PARAMETER HIDROLOGI
Curah Hujan (Pola, data hujan, pengukuran),
Intensitas Hujan (Mononobe, ishiguro, talbot, dll),
Rain forecasting
Curah Hujan
Presipitasi adalah titik air yang jatuh dari awan melalui lapisan atmoster
ke permukaan bumi secara proses alami. Di daerah tropis termasuk di
Indonesia yang memberikan sumbangan paling besar adalah hujan,
sehingga seringkali hujanlah yang dianggap sebagai presipitasi.
Hujan turun ke permukaan bumi selalu didahului dengan adanya
pembentukan awan, karena adanya penggabungan uap air yang ada di
atmosfer melalui proses kondensasi, maka terbentuklah butir-butir air
yang bila lebih berat dari gravitasi akan jatuh berupa hujan.
Curah Hujan
Proses terjadinya hujan menurut teori Kristal Es secara garis besar dapat
diterangkan dengan teori “Bergaron” yang dikemukakan oleh seorang ahli
meteorologi dari Skandinavia untuk mempelajari proses teori kristal es sekitar
tahun 1930. Teori ini mengemukakan bahwa pada kondisi udara di bawah suhu
0o
C, tekanan air di atas kristal akan menurun lebih cepat dibandingkan suhu di
atas yang didinginkan antara suhu - 5o
C dan -25o
C. Sehingga apabila kristal es
dan butir-butir air yang didinginkan berada secara bersamaan terjadi di awan,
maka titik uap air akan cenderung menyublim langsung di atas kristal es.
Selanjutnya kristal es tersebut akan terbentuk menjadi lebih besar oleh adanya
endapan dari uap air. yang pada akhirnya es jatuh dari awan ke permukaan
bumi berbentuk butiran es. Jatuhnya butir-butir es melalui awan ini akan
mengakibatkan butir-butir es dapat terus tumbuh dengan proses kondensasi
dan bergabung dengan butir-butir yang lain.
Apabila suhu udara di bawah awan lebih tinggi dari titik beku es, maka es akan
mencair dan jatuh sebagai hujan.
Curah Hujan
Jumlah air yang jatuh di permukaan bumi dapat diukur dengan
menggunakan alat penakar hujan. Distribusi hujan dalam ruang dapat
diketahui dengan mengukur hujan di beberapa lokasi pada daerah yang
ditinjau, sedangkan distribusi waktu dapat diketahui dengan mengukur
hujan sepanjang waktu.
Hujan merupakan sumber dari semua air yang mengalir di sungai dan di
dalam tampungan baik di atas maupun d bawah permukaan tanah.
Jumlah dan variasi debit sungai tergantung pada jumlah, intensitas, dan
distribusi hujan. Terdapat hubungan antara debit sungai dan curah
hujan yang jatuh di DAS yang bersangkutan. Apabila data pencatatan
debit tidak ada, data pencatatan hujan dapat digunakan untuk
memperkirakan debit aliran.
Pengukuran Hujan
1. Alat Ukur Hujan Manual
Alat ukur hujan manual atau tidak otomatis diamati
oleh pengamat lapangan dan data hujannya diukur
biasanya sekitar pukul 07.00 pagi.
Hasil pencatatan hari itu merupakan hasil pencatatan
data yang ditimbulkan oleh kejadian hujan kemarin.
Data hasil pencatatan hujan harian biasanya digunakan
untuk berbagai perhitungan :
a. Perhitungan jumlah ketersediaan air di daerah
aliran sungai.
b. Perhitungan penentuan tipe iklim suatu daerah
untuk kepentingan pertanian.
c. Penentuan periode bulan basah dan bulan kering.
d. Penentuan hujan harian maksimum untuk banjir
rencana tertentu.
e. Perhitungan neraca air.
Pengukuran Hujan
2. Alat Ukur Hujan Otomatis
Alat ukur hujan otomatis banyak tipenya, tetapi
prinsipnya adalah sama yaitu mencatat
hubungan jumlah hujan dengan waktu secara
otomatis pada kertas grafik. Kertas grafik dapat
diganti setiap hari, minggu, bahkan setiap bulan
sekali tergantung tipe alat ukur hujan otomatis.
Kertas grafik jumlah hujan persatuan waktu
terjadinya hujan dapat dibaca sbagai intensitas
hujan.
