Perilaku dan Teori Organisasi Dr Arie Ambarwati M Pd
Perilaku dan Teori Organisasi Dr Arie Ambarwati M Pd
Perilaku dan Teori Organisasi Dr Arie Ambarwati M Pd
Perilaku dan Teori Organisasi Dr Arie Ambarwati M Pd
Perilaku dan Teori Organisasi Dr Arie Ambarwati M Pd
1.
Perilaku dan TeoriOrganisasi Dr Arie Ambarwati
M Pd install download
http://ebookstep.com/product/perilaku-dan-teori-organisasi-dr-
arie-ambarwati-m-pd/
Download more ebook from https://ebookstep.com
2.
We believe theseproducts will be a great fit for you. Click
the link to download now, or visit ebookstep.com
to discover even more!
Perilaku Organisasi Dr Nuning Nurma Dewi S E S Pd M M
Dr Achmad Fathoni Rodli M Pd
http://ebookstep.com/product/perilaku-organisasi-dr-nuning-nurma-
dewi-s-e-s-pd-m-m-dr-achmad-fathoni-rodli-m-pd/
Teori Perilaku Organisasi Ronal Watrianthos Janner
Simarmata Editor
http://ebookstep.com/product/teori-perilaku-organisasi-ronal-
watrianthos-janner-simarmata-editor/
Perilaku Organisasi Dr Yayat Hayati Djatmiko
http://ebookstep.com/product/perilaku-organisasi-dr-yayat-hayati-
djatmiko/
Teori dan Telaah Pengembangan Kurikulum Dr R Masykur M
Pd
http://ebookstep.com/product/teori-dan-telaah-pengembangan-
kurikulum-dr-r-masykur-m-pd/
3.
Teori Konstruktivisme dalamPembelajaran PAI di
Madrasah Teori dan Implementasinya Ahmad Suryadi S Pd M
Pd Dr Muljono Damopolii M Ag Dr Ulfiani Rahman M Si
http://ebookstep.com/product/teori-konstruktivisme-dalam-
pembelajaran-pai-di-madrasah-teori-dan-implementasinya-ahmad-
suryadi-s-pd-m-pd-dr-muljono-damopolii-m-ag-dr-ulfiani-rahman-m-
si/
Pengelolaan Pendidikan Teori dan Aplikasi di Madrasah
Dr Herson Anwar M Pd
http://ebookstep.com/product/pengelolaan-pendidikan-teori-dan-
aplikasi-di-madrasah-dr-herson-anwar-m-pd/
Belajar Pembelajaran Teori dan Implementasi Akhiruddin
S Pd M Pd Sujarwo S Pd M Pd Haryanto Atmowardoyo Dr
Nurhikmah H S Pd M Si
http://ebookstep.com/product/belajar-pembelajaran-teori-dan-
implementasi-akhiruddin-s-pd-m-pd-sujarwo-s-pd-m-pd-haryanto-
atmowardoyo-dr-nurhikmah-h-s-pd-m-si/
Perilaku dan Budaya Organisasi I Nyoman Wahyu Widiana
http://ebookstep.com/product/perilaku-dan-budaya-organisasi-i-
nyoman-wahyu-widiana/
Ilmu Pendidikan Konsep Teori dan Aplikasinya Dr Rahmat
Hidayat M A Dr Abdillah S Ag M Pd
http://ebookstep.com/product/ilmu-pendidikan-konsep-teori-dan-
aplikasinya-dr-rahmat-hidayat-m-a-dr-abdillah-s-ag-m-pd/
iii
PRAKATA
Puji syukur alhamdulillahpenulis haturkan kepada Allah
SWT atas segala limpahan rahmat dan inayah-Nya sehingga buku
sederhana ini dapat terselesaikan. Dengan anugerah yang
dilimpahkan-Nya, kata demi kata dapat penulis susun sehingga
menjadi buku yang sekarang ini hadir di hadapan pembaca sekalian.
Semoga buku sederhana ini membawa manfaat.
Dinamika organisasi sebagai tenaga penggerak sebuah
organisasi mempunyai peran yang penting perkembangan,
pertumbuhan dan keefektifan sebuah organisasi. Ada banyak faktor
yang menyusun terbangunnya dinamika dalam berorganisasi,
dimana organisasi sebagai tempat atau wadah bergabungnya
beberapa individu yang mempunyai karakteristik, asal, dan perilaku
yang tidak sama. Dalam buku Perilaku dan Teori Organisasi
dibahas faktor-faktor pembentuk dan berkembangnya dinamika
suatu organisasi berdasarkan banyaknya perbedaan-perbedaan yang
memberikan warna, corak, atau bentuk pada sebuah organisasi.
Beberapa ahli berpendapat bahwa faktor-faktor yang membentuk dan
menyusun munculnya dinamika dalam organisasi antara lain ;
karakteristik individu, karakteristik kelompok, struktur, budaya, serta
iklim organisasi sehingga efektivitas dan peranan organisasi dapat
terpenuhi.
Buku ini sangat tepat digunakan sebagai referensi dalam
bahan riset terkait perilaku dan organisasi, baik sektor bisnis maupun
publik. Sasaran utama penyajian buku ini adalah para mahasiswa
dan dosen yang sedang menyusun penelitian, baik skripsi, tesis,
maupun disertasi. Bagi para praktisi pendidikan, buku ini tentu akan
menambah wawasan yang bersifat praktis dalam mengelola
dinamika organisasi.
Dengan terselesainya penyusunan buku ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
rekan-rekan dosen yang ikut memberikan arahan dan kesempatan
diskusinya dalam melengkapi materi buku ini. Tidak lupa penulis
sampaikan penghargaan kepada mitra kerja (penerbit) yang telah
bersedia membantu untuk menerbitkan buku ini. Semoga tulisan ini
menjadi amal ibadah dihadapan Allah SWT teriring do’a semoga
8.
iv
buku ini dapatmemberi manfaat bagi pengembangan keilmuan di
tanah air.
Malang, Februari 2018
Penulis,
Dr. Arie Ambarwati, M.Pd
9.
v
DAFTAR ISI
PRAKATA ..............................................................iii
DAFTAR ISI ........................................................... v
BAB 1. RUANG LINGKUP ORGANISASI .................. 1
A. Pengertian dan Konsep Organisasi ........................ 1
B. Ciri-Ciri Organisasi .............................................. 3
C. Unsur-Unsur Organisasi ....................................... 4
D. Tujuan Organisasi ................................................ 6
E. Manfaat Organisasi .............................................. 9
F. Pembentukan Organisasi ...................................... 10
G. Siklus Hidup Organisasi ....................................... 11
BAB 2. TEORI ORGANISASI .................................... 19
A. Teori Organisasi Klasik ........................................ 19
B. Teori Neo Klasik .................................................. 33
C. Teori Modern ....................................................... 41
D. Teori Contingency ................................................ 46
BAB 3. EFEKTIFITAS ORGANISASI ......................... 51
A. Konsep Keefektifan Organisasi ............................. 51
B. Komponen Keefektifan Organisasi ........................ 57
C. Pengukuran Keefektifan Organisasi ....................... 60
BAB 4. KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN KELOMPOK 65
A. Konsep Karakteristik Individu .............................. 65
B. Komponen Karakteristik Individu ......................... 67
C. Konsep Karakteristik Kelompok ........................... 69
D. Komponen Karakteristik Kelompok ...................... 71
E. Proses Pembentukan Kelompok /Group ............... 73
BAB 5. STRUKTUR ORGANISASI ............................. 77
A. Konsep Struktur Organisasi .................................. 77
B. Komponen Struktur Organisasi ............................. 78
10.
vi
BAB 6. BUDAYAORGANISASI ................................ 83
A. Konsep Budaya Organisasi ................................... 83
B. Komponen Budaya Organisasi .............................. 86
C. Fungsi Budaya Organisasi .................................... 87
D. Pembentukan Buaya Organisasi ............................ 89
BAB 7. IKLIM ORGANISASI .................................... 93
A. Konsep Iklim Organisasi ....................................... 93
B. Komponen Iklim Organisasi ................................. 95
DAFTAR REFERENSI ............................................. 99
11.
1
A. Pengertian danKonsep Organisasi
Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi,
ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda.
Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah
dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan
sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam
memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode,
lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang
digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan
organisasi. Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset
dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik,
psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering
disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi
(organizational behaviour), atau analisa organisasi (organization
analysis).
Organisasi berasal dari kata Organon dalam bahasa Yunanai
yang berarti alat. Definisi organisasi telah banyak dikemukan oleh
para ahli baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa diantaranya
sebagai berikut :
• Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola
hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di
bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
• James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah
bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan
bersama.
12.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
2
• Chester I. Bernard dalam bukunya “The Executive Function”
berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem
aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
• Stephen P. Robbins, menyatakan bahwa Organisasi adalah
kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar,
dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang
bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai
suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
• Sondang P. Siagian, mendefinisikan organisasi ialah setiap
bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja
bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian
suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana
terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan dan
seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.
• Malayu S.P Hasibuan, mengatakan organisasi ialah suatu
sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari
sekelompok yang bekerja sama dalam mencapai tujuan
tertentu. Organisasi hanya merupakan alat dan wadah saja.
• Pradjudi Armosudiro, mengatakan organisasi adalah struktur
pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara
sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara
tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu.
• James D Mooney, berpendapat bahwa Organization is the form
of every human, association for the assignment of common purpose
atau organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk
pencapaian suatu tujuan bersama.
• Paul Preston dan Thomas Zimmerer, mengatakan bahwa
Organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang disusun
dalam kelompok-kelompok, yang bekerjasama untuk
mencapai tujuan bersama. (Organization is a collection people,
arranged into groups, working together to achieve some common
objectives).
Masih banyak lagi pendapat para ahli tentang organisasi.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka secara garis besar
pengertian dan definisi organisasi adalah diartikan sebagai suatu
kelompok terdiri atas 2 atau lebih orang yang saling bekerja sama
untuk mencapai tujuan tertentu secara bersama. Organisasi
merupakan wadah atau tempat berkumpulnya orang dengan
13.
3
sistematis, terpimpin, terkendalai,terencana, rasional dalam
memanfaatkan segala sumber daya baik metode, material,
lingkungan dan uang serta sarana dan prasaranan, dan lain
sebagainya dimana digunakan secara efisien dan efektif untuk bisa
mencapai tujuan organisasi.
B. Ciri – Ciri Organisasi
Organisasi bisa kita bedakan dengan meninjau ciri-ciri
organisasi tersebut dimana setiap organisasi memiliki ciri tersendiri
untuk menuntukan organisasi itu seperti apa?
a) Ciri-ciri Organisasi secara umum
1) Mempunyai keterikatan format dan tata tertib yang mesti
kita taati.
2) Mempunyai pendelegasian koordinasi dan wewenang
tugas-tugas.
3) Adanya kerjasama secara terstruktur.
4) Mempunyai sasaran dan tujuan
5) Mempunyai komponen yaitu bawahan dan atasan.
b) Ciri-ciri Organisasi menurut Steiner dan Berelson
1) Formalitas, termasuk ciri organisasi sosial yang merujuk
kepada perumusan tertulis suatu ketetapan-ketetapan
prosedur, peraturan-pertauran, strategi, tujuan,
kebijaksanaan dan seterusnya;
2) Hierarki, termasuk ciri organisasi yang berdasarkan pada
pola kewenangan dan kekuasaan yang memiliki bentuk
piramida berarti terdapat orang-orang tertentu memiliki
kewenangan dan kekuasaan yang tinggi dibandingkan
orang biasa yang ada di organisasi tersebut;
3) Besar dan Kompleksnya, termasuk ciri organisasi sosial yang
mempunyai banyak anggota sehingga untuk hubungan
sosial antar anggota tidak dilakukan secara langsung atau
impersonal yang biasa kita sebut sebagai gejala organisasi;
4) Durasi, termasuk ciri organisasi dimana keberadaan
organisasi lebih lama dibandingkan keanggotaan pada
organisasi tersebut.
14.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
4
c) Ciri-ciri Organisasi Modern
1) Cenderung spesialisasi
2) Adanya asas-asas organisasi
3) Pengelolaan data semakin cepat
4) Unsur-unsur Organisasi yang lebih lengkap
5) Penggunaan staf yang lebih intensif
6) Organisasi yang bertambah besar.
