1 | M a s a D e p a n P a n c a s i l a
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di zaman ini banyak masyarakat yang hanya menjadikan pancasila
sebagai simbol dasar negara, tetapi dalam penerapannya seringkali
mengabaikannya. Jika saat ini saja pancasila sering di abaikan lantas
bagaimana nasib pancasila di masa depan? Hal ini disebabkan karena
minimnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengimplementasikan
pancasila sebagai dasar Negara Indonesia. Oleh karena itu, penulis berusaha
untuk mengkaji dan mendiskusikan lebih lanjut mengenai masalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi pancasila?
2. Bagaimana masa depan pancasila?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan menguraikan definisi pancasila
2. Menguraikan bagaimana masa depan pancasila
1.4 Manfaat
Dengan tulisan ini, penulis dan pembaca bisa mengetahui cara-cara yang
tepat untuk menanamkan rasa peduli akan penerapan pancasila dalam
kehidupan dan pendidikan pancasila, sehingga masa depan pancasila lebih
cerah
2 | M a s a D e p a n P a n c a s i l a
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Pancasila
Secara etimologis, pancasila berasal dari bahasa sanskerta, yakni kata
pancasyila atau pancasyiila. Pancasyila (dengan huruf “I” pendek) berarti lima
alas atau lima dasar. Sedangkan pancasyiila (dengan huruf “ii” panjang) berarti
lima peraturan tingkah laku yang baik. Dalam kajian akademik, pembahasan
tentang latar belakang pancasila pada umumnya menunjuk pada buku
Negarakertagama, karya Empu Prapanca di masa Majaphit. Didalamnya
ditemukan penggunaan kata “Pancasila” yang berbunyi : Yatnanggegwani
pancasyila kertasangkara bhisekakarama, artinya : Raja menjalankan lima
pantangan dengan setia, begitu pula upacara-upacara ibadat dan penobatan-
penobatan. Rujukan itu menunjukkan bahwa Pancasila awalnya lebih dilihat pada
dimensi etis-moralnya serta menjadi alasan pembenar bahwa pancasila memiliki
latar belakang sejarah seta sosio-kultural bangsa Indonesia sendiri. Dengan
demikian, Pancasila merupakan kristalisasi nilai-niliai luhur bangsa Indonesia,
yang berakar sejak ratusan tahun yang silam, jauh sebelum Pancasila ditetapkan
sebagai dasar negara Indonesia.
Pancasila adalah dasar Negara Indonesia yang merupakan fungsi
utamanya dan dari segi materinya digali dari pandangan hidup dan kepribadian
bangsa (Durdodiharjo, 1998: 17). Pancasila adalah dasar Negara bangsa Indonesia
yang mempunyai fungsi dalam hidup dan kehidupan bangsa dan Negara
Indonesia tidak saja sebagai dasar negara RI,tapi juga alat pemersatu bangsa,
kepribadian bangsa, pandangan hidup bangsa,sumber dari segala sumber hukum
dan sumber ilmu pengetahuan di Indonesia (Azis, 1984: 70). Dari sini dapat kita
ketahuibahwa pancasila merupakan dasar Negara yang digali dari pandangan
hidup bangsa yang dijadikan sebagai dasar Negara dan identitas bangsa untuk
membedakannya dari Negara lain.
