SlideShare a Scribd company logo
1 of 17
Laporan Project Based Learning Mata Kuliah
VE230311 – Instrumentasi Industri
Semester Ganjil 2023/2024
IT Support & Networking
Disusun oleh:
M Akbar Hidayatullah
2040221038
Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Otomasi
Departemen Teknik Elektro Otomasi
Fakultas Vokasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Desember 2023
DAFTAR ISI
RINGKASAN.................................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................ 3
I.1 Deskripsi Project............................................................................................................... 3
I.2 Target dan Cakupan Project.............................................................................................. 3
BAB II MATERI MATA KULIAH INSTRUMENTASI INDUSTRI...................................... 6
2.1 Capaian Pembelajaran Mata Kuliah.................................................................................. 6
2.2 Materi Perkuliahan............................................................................................................ 6
BAB III ANALISA KORELASI PROJECT DENGAN MATA KULIAH.............................. 14
BAB IV MATERI YANG PERLU DIPERDALAM ................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................. 16
RINGKASAN
Pekembangan dalam teknologi komunikasi modern telah memuncukan berbagai inovasi untuk solusi
yang lebih canggih dan efisien. Salah satu inovasi terpenting saat ini adalah penggunaan teknologi
Fiber Optic. Kemampuanya untuk mentransmisikan data dengan kecepatan tinggi melalui serat kaca,
telah mendorong perkembangan dalam sistem komunikasi saat ini. Kecepatan transmisi data
memungkinkan pengiriman informasi dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat, serta mendukung
penggunaan aplikasi yang membutuhkan bandwidth tinggi. Fiber Optic memiliki kapasitas transimisi
yang lebih besar dibandingkan dengan kabel tembaga konvensional, sehingga memungkinkan
peningkatan kapasitas jaringan, mendukung pertumbuhan pesat penggunaan internet, cloud
computing, dan aplikasi berat lainnya tanpa kekhawatiran terkait kapasitas jaringan yang terbatas.
Penggunaan Fiber Optic memiliki tingkat gangguan yang rendah, karena serat kaca tidak rentan
terhadap inerferensi gelombgan elektromagnetik. Terlepas dari keunggulan penggunaan jaringan
Fiber Optic tentunya ada juga kekurangan yang dimilikinya. Dalam proses pengerjaanya
membutuhkan peralatan khusus karena sifat kabel yang terbuat dari serat kaca itu mudah patah,
sehingga diperlukan keahlian khusus agar proses pengerjaan dapat diselesaikan dengan baik.
Kata Kunci: Fiber Optic, Transmisi Data, Gelombang Elektromagnetik
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Deskripsi Project
Di dalam Project IT Support dan Networking memiliki tugas utama yaitu instalasi kabel Fiber Optic
untuk menyalurkan jaringan internet sesuai dengan permintaan pelanggan. Dalam pengerjaanya dibagi
menjadi beberapa tugas khusus yaitu Aktivasi, Penanganan Gangguan, dan Preventive Maintenance.
Aktivasi dilakukan dengan tujuan untuk membangun sebuah jaringan pada suatu daerah dan
pemasangan jaringan baru di tempat pelanggan. Penanganan Gangguan dikerjakan ketika terjadi
gangguan baik di sisi pelanggan ataupun provider jaringan itu sendiri. Gangguan dapat terjadi akibat
kabel putus, kerusakan perangkat, kesalahan penempatan port, dan sebagianya. Preventive Maintenance
biasanya dilakukan di POP (Point of Presence) yaitu tempat perangkat komunikasi yang saling
terhubung dari internet service provider ke pelanggan, tugas yang dikerjakan adalah pengecekan,
pembersihan, hingga perbaikan perangkat.
1.2 Target dan Cakupan Project
1.2.1 Target
Target dari proyek IT Support & Networking adalah bagaimana dapat memahami konsep
yang digunakan pada jaringan fiber optik dimulai dari sistem penyaluran data dari server
jaringan yang awalnya dalam bentuk sinyal listrik digital setelah itu akan diubah menjadi
sinyal cahaya yang nantinya akan melewati kabel fiber sampai kepada pelanggan. Pekerjaan
yang dilakukan memiliki beberapa target pelanggan, yang pertama adalah dari jalur fiber to
the home (FTTH) biasanya disebut Retail. Kemudian apabila berasal dari perusahaan atau
pabrik biasanya disebut Corporate. Di tempat pelanggan akan disediakan pernangkat yang
berfungsi sebagai pengubah sinyal cahaya menjadi sinyal digital hingga bisa dimanfaatkan
oleh pelanggan tersebut.
1.2.2 Cakupan Project
Aktivasi
Bertujuan untuk membangun jaringan pada suatu daerah dan pemasangan jaringan baru di
tempat pelanggan.
a. Masa Penyelesaian Pekerjaan
Survey : 1 Minggu
Perizinan : 1 Minggu – 1 Bulan
Eksekusi Lapangan : 2 Minggu – 1 Bulan
Pembuatan Laporan : 2 Minggu
Revisi dan Penagihan : 2 Minggu
b. Tahapan Pekerjaan
Pemasangan Kwh : Sebagai supplai daya untuk mengaktifkan
perangkat
Instalasi Perangkat di Kabinet : Untuk menyalurkan internet dari PoP
(Point of Presence)
Instalasi Joint Box (JB) : Sebagai terminal untuk beberapa kabel
pada jalur yang berbeda
Instalasi Fiber Distribution Box (FDT) : Sebagai terminal untuk setiap jalur kabel
Instalasi Fiber Acces Terminal (FAT) : Untuk menyalurkan kabel menuju tempat
pelanggan
Penanganan Gangguan
Penanganan gangguan dikerjakan ketika terjadi gangguan baik di sisi pelanggan ataupun
provider jaringan itu sendiri. Gangguan dapat terjadi akibat kabel putus, kerusakan perangkat,
kesalahan penempatan port, dan lainya.
a. Masa Penyelesaian Pekerjaan
Tiket Pekerjaan Gangguan : 1 Hari
Eksekusi Lapangan : 1 – 3 Hari
Pembuatan Laporan : 1 – 3 Hari
Revisi dan Penagihan : 2 Minggu
b. Tahapan Pekerjaan
Pengecekan Kerusakan : Mencari titik kerusakan yang menyebabkan
gangguan
Pengukuran Jarak Kabel : Mengetahui titik kabel putus atau untuk mencari
titik perangkat terdekat
Jointing Core : Menyambung core yang putus
Labeling Core : Memberi label pada core supaya lebih mudah untuk
mencari sambungan core
Preventive Maintenance (PM)
Kegiatan ini biasanya dilakukan di POP (Point of Presence) yaitu tempat perangkat
komnunikasi yang saling terhubung dari internet service provider ke pelanggan.
a. Masa Penyelesaian Pekerjaan
Tiket Pekerjaan PM : 1 Hari
Eksekusi Lapangan : 1 – 2 Jam
Pembuatan Laporan : 1 Hari
Revisi dan Penagihan : 2 Minggu
b. Tahapan Pekerjaan
Pembuatan Working Permit : Digunakan untuk perizinan masuk ke gardu
induk
Pengecekan Perangkat : Mencari perangkat yang kemungkinan
sudah rusak
Pembersihan Perangkat : Membersihkan keseluruhan perangkat yang
ada
Uji Coba Ketahanan Perangkat : Melakukan pengetesan pada baterai dan
rectifier
BAB II MATERI MATA KULIAH INSTRUMENTASI INDUSTRI
2.1 Capaian Pembelajaran Mata Kuliah
 Mahasiswa memahami konsep dasar sistem instrumentasi yang meliputi sensor dan actuator
 Mahasiswa menguasai dan mampu menerapkan teknik pengukuran besaran listrik, besaran
proses, gaya, berat, kecepatan, dan posisi
 Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan penggunaan motor sebagai aktuator dan
aktuator pneumatik & hidrolik
 Mahasiswa mampu menggambar P&ID dan mengikuti standar pada sistem
insturmentasi
2.2 Materi Perkuliahan
2.2.1 Definisi dan Konsep Dasar Sensor
Instrumentasi (Instrumentation) adalah teknologi pengukuran yang melayani ilmu (sciences),
teknik/rekayasa (engineering), kedokteran (medicine), dll.
Sensor adalah perangkat yang merubah besaran variabel fisik yang diukur (measurand/ Stimulus)
menjadi besaran sinyal elektrik. Sinyal elektrik yang dihasilkan berupa V, I, Muatan (C) yang dapat
disalurkan (Chanelled), diperkuat (amplified) atau dimodifikasi (modified) oleh Perangkat Elektronik.
Besaran sinyal elektrik ini lebih lanjut dapat dideskripsikan dalam nilai Amplitudo, Frekuensi, Fasa,
Kode Digital.
Sensor bisa didesain untuk setiap satuan non-elektrik, dengan memilih material yang sesuai. Variasi
apa pun dalam parameter nonelektrik menyiratkan variasi dalam parameter listrik karena struktur
elektronik materi.
2.2.2 Klasifikasi Sensor dan Karakteristik Sensor
Karena ada begitu banyak sensor untuk berbagai satuan, untuk mempermudah mempelajarinya adalah
dengan mengklasifikasikannya berdasarkan beberapa kriteria.
1. Berdasarkan suplai daya:
a. Sensor modulasi (atau aktif)
Dalam sensor modulasi, sebagian besar output daya sinyal berasal dari sumber daya tambahan.
Sensor modulasi memiliki kelebihan yaitu tegangan suplai daya bisa merubah sensitivitas
keseluruhan. Contohnya adalah thermistor.
b. Sensor self-generating (atau pasif)
Dalam sensor self-generating, output daya datang dari input. Contohnya adalah thermocouple.
2. Berdasarkan sinyal output:
a. Sensor analog
Dalam sensor analog output berubah dalam secara kontinu pada tingkat makroskopis.
Contohnya adalah potentiometer.
b. Sensor digital
Dalam sensor digital output mengambil bentuk Langkah atau kondisi diskrit. Output digital
