BAB I ok
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

BAB I ok

on

  • 11,305 views

 

Statistics

Views

Total Views
11,305
Views on SlideShare
11,305
Embed Views
0

Actions

Likes
5
Downloads
208
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

BAB I ok Document Transcript

  • 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menghadapi era globalisasi yang semakin pesat yang disertai dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang semakin canggih, maka diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kompetensi untuk mengembangkan IPTEK. Untuk mewujudkan itu diperlukan suatu kegiatan pembelajaran di sekolah yang dapat memberdayakan semua potensi peserta didik dalam menguasai kompetensi yang diharapkan. Menurut Lambas (2004) kegiatan pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi perserta didik untuk mampu menguasai kompetensi yang diharapkan. Salah satu bidang ilmu yang dapat menggunakan kegiatan pembelajaran untuk memberdayakan semua potensi peserta didik dalam menguasai kompetensi yang diharapkan adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Melalui pembelajaran IPA, peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk mencari, menyimpan, dan menerapkan konsep yang telah dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara menyeluruh (holistik), bermakna, otentik, dan aktif (Depdiknas, 2006). Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman bagi para peserta didik (Hamzah, 2007). Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur
  • 2. 2 konseptual akan menjadikan proses belajar lebih efektif. Kaitan konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian IPA yang relevan akan membentuk skema kognitif, sehingga anak memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Perolehan keutuhan belajar IPA serta kebulatan pandangan tentang kehidupan, dunia nyata dan fenomena alam hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran terpadu (Depdiknas, 2006). Dalam menyajikan mata pelajaran, seorang pengajar atau guru harus memiliki strategi belajar mengajar yang tepat sehingga siswa termotivasi untuk belajar lebih lanjut (Sutikno, 2007). Ketepatan guru dalam memvariasikan strategi belajar mengajar pada penyampaian materi, akan dapat merangsang siswa untuk terlibat dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga apa yang didapat siswa bukanlah suatu kegiatan yang sia-sia atau tidak mempunyai arti bagi siswa. Namun, merupakan suatu tantangan bagi guru untuk terus memahami materi, sehingga bahan pelajaran dapat diserap siswa secara bermakna (meaningfull learning) (BSNP, 2006) Pendidikan kimia sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional menurut Kurikululum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mulai diajarkan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang diintegerasikan kedalam mata pelajaran IPA yang diajarkan secara terpadu (BSNP, 2006). Pembelajaran terpadu dalam IPA, dapat dikemas dengan tema tentang suatu wacana yang dibahas dari berbagai sudut pandang atau disiplin ilmu yang mudah dipahami dan dikenal oleh peserta didik, misalnya tema bahan kimia dalam keseharian dapat dibahas dari materi zat aditif pada makanan dan sistem pencernaan pada manusia. Dengan demikian,
  • 3. 3 melalui pembelajaran terpadu menggunakan tema, beberapa konsep tidak perlu dibahas berulang kali dalam bidang kajian yang berbeda, sehingga penggunaan waktu untuk pembahasannya lebih efisien dan pencapaian tujuan pembelajaran juga diharapkan akan lebih efektif, selain itu nantinya dapat memperkuat konsep yang satu dengan konsep yang lainnya (Depdiknas, 2006) Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA SMP Negeri 4 Pontianak pada tanggal 15 Oktober 2008, diperoleh informasi bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran IPA dilaksanakan secara terpisah. Materi pelajaran kimia hanya membahas konsep kimia saja tanpa mengaitkannya dengan konsep lain yang berkaitan seperti dari kajian pelajaran biologi ataupun konsep pelajaran lainnya. Untuk memperkuat hasil wawancara, pada tanggal 21 Oktober 2008 dilakukan observasi terhadap guru saat kegiatan belajar mengajar di kelas pada materi sistem pernafasan manusia dan peredaran darah manusia. Hasil observasi menunjukkan bahwa saat proses pembelajaran, guru tidak menghubungkan antar konsep atau antar materi, Materi sistem pernafasan dan peredaran darah manusia dapat dikaitkan dengan konsep kimia seperti bahan kimia dalam rumah tangga. Selain itu, guru juga mendominasi dalam pembelajaran, dan siswa kurang merespon penjelasan guru. Untuk mengetahui bagaimana respon siswa terhadap kegiatan belajar yang sudah dilakukan guru, peneliti memberikan angket kepada 40 siswa SMP Negeri 4 Pontianak (Lampiran D-6). Hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 67,5 % siswa mengatakan belajar IPA kurang menarik dan 73,5 % siswa mengatakan bahwa belajar IPA sulit