3 | M a s a D e p a n P a n c a s i l a
2.2 Masa Depan Pancasila
Untuk merawat masa depan pancasila yang harus dijaga adalah membuat
pancasila tetap relevan dengan kehidupan bangsa. Menjaga pancasila tidak lagi
dapat dilakukan dengan mitos “Pancasila sakti” karena telah mampu melewati
upaya penggantian dengan ideology lain. Merawat pancasila juga tidak dapat
dilakukan dengan menghakimi pemikiran- pemikiran baru yang berbeda dengan
pemikira yang disampaikan oleh pendiri bangsa. Setiap generasi hidup di zaman
dan alam pikir berbeda. Jika hal itu dilakukan , akan terjadi monopoli kebenaran
atas pancasila yang sering dipaksakan dengan kekerasan. Pancasila turun derajat
sebagai label pembenar atas pemikiran dan tindakan yang tidak sesuai dengan
semangat zaman. Pancasila pun akan lebih dipersepsi secara negatif sebagai
pikiran masalalu, atau setidak-tidaknya sebaga pikiran orang masalalu yang tidak
mampu beradaptasi dengan masa kini. Lebih khawatir lagi ketika pancasila
di[ersepsi sebagai cara- cara paksaan dan kekerasan seperti yang di praktikkan
oleh kelompok yang menklaim sebagai penjaga pancasila.
Masa depan pancasila akan tetap cerah dan terjaga ketika dielaborasi
melalui pemikiran yang terbuka. Untuk menemukan keunggulan dan relevansi
pancasila tentu harus membandingkan dengan system nilai lain , atau bahkan
menemukan pemahaman dan pemaknaan baru dari dialog antar system nilai.
Upaya mensosialisasikan pancasila tidak dapat lagi dilakukan dengan doktrinasi,
pidato berapi-api, ataupun orasi dengan penuh kemarahan, sembari menciptakan
halusinasi ancaman-ancaman terhadap pancasila, padahal sumber masalah ada
pada diri sendiri. Sosialisasi pembumian pancasila harus dilakukan secara
dialogis dan kontekstual sehingga nyaman dan relevan dengan persoalan yang
dihadapi oleh masyarakat Indonesia (Muchamad Ali safa’at:2016)
Dinamika dalam mangaktualisasikan nilai pancasila ke dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah suatu keniscayaan, agar pancasila
selalu relevan dalam fungsinya memberikan pedoman bagi pengambilan
kebijaksanaan dan pemecahan masalah dalam kehidupa berbangsa dan bernegara,
4 | M a s a D e p a n P a n c a s i l a
Agar loyalitas warga masyarakat dan warganegara terhadap pancasila tetap tinggi.
Di pihak lain, apatisme dan resistensi terhadap terhadap pancasila bisa
diminimalisir (Mulyono: 2010).
Situasi dan kondisi masyarakat kita dewasa ini menghadapkan kita pada
suatu keprihatinan dan sekaligus juga mengundang kita untuk ikut bertanggung
jawab atas mosaik Indonesia yang retak bukan sebagai ukiran melainkan
membelah dan meretas jahitan busana tanah air, tercabik-cabik dalam kerusakan
yang menghilangkan keindahannya. Untaian kata-kata dalam pengantar
sebagaimana tersebut merupakan tamsilan bahwasanya bangsa Indonesia yang
dahulu dikenal sebagai “het zachste ter aarde” dalam pergaulan antar bangsa,
kini sedang mengalami tidak saja krisis identitas melainkan juga krisis dalam
berbagai dimensi kehidupan yang melahirkan instabilitas yang berkepanjangan
semenjak reformasi digulirkan pada tahun 1998 (Koento W, 2005).
Krisis moneter yang kemudian disusul krisis ekonomi dan politik yang
akar-akarnya tertanam dalam krisis moral dan menjalar ke krisis budaya,
menjadikan masyarakat kita kehilangan orientasi nilai, hancur dan kasar, gersang
dalam kemiskinan budaya dan kekeringan spiritual. “societal terrorism” muncul
dan berkembang disana-sini dalam fenomena pergolakan fisik, pembakaran dan
penjarahan disertai pembunuhan sebagaiman terjadi di Poso, Ambon, dan bom
bunuh diri diberbagai tempat yang disiarkan secara luas baik media massa dalam
maupun luar negeri. Semenjak peristiwa pergolakan antar etnis, bangsa Indonesia
di forum internasional dilecehkan sebagai bangsa yang kehilangan peradabannya.
