ANTI JAMUR
TOPIKAL
NILDA LELY
INFEKSI JAMUR
Infeksi sistemik
Infeksi superfisial dan mukokutan (topikal)
Anti jamur untuk infeksi superfisial dan
mukokutan pada kulit atau selaput lendir
1. Griseofulvin
2. Imidazole dan Triazole
3. Tolnaftat dan Tolsiklat
4. Nistatin
5. Anti jamur topical lainnya
1. GRISEOFULFIN
Asal
Ditemukan oleh Brian dkk th 1946 diisolasi dariPenicillin
janczewski
Nama kimia / iupac griseofulvin :
2S-trans ]-7-chloro-2´,4,6-trimethoxy-6´-
methylspiro[benzofuran-2(3H),1´(2)-cyclohexene]-3,4´-dione
Pemerian :
Griseofulvin berwarna putih atau putih
krem, rasa pahit, termostabil.
Kelarutan:
Larut dalam etanol, metanol, aseton,
benzen, kloroform,etil asetat dan asam
asetat; Praktis tidak larut dalam air,
petroleum eter.
AKTIVITAS JAMUR
Griseofulvin in vitro efektif terhadap berbagai
jenis jamur dermatofit seperti Trichophyton,
Epidermohyton dan Microsporum.
Terhadap sel muda yang sedang berkembang
griseofulvin bersifat fungisidal.
Obat ini tidak efektif terhadap bakteri, jamur
lain dan ragi, Actinomyces dan nocardia.
Efek fungistatik obat ini belum sepenuhnya
dapat dijelaskan.
Tetapi ada laporan mengemukakan
mekanisme kerja obat ini mirip dengan
kolkisin dan alkaloid vinka yaitu dgn
menghambat mitosis sel muda dengan
mengganggu sintesis dan polimerisasi asam
nukleat.
FARMAKOKINETIK
Griseofulvin kurang baik penyerapannya pada
saluran cerna bagian atas karena obat ini tidak
larut dalam air.
Dosis oral 0,5 g hanya akan menghasilkan
kadar plasma tertinggi kira-kira 1 µg setelah 4
jam.
Preparat dalam bentuk ukuran partikel lebih
kecil diserap lebih baik.
Absorpsinya meningkat bila diberikan
bersamaan dengan makanan berlemak.
Obat ini dimetabolisme di hati dan metabolit
utamanya adalah 6-metilgriseofulvin.
Waktu paruh kira-kira 24 jam, 50% dari dosis
oral yang diberikan dikeluarkan bersama urin
dalam bentuk metabolit selama 5 hari.
Kulit yang sakit mempunyai afinitas yang tinggi terhadap
obat ini.
Obat akan dihimpun dalam sel pembentuk keratin, lalu
muncul bersama sel yang baru berdiferensiasi, terikat
kuat dengan keratin sehingga sel baru ini akan resisten
terhadap serangan jamur.
Keratinin yang mengandung jamur akan terkelupas dan
diganti oleh sel yang normal.
Antibiotik ini dapat ditemukan dalam lapisan
tanduk 48 jam setelah pemberian per oral.
Keringat dan kehilangan cairan transepidermal
memegang peranan penting dalam
penyebarannya pada stratum korneum, kadar
yang ditemukan dalam cairan dan jarngan
tubuh lainnya kecil sekali.
EFEK SAMPING
Efek samping yang berat jarang timbul.
Leucopenia dan graulositopenia dapat terjadi
pada pemakaian dosis besar dalam waktu lama.
Karena itu sebaiknya dilakukan pemeriksaan
darah yang teratur selama pemakaian obat ini.
sakit kepala merupakan keluhan utama, terjadi
kira-kira pada 15 % pasien, yang akan hilang
sendiri sekalipun pemakaian obat dilanjutkan.
Efek samping lainnya seperti artralgia, neuritis
perifer, demam, pandangan kabur, insomnia,
berkurangnya fungsi motorik, pusing dan sinkop.
Pada saluran cerna dapat terjadi rasa kering
mulut, mual, muntah, diare dan flatulensi.
INDIKASI
Griseofulvin diindikasikan penyakit jamur di kulit,
rambut dan kuku yang disebabkan oleh jamur
yang dermatofitosis.
Gejala pada kulit akan berkurang dalam 48-96
jam setelah pengobatan dengan griseofulvin
sedangkan penyembuhan sempurna baru
terjadi setelah beberapa minggu.
