Materi program baca kitab kuning (rumus pintar baca kitab)
Buku ini berisi penjelasan tentang dasar-dasar ilmu nahwu dan shorof dalam bahasa Arab beserta contoh-contoh soal latihan. Materi yang dibahas meliputi pengertian kalimat, jenis-jenis kalamat, huruf hijaiyah, dan istilah-istilah dasar lainnya."
i Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Judul Buku : Rumus Pintar Baca Kitab Kuning
dan Terjemah Bahasa Arab
Penyusun : Sahrul Anam
(Tutor Channel Ngaji Online)
Kata Pengantar : KH. Burhanuddin Harahap
(Rais Syuriyah PCNU Kab. Berau)
Editor : Abah Nada
Setting, Lay Out
Dan Design Cover : Nasihun Amin
Cetakan Pertama : Maret 2020
Penerbit : Pustaka MUBA
Kritik & Saran
Bisa Melalui : Email : ngajionline123@gmail.com
Fb : Ngaji Online
Ig : ngajionline123
YT : www.youtobe.com/c/NgajiOnline
3.
ii Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
KATA PENGANTAR :
KH. BURHANUDDIN HARAHAP
Rais Syuriyah PCNU Kab. Berau
علي السالمكالل ورمحة موبركاته
واجلملة الكلمة مقاصد يعرف وهبما والصرف النحو بعلم كتابه انزل الذي لل احلمد
ومواضعها
وعلماء اصحابه تلهم مقاالته وسلم عليه الل صلى حممد الكرمي النيب على والسالم والصالة
االس قالئد ببديعة ومجالهتم كلماهتم يزينوا بأن العصرنانآليل واصحابه اله وعلىسالسل
احلني
Puji syukur kepada Allah yang telah meurunkan kitab-Nya (Al-
Qur’an) syarat dengan muatan Ilmu Nahwu dan Ilmu Shorof, dengan kedua
ilmu tersebut akan dapat diketahui maksud setiap kata dan susunannnya.
Shalawat dan salam semoga disanjungkan keharibaan nabi yang
mulia shallallahu alaihi wa sallam, dimana sabda-sabdanya mengilhami
para sahabat dan ulama setiap masa, menghiasi kata-kata dan kalimat-
kalimat mereka dengan keindahan bahasa yang tersusun rapi bagaikan
untaian kalung-kalung mutiara.
Mempelajari ilmu nahwu dan shorof merupakan sebuah keharusan
bagi orang yang menginginkan memahami Syari’at Islam dari sumbernya
yaitu Al-Qur’an dan Hadits secara baik. Begitu juga bagi para praktisi
hukum Islam, memahami kedua ilmu tersebut merupakan syarat mutlak
dan paling mendasar agar terhindar dari kesalahan-kesalahan yang
menyebabkan gagal paham dalam memahami sumber-sumber hukum
Islam tersebut.
Ketika saya disodori buku ini, tentunya saya menyambut dengan
baik dan saya apresiasi atas terbitnya buku ini, yang notabene memuat
dasar-dasar dari ilmu alat (Nahwu dan Shorof) yang dikemas dengan
4.
iii Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
metode rumusan, sehingga para pemula lebih terarah dalam
mempelajarinya, lebih mengetahui langkah-langkah yang hendaknya
dipelajari dan dipahami dalam mempelajari dasar-dasar Ilmu Nahwu dan
Ilmu Shorof, sehingga bukan hanya mudah dipahami tapi juga lebih efesien.
Akhirnya saya hanya bisa berdo’a semoga buku yang praktis ini
benar-benar bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang hendak mempelajari
dasar-dasar ilmu yang berhubungan dengan bahasa Arab, baik cara
membaca bahasa Arab (kitab kuning) atau menterjemahkannya.
الطريق اقوم اىل املوفق والل
علي والسالمكوبر الل ورمحة مكاته
5.
iv Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
SEKAPUR SIRIH PENYUSUN :
SAHRUL ANAM
Tutor Channel Ngaji Online
الرحيم الرمحن الل بسم
وقابل ،الكافية نعمه خالصة بتواتر حنوه حنا من على ّلضتف من يا ّمَّهلال حنمدك
أ عن ّقصريتال داء بإحسانهوالسالم والصالة .ّافيةشال مننه أنواع بترادف شكره داء
على،والسماء األرض ميآلن وسالما صالة ، والبلغاء الفصحاء إمام حممد سيدنا
األنقياء النجباء وصحبه آله عن تعاىل الل ورضى
Puji syukur tidak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah
SWT. yang telah memberikan taufiq dan nikmat-Nya kepada kita semua.
Untaian Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi
Kita, Muhammad Ibni Abdillah SAW., keluarga dan para sahabat-
sahabatnya.
Berawal dari sebuah ketertarikan terhadap teknologi informasi dan
penggunaan media pembelajaran yang berbasis IT. Teknologi yang
dimaksudkan adalah sebuah peralatan (seperti komputer, laptop, dan
piranti lain), aplikasi software dan rangkaian lainnya (sebagai contoh
internet, wify, infra struktur jaringan setempat/local networking
infrastructure dan teleconverence)
Mengenal, apalagi sampai tertarik terhadap perkembangan IT
adalah suatu kebetulan (namun itu adalah takdir) mengingat latar belakang
pendidikan saya yang asli produk pesantren yang sekolahnya selama
kurang lebih 10 tahun sarungan, manun setelah berkecimpung di dunia
pendidikan yang bersifat formal, mulai saat itulah saya dikenalkan dengan
media-media pembelajaran yang berbasis IT, dan mulai saat itulah saya
6.
v Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
mulai tertarik walau sedikit tidak nyambung dengan larat belakang
pendidikan saya.
Tahun 2017 saya mencoba membuat sebuah slide yang berisi
materi pembelajaran Nahwu, Shorof, kemudian secara iseng di-upload ke
platform Youtube dengan nama channel Ngaji Online dengan semboyan
Mengkaji dan Berbagi, karena memang sesuai tujuan awal bukan ingin
mengajari tetapi hanya sekedar berbagi dan ingin berkampanye betapa
pentingnya belajar dasar-dasar Bahasa Arab yaitu ilmu Nahwu dan Shorof
untuk memahami Al-Qur’an, Hadits dan kitab-kitab Turats (kitab gundul).
Seiring dengan banyaknya permintaan dari para subscriber dan
teman-teman yang bergabung dikomunitas Ngaji Online untuk
dibuatkannya materi dasar yang mempermudah mempelajari dasar-dasar
Bahasa Arab (Baca Kitab Kuning), maka saya mencoba menyusun dan
menghadirkan buku sederhana ini yang mana isinya adalah materi-materi
dasar dari ilmu Nahwu dan Shorof sebagai materi pendamping, kenapa saya
katakan pendamping, karena untuk yang benar-benar pemula alangkah
lebih baiknya untuk belajar secara offline terlebih dahulu kepada
guru/ustadz-ustadz di Madrasah atau Pesantren terdekat, namun jika tidak
memungkinkan apa boleh dikata, maka sebagaimana dikatakan:
ُهُّلُك ُكَرْدُيَالَامُهُّلُك ُكَرُتيَال
Artinya: Jika tidak didapati seluruhnya, jangan tinggalkan seluruhnya (yang
mampu dikerjakan.
Buku “Rumus Pintar Baca Kitab Kuning dan Terjemah Bahasa Arab”
yang ada dihadapan para pembaca sekalian, adalah sebuah buku yang
berisi tentang dasar-dasar ilmu nahwu yang disisipi rumusan-rumusan
singkat seputar dasar ilmu nahwu dan shorof.
7.
vi Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Melalui buku ini, saya mencoba mengurai tentang langkah-langkah dan
tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam mempelajari dasar-dasar kedua
ilmu tersebut dan agar lebih mudah untuk mengukur sejauh mana
pengusaan materi, maka di sini saya juga melengkapi dengan file-file
latihan yang berbentuk slide.
Maka dari itu saya berharap, semoga buku ini dapat menjadi buku
pegangan bagi sahabat-sahabat yang baru mempelajari dasar-dasar ilmu
nahwu dan shorof dan dapat menjadi bekal untuk praktik baca kitab
kuning.
Akhirnya, hanya kepada Allah SWT. saya meminta tolong dan senantiasa
mengharap Ridho-Nya dan semoga kita semua selalu diberi kemudahan
dalam mempelajari Bahasa Arab yang tidak lain tujuannya adalah untuk
Likhidmatil Qur’an. Amin Ya Rabbal Alamin.
ا املستعان واللسبيل ىلالرمحن
Berau, 18 Februari 2020
8.
vii Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .....................................................................................................
KATA PENGANTAR ..................................................................................................
SEKAPUR SIRIH PENYUSUN.................................................................................
DAFTAR ISI .................................................................................................................
BAB I
• Petunjuk Pembelajaran ................................................................................
• Pengertian Kalimat .........................................................................................
• Macam-Macam Kalimat dan Tandanya ..................................................
• Pembagian Kalimat Fi’il ......................................... ......................................
• Bentuk Fi’il Madhi dari Pola Susunan Hurufnya...................................
• Model Harakat Terakhir Fi’il Madhi ..........................................................
• Model Harakat Terakhir Fi’il Amar ............................................................
• Macam-macam Fi’il Mudhori’ ....................................................................
• Model Fi’il Mudhori’ Mu’rob dan Tandanya ........................................
BAB II
• Petunjuk Pembelajaran ......................................... ......................................
• Akhir Kalimat Ditinjau dari Segi Berubah dan Tidaknya .............
• Macam-macam Model Kalimat Isim .......................................................
• Pengertian Isim Ghairu Munshorif .........................................................
• Skema Kalimat Mu’rob .................................................................................
• Macam-macam Isim Mabni ........................................................................
• Isim Mabni ........................................................................................................
• Isim Nakiroh dan Isim Ma’rifat ................................................................
BAB III
• Petunjuk Pembelajaran ..............................................................................
• Mar’fuatil Asma’ (Isim-Isim yang Dibaca Rofa’) ..............................
• Fa’il ......................................................................................................................
• Naibul Fa’il .......................................................................................................
• Mubtada’ ...........................................................................................................
• Khobar ......................................... .....................................................................
9.
viii Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
• Amil Nawasikh ...............................................................................................
BAB III
• Petunjuk Pembelajaran ......................................... .....................................
• Manshubatil Asma’ (Isim-isim yang dibaca nashob) .....................
• Maf’ul Bih ......................................... ................................................................
• Maf’ul Muthlaq ......................................... ......................................................
• Dhorof ......................................... .......................................................................
• Maf’ul Lahu ......................................... .............................................................
• Maf’ul Ma’ah ......................................... ......................................... .................
• Hal ......................................... ..............................................................................
• Tamyiz ................................................................................................................
• Ististna’ ...............................................................................................................
• Munada ......................................... ......................................... ...........................
• La Nafi Jenis ......................................................................................................
BAB III
• Petunjuk Pembelajaran ..................................................................................
• Mahfudhotil Asma’ (Isim-isim yang Dibaca Jar) ..................................
• Jar Majrur ..............................................................................................................
• Mudhof Ilaih..........................................................................................................
BAB IV
• Petunjuk Pembelajaran ...............................................................................
• Na’at dan Macam-macamnya ....................................................................
• Athof ....................................................................................................................
• Taukid .................................................................................................................
• Badal ....................................................................................................................
• Ringkasan Kalimat Huruf ............................................................................
• Rusum Pasti, Mengenal Kalimat yang I’robnya Sudah Pasti .........
BAB V
• Istilah-istilah dalam Ilmu Shorof ...........................................................
• Mengenal Fi’il Mujarrad dan Fi’il Mazid ..............................................
10.
ix Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
• Kalimat Fi’il dan Macam-macamnya .......................................................
• Fi’il Mudhori’ .....................................................................................................
• Fi’il Amar .............................................................................................................
• Macam-macam Fi’il Dilihat dari Maknanya ..........................................
• Bentuk-bentuk Kalimat Isim (Jamid dan Musytaq) ..........................
• Isim Dzat ..............................................................................................................
• Masdar ..................................................................................................................
• Isim Fa’il ...............................................................................................................
• Isim Maf’ul ..........................................................................................................
• Isim Zaman Isim Makan ...............................................................................
• Isim Alat ..............................................................................................................
• Sifat Musyabbahah .........................................................................................
• Wazan-Wazan Fi’il Madhi dan Mudhori’ ..............................................
• Faidah Wazan ...................................................................................................
BAB VI
• Ringkasan Kaidah I’lal ..................................................................................
• Wazan-Wazan Tashrif dan Contohnya .................................................
11.
10 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
BAB I
PETUNJUK PEMBELAJARAN
Pada bab ini kita akan mempelajari dasar-dasar Ilmu Nahwu mulai
pengertian kalimat, macam-macam kalimat dan cara mengenal masing-
masing kalimat. Dasar-dasar ini harus dikuasai sebelum lebih lanjut
mempelajari cara menentukan i’robnya (perubahan akhir sebuah kalimat).
Pada bab ini pula kita mulai dikenalkan dengan beberapa Fi’il yang
akhirannya bersifat tetap (Mabni) yaitu Fi’il Madhi dan Fi’il Amar sekaligus
cara mengenali berbagai tanda akhir dari setiap kalimatnya. Karena
keduanya merupakan Fi’il yang akhirannya bersifat tetap (Mabni) sehingga
lebih mudah untuk dipelajari, maka kedua jenis Fi’il ini sengaja
didahulukan sebelum mempelajari kalimat lainnya seperti Fi’il Mudhori’
yaitu Fi’il yang akhirannya mengalami perubahan (Mu’rob), dan Kalimat
Isim.
Fi’il Mudhori’ sendiri akan dibahas di pertemuan akhir. Dengan demikian
pembahasan mengenai seluruh Kalimat Fi’il selesai di bab pertama ini.
Sedangkan model-model Kalimat Isim beserta tanda i’robnya akan dibahas
pada bab selanjutnya.
Materi bab pertama ini berisi lima sesi (pertemuan) yang disusun secara
sistematis sehingga diharapkan kita akan memahami dasar-dasar Ilmu
Nahwu serta mengenal seluruh Kalimat Fi’il.
12.
11 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
PERTEMUAN KE-1
Pada pertemuan ini kita akan mempelajari istilah-istilah penting dalam
kaidah dasar ilmu nahwu, antara lain :
• Apa yang dinamakan Kalimat ?
• Ada berapa pembagian Kalimat ?
• Apa yang dinamakan Kalimat Fi’il ?
• Apa saja tanda-tandanya ?
• Apa yang dinamakan Kalimat Isim?
• Apa saja tanda-tandanya ?
• Apa yang dinamakan Kalimat Huruf ?
• Apa saja tanda-tandanya ?
PENGERTIAN KALIMAT
Kalimat : Ialah lafadz yang mufid dan mufrod.
Contoh : َحَتَف (membuka) ْيَزٌد (Zaid) َبَابْلا (pintu)
Ketiga contoh tersebut dinamakan kalimat karena terdiri
dari :
Lafadz : Karena diambil dari rangkaian huruf hijaiyah.
Mufid : Karena dimengerti dan dipakai oleh orang Arab.
Mufrod: Karena belum disususun menjadi rangkaian
ucapan.
MACAM-MACAM KALIMAT DAN TANDANYA
Kalimat ada tiga macam :
1. Kalimat Isim : Kalimat yang mempunyai arti sendiri serta tidak
mempunyai waktu (zaman). Contoh: ٌءَام(air) ٌةَرَجَش (pohon).
13.
12 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Tanda-Tanda Kalimat Isim ada 4:
1. Bisa dimasuki Al (ْلَا). Contoh : ُةَّنَجْلَا
2. Bisa dimasuki Tanwin (تنوين). Contoh ٌمْيِلَأ ٌبَاذَع:
3. Dijarkan. Contoh هللا ُلْوُسَر:
4. Dimasuki Huruf Jar. Contoh ٍةَسَرْدَم ِيف:
2. Kalimat Fi’il : Kalimat yang mempunyai arti sendiri dan mempunyai
waktu (zaman). Contoh: َلَسَغ (mandi) َقاَل (berkata)
Tanda-Tanda Kalimat Fi’il ada 8 (Bisa dimasuki) :
1. ْدَق contoh : ْمُكَل َنَاك ْدَق
2. ْنيِس contoh : ُلُوقَيَسَاءهَفُّسال
3. َفْوَس contoh : َنْوُمَلْعَت َفْوَس
4. ْثِينْأَت ْءَات contoh : ْتَلَاق ْذِا
5. َتْلِعَاف ْءا contoh : ُتْلُق
6. ْدِيكْوَت ْنُون contoh : ْمُكَّنَدْيِزَأَل
7. ْةَوْسِن ْعَمَج ْنُون contoh : َنْعََّطقَو
8. ْةَبَطَاخُم ْثَّنَؤُم ْدَرْفُم ْءَاي contoh : ْيِدُجْسُا
3. Kalimat Huruf: Kalimat yang tidak mempunyai arti apabila tidak
digabung dengan kalimat lain. Contoh: ْنِم (dari) ِيف (di)
Tanda Kalimat Huruf : Tidak bisa menerima tanda Kalimat Isim dan
Kalimat Fi’il.
Kesimpulan : Dari materi pertemuan pertama ini, yang perlu dipahami
dan dikuasai adalah pengertian serta tanda dari masing-masing kalimat
14.
13 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
karena antara pengertian dan tanda-tanda masing-masing kalimat akan
saling melengkapi untuk mengenal kalimat itu sendiri agar kita dapat
membedakan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya, sehingga
berikutnya kita akan mudah menentukan harakat terakhir dari masing-
masing kalimat
PERTEMUAN KE-2
Pada pertemuan ini, fokus pembahasanya adalah bagaimana mengenal
pembagian masing-masing Kalimat Fi’il agar kita mampu memahami
pengertian/definisi dan cara mengenali Kalimat Fi’il satu persatu beserta
contoh-contohnya.
Maka dalam pertemuan ini kita diharapkan akan bisa menjawab:
• Ada berapa pembagian Kalimat Fi’il ?
• Apa yang dinamakan Fi’il Madhi ?
• Apa yang dinamakan Fi’il Mudhori’ ?
• Apa yang dinamakan Fi’il Amar ?
PEMBAGIAN KALIMAT FI’IL
Kalimat Fi’il ada tiga macam, yaitu :
1. Fi’il Madli : Kalimat yang menunjukkan pekerjaan yang telah dikerjakan
(lampau). Contoh: َلَاق (telah berkata)
2. Fi’il Mudhori’: Kalimat yang menunjukkan pekerjaan yang sedang atau
akan dikerjakan (sekarang atau akan datang). Contoh: ُلُكْأَي
(sedang/akan makan)
3. Fi’il Amar: Kalimat yang menunjukkan arti perintah. Contoh: ْأْرقِا
(bacalah)
15.
14 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Sesuai pengertiannya bahwa Kalimat Fi’il adalah kalimat yang mempunyai
arti sendiri dan mempunyai waktu (zaman), dapat disimpulkan
berdasarkan pembagian di atas bahwa waktu (zaman) dalam Kalimat Fi’il
terbagi menjadi 3 keadaan, sebagaimana berikut:
1. Zaman Madli : Masuk pada Fi’il Madli (telah lewat)
2. Zaman Hal : Masuk pada Fi’il Mudhori’(sedang)
3. Zaman Istiqbal : Masuk pada Fi’il Mudhori’ dan Fi’il Amar (akan)
BENTUK FI’IL DILIHAT DARI (POLA) SUSUNAN HURUFNYA
Fi’il Madli:
َلَعَف-َلِعَف-َلُعَف
َلَعْفَا–َلَّعَف–َلَعَاف-َلَلْعَف
ََّلعْفِا–َلَّعَفَت–َلَعَافَت–َلَعَفْنِا-َلَعَتْفِا-َلَلْعَفَت
َلَعْفَتْسِا–َلَعْوَعْفِا-َلَّوَعْفِا-َىلْنَعْفِا-َلَلْنَعْفِا-ََّالعْفِا-ََّللَعْفِا-َلَلْنَعْفِا
Fi’il Mudhari’:
ُلُعْفَي-ُلِعْفَي-ُلَعْفَي
ُلِعْفُي–ُلِِّعَفُي–ُلِعَافُي-ُلِلْعَفُي
ُّلَعْفَي–ُلَّعَفَتَي–ُلَعَافَتَي–ُلِعَفْنَي–ُلِعَتْفَي-ُلَلْعَفَتَي
ُلِعْفَتْسَي–ُلِعْوَعْفَي–ُلِّوَعْفَي-ِىلْنَعْفَي-ُلِلْنَعْفَي-ُّلَاعْفَي-ْفَيُّلِلَع-ُلِلْنَعْفَي
Fi’il Amar:
ْلُعْفُا-ْلِعْفِا-ْلَعْفِا
ْلِعْفَا-ْلِّعَف–ْلِعَاف-ْلِلْعَف
16.
15 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
ََّلعْفِا–ْلَّعَفَت–ْلَعَافَت–ْلِعَفْنِا–ْلِعَتْفِا-ْلَلْعَفَت
ْلِعْفَتْسِا–ْلِعْوَعْفِا–ْلِّوَعْفِا–ِلْنَعْفِا–ْلِلْنَعْفِا-ِاََّالعْف-َِّللَعْفِا–ْلِلْنَعْفِا
Catatan : Untuk mengenal dan membedakan masing-masing Fi’il dapat
dilihat dari masing-masing (pola) wazannya, namun hal ini tidak wajib
dihafal karena mengenal wazan adalah tugas dari Ilmu Shorof.