Kehalusan budi, sopan santun dalam sikap dan perbuatan, kerukunan,
toleransi dan solidaritas sosial, idealisme dan sebagainya telah hilang hanyut
dilanda oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang penuh paradoks.
Berbagai lembaga kocar-kacir dalam malfungsi dan disfungsi. Trust atau
kepercayaan antar sesama baik vertikal maupun horizontal telah lenyap dalam
kehidupan bermasyarakat. Identitas nasional kita dilecehkan dan dipertanyakan
eksistensinya.
5 | M a s a D e p a n P a n c a s i l a
Dengan keadaan yang tidak begitu baik ini perlu adanya revitalisasi
pancasila yaitu dengan menghidupkan kembali nilai-nilai pancasila. Revitalisasi
pancasila sebagaimana manifestasi identitas nasional pada gilirannya harus
diarahkan juga pada pembinaan dan pengembangan moral, sedemikian rupa
sehingga moralitas pancasila dapat dijadikan dasar dan arah dalam upaya untuk
mengatasi krisis dan disintegrasi yang cenderung sudah menyentuh ke semua segi
dan sendi kehidupan, dan harus kita sadari bahwa moralitas pancasila akan
menjadi tanpa makna, menjadi sebuah “karikatur” apabila tidak disertai dukungan
suasana kehidupan secara kondusif. Antara moralitas dan hukum memang
terdapat korelasi yang sangat erat, dalam arti bahwa moralitas yang tidak
didukung oleh kehidupan hukum yang kondusif akan menjadi subjektivitas yang
satu sama lain akan saling berbenturan, sebaliknya ketentuan hokum yang disusun
tanpa disertai dasar dan alasan moral akan melahirkan suatu legalisme yang
represif, kontra produktif dan bertentangan dengan nilai-nilai pancasila itu sendiri.
6 | M a s a D e p a n P a n c a s i l a
BAB III
KESIMPULAN
Pancasila adalah dasar negara bangsa Indonesia yang mempunyai fungsi
dalam hidup dan kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Pancasila tidak saja
sebagai dasar negara RI,tapi juga alat pemersatu bangsa, kepribadian bangsa, identitas
bangsa, pandangan hidup bangsa, dan sumber dari segala sumber hokum di
Indonesia.
Untuk merawat masa depan pancasila yang harus dijaga adalah membuat
pancasila tetap relevan dengan kehidupan bangsa. Dinamika dalam
mangaktualisasikan nilai pancasila ke dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara adalah suatu keniscayaan, agar pancasila selalu relevan dalam
fungsinya memberikan pedoman bagi pengambilan kebijaksanaan dan pemecahan
masalah dalam kehidupa berbangsa dan bernegara, Agar loyalitas warga masyarakat
dan warganegara terhadap pancasila tetap tinggi. OLeh karena itu, perlu adanya
revitalisasi pancasila yaitu dengan menghidupkan kembali nilai-nilai pancasila.
Revitalisasi pancasila sebagaimana manifestasi identitas nasional pada gilirannya
harus diarahkan juga pada pembinaan dan pengembangan moral, sedemikian rupa
sehingga moralitas pancasila dapat dijadikan dasar dan arah dalam upaya untuk
mengatasi krisis dan disintegrasi yang cenderung sudah menyentuh ke semua segi
dan sendi kehidupan, dan harus kita sadari bahwa moralitas pancasila akan menjadi
tanpa makna, menjadi sebuah “karikatur” apabila tidak disertai dukungan suasana
kehidupan secara kondusif.
7 | M a s a D e p a n P a n c a s i l a
DAFTAR PUSTAKA
Herdiawanto, Heri dan Jumanta Hamdayama. 2010.Cerdas, Kritis, dan Aktif
Berwarganegara (Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan
Tinggi). Jakarta: Penerbit Erlangga
Jalaludin dan Abdullah Idi. 2012. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan
Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Afiyah, Siti. 2015. Pancasila Yuridis Kenegaraan. Surabaya: R.A.De.Rozarie
Syarbaini, Syahrial, dkk. 2006. Membangun Karakter dan Kepribadian Melalaui
Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Graha Ilmu

Makalah

  • 1.