Berdasarkan uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa ciri –
ciri secara terperinci dari organisasi adalah:
1) Adanya suatu kelompok orang yang dapat dikenal dan saling
mengenal;
2) Adanya kegiatan yang berbeda-beda, tetapi satu sama lain
saling berkaitan (Interdependent Part) yang merupakan kesatuan
kegiatan;
3) Tiap-tiap orang memberikan sumbangan atau kontribusinya
berupa pemikiran, tenaga, dan lain-lain;
4) Adanya kewenangan, koordingasi dan pengawasan;
5) Adanya tujuan yang ingin dicapai;
6) Adanya komponen (atasan dan bawahan);
7) Adanya kerjasama (Cooperative yang berstruktur dari
sekelompok orang);
8) Adanya sasaran;
9) Adanya keterikatan format dan tata tertiba yang harus ditaati;
10) Adanya pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas;
Berdasarkan pengertian dan definisi diatas, disamping
adanya ciri – ciri yang dapat kita gunakan dalam mengidentifikasi
organisasi atau hanya berupa kumpulan barang atau orang. Metode
pengidentifikasian organisasi dapat dilihat dari unsur – unsur
pembentuk suatu organisasi.
C. Unsur – Unsur Organisasi
Secara sederhana organisasi memiliki tiga unsur, yaitu ada
orang ada kerjsama dan ada tujuan bersama. Tiga unsur organisasi
itu tidak berdiri sendiri-sendiri, akan tetepi saling terkait atau saling
berhubungan sehingga merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Adapun unsur-unsur organisasi secara terperinci adalah :
15.
5
1. Man (Orang– orang)
Man (orang-orang), dalam kehidupan organisasi atau
ketatalembagaan sering disebut dengan istilah pegawai atau
personel terdiri dari semua anggota atau warga organisasi, yang
menurut fungsi dan tingkatanny terdiri dari unsur warga
organisasi yang menurut fungsi dan tingkatannya teridiri dari
unsur pimpinan (administrator) sebagai unsur pimpinan tertinggi
dalam organisasi, para manager yang memimpin suatu unit
satuan kerja sesuai dengan fungsinya masing-masing dan para
pekerja (non management/workers). Semua itu secara bersama-
sama merupakan kekuatan manusiawi (man power) organisasi.
2. Kerja Sama
Kerjasama merupakan suatu perbuatan bantu-
membantu akan suatu pekerjaan/perbuatan/aktivitas yang
dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan
bersama. Oleh karena itu, semua anggota atau semua warga
yang menurut tingkatan-tingkatannya dibedakan menjadi
administrator, manager, dan pekerja (workers), secara bersama-
sama merupakan kekuatan manusiawi (man power) organisasi.
3. Tujuan Bersama
Tujuan merupakan arah atau sasaran yang dicapai.
Tujuan menggambarkan tentang apa yang akan dicapai atau
yang diharapkan. Tujuan merupakan titik akhir tentang apa
yang harus dikerjakan. Tujuan juga menggambarkan tentang
apa yang harus dicapai melalui prosedur, program, pola
(network), kebijakan (policy), strategi, anggaran (budgeting), dan
peraturan-peraturan (regulation) yang telah ditetapkan.
4. Peralatan
Unsur yang keempat adalah peralatan atau equipments
yang terdiri dari semua sarana, berupa materi, uang, dan barang
modal lainnya (tanah, gedung/bangunan/kantor).
5. Lingkungan (Environment)
Faktor lingkungan misalnya keadaan sosial, budaya,
ekonomi, kekayaan alam dan teknologi. Termasuk dalam unsur
lingkungan, antara lain : (a) Kondisi atau situasi yang secara
langsung maupun secara tidak langsung berpengaruh terhadap
daya gerak kehidupan organisasi, karena kondisi atau situasi
16.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
6
akan selalu mengalami perubahan; (b) Tempat atau lokasi,
sangat erat hubungannya dengan masalah komunikasi dan
tranportasi yang harus dilakukan oleh organisasi; (c) Wilayah
operasi yang dijadiakan sasaran kegiatan organisasi.
6. Kekayaan Alam
Kekayaan alam yang termasuk dalam kekayaan alam ini
misalnya keadaan iklim, udara, air, cuaca (geografi, hidrografi,
geologi, klimatologi), flora dan fauna.
Pendapat lain yang mengemukakan dan menglasifikasikan
unsur – unsur organisasi dilakukan oleh (Davis, 1981) dalam
bukunya “Human Behavior at Work: Organizational Behavior” membagi
unsur – unsur organisasi menjadi tiga unsur yaitu:
a) Unsur Pertama, bahwa keikutsertaan atau partisipasi itu
sesungguhnya adalah keterlibatan perasaan dan mental, lebih
daripada atau hanya keterlibatan secara fisik atau jasmaniah;
b) Unsur Kedua, adanya sikap kesukarelaan dalam membantu
suatu kelompok dalam mencapai tujuan tertentu;
c) Unsur Ketiga, unsur tanggung jawab termasuk rasa yang sangat
menonjol dalam menjadi anggota.
Organisasi sebagai wadah atau tempat berkumpulnya
individu atau orang – orang, dimana masing – masing individu
mempunyai kepentingan yang berbeda. Hal tersebut yang
menyebabkan munculnya tujuan organisasi.
D. Tujuan Organisasi
Setiap individu yang memiliki kepentingan dan tujuan yang
sama, menciptakan sebuah wadah atau badan dimana mereka saling
berusaha untuk mewujudkan tujuan tersebut. Dan hal ini lah yang
menjadi sebab adanya tujuan dari sebuah organisasi. Tujuan
dicerminkan oleh sasaran yang harus dilakukan baik dalam jangka
pendek, maupun jangka panjang.
Tujuan organisasi memiliki pengaruh dalam
mengembangkan organisasi baik untuk perekrutan anggota dan
pencapaian apa yang akan atau ingin dilakukan dalam proses
berjalannya organisasi tersebut. Tujuan dari sebuah organisasi sangat
mempengaruhi kinerja dari organisasi itu sendiri ataupun untuk
17.
7
mencari massa atauanggota baru dalam pengembangan sebuah
organisasi dan untuk menjaga kaderisasi anggota. Organisasi perlu
melakukan kaderisasi untuk menjaga keberlangsungan organisasi
dan eksistensi organisasi dalam jangka waktu yang panjang.
Para ahli dalam bidang sosiologi dan administrasi telah
menyusun tingkatan pengelompokan yang mendefinisikan prioritas
sebuah tujuan organisasi, yaitu:
1. Tujuan atau Misi umum : Pernyataan luas, atau tujuan dalam
skala umum yang mendefinisikan bagaimana tercipta sebuah
organisasi tersebut, biasanya tidak berubah dari tahun ke tahun
dan sering menjadi pernyataan pertama dalam konstitusi sebuah
organisasi;
2. Tujuan adalah pernyataan yang menjelaskan apa yang sebuah
organisasi itu ingin di capai. Merupakan bagian dari tujuan dan
misi dari sebuah organisasi, tujuan seperti ini bisa seperti ini bisa
berubah dari tahun ke tahun tergantung pada kesepakatan dari
kelompok tersebut;
3. Tujuan merupakan deskripsi dari apa yang harus dilakukan
berasal dari tujuan, spesifik yang jelas. laporan tugas terukur
untuk mencapai tujuan yang diharapkan dari sebuah kelompok,
biasanya memiliki jangka pendek dan batas waktu tertentu.
Pemilihan tujuan dari setiap organisasi sangat penting,
karena dengan hal tersebut, bisa menjadi semangat kerja, dan rasa
bertanggungjawab, komitmen dan motivasi dari setiap anggota
dalam sebuah kelompok. Untuk itu tujuan dalam sebuah organisasi
menjadi sangat penting dan harus disosialisasikan pada setiap
anggota baru ataupun anggota lama dari organisasi itu sendiri.
Konsep tujuan organisasi dipandang secara luas mempunyai
beberapa fungsi penting yang bervariasi menurut waktu dan keadaan.
Berbagai fungsi tujuan organisasi adalah sebagai berikut :
a) Pedoman Bagi Kegiatan; Tujuan berfungsi sebagai pedoman
bagi kegiatan pengarahan dan penyaluran usaha-usaha dan
kegiatan-kegiatan para anggota organisasi. Dalam hal ini,
fungsi tujuan memberikan arah dan pemusatan kegiatan
organisasi mengenai apa yang harus dan harus tidak
dilakukan
b) Sumber Legitimasi; Tujuan juga merupakan sumber legitimasi
bagi suatu organisasi melalui pembenaran kegiatan-
18.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
8
kegiatannya, dan di samping itu keberadaannya diakui di
kalangan kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat.
Pengakuan atas legitimasi ini akan meningkatkan
kemampuan organisasi untuk mendapatkan berbagai sumber
daya dan dukungan dari lingkungan di sekitarnya.
c) Standar Pelaksanaan; bila tujuan dinyatakan secara jelas dan
dipahami, hal ini akan memberikan standar langsung bagi
penilaian pelaksanaan kegiatan atau prestasi organisasi.
sehingga setelah organisasi menetapkan tujuan-tujuan dalam
bidang-bidang yang dapat dikuantifikasikan, derajat
kesuksesan yang dicapai dapat dengan mudah diukur.
d) Sumber Motivasi; Tujuan organisasi dapat berfungsi sebagai
sumber motivasi dan identifikasi karyawan yang penting.
Tujuan organisasi sering memberikan insentif bagi para
anggota. Hal ini tampak paling jelas dalam organisasi yang
menawarkan bonus bagi pencapaian tingkat penjualan
tertentu, dan lain-lain yang dikaitkan dengan secara langsung
dengan laba tahunan.
e) Dasar Rasional Pengorganisasian; Tujuan organisasi
merupakan suatu dasar perancangan organisasi. Tujuan
organisasi dan struktur organisasi berinteraksi dalam
kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk :
(a) pencapaian tujuan,
(b) pola penggunaan sumber daya,
(c) implementasi berbagai unsur perancangan organisasi,
yang meliputi pola komunikasi, mekanisme
pengawasan, departementalisasi, dan lain-lain.
Penetapan tujuan dari organisasi dibutuhkan tahapan-
tahapan perencanaan yang matang serta konsep yang jelas tentang
tujuan organisasi. Tujuan dari organisasi tersebut tentunya dapat
pula berfungsi sebagai pengikat para anggotanya baik di dalam
maupun di luar organisasi. Semua tindakan dan perbuatan yang
dilakukan oleh anggota organisasi haruslah ditujukan untuk
tercapainya tujuan dari organisasi tersebut. Untuk itulah diperlukan
anggota organisasi yang mempunyai kapasitas dan komitmen yang
kuat untuk menetapkan dan mencapai tujuan organisasi
19.
9
E. Manfaat Organisasi
Mengikutiatau menjadi bagian dari sebuah organisasi
mempunyai dampak sangat besar untuk kehidupan, karena dalam
sebuah organisasi bisa di ibaratkan sebagai masyarakat dalam
lingkup kecil. Selalu ada masalah yang perlu dipecahkan bersama,
sikap saling menjaga dan bertanggungjawab terhadap keutuhan
anggota atau pun mempertahankan sebuah kelompok, memberikan
gambaran sebuah perjuangan panjang, dan ini akan sangat
membantu ketika dalam penyelesaian masalah atau memberikan
masukan kepada masyarakat dalam lingkup yang lebih luas.
Beberapa manfaat lain yang dapat kita peroleh dari suatu organisasi
antara lain:
1. Tercapainya sebuah tujuan : Organisasi dibentuk dari tujuan-
tujuan bersama yang berkaitan, maka pencapaian tujuan yang
dilakukan oleh orang banyak atau dalam artian anggota sebuah
kelompok lebih berpeluang untuk mencapai tujuan yang lebih
maksimal dan efektif.
2. Melatih mental berbicara di depan publik : mental berbicara
didepan umum tidak setiap orang bisa peroleh dengan mudah,
harus dengan pelatihan lama dan berkala. Sebuah organisasi,
kelompok belajar, atau kelompok studi ilmiah bagi para
mahasiswa adalah sebuah wadah yang tepat untuk
pengembangan public speaking.
3. Mudah memecahkan masalah : karena dalam sebuah
organisasi permasalahan adalah hal yang sangat sering terjadi,
entah karena perbedaan pendapat atau permasalahan dalam
segi fiskal sebuah kelompok. Pemecahan dari setiap
permasalahan yang ada mengajarkan bagaimana harus
bersikap dan menyikapi permasalahan yang ada dalam
kehidupan masyarakat yang lebih kompleks dan majemuk.
Selain hal-hal diatas, masih banyak manfaat organisasi yang
bisa diperoleh, namun disini tidak dijabarkan lebih lanjut, hal lain
yang bisa kita dapatkan antara lain :
1) Melatih Leadership;
2) Memperluas pergaulan;
3) Meningkatkan wawasan dan pengetahuan;
4) Membentuk karakteristik seseorang;
5) Kuat dalam menghadapi tekanan;
20.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
10
6) Mampu mengatur waktu dengan sangat baik;
7) Sebagai ajang pembelajaran kerja yang sesungguhnya.
