Keterampilan membuka
pembelajaran.
Keterampilan membuka pembelajaran adalah kemampuan guru untuk menciptakan
suasana awal pembelajaran yang efektif, menarik, dan memudahkan peserta didik
untuk terlibat secara mental, emosional, dan sosial. Hal ini sangat penting untuk
memastikan peserta didik siap dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran dengan
baik.
Dalam membuka pembelajaran, guru harus memperhatikan beberapa hal, seperti
menarik perhatian peserta didik, menimbulkan motivasi, memberikan acuan atau
gambaran umum tentang materi yang akan dipelajari, serta mengaitkan materi
dengan pengalaman peserta didik sebelumnya. Selain itu, guru juga perlu
mempersiapkan psikologis peserta didik agar mereka siap menerima materi.
Keterampilan mengadakan variasi
Keterampilan mengadakan variasi adalah kemampuan guru untuk menyajikan pembelajaran yang
menarik dan tidak monoton. Hal ini penting untuk menjaga perhatian dan motivasi peserta didik selama
proses pembelajaran berlangsung. Dengan mengadakan variasi, guru dapat menciptakan suasana kelas
yang lebih hidup dan menyenangkan, sehingga peserta didik tidak merasa bosan atau jenuh.
Ada beberapa cara bagi guru untuk mengadakan variasi dalam pembelajaran, di antaranya:
1. Variasi gaya mengajar, seperti berganti-ganti antara ceramah, diskusi, tanya jawab, atau
demonstrasi.
2. Variasi penggunaan media pembelajaran, seperti memanfaatkan gambar, video, audio, atau alat
peraga.
3. Variasi pola interaksi, seperti berganti-ganti antara pembelajaran klasikal, kelompok,
berpasangan, atau individual.
4. Variasi penggunaan intonasi, mimik, dan gerak, agar penyampaian materi tidak terkesan monoton.
5. Variasi pengaturan tempat duduk peserta didik, seperti membentuk U, lingkaran, atau kelompok-
kelompok kecil.
Dengan menerapkan keterampilan mengadakan variasi, guru dapat membuat pembelajaran lebih
menarik, meningkatkan rasa ingin tahu, serta mempertahankan perhatian dan fokus peserta didik selama
proses pembelajaran.
Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya adalah kemampuan guru untuk mengajukan pertanyaan yang efektif dan dapat
memancing interaksi serta respons yang aktif dari peserta didik. Pertanyaan yang baik dapat mendorong
peserta didik untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengembangkan pemahaman mereka
terhadap materi pembelajaran.
Dalam mengembangkan keterampilan bertanya, guru harus memperhatikan beberapa aspek penting,
seperti jenis pertanyaan yang diajukan, tingkat kognitif pertanyaan, serta penggunaan teknik bertanya
yang tepat. Guru dapat mengajukan pertanyaan yang bersifat faktual, konseptual, atau divergen untuk
mendorong peserta didik berpikir pada level yang berbeda-beda.
1. Pertanyaan Faktual: Pertanyaan yang menuntut peserta didik untuk mengingat dan
menyebutkan kembali fakta, informasi, atau konsep dasar yang telah dipelajari.
2. Pertanyaan Konseptual: Pertanyaan yang menuntut peserta didik untuk menjelaskan,
menganalisis, atau menghubungkan konsep-konsep yang telah dipelajari.
3. Pertanyaan Divergen: Pertanyaan yang memiliki beragam jawaban dan mendorong peserta didik
untuk berpikir kreatif, menganalisis, dan mencari solusi alternatif.
Selain itu, guru juga harus memperhatikan teknik bertanya yang efektif, seperti memberikan waktu bagi
peserta didik untuk berpikir, menyebar pertanyaan ke seluruh kelas, dan memanggil nama peserta didik
secara acak untuk menjawab. Dengan menguasai keterampilan bertanya yang baik, guru dapat
menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif, mendorong keterlibatan peserta didik, serta
memfasilitasi proses berpikir dan pemecahan masalah.
