Era kini bernama disrupsi, yang sering diposisikan sebagai suatu masalah, di lain sisi sebagai
tantangan dan sekaligus solusi dalam peradaban kehidupan kekinian. Terminologi “disruptif” yang
menjadi kata sifat dari era atau jaman memiliki makna konotasi negatif karena merupakan sebuah
perubahan kemapanan. Disrupsi yang secara literal diterjemahkan sebagai “kekacauan” memiliki
derivasi makna yang tidak lepas dari daya ledakan perubahan yang mengganggu kematangan
modernisasi. Ia juga membuat kekisruhan baru melalui pola-pola menyeluruh dari aspek semua
kehidupan.
Terminology ini tentu saja menjadi sebuah masalah. Bukan saja masalah yang berkaitan dengan alat
utama yang menjadi ciri khas era milenial yaitu teknologi digital, namun dampak luas dari alat itu yang
mengontrol kehidupan. Ia bisa berupa dampak perubahan pola pikir ekonomi, sosial, profesi,
pendidikan bahkan agama.
Perubahannya pun disinyalir masih belum menemukan ekuilibirum (keseimbangan) menjadi sebuah
pola acak, ia masih mencari bentuk khas sebagai kristalisasi berbagai pola yang dialaminya. Sistem
kehidupan yang terdampak dari disrupsi ini masih tetap berproses sehingga belum ada komposisi
solutif yang tepat sebagai obat penawarnya. Para ahli masih meraba-raba strategi jitu dalam
penanggulangan dampak negatifnya.
Dalam konteks ilmu pengetahuan dan agama, tentu saja bisa diramu untuk sebuah solusi praktis di era
ini. Ilmu pengetahuan dan Agama diyakini secara konsep dan teologis mampu menyelesaikan
berbagai persoalan di semua jaman dan menjadi solusi yang relevan untuk semua konteks yang
dihadapinya. Tapi, itulah sejatinya ilmu pengetahuan dan keyakinan teologisnya agama. Tinggal kita
saja yang meramu konsep itu menjadi sebuah cara jitu dalam menyelesaikan setiap masalah di
jamannya.
MENELISIK SISI LAIN DISRUPTIF
Yusrin Ahmad Tosepu
Disrupsi memang begitu populer di publik, namun dari konteks ilmu pengetahuan dan agama,
fenomena ini memiliki daya seksi untuk dikaji secara mendalam. Disrupsi juga membutuhkan sentuhan
pandangan dari sudut yang berbeda.
Problematika Era Disrupsi harus dilihat secara utuh, dari segala aspekdan dampak yang
ditimbulkannya. Maka di setiap masa, Agama dan ilmu pengetahuan memiliki kekuatan untuk dapat
memecahkan problematika zaman. Kesemuanya memiliki cara pandang dalam memahaminya yang
terkoneksi dengan berbagai persoalan. Merekonstruksi persoalan sesuai tujuannya, kedua kekuatan ini
lebih kepada tataran konsep dan praktis untuk mengembangkan pola bertujuan dimana setiap
problematika zaman diletakan sebagai dinamika peradaban umat manusia.
Agama dan ilmu pengetahuan dilekatkan sebagai dasar untuk melihat sebuah peadaban kehidupan
manusia. Tujuannya adalah mencari konsep yang bisa menyelesaikan permasalahan kompek di era
disrupsi. Ilmu pengetahuan dan agama secara subtantif selalu sepadan, namun secara teknis memiliki
perbedaan dengan prakteknya dari pada persamaannya.
Era disrupsi adalah terminology baru sebagai istilah yang mengacu pada dampak dari dunia digital.
Setelah habisnya masa revolusi Industri 3.0, maka terbitlah revolusi industri 4.0 yang memiliki alat dan
cara baru dalam memandang kehidupan. Dahulu, mesin, listrik dan teknologi komputer sederhana
dapat membantu mempermudah proses kehidupan manusia.
