BAB I . KK1
                                  ANALOG & DIGITAL
1.1.   AVOMETER
       1. Pengertian Transistor
              Avometer adalah Avometer sebenarnya adalah Amper, Volt, dan Ohm
          meter artinya satu alat tersebut dapat digunakan untuk ketiganya yaitu
          untuk mengukur kuat arus listrik (A), tegangan listrik (V) dan hambatan
          listrik (Ohm) dengan mengatur “range selector switch” sesuai dengan
          kebutuhan. Untuk menghemat batu pada multimeter dapat dilakukan
          dengan memutar pada posisi off jika tidak ada maka batas ukur di letakan
          pada posisi pengukur tegangan AC yang paling besar.
       2. Jenis avometer
          a. Avometer analog
              avometer analog atau jarum adalah alat pengukur besaran listrik yang
              menggunakan tampilan dengan jarum yang bergerak ke range-range
              yang kita ukur dengan probe. Avometer ini tersedia dengan
              kemampuan untuk mengukur hambatan ohm, tegangan (Volt) dan arus
              (mA). Analog tidak digunakan untuk mengukur secara detail suatu
              besaran nilai komponen, tetapi kebanyakan hanya digunakan untuk baik
              atau jeleknya komponen pada waktu pengukuran atau juga digunakan
              untuk memeriksa suatu rangkaian apakah sudah tersambung dengan
              baik sesuai dengan rangkaian blok yang ada.




                               Gambar 1.1. Avometer Analog

                                         1
b. avometer digital
      Avometer digital hampir sama fungsinya dengan avometer analog tetapi
      avometer digital menggunakan tampilan angka digital. Avometer digital
      pembacaan pengukuran besaran listrik yang lebih tepat jika dibanding
      dengan avometer analog, sehingga avometer digital dikhususkan untuk
      mengukur suatu besaran nilai tertentu dari sebuah komponen secara
      mendetail sesuai dengan besaran yang diinginkan.




                         Gambar 1.2. Avometer Digital
3. Cara membaca avometer
   a. Resistansi
      Untuk mengetahui kondisi suatu komponen dalam keadaan rusak atau
      baik, serta untuk menentukan berapakah nilai resistansinya:
      1. Atur selector switch pada posisi Ohm.
      2. Pilih batas ukur ( range ), sesuaikan dengan nilai resistor.
      3. Hubungkan secara singkat kabel penyidik agar jarum meter bergerak
          kearah kanan dan dapat diatur supaya menunjukkan pada skala
          maksimum dengan menekan tombol Zero adjust, maksudnya agar
          pembacaan meter sesuai dengan skala dan range yang dipakai.
      4. Ukur resistor dengan menghubungkan kabel penyidik pada kedua
          kaki resistor secara parallel, dengan mengabaikan warna kabel.
      5. Baca papan skala sesuai deimana jarum meter berhenti. Dan kalikan
          pembacaan dengan batas ukur, misalnya jarum menunjukan skala
          10 dan batas ukur menggunakan x100 maka nilai resistor tersebut
          adalah 10x100 = 1000 ohm.

