Code Blue
dr. Dionisius Alby, Sp.An-TI
RSK LINDIMARA, WAINGAPU, 2024
Definisi
 CODE BLUE merupakan salah satu kode prosedur emergensi yang
harus segera diaktifkan jika ditemukan seseorang dalam
kondisi cardiorespiratory arrest (henti jantung / henti napas) di
dalam area rumah sakit.
 CODE BLUE RESPONSE TEAM atau tim code blue adalah suatu tim
yang dibentuk oleh rumah sakit yang bertugas merespon
kondisi code blue didalam area rumah sakit. Tim ini terdiri dari
dokter dan perawat yang sudah terlatih dalam penanganan
kondisi cardiorespiratory arrest.
Tujuan
 Memberikan panduan baku bagi tim code blue dalam
melaksanakan tugas-tugasnya sebagai tim reaksi cepat jika code
blue diaktifkan.
 Membangun respon seluruh petugas di RSK Lindimara pada
pelayanan kesehatan dalam keadaan gawat darurat.
 Mempercepat response time kegawatdaruratan di rumah sakit
untuk menghindari kematian dan kecacatan yang seharusnya
tidak perlu terjadi.
Ruang Lingkup
Sistem respon cepat code blue dibentuk untuk memastikan bahwa
semua kondisi cardiorespiratory arrest tertangani dengan resusitasi
dan stabilisasi sesegera mungkin.
Sistem respon terbagi dalam 2 tahap, yaitu:
 Respon awal (responder pertama) berasal dari petugas rumah sakit
baik medis ataupun non medis yang berada di sekitar korban.
 Respon kedua (responder kedua) berasal dari tim code blue.
LOKASI/AREA
 Area kantor
 Instalasi Gawat Darurat dan area
sekitarnya
 Instalasi Rawat Jalan dan area sekitarnya
 Ruang Getsemani dan area sekitarnya
 Ruang Betlehem dan area sekitarnya
 Ruang Siloam dan area sekitarnya
 Ruang Nazareth dan area sekitarnya
 Ruang Bethesda dan area sekitarnya
 Ruang Samaria dan area sekitarnya
 Ruang Kapernaum dan area sekitarnya
 Area sekitar ICU/HCU
 Hemodialisa dan area sekitarnya
 Instalasi Radiologi dan area sekitarnya
 Instalasi Laboratorium dan area sekitarnya
 Gizi dan area sekitarnya
 Kamar jenasah dan area sekitarnya
 Laundry dan area sekitarnya
 Farmasi dan area sekitarnya
 Area sekitar Instalasi Bedah Sentral
 Area parkir rumah sakit
 Area kooperasi rumah sakit
 Area IPS rumah sakit
Tata Laksana
Prosedur Code Blue
I. Jika didapatkan seseorang atau pasien dalam
kondisi cardiorespiratory arrest maka perawat ruangan (I)
atau penolong pertama; berperan sebagai first responder dalam
tahap pertolongan, yaitu:
1. Pastikan 3A; Aman diri, aman pasien, aman lingkungan.
2. Lakukan cek respon penderita dengan memanggil nama dan
menepuk bahu.
3. Meminta bantuan pertolongan perawat lain (II) atau petugas
yang ditemui di lokasi untuk mengaktifkan code blue.
4. Lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) sampai dengan tim code
blue datang.
II. Perawat ruangan yang lain (II) atau penolong kedua, segera
menghubungi operator telepon “123” untuk mengaktifkan code blue,
dengan prosedur sebagai berikut:
1. Perkenalkan diri.
2. Sampaikan informasi untuk mengaktifkan code blue.
3. Sebutkan nama lokasi terjadinya cardiorespiratory arrest dengan
lengkap dan jelas, yaitu: “nama lokasi atau ruangan”.
4. Jika lokasi kejadian di ruangan rawat inap maka informasikan : “nama
ruangan ….., nomor bed ….“.