lebih dapat diulang dan diandalkan dan sering lebih akurat. Sayangnya, sensor digital tidak
dapat mengukur banyak satuan. Contohnya encoder posisi.
3. Berdasarkan mode operasi:
a. Sensor defleksi
Dalam sensor defleksi, satuan yang diukur menghasilkan efek fisik yang menghasilkan
dibeberapa bagian instrumen efek yang serupa namun berlawanan yang terkait dengan beberapa
variabel yang berguna. Sebagai contoh, dinamometer untuk mengukur gaya adalah sensor di
mana gaya yang akan diukur membelokkan pegas ke titik di mana gaya yang diberikannya,
sebanding dengan deformasinya, menyeimbangkan gaya yang diberikan. Contohnya
accelerometer defleksi.
b. Sensor tipe nol (null-type)
Sensor tipe nol berusaha mencegah defleksi dari titik nol dengan menerapkan efek yang
diketahui yang berlawanan dengan efek yang dihasilkan oleh kuantitas yang diukur. Contohnya
adalah servo-accelerometer.
Ada dua karakteristik sensor yaitu karakteristik statis dan dinamis. Karena sensor mempengaruhi
karakteristik seluruh sistem pengukuran, maka penting untuk mendeskripsikan perilakunya dengan cara
yang berarti. Pada sebagian besar sistem pengukuran, kuantitas yang akan diukur berubah sangat lambat
sehingga hanya perlu mengetahui karakteristik statis sensor. Berikut karakteristik statis sensor.
a. Akurasi
Akurasi adalah kualitas yang mencirikan kapasitas alat ukur untuk memberikan hasil yang
mendekati nilai sebenarnya dari satuan yang diukur.
b. Presisi
Presisi adalah kualitas yang mencirikan kemampuan alat ukur instrumen memberikan
pembacaan yang sama ketika mengukur berulang kali yang sama kuantitas yang sama di bawah
kondisi yang ditentukan yang sama (lingkungan, operator, dll.), tanpa memperhatikan
kebetulan atau ketidaksesuaian antara hasil dan nilai sebenarnya.
c. Sensitivitas
Sensitivitas atau skala faktor adalah kemiringan kurva kalibrasi, apakah itu konstan atau tidak
di sepanjang rentang pengukuran.
Akurasi, presisi, dan sensitivitas adalah karakteristik yang cukup menggambarkan perilaku statis sensor.
Namun terkadang karakteristik lain ditambahkan atau diganti ketika diperlukan untuk menggambarkan
perilaku alternatif atau perilaku yang menjadi perhatian khusus untuk kasus tertentu; demikian juga,
karakteristik dapat ditambahkan yang saling melengkapi untuk menggambarkan kesesuaian pengukuran
sistem untuk aplikasi tertentu. Berikut beberapa karakteristik statis lain sensor.
a. Linearitas
Linearitas menggambarkan kedekatan antara kurva kalibrasi dan garis lurus yang ditentukan.
Beberapa definisi berlaku.
b. Resolusi
Resolusi (atau diskriminasi) adalah perubahan minimal dari input yang diperlukan untuk
menghasilkan perubahan yang dapat dideteksi pada output.
c. Error sistematis
Kalibrasi statis sensor memungkinkan kita mendeteksi dan mengoreksi apa yang disebut error
sistematis. error dikatakan sistematis ketika dalam proses pengukuran nilai yang sama dari
kuantitas yang diberikan dalam kondisi yang sama, kesalahan itu tetap konstan dalam nilai
absolut dan tanda atau bervariasi sesuai dengan hukum yang pasti ketika kondisi pengukuran
berubah.
d. Error acak
Error acak adalah kesalahan yang tersisa setelah menghilangkan penyebab kesalahan sistematis
kesalahan. Error ini muncul ketika nilai yang sama dari kuantitas yang sama diukur berulang
kali, menggunakan instrumen yang sama dan metode yang sama.
Respon sensor terhadap sinyal input variabel berbeda dari yang ditunjukkan apabila sinyal input
konstan, yang dijelaskan oleh karakteristik statis. Alasannya adalah adanya elemen penyimpan energi,
seperti elemen inersia (massa, induktansi, dll.) dan kapasitansi (listrik, panas, fluida, dll.). Karakteristik
dinamis adalah error dinamis dan kecepatan respons (waktu konstan, delay). Mereka menggambarkan
perilaku sensor dengan variabel yang diterapkan sinyal input. Untuk menentukan karakteristik dinamis
sensor, kita harus menerapkan variabel pada inputnya. Inputnya ini dapat mengambil banyak bentuk
yang berbeda, tetapi biasa untuk mempelajari respon terhadap input transien (impuls, langkah, ramp),
input periodik (sinusoidal), atau input acak (white noise).
2.2.3 Teknik Pengukuran Listrik
Pengukuran listrik didefinisikan sebagai pengukuran parameter listrik tradisional seperti tegangan, arus,
kekuatan medan listrik, medan magnet, resistansi, kapasitansi, induktansi, ditambah parameter SS AC
impedansi dan admitansi, daya, frekuensi, dan fase.
2.2.4 Teknik Pengukuran Besaran Proses
Besaran Proses adalah besaran yang menggambarkan atau mengkarakterisasi proses manufaktur,
misalnya gaya, tekanan, suhu, dan potensi kimia. Hal ini umumnya bergantung pada waktu.Tekanan
adalah gaya per satuan luas yang diberikan oleh fluida pada permukaan wadah.
Tekanan absolut berada di atas referensi ruang hampa udara yang sempurna, sedangkan tekanan
pengukur adalah perbedaan antara tekanan absolut dan tekanan atmosfer lokal. Teknik untuk
pengukuran tekanan bervariasi berdasarkan besarnya dan apakah itu statis atau dinamis. Tekanan yang
sangat tinggi melebihi 1000 atm, dan tekanan yang sangat rendah sekitar 1 mm Hg atau di bawahnya.
Tekanan dinamis, seperti pada kompresor reciprocating, sering dikonversi menjadi perpindahan
menggunakan elemen elastis, diikuti dengan transduksi elektromekanis untuk output listrik. Akurasi
pengukuran tergantung pada elemen elastis, transduser, dan karakteristik fluida.
Aliran adalah pergerakan fluida di dalam saluran atau dalam saluran terbuka atau tertutup. Laju laju
aliran adalah jumlah materi, dalam volume atau berat, yang mengalir dalam satu unit waktu. Laju aliran
diukur dalam semua proses transportasi energi dan massa untuk mengontrol atau memantau proses-
proses tersebut dan untuk tujuan pengukuran.
2.2.5 Teknik Pengukuran Berat dan Gaya
Berat adalah ukuran seberapa berat suatu benda. Berat diukur dalam satuan standar yang lazim.
Massa suatu benda adalah jumlah materi yang dikandungnya. Massa diukur dalam satuan metrik
standar. Berat bergantung pada gravitasi, dan gravitasi di planet lain berbeda Inilah sebabnya mengapa
ketika astronot melayang di angkasa, mereka tidak berbobot. Meskipun begitu, astronot tetap memiliki
massa.
Pengukuran gaya sangat penting di bidang sains, teknik, dan biomedis. Ini mendefinisikan ampere
dalam arus listrik melalui gaya magnetik dalam konduktor. Penimbangan bergantung pada pengukuran
gaya dalam medan gravitasi. Daya dorong mesin jet, biomekanik, gaya kontraktil otot, dan dinamika
fluida di ruang angkasa adalah gaya yang diukur. Dari mikrogram hingga ratusan ribu kilogram,
beragam sensor gaya (load cells) memenuhi berbagai aplikasi, sehingga memungkinkan teknisi
instrumentasi untuk memilih berdasarkan kebutuhan spesifik mereka.
Pengukuran gaya sering kali melibatkan perpindahan kecil pada bagian yang tertekan dan elastis secara
linier. Perpindahan atau regangan sebanding dengan gaya, diukur secara optic melalui interferometri
atau secara elektrik menggunakan LVDT (Linier Variable Differential Transformer), jembatan
pengukur regangan kawat berikat ataupun tidak, jembatan pengukur regangan semikonduktor,
perubahan kapasitansi, atau kristal piezoelektrik. LVDT mendeteksi perpindahan linier, sedangakan PT
(Pressure Transducer) mengukur perubahan tekanan dalam sistem fluida, memeberikan data yang
berharga dalam berbagai aplikasi.
2.2.6 Teknik Pengukuran Besaran Posisi, Kecepatan, Percepatan
Accelerometer linier dapat diintegrasikan untuk memperkirakan kecepatan dan posisi. Metode lain
untuk menentukan kecepatan melibatkan efek Doppler dengan cahaya, gelombang mikro, atau suara.
Menemukan lokasi kendaraan dengan tepat merupakan masalah navigasi, terutama di dalam lingkungan
tertutup seperti kapal selam atau pesawat terbang. Sensor posisi tanpa sentuhan, seperti ultrasound,
gelombang mikro, dan cahaya, mengukur posisi relatif objek tanpa kontak fisik, menggunakan teknik
seperti interferometri atau penguncian fase.
Teknologi pengukuran posisi linier mencakup berbagai aplikasi, mulai dari pelacakan kendaraan
internal (navigasi, navigasi inersia, dan Global positioning system atau GPS) hingga mengukur posisi
benda mekanis, makhluk hidup, manusia, kendaraan, dan sumber radiasi.Kecepatan translasi tidak dapat
diukur secara langsung dan oleh karena itu harus dihitung secara tidak langsung yaitu dengan
Diferensiasi pengukuran perpindahan, Integrasi output dari accelerometer dan Konversi ke kecepatan
rotasi.
Transduser perpindahan translasi dapat menghasilkan pengukuran posisi, yang apabila dibedakan,
memberikan sinyal kecepatan translasi. Namun, diferensiasi cenderung memperkuat noise dalam sistem
pengukuran. Untuk mengurangi hal ini, pilihlah instrumen dengan kebisingan rendah seperti
potensiometer film karbon tereksitasi DC atau interferometer laser. Saat menggunakan potensiometer,