                                   2
b. Tegangan DC
   1. Letakkan selector switch pada posisi tegangan DC
   2. Pilih batas ukur (2.5, 10, 50, 250, 1000 ) dimana harus dipilih batas
      yang sama atau lebih besar dari tegangan yang akan diukur,
      misalnya tegangan yang akan dikur 12V maka batas ukur yang harus
      dipilih adalah 50.
   3. Tidak boleh memilih batas ukur yang ebih kecil, karena jarum
      penunjuk akan bergerak melewati batas maksimum dan dapat
      merusak moving coil.
   4. Sambungkan kabel probe pada sumber tegangan, kabel merah
      untuk positif dan kabel hitam untuk negative, cara pemasangan
      seperti itu disebut hubungan parallel, apabila pemasangan kabel
      polaritas terbalik, maka jarum meter akan bergerak kekiri.
   5. Baca papan skala sesuai dimana jarum penunjuk akan berhenti, cara
      yang paling tepat membaca adalah secara tegak lurus agar tidak
      terjadi kesalahan membaca.
c. Tegangan AC
   1. Letakkan selector switch pada posisis tegangan AC.
   2. Pilih batas ukur ( 10, 50, 250, 1000 ). Batas ukur yang dipilih harus
      yang sama atau ebih besar dari tegangan yang akan diukur, misalkan
      tegangan yang akan diukur 220V maka batas ukur yang harus dipilih
      adalah 250.
   3. Sambungkan probe pada sumber tegangan secara parallel. Untuk
      tegangan AC kabel merah dan hitam dapat bebas disambungkan
      pada sumber tegangan karena tegangan AC tidak mempunyai
      polaritas ( + / - )
   4. Baca papan skala sesuai dengan dimana jarum penunjuk berhenti,
      cara yang paling tepat membaca adalahsecara tegak lurus agar tidak
      terjadi kesalahan dalam membaca.




                                3
d. Arus
              1. Atur selector switch pada posisi arus DC.
              2. Atur selector pada batas ukur yang lebih tinggi dari arus yang akan
                  diukur, batas ukur dapat dipilih yang paling tinggi agar tidak
                  merusak AVOmeter, pengaruh pemilihan batas ukur yang terlalu
                  jauh dari arus akan diukur hanya mengakibatkan pembacaan yang
                  kurang akurat.
              3. Hubungkan kabel secara seri dengan beban, beban dapat di seri
                  pada kabel negative atau kabel positive. Apabila pemasangan kabel
                  polaritasnya terbalik, maka jarum meter akan bergerak kekiri.
              4. Baca penunjuk arus pada papan skala arus DC sesuai posisi jarum.
          e. Kondensator
              1. Putar batas ukur pada AVOmeter x1 / x10 untuk kondensator yang
                  ukurannya besar dan x100 / x1K untuk elco yang ukurannya kecil.
              2. Hubungkan probe ke masing masing-masing kaki Kondensator
              3. Lihat penunjukkan jarum pada papan skala.


1.2.   TRANSISTOR
       1. Pengertian Transistor
              Transistor adalah salah komponen elektronik yang berperan penting
          dalam perkembangan teknologi.Transistor memiliki 3 buah kaki atau pin
          yaitu: Collector (C), Emitter (E) dan Basis (B).




                                            4
2. Transistor tipe BJT
   a. Transistor NPN
       NPN adalah satu dari dua tipe BJT. Hampir semua BJT yang digunakkan
       saat ini adalah NPN karena pergerakan electron dalam semikonduktor
       jauh lebih tinggi daripada pergerakan lubang, memungkinkan operasi
       arus besar dan kecepatan tinggi. Transistor NPN terdiri dari selapis semi
       konduktor tipe p di antara dua lapisan tipe n. Arus kecil yang memasuki
       basis pada tunggal emitor dikuatkan di keluaran kolektor.




                              Gambar 1.3. Transistor NPN
       Transistor NPN hidup ketika tegangan basis lebih tinggi daripada emitor.
       Tanda panah dalam symbol diletakkan pada kaki emitor dan menunjuk
       keluar. prinsip kerja dari transistor NPN adalah: arus akan mengalir dari
       kolektor ke emitor jika basisnya dihubungkan ke ground (negatif)
   b. Transistor PNP
        Transistor PNP terdiri dari selapis semikonduktor tipe n diantara 2 lapis
        semikonduktor tipe p. Arus kecil yang meninggalkan basis pada moda
         tunggal emitor dikuatkan pada keluaran kolektor. Dengan kata lain,
        transistor PNP hidup ketika basis lebih rendah daripada emitor. Tanda




                                    5
panah pada symbol diletakkan pada emitor dan menunjuk kedalam.




