SANITASI DAN PENANGANAN LIMBAH
LABORATORIUM
Materi-7
Muhammad Suyadi, S.Si., M.Biotech.
TUJUAN
Setelah mengikuti sesi ini, Anda diharapkan
dapat:
6.1 Mengidentifikasi limbah potensial yang
dihasilkan oleh aktivitas laboratorium.
6.2 Membuat program pengelolaan limbah
laboratorium.
6.3 Menerapkan prosedur penanganan
bahan berbahaya dan beracun,
MATERI
1.Sifat limbah
2.Langkah praktis mengurangi limbah
3.Tips pengumpulan penyimpanan
limbah Laboratorium
Pendahuluan
 Limbah : buangan sisa-sisa atau hasil
sampingan yang berasal dari kegiatan
laboratorium dari semua aktivitas yang
dilakukan di laboratorium.
 Fasa zat buangan dapat digolongkan
menjadi gas, padat dan cair
UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan LH
Pasal 59 ayat (1) Setiap Orang Yang Menghasilkan Limbah
B3 Wajib Melakukan Pengelolaan Limbah B3 Yang
Dihasilkannya
UU No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Pasal 11 ayat (1) Prasarana RS dapat meliputi salah
satunya
instalasi pengelolaan limbah
PP No 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan
Beracun
Mengatur pengelolaan limbah dari penetapan hingga
pembuangan. Limbah klinis infeksius, farmasi
kadaluwarsa tergolong kategori limbah bahaya 1
Permen LHK No. P56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan
Teknis Pengelolaan Limbah B3 dari Fasyankes
Mengatur teknis tentang penyimpanan, pengangkutan,
pengolahan, penguburan dan penimbunan limbah B3 di
Fasyankes
Permenkes No. 27 Tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Mengatur teknis kewajiban fasyankes untuk
melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi
salahsatunya bersumber limbah medis
Regulasi Dasar Pengelolaan Limbah di Fasyankes
Mengatur teknis tentang penyelenggaraan
pengamanan limbah padat domestik, limbah B3,
limbah cair dan limbah gas di Rumah Sakit
11
Permenkes No. 7 Tahun 2019
Tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit
PP NO. 47 TAHUN 2016 TENTANG FASYANKES
Limbah
1. Berdasarkan sifatnya, limbah dibedakan menjadi :
a. Limbah umum
b. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
2. Berdasarkan atas dasar asalnya, dikelompokkan
menjadi 2 yaitu:
a. Limbah organik
b. Limbah anorganik
Bentuk Limbah
1. Limbah umum:
1)Limbah padat: berupa endapan atau kertas saring
yang telah terpakai ( dibedakan menjadi: limbah
padat infeksius dan limbah padat non infeksius
2)Limbah gas: umumnya dalam jumlah kecil, jadi bisa
dibuang langsung ke udara. Misalnya: limbah yang
dihasilkan dari penggunaan generator.
3)Limbah cair: adalah sisa kegiatan yang berwujud
cair (terbagi dalam: limbah cair infeksius, limbah
cair domestik dan limbah cair kimia
1. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Adalah limbah yang mengandung bahan berbahaya
atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik
langsung maupun tidak langsung dapat merusak
atau mencemarkan lingkungan hidup, atau
membahayan kesehatan manusia
misal:
• Limbah beracun dibagi menjadi:
o Limbah mudah meledak
o Limbah mudah terbakar.
o Limbah reaktif
o Limbah beracun
o Limbah yang menyebabkan infeksi
o Limbah yang bersifat korosif
Berdasarkan sifat limbah
2) Limbah infeksius
Limbah infeksius meliputi limbah yang berkaitan
dengan pasien yang memerlukan isolasi
penyakit menular serta limbah laboratorium
yang berkaitan dengan pemeriksaan
mikrobiologi dari poliklinik, ruang perawatan
dan ruang isolasi penyakit menular.
3) Limbah radioaktif
Limbah radioaktif adalah bahan yang
terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal
dari penggunaan medis atau riset radionucleida.