hindari eksitasi ac untuk mencegah masalah yang disebabkan oleh harmonisa pada catu daya.
Jika akselerometer sudah disertakan dalam suatu sistem, integrasi outputnya dapat dilakukan untuk
menghasilkan sinyal kecepatan. Proses integrasi akan melemahkan daripada memperkuat kebisingan
pengukuran dan oleh karena itu teknik ini dapat diterima. Konversi dari kecepatan translasi ke rotasi
adalah teknik pengukuran terakhir terbuka bagi perancang sistem dan merupakan teknik yang paling
umum digunakan.
Satu-satunya kelas perangkat yang tersedia untuk mengukur akselerasi adalah akselerometer. Ini
tersedia dalam berbagai jenis dan rentang yang dirancang untuk memenuhi persyaratan pengukuran
tertentu. Mereka memiliki respons frekuensi antara nol dan nilai yang tinggi, dan memiliki bentuk
output yang dapat dengan mudah diintegrasikan untuk memberikan pengukuran perpindahan dan
kecepatan. Respons frekuensi akselerometer dapat ditingkatkan dengan mengubah tingkat redaman
pada instrumen. Namun, penyesuaian tersebut harus dilakukan dengan hati-hati, karena peningkatan
respons frekuensi hanya dapat dicapai dengan mengorbankan sensitivitas pengukuran. Selain digunakan
untuk pengukuran gerakan tujuan umum, akselerometer juga digunakan secara luas untuk mengukur
guncangan dan getaran mekanis.
2.2.7 Prinsip Kerja Motor dan Aktuator
Motor listrik, yang banyak digunakan sebagai aktuator elektromekanis, bervariasi berdasarkan
fungsionalitas dan karakteristik elektromagnetik. Perbedaannya terletak pada desain rotor dan metode
pembangkitan medan magnet. Istilah motor yang umum meliputi.
a. Stator: Rumah bagian luar atau dalam yang tidak bergerak yang mendukung material untuk
medan magnet stator.
b. Kumparan medan (sistem): Bagian stator yang menghasilkan fluks magnet stator.
c. Rotor: Bagian motor yang berputar, dapat berupa magnet permanen atau inti feromagnetik
dengan gulungan kumparan (dinamo).
d. Armature: Gulungan rotor yang membawa arus dan menginduksi medan magnet rotor.
e. Celah udara: Celah kecil antara rotor dan stator, tempat medan magnet berinteraksi untuk
menghasilkan torsi.
f. Brush: Bagian yang memasok arus ke rotor pada motor DC (atau cincin selip untuk motor
AC sinkron).
g. Komutator: Bagian rotor motor DC yang bersentuhan dengan sikat, mengendalikan arah arus
dinamo.
Torsi pada motor listrik dihasilkan melalui interaksi arus dinamo dan medan magnet stator (Hukum
Lorentz) atau interaksi medan stator dan medan dinamo. Metode pergantian bervariasi untuk motor AC,
DC, stepping motor, dan motor brushless DC (BLDC), yang memengaruhi arah arus dalam kumparan
untuk mempertahankan arah fluks magnet yang diinginkan.
2.2.8 Prinsip Pneumatik dan Hidrolik
Semua sistem yang menggunakan tenaga yang disimpan dalam bentuk udara yang dimampatkan untuk
menghasilkan suatu kerja disebut dengan sistem Pneumatik. Prinsip kerja mesin hidrolik didasarkan
pada tekanan konstan pegas. Ini menciptakan sumber daya untuk mesin. Mesin menggunakan tekanan
fluida hidrolik, mengandalkan tekanan konstan untuk menggerakkan benda kerja melawan fluida, atau
menekan material ke dinding mesin hidrolik.
Sistem pneumatik memanfaatkan udara sebagai tenaga penggeraknya. Udara bertekanan dapat
menghasilkan efek berupa gerakan mekanis. Sedangkan sistem hidrolik memanfaatkan zat cair atau
fluida sebagai tenaga penggeraknya. Fluida inilah yang nantinya juga menghasilkan tenaga mekanik.
2.2.9 Piping and Instrumentasi Diagram (P&ID)
Skema kelistrikan menggunakan simbol standar untuk pemahaman sirkuit, seperti halnya kontrol proses
yang menggunakan simbol yang diuraikan dalam standar ANSI/ISA S5.1-1984. Dikembangkan secara
kolaboratif oleh American National Standards Institute (ANSI) dan Instrumentation, Systems, and
Automation (ISA), standar ini memfasilitasi pembuatan diagram kontrol proses yang disederhanakan.
Diagram ini sangat penting dalam tahap desain awal sistem kontrol pabrik dan kemudian berkembang
menjadi diagram pemipaan dan instrumentasi (P&ID) yang terperinci. P&ID memberikan representasi
komprehensif dari desain pabrik dan sistem kontrol terkait. P&ID merupakan dasar untuk pemeliharaan
dan modifikasi proses yang direpresentasikan secara grafis. Pada tahap desain, diagram ini juga
memberikan dasar untuk pengembangan skema kontrol sistem.
Untuk fasilitas pemrosesan, diagram ini merupakan representasi grafis dari
 Detail perpipaan dan instrumen utama
 Skema kontrol dan pemadaman
 Persyaratan keselamatan dan peraturan
 Informasi awal dan operasional dasar
2.2.10 Standar-Standar Pada Instrumentasi
Memastikan akurasi instrumen melalui kalibrasi adalah masalah universal. Kalibrasi melibatkan
penilaian performa instrumen dengan menggunakan standar yang sesuai. Konferensi Umum tentang
Berat dan Ukuran tahun 1960 menetapkan Sistem Satuan Internasional (SI) berdasarkan tujuh satuan
dasar. Pada tahun 1990, standar yang diperbarui diadopsi secara global, dengan National Institute of
Standards and Technology (NIST) AS mengawasi standar primer dan sekunder. NIST terus bekerja
untuk meningkatkan standar dan meningkatkan akurasi dalam kalibrasi instrumen.
Standar adalah representasi fisik dari Quality of Uncertainty Management (QUM) yang nilai sebenarnya
diketahui dengan akurasi baik. Standar dapat diklasifikasikan sebagai
1. Standar internasional
2. Standar utama
3. Standar sekunder
4. Standar kerja
Standar internasional ditentukan oleh perjanjian internasional dan disimpan di Bureau of Weights and
Measures (BIPM) di Sèvres, Prancis. Contoh dari standar internasional adalah massa kilogram. Standar
internasional tidak tersedia setiap hari untuk kalibrasi atau perbandingan.
Standar utama dipertahankan di laboratorium standar nasional di negara-negara di seluruh dunia.
Standar primer, yang mewakili beberapa satuan dasar fisik dan listrik, serta beberapa besaran turunan,
diukur dan dikalibrasi secara independen di berbagai laboratorium nasional dan dibandingkan satu sama
lain. Proses ini menghasilkan angka besar atau angka rata-rata dunia untuk standar tersebut. Standar
primer digunakan secara terus menerus, tetapi umumnya tidak meninggalkan laboratorium standar
nasional.
Standar sekunder adalah standar referensi yang pada awalnya dikalibrasi dari standar primer dan
kemudian digunakan di laboratorium industri dan penelitian setiap hari untuk mengkalibrasi standar
kerja mereka,yang digunakan setiap hari untuk memeriksa dan mengkalibrasi instrumen laboratorium
yang berfungsi.
2.2.11 Pengkondisi Sinyal : Operational Amplifier
Operational amplifier atau singkatnya op amp adalah unit elektronik yang berperilaku seperti voltage-
controlled voltage source. Op amp adalah elemen sirkuit aktif yang dirancang untuk melakukan operasi
penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, diferensiasi, dan integrasi. Op amp adalah perangkat
elektronik yang terdiri dari kompleks susunan resistor, transistor, kapasitor, dan dioda.
BAB III ANALISA KORELASI PROJECT DENGAN MATA KULIAH
 Fiber Optic memiliki kapasitas transmisi yang tinggi dan dapat mendukung transfer data
dengan kecepatan tinggi. Dalam instrumen industri di mana perlu dilakukan pengukuran dan
kontrol dalam waktu nyata, penggunaan fiber optik dapat memastikan transmisi data yang
cepat dan akurat.
 Fiber optik memiliki kemampuan mentransmisikan data pada jarak yang jauh tanpa
kehilangan sinyal yang signifikan. Hal ini berguna dalam instrumen industri di mana sensor
dan perangkat kendali tersebar di lokasi yang berjauhan.
 Fiber optik dapat bertahan di lingkungan industri yang keras, termasuk suhu ekstrem,
kelembapan, dan kondisi korosif. Ini membuatnya cocok untuk digunakan dalam instrumen
yang ditempatkan di area yang tidak ramah atau berisiko terpapar elemen eksternal.
 Fiber optik memiliki diameter yang kecil dan ringan, sehingga lebih mudah diintegrasikan
dalam lingkungan industri yang memiliki pembatasan ruang dan membutuhkan fleksibilitas
instalasi.
BAB IV MATERI YANG PERLU DIPERDALAM
Pendalaman materi kuliah instrumentasi industri perlu untuk dilakukan, karena dalam Project IT
Support & Networking juga terdapat beberapa korelasi yang dapat mendukung kemajuan project
tersebut. Beberapa materi yang perlu untuk diperdalam lagi, diantaranya yaitu :
 Teknik Pengukuran
 Piping and Instrumentation Diagram (P&ID)
 Prinsip Pneumatik dan Hidrolik
 Klasifikasi dan karakteristik sensor
DAFTAR PUSTAKA
[1] Curtis D, Johson. 1989. Process Control Instrumentation Technology 7th
edition. New Jersey
[2] Altmann, Wolfgang. 2005. Practical Process Control forEngineers and Technicians.
[3] Robert H, Bishop. 2008. Mechatronic System, Sensors and Actuators Edisi 2. CRC Press
[4] Spehen E, Derenso. 2003. Practical Interfacing in the Laboratory, Data Analysis and Control.
Cambridge University Press.
[5] John G, Webster. 2000. Sensors and Signal Conditioning 2nd
Edition.