  • 4. 4 Berdasarkan hasil observasi dan angket tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang dilakukan guru IPA tidak menghubungkan antar materi dan kurang menarik bagi siswa, hal ini dapat menyebabkan siswa menjadi merasa bosan belajar IPA dan akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar. Terbukti dari hasil belajar siswa pada pelajaran tersebut setelah dilakukan evaluasi diperoleh rata-rata skor 55,56 (kelas VIIIA) dan 53,87 (kelas VIII B) serta 54,75 (kelas VIII C). Berarti secara umum siswa kelas VIIIA, kelas VIIIB dan kelas VIII C belum mencapai Standar Ketuntasan Belajar Minimum (SKBM) yaitu sebesar 60. Pelajaran kimia yang tercakup dalam IPA terpadu cukup luas, salah satu materi yang luas cakupannya yaitu materi bahan kimia dalam keseharian yang mencakup bahan kimia dalam rumah tangga, bahan kimia dalam makanan, bahan kimia dalam industri, pertanian, dan kesehatan, serta zat aditif (Rahardjo, dkk, 2008). Materi bahan kimia dalam keseharian merupakan materi yang sangat penting disampaikan kepada siswa. Hal ini dikarenakan melalui materi pelajaran bahan kimia dalam keseharian ini, siswa dapat mengetahui manfaat pelajaran kimia dalam kehidupan keseharian mereka secara langsung, sehingga siswa akan termotivasi untuk mempelajari kimia lebih lanjut Berdasarkan wawancara terhadap guru IPA kelas VIII, yang dilakukan tanggal 21 Oktober 2008 diketahui bahwa guru merasa kesulitan dalam menyampaikan materi bahan kimia dalam keseharian, kesulitan ini dikarenakan cakupan materinya yang luas, sehingga selama ini dalam pembelajaran guru hanya menggunakan pendekatan ceramah agar pembelajaran dapat tuntas.
  • 5. 5 Dari uraian di atas, maka perlu dicari solusi untuk mengatasi permasalahan pada pembelajaran IPA. Salah satu cara yang dapat digunakan yaitu pembelajaran menggunakan strategi peta konsep pada materi bahan kimia dalam keseharian dikaitkan dengan materi sistem pencernaan manusia. Pengajaran dengan strategi peta konsep merupakan salah satu cara untuk membantu siswa membangun konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang baru dan lebih kuat suatu materi pelajaran. Sejalan dengan itu, Hairida (2006) mengungkapkan bahwa dengan menggunakan strategi peta konsep dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Peta konsep merupakan peta rute yang hebat bagi ingatan, yang memungkinkan kita menyusun fakta dan pikiran sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak di libatkan sejak awal (Busan, 2007). Pembelajaran peta konsep merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan konstruktivisme yang dicirikan oleh suatu struktur tugas, tujuan dan kerjasama antara siswa dalam mengaitkan konsep yang satu dengan konsep yang lain (Fajaroh, 2001). Untuk mempermudah kegiatan pembelajaran, strategi peta konsep dapat dibantu dengan memanfaatkan media belajar yang ada di sekolah yaitu komputer. Berdasarkan wawancara, diperoleh informasi bahwa di SMP N 4 Pontianak terdapat sarana komputer, namun pemanfaatannya hanya sebatas untuk belajar mengoperasikan program komputer saja, tidak digunakan sebagai media belajar. Arsyad (2002) mengemukakan bahwa penggunaan suatu media sangatlah membantu didalam kegiatan belajar apalagi saat ini teknologi sudah berkembang dengan pesat. Pembelajaran peta konsep dengan bantuan media komputer
  • 6. 6 dimaksudkan untuk membantu menarik motivasi belajar siswa serta mempercepat pemahaman siswa, sehingga pembelajaran dapat tuntas dengan hasil optimal. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mencoba menerapkan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer pada pembelajaran IPA terpadu khususnya materi bahan kimia dalam keseharian di SMP N 4 Pontianak B. MASALAH PENELITIAN Masalah penelitian ini adalah ”Bagaimana pengaruh pengajaran terpadu pada tema bahan kimia dalam keseharian menggunakan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMPN 4 Pontianak” Untuk memudahkan memecahkan masalah tersebut maka dibagi menjadi sub-sub masalah sebagai berikut : 1. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada materi bahan kimia dalam keseharian yang diajarkan menggunakan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer, dengan yang diajarkan menggunakan pendekatan konvensional (ceramah)? 2. Seberapa besar pengaruh pengajaran terpadu menggunakan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer, terhadap hasil belajar siswa pada materi bahan kimia dalam keseharian? 3. Bagaimana respon siswa, terhadap pengajaran terpadu pada materi bahan kimia dalam keseharian menggunakan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer?