Limbah Berdasarkan atas dasar asalnya:
1. Limbah Organik : terdiri atas bahan yang bersifat
organik, mudah diuraikan melalui proses alami
( limbah kegiatan rumah tangga)
2. Limbah anorganik:terdiri dari bahan bahan yang
tidak dapat diuraikan dan tidak dapat diperbarui,
mis :
1. Bahan buangan bersifat khemis: semua bahan
buangan hasil kegiatan laboratorium yang berupa
zat kimia (PP No.82 Thn 2001)
2. Bahan buangan non khemis: misalnya: air sisa
cucian alat dan perabot yang tidak menggunakan
bahan kimia
• Limbah cair terbagi atas:
oLimbah cair infeksius
oLimbah cair domestic
oLimbah cair kimia
LIMBAH CAIR
Dipisahkan, atau menggunakan saluran- saluran
yang terpisah, yang akhirnya mengalir pada lubang
pembuangan yang terpisah pula. Karena masing-
masing limbah memerlukan pengolahan dan
pengelolaan yang berbeda.
Penanganan limbah cair khemis dan non
khemis:
• Tujuan penanganan limbah adalah untuk mengurangi resiko pemaparan
limbah terhadap kuman yang menimbulkan penyakit (patogen) yang
mungkin berada dalam limbah tersebut.
• Penanganan limbah antara lain ditentukan oleh sifat limbah, yaitu :
1) Limbah berbahaya dan beracun, dengan cara : Netralisasi
Limbah yang bersifat asam dinetralkan dengan basa seperti kapur tohor,
CaO atau Ca(OH)2 Sebaliknya, limbah yang bersifat basa dinetralkan
dengan asam seperti H2SO4 atau HCI.
Pengendapan/sedimentasi, koagulasi dan flokulasi
Kontaminan logam berat dalam ciaran diendapkan dengan tawas/FeC13,
Ca(OH)2/CaO karena dapat mengikat As, Zn, Ni. Mn dan Hg.
Reduksi-Oksidasi
Terhadap zat organik toksik dalam limbah dapat dilakukan reaksi
reduksi oksidasi (redoks) sehingga terbentuk zat yang
kurang/tidak toksik.
Penukaran ion
Ion logam berat nikel, Ni dapat diserap oleh kation, sedangkan
anion beracun dapat diserap oleh resin anion
2) Limbah infeksius
• Ada beberapa metode penanganan limbah cair/padat yang bersifat
infeksius, yaitu :
a. Metode Desinfeksi
Adalah penanganan limbah (terutama cair) dengan cara penambahan
bahan-bahan kimia yang dapat mematikan atau membuat kuman-
kuman penyakit menjadi tidak aktif.
b. Metode Pengenceran (Dilution)
Dengan cara mengencerkan air limbah sampai mencapai konsentrasi
yang cukup rendah, kemudian baru dibuang ke badan-badan air.
Kerugiannya ialah bahan kontaminasi terhadap badan-badan air
masih tetap ada, pengendapan yang terjadi dapat menimbulkan
pendangkalan terhadap badan-badan air seperti selokan, sungai dan
sebagainya sehingga dapat menimbulkan banjir.
c. Metode Proses Biologis
Dengan menggunakan bakteri-bakteri pengurai. Bakteri-bakteri
tersebut akan menimbulkan dekomposisi zat-zat organik yang
terdapat dalam limbah.
d. Metode Ditanam (Landfill)
Yaitu penanganan limbah dengan menimbunnya dalam tanah.
e. Metode Insinerasi (Pembakaran)
Pemusnah limbah dengan cara memasukkan ke dalam insinerator.
Dalam insinerator senyawa kimia karbon yang ada dibebaskan ke
atmosfir sebagai CO2 dan H2O.
Bahan-bahan seperti mineral, logam dan bahan organik lainnya
(kuman penyakit, jaringan tubuh, hewan, darah, bahan kimia,
kertas, plastik) yang tidak terbakar tersisa dalam bentuk abu yang
beratnya 10-30% dari berat aslinya (tergantung dari jenis limbah).
3) Limbah radioaktif
Masalah penanganan limbah radioaktif dapat diperkecil dengan
memakai radioaktif sekecil mungkin, menciptakan disiplin kerja
yang ketat dan menggunakan alat yang mudah didekontaminasi.