Biakan jamur menjadi negative dalam 1-2
minggu tetapi pengobatan sebaiknya
dilanjutkan sampai 3-4 minggu.
Infeksi pada telapak tangan dan telapak kaki
lebih lambat beraksi, biakan di sini baru
negative setelah 2-4 minggu dan pengobatan
membutuhkan waktu sekitar 4-8 minggu.
Infeksi kuku tangan membutuhkan waktu 4-6
bulan sedangkan infeki kuku kaki
membutuhkan waktu 6-12 bulan.
Trichophyton rubrum dan trichophyton
mentarovites membutuhkan dosis yang lebih
tinggi dari pada dosis biasa.
Pada keadaan yang disertai hyperkeratosis
perlu penambahan zat keratolitik.
Dosis sangat tinggi griseofulvin bersifat
karsiongenik dan teratogenik sehingga
dematofitosis ringan tidak perlu diberikan
griseofulvin.
SEDIAAN
Untuk anak, griseofulvin diberikan 5-15 mg/
kgBB/hari
Untuk dewasa 500-1000 mg/hari dalam dosis
tunggal.
Bila dosis tunggal tidak dapat toleransi, maka
dibagi dalam beberapa dosis.
2. IMIDAZOL DAN TRIAZOL
Anti jamur golongan imidazol mempunyai
spectrum yang luas.
Karena sifat dan penggunaannya praktis tidak
berbeda, maka hanya mikonazol dan
klotrimazol yang akan dibaha
A. MIKONAZOL
Mikonazol merupakan turunan imidazol
sintetik yang relative stabil, dan mempunyai
spectrum anti jamur yang lebar terhadap
jamur dermatofit.
Efek aktivitas anti jamur Mikonazol
menghambat aktivitas jamur trichphyton,
epidermophyton, microsporim, candida dan
malassezia furfur.
Mikonazol in vitro efektif terhadap beberapa
kuman gram positif.
Mekanisme kerja obat ini belum diketahui
sepenuhnya, mikonazole masuk ke dalam sel
jamur dan menyebabkan kerusakan dinding
sel sehingga permeabilitas terhadap berbagai
zat intrasel meningkat.
Kemungkinan terjadi gangguan sintesis sel
jamur yang akan menyebabkan kerusakan.
Obat yang sudah menembus ke dalam lapisan
tanduk kulit akan menetap di sana sampai 4
hari.
Mikonazol topical diindikasikan untuk
dermatofitosis, tinea versikolor dan
kandidiasis mukokutan.
Dermatofitosis sedang atau berat yang
mengenai kulit kepala, telapak tangan dan
kuku sebaiknya dipakai griseofulvin
EFEK SAMPING
Berupa iritasi, rasa terbakar dan maserasi
memerlukan penghentian terapi.
Sejumlah kecil mikonazol diserap melalui
mukosa vagina tapi belum ada laporan
tentang efek samping pada bayi yang ibunya
yg menggunakan mikonazol intravaginal pada
waktu hamil, tetapi penggunaanya pada
kehamilan trimester pertama sebaiknya
dihindari.
SEDIAAN
Obat ini tersedia dalam bentuk cream 2% dan
bedak tabur yang dipakai 2x sehari selama 2-4
minggu.
Cream 2% untuk penggunaan intavaginal
diberikan 1x sehari pada malam hari selama 7
hari.
Gel 2% tersedia untuk kandidiasis oral.
Mikonazol tidak boleh dberikan pada mata.
B. KLOTRIMAZOL
Klotrimazol berbentuk bubuk tidak berwarna
yang praktis tidak larut dalam air, larut dalam
alcohol dan kloroform, sedikit larut dalam eter.
Klotrimazol mempunyai efek anti jamur dan
antibakteri dengan mekanisme kerja mirip
mikonazol
Secara topical digunakan untuk pengobatan
tinea pedis, kruris dan korporis yang
disebabkan oleh T. rubrum, dan juga untuk
infeksi kulit dan vulvovaginitis yang
disebabkan oleh C, albicanns.
EFEK SAMPING
Pada pemakaian topical dapat terjadi rasa
terbakar, eritema, edema, gatal dan urtikaria
SEDIAAN
Obat ini tersedia dalam bentuk cream dan
larutan dengan kadar 1% untuk dioleskan 2x
sehari.
Cream vaginal 1% atu tablet vaginal 100 mg
digunakan sekali sehari pada malam hari
selama 7 hari.
