1
NAMA : SITI KHOLIYAH
KELAS : Q( NON REGULER)
MAKUL : FIQIH 11
”AHLI WARIS ZAWIL ARHAM DAN PENYELESAIAN HAKNYA”
1) Pengertian Zawil Arham
Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun, yang asalnya dalam
bahasa Arab berarti tempat pembentukan/ penyimpanan janin dalam perut
ibu. Kemudian dikembangkan menjadi ‘kerabat’, baik datangnya dari
pihak ayah ataupun dari pihak ibu. Pengertian itu tentu saja disandarkan
karena adanya rahim yang menyatukan asal mereka. Dengan demikian,
lafaz rahim tersebut umum digunakan dengan makna ‘kerabat’, baik
dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam.1
Yang dimaksud dengan ahli waris zawil arham adalah orang-orang
yang mempunyai hubungan kerabat dengan pewaris, namun tidak
dijelaskan bagiannya dalam al-Quran dan hadis Nabi sebagai zaul furudl
dan tidak pula termasuk dalam kelompok ‘ashabah. Bila kerabat yang
menjadi ‘ashabah adalah laki-laki dalam garis keturunan laki-laki, maka
zaul arham itu adalah perempuan atau laki-laki melalui garis keturunan
perempuan.2
Sedang pengertian menurut bahasa ialah:
 Tempat menetap janin di dalam perut ibunya.
 Setiap orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan denga
orang lain.
Orang yang termasuk Zawil Arham ialah:
1) Anak (laki-laki/ perempuan) dari anak perempuan.
2) Ayah dari ibu.
3) Ibu dari ayahnya ibu.
4) Anak (laki-laki/ perempuan) dari saudara perempuan.
1 Waryani FajarRiyanto, Sistem Kewarisan Islam, (pekalongan,Stain Pekalongan press,
2012),hlm.307-308.
2 Amir syarifuddin, garis-GarisBesar Fiqih, (Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2003), hlm.
68.
2
5) Anak perempuan dari saudara laki-laki.
6) Anak (laki-laki/ perempuan) dari saudara seibu.
7) Paman (saudara laki-laki dari ayah) seibu.
8) Saudara perempuan dari ayah.
9) Anak perempuan dari paman.
10) Saudara laki-laki dari ibu
11) Saudara perempuan dari ibu .3
Zul arham dapat dikelompokkan pada empat kelompok sesuai dengan
garis keturunan:
1. Garis keturunan lurus ke bawah, yaitu :
 Anak laki-laki atau perempuan dari anak perempuan dan
keturunannya
 Anak laki-laki atau perempuan dari cucu perempuan dan
keturunannya.
2. Garis keturunan lurus ke atas, yaitu :
 Ayah dari ibu dan seterusnya ke atas
 Ayah dari ibunya ibu dan seterusnya ke atas
 Ayah dari ibunya ayah dan seterusnya ke atas.
3. Garis keturunan ke samping pertama, yaitu :
 Anak perempuan dari saudara laki-laki kandung atau seayah dan
anaknya.
 Anak laki-laki atau perempuan dari saudara seibu dan seterusnya
ke bawah.
4. Garis keturunan ke samping kedua, yaitu :
 Saudara perempuan (kandung, seayah atau seibu) dari ayah dan
anaknya.
 Saudara laki-laki atau perempuan seibu dari ayah dan seterusnya
ke bawah.
 Saudara laki-laki atau perempuan (kandung, seayah, seibu) dari ibu
dan seterusnya ke bawah.4
Para ulama berbeda pendapat apakah zawil arham dapat mewarisi
harta peninggalan dari orang yang meninggal dunia yang sama sekali tidak
mempunyai ahli waris ashabul furudl maupun ashabul ashabah. Atau jika
orang yang meninggal dunia itu meninggalkan ahli waris ashabul furudl,
3 H. Amin Husein Nasution, Hukum Kewarisan, (Jakarta,Rajawali Pers,2012),hlm.139.
4 Amir syafudin,op,cit., hlm. 169
3
tetapi masih ada sisa harta peningalan yang tidak dapat diberikan
kepadanya sisa harta tersebut.
