MAKRONUTRIEN
apt. Lindawati Setyaningrum., M.Farm
Makronutrien
adalah zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar untuk memberikan
energi dan mendukung pertumbuhan, pemeliharaan, serta fungsi tubuh secara
optimal.
Istilah makronutrien berasal dari kata “makro” yang berarti besar, dan “nutrien”
yang berarti zat gizi. Makronutrien berfungsi sebagai sumber energi utama
bagi tubuh serta sebagai bahan baku dalam pembentukan struktur sel, jaringan,
dan berbagai komponen biologis penting.
Dengan demikian, makronutrien dapat didefinisikan sebagai zat gizi esensial
yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar, berperan penting sebagai
sumber energi, bahan pembangun, dan pengatur berbagai proses biologis
untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan manusia secara
keseluruhan
Terdapat tiga jenis utama
makronutrien, yaitu:
Karbohidrat Protein Lemak (Lipida)
Selain itu beberapa literatur juga memasukkan air dan serat pangan ke dalam kategori
makronutrien non-energenik, karena meskipun tidak menghasilkan energi, keduanya
dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar untuk menjaga keseimbangan cairan, mendukung
pencernaan, dan membantu proses fisiologis lainnya.
◦ Keseimbangan antara ketiga makronutrien sangat penting untuk
menjaga homeostasis tubuh.
◦ Kekurangan salah satu makronutrien dapat menyebabkan gangguan
fungsi metabolik, penurunan energi, gangguan pertumbuhan, dan
menurunnya daya tahan tubuh.
◦ Sebaliknya, kelebihan asupan makronutrien tertentu, terutama lemak
dan karbohidrat sederhana, dapat memicu masalah kesehatan
seperti obesitas, diabetes melitus, dan penyakit kardiovaskular.
Karbohidrat: Sumber Energi Utama
◦ Diubah menjadi glukosa untuk energi langsung atau
cadangan
◦ Dua jenis: Karbohidrat kompleks (sayur, buah, biji-bijian)
dan sederhana (nasi putih, roti, gula)
◦ 1 gram karbohidrat = 4 kalori energi
Protein: Pembangun dan Perbaikan
Tubuh
◦ Dicerna menjadi asam amino, penting untuk
pembentukan sel dan jaringan
◦ 20 jenis asam amino, 9 esensial harus dari makanan
(daging, ikan, telur, susu)
◦ 1 gram protein = 4 kalori energi
Lemak: Energi dan Pelindung Organ
◦ Cadangan energi, pelindung organ, bantu penyerapan
vitamin
◦ Lemak jenuh (daging, produk susu) dan lemak tak jenuh
(ikan, alpukat, kacang)
◦ 1 gram lemak = 9 kalori energi, konsumsi seimbang
penting untuk kesehatan jantung
Dampak Kekurangan Makronutrien
◦ Gejala jangka pendek: mudah lapar, lemas, mual, sembelit
◦ Jangka panjang: rambut rontok, kulit kering, anemia,
malnutrisi, stunting, imun menurun
◦ Penting memenuhi kebutuhan harian sesuai usia dan
kondisi
Rekomendasi Asupan Harian
Makronutrien (Kemenkes RI)
◦ Karbohidrat: 225-325 gram (45-65% kalori harian)
◦ Protein: 56-66 gram (tergantung jenis kelamin dan aktivitas)
◦ Lemak: 44-78 gram (20-35% kalori harian)
◦ Penyesuaian berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kebutuhan
individu
Tips Memenuhi Kebutuhan
Makronutrien Seimbang
◦ Pilih karbohidrat kompleks untuk energi tahan lama
◦ Konsumsi protein lengkap dari sumber hewani dan nabati
◦ Pilih lemak tak jenuh untuk kesehatan jantung
◦ Hindari konsumsi berlebihan yang dapat menyebabkan obesitas
dan penyakit kronis
Analisis karbohidrat
Apa itu Karbohidrat?
◦ Senyawa organik yang terdiri dari karbon (C), hidrogen (H), dan
oksigen (O) dengan rasio H:O 2:1
◦ Sumber energi utama bagi makhluk hidup, menyumbang 70-80%
kebutuhan energi manusia
◦ Contoh: glukosa, fruktosa, pati, selulosa
Klasifikasi Karbohidrat
◦ Monosakarida: gula sederhana, contoh glukosa, fruktosa,
galaktosa
◦ Oligosakarida: 3-10 unit monosakarida, contoh sukrosa, laktosa,
maltosa
◦ Polisakarida: >20 unit monosakarida, contoh pati, glikogen,
selulosa
Karbohidrat dalam bahan pangan
• Berdasarkan struktur kimianya, karbohidrat
dapat dikelompokkan menjadi:
– karbohidrat dengan struktur yang sederhana
(seperti mono-sakarida dan disakarida)
– oligosakarida (seperti stakiosa, rafinosa,
fruktooligosakarida, galaktooligosakarida)
– polisakarida (seperti pati, glikogen, selulosa
dan serat pangan).
Monosakarida
• Struktur monosakarida ada yang memiliki gugus fungsional aldehida
(seperti glukosa dan galaktosa) dan yang memiliki gugus keton
(seperti fruktosa).
• Gula yang memiliki gugus aldehida bebas umumnya memiliki sifat
mereduksi (disebut juga gula pereduksi).
• Struktur kimia monosakarida dapat dinyatakan sebagai struktur garis
(proyeksi Fischer) atau struktur cincin (proyeksi Haworth).