PERTEMUAN KE-3
Dalam pertemuan ini kita akan mulai mengenali dan menentukan:
1. Harakat terakhir masing-masing Kalimat Fi’il. Diharapkan kita sudah
mengusai dasar-dasar dari Kalimat Fi’il sebagaimana telah dijelaskan
dalam pertemuan sebelumnya.
2. Fi’il apa saja yang Mabni dan Fi’il apa saja yang Mu’rob.
3. Model harakat terakhir dari Fi’il Madhi. Adapun Fi’il Mudhori’ dan Fi’il
Amar akan dibahas pada pertemuan berikutnya.
Diharapkan kita akan mampu menjawab dan menjelaskan pertanyaan
berikut:
• Ada berapa Mabninya Fi’il Madhi ?
• Kapankah Fi’il Madhi Mabni Fathah ?
• Kapan Fi’il Madhi Mabni Dhommah ?
• Kapan Fi’il Madhi Mabni Sukun ?
17.
16 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
MODEL HARAKAT TERAKHIR FI’IL MADHI
o Mabni Fathah, apabila tidak bertemu dengan Dhomir Rofa’ Mutaharrik
atau Wawu Jamak. Contoh: َحَتَف
o Mabni Dhommah, apabila bertemu dengan Wawu Jamak. Contoh : ْاوُحَتَف
o Mabni Sukun, apabila bertemu dengan Dhomir Rofa’ Mutaharrik. Contoh:
َنْحَتَف-َتْحَتَف-َامُتْحَتَف–ْمُتْحَتَف–ِتْحَتَف–َّنُتْحَتَف–ُتْحَتَف-َانْحَتَف
PERTEMUAN KE-4
Setelah mengenal model Mabninya Fi’il Madhi, berikutnya kita akan
mengenal mabninya Fi’il Amar. Sebagaimana Fi’il Madhi, mabninya Fi’il
Amar juga terbatas pada 3 model, yaitu Mabni Sukun, Mabni Membuang
Huruf Illat dan Mabni membuang Huruf Nun. Maka di pertemuan ini kita
akan mempelajari 3 model Mabni dari Fi’il Amar tersebut sekaligus
mengetahui alasan-alasannya:
• Ada berapa Mabninya Fi’il Amar?
• Kapan Fi’il Amar Mabni Sukun?
• Kapan Fi’il Amar Mabni Membuang Huruf Illat?
• Kapan Fi’il Amar Mabni Membuang Huruf Nun?
MODEL HARAKAT TERAKHIR FI’IL AMAR
Mabni Fi’il Amar ada 3:
o Mabni Sukun, jika terdiri dari shohih akhir dan tidak bertemu dengan
Alif Tasniyah, Wawu Jamak dan Ya’ Mufrod Muannas Mukhotobah.
Contoh: ْبِرْضِا
o Mabni dengan membuang Huruf Illat, jika terdiri dari Mu’tal Akhir.
Contoh: ُعْدُا-ِمْرِا-َشْخِا asalnya adalah ُواعْدُا-ْيِمْرِا-َىشْخِا
18.
17 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
o Mabni dengan membuang Huruf Nun, jika Fi’il Amar bertemu dengan
Alif Tatsniyah, Wawu Jama’ atau Ya’ Muannats Mukhatabah. Contoh:
َابِرْضِا-ْاوُبِرْضِا-ْيِبِرْضِا asalnya adalah ِنَابِرْضِا-َنْوُبِرْضِا-َنْيِبِرْضِا
PERTEMUAN KE-5
Pertemuan ke-5 ini merupakan pembahasan terakhir Bab I. Di pertemuan
kali ini kita akan menuntaskan pengenalan model harakat akhir dari
macam-macam Kalimat Fi’il.
Jika di beberapa pertemuan sebelumnya kita telah membahas model
harakat yang tidak mengalami perubahan (Mabni) dari Fi’il Madhi dan Fi’il
Amar, maka pada pertemuan ini kita akan dikenalkan dengan model
harakat terakhir dari Fi’il Mudhori’ yang sedikit berbeda dengan dua
Kalimat Fi’il sebelumnya disebabkan harakat akhir Fi’il Mudhari’ secara
umum terbagi kepada dua macam yaitu yang berubah (Mu’rob), dan yang
tidak mengalami perubahan (Mabni).
Secara umum ada berapakah model akhir dari Fi’il Mudhori’ :
• Kapan Fi’il Mudhori’ Mabni ?
• Ada berapa mabninya Fi’il Mudhori’ ?
• Kapan Fi’il Mudhori’ Mabni Fathah ?
• Kapan Fi’il Mudhori’ Mabni Sukun ?
• Kapan Fi’il Mudhori’ Mu’rob ?
• Ada berapa I’rob yang masuk pada Fi’il Mudhori’ ?
• Kapan Fi’il Mudhori’ Rofa’ ?
• Kapan Fi’il Mudhori’ Nashob dan apa saja Amil Nawashibnya ?
• Kapan Fi’il Mudhori’ Jazam dan apa saja Amil Jawazimnya ?
• Ada berapa model Fi’il Mudhori’ yang Mu’rob ?
• Bagaimana tanda I’robnya Fi’il Mudhori’ Sohih Akhir ?
• Bagaimana tanda I’robnya Fi’il Mudhori’ Mu’tal Akhir ?
• Bagaimana tanda I’robnya Fi’il Mudhori’ yang berupa Af’alul Khomsah ?
19.
18 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
MACAM-MACAM HARAKAT TERAKHIR FI’IL MUDHORI’
Mabni: Apabila bertemu dengan Nun Taukid atau Nun Jamak Niswah.
Contoh : َّنَبِرْضَي-َنْبِرْضَي
Mabninya Mudhori’ ada 2 macam:
• Mabni Fathah: Apabila bertemu dengan Nun Taukid, baik Nun
Taukid Khofifah maupun Nun Taukid Tsaqilah. Contoh: ْنَبِرْضَي-
َّنَبِرْضَي
• Mabni Sukun: Apabila bertemu dengan Nun Jamak Niswah. Contoh:
َنْبِرْضَي
Mu’rob: Apabila tidak bertemu dengan Nun Taukid atau Nun Jamak Niswah.
Contoh: َيْكُتُب
I’ROB YANG MASUK PADA FI’IL MUDHORI’
I’rob yang masuk pada Fi’il Mudhori’ ada 3:
o I’rob Rofa’ : Apabila tidak dimasuki Amil Nawasib atau Amil Jawazim.
Contoh: ُبِرْضَي-ُحَتْفَي
o I’rob Nashob: Apabila dimasuki Amil Nawasib.
Contoh: َبِرْضَي ْنَا-َاْنَحَتْفَي
o I’rob Jazam: Apabila dimasuki Amil Jawazim.
Contoh: ْبِرْضَي ْمَل-ْحَتْفَي ْمَل
20.
19 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Amil Nawasib. Yaitu Amil yang menashobkan Fi’il Mudhori’, ada 10 macam:
ْءَاف ،ُوَاو ،ْوَا ،َّىتَح ،ْدُحُج ْمَال ،ْيَك ْمَال ،ْنَذِا ،ْيَك ،ْنَل ،ْنَا
َكَاذَْنذِاُص ْنِاَو ْتَرِّدَْيكُْمَال َيْهَو ٍرْشَعِب ْبِصْنَافَْْناَوَْنلَوَْيك
َاوُْْوَاولْاَوْلَافَق ٍبَاوَج ِيفْاوَنَع ْد َوُْمَالُْجْحٍدَكَوَاذَْحَّىتَوَْوأ
Amil Jawazim. Yaitu Amil yang menjazamkan Fi’il Mudhori’, ada 16 macam:
َّمَل ،ْمَلا،،ْيِهَن َال،َامَفْيَك ،َامُثْيَح ،َامْهَم ،َنْيَا ،َنَّايَا ،َىتَم ،ٌَّيا ،َامْذِإ ،َام ،ْنَم ،ْنِا ،ْرَمَا ْمَال
َّىنَا
ْبَلَّالط َىلَع َاتََّلد ٍمَالَو َالَو ْبَجَو ْدَق َّامَلَو ْمَلِب ُهُمْزَجَو
ٌَّياَمَىتَّيَاــَناَنْيَاَمْهَام َكَكَاذْنِاَوَمْنَوَمـاِاَوَامْذ
ُقَي ْنِإَكُق ٌورْمَعَو ٌدْيَز ْمَانْم َوَحْيَامُثَوَكْيَفَامَوَّىنَا
Catatan : Untuk (cepat) mengetahui apakah Fi’il Mudhori’ tersebut Rofa’,
Nashob atau Jazam, maka yang perlu diperhatikan adalah kalimat yang
terdapat sebelum Fi’il Mudhori’ apakah terdapat Amil atau tidak. maka
untuk mempermudah, hafalkanlah Amil-amil Nawashib dan Jawazim
melalui bait-bait nadzam di atas.
21.
20 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
MODEL FI’IL MUDHORI’ MU’ROB DAN TANDA I’ROBNYA
Tanda I’rob Fi’il Mudhori’ pada asalnya adalah Rofa’ menggunakan
Dhommah, Nashob menggunakan Fathah dan Jazam menggunakan Sukun,
dengan catatan apabila akhir Fi’il Mudhori’ tidak bertemu dengan Nun
Taukid, Nun Jamak Niswah, Alif Tasniyah, Wawu Jamak, dan Ya’ Mufrod
Muannats Mukhotobah.
Fi’il Mudhori’ + Nun Taukid = Mabni Fathah (ْنَبِرْضَي/َّنَبِرْضَي)
Fi’il Mudhori’ + Nun Jama’ Niswah = Mabni Sukun (َنْبِرْضَت/َنْبِرْضَي)
Fi’il Mudhori’ + Alif Tasniyah, Wawu Jamak, Ya’ Mufrod Muannats
Mukhotobah = Af’alul Khomsah (akan dijelaskan pada pertemuan ini)
Fi’il Mudhori’ Sohih Akhir (akhirnya tidak terdiri dari Huruf Illat: ،الف ،واو
ياء)
I’rob Tanda I’rob Contoh
Rofa’ Dhommah Dzohir ُبُتْكَي
Nashob Fathah Dzohir ْنَاَبُتْكَي
Jazam Sukun ْمَلْبُتْكَي
Fi’il Mudhori’ Mu’tal Akhir (Akhirannya terdiri dari huruf illat)
I’rob Tanda I’rob Contoh
Rofa’ Dhommah Muqoddar ْخَيَىش،ُعْدَيو،َيِيمْر
Nashob Fathah Dhahir
(Kecuali Mu’tal Alif)
ْنَاْخَيَىش،ْنَاُعْدَيَو،ْنَاَيَيِمْر
Jazam Membuang Huruf Illat ْمَلَشْخَيْمَل ،ُعْدَيْمَل ،ِمْرَي
22.
21 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Af’alul Khomsah. Adalah setiap Fi’il Mudhori’ yang bertemu dengan Alif
Tasniyah, Wawu Jamak atau Ya’ Mufrod Muannats Mukhotobah.
Contoh: ،َنْوُلَعْفَت ،َنْوُلَعْفَي ،ِنَالَعْفَت ،ِنَالَعْفَيَنْيِلَعْفَت
I’rob Tanda I’rob Contoh
Rofa’ Menetapkan Nun ِنَالَعْفَي
Nashob Membuang Nun َالَعْفَي ْنَا
Jazam Membuang Nun َالَعْفَي ْمَل
23.
22 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
BAB II
PETUNJUK PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari model-model Kalimat Fi’il dan cara bacanya
sebagaimana dijelaskan pada BAB I, berikutnya kita akan mempelajari
kalimat yang kedua yaitu Kalimat Isim. Ada berapa pembagiannya dan
bagaimana cara membaca harakat terakhirnya. Namun sebelum
mengetahui dan menentukan harakat terakhir dari Kalimat Isim, yang
wajib kita lakukan terlebih dahulu adalah mengetahui pembagian Kalimat
Isim dilihat dari segi berubah (mu’rob) atau tidaknya (mabni) pada harakat
terakhirnya.
Apabila harakat terakhir Kalimat Isim itu berubah (mu’rob) maka
tugas kita adalah mempelajari model-model Kalimat Isim karena
perbedaan pada setiap model akan mempengaruhi terhadap tanda i’rob
kalimat tersebut. Adapun kalimat-kalimat isim yang mabni, maka cukup
dihafalkan karena harakat terakhirnya tidak akan mengalami perubahan.
Selain itu, pada pertemuan terakhir di bab ini kita jug akan
mempelajari Kalimat Isim ditinjau dari segi keumuman dan kekhususannya
atau yang dikenal dengan Isim Nakiroh dan Isim Ma’rifat. Dengan demikian
pada BAB II ini kita akan bahas tuntas hal-hal yang berhubungan dengan
Kalimat Isim.
24.
23 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
PERTEMUAN KE-1
Pada pertemuan ke-1 ini, kita mulai menegenal akhir Kalimat Isim secara
umum yaitu ada yang mu’rob (berubah) dan ada yang mabni (tidak
berubah). Kemudian melanjutkan mempelajari model-model kalimat isim
dilihat dari lafadz dan maknanya sekaligus menentukan tanda i’robnya.
Maka rumusan dari pertemuan pertama di bab II ini adalah sebagai
berikut:
• Ada berapakah model akhir dari Kalimat Isim ditinjau dari segi
berubah dan tidaknya?
• Apa saja i’rob yang masuk pada Kalimat Isim?
• Apa saja macam-macam Kalimat Isim?
• Apa yang dinamakan Isim Mufrod dan apa saja tanda i’robnya?
• Apa yang dinamakan Isim Tasniyah dan apa saja tanda i’robnya?
• Apa yang dimanakan Jamak Taksir dan apa saja tanda i’robnya?
• Apa yang dinamakan Jamak Muannats Salim dan seperti apa saja tanda
i’robnya?
• Apa yang dinamakan jamak Mudzakkar Salim dan apa saja tanda
i’robnya?
• Apa yang dinamakan Asma’ul Khomsah dan apa saja tanda i’robnya?
• Apa yang dinamakan Isim Maqsur dan apa saja tanda i’robnya?
• Apa yang dinamakan Isim Manqus dan apa saja tanda i’robnya?
AKHIR KALIMAT DITINJAU DARI SEGI BERUBAH DAN TIDAKNYA
Akhir Kalimat Isim ada 2 Macam:
Mu’rob: Kalimat yang akhirnya bisa berubah sebab dimasuki
amil. Contoh: ِةَالَِّصال َنِم ،َةَالَّصال َِّنا ،ُةَالَّصَلا َنَاك
Mabni : Kalimat yang akhirnya tidak bisa berubah meski
dimasuki amil. Contoh: َاذَه ْنِم ،َاذَه َِّنا ،َاذَه َناَك
25.
24 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Penjelasan : Amil adalah suatu sesuatu yang dapat mempengaruhi i’rob
sebuah kalimat baik amil tersebut terlihat atau tidak. Contoh: ِضْوُرُف ِيف
هءْوُضُوْلا (terlihat yaitu يف ) هءْوُضُوْلا ُضْوُرُف (tidak terlihat)
I’rob yang masuk pada Kalimat Isim ada 3 Macam:
• Rofa’ - Contoh : ْءوُضُوْلا
• Nashob - Contoh : َءْوُضُوْلا
• Jar - Contoh : هءْوُضُوْلا
Catatan : Dari ketiga contoh di atas, maka jelas bahwa kalimat isim tidak
bisa dibaca jazam ( ُضُوْلاْوْء )
MACAM-MACAM MODEL KALIMAT ISIM
• Mufrod
• Tatsniyah
• Jamak Mudzakkar Salim
• Jamak Muannats Salim
• Jamak Taksir
• Asma’ul Khomsah (Isim yang lima)
• Isim Maqsur
• Isim Manqus
• Isim Ghairu Munshorif
26.
25 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Isim Mufrod : Isim yang bermakna tunggal dan bukan Asma’ul Khomsah.
I’rob Tanda I’rob Contoh
Rofa’ Dhommah ٌمِلْسُم َءَاج
Nashob Fathah ًامِلْسُم ُتْيَأَر
Jar Kasroh ٍمِلْسُمِب ُتْرَرَم
Isim Tatsniyah : Isim yang menunjukkan arti dua dengan menambah
Alif dan Nun ketika rofa’ dan menambah Ya’ dan Nun ketika nashob dan
jar.
I’rob Tanda I’rob Contoh
Rofa’ Alif َرِنَاتَعْك
Nashob Ya’ َرِنْيَتَعْك
Jar Ya’ َرِنْيَتَعْك
Jamak Mudzakkar Salim : Jamak untuk laki-laki dengan menambah
Wawu dan Nun ketika rofa’ dan menambah Ya’ dan Nun ketika nashob
dan jar.
I’rob Tanda I’rob Contoh
Rofa’ Wawu َنْوُمِلْسُم
Nashob Ya’ َنْيِمِلْسُم
Jar Ya’ َنْيِمِلْسُم
27.
26 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Keterangan : Perbedaan Jamak Mudzakkar Salim dengan Isim Tasniyah
ketika nashob dan jar adalah:
Isim Tatsniyah : Sebelum Ya’ berharakat fathah dan sesudah Ya’
berharakat kasroh.
Jamak Mudzakkar Salim : Sebelum Ya’ berharakat kasroh dan sesudah
Ya’ berharakat fathah.
Jamak Taksir : Jamak yang berubah dari bentuk mufrodnya.
I’rob Tanda I’rob Contoh
Rofa’ Dhommah ٌنَاكْرَا
Nashob Fathah َكْرَاانا
Jar Kasroh ٍنَاكْرَا
Jamak Muannas Salim : Jamak untuk perempuan dengan menambah
Alif dan Ta’.
I’rob Tanda I’rob Contoh
Rofa’ Dhommah ٌتَانِمْؤُم
Nashob Kasroh ٍتَانِمْؤُم
Jar Kasroh ٍتَانِمْؤُم
Asmaul Khomsah : Isim yang jika rofa’ menggunakan tanda Wawu.
Nashob dengan tanda alif dan Jar dengan menggunakan tanda Ya’. Dan
bentuk contohnya ada 5 yaitu: ْوُذ ،ْوُف ،ٌمَح ،ٌخَا ،ٌبَا
28.
27 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
I’rob Tanda I’rob Contoh
Rofa’ Wawu َكْوُبَا
Nashob Alif َكَابَا
Jar Ya’ َكْيِبَا
Isim Maqsur: Isim yang diakhiri dengan Alif Lazimah. (sebelum akhir
fathah)
I’rob Tanda I’rob Contoh
Rofa’ Dhomah Muqoddar َىتَفال
Nashob Fathah Muqoddar َىتَفال
Jar Kasroh Muqoddar َىتَفال
Isim Manqus: Isim yang diakhiri dengan Ya’ Lazimah (Sebelum akhir
kasroh)
I’rob Tanda I’rob Contoh
Rofa’ Dhomah Muqoddar ِيضَاقال
Nashob Fathah Dhohir َيِضَاقال
Jar Kasroh Muqoddar ِيضَاقال
29.
28 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
PERTEMUAN KE-2
Sebelumnya kita sudah mengenal model-model dari Kalimat Isim
yaitu ada 9 macam yang telah kita pelajari. Maka pada pertemuan ke-02 ini
kita akan melanjutkan satu lagi model Kalimat Isim yang sengaja akan
dibahas secara tersendiri yaitu Isim Ghairu Munshorif. Isim ini butuh pada
pembahasan tersendiri dikarenkan Isim Ghairu Munshorif beda dengan
Isim-isim yang lainnya.
Perbedaan antara Isim Ghairu Munshorif dan isim-isim lainnya
terletak pada tanda I’rob jarnya yaitu menggunakan harakat fathah. Selain
itu Isim Ghairu Munshorif termasuk isim yang unik, karena pada
pembelajaran awal kita tahu bahwa ciri khas dari kalimat isim adalah
tanwin, namun ternyata isim ghairu munshorif di sini adalah isim yang tidak
boleh ditanwinkan dan ini tentunya sangatlah bertolak belakang dengan
prinsip Kalimat Isim pada umumnya yang wajib ditanwinkan. Maka
tentunya sebelum mengenal apa itu Isim Ghairu Munshorif, maka terlebih
dahulu di sini kita akan mempelajari penyebab-penyebab isim tidak boleh
ditanwinkan.
• Apa saja penyebab Kalimat Isim tidak boleh ditanwinkan ?
• Apa yang dinamakan Isim Ghairu Munshorif dan apa saja tanda
i’robnya ?
• Ada berapa Illat Isim Ghairu Munshorif ?
• Apa yang dinamakan Sighat Muntahal Jumuk ?
• Apa yang dinamakan Wazan Fi’il ?
• Apa yang dinamakan ‘Udul ?
• Apa yang dinamakan Ta’nits, dan apa saja macam-macam Ta’nits ?
• Apa yang dinamakan Tarkib Mazji ?
• Apa yang dinamakan Ziyadah Alif Nun ?
• Apa yang dinamakan Ajami ?
30.