Sebelum kita bergabung, membuat atau mencari organisasi
yang akan di ikuti, maka hendaknya kita pahami dulu ciri, bentuk,
tujuan dan manfaat organisasi tersebut. Ada baik kita sesuaikan
dengan karakteristik dan kepribadian diri, serta mempunyai tujuan
yang sama dan jelas dalam perjalanan sebuah organisasi.
F. Pembentukan Organisasi
Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh
beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang
sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut
terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik adalah
organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat
disekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan
sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-
anggotanya sehingga menekan angka pengangguran.
Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai
suatu keterkaitan yang terus menerus. Rasa keterkaitan ini, bukan
berarti keanggotaan seumur hidup. Akan tetapi sebaliknya,
organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam
keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota,
orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.
Organisasi merupakan sekumpulan orang yang mengatur sistem agar
tercapai tujuan bersama dengan lancar dan tetap pada porosnya.
Orang – orang yang mengaturnya disebut sebagai organisator.
Pembentukan organisasi yang resmi dan formal melalui
berbagai tahapan yang harus dilalui, yaitu:
1) Ada sekumpulan orang yang mempunyai tujuan yang sama
sekaligus sebagai penggerak dari organisasi tersebut. Orang –
orang tersebut akan mengatur dan mengelola organisasi yang
dibentuknya;
2) Adanya tujuan yang ingin dicapai. Tujuan ini tertuang dan
diwujudkan dalam visi dan misi organisasi. Visi dan misi juga
berfungsi sebagai pengingat ataupun pengatur arah bagi
organisasi dalam menjalankan roda organisasinya;
21.
11
3) Adanya AD/ARTorganisasi. AD (Anggaran Dasar) dan ART
(Anggaran Rumah Tangga) merupakan aturan main yang
telah disepakati oleh seluruh anggota organisasi. AD/ART
biasanya tersusun dan ditulis dalam format Bab – bab dan butir
– butir pasal – pasal yang harus diketahui dan dipahami oleh
seluruh anggota organisasi.
4) Adanya struktur organisasi. Struktur organisasi berfungsi
untuk mengatur pembagian tugas dari masing – masing
anggota dan pengurus organisasi. Dengan adanya struktur
diharapkan tidak terjadi tumpang tindih dalam melakukan
tugas dan menjalankan peran masing – masing.
Organisasi yang baik adalah organisasi yang melihat ke
depan dan mempersiapkan diri untuk itu. Organisasi harus
mempersiapkan forecast dan estimasi situasi lingkungan, agar lebih
cepat tanggap dan dapat bersiap-siap sebelumnya terhadap
perubahan lingkungan. Organisasi sangat tergantung pada
lingkungan, dengan demikian organisasi harus mampu
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada
lingkungan, apabila ingin tetap bertahan (survival) dan berumur
panjang.
G. Siklus Hidup Organisasi
Para ahli dan akademisi telah lama mengamati organisasi
sebagai organisme hidup yang mempunyai siklus hidup. Organisasi
lahir (didirikan atau dibentuk), tumbuh dan berkembang, mencapai
kedewasaan serta mengalami penurunan dan tak jarang akan
mengalami kematian. Siklus hidup organisasi (Organization Life
Cyrcle) telah dipelajari dan diamati secara periodik dan lama,
sehingga beberapa temuan menghasilkan model yang prediktif.
Model siklus organisasi selalu menarik untuk diamati dan dipelajari.
Organisasi dalam setiap tahap siklus hidupnya senantiasa
dipengaruhi oleh keadaan lingkungan eksternal dan faktor internal.
Siklus hidup organisasi merupakan tahapan perkembangan
yang dialami oleh setiap organisasi beserta kondisi, kesulitan dan
masalah – masalah transisi serta implikasi yang menyertai setiap
tahap perkembangan tersebut. Sama halnya dengan kehidupan
organisme, pertumbuhan dan dan kemunduran setiap organisasi
utamanya disebabkan oleh dua faktor yaitu; (1) Fleksibilitas dalam
22.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
12
merespon setiap perubahan lingkungan dan (2) “Kekakuan”
(controllability) dalam merespon setiap perubahan (Adizes, 1996
dalam Swanson & Holton, 2001).
Setiap tahapan – tahapan yang dilalui oleh organisasi akan
selalu memunculkan kesulitan atau permasalahan yang memerlukan
penanganan baik secara internal maupun adanya intervensi dari
pihak eksternal (luar). Tahapan perkembangan organisasi sendiri
sudah dapat diprediksi atau diperkirakan serta bersifat repetitif
(berulang – ulang/pengulangan). Pemahaman tentang tahap
perkembangan organisasi oleh para pimpinan organisasi menjadi
sangat penting, hal ini sebagai cara tindakan proaktif dan preventif
dalam menghadapi persoalan – persoalan organisasi dimasa yang
akan datang, atau bagaimana cara menghindari masalah – masalah
tersebut apabila sumber daya yang ada pada organisasi dirasa belum
mumpuni.
Siklus atau daur hidup organisasi menurut Adizes (1989)
dalam (Harper, 2015)terdapat tiga tahapan utama, yaitu:
1) Tahap pertumbuhan (growing stages) yang meliputi masa
pengenalan (courtship), masa bayi (infancy), dan masa kanak –
kanak (go-go);
2) Masa “coming of age” yang meliputi masa kedewasaan
(adolescence) dan masa puncak/keemasan (prime); serta
3) Tahap Penurunan (aging organizations), yang meliputi masa
kemapanan (stable organizations), masa aristokrasi (aristoccracy),
masa birokrasi awal (early bureaucracy) dan masa birokrasi serta
mati (bureaucracy and death).
Gambar 1 Siklus Hidup Organisasi
23.
13
Uraian tentang tahapanperkembangan siklus organisasi
hanya tujuh tahap yang paling penting, yaitu:
1) Masa Pengenalan (Courtship)
Ciri utama organisasi pada masa pengenalan ditandai dengan
banyaknya ide atau gagasan yang ingin diwujudkan, meskipun
organisasi belum berdiri. Antusiasme sangat tinggi dan
ketertarikan secara emosional akan membangkitkan
komitmen. Perkembangan komitmen pada masa pengenalan
menunjukkan ciri – ciri normal apabila komitmen disertai
dengan uji kenyataan secara realistis dan resiko diperhitungan
secara moderat. Ciri – ciri abnormal jika gagasan tidak diuji
secara realistis dan sesuai dengan kenyataan sedangkan resiko
tidak diperhitungkan secara moderat. Gagasan – gagasan yang
tidak realistis dan beresiko tinggi, memungkinkan oragnisasi
hanya terwujud dalam gagasan dan angan – angan.
2) Masa Bayi (Infant Periode)
Gagasan dan ide yang dibuat saat tahap pengenalan jika
diikuti kemampuan untuk mewujudkannya merupakan siklus
awal dari kehidupan organisasi. Meskipun tidak semua
gagasan dan ide dapat diwujudkan, hal tersebut tentu saja
berhubungan langsung dengan kesediaan dan kemampuan
sumberdaya organisasi, baik sumberdaya manusia (SDM)
maupun sumberdaya yang lain.
Organisasi pada tahap awal membutuhkan kerja keras,
segala aktivitas – aktivitas berkelanjutan dilakukan oleh pendiri
atau penggagas (founder). Pada tahap ini aktivitas organisasi
masih bertumpu pada pimpinan atau pendiri (baik dalam
komitmen maupun dalam pengambilan keputusan). Sehingga
sistem dan prosedur masih sederhana, pengelolaan serta
struktur hirarkinya masih sempit. Tanpa komitmen dari
pendiri untuk memberikan perhatian, tenaga, pikiran bahkan
uang, maka organisasi akan mati dikala masih bayi (infant
mortality).
3) Masa Anak – Anak (Go-Go)
Organisasi yang berhasil mewujudkan ide dan
gagasannya dalam bentuk yang nyata dianggap sudah
melewati masa awal. Keberhasilan pada masa ini mendorong
pendiri untuk memperbanyak ide dan gagasan serta mencoba
24.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
14
untuk mewujuadkannya. Pada akhirnya akan banyak sekali
ide – ide serta gagasan – gagasan yang ingin direalisasikan.
Setiap peluang dan kesempatan “disambar” tanpa
memperhitungkan kekuatan sumberdaya organisasi, tidak
menentukan skala prioritas karena semua adalah prioritas.
Akibatnya semua sebagai prioritas maka banyak sekali
pekerjaan yang harus dikerjakan pada saat yang bersamaan.
Sindrom “go – go” adalah hasrat untuk semua ingin digarap
atau dikerjakan, persis seperti seorang anak yang selalu
melahap apa saja yang ditemukan, tidak perduli makanan atau
bukan. Pada tahap ini organisasi dikendalikan oleh setiap
“temuan” peluang, bukan organisasi yang mengendalikan
peluang.
4) Masa Dewasa
Apabila organisasi berhasil melewati masa “go – go”
maka organisasi akan mulai selektif memilih peluang – bidang
yang akan digarap – pekerjaan, mulailah dilakukan penetapan
skala prioritas secara seksama, melakukan pemilihan yang
paling realistis atau tak jarang yang paling radikal mengganti
tujuan, menetapkan kembali “visi” dan “misi” organisasi.
Organisasi yang berhasil melalui tahap ini telah mencapai
kedewasaan yang dicirikan berfikir dan bertindak realistis serta
bekerja dalam level resiko yang moderat.
Namun organisasi yang terlena dengan mengganti
tujuannya akan kehilangan momentum serta peluang yang
dapat digarap karena dalam mengganti tujuan organisasi
dibutuhkan perenungan, pemikiran, serta waktu untuk
merefleksikannya. Oleh karena itu, refleksi dan perumusan
penggantian tujuan harus dilakukan secara seksama, agar
momentum tidak hilang dan organisasi tidak mengalami
penurunan atau “penuaan dini (premature aging)”, dalam arti
organisasi belum sampai kepada visi dan misi yang diimpikan,
komitmen dan sumberdaya sudah berkurang dan tidak efektif
lagi untuk berjuang.
5) Masa Puncak
Setelah berhasil melewati masa dewasa, maka organisasi
akan memasuki masa puncak. Hal ini ditandai dengan sasaran
– sasaran yang secara realistis ditetapkan dicapai dengan baik.
Organisasi dapat dikendalikan dengan baik karena sistem dan
25.
15
prosedur, serta mekanismepengambilan keputusan telah
tersusun dengan baik serta diterapkannya secara konsekuen.
Kendati, organisasi dijalankan secara ketat dengan sistem dan
prosedur, organisasi tetap fleksibel dan mampu mengadopsi
berbagai perubahan – perubahan yang terjadi di lingkungan
sekitarnya.
Tahap masa puncak biasa juga disebut sebagai tahap Go
– Go kedua atau second birth new infant. Organisasi secara
agresif mencari berbagai peluang dan kesempatan untuk
memperluas usaha dan diversifikasi berbagai bidang usaha,
namun dibarengi dengan perhitungan dan prediksi yang ketat
dan adanya pengendalian dalam implementasinya.
6) Masa Stabilitas Organisasi
Jika organisasi secara konsisten mampu
mempertahankan masa puncaknya selama beberapa periode
tertentu, maka dapat dikatakan bahwa organisasi tersebut
mengalami atau berada pada posisi kestabilan. Tentu saja pada
tahap ini banyak sekali “godaan” dan tantangan yang muncul
secara internal maupun eksternal.
7) Masa Penurunan dan Kematian Organisasi
Situasi dan kondisi pada masa penurunan dan kematian
organisasi dikarenakan munculnya godaan secara internal dari
organisasi. Secara internal godaan yang muncul berasal dari
rutinitas pekerjaan sehingga mematikan kreativitas dan
inovasi. Setiap gagasan atau inovasi yang muncul selalu akan
dianggap mengganggu kestabilan. Jargon “jangan
mengganggu suasana yang sudah kondusif” merupakan
senjata untuk mematikan setiap inovasi dan kreativitas.
Jika situasi seperti ini terus berlanjut maka lama
kelamaan akan memunculkan kubu – kubu yang saling
berseberangan, atau bahkan permusuhan secara terang-
terangan ataupun sembunyi-sembunyi yang disebut sebagai
konflik. Dilihat dari segi analisa struktur organisasi, terjadinya
konflik merupakan suatu ciri yang menunjukkan bahwa
struktur yang ada sudah tidak efektif atau deficiency.