Pekerjaan-pekerjaan yang berkelindan dengan alat berat dan teknologi mesin yang maju dapat
merubah prilaku tadisional ke arah yang lebih modern. Kehidupan metropolitan adalah habitat asli dari
era ini, dimana produksi-distribusi-konsumsi memiliki konsep matang dan diaplikasikan secara besa-
besaran. Transportasi yang mengkoneksikan antar individu dengan tujuannya diberi cap legal-formal
pemerintah sebagai penguasa wilayah.
Namun semua itu secara perlahan mengalami disrupsi. Ia mengalami kekacauan seiring dengan kritik
revolusi industri 4.0 yang memandang kehidupan tidak harus seperti itu. Legal-formal yang
konvensional dipandang tidak mudah, tidak murah dan tidak dapat diakses sangat luas. Bagi generasi
milenial, perlu ada cara baru dalam memandang sebuah alat yang lebih revolusioner.
Revolusi industri harus mengandung empat kata kuci; simpler, cheaper, faster dan accessible. Ia harus
mudah, ia harus murah , cepat dan ia harus mudah diakses di mana saja oleh siapa saja. Legitimasi
ala negara yang dalam beberapa dimensi memiliki kerumitan dan sering disembunyikan dari ruang
publik bukanlah prinsip revolusi Industri 4.0. yang dikagumi oleh Kids zaman Now.
Sederhananya, revolusi industri ini adalah kristalisasi dari alat dan cara baru dalam kehidupan. Data
konvensional yang membutuhkan usaha rumit dan mahal harus dimigrasikan kepada data digital yang
dapat diakses dan dimanipulasi dengan mudah. Kerumitan kerumitan dalam akomodasi dan publikasi
dirubah pola pikirnya dengan membuat aplikasi komputer yang lebih sederhana.
Kalau dahulu membuat video adalah sesuatu yang sulit dan membutuhkan berbagai kompetensi, kini
aplikasi bisa dibuat lebih mudah, begitupun dengan transportasi. Kalau dahulu biaya komunikasi
sangat mahal, kini dengan aplikasi sangat murah. Dahulu, untuk menciptakan sebuah produk kreatif
adalah hal yang rumit dan langka, sekarang banyak pilihan alternatif dan mudah diakses. Pendek kata,
era ini adalah era dimana komputerasasi kehidupan telah disederhanakan sesuai dengan kebutuhan
hidup.
Orang menjadi lebih mudah untuk kreatif, produktif, komunikatif dan kolabiratif. Kini dunia terbagi
menjadi dua alam yang satu sama lain kian mengalahkan. Alam itu adalah alam nyata (real) dan alam
maya (virtual). Mungkin hari ini masih berproses di mana alam nyata masih dominan, tetapi secara
pasti alam maya dengan pesat menunjukan kehebatannya.
Setiap orang yang terkoneksi dengan alam maya sudah merasa at home (nyaman) dengan dunia
virtualnya. Tidak jarang, 50% waktu kehidupannya bersentuhan langsung dengan dunia ini. Tidak
sedikit, kegaduhan di alam virtual menjadi terintegrasi di dunia nyata. Berita-berita kini selalu
menyertakan warganet dalam persepsi publik, dan isu trending yang ada di dunia maya menjadi
indikator kegaduhan di dunia nyata. Itulah proses yang meyakinkan bahwa alam nyata akan
terkalahkan oleh alam maya, suatu saat.
Lalu problematika apa yang muncul? Sepertinya tidak ada peramasalah serius yang muncul, bahkan
bisa dinilai sebaliknya. Ada begitu banyak manfaat dari revolusi versi ke empat ini. Alat dan cara yang
“simpler” adalah sesuatu yang sangat diminati dan berguna bagi kemanusiaan. Harga yang “murah”
adalah keinginan semua orang. “Akses” dan “kecepatan” yang mudah dan terbuka serta membuat
orang semakin kritis, produktif, kreatif, inovatif dan komunikatif adalah dambaan semua mahluk di bumi
ini. Dari ketiga konsepnya, tidak ada satupun yang merugikan, bahkan semuanya menguntungkan.