  • 7. 7 C. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh pengajaran terpadu menggunakan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer terhadap hasil belajar siswa pada materi bahan kimia dalam keseharian di SMPN 4 Pontianak Secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Menentukan perbedaan hasil belajar siswa pada materi bahan kimia dalam keseharian yang diajarkan menggunakan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer, dengan yang diajarkan menggunakan pendekatan konvensional 2. Menentukan besarnya pengaruh pengajaran terpadu menggunakan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer, terhadap hasil belajar siswa pada materi bahan kimia dalam keseharian 3. Mengetahui respon siswa, terhadap pengajaran terpadu pada materi bahan kimia dalam keseharian menggunakan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer D. MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain : 1. Bagi Penulis Dapat meningkatkan kemampuan penulis untuk berfikir obyektif dan ilmiah serta sebagai penerapan dari disiplin ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan.
  • 8. 8 2. Bagi Siswa a. Menjadikan siswa termotivasi dan aktif dalam proses belajar mengajar. b. Meningkatkan kreatifitas siswa. 3. Bagi Guru Memberikan informasi kepada guru tentang salah satu strategi mengajar IPA terpadu di kelas terutama pada meteri bahan kimia dalam keseharian E. HIPOTESIS PENELITIAN Menurut Suryabrata (2004), hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji secara emperis. Hipotesis dalam penelitian ini adalah “terdapat pengaruh pengajaran terpadu pada tema bahan kimia dalam keseharian menggunakan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMPN 4 Pontianak” F. RUANG LINGKUP PENELITIAN 1. Variabel Penelitian Menurut Suryabrata (2004), variabel diartikan sebagai sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Variabel adalah objek penelitian yang bervariasi (Arikunto, 2002). Dengan demikian dalam penelitian ini variabel yang akan dikemukakan ada empat macam, yaitu : a. Variabel bebas Menurut Nawawi (2005), variabel bebas adalah sejumlah gejala atau faktor atau unsur yang menentukan atau mempengaruhi ada atau munculnya
  • 9. 9 gejala atau faktor atau unsur lain, yang pada gilirannya gejala atau faktor atau unsur yang kedua itu disebut variabel terikat. Hal ini berarti bahwa variabel ini menentukan munculnya variabel terikat. Adapun yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah : 1) Pengajaran terpadu menggunakan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer 2) Pengajaran menggunakan pendekatan konvensional (ceramah) b. Variabel terikat Menurut Nawawi (2005), variabel terikat adalah sejumlah gejala atau faktor atau unsur yang ada atau muncul dipengaruhi atau ditentukan oleh adanya variabel bebas. Hal ini berarti munculnya variabel ini karena adanya variabel bebas tertentu bukan karena variabel lain. Dengan demikian variabel terikat dalam penelitian ini adalah rata-rata hasil belajar siswa pada materi bahan kimia dalam keseharian c. Variabel kontrol Menurut Nawawi (2005), varibel kontrol adalah sejumlah gejala atau faktor atau unsur yang dengan sengaja dikendalikan, agar tidak mempengaruhi variabel bebas dan variabel terikat. Hal ini berarti variabel ini tidak ikut menentukan ada tidaknya variabel terikat. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah : 1) Guru yang mengajar, guru yang mengajar dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. 2) Jumlah atau kegiatan jam pelajaran