1. Pendapat pertama; Zaid ibn tsabit, Said ibn Musayyab, Imam Malik,
Imam Syafi’I, al-Auza’i, dan Ibn hazm;
Zawil arham tidak dapat mewarisi harta warisan. Apabila orang yang
meninggal tidak mempunyai ahli waris ashabul furudl atau ashabul
ashabah, maka harta peninggalannya diberikan kepada Baitul Mal (kas
negara).
Adapun alasan mereka berpendapat demikian yaitu karena Allah
Swt. Telah menjelaska dala al-Quran tentang ahli waris ashabul furudl dan
ashabul ashabah serta bagian warisan masing-masing, tetapi tidak
menyebutkan sama sekali tentang pewaris bagi zawil arham. Seandainya
zawil arham ini berhak mewarisi harta waris, pastilah telah dijelaskan
Allah swt. dalam al-Quran. Memberi harta waris kepada merek berarti
menambah ketentuan dalam al-Quran.
2. Pendapat kedua; Ali, ibn Abbas, Abu Bakar, Muaz ibn jabal, Syuraik,
Imam abu hanifah, dan Ahmad bin hambal bahwa;
Ahli waris zawil arham dapat mewarisi harta warisan. Apabila orang
yang meningal tidak meninggalkan ahli waris asbabul furudl dan
asbabul asabah.
Mereka beralasan dengan ayat Al-Quran surah Al-Anfal [8]:75
yang Artinya” Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu
sebagaianya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan
Kerabat di dalam kitab Allah)”.
Kemudian Surah Al-Nisa’ [4]:7 yang artinya” Bagi laki-laki ada
hak baginya dari harta peninggalan ibu bapaknya dan kerabatnya, dan bagi
wanita ada hak baginya (pula) dari harta peninggalan ibu bapak dan
kerabatnya baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah
ditetapkan”.
Hak kewarisan dalam surah Al-Anfal dan sebutan “kerabat” dalam
surah Al-Nisa’ di atas ditunjukan secara umum, dalam arti tidak tertentu
pada ahli waris ashabul furudl atau ashabul ashabah saja, tetapi juga
selainnya (Zawil Arham). Hanya saja Al-Quran merinci bagian ahli waris
ashabul furudl dan memberikan ketentuan-ketentuan bagi ahli waris
ashabul ashabah secara khusus, namun untuk ahli waris zawil Arham tetap
secara umum. Dari ayat Al-Nisa’ di atas dapat dipahami bahwa setiap laki-
4
laki dan perempuan mempunyai bagian dari harta peninggalan kerabatnya.
Dengan demikian, apabila ada hubungan kerabat dengan pewaris, maka
mereka berhak mendapat bagian dari harta warisan kerabatnya.
Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh miqdam bin Ma’ad r.a
bahwa Rasulullah Saw. bersabda:“Saudara laki-laki ibu adalah menjadi
ahli waris bagi orang yang tidak mempunyai ahli waris.”
Hadis ini menunjukkan bahwa saudara laki-laki ibu berhak
mendapat bagian warisan apabila tidak ada ahli waris zawil furudl dan/
atau zawil ashabah (tidak ada ahli waris yang lebih berhak).Sedangkan
saudara laki-laki ibu bukan ahli waris zawil furudl dan bukan pula zawil
ashabah, tetapi ia termasuk kerabat ahli waris zawil arham.
Pendapat ali, Ibnu Abbas cs. Ini kemungkinan (sejak awal abad ke-
4 H) dianut oleh ulama-ulama Malikiyah dan Syafi’iyah (walaupun
berbeda dengan pendapat imam mereka) karena Baitul Mal kurang dapat
dipercaya pada zaman itu.