    1 | Ma s a D e p a n P a n c a s i l a BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di zaman ini banyak masyarakat yang hanya menjadikan pancasila sebagai simbol dasar negara, tetapi dalam penerapannya seringkali mengabaikannya. Jika saat ini saja pancasila sering di abaikan lantas bagaimana nasib pancasila di masa depan? Hal ini disebabkan karena minimnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengimplementasikan pancasila sebagai dasar Negara Indonesia. Oleh karena itu, penulis berusaha untuk mengkaji dan mendiskusikan lebih lanjut mengenai masalah ini. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa definisi pancasila? 2. Bagaimana masa depan pancasila? 1.3 Tujuan 1. Mengetahui dan menguraikan definisi pancasila 2. Menguraikan bagaimana masa depan pancasila 1.4 Manfaat Dengan tulisan ini, penulis dan pembaca bisa mengetahui cara-cara yang tepat untuk menanamkan rasa peduli akan penerapan pancasila dalam kehidupan dan pendidikan pancasila, sehingga masa depan pancasila lebih cerah
  • 2.
    2 | Ma s a D e p a n P a n c a s i l a BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Pancasila Secara etimologis, pancasila berasal dari bahasa sanskerta, yakni kata pancasyila atau pancasyiila. Pancasyila (dengan huruf “I” pendek) berarti lima alas atau lima dasar. Sedangkan pancasyiila (dengan huruf “ii” panjang) berarti lima peraturan tingkah laku yang baik. Dalam kajian akademik, pembahasan tentang latar belakang pancasila pada umumnya menunjuk pada buku Negarakertagama, karya Empu Prapanca di masa Majaphit. Didalamnya ditemukan penggunaan kata “Pancasila” yang berbunyi : Yatnanggegwani pancasyila kertasangkara bhisekakarama, artinya : Raja menjalankan lima pantangan dengan setia, begitu pula upacara-upacara ibadat dan penobatan- penobatan. Rujukan itu menunjukkan bahwa Pancasila awalnya lebih dilihat pada dimensi etis-moralnya serta menjadi alasan pembenar bahwa pancasila memiliki latar belakang sejarah seta sosio-kultural bangsa Indonesia sendiri. Dengan demikian, Pancasila merupakan kristalisasi nilai-niliai luhur bangsa Indonesia, yang berakar sejak ratusan tahun yang silam, jauh sebelum Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia. Pancasila adalah dasar Negara Indonesia yang merupakan fungsi utamanya dan dari segi materinya digali dari pandangan hidup dan kepribadian bangsa (Durdodiharjo, 1998: 17). Pancasila adalah dasar Negara bangsa Indonesia yang mempunyai fungsi dalam hidup dan kehidupan bangsa dan Negara Indonesia tidak saja sebagai dasar negara RI,tapi juga alat pemersatu bangsa, kepribadian bangsa, pandangan hidup bangsa,sumber dari segala sumber hukum dan sumber ilmu pengetahuan di Indonesia (Azis, 1984: 70). Dari sini dapat kita ketahuibahwa pancasila merupakan dasar Negara yang digali dari pandangan hidup bangsa yang dijadikan sebagai dasar Negara dan identitas bangsa untuk membedakannya dari Negara lain.
  • 3.
