DESAIN PENELITIAN
OBSERVASIONAL
LINDA KUSDHANY
IRA TANTI
FKG UI
DESAIN PENELITIAN
jenis penelitian
 mencapai tujuan penelitian
menuntun dalam memperoleh jawaban
pertanyaan penelitian
HARUS DIPAHAMI
Variabel :
1. dependen: outcome/hasil jadi/disease
2. Independen: faktor risiko/prediktor
3. confounding
4. antara
5. luar
VARIABEL
Adalah karakteristik subyek
penelitian yang berubah dari satu
subyek ke subyek lain
Variabel bebas /independen: bila ia
berubah  variabel lain juga berubah
Variabel tergantung/dependen:varibel
yang berubah akibat perubahan
variabel bebas
Variabel perancu/confounding: berhub
dengan variabel bebas dan tergantung
dan dapat mempengaruhi hasil
penelitian
KERANGKA KONSEP ETIOLOGIK
Terdiri dari variabel independen utama dengan variabel
Konfounding dan variabel dependen
Tujuan kerangka konsep etiologik:
Mencari hubungan murni antara variabel independen utama dan
varibel dependen dengan mengontrol semua variabel
konfounding
KERANGKA KONSEP PREDIKTIF
•Tujuan:
•memprediksi variabel dependen melalui beberapa variabel independen
• ( faktor yang berperan terhadap variabel dependen)
•Status variabel independen setara tanpa variabel independen utama
•Tujuan: mengetahui variabel apa saja yang berhubungan dengan varibel
dependen
KERANGKA KONSEP ETIOLOGIK
VI VD
VI VD
Konfounding
Konfounding
KERANGKA KONSEP PREDIKTIF
VI 1
VI 2
VI 3
VI 4
VD
CONTOH FAKTOR
CONFOUNDING
Variabel independen  variabel dependen
Kadar estrogen osteoporosis
Variabel confounding
Asupan kalsium
Indeks massa tubuh
DUA KELOMPOK DESAIN DASAR
• Deskriptif : mencari besaran masalah
• Analitik : mencari penyebab masalah
DESAIN PENELITIAN
 Observasional
* Descriptive:
Cross sectional
* Analytic:
Case control
Cohort
 Experiment
- Before and after with control design
- Randomized clinical trial:
- Quasi experimental
- Community trial
RELATIVE ABILITY OF
DIFFERENT TYPES OF STUDY
TO PROVE CAUSATION
BERDASARKAN RUANG LINGKUP
PENELITIAN
Penelitian
klinis
Penelitian
lapangan
Penelitian
laboratorium
DESAIN
OBSERVASIONAL
CROSS-
SECTIONAL
STUDIES
At analytic level, it provides information about
the presence and strength of associations
between variables, permitting testing of
hypothesis
At descriptive level, it yields information about
a single variable, or about each of number of
separate variables in a study population
May be
Descriptive Analytical or Both
CROSS
SECTIONAL
STUDY
Mengetahui frekuensi penyakit/besarnya
masalah kesehatan
Mengetahui hubungan antara faktor risiko
dan frekuensi penyakit
diamati sesaat dan hanya satu kali
Tidak ada periode follow up
Cross- sectional
CROSS- SECTIONAL
populasi
faktor risiko + Outcome +
faktor risiko + Outcome -
faktor risiko - Outcome +
faktor risiko - Outcome -
Sampel
CROSS- SECTIONAL
populasi
faktor gizi buruk + juml gigi <
faktor gizi buruk + juml gigi N
faktor gizi baik juml gigi <
faktor gizi baik juml gigi N
Sampel
CONTOH
Penelitian mengenai
prevalensi penderita
osteoporosis pada
perempuan
pascamenopause di jakarta
Hubungan antara
kebiasaan makan manis dan
terjadinya caries gigi
KELEBIHAN
Sederhana,cepat
pelaksanaannya
Murah
Terhindar dari loss
to follow up
Menjadi dasar
penelitian lanjutan
yang lebih konklusif
Dapat untuk
menghitung
prevalence penyakit
pada suatu populasi
•Tidak dapat menerangkan hubungan
kausal
• Faktor konfonding terdistribusi tidak
merata,dapat mempengaruhi hasil
penelitian
•Jumlah tiap kelompok tidak sama
•Hanya dapat mengukur prevalensi
•Tidak praktis untuk kasus jarang
•Besar sampel cukup banyak
•Lebih dapat menjaring subyek dengan
masa sakit panjang
KEKURANGAN
SERIES CROSS-SECTIONAL STUDIES
- Penelitian secara cross sectional dilakukan
pada beberapa titik waktu
- Untuk menyimpulkan mengenai perubahan suatu pola
akibat waktu
Contoh: Penelitian mengenai perubahan komposisi usia
penduduk suatu wilayah pada beberapa dekade
(tidak mengikuti suatu kelompok orang )
CASE-
CONTROL Dimulai mengambil sampel dari
populasi dengan disease/outcome
dan non disease /non outcome
(kasus dan kontrol)variabel
dependen
Ditelusuri secara retrospective ada
tidaknya faktor risiko /pajanan yang
berperan
ditelusuri secara retrospective
Adanya faktor risiko Penelitian mulai
disini
Kasus /kelompok subyek dengan
penyakit
Kontrol/kelompok subyek tanpa
penyakit
ya
tidak
ya
tidak
WHY CASE-CONTROL STUDY?