• Struktur cincin glukosa dan galaktosa adalah piranosa (segi 6),
sedangkan fruktosa Adalah Furanosa (Segi 5)
Struktur glukosa dan fruktosa dalam bentuk
proyeksi Fischer dan Haworth
DISAKARIDA
Fungsi Karbohidrat dalam Tubuh
◦ Sumber energi langsung (glukosa)
◦ Cadangan energi (glikogen di hati dan otot)
◦ Komponen struktural (selulosa pada tumbuhan)
◦ Penyusun asam nukleat (ribosa dan deoksiribosa)
Metode Analisis Karbohidrat Kualitatif
◦ Uji Molisch: deteksi karbohidrat umum dengan warna ungu
◦ Uji Iodin: identifikasi polisakarida (pati) dengan warna biru tua
◦ Uji Benedict dan Barfoed: deteksi gula pereduksi dan
monosakarida
◦ Uji Seliwanoff: membedakan fruktosa dan glukosa
◦ Uji Osazon: identifikasi jenis monosakarida melalui kristal osazon
Metode Analisis
Analisis kualitatif terhadap sampel
Penetapan jenis karbohidrat dalam sampel
Ekstraksi Karbohidrat
Ekstrak (karbohidrat larut)
Pemisahan
komponen
Analisis
Karbohidrat tidak
larut
Pemisahan komponen
Hidrolisis
Analisis
Skema umum analisis karbohidrat
Kadar Karbohidrat
• Kadar karbohidrat berdasar analisis proksimat dihitung
secara by difference ditentukan dengan rumus sebagai
berikut:
100 – (% air + % abu + % lemak + %
protein)
• Kadar karbohidrat yang dapat dicerna dihitung secara by
difference ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
100 – (% air + % abu + % lemak + % protein +
% serat pangan)
Uji Kualitatif Karbohidrat
Analisis Karbohidrat
Molisch Test
• Uji KH secara umum
• Uji Molisch dinamai sesuai penemunya yaitu
Hans Molisch, seorang ahli botani dari Australia.
• Prosedur Kerja :
a. Masukkan ke dalam tabung reaksi 1 ml
sample
b. Tambahkan 2 tetes reagen Molish dan
dikocok.
c. Tambahkan 1 ml H2SO4
Uji Molisch
Molisch Test
• Uji ini didasari oleh reaksi dehidrasi karbohidrat oleh
asam sulfat membentuk cincin furfural yang berwarna
ungu.
• Reaksi positif ditandai dengan munculnya cincin ungu
di purmukaan antara lapisan asam dan lapisan sampel
• Sampel yang diuji dicampur dengan reagent Molisch,
yaitu α-naphthol yang terlarut dalam etanol.
• Setelah pencampuran atau homogenisasi, H2SO4 pekat
perlahan-lahan dituangkan melalui dinding tabung
reaksi agar tidak sampai bercampur dengan larutan
atau hanya membentuk lapisan.
Uji Molisch
ReactionReaksi
Molisch Test
Uji Molisch
Benedict Test
• Uji kimia untuk mengetahui kandungan gula
(karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua
jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti
laktosa dan maltosa
• Prosedur Kerja:
a.Masukkan ke dalam tabung reaksi 2 tetes sampel
b. Tambahkan 1 ml Benedict.
c. Panaskan dalam penangas air.
d. Amati hasilnya
Uji Benedict
Benedict Test
• Pada uji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi
dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam
gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton.
• Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula
pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha
hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah
menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana
basa dan memberikan hasil positif dengan
pereaksi benedict
Uji Benedict
Benedict Test
Uji Benedict
Barfoed Test
• Adalah uji untuk membedakan monosakarida dan
disakarida dengan mengontrol kondisi pH serta
waktu pemanasan.
• Prosedur Kerja :
a. tasukkan 5 tetes larutan sample ke dalam
tabung reaksi.
a. tambahkan 1 ml reagen Barfoed.
b. panaskan dalam penangas air, hitung waktu
sampai terbentuk perubahan warna merah bata.
c. amati hasilnya.
Uji Barfoed
Barfoed Test
• Prinsipnya berdasarkan reduksi Cu2+ menjadi
Cu+
• Sampel monosakarida mempunyai waktu yang
lebih cepat membentuk warna merah bata
pada uji barfoed
Uji Barfoed
Iodine Test
• Pati dan iodium membentuk
ikatan kompleks berwarna
biru.
• Prosedur kerja:
a.1 tetes sample di atas
druppel plate.
b. tambahkan 1 tetes
larutan
yodium.
c. amati warna yang
terjadi.
Uji Yodium
Iodine Test
• Pati dalam suasana asam
bila dipanaskan dapat
terhidrolisis menjadi
senyawa yang lebih
sederhana, hasil
pemecahan pati jika diuji
dengan iodium akan
memberikan warna biru,
coklat, kuning sampai
tidak berwarna
Uji Yodium
Uji Kuantitatif Karbohidrat
Analisis Karbohidrat
Analisis Karbohidrat
◦Persiapan Sampel
◦(Analisis Total Gula dan Gula Reduksi)
• Sampel harus jernih dan bebas dari pengotor
• Pengotor yang dapat mengganggu analisis adalah:
• protein (membentuk kekeruhan),
• fenol (analisis untuk gula pereduksi),
• furan dan turunannya sebagai produk karamelisasi dan
reaksi Maillard (metode anthrone)
• Jika sampel keruh harus dilakukan pengendapan terlebih
dahulu
• Gula yang terukur berasal dari gula dan karbohidrat yang larut
dalam air
Persiapan Sampel cair
17
Sampel Cair
 Gula diekstrak dengan etanol 80% panas
 Gula yang terukur adalah gula yang larut dalam
etanol yang terdiri dari mono, di, tri, dan tetra,
dan oligosakarida
 Polisakarida dan protein bersifat tidak larut
dalam etanol
 Sebelum dilakukan ekstraksi, sebaiknya
sampel
dibuat bebas lemak
Persiapan Sampel Padat
18
Sampel Padat
Analisis Total gula
Metode Anthrone
•Karbohidrat dalam asam sulfat akan dihidrolisis
menjadi monosakarida
monosakarida mengalami
dan
selanjutnya
dehidrasi oleh asam
sulfat menjadi furfural atau hidroksil metil furfural.
• Selanjutnya senyaw
a
furfural ini dengan
(9, 10
senyaw
a
dihidro-9-oxoanthracene)
kompleks yang
berwarna
anthrone
membentuk
biru.