    3 | Ma s a D e p a n P a n c a s i l a 2.2 Masa Depan Pancasila Untuk merawat masa depan pancasila yang harus dijaga adalah membuat pancasila tetap relevan dengan kehidupan bangsa. Menjaga pancasila tidak lagi dapat dilakukan dengan mitos “Pancasila sakti” karena telah mampu melewati upaya penggantian dengan ideology lain. Merawat pancasila juga tidak dapat dilakukan dengan menghakimi pemikiran- pemikiran baru yang berbeda dengan pemikira yang disampaikan oleh pendiri bangsa. Setiap generasi hidup di zaman dan alam pikir berbeda. Jika hal itu dilakukan , akan terjadi monopoli kebenaran atas pancasila yang sering dipaksakan dengan kekerasan. Pancasila turun derajat sebagai label pembenar atas pemikiran dan tindakan yang tidak sesuai dengan semangat zaman. Pancasila pun akan lebih dipersepsi secara negatif sebagai pikiran masalalu, atau setidak-tidaknya sebaga pikiran orang masalalu yang tidak mampu beradaptasi dengan masa kini. Lebih khawatir lagi ketika pancasila di[ersepsi sebagai cara- cara paksaan dan kekerasan seperti yang di praktikkan oleh kelompok yang menklaim sebagai penjaga pancasila. Masa depan pancasila akan tetap cerah dan terjaga ketika dielaborasi melalui pemikiran yang terbuka. Untuk menemukan keunggulan dan relevansi pancasila tentu harus membandingkan dengan system nilai lain , atau bahkan menemukan pemahaman dan pemaknaan baru dari dialog antar system nilai. Upaya mensosialisasikan pancasila tidak dapat lagi dilakukan dengan doktrinasi, pidato berapi-api, ataupun orasi dengan penuh kemarahan, sembari menciptakan halusinasi ancaman-ancaman terhadap pancasila, padahal sumber masalah ada pada diri sendiri. Sosialisasi pembumian pancasila harus dilakukan secara dialogis dan kontekstual sehingga nyaman dan relevan dengan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia (Muchamad Ali safa’at:2016) Dinamika dalam mangaktualisasikan nilai pancasila ke dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah suatu keniscayaan, agar pancasila selalu relevan dalam fungsinya memberikan pedoman bagi pengambilan kebijaksanaan dan pemecahan masalah dalam kehidupa berbangsa dan bernegara,
  • 4.
    4 | Ma s a D e p a n P a n c a s i l a Agar loyalitas warga masyarakat dan warganegara terhadap pancasila tetap tinggi. Di pihak lain, apatisme dan resistensi terhadap terhadap pancasila bisa diminimalisir (Mulyono: 2010). Situasi dan kondisi masyarakat kita dewasa ini menghadapkan kita pada suatu keprihatinan dan sekaligus juga mengundang kita untuk ikut bertanggung jawab atas mosaik Indonesia yang retak bukan sebagai ukiran melainkan membelah dan meretas jahitan busana tanah air, tercabik-cabik dalam kerusakan yang menghilangkan keindahannya. Untaian kata-kata dalam pengantar sebagaimana tersebut merupakan tamsilan bahwasanya bangsa Indonesia yang dahulu dikenal sebagai “het zachste ter aarde” dalam pergaulan antar bangsa, kini sedang mengalami tidak saja krisis identitas melainkan juga krisis dalam berbagai dimensi kehidupan yang melahirkan instabilitas yang berkepanjangan semenjak reformasi digulirkan pada tahun 1998 (Koento W, 2005). Krisis moneter yang kemudian disusul krisis ekonomi dan politik yang akar-akarnya tertanam dalam krisis moral dan menjalar ke krisis budaya, menjadikan masyarakat kita kehilangan orientasi nilai, hancur dan kasar, gersang dalam kemiskinan budaya dan kekeringan spiritual. “societal terrorism” muncul dan berkembang disana-sini dalam fenomena pergolakan fisik, pembakaran dan penjarahan disertai pembunuhan sebagaiman terjadi di Poso, Ambon, dan bom bunuh diri diberbagai tempat yang disiarkan secara luas baik media massa dalam maupun luar negeri. Semenjak peristiwa pergolakan antar etnis, bangsa Indonesia di forum internasional dilecehkan sebagai bangsa yang kehilangan peradabannya. Kehalusan budi, sopan santun dalam sikap dan perbuatan, kerukunan, toleransi dan solidaritas sosial, idealisme dan sebagainya telah hilang hanyut dilanda oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang penuh paradoks. Berbagai lembaga kocar-kacir dalam malfungsi dan disfungsi. Trust atau kepercayaan antar sesama baik vertikal maupun horizontal telah lenyap dalam kehidupan bermasyarakat. Identitas nasional kita dilecehkan dan dipertanyakan eksistensinya.
