UTS BIMBINGAN KONSLING
Nama : Bela Puspita Sari
NPM : A1G021117
SOAL!
1. Jelaskan apa hakekat BK di SD?
2. Bagaimana cara Anda memehami individu (Pengertian, bentuknya, contohnya)
3. Apa yang dimaksud dengan anak berperilaku bermasalah
4. Jelaskan jenis-jenis perilaku bermasalah pada anak SD
5. Sebutkan 3 teori yang mendasari perilaku bermasalah.
JAWABAN!
1. Bimbingan dan Konseling (BK) di Sekolah Dasar (SD) memiliki hakekat sebagai
layanan pendidikan yang dirancang untuk membantu siswa dalam mengembangkan
potensi mereka secara maksimal. Tujuannya adalah untuk mendukung pertumbuhan
pribadi, sosial, akademik, dan karir siswa sejak usia dini. Di SD, BK berfokus pada:
a. Pengenalan Diri: Membantu siswa mengenali kemampuan, minat, dan
bakatnya sehingga mereka bisa mengembangkan rasa percaya diri dan
keberanian untuk menghadapi tantangan.
b. Pengembangan Sosial: Mengarahkan siswa untuk bisa berinteraksi secara
sehat dengan teman sebaya dan orang dewasa di lingkungan sekolah dan
masyarakat. Ini termasuk pembelajaran tentang empati, kerjasama, dan
komunikasi efektif.
c. Bimbingan Akademik: Mendampingi siswa dalam proses belajar mereka,
termasuk membantu mengatasi kesulitan belajar, mengembangkan kebiasaan
belajar yang efektif, dan membuat pilihan-pilihan terkait dengan pelajaran atau
aktivitas akademik.
d. Pengembangan Karir: Meskipun terdengar terlalu dini untuk siswa SD,
pengenalan konsep dasar tentang berbagai profesi dan pentingnya bekerja
keras untuk mencapai tujuan dapat ditanamkan. Hal ini membantu siswa
memahami hubungan antara pendidikan dengan dunia kerja di masa depan.
e. Pencegahan dan Intervensi Masalah: Mencegah dan menangani
masalahmasalah yang mungkin dihadapi siswa, seperti bullying, kecemasan,
atau kesulitan dalam adaptasi sosial, melalui pendekatan yang sesuai dengan
usia dan kebutuhan mereka.
2. Teknik tes merupakan salah satu metode atau cara yng digunakan untuk mengukur
atau mengetahui tingkat kemampuan dan kelemahan seseorang. Selain itu untuk
memahami perkembangan anak sebagai peserta didik digunakan Non-tes yang
merupakan proses pengumpulan data untuk memahami pribadi pada umumnya
bersifat kualitatif. Teknik-teknik tersebut bertujuan untuk membantu memberi
informasi kepada guru untuk mengetahui anak yang berbakat, kemampuan tinggi,
kemampuan rendah, anak bermasalah dan sebagainya. Untuk itu kita bisa mencoba
melakukan teknik tes ataupun non-tes untuk mengetahui suatu informasi yang
diperlukan.
Bentuk bentuk tes :
 Tes intelegensi
 Tes bakat
 Tes kepribadian
 Tes prestasi belajar
Bentuk memahami siswa dengan non test:
Teknik non-tes merupakan prosedur mengumpulkan data untuk memahami pribadi
siswa pada umumnya yang bersifat kualitatif. Beberapa macam teknik non-tes
diantaranya yaitu :
 Observasi
 Catatan anekdot
 Wawancara
 Angket
 Autobiografi
 Sosiometri
3. Anak berperilaku bermasalah merujuk pada anak-anak yang menunjukkan perilaku
yang secara signifikan menyimpang dari norma-norma perilaku yang diterima secara
sosial di dalam masyarakat atau lingkungan di mana mereka berada. Perilaku
bermasalah ini bisa berdampak negatif pada kemampuan anak untuk berfungsi secara
efektif di lingkungan sehari-hari, seperti di rumah, sekolah, atau dalam interaksi sosial
dengan teman sebaya dan orang dewasa. Perilaku tersebut seringkali dianggap
mengganggu, merugikan diri sendiri atau orang lain, dan memerlukan intervensi
untuk diubah atau dikelola.