Keterampilan membimbing diskusi
kelompok
Keterampilan membimbing diskusi kelompok adalah kemampuan seorang guru untuk memfasilitasi dan
mengarahkan jalannya diskusi di dalam kelompok-kelompok kecil siswa. Hal ini sangat penting karena
diskusi kelompok merupakan salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk mendorong partisipasi
aktif siswa, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan membangun keterampilan komunikasi.
Dalam membimbing diskusi kelompok, guru perlu memiliki beberapa kemampuan, di antaranya:
1. Membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen dan efektif.
2. Memberikan topik atau pertanyaan diskusi yang menarik, relevan, dan menantang bagi siswa.
3. Memandu jalannya diskusi, memastikan semua anggota kelompok terlibat aktif, dan mendorong
mereka untuk saling bertukar pikiran.
4. Memberikan arahan dan umpan balik yang membangun, serta memantau perkembangan diskusi
agar tetap terarah.
5. Menyimpulkan hasil diskusi dan memastikan pemahaman siswa terhadap topik yang didiskusikan.
6. Mengevaluasi proses dan hasil diskusi, serta memberikan penghargaan kepada kelompok-
kelompok yang berpartisipasi dengan baik.
Dengan menguasai keterampilan membimbing diskusi kelompok, guru dapat menciptakan suasana
pembelajaran yang interaktif, meningkatkan keterlibatan dan keterampilan sosial siswa, serta
memfasilitasi proses konstruksi pengetahuan yang lebih mendalam. Hal ini akan berdampak positif pada
hasil belajar dan pengembangan kompetensi siswa secara utuh.
Keterampilan mengajar kelompok Kecil
dan perorangan
Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan adalah kemampuan guru dalam merancang
dan mengelola pembelajaran yang berpusat pada peserta didik secara individu maupun dalam
kelompok-kelompok kecil. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk memberikan perhatian dan
bimbingan yang lebih intens kepada masing-masing peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan
karakteristik mereka.
Beberapa keterampilan penting yang harus dikuasai oleh guru dalam mengajar kelompok kecil dan
perorangan, di antaranya:
1. Mengidentifikasi karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan belajar individu peserta didik secara
cermat.
2. Merancang kegiatan pembelajaran yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan
individual.
3. Memberikan bimbingan dan umpan balik secara personal untuk memfasilitasi perkembangan
setiap peserta didik.
4. Mengelola kegiatan kelompok kecil dengan efektif, memastikan semua anggota terlibat aktif
dan saling berkolaborasi.
5. Menggunakan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang berpusat pada peserta didik,
seperti pemberian tugas individual, belajar mandiri, dan pembelajaran remedi.
6. Memantau kemajuan belajar peserta didik secara individual dan memberikan dukungan
tambahan bagi mereka yang membutuhkan.
7. Mengevaluasi efektivitas pembelajaran individual dan kelompok kecil, serta melakukan
perbaikan yang diperlukan.
Dengan menguasai keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan, guru dapat memberikan
Keterampilan mengelola kelas
Keterampilan mengelola kelas merupakan kemampuan guru dalam menciptakan dan memelihara
kondisi belajar yang optimal di dalam kelas. Hal ini sangat penting untuk mendukung proses
pembelajaran yang efektif dan bermakna bagi peserta didik. Guru yang terampil dalam mengelola kelas
akan mampu menciptakan suasana yang kondusif, mengatasi masalah-masalah yang timbul, serta
memastikan setiap peserta didik dapat terlibat secara aktif dan tertib selama pembelajaran.
Beberapa aspek penting dalam keterampilan mengelola kelas, antara lain:
1. Perencanaan dan pengaturan lingkungan fisik kelas, seperti pengaturan tempat duduk,
penataan media pembelajaran, serta penyediaan fasilitas yang memadai.
2. Pengembangan iklim sosio-emosional yang positif, dengan menciptakan hubungan yang
harmonis antara guru dan peserta didik, serta antar peserta didik.