Setelah melihan dan membandingkan beberapa pendapat di atas,
dapat disimpulkan bahwa pendapat yang lebih terpilih (arjah) adalah Ali,
Ibn Abbas, Abu Hanifah, dan Ahmad bin Hambal yang menyatakan bahwa
zawil arham mendapat warisan apabila tidak ada ahli waris zawil furudl
dan/ atau zawil ashabah. Hal ini didasarkan bahwa pendapat ini diikuti
sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Secara rasio, zawil arham lebih
berhak untuk mewarisi daripada baitul mal, karena hubungan pewarisan
kepada baitul mal hanyalah hubungan islam, sedangkan hubungan kepada
zawil arham adalah hubungan islam dan kerabat. Apalagi kenyataan
sekarang di Indonesia belum ada baitul mal yang benar-benar beroperasi
sesuai dengan ketentuan Islam.5
B. Cara Pembagian Waris Pada Zawil Arham
Adapun cara pembagian harta waris untuk ahli waris zaul arham itu ada
dua pendapat:
1. Secara penggantian, dalam arti dia menepati kedudukan ahli
waris yang menghubungkannya kepada pewaris. Umpamanya
5 H. Amin Husein Nasution, op, cit., hlm. 141-144.
5
ahli waris adalah anak perempuan dari anak perempuan dan
anak laki-laki dari saudara perempuan. Anak perempuan dari
anak perempuan menggantikan anak perempuan mendapat ½.
Anak laki-laki dari saudara perempuan menggantikan saudara
perempuan yang menjadi ‘ashabah ma’a ghairih yaitu sisa harta
(1/2).
2. Secara kedekatan, dalam arti tali hubungan kepada pewaris
lebih deket dibandingkan dengan yang lain. Umpamanya ahli
waris adalah anak perempuan dari anak perempuan dan anak
laki-laki dari saudara perempuan. Dalam contoh ini yang
berhak adalah anak perempuan dari anak perempuan, karena
hubungannya kepda pewaris hanya melalui satu perantara yaitu
anak, sedangkan anak laki-laki dari saudara perempuan melalui
saudara perempuan dan ayah.6
Apabila Zawil arham hanya seorang saja dan tidak ada
pewaris yang lain, maka ia mewarisi semua harta. Tetapi jika
Zawil arham itu banyak, maka cara pembagiannya warisannya
untuk mereka ada tiga mazhab:
 Mazhab Ahlut Tanzil, yaitu mazhab Syafi’I, Maliki, Hambali,
Abu Ubaidah, Alqomah dan lain-lain.
Mazhab Ahlut Tanzil menyatakan bahwa masing-masing
zawil arham itu menempati kedudukan tempat asalnya, kecuali
paman (mamak) dan bibi dari pihak ibu, menempati
kedudukan ibunya, paman bibi dari pihak ayah menempati
kedudukan ayah, seperti: cucu dari ank perempuan menempati
anak perempuan dari saudara seibu.
Contoh:
1) Seorang mati meninggalkan anak perempuan dari cucu
perempuan pancar laki-laki dan anak laki-laki dari
cucu perempuan pancar perempuan. Maka anak
perempuan dari cucu perempuan pancar laki-laki dari
cucu perempuan pancar perempuan tidak mendapat
warisan, seolah-olah ahli warisnya ialah cucu
perempuan (pancar laki-laki) dan cucu perempuan
(pancar perempuan).
2) Seorang mati meningalkan anak laki-laki dari saudara
laki-laki seibu dan anak perempuan dari saudar
perempuan seibu, maka mereka masing-masing
mendapat separuh, seolah-olah pewarisnya ialah
6 Amir Syarifudin, op,cit., hlm. 170.
6
saudara laki-laki seibu dan saudara perempuan seibu di
mana bagian laki-laki sama dengan banyaknya bagian
perempuan.
 Mazhab Ahlul Qirabah yaitu mazhab Hanafi
Mazhab Ahlul Qirabah, mendahulukan zawil arham yang
terdekat kepada muwarris daripada yang kurang dekat. Oleh
sebab itu, didahulukan ahli waris kelompok pertama dari
kelompok kedua dan kelompok ketiga didahulukan dari
kelompok keempat.
Contoh:
1) Seorang mati meningalkan cucu perempuan (pancar
perempuan) dan ank perempuan dari saudara
perempuan sekandung. Maka yangmendapat warisan
ialah cucu perempuan (pancar perempuan), sedangkan
anak perempuan dari saudar perempuan tidak
mendapat pusaka karena keturunan anak (kelompok
pertama) lebih deket kepada muwarris dari keturunan
saudara (kelompok ketiga).