Atau tablet vaginal 500 mg, dosis tunggal
3. TOLNAFTAT DAN TOLSIKLAT
A. Tolnaftat
Adalah suatu tiokarbamat yang efektif untuk
pengobatan sebagain besar dermatofitosis
tapi tidak efektif terhadap kandida.
Tolnaftat tersedia dalam bentuk cream, gel,
bubuk, caira aerosol atau larutan topical
dengan kadar 1%.
Digunakan local 2-3 kali sehari. Rasa gatal
akan hilang dalam 24-72 jam.
Lesi interdigital oleh jamur yang rentan dapat
sembuh antara 7-21 hari.
Pada lesi dengan hyperkeratosis, toinaftat
sebaiknya diberikan bergantian dengan salep
asam salisilat 10%.
B. Tolsiklat
Merupakan anti jamur topical yang diturunkan
dari tiokarbamat.
Namun karena spektrumnya yang sempit, anti
jamur ini tidak banyak digunakan lagi.
4. NISTATINÈ
Asal dan kimia
Nistatin merupakan suatu antibiotic polien
yang dihasilkan oleh
Streptomyces noursel .
Obat yang beruba bubuk warna kuning
kemerahan ini bersifat higroskopis, berbau
khas, sukar larut dalam kloroform dan eter.
Larutannya mudah terurai dalam air atau
plasma.
Sekalipun nistatin mempunyai struktu kima
dan mekanisme kerja mirip dengan
amfoterisin B, nistatin lebih toksik sehingga
tidak digunakan sebagai obat sistemik.
Nistatin tidak diserap melalui saluran cerna,
kulit maupun vagina.
Aktifitas anti jamur Nistatin menghambat
pertumbuhan berbagai jamur dan ragi tetapi
tidak aktif terhadap bakteri, protozoa dan
virus.
MEKANISME KERJA
Nistatin hanya akan diikat oleh jamur atau ragi
yang sensitive.
Akfititas anti jamur tergantung dari adanya
ikatan dengan sterol pada membrane sel
jamur atau ragi terutama sekali ergosterol.
Akibatnya terbentuknya ikatan antara sterol
dengan antibiotic ini akan terjadi perubahan
permeabilitias membrane sel sehingga sel
akan kehilangan berbagai molekul kecil.
INDIKASI
Nistatin terutama digunakan untuk infeksi
kandida di kulit, selaput lendir dan saluran
cerna. paronikia, vaginitis dan kandidiasis oral
dan saluran cerna cukup diobati secara topical.
Kandidiasis di mulut, esophagus dan lambung
biasanya merupakan komplikasi dari penyakit
darah yang ganas terutama komplikasi dari
penyakit darah yang ganas terutama pada
pasien yang mendapat pengobatan
imunosupresif.
Sebagian besar inifeksi ini memberikan
respons yang baik terhadap nistatin.
Kandidiasis saluran cerna jarang ditemukan,
tetapi keadaan ini dapat merupakan penyebab
timbulnya nyeri perut dan diare.
EFEK SAMPING
Efek samping jarang ditemukan pada
pemakaian nistatin.
Mual, muntal dan diare ringan mungkin
didapatkan setelah pemakaian per oral.
Iritasi kulit maupun selaput ledir pada
pemakaian topical belum pernah dilaporkan.
Nistatin tidak memempengaruhi bakteri,
protozoa dan virus maka pemberian nistatin
dengan dosis tinggi tidak akan menimbulkan
superinfeksi.
SEDIAAN
Dosis nistatin dinyatakan dalam unit, tiap 1 mg
obat ini mengandung tidak kurang dari 200 unit
nistatin.
Untuk pemakaian klinik tersedia dalam bentuk
krim, bubuk, salep, suspense dan obat tetes
yang mengandung 100.000 unit nistatin per
gram atau per ml.
Untuk pemakaian per oral tersedia tablet 250.00
dan 500.000 unit, 3 atau 4 kali sehari.
Obat tidak langsung ditelan tetapi ditahan dulu
dalam rongga mulut.
Pemakaian pada kulit disarankan 2-3 kali sehari,
sedangkan pemakaian tablet vagina 1-2 kali
sehari selama 14 hari.
5. ANTI JAMUR TOPICAL
LAINNYA
A. Asam benzoate dan Asam salisilat
Sudah dibahas !!!
B. ASAM UNDESILENAT
Asam undesilenat merupakan caira kuning
dengan bau khas yang tajam.
