Derajat ihsan 
Derajat ihsan merupakan tingkatan tertinggi 
keislaman seorang hamba. Tidak semua orang bisa 
meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba 
Allah yang khusus saja yang bisa mencapai derajat 
mulia ini. Oleh karena itu, merupakan keutamaan 
tersendiri bagi hamba yang mampu meraihnya. 
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan kita 
termasuk di dalamnya.
Tingkatan agama 
 Paling tinggi adalah ihsan, kemudian iman, dan paling rendah 
adalah islam. 
 Kaum muhsinin (orang2yg memiliki sifat ihsan) merupakan 
hamba pilihan dari hamba2 Allah yg shalih. Oleh sebab itu, 
sebagian ulama menjelaskan jika ihsan sudah terwujud 
berarti iman dan islam juga sudah terwujud pada diri 
seorang hamba. 
 Jadi, setiap muhsin pasti mukmin dan setiap mukmin pasti 
muslim. Namun tidak berlaku sebaliknya. Tidak setiap 
muslim itu mukmin dan tidak setiap mukmin itu mencapai 
derajat muhsin. 
 Pelaku ihsan adalah hamba pilihan dari hamba2 Allah yg 
shalih. Oleh karena itu, di dlm al Quran disebutkan hak2 
mereka secara khusus tanpa menyebutkan hak yg lainnya
Makna Ihsan 
 Kata ihsan (berbuat baik) merupakan kebalikan dari kata al 
isaa-ah (berbuat buruk), yakni perbuatan seseorang untuk 
melakukan perbuatan yg ma’ruf dan menahan diri dari dosa. 
Dia mendermakan kebaikan kpd hamba Allah yg lainnya 
baik melalui hartanya, kehormatannya, ilmunya, maupun 
raganya. 
 “’Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, 
‘Kamu menyembah Allah se-akan2 kamu melihat-Nya, maka 
jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia 
melihatmu.” (H.R. Muslim 102) 
 ihsan mencakup dua macam, yakni ihsan dalam beribadah 
kepada Allah dan ihsan dalam menunaikan hak sesama 
makhluk.
Tingkatan Ihsan 
 Pertama, tingkatan muroqobah: Yakni 
seseorang yang beramal senantiasa 
merasa diawasi dan diperhatikan oleh 
Allah dalam setiap aktivitasnya 
 Kedua, tingkatan musyahadah : 
seseorang senantiasa memeperhatikan 
sifat2 Allah dan mengaitkan seluruh 
aktifitasnya dg sifat2 tsb
1. Tingkatan Musyahadah 
 Yaitu seseorang beribadah kepada Allah seolah-oleh 
dia melihat-Nya. Maksud melihat di sini bukanlah 
melihat dzat-Nya, tetapi melihat sifat-sifat-Nya, yaitu 
dengan melihat bekas-bekas dari sifat-sifat-Nya yang 
bisa disaksikan pada ciptaan-Nya 
 Ilmu dan keyakinan seorang mukmin dengan nama-nama 
Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya akan 
menjadikannya mengembalikan segala sesuatu yang 
dia lihat di alam ini kepada salah satu nama di antara 
nama-nama Allah atau sifat diantara sifat-sifat-Nya. 
 Dengan demikian, maka nama-nama Allah yang maha 
indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi akan 
senantiasa hadir dalam hatinya, khususnya ketika 
beribadah kepada Allah Ta’ala.
2. Tingkatan Muraqabah 
 Yaitu seseorang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan 
disertai perasaan bahwasanya Allah senantiasa 
mengawasinya. Jika seorang hamba beribadah kepada 
Allah dengan perasaan demikian, maka dia akan 
senantiasa berusaha membaguskan ibadahnya karena 
Allah Ta’alasenantiasa mengawasinya 
 “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak 
membaca suatu ayat dari al-Quran dan kamu tidak 
mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi 
saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.” (QS. Yunus: 
61)
Keutamaan Ihsan 
 “Sesungguhnya Allah beserta orang2 yg bertakwa dan 
orang2 yg berbuat ihsan.” (QS. An Nahl: 128). 
