ASMA
PPOK
NAMA KELOMPOK
ADELA FEBRI MONIKA 2443087021
AYU WULANDARI 2443087008
LELLY FARIDA 2343087019
RATNA DILLAH 2443087001
ASMA
Penyakit Asma (Asthma) adalah suatu
penyakit kronik (menahun) yang
menyerang saluran pernafasan
(bronchiale) pada paru dimana terdapat
peradangan (inflamasi) dinding rongga
bronchiale sehingga mengakibatkan
penyempitan saluran nafas yang
akhirnya seseorang mengalami sesak
nafas.
PATOLOGIS
Pada suatu serangan asma, otot polos dari
bronki mengalami kejang dan jaringan
yang melapisi saluran udara mengalami
pembengkakan karena adanya
peradangan dan pelepasan lendir ke dalam
saluran udara. Hal ini akan memperkecil
diameter dari saluran udara (disebut
bronkokonstriksi) dan penyempitan ini
menyebabkan penderita harus berusaha
sekuat tenaga supaya dapat bernafas.
TANDA DAN GEJALA ASMA
1.Pernafasan berbunyi (wheezing/mengi/bengek) terutama
saat mengeluarkan nafas (exhalation). Tidak semua
penderita asma memiliki pernafasan yang berbunyi, dan tidak
semua orang yang nafasnya terdegar wheezing adalah
penderita asma
2. Adanya sesak nafas sebagai akibat penyempitan
saluran bronki (bronchiale)
3. Batuk berkepanjangan di waktu malam hari atau
cuaca dingin.
4. Adanya keluhan penderita yang merasakan dada
sempit..
5. Serangan asma yang hebat menyebabkan penderita
tidak dapat berbicara karena kesulitannya dalam
mengatur pernafasan.
PENYEBAB ASMA
pada penderita asma saluran
pernapasannya memiliki sifat yang khas
yaitu sangat peka terhadap berbagai
rangsangan (bronchial hyperreactivity =
hipereaktivitas saluran napas) seperti
polusi udara (asap, debu, zat kimia),
serbuk sari, udara dingin, makanan,
hewan berbulu, tekanan jiwa, bau/aroma
menyengat (misalnya;parfum) dan
olahraga.
OBAT OBAT YANG DAPAT
MENYEBABKAN ASMA
OBAT INHIBITOR
PROSTAGLANDIN
(NSAID)
Obat-obat antagonis
simpatis yg ß1 (antagonis
reseptor beta1,
adrenergik), ex: obat
hipertensi, obat jantung
(propanolol).
Zat-zat hasil
industri
ex: obat anti
serangga.
OBAT-OBAT UNTUK ASMA
Turunan xantin (bronkodilatasi)
aminophilyn, theofillyn.
Kortikosteroid (anti inflamasi)
ex:prednison, metilprednisolon
Garam-garam kromolin (profilaksis, untuk
mencegah keluarnya AH=anti histamin)
Imunosupresan (obat yang menekan
reaksi AgAb juga sebagai anti inflamasi)
ex:metotreksat
PENANGANAN
ASMA
Asma dapat diterapi dengan 2 macam
cara:
Cara pertama merupakan terapi non-
obat, dapat dilakukan dengan
menghindari pemicunya, atau dengan
terapi napas (senam asma).
Cara kedua dengan melibatkan obat-
obat asma
Terapi melibatkan obat-obat asma yang
digolongkan menjadi 2 melibatkan obat-obat asma
yang digolongkan menjadi 2
untuk penggunaan jangka
panjang yang berguna
mengontrol gejala asma dan
sebagai terapi untuk mencegah
kekambuhan (long-term
prevention)
obat asma untuk penggunaan
jangka pendek yang merupakan
pengobatan cepat untuk
mengatasi serangan asma akut
(short-term relief).
TERAPI JANGKA PANJANG
Obat jangka panjang memberikan pencegahan jangka
panjang terhadap gejala asma, menekan, mengontrol,
dan menyembuhkan inflamasi jika digunakan teratur
namun tidak efektif untuk mengatasi serangan akut.
Beberapa obat jangka panjang antara lain kortikosteroid
inhalasi yang merupakan obat paling efektif, beta-2
agonis aksi panjang dan metil ksantin (teofilin) untuk
mengatasi gejala asma pada malam hari (gejala
nocturnal), kromolin dan nedokromil sebagai
antiinflamasi
TERAPI JANGKA PENDEK
Sedangkan untuk jangka pendek, berupa
obat-obat bronkodilator (salbutamol,
terbutalin, dan ipratropium) dan
kortikosteroid oral ketika serangannya
sedang sampai berat.