• In a cohort study, you need a large number of
the subjects to obtain a sufficient number of
case, especially if you are interested in a rare
disease.
• Gastric cancer incidence in Japanese male:
128.5 / 100,000 person year
• A case-control study is more efficient in terms
of study operation, time, and cost.
CASE-
CONTROL
STUDY -
INFORMATION
Sources of the information of
exposure and potential confounding
factors :
• Existing records
• Questionnaires
• Face-to-face / telephone interviews
• Biological specimens
• Tissue banks
• Databases on biochemical and
environmental measurements
CONTOH Faktor risiko terjadinya
osteoporosis
Hubungan antara kebiasaan
merokok dengan keparahan
penyakit jantung
Hubungan antara kecukupan
nutrisi ibu saat hamil dengan
berat badan anak lahir rendah
Kasus : orang dengan hasil jadi
/outcome/penyakit yang diteliti
Kontrol: orang tanpa outcome /penyakit
tersebut dipilih dari populasi / yg
dianggap mewakili populasi sumber
kasus
Keduanya harus mempunyai kemungkinan yang sama
untuk terpajan faktor risiko
CONTOH
Ingin diteliti apakah
penyakit kanker payudara
berhubungan dengan
riwayat penggunaan pil KB
Kontrol adalah mereka yang
juga punya peluang minum
pil KB yaitu wanita
menikah,usia subur dan
sudah mempunyai anak
PEMILIHAN
KONTROL
Ciri:
- Tidak menderita penyakit /outcome
yang sedang diteliti
- Punya kemungkinan terpajan faktor
risiko yang sedang diteliti
Asal kontrol:
-rumah sakit/hospital based
-masyarakat/population based
-saudara/teman
PEMILIHAN
KONTROL
Hospital/clinical based control:
Pengambilan kontrol dari fasilitas yg
sama dengan pengambilan kasus
Population based control:
Pengambilan kontrol dari populasi
tempat asal kasus diambil
Kasus dapat diambil dari 1/> RS di daerah tsb
PEMILIHAN
KONTROL
Pilih dari populasi yang sama
dengan kasus
Bila perlu lakukan matching :
memilih kontrol dengan
karakteristik sama dalam semua
hal kecuali variabel yang diteliti
(jangan over matching)
CONTOH
Kasus: penderita kehamilan
ektopik (RS)
Kontrol: ibu hamil
Daftar kelurahanpilih
daftar RTpilih yang
hamil bersedia jadi kontrol
BILA KASUS JARANG
Besar subyek :
1 kasus : N x kontrol
(N maksimal 4x kontrol)
Tujuan agar besar kasus tidak terlalu banyak
kasus kasus jarang
OR=A/C:B/D
=AD/BC
ARTINYA ODDS PADA KELOMPOK KASUS/ODDS PADA KELOMPOK KONTROL
ODDS= PERBANDINGAN PROBABILITASTERJADINYA SUATU OUTCOME DENGAN PROBABILITASTIDAKTERJADINYA
OUTCOME
kasus kontrol
Risiko + a b
Risiko - c d
OR= MENUNJUKKAN BERAPA BESAR PERAN SUATU
FAKTOR RISIKOYANG DITELITI TERHADAP
TERJADINYA SUATU OUTCOME
CONTOH:
OR terjadinya osteoporosis pada perempuan pascamenopause
yang asupan kalsium kurang dibanding dengan perempuan
pascamenopause yang asupan kalsium memadai= 3
Artinya perempuan pascamenopause dengan asupan kalsium
kurang mempunyai risiko menderita osteoporosis 3x lebih besar
dibandingkan perempuan pascamenopause dengan asupan
kalsium memadai.