29 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Macam-Macam Kalimat Isim Yang Tidak Boleh Tanwin
Pada dasarnya semua kalimat isim yang mu’rob harus ditanwinkan karena
sebagaimana yang telah disebut di depan, bahwa salah satu ciri dari
kalimat isim adalah tanwin. Namun ada beberapa isim yang tidak boleh
ditanwinkan antara lain:
1. Isim yang dimasuki alif lam (ال) Contoh: ُذَاتْسُالا ،ُبَالُّطال ،ُبَاتِكال
2. Isim yang disandarkan pada kalimat lain (Isim Mudhof).
Contoh: َي ِكِلَامِنْيِّدال ِمْو
3. Isim Ghairu Munshorif (sebagaimana akan menjadi fokus pembahasan
pada pertemuan ini)
PENGERTIAN ISIM GHAIRU MUNSHORIF
Isim Ghairuh Munshorif:
Isim yang tidak bisa menerima tanwin karena ada 2 illat atau 1 illat yang
sama dengan 2 illat.
I’rob Tanda I’rob Contoh
Rofa’ Dhomah Tanpa Tanwin ُدَمْحَا
Nashob Fathah Tanpa Tanwin ْحَاَدَم
Jar Fathah dengan syarat tidak
dimudhofkan dan dimasuki Al (ْلَا)
َدَمْحَا
31.
30 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
ILLAT ISIM GHAIRU MUNSHORIF
llat Isim Ghoiruh Munshorif ada : 9
َم ،ْثْيِنْأَت ،ْلُدُع ،ْلِعِف ْنَزَو ،ْعُومُجْلا َىهَتْنُم ْةَغْيِصْرَت ،ْيِمَلَع/ْةَفِرْعْبِيكْزَمَةدَايِز ،ْيِجْفِلَا
،ْنُونَةفِص ،ْيِمَجَع
Untuk mempermudah maka bisa dihafal melalui bait berikut:
َالُمَك ْدَق ُفْصَوْلَاف ًةَمْجُع ْدِزَو ْبِّكَر ْجِاَمَع ْنِزَو ْعِِّنَا ًالِداِب ْثَمْعَفِرٍة
Sighat Muntahal Jumu’: Adalah setiap isim yang bermakna jamak
dengan mengikuti pola wazan ُلْيِعَافَم – ُلِعَافَم atau yang menyerupainya
yaitu setiap isim yang terdiri dari 5-6 huruf yang pertama fathah dan
yang ketiga berupa alif didahului fathah.
Contoh:
ِجَاسَم()ُدَاصَم()ُحْيب)ُمِهَارَد()ُرْيِنَانَد()ُلِضَاف(أَسَأ(ْيِلا)ُب)ُبِرَاجَت(ْيِمَارَت(ُد))ُرِصَاوَن(
)ُنْيِحَاوََـط()ُقِرَايَص()ُرْيِسَايَد()ُدِمَاحَي()ُمْيِمَاحَي(
Wazan Fi’il : Adalah setiap Kalimat Isim baik berupa alami (nama) atau
sifat yang bentuknya menyerupai pada wazan-wazan yang dipakai oleh
Kalimat Fi’il, baik berupa Fi’il Madhi, Fi’il Mudhori’ atau Fi’il Amar.
Contoh wazan fi’il berupa nama : ْدِمْثِا ،ُرُكْشَي ،َدَمْحَا
Contoh wazan fi’il berupa sifat : ،َلَضْفَا ،َدَوْسَاَدَوْجَا
Udul : Adalah setiap kalimat isim yang keluar dari bentuk aslinya tanpa
merubah maknanya. Udul bisa dikatakan Isim Ghairu Munshorif apabila
maknanya berupa alami atau sifat.
32.
31 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Contoh Udul berupa nama : ُلَحُز،ُرَفُز ُرَمُع،
Contoh Udul berupa sifat : ُدَاحُا،ُدَحْوَم،َاءنُثَىنْثَم،ُثَالُث،ُثَلْثَم
Ta’nits : Adalah setiap kalimat yang mengandung arti perempuan, baik
berupa jenisnya, sifatnya atau lafadznya saja.
Dengan demikian Ta’nits dibagi menjadi 3:
1. Ta’nits Ma’nawi : Setiap kalimat yang mengandung arti perempuan
baik asli maupun majazi dengan syarat lebih dari 3 huruf. Contoh:
ُبَنْيَز
2. Ta’nits Lafdzi : Setiap kalimat yang diakhiri dengan huruf ta’
marbuthoh, baik berupa nama perempuan atau laki-laki. Contoh :
ُةَحْلَط ُةَمِطَاف،
3. Ta’nits Menggunakan Alif : Setiap kalimat yang diakhiri dengan alif
ta’nits mamdudah atau maqsuroh.
Alif Ta’nist Mamdudah : Muannast yang setelah Alif ada Hamzah.
Contoh : َاءرْحَص
Alif Ta’nist Maqsuroh : Muannast yang diakhiri Alif Layyinah.
Contoh: ْبُحَىل
Tarkib Mazji : Setiap kalimat yang terdiri dari gabungan dua nama yang
disingkat menjadi satu nama. Contoh : َبْعَتْوَم َرَضَح ،َّكَبَل
Ziyadah Alif dan Nun : Setiap kalimat yang terdiri dari tambahan alif
dan nun dan tidak mempunyai arti tatsniyah (arti dua), hal ini bisa
berupa alami atau sifat.
33.
32 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Contoh Ziyadah Alif Nun berupa nama : ،ُنَاضَمَرُنَابْعَش َمْثُعُنا،
Contoh Ziyadah Alif Nun berupa sifat : ُنَاشْطَع ،ُنَالْسَك ،ُنَارْكَس
Ajami : Kalimat yang bukan berupa Bahasa Arab. Contoh : ْيِعَامْسِاُل
،ُمْيِهَارْبِا
Catatan : Setiap nama Nabi dan nama Malaikat tidak boleh ditanwinkan
(Ghairu Munshorif) kecuali berikut ini:
ِرْضَوٌناَمِلاٌكَنِكْيٌرُمْنَكٌر ُهْوٌدُشَعْيٌبَصِلاٌحُمَحَّمٌد
Kesimpulan :
Yang Satu Illat : Ini maksudnya dengan melihat lafadznya sudah
memenuhi syarat untuk tidak ditanwinkan. Yaitu ada 3:
1. Sighat Muntahal Jumk. Contoh : َافَمِتُح
2. Alif Ta’nist Mamdudah. Contoh : َاءرْحَص
3. Alif Ta’nist Maqsuroh. Contoh : َىلْبُح
Yang Dua Illat ada: Harus melihat lafadz dan maknanya (apakah alami
atau sifat)
Alami bersamaan dengan :
1. Wazan Fi’il. Contoh : َمْحَاَد
2. Ta’nits. Contoh : َفِطاُةَم
3. Ziyadah Alif dan Nun. Contoh : َنَامْثُع
4. ‘Udul. Contoh : ُرَمُع
34.
33 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
5. Tarkib. Contoh : َتْوَم َرَضَح
6. Ajami. Contoh : َلْيِعَامْسِا
Sifat bersamaan dengan:
1. Ziyadah Alif dan Nun. Contoh : َنَارْكَس
2. Wazan Fi’il. Contoh : َوْسَاَد
3. ‘Udul. Contoh : ُثَلَثا
35 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
PERTEMUAN KE-3
Pada pertemuan sebelumnya kita sudah mempelajari secara tuntas tentang
isim yang mu’rob sekaligus tanda-tanda i’robnya, maka kali ini kita mulai
mengenal macam-macam isim yang mabni. Dalam mempelajari isim yang
mabni tentunya tidaklah sesulit mempelajari isim yang mu’rob, sebab selain
jumlahnya yang terbatas, isim yang mabni tidak menggunakan tanda i’rob,
maka cara membaca harakat terakhirnya ialah disesuaikan dengan apa
adanya. Hanya saja kita harus tahu apa saja isim-isim yang mabni agar
tidak tertukar dengan isim yang mu’rob. Maka dalam pertemuan ke-3
inilah kita akan tahu apa saja isim-isim yang mabni tersebut.
• Apa yang dinamakan mabni ?
• Apa saja kalimat yang mabni ?
• Apa saja isim yang mabni ?
• Apa yang dinamakan Isim Mashul ?
• Apa yang dinamakan Shilah ?
• Ada berapa macam-macam Shilah ?
• Apa yang dinamakan Aid ?
• Seperti apa saja bentuk-bentuk Isim Maushul ?
• Apa yang dinamakan Isim Isyaroh ?
• Seperti apa saja bentuk-bentuk Isim Isyaroh ?
• Apa yang dinamakan Isim Dhomir ?
• Ada berapa model Isim Dhomir ?
• Seperti apa saja bentuk-bentuk Isim Dhomir ?
• Apa yang dinamakan Isim Syarat ?
• Seperti apa saja bentuk-bentuk Isim Isyaroh ?
• Apa yang dinamakan Isim Istifham ?
• Seperti apa saja bentuk-bentuk Isim Istifham ?
• Apa yang dinamakan Isim Fi’il ?
• Seperti apa saja bentuk-bentuk Isim Fi’il ?
37.
36 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
BABNI
Mabni : Adalah kalimat yang akhirannya tidak berubah
Kalimat yang Mabni meliputi:
1. Semua Kalimat Huruf (Huruf Jar, Amil Nawasib dll)
2. Kalimat Fi’il meliputi:
Semua Fi’il Madhi:
▪ Mabni Fathah, apabila tidak bertemu dengan Dhomir Rofa’
Mutaharrik dan Wawu Jamak. Contoh: َحَتَف
▪ Mabni Dhommah, apabila bertemu dengan Wawu Jamak.
Contoh: ْاوُدَجَس
▪ Mabni sukun, apabila bertemu dengan Dhomir Rofa’
Mutaharrik. Contoh: َنْحَتَف-َتْحَتَف-َامُتْحَتَف-ْمُتْحَتَف-ِتْحَتَف-َّنُتْحَتَف-
ُتْحَتَف-َانْحَتَف
Fi’il Mudhori’ yang bertemu dengan:
▪ Nun Taukid, hukumnya Mabni Fathah. Contoh: ْنَبِرْضَي-َّنَبِرْضَي
▪ Nun Niswah, hukumnya Mabni Sukun. Contoh: َنْبِرْضَي
Semua Fi’il Amar :
▪ Mabni sukun, jika tidak terdiri dari Mu’tal akhir dan Af’alul
Khomsah. Contoh : ْبِرْضِا
▪ Mabni dengan membuang huruf illat, jika terdiri dari Mu’tal
Akhir. Contoh : ُعْدُا-ِمْرِا-َشْخِا asalnya adalah ُواعْدُا-ْيِمْرِا-َىشْخِا
38.
37 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Mabni dengan membuang huruf Nun, jika terdiri dari Af’alul
Khomsah. Contoh : َابِرْضِا-ْاوُبِرْضِا-ْيِبِرْضِا asalnya adalah ِنَابِرْضِا-
َنْوُبِرْضِا-َنْيِبِرْضِا
3. Sebagian Kalimat Isim. Meliputi:
1) Isim Maushul (Kata sambung)
2) Isim Isyaroh (Kata petunjuk)
3) Isim Syarat (Kata yang butuh jawab)
4) Isim Dhomir (Kata ganti)
5) Isim Fi’il (Pengganti Fi’il)
6) Isim Istifham (Kata yang mengandung pertanyaan)
❖ Isim Maushul : Isim yang membutuhkan pada Silah dan A’id.
Silah : Jumlah atau Syibhul Jumlah yang terletak sesudah Isim
Maushul. Contoh: ْمُكَقَلَخ ْيِذََّلا
A’id : Dhomir yang kembali kepada isim maushul. Contoh :
ُتْبَرَض ْيِذَّال َءَاجُهَابَا
Isim Maushul meliputi :
1. Tunggal Pria : ْيِذََّلا 5. Dua Wanita : ِنَاتََّللا
2. Dua Pria : ِنَاذََّللا 6. Jamak Wanita : َاْيِتَّآلل
3. Jamak Pria : َنْيِذََّللا 7. Berakal : ْنَم
4. Tunggal wanita: ْيِتََّلا 8. Tidak berakal : َام
❖ Isim Isyaroh : Isim yang menunjukan pada Musyar Ilaih (اليه مشار)
Isim Isyaroh meliputi:
1. Tunggal pria : َاذَه 4. Tunggal wanita : ِهِذِه
39.
38 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
2. Dua pria : ِنَاذَه 5. Dua wanita : ِنَاتَاه
3. Jamak pria dan wanita : هءُآلؤَه 6. Tempat : َانُه
❖ Isim Dhomir : Isim yang menunjukkan arti Ghaib (Dia), Mukhothob
(Kamu) atau Mutakallim (Saya/Kami). Contoh: َعَت ُتْمََّلعَت ،َتْمََّلعَت ،َمََّلعَتَانْمَّل
Keterangan : Lawan kata dari Isim Dhomir adalah Isim Dzohir, yaitu
Isim yang tidak menunjukkan arti Ghaib, Mukhotob atau Mutakallim.
Contoh: َمََّلعَتٌْْدَّمَحُم
Isim Dhomir ada 2 macam:
1. Muttashil : Dhomir yang tidak bisa dijadikan permulaan dan
tidak bisa terletak setelah lafadz ِاَّال
2. Munfasil : Dhomir yang bisa dijadikan pemulaan dan bisa
terletak setalah lafadz ِاَّال
40.
39 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
DHOMIR
Makna
Munfasil Muttasil
Marfu’ Mansub Marfu’ Mansub Majrur
Dia (1 lk) َْوُهْ ُْهَّاِياْ ُْبِرَضي*ْ َْبَرَض*ْ َْضُْهَبَر ِْهِب
Dia (2 lk) ْاَمُه ْاَمُهَّاِيا ِْنَابِرَضيْ ْاَبَرَض ْاَمُهَبَرَض ْاَمِهِب
Mereka (lk) ُْهْم ُْمهَّاِيا َْنُوبِرَضيْ ْاُوبَرَض ُْمهَبَرَض ِْمهِب
Dia (1 pr) َْيِه ْاَهَّاِيا ُْبِربَضت*ْ َْتبَرَض* ْاَهَبَرَض ْاَهِب
Dia (2 pr) ْاَمُه َْمُهَّاِياْا َْبِرَضتِْنا ْاَتَبَرَض ْاَمُهَبَرَض ْاَمِهِب
Mereka (pr) َُّْنه َُّْنهَّاِيا َْنِبرَضي َْنَبرَض َْرَضُْهَبَّْن َِّْنهِب
Kamu (1 lk) َْتَناْ َْكَّاِيا ِْبرِضا**ْ ُْبِرَضت**ْ َْتَبرَضْ َْكَبَرَض َْكِب
Kamu (2 lk) ْاَمُتَناْ ْاَمُكَّاِيا ْاَبِرِضاْ ِْنَابِرَضتْ ُْتَبرَضْاَمْ َْبَرَضْاَمُك ْاَمُكِب
Kalian (lk) ُْمتَنا ُْمكَّاِيا ْاُوبِرِضاْ َْنُوبِرَضتْ ُْمتَبرَضْ ُْكَبَرَضْم ِْبُْكْم
Kamu (1 pr) ِْتَناْ ِْكَّاِيا ِْيبِرِضاْ َْنِيبِرَضتْ ِْتَبرَضْ ِْكَبَرَض ِْكِب
Kamu (2 pr) ْاَمُتَناْ ْاَمُكَّاِيا ْاَبِرِضاْ ِْنَابِرَضتْ ْاَمُتَبرَضْ َْمُكَبَرَضْا ْاَمُكِب
Kalian (pr) َُّْنتَنا َُّْنكَّاِيا َْنِبرِضاْ َْنِبرَضتْ َُّْنتَبرَضْ َُّْنكَبَرَض ُْكِبَّْن
Saya ْاَنَاْ َْيَّاِيا ُْبِرَضأ** ُْتَبرَض ِْينَبَرَض ِْيب
Kita ُْنَحنْ ْاَنَّاِيا ُْبِرَضن** ْاَنَبرَض ْاَنَبَرَض ْاَنِب
▪ Tanda Dhomir Munfasil:
bisa berdiri sendiri/tidak
bersamaan dengan
Kalimat lain
▪ Dhomir Munfasil Yang
Marfu’, kedudukannya
biasanya menjadi
Mubtada’
▪ Dhomir Munfasil Mansub,
kedudukannya biasanya
menjadi Maf’ul Bihi
▪ Dhomir Muttasil harus bersamaan
dengan kalimat lain
▪ Dhomir Muttasil yang marfu’, biasanya
kedudukannya menjadi Fa’il, Naibul Fa’il.
Adapun Fi’ilnya bisa berupa Fi’il Madli,
Mudhori’ atau Fi’il Amar.
• Yang bertanda bintang (*/**) dlomirnya
disimpan.
• * = Boleh disimpan/Mustatir Jawaz)
▪ ** = Wajib disimpan/Mustatir Wujub)
41.
40 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
PERTEMUAN KE-4
Pada pertemuan ini kita akan belajar mengenal tentang Isim Nakiroh dan
Isim Ma’rifat. Tentunya ini sangatlah penting untuk kita pelajari karena
istilah Isim Nakiroh dan Isim Ma’rifat ini akan kita temukan pada
pembahasan berikutnya dan bahkan menjadi syarat penting dalam
rangkaian sebuah kalimat.
Adapun yang menjadi fokus dari kedua isim ini sebenarnya bukanlah
lafdznya melainkan makna yang dikandung. Dan Adapun yang akan kita
pelajari antara lain :
• Apa yang dinamakan Isim Nakiroh ?
• Apa yang dinamakan Isim Ma’rifat ?
• Apa fungsi dari kedua Isim tersebut ?
• Apa saja macam-macam Isim Ma’rifat ?
Isim Nakiroh : Isim yang menunjukkan arti umum. Tandanya ialah setiap
isim yang bisa menerima ْلَا (yang dapat mema’rifatkannya)
Isim Ma’rifat : Isim yang menunjukkan arti khusus.
Jumlah Isim Ma’rifat ada 6 : yaitu Isim Dhomir, Isim Alam, Isim Isyaroh,
Isim Maushul, Isim yang dimasuki (ْلَا) dan isim yang dimudhofkan pada
salah satu isim ma’rifat.
42.
41 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
BAB III
PETUNJUK PEMBELAJARAN
Setelah kita menguasai dasar-dasar dari kalimat isim sebagaimana pada
bab I dan II, berikutnya kita akan memulai latihan untuk menentukan
i’robnya. Sebelum lebih lanjut, disini perlu kita ingat kembali bahwa i’rob
yang masuk pada kalimat isim hanya ada tiga, yaitu rofa’, nashob dan jar.
Maka dari itu, pada bab ke-III ini kita akan menjawab kapan isim itu dibaca
rofa’ dan pada bab ke IV kita akan menjawab dan menentukan kapan isim
dibaca nashob dan pada bab ke V kita juga akan menjawab kapan kalimat
isim dibaca jar.
Dan perlu kita ketahui bahwa isim yang dibaca rofa’ hanya ada 7 macam.
Dari 7 macam tersebut akan kita pelajari secara terpisah sebagai berikut:
• Pertemuan pertama akan mempelajari Fa’il dan Naibul Fa’il
• Pertemuan kedua mubtada’ dan khobar
• Pertemuan ketiga isimnya َنَاك dan khobarnya َِّنإ
Adapun isim yang dibaca rofa’ yang terakhir yaitu tawabi’ dan tidak akan
dibahas pada bab ini, melainkan akan dibahas pada bab tersendiri yaitu
pada bab VI. Hal itu dikarenakan isim yang dibaca rofa’ yang terakhir
(tawabi’) rofa’nya berupa aridhi (bukan asli). Sehingga tawabi’ bukan
hanya ditemukan pada isim yang dibaca rofa’ saja melainkan juga akan
ditemukan pada isim yang dibaca nashob dan yang dibaca jar.
43.
42 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
PERTEMUAN KE-1
Maka pada pertemuan yang ke-1 ini, pertama kita akan mengenal apa saja
7 macam isim yang dibaca rofa’ dan mampu menghafal nama-namanya.
Kemudian kita akan mempelajari dua macam isim yang dibaca rofa’ yaitu
fa’il dan naibul fa’il. Kedua isim yang dibaca rofa’ ini sangat penting untuk
dipelajari karena rangkaian kalimat yang terdiri dari keduanya sangatlah
banyak ditemukan ketika membaca kalimat yang bertuliskan bahasa arab
khususnya kitab kuning. Selain itu pada pertemuan pertama ini kita juga
akan mengenal istilah fi’il mabni ma’lum dan mabni majhul karena istilah
keduanya merupakan sesuatu yang sangat erat dengan fa’il dan na’ibul fa’il.
MARFU’ATUL ASMA’
Isim-isim yang yang dibaca rofa’ ada 7:
1. Fa’il
2. Naibul fai’il
3. Mubtada’
4. Khobar
5. Isimnya َنَاك dan saudaranya
6. Khobarnya َّنِإ dan saudaranya
7. Tabi’ Lil Marfu’ (Kalimat yang ikut pada kalimat yang Rofa’)
Berikut ini penjelasan isim-isim yang dibaca Rofa’
FA’IL
Pengertian Fa’il : Isim yang dibaca rofa’ yang terletak setelah fi’ilnya.
(Menjadi Pelaku Pekerjaan)
Macam-Macam Fai’il: Fa’il ada 2 macam:
44.
