EKONOMI
PERTANIAN
Fakultas Agrobisnis & Rekayasa Pertanian
Universitas Subang
PERTEMUAN 3 & 4
larassirlysafitri@yahoo.com
PRINSIP-PRINSIP EKONOMI
DALAM USAHATANI
DEFINISI USAHATANI
 Dr. Mosher memberikan definisi farm (yang
diterjemahkan oleh Krisnandi menjadi usahatani)
sebagai suatu tempat atau bagian dari permukaan bumi
dimana pertanian diselenggarakan oleh seorang petani
tertentu, baik seorang pemilik, penyakap atau manajer
yang digaji.
 Usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber alam
yang terdapat di suatu tempat yang diperlukan untuk
produksi pertanian seperti tubuh tanah dan air,
perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan atas tanah itu,
sinar matahari, bangunan-bangunan yang didirikan di
atas tanah dan sebagainya.
 Usahatani dapat berupa usaha bercocok tanam atau
memelihara ternak.
... Lanjutan
 Bagian dari ilmu ekonomi pertanian yang mempelajari cara-
cara petani menyelenggarakan usahatani disebut farm
management yang dapat diterjemahkan menjadi ilmu
usahatani.
 Farm management sebagaimana mulai dikembangkan di
Amerika Serikat, tidak lain adalah prinsip-prinsip ilmu
ekonomi mikro yang diterapkan pada produksi pertanian.
 Di Indonesia terlihat perbedaan yang amat besar antara
keadaan pertanian rakyat (usahatani) dan perkebunan tidak
hanya dalam luasnya usaha, tetapi juga dalam tujuan
produksi dan cara-cara mengusahakannya  ilmu
pengelolaan perkebunan (estate management).
 Courtenay mengatakan bahwa suatu perkebunan lebih
mendekati suatu pabrik (factory) daripada usahatani (farm).
Manajemen Usahatani
Dalam Ilmu Ekonomi dikatakan bahwa petani
membandingkan antara hasil yang diharapkan akan
diterima pada waktu panen (penerimaan/revenue)
dengan biaya (pengorbanan, cost) yang harus
dikeluarkannya.
Hasil yang diperoleh petani pada saat panen
disebut produksi, sedangkan biaya yang
dikeluarkan disebut biaya produksi.
Usahatani yang baik adalah usahatani yang
produktif dan efisien. Usahatani yang produktif
berarti usahatani tersebut produktivitasnya
tinggi.
Pengertian produktivitas merupakan penggabungan antara konsepsi efisiensi
usaha (fisik) dengan kapasitas tanah. Efisiensi fisik mengukur banyaknya hasil
produksi (output) yang dapat diperoleh dari satu kesatuan input.
Kapasitas tanah menggambarkan kemampuan tanah itu untuk menyerap
tenaga kerja dan modal sehingga memberikan hasil produksi bruto yang
sebesar-besarnya pada tingkatan teknologi tertentu.
Secara teknis,
PRODUKTIVITAS = EFISIENSI (USAHA) x KAPASITAS (TANAH)
Dalam ekonomi pertanian dibedakan pengertian produktivitas dan pengertian
produktivitas ekonomis daripada usahatani. Dalam pengertian ekonomis, maka
letak atau jarak usahatani dari pasar penting sekali artinya.
Fungsi Produksi
Fungsi produksi
adalah suatu fungsi
yang menunjukkan
hubungan antara
hasil produksi fisik
(output) dengan
faktor-faktor
produksi (input)
Secara matematis, fungsi
produksi ditulis sebagai:
Y = f (x1,x2……. xn)
Dimana, Y = hasil produksi
fisik
x1....xn = faktor-faktor
produksi
Gambar Fungsi Produksi
y
x
Efisiensi Usahatani
Efisiensi produksi 
banyaknya hasil produksi
fisik yang dapat diperoleh
dari satu kesatuan faktor
produksi (input)
Pada setiap akhir panen,
petani akan menghitung
berapa hasil bruto
produksinya (luas tanah x
hasil/satuan luas)
Hasil bruto - biaya2 (bibit,
pengolahan tanah, upah
menanam, upah hasil, bagi
hasil, dll) = hasil bersih
(netto)
Apabila hasil netto
usahatani besar/tinggi,
maka mencerminkan rasio
yang baik dari nilai hasil
dan biaya.