Untuk jangka panjang dan pendek, dapat
digunakan obat-obat sistemik
(prednisolon, prednison,
metilprednisolon).
ASMA PADA KEHAMILAN
Obat-obat jenis beta agonis adalah yang
paling sering diberikan karena menurut
hasil riset obat-obat beta agonis tidak
meningkatkan risiko timbulnya kelainan
kongenital dan kelainan lain.
Albuterol atau salbutamol adalah jenis
beta agonis yang paling banyak
digunakan.
Apabila beta agonis tidak memberikan
perbaikan, pada terapi asma akut secara
umum dan pada wanita hamil dapat
disertakan pemberian bronkodilator
seperti Nebulized Ipratropium.
PPOK
(PENYAKIT PARU
OBSTRUKTIF KRONIS)
PPOK
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah kondisi
penyakit paru progresif yang ditandai dengan hambatan
aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Kondisi ini
disebabkan oleh respons inflamasi kronis paru-paru
terhadap gas atau partikel berbahaya, paling sering dari
asap rokok.
PPOK mencakup dua kondisi utama:
1. Bronkitis kronis: Peradangan saluran napas besar dengan
produksi dahak kronis ≥3 bulan dalam setahun selama 2
tahun berturut-turut.
2. Emfisema: Kerusakan alveoli (kantong udara paru-paru),
menyebabkan kesulitan dalam pertukaran gas
FAKTOR RISIKO PPOK
Merokok
Paparan polutan
(asap kendaraan, asap
pembakaran biomasa
kayu arang)
infeksi saluran
berulang saat
anak-anak
Paparan bahan kimia
(debu, asap logam, gas
industri)
Riwayat keluarga
atau genetik
PATOFISIOLOGI PPOK
Paparan jangka panjang terhadap iritan
menyebabkan peradangan kronis pada saluran
napas.
Aktivasi sel inflamasi (neutrofil, makrofag, CD8 T-
cell) → pelepasan enzim proteolitik → kerusakan
jaringan paru dan hilangnya elastisitas alveoli.
Bronkokonstriksi, hipersekresi mukus, dan
remodeling bronkial mempersempit jalan napas →
obstruksi aliran udara
Akibatnya: ventilasi-perfusi tidak seimbang,
hipoksemia, dan pada tahap lanjut hiperkapnia
GEJALA KLINIS PPOK
1.Batuk kronis (dapat tidak berdahak
pada awalnya)
2.Produksi sputum berlebihan
Sesak napas progresif, terutama saat
aktivitas fisik
3.Bunyi mengi atau napas berbunyi
(ronki)
4.Penurunan berat badan dan
kelelahan
5.Bibir/kuku membiru (sianosis) pada
kasus berat
PEMERIKSAAN PENUNJANG PPOK
a. Spirometri (pemeriksaan utama):
FEV₁/FVC < 70% pasca-bronkodilator →
diagnosis PPOK
Derajat berat berdasarkan FEV₁ % prediksi
b. Rontgen Dada / CT Scan:
Tanda emfisema: hiperinflasi, diafragma
mendatar, ruang interkostal melebar
CT toraks untuk menilai kerusakan jaringan
paru
PEMERIKSAAN PENUNJANG PPOK
c. Gas Darah Arteri (ABG):
Untuk pasien dengan PPOK berat →
menunjukkan hipoksemia dan hiperkapnia
d. Pemeriksaan α1-antitripsin:
Jika dicurigai defisiensi (terutama pada usia
muda dan bukan perokok)
KLASFIKASI GOLD (Global Intiative For Chronic Pbstructive
Lung Disease)
Berdasarkan FEV₁:
GOLD 1 (Ringan): FEV₁ ≥ 80%
GOLD 2 (Sedang): FEV₁ 50–79%
GOLD 3 (Berat): FEV₁ 30–49%
GOLD 4 (Sangat Berat): FEV₁ < 30%
Berdasarkan gejala dan risiko eksaserbasi
(GOLD 2023):
Grup A: Gejala ringan, eksaserbasi rendah
Grup B: Gejala berat, eksaserbasi rendah
Grup E (Eksaserbator): ≥2 eksaserbasi per
tahun atau 1 eksaserbasi berat (rawat inap)
PENATALAKSANAAN PPOK
a. Non-Farmakologis
1.Berhenti merokok → langkah paling
penting
2..Edukasi pasien
Rehabilitasi paru: latihan fisik,
pendidikan, dan konseling
3.Vaksinasi: influenza, pneumokokus,
COVID-19
4.Nutrisi adekuat dan pemantauan
berat badan
PENATALAKSANAAN PPOK
b. Farmakologis