 Dlm ayat ini Allah menunjukkan keutamaan seorang muhsin 
yg bertakwa kepada Allah, yg tidak meninggal kan 
kewajibannya dan menjauhi segala yg haram. Kebersamaan 
Allah dlm ayat ini adalah kebersamaan yg khusus. 
Kebersamaan khusus yakni dlm bentuk pertolongan, 
dukungan, dan petunjuk jalan yg lurus sebagai tambahan 
dari kebersamaan Allah yg umum (yakni pengilmuan Allah). 
 orang2 yg berbuat ihsan adalah yg mentaati Rabbnya, yakni 
dg mengikhlaskan niat dan tujuan dm beribadah serta 
melaksankanan syariat Allah dg petunjuk yg telah 
dijelasakan oleh Rasulullah SAW
Ayat2 tentang Ihsan 
 “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan 
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dlm 
kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya 
Allah menyukai orang2 yg berbuat ihsan.” (Al 
Baqarah:195) 
 “Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah 
dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, 
maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yg 
berbuat ihsan (kebaikan) diantaramu pahala yg besar.” 
(QS. Al Ahzab: 29) 
 “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam 
enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di 
atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang 
lebih baik (lebih ihsan) amalnya.” (QS. Huud: 7)
Penerapan Makna Ihsan dlm 
Kehidupan 
 sikap ihsan ini harus berusaha kita terapkan dlm 
kehidupan se-hari2. Jika kita berbuat amalan kataatan, 
maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk Allah. 
Sebaliknya jika terbesit niat di hati kita untuk berbuat 
keburukan, maka kita tidak mengerjakannya karena sikap 
ihsan yg kita miliki. 
 Seseorang yg sikap ihsannya kuat akan rajin berbuat 
kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yg 
selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan 
karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya. 
 Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, 
dan akhlak seorang hamba. Oleh karena itu, semua orang 
yg menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan 
seluruh potensi diri yg dimilikinya agar sampai pd tingkat 
tersebut
Siapa pun kita, apa pun profesi 
kita, di mata Allah tidak ada yg 
lebih mulia dari yg lain, kecuali 
mereka yg telah naik ke tingkat 
ihsan dlm seluruh amalannya.

Derajat ihsan

  • 1.
    Derajat ihsan Derajatihsan merupakan tingkatan tertinggi keislaman seorang hamba. Tidak semua orang bisa meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba Allah yang khusus saja yang bisa mencapai derajat mulia ini. Oleh karena itu, merupakan keutamaan tersendiri bagi hamba yang mampu meraihnya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk di dalamnya.
  • 2.
    Tingkatan agama Paling tinggi adalah ihsan, kemudian iman, dan paling rendah adalah islam.  Kaum muhsinin (orang2yg memiliki sifat ihsan) merupakan hamba pilihan dari hamba2 Allah yg shalih. Oleh sebab itu, sebagian ulama menjelaskan jika ihsan sudah terwujud berarti iman dan islam juga sudah terwujud pada diri seorang hamba.  Jadi, setiap muhsin pasti mukmin dan setiap mukmin pasti muslim. Namun tidak berlaku sebaliknya. Tidak setiap muslim itu mukmin dan tidak setiap mukmin itu mencapai derajat muhsin.  Pelaku ihsan adalah hamba pilihan dari hamba2 Allah yg shalih. Oleh karena itu, di dlm al Quran disebutkan hak2 mereka secara khusus tanpa menyebutkan hak yg lainnya
  • 3.