INTERPRETASI NILAI OR
OR>1 = risiko >
OR =1 = tidak ada asosiasi
OR <1 = faktor pelindung
KELEBIHAN
Sangat baik
untuk kasus
jarang
Dapat
menerangkan
hubungan kausal
Cepat Biaya murah
Subyek
penelitian lebih
sedikit
Memungkinkan
untuk identifikasi
berbagai faktor
risiko sekaligus
Menghindarkan
dari loss of
follow up
KEKURANGAN
Recall bias
Pemilihan kontrol
sulit
Tidak memberikan
incidens /prevalens
penyakit.
Hanya berkaitan
dengan satu
penyakit saja
Measurement bias Selection bias
BIAS
Bias=kesalahan
sistematik yang
terjadi pada desain
Recall bias: akibat <<
ingatan subyek
mengenai peristiwa
yang sudah terjadi di
masa lalu
 atasi dengan
kuesioner serinci
mungkin,
pelatihan
pewawancara
BIAS SHOULD BE MINIMIZED
• Bias & Confounding
• Selection bias
• Detection bias
• Information bias (recall bias)
• Confounding
Confounding can be controlled
by statistical analyses but we
can do nothing about bias after
data collection.
KONFONDING
Yaitu faktor yang menyebabkan distorsi terhadap faktor risiko
yang sedang diteliti
Pajanan outcome/penyakit
konfonding
CONTOH FAKTOR
CONFOUNDING
Variabel independen  varibel dependen
Kadar estrogen osteoporosis
Variabel confounding
Asupan kalsium
Indeks massa tubuh
COHORT
• Cohort prospective
• Cohort Retrospective
• / historical cohort
COMPARISON (CONTROL) GROUPS
FOR COHORT STUDIES
1. Internal controls
With a one-sample (population-based) cohort, exposure is
unknown until after the first period of observation
Example:
a. Select the cohort (such as all residents of a given neighborhood)
b. All members of the cohort are then given first round questionnaires,
and/or clinical examinations, and/or testing to determine exposure
c. The cohort is then divided into exposure categories based on those
results
2. DOUBLE COHORT STUDIES
(EKSTERNAL CONTROL)
Nama lain
cohort
prospektif
dengan
pembanding
eksternal
Dimulai dari
subyek yang sdh
terpajan faktor
risiko lalu diikuti
COHORT PROSPECTIVE
Dimulai dari mengukur beberapa faktor risiko pada tiap subyek
kemudian diikuti dengan pengamatan secara periodik sampai
kurun waktu tertentu dan kemudian dilihat outcomenya
Contoh:
Apakah pajanan terhadap rokok akan meningkatkan insidens
penyakit jantung
Subyek
Dengan karakteristik
Tanpa karakteristik
Terjadi penyakit
Tidak terjadi
penyakit
Terjadi penyakit
Tidak terjadi
penyakit
Penelitian mulai
disini
Diikuti secara
prospective
Dilihat efeknya
Risiko penyakit tanpa penyakit
+ a b
_ c d
Relative risk= {a/(a+b)}/{c/(c+d)}
Yaitu insiden outcome pada kelompok berisiko : insiden outcome
pada kelompok tanpa risiko
RR MEMBERI GAMBARAN BESARNYA PERAN FAKTOR
RISIKO YANG DITELITITERHADAPTERJADINYA
OUTCOME
Contoh:
• Outcome :penyakit jantung
• Faktor risiko: merokok
• RR=4
• Artinya risiko seseorang yang merokok> untuk menderita penyakit jantung
adalah 4 x seseorang tanpa merokok
KELEBIHAN
Cocok untuk kasus dengan faktor
risiko yang jarang
Dapat mengamati outcome
multipel yang diakibatkan oleh
faktor risiko tunggal
Dapat menerangkan hub kausal
Memungkinkan pengukuran
incidence penyakit pada kelompok