1.Bronkodilator:
SABA (salbutamol), LABA (formoterol, salmeterol)
SAMA (ipratropium), LAMA (tiotropium)
2.Kombinasi:
LABA + LAMA
LABA + ICS (bagi pasien dengan eksaserbasi berulang dan
eosinofil tinggi)
Triple therapy: LABA + LAMA + ICS
3.Kortikosteroid sistemik:
Hanya digunakan saat eksaserbasi akut
Oksigen terapi jangka panjang:
Jika PaO₂ < 55 mmHg atau SaO₂ < 88%
PENCEGAHAN PPOK
Tidak Merokok
Gunakan APD (masker)
dilingkungan kerja
berisiko
Vaksinasi
rutin
Menghindari polusi
udara
Deteksi dini dan
kontrolgejala
sejak awal
KESIMPULAN
Aspek PPOK (COPD) Asma Persamaan
Definisi Penyakit paru kronis dengan
hambatan aliran udara tidak
reversibel
Penyakit inflamasi saluran napas
yang reversibel
Sama-sama penyakit kronis
saluran napas
Penyebab utama Merokok, polusi udara, debu Alergen, udara dingin, infeksi Faktor lingkungan sebagai
pencetus
Usia awal muncul Umumnya > 40 tahun Sejak anak-anak/remaja Dapat mengganggu aktivitas
Reversibilitas obstruksi Tidak sepenuhnya reversibel Reversibel dengan obat Sama-sama sebabkan hambatan
aliran udara
Gejala utama Batuk kronis, dahak, sesak napas
progresif
Sesak episodik, mengi, batuk
pagi/malam
Gejala bisa memburuk saat
malam atau terpicu
Riwayat keluarga/alergi Jarang Sering ada riwayat alergi/asthma Bisa diperburuk oleh infeksi
Respons terhadap pengobatan Lambat, hanya kurangi
progresivitas
Baik terhadap bronkodilator &
steroid
Sama-sama gunakan
bronkodilator/steroid
Perubahan fungsi paru Penurunan progresif dan
menetap
Fungsi bisa normal antar
serangan
Diperiksa dengan spirometri
Progresivitas penyakit Progresif & irreversible Tidak progresif, dapat dikontrol Perlu kontrol jangka panjang
THANK
YOU

KELOMPOK 2 - PPOK DAN ASMA.pdf penyakitt

  • 1.
    ASMA PPOK NAMA KELOMPOK ADELA FEBRIMONIKA 2443087021 AYU WULANDARI 2443087008 LELLY FARIDA 2343087019 RATNA DILLAH 2443087001
  • 2.
    ASMA Penyakit Asma (Asthma)adalah suatu penyakit kronik (menahun) yang menyerang saluran pernafasan (bronchiale) pada paru dimana terdapat peradangan (inflamasi) dinding rongga bronchiale sehingga mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang akhirnya seseorang mengalami sesak nafas.
  • 3.
    PATOLOGIS Pada suatu seranganasma, otot polos dari bronki mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan pelepasan lendir ke dalam saluran udara. Hal ini akan memperkecil diameter dari saluran udara (disebut bronkokonstriksi) dan penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernafas.
  • 4.
    TANDA DAN GEJALAASMA 1.Pernafasan berbunyi (wheezing/mengi/bengek) terutama saat mengeluarkan nafas (exhalation). Tidak semua penderita asma memiliki pernafasan yang berbunyi, dan tidak semua orang yang nafasnya terdegar wheezing adalah penderita asma 2. Adanya sesak nafas sebagai akibat penyempitan saluran bronki (bronchiale) 3. Batuk berkepanjangan di waktu malam hari atau cuaca dingin. 4. Adanya keluhan penderita yang merasakan dada sempit.. 5. Serangan asma yang hebat menyebabkan penderita tidak dapat berbicara karena kesulitannya dalam mengatur pernafasan.
  • 5.
    PENYEBAB ASMA pada penderitaasma saluran pernapasannya memiliki sifat yang khas yaitu sangat peka terhadap berbagai rangsangan (bronchial hyperreactivity = hipereaktivitas saluran napas) seperti polusi udara (asap, debu, zat kimia), serbuk sari, udara dingin, makanan, hewan berbulu, tekanan jiwa, bau/aroma menyengat (misalnya;parfum) dan olahraga.
  • 6.