Data hasil pencatatan hujan otomatis ini biasanya
digunakan untuk berbagai perhitungan :
a. Sama dengan alat hujan manual.
b. Penentuan besarnya intensitas hujan.
c. Penentuan distribusi hujan jam-jaman.
Alat Ukur Hujan Otomatis Tipe Hellman
Perencanaan jaringan stasiun/pos pengukuran hujan adalah sangat
penting di dalam hidrologi karena jaringan tersebut akan memberikan
besarnya hujan yang jatuh di DAS. Data hujan yang diperoleh dapat
digunakan untuk analisis banjir, penentuan banjir rencana, analisis
ketersediaan air di sungai dll. Untuk mendapatkan hasil yang dapat
dipercaya, stasiun/pos pencatat hujan harus terdistribusi secara
merata. Selain itu jumlah stasiun/pos hujan yang terpasang di dalam
DAS jangan terlalu banyak yang berakibat mahalnya biaya, ataupun
jangan terlalu sedikit yang menyebabkan hasil pencatatan hujan tidak
dapat dipercaya.
Jaringan Pengukuran Hujan
Daerah Kerapatan Jaringan Minimum
(km2/stasiun)
Daerah datar beriklim sedang, Laut Tengah dan tropis
Kondisi normal
Daerah pegunungan
600 - 900
100 - 250
Pulau-pulau kecil bergunung (< 20.000 km2) 25
Daerah kering dan kutub 1.500 - 10.000
Jaringan Pengukuran Hujan
Sumber : Organisasi Meteorologi Dunia ( World Meteorological
Organization, WMO)
Kerapatan jaringan stasiun/ pos hujan
Jaringan Pengukuran Hujan
DAS Mayang
Jaringan Pengukuran Hujan
DAS Mujur
Jaringan Pengukuran Hujan
DAS Bondoyudo
Data Hujan
Kode stasiun 27 Wilayah Sungai : Bondoyudo Bedadung Kode Database
Lintang Selatan -8.264 Desa : Ngampelrejo Tahun pendirian
Bujur Timur 113.491 Kecamatan : Jombang Tipe Alat : Biasa(MRG)
Elevasi 8 m dpl Kabupaten : Jember Pengelola
1 1 24 34 0 2 0 0 0 0 0 0 7
2 0 10 4 58 0 0 0 0 0 0 0 0
3 0 0 1 0 14 0 0 0 0 0 0 8
4 0 0 1 2 12 0 0 0 0 0 0 0
5 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 0 8 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
7 0 0 64 3 0 0 0 0 0 0 0 3
8 0 41 4 10 0 0 0 0 0 0 0 33
9 0 2 22 0 0 0 0 0 0 0 0 5
10 0 22 7 0 0 0 0 0 0 0 0 3
11 1 1 5 0 0 0 0 0 0 0 2 17
12 0 31 1 8 10 0 0 0 0 0 8 3
13 27 5 24 7 60 0 0 0 0 0 9 34
14 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 11
15 20 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 5
16 2 0 0 41 0 0 0 0 0 0 0 0
17 8 0 18 1 0 0 0 0 0 0 0 0
18 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 23
19 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2
20 5 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
21 1 0 4 3 0 0 0 0 0 0 0 0
22 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
23 3 4 10 24 0 0 0 0 0 0 0 0
24 1 54 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0
25 0 8 17 8 0 4 0 0 0 0 0 2
26 2 0 27 74 0 2 0 0 0 0 0 31
27 0 1 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
29 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
31 0 0 0 0 0 0 0
BULANAN 77 230 260 246 98 6 0 0 0 0 27
DATA CURAH HUJAN HARIAN
Tahun 2015
NAMA STASIUN Pladingan
187
Periode 1 1 108 138 73 28 0 0 0 0 0 0 59
Periode 2 64 55 48 61 70 0 0 0 0 0 25 95
Periode 3 12 67 74 112 0 6 0 0 0 0 2 33
Maksimum 27 54 64 74 60 4 0 0 0 0 9 34
Hari Hujan 15 16 18 15 5 2 0 0 0 0 6 15
Tahunan 1131
Hujan Maks 74
Hari Hujan 92
TANGGAL
B U L A N (mm)
JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
140
160
Periode 1
Periode 2
1-Jan 1-Feb1-Mar 1-Apr 1-May 1-Jun 1-Jul 1-Aug 1-Sep 1-Oct 1-Nov 1-Dec
-10
0
10
20
30
40
50
60
70
80
Hujan harian
JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
0
50
100
150
200
250
300
27
54
64
74
60
4 0 0 0 0 9
34
77
230
260
246
98
6 0 0 0 0
27
187
Harian Maximum
Hujan Bulanan
JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
0
5
10
15
20
15 16
18
15
5
2
0 0 0 0
6
15
Jumlah hari hujan
Perhitungan Hujan Rata-rata
• Curah hujan yang tercatat di stasiun penakar hujan merupakan data di titik
tersebut.