Benar bahwa prinsip simpler, cheaper, faster dan accessible khas era ini sangat menguntungkan. Saya
setuju. Namun di balik semua itu ada beberapa dimensi yang terdampak. Level dampaknya tidak
sama, bisa biasa-biasa saja namun bisa berbahaya, bisa dipermukaan saja atau berdampak
mendalam secara substantif, bisa tidak dipermasalahkan namun bisa juga dipermasalahkan.
Semuanya tergantung di sudut mana kita memandang sebuah problematika itu.
Dimensi yang tedampak misalnya dimensi moralitas yang sumber utamanya adalah budaya dan
agama, dimensi politis yang mempertemukan tatanan kekuasaan nation-state berhadapan langsung
dengan globalisasi-kolaborasi, dimensi ekonomis yang menghadapkan ekonomi konvensional-syariah
dan virtual, dimensi ideologis yang telah mendisrupsi ideologi agama, ideologi politik, ideologi negara,
ideologi budaya, ideologi hukum dan seterusnya.
Salah satu contoh sederhana ini mungkin menjadi pertimbangan hadirnya masalah moralitas di era
disruptif. Beberapa waktu lalu, sempat viral postingan anak muda generasi milenial, sangat
mengagumi remaja belasan tahun bernama “Bowo”. Berkaca mata ala Rambo dan berkulit sawo
matang, ia telah membuat fansnya cinta mati. Tidak ada kesan special darinya, tetapi ia kreatif dalam
memainkan aplikasi bernama tik tok. Tik tok adalah aplikasi android yang sukses membuat semua
orang bisa membuat video dengan mudah dan murah. Tanpa usaha yang banyak, sebuah video bisa
diproduksi dengan kilat baik untuk lip sing, aneh-anehan, hebat-hebatan, kocak-kocakan dan
seterusnya.
MENELISIK SISI LAIN DISRUPTIF
Karena viralitas menjadi bagian penting dari aplikasi ini, maka cara membuat konten tik tok menjadi
viral adalah yang harus dipikirkan oleh content creator. Tidak jarang aib, kedunguan, kebegoan,
moralitas rendah adalah pertimbangan konten agar videonya viral dengan indikator ditonton banyak
orang. Bowo, adalah salah satu yang berhasil menyihir para remaja, dengan konten kocaknya.
Beberapa fans Bowo yang usinya belasan tahun mengatakan: “Kita buat agama baru yuk. Bowo
tuhannya, aku nabinya dan kalian ummatnya”. Fans lain mengatakan “aku rela keperawananku pecah
oleh Bowo”, dan ada banyak lagi pernyataan lain yang berbahaya secara moralitas di dalamnya.
Mungkin ini terlihat sederhana, tapi efek dominonya sangat berbahaya dari sudut agama dan budaya.
Efek Bowo hanyalah sebuah contoh kecil dari masalah moral dan budaya di era disrupsi ini. Masih
banyak lagi efek negatif melihat moral budaya dalam perspektif era disrupsi di masyarakat kekinian.
Misal hubungan erat dengan keluarga. Anak semakin tertutup terhadap permasalahan yang
dihadapinya. Bahkan, anak merasa tidak mendapatkan kenyamanan di dalam keluarga. Keluarga
sibuk dengan aktifitasnya masing-masing salah satunya tentang penggunaan gadget yang dimilikinya.
Sehingga kurang membangun komunikasi langsung dengan anggota keluarga. Mengapa? Karena di
era disrupsi ini gadget telah merampas sebagaian waktu keluarga di alam nyata. Padahal Keluarga
memang menjadi pendidikan yang pertama dan utama bagi anak. Maka, di era disrupsi ini,
keteladanan orang tua pun semakin redup bahkan hilang.