2) Seorang mati meninggalkan anak laki-laki dari cucu
perempuan pancar perempuan dan anak perempuan
dari cucu perempuan pancar perempuan. Keduanya
mendapat warisan, Untuk laki-laki dua kali bagian
perempuan karena keduanya sama-sama bertalian
dengan zawil arham kelompok pertama yaitu anak
perempuan dari anak perempuan.
 Mazhab Ahlur Rohmi.
Munurut mazhab Ahlul Rahmi ialah mempersamakan antara
zawil arham, tanpa membedakan antara laki-laki dan
perempuan, serta jauh dekatnya hubungan kekerabatan mereka
dengan muwarris.
Seperti: seorang mati meninggalkan cucu perempuan pancar
perempuan dan anak laki-laki dari cucu perempuan pancar
laki-laki, maka masing-masing mereka mendapat separuh
harta.7
Adapun syarat-syarat pemberian hak waris bagi zawil al-Arham
a. Tidak ada sahib al-farad. Sebab, jika ada sahib al-farad, mereka tidak
sekedar mengambil bagiannya, tetapi sisanya pun akan mereka ambil
7 H. Amin husein Nasution, op, cit.,hlm. 144-146.
7
karena merupakan hak mereka secara radd. Sedangkan kita ketahui bahwa
kedudukan ahli waris secara radd dalam penerimaan waris lebih
didahulukan dibangdingkan zawil al-arham.
b. Tidak ada pen-ta’sib (‘ashabah). Sebab ‘ashabah akan mengambil seluruh
hak waris yang ada, bila ternyata tidak ada sahib al-furud. Dan bila ada
sahib al-fard, maka para ‘asabah akan menerima sisa harta waris yang ada,
setelah diambil hak para sahib al-fard.
Namun apabila sahib al-fard hanya terdiri dari suami atau istri saja, maka
ia akan menerima hak waris secara fard, dan sisanya diberikan kepada zawil
aarham. Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan
zawil al-arham. Dengan demikian, sisa harta waris akan diberikan kepada zawil
al-arham.
Apabila zawil al-arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri
menjadi ahli waris, maka ia akan menerima seluruh harta waris. Sedang jika dia
berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri, maka ia akan menerima
sisanya. Dan bila bersamaan dengan ahli waris lain, maka pembagiannya sebagai
berikut:
a. Mengutamakan dekatnya kerabat. Misalkan, pewaris meninggalkan
ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan, dengan
anak cucu perempuan dari keturunan nakn perempuan. Maka yang
didahulukan adalah anak cucu perempuan dari keturunan anak
perempuan. Bergitu seterusnya.
b. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kerabat, maka yang
lebih berhak untuk diutamakan adalah yang paling dekat dengan
pewaris lewat sahib al-fard atau’asabah. Misalnya, seorang wafat
dan meningalkan cucu perempuan dar keturunan anak laki-laki,
dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan, maka yang
lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan laki-laki.
Dalam contoh ini, tampak ada kesamaan derajad di antara kedua
ahli waris, keduannya memiliki hubungan kekerabatan dengan
pewaris sama-sama sebagai cucu. Hanya saja, cucu perempuan
keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewatahli waris,
sedang cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui zawil
al-arham.
c. Apabila segi derajat dan kedekatan kepada pewaris sama, maka
haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan
kerabatnya. Misalnya, seorang wafat dan meningggalkan anak
perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan
kandung) dengan anak perempuan dari saudar laki-laki seayah
(keponakan bukan kandung), maka dalam keadaan seperti ini kita
8
harus mengutamakan keponakan kandung, dan berarti seluruh harta
waris menjadi haknya. Yang demikian itu disebabkan keponakan
kandung lebih kuat kerabatanya. Begitu seterusnya.
d. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan, maka
pembagiannya dilakukan secara merata. Artinya, semua ahli waris
dari zawil al-arham berhak menerima bagian. Misalnya , seorang
wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman
kandung, seorang anak perempuan dari anak paman yang lain
(kandung), dan seorang anak perempuan dari anak paman kandung
yang lain. Atau dengan redaksi lain, orang yang wafat ini
meninggalkan tiga putrid keturunan anak pamam kandung. Maka
warta warisnya dibagi secara merata diantara mereka, karena
ketiganya mimiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan.