                             Gambar 1.4. Transistor PNP


       Prinsip kerja dari transistor PNP: arus akan mengalir dari emitter
       menuju ke kolektor jika pada pin basis dihubungkan ke sumber
       tegangan. Arus yang mengalir ke basis harus lebih kecil daripada arus
       yang mengalir dari emitor ke kolektor, oleh sebab itu maka ada baiknya
       jika pada pin basis dipasang sebuah resistor.
3. Transistor Jenis UJT
   Sebuah piranti semikonduktor elektronik yang hanya mempunyai satu
   pertemuan. UJT mempunyai satu kaki emitor dan dua basis
   a. FET
       Transistor yang menggunakan medan listrik untuk mengendalikan
       konduktifitas suatu kanal dari jenis pembawa muatan tunggal dalam
       bahan semikonduktor.
   b. MOSFET
       Transistor yang mempunyai impedansi masukan sangat tinggi. Yang
       biasanya digunakan sebagai saklar otomatis.




                                   6
1.3.   RESISTOR
       1. Kode Warna pada Resistor
                                    Tabel 1.1. Kode Warna Resistor
       Warna                Nilai pada      Nilai pada      Nilai pada      Nilai pada
                            Gelang -1       Gelang -2        Gelang-3       Gelang -4
        Hitam                   -                  0             -                 -
       Coklat                   1                  1           101                 -
       Merah                    2                  2           102                 -
       Oranye                   3                  3           103                 -
       Kuning                   4                  4           104                 -
        Hijau                   5                  5           105                 -
        Biru                    6                  6           106                 -
        Ungu                    7                  7           107                 -
       Abu-abu                  8                  8           108                 -
        Putih                   9                  9           109                 -
        Emas                    -                  -           10-1                5%
        Perak                   -                  -           10-2            10 %
                                -
        Polos                                      -             -                 20


       2. Cara Membaca Resistor
           Apabila sebuah resistor memiliki gelang wara berurutan sebagai berikut:
           -     Merah = 2
           -     Biru = 6
           -     Oranye = 103 ( gelang warna ketiga adalah faktor perkaliannya )
           -     Perak = 10% ( gelang warna keempat adalah toleransinya )
           Berarti nilai Resistor tersebut adalah 26x103 = 26.000 Ohm Toleransi 10%
           atau 26k Ohm Toleransi 10%.




                                               7
3. Rangkaian pada Resistor
   a. Rangkaian Seri
      Rangkaian seri adalah salah satu rangkaian listrik yang disusun secara
      sejajar ( seri ).




                                   Gambar 1.5. Rangkaian Seri
      Rtotal = R1 + R2+ ... + Rn
      Keterangan :
              Rtotal               : Total semua rangkaian
              R1,R2, .., Rn        : Rangkaian
              n                    : Banyaknya Rangkaian yang disusun
      Jumlah hambatan total rangkaian seri sama dengan jumlah hambatan
      tiap tiap komponen (resistor).




   b. Rangkaian Paralel
      Rangkaian Paralel adalah salah satu rangkaian listrik yang disusun secara
      berderet ( Paralel ).




                              Gambar 1.6. Rangkaian Paralel
      1/Rtotal = 1/R1 + 1/R2 + ... + 1/Rn
      Keterangan :
              1/Rtotal             : Total semua rangkaian

                                        8
1/R1, 1/R2, .., 1/Rn       : Rangkaian
               n                          : Banyaknya Rangkaian yang disusun
      Jumlah kebalikan hambatan total rangkaian paralel sama dengan jumlah
      dari kebalikan hambatan tiap-tiap komponen (resistor).
   c. Rangkaian Campuran
         Rangkaian Campuran adalah gabungan dari 2 rangkaian listrik, yaitu
      rangkaian listrik seri dan rangkaian listrik paralel.