5. Waktu respon operator menerima telepon “123” adalah harus
secepatnya diterima, kurang dari 3 kali deringan telepon.
6. Jika lokasi kejadian berada di area ruang rawat inap ataupun rawat
jalan, setelah menghubungi operator, perawat ruangan II segera
membawa troli emergensi (emergency trolley) ke lokasi dan membantu
perawat ruangan I melakukan resusitasi sampai dengan tim Code Blue
datang.
Operator menggunakan alat pengeras suara mengatakan code blue
dengan prosedur sebagai berikut:
 “Code Blue, Code Blue, Code Blue, di area/ruangan …. , no kamar
… , no bed …
 “Code Blue, Code Blue, Code Blue, di area/lokasi ada brp org
dewasa/anak, perempuan/laki-laki, tidak sadar
 Sekitar 5 menit kemudian, operator menghubungi tim code
blue untuk memastikan bahwa tim code blue sudah menuju lokasi
terjadinya cardiorespiratory arrest
Setelah tim code blue menerima informasi tentang aktivasi code blue,
mereka segera menghentikan tugasnya masing-masing, mengambil
resusitasi kit dan menuju lokasi terjadinya cardiorespiratory arrest dengan
ketentuan sebagai berikut:
1. Waktu respon dari aktivasi code blue sampai dengan kedatangan
tim code blue di lokasi terjadinya cardiorespiratory arrest adalah 5
menit.
2. Jika lokasi terjadinya cardiorespiratory arrest adalah lokasi yang
padat manusia (public area) maka petugas
keamanan (security) segera menuju lokasi terjadinya untuk
mengamankan lokasi tersebut sehingga tim code blue dapat
melaksanakan tugasnya dengan aman dan sesuai prosedur.
3. Tim code blue melakukan tugasnya sampai dengan diputuskannya
bahwa resusitasi dihentikan oleh ketua tim code blue.
4. Ketua tim code blue memutuskan tindak lanjut pasca resusitasi, yaitu:
5. Untuk pasien di area luar/ non rawat inap; jika resusitasi berhasil dan
pasien stabil maka dipindahkan secepatnya ke Instalasi Gawat
Darurat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
6. Untuk pasien rawat inap; jika resusitasi berhasil dan pasien stabil maka
dipindahkan ke Instalasi Perawatan Intensif untuk mendapatkan
perawatan lebih lanjut jika keluarga pasien setuju.
7. Jika keluarga pasien tidak setuju atau jika Instalasi Perawatan Intensif
penuh maka pasien di rujuk ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas.
8. Jika keluarga pasien menolak dirujuk dan meminta dirawat di ruang
perawatan biasa, maka keluarga pasien menandatangani surat
penolakan.
9. Jika resusitasi tidak berhasil dan pasien meninggal, maka lakukan
koordinasi dengan bagian bina rohani, kemudian pasien dipindahkan
ke kamar jenazah.
10. Ketua tim code blue melakukan koordinasi dengan DPJP.
11. Ketua tim code blue memberikan informasi dan edukasi kepada
keluarga pasien.
12. Perawat ruangan mendokumentasikan semua kegiatan dalam
rekam medis pasien dan melakukan koordinasi dengan ruangan
pasca resusitasi.
Organisasi
Tim code blue terdiri dari:
 Ketua tim code blue yaitu satu orang dokter umum (dokter jaga IGD pada
shift tersebut), dengan kualifikasi:
 Memiliki SIP yang masih berlaku.
 Memiliki ATLS atau ACLS.
 Memiliki kewenangan klinis dalam hal kegawatdaruratan medis.
 Anggota tim code blue yang terdiri dari satu orang perawat senior
(supervisi) dan satu orang perawat (perawat jaga IGD pada shift
tersebut), dengan kualifikasi:
 Memiliki SIP yang masih berlaku.
 Memiliki sertifikat PPGD/BHD.
