73 bc         14.00 bc
                                                            konsentrasi hara yang berbeda dan dengan atau
           3.0                19.40 b          10.00 c      tanpa penambahan giberelin (GA3).
           4.0                25.60 a          28.20 a          Tabel 3 menunjukkan bahwa penambahan GA3
           5.0
                           19.73 b       19.73 b            hanya dapat meningkatkan tinggi tunas pada media
Ket. : MST = minggu setelah tanam. Angka yang diikuti       MS dalam konsentrasi hara ¼ dan ½. Penambahan
       huruf yang sama pada baris dan kolom tidak           GA3 pada berbagai konsentrasi media MS tidak
       berbeda nyata pada DMRT dengan α=5%                  dapat meningkatkan bobot tunasjeruju seperti yang
                                                            terlihat pada Tabel 3. GA3 yang ditambahkan dalam
                                          -1
    Perlakuan BAP 4.0 mg L            merupakan             media hanya meningkatkan pertumbuhan batang
konsentrasi optimum yang mampu meningkatkan                 dengan         menstimulasi      pembelahan     dan
jumlah buku per tanaman pada pengamatan 4 MST               pemanjangan sel pada daerah sub-apikal dan
baik pada eksplan buku maupun eksplan pucuk                 menghasilkan pemanjangan ruas batang pada tunas
(Tabel 2).Pada konsentrasi BAP yang lebih tinggi,           (Arigita et al. 2005).
                -1
yaitu 5.0 mg L terjadi penurunan rataan jumlah
buku per tanamannya.Kemampuan eksplan pucuk
dan buku sama besarnya dalam menghasilkan buku
karena     kedua   eksplan   memiliki   jaringan

Tabel 3. Rataan tinggi tunas, bobot tunas, panjang akar dan jumlah akar umur 4 MST pada media elongasi
          (ukuran eksplan awal 0.5 cm)
Table 3. Rate ofheight and weight of shoots and length and number of roots 4 weeks after planting on
          elongation medium (initial size of explant was 0.5 cm)
                                         Tinggi tunas      Bobot tunas      Panjang akar      Jumlah akar
               Media
                                        (shoot height)    (Shoot weight)    (Root length)    (Root number)
             (Medium)
                                             (cm)              (g)              (cm)
    MS                                      1.00 c*          0.13 b           1.12 c             5.00 bc
    MS ½                                   1.50 c            0.28 a            3.00 a            7.20 a
    MS ¼                                   1.30 c            0.25 a            2.44 b            6.40 ab
                    -1
    MS + GA3 1 mg L                        1.40 c            0.04 c            0.54 d            3.60 cd
                     -1
    MS ½ + GA3 1 mg L                      2.50 b            0.07 bc           0.42 d            2.60 de
                         -1
    MS ¼ + GA3 1 mg L                      3.80 a            0.09 bc           0.42 d            2.00 e
     Ket. : MST = minggu setelah tanam. Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada masing-
           masing peubah tidak berbeda nyata pada uji DMRT dengan α=5%




8                                                                                 Agroscientiae ISSN 0854-2333
Perbanyakan In Vitro Pada Tanaman Jeruju……




    Media MS konsentrasi hara ½ terlihat                2. Pucuk dan buku dapat digunakan sebagai
memberikan bobot tunas yang tertinggi dimana               sumber eksplan perbanyakan in vitro.
                                                                                 -1
tunas yang tumbuh tampakvigor.Tunas yang tumbuh         3. Penambahan 1 mg L GA3 dalam media elongasi
pada media MS konsentrasi hara ½ juga                      meningkatkan panjang ruas batang namun
memperlihatkan kondisi perakaran dengan panjang            menghasilkan tunas yang tidak vigor dan
akar yang tertinggi. Sementara jumlah akar yang            perakarannya     terhambat      sehingga    media
terbanyak diperloleh dari media MS konsentrasi             elongasi tunas in vitro jeruju yang terbaik adalah
hara ½ dan ¼. Kadar hara dalam media yang                  media MS ½.