More Related Content

Similar to CyPIRAL_2040221038_M Akbar Hidayatullah_Laporan Instrumentasi Industri.docx

Rangkaian Pengatur Kecepatan dan Arah Putaran Motor DC Berbasis Adruino Uno
Rangkaian Pengatur Kecepatan dan Arah Putaran Motor DC Berbasis Adruino UnoRangkaian Pengatur Kecepatan dan Arah Putaran Motor DC Berbasis Adruino Uno
Rangkaian Pengatur Kecepatan dan Arah Putaran Motor DC Berbasis Adruino UnoRianaDS
 
PPT Mengidentifikasi Masalah pada suatu pabrik manufaktur (1).pptx
PPT Mengidentifikasi Masalah pada suatu pabrik manufaktur (1).pptxPPT Mengidentifikasi Masalah pada suatu pabrik manufaktur (1).pptx
PPT Mengidentifikasi Masalah pada suatu pabrik manufaktur (1).pptxYanuarKure45
 
Magnetic Levitation Report Document
Magnetic Levitation Report DocumentMagnetic Levitation Report Document
Magnetic Levitation Report DocumentSaufik Ramadhan
 
Proposal pa amel versi 1 copy
Proposal pa amel versi 1   copyProposal pa amel versi 1   copy
Proposal pa amel versi 1 copyNaulanHafiza
 
Mobile Adhoc Network dan Wireless Sensor Network
Mobile Adhoc Network dan Wireless Sensor NetworkMobile Adhoc Network dan Wireless Sensor Network
Mobile Adhoc Network dan Wireless Sensor NetworkArif Setiawan
 
Sistem Kendali Volume Air pada Air Isi Ulang dengan Ultrasonic metode PID ber...
Sistem Kendali Volume Air pada Air Isi Ulang dengan Ultrasonic metode PID ber...Sistem Kendali Volume Air pada Air Isi Ulang dengan Ultrasonic metode PID ber...
Sistem Kendali Volume Air pada Air Isi Ulang dengan Ultrasonic metode PID ber...DestiNuraeni
 
Sistem Kendali Intensitas Cahaya B100-B600
Sistem Kendali Intensitas Cahaya B100-B600Sistem Kendali Intensitas Cahaya B100-B600
Sistem Kendali Intensitas Cahaya B100-B600MUHAMMADPANJI8
 
Jemuran ikan asin otomatis
Jemuran ikan asin otomatis Jemuran ikan asin otomatis
Jemuran ikan asin otomatis FaisalUmarZaki
 
Atap jemuran ikan asin otomatis
Atap jemuran ikan asin otomatisAtap jemuran ikan asin otomatis
Atap jemuran ikan asin otomatisQistanHazmi
 
Atap jemuran ikan asin otomatis
Atap jemuran ikan asin otomatisAtap jemuran ikan asin otomatis
Atap jemuran ikan asin otomatissacaandika
 
SMART SUBSTATION Kelompok 2.pdf
SMART SUBSTATION Kelompok 2.pdfSMART SUBSTATION Kelompok 2.pdf
SMART SUBSTATION Kelompok 2.pdfdikalaode01
 
2 b dioverdiansah_b400
2 b dioverdiansah_b4002 b dioverdiansah_b400
2 b dioverdiansah_b400DioVerdiansah
 
Logam mesin maintenance and diagnostic electrical 18 (3)
Logam mesin maintenance and diagnostic electrical 18 (3)Logam mesin maintenance and diagnostic electrical 18 (3)
Logam mesin maintenance and diagnostic electrical 18 (3)Eko Supriyadi
 
Tugas jurnal basindo rian
Tugas jurnal basindo rianTugas jurnal basindo rian
Tugas jurnal basindo rianMuhamad Iqbal
 
Bab 2 perangkat uji pada telekomunikasi
Bab 2 perangkat uji pada telekomunikasiBab 2 perangkat uji pada telekomunikasi
Bab 2 perangkat uji pada telekomunikasiEKO SUPRIYADI
 
Sensor dan tranduser
Sensor dan tranduserSensor dan tranduser
Sensor dan tranduserEko Supriyadi
 