  • 10. 10 d. Variabel ekstrane Menurut Nawawi (2005), variabel ekstrane adalah sejumlah gejala yang tidak dapat dikontrol dan tidak dapat pula diperhitungkan atau dieliminir (dihapuskan) pengaruhnya terhadap variabel bebas. Variabel ekstrane dalam penelitian ini adalah : 1) Keadaan sosial ekonomi siswa 2) Tingkat kecerdasan siswa 3) Motivasi belajar siswa 2. Definisi Operasional Agar terdapat kesatuan persepsi antara pembaca dengan apa yang dimaksud peneliti sehingga tidak terjadi kekeliruan dalam menafsirkan isi, maka perlu diberikan penjelasan beberapa istilah atau difinisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini, dengan demikian masalah yang dibahas menjadi jelas. a. Pengajaran Terpadu Menurut Poerwadarminta (2003), pengajaran adalah cara (perbuatan dan sebagainya) mengajar atau mengajarkan. Sedangkan menurut J. Drost SJ. (dalam Zain, 2006) pengajaran atau proses belajar mengajar atau lebih tepat lagi proses pembelajaran ialah proses menjadikan yang diajar belajar. Pengajaran terpadu adalah pengajaran yang menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur, bertolak pada tema- tema tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya (Depdiknas, 2006).
  • 11. 11 b. Strategi Peta Konsep Menurut Ruseffendi (dalam Masrupah, 1999), strategi adalah suatu jalan, cara atau kebijakan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pengajaran dilihat dari bagaimana proses pengajaran atau materi di sekolah. Menurut Novak (dalam Kadir, 2007), pemetaan konsep adalah suatu proses yang melibatkan identifikasi konsep-konsep dari suatu materi pelajaran dan pengaturan konsep-konsep tersebut dalam suatu hirarki, mulai dari yang paling umum, kurang umum dan konsep-konsep yang lebih spesifik. c. Media Komputer Menurut Arsyad (2003), media dalam proses belajar mengajar diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, alat untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Sejalan dengan itu Association Of Education and Communication Technology (AECT) dalam Arsyad (2002), menyebutkan bahwa media segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Media komputer disini berarti penggunaan komputer dalam penyampain materi pelajaran yaitu menggunakan program Microsoft power point dan Microsoft word. Jadi strategi peta konsep dengan bantuan media komputer dalam penelitian ini berarti cara atau kebijakan yang ditempuh oleh guru dalam pembelajaran dengan cara memetakan konsep-konsep pelajaran yang disampaikan ke siswa menggunakan suatu media komputer.
  • 12. 12 d. Pendekatan Konvensional Konvensional dapat diartikan sebagai tradisional atau yang biasa digunakan (Peter Salim dan Yeni Salim, 1991). Menurut Sugiatno (1997) pengajaran konvensional meliputi apersepsi, pemberian contoh soal, pemberian pekerjaan rumah dan penutup. Pengajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengajaran yang biasa dilakukan guru di dalam kelas pada saat mengajar materi bahan kimia dalam keseharian yaitu pengajaran dengan cara ceramah. e. Hasil Belajar Siswa Menurut Nawawi (2005) hasil belajar siswa merupakan tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai materi pelajaran di sekolah dalam bentuk skor yang diperoleh dari tes mengenai sejumlah materi tersebut. Adapun yang dimaksud hasil belajar siswa dalam penelitian ini adalah tingkat keberhasilan kognitif siswa dalam mempelajari materi Bahan kimia dalam keseharian dalam bentuk skor. Tingkat keberhasilan siswa diukur dengan menggunakan tes hasil belajar yang diberikan peneliti. f. Materi Bahan Kimia Dalam Keseharian dan Sistem Pencernaan Pada Manusia Menurut Rahardjo,dkk (2008), materi bahan kimia dalam keseharian yang dipelajari di kelas VIII meliputi bahan kimia di rumah tangga, bahan kimia dalam bahan makanan, bahan kimia di bidang industri, pertanian dan kesehatan, serta zat adiktif dan psikotropika, sedangkan pada materi sistem pencernaan pada manusia mencakup macam-macam zat makanan serta
  • 13. 13 susunan dan fungsi sistem pencernaan. Adapun materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah materi bahan kimia dalam bahan makanan yang mencakup : 1. Bahan pewarna 2. Bahan pemanis 3. Bahan pengawet 4. Bahan penyedap dan pemberi aroma Pada proses kegiatan belajar, materi pelajaran dihubungkan dengan materi pelajaran lain dari bidang biologi yaitu sistem pencernaan makanan pada manusia sub bab susunan dan fungsi sistem pencernaan, dari kedua materi maka akan diketahui efek samping dari zat aditif pada makanan bagi kesehatan manusia g. Pengaruh Menurut Poerwadarminta (2003) pengaruh adalah daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu (orang, benda, dan sebagainya) yang berkuasa atau yang berkekuatan (gaib dan sebagainya). Pengaruh dalam penelitian ini adalah daya yang ditimbulkan oleh strategi pengajaran. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan strategi peta konsep dengan bantuan media komputer terhadap siswa kelas VIII SMP N 4 Pontianak materi Bahan kimia dalam keseharian, dapat dihitung dengan menggunakan effect size