    OBAT OBAT YANGDAPAT MENYEBABKAN ASMA OBAT INHIBITOR PROSTAGLANDIN (NSAID) Obat-obat antagonis simpatis yg ß1 (antagonis reseptor beta1, adrenergik), ex: obat hipertensi, obat jantung (propanolol). Zat-zat hasil industri ex: obat anti serangga.
  • 7.
    OBAT-OBAT UNTUK ASMA Turunanxantin (bronkodilatasi) aminophilyn, theofillyn. Kortikosteroid (anti inflamasi) ex:prednison, metilprednisolon Garam-garam kromolin (profilaksis, untuk mencegah keluarnya AH=anti histamin) Imunosupresan (obat yang menekan reaksi AgAb juga sebagai anti inflamasi) ex:metotreksat
  • 8.
    PENANGANAN ASMA Asma dapat diterapidengan 2 macam cara: Cara pertama merupakan terapi non- obat, dapat dilakukan dengan menghindari pemicunya, atau dengan terapi napas (senam asma). Cara kedua dengan melibatkan obat- obat asma
  • 9.
    Terapi melibatkan obat-obatasma yang digolongkan menjadi 2 melibatkan obat-obat asma yang digolongkan menjadi 2 untuk penggunaan jangka panjang yang berguna mengontrol gejala asma dan sebagai terapi untuk mencegah kekambuhan (long-term prevention) obat asma untuk penggunaan jangka pendek yang merupakan pengobatan cepat untuk mengatasi serangan asma akut (short-term relief).
  • 10.
    TERAPI JANGKA PANJANG Obatjangka panjang memberikan pencegahan jangka panjang terhadap gejala asma, menekan, mengontrol, dan menyembuhkan inflamasi jika digunakan teratur namun tidak efektif untuk mengatasi serangan akut. Beberapa obat jangka panjang antara lain kortikosteroid inhalasi yang merupakan obat paling efektif, beta-2 agonis aksi panjang dan metil ksantin (teofilin) untuk mengatasi gejala asma pada malam hari (gejala nocturnal), kromolin dan nedokromil sebagai antiinflamasi
  • 11.
    TERAPI JANGKA PENDEK Sedangkanuntuk jangka pendek, berupa obat-obat bronkodilator (salbutamol, terbutalin, dan ipratropium) dan kortikosteroid oral ketika serangannya sedang sampai berat. Untuk jangka panjang dan pendek, dapat digunakan obat-obat sistemik (prednisolon, prednison, metilprednisolon).
  • 12.
    ASMA PADA KEHAMILAN Obat-obatjenis beta agonis adalah yang paling sering diberikan karena menurut hasil riset obat-obat beta agonis tidak meningkatkan risiko timbulnya kelainan kongenital dan kelainan lain. Albuterol atau salbutamol adalah jenis beta agonis yang paling banyak digunakan. Apabila beta agonis tidak memberikan perbaikan, pada terapi asma akut secara umum dan pada wanita hamil dapat disertakan pemberian bronkodilator seperti Nebulized Ipratropium.
  • 13.
  • 14.
    PPOK Penyakit Paru ObstruktifKronis (PPOK) adalah kondisi penyakit paru progresif yang ditandai dengan hambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Kondisi ini disebabkan oleh respons inflamasi kronis paru-paru terhadap gas atau partikel berbahaya, paling sering dari asap rokok. PPOK mencakup dua kondisi utama: 1. Bronkitis kronis: Peradangan saluran napas besar dengan produksi dahak kronis ≥3 bulan dalam setahun selama 2 tahun berturut-turut. 2. Emfisema: Kerusakan alveoli (kantong udara paru-paru), menyebabkan kesulitan dalam pertukaran gas
  • 15.
    FAKTOR RISIKO PPOK Merokok Paparanpolutan (asap kendaraan, asap pembakaran biomasa kayu arang) infeksi saluran berulang saat anak-anak Paparan bahan kimia (debu, asap logam, gas industri) Riwayat keluarga atau genetik
  • 16.
    PATOFISIOLOGI PPOK Paparan jangkapanjang terhadap iritan menyebabkan peradangan kronis pada saluran napas. Aktivasi sel inflamasi (neutrofil, makrofag, CD8 T- cell) → pelepasan enzim proteolitik → kerusakan jaringan paru dan hilangnya elastisitas alveoli. Bronkokonstriksi, hipersekresi mukus, dan remodeling bronkial mempersempit jalan napas → obstruksi aliran udara Akibatnya: ventilasi-perfusi tidak seimbang, hipoksemia, dan pada tahap lanjut hiperkapnia
  • 17.
