Pak Azis, setelah mengalami kesulitan pasca angin puting-beliung, menemukan kembali ketenangan hidup melalui ibadah dan memperhatikan pentingnya shalat dalam hidupnya. Ia kini menilai kerja sebagai selingan, menunggu waktu shalat, dan lebih mengutamakan ibadah daripada pekerjaan. Perenungan ini juga menyadarkan narator tentang pentingnya menjadikan shalat sebagai prioritas utama dalam hidup.