DOKUMEN B200: SISTEM KENDALI POSISI GORDEN DENGAN MENGGUNAKAN METODA PID
DOKUMEN B200: SISTEM KENDALI POSISI GORDEN DENGAN MENGGUNAKAN METODA PID DOKUMEN B200: SISTEM KENDALI POSISI GORDEN DENGAN MENGGUNAKAN METODA PID
DOKUMEN B200: SISTEM KENDALI POSISI GORDEN DENGAN MENGGUNAKAN METODA PID aldilla rizki nurfitriyani
 
Persyaratan instalasi listrik
Persyaratan instalasi listrikPersyaratan instalasi listrik
Persyaratan instalasi listrikssuser5f0b59
 

Similar to CyPIRAL_2040221038_M Akbar Hidayatullah_Laporan Instrumentasi Industri.docx (20)

Rangkaian Pengatur Kecepatan dan Arah Putaran Motor DC Berbasis Adruino Uno
Rangkaian Pengatur Kecepatan dan Arah Putaran Motor DC Berbasis Adruino UnoRangkaian Pengatur Kecepatan dan Arah Putaran Motor DC Berbasis Adruino Uno
Rangkaian Pengatur Kecepatan dan Arah Putaran Motor DC Berbasis Adruino Uno
 
PPT Mengidentifikasi Masalah pada suatu pabrik manufaktur (1).pptx
PPT Mengidentifikasi Masalah pada suatu pabrik manufaktur (1).pptxPPT Mengidentifikasi Masalah pada suatu pabrik manufaktur (1).pptx
PPT Mengidentifikasi Masalah pada suatu pabrik manufaktur (1).pptx
 
Magnetic Levitation Report Document
Magnetic Levitation Report DocumentMagnetic Levitation Report Document
Magnetic Levitation Report Document
 
Proposal pa amel versi 1 copy
Proposal pa amel versi 1   copyProposal pa amel versi 1   copy
Proposal pa amel versi 1 copy
 
Mobile Adhoc Network dan Wireless Sensor Network
Mobile Adhoc Network dan Wireless Sensor NetworkMobile Adhoc Network dan Wireless Sensor Network
Mobile Adhoc Network dan Wireless Sensor Network
 
Sistem Kendali Volume Air pada Air Isi Ulang dengan Ultrasonic metode PID ber...
Sistem Kendali Volume Air pada Air Isi Ulang dengan Ultrasonic metode PID ber...Sistem Kendali Volume Air pada Air Isi Ulang dengan Ultrasonic metode PID ber...
Sistem Kendali Volume Air pada Air Isi Ulang dengan Ultrasonic metode PID ber...
 
Pembahasan
Pembahasan Pembahasan
Pembahasan
 
Sistem Kendali Intensitas Cahaya B100-B600
Sistem Kendali Intensitas Cahaya B100-B600Sistem Kendali Intensitas Cahaya B100-B600
Sistem Kendali Intensitas Cahaya B100-B600
 
Jemuran ikan asin otomatis
Jemuran ikan asin otomatis Jemuran ikan asin otomatis
Jemuran ikan asin otomatis
 
Atap jemuran ikan asin otomatis
Atap jemuran ikan asin otomatisAtap jemuran ikan asin otomatis
Atap jemuran ikan asin otomatis
 
Atap jemuran ikan asin otomatis
Atap jemuran ikan asin otomatisAtap jemuran ikan asin otomatis
Atap jemuran ikan asin otomatis
 
SMART SUBSTATION Kelompok 2.pdf
SMART SUBSTATION Kelompok 2.pdfSMART SUBSTATION Kelompok 2.pdf
SMART SUBSTATION Kelompok 2.pdf
 
2 b dioverdiansah_b400
2 b dioverdiansah_b4002 b dioverdiansah_b400
2 b dioverdiansah_b400
 
Logam mesin maintenance and diagnostic electrical 18 (3)
Logam mesin maintenance and diagnostic electrical 18 (3)Logam mesin maintenance and diagnostic electrical 18 (3)
Logam mesin maintenance and diagnostic electrical 18 (3)
 
Tugas jurnal basindo rian
Tugas jurnal basindo rianTugas jurnal basindo rian
Tugas jurnal basindo rian
 
Bab 2 perangkat uji pada telekomunikasi
Bab 2 perangkat uji pada telekomunikasiBab 2 perangkat uji pada telekomunikasi
Bab 2 perangkat uji pada telekomunikasi
 
Sensor dan tranduser
Sensor dan tranduserSensor dan tranduser
Sensor dan tranduser
 
Bab 1
Bab 1Bab 1
Bab 1
 
DOKUMEN B200: SISTEM KENDALI POSISI GORDEN DENGAN MENGGUNAKAN METODA PID
DOKUMEN B200: SISTEM KENDALI POSISI GORDEN DENGAN MENGGUNAKAN METODA PID DOKUMEN B200: SISTEM KENDALI POSISI GORDEN DENGAN MENGGUNAKAN METODA PID
DOKUMEN B200: SISTEM KENDALI POSISI GORDEN DENGAN MENGGUNAKAN METODA PID
 
Persyaratan instalasi listrik
Persyaratan instalasi listrikPersyaratan instalasi listrik
Persyaratan instalasi listrik
 