    Makna Ihsan Kata ihsan (berbuat baik) merupakan kebalikan dari kata al isaa-ah (berbuat buruk), yakni perbuatan seseorang untuk melakukan perbuatan yg ma’ruf dan menahan diri dari dosa. Dia mendermakan kebaikan kpd hamba Allah yg lainnya baik melalui hartanya, kehormatannya, ilmunya, maupun raganya.  “’Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah se-akan2 kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R. Muslim 102)  ihsan mencakup dua macam, yakni ihsan dalam beribadah kepada Allah dan ihsan dalam menunaikan hak sesama makhluk.
  • 4.
    Tingkatan Ihsan Pertama, tingkatan muroqobah: Yakni seseorang yang beramal senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah dalam setiap aktivitasnya  Kedua, tingkatan musyahadah : seseorang senantiasa memeperhatikan sifat2 Allah dan mengaitkan seluruh aktifitasnya dg sifat2 tsb
  • 5.
    1. Tingkatan Musyahadah  Yaitu seseorang beribadah kepada Allah seolah-oleh dia melihat-Nya. Maksud melihat di sini bukanlah melihat dzat-Nya, tetapi melihat sifat-sifat-Nya, yaitu dengan melihat bekas-bekas dari sifat-sifat-Nya yang bisa disaksikan pada ciptaan-Nya  Ilmu dan keyakinan seorang mukmin dengan nama-nama Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya akan menjadikannya mengembalikan segala sesuatu yang dia lihat di alam ini kepada salah satu nama di antara nama-nama Allah atau sifat diantara sifat-sifat-Nya.  Dengan demikian, maka nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi akan senantiasa hadir dalam hatinya, khususnya ketika beribadah kepada Allah Ta’ala.
  • 6.
    2. Tingkatan Muraqabah  Yaitu seseorang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan disertai perasaan bahwasanya Allah senantiasa mengawasinya. Jika seorang hamba beribadah kepada Allah dengan perasaan demikian, maka dia akan senantiasa berusaha membaguskan ibadahnya karena Allah Ta’alasenantiasa mengawasinya  “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.” (QS. Yunus: 61)
  • 7.
    Keutamaan Ihsan “Sesungguhnya Allah beserta orang2 yg bertakwa dan orang2 yg berbuat ihsan.” (QS. An Nahl: 128).  Dlm ayat ini Allah menunjukkan keutamaan seorang muhsin yg bertakwa kepada Allah, yg tidak meninggal kan kewajibannya dan menjauhi segala yg haram. Kebersamaan Allah dlm ayat ini adalah kebersamaan yg khusus. Kebersamaan khusus yakni dlm bentuk pertolongan, dukungan, dan petunjuk jalan yg lurus sebagai tambahan dari kebersamaan Allah yg umum (yakni pengilmuan Allah).  orang2 yg berbuat ihsan adalah yg mentaati Rabbnya, yakni dg mengikhlaskan niat dan tujuan dm beribadah serta melaksankanan syariat Allah dg petunjuk yg telah dijelasakan oleh Rasulullah SAW
  • 8.
    Ayat2 tentang Ihsan  “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dlm kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang2 yg berbuat ihsan.” (Al Baqarah:195)  “Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yg berbuat ihsan (kebaikan) diantaramu pahala yg besar.” (QS. Al Ahzab: 29)  “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik (lebih ihsan) amalnya.” (QS. Huud: 7)
  • 9.
    Penerapan Makna Ihsandlm Kehidupan  sikap ihsan ini harus berusaha kita terapkan dlm kehidupan se-hari2. Jika kita berbuat amalan kataatan, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk Allah. Sebaliknya jika terbesit niat di hati kita untuk berbuat keburukan, maka kita tidak mengerjakannya karena sikap ihsan yg kita miliki.  Seseorang yg sikap ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yg selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya.  Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak seorang hamba. Oleh karena itu, semua orang yg menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yg dimilikinya agar sampai pd tingkat tersebut
  • 10.
    Siapa pun kita,apa pun profesi kita, di mata Allah tidak ada yg lebih mulia dari yg lain, kecuali mereka yg telah naik ke tingkat ihsan dlm seluruh amalannya.