Dosis biasa dari asam ini hanya menimbulkan
efek fungistatik tetapi dalam dosis tinggi dan
pemakaian yang lama dapat memberikan efek
funigisidal.
Obat ini aktif terhadap epidermophyton,
trichophyton, dan microsporum.
SEDIAAN
Tersedia dalam bentuk salep campuran
mengandung 5% undesilenat dan 20% seng
undesilenat.
Bentuk bedak dan aerosol mengandung 2%
undesilenat dengan 20% seng undesilenat.
Dalam hal ini seng berperan untuk menekan
luasnya peradangan.
Pemakaian pada mukosa dapat menyebabkan
iritasi bila kadar lebih dari 1%.
Iritasi dan sensitivitas jarang terjadi pada
pemakaian topical.
Pada tinea kapitis efektivitasnya tidak nyata
sehingga tidak digunakan lagi.
Obat ini dapat menghambat pertumbuhan
jamur pada tinea pedis, tetapi efktivitasnya
tidak sebaik mikonazol, haloprogin atau
tolnaftat.
C. HALOPROGIN
Haloprogin merukan anti jamur sintetik,
berbentuk Kristal putih kekuningan, sukar laur
dalam air tetapi larut dalam dalam alcohol.
Obat ini bersifat fungsidal terhadap
Epidermophyton, Trichophyton, Microsorum
dan Malassezia furfur.
Haloprogin sedikit sekali diserap melalui kulit,
dalam tubuh akan terurai menjadi trikorofenol.
Selama pemakaian obat ini sering timbul
iritasi local, rasa terbakar, vesikel, meluasnya
maserasi dan sensitisasi.
Sensitisasi mungkin merupakan pertanda
cepatnya repons pengobatan sebab toksin
yang dilepaskan kadang-kadang
memperburuk lesi.
SEDIAAN
Haloprogin tersedia dalam bentuk cream dan
larutan dengan kadar 1%. terhadap tinea pedis
efektivitas mendekati tolnaftat.
Di samping itu obat ini juga digunakan untuk
tinea versikolor.
D. SIKLOPIROKS OLAMIN
Obat ini merupakan anti jamur topical
berspektrum luas.
Penggunaan kliniknya ialah untuk
dermatofitosi, kandidiasis dan tinea versikolor
Siklopiroks olamin tersedia dalam bentuk
cream 1% yang dioleskan pada lesi 2x sehari.
Reaksi iritatif dapat terjadi walaupun jarang.
E. TERBINAFIN
Terbinafin merupakan suatu derivate alilamin
sintetik dengan struktur mirip naftitin.
Obat ini digunakan untuk terapi dermatofitosis,
tertama onikomikosis.
Terbinafin topical tersedia dalam bentuk crem
1% dan gel 1%.
Terbinafin topical digunakan untuk
pengobatan tinea kruris dan korporis yang
diberikan 1-2 kali sehari selama 1-2 minggu.
SELESAI
KETOKONAZOL
Obat ini mempunyai aktivitas antijamur
terhadap Candida, Coccidioides immitis,
Cryptococcus neoformans, H. capsulatum, B.
dermatitidis, Sporothrix spp, dan
Paracoccidioides brasiliensis.
Ketokonazol bisa diberikan per oral atau
topikal.
Ketokonazole, dalam bentuk krim untuk
pengobatan dermatofitosis dan candidiasis
secara topikal dan dalam bentuk sampo untuk
pengobatan dermatitsseborea
46
Mekanisme kerja
Menghambat sintesis ergosterol yang
merupakan komponen vital dalam membran
sel jamur sehingga mempengaruhi
permeabilitas sel.
Pada pemberian topikal, efek sampingnya bisa
berupa iritasi, pruritus, dan rasa terbakar.
47
MIKONAZOL
Spektrum aktivitas antijamurnya hampir sama
dengan ketokonazol, termasuk dermatofit.
Tersedia dalam bentuk krim dan losion dan
sebagai krim vagina atau supositoria untuk
pengobatan candidiasis vulvovagina.
KLOTRIMAZOL
Klotrimazol tersedia untuk penggunaan kulit
dalam bentuk sediaan krim atau losion dan
sebagai krim vagina serta tablet-tablet yang
digunakan dalam candidiasis vulvovagina.
49
EKONAZOL
Ekonazol aktif secara topikal, dalam bentuk
sediaan krim jarang digunakan parenteral
50

ANTI JAMUR TOPIKAL 4.pdf

  • 1.
