ASMA
Penyakit Asma (Asthma)adalah suatu
penyakit kronik (menahun) yang
menyerang saluran pernafasan
(bronchiale) pada paru dimana terdapat
peradangan (inflamasi) dinding rongga
bronchiale sehingga mengakibatkan
penyempitan saluran nafas yang
akhirnya seseorang mengalami sesak
nafas.
3.
PATOLOGIS
Pada suatu seranganasma, otot polos dari
bronki mengalami kejang dan jaringan
yang melapisi saluran udara mengalami
pembengkakan karena adanya
peradangan dan pelepasan lendir ke dalam
saluran udara. Hal ini akan memperkecil
diameter dari saluran udara (disebut
bronkokonstriksi) dan penyempitan ini
menyebabkan penderita harus berusaha
sekuat tenaga supaya dapat bernafas.
4.
TANDA DAN GEJALAASMA
1.Pernafasan berbunyi (wheezing/mengi/bengek) terutama
saat mengeluarkan nafas (exhalation). Tidak semua
penderita asma memiliki pernafasan yang berbunyi, dan tidak
semua orang yang nafasnya terdegar wheezing adalah
penderita asma
2. Adanya sesak nafas sebagai akibat penyempitan
saluran bronki (bronchiale)
3. Batuk berkepanjangan di waktu malam hari atau
cuaca dingin.
4. Adanya keluhan penderita yang merasakan dada
sempit..
5. Serangan asma yang hebat menyebabkan penderita
tidak dapat berbicara karena kesulitannya dalam
mengatur pernafasan.
5.
PENYEBAB ASMA
pada penderitaasma saluran
pernapasannya memiliki sifat yang khas
yaitu sangat peka terhadap berbagai
rangsangan (bronchial hyperreactivity =
hipereaktivitas saluran napas) seperti
polusi udara (asap, debu, zat kimia),
serbuk sari, udara dingin, makanan,
hewan berbulu, tekanan jiwa, bau/aroma
menyengat (misalnya;parfum) dan
olahraga.
6.
OBAT OBAT YANGDAPAT
MENYEBABKAN ASMA
OBAT INHIBITOR
PROSTAGLANDIN
(NSAID)
Obat-obat antagonis
simpatis yg ß1 (antagonis
reseptor beta1,
adrenergik), ex: obat
hipertensi, obat jantung
(propanolol).
Zat-zat hasil
industri
ex: obat anti
serangga.
7.
OBAT-OBAT UNTUK ASMA
Turunanxantin (bronkodilatasi)
aminophilyn, theofillyn.
Kortikosteroid (anti inflamasi)
ex:prednison, metilprednisolon
Garam-garam kromolin (profilaksis, untuk
mencegah keluarnya AH=anti histamin)
Imunosupresan (obat yang menekan
reaksi AgAb juga sebagai anti inflamasi)
ex:metotreksat
8.
PENANGANAN
ASMA
Asma dapat diterapidengan 2 macam
cara:
Cara pertama merupakan terapi non-
obat, dapat dilakukan dengan
menghindari pemicunya, atau dengan
terapi napas (senam asma).
Cara kedua dengan melibatkan obat-
obat asma
9.
Terapi melibatkan obat-obatasma yang
digolongkan menjadi 2 melibatkan obat-obat asma
yang digolongkan menjadi 2
untuk penggunaan jangka
panjang yang berguna
mengontrol gejala asma dan
sebagai terapi untuk mencegah
kekambuhan (long-term
prevention)
obat asma untuk penggunaan
jangka pendek yang merupakan
pengobatan cepat untuk
mengatasi serangan asma akut
(short-term relief).
10.
TERAPI JANGKA PANJANG
Obatjangka panjang memberikan pencegahan jangka
panjang terhadap gejala asma, menekan, mengontrol,
dan menyembuhkan inflamasi jika digunakan teratur
namun tidak efektif untuk mengatasi serangan akut.
Beberapa obat jangka panjang antara lain kortikosteroid
inhalasi yang merupakan obat paling efektif, beta-2
agonis aksi panjang dan metil ksantin (teofilin) untuk
mengatasi gejala asma pada malam hari (gejala
nocturnal), kromolin dan nedokromil sebagai
antiinflamasi
11.
TERAPI JANGKA PENDEK
Sedangkanuntuk jangka pendek, berupa
obat-obat bronkodilator (salbutamol,
terbutalin, dan ipratropium) dan
kortikosteroid oral ketika serangannya
sedang sampai berat.
Untuk jangka panjang dan pendek, dapat
digunakan obat-obat sistemik
(prednisolon, prednison,
metilprednisolon).
12.
ASMA PADA KEHAMILAN
Obat-obatjenis beta agonis adalah yang
paling sering diberikan karena menurut
hasil riset obat-obat beta agonis tidak
meningkatkan risiko timbulnya kelainan
kongenital dan kelainan lain.
Albuterol atau salbutamol adalah jenis
beta agonis yang paling banyak
digunakan.
Apabila beta agonis tidak memberikan
perbaikan, pada terapi asma akut secara
umum dan pada wanita hamil dapat
disertakan pemberian bronkodilator
seperti Nebulized Ipratropium.
PPOK
Penyakit Paru ObstruktifKronis (PPOK) adalah kondisi
penyakit paru progresif yang ditandai dengan hambatan
aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Kondisi ini
disebabkan oleh respons inflamasi kronis paru-paru
terhadap gas atau partikel berbahaya, paling sering dari
asap rokok.
PPOK mencakup dua kondisi utama:
1. Bronkitis kronis: Peradangan saluran napas besar dengan
produksi dahak kronis ≥3 bulan dalam setahun selama 2
tahun berturut-turut.