PATI
• Pati tersusun dari dua makromolekul, yaitu amilosa dan
amilopektin yang komposisinya berbeda untuk setiap jenis
pati.
• Kedua makro-molekul ini dibentuk dari monomer D- glukosa
dan berada dalam bentuk granula.
• Amilosa memiliki struktur linear dimana D-glukosa
dihubungkan melalui ikatan -1,4-glikosidik.
• amilopektin tersusun oleh monomer D-glukosa yang memiliki
gugus percabangan yang dibentuk dari ikatan
-1,6-glikosidik di samping ikatan -1,4-glikosidik yang
membentuk struktur linear.
• Rasio amilosa dan amilo-pektin dalam pati menentukan
sifat gelatinisasi pati (kemampuan mengentalkan dan
membentuk gel).
(b) Amylopectin
Struktur amilosa (a) dan amilopektin (b)
Bentuk granula pati dari berbagai sumber (birefriengence)
PATI
• Prinsip analisis: pati dihidrolisis oleh
asam/enzim, dan hasil hidrolisis pati dianalisis
dengan metode gula reduksi. Jumlah gula
reduksi ekuivalen dengan jumlah pati
• Kadar pati = kadar gula reduksi x 0.9
• BM pati/BM gula = (mX162)/(mX180) = 0.9
• Untuk bahan yang mengandung pati dan
dekstrin
19
Analisis Pati
Prosedur Penetapan
• Sampel padat 2-5 g yang telah dihaluskan atau cair ditambah 50
ml etanol 80% dan aduk selama 1 jam. Suspensi disaring. Filtrat
mengandung karbohidrat yang larut dibuang.
• Untuk bahan berlemak, maka pati yang terdapat sebagai residu
pada kertas saring dicuci 5 kali dengan 10 ml eter, kemudian
cuci lagi dengan 150 ml alkohol 10% untuk menghilangkan lebih
lanjut karbohidrat terlarut.
• Residu dipindahkan ke dalam erlenmeyer dengan pencucian
200 ml aquades dan tambahkan 20 ml HCl  25% (bj
1.125), refluks selama 2,5 jam.
• Setelah dingin netralkan dengan larutan NaOH 45% dan
encerkan sampai 500 ml, kemudian saring. Kadar
glukosa ditentukan.
• Penentuan glukosa seperti pada penentuan total gula.
Berat glukosa dikalikan 0.9 merupakan berat pati.
20
Analisis Pati
Gula Reduksi
• Gula Reduksi
• Golongan gula (KH) yang dapat mereduksi
senyawa-senyawa penerima elektron,
contohnya adalah glukosa dan fruktosa
• Ujung dari suatu gula pereduksi adalah ujung
yang mengandung gugus aldehida atau keto
bebas. Semua monosakarida dan disakarida
kecuali sukrosa termasuk sebagai gula
pereduksi.
Analisis Pati
Analisis Gula Reduksi (Nelson-Somogyi)
Analisis Gula Reduksi (Nelson-Somogyi)
• Hasil reduksi kuprooksida yang bereaksi
dengan arsenomolybdat dan akan mereduksi
menjadi molybdine blue dan warna biru inilah
yang akan diukur nilai absorbansinya.
Intensitas warna biru yang terbentuk ekivalen
dengan jumlah gula reduksi dalam sampel
Analisis Pati
Contoh Kasus
Konsentrasi Absorbansi
blanko 0.089
2 mg/100ml 0.146 – 0.089 = 0.057
4 mg/100ml 0.189 – 0.089 = 0.100
6 mg/100ml 0.301 – 0.089 = 0.212
8 mg/100ml 0.370 – 0.089 = 0.281
10 mg/100ml 0.432 – 0.089 = 0.343
Analisis Pati
Kurva Standar
• Kurva Standart
Analisis Pati
Contoh soal :
• Contoh Soal :
• Berdasarkan kurva glukosa standar tersebut,
hitung konsentrasi gula reduksi hasil hidrolisis
sampel pati jika nilai absorbansi yang didapat
adalah 0.5
Analisis Pati
SERAT
• Serat kasar adalah residu dari bahan pangan yang telah
diperlakukan dengan asam dan alkali mendidih.
• Serat kasar ditentukan dengan cara menentukan residu
setelah contoh bahan pangan diperlakukan dengan
asam dan basa kuat.
• Serat pangan adalah bagian dari komponen bahan
pangan nabati yang tidak dapat dicerna oleh saluran
pencernaan manusia.
• Serat pangan dapat ditentukan dengan menganalisis
kadar acid detergent fiber (ADF), neutral detergent fiber
(NDF), lignin dan
substansi
SERAT KASAR
• Serat Kasar
• Komponen bahan pangan yang tidak tercerna
yang dinyatakan sebagai komponen tidak larut
asam/alkali encer
• Residu hasil digesti: serat kasar yang terdiri
dari lignin dan selulosa
26
Analisis Serat Kasar
Penetapan Serat Kasar
• Serat kasar merupakan residu dari bahan
makanan atau produk pertanian setelah diberi
perlakuan asam dan alkali mendidih, yang
terdiri dari selulosa dan sedikit lignin dan
pentosan
• Merupakan metode gravimetri
27
Analisis Serat Kasar
Prosedur
• Haluskan bahan sehingga dapat melalui ayakan diameter 1
mm dan campurlah baik-baik. Kalau bahan tak dapat
dihalusksan, hancurkan sebaik mungkin.
• Timbang 2 g bahan kering dan ekstraksi lemaknya dengan
soxhlet. Kalau bahan sedikit mengandung lemak,
misalnya sayur-sayuran gunakan 10 g bahan; tidak perlu
dikeringkan dan diekstraksi lemaknya
• Pindahkan bahan ke dalam erlenmeyer 600 ml. Kalau
ada tambahkan 0,5 g asbes yang telah dipijarkan dan 3 tetes
zat anti buih (antifoam agent).