• Untuk daerah luas curah hujan tidak merata dan hanya tercatat di titik
stasiun, perlu dihitung curah hujan rerata wilayah/kawasan/daerah
dengan satuan mm (Sosrodasono, 2003)
• Curah hujan wilayah adalah untuk penyusunan suatu rancangan
pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir (Sosrodarsono &
Takeda, 1977
• Terdapat 3 metode mencari hujan kawasan:
1. Metode Rata-rata Aljabar
2. Metode Poligon Thiessen
3. Metode Garis isohyet
Perhitungan Hujan Rata-rata
1. Metode Rerata Aritmatik (Aljabar)
Merupakan metode yang paling tidak teliti
Memberikan hasil yang cukup baik jika penyebaran hujan merata, serta hujan
tidak terlalu bervariasi.
P: curah hujan rerata
P1, P2,.. Pn curah hujan di stasiun 1, 2, n P1
P2
P3
P =
Perhitungan Hujan Rata-rata
2. Metode Poligon Thiessen
• Minimal 3 statiun pengamatan dan luas
sedang
• Berdasarkan rata-rata timbang masing-
masing penakar hujan mempunyai daerah
pengaruh yang dibentuk dengan
menggambarkan garis-garis sumbu tegak
lurus terhadap garis penghubung di antara
dua buah pos penakar.
• Hitungan curah hujan rerata dilakukan
dengan memperhitungkan daerah pengaruh
dari tiap stasiun (Triatmodjo, 2013
P =
P= Curah hujan maksimum rata-rata (mm)
P1, P2,.......,Pn = Curah hujan pada stasiun 1,2,.n
A1, A2, ...,An = Luas daerah pada poligon 1,2,......,n (Km2
)
P1
P2
P3
Perhitungan Hujan Rata-rata
• Cara menghitung poligon Thiessen
• 1. Stasiun hujan digambar pada peta daerah yang ditinjau.
2. Stasiun-stasiun tersebut dihubungkan dengan garis lurus, sehingga akan
didapatkan bentuk segitiga.
3.Tiap-tiap sisi segitiga dibuat garis berat sehingga saling bertemu dan membentuk
suatu poligon yang mengelilingi tiap stasiun. Tiap stasiun mewakili luasan yang
dibentuk oleh poligon, sedangkan untuk stasiun yang berada di dekat batas daerah,
garis batas daerah membentuk batas tertutup dari poligon.
4. Luas tiap poligon diukur, kemudian dikalikan dengan kedalaman hujan di tiap
poligon. Hasil jumlah hitungan tersebut dibagi dengan total luas daerah yang
ditinjau.
Perhitungan Hujan Rata-rata
3. Metode Isohyet
• isohyet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan
tinggi/kedalaman hujan yang sama
• Hujan pada suatu daerah di antara dua garis Isohyet adalah merata dan
sama dengan nilai rata-rata dari kedua garis Isohyet tersebut.
• Memerlukan jaringan pos penakar yang relatif lebih banyak dan merata
• Paling teliti
• luasan DAS besar (> 5000 km2)
Perhitungan Hujan Rata-rata
• Metode pembuatan garis Isohiet
sebagai berikut:
1. Pada peta yang ditinjau,
digambarkan lokasi daerah hujan dan
kedalaman hujan.
2. Di stasiun hujan yang saling
berdampingan dinilai kedalaman
hujannya dan dibuat interpolasinya.
Kemudian hasil interpolasi yang
mewakili kedalaman hujan yang sama
dihubungkan satu sama lain.