                              Gambar 1.7. rangkaian campuran
      Rtotal = ( 1/R1 + 1/R2 ) + R3
      Keterangan :
               Rtotal           : Total semua rangkaian
               1/R1, 1/R2, R3 : Rangkaian
               n                          : Banyaknya Rangkaian yang disusun


4. Satuan Pada Resistor
   Satuan yang digunakan :
   1. Ohm               = Ω
   2. Kilo Ohm          = KΩ
   3. Mega Ohm          = MΩ
   4. 1KΩ = 1.000Ω
   5. 1MΩ = 1.000.000Ω
5. PTC
   PTC atau Positive Temperature Coefisien termasuk jenis thermistor, yaitu
   resitor yang nilai tahanannya dipengarugi oleh suhu. Nilai hambatan PTC
   saat dingin adalah sangat rendah, tetapi saat suhu PTC naik maka nilai



                                      9
hambatannya juga ikut naik. Pada pesawat televisi PTC biasanya digunakan
  untuk memberikan suplay tegangan pada kumparan degausing.




                               Gambar 1.8. PTC
6. NTC
   NTC atau Negative Temperature Coefisien termasuk jenis thermistor, yaitu
  resistor yang nilai tahanannya dipengaruhi oleh suhu, tetapi NTC kebalikan
  dari PTC, dimana nilai tahanan NTC saat dingin sangat tinggi, tetapi saat
  suhu NTC semakin naik, maka nilai tahannya akan semakin mengecil bahkan
  nol. Pada pesawat televisi NTC biasanya dipasang pada terminal masukan
  listrik, ini dimaksudkan untuk mengurangi kejutan tegangan pada rangkaian
  power supply, sehingga efek yang ditimbulkan dari penambahan NTC ini
  adalah sebuah kondisi yang disebut sebagai “soft start.”




                          Gambar 1.9. NTC

                                 10
7. LDR
  LDR atau Light Dependent Resistor merupakan resistor peka cahaya atau
  biasa disebut dengan fotoresistor, dimana nilai resistansinya akan menurun
  jika ada penambahan intensitas cahaya yang mengenainya. Fotoresistor
  dibuat dari semikonduktor beresistansi tinggi. Jika cahaya yang
  mengenainya memiliki frekuensi yang cukup tinggi, foton yang diserap oleh
  semikonduktor akan menyebabkan elektron memiliki energi yang cukup
  untuk meloncat ke pita induksi. Elektron bebas yang dihasilkan ( dan
  pasangan hole-nya ) akan mengalirkan listrik, sehingga menurunkan
  resistansinya.




                                    Gambar 1.10. LDR




                   Gambar 1.12. Light Dependent Resistor
                    Gambar 1.11. NTC Thermistor