MAKIN TINGGI RASIO
TERSEBUT  USAHATANI
MAKIN EFISIEN
• Biaya produksi dapat dibagi menjadi dua, yaitu biaya-
biaya yang berupa uang tunai dan biaya-biaya dalam
bentuk natura (imbalan berupa barang seperti beras,
gula, dll).
• Biaya uang contohnya upah kerja untuk
persiapan/penggarapan tanah, pembelian pupuk dan
pestisida, dsb.
• Biaya in-natura contohnya biaya-biaya panen, bagi
hasil, sumbangan, dan mungkin pajak-pajak.
Biaya-biaya Produksi
Biaya Uang dan Biaya In-natura
• Biaya tetap adalah jenis biaya yang besar kecilnya
tidak tergantung pada besar kecilnya produksi,
misalnya sewa atau bunga tanah yang berupa
uang.
• Biaya variabel adalah jenis biaya yang besar
kecilnya tergantung atau berhubungan langsung
dengan besar kecilnya produksi, misal
pengeluaran untuk bibit, pupuk, pestisida, dll.
• Pengertian biaya tetap dan biaya variabel hanya
pengertian jangka pendek, sebab dalam jangka
panjang biaya tetap dapat berubah menjadi biaya
variabel.
Biaya Tetap dan Biaya Variabel
• Biaya rata-rata = Biaya produksi total
Jumlah produksi
• Angka biaya rata-rata sangat sulit disusun karena
antar daerah yang satu dengan yang lain tidak
sama, bahkan antar petani pun dapat berbeda 
kehilangan arti jika digunakan sebagai bahan
kebijakan yang benar-benar realistis bagi seluruh
negara.
• Biaya batas yaitu tambahan biaya yang harus
dikeluarkan petani untuk menghasilkan satu
kesatuan tambahan hasil produksi.
• Pendapatan marjinal yaitu tambahan
pendapatan yang didapat dengan penambahan
satu kesatuan biaya.
Biaya Rata-rata & Biaya Marjinal
Contoh Hubungan antara Biaya Rata-rata dan
Biaya Marjinal terhadap Keuntungan Petani
Analisa Pendapatan Marjinal VS Analisa Biaya Marjinal
• Pendapatan marjinal lebih
penting
• Biaya tidak terlalu menjadi fokus
krn seringkali masih
menggunakan sumberdaya
keluarga
Petani
Subsisten
• Biaya marjinal lebih penting, krn
orientasinya pasar dan
keuntungan
• Petani komersial akan sangat
berkepentingan memproduksi
produk semurah-murahnya
Petani
Komersial
• Nyatanya, petani
Indonesia  transisi
dari subsisten ke
komersial, maka
unsur biaya produksi
sudah mulai masuk
perhitungan.
• Petani mulai berpikir
tidak hanya
memproduksi
semurah-murahnya,
tapi bagaimana
mencapai hasil
produksi sebesar-
besarnya dengan
sekaligus berusaha
menekan biaya
produksi.
Intensifikasi Pertanian
• Intensifikasi adalah penggunaan lebih banyak
faktor produksi tenaga kerja dan modal atas
sebidang tanah tertentu untuk mencapai hasil
produksi yang lebih besar.
• Ekstensifikasi adalah perluasan tanah
pertanian dengan cara mengadakan
pembukaan tanah-tanah pertanian baru
The Law of Diminishing Returns (LDR)
(Hukum kenaikan hasil yang semakin
berkurang)
Bila satu faktor produksi ditambah terus
dalam suatu proses produksi, ceteris paribus,
maka mula-mula terjadi kenaikan hasil,
kemudian kenaikan hasil itu menurun, lalu
kenaikan hasil nol dan akhirnya kenaikan
hasil negatif.
Ceteris paribus artinya hal-hal lain bersifat tetap, faktor produksi lain
tetap jumlahnya, hanya satu variabel tertentu yang berubah
jumlahnya.
Istilah-istilah Produksi dalam LDR :
• TP (total product) atau produksi total yaitu jumlah
produksi pada level pemberian input tertentu. Input adalah
faktor produksi atau bagian/unsur faktor produksi,
misalnya input pupuk adalah bagian dari faktor produksi
modal, luas lahan adalah bagian dari faktor produksi alam.