3. Luas daerah diantara 2 garis isohiet
diukur luasnya, dan dikalikan dengan
nilai rerata di kedua garis isohiet.
Kemudian jumlah dari hasil hitungan
tersebut dibagi dengan total luasan
daerah yang ditinjau.
p = hujan rerata kawasan
Ai = luasan dari titik i
Ii = garis isohiet ke i
Perhitungan Hujan Rata-rata
Contoh
Hujan harian tanggal 14 September 2022 pada stasiun A = 60 mm,
stasiun B = 80 mm, stasiun C = 90 mm. Hitunglah jumlah hujan
rata-rata harian dengan menggunakan metode aritmatik dan
thiessen polygon.
Luas area : A = 120 km2, B = 100 km2, C = 130 km2
Intensitas Hujan
Intensitas hujan: jumlah curah hujan yang dinyatakan dalam tinggi
hujan atau air hujan tiap satuan waktu , yang terjadi pada satu kurun
waktu air hujan terkonsentrasi ( Wesli, 2008)
>>> satuannya: (mm/jam atau mm/menit)
Hujan yang meliputi daerah luas, jarang sekali dengan intensitas tinggi,
tetapi dapat berlangsung dengan durasi cukup panjang. Kombinasi dari
intensitas hujan yang tinggi dengan durasi panjang jarang terjadi, tetapi
apabila terjadi berarti sejumlah besar volume air bagaikan
ditumpahkan dari langit. (Suroso, 2006)
Intensitas Hujan
Perhitungan intensitas hujan sebagai langkah preventif>> menentukan
besarnya debit banjir rencana.
Q = 0,278 .C.I.A
Q: Debit (m3
/detik)
C : Koefisien aliran
I : Intensitas curah hujan (mm/jam)
A : luas DAS (km2)
Intensitas Hujan
Metode perhitungan Intensitas Hujan:
1. Mononobe
2. Van Breen
3. Haspers dan Der Weduwen
Intensitas Hujan
1. Metode Mononobe
Apabila data hujan
jangka pendek
tidak tersedia, yang
ada hanya data
hujan harian, maka
intensitas dapat
dihitung dengan
rumus Mononobe
I : Intensitas curah hujan (mm/th)
tc : lama/durasi curah hujan (jam)
R24 : curah hujan rencana dalam suatu periode ulang
R24 , dapat diartikan sebagai curah hujan dalam 24 jam (mm/hari)
Intensitas Hujan
Contoh
Hitung curah hujan harian selama 5 menit
Diketahui curah hujan selama satu hari bernilai
56 mm/hari …= R24 • Ubah satuan waktu dari
menit menjadi jam
• durasi selama 5 menit
menjadi durasi selama 5/60
atau selama 0,833 jam.
Intensitas Hujan
2. Metode Van Breen
• IT : Intensitas curah hujan pada suatu periode ulang (T tahun)
• RT : Tinggi curah hujan pada periode ulang T tahun (mm/hari)
Intensitas Hujan
Hitung curah hujan harian selama 5 menit
Diketahui curah hujan selama satu hari bernilai 56 mm/hari
Intensitas Hujan
3. Metode Haspers dan Der Weduwen
• Metode ini berasal dari kecenderungan curah hujan harian yang
dikelompokkan atas dasar anggapan bahwa curah hujan memiliki distribusi
yang simetris dengan durasi curah hujan lebih kecil dari 1 jam dan durasi
curah hujan lebih kecil dari 1 sampai 24 jam (Melinda, 2007)
Intensitas Hujan
Intensitas Hujan
I : Intensitas curah hujan (mm/jam)
R, Rt : Curah hujan menurut Haspers dan Der Weduwen
Xt : curah hujan harian maksimum yang terpilih (mm/hari)
Intensitas Hujan
• Contoh soal seperti pada metode Mononobe tapi ditambah
dengan durasi 60 menit
Hitung curah hujan harian selama 5 menit , dan 60 menit
Diketahui curah hujan selama satu hari bernilai 56 mm/hari
Intensitas Hujan
Intensitas Hujan
Tugas
Hitung curah hujan harian selama 20 menit (tc).
Diketahui curah hujan selama satu hari bernilai 50 mm+ X
mm/hari ( X: dua digit terakhir NIM)
Hitung intensitas hujan menggunkan Metode Mononobe.