  • 5.
    5 | Ma s a D e p a n P a n c a s i l a Dengan keadaan yang tidak begitu baik ini perlu adanya revitalisasi pancasila yaitu dengan menghidupkan kembali nilai-nilai pancasila. Revitalisasi pancasila sebagaimana manifestasi identitas nasional pada gilirannya harus diarahkan juga pada pembinaan dan pengembangan moral, sedemikian rupa sehingga moralitas pancasila dapat dijadikan dasar dan arah dalam upaya untuk mengatasi krisis dan disintegrasi yang cenderung sudah menyentuh ke semua segi dan sendi kehidupan, dan harus kita sadari bahwa moralitas pancasila akan menjadi tanpa makna, menjadi sebuah “karikatur” apabila tidak disertai dukungan suasana kehidupan secara kondusif. Antara moralitas dan hukum memang terdapat korelasi yang sangat erat, dalam arti bahwa moralitas yang tidak didukung oleh kehidupan hukum yang kondusif akan menjadi subjektivitas yang satu sama lain akan saling berbenturan, sebaliknya ketentuan hokum yang disusun tanpa disertai dasar dan alasan moral akan melahirkan suatu legalisme yang represif, kontra produktif dan bertentangan dengan nilai-nilai pancasila itu sendiri.
  • 6.
    6 | Ma s a D e p a n P a n c a s i l a BAB III KESIMPULAN Pancasila adalah dasar negara bangsa Indonesia yang mempunyai fungsi dalam hidup dan kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Pancasila tidak saja sebagai dasar negara RI,tapi juga alat pemersatu bangsa, kepribadian bangsa, identitas bangsa, pandangan hidup bangsa, dan sumber dari segala sumber hokum di Indonesia. Untuk merawat masa depan pancasila yang harus dijaga adalah membuat pancasila tetap relevan dengan kehidupan bangsa. Dinamika dalam mangaktualisasikan nilai pancasila ke dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah suatu keniscayaan, agar pancasila selalu relevan dalam fungsinya memberikan pedoman bagi pengambilan kebijaksanaan dan pemecahan masalah dalam kehidupa berbangsa dan bernegara, Agar loyalitas warga masyarakat dan warganegara terhadap pancasila tetap tinggi. OLeh karena itu, perlu adanya revitalisasi pancasila yaitu dengan menghidupkan kembali nilai-nilai pancasila. Revitalisasi pancasila sebagaimana manifestasi identitas nasional pada gilirannya harus diarahkan juga pada pembinaan dan pengembangan moral, sedemikian rupa sehingga moralitas pancasila dapat dijadikan dasar dan arah dalam upaya untuk mengatasi krisis dan disintegrasi yang cenderung sudah menyentuh ke semua segi dan sendi kehidupan, dan harus kita sadari bahwa moralitas pancasila akan menjadi tanpa makna, menjadi sebuah “karikatur” apabila tidak disertai dukungan suasana kehidupan secara kondusif.
  • 7.
    7 | Ma s a D e p a n P a n c a s i l a DAFTAR PUSTAKA Herdiawanto, Heri dan Jumanta Hamdayama. 2010.Cerdas, Kritis, dan Aktif Berwarganegara (Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi). Jakarta: Penerbit Erlangga Jalaludin dan Abdullah Idi. 2012. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Afiyah, Siti. 2015. Pancasila Yuridis Kenegaraan. Surabaya: R.A.De.Rozarie Syarbaini, Syahrial, dkk. 2006. Membangun Karakter dan Kepribadian Melalaui Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Graha Ilmu