3. Pengelolaan kegiatan instruksional, seperti menetapkan aturan dan prosedur kelas, memantau
aktivitas peserta didik, serta memberikan reinforcement yang sesuai.
4. Penanganan masalah dan penyimpangan perilaku peserta didik dengan pendekatan yang
bijaksana, seperti memberikan teguran, konseling, atau penugasan khusus.
5. Pemanfaatan sumber daya kelas secara optimal, baik sumber daya manusia maupun sarana
prasarana, untuk mendukung proses pembelajaran yang kondusif.
Dengan menguasai keterampilan mengelola kelas, guru dapat menciptakan suasana belajar yang
nyaman, tertib, dan produktif. Hal ini akan memungkinkan peserta didik untuk terlibat secara maksimal
dalam kegiatan pembelajaran, mengembangkan potensi diri, serta mencapai tujuan pembelajaran yang
diharapkan. Selain itu, guru juga dapat menghemat waktu dan energi sehingga dapat berfokus pada
upaya-upaya pengembangan kualitas pembelajaran.
Keterampilan memberi penguatan
Keterampilan memberi penguatan (reinforcement) adalah kemampuan guru untuk memberikan respon
positif terhadap perilaku dan hasil belajar yang ditunjukkan oleh peserta didik. Penguatan ini bertujuan
untuk memotivasi peserta didik agar terus belajar dan meningkatkan prestasi mereka. Pemberian
penguatan yang tepat dapat meningkatkan partisipasi aktif peserta didik, mendorong rasa percaya diri,
serta membentuk kebiasaan belajar yang baik.
Ada beberapa bentuk keterampilan memberi penguatan yang dapat diterapkan oleh guru, di antaranya:
1. Penguatan Verbal: Memberikan pujian, komentar, atau kata-kata positif seperti "Bagus
sekali!", "Kamu sudah berusaha dengan baik," atau "Lanjutkan perbaikanmu!"
2. Penguatan Gestural: Menggunakan bahasa tubuh, seperti anggukan kepala, tepuk tangan,
acungan jempol, atau senyuman untuk memberikan penghargaan kepada peserta didik.
3. Penguatan Proximity: Mendekati atau berdiri di dekat peserta didik saat memberikan
penguatan sebagai tanda perhatian dan pengakuan.
4. Penguatan Dengan Sentuhan: Memberikan sentuhan ringan, seperti tepukan di bahu atau
jabatan tangan, untuk memberi penghargaan dan dukungan.
5. Penguatan Dengan Kegiatan: Memberikan kesempatan istimewa atau tugas tambahan yang
menyenangkan sebagai bentuk penghargaan.
6. Penguatan Dengan Simbol: Memberikan bintang, stiker, atau tanda penghargaan lainnya
untuk mengapresiasi prestasi peserta didik.
Dalam menerapkan keterampilan memberi penguatan, guru harus memperhatikan beberapa prinsip,
seperti kekhususan, kesegeraan, dan variasi. Penguatan yang diberikan harus spesifik, diberikan
segera setelah perilaku yang diinginkan muncul, serta dilakukan dengan berbagai bentuk agar tidak
membosankan. Dengan menguasai keterampilan ini, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang
positif, meningkatkan motivasi, serta mendorong peserta didik untuk terus berprestasi dan
Keterampilan menggunakan media/alat
Keterampilan menggunakan media dan alat pembelajaran adalah kemampuan guru untuk
memanfaatkan berbagai sumber belajar yang dapat membantu memperjelas penyampaian materi dan
memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Penggunaan media dan alat pembelajaran yang tepat
dapat membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif, menarik, dan efektif dalam mencapai tujuan
pembelajaran.
Beberapa keterampilan penting yang harus dikuasai guru dalam menggunakan media dan alat
pembelajaran, antara lain:
1. Memilih media dan alat pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, materi, karakteristik peserta
didik, serta kondisi dan sumber daya yang tersedia.
2. Mengoperasikan dan memanfaatkan berbagai jenis media seperti proyektor, video, audio, alat
peraga, atau media digital secara efektif.