• AP (average product) hasil rata-rata atau produksi rata-
rata yaitu jumlah hasil dibagi dengan jumlah input yang
dipakai. Kalau AP tenagakerja (labor) disingkat dengan APL
(Average Product of Labor), kalau AP modal atau capital
disingkat dengan APC (Average Product of Capital).
• MP (marginal product) atau produk marjinal yaitu
kenaikan hasil yang disebabkan oleh kenaikan atau
pertambahan satu unit input. MP labor disingkat dengan
MPL (Marginal Product of Labor) dan MP capital disingkat
dengan MPC (Marginal Product of Capital), dan
sebagainya.
Contoh :
hubungan antara L, TP, AP dan MP
L TP AP MP
0 0 0 0
1 2 2 2
2 5 2.5 3
3 9 3 4
4 12 3 3
5 14 2.8 2
6 15 2.5 1
7 15.5 2.21 0.5
8 14 1.75 -1.5
9 12 1.33 -2
10 9 0.9 -3
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
5
0 2 4 6 8 10 12
MP
• Ep>1 0<Ep<1 Ep<0
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
0 2 4 6 8 10 12
TP
AP
 Pada saat kurva AP mencapai maksimum, di kurva TP terdapat
titik berubah arah (inflection point)
 Pada saat MP mencapai maksimum, yaitu L = 3, TP = 9, APL= 3,
kurva MP berpotongan dengan kurva AP, pada saat itu di kurva
TP terdapat titik optimum (optimum point).
 Pada saat MP= 0 (kurva MP berpotongan dengan sumbu X), di
kurva TP terdapat titik maksimum (maksimum point). Ingat
dalam 1 kurva LDR yang lengkap ada tiga titik maksimum yaitu
maksimum TP, maksimum AP dan maksimum di MP.
 Dari titik 0 sampai dengan AP maksimum, nilai MP naik, mulai
dari situ sampai TP maksimum nilai MP turun hingga nol, mulai
dari TP maksimum ke seterusnya nilai MP negatif.
 Daerah antara optimum point dengan maksimum point disebut
daerah rasional atau daerah efisien, karena hanya di daerah
itulah diperoleh perlakuan atau pemberian input yang efisien.
Di sebelah kiri dan kanan daerah efisien disebut daerah
inefisien atau daerah irational.
Hubungan fisik antar komoditi :
• Komoditi gabungan (joint product)
• Komoditi yang bebas bersaing (competitive
independent product substitutes)
• Komoditi komplementer
• Komoditi suplementer

Pertemuan 3 & 4.pptx

  • 1.
    EKONOMI PERTANIAN Fakultas Agrobisnis &Rekayasa Pertanian Universitas Subang PERTEMUAN 3 & 4 larassirlysafitri@yahoo.com
  • 2.
  • 3.
    DEFINISI USAHATANI  Dr.Mosher memberikan definisi farm (yang diterjemahkan oleh Krisnandi menjadi usahatani) sebagai suatu tempat atau bagian dari permukaan bumi dimana pertanian diselenggarakan oleh seorang petani tertentu, baik seorang pemilik, penyakap atau manajer yang digaji.  Usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat di suatu tempat yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tubuh tanah dan air, perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan-bangunan yang didirikan di atas tanah dan sebagainya.  Usahatani dapat berupa usaha bercocok tanam atau memelihara ternak.
  • 4.
    ... Lanjutan  Bagiandari ilmu ekonomi pertanian yang mempelajari cara- cara petani menyelenggarakan usahatani disebut farm management yang dapat diterjemahkan menjadi ilmu usahatani.  Farm management sebagaimana mulai dikembangkan di Amerika Serikat, tidak lain adalah prinsip-prinsip ilmu ekonomi mikro yang diterapkan pada produksi pertanian.  Di Indonesia terlihat perbedaan yang amat besar antara keadaan pertanian rakyat (usahatani) dan perkebunan tidak hanya dalam luasnya usaha, tetapi juga dalam tujuan produksi dan cara-cara mengusahakannya  ilmu pengelolaan perkebunan (estate management).  Courtenay mengatakan bahwa suatu perkebunan lebih mendekati suatu pabrik (factory) daripada usahatani (farm).
  • 5.