28
Analisis Serat Kasar
Analisis Serat Kasar
• Tambahkan 200 ml larutan H2SO4 mendidih (125 g H2SO4
pekat/100 ml = 0.255 N H2SO4) dan tutuplah dengan
pendidngin balik, didihkan selama 30 menit dengan
kadangkala digoyang-goyangkan.
• Saring suspensi melalui kertas saring dan residu yang tertinggal
dalam erlenmeyer dicuci dengan aquades mendidih. Cucilah
residu dalam kertas saring sampai air cucian tidak bersifat asam
lagi (uji dengan kertas lakmus).
• Pindahkan secara kuantitatif residu dari kertas saring ke dalam
erlenmeyer kembali dengan spatula dan sisanya dicuci dengan
larutan NaOH mendidih (1.25g NaOH/100ml = 0,313 N NaOH)
sebanyak 200 ml sampai semua residu masuk ke dalam
erlenmeyer. Dididihkan dengan pendingin balik sambil
kadangkala digoyang- goyangkan selama 30 menit.
Serat Pangan (Dietary Fiber)
• Analisis selulosa, hemiselulosa, lignin dan
substansi pektat, meliputi :
• Metode ADF (Acid Detergent Fiber)
• Metode NDF (Neutral Detergent Fiber)
• Penetapan Lignin
• Penetapan Substansi Pektat
Analisis Serat Pangan
NDF : Neutral Detergent
Fiber
• Prinsip penetapan NDF adalah dengan
mengekstrak contoh dengan larutan NDF yang
terdiri dari campuran EDTA, Na2B4O7.10H2O, lauril
sulfat, Na2HPO4 dan 2-etoksi-etanol) sehingga
seluruh komponen selain komponen NDF larut.
• Komponen yang tidak larut kemudian disaring,
dikeringkan, ditimbang dan dikoreksi dengan
kandungan mineralnya.
ADF : Acid Detergent
Fiber
• Prinsip penetapan ADF adalah dengan
mengekstrak contoh dengan larutan ADF
(setiltrimetil amonium bromida dalam H2SO4 1N),
sehingga seluruh komponen selain komponen
ADF larut.
• Komponen yang tidak larut kemudian disaring,
dikeringkan, ditimbang dan dikoreksi dengan
kandungan mineralnya.
Serat Pangan (Dietary Fiber)
• Analisis metode deterjen (NDF dan ADF)
didasarkan pada kemampuan deterjen
melarutkan lemak, komponen mengandung N,
gula dan bbrp jenis pati.
• ADF : sebagian besar selulosa dan lignin
• NDF : sebagian besar selulosa, hemiselulosa
dan
lignin
Analisis Serat Pangan
Sehingga :
• Kadar hemiselulosa = kadar NDF – ADF
• Kadar selulosa = kadar ADF – kadar lignin
• Total serat pangan = kadar NDF + substansi
pektat
Analisis Serat Pangan
Metode ADF
• Ekstraksi contoh sampel dengan larutan ADF
(setilmetril amonium bromida dalam H2SO4 1
N)
• Komponen selain ADF larut, komponen tak larut
disaring, dikeringkan dan ditimbang
• Dikoreksi kandungan mineralnya dengan
pengabuan kering
• Kadar ADF = selisih berat residu setelah
diabukan
dengan berat sampel awal
Analisis Serat Pangan
Metode NDF
• Untuk sampel mengandung pati, hidrolisis dg alfa
amilase terlebih dahulu
• Ekstraksi contoh sampel dengan larutan NDF
(campuran EDTA, Na2B4O7.10H2O, lauril sulfat,
Na2HPO4 dan 2-etoksi etanol) hingga seluruh
komponen non NDF larut
• Komponen tak larut disaring, dikeringkan, ditimbang
dan dikoreksi kandungan mineralnya dg pengabuan
kering
• Kadar NDF = selisih berat residu setelah diabukan
dengan berat sampel awal
Analisis Serat Pangan
Penetapan Lignin
• Ekstraksi contoh sampel dengan larutan NDF
(sehingga seluruh komponen selain selulosa dan
lignin larut)
• Selulosa dlm residu dihidrolisis dengan H2SO4
72%, hingga hanya lignin yg ada dlm residu
• Komponen tak larut disaring, dikeringkan,
ditimbang dan dikoreksi kandungan mineralnya
dg pengabuan kering
• Kadar lignin = selisih berat residu setelah
diabukan dengan berat sampel awal
Analisis Serat Pangan
Penetapan Substansi Pektat
• 1. Reaksi antara O-hidroksi difenil dengan
anhidrogalakturonat yang menghasilkan warna
yang dapat diukur pada panjang gelombang
520nm… atau
• 2. Metode gravimetri : pektin yg telah diekstrak
dr sampel, disaponifikasi dengan alkali dan
diendapkan sebagai kalsium pektat (dg
penambahan kalsium klorida dlm kondisi asam)
Endapan kalsium pektat dicuci sampai bebas
klorida dikeringkan dan ditimbang residu nya
Analisis Serat Pangan
Pentingnya Analisis Karbohidrat
◦ Menjamin kualitas dan keamanan produk pangan
◦ Memahami kandungan energi dan nilai gizi makanan
◦ Membantu pengembangan produk fungsional dan
probiotik
Sumber Karbohidrat Sehari-hari
◦ Sereal dan biji-bijian: beras, gandum, jagung
◦ Umbi-umbian: kentang, singkong
◦ Buah-buahan dan sayuran
◦ Produk susu dan gula meja
Kebutuhan Karbohidrat Harian
◦ Disarankan 45-65% dari total kalori harian berasal dari karbohidrat
◦ Contoh: untuk kebutuhan 2000 kalori, karbohidrat sekitar 225-325
gram per hari
Pencernaan dan Metabolisme
Karbohidrat
◦ Mulai di mulut dengan enzim amilase saliva memecah pati
◦ Di usus halus, karbohidrat dipecah menjadi monosakarida untuk
diserap
◦ Glukosa masuk ke darah dan digunakan sebagai bahan bakar sel
Akibat Kekurangan dan Kelebihan
Karbohidrat
◦ Kekurangan: energi rendah, mudah lelah, gangguan fungsi otak
◦ Kelebihan: risiko obesitas, diabetes tipe 2, gangguan metabolik
TERIMA KASIH

MAKRONUTRIEN analisis karbohidrat fix.pptx

  • 1.