Di anatara persoalan yang perlu penulis kemukakan disini ialah bahwa
dalam pemberian hak waris terhadap para zawil al-arham, bagian laki-laki dua
kali lebih besar bagian perempuan, seeperti halnya pembagian para ‘asabah,
sekalipun zawil al-arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan
seibu. Demikian sekelimit mengenai hak zawil al-arham menurut mashab ahl al-
qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r.a dan para ulama
mazhab hanafi. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan
negara Islam lainnya.8
8 Waryani FajarRiyanto, op,cit., hlm. 325-326

Hak waris zul arham

  • 1.
    1 NAMA : SITIKHOLIYAH KELAS : Q( NON REGULER) MAKUL : FIQIH 11 ”AHLI WARIS ZAWIL ARHAM DAN PENYELESAIAN HAKNYA” 1) Pengertian Zawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun, yang asalnya dalam bahasa Arab berarti tempat pembentukan/ penyimpanan janin dalam perut ibu. Kemudian dikembangkan menjadi ‘kerabat’, baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. Pengertian itu tentu saja disandarkan karena adanya rahim yang menyatukan asal mereka. Dengan demikian, lafaz rahim tersebut umum digunakan dengan makna ‘kerabat’, baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam.1 Yang dimaksud dengan ahli waris zawil arham adalah orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat dengan pewaris, namun tidak dijelaskan bagiannya dalam al-Quran dan hadis Nabi sebagai zaul furudl dan tidak pula termasuk dalam kelompok ‘ashabah. Bila kerabat yang menjadi ‘ashabah adalah laki-laki dalam garis keturunan laki-laki, maka zaul arham itu adalah perempuan atau laki-laki melalui garis keturunan perempuan.2 Sedang pengertian menurut bahasa ialah:  Tempat menetap janin di dalam perut ibunya.  Setiap orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan denga orang lain. Orang yang termasuk Zawil Arham ialah: 1) Anak (laki-laki/ perempuan) dari anak perempuan. 2) Ayah dari ibu. 3) Ibu dari ayahnya ibu. 4) Anak (laki-laki/ perempuan) dari saudara perempuan. 1 Waryani FajarRiyanto, Sistem Kewarisan Islam, (pekalongan,Stain Pekalongan press, 2012),hlm.307-308. 2 Amir syarifuddin, garis-GarisBesar Fiqih, (Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2003), hlm. 68.
  • 2.
    2 5) Anak perempuandari saudara laki-laki. 6) Anak (laki-laki/ perempuan) dari saudara seibu. 7) Paman (saudara laki-laki dari ayah) seibu. 8) Saudara perempuan dari ayah. 9) Anak perempuan dari paman. 10) Saudara laki-laki dari ibu 11) Saudara perempuan dari ibu .3 Zul arham dapat dikelompokkan pada empat kelompok sesuai dengan garis keturunan: 1. Garis keturunan lurus ke bawah, yaitu :  Anak laki-laki atau perempuan dari anak perempuan dan keturunannya  Anak laki-laki atau perempuan dari cucu perempuan dan keturunannya. 2. Garis keturunan lurus ke atas, yaitu :  Ayah dari ibu dan seterusnya ke atas  Ayah dari ibunya ibu dan seterusnya ke atas  Ayah dari ibunya ayah dan seterusnya ke atas. 3. Garis keturunan ke samping pertama, yaitu :  Anak perempuan dari saudara laki-laki kandung atau seayah dan anaknya.  Anak laki-laki atau perempuan dari saudara seibu dan seterusnya ke bawah. 4. Garis keturunan ke samping kedua, yaitu :  Saudara perempuan (kandung, seayah atau seibu) dari ayah dan anaknya.  Saudara laki-laki atau perempuan seibu dari ayah dan seterusnya ke bawah.  Saudara laki-laki atau perempuan (kandung, seayah, seibu) dari ibu dan seterusnya ke bawah.4 Para ulama berbeda pendapat apakah zawil arham dapat mewarisi harta peninggalan dari orang yang meninggal dunia yang sama sekali tidak mempunyai ahli waris ashabul furudl maupun ashabul ashabah. Atau jika orang yang meninggal dunia itu meninggalkan ahli waris ashabul furudl, 3 H. Amin Husein Nasution, Hukum Kewarisan, (Jakarta,Rajawali Pers,2012),hlm.139. 4 Amir syafudin,op,cit., hlm. 169
  • 3.