jumlahnya hanya ½ dari media MS sudah mampu
menumbuhkan tunas dengan pertambahan tinggi             SARAN
tunas yang lebih cepat dibandingkan dari kadar
penuh dan dapat membentuk perakaran dengan              1. Metode perbanyakan in vitro tanaman jeruju
baik (Hutagaol 2006; Lee et al. 2003). Hal ini             dapat menggunakan dua tahapan, yaitu induksi
menunjukkan media MS ½ dapat meningkatkan                  dan proliferasi tunas dengan media MS + 5.0 mg
                                                            -1
kualitas tunas (Du dan Pijut 2008).Tunas yang              L BAP.
berkualitas dapat mensintesis auksin endogen pada       2. Dilanjutkan dengan tahap elongasi dan proliferasi
pucuk yang kemudian diangkut ke bagian basal               tunas menggunakan media MS ½ kali
melalui     transpor   polar    untuk    merangsang        konsentrasi      hara.  Aklimatisasi  dilakukan
pertumbuhan akar (Rohayati 2002).                          menggunakan media tanah, kompos dan arang
    Keberadaan GA3 menyebabkan perakaran                   sekam dengan perbandingan 1:1:1.
menjadi terhambat dimana akar yang tumbuh sedikit
dan pendek serta memerlukan waktu yang lebih
                                                        DAFTAR PUSTAKA
lama dalam inisiasinya.Hal ini disebabkan aplikasi
giberelin eksogen dengan konsentrasi yang tinggi        Arigita L, Fernández, B., González, A. & Tamés,
dapat menghambat pembentukan akar (Arteca                     R.S. 2005.Effect of the application of
1996).                                                        benzyladenine pulse on organogenesis,
    Dalam penelitian ini, tunas dan perakaran dapat           acclimatisation and endogenous phytohormone
tumbuh dengan lebih baik dalam media MS                       content in kiwi explants cultured under
konsentrasi hara ½ dimana tunas yang tumbuh                   autotrophic conditions. Plant Physiology and
memiliki batang yang lebih kokoh dengan perakaran             Biochemistry, 43:161-167
yang banyak dan panjang. Dengan demikian
perbanyakan tanaman jeruju secara in vitro dapat        Arteca, R.N. 1996. Plant Growth Substances
                                                             Principles and Applications. Chapman & Hall.
dilakukan dalam dua tahap, yaitu induksi dan
                                                             New York.
proliferasi tunas dengan penambahan BAP
                                 -1
konsentrasi tinggi (5.0 mg L ) dan dilanjutkan          Dharmono. 2007. Kajian etnobotani tumbuhan jaruju
dengan media elongasi tunas pada media MS ½                 (Hydrolea spinosa) suku Dayak Bukit Loksado.
konsentrasi hara. Prosedur dua langkah tersebut             Paradigma Jurnal Pendidikan MIPA, 1(2):51-
sesuai dan tidak mahal untuk propagasi komersial            65.
skala besar (Sen & Sen 1995).
    Persentase keberhasilan tanaman untuk tumbuh        Du, N. & Pijut, P.M. 2008.Regeneration of plants
setelah diaklimatisasi adalah sebesar 75%.Daya              from Fraxinus pennsylvanica hypocotyls and
tumbuh       tanaman    saat    diaklimatisasi  juga        cotyledons. Scientia Horticulturae 118: 74-79.
menunjukkan bibit tanaman jeruju yang berasal dari      Hutagaol, R.P. 2006. Pembantukan kalus,
perbanyakan in vitro mampu beradaptasi dan                  regenerasi Geranium homeanum Turez secara
tumbuh pada media tanah. Hal ini memberikan                 in vitro dan pencirian awal senyawa
peluang yang lebih besar untuk dilakukannya                 kimianya.Tesis. Institut Pertanian Bogor.
budidaya konvensional menggunakan bibit hasil
kultur jaringan karena tidak lagi menuntut media        Kusumawati,   I.W.,   Djatmiko,   Rahman,     A.,
pertanaman yang sesuai dengan habitat asli                  Studiawan, H.& Ekasari, W. 2003.Eksplorasi
tanaman ini, yaitu lahan rawa.                              keanekaragaman dan kandungan kimia
                                                            tumbuhan obat di hutan tropis Gunung Arjuno.