CyPIRAL_2040221038_M Akbar Hidayatullah_Laporan Instrumentasi Industri.docx

  • 1. Laporan Project Based Learning Mata Kuliah VE230311 – Instrumentasi Industri Semester Ganjil 2023/2024 IT Support & Networking Disusun oleh: M Akbar Hidayatullah 2040221038 Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Otomasi Departemen Teknik Elektro Otomasi Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Desember 2023
  • 2. DAFTAR ISI RINGKASAN................................................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................ 3 I.1 Deskripsi Project............................................................................................................... 3 I.2 Target dan Cakupan Project.............................................................................................. 3 BAB II MATERI MATA KULIAH INSTRUMENTASI INDUSTRI...................................... 6 2.1 Capaian Pembelajaran Mata Kuliah.................................................................................. 6 2.2 Materi Perkuliahan............................................................................................................ 6 BAB III ANALISA KORELASI PROJECT DENGAN MATA KULIAH.............................. 14 BAB IV MATERI YANG PERLU DIPERDALAM ................................................................ 15 DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................. 16
  • 3. RINGKASAN Pekembangan dalam teknologi komunikasi modern telah memuncukan berbagai inovasi untuk solusi yang lebih canggih dan efisien. Salah satu inovasi terpenting saat ini adalah penggunaan teknologi Fiber Optic. Kemampuanya untuk mentransmisikan data dengan kecepatan tinggi melalui serat kaca, telah mendorong perkembangan dalam sistem komunikasi saat ini. Kecepatan transmisi data memungkinkan pengiriman informasi dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat, serta mendukung penggunaan aplikasi yang membutuhkan bandwidth tinggi. Fiber Optic memiliki kapasitas transimisi yang lebih besar dibandingkan dengan kabel tembaga konvensional, sehingga memungkinkan peningkatan kapasitas jaringan, mendukung pertumbuhan pesat penggunaan internet, cloud computing, dan aplikasi berat lainnya tanpa kekhawatiran terkait kapasitas jaringan yang terbatas. Penggunaan Fiber Optic memiliki tingkat gangguan yang rendah, karena serat kaca tidak rentan terhadap inerferensi gelombgan elektromagnetik. Terlepas dari keunggulan penggunaan jaringan Fiber Optic tentunya ada juga kekurangan yang dimilikinya. Dalam proses pengerjaanya membutuhkan peralatan khusus karena sifat kabel yang terbuat dari serat kaca itu mudah patah, sehingga diperlukan keahlian khusus agar proses pengerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Kata Kunci: Fiber Optic, Transmisi Data, Gelombang Elektromagnetik
  • 4. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Deskripsi Project Di dalam Project IT Support dan Networking memiliki tugas utama yaitu instalasi kabel Fiber Optic untuk menyalurkan jaringan internet sesuai dengan permintaan pelanggan. Dalam pengerjaanya dibagi menjadi beberapa tugas khusus yaitu Aktivasi, Penanganan Gangguan, dan Preventive Maintenance. Aktivasi dilakukan dengan tujuan untuk membangun sebuah jaringan pada suatu daerah dan pemasangan jaringan baru di tempat pelanggan. Penanganan Gangguan dikerjakan ketika terjadi gangguan baik di sisi pelanggan ataupun provider jaringan itu sendiri. Gangguan dapat terjadi akibat kabel putus, kerusakan perangkat, kesalahan penempatan port, dan sebagianya. Preventive Maintenance biasanya dilakukan di POP (Point of Presence) yaitu tempat perangkat komunikasi yang saling terhubung dari internet service provider ke pelanggan, tugas yang dikerjakan adalah pengecekan, pembersihan, hingga perbaikan perangkat. 1.2 Target dan Cakupan Project 1.2.1 Target Target dari proyek IT Support & Networking adalah bagaimana dapat memahami konsep yang digunakan pada jaringan fiber optik dimulai dari sistem penyaluran data dari server jaringan yang awalnya dalam bentuk sinyal listrik digital setelah itu akan diubah menjadi sinyal cahaya yang nantinya akan melewati kabel fiber sampai kepada pelanggan. Pekerjaan yang dilakukan memiliki beberapa target pelanggan, yang pertama adalah dari jalur fiber to the home (FTTH) biasanya disebut Retail. Kemudian apabila berasal dari perusahaan atau pabrik biasanya disebut Corporate. Di tempat pelanggan akan disediakan pernangkat yang berfungsi sebagai pengubah sinyal cahaya menjadi sinyal digital hingga bisa dimanfaatkan oleh pelanggan tersebut. 1.2.2 Cakupan Project Aktivasi Bertujuan untuk membangun jaringan pada suatu daerah dan pemasangan jaringan baru di tempat pelanggan. a. Masa Penyelesaian Pekerjaan Survey : 1 Minggu Perizinan : 1 Minggu – 1 Bulan
  • 5. Eksekusi Lapangan : 2 Minggu – 1 Bulan Pembuatan Laporan : 2 Minggu Revisi dan Penagihan : 2 Minggu b. Tahapan Pekerjaan Pemasangan Kwh : Sebagai supplai daya untuk mengaktifkan perangkat Instalasi Perangkat di Kabinet : Untuk menyalurkan internet dari PoP (Point of Presence) Instalasi Joint Box (JB) : Sebagai terminal untuk beberapa kabel pada jalur yang berbeda Instalasi Fiber Distribution Box (FDT) : Sebagai terminal untuk setiap jalur kabel Instalasi Fiber Acces Terminal (FAT) : Untuk menyalurkan kabel menuju tempat pelanggan Penanganan Gangguan Penanganan gangguan dikerjakan ketika terjadi gangguan baik di sisi pelanggan ataupun provider jaringan itu sendiri. Gangguan dapat terjadi akibat kabel putus, kerusakan perangkat, kesalahan penempatan port, dan lainya. a. Masa Penyelesaian Pekerjaan Tiket Pekerjaan Gangguan : 1 Hari Eksekusi Lapangan : 1 – 3 Hari Pembuatan Laporan : 1 – 3 Hari Revisi dan Penagihan : 2 Minggu b. Tahapan Pekerjaan Pengecekan Kerusakan : Mencari titik kerusakan yang menyebabkan gangguan Pengukuran Jarak Kabel : Mengetahui titik kabel putus atau untuk mencari titik perangkat terdekat Jointing Core : Menyambung core yang putus Labeling Core : Memberi label pada core supaya lebih mudah untuk mencari sambungan core
  • 6. Preventive Maintenance (PM) Kegiatan ini biasanya dilakukan di POP (Point of Presence) yaitu tempat perangkat komnunikasi yang saling terhubung dari internet service provider ke pelanggan. a. Masa Penyelesaian Pekerjaan Tiket Pekerjaan PM : 1 Hari Eksekusi Lapangan : 1 – 2 Jam Pembuatan Laporan : 1 Hari Revisi dan Penagihan : 2 Minggu b. Tahapan Pekerjaan Pembuatan Working Permit : Digunakan untuk perizinan masuk ke gardu induk Pengecekan Perangkat : Mencari perangkat yang kemungkinan sudah rusak Pembersihan Perangkat : Membersihkan keseluruhan perangkat yang ada Uji Coba Ketahanan Perangkat : Melakukan pengetesan pada baterai dan rectifier
  • 7. BAB II MATERI MATA KULIAH INSTRUMENTASI INDUSTRI 2.1 Capaian Pembelajaran Mata Kuliah  Mahasiswa memahami konsep dasar sistem instrumentasi yang meliputi sensor dan actuator  Mahasiswa menguasai dan mampu menerapkan teknik pengukuran besaran listrik, besaran proses, gaya, berat, kecepatan, dan posisi  Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan penggunaan motor sebagai aktuator dan aktuator pneumatik & hidrolik  Mahasiswa mampu menggambar P&ID dan mengikuti standar pada sistem insturmentasi 2.2 Materi Perkuliahan 2.2.1 Definisi dan Konsep Dasar Sensor Instrumentasi (Instrumentation) adalah teknologi pengukuran yang melayani ilmu (sciences), teknik/rekayasa (engineering), kedokteran (medicine), dll. Sensor adalah perangkat yang merubah besaran variabel fisik yang diukur (measurand/ Stimulus) menjadi besaran sinyal elektrik. Sinyal elektrik yang dihasilkan berupa V, I, Muatan (C) yang dapat disalurkan (Chanelled), diperkuat (amplified) atau dimodifikasi (modified) oleh Perangkat Elektronik. Besaran sinyal elektrik ini lebih lanjut dapat dideskripsikan dalam nilai Amplitudo, Frekuensi, Fasa, Kode Digital. Sensor bisa didesain untuk setiap satuan non-elektrik, dengan memilih material yang sesuai. Variasi apa pun dalam parameter nonelektrik menyiratkan variasi dalam parameter listrik karena struktur elektronik materi. 2.2.2 Klasifikasi Sensor dan Karakteristik Sensor Karena ada begitu banyak sensor untuk berbagai satuan, untuk mempermudah mempelajarinya adalah dengan mengklasifikasikannya berdasarkan beberapa kriteria. 1. Berdasarkan suplai daya: a. Sensor modulasi (atau aktif) Dalam sensor modulasi, sebagian besar output daya sinyal berasal dari sumber daya tambahan. Sensor modulasi memiliki kelebihan yaitu tegangan suplai daya bisa merubah sensitivitas keseluruhan. Contohnya adalah thermistor. b. Sensor self-generating (atau pasif) Dalam sensor self-generating, output daya datang dari input. Contohnya adalah thermocouple.