    3 tetapi masih adasisa harta peningalan yang tidak dapat diberikan kepadanya sisa harta tersebut. 1. Pendapat pertama; Zaid ibn tsabit, Said ibn Musayyab, Imam Malik, Imam Syafi’I, al-Auza’i, dan Ibn hazm; Zawil arham tidak dapat mewarisi harta warisan. Apabila orang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ashabul furudl atau ashabul ashabah, maka harta peninggalannya diberikan kepada Baitul Mal (kas negara). Adapun alasan mereka berpendapat demikian yaitu karena Allah Swt. Telah menjelaska dala al-Quran tentang ahli waris ashabul furudl dan ashabul ashabah serta bagian warisan masing-masing, tetapi tidak menyebutkan sama sekali tentang pewaris bagi zawil arham. Seandainya zawil arham ini berhak mewarisi harta waris, pastilah telah dijelaskan Allah swt. dalam al-Quran. Memberi harta waris kepada merek berarti menambah ketentuan dalam al-Quran. 2. Pendapat kedua; Ali, ibn Abbas, Abu Bakar, Muaz ibn jabal, Syuraik, Imam abu hanifah, dan Ahmad bin hambal bahwa; Ahli waris zawil arham dapat mewarisi harta warisan. Apabila orang yang meningal tidak meninggalkan ahli waris asbabul furudl dan asbabul asabah. Mereka beralasan dengan ayat Al-Quran surah Al-Anfal [8]:75 yang Artinya” Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagaianya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan Kerabat di dalam kitab Allah)”. Kemudian Surah Al-Nisa’ [4]:7 yang artinya” Bagi laki-laki ada hak baginya dari harta peninggalan ibu bapaknya dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak baginya (pula) dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan”. Hak kewarisan dalam surah Al-Anfal dan sebutan “kerabat” dalam surah Al-Nisa’ di atas ditunjukan secara umum, dalam arti tidak tertentu pada ahli waris ashabul furudl atau ashabul ashabah saja, tetapi juga selainnya (Zawil Arham). Hanya saja Al-Quran merinci bagian ahli waris ashabul furudl dan memberikan ketentuan-ketentuan bagi ahli waris ashabul ashabah secara khusus, namun untuk ahli waris zawil Arham tetap secara umum. Dari ayat Al-Nisa’ di atas dapat dipahami bahwa setiap laki-
  • 4.
    4 laki dan perempuanmempunyai bagian dari harta peninggalan kerabatnya. Dengan demikian, apabila ada hubungan kerabat dengan pewaris, maka mereka berhak mendapat bagian dari harta warisan kerabatnya. Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh miqdam bin Ma’ad r.a bahwa Rasulullah Saw. bersabda:“Saudara laki-laki ibu adalah menjadi ahli waris bagi orang yang tidak mempunyai ahli waris.” Hadis ini menunjukkan bahwa saudara laki-laki ibu berhak mendapat bagian warisan apabila tidak ada ahli waris zawil furudl dan/ atau zawil ashabah (tidak ada ahli waris yang lebih berhak).Sedangkan saudara laki-laki ibu bukan ahli waris zawil furudl dan bukan pula zawil ashabah, tetapi ia termasuk kerabat ahli waris zawil arham. Pendapat ali, Ibnu Abbas cs. Ini kemungkinan (sejak awal abad ke- 4 H) dianut oleh ulama-ulama Malikiyah dan Syafi’iyah (walaupun berbeda dengan pendapat imam mereka) karena Baitul Mal kurang dapat dipercaya pada zaman itu. Setelah melihan dan membandingkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendapat yang lebih terpilih (arjah) adalah Ali, Ibn Abbas, Abu Hanifah, dan Ahmad bin Hambal yang menyatakan bahwa zawil arham mendapat warisan apabila tidak ada ahli waris zawil furudl dan/ atau zawil ashabah. Hal ini didasarkan bahwa pendapat ini diikuti sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Secara rasio, zawil arham lebih berhak untuk mewarisi daripada baitul mal, karena hubungan pewarisan kepada baitul mal hanyalah hubungan islam, sedangkan hubungan kepada zawil arham adalah hubungan islam dan kerabat. Apalagi kenyataan sekarang di Indonesia belum ada baitul mal yang benar-benar beroperasi sesuai dengan ketentuan Islam.5 B. Cara Pembagian Waris Pada Zawil Arham Adapun cara pembagian harta waris untuk ahli waris zaul arham itu ada dua pendapat: 1. Secara penggantian, dalam arti dia menepati kedudukan ahli waris yang menghubungkannya kepada pewaris. Umpamanya 5 H. Amin Husein Nasution, op, cit., hlm. 141-144.