4. Perilaku bermasalah pada anak SD bisa beragam, mencerminkan tantangan yang
mereka hadapi dalam perkembangan sosial, emosional, dan akademik mereka.
Adapun beberapa jenis perilaku bermasalah yang sering terlihat pada anak usia
sekolah dasar:
a. Agresi: Ini bisa berupa agresi fisik (seperti memukul, menendang, mendorong)
atau verbal (seperti berteriak, menghina). Agresi sering kali merupakan cara
anak mengekspresikan frustrasi atau kemarahan yang mereka tidak bisa
ungkapkan dengan kata-kata.
b. Perilaku Disruptif: Termasuk perilaku yang mengganggu jalannya kegiatan
kelas, seperti berbicara tanpa izin, membuat kegaduhan, tidak mematuhi
aturan, dan menolak untuk melakukan tugas atau kegiatan yang diberikan oleh
guru.
c. Penarikan Diri Sosial: Beberapa anak mungkin menunjukkan perilaku
penarikan diri atau isolasi sosial, di mana mereka cenderung menghindari
interaksi dengan teman sebaya atau orang dewasa. Ini bisa menjadi tanda
adanya masalah emosional atau kesulitan dalam mengembangkan
keterampilan sosial.
d. Kesulitan Konsentrasi dan Perhatian: Anak-anak dengan ADHD atau masalah
konsentrasi lainnya mungkin menunjukkan perilaku bermasalah seperti mudah
terganggu, sering lupa, dan kesulitan menyelesaikan tugas.
e. Perilaku Oposisional dan Menantang: Termasuk menolak untuk mengikuti
instruksi, berargumen dengan orang dewasa, sengaja mengganggu orang lain,
dan mudah teriritasi. Ini sering kali terlihat pada anak-anak dengan Gangguan
Perilaku Oposisional Menantang (ODD).
5. Adapun 3 teori yang mendasari perilaku bermasalah :
a. Teori Behaviorisme (Teori Pembelajaran)
 Pembelajaran Klasik: Ivan Pavlov memperkenalkan konsep bahwa
perilaku dapat dipelajari melalui pengkondisian klasik, di mana
respons tidak sadar menjadi terkait dengan stimulus baru. Ini bisa
menjelaskan bagaimana anak-anak bisa mengembangkan respons
emosional terhadap situasi tertentu yang sebelumnya netral, jika situasi
itu berulang kali dikaitkan dengan pengalaman negatif.
 Pembelajaran Operan: B.F. Skinner mengembangkan teori ini, yang
menekankan pada konsekuensi perilaku dan bagaimana penguatan
(positif atau negatif) dan penghukuman mempengaruhi kemungkinan
perilaku itu akan diulang. Misalnya, jika perilaku bermasalah anak
diperkuat secara tidak sengaja (melalui perhatian, misalnya), perilaku
tersebut kemungkinan akan terulang.
b. Teori Ekologi Bronfenbrenner
Urie Bronfenbrenner mengusulkan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi
oleh sistem lingkungan yang berbeda yang saling berinteraksi, mulai dari yang
paling dekat dengan individu (seperti keluarga dan sekolah) hingga yang lebih
luas (seperti masyarakat dan kebijakan sosial). Menurut teori ini, perilaku
bermasalah bisa dilihat sebagai respons terhadap konflik atau kegagalan dalam
interaksi antara sistem ini, seperti lingkungan keluarga yang tidak mendukung atau
tekanan peer di sekolah.
c. Teori Keterikatan Bowlby
John Bowlby menekankan pentingnya hubungan awal antara anak dan
pengasuh mereka dalam pengembangan sosial dan emosional. Teori
keterikatan mengusulkan bahwa anak-anak yang mengalami keterikatan yang
aman dengan pengasuh mereka cenderung mengembangkan keterampilan
sosial dan emosional yang lebih baik. Sebaliknya, keterikatan yang tidak aman
atau terganggu dapat berkontribusi pada pengembangan perilaku bermasalah,
karena anak mungkin kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat
dengan orang lain atau dalam mengatur emosi mereka.