3. Mengintegrasikan penggunaan media dan alat pembelajaran ke dalam rancangan
pembelajaran yang sistematis dan terstruktur.
4. Mengembangkan keterampilan dalam membuat atau memodifikasi media pembelajaran
sederhana, seperti poster, bagan, maupun alat peraga.
5. Mengelola penggunaan media dan alat pembelajaran dengan baik, termasuk persiapan,
pengaturan, dan perawatannya.
6. Melibatkan peserta didik secara aktif dalam pemanfaatan media dan alat pembelajaran untuk
meningkatkan pemahaman dan minat belajar mereka.
7. Mengevaluasi efektivitas penggunaan media dan alat pembelajaran, serta melakukan
perbaikan dan inovasi yang diperlukan.
Dengan menguasai keterampilan menggunakan media dan alat pembelajaran, guru dapat menciptakan
suasana belajar yang lebih menarik, meningkatkan motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta
memfasilitasi proses konstruksi pengetahuan yang lebih bermakna. Hal ini akan berdampak positif pada
Keterampilan Menutup
Pembelajaran
Keterampilan menutup pembelajaran adalah kemampuan guru untuk mengakhiri proses pembelajaran
dengan efektif dan bermakna bagi peserta didik. Fase penutupan pembelajaran ini sangat penting untuk
menyimpulkan materi, mengukur ketercapaian tujuan, dan memberikan refleksi serta tindak lanjut yang
dapat memantapkan pemahaman peserta didik.
Seorang guru yang terampil dalam menutup pembelajaran akan mampu melakukan rangkaian kegiatan
seperti memberikan ringkasan materi, mengajukan pertanyaan untuk mengukur pemahaman,
mendorong peserta didik melakukan refleksi, dan memberikan tugas atau rencana tindak lanjut yang
dapat memperdalam penguasaan konsep. Selain itu, guru juga harus mampu menciptakan suasana
yang menyenangkan dan memberikan apresiasi atas partisipasi serta prestasi peserta didik selama
proses pembelajaran.
Dengan menguasai keterampilan menutup pembelajaran, guru dapat memastikan bahwa peserta didik
tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu mengonstruksi pengetahuan, mengaitkannya
dengan konteks nyata, serta memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Hal ini akan mendorong
peserta didik untuk terus belajar, meningkatkan motivasi, dan mencapai tujuan pembelajaran yang
diharapkan.

tugas microteaching.pptxlllhwhshshjejehheh

  • 2.
    Keterampilan membuka pembelajaran. Keterampilan membukapembelajaran adalah kemampuan guru untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif, menarik, dan memudahkan peserta didik untuk terlibat secara mental, emosional, dan sosial. Hal ini sangat penting untuk memastikan peserta didik siap dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran dengan baik. Dalam membuka pembelajaran, guru harus memperhatikan beberapa hal, seperti menarik perhatian peserta didik, menimbulkan motivasi, memberikan acuan atau gambaran umum tentang materi yang akan dipelajari, serta mengaitkan materi dengan pengalaman peserta didik sebelumnya. Selain itu, guru juga perlu mempersiapkan psikologis peserta didik agar mereka siap menerima materi.
  • 3.
    Keterampilan mengadakan variasi Keterampilanmengadakan variasi adalah kemampuan guru untuk menyajikan pembelajaran yang menarik dan tidak monoton. Hal ini penting untuk menjaga perhatian dan motivasi peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan mengadakan variasi, guru dapat menciptakan suasana kelas yang lebih hidup dan menyenangkan, sehingga peserta didik tidak merasa bosan atau jenuh. Ada beberapa cara bagi guru untuk mengadakan variasi dalam pembelajaran, di antaranya: 1. Variasi gaya mengajar, seperti berganti-ganti antara ceramah, diskusi, tanya jawab, atau demonstrasi. 2. Variasi penggunaan media pembelajaran, seperti memanfaatkan gambar, video, audio, atau alat peraga. 3. Variasi pola interaksi, seperti berganti-ganti antara pembelajaran klasikal, kelompok, berpasangan, atau individual. 4. Variasi penggunaan intonasi, mimik, dan gerak, agar penyampaian materi tidak terkesan monoton. 5. Variasi pengaturan tempat duduk peserta didik, seperti membentuk U, lingkaran, atau kelompok- kelompok kecil. Dengan menerapkan keterampilan mengadakan variasi, guru dapat membuat pembelajaran lebih menarik, meningkatkan rasa ingin tahu, serta mempertahankan perhatian dan fokus peserta didik selama proses pembelajaran.