  • 5.
    5 ahli waris adalahanak perempuan dari anak perempuan dan anak laki-laki dari saudara perempuan. Anak perempuan dari anak perempuan menggantikan anak perempuan mendapat ½. Anak laki-laki dari saudara perempuan menggantikan saudara perempuan yang menjadi ‘ashabah ma’a ghairih yaitu sisa harta (1/2). 2. Secara kedekatan, dalam arti tali hubungan kepada pewaris lebih deket dibandingkan dengan yang lain. Umpamanya ahli waris adalah anak perempuan dari anak perempuan dan anak laki-laki dari saudara perempuan. Dalam contoh ini yang berhak adalah anak perempuan dari anak perempuan, karena hubungannya kepda pewaris hanya melalui satu perantara yaitu anak, sedangkan anak laki-laki dari saudara perempuan melalui saudara perempuan dan ayah.6 Apabila Zawil arham hanya seorang saja dan tidak ada pewaris yang lain, maka ia mewarisi semua harta. Tetapi jika Zawil arham itu banyak, maka cara pembagiannya warisannya untuk mereka ada tiga mazhab:  Mazhab Ahlut Tanzil, yaitu mazhab Syafi’I, Maliki, Hambali, Abu Ubaidah, Alqomah dan lain-lain. Mazhab Ahlut Tanzil menyatakan bahwa masing-masing zawil arham itu menempati kedudukan tempat asalnya, kecuali paman (mamak) dan bibi dari pihak ibu, menempati kedudukan ibunya, paman bibi dari pihak ayah menempati kedudukan ayah, seperti: cucu dari ank perempuan menempati anak perempuan dari saudara seibu. Contoh: 1) Seorang mati meninggalkan anak perempuan dari cucu perempuan pancar laki-laki dan anak laki-laki dari cucu perempuan pancar perempuan. Maka anak perempuan dari cucu perempuan pancar laki-laki dari cucu perempuan pancar perempuan tidak mendapat warisan, seolah-olah ahli warisnya ialah cucu perempuan (pancar laki-laki) dan cucu perempuan (pancar perempuan). 2) Seorang mati meningalkan anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu dan anak perempuan dari saudar perempuan seibu, maka mereka masing-masing mendapat separuh, seolah-olah pewarisnya ialah 6 Amir Syarifudin, op,cit., hlm. 170.
  • 6.