                                    11

Bab i

  • 1.
    BAB I .KK1 ANALOG & DIGITAL 1.1. AVOMETER 1. Pengertian Transistor Avometer adalah Avometer sebenarnya adalah Amper, Volt, dan Ohm meter artinya satu alat tersebut dapat digunakan untuk ketiganya yaitu untuk mengukur kuat arus listrik (A), tegangan listrik (V) dan hambatan listrik (Ohm) dengan mengatur “range selector switch” sesuai dengan kebutuhan. Untuk menghemat batu pada multimeter dapat dilakukan dengan memutar pada posisi off jika tidak ada maka batas ukur di letakan pada posisi pengukur tegangan AC yang paling besar. 2. Jenis avometer a. Avometer analog avometer analog atau jarum adalah alat pengukur besaran listrik yang menggunakan tampilan dengan jarum yang bergerak ke range-range yang kita ukur dengan probe. Avometer ini tersedia dengan kemampuan untuk mengukur hambatan ohm, tegangan (Volt) dan arus (mA). Analog tidak digunakan untuk mengukur secara detail suatu besaran nilai komponen, tetapi kebanyakan hanya digunakan untuk baik atau jeleknya komponen pada waktu pengukuran atau juga digunakan untuk memeriksa suatu rangkaian apakah sudah tersambung dengan baik sesuai dengan rangkaian blok yang ada. Gambar 1.1. Avometer Analog 1
  • 2.
    b. avometer digital Avometer digital hampir sama fungsinya dengan avometer analog tetapi avometer digital menggunakan tampilan angka digital. Avometer digital pembacaan pengukuran besaran listrik yang lebih tepat jika dibanding dengan avometer analog, sehingga avometer digital dikhususkan untuk mengukur suatu besaran nilai tertentu dari sebuah komponen secara mendetail sesuai dengan besaran yang diinginkan. Gambar 1.2. Avometer Digital 3. Cara membaca avometer a. Resistansi Untuk mengetahui kondisi suatu komponen dalam keadaan rusak atau baik, serta untuk menentukan berapakah nilai resistansinya: 1. Atur selector switch pada posisi Ohm. 2. Pilih batas ukur ( range ), sesuaikan dengan nilai resistor. 3. Hubungkan secara singkat kabel penyidik agar jarum meter bergerak kearah kanan dan dapat diatur supaya menunjukkan pada skala maksimum dengan menekan tombol Zero adjust, maksudnya agar pembacaan meter sesuai dengan skala dan range yang dipakai. 4. Ukur resistor dengan menghubungkan kabel penyidik pada kedua kaki resistor secara parallel, dengan mengabaikan warna kabel. 5. Baca papan skala sesuai deimana jarum meter berhenti. Dan kalikan pembacaan dengan batas ukur, misalnya jarum menunjukan skala 10 dan batas ukur menggunakan x100 maka nilai resistor tersebut adalah 10x100 = 1000 ohm. 2
  • 3.
    b. Tegangan DC 1. Letakkan selector switch pada posisi tegangan DC 2. Pilih batas ukur (2.5, 10, 50, 250, 1000 ) dimana harus dipilih batas yang sama atau lebih besar dari tegangan yang akan diukur, misalnya tegangan yang akan dikur 12V maka batas ukur yang harus dipilih adalah 50. 3. Tidak boleh memilih batas ukur yang ebih kecil, karena jarum penunjuk akan bergerak melewati batas maksimum dan dapat merusak moving coil. 4. Sambungkan kabel probe pada sumber tegangan, kabel merah untuk positif dan kabel hitam untuk negative, cara pemasangan seperti itu disebut hubungan parallel, apabila pemasangan kabel polaritas terbalik, maka jarum meter akan bergerak kekiri. 5. Baca papan skala sesuai dimana jarum penunjuk akan berhenti, cara yang paling tepat membaca adalah secara tegak lurus agar tidak terjadi kesalahan membaca. c. Tegangan AC 1. Letakkan selector switch pada posisis tegangan AC. 2. Pilih batas ukur ( 10, 50, 250, 1000 ). Batas ukur yang dipilih harus yang sama atau ebih besar dari tegangan yang akan diukur, misalkan tegangan yang akan diukur 220V maka batas ukur yang harus dipilih adalah 250. 3. Sambungkan probe pada sumber tegangan secara parallel. Untuk tegangan AC kabel merah dan hitam dapat bebas disambungkan pada sumber tegangan karena tegangan AC tidak mempunyai polaritas ( + / - ) 4. Baca papan skala sesuai dengan dimana jarum penunjuk berhenti, cara yang paling tepat membaca adalahsecara tegak lurus agar tidak terjadi kesalahan dalam membaca. 3