Penggunaan teknologi yang semakin jauh dari moral budaya. Generasi sekarang tidak dapat
dihindarkan dalam penggunaan teknologi, namun dapat diarahkan aktivitas yang positif dalam
penggunaan teknologi. Salah satu contohnya, penggunaan media sosial yang berfungsi untuk
mengabarkan kebaikan-kebaikan dan motivasi. Cara sederhana ini dapat menyiapkan generasi dalam
kehidupan di masa mendatang. Tapi yang terjadi tidak jarang media sosial menjadi ladang amoralitas
dan asusila dikalangan generasi millenial hanya untuk mencari jati diri dan sensasi.
Disisi lain, era ini pun semakin banyak menampilkan moral dan budaya negatif yang diterjemahkan
dalam teknologi. Dalam bentuk aplikasi dan games (permainan) sehingga moral dan budaya negatif
berkembang dengan masif mempengaruhi pola pikir dan pola sikap generasi millennial. Semua serba
ada di dalam gadget. Ini perlu disosialisasikan. Agar, generasi saat ini tidak terwarnai dengan
penggunaan teknologi yang tidak salah. Keluarga, orang tua, masyarakat harus dapat menginspirasi
mereka untuk menggunakan bentuk teknologi yang lain yang lebih beradab dan berbudaya.
Padahal, banyak hal positif yang dapat dilakukan generasi saat ini dalam penggunaan teknologi. Misal
perangkat teknologi dapat menjadi sarana merekam kegiatan positif seperti budaya lokal dan tempat
wisata kemudian di viralkan di dunia maya. Cara ini sangat efektif untuk promosi wisata bahkan
menjadi media cukup murah untuk mensosialisasikan pesan kebudayaan. Melalui cara yang kreatif,
pemanfaatan teknologi dapat menarik massa yang cukup besar tanpa mengurangi budaya lokal yang
ditampakkan. Di era disrupsi ini selayaknya budaya dan moral lebih terjaga. Mengapa? Karena disrupsi
bukan hanya tentang ancaman, namun peluang dalam merengkuh kejayaan di masa depan.
MENELISIK SISI LAIN DISRUPTIF

Menelisik Sisi Lain Disruptif

  • 1.
    Era kini bernamadisrupsi, yang sering diposisikan sebagai suatu masalah, di lain sisi sebagai tantangan dan sekaligus solusi dalam peradaban kehidupan kekinian. Terminologi “disruptif” yang menjadi kata sifat dari era atau jaman memiliki makna konotasi negatif karena merupakan sebuah perubahan kemapanan. Disrupsi yang secara literal diterjemahkan sebagai “kekacauan” memiliki derivasi makna yang tidak lepas dari daya ledakan perubahan yang mengganggu kematangan modernisasi. Ia juga membuat kekisruhan baru melalui pola-pola menyeluruh dari aspek semua kehidupan. Terminology ini tentu saja menjadi sebuah masalah. Bukan saja masalah yang berkaitan dengan alat utama yang menjadi ciri khas era milenial yaitu teknologi digital, namun dampak luas dari alat itu yang mengontrol kehidupan. Ia bisa berupa dampak perubahan pola pikir ekonomi, sosial, profesi, pendidikan bahkan agama. Perubahannya pun disinyalir masih belum menemukan ekuilibirum (keseimbangan) menjadi sebuah pola acak, ia masih mencari bentuk khas sebagai kristalisasi berbagai pola yang dialaminya. Sistem kehidupan yang terdampak dari disrupsi ini masih tetap berproses sehingga belum ada komposisi solutif yang tepat sebagai obat penawarnya. Para ahli masih meraba-raba strategi jitu dalam penanggulangan dampak negatifnya. Dalam konteks ilmu pengetahuan dan agama, tentu saja bisa diramu untuk sebuah solusi praktis di era ini. Ilmu pengetahuan dan Agama diyakini secara konsep dan teologis mampu menyelesaikan berbagai persoalan di semua jaman dan menjadi solusi yang relevan untuk semua konteks yang dihadapinya. Tapi, itulah sejatinya ilmu pengetahuan dan keyakinan teologisnya agama. Tinggal kita saja yang meramu konsep itu menjadi sebuah cara jitu dalam menyelesaikan setiap masalah di jamannya. MENELISIK SISI LAIN DISRUPTIF Yusrin Ahmad Tosepu
  • 2.