    6 saudara laki-laki seibudan saudara perempuan seibu di mana bagian laki-laki sama dengan banyaknya bagian perempuan.  Mazhab Ahlul Qirabah yaitu mazhab Hanafi Mazhab Ahlul Qirabah, mendahulukan zawil arham yang terdekat kepada muwarris daripada yang kurang dekat. Oleh sebab itu, didahulukan ahli waris kelompok pertama dari kelompok kedua dan kelompok ketiga didahulukan dari kelompok keempat. Contoh: 1) Seorang mati meningalkan cucu perempuan (pancar perempuan) dan ank perempuan dari saudara perempuan sekandung. Maka yangmendapat warisan ialah cucu perempuan (pancar perempuan), sedangkan anak perempuan dari saudar perempuan tidak mendapat pusaka karena keturunan anak (kelompok pertama) lebih deket kepada muwarris dari keturunan saudara (kelompok ketiga). 2) Seorang mati meninggalkan anak laki-laki dari cucu perempuan pancar perempuan dan anak perempuan dari cucu perempuan pancar perempuan. Keduanya mendapat warisan, Untuk laki-laki dua kali bagian perempuan karena keduanya sama-sama bertalian dengan zawil arham kelompok pertama yaitu anak perempuan dari anak perempuan.  Mazhab Ahlur Rohmi. Munurut mazhab Ahlul Rahmi ialah mempersamakan antara zawil arham, tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan, serta jauh dekatnya hubungan kekerabatan mereka dengan muwarris. Seperti: seorang mati meninggalkan cucu perempuan pancar perempuan dan anak laki-laki dari cucu perempuan pancar laki-laki, maka masing-masing mereka mendapat separuh harta.7 Adapun syarat-syarat pemberian hak waris bagi zawil al-Arham a. Tidak ada sahib al-farad. Sebab, jika ada sahib al-farad, mereka tidak sekedar mengambil bagiannya, tetapi sisanya pun akan mereka ambil 7 H. Amin husein Nasution, op, cit.,hlm. 144-146.
  • 7.
    7 karena merupakan hakmereka secara radd. Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibangdingkan zawil al-arham. b. Tidak ada pen-ta’sib (‘ashabah). Sebab ‘ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada, bila ternyata tidak ada sahib al-furud. Dan bila ada sahib al-fard, maka para ‘asabah akan menerima sisa harta waris yang ada, setelah diambil hak para sahib al-fard. Namun apabila sahib al-fard hanya terdiri dari suami atau istri saja, maka ia akan menerima hak waris secara fard, dan sisanya diberikan kepada zawil aarham. Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan zawil al-arham. Dengan demikian, sisa harta waris akan diberikan kepada zawil al-arham. Apabila zawil al-arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris, maka ia akan menerima seluruh harta waris. Sedang jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri, maka ia akan menerima sisanya. Dan bila bersamaan dengan ahli waris lain, maka pembagiannya sebagai berikut: a. Mengutamakan dekatnya kerabat. Misalkan, pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan, dengan anak cucu perempuan dari keturunan nakn perempuan. Maka yang didahulukan adalah anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. Bergitu seterusnya. b. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kerabat, maka yang lebih berhak untuk diutamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat sahib al-fard atau’asabah. Misalnya, seorang wafat dan meningalkan cucu perempuan dar keturunan anak laki-laki, dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan, maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan laki-laki. Dalam contoh ini, tampak ada kesamaan derajad di antara kedua ahli waris, keduannya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. Hanya saja, cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewatahli waris, sedang cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui zawil al-arham. c. Apabila segi derajat dan kedekatan kepada pewaris sama, maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kerabatnya. Misalnya, seorang wafat dan meningggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudar laki-laki seayah (keponakan bukan kandung), maka dalam keadaan seperti ini kita
  • 8.
    8 harus mengutamakan keponakankandung, dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kerabatanya. Begitu seterusnya. d. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan, maka pembagiannya dilakukan secara merata. Artinya, semua ahli waris dari zawil al-arham berhak menerima bagian. Misalnya , seorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung, seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung), dan seorang anak perempuan dari anak paman kandung yang lain. Atau dengan redaksi lain, orang yang wafat ini meninggalkan tiga putrid keturunan anak pamam kandung. Maka warta warisnya dibagi secara merata diantara mereka, karena ketiganya mimiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan. Di anatara persoalan yang perlu penulis kemukakan disini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para zawil al-arham, bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan, seeperti halnya pembagian para ‘asabah, sekalipun zawil al-arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Demikian sekelimit mengenai hak zawil al-arham menurut mashab ahl al- qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r.a dan para ulama mazhab hanafi. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya.8 8 Waryani FajarRiyanto, op,cit., hlm. 325-326