  • 4.
    d. Arus 1. Atur selector switch pada posisi arus DC. 2. Atur selector pada batas ukur yang lebih tinggi dari arus yang akan diukur, batas ukur dapat dipilih yang paling tinggi agar tidak merusak AVOmeter, pengaruh pemilihan batas ukur yang terlalu jauh dari arus akan diukur hanya mengakibatkan pembacaan yang kurang akurat. 3. Hubungkan kabel secara seri dengan beban, beban dapat di seri pada kabel negative atau kabel positive. Apabila pemasangan kabel polaritasnya terbalik, maka jarum meter akan bergerak kekiri. 4. Baca penunjuk arus pada papan skala arus DC sesuai posisi jarum. e. Kondensator 1. Putar batas ukur pada AVOmeter x1 / x10 untuk kondensator yang ukurannya besar dan x100 / x1K untuk elco yang ukurannya kecil. 2. Hubungkan probe ke masing masing-masing kaki Kondensator 3. Lihat penunjukkan jarum pada papan skala. 1.2. TRANSISTOR 1. Pengertian Transistor Transistor adalah salah komponen elektronik yang berperan penting dalam perkembangan teknologi.Transistor memiliki 3 buah kaki atau pin yaitu: Collector (C), Emitter (E) dan Basis (B). 4
  • 5.
    2. Transistor tipeBJT a. Transistor NPN NPN adalah satu dari dua tipe BJT. Hampir semua BJT yang digunakkan saat ini adalah NPN karena pergerakan electron dalam semikonduktor jauh lebih tinggi daripada pergerakan lubang, memungkinkan operasi arus besar dan kecepatan tinggi. Transistor NPN terdiri dari selapis semi konduktor tipe p di antara dua lapisan tipe n. Arus kecil yang memasuki basis pada tunggal emitor dikuatkan di keluaran kolektor. Gambar 1.3. Transistor NPN Transistor NPN hidup ketika tegangan basis lebih tinggi daripada emitor. Tanda panah dalam symbol diletakkan pada kaki emitor dan menunjuk keluar. prinsip kerja dari transistor NPN adalah: arus akan mengalir dari kolektor ke emitor jika basisnya dihubungkan ke ground (negatif) b. Transistor PNP Transistor PNP terdiri dari selapis semikonduktor tipe n diantara 2 lapis semikonduktor tipe p. Arus kecil yang meninggalkan basis pada moda tunggal emitor dikuatkan pada keluaran kolektor. Dengan kata lain, transistor PNP hidup ketika basis lebih rendah daripada emitor. Tanda 5
  • 6.
    panah pada symboldiletakkan pada emitor dan menunjuk kedalam. Gambar 1.4. Transistor PNP Prinsip kerja dari transistor PNP: arus akan mengalir dari emitter menuju ke kolektor jika pada pin basis dihubungkan ke sumber tegangan. Arus yang mengalir ke basis harus lebih kecil daripada arus yang mengalir dari emitor ke kolektor, oleh sebab itu maka ada baiknya jika pada pin basis dipasang sebuah resistor. 3. Transistor Jenis UJT Sebuah piranti semikonduktor elektronik yang hanya mempunyai satu pertemuan. UJT mempunyai satu kaki emitor dan dua basis a. FET Transistor yang menggunakan medan listrik untuk mengendalikan konduktifitas suatu kanal dari jenis pembawa muatan tunggal dalam bahan semikonduktor. b. MOSFET Transistor yang mempunyai impedansi masukan sangat tinggi. Yang biasanya digunakan sebagai saklar otomatis. 6
  • 7.