    Manajemen Usahatani Dalam IlmuEkonomi dikatakan bahwa petani membandingkan antara hasil yang diharapkan akan diterima pada waktu panen (penerimaan/revenue) dengan biaya (pengorbanan, cost) yang harus dikeluarkannya. Hasil yang diperoleh petani pada saat panen disebut produksi, sedangkan biaya yang dikeluarkan disebut biaya produksi. Usahatani yang baik adalah usahatani yang produktif dan efisien. Usahatani yang produktif berarti usahatani tersebut produktivitasnya tinggi.
  • 6.
    Pengertian produktivitas merupakanpenggabungan antara konsepsi efisiensi usaha (fisik) dengan kapasitas tanah. Efisiensi fisik mengukur banyaknya hasil produksi (output) yang dapat diperoleh dari satu kesatuan input. Kapasitas tanah menggambarkan kemampuan tanah itu untuk menyerap tenaga kerja dan modal sehingga memberikan hasil produksi bruto yang sebesar-besarnya pada tingkatan teknologi tertentu. Secara teknis, PRODUKTIVITAS = EFISIENSI (USAHA) x KAPASITAS (TANAH) Dalam ekonomi pertanian dibedakan pengertian produktivitas dan pengertian produktivitas ekonomis daripada usahatani. Dalam pengertian ekonomis, maka letak atau jarak usahatani dari pasar penting sekali artinya.
  • 7.
    Fungsi Produksi Fungsi produksi adalahsuatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara hasil produksi fisik (output) dengan faktor-faktor produksi (input) Secara matematis, fungsi produksi ditulis sebagai: Y = f (x1,x2……. xn) Dimana, Y = hasil produksi fisik x1....xn = faktor-faktor produksi
  • 8.
  • 9.
    Efisiensi Usahatani Efisiensi produksi banyaknya hasil produksi fisik yang dapat diperoleh dari satu kesatuan faktor produksi (input) Pada setiap akhir panen, petani akan menghitung berapa hasil bruto produksinya (luas tanah x hasil/satuan luas) Hasil bruto - biaya2 (bibit, pengolahan tanah, upah menanam, upah hasil, bagi hasil, dll) = hasil bersih (netto) Apabila hasil netto usahatani besar/tinggi, maka mencerminkan rasio yang baik dari nilai hasil dan biaya. MAKIN TINGGI RASIO TERSEBUT  USAHATANI MAKIN EFISIEN
  • 10.
    • Biaya produksidapat dibagi menjadi dua, yaitu biaya- biaya yang berupa uang tunai dan biaya-biaya dalam bentuk natura (imbalan berupa barang seperti beras, gula, dll). • Biaya uang contohnya upah kerja untuk persiapan/penggarapan tanah, pembelian pupuk dan pestisida, dsb. • Biaya in-natura contohnya biaya-biaya panen, bagi hasil, sumbangan, dan mungkin pajak-pajak. Biaya-biaya Produksi Biaya Uang dan Biaya In-natura
  • 11.
    • Biaya tetapadalah jenis biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi, misalnya sewa atau bunga tanah yang berupa uang. • Biaya variabel adalah jenis biaya yang besar kecilnya tergantung atau berhubungan langsung dengan besar kecilnya produksi, misal pengeluaran untuk bibit, pupuk, pestisida, dll. • Pengertian biaya tetap dan biaya variabel hanya pengertian jangka pendek, sebab dalam jangka panjang biaya tetap dapat berubah menjadi biaya variabel. Biaya Tetap dan Biaya Variabel
  • 12.
    • Biaya rata-rata= Biaya produksi total Jumlah produksi • Angka biaya rata-rata sangat sulit disusun karena antar daerah yang satu dengan yang lain tidak sama, bahkan antar petani pun dapat berbeda  kehilangan arti jika digunakan sebagai bahan kebijakan yang benar-benar realistis bagi seluruh negara. • Biaya batas yaitu tambahan biaya yang harus dikeluarkan petani untuk menghasilkan satu kesatuan tambahan hasil produksi. • Pendapatan marjinal yaitu tambahan pendapatan yang didapat dengan penambahan satu kesatuan biaya. Biaya Rata-rata & Biaya Marjinal
  • 13.
    Contoh Hubungan antaraBiaya Rata-rata dan Biaya Marjinal terhadap Keuntungan Petani
  • 14.