  • 2.
    Makronutrien adalah zat giziyang dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar untuk memberikan energi dan mendukung pertumbuhan, pemeliharaan, serta fungsi tubuh secara optimal. Istilah makronutrien berasal dari kata “makro” yang berarti besar, dan “nutrien” yang berarti zat gizi. Makronutrien berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh serta sebagai bahan baku dalam pembentukan struktur sel, jaringan, dan berbagai komponen biologis penting. Dengan demikian, makronutrien dapat didefinisikan sebagai zat gizi esensial yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar, berperan penting sebagai sumber energi, bahan pembangun, dan pengatur berbagai proses biologis untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan manusia secara keseluruhan
  • 3.
    Terdapat tiga jenisutama makronutrien, yaitu: Karbohidrat Protein Lemak (Lipida) Selain itu beberapa literatur juga memasukkan air dan serat pangan ke dalam kategori makronutrien non-energenik, karena meskipun tidak menghasilkan energi, keduanya dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar untuk menjaga keseimbangan cairan, mendukung pencernaan, dan membantu proses fisiologis lainnya.
  • 4.
    ◦ Keseimbangan antaraketiga makronutrien sangat penting untuk menjaga homeostasis tubuh. ◦ Kekurangan salah satu makronutrien dapat menyebabkan gangguan fungsi metabolik, penurunan energi, gangguan pertumbuhan, dan menurunnya daya tahan tubuh. ◦ Sebaliknya, kelebihan asupan makronutrien tertentu, terutama lemak dan karbohidrat sederhana, dapat memicu masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes melitus, dan penyakit kardiovaskular.
  • 5.
    Karbohidrat: Sumber EnergiUtama ◦ Diubah menjadi glukosa untuk energi langsung atau cadangan ◦ Dua jenis: Karbohidrat kompleks (sayur, buah, biji-bijian) dan sederhana (nasi putih, roti, gula) ◦ 1 gram karbohidrat = 4 kalori energi
  • 6.
    Protein: Pembangun danPerbaikan Tubuh ◦ Dicerna menjadi asam amino, penting untuk pembentukan sel dan jaringan ◦ 20 jenis asam amino, 9 esensial harus dari makanan (daging, ikan, telur, susu) ◦ 1 gram protein = 4 kalori energi
  • 7.
    Lemak: Energi danPelindung Organ ◦ Cadangan energi, pelindung organ, bantu penyerapan vitamin ◦ Lemak jenuh (daging, produk susu) dan lemak tak jenuh (ikan, alpukat, kacang) ◦ 1 gram lemak = 9 kalori energi, konsumsi seimbang penting untuk kesehatan jantung
  • 8.
    Dampak Kekurangan Makronutrien ◦Gejala jangka pendek: mudah lapar, lemas, mual, sembelit ◦ Jangka panjang: rambut rontok, kulit kering, anemia, malnutrisi, stunting, imun menurun ◦ Penting memenuhi kebutuhan harian sesuai usia dan kondisi
  • 9.
    Rekomendasi Asupan Harian Makronutrien(Kemenkes RI) ◦ Karbohidrat: 225-325 gram (45-65% kalori harian) ◦ Protein: 56-66 gram (tergantung jenis kelamin dan aktivitas) ◦ Lemak: 44-78 gram (20-35% kalori harian) ◦ Penyesuaian berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kebutuhan individu
  • 10.
    Tips Memenuhi Kebutuhan MakronutrienSeimbang ◦ Pilih karbohidrat kompleks untuk energi tahan lama ◦ Konsumsi protein lengkap dari sumber hewani dan nabati ◦ Pilih lemak tak jenuh untuk kesehatan jantung ◦ Hindari konsumsi berlebihan yang dapat menyebabkan obesitas dan penyakit kronis
  • 11.
  • 12.
    Apa itu Karbohidrat? ◦Senyawa organik yang terdiri dari karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) dengan rasio H:O 2:1 ◦ Sumber energi utama bagi makhluk hidup, menyumbang 70-80% kebutuhan energi manusia ◦ Contoh: glukosa, fruktosa, pati, selulosa
  • 14.
    Klasifikasi Karbohidrat ◦ Monosakarida:gula sederhana, contoh glukosa, fruktosa, galaktosa ◦ Oligosakarida: 3-10 unit monosakarida, contoh sukrosa, laktosa, maltosa ◦ Polisakarida: >20 unit monosakarida, contoh pati, glikogen, selulosa
  • 15.
    Karbohidrat dalam bahanpangan • Berdasarkan struktur kimianya, karbohidrat dapat dikelompokkan menjadi: – karbohidrat dengan struktur yang sederhana (seperti mono-sakarida dan disakarida) – oligosakarida (seperti stakiosa, rafinosa, fruktooligosakarida, galaktooligosakarida) – polisakarida (seperti pati, glikogen, selulosa dan serat pangan).
  • 16.
    Monosakarida • Struktur monosakaridaada yang memiliki gugus fungsional aldehida (seperti glukosa dan galaktosa) dan yang memiliki gugus keton (seperti fruktosa). • Gula yang memiliki gugus aldehida bebas umumnya memiliki sifat mereduksi (disebut juga gula pereduksi). • Struktur kimia monosakarida dapat dinyatakan sebagai struktur garis (proyeksi Fischer) atau struktur cincin (proyeksi Haworth). • Struktur cincin glukosa dan galaktosa adalah piranosa (segi 6), sedangkan fruktosa Adalah Furanosa (Segi 5)
  • 17.
    Struktur glukosa danfruktosa dalam bentuk proyeksi Fischer dan Haworth
  • 18.