    1.3. RESISTOR 1. Kode Warna pada Resistor Tabel 1.1. Kode Warna Resistor Warna Nilai pada Nilai pada Nilai pada Nilai pada Gelang -1 Gelang -2 Gelang-3 Gelang -4 Hitam - 0 - - Coklat 1 1 101 - Merah 2 2 102 - Oranye 3 3 103 - Kuning 4 4 104 - Hijau 5 5 105 - Biru 6 6 106 - Ungu 7 7 107 - Abu-abu 8 8 108 - Putih 9 9 109 - Emas - - 10-1 5% Perak - - 10-2 10 % - Polos - - 20 2. Cara Membaca Resistor Apabila sebuah resistor memiliki gelang wara berurutan sebagai berikut: - Merah = 2 - Biru = 6 - Oranye = 103 ( gelang warna ketiga adalah faktor perkaliannya ) - Perak = 10% ( gelang warna keempat adalah toleransinya ) Berarti nilai Resistor tersebut adalah 26x103 = 26.000 Ohm Toleransi 10% atau 26k Ohm Toleransi 10%. 7
  • 8.
    3. Rangkaian padaResistor a. Rangkaian Seri Rangkaian seri adalah salah satu rangkaian listrik yang disusun secara sejajar ( seri ). Gambar 1.5. Rangkaian Seri Rtotal = R1 + R2+ ... + Rn Keterangan : Rtotal : Total semua rangkaian R1,R2, .., Rn : Rangkaian n : Banyaknya Rangkaian yang disusun Jumlah hambatan total rangkaian seri sama dengan jumlah hambatan tiap tiap komponen (resistor). b. Rangkaian Paralel Rangkaian Paralel adalah salah satu rangkaian listrik yang disusun secara berderet ( Paralel ). Gambar 1.6. Rangkaian Paralel 1/Rtotal = 1/R1 + 1/R2 + ... + 1/Rn Keterangan : 1/Rtotal : Total semua rangkaian 8
  • 9.
    1/R1, 1/R2, ..,1/Rn : Rangkaian n : Banyaknya Rangkaian yang disusun Jumlah kebalikan hambatan total rangkaian paralel sama dengan jumlah dari kebalikan hambatan tiap-tiap komponen (resistor). c. Rangkaian Campuran Rangkaian Campuran adalah gabungan dari 2 rangkaian listrik, yaitu rangkaian listrik seri dan rangkaian listrik paralel. Gambar 1.7. rangkaian campuran Rtotal = ( 1/R1 + 1/R2 ) + R3 Keterangan : Rtotal : Total semua rangkaian 1/R1, 1/R2, R3 : Rangkaian n : Banyaknya Rangkaian yang disusun 4. Satuan Pada Resistor Satuan yang digunakan : 1. Ohm = Ω 2. Kilo Ohm = KΩ 3. Mega Ohm = MΩ 4. 1KΩ = 1.000Ω 5. 1MΩ = 1.000.000Ω 5. PTC PTC atau Positive Temperature Coefisien termasuk jenis thermistor, yaitu resitor yang nilai tahanannya dipengarugi oleh suhu. Nilai hambatan PTC saat dingin adalah sangat rendah, tetapi saat suhu PTC naik maka nilai 9
  • 10.
    hambatannya juga ikutnaik. Pada pesawat televisi PTC biasanya digunakan untuk memberikan suplay tegangan pada kumparan degausing. Gambar 1.8. PTC 6. NTC NTC atau Negative Temperature Coefisien termasuk jenis thermistor, yaitu resistor yang nilai tahanannya dipengaruhi oleh suhu, tetapi NTC kebalikan dari PTC, dimana nilai tahanan NTC saat dingin sangat tinggi, tetapi saat suhu NTC semakin naik, maka nilai tahannya akan semakin mengecil bahkan nol. Pada pesawat televisi NTC biasanya dipasang pada terminal masukan listrik, ini dimaksudkan untuk mengurangi kejutan tegangan pada rangkaian power supply, sehingga efek yang ditimbulkan dari penambahan NTC ini adalah sebuah kondisi yang disebut sebagai “soft start.” Gambar 1.9. NTC 10
  • 11.
    7. LDR LDR atau Light Dependent Resistor merupakan resistor peka cahaya atau biasa disebut dengan fotoresistor, dimana nilai resistansinya akan menurun jika ada penambahan intensitas cahaya yang mengenainya. Fotoresistor dibuat dari semikonduktor beresistansi tinggi. Jika cahaya yang mengenainya memiliki frekuensi yang cukup tinggi, foton yang diserap oleh semikonduktor akan menyebabkan elektron memiliki energi yang cukup untuk meloncat ke pita induksi. Elektron bebas yang dihasilkan ( dan pasangan hole-nya ) akan mengalirkan listrik, sehingga menurunkan resistansinya. Gambar 1.10. LDR Gambar 1.12. Light Dependent Resistor Gambar 1.11. NTC Thermistor 11