    Disrupsi memang begitupopuler di publik, namun dari konteks ilmu pengetahuan dan agama, fenomena ini memiliki daya seksi untuk dikaji secara mendalam. Disrupsi juga membutuhkan sentuhan pandangan dari sudut yang berbeda. Problematika Era Disrupsi harus dilihat secara utuh, dari segala aspekdan dampak yang ditimbulkannya. Maka di setiap masa, Agama dan ilmu pengetahuan memiliki kekuatan untuk dapat memecahkan problematika zaman. Kesemuanya memiliki cara pandang dalam memahaminya yang terkoneksi dengan berbagai persoalan. Merekonstruksi persoalan sesuai tujuannya, kedua kekuatan ini lebih kepada tataran konsep dan praktis untuk mengembangkan pola bertujuan dimana setiap problematika zaman diletakan sebagai dinamika peradaban umat manusia. Agama dan ilmu pengetahuan dilekatkan sebagai dasar untuk melihat sebuah peadaban kehidupan manusia. Tujuannya adalah mencari konsep yang bisa menyelesaikan permasalahan kompek di era disrupsi. Ilmu pengetahuan dan agama secara subtantif selalu sepadan, namun secara teknis memiliki perbedaan dengan prakteknya dari pada persamaannya. Era disrupsi adalah terminology baru sebagai istilah yang mengacu pada dampak dari dunia digital. Setelah habisnya masa revolusi Industri 3.0, maka terbitlah revolusi industri 4.0 yang memiliki alat dan cara baru dalam memandang kehidupan. Dahulu, mesin, listrik dan teknologi komputer sederhana dapat membantu mempermudah proses kehidupan manusia. Pekerjaan-pekerjaan yang berkelindan dengan alat berat dan teknologi mesin yang maju dapat merubah prilaku tadisional ke arah yang lebih modern. Kehidupan metropolitan adalah habitat asli dari era ini, dimana produksi-distribusi-konsumsi memiliki konsep matang dan diaplikasikan secara besa- besaran. Transportasi yang mengkoneksikan antar individu dengan tujuannya diberi cap legal-formal pemerintah sebagai penguasa wilayah. Namun semua itu secara perlahan mengalami disrupsi. Ia mengalami kekacauan seiring dengan kritik revolusi industri 4.0 yang memandang kehidupan tidak harus seperti itu. Legal-formal yang konvensional dipandang tidak mudah, tidak murah dan tidak dapat diakses sangat luas. Bagi generasi milenial, perlu ada cara baru dalam memandang sebuah alat yang lebih revolusioner. Revolusi industri harus mengandung empat kata kuci; simpler, cheaper, faster dan accessible. Ia harus mudah, ia harus murah , cepat dan ia harus mudah diakses di mana saja oleh siapa saja. Legitimasi ala negara yang dalam beberapa dimensi memiliki kerumitan dan sering disembunyikan dari ruang publik bukanlah prinsip revolusi Industri 4.0. yang dikagumi oleh Kids zaman Now. Sederhananya, revolusi industri ini adalah kristalisasi dari alat dan cara baru dalam kehidupan. Data konvensional yang membutuhkan usaha rumit dan mahal harus dimigrasikan kepada data digital yang dapat diakses dan dimanipulasi dengan mudah. Kerumitan kerumitan dalam akomodasi dan publikasi dirubah pola pikirnya dengan membuat aplikasi komputer yang lebih sederhana. Kalau dahulu membuat video adalah sesuatu yang sulit dan membutuhkan berbagai kompetensi, kini aplikasi bisa dibuat lebih mudah, begitupun dengan transportasi. Kalau dahulu biaya komunikasi
  • 3.