Hitung intensitas hujan Metode Haspers dan Der Weduwen
ditambah dengan durasi 60 menit

Pertemuan 3_Hidrologi_Parameter Hidrologi.pptx

  • 1.
  • 2.
    Curah Hujan (Pola,data hujan, pengukuran), Intensitas Hujan (Mononobe, ishiguro, talbot, dll), Rain forecasting
  • 3.
    Curah Hujan Presipitasi adalahtitik air yang jatuh dari awan melalui lapisan atmoster ke permukaan bumi secara proses alami. Di daerah tropis termasuk di Indonesia yang memberikan sumbangan paling besar adalah hujan, sehingga seringkali hujanlah yang dianggap sebagai presipitasi. Hujan turun ke permukaan bumi selalu didahului dengan adanya pembentukan awan, karena adanya penggabungan uap air yang ada di atmosfer melalui proses kondensasi, maka terbentuklah butir-butir air yang bila lebih berat dari gravitasi akan jatuh berupa hujan.
  • 4.
    Curah Hujan Proses terjadinyahujan menurut teori Kristal Es secara garis besar dapat diterangkan dengan teori “Bergaron” yang dikemukakan oleh seorang ahli meteorologi dari Skandinavia untuk mempelajari proses teori kristal es sekitar tahun 1930. Teori ini mengemukakan bahwa pada kondisi udara di bawah suhu 0o C, tekanan air di atas kristal akan menurun lebih cepat dibandingkan suhu di atas yang didinginkan antara suhu - 5o C dan -25o C. Sehingga apabila kristal es dan butir-butir air yang didinginkan berada secara bersamaan terjadi di awan, maka titik uap air akan cenderung menyublim langsung di atas kristal es. Selanjutnya kristal es tersebut akan terbentuk menjadi lebih besar oleh adanya endapan dari uap air. yang pada akhirnya es jatuh dari awan ke permukaan bumi berbentuk butiran es. Jatuhnya butir-butir es melalui awan ini akan mengakibatkan butir-butir es dapat terus tumbuh dengan proses kondensasi dan bergabung dengan butir-butir yang lain. Apabila suhu udara di bawah awan lebih tinggi dari titik beku es, maka es akan mencair dan jatuh sebagai hujan.
  • 5.
    Curah Hujan Jumlah airyang jatuh di permukaan bumi dapat diukur dengan menggunakan alat penakar hujan. Distribusi hujan dalam ruang dapat diketahui dengan mengukur hujan di beberapa lokasi pada daerah yang ditinjau, sedangkan distribusi waktu dapat diketahui dengan mengukur hujan sepanjang waktu. Hujan merupakan sumber dari semua air yang mengalir di sungai dan di dalam tampungan baik di atas maupun d bawah permukaan tanah. Jumlah dan variasi debit sungai tergantung pada jumlah, intensitas, dan distribusi hujan. Terdapat hubungan antara debit sungai dan curah hujan yang jatuh di DAS yang bersangkutan. Apabila data pencatatan debit tidak ada, data pencatatan hujan dapat digunakan untuk memperkirakan debit aliran.
  • 6.
    Pengukuran Hujan 1. AlatUkur Hujan Manual Alat ukur hujan manual atau tidak otomatis diamati oleh pengamat lapangan dan data hujannya diukur biasanya sekitar pukul 07.00 pagi. Hasil pencatatan hari itu merupakan hasil pencatatan data yang ditimbulkan oleh kejadian hujan kemarin. Data hasil pencatatan hujan harian biasanya digunakan untuk berbagai perhitungan : a. Perhitungan jumlah ketersediaan air di daerah aliran sungai. b. Perhitungan penentuan tipe iklim suatu daerah untuk kepentingan pertanian. c. Penentuan periode bulan basah dan bulan kering. d. Penentuan hujan harian maksimum untuk banjir rencana tertentu. e. Perhitungan neraca air.
  • 7.