43 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
1. Fa’il Isim Dzohir : Fa’il yang maknanya bukan berupa kata ganti
melainkan berupa orangnya langsung. Contoh: ٌدْيَز َءَاج (Zaid Datang)
2. Fai’il Isim Dhomir : Fa’il yang maknanya berupa kata ganti (Isim
Dhomir). Contoh: ُتْئِج Saya datang.
Catatan: Fa’il Isim Domir yang terdapat pada fi’il madhi dan fi’il mudhori’
terdapat pada 14 tempat sebagaimana dalam bab isim dhomir. Adapun
yang terdapat pada f’il amar hanya 6 tempat.
NAIBUL FA’IL
Pengertian Naibul Fa’il : Isim yang dibaca rofa’ yang menggantikan
kedudukan Fai’l yang dibuang. (Menjadi sasaran pekerjaan dari pelaku
yang tidak diketahui)
Macam-Macam Fai’il : ada 2 macam:
1. Naibul Fa’il isim dhohir : ٌورْمَع َبِرُض (Amar Dipukul)
2. Naibul Fai’il isim dhomir : ُتْبِرُض (Saya Dipukul)
Fi’il dilihat dari pelakunya ada 2:
1. Fi’il Mabni Ma’lum (pelakunya diketahui)
2. Fi’il Mabni Majhul (pelakunya tidak diketahui)
45.
44 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Cara membuat Fi’il Mabni Majhul:
ْممعلو ْفْعْالْمضْعر ْضفعلْما
َبَرَضُبِرْضَي ُبَرْضُي َبِرُض
Terdiri
3 huruf
Dhommah Huruf
Pertamanya dan
Fathah Sebelum Akhir
Dhommah Huruf
Pertamanya dan Kasroh
sebelum Akhir
ُمََّلسَتَي َمََّلسَت ُمََّلسَتُي َمِّلُسُت
Apabila terdiri dari
fi’il yang diawali Ta’
muthowa’ah
Dhommah Huruf
Pertamanya dan
Fathah Sebelum Akhir
Ta’ muthowa’ah dan
huruf yang kedua dibaca
dlommah sedangkan
sebelum akhir dibaca
kasroh
ُرِفْغَتْسَي َرَفْغَتْسِا ُرَفْغَتْسُي َرِفْغُتْسُا
Apabila terdiri dari
fi’il yang diawali
Hamzah Washol
Dhommah Huruf
Pertamanya dan
Fathah Sebelum Akhir
Hamzah washol dan
huruf yang ketiga dibaca
dlommah sedangkan
yang terakhir dibaca
kasroh
ُلْوُقَي َلَاق ُلَاقُي َلْيِق
Terdiri dari Bina’
Ajwaf
Huruf Illat Wawu
Diganti Alif
Huruf Illat Alif Diganti Ya’
46.
45 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
PERTEMUAN KE-2
Pada pertemuan ke-2 ini kita akan melanjutkan mempelajari isim yang
dibaca rofa’ yang ke 3 dan ke 4 yaitu mubtada’ dan khobar.
Sebagaimana fa’il dan na’ibul fa’il, mubtada’ dan khobar juga sangat banyak
ditemukan dalam rangkaian kalimat berbahasa arab. Maka tentunya
diharap pada pertemuan ini kita meperhatikan contoh-contoh yang ada
dan memperbanyak latihan menebak kalimat baik yang ada harokatmya
maupun kitab yang kosongan (gundul).
Dalam pembahasan ini poin penting yang perlu dikuasai antara lain :
• Apa yang dinamakan mubtada’ ?
• Apa saja macam-macam mubtada’ ?
• Apa yang dinamakan khobar ?
• Apa saja macam-macam khobar ?
• Apa yang dinamakan jumlah ?
• Ada berapa macam-macam jumlah ?
• Apa yang dinamakan syibhul jumlah ?
• Ada berapa macam-macam syibhul jumlah ?
MUBTADA’
Mubtada’ : Isim yang dibaca rofa’ yang sepi dari amil lafdzi
Yang merofa’kan Mubtada’ ialah amil ma’nawi ibtida’
Amil ada 2 :
1) Amil Lafdzi : Amil yang dapat dilihat oleh mata, bisa diucapkan oleh
lisan dan bisa dirasa oleh hati.
2) Amil Maknawi : Amil yang tidak dapat dilihat oleh mata, diucapkan
oleh lisan akan tetapi dirasa oleh hati.
47.
46 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Amil ma’nawi ada 2 :
1) Amil Ma’nawi Ibtida’ (masuk pada Mubtada’) Contoh : ٌمِئَاق ٌدْيَز
2) Amil Ma’nawi Tajarrud (masuk pada Fi’il Mudhori’) Contoh : ُبِرْضَي
Mubtada’ dibagi menjadi 2 :
1) Mubtada’ Isim Dzohir .
2) Mubtada’ Isim Dhomir.
KHOBAR
Khobar : Isim yang dibaca rofa’ yang menjadi penyempurna mubtada’.
Khobar dibagi 2 :
1) Khobar Mufrod : Khobar yang tidak terdiri dari jumlah atau Syibhul
Jumlah (menyerupai jumlah). Contoh : ٌمِلَاع ٌدْيَز
2) Khobar Gairu Mufrod : Khobar yang terdiri dari jumlah atau yang
menyerupai jumlah. Contoh : َزٌدْيْنِعَدَك،َزٌدْيِرَّادال ِيفَمَاق ٌدْيَز ،ٌمِئَاق ُهْوُخَا ٌدْيَز ،
Jumlah ada 2 :
1) Jumlah Ismiyah : Jumlah yang terdiri dari susunan Mubtada’ dan
Khobar. Contoh : ٌمِئَاق ُهْوُخَا ٌدْيَز
2) Jumlah Fi’liyah : Jumlah yang terdiri dari susunan Fi’il dan Fa’il.
Contoh : ُهْوُبَا َمَاق ٌدْيَز
Syibhul Jumlah (yang menyerupai jumlah) ada 2 :
1) Dzorof Contoh : َدْنِعَك ْيَزٌد
2) Jar Majrur Contoh : ِرَّادال ِيف ْيَزٌد
48.
47 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
PERTEMUAN KE-3
Setelah mengenal isim yang dibaca rofa’ yang berupa mubtada’ dan khobar,
maka selanjutnya kita akan mempelajari isim yang dibaca rofa’ bagian ke-5
dan ke-6 yaitu isimnya َنَاك dan khobar َِّنا
Namun tentunya sebelum mengenal lebih lanjut kedua isim ini, maka
tentunya kita harus mengenal apa itu َنَاك dan َِّنا yang mana keduanya
dikenal dengan istilah amil nawasikh.
Amil nawasikh adalah amil yang masuk pada rangkaian mubtada’ dan
khobar dan merusak hukum keduanya, maka dari itu sangatlah penting
untuk memahami mubtada’ dan khobar terlebih dahulu sebelum
mempelajari amil nawasikh. Untuk mengetahui apa itu amil nawasikh
sebenarnya cukuplah mudah, karena bentuk-bentuknya sudah tentu,
tinggal dihafalkan.
Namun perlu diketahui bahwa amil nawasikh terbagi menjadi 3 kelompok
yaitu:
• َنَاك dan saudaranya
• َِّنا dan saudaraya
• َّنَظ dan saudaranya
Adapun poin-poin yang akan diurai pada pembahasan ini antara lain :
• Apa yang dinamakan amil nawasikh ?
• Apa saja saudaranya َنَاك?
• Bagaimana amalmya kana dan saudara-saudaranya?
• Apa saja saudara َِّنا ?
• Bagaimana amalnya َِّنا dan saudara-saudanya?
49.
48 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
AMIL NAWASIKH
Amil Nawasikh : Ialah amil yang merusak hukum Mubtada’ dan Khobar.
Amil Nawasikh ada 3 : َاهُتَاوَخَاَو َّنَظ ،َاهُتَاوَخَاَو َِّنإ ،َاهُتَاوَخَاَو َنَاك
1. ْاَهُتَاوَخَاَوَْنَاك
Amalnya merofa’kan Mubtada’ dijadikan isimnya, dan menashobkan
Khobar dijadikan Khobarnya. Contoh : ًامْيِلَع الل َنَاكَو
Macam-macam Saudaranya َنَاك ada 12 :
َىحْضَا-َّلَظ–َتَاب-َىسْمَا-َحَبْصَا–َرَاص-َسْيَل-َئِتَف-َّكَفْنِا–َلَاز–َبِرَح-َمَاد
Catatan : Lafadz yang ditasrif dari َنَاك dan saudaranya, juga beramal
seperti amalnya َنَاك Contoh : ًالِهَاج ْنُكَت َالَو ًامِلَاع ْنُك
2. َاهُتَاوَخَاَوَّْنِإ
Amalnya menashobkan Mubtada’ dijadikan isimnya, dan merofa’kan
Khobar dijadikan Khobarnya . Contoh : ٌمْيِلَع َللا َِّنإ
Saudaranya َِّنإ ada 5 : ََّلعَل ،َّنِكَل ،َّنَأَك ،َتْيَل ،َّنَأ
3. َاهُتَاوَخَاَوََّْنظ
Amalnya menashobkan pada Mubtada’ dan Khobar dan keduanya
dijadikan Maf’ulnya. Contoh : ًامِلَاع ًادْيَز ُتْنَنَظ
Saudaranya َّنَظ ada 8 :
ُتْذْخَّتِا ،ُتْلَعَج ،ُتْمِلَع ،ُتْدَجَو ،ُتْيَأَر ،ُتْمَعَز ،ُتْبهسَح ،ُتْلِخ
50.
49 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
BAB IV
PETUNJUK PEMBELAJARAN
Sebagaimana pentingnya mempelajari isim yang dibaca rofa’, maka penting
juga mempelajari isim yang dibaca nashob. Dengan mempelajari isim yang
dibaca nashob, maka berarti kita akan belajar menentukan kalimat-kalimat
kapan dibaca nashob atau setidaknya kita bisa menebak kedudukan isim
yang sudah diketahui harokatnya (hal ini jika latihan menggunakan kalimat
yang sudah berharokat)
Adapun jumlah dari isim yang dibaca nashob ini lebih banyak daripada isim
yang dibaca rofa’ yaitu sebanyak 13 macam. Sehingga penting sekali untuk
bisa mengenali dan membedakan dari masing-masing isim yang dibaca
nashob tersebut dengan cara memperbanyak latihan-latihan dan praktik.
PERTEMUAN KE-1
Pada petemuan ke-1 ini kita akan mulai mengenal macam-macam isim yang
dibaca nashob yaitu sebanyak 13 macam, hanya saja pada pertemuan ini
kita hanya akan mempelajari sebanyak 3 macam saja, yaitu mulai dari
maf’ul bihi, maf’ul mutlaqh dan terakhir maf’ul fihi atau yang lebih dikenal
dengan dzorof. Adapun hal-hal yang harus kita kuasai di pertemuan ini
sebagai berikut :
• Ada berapa isim yang dibaca nashob ?
• Apa yang dinamakan maf’ul bih ?
• Ada berapa macam-macam maf’ul bih ?
• Apa yang dinamakan maf’ul mutlaq ?
• Apa saja fungsi maf’ul mutlaq ?
• Apa saja macam-macam dzorof ?
51.
50 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
MANSHUBATUL ASMA’
Isim-isim yang dibaca Nashob ada 13 :
1 Maf’ul Bih/به مفعول 8 Istisna’ استثناء/
2 Maf’ul Mutlaq مصدر/ 9 Munada منادى/
3 Maf’ul Fih/ظرف 10 Isimnya Laa Nafi Jinis اسمال/
4 Maf’ul Min Ajlih/ له مفعول 11 Khobarnya (َناك َاهُتَاوَخَاَو)
5 Maf’ul Ma’ah/ مفعولمعه 12 Isimnya (َاهُتَاوَخَاَو َِّنإ)
6 Hal حال/ 13 Kedua Maf’ulnya (َاهُتَاوَخَاَو َّنَظ)
7 Tamyiz متييز/
1. Maf’ul Bih/ ْهمفعولْب:
Ialah isim yang dibaca nashob yang menjadi sasaran pekerjaan.
Contoh: َدَمْحَا ٌدْيَز َبَرَض
Ma’ul Bih ada 2 macam:
1. Maf’ul Bih Isim Dhohir : Maf’ul Bih yang maknanya bukan berupa kata
ganti melainkan berupa orangnya langsung.
Contoh : َدَمْحَا ٌدْيَز َبَرَض (Zaid Memukul Ahmad)
2. Maf’ul Bih Isim Dhomir : yang maknanya berupa kata ganti (Saya, Dia,
Kamu). Contoh : َكَّايِا ٌدْيَز َبَرَض (Zaid Memukulmu)
Maf’ul Bih Isim Dhomir ada 2:
1. Maf’ul Bih Isim Dhomir Muttashil. Contoh : ِنَبَرَضْي
2. Maf’ul Bih Isim Dhomir munfashil. Contoh : ُتْبَرَضَكَّايِا
52.
51 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
2. Maf’ul Mutlaq
Ialah isim yang dibaca nashob yang berbentuk masdar sebagai penguat
fi’il, atau menjelaskan bilangan fi’ilnya atau menjelaskan jenis fi’ilnya.
Contoh yang menguatkan fi’ilnya : َوًامْيِلْكَت َىسْوُم الل َمََّلك
Contoh yang menjelaskan bilangan fi’ilnya : ِنْيَتَبْرَض ُتْبَرَض
Contoh yang menjelaskan jenis fi’ilnya : ٍدْيَز َةَسْلَج ُتْسَلَج
3. Maf’ul Fih/ْفظر
Ialah nama waktu/tempat yang dibaca nashob yang menyimpan makna ْيِف
Dzorof ada 2 :
1. Dzorof Zaman : Dzorof yang menunjukkan waktu.
Contoh : ْسيِمَخْلا َمْوَي ُتْمََّلعَت
Contoh Lafadz Dzorof Zaman :
اَنْيِح ْوَأ ًةَعْمُج ْوَأ ًةَّدُم ْوَأ َانْيِنِس ْوَأ اًمْوَي ْوَأ ًةَلْيَل ْوَأ
ْرَفَّسال َىلِإ ًةَرْكُب ْوَأ ًةَوْدُغ ْوَأ ْرَحَس ْوَأ َاءسَم ْوَأ ًاحَابَص ْمُق ْوَأ
ْدَبَأْلا ِوَأ ًادَمْرَس ْوَأ ًادَغ ْمُص ْوَأ َلْوَأْيْثِاْلا َةَلَنَي ْوَأ ِنْيَحَاْلا َمْوــْد
2. Dzorof Makan : Dzorof yang menunjukkan tempat. Contoh :
ِدِجْسَمْلا َمَامَا ُتْمََّلعَت
Contoh Lafadz Dzorof Makan :
ْهَمَّادُق ُهَءَارَو ُهَفْلَخْوَأ ْهَمَامَأ ْرِس ُوْحَن ِنَاكَمْلا ُمْسَاو
ُهَءَازِإ ُهَتْحَتْوَأ ُهَقْوَفْوَأ ُهَءاَقْلِت ُهَلاَمِش ُهَنْيِميَـ
ُهَدْعَب ْوَأ ُهَلْبَق ْوَأ ُهَنْوُدْوَأ ُهَدْنِعْوَأ ُهَءآَذِح ْوَا ُهْعَمْوَأ
ًادْيِعَس ًافِقْوَم ْفِق َانُهَاهَو ًادْيِرَب ًاخَسْرَف َّمُث َكاَنُه
53.
52 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
PERTEMUAN KE-2
Pada pertemuan ke-2 ini kita akan melanjutkan mempelajari isim yang
dibaca nashob bagian ke-2, yaitu maf’ul liajlih dan maf’ul ma’ah. Dan untuk
mengenali keduanya tentunya kita harus memperhatikan definisi dan
tujuan dari masing-masing isim tersebut, sekaligus mampu menebak
contohnya masing-masing. Dan yang perlu dikuasai dalam pembahasan ini
diantaranya :
• Apa yang dinamakan maf’ul liajlih?
• Seperti apa ciri-cirinya?
• Apa yang dinamakan maf’ul ma’ah?
• Seperti apa ciri-cirinya?
4. Maf’ul Min Ajlih/ْهمفعولْل
Ialah isim yang dibaca nashob untuk menjelaskan sebab terjadinya
pekerjaan. Contoh : ُهَل ًابْيِدْعَت َدَمْحَا ُذَاتْسُأْلا َبَرَض
5. Maf’ul Ma’ah/ْهمفعولْمع
Ialah isim yang dibaca nashob yang terletak setelah Wawu Ma’iyah untuk
menunjukkan kebersamaan. Contoh : َلْيَّنَالو ُتْرِس
PERTEMUAN KE-3
Di pertemuan ini kita akan melanjutkan lagi isim yang dibaca nashab bagian
ke-3, yaitu ada 2 macam, yaitu hal, dan tamyiz. Isim yang dibaca nashob
pada bagian ini juga sangat penting untuk dipelajari dan dipahami mulai
dari pengertian, syarat-syarat, serta ciri-ciri termasuk contoh-contohnya,
sebab kelima isim ini sering muncul dalam susunan Bahasa Arab atau
54.
53 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
dalam kitab kuning. Maka yang harus kita kuasai antara lain sebagai
berikut:
• Apa yang dinamakan hal ?
• Bagaimana ciri-ciri hal ?
• Apa yang dinamakan Tamyiz ?
• Ada berapakah macam-macam tamyiz ?
6. Hal/ْلحا
Ialah isim yang dibaca nashob yang menjelaskan keadaan yang samar.
Contoh : ًابِكَار ٌدْيَز َءَاج
Ciri-ciri Hal
▪ Hal harus terdiri dari isim nakiroh dan berupa isim musytaq.
▪ Shohibul Hal harus terdiri dari isim ma’rifat.
7. Tamyiz/متييز
Ialah isim yang dibaca nashob yang mengandung makna min yang
menjelaskan Dzat atau Nisbat yang samar.
Contoh : ًاقَرَع ٌدْيَز َبَّبَصَت-ُتْيَرَتْشِاِعَبْرَاَنْيًابَاتِك
Tamyiz ada 2 macam :
1. Tamyiz Dzat : Tamyiz yang digunakan untuk menjelaskan lafadz-
lafadz yang samar yang, berupa :
Jumlah bilangan. Contoh : ًابَكْوَك َرَشَع َدَحَا ُتْيَأَر ْيِّنِا
Ukuran jarak. Contoh : ًاخَسْرَف َرَشَع َةَتَّتِس ُتْرَفَاس
Ukuran takaran. Contoh : ًاحْمُق ًابَدْرِا ُتْيَرَتْشِا
Ukuran berat. Contoh : ْطِر ُتْيَرَتْشِاًالًانِمَس
55.
54 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
2. Tamyiz Nisbat : Tamyiz yang digunakan untuk menghilangkan
kesamaran makna umum dari penisbatan dua lafadz di dalam tarkib
jumlah. Contoh: ًانْوُيُع َضْرَالا َانْرَّجَفَو
PERTEMUAN KE-4
Pada pertemuan kali ini kita akan belajar tentang istitsna’ (pengecualian).
Rangakain kalimat yang terdiri dari ististna’ sangat banyak kita temui
dalam kitab-kitab kuning atau susunan Bahasa Arab, sehingga sangatlah
penting untuk mengenal istilah-istilah yang terdapat dalam pembahasan
ististna’ ini, mulai dari alat-alat yang digunakan untuk mengecualikan (الة
االستثناء) kalimat yang dikeculaikan dan lain sebagainya. Namun sebenarnya
cukup sedikit mudah dalam mepelajari tentang ististna’ ini, sebab fokus
pembahasan pada ististna’ ini hanyalah tentang bagimana cara baca (مستثىن)
(isim yang dikecualikan). Adapun mengenai alat-alat yang digunakan untuk
mengecualikan, lafadz-lafadznya sudah ditentukan sehinga cukup
dihafalkan saja. Maka yang akan kita pelajari pada pertemuan ini antara
lain sebagai berikut :
• Apa yang dinamakan ististna’ ?
• Apa saja lafadz-lafadz istitsna’ ?
• Apa yang dinamakan mustastna ?
• Apa yang dinamakan mustastna minhu ?
• Apa yang dimaksud kalam tam ?
• Apa yang dimaksud kalam naqish ?
• Apa yang dimaksud kalam mujab ?
• Apa yang dimaksud kalam manfi ?
• Bagaimana cara baca musta’na dengan اال ?
• Bagaimana cara baca musta’na selain dengan اال ?
56.
55 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
8. Istisna’/ َْاءنِثتِسا
Ialah mengecualikan sesuatu dari hukum sebelumnya dengan
mengunakan lafadz-lafadz istisna’. Contoh : ًادْيَز َِّالا ُمْوَقْلا َمَاق
❖ Lafadz-lafadz istisna’ ada 8 : َِّالا،ْيَغَر،ًىوِس،ًىوُس،ٌءَاوَس،َالَخ،َادَع،َاشَاح
❖ Perangkat Istisna’ : ًادْيَز َِّالا ُمْوَقْلا َمَاق
▪ Mutstasna’ (yg dikecualikan) : isim yang terletak setelah lafadz-
lafadz Istisna’. (ًادْيَز)
▪ Mustasna’ minhu (pengecualian Mustasna’) : isim yang terletak
sebelum lafadz-lafadz istisna’.(ُمْوَقْلا)
❖ Istilah-Istilah dalam Istisna’
▪ Kalam Tam : Ialah kalam yang Mustasna dan Mustasna’ Minhunya
disebut. Contoh : ًادْيَز َِّالا ُمْوَقْلا َمَاق
▪ Kalam Naqis : Ialah kalam yang Mustasna Minhunya tidak disebut.