    sangat mahal, kinidengan aplikasi sangat murah. Dahulu, untuk menciptakan sebuah produk kreatif adalah hal yang rumit dan langka, sekarang banyak pilihan alternatif dan mudah diakses. Pendek kata, era ini adalah era dimana komputerasasi kehidupan telah disederhanakan sesuai dengan kebutuhan hidup. Orang menjadi lebih mudah untuk kreatif, produktif, komunikatif dan kolabiratif. Kini dunia terbagi menjadi dua alam yang satu sama lain kian mengalahkan. Alam itu adalah alam nyata (real) dan alam maya (virtual). Mungkin hari ini masih berproses di mana alam nyata masih dominan, tetapi secara pasti alam maya dengan pesat menunjukan kehebatannya. Setiap orang yang terkoneksi dengan alam maya sudah merasa at home (nyaman) dengan dunia virtualnya. Tidak jarang, 50% waktu kehidupannya bersentuhan langsung dengan dunia ini. Tidak sedikit, kegaduhan di alam virtual menjadi terintegrasi di dunia nyata. Berita-berita kini selalu menyertakan warganet dalam persepsi publik, dan isu trending yang ada di dunia maya menjadi indikator kegaduhan di dunia nyata. Itulah proses yang meyakinkan bahwa alam nyata akan terkalahkan oleh alam maya, suatu saat. Lalu problematika apa yang muncul? Sepertinya tidak ada peramasalah serius yang muncul, bahkan bisa dinilai sebaliknya. Ada begitu banyak manfaat dari revolusi versi ke empat ini. Alat dan cara yang “simpler” adalah sesuatu yang sangat diminati dan berguna bagi kemanusiaan. Harga yang “murah” adalah keinginan semua orang. “Akses” dan “kecepatan” yang mudah dan terbuka serta membuat orang semakin kritis, produktif, kreatif, inovatif dan komunikatif adalah dambaan semua mahluk di bumi ini. Dari ketiga konsepnya, tidak ada satupun yang merugikan, bahkan semuanya menguntungkan. Benar bahwa prinsip simpler, cheaper, faster dan accessible khas era ini sangat menguntungkan. Saya setuju. Namun di balik semua itu ada beberapa dimensi yang terdampak. Level dampaknya tidak sama, bisa biasa-biasa saja namun bisa berbahaya, bisa dipermukaan saja atau berdampak mendalam secara substantif, bisa tidak dipermasalahkan namun bisa juga dipermasalahkan. Semuanya tergantung di sudut mana kita memandang sebuah problematika itu. Dimensi yang tedampak misalnya dimensi moralitas yang sumber utamanya adalah budaya dan agama, dimensi politis yang mempertemukan tatanan kekuasaan nation-state berhadapan langsung dengan globalisasi-kolaborasi, dimensi ekonomis yang menghadapkan ekonomi konvensional-syariah dan virtual, dimensi ideologis yang telah mendisrupsi ideologi agama, ideologi politik, ideologi negara, ideologi budaya, ideologi hukum dan seterusnya. Salah satu contoh sederhana ini mungkin menjadi pertimbangan hadirnya masalah moralitas di era disruptif. Beberapa waktu lalu, sempat viral postingan anak muda generasi milenial, sangat mengagumi remaja belasan tahun bernama “Bowo”. Berkaca mata ala Rambo dan berkulit sawo matang, ia telah membuat fansnya cinta mati. Tidak ada kesan special darinya, tetapi ia kreatif dalam memainkan aplikasi bernama tik tok. Tik tok adalah aplikasi android yang sukses membuat semua orang bisa membuat video dengan mudah dan murah. Tanpa usaha yang banyak, sebuah video bisa diproduksi dengan kilat baik untuk lip sing, aneh-anehan, hebat-hebatan, kocak-kocakan dan seterusnya. MENELISIK SISI LAIN DISRUPTIF
  • 4.