 Memiliki kewenangan klinis dalam hal kegawatdaruratan medis.
?
Terima Kasih

Code Blue - How to implement code blue for you

  • 1.
    Code Blue dr. DionisiusAlby, Sp.An-TI RSK LINDIMARA, WAINGAPU, 2024
  • 2.
    Definisi  CODE BLUEmerupakan salah satu kode prosedur emergensi yang harus segera diaktifkan jika ditemukan seseorang dalam kondisi cardiorespiratory arrest (henti jantung / henti napas) di dalam area rumah sakit.  CODE BLUE RESPONSE TEAM atau tim code blue adalah suatu tim yang dibentuk oleh rumah sakit yang bertugas merespon kondisi code blue didalam area rumah sakit. Tim ini terdiri dari dokter dan perawat yang sudah terlatih dalam penanganan kondisi cardiorespiratory arrest.
  • 4.
    Tujuan  Memberikan panduanbaku bagi tim code blue dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai tim reaksi cepat jika code blue diaktifkan.  Membangun respon seluruh petugas di RSK Lindimara pada pelayanan kesehatan dalam keadaan gawat darurat.  Mempercepat response time kegawatdaruratan di rumah sakit untuk menghindari kematian dan kecacatan yang seharusnya tidak perlu terjadi.
  • 5.
  • 6.
    Sistem respon cepatcode blue dibentuk untuk memastikan bahwa semua kondisi cardiorespiratory arrest tertangani dengan resusitasi dan stabilisasi sesegera mungkin. Sistem respon terbagi dalam 2 tahap, yaitu:  Respon awal (responder pertama) berasal dari petugas rumah sakit baik medis ataupun non medis yang berada di sekitar korban.  Respon kedua (responder kedua) berasal dari tim code blue.
  • 7.
    LOKASI/AREA  Area kantor Instalasi Gawat Darurat dan area sekitarnya  Instalasi Rawat Jalan dan area sekitarnya  Ruang Getsemani dan area sekitarnya  Ruang Betlehem dan area sekitarnya  Ruang Siloam dan area sekitarnya  Ruang Nazareth dan area sekitarnya  Ruang Bethesda dan area sekitarnya  Ruang Samaria dan area sekitarnya  Ruang Kapernaum dan area sekitarnya  Area sekitar ICU/HCU  Hemodialisa dan area sekitarnya  Instalasi Radiologi dan area sekitarnya  Instalasi Laboratorium dan area sekitarnya  Gizi dan area sekitarnya  Kamar jenasah dan area sekitarnya  Laundry dan area sekitarnya  Farmasi dan area sekitarnya  Area sekitar Instalasi Bedah Sentral  Area parkir rumah sakit  Area kooperasi rumah sakit  Area IPS rumah sakit
  • 8.
  • 9.
    Prosedur Code Blue I.Jika didapatkan seseorang atau pasien dalam kondisi cardiorespiratory arrest maka perawat ruangan (I) atau penolong pertama; berperan sebagai first responder dalam tahap pertolongan, yaitu: 1. Pastikan 3A; Aman diri, aman pasien, aman lingkungan. 2. Lakukan cek respon penderita dengan memanggil nama dan menepuk bahu. 3. Meminta bantuan pertolongan perawat lain (II) atau petugas yang ditemui di lokasi untuk mengaktifkan code blue. 4. Lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) sampai dengan tim code blue datang.
  • 10.
    II. Perawat ruanganyang lain (II) atau penolong kedua, segera menghubungi operator telepon “123” untuk mengaktifkan code blue, dengan prosedur sebagai berikut: 1. Perkenalkan diri. 2. Sampaikan informasi untuk mengaktifkan code blue. 3. Sebutkan nama lokasi terjadinya cardiorespiratory arrest dengan lengkap dan jelas, yaitu: “nama lokasi atau ruangan”. 4. Jika lokasi kejadian di ruangan rawat inap maka informasikan : “nama ruangan ….., nomor bed ….“. 5. Waktu respon operator menerima telepon “123” adalah harus secepatnya diterima, kurang dari 3 kali deringan telepon. 6. Jika lokasi kejadian berada di area ruang rawat inap ataupun rawat jalan, setelah menghubungi operator, perawat ruangan II segera membawa troli emergensi (emergency trolley) ke lokasi dan membantu perawat ruangan I melakukan resusitasi sampai dengan tim Code Blue datang.