Penanganan limbah radioaktif dibedakan berdasarkan:
a. Bentuk : cair, padat dan gas,
b. Tinggi-rendahnya tingkat radiasi sinar gamma (γ),
c. Tinggi-rendahnya aktifitas
d. Panjang-pendeknya waktu paruh,
e. Sifat : dapat dibakar atau tidak.
Ada 2 sistem penanganan limbah radioaktif :
a. Dilaksanakan oleh pemakai secara perorangan dengan memakai
proses peluruhan, peguburan dan pembuangan.
b. Dilaksanakan secara kolektif oleh instansi pengolahan limbah
radioaktif, seperti Badan Tanaga Atom Nasional (BATAN).
4) Limbah umum
Limbah umum non infeksius setelah dikumpulkan dalam wadah
kantong plastik diikat kuat dan dibakar di insinerator
Langkah praktis mengurangi limbah
1. Penggunaan kembali limbah laboratorium (setelah
melalui prosedur daur ulang), mis: pelarut dalam
proses ekstraksi
2. Sebelum melakukan reaksi, dilakukan perhitungan
mol reaktan secara tepat
3. Pembuangan langsung ke luar laboratorium (untuk
bahan kimia yang dapat larut dalam air, dalam
konsentrasi kecil, misal: asam cuka)
4. Dengan pembakaran terbuka, untuk bahan
organik yang kadar racunnya rendah, dan tidak
terlalu berbahaya
5. Pembakaran dalam insenerator, untuk bahan
toksik, yang jika dibakar dalam ruang terbuka,
akan menghasilkan senyawa yang bersifat
toksik.
6. Dikubur dalam tanah dengan perlindungan
tertentu, agar tidak merembas ke badan air.
(untuk zat padat reaktif dan beracun, mis:
bahan yang mengandung merkuri /Hg)
Renungan
Berdasarkan keenam penanganan limbah tersebut,
manakah yang menurut anda paling baik/tidak
berbahaya pada lingkungan.
Tips pengumpulan penyimpanan limbah
Laboratorium
1.Pemberian label pada setiap wadah limbah
yang berbahaya, sesuai dengan jenis
bahayanya (mudah terbakar, korosif)
2.Simpan limbah dalam wadah yang berlabel
jelas dan wadah tidak bereaksi dengan
bahan yang disimpan.
3. Untuk beberapa jenis limbah kimia yang
berbeda, limbah bisa dikumpulkan dalam
satu wadah yang sama (asal limbah harus
kompatibel satu sama lain)
4. Sebelum dikumpulkan, dilakukan pengecekan
terhadap sifat limbah ( bersifat asam atau basa).
5. Melakukan penetralan terhadap larutan asam
atau basa menggunakan zat penetral yang
sesuai.
6. Jika limbah termasuk limbah B3, wadah harus
sesuai dengan karakter limbah yang akan
disimpan
7. Memilih wadah yang tepat untuk mengurangi
kebocoran :
a.Untuk limbah cair: wadah pengaman dari plastik
(PE), atau bhn dari logam. Jangan menyimpan
limbah korosif dalam wadah yang terbuat dari
logam.
b. Untuk limbah air: Kumpulkan limbah air secara
terpisah dari limbah pelarut organik
c.Untuk limbah padat: Tempatkan limbah padat dalam
wadah yang berlabel tepat, untuk menunggu proses
pembuangan
Persayaratan Wadah cairan pelarut
organik:
1.Tahan terhadap bahan kimia yang disimpan
2.Tidak mudah pecah/rusak
3.Anti bocor dan rapat gas
4.Memiliki sertifikat UN untuk pengangkutan limbah
Internasional
5.Wadah ditempatkan di ruang berventilasi baik
6. Wadah harus disimpan tertutup rapat
7. Pilih wadah yang sesuai
Khusus Prinsip Pengemasan Limbah B3:
1.Limbah yang tidak saling cocok, dikemas
dalam wadah yang berbeda.
2.Jumlah pengisian volume harus memper-
timbangkan terjadinya pengembangan
volume limbah, pembentukan gas atau
kenaikan tekanan selama penyimpanan.