Manakala situasi ini terjadi, maka suasana saling curiga
mencurigai akan terjadi. Setiap orang selalu berancang-ancang
untuk menjatuhkan lawan konfrontasinya secara fisik
26.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
16
(memecat atau merumahkan), ataupun secara mental
psikologis dengan memainkan berbagai kartu truf masing –
masing dengan jalan mencari kelemahan pihak lawan. Semua
daya upaya difokuskan pada usaha – usaha untuk
menjatuhkan lawan, sementara implementasi tujuan – tujuan
organisasi menjadi terbengkalai. Sehingga ketika organisasi
menghadapi masalah, yang terjadi adalah saling menyalahkan,
bukan mencari penyebab dan solusi untuk memecahkannya.
Karena organisasi selalu terus menerus dilanda konflik,
sementara pelayanan atau implementasi tujuan organisasi
menjadi terabaikan. Maka timbullah dalam organisasi
kepentingan – kepentingan politik dari masing – masing pihak
yang bertikai. Komitmen yang semula dibangun pada tahap
awal pendirian organisasi sudah tidak ada lagi. Banyak
anggota organisasi yang exodus keluar atau mengundurkan
diri (exit) (Sonhadji, 1991a). Jika para anggota organisasi
exodus, atau jika pun mereka bertahan namun komitmen
sudah tidak ada lagi sebagai pemersatu gerak langkah tujuan
organisasi, maka pada saat itu organisasi, walaupun secara
formal masih berdiri namun secara riil sudah mati.
Disamping model siklus organisasi yang dikemukan oleh
Adizes (1989) dalam (Hanks, 2015) diatas, model siklus organisasi
lain adalah Model pertumbuhan yang dikemukan oleh Greiner
dalam (Daft, 2007). Organisasi menurut Greiner pada umumnya
mengalami suatu proses perkembangan yang sejalan dengan waktu
dan bertambahnya ukuran organisasi itu sendiri. Greiner
mengistilahkan tahap pertumbuhan organisasi sebagai fase
entrepreneurial, kolektivitas, delegasi formalisasi, dan kolaborasi.
a) Tahap 1: Fase Entrepreneurial
Dimulai ketika organisasi didirikan, biasanya ukuran
organisasi masih kecil, pengelolaan dilakukan secara langsung
oleh pemilik secara personal. Pada fase ini tidak sedikit
organisasi yang gagal. Ketika aktivitas organisasi meluas,
muncullah krisis kepemimpinan karena pengelola tidak
mampu lagi sendirian atau secara personal mengendalikan
organisasi.
27.
17
b) Tahap 2:Fase Kolektivitas
Jika krisis kepemimpinan sudah terlampaui, maka organisasi
masuk ke fase kolektivitas. Pada fase ini tugas manajemen
profesional membangun integrasi kolektif di antara unit-unit
operasi dalam organisasi. Pimpinan mulai memperjelas
struktur dan fungsi – fungsinya walaupun masih bersifat
informal. Kreativitas dan inovasi masih menjadi ciri yang
dominan. Pada ujung fase kolektivitas, sekali lagi akan terjadi
krisis, yaitu krisis otonomi. Dimana beberapa unit operatif
mulai merasa perlu memiliki wewenang yang lebih besar untuk
mengelola aktivitasnya, dan tidak bersedia lagi dikontrol
melalui pengambilan keputusan yang terpusat.
c) Tahap 3: Fase Delegasi
Apabila krisis otonomi sudah dapat dilewati maka organisasi
masuk pada fase delegasi. Pada tahap ini organisasi mulai
mendelegasikan keputusan-keputusan ke bawah, aturan-
aturan serta prosedur dibuat lebih formal dengan tujuan
mempertahankan efisiensi dan stabilitas organisasi. Pada saat
organisasi mengalami pertumbuhan yang lebih kompleks,
maka terjadilah krisis kontrol. Hal ini disebabkan karena
desentralisasi pengambilan keputusan.
d) Tahap 4: Fase Formalisasi
Saat krisis kontrol sudah bisa diatasi maka organisasi masuk
fase formalisasi. Pada masa formalisasi cara-cara kontrol
birokratik mulai diterapkan dengan melakukan standarisasi
terhadap berbagai aktivitas. Kontrol yang berlebihan
menyebabkan kurangnya daya adaptasi terhadap lingkungan.
Selanjutnya menimbulkan krisis yang disebut krisis birokratik.
e) Tahap 5: Fase Kolaborasi
Fase kolaborasi cara kerja birokrasi yang terlalu rasional dan
impersonal, diganti dengan kerja tim. Tugas yang telah
didiferensiasi disatukan kembali dalam gugus pekerjaan yang
dikelola oleh tim. Ketika kerja tim semakin intensif dilakukan,
mengakibatkan kelelahan secara fisik maupun psikologis.
Ketika upaya penyegaran tidak mampu lagi mengatasi
kejenuhan maka muncullah krisis pembaharuan (renewal crisis).
Beberapa catatan kritis tentang daur hidup organisasi
diberikan oleh (Stephen P Robbins, 2003) antara lain :
28.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
18
a) Tidak semua organisasi mampu melewati kelima tahapan tersebut.
Beberapa organisasi telah mencapai usia lebih tua dari rata-rata
umur manusia, namun tak jarang beberapa diantaranya juga
tidak sampai pada fase kelima (kolaborasi), dimana artinya
mereka berhenti pada model birokratik, dan bertahan pada fase
ini tanpa mengalami penurunan.
b) Fase-fase pertumbuhan organisasi tidak harus bersifat kronologis;
Sejumlah organisasi sengaja mempertahankan fase tertentu
selama mungkin. Ada beberapa organisasi mencapai tahap 3
atau 4 dalam waktu kurang dari 5 tahun. Ada juga beberapa
organisasi yang berumur 40 tahun tapi masih bertahan pada
fase 2. Dapat disimpulkan bahwa fase-fase pertumbuhan
organisasi tidak identik dengan usia kronologis organisasi.
c) Fase penurunan (decline) atau bahkan fase kematian organisasi;
Berbeda dengan makhluk hidup yang pasti mengalami
kematian setelah melewati suatu fase penurunan atau penuaan,
organisasi tidak selamanya demikian. Organisasi dapat
mengalami kematian seperti halnya makhluk hidup secara
semu. Dimana organisasi bisa dikatakan secara kasat mata
mati tetapi masih ada beberapa aktivitas yang masih
dilakukan.
29.
19
Teori organisasi adalahstudi tentang bagaimana organisasi
menjalankan fungsinya dan bagaimana mereka mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh orang-orang yang bekerjasama didalamnya
ataupun masyarakat dilingkup kerja mereka. Teori organisasi adalah
suatu konsepsi, pandangan, tinjauan, ajaran, pendapat atau
pendekatan tentang pemecahan permasalahan, ataupun segala
sesuatu yang memerlukan pemecahan dan pengambilan keputusan,
sehingga organisasi dapat mencapai tujuan dan sasaran yang telah
disepakati dan ditetapkan.
Studi tentang organisasi sudah dipelajari sejak lama dan
senantiasa berkembang sesuai dengan keadaan jaman. Beberapa
teori organisasi yang penting adalah:
A. Teori Organisasi Klasik
Istilah klasik dalam pengertian yang umum seringkali
diartikan sebagai sesuatu yang secara tradisional telah diterima atau
sesuatu yang telah sejak lama cukup mapan. Jika istilah ini dikaitkan
dengan teori organisasi maka artinya kurang lebih adalah sebutan
untuk suatu pemikiran tentang fenomena organisasi yang telah sejak
lama mapan atau telah menjadi tradisi yang diterima dalam kajian
tentang fenomena organisasi. Kesulitan yang ditemui jika istilah
klasik diartikan seperti itu adalah sukarnya menemukan titik awal
dari kajian tentang fenomena organisasi, mengingat sudah sejak
sangat lama kajian tentang organisasi ini telah dilakukan, baik oleh
para pemikir maupun para filsuf besar pada masa-masa silam.
Teori ini biasa disebut dengan “Teori Tradisional” atau
disebut juga “Teori Mesin”. Berkembang mulai 1800-an (abad 19).
Dalam teori ini organisasi digambarkan sebuah lembaga yang
tersentralisasi dan tugas-tugasnya terspesialisasi serta memberikan
petunjuk mekanistik struktural yang kaku tidak mengandung
30.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
20
kreatifitas. Dikatakan teori mesin karena organisasi ini menganggap
manusia bagaikan sebuah onderdil yang setiap saat bisa dipasang dan
digonta-ganti sesuai kehendak pemimpin. Definisi Organisasi
menurut Teori Klasik: Organisasi merupakan struktur hubungan,
kekuasaan-kekuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-
kegiatan, komunikasi dan faktor-faktor lain apabila orang bekerja
sama.
Teori organisasi klasik berkembang dengan dilatarbelakangi
adanya revolusi industri yang berkembang pesat di benua eropa sejak
mulai ditemukannya mesin uap oleh James Watt pada awal tahun
1800-an. Penemuan ini memicu munculnya industri – industri besar
yang menampung banyak pekerja sehingga dibutuhkan adanya suatu
metode pembagian kerja yang didasarkan pada kemampuan,
kapasitas dan kompetensi dari pekerja, sehingga munculnya
spesialisasi. Teori organisasi klasik memiliki asumsi bahwa
organisasi selalu memiliki susunan yang rasional dan logis, baik
secara ekonomis maupun pencapaian efisiensi. Dengan kata lain,
bagi teori organisasi klasik rasionalitas, efisiensi dan keuntungan
ekonomis adalah tujuan organisasi. Sejalan dengan tujuan yang
demikian, manusia juga diasumsikan bertingkah laku atau bertindak
secara rasional pula. Jika manusia dipandang sebagai mahluk yang
rasional maka maka akan mudah bagi pihak manajemen untuk
mencapai kepentingan -kepentingannya, terutama peningkatan
produktifitas melalui peningkatan upah dan insentif bagi pihak
pekerja.
Teori Organisasi Klasik memusatkan perhatiannya pada
penciptaan suatu himpunan teknik-teknik yang rasional, yang
diperlukan dalam mengembangkan baik struktur maupun proses dan
juga mengarahkan suatu bentuk koordinasi yang mampu
mengintegrasikan hubungan-hubungan antara bagian dari suatu
organisasi. Teori Klasik sangat meyakini bahwa jika teknik dan
pendekatan yang rasional dapat diwujudkan maka organisasi akan
dapat berjalan lebih baik dalam pencapaian tujuan.
Pusat perhatian utama bagi para pemikir teori organisasi
klasik ini adalah organisasi yang bergerak dalam bidang bisnis. Hal
ini dapat dipahami karena organisasi yang bergerak dalam bidang
bisnis itu, selain mudah dipelajari juga mengharuskan adanya proses
dan struktur yang rasional untuk mencapai efisiensi. suatu ciri yang
selalu terlekat pada organisasi yang bergerak dalam bidang bisnis.
Meskipun demikian, pada perkembangannya kemudian lingkupnya
31.
21
meluas pada semuatipe organisasi, tetapi tetap dengan esensi yang
sama, yaitu menekankan segi rasionalitas dalam pelaksanaan
kegiatan organisasi. Teori Organisasi Klasik sepenuhnya
menguraikan anatomi organisasi formal. Empat unsur pokok yang
selalu muncul dalam organisasi formal:
a. Sistem kegiatan yang terkoordinasi
b. Kelompok orang
c. Kerjasama
d. Kekuasaan dan Kepemimpinan
Sedangkan menurut penganut teori klasik suatu organisasi
tergantung pada empat kondisi pokok: Kekuasaan, Saling melayani,
Doktrin, Disiplin. Melalui asumsi – asumsi tersebut maka yang
dijadikan tiang dasar penting dalam organisasi formal adalah:
a. Pembagian kerja (untuk koordinasi);
b. Proses Skalar dan Fungsional (proses pertumbuhan vertical
dan horizontal);
c. Struktur (hubungan antar kegiatan);
d. Rentang Kendali (berapa banyak atasan bisa mengendalikan
bawahan).
Munculnya revolusi industri di benua eropa memunculkan
beberapa studi dari berbagai macam disiplin ilmu yang berkaitan
dengan teori – teori organisasi. Dalam lapangan ekonomi misalnya,
karya Adam Smith berjudul "An Inquiry into the Nature and Causes of
the Wealth of Nation", diakui telah membawa arah baru kerangka
pengetahuan mengenai organisasi pada masa itu. Namun sejarah
mencatat ada tiga nama yang sangat berpengaruh dalam
perkembangan teori organisasi klasik, dimana akan dijelaskan
sebagai berikut :
a. Max Weber dan Tipe Ideal Birokrasi
Max Weber (1864-1920) seorang ahli sosiologi Jerman,
merupakan salah satu perintis utama studi mengenai organisasi.