Contoh : ٌدْيَز َِّالا َمَاقَام
▪ Kalam Mujab : Ialah kalam yang tidak disisipi Nafi, Nahi atau
Istifham. Contoh : ًادْيَز َِّالا ُمْوَقْلا َمَاق
▪ Kalam Manfi : Ialah kalam yang disisipi Nafi, Nahi atau Istifham.
Contoh : ًادْيَز َِّالا ُمْوَقْلا َمَاقَام
❖ Hukum Mustasna َِّالإِب (Lafadz setelah َِّالا)
▪ Nashob apabila terdiri dari Kalam Tam Mujab.
Contoh : ًادْيَز َِّالا ُمْوَقْلا َمَاق
▪ Boleh dengan 2 cara apabila terdiri dari Kalam Tam Manfi.
1. Nashob menjadi Mustasna.contoh : َِّالا ُمْوَقْلا َمَاقَامًادَيز
57.
56 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
2. Menjadi Badal. Contoh : َِّالا ُمْوَقْلا َمَاقَامْدَيز
▪ Tergantung dari amil sebelumnya. Apabila terdiri dari Kalam
Naqis. Contoh: َمَق اَماِاَّلاَزْيٌد-َمَراَأْيُتِاَّلَز اْيًدا–َمَماَرْرُتِاَّلِباَزْيٍد
❖ Hukum Mustasna dengan selain َِّالا adalah Jar
Catatan : Cara baca lafadz غري sama dengan cara baca mustastna
dengan اال namun ada pendapat yang mengatakan cara baca غري ialah
dijadikan na’at dari kalimat sebelumnya.
PERTEMUAN KE-5
Pada pertemuan ke-5 ini kita akan melanjutkan pembahasan isim yang
dibaca nashob yang ke sembilan yaitu munada. Munada sendiri secara
Bahasa adalah yang dipanggil dan adapun yang dimaksud disini adalah isim
yang dibaca nashob yang terletak setelah alat-alat nida’ (alat -alat yang
digunakan untuk memanggil). Maka tentunya dalam menentukan munada,
cukuplah mudah tinggal menghapal lafadz-lafadz yang digunakan untuk
memanggil, hanya saja tidak semua munada harus dibaca nashob
melainkan ada beberapa munada yang hukumnya mabni, maka di sini kita
dituntut untuk mengenal macam-macam munada, sebab lain munada, lain
pula hukum bacaannya.
Untuk mempermudah didalam mempelajari mudana, terdapat beberapa
poin yang perlu di kuasai pada materi kali ini, yang diantaranya :
• Apa yang dinamakan munada?
• Apa saja alat-alat nida’?
• Ada berapakah macam-macam munada?
• Ada berapakah hukum munada?
58.
57 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
9. Munada/ْىمناد
Ialah isim yang dibaca nashob yang terletak setelah Alat-alat Nida’.
Contoh : هللا َلْوُسَر َاي
Alat Munada ada 7 macam
1 أ (Hai) 5 َياأ (Hai)
2 ْىَأ (Hai) 6 َياه (Hai)
3 يا (Hai) 7 َاهو (Aduh)
4 آه (Aduh)
Macam-Macam Munada ada 5:
Mufrod Alam : Berupa Isim Alam yang tidak terdiri dari Mudhof atau
Syibhul Mudhof. Contoh : ُدْيَز َاي
Nakiroh Maksudah : Terdiri dari Isim Nakiroh namun ditujukan pada
satu orang. Contoh : ْيِدَيِب ْذُخ ُلُجَر َاي
Nakiroh Ghairu Maksudah : Terdiri dari Isim Nakiroh dan tidak
ditujukan pada satu orang. Contoh : ًالُجَر َاي
Mudhof : Munada yang terdiri dari Mudlof : هللا َدْبَع َاي
Syibhul Mudhof : Munada yang terdiri dari Syibhul Mudhof. Contoh :
ًالَبَج ًاعِلَاط َاي
59.
58 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Hukum-Hukum Dalam Munada
Mabni terhadap tanda i’rob rofa’nya : Apabila terdiri dari Munada
Mufrod Alam atau Nakiroh Maksudah. Contoh : ْيِدَيِب ْذُخ ُلُجَر َاي ،ُدْيَز َاي
Nashob : Apabila terdiri dari selain Munada Mufrod Alam atau Nakiroh
Maksudah. Contoh : ًالَبَج ًاعِلَاط َاي ،هللا َدعب َاي ،ًالُجَر َاي
PERTEMUAN KE-6
Isim yang dibaca nashob bagian yang kesepuluh adalah isimnya ال nafi jinis,
sebagaimana Munada, isimnya ال juga bermacam-macam, ada yang mabni
ada juga yang dibaca nashob, maka pada pertemuan ini kita akan
mempelajari isim-isim ال secara keseluruhan, baik yang mabni maupun
mu’rob. Namun yang termasuk isim yang dibaca adalah isim ال yang mu’rob
saja. Maka yang akan kita pelajari di pertemuan ini antara lain:
• Apa yang dinamakan ال nafi jinis ?
• Bagaimana amalanya ال nafi jinis ?
• Apa saja macam-macam isimnya ال nafi jinis ?
• Bagaimana hukum isim ال nafi jinis ?
❖ Laa Nafi Jinis ( الجنس نفي ) Adalah laa (ال) yang digunakan untuk
meniadakan suatu jenis, yang beramal seperti amalnya َِّنا. Contoh :
َةَّوُقَالَو َلْوَحَال
60.
59 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
❖ Macam-macam Isim Laa Nafi Jinis
Mufrod : Tidak terdiri dari Mudhof atau Syibhul Mudhof.
Mudhof : Terdiri dari Mudhof dan Mudhof Ilaih
Sibhul Mudhof : Terdiri dari kalimat yang butuh pada kalimat lain
untuk menyempurnakan maknanya.
❖ Hukum-Hukum Isim La Nafi Jinis (ْسالْنفيْجن)
▪ Mabni terhadap tanda i’rob Nashobnya : Apabila isimnya terdiri dari
Mufrod. Contoh : ِرَّادال ِيف َلُجَر َال
▪ Nashob : Apabila isimnya terdiri dari Mudhof atau Syibhul Mudhof.
Contoh: ًالَبَج ًاعِلَاط َال /ٍدْيَز َمَالُغ َال
Catatan : Khobarnya Laa Nafi Jinis kebanyakan dibuang.
PERTEMUAN KE-7
Pertemuan ke-7 ini kita ketemu lagi dengan istilah amil nawasikh, yaitu َّنَظ.
Sebenarnya pada bab III kita sudah mengenal tentang apa itu amil
nawasikh dan apa saja macam-macam amil nawasikh, bahkan pada bab
tersebut kita sudah mengenal tentang bagaimana amalnya َّنَظ dan saudara-
saudaranya. Hanya saja pada pertemuan ini kita sedikit mengulang tentang
amalnya َّنَظ dan saudara-saudaranya. Adapun yang menjadi fokus
pembahasan kita kali ini adalah kedua maf’ulnya, sebab keduanya adalah
bagian isim yang dibaca nashob, maka tentunya disini kita akan mengulang
kembali tentang :
61.
60 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
• Bagimana amalnya َّنَظ ?
• Apa saja saudaranya َّنَظ?
• Kedua maf’ulnya َاهُتَاوَخَاَو َّنَظ ?
Amalnya َاهُتَاوَخَاَو َّنَظ menashobkan pada Mubtada’ dan Khobar dan keduanya
dijadikan Maf’ulnya. Contoh : ًامِلَاع ًادْيَز ُتْنَنَظ
Saudaranya َّنَظ ada 8 :
،ُتْذْخَّتِا ،ُتْلَعَج ،ُتْمِلَع ،ُتْدَجَو ،ُتْيَأَر ،ُتْمَعَز ،ُتْبهسَح ،ُتْلِخ
62.
61 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
BAB V
PETUNJUK PEMBELAJARAN
Sebagaimana dijelaskan didepan bahwa i’rob kalimat isim tidak akan lepas
dari tiga i’rob, yaitu i’rob rofa’, i’rob nashob dan yang terakhir adalah i’rob
jar. Adapun kapan isim dibaca rofa’ dan dibaca nashob kita sudah
mengetahui dan sudah mepelajarinya, sehingga di sinilah kitan akan
mempelajari isim yang dibaca jar itu apa saja, maka pada bab inilah kita
akan kupas tuntas mengenai isim yang dibaca jar dan hal-hal yang
berkaitan dengannya.
PERTEMUAN KE-1
Pada bab ini kita hanya ada dua pertemuan saja, pada pertemuan ke-1 kita
akan mempelajari tentang jar majrur, dan pada pertemuan ke-2 kita akan
mempelajari idhofah.
Untuk memberi gambaran, pada bab V ini, garis besar yang akan dibahas
adalah :
• Ada berapakah isim yang dibaca jar ?
• Apa yang dinamakan susunan jar majrur ?
• Apa saja huruf jar ?
MAHFUDATUL ASMA’
Isim yang dibaca jar ada 3 macam:
1. Dimasuki Huruf Jar (menjadi Majrur)
2. Menjadi Mudhof Ilaih
3. Tabi’ Lil Majrur (Isim yang ikut pada kalimat yang dibaca jar)
Susunan Jar Majrur : Susunan yang terdiri dari huruf Jar dan Majrurnya.
Contoh : ِْدِجَسمْالْْىَلِا ُتْبَهَذ
63.
62 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Huruf jar ada 20 :
َىلَع ْنَع ِيف َادَع َاشَاح َالَخ َّىتَح ىَلِإ ْنِم َيْهَو ِِّرَجلا َفْوُرُح َكَاه
َىتَمَو َّلَعَلَو َابْلَاو ُفَاكْـلَاو َـاتَو ٌوَاو ْيَك ُمّالال َّبُر ُذْنُم ْذُم
Macam-macam huruf jar ada 3 macam :
1. Huruf jar Asli : Huruf jar yang mempunyai makna dan ta’alluq.
Contoh : ٍدْيَزِب ُتْرَرَم
2. Huruf Jar Zaidah: Huruf jar yang tidak punya makna dan ta’alluq.
Contoh : ُمِب ٌدْيَز َسْيَلَسٍرِفا
3. Huruf Jar menyerupai Zaidah : Huruf jar yang punya makna tapi tidak
punya taalluq. Contoh : ُهُتْيِقَل ٍمْيِرَك ٍلُجَر َّبُر
Catatan : Ketiga huruf jar yang sudah disebutkan di atas, secara i’rob
fungsinya sama yaitu sama-sama menjarkan kalimat setelahnya.
PERTEMUAN KE-2
Pada pertemuan ke-2 ini, kita akan mempelajari bagian isim yang dibaca jar
yang yang kedua, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan susunan idhofah.
Antara lain sebagai beikut :
• Apa yang dinamakan susunan idhofah?
• Bagaimana hukum i’rob isim mudhof?
• Apa saja ketentuan-ketentuan dalam susunan idhofah?
❖ Idlofah : Menggabungkan dua kalimat isim atau lebih untuk dijadikan
satu pengertian.
64.
63 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
❖ Mudhof : Isim yang disandarkan pada Mudhof Ilaih. Adapun cara
kalimat yang menjadi Mudhof Tergantung dari amilnya. Contoh : هللا ُدْبَع
Mudhof Ilaih : Isim yang dijadikan sandaran Mudhof. Dan cara baca
Mudhof ilaih, Wajib Jar. Contoh : هللا ُدْبَع
❖ Kalimat yang dimudhofkan, maka Tanwin, Nun Tasniyah dan Nun Jamak
Mudzakkar Salim wajib dibuang.
Contoh : هللا ُدْبَع َءَاج asalnya هللا ٌدْبَع
Contoh : هللا اَدْبَع َءَاج asalnya هللا ِنَادْبَع
Contoh : هللا ُودْبَع َءَاج asalnya هللا َنْوُدْبَع
65.
64 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
BAB VI
PETUNJUK PEMBELAJARAN
Bab ini adalah bab terakhir dari pembelajaran kaidah-kaidah ilmu nahwu.
Pada bab ini ada empat pertemuan yang akan kita lalui. Yaitu kita akan
membahas tentang tawabi’ (isim-isim yang ikut pada kalimat sebelumnya).
Adapun alasan kenapa macam-macam isim ini dibahas pada bab terakhir,
itu dikarenakan tawabi’ adalah isim yang tidak mempunyai i’rob pasti
melainkan i’robnya tergantung pada kalimat sebelumnya, sehingga tawabi’
kadang rofa’, kadang nashob, dan kadang jar, tergantung kalimat yang
diikuti. Lalu apa saja tawabi’ tersebut, yaitu ada empat macam, na’at, athof,
taukid dan yang terakhir adalah badal. Empat macam inilah yang akan
menjadi fokus pembelajaran kita adalam bab VI ini yang akan dibagi
menjadi empat pertemuan.
PERTEMUAN KE-1
Untuk pertemuan ke-1 ini kita akan mempembelajari tentang apa saja isim
yang ikut pada kalimat sebelumnya, kemudian dilanjutkan mengenal na’at
atau yang sering juga disebut dengan sifat. Hal ini penting untuk kita
ketahui sebab susunan na’at man’ut sering kita temui dalam tarkib Bahasa
arab. Maka dari itu, yang akan kita pelajari pada pertemuan ini antara lain
adalah :
• Apa saja isim yang ikut pada kalimat sebelumnya ?
• Apa yang dinamakan na’at ?
• Ada berapa macam-macam na’at ?
• Apa yang dinamakan na’at haqiqi ?
• Apa saja syarat-syarat na’at haqiqi ?
• Apa yang dinamakan na’at sababi ?
• Apa saja syarat-syarat na’at sababi ?
66.
65 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
TAWABI’
Tabi’ : (Kalimat yang ikut pada kalimat lain). ada 4:
Na’at Athof Taukid Badal
Pada pertemuan ini kita akan memulai dari tawabi’ yang pertama yaitu na’at,
dan dalam na’at ini ada dua istilah dasar, yaitu :
Na’at : Ialah lafadz yang ikut pada man’ut untuk menjelaskan sifatnya.
Contoh : ُْمِلْاالع ٌدْيَز َءَاج
Man’ut : ialah lafadz yang diikuti na’at (yang dijelaskan sifatnya). Contoh
: ُمِلَاعْلا ْدَيز َءَاج
NA’AT ADA 2 MACAM :
1) Na’at Haqiqi : Ialah Na’at yang menjelaskan sifat dari man’utnya.
Tandanya ialah, na’at mengikuti man’ut dalam empat hal diantara
sepuluh hal. Yaitu : )جر ،نصب ،(رفع - )مجع ،تثنية ،(مفرد - ()مؤنث ،مذكر
- )نكرة ،(معرفة Contoh : ٌدْيَز َءَاجاْلُمِلَاع
2) Na’at Sababi : Ialah Na’at yang menjelaskan sifat yang berhubungan
dengan man’utnya. Tandanya na’at mengikuti man’ut dalam dua hal
diantara yang lima, yaitu : )جر ،نصب ،(رفع - ()نكرة ،معرفة
Contoh : ُهْوُبَا ُمِلَاعْلَا ٌدْيَز َمَاق
67.
66 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
PERTEMUAN KE-2
Setelah mengenal susunan na’at man’ut, maka berikutnya kita akan
mengenal tawabi’ yang ke-2 yaitu athof. Adapun yang diikuti athof
namanya adalah ma’tuf alaih. Untuk mengenal susunan ‘athof ma’thuf
sendiri sebenarnya cukup mudah, yaitu cukup dengan mengenal huruf-
huruf yang menggabungkan antara keduanya, yaitu yang dikenal dengan
huruf ‘athof. Maka pada pertemuan ini kita akan mempelajari hal-hal yang
berhubungan dengan susunan ‘athof ma’thuf. Antara lain :
• Apa yang dinamakan ‘athof ?
• Ada berapa macam-macam ‘athof ?
• Apa yang dinamakan ‘athof nasaq ?
• Apa saja huruf-huruf ‘athof ?
• Apa yang dinamakan ‘athof bayan ?
❖ Athof : Ialah lafad yang i’robnya ikut pada Ma’thuf’ Alaih.
Huruf Athof ada 10 :
َّامِإ ْنِكَل َال ْلَب َّىتَح َّمُث ْمَا ْوَا ْءَاف ُوَاو
Untuk lebih mudah dihafal, maka langsung saja bisa menggunakan bait
berikut :
َّامِإ ْنِكَلَوَالَو ْلَبَو َّىتَح َّامُثَو ْمَأَو ْوَأ َافْلَاو ِوَاوْلِاب
Athof ada 2:
Athaf Nasaq : Athaf yang mengunakan perantara salah satu huruf
athaf yang sepuluh. Contoh : ٌورْمَعَو ٌدْيَز َءَاج
Athaf Bayan : Athof tanpa perantara salah satu Huruf Athof. Contoh :
ٌدَّمَحُم هللا ُلْوُسَر َءَاج
68.
67 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
PERTEMUAN KE-3
Pada pertemuan ke-3 ini, kita akan mempelajari tentang taukid, ini adalah
bagian ketiga dari kalimat yang ikut pada kalimat sebelumnya. Untuk
mengenali taukid ini juga mudah sebab lafadz-lafadz yang digunakan sudah
tentu. Maka langsung saja kita akan mengenal taukid mulai dari :
• Apa yang dinamakan taukid ?
• Ada berapakah pembagian taukid ?
• Apa yang dimakan taukid lafdzi ?
• Apa saja lafadz-lafadz taukid lafdzi ?
• Apa yang dinamakan taukidz maknawi ?
❖ Taukid : Ialah lafadz yang ikut pada Muakkad untuk memperkuat
perkataan.
Taukid ada 2 macam :
Taukid Lafdzi : Taukid dengan cara mengulang lafadnya. Contoh:
ٌدْيَز ٌدْيَز َءَاج
Taukid Maknawi : Taukid yang mengunakan dari salah satu lafadz
yang empat. Yaitu : ُعَمْجَا ،ٌُّلك ،ٌنْيَع ،ٌسْفَن. Contoh : ُهُسْفَن ٌدْيَز َءَاج
PERTEMUAN KE-4
Badal adalah isim yang ikut pada kalimat sebelumnya. Adapun yang diikuti
dinamakan mubdal minhu. Perbedaan badal dari pada tawabi’ yang sudah
dipelajari sebelumnya ialah terletak pada pembagiannya, badal lebih
banyak macam-macamnya, maka dari itu kita dituntut untuk lebih teliti
dalam memahami masing-masing definisi dari macam-macam badal, sebab
dari beberapa badal, ada sedikit kemiripan. Maka kita langsung saja
pertama mengenal :
69.
68 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
• Apa yang dinamakan badal ?
• Apa saja macam-macam badal ?
• Apa yang dinamakan badal muthobiq (kulli minal kulli) ?
• Apa yang dinamakan badal ba’dlu minal kulli ?
• Apa yang dimakan badal isytimal ?
• Apa yang dinamakan badal idlrob ?
• Apa yang dinamakan badal ghalath ?
❖ Badal : Ialah lafadz yang ikut pada Mubdal Minhu untuk menjelaskan
Hukukmnya tanpa menggunakan huruf athaf.
Badal ada 5:
Badal Kulli Minal Kulli : Badal yang sesuai dengan Mubdal Minhu.
Contoh : َكْوُخَا ٌدْيَز َءَاج
Badal Ba’dhi Minal Kulli : Badal yang sebagian dari Mubdal
Minhunya. Contoh : ُهَفْصِن َفْيِغَّرال ُتْلَكَا
Badal Isytimal : Badal yang mempunyai hubungan dengan Mubdal
Minhu. Contoh : ُهُمْلِع ٌدْيَز ْيِنَعَفَن
Badal Ghalath : Badal yang maksudnya tidak sama dengan Mubdal
minhu tanpa sengaja. Contoh : َسَرَفْلا ًادْيَز ُتْبِكَر
Badal Idrob : Badal yang maksudnya tidak sama dengan Mubdal
Minhu serta disengaja. Contoh : َسَرَفْلا ًادْيَز ُتْبِكَر
70.
69 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
RINGKASAN KALIMAT HURUF
Sebagaimana kita ketahui bahwa kalimat huruf hukumnya mabni tanpa
terkecuali, maka dalam mempelajarinya cukup mudah, yaitu hanya dengan
membaca sesuai keadaan harokat huruf tersebut. Namun meski demikian,
kita dituntut untuk mengenal kalimat huruf agar tidak tertukar dengan
kalimat-kalimat lainnya, dari itu di sini kita akan mengenal kalimat-kalimat
huruf yang sering kita temui dalam susunan Bahasa Arab atau kitab kuning.
Huruf yang khusus masuk pada kalimat fi’il :
]وسوف [السني :االستقبال حروف ]كي ،ْنإذ ،ْنل ،ْن[أ :النصب حروف
][كال :الردع حرف ]الناهية ال ،األمر الم ،َّامَل ،[مل :اجلزم حروف
]لو ،كي ،ما ،[أن :املصدر حروف ]إذا ،لو ،[إن :الشرط حروف
بالفعل َُّختصتملا]و ،مل ،[لن :النفي حروف
املضارع
أ ،[أال :التحضيض حروف،لوال ،هال ،ما
]لوما
)املضارع قبل وتقليل ،املاضي قبل [قد]،(حتقيق :التوقع حرف
Huruf yang khusus masuk pada kalimat isim :
]َو ،هيا ،أيا ،أي ،آ ،يا ،[اهلمزة :النداء حروف. ]حاشا ،عدا ،خال ،[إال :االستثناء حروف.