3.Ganti kemasan yang rusak, dengan kemasan
yang baru
4. Kemasan yang telah berisi limbah,
ditandai sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
5. Kegiatan pengemasan,
penyimpanan dan pengumpulan,
harus dilaporkan sebagai bagian
dari pengelolaan limbah
Contoh senyawa Kimia, serta akibatnya jika
dicampur dengan senyawa lain yang inkompatibel
Senyawa Tidak boleh dicampur
dengan
Eksplosif
atau
menghasil
kan
panas, gas
atau
substansi
yang
mudah
menyala
Menghasil
kan gas
toksik,
atau tidak
stabil atau
substansi
berbahaya
Asam
asetat
Alkohol, asam kromat,
etilen glikol,asam nitrat,
asam perklorat,
peroksida, permanganat
x
1. Gangguan kesehatan manusia ; bakteri, virus, senyawa-senyawa kimia, desinfektan,
serta logam seperti Hg, Pb, Chrom dan Cd yang berasal dari bagian Pelayanan
2. Gangguan genetik dan reproduksi ; Pestisida dan Bahan Radioaktif
3. Menyebabkan infeksi silang; menjadi media penyebaran mikroorganisme pembawa
penyakit melalui proses infeksi silang baik dari pasien ke pasien, dari pasien ke petugas
atau dari petugas ke pasien
4. Kerusakan harta benda, disebabkan oleh garam-garam terlarut (korosif, karat) yang
terkandung dalam air berlumpur yang dapat menurunkan kualitas bangunan di sekitar
rumah sakit
5. Gangguan atau kerusakan tanaman dan binatang, karena senyawa nitrat (asam, basa
dan garam kuat), bahan kimia, desinfektan, logam nutrient tertentu dan fosfor.
6. kerugian ekomoni, baik terhadap pembiayaan operasional dan pemeliharaan, seperti
kebutuhan biaya kompensasi pencemaran lingkungan dan orang yang kesehatannya
terganggu karena pencemaran lingkungan.
7. Gangguan kenyamanan dan estetika, dari sedimen, larutan, bau phenol, bau feses, urin
dan rasa dari bahan kimia organik.
Dampak Limbah Yang Tidak Dikelola Dengan Benar
Penanganan Limbah Cair
Implementasi MSDS di Laboratorium
Terima kasih.

Pertemuan 7 Penanganan Limbah Laboratorium.ppt

  • 1.
    SANITASI DAN PENANGANANLIMBAH LABORATORIUM Materi-7 Muhammad Suyadi, S.Si., M.Biotech.
  • 2.
    TUJUAN Setelah mengikuti sesiini, Anda diharapkan dapat: 6.1 Mengidentifikasi limbah potensial yang dihasilkan oleh aktivitas laboratorium. 6.2 Membuat program pengelolaan limbah laboratorium. 6.3 Menerapkan prosedur penanganan bahan berbahaya dan beracun,
  • 3.
    MATERI 1.Sifat limbah 2.Langkah praktismengurangi limbah 3.Tips pengumpulan penyimpanan limbah Laboratorium
  • 4.
    Pendahuluan  Limbah :buangan sisa-sisa atau hasil sampingan yang berasal dari kegiatan laboratorium dari semua aktivitas yang dilakukan di laboratorium.  Fasa zat buangan dapat digolongkan menjadi gas, padat dan cair
  • 5.
    UU No 32Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan LH Pasal 59 ayat (1) Setiap Orang Yang Menghasilkan Limbah B3 Wajib Melakukan Pengelolaan Limbah B3 Yang Dihasilkannya UU No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit Pasal 11 ayat (1) Prasarana RS dapat meliputi salah satunya instalasi pengelolaan limbah PP No 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun Mengatur pengelolaan limbah dari penetapan hingga pembuangan. Limbah klinis infeksius, farmasi kadaluwarsa tergolong kategori limbah bahaya 1 Permen LHK No. P56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3 dari Fasyankes Mengatur teknis tentang penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, penguburan dan penimbunan limbah B3 di Fasyankes Permenkes No. 27 Tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Mengatur teknis kewajiban fasyankes untuk melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi salahsatunya bersumber limbah medis Regulasi Dasar Pengelolaan Limbah di Fasyankes Mengatur teknis tentang penyelenggaraan pengamanan limbah padat domestik, limbah B3, limbah cair dan limbah gas di Rumah Sakit 11 Permenkes No. 7 Tahun 2019 Tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit PP NO. 47 TAHUN 2016 TENTANG FASYANKES
  • 6.