Weber hidup dalam situasi masyarakat yang penuh perubahan-
perubahan. Pada masa itu di Eropa terjadi peningkatan besar-
besaran dalam proses industrialisasi dan dalam penerapan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Oleh karena industri berkembang di
daerah - daerah perkotaan, maka akibatnya adalah terjadinya arus
besar urbanisasi menuju kota-kota dimana industri berada dan
akibatnya yang lain adalah munculnya kaum proletarian baru
yang ada di kota-kota. Perkembangan kota yang demikian telah
32.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
22
merangsang munculnya kegiatan ekonomi berskala besar, antara
lain munculnya pasar- pasar berskala besar dan bersifat massal.
Tidak disangkal lagi, pada sisi yang lain, perubahan-perubahan ini
telah membawa banyak perubahan sosial dalam masyarakat
Eropa pada masa itu.
Weber merupakan salah satu diantara beberapa pemikir
yang menaruh perhatian besar pada perubahan-perubahan
tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai analisasi yang
dibuat Weber baik dalam bidang perkembangan ekonomi,
pertumbuhan kapitalisme, politik dan pemerintahan, dan juga
bidang keagamaan. Meskipun Weber melakukan banyak analisis
mengenai masalah bisnis, politik, agama maupun pemerintahan,
namun konsep Weber yang paling monumental adalah
analisisnya mengenai Birokrasi. Oleh karena analisisnya
mengenai tipe ideal birokrasi inilah kemudian menempatkan
Weber sebagai salah satu yang terpenting diantara banyak perintis
Teori Organisasi.
Konsep Weber tentang birokrasi sangat berbeda dengan
pandangan umum yang melihat sisi negatip dari birokrasi,
misalnya sebagai sumber ketidak efisienan, berbelit-belit dan
sarang penyalah gunaan kekuasaan. Weber mengkonsepsikan
birokrasi sebagai tipe ideal. Hal ini perlu diperhatikan karena
model yang dikembangkan oleh Weber itu tipe ideal, yang dalam
kenyatannyanya tidak akan dijumpai satu birokrasi pun yang
memiliki kesamaan secara sempurna dengan tipe ideal
sebagaimana dikemukanan Weber. Tetapi, sejauh mana suatu
birokrasi mendekati karakteristik tipe ideal birokrasi, menjadi
tolok ukur sejauh mana tingkat efisiensinya dapat dicapai secara
maksimum sebagaimana dikonsepsikan Weber.
Tipe ideal birokrasi sebagaimana dikemukakan oleh
Weber memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
(a)Peraturan atau aturan yang ada di dalam birokrasi sangat jelas
dan tegas sekali. Hal yang demikian diperlukan dalam
birokrasi terutama untuk menegakkan ketertiban-dan
kelangsungan dari birokrasi itu sendiri.
(b)Terdapat ruang lingkup kompetensi yang jelas. Orang-orang
dalam birokrasi memiliki tugas-tugas dan pekerjaan yang
dirumuskan secara jelas dan tegas, serta memiliki kewenangan
yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas atau
33.
23
pekerjaan yang diberikanitu. Jadi prinsip pembagian kerja
(division of labour) merupakan aspek integral dari birokrasi.
(c) Sumber dari otoritas atau kewenangan adalah ketrampilan
teknis, kompetensi dan keahlian (expertise). Ini merupakan
ukuran yang obyektif dan berlaku bagi siapapun yang
memenuhi kualifikasi dan persyaratan yang ada dapat
dipromosikan pada suatu jabatan atau posisi tertentu dalam
birokrasi.
(d)Para pelaksana atau staf administrasi secara tegas dipisahkan
dari para pemilik modal atau alat produksi. Pemilikan alat
produksi dan modal dipisahkan dari kepemimpinan ini
dilakukan sebagai upaya untuk dapat membuat keputusan
yang rasional dan obyektif.
(e) Prinsip hirarkhi menunjukkan bahwa tiap-tiap bagian yang
lebih rendah posisinya, selalu berada di bawah perintah dan
selalu di bawah pengawasan dari posisi yang lebih tinggi. Garis
komunikasi lebih bersifat vertikal dari pada bersifat horisontal.
(f) Tindakan-tindakan, keputusan-keputusan dan aturan-aturan
semuanya diadministrasikan dan diarsipkan secara tertulis.
Proses pelaksanaan fungsi organisasi merupakan sesuatu yang
dapat diketahui oleh siapapun dan bersifat publik.
Berdasarkan prinsip-prinsip di atas, secara garis besar
dapat dipilah menjadi dua, yaitu prinsip-prinsip struktural dan
prinsip-prinsip prosedural. Prinsip struktural menunjukkan
beberapa hal penting. Pertama, pekerjaan tidak dirancang sebagai
sesuatu yang mudah dan sepele. Pekerjaan dirancang lebih tidak
bersifat emosional tetapi efisien dan memiliki tingkat konflik
kepentingan yang minimum. Kedua, segala sesuatu kemudian
menjadi bersifat umum dan tegas. Fungsi - fungsi dirumuskan
dengan tegas dan jelas, orang-orang yang ada dalam birokrasi
dapat disaling-tukarkan pada posisi-posisi yang tepat. Prinsip ini
memang memberikan penekanan penting pada aspek struktural
dan aspek administratif dari organisasi, tetapi hanya memberikan
perhatian yang amat kecil pada aspek manusia yang berada dalam
organisasi itu yang melakukan tugas atau pekerjaan.
Selain aspek struktural terdapat pula aspek prosedual.
Akar dan model birokrasi sebagaimana dikemukakan oleh Weber
adalah pada konsep otoritas dan kekuasaan yang sah untuk
melakukan kontrol. Posisi-posisi dalam organisasi memberikan
34.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
24
kepada orang-orang yang menduduki posisi tersebut hak dan
tanggung jawab. Itu berarti bahwa seseorang yang menerima
suatu tugas atau pekerjaan, berarti kepadanya diberikan otoritas
yang sah dan kemudian ia dapat menggunakannya kepada pihak
lain lagi yang berada di bawah posisinya. Dalam pandangan
Weber, terdapat tiga sumber otoritas yang dimiliki seseorang,
yaitu otoritas tradisional, otoritas kharismatik dan otoritas birokratis.
Pimpinan dalam birokrasi memiliki sumber otoritas pada keahlian
dan ketrampilan tertentu. Otoritas yang demikian merupakan
otoritas yang sah dan diperoleh melalui persyaratan dan
kualifikasi yang jelas.
Weber berpandangan, jika suatu organisasi memiliki
dasar-dasar berupa prinsip-prinsip sebagaimana dikemukakannya
di atas, maka organisasi itu akan dapat mengatasi ketidak-
efisienan dan ketidak-praktisan yang sangat tipikal ditemukan
pada banyak organisasi pada masa itu. Pada sisi yang lain, Weber
melihat bahwa birokrasi merupakan bentuk paling efisien dari
suatu organisasi dan merupakan instrumen yang paling efisien
dari kegiatan administrasi berskala besar. Max Weber, yang oleh
banyak kalangan dinyatakan sebagai "Bapak Teori Organisasi"
atau "the father of organization teori", dengan tradisi sosiologinya
b. Taylor dan Manajemen Ilmiah
Di Amerika Serikat, perkembangan teori organisasi
dirintis oleh Frederick W Taylor (1856-1915), seorang praktisi
yang sama sekali bukan seorang akademisi yang mengembangkan
pemikiran tentang teori organisasi maupun memberikan
kontribusi pada dunia akademik. Meskipun demikian,
berdasarkan pengalamannya sebagai konsultan dan eksekutif dari
suatu pabrik, Taylor memiliki pandangan pragmatis dan menaruh
perhatian yang besar pada masalah peningkatan produktivitas
pekerja.
Adapun inti dari pemikiran Taylor adalah gagasan
mengenai terdapatnya satu cara terbaik untuk melaksanakan
pekerjaan. Hal itu berarti ada kebutuhan besar untuk
mengembangkan satu cara terbaik dalam menjalankan tugas,
bagaimana membuat suatu standar atau ukuran yang dapat
dilaksanakan secara praktis, menemukan orang-orang yang tepat
untuk melakukan tugas itu, serta dalam menetapkan alat dan
perlengkapan terbaik yang diperlukan orang-orang tersebut. Jika
ini dilaksanakan, baik orang-orang yang bekerja dalam organisasi
35.
25
maupun organisasi itukeduanya akan mendapatkan banyak
keuntungan - keuntungan.
Pemikiran Taylor ini mengkombinasikan sejumlah
kecenderungan dalam pemikiran manajemen. Pertama, gagasan
bahwa pekerjaan dapat dianalisa secara ilmiah. Kedua, studi
tentang waktu dan kegiatan yang detail akan dapat menunjukkan
cara yang terbaik dalam melakukan suatu pekerjaan. Kedua,
melalui standardisasi, proses seleksi, proses penempatan, dan
proses pelatihan dapat dilakukan lebih mudah. Studi tentang
waktu dan kegiatan menunjukkan ketrampilan dan keahlian
macam apa yang diperlukan oleh suatu pekerjaan yang khusus.
Ketiga, standardisasi menjadi langkah yang penting menuju
proses mekanisasi, suatu gagasan philosofis yang menunjuk pada
sistem hubungan manusia dengan mesin dalam dunia kerja.
Orang dilihat sebagai suatu komponen yang dapat dengan mudah
dipindah-tukarkan dan disesuaikan dengan lingkungan yang
makin mekanistis sifatnya. Gagasan Taylor ini lebih dikenal
sebagai manajemen ilmiah, sehingga Frederick W Taylor dijuluki
sebagai Bapak Manajemen Ilmiah.
Sumbangan lain yang penting dari Taylor dengan
manajemen ilmiahnya adalah pemikirannya tentang pemisahan
rencana kegiatan dari pelaksanaan kegiatan. Ini berkaitan dengan
pemisahan personil ke dalam konsep lini dan staf. Untuk
mendapatkan hasil yang efisien, fungsi organisasi perlu dibagi
dalam beberapa spesialisasi yang berlainan. Taylor menunjukkan
bahwa sebagai akibat dari sangat kompleks dan sangat
berkembangnya spesialisasi dalam organisasi, pekerja dapat saja
mendapatkan nasehat atau saran dari sumber-sumber yang
berbeda untuk berbagai masalah yang berlainan. Pada saat itu,
pengawasan fungsional dan pengawasan ganda (multiple
supervision) ini telah menimbulkan kebingungan karena
bertentangan dengan prinsip kesatuan dalam perintah. Meskipun
demikian, hal itu kemudian menjadi sesuatu yang secara luas
diterima di kalangan manajemen. Terlepas dari semua itu,
gagasaan pemikiran manajemen ilmiah ini tidak hanya
berpengaruh pada hasil kerja tingkat pekerja, tetapi juga
berpengaruh pada tingkat organisasi antara lain dalam bentuk
modifikasi dan penyesuaian-penyesuaian dari segi struktur
organisasi, misalnya pembentukan divisi atau bagian-bagian baru
dalam organisasi yang berbasis pada adanya spesialisasi.
36.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
26
c. Fayol dan Prinsip-Prinsip Administrasi
Henri Fayol (1841-1925) seorang industrialis dari Perancis
dan juga seorang insinyur pertambangan, merupakan salah satu
dari beberapa perintis teori organisasi yang sangat dikenal. Karya
terpentingnya diterbitkan dalam bahasa Perancis pada tahun
1916, tetapi baru mendapat sambutan dari kalangan yang luas
ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1949
dibawah judul "General and Industrial Administration".
Fayol mengembangkan teori yang memusatkan
perhatiannya pada pemecahan fungsional kegiatan administrasi.
Menurut Fayol kegiatan administrasi dapat dipecah secara
fungsional dalam lima fungsi, yaitu:
a) Planning atau perencanaan,
b) Organizing atau pengorganisasian,
c) Command atau perintah,
d) Coordination atau koordinasi,
e) Control atau pengawasan
Kelima elemen fungsional dari administrasi ini kemudian
menjadi dasar-dasar bagi fungsi-fungsi dasar manajemen. Masih
dalam karyanya yang sama, Fayol juga mengemukakan empat
belas prinsip-prinsip yang menyeluruh yang dipergunakan sebagai
petunjuk bagi manajer. Empat belas prinsip atau asas manajemen
itu adalah:
1) Pembagian kerja. Di dalam organisasi harus diciptakan tenaga
kerja yang memiliki spesialisasi yang mengutamakan
pekerjaan untuk mencapai tingkat efisiensi yang lebih tinggi.
2) Wewenang dan tanggung jawab. Otoritas atau wewenang
adalah hak untuk memberikan perintah, sedangkan
kekuasaan diperlukan untuk menciptakan kepatuhan.