exposed dan non exposed
KERUGIAN
In efisien pada kasus penyakit
jarang perlu sampel >>
Mahal dan Waktu lama
(prospective)
Perlu data /cat medik lengkap
(retrospective)
Dapat terjadi loss of Follow up
Sering terjadi masalah etika
CASE
COHORT
STUDY
DAN NESTED
CASE
CONTROL
Merupakan studi kasus kontrol dalam
studi Kohort
saat merancang penelitian kohort sudah
diduga ada variabel tertentu
merupakan faktor risiko suatu penyakit
lain
biaya pemeriksaan mahal
setelah terjadi efek baru dilihat secara
kasus kontrol
NESTED CASE-CONTROL STUDIES
Study Population
TIME 1
YEARS
TIME 2
Develop
Disease
Do Not
Develop
Disease
CASES CONTROLS
CASE-CONTROL STUDY
Obtain
interviews,
bloods,
urines, etc.
BEDA
CASE
COHORT
DAN
NESTED
CASE
CONTROL
Hanya pada pemilihan kontrol
case cohort kontrol dipilih dari
kelompok awal cohort yang tidak
mengalami efek/penyakit
Nested case control setiap dari sisa
cohort yang dicarikan pasangannya dari
sisa cohort yang tidak mengalami
efek/penyakit dan masih dalam
pengamatan sehinga mereka yang loss
to follow up tidak bisa menjadi kontrol.
KELEBIHAN
DESAIN CASE
COHORT
DAN NESTED
CASE
CONTROL
• efisien pemeriksaan hanya pada kasus
dan yg terpilih menjadi kontrol, tidak
pada semua subyek kohort
• Bebas dari recall bias
• Subyek yang menjadi kasus berasal dari
populasi yang sama dengan keseluruhan
kohort
• Dapat untuk meneliti beberapa kasus
penyakit sekaligus berbeda dengan desain
case control konvensional yang hanya
bisa meneliti 1 macam penyakit saja
RINGKASAN DESAIN OBSERVASIONAL
………………………..
Case control
……………………….
……………………….
Cohort
retrospective
Cross-
sectional
……………………
Case control
…………………..
Cohort
prospective
……………………
Cohort
retrospective
……………………..
……………………..
Cohort
prospective
………………………
Past present Future
Alur Pikir Penentuan Desain Penelitian
Intervensi ya eksperimental
tidak observasional
Pengamatan
sewaktu
retrospective prospective
STROBE CHECKLIST
Strengthening the Reporting of Observational Studies
in Epidemiology
Observational research comprises several study designs
and many topic areas. STROBE aimed to establish a
checklist of items that should be included in articles
reporting such research
STROBE
Checklist with 22 items
• Heading (where in paper),
item No
• Recommendation, divided
into:
cohort, case-control, cross-
sectional study - where
different
64
www.equator-network.org
www.strobe-statement.org
• TUGAS PERORANGAN
• PILIH DARI JOURNAL INTERNASIONAL BEREPUTASI
• SALAH SATU DESAIN OBSERVASIONAL
• 1. CASE CONTROL HOSPITAL BASED
• 2. CASE CONTROL COMMUNITY BASED
• 3. COHORT PROSPECTIVE
• 4.COHORT RETROSPECTIVE
• 5. CROSS SECTIONAL
• 6. SERIES CROS SECTIONAL
Tampilkan Singkat Saja dan analisis dengan strobe check list
• Latar belakang dan tujuan riset
• Variabel yang diamati maupun variabel yang dikendalikan
• Perkiraan kerangka konsep penelitian
• Hipotesis
• Jalannya/cara kerja riset tersebut
• Kriteria inklusi
• Bias yang kemungkinan terjadi pada riset tsb dan antisipasi dr penulis
TERIMA KASIH

s3 specific DESAIN OBSERVASIONAs UIL.pptx

  • 1.