SIMPULAN                                                    Jurnal Bahan Alam Indonesia 2(3):100-104.
1. Induksi dan proliferasi tunas in vitro jeruju yang   Lee, Y.K., Chung, W.I. & Ezura, H. 2003. Efficient
   terbaik adalah menggunakan media MS dengan                plant regeneration via organogenesis in winter
              -1
   5.0 mg L BAP berdasarkan peubah jumlah                    squash (Cucurbita maxima Duch.). Plant
   tunas per eksplan.                                        Science 164: 413-418.

Agroscientiae                      Volume 19 Nomor 1 April 2012                                            9
Nofia Hardarani, A. Purwito dan Dewi Sukma

Mohamed-Yasseen. 1994. In vitro shoot proliferation     Sugiyama, M. 1999. Organogenesis In Vitro. Current
    and production of sets from garlic and shallot.          Opinion in Plant Biology 2:61-64.
    Plant Cell Tissue Organ Culture, 23:243-247.
                                                        Taiz, L. &Zeiger, E. 2002.Plant Physiology.Sinauer
Nisa, C., Ismuhajaroh, B.I., Adriani, D. E., Purnomo,        Associates, Inc. Publisher.Sunderland.
     J. & Hardarani, N. 2009. Pengaruh jumlah ruas
                                                        Veltcheva, M.R. & Svetleva, D.L. 2005.In vitro
     dan komposisi media tanam terhadap
                                                             regeneration of Phaseolus vulgaris L. via
     pertumbuhan setek jeruju (Hydrolea spinosa
                                                             organogenesis from petiole explants. Journal of
     L.). Laporan kegiatan ekstraksi tanaman obat
                                                             Central European Agriculture 6(1):53-58.
     khas lahan basah Kalimantan yang berkhasiat
     sebagai obat antimalaria dan filariasis.           Wattimena, G.A., Gunawan, L.W., Mattjik, N.A.,
     Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.             Syamsudin, E., Wiendi, N.M.A. & Ernawati, A.
                                                             1992.Bioteknologi    Tanaman     Laboratorium
Ntui, V.O., Thirukkumaran, G., Iioka, S. & Mii, M.
                                                             Kultur     Jaringan       Tanaman.Departemen
     2009.Efficient     plant   regeneration     via
                                                             Pendidikan     dan    Kebudayaan    Direktorat
     organogenesis in ‘‘Egusi’’ melon (Colocynthis
                                                             Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar
     citrullus L.). Scientia Horticulturae, 119:397-
                                                             Universitas Bioteknologi IPB.
     402.
Sen, J. & Sen, S. 1995. Two-step bud culture
    technique for a high frequency regeneration of
    Gladiolus corms. Scientia Horticulturae 64:133-
    138.




10                                                                            Agroscientiae ISSN 0854-2333

Nofia=6 10

  • 1.
    Nofia Hardarani, A.Purwito dan Dewi Sukma PERBANYAKAN IN VITRO PADA TANAMAN JERUJU (Hydrolea spinosa L.) DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH IN VITRO MICROPROPAGATION IN JERUJU (Hydrolea spinosa L.) WITH VARIOUS OF PLANT REGULATOR CONCENTRATION 1 2 2 Nofia Hardarani , Agus Purwito , dan Dewi Sukma 1 Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNLAM Jl. Jend. A. Yani Km.36 PO Box 1028 Banjarbaru 70714 2 Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Jl. Meranti Kampus IPB Dramaga Bogor, Indonesia ABSTRACT Hydrolea spinosa(jeruju) is one of the potential plant for antimalarial