3) Disiplin. Disiplin merupakan hal yang sangat esensial agar
kegiatan dapat berjalan lancar, tanpa adanya disiplin tidak
akan dapat berhasil baik.
4) Kesatuan dalam perintah. Setiap orang hanya menerima dari
seorang atasan.
5) Kesatuan arah. Dalam suatu organisasi haruslah hanya ada
satu arah dan satu rencana bagi semua kelompok kegiatan
dalam upaya pencapaian tujuan yang sama.
37.
27
6) Mengutamakan kepentinganumum (general interest) di atas
kepentingan individu. Kepentingan pekerja secara perorangan
atau kelompok pekerja haruslah berada di bawah
kepentingan organisasi secara keseluruhan.
7) Pemberian upah bagi pekerja. Upah sebagai kompensasi kerja
harus dilakukan secara jelas dan sejauh mungkin dapat
memberikan kepuasan baik bagi pekerja maupun bagi
organisasi kerja atau perusahaan.
8) Sentralisasi. Sentralisasi merupakan hal yang penting bagi
organisasi dan hal itu merupakan konsekuensi logis dari
adanya proses pengorganisasian.
9) Rantai perintah. Terdapat rantai perintah yang
menghubungkan atasan dengan bawahan yang hirarkhis
berdasarkan pemilikan wewenang yang berbeda, makin ke
bawah wewenang itu makin terbatas.
10) Ketertiban. Organisasi haruslah menjadi tempat yang tertib
bagi setiap individu yang menjadi anggotanya.
11) Keadilan. Keadilan dan -rasa keadilan harus dupayakan ada
dan dirasakan setiap anggota dalam organisasi.
12) Kestabilan masa kerja pekerja. Waktu sangat diperlukan oleh
pekerja untuk beradaptasi dengan tugas dan pekerjaannya
serta untuk mendapatkan hasil yang efektif.
13) Inisiatif. Pada semua tingkatan kepemimpinan organisasi,
semangat dan energi haruslah diperbesar dengan inisiatif.
14) Semangat jiwa kesatuan atau korps. Prinsip ini menunjuk pada
kebutuhan akan kerja kelompok dan memelihara hubungan-
hubungan antar anggota dalam organisasi.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut dapat dilihat bahwa
tujuh prinsip diantaranya berkaitan dengan rantai perintah dan
alokasi kewenangan. Sedangkan dua prinsip lainnya berkaitan
dengan keadilan dalam sistem dan dua lainnya berkaitan dengan
stabilitas dan ketertiban. Menurut Fayol, jumlah dari prinsip-
prinsip tersebut tidaklah merupakan harga mati, artinya jika dari
pengalaman ternyata muncul prinsip baru, maka penambahan
prinsip itu bukanlah masalah yang penting. Menurut Fayol
prinsip-prinsip tersebut sifatnya luwes dan dapat diadaptasikan
sesuai dengan kebutuhan dan karena itu, bagi Fayol
38.
Perilaku dan TeoriOrganisasi
28
dimungkinkan ada penambahan prinsip yang muncul dari
pengalaman yang ada. Menurut Fayol, hal yang lebih penting
adalah bahwa prinsip-prinsip dapat diterapkan dalam setiap
organisasi. In' merupakan hal yang baru dalam perkembangan
teori organisasi karena asas universalitas mulai dikenal dan
dipergunakan dalam perkembangan dan penerapan teori
organisasi.
Pemikiran Fayol tentang prinsip-prinsip organisasi juga
dikemukakan oleh James D Mooney dan Alan C Reiley, dua
orang manajer dari General Motors di Amerika Serikat.
Pemikiran Mooney dan Reiley berdasarkan pengalaman-
pengalaman, memusatkan perhatiannya pada pengembangan
struktur organisasi yang piramidal, yang ditandai oleh adanya
delinasi otoritas secara jelas, pengembangan tugas-tugas secara
khusus dan penggunaan staf khusus yang lebih besar. Berbeda
dengan Weber yang menempatkan pembagian kerja sebagai
kekuatan utama yang menggerakkan organisasi, Mooney dan
Reiley melihat koordinasi sebagai aspek penting dalam setiap
gerak dari organisasi. Dalam pandangan mereka, koordinasi
merupakan "induk" dari berbagai prinsip lainnya, terutama dalam
mendukung pelaksanaan fungsi yang saling berbeda tetapi saling
terintegrasi dalam organisasi secara lancar.
Prinsip-prinsip utama dari organisasi menurut Mooney
dan Reiley meliputi:
a) Prinsip koordinasi yang diperlukan untuk menyatukan
berbagai tindakan dalam mencapai tujuan yang obyektif;
b) Prinsip jenjang yang menggambarkan susunan hirarkhis dari
organisasi maupun dalam pendelegasian wewenang;
c) Prinsip penyusunan fungsi dalam pengorganisasian tugas-
tugas kedalam unit-unit departemental;
d) Prinsip staf yang menunjukkan adanya perbedaan antara lini
dan staf yang memiliki tugas berbeda, lini memiliki tugas
pelaksana dari wewenang yang diberikan, sedangkan staf
bertugas memberikan saran dan informasi.
Berdasarkan berbagai pemikiran yang dikemukakan di
atas secara jelas menunjukkan jika gerakan manajemen ilmiah
mengarah pada upaya maksimalisasi keluaran dan minimalisasi
masukan pada tingkat pelaksanaan kegiatan, pendekatan yang
too, sir, oneof the best amateur whips in the city of London; and
had my transit, sir, to be effected by a vehicular means, I flatter
myself, sir, none could accomplish the mission better."
"That I am convinced of," replied Mr. Rainsfield; "but I fear, Mr.
Billing, I shall have to defer the pleasure of witnessing your skill in
handling the ribbons until I am induced, by the existence of roads,
to treat myself and my family to the luxury of a carriage. But, with
regard to the journey I have mentioned, I can provide you with a
quiet horse; and I have no doubt a man of your various
accomplishments will find no difficulty in adding to them the art of
riding. In fact, unless you had mentioned it, I would never have
imagined but that you were a perfect equestrian; your stature and
figure are just such as would show to best advantage on horseback;
and, with the constant opportunities which present themselves here,
I really am surprised that you don't ride. You know 'it is never too
late to mend;' so you must really permit me to persuade you
(irrespective of this journey) to commence at once practising the art,
and take a regular course of riding. I am convinced you will not only
find it pleasant, but beneficial to your health."
"I appreciate your kindness, sir," replied the little man. "As you say,
it is never too late to mend, and I really think, sir, it is ridiculous that
I should not be able to ride; but the fact is, to be candid, sir, I have
always dreaded the first lesson."
"There is really nothing to fear, Mr. Billing," said Rainsfield. "You will
find, once on your horse, riding will come natural to you; the only
inconvenience you will experience is being at first a little stiff after
it."
"When would you desire me to start, if I took this journey?"
enquired the would be equestrian.
"Well, I should prefer it at once," replied his tempter. "If you were to
start within half an hour you would have at least six hours of
daylight; and the distance is only about twenty-five miles, so you
41.
could reach thetown at your leisure before dark, and return to-
morrow."
"I have decided then, sir," exclaimed Mr. Billing; "you may command
my services, and I will be at your disposal before the expiration of
half an hour."
"That's right, Mr. Billing," replied his superior; "and I'll get a horse in
from the paddock for you; and by the way, will you just leave the
keys of the store with Mrs. Billing. When you are away I purpose
removing all the stores into the house, and have prepared a room
for their reception; so if our black visitors should favour us with a
call during your absence they will find themselves disappointed."
"Most assuredly, sir, as you desire," replied the quondam
commercial; "I will hand the badges of my office into your hands
myself, to prevent, sir, the possibility of any mistake:" saying which
the two separated; Mr. Billing filed with the importance of his
mission, to communicate it to his wife, and obtain her aid in a
speedy preparation for his hazardous journey; and his employer,
with a complaisant smile of satisfaction on his features, to give
instructions for the immediate capture of a steed.
Within the specified time an animal was brought by Mr. Rainsfield up
to the door of Mr. Billing's abode duly caparisoned for the journey,
and with an old valise strapped upon the saddle. At the same time
the adventurous storekeeper also made his appearance; having
undergone by the careful assiduity of his wife a perfect
transmutation. On his head stood erect a black cylindrical deformity,
designated in the vulgar parlance of the colony "a Billy," but which
he, while he smiled benignly at the ignorance of the canaille (as he
gave it the extra rotary flourish of the brush, while he read "Christy's
best London make" in the crown), called a hat; and the only proper
head-dress for a gentleman. He was encompassed in a coat of the
gigantic order, possessed of many pockets; a garment truly noble to
look upon, and one that had done service to its owner in days of
yore; when on cold and wet mornings Mr. Billing nestled himself in
his wonted position in the Brixton 'bus, to be conveyed to his diurnal
42.
bustle in thecity. In this habiliment evidences of an affectionate
wife's forethought were visible in the protrusion from the pockets of
sundry pieces of paper, denoting the occupation of those receptacles
by certain parcels; the contents of which, should the reader be
anxious to know, we are in a position to disclose.
In the lower pocket on the right hand side, we are enabled from our
information (which is from the most reliable source) to inform the
curious, was a parcel (thrust by Mrs. Billing with her own hands)
enclosing two garments, of a spotless purity, essential for a
gentleman's nocturnal comfort. In the contemporary pouch was a
package of humbler pretensions, containing sundries to appease a
traveller's appetite; while in another was deposited that necessary
paraphernalia for a morning's toilet, embraced in the apparatus
known as a "gentleman's travelling companion." His legs were
encased in trousers that had been brought specially to the light.
They were of a questionable colour, something between that of
kippered salmon and hard bake; and were strapped down to his feet
with such powerful tension that he was threatened every moment
with a mishap most awkward in its consequences. When he walked
he effected the exercise with a sprightliness that appeared as if
galvanic agency was that which had set his nether limbs in motion;
and his feet started from the ground at every step with a spring that
promised at each evolution the protrusion of some part of his crural
members.
In this perfect costume Mr. Billing considered himself adjusted for
the road; and construing the smile of amusement that played on the
features of Mr. Rainsfield as a mark of affability returned it in his
most winning style.
The horse provided for this Gilpin excursion was an animal of no
mean pretensions. He boasted of having in his veins some of the
best blood of the country, though, now perhaps, that blood was
somewhat vapid, and he rather patriarchal. He had served many
masters, and performed various duties; from racing to filling the
equivocal position of a station and stockman's hack. Though once
43.
possessed of aspirit that required a strong arm and determined will
to maintain a mastery over, he was now as quiet and subdued as a
lamb; although he was as sagacious as most of his riders, and as
knowing as any "old hoss" in the country. He had settled into an
easy-going stager, that neither persuasion nor force could induce to
deviate from the "even tenor of his way;" while his general
appearance, at this stage of his life, was long-legged, raw-boned,
lean and screwed, with the additional embellishment of being minus
his near eye.
Mr. Billing surveyed the beast that was to carry him to Alma with
about the same comprehension as a ploughman would contemplate
a steam engine; while the horse returned the gaze from the corner
of his sound eye, and winked in a manner that might have been
interpreted into a request "to wait until he got him on his back." Mr.
Billing, however, was perfectly unacquainted with the significance of
his horse's looks, and perhaps well for him that he was; for we are
convinced, had he known what was in store for him, he would never
have risked his valuable person and life on the back of so perverse a
dispositioned animal. We have heard that an inclination of the head
is equivalent to the closing of one eye to a quadruped whose ocular
organs are in a state of total derangement; and we therefore
presume that the momentary stultification of our quadruped's vision
had the same effect upon our Cockney-born viator as the
craniological recognition mentioned in the aphorism would have had
on his horse. Consequently, he was in blissful ignorance of the trials
that awaited him; and, under the directions of Mr. Rainsfield, he
prepared to mount with an alacrity which he prided himself as
pertaining to a "city man of business," and which he still retained in
his animated anatomy.
For some time he experienced considerable difficulty, in fact he
found it absolutely impossible, to so far stretch his limbs as to get
one leg high enough from the ground to reach the stirrup; and not
until, at the suggestion of his highly-amused employer, his loving
spouse produced a chair from the cottage, had he any prospect of
reaching the saddle. However, being elevated by the chair, he made
44.
a bound onto the back of the steed, but unfortunately with too
great an impetus; for he lost his equilibrium in attempting to gain his
seat, and measured his length on the ground. This mishap tended to
cast a gloom upon his spirits, but he was soon rallied by Mr.
Rainsfield, who told him he would be all right when once in his
saddle and on the road. Upon a second attempt he exercised more
caution, with better success; and, as he seated himself in his saddle
bolt upright, he gazed about him, and below him, with a proud
consciousness of the elegant symmetry of himself and horse; and
doubted not he would, as he then stood, be a prize study for any
sculptor. His following remark will not therefore be wondered at.