  • 2.
    INFEKSI JAMUR Infeksi sistemik Infeksisuperfisial dan mukokutan (topikal)
  • 3.
    Anti jamur untukinfeksi superfisial dan mukokutan pada kulit atau selaput lendir 1. Griseofulvin 2. Imidazole dan Triazole 3. Tolnaftat dan Tolsiklat 4. Nistatin 5. Anti jamur topical lainnya
  • 4.
    1. GRISEOFULFIN Asal Ditemukan olehBrian dkk th 1946 diisolasi dariPenicillin janczewski Nama kimia / iupac griseofulvin : 2S-trans ]-7-chloro-2´,4,6-trimethoxy-6´- methylspiro[benzofuran-2(3H),1´(2)-cyclohexene]-3,4´-dione
  • 5.
    Pemerian : Griseofulvin berwarnaputih atau putih krem, rasa pahit, termostabil. Kelarutan: Larut dalam etanol, metanol, aseton, benzen, kloroform,etil asetat dan asam asetat; Praktis tidak larut dalam air, petroleum eter.
  • 6.
    AKTIVITAS JAMUR Griseofulvin invitro efektif terhadap berbagai jenis jamur dermatofit seperti Trichophyton, Epidermohyton dan Microsporum. Terhadap sel muda yang sedang berkembang griseofulvin bersifat fungisidal. Obat ini tidak efektif terhadap bakteri, jamur lain dan ragi, Actinomyces dan nocardia.
  • 7.
    Efek fungistatik obatini belum sepenuhnya dapat dijelaskan. Tetapi ada laporan mengemukakan mekanisme kerja obat ini mirip dengan kolkisin dan alkaloid vinka yaitu dgn menghambat mitosis sel muda dengan mengganggu sintesis dan polimerisasi asam nukleat.
  • 8.
    FARMAKOKINETIK Griseofulvin kurang baikpenyerapannya pada saluran cerna bagian atas karena obat ini tidak larut dalam air. Dosis oral 0,5 g hanya akan menghasilkan kadar plasma tertinggi kira-kira 1 µg setelah 4 jam. Preparat dalam bentuk ukuran partikel lebih kecil diserap lebih baik.
  • 9.
    Absorpsinya meningkat biladiberikan bersamaan dengan makanan berlemak. Obat ini dimetabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah 6-metilgriseofulvin. Waktu paruh kira-kira 24 jam, 50% dari dosis oral yang diberikan dikeluarkan bersama urin dalam bentuk metabolit selama 5 hari.
  • 10.
    Kulit yang sakitmempunyai afinitas yang tinggi terhadap obat ini. Obat akan dihimpun dalam sel pembentuk keratin, lalu muncul bersama sel yang baru berdiferensiasi, terikat kuat dengan keratin sehingga sel baru ini akan resisten terhadap serangan jamur. Keratinin yang mengandung jamur akan terkelupas dan diganti oleh sel yang normal.
  • 11.
    Antibiotik ini dapatditemukan dalam lapisan tanduk 48 jam setelah pemberian per oral. Keringat dan kehilangan cairan transepidermal memegang peranan penting dalam penyebarannya pada stratum korneum, kadar yang ditemukan dalam cairan dan jarngan tubuh lainnya kecil sekali.
  • 12.
    EFEK SAMPING Efek sampingyang berat jarang timbul. Leucopenia dan graulositopenia dapat terjadi pada pemakaian dosis besar dalam waktu lama. Karena itu sebaiknya dilakukan pemeriksaan darah yang teratur selama pemakaian obat ini. sakit kepala merupakan keluhan utama, terjadi kira-kira pada 15 % pasien, yang akan hilang sendiri sekalipun pemakaian obat dilanjutkan. Efek samping lainnya seperti artralgia, neuritis perifer, demam, pandangan kabur, insomnia, berkurangnya fungsi motorik, pusing dan sinkop. Pada saluran cerna dapat terjadi rasa kering mulut, mual, muntah, diare dan flatulensi.
  • 13.