medicine according to local people in Kayu Rabah Village in South Kalimantan. The growth of these auxilarry shoots of this plant will be inhibited when is grown on the soil medium due to the different environment of original habitat (swamp areal). Therefore, tissue culture is an alternative propagation of this plant. The objectives of this research were to study in vitro micropropagation in H. spinosa. Shoot induction and proliferation was studied using shoot tip and node segments in MS medium with various concentration of BAP (0.0, 0.5, 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, and 5.0 mg -1 L ). Shoot elongation was done using different strength of MS salts (full-, a half-, one-quarter strength) and -1 with or without addition of 1.0 mg L gibberellin (GA3). The result showed that cytokinin level produced a significant response on the numbers of shoot per explants and also showed effect on node number. Both of shoot tip and node segments had a similar potential as explants in shoot induction and proliferation. The half strength of MS salts produced root with vigorous planlets. The planlets produced from elongation phase were acclimatized and had survival rate up to 75%. Key words: Hydrolea spinosa, in vitro micropropagation, BAP, gibberellin. ABSTRAK Hydrolea spinosa merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai obat antimalaria menurutmasyarakat di Desa Kayu Rabah,di Kalimantan Selatan. Pertumbuhan tunas aksilar dari tanaman ini terhambat ketika ditanam pada media tanah yang berbeda dengan lingkungan tumbuh di habitatnya (lahan rawa). Oleh sebab itu, kultur jaringan menjadi perbanyakan alternatif dari tanaman ini. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh metode perbanyakan tanaman jeruju secara in vitro.Induksi dan proliferasi tunas.Induksi dan proliferasi tunas dilakukan dengan menggunakan eksplan pucuk dan buku dalam media -1 MS yang ditambah BAP pada beberapa konsentrasi (0.0, 0.5, 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, and 5.0 mg L ). Elongasi tunas yang menggunakan media MS dengan berbagai konsentrasi hara (penuh, setengah dan seperempat -1 konsentrasi hara) dan dengan atau tanpa penambahan 1.0 mg L giberelin (GA3). Konsentrasi sitokinin memberikan pengaruh yang berbeda nyata bagi jumlah tunas per eksplan dan jumlah buku per tanaman. Baik eksplan pucuk maupun buku memiliki potensi yang sama sebagai bahan tanam dalam induksi dan proliferasi tunas. Media MS dengan setengah konsentrasi hara menghasilkan perakaran dan tunas yang vigor. Tunas hasil elongasi pada media MS ½ diaklimatisasi dan memiliki daya tumbuh sebesar 75%. Kata kunci: Hydrolea spinosa, perbanyakan in vitro, BAP, giberelin. PENDAHULUAN kajian etnobotani oleh Dharmono (2007) digunakan masyarakat sebagai obat antimalaria.Berdasarkan Masyarakat Indonesia pada umumnya potensi jeruju tersebut maka tanaman ini dapat menggunakan tanaman tertentu untuk tujuan menjadi salah satu herbal untuk obat antimalaria. pengobatan berdasarkan pengalaman empiris Habitat tanaman jeruju berupa lahan basah, bahwa senyawa metabolit sekunder di dalamnya seperti di lahan rawa. Umumnya, tanaman jeruju mempunyai khasiat obat (Kusumawati et al. 2003). yang tumbuh di habitatnya memiliki percabangan Di daerah Kalimantan Selatan memiliki beberapa tunas aksilar yang banyak. Pucuk-pucuk yang tanaman yang berpotensi sebagai obat yang belum tumbuh dari tunas aksilar tersebut yang dieksplorasi. Salah satunya adalah tanaman dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat anti Jeruju(Hydrolea spinosa L.) yang berdasarkan malaria. Namun hasil perbanyakan stek tanaman ini 6 Agroscientiae ISSN 0854-2333
  • 2.