  • 19.
    Fungsi Karbohidrat dalamTubuh ◦ Sumber energi langsung (glukosa) ◦ Cadangan energi (glikogen di hati dan otot) ◦ Komponen struktural (selulosa pada tumbuhan) ◦ Penyusun asam nukleat (ribosa dan deoksiribosa)
  • 20.
    Metode Analisis KarbohidratKualitatif ◦ Uji Molisch: deteksi karbohidrat umum dengan warna ungu ◦ Uji Iodin: identifikasi polisakarida (pati) dengan warna biru tua ◦ Uji Benedict dan Barfoed: deteksi gula pereduksi dan monosakarida ◦ Uji Seliwanoff: membedakan fruktosa dan glukosa ◦ Uji Osazon: identifikasi jenis monosakarida melalui kristal osazon
  • 21.
  • 22.
    Analisis kualitatif terhadapsampel Penetapan jenis karbohidrat dalam sampel Ekstraksi Karbohidrat Ekstrak (karbohidrat larut) Pemisahan komponen Analisis Karbohidrat tidak larut Pemisahan komponen Hidrolisis Analisis Skema umum analisis karbohidrat
  • 23.
    Kadar Karbohidrat • Kadarkarbohidrat berdasar analisis proksimat dihitung secara by difference ditentukan dengan rumus sebagai berikut: 100 – (% air + % abu + % lemak + % protein) • Kadar karbohidrat yang dapat dicerna dihitung secara by difference ditentukan dengan rumus sebagai berikut: 100 – (% air + % abu + % lemak + % protein + % serat pangan)
  • 24.
  • 25.
    Molisch Test • UjiKH secara umum • Uji Molisch dinamai sesuai penemunya yaitu Hans Molisch, seorang ahli botani dari Australia. • Prosedur Kerja : a. Masukkan ke dalam tabung reaksi 1 ml sample b. Tambahkan 2 tetes reagen Molish dan dikocok. c. Tambahkan 1 ml H2SO4 Uji Molisch
  • 26.
    Molisch Test • Ujiini didasari oleh reaksi dehidrasi karbohidrat oleh asam sulfat membentuk cincin furfural yang berwarna ungu. • Reaksi positif ditandai dengan munculnya cincin ungu di purmukaan antara lapisan asam dan lapisan sampel • Sampel yang diuji dicampur dengan reagent Molisch, yaitu α-naphthol yang terlarut dalam etanol. • Setelah pencampuran atau homogenisasi, H2SO4 pekat perlahan-lahan dituangkan melalui dinding tabung reaksi agar tidak sampai bercampur dengan larutan atau hanya membentuk lapisan. Uji Molisch
  • 27.
  • 28.
  • 29.
    Benedict Test • Ujikimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa • Prosedur Kerja: a.Masukkan ke dalam tabung reaksi 2 tetes sampel b. Tambahkan 1 ml Benedict. c. Panaskan dalam penangas air. d. Amati hasilnya Uji Benedict
  • 30.
    Benedict Test • Padauji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton. • Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict Uji Benedict
  • 31.
  • 32.
    Barfoed Test • Adalahuji untuk membedakan monosakarida dan disakarida dengan mengontrol kondisi pH serta waktu pemanasan. • Prosedur Kerja : a. tasukkan 5 tetes larutan sample ke dalam tabung reaksi. a. tambahkan 1 ml reagen Barfoed. b. panaskan dalam penangas air, hitung waktu sampai terbentuk perubahan warna merah bata. c. amati hasilnya. Uji Barfoed
  • 33.
    Barfoed Test • Prinsipnyaberdasarkan reduksi Cu2+ menjadi Cu+ • Sampel monosakarida mempunyai waktu yang lebih cepat membentuk warna merah bata pada uji barfoed Uji Barfoed
  • 34.
    Iodine Test • Patidan iodium membentuk ikatan kompleks berwarna biru. • Prosedur kerja: a.1 tetes sample di atas druppel plate. b. tambahkan 1 tetes larutan yodium. c. amati warna yang terjadi. Uji Yodium
  • 35.
    Iodine Test • Patidalam suasana asam bila dipanaskan dapat terhidrolisis menjadi senyawa yang lebih sederhana, hasil pemecahan pati jika diuji dengan iodium akan memberikan warna biru, coklat, kuning sampai tidak berwarna Uji Yodium
  • 36.
  • 37.
  • 38.
    • Sampel harusjernih dan bebas dari pengotor • Pengotor yang dapat mengganggu analisis adalah: • protein (membentuk kekeruhan), • fenol (analisis untuk gula pereduksi), • furan dan turunannya sebagai produk karamelisasi dan reaksi Maillard (metode anthrone) • Jika sampel keruh harus dilakukan pengendapan terlebih dahulu • Gula yang terukur berasal dari gula dan karbohidrat yang larut dalam air Persiapan Sampel cair 17 Sampel Cair
  • 39.
     Gula diekstrakdengan etanol 80% panas  Gula yang terukur adalah gula yang larut dalam etanol yang terdiri dari mono, di, tri, dan tetra, dan oligosakarida  Polisakarida dan protein bersifat tidak larut dalam etanol  Sebelum dilakukan ekstraksi, sebaiknya sampel dibuat bebas lemak Persiapan Sampel Padat 18 Sampel Padat
  • 40.
    Analisis Total gula MetodeAnthrone •Karbohidrat dalam asam sulfat akan dihidrolisis menjadi monosakarida monosakarida mengalami dan selanjutnya dehidrasi oleh asam sulfat menjadi furfural atau hidroksil metil furfural. • Selanjutnya senyaw a furfural ini dengan (9, 10 senyaw a dihidro-9-oxoanthracene) kompleks yang berwarna anthrone membentuk biru.
  • 41.