  • 8. 2. Berdasarkan sinyal output: a. Sensor analog Dalam sensor analog output berubah dalam secara kontinu pada tingkat makroskopis. Contohnya adalah potentiometer. b. Sensor digital Dalam sensor digital output mengambil bentuk Langkah atau kondisi diskrit. Output digital lebih dapat diulang dan diandalkan dan sering lebih akurat. Sayangnya, sensor digital tidak dapat mengukur banyak satuan. Contohnya encoder posisi. 3. Berdasarkan mode operasi: a. Sensor defleksi Dalam sensor defleksi, satuan yang diukur menghasilkan efek fisik yang menghasilkan dibeberapa bagian instrumen efek yang serupa namun berlawanan yang terkait dengan beberapa variabel yang berguna. Sebagai contoh, dinamometer untuk mengukur gaya adalah sensor di mana gaya yang akan diukur membelokkan pegas ke titik di mana gaya yang diberikannya, sebanding dengan deformasinya, menyeimbangkan gaya yang diberikan. Contohnya accelerometer defleksi. b. Sensor tipe nol (null-type) Sensor tipe nol berusaha mencegah defleksi dari titik nol dengan menerapkan efek yang diketahui yang berlawanan dengan efek yang dihasilkan oleh kuantitas yang diukur. Contohnya adalah servo-accelerometer. Ada dua karakteristik sensor yaitu karakteristik statis dan dinamis. Karena sensor mempengaruhi karakteristik seluruh sistem pengukuran, maka penting untuk mendeskripsikan perilakunya dengan cara yang berarti. Pada sebagian besar sistem pengukuran, kuantitas yang akan diukur berubah sangat lambat sehingga hanya perlu mengetahui karakteristik statis sensor. Berikut karakteristik statis sensor. a. Akurasi Akurasi adalah kualitas yang mencirikan kapasitas alat ukur untuk memberikan hasil yang mendekati nilai sebenarnya dari satuan yang diukur. b. Presisi Presisi adalah kualitas yang mencirikan kemampuan alat ukur instrumen memberikan pembacaan yang sama ketika mengukur berulang kali yang sama kuantitas yang sama di bawah kondisi yang ditentukan yang sama (lingkungan, operator, dll.), tanpa memperhatikan kebetulan atau ketidaksesuaian antara hasil dan nilai sebenarnya.
  • 9. c. Sensitivitas Sensitivitas atau skala faktor adalah kemiringan kurva kalibrasi, apakah itu konstan atau tidak di sepanjang rentang pengukuran. Akurasi, presisi, dan sensitivitas adalah karakteristik yang cukup menggambarkan perilaku statis sensor. Namun terkadang karakteristik lain ditambahkan atau diganti ketika diperlukan untuk menggambarkan perilaku alternatif atau perilaku yang menjadi perhatian khusus untuk kasus tertentu; demikian juga, karakteristik dapat ditambahkan yang saling melengkapi untuk menggambarkan kesesuaian pengukuran sistem untuk aplikasi tertentu. Berikut beberapa karakteristik statis lain sensor. a. Linearitas Linearitas menggambarkan kedekatan antara kurva kalibrasi dan garis lurus yang ditentukan. Beberapa definisi berlaku. b. Resolusi Resolusi (atau diskriminasi) adalah perubahan minimal dari input yang diperlukan untuk menghasilkan perubahan yang dapat dideteksi pada output. c. Error sistematis Kalibrasi statis sensor memungkinkan kita mendeteksi dan mengoreksi apa yang disebut error sistematis. error dikatakan sistematis ketika dalam proses pengukuran nilai yang sama dari kuantitas yang diberikan dalam kondisi yang sama, kesalahan itu tetap konstan dalam nilai absolut dan tanda atau bervariasi sesuai dengan hukum yang pasti ketika kondisi pengukuran berubah. d. Error acak Error acak adalah kesalahan yang tersisa setelah menghilangkan penyebab kesalahan sistematis kesalahan. Error ini muncul ketika nilai yang sama dari kuantitas yang sama diukur berulang kali, menggunakan instrumen yang sama dan metode yang sama. Respon sensor terhadap sinyal input variabel berbeda dari yang ditunjukkan apabila sinyal input konstan, yang dijelaskan oleh karakteristik statis. Alasannya adalah adanya elemen penyimpan energi, seperti elemen inersia (massa, induktansi, dll.) dan kapasitansi (listrik, panas, fluida, dll.). Karakteristik dinamis adalah error dinamis dan kecepatan respons (waktu konstan, delay). Mereka menggambarkan perilaku sensor dengan variabel yang diterapkan sinyal input. Untuk menentukan karakteristik dinamis sensor, kita harus menerapkan variabel pada inputnya. Inputnya ini dapat mengambil banyak bentuk yang berbeda, tetapi biasa untuk mempelajari respon terhadap input transien (impuls, langkah, ramp), input periodik (sinusoidal), atau input acak (white noise).
  • 10. 2.2.3 Teknik Pengukuran Listrik Pengukuran listrik didefinisikan sebagai pengukuran parameter listrik tradisional seperti tegangan, arus, kekuatan medan listrik, medan magnet, resistansi, kapasitansi, induktansi, ditambah parameter SS AC impedansi dan admitansi, daya, frekuensi, dan fase. 2.2.4 Teknik Pengukuran Besaran Proses Besaran Proses adalah besaran yang menggambarkan atau mengkarakterisasi proses manufaktur, misalnya gaya, tekanan, suhu, dan potensi kimia. Hal ini umumnya bergantung pada waktu.Tekanan adalah gaya per satuan luas yang diberikan oleh fluida pada permukaan wadah. Tekanan absolut berada di atas referensi ruang hampa udara yang sempurna, sedangkan tekanan pengukur adalah perbedaan antara tekanan absolut dan tekanan atmosfer lokal. Teknik untuk pengukuran tekanan bervariasi berdasarkan besarnya dan apakah itu statis atau dinamis. Tekanan yang sangat tinggi melebihi 1000 atm, dan tekanan yang sangat rendah sekitar 1 mm Hg atau di bawahnya. Tekanan dinamis, seperti pada kompresor reciprocating, sering dikonversi menjadi perpindahan menggunakan elemen elastis, diikuti dengan transduksi elektromekanis untuk output listrik. Akurasi pengukuran tergantung pada elemen elastis, transduser, dan karakteristik fluida. Aliran adalah pergerakan fluida di dalam saluran atau dalam saluran terbuka atau tertutup. Laju laju aliran adalah jumlah materi, dalam volume atau berat, yang mengalir dalam satu unit waktu. Laju aliran diukur dalam semua proses transportasi energi dan massa untuk mengontrol atau memantau proses- proses tersebut dan untuk tujuan pengukuran. 2.2.5 Teknik Pengukuran Berat dan Gaya Berat adalah ukuran seberapa berat suatu benda. Berat diukur dalam satuan standar yang lazim. Massa suatu benda adalah jumlah materi yang dikandungnya. Massa diukur dalam satuan metrik standar. Berat bergantung pada gravitasi, dan gravitasi di planet lain berbeda Inilah sebabnya mengapa ketika astronot melayang di angkasa, mereka tidak berbobot. Meskipun begitu, astronot tetap memiliki massa. Pengukuran gaya sangat penting di bidang sains, teknik, dan biomedis. Ini mendefinisikan ampere dalam arus listrik melalui gaya magnetik dalam konduktor. Penimbangan bergantung pada pengukuran gaya dalam medan gravitasi. Daya dorong mesin jet, biomekanik, gaya kontraktil otot, dan dinamika fluida di ruang angkasa adalah gaya yang diukur. Dari mikrogram hingga ratusan ribu kilogram, beragam sensor gaya (load cells) memenuhi berbagai aplikasi, sehingga memungkinkan teknisi instrumentasi untuk memilih berdasarkan kebutuhan spesifik mereka. Pengukuran gaya sering kali melibatkan perpindahan kecil pada bagian yang tertekan dan elastis secara linier. Perpindahan atau regangan sebanding dengan gaya, diukur secara optic melalui interferometri atau secara elektrik menggunakan LVDT (Linier Variable Differential Transformer), jembatan pengukur regangan kawat berikat ataupun tidak, jembatan pengukur regangan semikonduktor, perubahan kapasitansi, atau kristal piezoelektrik. LVDT mendeteksi perpindahan linier, sedangakan PT (Pressure Transducer) mengukur perubahan tekanan dalam sistem fluida, memeberikan data yang berharga dalam berbagai aplikasi.
  • 11. 2.2.6 Teknik Pengukuran Besaran Posisi, Kecepatan, Percepatan Accelerometer linier dapat diintegrasikan untuk memperkirakan kecepatan dan posisi. Metode lain untuk menentukan kecepatan melibatkan efek Doppler dengan cahaya, gelombang mikro, atau suara. Menemukan lokasi kendaraan dengan tepat merupakan masalah navigasi, terutama di dalam lingkungan tertutup seperti kapal selam atau pesawat terbang. Sensor posisi tanpa sentuhan, seperti ultrasound, gelombang mikro, dan cahaya, mengukur posisi relatif objek tanpa kontak fisik, menggunakan teknik seperti interferometri atau penguncian fase. Teknologi pengukuran posisi linier mencakup berbagai aplikasi, mulai dari pelacakan kendaraan internal (navigasi, navigasi inersia, dan Global positioning system atau GPS) hingga mengukur posisi benda mekanis, makhluk hidup, manusia, kendaraan, dan sumber radiasi.Kecepatan translasi tidak dapat diukur secara langsung dan oleh karena itu harus dihitung secara tidak langsung yaitu dengan Diferensiasi pengukuran perpindahan, Integrasi output dari accelerometer dan Konversi ke kecepatan rotasi. Transduser perpindahan translasi dapat menghasilkan pengukuran posisi, yang apabila dibedakan, memberikan sinyal kecepatan translasi. Namun, diferensiasi cenderung memperkuat noise dalam sistem pengukuran. Untuk mengurangi hal ini, pilihlah instrumen dengan kebisingan rendah seperti potensiometer film karbon tereksitasi DC atau interferometer laser. Saat menggunakan potensiometer, hindari eksitasi ac untuk mencegah masalah yang disebabkan oleh harmonisa pada catu daya. Jika akselerometer sudah disertakan dalam suatu sistem, integrasi outputnya dapat dilakukan untuk menghasilkan sinyal kecepatan. Proses integrasi akan melemahkan daripada memperkuat kebisingan pengukuran dan oleh karena itu teknik ini dapat diterima. Konversi dari kecepatan translasi ke rotasi adalah teknik pengukuran terakhir terbuka bagi perancang sistem dan merupakan teknik yang paling umum digunakan. Satu-satunya kelas perangkat yang tersedia untuk mengukur akselerasi adalah akselerometer. Ini tersedia dalam berbagai jenis dan rentang yang dirancang untuk memenuhi persyaratan pengukuran tertentu. Mereka memiliki respons frekuensi antara nol dan nilai yang tinggi, dan memiliki bentuk output yang dapat dengan mudah diintegrasikan untuk memberikan pengukuran perpindahan dan kecepatan. Respons frekuensi akselerometer dapat ditingkatkan dengan mengubah tingkat redaman pada instrumen. Namun, penyesuaian tersebut harus dilakukan dengan hati-hati, karena peningkatan respons frekuensi hanya dapat dicapai dengan mengorbankan sensitivitas pengukuran. Selain digunakan untuk pengukuran gerakan tujuan umum, akselerometer juga digunakan secara luas untuk mengukur guncangan dan getaran mekanis.