  • 2.
    DESAIN PENELITIAN jenis penelitian mencapai tujuan penelitian menuntun dalam memperoleh jawaban pertanyaan penelitian
  • 3.
    HARUS DIPAHAMI Variabel : 1.dependen: outcome/hasil jadi/disease 2. Independen: faktor risiko/prediktor 3. confounding 4. antara 5. luar
  • 4.
    VARIABEL Adalah karakteristik subyek penelitianyang berubah dari satu subyek ke subyek lain Variabel bebas /independen: bila ia berubah  variabel lain juga berubah Variabel tergantung/dependen:varibel yang berubah akibat perubahan variabel bebas Variabel perancu/confounding: berhub dengan variabel bebas dan tergantung dan dapat mempengaruhi hasil penelitian
  • 5.
    KERANGKA KONSEP ETIOLOGIK Terdiridari variabel independen utama dengan variabel Konfounding dan variabel dependen Tujuan kerangka konsep etiologik: Mencari hubungan murni antara variabel independen utama dan varibel dependen dengan mengontrol semua variabel konfounding
  • 6.
    KERANGKA KONSEP PREDIKTIF •Tujuan: •memprediksivariabel dependen melalui beberapa variabel independen • ( faktor yang berperan terhadap variabel dependen) •Status variabel independen setara tanpa variabel independen utama •Tujuan: mengetahui variabel apa saja yang berhubungan dengan varibel dependen
  • 7.
    KERANGKA KONSEP ETIOLOGIK VIVD VI VD Konfounding Konfounding
  • 8.
    KERANGKA KONSEP PREDIKTIF VI1 VI 2 VI 3 VI 4 VD
  • 9.
    CONTOH FAKTOR CONFOUNDING Variabel independen variabel dependen Kadar estrogen osteoporosis Variabel confounding Asupan kalsium Indeks massa tubuh
  • 10.
    DUA KELOMPOK DESAINDASAR • Deskriptif : mencari besaran masalah • Analitik : mencari penyebab masalah
  • 11.
    DESAIN PENELITIAN  Observasional *Descriptive: Cross sectional * Analytic: Case control Cohort  Experiment - Before and after with control design - Randomized clinical trial: - Quasi experimental - Community trial
  • 12.
    RELATIVE ABILITY OF DIFFERENTTYPES OF STUDY TO PROVE CAUSATION
  • 13.
  • 14.
  • 15.
    CROSS- SECTIONAL STUDIES At analytic level,it provides information about the presence and strength of associations between variables, permitting testing of hypothesis At descriptive level, it yields information about a single variable, or about each of number of separate variables in a study population May be Descriptive Analytical or Both
  • 16.
    CROSS SECTIONAL STUDY Mengetahui frekuensi penyakit/besarnya masalahkesehatan Mengetahui hubungan antara faktor risiko dan frekuensi penyakit diamati sesaat dan hanya satu kali Tidak ada periode follow up Cross- sectional
  • 17.
    CROSS- SECTIONAL populasi faktor risiko+ Outcome + faktor risiko + Outcome - faktor risiko - Outcome + faktor risiko - Outcome - Sampel
  • 18.
    CROSS- SECTIONAL populasi faktor giziburuk + juml gigi < faktor gizi buruk + juml gigi N faktor gizi baik juml gigi < faktor gizi baik juml gigi N Sampel
  • 19.
    CONTOH Penelitian mengenai prevalensi penderita osteoporosispada perempuan pascamenopause di jakarta Hubungan antara kebiasaan makan manis dan terjadinya caries gigi
  • 20.
    KELEBIHAN Sederhana,cepat pelaksanaannya Murah Terhindar dari loss tofollow up Menjadi dasar penelitian lanjutan yang lebih konklusif Dapat untuk menghitung prevalence penyakit pada suatu populasi
  • 21.
    •Tidak dapat menerangkanhubungan kausal • Faktor konfonding terdistribusi tidak merata,dapat mempengaruhi hasil penelitian •Jumlah tiap kelompok tidak sama •Hanya dapat mengukur prevalensi •Tidak praktis untuk kasus jarang •Besar sampel cukup banyak •Lebih dapat menjaring subyek dengan masa sakit panjang KEKURANGAN
  • 22.