    PATI • Pati tersusundari dua makromolekul, yaitu amilosa dan amilopektin yang komposisinya berbeda untuk setiap jenis pati. • Kedua makro-molekul ini dibentuk dari monomer D- glukosa dan berada dalam bentuk granula. • Amilosa memiliki struktur linear dimana D-glukosa dihubungkan melalui ikatan -1,4-glikosidik. • amilopektin tersusun oleh monomer D-glukosa yang memiliki gugus percabangan yang dibentuk dari ikatan -1,6-glikosidik di samping ikatan -1,4-glikosidik yang membentuk struktur linear. • Rasio amilosa dan amilo-pektin dalam pati menentukan sifat gelatinisasi pati (kemampuan mengentalkan dan membentuk gel).
  • 42.
    (b) Amylopectin Struktur amilosa(a) dan amilopektin (b)
  • 43.
    Bentuk granula patidari berbagai sumber (birefriengence)
  • 44.
    PATI • Prinsip analisis:pati dihidrolisis oleh asam/enzim, dan hasil hidrolisis pati dianalisis dengan metode gula reduksi. Jumlah gula reduksi ekuivalen dengan jumlah pati • Kadar pati = kadar gula reduksi x 0.9 • BM pati/BM gula = (mX162)/(mX180) = 0.9 • Untuk bahan yang mengandung pati dan dekstrin 19 Analisis Pati
  • 45.
    Prosedur Penetapan • Sampelpadat 2-5 g yang telah dihaluskan atau cair ditambah 50 ml etanol 80% dan aduk selama 1 jam. Suspensi disaring. Filtrat mengandung karbohidrat yang larut dibuang. • Untuk bahan berlemak, maka pati yang terdapat sebagai residu pada kertas saring dicuci 5 kali dengan 10 ml eter, kemudian cuci lagi dengan 150 ml alkohol 10% untuk menghilangkan lebih lanjut karbohidrat terlarut. • Residu dipindahkan ke dalam erlenmeyer dengan pencucian 200 ml aquades dan tambahkan 20 ml HCl  25% (bj 1.125), refluks selama 2,5 jam. • Setelah dingin netralkan dengan larutan NaOH 45% dan encerkan sampai 500 ml, kemudian saring. Kadar glukosa ditentukan. • Penentuan glukosa seperti pada penentuan total gula. Berat glukosa dikalikan 0.9 merupakan berat pati. 20 Analisis Pati
  • 46.
    Gula Reduksi • GulaReduksi • Golongan gula (KH) yang dapat mereduksi senyawa-senyawa penerima elektron, contohnya adalah glukosa dan fruktosa • Ujung dari suatu gula pereduksi adalah ujung yang mengandung gugus aldehida atau keto bebas. Semua monosakarida dan disakarida kecuali sukrosa termasuk sebagai gula pereduksi. Analisis Pati
  • 47.
    Analisis Gula Reduksi(Nelson-Somogyi) Analisis Gula Reduksi (Nelson-Somogyi) • Hasil reduksi kuprooksida yang bereaksi dengan arsenomolybdat dan akan mereduksi menjadi molybdine blue dan warna biru inilah yang akan diukur nilai absorbansinya. Intensitas warna biru yang terbentuk ekivalen dengan jumlah gula reduksi dalam sampel Analisis Pati
  • 48.
    Contoh Kasus Konsentrasi Absorbansi blanko0.089 2 mg/100ml 0.146 – 0.089 = 0.057 4 mg/100ml 0.189 – 0.089 = 0.100 6 mg/100ml 0.301 – 0.089 = 0.212 8 mg/100ml 0.370 – 0.089 = 0.281 10 mg/100ml 0.432 – 0.089 = 0.343 Analisis Pati
  • 49.
    Kurva Standar • KurvaStandart Analisis Pati
  • 50.
    Contoh soal : •Contoh Soal : • Berdasarkan kurva glukosa standar tersebut, hitung konsentrasi gula reduksi hasil hidrolisis sampel pati jika nilai absorbansi yang didapat adalah 0.5 Analisis Pati
  • 51.
    SERAT • Serat kasaradalah residu dari bahan pangan yang telah diperlakukan dengan asam dan alkali mendidih. • Serat kasar ditentukan dengan cara menentukan residu setelah contoh bahan pangan diperlakukan dengan asam dan basa kuat. • Serat pangan adalah bagian dari komponen bahan pangan nabati yang tidak dapat dicerna oleh saluran pencernaan manusia. • Serat pangan dapat ditentukan dengan menganalisis kadar acid detergent fiber (ADF), neutral detergent fiber (NDF), lignin dan substansi
  • 52.
    SERAT KASAR • SeratKasar • Komponen bahan pangan yang tidak tercerna yang dinyatakan sebagai komponen tidak larut asam/alkali encer • Residu hasil digesti: serat kasar yang terdiri dari lignin dan selulosa 26 Analisis Serat Kasar
  • 53.
    Penetapan Serat Kasar •Serat kasar merupakan residu dari bahan makanan atau produk pertanian setelah diberi perlakuan asam dan alkali mendidih, yang terdiri dari selulosa dan sedikit lignin dan pentosan • Merupakan metode gravimetri 27 Analisis Serat Kasar
  • 54.
    Prosedur • Haluskan bahansehingga dapat melalui ayakan diameter 1 mm dan campurlah baik-baik. Kalau bahan tak dapat dihalusksan, hancurkan sebaik mungkin. • Timbang 2 g bahan kering dan ekstraksi lemaknya dengan soxhlet. Kalau bahan sedikit mengandung lemak, misalnya sayur-sayuran gunakan 10 g bahan; tidak perlu dikeringkan dan diekstraksi lemaknya • Pindahkan bahan ke dalam erlenmeyer 600 ml. Kalau ada tambahkan 0,5 g asbes yang telah dipijarkan dan 3 tetes zat anti buih (antifoam agent). 28 Analisis Serat Kasar
  • 55.