  • 12. 2.2.7 Prinsip Kerja Motor dan Aktuator Motor listrik, yang banyak digunakan sebagai aktuator elektromekanis, bervariasi berdasarkan fungsionalitas dan karakteristik elektromagnetik. Perbedaannya terletak pada desain rotor dan metode pembangkitan medan magnet. Istilah motor yang umum meliputi. a. Stator: Rumah bagian luar atau dalam yang tidak bergerak yang mendukung material untuk medan magnet stator. b. Kumparan medan (sistem): Bagian stator yang menghasilkan fluks magnet stator. c. Rotor: Bagian motor yang berputar, dapat berupa magnet permanen atau inti feromagnetik dengan gulungan kumparan (dinamo). d. Armature: Gulungan rotor yang membawa arus dan menginduksi medan magnet rotor. e. Celah udara: Celah kecil antara rotor dan stator, tempat medan magnet berinteraksi untuk menghasilkan torsi. f. Brush: Bagian yang memasok arus ke rotor pada motor DC (atau cincin selip untuk motor AC sinkron). g. Komutator: Bagian rotor motor DC yang bersentuhan dengan sikat, mengendalikan arah arus dinamo. Torsi pada motor listrik dihasilkan melalui interaksi arus dinamo dan medan magnet stator (Hukum Lorentz) atau interaksi medan stator dan medan dinamo. Metode pergantian bervariasi untuk motor AC, DC, stepping motor, dan motor brushless DC (BLDC), yang memengaruhi arah arus dalam kumparan untuk mempertahankan arah fluks magnet yang diinginkan. 2.2.8 Prinsip Pneumatik dan Hidrolik Semua sistem yang menggunakan tenaga yang disimpan dalam bentuk udara yang dimampatkan untuk menghasilkan suatu kerja disebut dengan sistem Pneumatik. Prinsip kerja mesin hidrolik didasarkan pada tekanan konstan pegas. Ini menciptakan sumber daya untuk mesin. Mesin menggunakan tekanan fluida hidrolik, mengandalkan tekanan konstan untuk menggerakkan benda kerja melawan fluida, atau menekan material ke dinding mesin hidrolik. Sistem pneumatik memanfaatkan udara sebagai tenaga penggeraknya. Udara bertekanan dapat menghasilkan efek berupa gerakan mekanis. Sedangkan sistem hidrolik memanfaatkan zat cair atau fluida sebagai tenaga penggeraknya. Fluida inilah yang nantinya juga menghasilkan tenaga mekanik. 2.2.9 Piping and Instrumentasi Diagram (P&ID) Skema kelistrikan menggunakan simbol standar untuk pemahaman sirkuit, seperti halnya kontrol proses yang menggunakan simbol yang diuraikan dalam standar ANSI/ISA S5.1-1984. Dikembangkan secara kolaboratif oleh American National Standards Institute (ANSI) dan Instrumentation, Systems, and Automation (ISA), standar ini memfasilitasi pembuatan diagram kontrol proses yang disederhanakan. Diagram ini sangat penting dalam tahap desain awal sistem kontrol pabrik dan kemudian berkembang menjadi diagram pemipaan dan instrumentasi (P&ID) yang terperinci. P&ID memberikan representasi komprehensif dari desain pabrik dan sistem kontrol terkait. P&ID merupakan dasar untuk pemeliharaan
  • 13. dan modifikasi proses yang direpresentasikan secara grafis. Pada tahap desain, diagram ini juga memberikan dasar untuk pengembangan skema kontrol sistem. Untuk fasilitas pemrosesan, diagram ini merupakan representasi grafis dari  Detail perpipaan dan instrumen utama  Skema kontrol dan pemadaman  Persyaratan keselamatan dan peraturan  Informasi awal dan operasional dasar 2.2.10 Standar-Standar Pada Instrumentasi Memastikan akurasi instrumen melalui kalibrasi adalah masalah universal. Kalibrasi melibatkan penilaian performa instrumen dengan menggunakan standar yang sesuai. Konferensi Umum tentang Berat dan Ukuran tahun 1960 menetapkan Sistem Satuan Internasional (SI) berdasarkan tujuh satuan dasar. Pada tahun 1990, standar yang diperbarui diadopsi secara global, dengan National Institute of Standards and Technology (NIST) AS mengawasi standar primer dan sekunder. NIST terus bekerja untuk meningkatkan standar dan meningkatkan akurasi dalam kalibrasi instrumen. Standar adalah representasi fisik dari Quality of Uncertainty Management (QUM) yang nilai sebenarnya diketahui dengan akurasi baik. Standar dapat diklasifikasikan sebagai 1. Standar internasional 2. Standar utama 3. Standar sekunder 4. Standar kerja Standar internasional ditentukan oleh perjanjian internasional dan disimpan di Bureau of Weights and Measures (BIPM) di Sèvres, Prancis. Contoh dari standar internasional adalah massa kilogram. Standar internasional tidak tersedia setiap hari untuk kalibrasi atau perbandingan. Standar utama dipertahankan di laboratorium standar nasional di negara-negara di seluruh dunia. Standar primer, yang mewakili beberapa satuan dasar fisik dan listrik, serta beberapa besaran turunan, diukur dan dikalibrasi secara independen di berbagai laboratorium nasional dan dibandingkan satu sama lain. Proses ini menghasilkan angka besar atau angka rata-rata dunia untuk standar tersebut. Standar primer digunakan secara terus menerus, tetapi umumnya tidak meninggalkan laboratorium standar nasional. Standar sekunder adalah standar referensi yang pada awalnya dikalibrasi dari standar primer dan kemudian digunakan di laboratorium industri dan penelitian setiap hari untuk mengkalibrasi standar kerja mereka,yang digunakan setiap hari untuk memeriksa dan mengkalibrasi instrumen laboratorium yang berfungsi.
  • 14. 2.2.11 Pengkondisi Sinyal : Operational Amplifier Operational amplifier atau singkatnya op amp adalah unit elektronik yang berperilaku seperti voltage- controlled voltage source. Op amp adalah elemen sirkuit aktif yang dirancang untuk melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, diferensiasi, dan integrasi. Op amp adalah perangkat elektronik yang terdiri dari kompleks susunan resistor, transistor, kapasitor, dan dioda.
  • 15. BAB III ANALISA KORELASI PROJECT DENGAN MATA KULIAH  Fiber Optic memiliki kapasitas transmisi yang tinggi dan dapat mendukung transfer data dengan kecepatan tinggi. Dalam instrumen industri di mana perlu dilakukan pengukuran dan kontrol dalam waktu nyata, penggunaan fiber optik dapat memastikan transmisi data yang cepat dan akurat.  Fiber optik memiliki kemampuan mentransmisikan data pada jarak yang jauh tanpa kehilangan sinyal yang signifikan. Hal ini berguna dalam instrumen industri di mana sensor dan perangkat kendali tersebar di lokasi yang berjauhan.  Fiber optik dapat bertahan di lingkungan industri yang keras, termasuk suhu ekstrem, kelembapan, dan kondisi korosif. Ini membuatnya cocok untuk digunakan dalam instrumen yang ditempatkan di area yang tidak ramah atau berisiko terpapar elemen eksternal.  Fiber optik memiliki diameter yang kecil dan ringan, sehingga lebih mudah diintegrasikan dalam lingkungan industri yang memiliki pembatasan ruang dan membutuhkan fleksibilitas instalasi.
  • 16. BAB IV MATERI YANG PERLU DIPERDALAM Pendalaman materi kuliah instrumentasi industri perlu untuk dilakukan, karena dalam Project IT Support & Networking juga terdapat beberapa korelasi yang dapat mendukung kemajuan project tersebut. Beberapa materi yang perlu untuk diperdalam lagi, diantaranya yaitu :  Teknik Pengukuran  Piping and Instrumentation Diagram (P&ID)  Prinsip Pneumatik dan Hidrolik  Klasifikasi dan karakteristik sensor
  • 17. DAFTAR PUSTAKA [1] Curtis D, Johson. 1989. Process Control Instrumentation Technology 7th edition. New Jersey [2] Altmann, Wolfgang. 2005. Practical Process Control forEngineers and Technicians. [3] Robert H, Bishop. 2008. Mechatronic System, Sensors and Actuators Edisi 2. CRC Press [4] Spehen E, Derenso. 2003. Practical Interfacing in the Laboratory, Data Analysis and Control. Cambridge University Press. [5] John G, Webster. 2000. Sensors and Signal Conditioning 2nd Edition.