]إما ،[أما :التفصيل حرفا. [إذ :املفاجأة حرفا]إذ ،ا.
]إن ،[الت :النفي حرفا. ]أال ،أما ،[ها :التنبيه حروف.
]لعل ،ليت ،َّنلك ،َّكأن ،َّنأ ،َّ[إن :بالفعل َّهةباملش احلروف.
،منذ ،مذ ،َّبُر ،حاشا ،خال ،عدا ،الالم ،الباء ،يف ،على ،عن ،إىل ،[من :اجلر حروف
( كي ،القسم تاء ،القسم باء ،القسم واو ،الكاف ،حىتاالسم على بالدخول ُّصَختت
])الضمري على بالدخول (ختتص لوال ،)الظاهر
71.
70 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Huruf yang bisa masuk pada kalimat fi’il dan kalimat isim :
]أن ،[أي :التفسري حرفا ]اهلمزة ،[هل :االستفهام حرفا
]أما ،[أال :االستفتاح حرف ]لن ،ملا ،مل ،ْنإ ،الت ،ال ،[ما :النفي حروف
حر]جلل ،جري ،أجل ،إي ،بال ،[نعم :اجلواب وف
حروفالعطف] :]أو ،أم ،بل ،ال ،لكن ،حىت ،مث ،الفاء ،الواو
72.
71 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
RUMUS PASTI
Mengenal kalimat-kalimat yang i’robnya sudah pasti
Setelah enam bab kita lalui, maka berikutnya akan diperkenalkan rumus-
rumus untuk kalimat-kalimat yang sudah pasti i’robnya.
1. Isim ma’rifat sebab alif lam (ال) : ketika terletak setelah lafadz ايها atau
ايتها maka hukumnya rofa’ dii’rob menjadi na’at. Contoh : اجتهد الطالب ايها
2. Isim ma’rifat sebab alif lam : ketika terletak setelah isim isyaroh, maka
kedudukannya ikut pada mahal isim isyaroh, menjadi athof bayan atau
badal ketika berupa isim jamid. Contoh : الرجل هذا جاء
Dan menjadi na’at jika berupa isim musytaq. Contoh : العامل هذا جاء
3. Jika terdapat dua isim ma’rifat yang menunjukan pada satu orang, maka
yang kedua dii’rob menjadi badal. Contoh : حممد سيدنا على
4. Isim maushul yang terletak setelah isim ma’rifat, maka dii’rob menjadi
na’at atau badal. Contoh : ابوه مات الذي الطالب جاء
5. Isim maushul yang terletak setelah isim nakiroh, maka dii’rob menjadi
mudhof ilaih. Contoh : سقط الذي كتاب اخذت
6. Isim yang terletak setelah لوال maka dii’rob menjadi mubtada’ dan
khobarnya dibuang. Contoh : ماتق العلم لوالدالبشرية مت
7. Isim nakiroh yang terletak setelah isim tafdhil, dii’rob menjadi tamyiz.
Contoh : املال من نفعا اكثر العلم
8. Isim nakiroh yang terletak setelah ال dii’rob menjadi isimnya. Contoh :
والقوة الحول
9. Isim nakiroh yang terletak setelah ال yang didahului huruf jar, maka ال
tidak beramal dan isimnya dibaca jar. Contoh : َكش َالِب
73.
72 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
10. Kalimat yang terletak setelah كل،بعض،مجيع،غري،سوى،كال،كلتا dan
semua isim dzorof, dii’rob menjadi mudhof ilaih. Contoh : يوم كل صليت
11. مذ atau منذ apabila setelahnya berupa kalimat fi’il, maka keduanya
dii’rob sebagai dzorof. Contoh : املسجد يف التقينا منذ مارايتك dan apabila
berupa kalimat isim, maka keduanya dijadikan huruf jar. Contoh:
السابقة احملاضرة مذ النحو نشرح مل
12. Kalimat ( أيضا–عامة–حقا–خاصة–شرعا–تبعا–البتة ) dii’rob menjadi
maf’ul Mutlaq. Contoh : ايضا ويطلق
13. Kalimat ( كل–غاية–بعض–شطر–جزء ) digunakan pengganti dari
maf’ul Mutlaq. Contoh : مالك ابن الفية حفظتكلاحلفظ
14. Kalimat مجيعا–معا–وحيدا–وحدها–وحده–أوال–ثانيا–دائما–قاطبة
dii’rob menjadi hal. Contoh : له شريك ال وحده الل اال اله ال
15. Jumlah atau yang menyerupainya jika terletak setelah isim ma’rifat maka
berfungsi sebagai hal. Contoh : درسه يذاكر الطالب جاء
16. Jumlah atau yang menyerupainya yang terletak setelah isim nakiroh,
maka berfungsi sebagai sifat. Contoh : درسه يذاكر رجل جاء
74.
73 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Pembahasan Ilmu Shorrof
75.
74 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
BAB V
ISTILAH-ISTILAH DALAM SHOROF
Bina’ : Bentuk-bentuk kalimat dilihat dari susunan hurufnya.
Macam-macam bina’
Bina’ ada 7 macam:
1. Bina’ Shohih : Kalimat yang fa’ fi’il, ‘ain fi’il dan lam fi’ilnya tidak terdiri
dari huruf illat atau huruf hamzah atau tasydid. Contoh : َبَرَض َرَصَن
2. Bina’ Mitsal : Kalimat yang fa’ fi’ilnya terdiri dari huruf illat.
Catatan : Apabila terdiri dari huruf illat wawu dinamakan mitsal
wawi, apabila terdiri dari huruf illat ya’ dinamakan mitsal ya’i. Contoh
: َرَسَي َدَعَو
3. Bina’ Mudlo’af : Kalimat yang ‘ain fi’il dan lam fi’ilnya terdiri dari huruf
yang sama. Contoh : َّدَم َّضَع
4. Bina’ Lafif : Kalimat yang terdapat 2 huruf illat.
Catatan : Apabila huruf illatnya terdapat pada fa’ fi’il dan dan lam
fi’il, maka dinamakan lafif mafruq. Apabila huruf illatnya terdapat
pada ‘ain fi’il dan lam fi’il, maka dinamakan lafif maqrun. Contoh :
َىوَش َىقَو
5. Bina’ Naqis : Kalimat yang lam fi’ilnya terdiri dari huruf illat.
Catatan : Apabila terdiri dari huruf illat wawu dinamakan naqis
wawi, apabila terdiri dari huruf illat ya’ dinamakan naqis ya’i. Contoh:
َازَغ َىمَر
76.
75 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
6. Bina’ Mahmuz : Kalimat yang fa’ fi’il, ‘ain atau lam fi’ilnya terdiri dari
huruf hamzah.
Catatan : Apabila huruf hamzahnya terdapat pada fa’ fi’il, maka
dinamakan mahmuz fa’. Apabila terdapat pada ‘ain fi’il, maka
dinamakan mahmuz ‘ain. Apabila terdapat pada lam fi’il, maka
dinamakan mahmuz lam. Contoh : َلَمَأ،َدَأَو،َأَشَن
7. Bina’ Ajwaf : Kalimat yang ‘ain fi’ilnya terdapat huruf illat.
Catatan : Apabila terdiri dari huruf illat wawu dinamakan ajwaf
wawi, apabila terdiri dari huruf illat ya’ dinamakan ajwaf ya’i.
Contoh: َعَاب َلَاق
Catatan Tambahan Tentang Bina’ :
Huruf Asli : Huruf yang sejajar (lurus) dengan fa’ fi’il, ‘ain fi’il dan
lam fi’il.
Huruf Illat : Ada 3, yaitu alif, wawu dan ya’
Huruf Zaidah : Adalah huruf tambahan (bukan huruf asli)
Wazan : Kalimat yang menjadi ukuran kalimat lain
Mauzun : Kalimat yang diukur kepada wazan
MENGENAL FI’IL MUJARROD DAN MAZID
Mujarrod : Kalimat yang tidak ada huruf tambahannya (asli semua)
Mazid : Kalimat yang ada huruf tambahannya
Tsulasi mujarrod : Kalimat yang terdiri dari 3 huruf dan tidak ada huruf
tambahannya. Contoh : َرَضَب
Ruba’i Mujarrod : Kalimat yang terdiri dari 4 huruf dan tidak ada huruf
tambahannya Contoh : َجَرْحَد
77.
76 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Tsulasi Mazid Ruba’i : Fi’il yang aslinya 3 huruf namun ditambah 1 huruf.
Contoh : َلَتَاق ،َحَّرَف ،َمَرْكَا
Tsulasi Mazid Khumasi : fi’il yang aslinya 3 huruf namun ditambah 2
huruf. Contoh : َلَتَاقَت َ،َّرسَكَت ،َّرَمْحِا ،َعَمَتْجِا َ،َرسَكْنِا
Tsulasi Mazid Sudasi : fi’il yang aslinya 3 huruf namun ditambah 3 huruf.
Contoh : َسَسْنَعْقِا ،َبَشْوَشْعِا ،َجَرْخَتْسِا
Ruba’i Mazid Khumasi : Fi’il yang aslinya 4 huruf namun ditambah 1
huruf. Contoh : َجَرْحَدَت
Ruba’i Mazid Sudasi : Fi’il yang aslinya 4 huruf namun ditambah 2 huruf.
Contoh : َمَجْنَرْحِا ،َّرَعَشْقِا
KALIMAT FI’IL DAN MACAM-MACAMNYA
Fi’il : Kalimat yang mempunyai arti sendiri dan mempunyai zaman
Fi’il ada 3 macam :
Fi’il Madli Fi’il Mudlori’ Fi’il Amar
78.
77 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
FI’IL MADLI
Fi’il Madli : Fi’il yang mempunyai arti lampau (sudah).
Bentuk-bentuk Fi’il Madli dilihat dari fa’ilnya:
Makna Waqi’ Dlomir Kalimat
Dia 1 lk
غائب
مفردمذكر مقدر هو َلَعَف
Dia 2 lk مذكر تثنية الف َالَعَف
Mereka lk مذكر مجع واو ُوالَعَف
Dia 1 pr
غائبة
مؤنث مفرد مقدر هي ْتَلَعَف
Dia 2 pr مؤنث تثنية الف َاتَلَعَف
Mereka pr مؤنث مجع نون َنْلَعَف
Kamu 1 lk
خماطب
مذكر مفرد تاء َتْلَعَف
Kamu 2 lk مذكر تثنية تاء َاُمتْلَعَف
Kalian lk مذكر مجع تاء ْمُتْلَعَف
Kamu 1 pr
خماطبة
مؤنث مفرد تاء ِتْلَعَف
Kamu 2 pr مؤنث تثنية تاء َامُتْلَعَف
Kalian pr مؤنث مجع تاء َّنُتْلَعَف
Saya وحده متكلم تاء ُتْلَعَف
Kami املعظم او الغري مع
نفسه
متكلم نا َاْنلَعَف
79.
78 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Wazan-wazan Fi’il Madli
Tsulasi Mujarrad : َلُعَف ,َلِعَف ,َلَعَف
Tsulasi Mazid :
o Tsulasi Mazid Ruba’i : َلَعَاف ,َلَّعَف ,َلَعْفَا
o Tsulasi Mazid Khumasi : َلَعَافَت ،َلَّعَفَت ،ََّلعْفِا ،َلَعَتْفِا ،َلَعَفْنِا
o Tsulasi Mazid Sudasi : ِاْسََّالعْفِا ،َلَلْنَعْفِا ،َىلْنَعْفِا ،َلَّوَعْفِا ،َلَعْوَعْفِا ،َلَعْفَت
Ruba’i Mujarrad : َلَلْعَف
Ruba’i Mazid
o Khumasi : َلَلْعَفَت
o Sudasi : َلَلْنَعْفِا ،َّلَلَعْفِا
FI’IL MUDLORI’
Fi’il Mudlori’ : Fi’il yang diawali huruf Mudloro’ah dan mempunyai arti
akan atau sedang.
Huruf Mudloro’ah ada 4 :
1) Hamzah : Menunjukkkan makna وحده متكلم (saya)
2) Nun : Menunjukkan makna نفسه املعظم او الغري مع متكلم (kami)
3) Ya’ : Menunjukkkan makna غائب (dia laki-laki)
4) Ta’ : Menunjukkkan makna غائبة،خماطب،خماطبة
(dia perempuan/kamu)
80.
79 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Bentuk-bentuk Fi’il Mudlori’ dilihat dari fa’ilnya
Makna Waqi’ Dlomir Kalimat
Dia 1 lk
غائب
مذكر مفرد مقدر هو ُلُعْفَي
Dia 2 lk مذكر تثنية الف ِنَالُعْفَي
Mereka lk مجعمذكر واو َنْوُلُعْفَي
Dia 1 pr
غائبة
مؤن مفردث مقدر هي ُلُعْفَت
Dia 2 pr مؤنث تثنية الف ِنَالُعْفَت
Mereka pr مؤنث مجع نون َنْلُعْفَي
Kamu 1 lk
خماطب
مذكر مفرد مقدر انت ُلُعْفَت
Kamu 2 lk مذكر تثنية الف ِنَالُعْفَت
Kalian lk مذكر مجع واو ُلُعْفَتَنْو
Kamu 1 pr
خماطبة
مؤنث مفرد ياء ْيِلُعْفَتَن
Kamu 2 pr مؤنث تثنية الف ِنَالُعْفَت
Kalian pr مؤنث مجع نون َنْلُعْفَت
Saya وحده متكلم مقدر انا ُلُعْفُا
Kami
او الغري مع
نفسه املعظم
متكلم حنن ُلُعْفَن
Wazan-wazan Fi’il Mudlori’
Tsulasi Mujarrad : ُلَعْفَي ،ِلعْفَي ،ُلُعْفَي
Tsulasi Mazid :
o Tsulasi Mazid Ruba’i : ُلِعَافُي ،ُلِّعَفُي ،ُلِعْفُي
81.
80 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
o Tsulasi Mazid Khumasi : ُلَعَافَتَي ،ُلَّعَفَتَي ،ُّلَعْفَي ،ُلِعَتْفَي ،ُلِعَفْنَي
o Tsulasi Mazid Sudasi : ْفَي ،ُلِّوَعْفَي ،ُلِعْوَعْفَي ،ُلِعْفَتْسَيُّلَاعْفَي ،ُلِلْنَعْفَي ،ِىلْنَع
Ruba’i Mujarradْ: ُلِلْعَفُي
Ruba’i Mazid
o Khumasi : ُلَلْعَفَتَي
o Sudasi : ُلِلْنَعْفَي ُّلِلَعْفَي
FI’IL AMAR
Fi’il Amar : Fi’il yang mempunyai arti perintah.
Bentuk-bentuk Fi’il Amar dilihat dari fa’ilnya :
Makna Waqi’ Dlomir Kalimat
Kamu 1 lk
خماطب
َاَتْن ْلُعْفُا
Kamu 2 lk َامُتْنَا َالُعْفُا
Kalian lk ْمُتْنَا ْاوُلُعْفُا
Kamu 1 pr
خماطبة
ِتْنَا ْيِلُعْفُا
Kamu 2 pr َامُتْنَا َالُعْفُا
Kalian pr َّنُتْنَا َنْلُعْفُا
82.
81 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Bentuk-bentuk Fi’il Amar
Tsulasi Mujarrad : ,ْلُعْفُاْلَعْفِا ,ْلِعْفِا
Selain tsulasi mujarrad :
Bentuk fi’il amar selain tsulasi mujarrad ialah dengan mengambil fi’il
mudlori’nya, kemudian ya’ mudhoro’ahnya dibuang dan huruf yang
terakhir disukunkan. Contoh :
ْحِّرَف ُحِّرَفُي
ْلِتَاق ُلِتَاقُي
ْجِرْحَد ُجِرْحَدُي
Catatan : Cara membuat fi’il amar dari fi’il tsulasi mujarrad ialah
dengan mengambil fi’il mudlori’nya, kemudian ya’ mudloro’ahnya
dibuang dan harakat yang terakhir disukunkan. Apabila huruf yang
pertama berharakat sukun, maka harus mendatangkan hamzah
washol yang diharakati sesuai ‘ain fi’il mudlori’nya, kecuali apabila
‘ain fi’ilnya fathah, maka hamzah washolnya diharakati kasroh.
Contoh :
Mendatangkan
Hamzah washol
Mensukunkan
huruf terakhir
Membuang huruf
mudhoro’ah
Fi’il Mudhori’
ْرُصْنُا ْرُصْن ْنُرُص ُرُصْنَي
ْبِرْضِا ْبِرْض ُبِرْض ُبِرْضَي
ْحَتْفِا ْحَتْف ُحَتْف ُحَتْفَي
ْنُص ْنْوُص ُنْوُص ُنْوُصَي
83.
82 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
ْرَّرَكَت ُرَّرَكَتَي
ْلِعْفَتِسا ُلِعْفَتْسَي
MACAM-MACAM FI’IL DILIHAT DARI MAKNANYA
Fi’il ada 2 macam :
1. Fi’il muta’addi : Fi’il yang membutuhkan maf’ul. Contoh : ًارْكَب ٌدْيَز َبَرَض
2. Fi’il lazim : Fi’il yang tidak membutuhkan maf’ul. Contoh : ٌدْيَز َمَاق
Cara Memuta’addikan Fi’il Lazim
Tsulasi Mujarrad
▪ Diikutkan wazan َلَعَفَا. Contoh : َزْنَاَل (menurunkan)
▪ Diikutkan wazan َلَّعَف. Contoh : َحَّرَف (membahagiakan)
▪ Mendatangkan huruf jar. Contoh : ٍدْيَزِب ُتْبَهَذ (saya telah
memberangkatkan zaid)
Selain Tsulasi Mujarrad
Dengan huruf jar. Contoh : ِب ُتْقَلَطْنِاٍدْيَز (saya telah memberangkatkan
zaid)
BENTUK-BENTUK KALIMAT ISIM
Bentuk kalimat isim ada 2 macam:
1. Jamid : Isim yang tidak diambil dari kalimat lain.
Misalnya kata ٌءَام (air), maka dinamakan jamid dikarenakan tidak
diambil dari kalimat lain. Begitu juga kata ٌمْلِع (ilmu/mengetahui)
84.
83 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
misalnya, kata tersebut dinamakan jamid dikarenakan berupa bentuk
masdar yang merupakan asal wahid (asal kalimat).
Macam-macam Isim Jamid
Isim Dzat/isim jenis
Isim Makna/Masdar
2. Musytaq : Isim yang dibentuk dari kata lain dan memiliki makna yang
berbeda dari kata pembentuknya. Misalnya kata َبَتَك (menulis) bisa
menjadi ُبِتَاكْلَا (orang yang menulis), ُبْوُتْكَمْلَا (yang ditulis), ُبَتْكَمْلَا
(tempat menulis) dan seterusnya.
Macam-macam isim Musytaq
Isim Fa’il
Sighat Mubalaghah
Isim Maf’ul
Isim Zaman
Isim Makan
Isim Alat
Sifat Muyabihah
Isim Tafdhil
Catatan:
Kalimat Isim yang berupa masdar, isim fa’il dan isim maf’ul kadang
bisa amal seperti amalnya fi’il (mempunyai fai’ dan maf’ul), contoh:
Masdar : هللا ُعْفَد َالْوَلَوَسَانال
Isim Fa’il : ِهِفَاصْوَا ُدَحَا ُرِّيَغَتُمْلا َءاْملَا
Isim Maf’ul : ُهُلَامْعِتْسِا ٌهْوُرْكَم ٌرِّهَطُم ٌرِهَاط
Sifat muyabbihah : ُهُرَظْنَم ًالِيمَج ًانَاتْسُب ُتْلَخَد
85.
84 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
ISIM DZAT
Isim dzat yaitu isim yang menunjukkan pada benda konkret yang tidak ada
kata kerja yang berasal darinya yang mempunyai arti sama dengannya.
Isim dzat ini juga dikenal dengan isim jenis. Contoh : ٌرَجَح ،ٌرَجَش ،ٌءَام
Adapun bentuknya tidak ada ketentuan wazan sebab isim dzat adalah isim
jamid yang tidak bisa ditasrif.
MASDAR
Masdar : Isim yang dibentuk untuk menunjukkan arti pekerjaan dan tidak
bersamaan dengan zaman.