    Perbanyakan In VitroPada Tanaman Jeruju…… -1 pada media tanah menunjukkan pertumbuhan tunas atasMS, MS ½, MS ¼, MS + 1 mg L giberelin (GA3), -1 -1 aksilar yang terhambat. Pertumbuhan bibit yang MS ½ + 1 mg L GA3, MS ¼ + 1 mg L GA3. berasal dari satu stek tanaman lebih didominansi Terdapat enam perlakuan dimana setiap perlakuan oleh pertumbuhan pucuk apikal dengan sedikit diulang sebanyak lima kali. percabangan aksilar.Dengan demikian, perbanyakan stek secara in vivo dari tanaman ini HASIL DAN PEMBAHASAN membutuhkan media yang sesuai dengan habitatnya, yaitu di lahan basah (Nisa et al. 2009). Induksi dan Proliferasi Tunas Hal ini yang menyebabkan upaya produksi bibit Tabel 1 menunjukkan eksplan buku yang tanaman ini akan membutuhkan jumlah bahan menggunakan BAP dengan konsentrasi tertinggi -1 tanaman yang besar dan tempat yang luas apabila (5.0 mg L ) dapat menghasilkan jumlah tunas per menyesuaikan kebutuhan ekstraksi bagian pucuk eksplan tertinggi. Hal ini sejalan dengan yang tanaman yang berkhasiat obat. Oleh sebab itu, dikemukakan Ntui et al. (2009) yang menyatakan perbanyakan secara in vitro menjadi alternatif dalam bahwa induksi tunas tertinggi pada tanaman produksi bibit tanaman jeruju yang juga dapat Colocynthis citrullus L. diperoleh pada media MS -1 menghasilkan bibit yang tersedia sepanjang waktu yang ditambah dengan 5 mg L BAP, yaitu dan seragam (Yunita & Lestari 2008). sebanyak 3.5 tunas. Interaksi antara konsentrasi Penelitian mengenai perbanyakan pada tanaman BAP dengan sumber eksplan mempengaruhi jeruju melalui kultur jaringan belum pernah kemampuan eksplan dalam proliferasi tunas terkait dilakukan. Oleh sebab itu, optimasi dalam induksi dengan adanya dominansi apikal pada eksplan tunas dan akar menjadi tahapan penting dalam pucuk yang menyebabkan penghambatan pada protokol perbanyakan tanamanini secara in vitro. pertumbuhan tunas lateral (Arteca 1995).Sementara Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pada eksplan buku terjadi penghilangan ujung tunas konsentrasi ZPT yang terbaik untuk induksi, sehingga dapat mengurangi dominansi apikal dan proliferasi dan elongasi tunastanaman jerujumelalui meningkatkan respon morfogenesis eksplan tunas metode perbanyakan tanaman secara in vitro (Mohamed-Yasseen 1994). METODE PENELITIAN Tabel 1. Interaksi konsentrasi BAP dengan jenis eksplan pada media MS terhadap jumlah Lokasi dan Waktu Penelitian tunas per eksplan pada pengamatan 4 MST Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari Table 1. Interaction of BAP concentration and type 2010 hingga Pebruari 2011 di Laboratorium Kultur of explants on MS medium to the number Jaringan Departemen Agronomi dan Hortikultura of shoot per explants 4 weeks after Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bahan planting tanam (eksplan) yang digunakan adalah bagian dari Perlakuan Jenis eksplan tanaman Jeruju (Hydrolea spinosa L.) yang berasal (Treatment) (Type of explants) dari Desa Kayu Rabah Kecamatan Pandawan, -1 BAP (mg L ) Pucuk Buku Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan (Shoot tip) (Node) Selatan. Media dasar yang digunakan untuk semua 0.0 1.00 i 1.67 hi perlakuan adalah media Murashige & Skoog (MS). 0.5 1.73 hi 2.07 gh 1.0 2.00 gh 3.93 de Metode Penelitian 2.0 3.00 f 2.73 fg Induksi dan Proliferasi Tunas 3.0 3.07 f 3.40 ef Percobaan menggunakan rancangan acak 4.0 4.40 cd 5.60 ab kelompok faktorial dua faktor. Faktor pertama 5.0 adalah jenis eksplan yang terdiri atas pucuk dan 5.07 bc 6.07 a Ket. : MST = minggu setelah tanam. Angka yang diikuti buku, sedangkanfaktor kedua adalah konsentrasi 6- huruf yang sama pada baris dan kolom tidak benzylaminopurine (BAP) yang terdiri atas0.0, 0.5, berbeda nyata pada DMRT dengan α=5% -1 1.0, 2.0, 3.0, 4.0dan 5.0mg L . Terdapat 14(empat belas) perlakuan dengan tiga kelompok yang dibagi Senyawa BAP meningkatkan kemampuan berdasarkan waktu tanam. Setiap kelompok terdiri regenerasi dengan menstimulasi kemampuan dari lima botol tanam. pembelahan sel dalam jaringan.Pengaruh aplikasi BAP bekerja melalui siklus pembelahan sel dengan Elongasi Tunas In Vitro mengendalikan aktivitas enzim cyclin-dependent Percobaan menggunakan rancangan acak kinase (CDKs) pada akhir fase S, M dan G1 (Taiz & lengkap satu faktor berupa jenis mediayang terdiri Zeiger 2002). Respon terhadap sinyal hormonal Agroscientiae Volume 19 Nomor 1 April 2012 7
  • 3.