UTS BIMBINGAN KONSLING.pdfpppppppppppppppppppppppppppppp

  • 1.
    UTS BIMBINGAN KONSLING Nama: Bela Puspita Sari NPM : A1G021117 SOAL! 1. Jelaskan apa hakekat BK di SD? 2. Bagaimana cara Anda memehami individu (Pengertian, bentuknya, contohnya) 3. Apa yang dimaksud dengan anak berperilaku bermasalah 4. Jelaskan jenis-jenis perilaku bermasalah pada anak SD 5. Sebutkan 3 teori yang mendasari perilaku bermasalah. JAWABAN! 1. Bimbingan dan Konseling (BK) di Sekolah Dasar (SD) memiliki hakekat sebagai layanan pendidikan yang dirancang untuk membantu siswa dalam mengembangkan potensi mereka secara maksimal. Tujuannya adalah untuk mendukung pertumbuhan pribadi, sosial, akademik, dan karir siswa sejak usia dini. Di SD, BK berfokus pada: a. Pengenalan Diri: Membantu siswa mengenali kemampuan, minat, dan bakatnya sehingga mereka bisa mengembangkan rasa percaya diri dan keberanian untuk menghadapi tantangan. b. Pengembangan Sosial: Mengarahkan siswa untuk bisa berinteraksi secara sehat dengan teman sebaya dan orang dewasa di lingkungan sekolah dan masyarakat. Ini termasuk pembelajaran tentang empati, kerjasama, dan komunikasi efektif. c. Bimbingan Akademik: Mendampingi siswa dalam proses belajar mereka, termasuk membantu mengatasi kesulitan belajar, mengembangkan kebiasaan belajar yang efektif, dan membuat pilihan-pilihan terkait dengan pelajaran atau aktivitas akademik. d. Pengembangan Karir: Meskipun terdengar terlalu dini untuk siswa SD, pengenalan konsep dasar tentang berbagai profesi dan pentingnya bekerja keras untuk mencapai tujuan dapat ditanamkan. Hal ini membantu siswa memahami hubungan antara pendidikan dengan dunia kerja di masa depan. e. Pencegahan dan Intervensi Masalah: Mencegah dan menangani masalahmasalah yang mungkin dihadapi siswa, seperti bullying, kecemasan,
  • 2.
    atau kesulitan dalamadaptasi sosial, melalui pendekatan yang sesuai dengan usia dan kebutuhan mereka. 2. Teknik tes merupakan salah satu metode atau cara yng digunakan untuk mengukur atau mengetahui tingkat kemampuan dan kelemahan seseorang. Selain itu untuk memahami perkembangan anak sebagai peserta didik digunakan Non-tes yang merupakan proses pengumpulan data untuk memahami pribadi pada umumnya bersifat kualitatif. Teknik-teknik tersebut bertujuan untuk membantu memberi informasi kepada guru untuk mengetahui anak yang berbakat, kemampuan tinggi, kemampuan rendah, anak bermasalah dan sebagainya. Untuk itu kita bisa mencoba melakukan teknik tes ataupun non-tes untuk mengetahui suatu informasi yang diperlukan. Bentuk bentuk tes :  Tes intelegensi  Tes bakat  Tes kepribadian  Tes prestasi belajar Bentuk memahami siswa dengan non test: Teknik non-tes merupakan prosedur mengumpulkan data untuk memahami pribadi siswa pada umumnya yang bersifat kualitatif. Beberapa macam teknik non-tes diantaranya yaitu :  Observasi  Catatan anekdot  Wawancara  Angket  Autobiografi  Sosiometri 3. Anak berperilaku bermasalah merujuk pada anak-anak yang menunjukkan perilaku yang secara signifikan menyimpang dari norma-norma perilaku yang diterima secara sosial di dalam masyarakat atau lingkungan di mana mereka berada. Perilaku bermasalah ini bisa berdampak negatif pada kemampuan anak untuk berfungsi secara efektif di lingkungan sehari-hari, seperti di rumah, sekolah, atau dalam interaksi sosial dengan teman sebaya dan orang dewasa. Perilaku tersebut seringkali dianggap
  • 3.