  • 4.
    Keterampilan Bertanya Keterampilan bertanyaadalah kemampuan guru untuk mengajukan pertanyaan yang efektif dan dapat memancing interaksi serta respons yang aktif dari peserta didik. Pertanyaan yang baik dapat mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengembangkan pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran. Dalam mengembangkan keterampilan bertanya, guru harus memperhatikan beberapa aspek penting, seperti jenis pertanyaan yang diajukan, tingkat kognitif pertanyaan, serta penggunaan teknik bertanya yang tepat. Guru dapat mengajukan pertanyaan yang bersifat faktual, konseptual, atau divergen untuk mendorong peserta didik berpikir pada level yang berbeda-beda. 1. Pertanyaan Faktual: Pertanyaan yang menuntut peserta didik untuk mengingat dan menyebutkan kembali fakta, informasi, atau konsep dasar yang telah dipelajari. 2. Pertanyaan Konseptual: Pertanyaan yang menuntut peserta didik untuk menjelaskan, menganalisis, atau menghubungkan konsep-konsep yang telah dipelajari. 3. Pertanyaan Divergen: Pertanyaan yang memiliki beragam jawaban dan mendorong peserta didik untuk berpikir kreatif, menganalisis, dan mencari solusi alternatif. Selain itu, guru juga harus memperhatikan teknik bertanya yang efektif, seperti memberikan waktu bagi peserta didik untuk berpikir, menyebar pertanyaan ke seluruh kelas, dan memanggil nama peserta didik secara acak untuk menjawab. Dengan menguasai keterampilan bertanya yang baik, guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif, mendorong keterlibatan peserta didik, serta memfasilitasi proses berpikir dan pemecahan masalah.
  • 5.
    Keterampilan membimbing diskusi kelompok Keterampilanmembimbing diskusi kelompok adalah kemampuan seorang guru untuk memfasilitasi dan mengarahkan jalannya diskusi di dalam kelompok-kelompok kecil siswa. Hal ini sangat penting karena diskusi kelompok merupakan salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk mendorong partisipasi aktif siswa, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan membangun keterampilan komunikasi. Dalam membimbing diskusi kelompok, guru perlu memiliki beberapa kemampuan, di antaranya: 1. Membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen dan efektif. 2. Memberikan topik atau pertanyaan diskusi yang menarik, relevan, dan menantang bagi siswa. 3. Memandu jalannya diskusi, memastikan semua anggota kelompok terlibat aktif, dan mendorong mereka untuk saling bertukar pikiran. 4. Memberikan arahan dan umpan balik yang membangun, serta memantau perkembangan diskusi agar tetap terarah. 5. Menyimpulkan hasil diskusi dan memastikan pemahaman siswa terhadap topik yang didiskusikan. 6. Mengevaluasi proses dan hasil diskusi, serta memberikan penghargaan kepada kelompok- kelompok yang berpartisipasi dengan baik. Dengan menguasai keterampilan membimbing diskusi kelompok, guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif, meningkatkan keterlibatan dan keterampilan sosial siswa, serta memfasilitasi proses konstruksi pengetahuan yang lebih mendalam. Hal ini akan berdampak positif pada hasil belajar dan pengembangan kompetensi siswa secara utuh.
  • 6.