"As you a few minutes ago affirmed, sir, now that I am possessed of
my seat, I do feel myself all right. I experience, sir, a confidence in
myself that, if called upon, I could do any equestrian prodigy, even
to eclipse the stupendous leap of Martius Curtius; or to perform, sir,
any other feat that my destiny may decree."
"I am equally confident in your abilities, Mr. Billing," replied his
master; "but I trust they will never be put to so severe a test. I will
walk with you to where the roads to Alma and Brompton diverge. It
is not more than a mile beyond the Wombi, so, though I can tell you
yours is the left hand road, I may as well accompany you to the
junction. From that you will have no difficulty in keeping to the track,
if you just give the horse his head; for he has been so used to the
road that he will know perfectly well where he has to go. You will
perceive I have strapped a valise on your saddle; it is for you, when
you procure the poisons, to put them into it, and keep them out of
harm's way; while it will save you the annoyance and trouble of
carrying them."
When they arrived at the spot where the tracks separated Mr.
Rainsfield parted from his colleague; and looking after him for a few
minutes, until he was lost from view by a turn in the road, he burst
into an inordinate fit of laughter, and turned on his heel to retrace
his steps. After walking for some time in abstracted silence,
apparently absorbed in deep meditation, he suddenly started with
45.
the ejaculation, "Yes!by Jupiter, that'll stop them. I expect they
won't trouble me much after that."
But while we leave him to his cogitations and silent walk, we will
pursue Mr. Billing and accompany him on his ride.
47.
CHAPTER III.
"His horsewhich never in that sort
Had handled been before,
What thing upon his back had got,
Did wonder more and more."
Cowper
When he departed from his master, as we have described in the last
chapter, Mr. Billing went on his way with a joyful heart. But, thinking
the slow walking pace of his steed might safely be improved upon;
and also considering, that if he could only prevail upon the horse to
walk a little faster, it would facilitate his journey amazingly; he
commenced a series of exhortations that were excellent adjuncts to
the theory which advocates the superiority of persuasion to the
application of force, but extremely ineffective in practice, when the
subject is a quadruped of rather a stubborn nature, and perfectly
ignorant of the vernacular in which he is addressed. Thus, when Mr.
Billing endeavoured to accelerate the speed of his animal, by the
utterance of such pathetic and endearing appeals, as "now, come
along, poor old horsey;" "there's a good old horse;" "ge up;" "now,
don't be angry" (as the beast showed signs of uneasiness); "walk a
little faster, like a good old horse;" we say we would not have been
surprised, had the horse paid no more heed to Mr. Billing's entreaties
than we should be likely to do, were we addressed in a lively asinine
interpellation, by one of those animals, whose peculiar idiosyncrasies
are proverbial. But, strange to say in this case, the horse did notice
the requests of his rider. Whether he was an animal of superior
discernment, and detected the wishes of Mr. Billing in the tone of
that gentleman's appeals; or, whether the intonation sounded to his
ears strange and novel, and stimulated him with a desire to
accommodate the applicant; or, whether he himself became anxious
to reach his destination, to realize his visions of a stable and a feed,
48.
we cannot ventureto say. But we simply record the fact, that Mr.
Billing's request to the "old horse" was complied with; and the
quadruped went off in a step, which was an incongruous mixture of
a shambling walk, a canter, and a trot.
That fable of the frogs, who in answer to their prayer for a king,
obtained a carnivorous monarch of the aves genus, has no doubt
been forcibly impressed on the memories of our readers during their
scholastic probation. They will readily, then, understand the feelings
of Mr. Billing, when he imprecated his rashness for disturbing the
equanimity of his horse's pace; and we are convinced that the
animals in the apologue never prayed more fervently for a
discontinuance of their visitation than he did for an alleviation of his
misery. All his "woa's," and "stop old horse's," were perfectly
unavailing; the quadruped proceeded without the slightest notice,
and with the greatest unconcern. But the torment to the biped was
dreadful. What was he to do? He had uttered the talismanic syllable,
that had called up the spirit; while he was not possessed of the
power to exorcise it. His agony of body, was only equalled by that of
his mind. He remembered Mr. Rainsfield had said the animal never
went out of one step; and if that in which he then was should be the
step, which he would of a necessity continue during the whole of the
journey, what would become of him? The thought was horrible and
insuperable; but he, Mr. Billing, the quondam pride of Thames
Street, could not answer it; and in a stoical distress of mind he gave
vent to a sigh, which seemed to jolt out by inches the centre of his
little fastidious anatomy. He a thousand times wished himself back
again, safe alongside the partner of his bosom; when no power on
earth should persuade him to submit again to so ignoble a position
and spectacle, as a ride on horseback. But something must be done,
he thought; for as the horse proceeded in his jogging step, so did
Mr. Billing continue to be battered by his jolting.
The unfortunate equestrian was a perfect picture of distress. At
every step of the animal, he was almost bounded from his seat. He
could not speak, for the breath was almost shaken out of his body;
while he dared not look around for fear of losing his equilibrium. He
49.
had also losthis hold of the bridle, which he dropt on the horse's
neck; while he seized the pommel of the saddle for his further
security, with the air and grasp of a resolute man who preferred
even torture to the indignity of being unseated.
What Mr. Billing's appearance was, when he was undergoing this
ordeal, our readers who have witnessed a first riding lesson can
easily imagine; and would, no doubt, were they witnesses of the
scene, be ready to laugh at the victim's sufferings as we penitently
confess ourselves to have done. Our friend's torture, however,
continued as he turned over in his mind the best means of obtaining
relief. If he should be so far fortunate as to meet any one in the road
who would kindly stop the refractory animal, he thought, how
grateful he would be; but of that he feared there was little chance. A
thought, however, struck him and suddenly illumined his perturbed
spirit. Why could he not stop him himself? It never occurred to him
before, but now he experienced a gleam of hope; he thought, if he
could but pull the bridle, the animal would cease his torturing career.
But then how was he to effect this? If he relinquished his hold, he
might lose his seat; however, he determined to try, and, summoning
all his energies to his aid, he suddenly relaxed his grasp of the
saddle, seized the bridle, and gave it as violent a tug as his strength
would permit. His object, however, was not gained; for in his avidity
to stop the horse he had pulled on the one side of the bridle, and his
Rosinante, instead of slackening his speed to the desired pace,
turned his head and looked Cyclops-like at his rider, in a way that
said as plainly as looks could: "What is it you want?" But we have
already stated that Mr. Billing was not versed in the significance of
horse's looks, so he understood it not; but continued to tug with a
violence that threatened his own downfall, and the dislocation of the
quadruped's jaw.
Servants, however industrious and painstaking, may sometimes find
it difficult with petulant employers to ascertain the precise wishes of
their superiors; and not unfrequently have we witnessed some
truculent master abusing his menials for an act, the very nadir of
which had previously met with his disapprobation; leaving the
50.
abusees in astate of doubt as to what really were the desires of
"the master." In the same way was the horse in our narrative. He
turned his head in the direction indicated by Mr. Billing's tug; and
finding it still continued, he followed with his whole body; and,
possibly under the impression that he was required to return home
in the same leisure trot, he commenced a retrogression. That was
not, however, what his rider required, at least while his journey was
unaccomplished; for though, for his personal comfort, he devoutly
desired it, such a course of action could not be thought of. Mr. Billing
was a man of honour, and volunteered to perform the duty; had
even pledged his word; while his respected master had told him that
he relied upon his good judgment; therefore, was such a confidence
to be misplaced, and his integrity to be called into question?
"Never!" Mr. Billing mentally ejaculated; even if his life were to be
sacrificed in an expenditure of sighs. An imputation of such a
dereliction had never been cast upon the name of Billing, and should
he be the first to disgrace the family? He mentally replied with an
emphatic and forcible negative, and tugged away with increased
energy at the bridle he continued to hold in his hand.
It is needless to say the horse became bewildered at the
manœvering of his rider. He had never experienced such treatment
before, and could not comprehend its meaning. He stopped; the
tugging continued. He turned again, and the tugging ceased. He
thus discovered the desire of his director; and being at the time
somewhat accommodatingly disposed, he proceeded at a snail-
paced ambulation. Our readers will have by this time discovered that
Mr. Billing's Rosinante was an animal of rather a peculiar
temperament; and will therefore be prepared to hear that, having
gained some experience of the style of individual on his back, he
gave evidences of a disposition which caused no little uneasiness to
the sensitive mind of the Strawberry Hill Mercury. This highly to be
deprecated perversity, displayed itself in various "little games" of his
own, which were performed with a degree of nonchalance highly
edifying to an admirer of coolness, though extremely alarming to our
friend. Some of the most salient we may mention, were, grazing in
51.
the bush atthe side of the track; rubbing himself against the trees;
taking erratic turns in search of water-holes; and finally stopping
altogether.
This trial was worse than all, and brought Mr. Billing's patience to a
culminating point. That the poor animal should desire a drink he
thought in no way extravagant; but to coolly stand still, and decline
any further progression, was the height of assumption; which even
he could not tolerate. He therefore grew importunate in his demands
for locomotion; and vibrated his legs like pendulums, while he
shouted in a voice that betrayed anger. He again seized the bridle,
and tugged away with equal violence as before, only varying the
operation by pulling alternately, one side, and the other. Under this,
or some unaccountable influence, the horse regained his amiability,
and returned to the road; and, moreover, took the right direction for
Alma; which, though at a pace by no means so fast as Mr. Billing
could desire, yet in one which he thought preferable to that, the
inconveniences of which he had had such tangible proof. However,
he now jogged on at his leisure, and would doubtless have
continued to have done so without any further adventure, had he
not been disturbed from his equanimity by the unmistakeable
sounds of an approaching bullock dray. The idea of meeting this
threw him into a perfect state of perplexity, and he therefore
thought of getting off the track to allow it to pass; but how to guide
his perverse animal he knew not. The sounds came nearer, but his
horse paid no attention to his admonitions; so, with visions of being
gored to death by bullocks, he relinquished the contest with his
animal, and gave himself up for lost.
The dray slowly dragged its course along, and approached within
sight of our adventurous friend; when its companions, amused at
the figure before them, halted their team to have a little
conversation with one whose appearance was truly enough to excite
their risibility. Mr. Billing's horse, in like manner, aware that it was
expected of him to halt, also did so; and the individual, who
officiated as driver to the team, addressed the equestrian in the
following easy style of familiarity:
52.
"I say, mate,don't you think you'd better get inside?"
The force of this coarse joke was duly appreciated by the utterer's
travelling companions; though it was entirely lost upon our friend,
who gazed in mute astonishment at his questioner. While he
indulges in this visual inspection, we will crave permission to make a
slight digression, for the purpose of describing the parties thus
unceremoniously introduced to the reader's notice.
The driver of the dray, and the individual who had addressed Mr.
Billing, was a man of ordinary stature; slight in make, and past the
meridian of life. His features were sharp; his hair was tinged with
gray; his eyes were of the same colour, and somewhat sunken in his
head; on his chin and lip was hair of about a week's growth, having
very much the appearance of a worn-out scrubbing brush, and of
quite as course a texture. He was clad in the usual bushman's style,
and carried the long whip of his order. At his side walked a young
man, in appearance and manner a considerable improvement on the
old one; and high upon the laden dray were perched two females.
One was an old dame with features of the nut-cracker cast, and
apparelled with an evident desire to combine in her person all the
prismatic hues. Her more juvenile companion, while emulating the
same laudable disposition, was certainly superior in looks to her, in
the same proportion as the young man was to the old. The
appearance of the whole party was such as proclaimed them at
once, to the practised eye of Mr. Billing, to be of a class having no
pretensions to gentility; though there was an air about them of
careless freedom and easy comfort that, to him, ill accorded with
their position. He had satisfied himself on this point, by his scrutiny,
when he ventured to reply to the before mentioned remark of the
old man by making the following observation:
"May I be permitted, my good sir, to enquire the nature of the
expression you just made use of? I presume you must have spoken
in metaphor."
"Not a bit, old cock," replied the man, "I guess I spoke in English.
You didn't seem to enjoy travelling that ere way, so I just axed you if
53.
you'd get inside."
"Andpray, sir, what did you mean by that?" asked Mr. Billing, whose
choler began to rise at what he considered the rude insolence of his
interrogator.
"Oh! nothing," replied the young man, who saw that their new
acquaintance was likely to be a little irascible, "my father was only
joking."
"And pray, young man," said Mr. Billing, "is not your father aware
that it is a gross breach of decorum his attempting to pass his jokes
off on a gentleman? eh, sir?"