Macam-macam masdar :
1. Masdar ghoiru Mim : Masdar yang tidak ada mimnya.
2. Masdar Mim : Masdar yang ada mimnya.
Catatan: Isim masdsar adalah masdar yang hurufnya tidak cocok dengan
huruf fi’ilnya. Contoh: ْءوُضُو ,ًةَالَص diambil dari kata َّىَلص dan َأَّضَوَت
Bentuk-bentuk Masdar Ghoiru Mim
Tsulasi mujarrad:
Ikut wazan:
ٌةَلَازَج( ٌةَلَاعَف) )ٌءَابِا( ٌلَاعِف ٌبْرَض( ٌلْعَف)
ُح( ٌلْعُفْس)ٌن )ٌنَالَيَس( ٌنَالَعَف )ٌحَرَف( ٌلَعَف
)ٌةَلْوُهُس( ٌةَلْوُعُف )ٌدْوُعُق( ٌلْوُعُف
Catatan: Wazan masdar ghoiru mim fi’il tsulasi mujarrad adalah
sama’i (tidak beraturan)
❖ Masdar Gairu Mim Selain tsulasi mujarrad
➢ Tsulasi mazid ruba’i :
86 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
➢ Fi’il ruba’i mujarrod :
No. Wazan Masdar Ghoiru Mim
1 َلَلْعَف–ُلِلْعَفُي ًالَالْعِف ,ًةَلَلْعَف
➢ Fi’il ruba’i mazid khumasi :
No. Wazan Masdar Ghoiru Mim
1 َلَلْعَفَت–ُلَلْعَفَتَي َتَفْعُلًلا
➢ Fi’il ruba’i mazid sudasi :
No. Wazan Masdar Ghoiru Mim
1 َعْفِاََّلل–ْفَيَعُّلِل ًةَللْيِّلَعُف ,ًالَّالِعْفِا
2 َلَلْنَعْفِا–ُلِلْنَعْفَي ًالَالْنِعْفِا
Bentuk-bentuk Masdar Mim
Tsulasi Mujarrad : Ikut wazan ٌلَعْفَم ٌلَعْفِم،
Tsulasi Mazid : Sama dengan fi’il mudlori’nya yang dimabnikan majhul
dan huruf mudloroahnya diganti dengan mim. Contoh : ًاجَرْخَتْسُم ،ًامَرْكُم
ISIM FA’IL
Isim Fa’il : Isim yang dibentuk untuk menunjukkan arti pelaku pekerjaan.
Wazan-wazan isim fa’il :
Tsulasi mujarrad : Ikut wazan ٌلِعَاف. Contoh : ٌلِتَاق
Selain tusulasi mujarrad : Sama dengan masdar mimnya hanya saja
sebelum akhir diharakati kasroh. Contoh : ًاجِرْخَتْسُم ،ًامِرْكُم
88.
87 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Bentuk-bentuk isim fa’il dari segi makna :
No Wazan Contoh Arti
1 ٌلِعَاف ضارب 1 laki-laki
2 ِنَالِعَاف ضاربان 2 laki-laki
3 ْنوُلِعَاف ضاربون Banyak laki-laki
4 ٌلَّاعُف ضراب Banyak laki-laki
5 ٌلَّعُف ضرب Banyak laki-laki
6 ٌةَلَعَف ضربة Banyak laki-laki
7 ٌةَلِعَاف ضاربة 1 orang perempuan
8 ِنَاتَلِعَاف ضاربتان 2 orang perempuan
9 ٌتَالِعَاف ضاربات Banyak perempuan
10 ُلِعَاوَف ضوارب Banyak perempuan
Catatan :
Jika isim fa’il ditujukan untuk bermakna ْةَغَلَابُم (sangat/banyak) maka
harus diikutkan wazan shigot mubalaghah yaitu : ،ٌلَاعْفِم ،ٌلِعَف ،ٌلْوُعَف ،ٌلَّاعَف
ُلْيِعَف. Contoh : ٌبَّاهَو،ٌرْوُكَش،ٌلِفَغ،ٌمَاقْسِم،ِلَعٌمْي
ISIM MAF’UL
Isim Maf’ul : Isim yang dibentuk untuk menunjukkan arti sasaran
pekerjaan.
89.
88 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Wazan-wazan isim maf’ul :
Tsulasi mujarrad : Ikut wazan ٌلْوُعْفَم. Contoh: ٌلْوٌتْقَم
Selain tusulasi mujarrad : Sama dengan masdar mimnya. Contoh:
ُمًامَرْك,ْخَتْسُمًاجَر
Bentuk-bentuk isim maf’ul dari segi makna
No Wazan Contoh Arti
1 ٌلْوُعْفَم مقتول 1 laki-laki
2 ِنَالْوُعْفَم مقتوالن 2 laki-laki
3 َنْوُلْوُعْفَم مقتولون Banyak laki-laki
4 ُلْيِعَافَم مقاتيل Banyak laki-laki
5 ٌةَلْوُعْفَم مقتولة 1 orang perempuan
6 ِنَاتَلْوُعْفَم مقتولتان 2 orang perempuan
7 ٍتَالْوُعْفَم مقتوالت Banyak perempuan
ISIM ZAMAN & MAKAN
Isim Zaman : Isim yang dibentuk untuk menunjukkan arti waktu.
Isim Makan : Isim yang dibentuk untuk menunjukkan arti tempat.
Wazan-wazan Isim Zaman dan Isim Makan :
Tsulasi mujarrad : Ikut wazan ،ٌلَعْفَمٌْلِعْفَم Contoh : ًىوْأَم ،ٌعِجْرَم
Selain tsulasi mujarrad : Sama dengan masdar mimnya.
Contoh : ٌعَطَقْنُم ،ٌرَسَكْنُم
90.
89 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
ISIM ALAT
Isim alat : Isim yang dibentuk untuk menunjukkan alat pekerjaan.
Wazan-wazan isim alat : ٌلَاعْفِم ،ٌلَعْفِم Contoh : ٌةَحَسْمِم،ٌحَاتْفِم
SIFAT MUSYABAHAH
Sifat Muyababah : Isim yang maknanya menyerupai isim fa’il akan tetapi
mempunyai makna sifat yang tetap. Contoh : ُنَاشْطَع (yang haus) ٌنَسَح (yang
tampan)
Wazan-wazan Sifat Muyababah :
Wazan-wazan sifat musyabahah adalah sima’i, adapun umumnya mengikuti
wazan-wazan di bawah ini:
1. Wazan ٌلِعَف Contoh : ٌحِرَف (yang gembira)
2. Wazan ٌلَعَف Contoh : ٌنَسَح (yang baik)
3. Wazan َفٌلْيِع Contoh : ٌفْيِرَش (yang mulia)
4. Wazan ٌلَاعَف Contoh : ٌنَابَج (yang penakut)
5. Wazan ٌلَاعُف Contoh : ٌعَاجُش (yang pemberani)
92 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
➢ Wazan fi’il ruba’i mazid sudasi ada 2 :
No. Wazan Mauzun
1 ََّللَعْفِا–ُّلِلَعْفَي اقشعر–يقشعر
2 َلَلْنَعْفِا–ُلِلْنَعْفَي احرجنم–حيرجنم
94.
93 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
FAIDAH WAZAN
Wazan Faidah Contoh Arti
َْاَْلَعفْ Ta’diyah (Me-muta’addi-kan fi’il
lazim)
أكرم Memuliakan
َْلََّعفْ Ta’diyah yang mengandung
Taktsir (makna banyak)
نزل Menurunkan
َْلَعَاف
Musyarokah (Dua orang yang
mengerjakan satu pekerjaan
yang sama)
قاتل Saling membunuh
َْلَعَفِنا Muthowa’ah (menjadi akibat
dari adanya sebab)
انكسر Menjadi pecah
َْلَعَتِفا Muthowa’ah اجتمع Menjadi
berkumpul
ََّْلعِفا Adanya sifat امحر Merah
َْلَعَافَت
Musyarokah (Dua orang atau
lebih yang mengerjakan satu
pekerjaan yang sama)
تباعد Saling menjauh
َْفتِساَْلَع Tholab (meminta) استغفر Meminta ampun
َْلَعَوعِفا Mubalaghoh (sangat) احلوىل Sangat manis
َْلََّوعِفا Mubalaghoh اخروط Sangat membakar
ْىَلَنعِفا Muthowa’ah اسلنقى Menjadi
terlentang
َْلَلَنعِفا Muthowa’ah اقعنسس Menjadi
terlambat
ََّْالعِفا Mubalaghoh yang masuk pada
sifat
امحار Sangat merah
َْلَلَعفَت Muthowa’ah تدحرج Menjadi terguling
ََّْللَعِفا Mubalaghoh اطمأن Sangat tenang
95.
94 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
BAB VI
RIGKASAN KAIDAH I’LAL
KAIDAH KE-1
َوْلا ِتَكَِّرَحَت َاذإُواِصَِّتُم ٍةَحْتَف َدْعَب َاءيْلَاوِلَك ْيِف ٍةَلَنَوَص ُهُلْصَأ َنَاص ُلْثِم ًافِلآ َاتَلِدْبُأ َامِهْيَتَم
َعَيَب ُهُلْصَأ َعَابَو.
“Apabilah ada Wawu atau Ya’ berharkah, jatuh sesudah harkah Fathah
dalam satu kalimah, maka Wawu atau Ya’ tersebut harus diganti dengan Alif
seperti contoh َنَاص asalnya َنَوَص dan َعَاب asalnya َعَيَب“
Catatan:
Kaidah ini berlaku pada Wawu atau Ya’ dengan Harkah asli. Apabila
harkah keduanya bukan asli atau baru, maka tidak boleh dirubah.
Contoh : َمْوَقْلُااوَعَد .
Apabila setelah wawu atau ya’ itu ada huruf mati/sukun, maka
diklarifikasikan sbb:
Jika Wawu atau Ya’ tersebut bukan pada posisi Lam Fi’il, maka tidak
boleh di-i’lal, karena dihukumi seperti Huruf Shahih. Contoh : ٌنَايَب,
ٌقَنْرَوَخ ,ٌلْيِوَط.
Jika Wawu dan Ya’ tersebut berada pada posisi Lam Fi’il, maka tetap
berlaku Kaidah I’lal ini. Contoh َنْوَشْخَي asalnya َنْوُيَشْخَي . Namun
disyaratkan huruf yang mati/sukun setelah Wawu dan Ya’ tersebut
bukan huruf Alif dan huruf Ya’ tasydid, maka yang demikian juga tidak
boleh di-i’lal. Contoh : َلَع ،َايَمَرَاوَزَغ ،ٌِّيِو .
96.
95 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
KAIDAH KE-2
ْتَلِقُن ًاحْيِحَص ًانِكَاس َامُهَلْبَق َام َنَاكَو ٍفَوْجَأ ْنِم ًةَكِِّرَحَتُم ًانْيَع َاءيْلَاو ُوَاوْلا ِتَعَقَو َاذِإ
ُمْوُقَي ُوْحَن ,َاهَلْبَق َام َىلإ َامُهُتَكْرَحَأُهُلْصَأ ُعْيِبَي ,ُمُوْقَي ُهُلْصُعِيْبَي
Apabila wawu atau ya’ berharokat berada pada ‘ain fi’il Bina’ Ajwaf dan
huruf sebelumnya terdiri dari huruf Shahih yang mati/sukun, maka harakat
wawu atau ya’ tsb harus dipindah pada huruf sebelumnya. Contoh : ُمْوُقَي
asalnya ُمُوْقَي dan َيِبُعْي asalnya ُعِيْبَي.
Catatan:
Perpindahan Syakal/Harakat baca Wawu atau Ya’ dalam Kaidah ini, tidak
berlaku apabila setelah Wawu atau Ya’ terdapat Huruf yang di-tasydid-kan.
Contoh : ُِّدَوْسَي
KAIDAH KE-3
ِإَب َاءيْلَاو ُوَاوْلا ِتَعَقَو َاذَز ٍفِلآ َدْعِلِعَافْلا ِمْسا ْيِف ًانْيَع َانْوُكَت ْنَأ ِطْرَشِب ًةَزْمَه َاتَلِدْبُأ ٍةَدِئا
ٌنِوَاص ُهُلْصَأ ٌنِئَاص ُوْحَن ,ٍرَدْصَم ْيِف ًافَرَطَو،ٌيَاقِل ُهُلْصَأ ٌءَاقِل ،ٌرِيَاس ُهُلْصَأ ٌرِئَاس
Apabila ada wawu atau ya’ jatuh sesudah alif zaidah, maka harus diganti
hamzah, dengan syarat wawu atau ya’ tersebut berada pada ‘Ain Fi’il
kalimah bentuk Isim Fail, atau berada pada akhir kalimah bentuk masdar.
Contoh: ٌنِئَاص asalnya ٌنِوَاص dan ٌرِئَاس asalnya َسِياٌر dan ٌءَاقِل asalnya ٌيَاقِل
97.
96 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
KAIDAH KE-4
َاءي ُوَاوْلا ِتَلِدْبُا ِنْوُكُِّسِالب َامُهَادْحِا ْتَقَبَسَو ٍةَدِحَاو ٍةَمِلَك ْيِف َاءيْلَاو ُوَاوْلا ِتَعَمَتْجا َاذِإ
ُهُلْصَأ ٌتِِّيَم ُوْحَن ِةَِّيِنِّاَثال ِيف َىلْوْألا َاءيْلا ِتَمِغْدُاَوْيَمْوُمْرَم ُهُلْصَأ ٌِّيِمْرَمَو ٌتِوٌي
Apabila wawu dan ya’ berkumpul dalam satu kalimah dan salah satunya
didahului dengan sukun, maka wawu diganti ya’. Kemudian ya’ yang
pertama di-idgham-kan pada ya’ yang kedua. Contoh lafadz ٌتِِّيَم asalnya
adalah ْيَمٌتِو dan ٌِّيِمْرَم asalanya adalah ٌيْوُمْرَم
KAIDAH KE-5
ُلْصَأ ْيِمْرَيَو ُوُزْغَي ُهُلْصَأ ْاوُزْغَي ُوْحَن َاتَنِكْسُا ًةَمْوُمْضَم َاتَنَاكَو َاءيْلَاو ُوَاوْلا ِتَفَِّرَطَت َاذِإُيِمْرَي ُه
Apabila Wawu atau Ya’ menempati ujung akhir kalimah, dan ber-harakah
dhammah, maka disukunkan. Contoh : ْاوُزْغَي asalnya ُوُزْغَي dan ْيِمْرَي asalnya
ُيِمْرَي
KAIDAH KE-6
ُوَاوْلا ِتَلِدْبُأ ًامْوُمْضَم َاهَلْبَق َام ْنُكَي ْمَلَو ِفْرَِّطال ِيف ًادِعَاصَف ًةَعِبَار ُوَاوْلا ِتَعَقَو َاذِاَيُوْحَن اء
َزُي ُهُلْصَأ ْيِِّكَزُيِِّكَعُي َو ُوُوِطَاعُي ُهُلْصَأ ْيِطا
Apabila wawu menempati ujung akhir kalimah empat huruf atau lebih, dan
sebelum wawu tidak ada huruf yang didhammahkan, maka wawu teresbut
diganti ya’. Contoh : ْيِِّكَزُي asalnya ُيَزُوِِّك dan ْيِطَاعُي asalnya َعُياُوِط .
98.
97 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
KAIDAH KE-7
ِعَي ُوْحَن ْفَذْحُت ِةَعَرَاضُمْلا ُفْرَح َاهَلْبَقَو ِةَقَِّقَحُمْلا ِةَرْسَكْلَاو ِةَحْتَفْلا َنْيَب ُوَاوْلا ِتَعَقَو َاذِاُد
ُدِئْوَي ُهُلْصَأ ُدِئَي و ُدِعْوَي ُهُلْصَأ
Apabila wawu ada diantara harkah fathah dan kasrah nyata, dan
sebelumnya ada huruf mudhara’ah, maka wawu tersebut dibuang. Contoh :
ُدِعَي asalnya ُدِعْوَي dan ُدِئَي asalnya ُدِئْوَي
Catatan:
Huruf Mudhara’ah : ا–ن–ي–ت
KAIDAH KE-8
ُوَاوْلا ِتَعَقَو َاذإَبٍلْعِف ْوأ ٍمْسا ْيِف َةرْسَك َدْعَي ْتَلِدْبُأُهُلْصَأ ٍزَاغ َو ُوِِّكَزُي ُهُلْصَأ ْيِِّكَزُي ُوْحَن اء
ٌوِزَاغ
Jika ada Wawu jatuh setelah harkah Kasrah dalam Kalimah Isim atau
Kalimah Fi’il, maka Wawu tersebut harus diganti Ya’. Contoh : ْيِِّكَزُي asalnya
ُوِِّكَزُي dan ٍزَاغ asalnya ٌوِزَاغ
KAIDAH KE-9
َم َىلِا َامُهُتَكْرَح ْتَلِقُن ْنَا َدْعَب َاتَفِذُح َرَخآ ٍنِكَاس ٍفْرَحب ِنَاتَنِكِّاَسال َاءيْلَاو ُوَاوْلا ِتَيِقَل َاذإا
ْسِا ُهُلْصَأ ْرِس َو ْنُوْصُأ ُهُلْصَأ ْنُص ُوْحَن َامُهَلْبَقْرِي
99.
98 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Jika ada Wawu atau Ya’ sukun, bertemu dengan husuf sukun lainnya, maka
Wawu tau Ya’ tersebut dibuang, ini setelah memindahkan harakah keduanya
(Wawu atau Ya’) kepada huruf sebelumnya (lihat kaidah I’lal ke 2). Contoh:
ْنُص asalnya ْنُوْصُأ dan ْرِس asalnya ْرِيْسِا
KAIDAH KE-10
َمَتْجا َاذِاْيِنِّاَثال ِيف ُلَِّوَألْا ِمغْدُي ِجَرْخَمْلا ِيف ِنَابِرَاقَتُم ْوَأ ٍدِحَاو ٍسْنِج ْنِم ِنَافْرَح ٍةَمِلَك ْيِف َع
ْصأ َِّدَم ُوْحَن ِرَِّرَكُمْلا ِلْقَثِل ْيِنِّاَثال َلْثِم ْنيَبِرَاقَتُمْلا ِلْعَج َدْعَبُهُلْدُدْمُا ُهُلْصَأ ِِّدُم َو َدَدَمَلَصَِّتا َو
َلَصَتْوِا ُهُلْصَأ
Jika ada dua huruf sejenis atau hampir sama makhrajnya berkumpul dalam
satu kalimah, maka huruf yang pertama harus di-idghamkan pada huruf
yang kedua,–ini setelah menjadikan huruf yang hampir sama makhrajnya
serupa dengan huruf yg kedua (lihat kaidah i’lal ke 18 insyaallah), karena
beratnya pengulangan/memilah-milahnya. contoh َِّدَم asalnya َدَدَم dan َّدُم
asalnya ْدُدْمُا, dan َلَصَِّتا asalnya َلَصَتْوِا.
KAIDAH KE-11
ْمَهْلاَزَمِلَك ْيِف َاتَقَتْلا َاذِا ِنَاتٍةٍةَدِحَاوَىلِا َبَسَان ٍفْرَحِب ِةَيِنّاثال ُلَادْبِا َبَجَو ٌةَنِكَاس َامُهُتَيِنَاث
ْمِدْئِإ ُهُلْصَا ْمِدْيِا َو ْلُمْؤُأ ُهُلْصَا ْلُمْوُأ َو َنَمْأَأ ُهُلْصَا َنَمآ ُوْحَن ْىَلْوْألا ِةَكْرَح
Jika terdapat dua huruf Hamzah berkumpul sejajar dalam satu kalimah,
yang nomor dua sukun, maka huruf hamzah ini harus diganti dengan huruf
yang sesuai dengan harakah Hamzah yang pertama. Contoh : آمن asalnya
أأمن dan أومل asalnya أؤمل.
100.
99 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Catatan:
Wawu pada lafazh ْوُأُخذ dibuang untuk meringankan ucapan, sedangkan
pada lafazh ُلمْوُأ cukup tanpa membuang wawu, karena menjaga dari
keserupaan dengan fi’il amar-nya lafazh َلَام–ُلْوُمَي–ْلُم .
KAIDAH KE-12
َالَدْبُت َال ِنْيَتَنِكِّاَسال َءَايْلَاو َوَاوْلا َِّنِإِنُنْوُكُس َنَاك َاذِإ َِّالِإ ًافِلآَرْيَغ َامُهْتَلِقُن ْنَأِب ٍِّيِلْصَأ
َنَيْبَأ ُهُلْصَأ َنَابَأ َو َبَوْجَأ ُهُلْصَأ َبَاجَأ ُوْحَن َامُهَلْبَق َام َىلِا ُامُهُتَكْرَح
Wawu atau ya’ yang sukun, keduanya tidak boleh diganti Alif, kecuali jika
sukunnya tidak asli –dengan sebab pergantian harakat keduanya pada huruf
sebelumnya– (lihat kaidah i’lal ke 2). Contoh : َبَاجَأ asalnya َبَوْجَأ dan َنَابَأ
asalnya َنَيْبَأ.
KAIDAH KE-13
ِِّكَمَتُم ٍمْسا ْيِف ٍِّمَض َدْعَب ًافْرَط ُوَاوْلا ِتَعَقَو َاذِإٍنُقَف َاءي ْتَلِدْبُأ ِلْصَألْا ِيفَِّضال ِتَبِلًةَرْسَك ُةَِّم
ًوُِّدَعَت ُهُلْصَأ ًايِِّدَعَت َو ًاوُطَاعَت ُهُلْصَأ ًايِطَاعَت ُوْحَن َاءي ِوَاوْلا ِلْيِدْبَت َدْعَبا
Jika ada wawu berada di akhir kalimah jatuh sesudah harkah dhammah
didalam asal kalimah Isim yang Mutamakkin (bisa menerima tanwin), maka
wawu tsb diganti ya’, kemudian setelah itu harkah dhammah diganti kasrah.
Contoh : ًايِطَاعَت asalnya ًاوُطَاعَت dan ًايِِّدَعَت asalnya ًاوُِّدَعَت.