    Nofia Hardarani, A.Purwito dan Dewi Sukma tersebut menunjukkan sel-sel dalam eksplan meristematik dimana sel-selnya aktif membelah menjadi sel yang kompeten (Sugiyama 1999). (Wattimena et al. 1992). Semakin tinggi konsentrasi BAP menyebabkan Aplikasi konsentrasi yang lebih rendah dari 4.0 -1 semakin banyak sel yang kompeten dalam satu mg L BAP belum mampu mendukung pertumbuhan jaringan sehingga potensi regenerasi menjadi lebih buku tunas secara optimal sedangkan pada -1 tinggi (Veltcheva & Svetleva 2005). konsentrasi yang lebih tinggi dari 4.0 mg L dapat memecah dominansi apikal dan meningkatkan Tabel 2. Interaksi konsentrasi BAP dengan jenis pembentukan tunas (Ntui et al. 2009; Arigita et al. eksplan pada media MS terhadap jumlah 2005). Hal ini yang menyebabkan morfogenesis buku per tanaman pada pengamatan 4 tanaman diarahkan pada pembentukan tunas baru, MST bukan pembentukan buku di bagian bawah apikal Table 2. Interaction of BAP concentration and type (Wattimena et al. 1992). of explants on MS medium to the number of node per plant 4 weeks after planting Elongasi Tunas In Vitro Perlakuan Jenis eksplan (Treatment) (Type of explants) Selama tahap proliferasi tunas, diperoleh -1 BAP (mg L ) Pucuk Buku pertumbuhan tunas yang banyak dan berakar (Shoot tip) (Node) namun tunas yang tumbuh memiliki buku yang rapat 0.0 16.93 b 9.93 c sehingga memberikan penampilan tunas yang 0.5 17.07 b 10.07 c kerdil. Oleh sebab itu, tahap elongasi 1.0 18.93 b 13.73 bc tunasdilakukan agar diperoleh tunas yang lebih 2.0 tinggi dengan menggunakan media MS dalam 14.73 bc 14.00 bc konsentrasi hara yang berbeda dan dengan atau 3.0 19.40 b 10.00 c tanpa penambahan giberelin (GA3). 4.0 25.60 a 28.20 a Tabel 3 menunjukkan bahwa penambahan GA3 5.0 19.73 b 19.73 b hanya dapat meningkatkan tinggi tunas pada media Ket. : MST = minggu setelah tanam. Angka yang diikuti MS dalam konsentrasi hara ¼ dan ½. Penambahan huruf yang sama pada baris dan kolom tidak GA3 pada berbagai konsentrasi media MS tidak berbeda nyata pada DMRT dengan α=5% dapat meningkatkan bobot tunasjeruju seperti yang terlihat pada Tabel 3. GA3 yang ditambahkan dalam -1 Perlakuan BAP 4.0 mg L merupakan media hanya meningkatkan pertumbuhan batang konsentrasi optimum yang mampu meningkatkan dengan menstimulasi pembelahan dan jumlah buku per tanaman pada pengamatan 4 MST pemanjangan sel pada daerah sub-apikal dan baik pada eksplan buku maupun eksplan pucuk menghasilkan pemanjangan ruas batang pada tunas (Tabel 2).Pada konsentrasi BAP yang lebih tinggi, (Arigita et al. 2005). -1 yaitu 5.0 mg L terjadi penurunan rataan jumlah buku per tanamannya.Kemampuan eksplan pucuk dan buku sama besarnya dalam menghasilkan buku karena kedua eksplan memiliki jaringan Tabel 3. Rataan tinggi tunas, bobot tunas, panjang akar dan jumlah akar umur 4 MST pada media elongasi (ukuran eksplan awal 0.5 cm) Table 3. Rate ofheight and weight of shoots and length and number of roots 4 weeks after planting on elongation medium (initial size of explant was 0.5 cm) Tinggi tunas Bobot tunas Panjang akar Jumlah akar Media (shoot height) (Shoot weight) (Root length) (Root number) (Medium) (cm) (g) (cm) MS 1.00 c* 0.13 b 1.12 c 5.00 bc MS ½ 1.50 c 0.28 a 3.00 a 7.20 a MS ¼ 1.30 c 0.25 a 2.44 b 6.40 ab -1 MS + GA3 1 mg L 1.40 c 0.04 c 0.54 d 3.60 cd -1 MS ½ + GA3 1 mg L 2.50 b 0.07 bc 0.42 d 2.60 de -1 MS ¼ + GA3 1 mg L 3.80 a 0.09 bc 0.42 d 2.00 e Ket. : MST = minggu setelah tanam. Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada masing- masing peubah tidak berbeda nyata pada uji DMRT dengan α=5% 8 Agroscientiae ISSN 0854-2333
  • 4.