    INDIKASI Griseofulvin diindikasikan penyakitjamur di kulit, rambut dan kuku yang disebabkan oleh jamur yang dermatofitosis. Gejala pada kulit akan berkurang dalam 48-96 jam setelah pengobatan dengan griseofulvin sedangkan penyembuhan sempurna baru terjadi setelah beberapa minggu. Biakan jamur menjadi negative dalam 1-2 minggu tetapi pengobatan sebaiknya dilanjutkan sampai 3-4 minggu. Infeksi pada telapak tangan dan telapak kaki lebih lambat beraksi, biakan di sini baru negative setelah 2-4 minggu dan pengobatan membutuhkan waktu sekitar 4-8 minggu.
  • 14.
    Infeksi kuku tanganmembutuhkan waktu 4-6 bulan sedangkan infeki kuku kaki membutuhkan waktu 6-12 bulan. Trichophyton rubrum dan trichophyton mentarovites membutuhkan dosis yang lebih tinggi dari pada dosis biasa. Pada keadaan yang disertai hyperkeratosis perlu penambahan zat keratolitik. Dosis sangat tinggi griseofulvin bersifat karsiongenik dan teratogenik sehingga dematofitosis ringan tidak perlu diberikan griseofulvin.
  • 15.
    SEDIAAN Untuk anak, griseofulvindiberikan 5-15 mg/ kgBB/hari Untuk dewasa 500-1000 mg/hari dalam dosis tunggal. Bila dosis tunggal tidak dapat toleransi, maka dibagi dalam beberapa dosis.
  • 16.
    2. IMIDAZOL DANTRIAZOL Anti jamur golongan imidazol mempunyai spectrum yang luas. Karena sifat dan penggunaannya praktis tidak berbeda, maka hanya mikonazol dan klotrimazol yang akan dibaha
  • 17.
    A. MIKONAZOL Mikonazol merupakanturunan imidazol sintetik yang relative stabil, dan mempunyai spectrum anti jamur yang lebar terhadap jamur dermatofit. Efek aktivitas anti jamur Mikonazol menghambat aktivitas jamur trichphyton, epidermophyton, microsporim, candida dan malassezia furfur.
  • 18.
    Mikonazol in vitroefektif terhadap beberapa kuman gram positif. Mekanisme kerja obat ini belum diketahui sepenuhnya, mikonazole masuk ke dalam sel jamur dan menyebabkan kerusakan dinding sel sehingga permeabilitas terhadap berbagai zat intrasel meningkat.
  • 19.
    Kemungkinan terjadi gangguansintesis sel jamur yang akan menyebabkan kerusakan. Obat yang sudah menembus ke dalam lapisan tanduk kulit akan menetap di sana sampai 4 hari. Mikonazol topical diindikasikan untuk dermatofitosis, tinea versikolor dan kandidiasis mukokutan. Dermatofitosis sedang atau berat yang mengenai kulit kepala, telapak tangan dan kuku sebaiknya dipakai griseofulvin
  • 20.
    EFEK SAMPING Berupa iritasi,rasa terbakar dan maserasi memerlukan penghentian terapi. Sejumlah kecil mikonazol diserap melalui mukosa vagina tapi belum ada laporan tentang efek samping pada bayi yang ibunya yg menggunakan mikonazol intravaginal pada waktu hamil, tetapi penggunaanya pada kehamilan trimester pertama sebaiknya dihindari.
  • 21.
    SEDIAAN Obat ini tersediadalam bentuk cream 2% dan bedak tabur yang dipakai 2x sehari selama 2-4 minggu. Cream 2% untuk penggunaan intavaginal diberikan 1x sehari pada malam hari selama 7 hari. Gel 2% tersedia untuk kandidiasis oral. Mikonazol tidak boleh dberikan pada mata.
  • 22.
    B. KLOTRIMAZOL Klotrimazol berbentukbubuk tidak berwarna yang praktis tidak larut dalam air, larut dalam alcohol dan kloroform, sedikit larut dalam eter. Klotrimazol mempunyai efek anti jamur dan antibakteri dengan mekanisme kerja mirip mikonazol Secara topical digunakan untuk pengobatan tinea pedis, kruris dan korporis yang disebabkan oleh T. rubrum, dan juga untuk infeksi kulit dan vulvovaginitis yang disebabkan oleh C, albicanns.
  • 23.
    EFEK SAMPING Pada pemakaiantopical dapat terjadi rasa terbakar, eritema, edema, gatal dan urtikaria
  • 24.
    SEDIAAN Obat ini tersediadalam bentuk cream dan larutan dengan kadar 1% untuk dioleskan 2x sehari. Cream vaginal 1% atu tablet vaginal 100 mg digunakan sekali sehari pada malam hari selama 7 hari. Atau tablet vaginal 500 mg, dosis tunggal
  • 25.