    Pengukuran Hujan 2. AlatUkur Hujan Otomatis Alat ukur hujan otomatis banyak tipenya, tetapi prinsipnya adalah sama yaitu mencatat hubungan jumlah hujan dengan waktu secara otomatis pada kertas grafik. Kertas grafik dapat diganti setiap hari, minggu, bahkan setiap bulan sekali tergantung tipe alat ukur hujan otomatis. Kertas grafik jumlah hujan persatuan waktu terjadinya hujan dapat dibaca sbagai intensitas hujan. Data hasil pencatatan hujan otomatis ini biasanya digunakan untuk berbagai perhitungan : a. Sama dengan alat hujan manual. b. Penentuan besarnya intensitas hujan. c. Penentuan distribusi hujan jam-jaman. Alat Ukur Hujan Otomatis Tipe Hellman
  • 8.
    Perencanaan jaringan stasiun/pospengukuran hujan adalah sangat penting di dalam hidrologi karena jaringan tersebut akan memberikan besarnya hujan yang jatuh di DAS. Data hujan yang diperoleh dapat digunakan untuk analisis banjir, penentuan banjir rencana, analisis ketersediaan air di sungai dll. Untuk mendapatkan hasil yang dapat dipercaya, stasiun/pos pencatat hujan harus terdistribusi secara merata. Selain itu jumlah stasiun/pos hujan yang terpasang di dalam DAS jangan terlalu banyak yang berakibat mahalnya biaya, ataupun jangan terlalu sedikit yang menyebabkan hasil pencatatan hujan tidak dapat dipercaya. Jaringan Pengukuran Hujan
  • 9.
    Daerah Kerapatan JaringanMinimum (km2/stasiun) Daerah datar beriklim sedang, Laut Tengah dan tropis Kondisi normal Daerah pegunungan 600 - 900 100 - 250 Pulau-pulau kecil bergunung (< 20.000 km2) 25 Daerah kering dan kutub 1.500 - 10.000 Jaringan Pengukuran Hujan Sumber : Organisasi Meteorologi Dunia ( World Meteorological Organization, WMO) Kerapatan jaringan stasiun/ pos hujan
  • 10.
  • 11.
  • 12.
  • 13.
    Data Hujan Kode stasiun27 Wilayah Sungai : Bondoyudo Bedadung Kode Database Lintang Selatan -8.264 Desa : Ngampelrejo Tahun pendirian Bujur Timur 113.491 Kecamatan : Jombang Tipe Alat : Biasa(MRG) Elevasi 8 m dpl Kabupaten : Jember Pengelola 1 1 24 34 0 2 0 0 0 0 0 0 7 2 0 10 4 58 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 1 0 14 0 0 0 0 0 0 8 4 0 0 1 2 12 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 8 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 64 3 0 0 0 0 0 0 0 3 8 0 41 4 10 0 0 0 0 0 0 0 33 9 0 2 22 0 0 0 0 0 0 0 0 5 10 0 22 7 0 0 0 0 0 0 0 0 3 11 1 1 5 0 0 0 0 0 0 0 2 17 12 0 31 1 8 10 0 0 0 0 0 8 3 13 27 5 24 7 60 0 0 0 0 0 9 34 14 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 11 15 20 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 5 16 2 0 0 41 0 0 0 0 0 0 0 0 17 8 0 18 1 0 0 0 0 0 0 0 0 18 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 23 19 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 20 5 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 21 1 0 4 3 0 0 0 0 0 0 0 0 22 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 23 3 4 10 24 0 0 0 0 0 0 0 0 24 1 54 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 25 0 8 17 8 0 4 0 0 0 0 0 2 26 2 0 27 74 0 2 0 0 0 0 0 31 27 0 1 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 29 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 31 0 0 0 0 0 0 0 BULANAN 77 230 260 246 98 6 0 0 0 0 27 DATA CURAH HUJAN HARIAN Tahun 2015 NAMA STASIUN Pladingan 187 Periode 1 1 108 138 73 28 0 0 0 0 0 0 59 Periode 2 64 55 48 61 70 0 0 0 0 0 25 95 Periode 3 12 67 74 112 0 6 0 0 0 0 2 33 Maksimum 27 54 64 74 60 4 0 0 0 0 9 34 Hari Hujan 15 16 18 15 5 2 0 0 0 0 6 15 Tahunan 1131 Hujan Maks 74 Hari Hujan 92 TANGGAL B U L A N (mm) JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES 140 160 Periode 1 Periode 2 1-Jan 1-Feb1-Mar 1-Apr 1-May 1-Jun 1-Jul 1-Aug 1-Sep 1-Oct 1-Nov 1-Dec -10 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Hujan harian JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES 0 50 100 150 200 250 300 27 54 64 74 60 4 0 0 0 0 9 34 77 230 260 246 98 6 0 0 0 0 27 187 Harian Maximum Hujan Bulanan JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES 0 5 10 15 20 15 16 18 15 5 2 0 0 0 0 6 15 Jumlah hari hujan
  • 14.