    Limbah 1. Berdasarkan sifatnya,limbah dibedakan menjadi : a. Limbah umum b. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) 2. Berdasarkan atas dasar asalnya, dikelompokkan menjadi 2 yaitu: a. Limbah organik b. Limbah anorganik
  • 7.
    Bentuk Limbah 1. Limbahumum: 1)Limbah padat: berupa endapan atau kertas saring yang telah terpakai ( dibedakan menjadi: limbah padat infeksius dan limbah padat non infeksius 2)Limbah gas: umumnya dalam jumlah kecil, jadi bisa dibuang langsung ke udara. Misalnya: limbah yang dihasilkan dari penggunaan generator. 3)Limbah cair: adalah sisa kegiatan yang berwujud cair (terbagi dalam: limbah cair infeksius, limbah cair domestik dan limbah cair kimia
  • 8.
    1. Limbah BahanBerbahaya dan Beracun (B3) Adalah limbah yang mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup, atau membahayan kesehatan manusia misal: • Limbah beracun dibagi menjadi: o Limbah mudah meledak o Limbah mudah terbakar. o Limbah reaktif o Limbah beracun o Limbah yang menyebabkan infeksi o Limbah yang bersifat korosif Berdasarkan sifat limbah
  • 9.
    2) Limbah infeksius Limbahinfeksius meliputi limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular serta limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik, ruang perawatan dan ruang isolasi penyakit menular. 3) Limbah radioaktif Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal dari penggunaan medis atau riset radionucleida.
  • 10.
    Limbah Berdasarkan atasdasar asalnya: 1. Limbah Organik : terdiri atas bahan yang bersifat organik, mudah diuraikan melalui proses alami ( limbah kegiatan rumah tangga) 2. Limbah anorganik:terdiri dari bahan bahan yang tidak dapat diuraikan dan tidak dapat diperbarui, mis :
  • 11.
    1. Bahan buanganbersifat khemis: semua bahan buangan hasil kegiatan laboratorium yang berupa zat kimia (PP No.82 Thn 2001) 2. Bahan buangan non khemis: misalnya: air sisa cucian alat dan perabot yang tidak menggunakan bahan kimia • Limbah cair terbagi atas: oLimbah cair infeksius oLimbah cair domestic oLimbah cair kimia LIMBAH CAIR
  • 12.
    Dipisahkan, atau menggunakansaluran- saluran yang terpisah, yang akhirnya mengalir pada lubang pembuangan yang terpisah pula. Karena masing- masing limbah memerlukan pengolahan dan pengelolaan yang berbeda. Penanganan limbah cair khemis dan non khemis:
  • 13.
    • Tujuan penangananlimbah adalah untuk mengurangi resiko pemaparan limbah terhadap kuman yang menimbulkan penyakit (patogen) yang mungkin berada dalam limbah tersebut. • Penanganan limbah antara lain ditentukan oleh sifat limbah, yaitu : 1) Limbah berbahaya dan beracun, dengan cara : Netralisasi Limbah yang bersifat asam dinetralkan dengan basa seperti kapur tohor, CaO atau Ca(OH)2 Sebaliknya, limbah yang bersifat basa dinetralkan dengan asam seperti H2SO4 atau HCI. Pengendapan/sedimentasi, koagulasi dan flokulasi Kontaminan logam berat dalam ciaran diendapkan dengan tawas/FeC13, Ca(OH)2/CaO karena dapat mengikat As, Zn, Ni. Mn dan Hg.
  • 14.
    Reduksi-Oksidasi Terhadap zat organiktoksik dalam limbah dapat dilakukan reaksi reduksi oksidasi (redoks) sehingga terbentuk zat yang kurang/tidak toksik. Penukaran ion Ion logam berat nikel, Ni dapat diserap oleh kation, sedangkan anion beracun dapat diserap oleh resin anion
  • 15.