    SERIES CROSS-SECTIONAL STUDIES -Penelitian secara cross sectional dilakukan pada beberapa titik waktu - Untuk menyimpulkan mengenai perubahan suatu pola akibat waktu Contoh: Penelitian mengenai perubahan komposisi usia penduduk suatu wilayah pada beberapa dekade (tidak mengikuti suatu kelompok orang )
  • 23.
    CASE- CONTROL Dimulai mengambilsampel dari populasi dengan disease/outcome dan non disease /non outcome (kasus dan kontrol)variabel dependen Ditelusuri secara retrospective ada tidaknya faktor risiko /pajanan yang berperan
  • 24.
    ditelusuri secara retrospective Adanyafaktor risiko Penelitian mulai disini Kasus /kelompok subyek dengan penyakit Kontrol/kelompok subyek tanpa penyakit ya tidak ya tidak
  • 26.
    WHY CASE-CONTROL STUDY? •In a cohort study, you need a large number of the subjects to obtain a sufficient number of case, especially if you are interested in a rare disease. • Gastric cancer incidence in Japanese male: 128.5 / 100,000 person year • A case-control study is more efficient in terms of study operation, time, and cost.
  • 27.
    CASE- CONTROL STUDY - INFORMATION Sources ofthe information of exposure and potential confounding factors : • Existing records • Questionnaires • Face-to-face / telephone interviews • Biological specimens • Tissue banks • Databases on biochemical and environmental measurements
  • 28.
    CONTOH Faktor risikoterjadinya osteoporosis Hubungan antara kebiasaan merokok dengan keparahan penyakit jantung Hubungan antara kecukupan nutrisi ibu saat hamil dengan berat badan anak lahir rendah
  • 29.
    Kasus : orangdengan hasil jadi /outcome/penyakit yang diteliti Kontrol: orang tanpa outcome /penyakit tersebut dipilih dari populasi / yg dianggap mewakili populasi sumber kasus Keduanya harus mempunyai kemungkinan yang sama untuk terpajan faktor risiko
  • 30.
    CONTOH Ingin diteliti apakah penyakitkanker payudara berhubungan dengan riwayat penggunaan pil KB Kontrol adalah mereka yang juga punya peluang minum pil KB yaitu wanita menikah,usia subur dan sudah mempunyai anak
  • 31.
    PEMILIHAN KONTROL Ciri: - Tidak menderitapenyakit /outcome yang sedang diteliti - Punya kemungkinan terpajan faktor risiko yang sedang diteliti Asal kontrol: -rumah sakit/hospital based -masyarakat/population based -saudara/teman
  • 32.
    PEMILIHAN KONTROL Hospital/clinical based control: Pengambilankontrol dari fasilitas yg sama dengan pengambilan kasus Population based control: Pengambilan kontrol dari populasi tempat asal kasus diambil Kasus dapat diambil dari 1/> RS di daerah tsb
  • 33.
    PEMILIHAN KONTROL Pilih dari populasiyang sama dengan kasus Bila perlu lakukan matching : memilih kontrol dengan karakteristik sama dalam semua hal kecuali variabel yang diteliti (jangan over matching)
  • 34.
    CONTOH Kasus: penderita kehamilan ektopik(RS) Kontrol: ibu hamil Daftar kelurahanpilih daftar RTpilih yang hamil bersedia jadi kontrol
  • 35.
    BILA KASUS JARANG Besarsubyek : 1 kasus : N x kontrol (N maksimal 4x kontrol) Tujuan agar besar kasus tidak terlalu banyak kasus kasus jarang
  • 36.
    OR=A/C:B/D =AD/BC ARTINYA ODDS PADAKELOMPOK KASUS/ODDS PADA KELOMPOK KONTROL ODDS= PERBANDINGAN PROBABILITASTERJADINYA SUATU OUTCOME DENGAN PROBABILITASTIDAKTERJADINYA OUTCOME kasus kontrol Risiko + a b Risiko - c d
  • 37.