  • 11.
    Operator menggunakan alatpengeras suara mengatakan code blue dengan prosedur sebagai berikut:  “Code Blue, Code Blue, Code Blue, di area/ruangan …. , no kamar … , no bed …  “Code Blue, Code Blue, Code Blue, di area/lokasi ada brp org dewasa/anak, perempuan/laki-laki, tidak sadar  Sekitar 5 menit kemudian, operator menghubungi tim code blue untuk memastikan bahwa tim code blue sudah menuju lokasi terjadinya cardiorespiratory arrest
  • 12.
    Setelah tim codeblue menerima informasi tentang aktivasi code blue, mereka segera menghentikan tugasnya masing-masing, mengambil resusitasi kit dan menuju lokasi terjadinya cardiorespiratory arrest dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Waktu respon dari aktivasi code blue sampai dengan kedatangan tim code blue di lokasi terjadinya cardiorespiratory arrest adalah 5 menit. 2. Jika lokasi terjadinya cardiorespiratory arrest adalah lokasi yang padat manusia (public area) maka petugas keamanan (security) segera menuju lokasi terjadinya untuk mengamankan lokasi tersebut sehingga tim code blue dapat melaksanakan tugasnya dengan aman dan sesuai prosedur. 3. Tim code blue melakukan tugasnya sampai dengan diputuskannya bahwa resusitasi dihentikan oleh ketua tim code blue.
  • 13.
    4. Ketua timcode blue memutuskan tindak lanjut pasca resusitasi, yaitu: 5. Untuk pasien di area luar/ non rawat inap; jika resusitasi berhasil dan pasien stabil maka dipindahkan secepatnya ke Instalasi Gawat Darurat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. 6. Untuk pasien rawat inap; jika resusitasi berhasil dan pasien stabil maka dipindahkan ke Instalasi Perawatan Intensif untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut jika keluarga pasien setuju. 7. Jika keluarga pasien tidak setuju atau jika Instalasi Perawatan Intensif penuh maka pasien di rujuk ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas. 8. Jika keluarga pasien menolak dirujuk dan meminta dirawat di ruang perawatan biasa, maka keluarga pasien menandatangani surat penolakan. 9. Jika resusitasi tidak berhasil dan pasien meninggal, maka lakukan koordinasi dengan bagian bina rohani, kemudian pasien dipindahkan ke kamar jenazah.
  • 14.
    10. Ketua timcode blue melakukan koordinasi dengan DPJP. 11. Ketua tim code blue memberikan informasi dan edukasi kepada keluarga pasien. 12. Perawat ruangan mendokumentasikan semua kegiatan dalam rekam medis pasien dan melakukan koordinasi dengan ruangan pasca resusitasi.
  • 15.
    Organisasi Tim code blueterdiri dari:  Ketua tim code blue yaitu satu orang dokter umum (dokter jaga IGD pada shift tersebut), dengan kualifikasi:  Memiliki SIP yang masih berlaku.  Memiliki ATLS atau ACLS.  Memiliki kewenangan klinis dalam hal kegawatdaruratan medis.  Anggota tim code blue yang terdiri dari satu orang perawat senior (supervisi) dan satu orang perawat (perawat jaga IGD pada shift tersebut), dengan kualifikasi:  Memiliki SIP yang masih berlaku.  Memiliki sertifikat PPGD/BHD.  Memiliki kewenangan klinis dalam hal kegawatdaruratan medis.
  • 16.
  • 17.