    Keterampilan mengajar kelompokKecil dan perorangan Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan adalah kemampuan guru dalam merancang dan mengelola pembelajaran yang berpusat pada peserta didik secara individu maupun dalam kelompok-kelompok kecil. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk memberikan perhatian dan bimbingan yang lebih intens kepada masing-masing peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mereka. Beberapa keterampilan penting yang harus dikuasai oleh guru dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan, di antaranya: 1. Mengidentifikasi karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan belajar individu peserta didik secara cermat. 2. Merancang kegiatan pembelajaran yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individual. 3. Memberikan bimbingan dan umpan balik secara personal untuk memfasilitasi perkembangan setiap peserta didik. 4. Mengelola kegiatan kelompok kecil dengan efektif, memastikan semua anggota terlibat aktif dan saling berkolaborasi. 5. Menggunakan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, seperti pemberian tugas individual, belajar mandiri, dan pembelajaran remedi. 6. Memantau kemajuan belajar peserta didik secara individual dan memberikan dukungan tambahan bagi mereka yang membutuhkan. 7. Mengevaluasi efektivitas pembelajaran individual dan kelompok kecil, serta melakukan perbaikan yang diperlukan. Dengan menguasai keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan, guru dapat memberikan
  • 7.
    Keterampilan mengelola kelas Keterampilanmengelola kelas merupakan kemampuan guru dalam menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal di dalam kelas. Hal ini sangat penting untuk mendukung proses pembelajaran yang efektif dan bermakna bagi peserta didik. Guru yang terampil dalam mengelola kelas akan mampu menciptakan suasana yang kondusif, mengatasi masalah-masalah yang timbul, serta memastikan setiap peserta didik dapat terlibat secara aktif dan tertib selama pembelajaran. Beberapa aspek penting dalam keterampilan mengelola kelas, antara lain: 1. Perencanaan dan pengaturan lingkungan fisik kelas, seperti pengaturan tempat duduk, penataan media pembelajaran, serta penyediaan fasilitas yang memadai. 2. Pengembangan iklim sosio-emosional yang positif, dengan menciptakan hubungan yang harmonis antara guru dan peserta didik, serta antar peserta didik. 3. Pengelolaan kegiatan instruksional, seperti menetapkan aturan dan prosedur kelas, memantau aktivitas peserta didik, serta memberikan reinforcement yang sesuai. 4. Penanganan masalah dan penyimpangan perilaku peserta didik dengan pendekatan yang bijaksana, seperti memberikan teguran, konseling, atau penugasan khusus. 5. Pemanfaatan sumber daya kelas secara optimal, baik sumber daya manusia maupun sarana prasarana, untuk mendukung proses pembelajaran yang kondusif. Dengan menguasai keterampilan mengelola kelas, guru dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman, tertib, dan produktif. Hal ini akan memungkinkan peserta didik untuk terlibat secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran, mengembangkan potensi diri, serta mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Selain itu, guru juga dapat menghemat waktu dan energi sehingga dapat berfokus pada upaya-upaya pengembangan kualitas pembelajaran.
  • 8.