    Analisis Serat Kasar •Tambahkan 200 ml larutan H2SO4 mendidih (125 g H2SO4 pekat/100 ml = 0.255 N H2SO4) dan tutuplah dengan pendidngin balik, didihkan selama 30 menit dengan kadangkala digoyang-goyangkan. • Saring suspensi melalui kertas saring dan residu yang tertinggal dalam erlenmeyer dicuci dengan aquades mendidih. Cucilah residu dalam kertas saring sampai air cucian tidak bersifat asam lagi (uji dengan kertas lakmus). • Pindahkan secara kuantitatif residu dari kertas saring ke dalam erlenmeyer kembali dengan spatula dan sisanya dicuci dengan larutan NaOH mendidih (1.25g NaOH/100ml = 0,313 N NaOH) sebanyak 200 ml sampai semua residu masuk ke dalam erlenmeyer. Dididihkan dengan pendingin balik sambil kadangkala digoyang- goyangkan selama 30 menit.
  • 56.
    Serat Pangan (DietaryFiber) • Analisis selulosa, hemiselulosa, lignin dan substansi pektat, meliputi : • Metode ADF (Acid Detergent Fiber) • Metode NDF (Neutral Detergent Fiber) • Penetapan Lignin • Penetapan Substansi Pektat Analisis Serat Pangan
  • 57.
    NDF : NeutralDetergent Fiber • Prinsip penetapan NDF adalah dengan mengekstrak contoh dengan larutan NDF yang terdiri dari campuran EDTA, Na2B4O7.10H2O, lauril sulfat, Na2HPO4 dan 2-etoksi-etanol) sehingga seluruh komponen selain komponen NDF larut. • Komponen yang tidak larut kemudian disaring, dikeringkan, ditimbang dan dikoreksi dengan kandungan mineralnya.
  • 58.
    ADF : AcidDetergent Fiber • Prinsip penetapan ADF adalah dengan mengekstrak contoh dengan larutan ADF (setiltrimetil amonium bromida dalam H2SO4 1N), sehingga seluruh komponen selain komponen ADF larut. • Komponen yang tidak larut kemudian disaring, dikeringkan, ditimbang dan dikoreksi dengan kandungan mineralnya.
  • 59.
    Serat Pangan (DietaryFiber) • Analisis metode deterjen (NDF dan ADF) didasarkan pada kemampuan deterjen melarutkan lemak, komponen mengandung N, gula dan bbrp jenis pati. • ADF : sebagian besar selulosa dan lignin • NDF : sebagian besar selulosa, hemiselulosa dan lignin Analisis Serat Pangan
  • 60.
    Sehingga : • Kadarhemiselulosa = kadar NDF – ADF • Kadar selulosa = kadar ADF – kadar lignin • Total serat pangan = kadar NDF + substansi pektat Analisis Serat Pangan
  • 61.
    Metode ADF • Ekstraksicontoh sampel dengan larutan ADF (setilmetril amonium bromida dalam H2SO4 1 N) • Komponen selain ADF larut, komponen tak larut disaring, dikeringkan dan ditimbang • Dikoreksi kandungan mineralnya dengan pengabuan kering • Kadar ADF = selisih berat residu setelah diabukan dengan berat sampel awal Analisis Serat Pangan
  • 62.
    Metode NDF • Untuksampel mengandung pati, hidrolisis dg alfa amilase terlebih dahulu • Ekstraksi contoh sampel dengan larutan NDF (campuran EDTA, Na2B4O7.10H2O, lauril sulfat, Na2HPO4 dan 2-etoksi etanol) hingga seluruh komponen non NDF larut • Komponen tak larut disaring, dikeringkan, ditimbang dan dikoreksi kandungan mineralnya dg pengabuan kering • Kadar NDF = selisih berat residu setelah diabukan dengan berat sampel awal Analisis Serat Pangan
  • 63.
    Penetapan Lignin • Ekstraksicontoh sampel dengan larutan NDF (sehingga seluruh komponen selain selulosa dan lignin larut) • Selulosa dlm residu dihidrolisis dengan H2SO4 72%, hingga hanya lignin yg ada dlm residu • Komponen tak larut disaring, dikeringkan, ditimbang dan dikoreksi kandungan mineralnya dg pengabuan kering • Kadar lignin = selisih berat residu setelah diabukan dengan berat sampel awal Analisis Serat Pangan
  • 64.
    Penetapan Substansi Pektat •1. Reaksi antara O-hidroksi difenil dengan anhidrogalakturonat yang menghasilkan warna yang dapat diukur pada panjang gelombang 520nm… atau • 2. Metode gravimetri : pektin yg telah diekstrak dr sampel, disaponifikasi dengan alkali dan diendapkan sebagai kalsium pektat (dg penambahan kalsium klorida dlm kondisi asam) Endapan kalsium pektat dicuci sampai bebas klorida dikeringkan dan ditimbang residu nya Analisis Serat Pangan
  • 65.
    Pentingnya Analisis Karbohidrat ◦Menjamin kualitas dan keamanan produk pangan ◦ Memahami kandungan energi dan nilai gizi makanan ◦ Membantu pengembangan produk fungsional dan probiotik
  • 66.
    Sumber Karbohidrat Sehari-hari ◦Sereal dan biji-bijian: beras, gandum, jagung ◦ Umbi-umbian: kentang, singkong ◦ Buah-buahan dan sayuran ◦ Produk susu dan gula meja
  • 67.
    Kebutuhan Karbohidrat Harian ◦Disarankan 45-65% dari total kalori harian berasal dari karbohidrat ◦ Contoh: untuk kebutuhan 2000 kalori, karbohidrat sekitar 225-325 gram per hari
  • 68.
    Pencernaan dan Metabolisme Karbohidrat ◦Mulai di mulut dengan enzim amilase saliva memecah pati ◦ Di usus halus, karbohidrat dipecah menjadi monosakarida untuk diserap ◦ Glukosa masuk ke darah dan digunakan sebagai bahan bakar sel
  • 69.
    Akibat Kekurangan danKelebihan Karbohidrat ◦ Kekurangan: energi rendah, mudah lelah, gangguan fungsi otak ◦ Kelebihan: risiko obesitas, diabetes tipe 2, gangguan metabolik
  • 70.