    3. TOLNAFTAT DANTOLSIKLAT A. Tolnaftat Adalah suatu tiokarbamat yang efektif untuk pengobatan sebagain besar dermatofitosis tapi tidak efektif terhadap kandida. Tolnaftat tersedia dalam bentuk cream, gel, bubuk, caira aerosol atau larutan topical dengan kadar 1%. Digunakan local 2-3 kali sehari. Rasa gatal akan hilang dalam 24-72 jam.
  • 26.
    Lesi interdigital olehjamur yang rentan dapat sembuh antara 7-21 hari. Pada lesi dengan hyperkeratosis, toinaftat sebaiknya diberikan bergantian dengan salep asam salisilat 10%.
  • 27.
    B. Tolsiklat Merupakan antijamur topical yang diturunkan dari tiokarbamat. Namun karena spektrumnya yang sempit, anti jamur ini tidak banyak digunakan lagi.
  • 28.
    4. NISTATINÈ Asal dankimia Nistatin merupakan suatu antibiotic polien yang dihasilkan oleh Streptomyces noursel . Obat yang beruba bubuk warna kuning kemerahan ini bersifat higroskopis, berbau khas, sukar larut dalam kloroform dan eter. Larutannya mudah terurai dalam air atau plasma.
  • 29.
    Sekalipun nistatin mempunyaistruktu kima dan mekanisme kerja mirip dengan amfoterisin B, nistatin lebih toksik sehingga tidak digunakan sebagai obat sistemik. Nistatin tidak diserap melalui saluran cerna, kulit maupun vagina. Aktifitas anti jamur Nistatin menghambat pertumbuhan berbagai jamur dan ragi tetapi tidak aktif terhadap bakteri, protozoa dan virus.
  • 30.
    MEKANISME KERJA Nistatin hanyaakan diikat oleh jamur atau ragi yang sensitive. Akfititas anti jamur tergantung dari adanya ikatan dengan sterol pada membrane sel jamur atau ragi terutama sekali ergosterol. Akibatnya terbentuknya ikatan antara sterol dengan antibiotic ini akan terjadi perubahan permeabilitias membrane sel sehingga sel akan kehilangan berbagai molekul kecil.
  • 31.
    INDIKASI Nistatin terutama digunakanuntuk infeksi kandida di kulit, selaput lendir dan saluran cerna. paronikia, vaginitis dan kandidiasis oral dan saluran cerna cukup diobati secara topical. Kandidiasis di mulut, esophagus dan lambung biasanya merupakan komplikasi dari penyakit darah yang ganas terutama komplikasi dari penyakit darah yang ganas terutama pada pasien yang mendapat pengobatan imunosupresif.
  • 32.
    Sebagian besar inifeksiini memberikan respons yang baik terhadap nistatin. Kandidiasis saluran cerna jarang ditemukan, tetapi keadaan ini dapat merupakan penyebab timbulnya nyeri perut dan diare.
  • 33.
    EFEK SAMPING Efek sampingjarang ditemukan pada pemakaian nistatin. Mual, muntal dan diare ringan mungkin didapatkan setelah pemakaian per oral. Iritasi kulit maupun selaput ledir pada pemakaian topical belum pernah dilaporkan. Nistatin tidak memempengaruhi bakteri, protozoa dan virus maka pemberian nistatin dengan dosis tinggi tidak akan menimbulkan superinfeksi.
  • 34.
    SEDIAAN Dosis nistatin dinyatakandalam unit, tiap 1 mg obat ini mengandung tidak kurang dari 200 unit nistatin. Untuk pemakaian klinik tersedia dalam bentuk krim, bubuk, salep, suspense dan obat tetes yang mengandung 100.000 unit nistatin per gram atau per ml. Untuk pemakaian per oral tersedia tablet 250.00 dan 500.000 unit, 3 atau 4 kali sehari. Obat tidak langsung ditelan tetapi ditahan dulu dalam rongga mulut. Pemakaian pada kulit disarankan 2-3 kali sehari, sedangkan pemakaian tablet vagina 1-2 kali sehari selama 14 hari.
  • 35.
    5. ANTI JAMURTOPICAL LAINNYA A. Asam benzoate dan Asam salisilat Sudah dibahas !!!
  • 36.