    Perhitungan Hujan Rata-rata •Curah hujan yang tercatat di stasiun penakar hujan merupakan data di titik tersebut. • Untuk daerah luas curah hujan tidak merata dan hanya tercatat di titik stasiun, perlu dihitung curah hujan rerata wilayah/kawasan/daerah dengan satuan mm (Sosrodasono, 2003) • Curah hujan wilayah adalah untuk penyusunan suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir (Sosrodarsono & Takeda, 1977 • Terdapat 3 metode mencari hujan kawasan: 1. Metode Rata-rata Aljabar 2. Metode Poligon Thiessen 3. Metode Garis isohyet
  • 15.
    Perhitungan Hujan Rata-rata 1.Metode Rerata Aritmatik (Aljabar) Merupakan metode yang paling tidak teliti Memberikan hasil yang cukup baik jika penyebaran hujan merata, serta hujan tidak terlalu bervariasi. P: curah hujan rerata P1, P2,.. Pn curah hujan di stasiun 1, 2, n P1 P2 P3 P =
  • 16.
    Perhitungan Hujan Rata-rata 2.Metode Poligon Thiessen • Minimal 3 statiun pengamatan dan luas sedang • Berdasarkan rata-rata timbang masing- masing penakar hujan mempunyai daerah pengaruh yang dibentuk dengan menggambarkan garis-garis sumbu tegak lurus terhadap garis penghubung di antara dua buah pos penakar. • Hitungan curah hujan rerata dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh dari tiap stasiun (Triatmodjo, 2013 P = P= Curah hujan maksimum rata-rata (mm) P1, P2,.......,Pn = Curah hujan pada stasiun 1,2,.n A1, A2, ...,An = Luas daerah pada poligon 1,2,......,n (Km2 ) P1 P2 P3
  • 17.
    Perhitungan Hujan Rata-rata •Cara menghitung poligon Thiessen • 1. Stasiun hujan digambar pada peta daerah yang ditinjau. 2. Stasiun-stasiun tersebut dihubungkan dengan garis lurus, sehingga akan didapatkan bentuk segitiga. 3.Tiap-tiap sisi segitiga dibuat garis berat sehingga saling bertemu dan membentuk suatu poligon yang mengelilingi tiap stasiun. Tiap stasiun mewakili luasan yang dibentuk oleh poligon, sedangkan untuk stasiun yang berada di dekat batas daerah, garis batas daerah membentuk batas tertutup dari poligon. 4. Luas tiap poligon diukur, kemudian dikalikan dengan kedalaman hujan di tiap poligon. Hasil jumlah hitungan tersebut dibagi dengan total luas daerah yang ditinjau.
  • 18.
    Perhitungan Hujan Rata-rata 3.Metode Isohyet • isohyet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan tinggi/kedalaman hujan yang sama • Hujan pada suatu daerah di antara dua garis Isohyet adalah merata dan sama dengan nilai rata-rata dari kedua garis Isohyet tersebut. • Memerlukan jaringan pos penakar yang relatif lebih banyak dan merata • Paling teliti • luasan DAS besar (> 5000 km2)
  • 19.
    Perhitungan Hujan Rata-rata •Metode pembuatan garis Isohiet sebagai berikut: 1. Pada peta yang ditinjau, digambarkan lokasi daerah hujan dan kedalaman hujan. 2. Di stasiun hujan yang saling berdampingan dinilai kedalaman hujannya dan dibuat interpolasinya. Kemudian hasil interpolasi yang mewakili kedalaman hujan yang sama dihubungkan satu sama lain. 3. Luas daerah diantara 2 garis isohiet diukur luasnya, dan dikalikan dengan nilai rerata di kedua garis isohiet. Kemudian jumlah dari hasil hitungan tersebut dibagi dengan total luasan daerah yang ditinjau. p = hujan rerata kawasan Ai = luasan dari titik i Ii = garis isohiet ke i
  • 20.