2. Emfisema: Kerusakan alveoli (kantong udara paru-paru),
menyebabkan kesulitan dalam pertukaran gas
15.
FAKTOR RISIKO PPOK
Merokok
Paparanpolutan
(asap kendaraan, asap
pembakaran biomasa
kayu arang)
infeksi saluran
berulang saat
anak-anak
Paparan bahan kimia
(debu, asap logam, gas
industri)
Riwayat keluarga
atau genetik
16.
PATOFISIOLOGI PPOK
Paparan jangkapanjang terhadap iritan
menyebabkan peradangan kronis pada saluran
napas.
Aktivasi sel inflamasi (neutrofil, makrofag, CD8 T-
cell) → pelepasan enzim proteolitik → kerusakan
jaringan paru dan hilangnya elastisitas alveoli.
Bronkokonstriksi, hipersekresi mukus, dan
remodeling bronkial mempersempit jalan napas →
obstruksi aliran udara
Akibatnya: ventilasi-perfusi tidak seimbang,
hipoksemia, dan pada tahap lanjut hiperkapnia
17.
GEJALA KLINIS PPOK
1.Batukkronis (dapat tidak berdahak
pada awalnya)
2.Produksi sputum berlebihan
Sesak napas progresif, terutama saat
aktivitas fisik
3.Bunyi mengi atau napas berbunyi
(ronki)
4.Penurunan berat badan dan
kelelahan
5.Bibir/kuku membiru (sianosis) pada
kasus berat
18.
PEMERIKSAAN PENUNJANG PPOK
a.Spirometri (pemeriksaan utama):
FEV₁/FVC < 70% pasca-bronkodilator →
diagnosis PPOK
Derajat berat berdasarkan FEV₁ % prediksi
b. Rontgen Dada / CT Scan:
Tanda emfisema: hiperinflasi, diafragma
mendatar, ruang interkostal melebar
CT toraks untuk menilai kerusakan jaringan
paru
19.
PEMERIKSAAN PENUNJANG PPOK
c.Gas Darah Arteri (ABG):
Untuk pasien dengan PPOK berat →
menunjukkan hipoksemia dan hiperkapnia
d. Pemeriksaan α1-antitripsin:
Jika dicurigai defisiensi (terutama pada usia
muda dan bukan perokok)
20.
KLASFIKASI GOLD (GlobalIntiative For Chronic Pbstructive
Lung Disease)
Berdasarkan FEV₁:
GOLD 1 (Ringan): FEV₁ ≥ 80%
GOLD 2 (Sedang): FEV₁ 50–79%
GOLD 3 (Berat): FEV₁ 30–49%
GOLD 4 (Sangat Berat): FEV₁ < 30%
Berdasarkan gejala dan risiko eksaserbasi
(GOLD 2023):
Grup A: Gejala ringan, eksaserbasi rendah
Grup B: Gejala berat, eksaserbasi rendah
Grup E (Eksaserbator): ≥2 eksaserbasi per
tahun atau 1 eksaserbasi berat (rawat inap)
21.
PENATALAKSANAAN PPOK
a. Non-Farmakologis
1.Berhentimerokok → langkah paling
penting
2..Edukasi pasien
Rehabilitasi paru: latihan fisik,
pendidikan, dan konseling
3.Vaksinasi: influenza, pneumokokus,
COVID-19
4.Nutrisi adekuat dan pemantauan
berat badan
22.
PENATALAKSANAAN PPOK
b. Farmakologis
1.Bronkodilator:
SABA(salbutamol), LABA (formoterol, salmeterol)
SAMA (ipratropium), LAMA (tiotropium)
2.Kombinasi:
LABA + LAMA
LABA + ICS (bagi pasien dengan eksaserbasi berulang dan
eosinofil tinggi)
Triple therapy: LABA + LAMA + ICS
3.Kortikosteroid sistemik:
Hanya digunakan saat eksaserbasi akut
Oksigen terapi jangka panjang:
Jika PaO₂ < 55 mmHg atau SaO₂ < 88%
23.
PENCEGAHAN PPOK
Tidak Merokok
GunakanAPD (masker)
dilingkungan kerja
berisiko
Vaksinasi
rutin
Menghindari polusi
udara
Deteksi dini dan
kontrolgejala
sejak awal
24.
KESIMPULAN
Aspek PPOK (COPD)Asma Persamaan
Definisi Penyakit paru kronis dengan
hambatan aliran udara tidak
reversibel
Penyakit inflamasi saluran napas
yang reversibel
Sama-sama penyakit kronis
saluran napas
Penyebab utama Merokok, polusi udara, debu Alergen, udara dingin, infeksi Faktor lingkungan sebagai
pencetus
Usia awal muncul Umumnya > 40 tahun Sejak anak-anak/remaja Dapat mengganggu aktivitas
Reversibilitas obstruksi Tidak sepenuhnya reversibel Reversibel dengan obat Sama-sama sebabkan hambatan
aliran udara
Gejala utama Batuk kronis, dahak, sesak napas
progresif
Sesak episodik, mengi, batuk
pagi/malam
Gejala bisa memburuk saat
malam atau terpicu
Riwayat keluarga/alergi Jarang Sering ada riwayat alergi/asthma Bisa diperburuk oleh infeksi
Respons terhadap pengobatan Lambat, hanya kurangi
progresivitas
Baik terhadap bronkodilator &
steroid
Sama-sama gunakan
bronkodilator/steroid
Perubahan fungsi paru Penurunan progresif dan
menetap
Fungsi bisa normal antar
serangan
Diperiksa dengan spirometri
Progresivitas penyakit Progresif & irreversible Tidak progresif, dapat dikontrol Perlu kontrol jangka panjang