    2) Limbah infeksius •Ada beberapa metode penanganan limbah cair/padat yang bersifat infeksius, yaitu : a. Metode Desinfeksi Adalah penanganan limbah (terutama cair) dengan cara penambahan bahan-bahan kimia yang dapat mematikan atau membuat kuman- kuman penyakit menjadi tidak aktif. b. Metode Pengenceran (Dilution) Dengan cara mengencerkan air limbah sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah, kemudian baru dibuang ke badan-badan air. Kerugiannya ialah bahan kontaminasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang terjadi dapat menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air seperti selokan, sungai dan sebagainya sehingga dapat menimbulkan banjir.
  • 16.
    c. Metode ProsesBiologis Dengan menggunakan bakteri-bakteri pengurai. Bakteri-bakteri tersebut akan menimbulkan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah. d. Metode Ditanam (Landfill) Yaitu penanganan limbah dengan menimbunnya dalam tanah.
  • 17.
    e. Metode Insinerasi(Pembakaran) Pemusnah limbah dengan cara memasukkan ke dalam insinerator. Dalam insinerator senyawa kimia karbon yang ada dibebaskan ke atmosfir sebagai CO2 dan H2O. Bahan-bahan seperti mineral, logam dan bahan organik lainnya (kuman penyakit, jaringan tubuh, hewan, darah, bahan kimia, kertas, plastik) yang tidak terbakar tersisa dalam bentuk abu yang beratnya 10-30% dari berat aslinya (tergantung dari jenis limbah).
  • 18.
    3) Limbah radioaktif Masalahpenanganan limbah radioaktif dapat diperkecil dengan memakai radioaktif sekecil mungkin, menciptakan disiplin kerja yang ketat dan menggunakan alat yang mudah didekontaminasi. Penanganan limbah radioaktif dibedakan berdasarkan: a. Bentuk : cair, padat dan gas, b. Tinggi-rendahnya tingkat radiasi sinar gamma (γ), c. Tinggi-rendahnya aktifitas d. Panjang-pendeknya waktu paruh, e. Sifat : dapat dibakar atau tidak.
  • 19.
    Ada 2 sistempenanganan limbah radioaktif : a. Dilaksanakan oleh pemakai secara perorangan dengan memakai proses peluruhan, peguburan dan pembuangan. b. Dilaksanakan secara kolektif oleh instansi pengolahan limbah radioaktif, seperti Badan Tanaga Atom Nasional (BATAN). 4) Limbah umum Limbah umum non infeksius setelah dikumpulkan dalam wadah kantong plastik diikat kuat dan dibakar di insinerator
  • 20.
    Langkah praktis mengurangilimbah 1. Penggunaan kembali limbah laboratorium (setelah melalui prosedur daur ulang), mis: pelarut dalam proses ekstraksi 2. Sebelum melakukan reaksi, dilakukan perhitungan mol reaktan secara tepat 3. Pembuangan langsung ke luar laboratorium (untuk bahan kimia yang dapat larut dalam air, dalam konsentrasi kecil, misal: asam cuka)
  • 21.
    4. Dengan pembakaranterbuka, untuk bahan organik yang kadar racunnya rendah, dan tidak terlalu berbahaya 5. Pembakaran dalam insenerator, untuk bahan toksik, yang jika dibakar dalam ruang terbuka, akan menghasilkan senyawa yang bersifat toksik. 6. Dikubur dalam tanah dengan perlindungan tertentu, agar tidak merembas ke badan air. (untuk zat padat reaktif dan beracun, mis: bahan yang mengandung merkuri /Hg)
  • 22.
    Renungan Berdasarkan keenam penangananlimbah tersebut, manakah yang menurut anda paling baik/tidak berbahaya pada lingkungan.
  • 23.
    Tips pengumpulan penyimpananlimbah Laboratorium 1.Pemberian label pada setiap wadah limbah yang berbahaya, sesuai dengan jenis bahayanya (mudah terbakar, korosif) 2.Simpan limbah dalam wadah yang berlabel jelas dan wadah tidak bereaksi dengan bahan yang disimpan. 3. Untuk beberapa jenis limbah kimia yang berbeda, limbah bisa dikumpulkan dalam satu wadah yang sama (asal limbah harus kompatibel satu sama lain)
  • 24.