    Perbanyakan In VitroPada Tanaman Jeruju…… Media MS konsentrasi hara ½ terlihat 2. Pucuk dan buku dapat digunakan sebagai memberikan bobot tunas yang tertinggi dimana sumber eksplan perbanyakan in vitro. -1 tunas yang tumbuh tampakvigor.Tunas yang tumbuh 3. Penambahan 1 mg L GA3 dalam media elongasi pada media MS konsentrasi hara ½ juga meningkatkan panjang ruas batang namun memperlihatkan kondisi perakaran dengan panjang menghasilkan tunas yang tidak vigor dan akar yang tertinggi. Sementara jumlah akar yang perakarannya terhambat sehingga media terbanyak diperloleh dari media MS konsentrasi elongasi tunas in vitro jeruju yang terbaik adalah hara ½ dan ¼. Kadar hara dalam media yang media MS ½. jumlahnya hanya ½ dari media MS sudah mampu menumbuhkan tunas dengan pertambahan tinggi SARAN tunas yang lebih cepat dibandingkan dari kadar penuh dan dapat membentuk perakaran dengan 1. Metode perbanyakan in vitro tanaman jeruju baik (Hutagaol 2006; Lee et al. 2003). Hal ini dapat menggunakan dua tahapan, yaitu induksi menunjukkan media MS ½ dapat meningkatkan dan proliferasi tunas dengan media MS + 5.0 mg -1 kualitas tunas (Du dan Pijut 2008).Tunas yang L BAP. berkualitas dapat mensintesis auksin endogen pada 2. Dilanjutkan dengan tahap elongasi dan proliferasi pucuk yang kemudian diangkut ke bagian basal tunas menggunakan media MS ½ kali melalui transpor polar untuk merangsang konsentrasi hara. Aklimatisasi dilakukan pertumbuhan akar (Rohayati 2002). menggunakan media tanah, kompos dan arang Keberadaan GA3 menyebabkan perakaran sekam dengan perbandingan 1:1:1. menjadi terhambat dimana akar yang tumbuh sedikit dan pendek serta memerlukan waktu yang lebih DAFTAR PUSTAKA lama dalam inisiasinya.Hal ini disebabkan aplikasi giberelin eksogen dengan konsentrasi yang tinggi Arigita L, Fernández, B., González, A. & Tamés, dapat menghambat pembentukan akar (Arteca R.S. 2005.Effect of the application of 1996). benzyladenine pulse on organogenesis, Dalam penelitian ini, tunas dan perakaran dapat acclimatisation and endogenous phytohormone tumbuh dengan lebih baik dalam media MS content in kiwi explants cultured under konsentrasi hara ½ dimana tunas yang tumbuh autotrophic conditions. Plant Physiology and memiliki batang yang lebih kokoh dengan perakaran Biochemistry, 43:161-167 yang banyak dan panjang. Dengan demikian perbanyakan tanaman jeruju secara in vitro dapat Arteca, R.N. 1996. Plant Growth Substances Principles and Applications. Chapman & Hall. dilakukan dalam dua tahap, yaitu induksi dan New York. proliferasi tunas dengan penambahan BAP -1 konsentrasi tinggi (5.0 mg L ) dan dilanjutkan Dharmono. 