    Karena viralitas menjadibagian penting dari aplikasi ini, maka cara membuat konten tik tok menjadi viral adalah yang harus dipikirkan oleh content creator. Tidak jarang aib, kedunguan, kebegoan, moralitas rendah adalah pertimbangan konten agar videonya viral dengan indikator ditonton banyak orang. Bowo, adalah salah satu yang berhasil menyihir para remaja, dengan konten kocaknya. Beberapa fans Bowo yang usinya belasan tahun mengatakan: “Kita buat agama baru yuk. Bowo tuhannya, aku nabinya dan kalian ummatnya”. Fans lain mengatakan “aku rela keperawananku pecah oleh Bowo”, dan ada banyak lagi pernyataan lain yang berbahaya secara moralitas di dalamnya. Mungkin ini terlihat sederhana, tapi efek dominonya sangat berbahaya dari sudut agama dan budaya. Efek Bowo hanyalah sebuah contoh kecil dari masalah moral dan budaya di era disrupsi ini. Masih banyak lagi efek negatif melihat moral budaya dalam perspektif era disrupsi di masyarakat kekinian. Misal hubungan erat dengan keluarga. Anak semakin tertutup terhadap permasalahan yang dihadapinya. Bahkan, anak merasa tidak mendapatkan kenyamanan di dalam keluarga. Keluarga sibuk dengan aktifitasnya masing-masing salah satunya tentang penggunaan gadget yang dimilikinya. Sehingga kurang membangun komunikasi langsung dengan anggota keluarga. Mengapa? Karena di era disrupsi ini gadget telah merampas sebagaian waktu keluarga di alam nyata. Padahal Keluarga memang menjadi pendidikan yang pertama dan utama bagi anak. Maka, di era disrupsi ini, keteladanan orang tua pun semakin redup bahkan hilang. Penggunaan teknologi yang semakin jauh dari moral budaya. Generasi sekarang tidak dapat dihindarkan dalam penggunaan teknologi, namun dapat diarahkan aktivitas yang positif dalam penggunaan teknologi. Salah satu contohnya, penggunaan media sosial yang berfungsi untuk mengabarkan kebaikan-kebaikan dan motivasi. Cara sederhana ini dapat menyiapkan generasi dalam kehidupan di masa mendatang. Tapi yang terjadi tidak jarang media sosial menjadi ladang amoralitas dan asusila dikalangan generasi millenial hanya untuk mencari jati diri dan sensasi. Disisi lain, era ini pun semakin banyak menampilkan moral dan budaya negatif yang diterjemahkan dalam teknologi. Dalam bentuk aplikasi dan games (permainan) sehingga moral dan budaya negatif berkembang dengan masif mempengaruhi pola pikir dan pola sikap generasi millennial. Semua serba ada di dalam gadget. Ini perlu disosialisasikan. Agar, generasi saat ini tidak terwarnai dengan penggunaan teknologi yang tidak salah. Keluarga, orang tua, masyarakat harus dapat menginspirasi mereka untuk menggunakan bentuk teknologi yang lain yang lebih beradab dan berbudaya. Padahal, banyak hal positif yang dapat dilakukan generasi saat ini dalam penggunaan teknologi. Misal perangkat teknologi dapat menjadi sarana merekam kegiatan positif seperti budaya lokal dan tempat wisata kemudian di viralkan di dunia maya. Cara ini sangat efektif untuk promosi wisata bahkan menjadi media cukup murah untuk mensosialisasikan pesan kebudayaan. Melalui cara yang kreatif, pemanfaatan teknologi dapat menarik massa yang cukup besar tanpa mengurangi budaya lokal yang ditampakkan. Di era disrupsi ini selayaknya budaya dan moral lebih terjaga. Mengapa? Karena disrupsi bukan hanya tentang ancaman, namun peluang dalam merengkuh kejayaan di masa depan. MENELISIK SISI LAIN DISRUPTIF