    4. Sebelum dikumpulkan,dilakukan pengecekan terhadap sifat limbah ( bersifat asam atau basa). 5. Melakukan penetralan terhadap larutan asam atau basa menggunakan zat penetral yang sesuai. 6. Jika limbah termasuk limbah B3, wadah harus sesuai dengan karakter limbah yang akan disimpan
  • 25.
    7. Memilih wadahyang tepat untuk mengurangi kebocoran : a.Untuk limbah cair: wadah pengaman dari plastik (PE), atau bhn dari logam. Jangan menyimpan limbah korosif dalam wadah yang terbuat dari logam. b. Untuk limbah air: Kumpulkan limbah air secara terpisah dari limbah pelarut organik c.Untuk limbah padat: Tempatkan limbah padat dalam wadah yang berlabel tepat, untuk menunggu proses pembuangan
  • 26.
    Persayaratan Wadah cairanpelarut organik: 1.Tahan terhadap bahan kimia yang disimpan 2.Tidak mudah pecah/rusak 3.Anti bocor dan rapat gas 4.Memiliki sertifikat UN untuk pengangkutan limbah Internasional 5.Wadah ditempatkan di ruang berventilasi baik 6. Wadah harus disimpan tertutup rapat 7. Pilih wadah yang sesuai
  • 27.
    Khusus Prinsip PengemasanLimbah B3: 1.Limbah yang tidak saling cocok, dikemas dalam wadah yang berbeda. 2.Jumlah pengisian volume harus memper- timbangkan terjadinya pengembangan volume limbah, pembentukan gas atau kenaikan tekanan selama penyimpanan. 3.Ganti kemasan yang rusak, dengan kemasan yang baru
  • 28.
    4. Kemasan yangtelah berisi limbah, ditandai sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 5. Kegiatan pengemasan, penyimpanan dan pengumpulan, harus dilaporkan sebagai bagian dari pengelolaan limbah
  • 29.
    Contoh senyawa Kimia,serta akibatnya jika dicampur dengan senyawa lain yang inkompatibel Senyawa Tidak boleh dicampur dengan Eksplosif atau menghasil kan panas, gas atau substansi yang mudah menyala Menghasil kan gas toksik, atau tidak stabil atau substansi berbahaya Asam asetat Alkohol, asam kromat, etilen glikol,asam nitrat, asam perklorat, peroksida, permanganat x
  • 34.
    1. Gangguan kesehatanmanusia ; bakteri, virus, senyawa-senyawa kimia, desinfektan, serta logam seperti Hg, Pb, Chrom dan Cd yang berasal dari bagian Pelayanan 2. Gangguan genetik dan reproduksi ; Pestisida dan Bahan Radioaktif 3. Menyebabkan infeksi silang; menjadi media penyebaran mikroorganisme pembawa penyakit melalui proses infeksi silang baik dari pasien ke pasien, dari pasien ke petugas atau dari petugas ke pasien 4. Kerusakan harta benda, disebabkan oleh garam-garam terlarut (korosif, karat) yang terkandung dalam air berlumpur yang dapat menurunkan kualitas bangunan di sekitar rumah sakit 5. Gangguan atau kerusakan tanaman dan binatang, karena senyawa nitrat (asam, basa dan garam kuat), bahan kimia, desinfektan, logam nutrient tertentu dan fosfor. 6. kerugian ekomoni, baik terhadap pembiayaan operasional dan pemeliharaan, seperti kebutuhan biaya kompensasi pencemaran lingkungan dan orang yang kesehatannya terganggu karena pencemaran lingkungan. 7. Gangguan kenyamanan dan estetika, dari sedimen, larutan, bau phenol, bau feses, urin dan rasa dari bahan kimia organik. Dampak Limbah Yang Tidak Dikelola Dengan Benar
  • 35.
  • 36.
  • 37.

Editor's Notes

  • #14 Redok  Lumpur aktif, penambahan oksigen (aerasi)