    Analisa Pendapatan MarjinalVS Analisa Biaya Marjinal • Pendapatan marjinal lebih penting • Biaya tidak terlalu menjadi fokus krn seringkali masih menggunakan sumberdaya keluarga Petani Subsisten • Biaya marjinal lebih penting, krn orientasinya pasar dan keuntungan • Petani komersial akan sangat berkepentingan memproduksi produk semurah-murahnya Petani Komersial • Nyatanya, petani Indonesia  transisi dari subsisten ke komersial, maka unsur biaya produksi sudah mulai masuk perhitungan. • Petani mulai berpikir tidak hanya memproduksi semurah-murahnya, tapi bagaimana mencapai hasil produksi sebesar- besarnya dengan sekaligus berusaha menekan biaya produksi.
  • 15.
    Intensifikasi Pertanian • Intensifikasiadalah penggunaan lebih banyak faktor produksi tenaga kerja dan modal atas sebidang tanah tertentu untuk mencapai hasil produksi yang lebih besar. • Ekstensifikasi adalah perluasan tanah pertanian dengan cara mengadakan pembukaan tanah-tanah pertanian baru
  • 16.
    The Law ofDiminishing Returns (LDR) (Hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang) Bila satu faktor produksi ditambah terus dalam suatu proses produksi, ceteris paribus, maka mula-mula terjadi kenaikan hasil, kemudian kenaikan hasil itu menurun, lalu kenaikan hasil nol dan akhirnya kenaikan hasil negatif. Ceteris paribus artinya hal-hal lain bersifat tetap, faktor produksi lain tetap jumlahnya, hanya satu variabel tertentu yang berubah jumlahnya.
  • 17.
    Istilah-istilah Produksi dalamLDR : • TP (total product) atau produksi total yaitu jumlah produksi pada level pemberian input tertentu. Input adalah faktor produksi atau bagian/unsur faktor produksi, misalnya input pupuk adalah bagian dari faktor produksi modal, luas lahan adalah bagian dari faktor produksi alam. • AP (average product) hasil rata-rata atau produksi rata- rata yaitu jumlah hasil dibagi dengan jumlah input yang dipakai. Kalau AP tenagakerja (labor) disingkat dengan APL (Average Product of Labor), kalau AP modal atau capital disingkat dengan APC (Average Product of Capital). • MP (marginal product) atau produk marjinal yaitu kenaikan hasil yang disebabkan oleh kenaikan atau pertambahan satu unit input. MP labor disingkat dengan MPL (Marginal Product of Labor) dan MP capital disingkat dengan MPC (Marginal Product of Capital), dan sebagainya.
  • 18.
    Contoh : hubungan antaraL, TP, AP dan MP L TP AP MP 0 0 0 0 1 2 2 2 2 5 2.5 3 3 9 3 4 4 12 3 3 5 14 2.8 2 6 15 2.5 1 7 15.5 2.21 0.5 8 14 1.75 -1.5 9 12 1.33 -2 10 9 0.9 -3
  • 19.
    -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 0 2 46 8 10 12 MP • Ep>1 0<Ep<1 Ep<0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 0 2 4 6 8 10 12 TP AP
  • 20.
     Pada saatkurva AP mencapai maksimum, di kurva TP terdapat titik berubah arah (inflection point)  Pada saat MP mencapai maksimum, yaitu L = 3, TP = 9, APL= 3, kurva MP berpotongan dengan kurva AP, pada saat itu di kurva TP terdapat titik optimum (optimum point).  Pada saat MP= 0 (kurva MP berpotongan dengan sumbu X), di kurva TP terdapat titik maksimum (maksimum point). Ingat dalam 1 kurva LDR yang lengkap ada tiga titik maksimum yaitu maksimum TP, maksimum AP dan maksimum di MP.  Dari titik 0 sampai dengan AP maksimum, nilai MP naik, mulai dari situ sampai TP maksimum nilai MP turun hingga nol, mulai dari TP maksimum ke seterusnya nilai MP negatif.  Daerah antara optimum point dengan maksimum point disebut daerah rasional atau daerah efisien, karena hanya di daerah itulah diperoleh perlakuan atau pemberian input yang efisien. Di sebelah kiri dan kanan daerah efisien disebut daerah inefisien atau daerah irational.
  • 21.
    Hubungan fisik antarkomoditi : • Komoditi gabungan (joint product) • Komoditi yang bebas bersaing (competitive independent product substitutes) • Komoditi komplementer • Komoditi suplementer