    B. ASAM UNDESILENAT Asamundesilenat merupakan caira kuning dengan bau khas yang tajam. Dosis biasa dari asam ini hanya menimbulkan efek fungistatik tetapi dalam dosis tinggi dan pemakaian yang lama dapat memberikan efek funigisidal. Obat ini aktif terhadap epidermophyton, trichophyton, dan microsporum.
  • 37.
    SEDIAAN Tersedia dalam bentuksalep campuran mengandung 5% undesilenat dan 20% seng undesilenat. Bentuk bedak dan aerosol mengandung 2% undesilenat dengan 20% seng undesilenat. Dalam hal ini seng berperan untuk menekan luasnya peradangan. Pemakaian pada mukosa dapat menyebabkan iritasi bila kadar lebih dari 1%.
  • 38.
    Iritasi dan sensitivitasjarang terjadi pada pemakaian topical. Pada tinea kapitis efektivitasnya tidak nyata sehingga tidak digunakan lagi. Obat ini dapat menghambat pertumbuhan jamur pada tinea pedis, tetapi efktivitasnya tidak sebaik mikonazol, haloprogin atau tolnaftat.
  • 39.
    C. HALOPROGIN Haloprogin merukananti jamur sintetik, berbentuk Kristal putih kekuningan, sukar laur dalam air tetapi larut dalam dalam alcohol. Obat ini bersifat fungsidal terhadap Epidermophyton, Trichophyton, Microsorum dan Malassezia furfur. Haloprogin sedikit sekali diserap melalui kulit, dalam tubuh akan terurai menjadi trikorofenol.
  • 40.
    Selama pemakaian obatini sering timbul iritasi local, rasa terbakar, vesikel, meluasnya maserasi dan sensitisasi. Sensitisasi mungkin merupakan pertanda cepatnya repons pengobatan sebab toksin yang dilepaskan kadang-kadang memperburuk lesi.
  • 41.
    SEDIAAN Haloprogin tersedia dalambentuk cream dan larutan dengan kadar 1%. terhadap tinea pedis efektivitas mendekati tolnaftat. Di samping itu obat ini juga digunakan untuk tinea versikolor.
  • 42.
    D. SIKLOPIROKS OLAMIN Obatini merupakan anti jamur topical berspektrum luas. Penggunaan kliniknya ialah untuk dermatofitosi, kandidiasis dan tinea versikolor Siklopiroks olamin tersedia dalam bentuk cream 1% yang dioleskan pada lesi 2x sehari. Reaksi iritatif dapat terjadi walaupun jarang.
  • 43.
    E. TERBINAFIN Terbinafin merupakansuatu derivate alilamin sintetik dengan struktur mirip naftitin. Obat ini digunakan untuk terapi dermatofitosis, tertama onikomikosis. Terbinafin topical tersedia dalam bentuk crem 1% dan gel 1%. Terbinafin topical digunakan untuk pengobatan tinea kruris dan korporis yang diberikan 1-2 kali sehari selama 1-2 minggu.
  • 44.
  • 46.
    KETOKONAZOL Obat ini mempunyaiaktivitas antijamur terhadap Candida, Coccidioides immitis, Cryptococcus neoformans, H. capsulatum, B. dermatitidis, Sporothrix spp, dan Paracoccidioides brasiliensis. Ketokonazol bisa diberikan per oral atau topikal. Ketokonazole, dalam bentuk krim untuk pengobatan dermatofitosis dan candidiasis secara topikal dan dalam bentuk sampo untuk pengobatan dermatitsseborea 46
  • 47.
    Mekanisme kerja Menghambat sintesisergosterol yang merupakan komponen vital dalam membran sel jamur sehingga mempengaruhi permeabilitas sel. Pada pemberian topikal, efek sampingnya bisa berupa iritasi, pruritus, dan rasa terbakar. 47
  • 48.
    MIKONAZOL Spektrum aktivitas antijamurnyahampir sama dengan ketokonazol, termasuk dermatofit. Tersedia dalam bentuk krim dan losion dan sebagai krim vagina atau supositoria untuk pengobatan candidiasis vulvovagina.
  • 49.
    KLOTRIMAZOL Klotrimazol tersedia untukpenggunaan kulit dalam bentuk sediaan krim atau losion dan sebagai krim vagina serta tablet-tablet yang digunakan dalam candidiasis vulvovagina. 49
  • 50.
    EKONAZOL Ekonazol aktif secaratopikal, dalam bentuk sediaan krim jarang digunakan parenteral 50