    GEJALA KLINIS PPOK 1.Batukkronis (dapat tidak berdahak pada awalnya) 2.Produksi sputum berlebihan Sesak napas progresif, terutama saat aktivitas fisik 3.Bunyi mengi atau napas berbunyi (ronki) 4.Penurunan berat badan dan kelelahan 5.Bibir/kuku membiru (sianosis) pada kasus berat
  • 18.
    PEMERIKSAAN PENUNJANG PPOK a.Spirometri (pemeriksaan utama): FEV₁/FVC < 70% pasca-bronkodilator → diagnosis PPOK Derajat berat berdasarkan FEV₁ % prediksi b. Rontgen Dada / CT Scan: Tanda emfisema: hiperinflasi, diafragma mendatar, ruang interkostal melebar CT toraks untuk menilai kerusakan jaringan paru
  • 19.
    PEMERIKSAAN PENUNJANG PPOK c.Gas Darah Arteri (ABG): Untuk pasien dengan PPOK berat → menunjukkan hipoksemia dan hiperkapnia d. Pemeriksaan α1-antitripsin: Jika dicurigai defisiensi (terutama pada usia muda dan bukan perokok)
  • 20.
    KLASFIKASI GOLD (GlobalIntiative For Chronic Pbstructive Lung Disease) Berdasarkan FEV₁: GOLD 1 (Ringan): FEV₁ ≥ 80% GOLD 2 (Sedang): FEV₁ 50–79% GOLD 3 (Berat): FEV₁ 30–49% GOLD 4 (Sangat Berat): FEV₁ < 30% Berdasarkan gejala dan risiko eksaserbasi (GOLD 2023): Grup A: Gejala ringan, eksaserbasi rendah Grup B: Gejala berat, eksaserbasi rendah Grup E (Eksaserbator): ≥2 eksaserbasi per tahun atau 1 eksaserbasi berat (rawat inap)
  • 21.
    PENATALAKSANAAN PPOK a. Non-Farmakologis 1.Berhentimerokok → langkah paling penting 2..Edukasi pasien Rehabilitasi paru: latihan fisik, pendidikan, dan konseling 3.Vaksinasi: influenza, pneumokokus, COVID-19 4.Nutrisi adekuat dan pemantauan berat badan
  • 22.
    PENATALAKSANAAN PPOK b. Farmakologis 1.Bronkodilator: SABA(salbutamol), LABA (formoterol, salmeterol) SAMA (ipratropium), LAMA (tiotropium) 2.Kombinasi: LABA + LAMA LABA + ICS (bagi pasien dengan eksaserbasi berulang dan eosinofil tinggi) Triple therapy: LABA + LAMA + ICS 3.Kortikosteroid sistemik: Hanya digunakan saat eksaserbasi akut Oksigen terapi jangka panjang: Jika PaO₂ < 55 mmHg atau SaO₂ < 88%
  • 23.
    PENCEGAHAN PPOK Tidak Merokok GunakanAPD (masker) dilingkungan kerja berisiko Vaksinasi rutin Menghindari polusi udara Deteksi dini dan kontrolgejala sejak awal
  • 24.
    KESIMPULAN Aspek PPOK (COPD)Asma Persamaan Definisi Penyakit paru kronis dengan hambatan aliran udara tidak reversibel Penyakit inflamasi saluran napas yang reversibel Sama-sama penyakit kronis saluran napas Penyebab utama Merokok, polusi udara, debu Alergen, udara dingin, infeksi Faktor lingkungan sebagai pencetus Usia awal muncul Umumnya > 40 tahun Sejak anak-anak/remaja Dapat mengganggu aktivitas Reversibilitas obstruksi Tidak sepenuhnya reversibel Reversibel dengan obat Sama-sama sebabkan hambatan aliran udara Gejala utama Batuk kronis, dahak, sesak napas progresif Sesak episodik, mengi, batuk pagi/malam Gejala bisa memburuk saat malam atau terpicu Riwayat keluarga/alergi Jarang Sering ada riwayat alergi/asthma Bisa diperburuk oleh infeksi Respons terhadap pengobatan Lambat, hanya kurangi progresivitas Baik terhadap bronkodilator & steroid Sama-sama gunakan bronkodilator/steroid Perubahan fungsi paru Penurunan progresif dan menetap Fungsi bisa normal antar serangan Diperiksa dengan spirometri Progresivitas penyakit Progresif & irreversible Tidak progresif, dapat dikontrol Perlu kontrol jangka panjang
  • 25.