    mengganggu, merugikan dirisendiri atau orang lain, dan memerlukan intervensi untuk diubah atau dikelola. 4. Perilaku bermasalah pada anak SD bisa beragam, mencerminkan tantangan yang mereka hadapi dalam perkembangan sosial, emosional, dan akademik mereka. Adapun beberapa jenis perilaku bermasalah yang sering terlihat pada anak usia sekolah dasar: a. Agresi: Ini bisa berupa agresi fisik (seperti memukul, menendang, mendorong) atau verbal (seperti berteriak, menghina). Agresi sering kali merupakan cara anak mengekspresikan frustrasi atau kemarahan yang mereka tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata. b. Perilaku Disruptif: Termasuk perilaku yang mengganggu jalannya kegiatan kelas, seperti berbicara tanpa izin, membuat kegaduhan, tidak mematuhi aturan, dan menolak untuk melakukan tugas atau kegiatan yang diberikan oleh guru. c. Penarikan Diri Sosial: Beberapa anak mungkin menunjukkan perilaku penarikan diri atau isolasi sosial, di mana mereka cenderung menghindari interaksi dengan teman sebaya atau orang dewasa. Ini bisa menjadi tanda adanya masalah emosional atau kesulitan dalam mengembangkan keterampilan sosial. d. Kesulitan Konsentrasi dan Perhatian: Anak-anak dengan ADHD atau masalah konsentrasi lainnya mungkin menunjukkan perilaku bermasalah seperti mudah terganggu, sering lupa, dan kesulitan menyelesaikan tugas. e. Perilaku Oposisional dan Menantang: Termasuk menolak untuk mengikuti instruksi, berargumen dengan orang dewasa, sengaja mengganggu orang lain, dan mudah teriritasi. Ini sering kali terlihat pada anak-anak dengan Gangguan Perilaku Oposisional Menantang (ODD). 5. Adapun 3 teori yang mendasari perilaku bermasalah : a. Teori Behaviorisme (Teori Pembelajaran)  Pembelajaran Klasik: Ivan Pavlov memperkenalkan konsep bahwa perilaku dapat dipelajari melalui pengkondisian klasik, di mana respons tidak sadar menjadi terkait dengan stimulus baru. Ini bisa menjelaskan bagaimana anak-anak bisa mengembangkan respons emosional terhadap situasi tertentu yang sebelumnya netral, jika situasi itu berulang kali dikaitkan dengan pengalaman negatif.
  • 4.
     Pembelajaran Operan:B.F. Skinner mengembangkan teori ini, yang menekankan pada konsekuensi perilaku dan bagaimana penguatan (positif atau negatif) dan penghukuman mempengaruhi kemungkinan perilaku itu akan diulang. Misalnya, jika perilaku bermasalah anak diperkuat secara tidak sengaja (melalui perhatian, misalnya), perilaku tersebut kemungkinan akan terulang. b. Teori Ekologi Bronfenbrenner Urie Bronfenbrenner mengusulkan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh sistem lingkungan yang berbeda yang saling berinteraksi, mulai dari yang paling dekat dengan individu (seperti keluarga dan sekolah) hingga yang lebih luas (seperti masyarakat dan kebijakan sosial). Menurut teori ini, perilaku bermasalah bisa dilihat sebagai respons terhadap konflik atau kegagalan dalam interaksi antara sistem ini, seperti lingkungan keluarga yang tidak mendukung atau tekanan peer di sekolah. c. Teori Keterikatan Bowlby John Bowlby menekankan pentingnya hubungan awal antara anak dan pengasuh mereka dalam pengembangan sosial dan emosional. Teori keterikatan mengusulkan bahwa anak-anak yang mengalami keterikatan yang aman dengan pengasuh mereka cenderung mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang lebih baik. Sebaliknya, keterikatan yang tidak aman atau terganggu dapat berkontribusi pada pengembangan perilaku bermasalah, karena anak mungkin kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain atau dalam mengatur emosi mereka.