2007. Kajian etnobotani tumbuhan jaruju dengan media elongasi tunas pada media MS ½ (Hydrolea spinosa) suku Dayak Bukit Loksado. konsentrasi hara. Prosedur dua langkah tersebut Paradigma Jurnal Pendidikan MIPA, 1(2):51- sesuai dan tidak mahal untuk propagasi komersial 65. skala besar (Sen & Sen 1995). Persentase keberhasilan tanaman untuk tumbuh Du, N. & Pijut, P.M. 2008.Regeneration of plants setelah diaklimatisasi adalah sebesar 75%.Daya from Fraxinus pennsylvanica hypocotyls and tumbuh tanaman saat diaklimatisasi juga cotyledons. Scientia Horticulturae 118: 74-79. menunjukkan bibit tanaman jeruju yang berasal dari Hutagaol, R.P. 2006. Pembantukan kalus, perbanyakan in vitro mampu beradaptasi dan regenerasi Geranium homeanum Turez secara tumbuh pada media tanah. Hal ini memberikan in vitro dan pencirian awal senyawa peluang yang lebih besar untuk dilakukannya kimianya.Tesis. Institut Pertanian Bogor. budidaya konvensional menggunakan bibit hasil kultur jaringan karena tidak lagi menuntut media Kusumawati, I.W., Djatmiko, Rahman, A., pertanaman yang sesuai dengan habitat asli Studiawan, H.& Ekasari, W. 2003.Eksplorasi tanaman ini, yaitu lahan rawa. keanekaragaman dan kandungan kimia tumbuhan obat di hutan tropis Gunung Arjuno. SIMPULAN Jurnal Bahan Alam Indonesia 2(3):100-104. 1. Induksi dan proliferasi tunas in vitro jeruju yang Lee, Y.K., Chung, W.I. & Ezura, H. 2003. Efficient terbaik adalah menggunakan media MS dengan plant regeneration via organogenesis in winter -1 5.0 mg L BAP berdasarkan peubah jumlah squash (Cucurbita maxima Duch.). Plant tunas per eksplan. Science 164: 413-418. Agroscientiae Volume 19 Nomor 1 April 2012 9
  • 5.
    Nofia Hardarani, A.Purwito dan Dewi Sukma Mohamed-Yasseen. 1994. In vitro shoot proliferation Sugiyama, M. 1999. Organogenesis In Vitro. Current and production of sets from garlic and shallot. Opinion in Plant Biology 2:61-64. Plant Cell Tissue Organ Culture, 23:243-247. Taiz, L. &Zeiger, E. 2002.Plant Physiology.Sinauer Nisa, C., Ismuhajaroh, B.I., Adriani, D. E., Purnomo, Associates, Inc. Publisher.Sunderland. J. & Hardarani, N. 2009. Pengaruh jumlah ruas Veltcheva, M.R. & Svetleva, D.L. 2005.In vitro dan komposisi media tanam terhadap regeneration of Phaseolus vulgaris L. via pertumbuhan setek jeruju (Hydrolea spinosa organogenesis from petiole explants. Journal of L.). Laporan kegiatan ekstraksi tanaman obat Central European Agriculture 6(1):53-58. khas lahan basah Kalimantan yang berkhasiat sebagai obat antimalaria dan filariasis. Wattimena, G.A., Gunawan, L.W., Mattjik, N.A., Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Syamsudin, E., Wiendi, N.M.A. & Ernawati, A. 1992.Bioteknologi Tanaman Laboratorium Ntui, V.O., Thirukkumaran, G., Iioka, S. & Mii, M. Kultur Jaringan Tanaman.Departemen 2009.Efficient plant regeneration via Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat organogenesis in ‘‘Egusi’’ melon (Colocynthis Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar citrullus L.). Scientia Horticulturae, 119:397- Universitas Bioteknologi IPB. 402. Sen, J. & Sen, S. 1995. Two-step bud culture technique for a high frequency regeneration of Gladiolus corms. Scientia Horticulturae 64:133- 138. 10 Agroscientiae ISSN 0854-2333