101.
100 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
KAIDAH KE-14
ًةَنِكَاس َاءيْلا ِتَنَاك َاذِإَوُأ ًامْوُمْضَم َاهَلْبَق َام َنَاكْبًوَاو ْتَلِدٌرِسْوُم َو ُرهسْيُي ُهُلْصَأ ُرِسْوُي ُوْحَن ا
ٌرهسْيُم ُهُلْصَأ
Jika terdapat Ya’ sukun dan sebelumnya ada huruf yang didhammahkan
maka ya’ tersebut harus diganti wawu. Contoh : ُرِسْوُي asalnya هسْيُيُر dan
ٌرِسْوُم asalnya ٌرهسْيُم
KAIDAH KE-15
َنَاك َاذإ ِلْوُعْفَمْلا َمْسا َِّنِإِهْيَوَبْيِس َدْنِع ُهْنِم ِلْوُعْفَمْلا ٍوَاو ُفْذَح َبَجَو ِنْيَعْلا ِِّلَتْعُم ْنِمُوْحَن
ٌرْوُيْسَم ُهُلْصَأ ٌرْيهسَم َو ٌنْوُوْصَم ُهُلْصَأ ٌنْوُصَم
Sesungguhnya Isim Maf’ul Jika ia terbuat dari Fi’il Mu’tal ‘Ain (Bina’ Ajwaf)
maka wajib membuang wawu maf’ulnya menurut Imam Syibawaihi
(menurut Imam lain yg dibuang adalah Ain Fi’ilnya). Contoh : ٌنْوُصَم
asalnya ٌنْوُوْصَم dan ٌرْيهسَم asalnya ٌرْوُيْسَم
KAIDAH KE-16
ِا َاءفْلا َنَاك َاذِإَاص َلَعَتْفِهِذَه َدْعَب َاهِب ِقْطَِّنال ِرُِّسَعَتِل َاءط ُهُؤَات ْتَبِلُق َاءظ ْوَأ َاءط ْوَأ ًادَاض ْوَأ ًاد
ُهُلْصَأ َحَلَطْصِا ُوْحَن ًاجَرْخَم َامِهِبْرُقِل هءِّاَطِالب ِّاءَتال ُبَلْقُت َامَِّنِإَو ِفْوُرُحْلاْصِاَبَرَطْضِا َو َحَلَت
ْضِا ُهُلْصَأَبَرَت
Jika Fa’ Fi’il kalimah wazan َلَعَتْفِا berupa huruf Shad, atau Dhad, atau Tha’,
102.
101 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
atau Zha’ (huruf Ithbaq), maka huruf Ta’ yg jatuh sesudah huruf Ithbaq
tersebut harus diganti Tha’, demi mudahnya mengucapkannya. Digantinya
Ta’ dengan Tha’ karena dekatnya makhraj keduanya. Contoh : َحَلَطْصِا
asalnya َحَلَتْصِا dan َبَرَطْضِا asalnya َبَرَتْضِا
KAIDAH KE-17
ِقْطُِّنِالرْسُعِل ًالَاد ُهُؤَات ْتَبِلُق ًايَاز ْوأ ًالَاذ ْوأ ًالَاد َلَعَتْفِا َاءف َنَاك َاذِإِبِفْوُرُحْلا ِهِذَه َدْعَب َاه
َِّنَإوُبَلْقُت َامَدْزِا َو َرَكَتْذِا ُهُلْصَأ َرَكَِّذِا َو َأَرَتْدِا ُهُلْصَأ َأَرَِّدِا ُوْحَن ًاجَرْخَم َامِهِبْرُقِل ِلِّاَدِالب ِّاءَتالَرَج
َرَجَتْزِا ُهُلْصَأ
Jika Fa’ Fi’il wazan berupa huruf Dal, atau Dzal, atau Zay, maka huruf Ta’
(Ta’ zaidah wazan َلَعَتْفِا ) yang jatuh sesudah huruf-huruf tersebut harus
diganti Dal, demi mudahnya mengucapkannya. Adapun digantinya Ta’
dengan Dal karena dekatnya makhraj keduanya. Contoh
: َأَرَِّدِا asalnya َأَرَتْدِا dan َكَِّذِاَر asalnya َرَكَتْذِا dan َرَجَدْزِا asalnya ْزِاَرَجَت .
KAIDAH KE-18
ِنِكِّاَسال ِنْيَِّلال ِفْرَحِب ِقْطُِّنِالرْسُعِل َاءت ُهُؤَاف ْتَبِلُق َاءث ْوأ َاءي ْوأ ًاوَاو َلَعَتْفِا َاءف َنَاك َاذِإَامِل
ُمَو ِجَرْخَمْلا ِةَبَرَاقُم ْنِم َامُهَنْيَبَانَِّلال َفْرَح َِّنَألهِفْصَوْلا ِةَافُهْجَم ِنْيٌةَسْوُمْهَم ِّاءَتَالو ٌةَرْوُوْحَن
َاث ْتَنَاك ْنَإو )ٌةَمِهُم( .َرَغَتْثِا ُهُلْصَأ َرَغَِّتِا َو َرَسَتْوِا ُهُلْصَأ َرَسَِّتِا َو َلَصَتْوِا ُهُلْصَأ َلَصَِّتِاُزْوُجَي ء
هَاءث َلَعَتْفِا هءَات ُبْلُقالَِّيِسْوُمْهَمْلا ِيف َامِهِدَاحِِّتِةَِّثِا ُوْحَنَرَغَتْثِا ُهُلْصَأ َرَغ.
Jika Fa’ Fi’il wazan َلَعَتْفِا berupa huruf wawu, atau Ya’, atau Tsa’, maka huruf
Fa’ Fi’ilnya tersebut harus diganti Ta’ karena sulitnya mengucapkah huruf
103.
102 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
“Layin” ()لني sukun dengan huruf yang diantara keduanya termasuk
berdekatan Makhrajnya dan bertentangan sifatnya, karena huruf “layin”
(/و)ي bersifat Jahr sedangkan huruf Ta’ bersifat Hams. Contoh
: َلَصَِّتِا asalnya َلَصَتْوِا dan َرَسَِّتِا asalnya َرَسَتْوِا dan َرَغَِّتِا asalnya َرَغَتْثِا.
(penting) dan apabila Fa’ Fi’il-nya tsb berupa huruf Tsa’, boleh mengganti
Ta’nya wazan َلَعَتْفِا dengan Tsa’, karena keduanya sama-sama bersifat
Hams. Contoh : َرَغَِّثِا asalnya َرَغَتْثِا.
Catatan:
َذَخَِّتا asalnya َذَخَتْئِا mengikuti wazan َلَعَتْفِا huruf Hamzah yang kedua diganti
Ya’ karena ia sukun dan sebelumnya ada huruf berharkah kasrah, maka
menjadi َذَخَتْيِا kemudian huruf Ya’ diganti Ta’ (tanpa mengikuti kias) maka
menjadi َذَخَِّتِا.
KAIDAH KE-19
َاءف َنَاك َاذإَتَث ْوَأ َاءت َلَعَافَتَو َلَِّعَفاًالَاد ْوأ ءًادَاض ْوَأ ًادَاص ْوَأ ًانْيِش ْوَأ ًانْيِس ْوأ ًايَاز ْوَأ َالَاذ ْوأ
َِّيِنِّاَثال ِيف َىلْوُالْا ِتَمِغْدُأ َِّمُث ِجَرْخَمْلا ِيف ُهُبِرَاقُي َامِب َامِهِئَات ُبْلَق ُزْوُجَي َاءظ ْوَأ َاءط ْوَأْعَب ِةَد
ِنْيَبِرَاقَتُمْلا ِلَِّوَأ ِلْعَجَِّثال َلْثِمَاءدِتْبِالْا َنِكْمُيِل ِلْصَوْلا ِةَزْمَه ِبَالِتْجا َعَم ِةَسَنَاجُمْلِل ْيِنا
َسَرَِّتِا ُوْحَن ِنِكِّاَسِالبُهُلْصّأ َلَقِّاَثِاَو َسَِّرَتَت ُهُلْصّأُهُلْصّأ َرَِّثَِّدِاَو َلَقَاثَتَرَِّكَِّذِاو َرَِّثَدَتّأُهُلْصَرَِّكَذَت
ْصّأ َرَِّجَِّزِاَوُهُلَِّجَزَتُهُلْصّأ َعَِّمَِّسِاَو َرُهُلْصّأ َقَِّدَِّصِا َو َقَِّقَشَت أصله َقَِّقَِّشِاَو َعَِّمَسَتَعَِّرَِّضِاَو َقَِّدَصَت
ُهُلْصّأُهُلْصّأ َرَِّهَِّظِاَو َعَِّرَضَتُهُلْصّأ َرَهِّاَطِاَو َرَِّهَظَتَرَهَاطَت.
104.
103 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Jika Fa’ Fi’il wazan َلَِّعَفَت dan َلَعَافَت berupa huruf ،ت،ص ,ش ,س ،ز ،ذ ،د ،ث
،ظ ,ط ,ض maka boleh Ta’ dari kedua wazan tersebut diganti dengan
huruf yang mendekati dalam Makhrajnya, kemudian huruf yang pertama
di-idghamkan pada huruf yang kedua, demikian ini setelah huruf yang
pertama dari kedua huruf yang berdekatan makhrajnya tersebut, dijadikan
serupa dengan huruf yang kedua. berikut memasang Hamzah Washal agar
memungkinkan permulaan dengan huruf mati. Contoh : ِسَرَِّتِا asalnya َسَِّرَتَت
dan َلَقِّاَثِا asalnya َلَقَاثَت dan َرَِّثَِّدِا asalnya َرَِّثَدَت dan َرَِّكَِّذ asalnya َرَِّكَذَت dan
َرَِّجَِّزِا asalnya َرَِّجَزَت dan َعَِّمَِّسِا asalnya َعَِّمَسَت dan َقَِّقَِّشِا asalnya َقَِّقَشَت dan
َقَِّدَِّصِا asalnya َقَِّدَصَت dan َعَِّرَِّضِا asalnya َعَِّرَضَت dan َِّظِاَِّهَر asalnya َرَِّهَظَت dan
َهِّاَطِاَر asalnya َتَرَهَاط .
Catatan:
I’lal dalam Kaidah ke-19 ini cuma bersifat boleh, bukan suatu ketentuan
mesti. Sebagai pengalaman bagi kita, karena ini jarang ditemukan. dan yang
banyak digunakan adalah berupa bentuk asalnya.
105.
104 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Wazan-Wazan Tasrif dan Contohya :ْ ْ
ماضيفعل
مضارعفعل
ميمغريمصدر
ميممصدر
فاعلاسم
مفعولاسم
امرفعل
ناهيفعل
َانكزمان/ماسم
الةاسم
Sudah
Akan
Dengan
Dengan
Yangme
Yangdi
….lah
Jangan
Waktu/tempat
Alat
َلَعَفُلُعْفَيًالْعَفَعْفَمًالٌلِعَافٌلْوُعْفَمْلُعْفُاَتَالْلُعْفَعْفَمٌل٢ٌلَعْفِم
جمرد ثالثي تصريف:
َلَعَفُلُعْفَيًالْعَفًالَعْفَمَوَوُهَفٌلِعَافَكَاذَوٌلْوُعْفَمْلُعْفُاْلُعْفَتَالٌلَعْفَم٢َعْفِمٌل
َرَصَنُرُصْنَيًارْصَنًارَصْنَمَوَوُهَفٌرِصَان-ْنَمْوُصٌرْرُصْنُاْرُصْنَتَالَصْنَمٌر٢ْنِمٌرَص
َلَعَفِعْفَيُلًالْعَفًالَعْفَمَوَوُهَفٌلِعَاف-ٌلْوُعْفَمِاِعْفْلِعْفَتَالْلِعْفَمٌل٢ٌلَعْفِم
َبَرَضُبِرْضَيًابْرَضًابَرْضَمَوَوُهَفٌبِرَاض-ٌبْوُرْضَمْبِرْضِاْبِرْضَتَالِرْضَمٌب٢ٌبَرْضِم
َلَعَفَعْفَيُلَفًالْعَعْفَمَوًالَفَوُهٌلِعَاف-ٌلْوُعْفَمِاَعْفْلَعْفَتَالْلَعْفَمٌل٢َعْفِماٌل
َحَتَفُحَتْفَيًاحْتَفًاحَتْفَمَوَوُهَفٌحِتَاف-ٌحْوُتْفَمْحَتْفِاْحَتْفَتَالٌحَتْفَم٢ٌحَاتْفِم
ُعَفَلُعْفَيُلُفًالْعًالَعْفَمَوَوُهَفِعَافٌل-َمٌلْوُعْفُاُعْفْلْفَتَالُعْلَعْفَمٌل٢
َنُسَحُنُسْحَيًانْسُحًانَسْحَمَوَوُهَفٌنَسَح--ْنُسْحُاْنُسْحَتَالٌنَسْحَم٢
107 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
مخاسي مزيد رباعي تصريف:
َلَلْعَفَتُلَلْعَفَتَيْعَفَتًالُلًالْلعَفَتُمَوَوُهَفَفَتُمْعٌللَكَاذَوٌلَلْعَفَتُمْلَلْعَفَتَلْلَلْعَفَتَتاٌلَلْعَفَتُم٢
َجَرْحَدَتُجَرْحَدَتَيًاجُرْحَدَتًاجَرْخَدَتُمَوَوُهَفٌجِرْحَدَتُمَكَاذَوٌجَرْحَدَتُمْجَرْحَدَتْجَرْحَدَتَتَالٌجَرْحَدَتُم
مزيد رباعي تصريفسداسي:
ََّللَعْفِاُّلِلَعْفَيِاِعْفًالَّالَوًةَلْيِِّلَعُفاالَلَعْفُمَوَوُهَفٌِّللَعْفُمَكَاذَوٌَّللَعْفُمَِّللَعْفِاَِّللَعْفَتَالٌلََّلعْفُم٢
ََّرعَشْقِاُِّرعَشْقَيًارَارْعِشْقِاًةَرْيِرْعَشُقَوًّاَرعَشْقُمَوَوُهَفٌِّرعَشْقُمَكَاذَوُمٌَّرعَشْقَِّرعَشْقِاِعَشْقَتَالَّرٌَّرعَشْقُم٢
َلَلْنَعْفِاِلْنَعْفَيُلًالَالْنِعْفِاًالَلْنَعْفُمَوَوُهَفٌلِلْنَعْفُمَكَاذَوٌلَلْنَعْفُمْلِلْنَعْفِاْلِلْنَعْفَتَالٌلَلْنَعْفُم٢
َمَجْنَرْحِاُمِجْنَرْحَيًامَاجْنِرْحِاًامَجْنَرْحُمَوُهَفَوٌمِجْنَرْحُمَكَاذَوَجْنَرْحُمٌمِجْنَرْحِاْمْمِجْنَرْحَتَالْنَرْحُمٌمَج٢
109.
108 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
Saatnya Latihan Mentasrif Selain Bina’ Shohih
3 Huruf Bina’ Mitsal :
َدَعَوُدِعَيًةَدِعًادِعْوَمَوَوُهَفٌدِعَاوَكَاذَوٌدْوُعْوَمْدِعْدِعَتَالٌدموع٢َعموٌد
َعَضَوُعَضَيًاعْضَوِضْوَمَوًعاَوُهَفَوٌعِضاَكَاذَوْوُضْوَم
ٌع
َضْعْعَضَتَالٌعِضْوَم٢ٌعَاضْيِم
َلِجَوُلَجْوَيًالَجَوًالِجْوَمَوَوُهَفٌلِجَوَكَاذَوٌلْوُجْوَمْلَجيِاْلَجْوَتَالٌلِجْوَم٢-
َهُجَوُهُجْوَيًةَهَاجَوًاهِجْوَمَوَوُهَفٌهْيِجَو--ْهُجْوُاْهُجْوَتَالَمٌهِجْو٢-
3 Huruf Bina’ Ajwaf :
َاصَنُنْوُصَيًانْوَصًانَاصَمَوَوُهَفٌنِئَاصَكَاذَوٌنْوُصَمْنُصْنُصَتَالٌنَاصَم٢ٌنَوْصِم
َرَاسُرْيهسَيًارْيَسًةَرْيهسَمَوَوُهَفٌرِئَاسَكَاذَوٌرْيهسَمْرِسْرهسَتَالَمٌرْيهس٢ٌرَيْسِم
ُفَاخُفَاخَيَخْوًافَاَخمَوًةَفَوُهَفٌفِئَاخَكَاذَوٌفْوُخَمْفَخْفَخَتَالٌفَاخَم٢-
َلَاطُلْوُطَيًالْوُطَوًالَاطَمَوُهَفٌلْيِوَط--ْلُطْلُطَتَالٌلَاطَم٢-
3 Huruf Bina’ Naqish :
َازَغْوُزْغَيًاوْزَغًىزْغَمَوُهَفَوٍزَاغَكَاذَوٌُّوزْغَمُزْغُاَتالُزْغْغَمًىز٢ًىزْغِم
َىرَسْيِرْسَيًةَيَارِسًىرْسَمَوَوُهَفٍرَاسَكَاذَوٌِّيرْسَمِرْسِاِرْسَتالًىرْسَم٢ًىرْسِم
َىأَرَىرَيًةَيُأرًىأْرَمَوَوُهَفَرآءَكَاذَوٌِّيئْرَمَرَرَتَالًىأْرَم٢ٌةْآرِم
ِضَرَيَىضْرَيًاضِرًاضْرَمَوَوُهَفَارضَكَاذَوٌِّىضْرَمَضْرِاَضْرَتَالَمًىضْر٢-
َوُرَسْوُرْسَيًةَُّورُسًىرْسَمَوَوُهَفٌِّيرَس--ُرْسُاُرْسَتَالًىرْسَم٢-
3 Huruf Bina’ Lafif Mafruq :
َىقَوْيِقَيًةَيَاقِوًىقْوَمَوَوُهَفٍقَاوَكَاذَوَمٌِّيقْوِقِقَتَالًىقْوَم٢ًقْيِمى
َيِجَوْوَيَىجًىجَوًىجْوَمَوَوُهَفٍجَاوَكَاذَوٌِّىجْوَمَجْيِاَجْوَتَالًىجْوَم٢-
110.
109 Rumus PintarBaca Kitab Kuning & Terjemah Bahasa Arab
3 Huruf Bina’ Lafif Maqrun :
َىوَشِىوْشَيًّايَشًىوْشَمَوَوُهَفٍوَاشَكَاذَوٌِّىوْشَمِوْشِاِوْشَتَالًىوْشَم٢ًوْشِمى
َيِوَقَىوْقَيًةَّوُقًوْقَمَوىَفَوُهِوَقٌّيَكَاذَوٌِّيوْقَمَوْقِاَوْقَتَالًىوْقَم٢-
3 Huruf Bina’ Mudho’af :
َّدَمُّدُمَيًّادُمًّادَمَمَوَوُهَفٌَّادمَكَاذَوٌدْوُدْمَمَّدُمَّدُمَتَالٌَّدمَم٢ٌَّدمِم
َّرَفُِّرِفَيًّارَفًّارَفَمَوَوُهَفٌَّارفَكَاذَوٌرْوُرْفَمِفَِّرَِّرِفَتَالٌِّرِفَم٢ٌِّرَفِم
َّضَعَيُِّضَعِّاًضَعًّاضَعَمَوَوُهَفٌَّآضعَكَاذَوٌضْوُضْعَمِّضَعِّضَعَتَالٌضَعَم٢-
3 Huruf Bina’ Mahmuz :
َلَمَأُلُمْأَيًالَمَأًالَمْأَمَوَوُهَفٌلِمآَكَاذَوٌلْوُمْأَمُأْلُمْوْلُمْأَتَالٌلَمْأَم٢َمْئِمٌل
َمَدَأَيُمِدْأًامَدَأًامَدْأَمَوَفَوُهٌمِدآَكَاذَوٌمْوُدْأَمْمِدْيِاْمِدْأَتَالٌمِدْأَم٢ٌمَدْئِم
َءَافُئِفَيًةَئْيَفًائْيِفَمَوَوُهَفَآءفَكَاذَوٌئْيِفَمْئِفْئِفَتَالٌئْيِفَم٢ٌءَآفِم
َىأَنْنَيَىأًايْأَنًىأْنَمَوَوُهَفَآءنَذَوَكاْنَمٌِّيئَأْنِاَأْنَتَالًأْنَمى٢ٌءْآنِم
َمِثَأُمَثْأَيًامْثِاًامَثْأَمَوَوُهَفٌمِثآَكَاذَوٌمْوُثْأَمْمَثْيِاْمَثْأَتَالٌمَثْأَم٢-
َبُدَأُبُدْأَيًابَدَأًابَدْأَمَوَوُهَفٌبْيِدَأ--ْبُدْوُاَلْبُدْأَتاٌبَدْأَم٢-
CATATAN:
Untuk Tasrif Fi’il Stulasi Mazid (fi’il yang lebih dari 3 huruf) sifatnya adalah
sama’i, maka cara mentasrifnya sama persis dengan wazan-wazan yang
sudah disebut di atas, adapun perbedaannya hanya terletak pada bentuk
bina’nya saja, maka untuk mengetahui model tasrif yang lebih lengkap
berdasarkan masing-masing bina’, hendaknya memiliki kitab Al-Amtsilatut
Tashrifiyah. |