    OR= MENUNJUKKAN BERAPABESAR PERAN SUATU FAKTOR RISIKOYANG DITELITI TERHADAP TERJADINYA SUATU OUTCOME CONTOH: OR terjadinya osteoporosis pada perempuan pascamenopause yang asupan kalsium kurang dibanding dengan perempuan pascamenopause yang asupan kalsium memadai= 3 Artinya perempuan pascamenopause dengan asupan kalsium kurang mempunyai risiko menderita osteoporosis 3x lebih besar dibandingkan perempuan pascamenopause dengan asupan kalsium memadai.
  • 38.
    INTERPRETASI NILAI OR OR>1= risiko > OR =1 = tidak ada asosiasi OR <1 = faktor pelindung
  • 39.
    KELEBIHAN Sangat baik untuk kasus jarang Dapat menerangkan hubungankausal Cepat Biaya murah Subyek penelitian lebih sedikit Memungkinkan untuk identifikasi berbagai faktor risiko sekaligus Menghindarkan dari loss of follow up
  • 40.
    KEKURANGAN Recall bias Pemilihan kontrol sulit Tidakmemberikan incidens /prevalens penyakit. Hanya berkaitan dengan satu penyakit saja Measurement bias Selection bias
  • 41.
    BIAS Bias=kesalahan sistematik yang terjadi padadesain Recall bias: akibat << ingatan subyek mengenai peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu  atasi dengan kuesioner serinci mungkin, pelatihan pewawancara
  • 42.
    BIAS SHOULD BEMINIMIZED • Bias & Confounding • Selection bias • Detection bias • Information bias (recall bias) • Confounding Confounding can be controlled by statistical analyses but we can do nothing about bias after data collection.
  • 43.
    KONFONDING Yaitu faktor yangmenyebabkan distorsi terhadap faktor risiko yang sedang diteliti Pajanan outcome/penyakit konfonding
  • 44.
    CONTOH FAKTOR CONFOUNDING Variabel independen varibel dependen Kadar estrogen osteoporosis Variabel confounding Asupan kalsium Indeks massa tubuh
  • 45.
    COHORT • Cohort prospective •Cohort Retrospective • / historical cohort
  • 46.
    COMPARISON (CONTROL) GROUPS FORCOHORT STUDIES 1. Internal controls With a one-sample (population-based) cohort, exposure is unknown until after the first period of observation Example: a. Select the cohort (such as all residents of a given neighborhood) b. All members of the cohort are then given first round questionnaires, and/or clinical examinations, and/or testing to determine exposure c. The cohort is then divided into exposure categories based on those results
  • 47.
    2. DOUBLE COHORTSTUDIES (EKSTERNAL CONTROL) Nama lain cohort prospektif dengan pembanding eksternal Dimulai dari subyek yang sdh terpajan faktor risiko lalu diikuti
  • 48.
    COHORT PROSPECTIVE Dimulai darimengukur beberapa faktor risiko pada tiap subyek kemudian diikuti dengan pengamatan secara periodik sampai kurun waktu tertentu dan kemudian dilihat outcomenya Contoh: Apakah pajanan terhadap rokok akan meningkatkan insidens penyakit jantung
  • 49.
    Subyek Dengan karakteristik Tanpa karakteristik Terjadipenyakit Tidak terjadi penyakit Terjadi penyakit Tidak terjadi penyakit Penelitian mulai disini Diikuti secara prospective Dilihat efeknya
  • 50.
    Risiko penyakit tanpapenyakit + a b _ c d Relative risk= {a/(a+b)}/{c/(c+d)} Yaitu insiden outcome pada kelompok berisiko : insiden outcome pada kelompok tanpa risiko
  • 51.
    RR MEMBERI GAMBARANBESARNYA PERAN FAKTOR RISIKO YANG DITELITITERHADAPTERJADINYA OUTCOME Contoh: • Outcome :penyakit jantung • Faktor risiko: merokok • RR=4 • Artinya risiko seseorang yang merokok> untuk menderita penyakit jantung adalah 4 x seseorang tanpa merokok
  • 52.
    KELEBIHAN Cocok untuk kasusdengan faktor risiko yang jarang Dapat mengamati outcome multipel yang diakibatkan oleh faktor risiko tunggal Dapat menerangkan hub kausal Memungkinkan pengukuran incidence penyakit pada kelompok exposed dan non exposed
  • 53.