    Perhitungan Hujan Rata-rata Contoh Hujanharian tanggal 14 September 2022 pada stasiun A = 60 mm, stasiun B = 80 mm, stasiun C = 90 mm. Hitunglah jumlah hujan rata-rata harian dengan menggunakan metode aritmatik dan thiessen polygon. Luas area : A = 120 km2, B = 100 km2, C = 130 km2
  • 21.
    Intensitas Hujan Intensitas hujan:jumlah curah hujan yang dinyatakan dalam tinggi hujan atau air hujan tiap satuan waktu , yang terjadi pada satu kurun waktu air hujan terkonsentrasi ( Wesli, 2008) >>> satuannya: (mm/jam atau mm/menit) Hujan yang meliputi daerah luas, jarang sekali dengan intensitas tinggi, tetapi dapat berlangsung dengan durasi cukup panjang. Kombinasi dari intensitas hujan yang tinggi dengan durasi panjang jarang terjadi, tetapi apabila terjadi berarti sejumlah besar volume air bagaikan ditumpahkan dari langit. (Suroso, 2006)
  • 22.
    Intensitas Hujan Perhitungan intensitashujan sebagai langkah preventif>> menentukan besarnya debit banjir rencana. Q = 0,278 .C.I.A Q: Debit (m3 /detik) C : Koefisien aliran I : Intensitas curah hujan (mm/jam) A : luas DAS (km2)
  • 23.
    Intensitas Hujan Metode perhitunganIntensitas Hujan: 1. Mononobe 2. Van Breen 3. Haspers dan Der Weduwen
  • 24.
    Intensitas Hujan 1. MetodeMononobe Apabila data hujan jangka pendek tidak tersedia, yang ada hanya data hujan harian, maka intensitas dapat dihitung dengan rumus Mononobe I : Intensitas curah hujan (mm/th) tc : lama/durasi curah hujan (jam) R24 : curah hujan rencana dalam suatu periode ulang R24 , dapat diartikan sebagai curah hujan dalam 24 jam (mm/hari)
  • 25.
    Intensitas Hujan Contoh Hitung curahhujan harian selama 5 menit Diketahui curah hujan selama satu hari bernilai 56 mm/hari …= R24 • Ubah satuan waktu dari menit menjadi jam • durasi selama 5 menit menjadi durasi selama 5/60 atau selama 0,833 jam.
  • 26.
    Intensitas Hujan 2. MetodeVan Breen • IT : Intensitas curah hujan pada suatu periode ulang (T tahun) • RT : Tinggi curah hujan pada periode ulang T tahun (mm/hari)
  • 27.
    Intensitas Hujan Hitung curahhujan harian selama 5 menit Diketahui curah hujan selama satu hari bernilai 56 mm/hari
  • 28.
    Intensitas Hujan 3. MetodeHaspers dan Der Weduwen • Metode ini berasal dari kecenderungan curah hujan harian yang dikelompokkan atas dasar anggapan bahwa curah hujan memiliki distribusi yang simetris dengan durasi curah hujan lebih kecil dari 1 jam dan durasi curah hujan lebih kecil dari 1 sampai 24 jam (Melinda, 2007)
  • 29.
  • 30.
    Intensitas Hujan I :Intensitas curah hujan (mm/jam) R, Rt : Curah hujan menurut Haspers dan Der Weduwen Xt : curah hujan harian maksimum yang terpilih (mm/hari)
  • 31.
    Intensitas Hujan • Contohsoal seperti pada metode Mononobe tapi ditambah dengan durasi 60 menit Hitung curah hujan harian selama 5 menit , dan 60 menit Diketahui curah hujan selama satu hari bernilai 56 mm/hari
  • 32.
  • 33.
  • 34.
    Tugas Hitung curah hujanharian selama 20 menit (tc). Diketahui curah hujan selama satu hari bernilai 50 mm+ X mm/hari ( X: dua digit terakhir NIM) Hitung intensitas hujan menggunkan Metode Mononobe. Hitung intensitas hujan Metode Haspers dan Der Weduwen ditambah dengan durasi 60 menit