    Keterampilan memberi penguatan Keterampilanmemberi penguatan (reinforcement) adalah kemampuan guru untuk memberikan respon positif terhadap perilaku dan hasil belajar yang ditunjukkan oleh peserta didik. Penguatan ini bertujuan untuk memotivasi peserta didik agar terus belajar dan meningkatkan prestasi mereka. Pemberian penguatan yang tepat dapat meningkatkan partisipasi aktif peserta didik, mendorong rasa percaya diri, serta membentuk kebiasaan belajar yang baik. Ada beberapa bentuk keterampilan memberi penguatan yang dapat diterapkan oleh guru, di antaranya: 1. Penguatan Verbal: Memberikan pujian, komentar, atau kata-kata positif seperti "Bagus sekali!", "Kamu sudah berusaha dengan baik," atau "Lanjutkan perbaikanmu!" 2. Penguatan Gestural: Menggunakan bahasa tubuh, seperti anggukan kepala, tepuk tangan, acungan jempol, atau senyuman untuk memberikan penghargaan kepada peserta didik. 3. Penguatan Proximity: Mendekati atau berdiri di dekat peserta didik saat memberikan penguatan sebagai tanda perhatian dan pengakuan. 4. Penguatan Dengan Sentuhan: Memberikan sentuhan ringan, seperti tepukan di bahu atau jabatan tangan, untuk memberi penghargaan dan dukungan. 5. Penguatan Dengan Kegiatan: Memberikan kesempatan istimewa atau tugas tambahan yang menyenangkan sebagai bentuk penghargaan. 6. Penguatan Dengan Simbol: Memberikan bintang, stiker, atau tanda penghargaan lainnya untuk mengapresiasi prestasi peserta didik. Dalam menerapkan keterampilan memberi penguatan, guru harus memperhatikan beberapa prinsip, seperti kekhususan, kesegeraan, dan variasi. Penguatan yang diberikan harus spesifik, diberikan segera setelah perilaku yang diinginkan muncul, serta dilakukan dengan berbagai bentuk agar tidak membosankan. Dengan menguasai keterampilan ini, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif, meningkatkan motivasi, serta mendorong peserta didik untuk terus berprestasi dan
  • 9.
    Keterampilan menggunakan media/alat Keterampilanmenggunakan media dan alat pembelajaran adalah kemampuan guru untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar yang dapat membantu memperjelas penyampaian materi dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Penggunaan media dan alat pembelajaran yang tepat dapat membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif, menarik, dan efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Beberapa keterampilan penting yang harus dikuasai guru dalam menggunakan media dan alat pembelajaran, antara lain: 1. Memilih media dan alat pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, materi, karakteristik peserta didik, serta kondisi dan sumber daya yang tersedia. 2. Mengoperasikan dan memanfaatkan berbagai jenis media seperti proyektor, video, audio, alat peraga, atau media digital secara efektif. 3. Mengintegrasikan penggunaan media dan alat pembelajaran ke dalam rancangan pembelajaran yang sistematis dan terstruktur. 4. Mengembangkan keterampilan dalam membuat atau memodifikasi media pembelajaran sederhana, seperti poster, bagan, maupun alat peraga. 5. Mengelola penggunaan media dan alat pembelajaran dengan baik, termasuk persiapan, pengaturan, dan perawatannya. 6. Melibatkan peserta didik secara aktif dalam pemanfaatan media dan alat pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman dan minat belajar mereka. 7. Mengevaluasi efektivitas penggunaan media dan alat pembelajaran, serta melakukan perbaikan dan inovasi yang diperlukan. Dengan menguasai keterampilan menggunakan media dan alat pembelajaran, guru dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menarik, meningkatkan motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta memfasilitasi proses konstruksi pengetahuan yang lebih bermakna. Hal ini akan berdampak positif pada
  • 10.
    Keterampilan Menutup Pembelajaran Keterampilan menutuppembelajaran adalah kemampuan guru untuk mengakhiri proses pembelajaran dengan efektif dan bermakna bagi peserta didik. Fase penutupan pembelajaran ini sangat penting untuk menyimpulkan materi, mengukur ketercapaian tujuan, dan memberikan refleksi serta tindak lanjut yang dapat memantapkan pemahaman peserta didik. Seorang guru yang terampil dalam menutup pembelajaran akan mampu melakukan rangkaian kegiatan seperti memberikan ringkasan materi, mengajukan pertanyaan untuk mengukur pemahaman, mendorong peserta didik melakukan refleksi, dan memberikan tugas atau rencana tindak lanjut yang dapat memperdalam penguasaan konsep. Selain itu, guru juga harus mampu menciptakan suasana yang menyenangkan dan memberikan apresiasi atas partisipasi serta prestasi peserta didik selama proses pembelajaran. Dengan menguasai keterampilan menutup pembelajaran, guru dapat memastikan bahwa peserta didik tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu mengonstruksi pengetahuan, mengaitkannya dengan konteks nyata, serta memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Hal ini akan mendorong peserta didik untuk terus belajar, meningkatkan motivasi, dan mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.