    KERUGIAN In efisien padakasus penyakit jarang perlu sampel >> Mahal dan Waktu lama (prospective) Perlu data /cat medik lengkap (retrospective) Dapat terjadi loss of Follow up Sering terjadi masalah etika
  • 55.
    CASE COHORT STUDY DAN NESTED CASE CONTROL Merupakan studikasus kontrol dalam studi Kohort saat merancang penelitian kohort sudah diduga ada variabel tertentu merupakan faktor risiko suatu penyakit lain biaya pemeriksaan mahal setelah terjadi efek baru dilihat secara kasus kontrol
  • 56.
    NESTED CASE-CONTROL STUDIES StudyPopulation TIME 1 YEARS TIME 2 Develop Disease Do Not Develop Disease CASES CONTROLS CASE-CONTROL STUDY Obtain interviews, bloods, urines, etc.
  • 57.
    BEDA CASE COHORT DAN NESTED CASE CONTROL Hanya pada pemilihankontrol case cohort kontrol dipilih dari kelompok awal cohort yang tidak mengalami efek/penyakit Nested case control setiap dari sisa cohort yang dicarikan pasangannya dari sisa cohort yang tidak mengalami efek/penyakit dan masih dalam pengamatan sehinga mereka yang loss to follow up tidak bisa menjadi kontrol.
  • 58.
    KELEBIHAN DESAIN CASE COHORT DAN NESTED CASE CONTROL •efisien pemeriksaan hanya pada kasus dan yg terpilih menjadi kontrol, tidak pada semua subyek kohort • Bebas dari recall bias • Subyek yang menjadi kasus berasal dari populasi yang sama dengan keseluruhan kohort • Dapat untuk meneliti beberapa kasus penyakit sekaligus berbeda dengan desain case control konvensional yang hanya bisa meneliti 1 macam penyakit saja
  • 60.
    RINGKASAN DESAIN OBSERVASIONAL ……………………….. Casecontrol ………………………. ………………………. Cohort retrospective Cross- sectional …………………… Case control ………………….. Cohort prospective …………………… Cohort retrospective …………………….. …………………….. Cohort prospective ……………………… Past present Future
  • 61.
    Alur Pikir PenentuanDesain Penelitian Intervensi ya eksperimental tidak observasional Pengamatan sewaktu retrospective prospective
  • 62.
    STROBE CHECKLIST Strengthening theReporting of Observational Studies in Epidemiology Observational research comprises several study designs and many topic areas. STROBE aimed to establish a checklist of items that should be included in articles reporting such research
  • 63.
    STROBE Checklist with 22items • Heading (where in paper), item No • Recommendation, divided into: cohort, case-control, cross- sectional study - where different
  • 64.
  • 65.
    • TUGAS PERORANGAN •PILIH DARI JOURNAL INTERNASIONAL BEREPUTASI • SALAH SATU DESAIN OBSERVASIONAL • 1. CASE CONTROL HOSPITAL BASED • 2. CASE CONTROL COMMUNITY BASED • 3. COHORT PROSPECTIVE • 4.COHORT RETROSPECTIVE • 5. CROSS SECTIONAL • 6. SERIES CROS SECTIONAL
  • 66.
    Tampilkan Singkat Sajadan analisis dengan strobe check list • Latar belakang dan tujuan riset • Variabel yang diamati maupun variabel yang dikendalikan • Perkiraan kerangka konsep penelitian • Hipotesis • Jalannya/cara kerja riset tersebut • Kriteria inklusi • Bias yang kemungkinan terjadi pada riset tsb dan antisipasi dr penulis
  • 67.

Editor's Notes

  • #12 Series cross sectional  melihat dari beberapa waktu yang berbeda Case control melihat ke belakang COHORT kita ikuti dari var independen mjd dependen RCT dikasih perlakuan
  • #26 Karena kasus kanker gastric jarang terjadi, apabila kita gunakan studi kohort maka penelitian kita akan lama karena jumlah penderita sedikit. Oleh karena itu, sebaiknya kita gunakan studi case control saja.