"Certainly," replied the young fellow, "he is quite aware of it, but he
has got such a way of joking with people that he does it all the same
with friends and strangers; and I have no doubt he could not resist
the temptation of having a slap at you, when he saw so elegant a
rider and gentleman."
This attempt of the young witling, while it highly amused the various
members of the travelling menage, pacified Mr. Billing; who failed to
perceive any irony in it; and, addressing the elder of the party with
his usual suavity, he said, "May I be so bold as to enquire sir, the
point of your destination? As I am not aware of the expectation of
any one at our place, I presume you are bound for our neighbours at
Fern Vale?"
"No, we ain't, old fellow," replied the party addressed, "we are going
to our own place, t'other side of Fern Vale. I 'spose you don't know
us? My name's Sawyer, and this 'ere chap's my son: that there's my
old woman on the dray; and our gal alongside on her. I've bought a
run on the Gibson river, and am going to settle on it now. So, as you
know all about us, take a 'ball,' and tell us who you are." With which
he handed to Mr. Billing a bottle, containing some alcoholic fluid; and
took out his pipe which he inserted between his teeth, and made to
give forth a whistling sound, to satisfy himself upon the non-
obstruction of the passage, preparatory to replenishing it with the
weed.
54.
Mr. Billing havingsmelt the contents of the bottle, which had rather
a rummy odour, returned it to old Sawyer with the remark: "You
really must excuse me, sir, for I invariably make it a rule to abstain
from spirits in the middle of the day, and never at any time drink
them raw."
"We can give you water old 'bacca' breeches, if you like it best that
way," replied Sawyer, sen.
"Not any, I thank you," said Billing, "I would prefer, I assure you, sir,
to be excused; at the same time I value your kind attention."
"Well, here's luck to you, old feller," said the other, as he took a pull
at the bottle. "I don't believe in watering grog, it spoils good liquor.
But I say, old cock, who are you?"
"I, sir," said Mr. Billing, not exactly relishing this unceremonious style
of questioning, and with difficulty suppressing his indignant ire, at
being so vulgarly addressed by a low-minded besotted man. "I, sir,"
he repeated, "am Mr. James Billing of Strawberry Hill, and late of the
firm of Billing, Barlow, & Co., of the city of London." He said this with
the air of a man who would strike his interrogator with a sense of
that forwardness that could prompt so rude a query as that which
had been made by the head of the Sawyer family; and as one
resolved to maintain the honour of his position, and claim that
respect which was due to him as the representative of that class
which is the acknowledged source of England's greatness; viz., the
mercantile community.
"I 'spect Strawberry Hill ain't yourn?" said Sawyer, unmindful of the
reproof conveyed in the tone and language of Mr. Billing. "I believe it
belongs to a chap of the name of Rainsfield, don't it?"
"Mr. Rainsfield is the proprietor of the station, sir," replied Billing,
"and I am his confidential assistant."
"Oh, the 'Super?' I suppose," exclaimed the other.
"No, sir," replied our friend, "his accountant."
55.
"Oh, I see,"cried the old man, as the nature of his interlocutor's
position flashed across his mind, "the storekeeper, that's all, eh? and
where are you going now, mate?"
"I can't see, sir," replied Mr. Billing, "how that can interest you in the
slightest degree. I am not called upon to submit to your catechising;
you must be perfectly aware that your questions are bordering on
the impertinent; and but that I am a man of peace, I would resent
your inquisitiveness, sir, as an insult."
"My father meant no offence, sir," said the young man, while his
parent gave vent to his amusement in a prolonged whistle, "it is only
his way."
"And a most unwarrantable way too, sir," said the now irate
commercial man.
"You need not get your rag out, old fellow," said the senior Sawyer,
"if you can't take a bit of chaff you oughtn't to live in the bush."
"Of that, sir, I'm the best judge," replied the indignant Billing. "No
man is justified in offering chaff, as you call it, to a gentleman; more
especially when the parties are perfect strangers. I made no rude
and inquisitive remarks to you; and am surprised that you should
have ventured to utter them to me."
"Well, old fellow," said the other, "I ain't agoing to quarrel with you
no how, so if you don't mean to tell us where you're going, why, you
can just please yourself."
"That, sir, I intend to do," replied Mr. Billing; "so, if you have no
further enquiries to make, we may just as well part company."
"All right, old chap," said Mr. Sawyer, "we'll go;" and while he put his
team in motion, with his whip, he imparted a slight titillation to the
flanks of Mr. Billing's horse, which caused that eccentric animal to go
off in the step most torturing to his rider, amidst the united
cachinnations of the Sawyer family.
Mr. Billing experienced a return of all his former horrors; but his
efforts this time to reduce his horse to a tractable obedience were
56.
fruitless; the animalpersisted in keeping to his own pace,
notwithstanding the various tugs, bridle sawings, admonitions, and
solicitations of our disconsolate equestrian. He was fain at last to
give up the contention, and submit to his fate; and, be it mentioned
to his commendation, he bore his torture to the end of his journey
with a degree of fortitude perfectly astounding.
It was night when the horse stopped in front of the "Woolpack" inn,
at Alma, and well was it for Mr. Billing's sensitiveness that it was so;
for it saved him from the cruel jeers and laughter of the
unsympathising ignoramuses who would have been sure to have
made his misfortunes a subject for merriment. He was aroused from
the abstraction of his calm resignation by the cessation of motion;
and he perceived, with a lively joy, that his troubles were for the
time at an end. How he got down from his saddle we are as ignorant
as he was himself; though we can affirm that he scrambled off in
such a manner as to bring himself to the ground in a prostrate
position. Upon recovering from his surprise, after carefully brushing
the dust from his apparel, he noticed that his horse, who was
apparently well acquainted with the locale of the place, had entered
the yard, and was standing at the stable door, waiting with an
exemplary patience to be admitted. Leaving him there, to be
attended to by the proper authority, our friend entered the house
with a step somewhat resembling the progression which, is to be
assumed, would be that of an animated pair of compasses. He was
met in the passage of the hostel by an individual of the masculine
gender, who, with a sardonic grin, asked him "if that 'ere 'oss what
was in the yard belonged to him;" and being answered in the
affirmative, and that the repliant desired to be shown to the coffee-
room, and required supper and a bed, he remarked, "I suppose you
come from Mr. Rainsfield's? I know'd his old 'oss the moment I seed
him, and he knows us as well as he does his master."
"Indeed!" replied Mr. Billing, "it's very probable, my good fellow; but
I have no desire to enter into a discussion with you respecting the
merits or acquaintances of the animal. I would be exceedingly
57.
obliged to youif you would show me to my bed-room, and let me
have some supper as soon as possible."
"I don't think you've been much used to a riding of 'orses, sir," said
the cool stable functionary, as he eyed our travel-worn friend from
apex to base. But Mr. Billing was too indignant to answer him. He
really thought that all the vagabonds in the country had conspired to
insult him, and he determined to submit to their contumelies no
longer; so, turning round upon his questioner, with a look of
indignant scorn, he said:
"I'll suffer no impertinence from you, sir, and I have to request you'll
refrain from indulging in any further offensive remarks and queries,
sir. If you are the landlord of this hostlery, sir, you are evidently
unacquainted with your business; and if you are a servant in the
establishment be good enough to inform your master that I desire to
speak to him."
"All right, sir," replied the man, "if you want to see the gov'ner I'll tell
him." Saying which, the facetious servant took his departure with an
evident risible excitement.
In a few minutes the landlord himself made his appearance; and
received Mr. Billing's order, and complaint against the domestic, with
as much indifference as if they were matters not worth noticing; and
without deigning any acknowledgment or reply beyond that which
he put to his visitor in the following words.
"Do you want anything to drink?"
"Not at present, I thank you," replied the urbane son of commerce;
"I desire first to have something to eat."
"Oh! then you'll have to wait," replied the landlord, "for we don't
cook meals at this time of night."
"Well, my good friend," replied Mr. Billing, "I don't wish to
inconvenience you, and your household; but I am perfectly
voracious, and desire something solid. I am not fastidious and would
be content with something cold, if your larder contains such."
58.
"No, we ain'tgot nothing cold," replied the master of the
"Woolpack;" "we never keep it:" and with a grunt this specimen of
politeness left the room.
The unfortunate Mr. Billing was now subject to another species of
annoyance; and we verily believe, had he not been the
personification of patience, he would have been perfectly driven to
distraction. Though shouts of revelry, and indications of drinking,
emanated from the bar, he was not surprised or disturbed, for he
expected it; but he heard sounds in the passage as of suppressed
laughter, accompanied by stifled expressions in a strong Hibernian
dialect. Whether the utterance was by male or female, it was difficult
to conjecture; but Mr. Billing's doubts (if he had had any on the
subject) were soon put to rest, for he plainly discerned the
frontispiece of a biped; which, by the manner of arranging its natural
scarlet covering, plainly proclaimed itself as belonging to the order of
feminine. The features displayed a broad grin; and an inquisitive
glance met that of our friend, as he stood facing the door. The head
was hastily withdrawn when its owner perceived it had been noticed;
but a laugh succeeded its withdrawal, and another cranium was
protruded into the aperture, and retired in its turn with a laugh, to
make way for another.
Mr. Billing submitted to this scrutiny with the assumed fortitude of a
stoic; and attempted to allay his rising ire, and deceive his perturbed
spirit, by whistling one of the favourite airs from Norma. Now, Mr.
Billing prided himself upon the accomplishment of whistling; for he
did consider it an accomplishment, notwithstanding that some
people call it vulgar. He had given it his study; and when in the
height of conviviality, when he was at any time induced to favour his
friends with a specimen of his art, he would throw his whole soul
into the performance, and remain an unconscious spectator of
passing events until the last note of his Æolian melody died away
amid the vociferous plaudits of his friends. He therefore, on this
occasion, resolved to indulge in a little music to save himself from a
knowledge of the annoyance of the menials' gaze, and to show them
his utter contempt both for them and their unparalleled rudeness.
59.
With his eyes,then, firmly fixed upon a cleanly-dispositioned fly on
the canvas ceiling of the room, as it was going through various
crural manipulations on its cranium, he warbled forth a stanza in his
most enchanting strain; so exquisitely sweet as to have softened the
hearts of heathens had they been present. At least so says
Congreve, in his oft-used sentiment, such is the opiate influence of
phrygian chords on unsophisticated natures; but in the auditory of
Mr. Billing it was otherwise. They possessed no taste for music, and
only greeted his performance with screams of laughter.
Human nature could not quietly submit to this fresh indignity, and
Mr. Billing advanced with undisguised chagrin, and banged the door
upon the sounds of retreating merriment. He was annoyed,
disgusted, and ill at ease; and mentally made a resolution to get out
of the place as speedily as possible, and never to darken the door
again. It was fully an hour before his expected repast was put upon
the table; and with a disturbed spirit, and body racked with pains of
unutterable puissance, he partook of his meal and early sought the
consolation of his pillow.
On the following morning he habited and arranged himself with
punctilious neatness; and waited upon Mr. Gilbert, the principal or
rather the only storekeeper in the town, for the purpose of obtaining
the articles required by Mr. Rainsfield. Upon his procuring these he
arranged them in the valise prepared for them, and settled his
reckoning at the inn previous to taking his departure. At his desire
the horse was brought to the door; and, being provided with a chair,
he effected a mounting with less difficulty than on the previous day.
But his trials were not yet at an end; for not only the whole inmates
of the Woolpack inn, but almost the entire population of the
township (some hundred people), assembled en masse to witness
the start of the potent personage. The horse was set in motion by
an admonitory application of a stick by one of the bystanders, which
started him off in the step which was the dread of our friend; while
he was hailed on all sides with a deafening cheer and shouts of
laughter, which rung in his ears for some distance on his journey.
61.
CHAPTER IV.
"What direoffence from amorous causes springs,
What mighty contests rise from trivial things."
Pope.
We last left John Ferguson returning to Fern Vale after his interview
with Mr. Rainsfield; and he had reached his home, and had actually
dismounted from his horse, before the merry laugh of his sister
roused him from his reverie. When Kate and the rest of the party
had reached the house, they were surprised to find John absent; the
more so as they were informed he had ridden over in the morning to
Strawberry Hill. They certainly had not passed him on the road, and
they thought there was no probability of his having been diverted
from his purpose; they therefore could not understand where he had
got to, though they agreed the best thing they could do was to await
his return.
William had taken them all over the place, and through the house
that was only waiting the arrival of the furniture, to claim its pretty
little visitor as its mistress; and the party were just emerging from
the building, when Kate spied her brother John approaching,
apparently absorbed in deep thought, and perfectly deaf to the
sound of the voices of herself and her friends. When she, however,
saw him alight from his horse, at the huts a short distance off, and
perceived that he was perfectly abstracted, she could restrain her
spirits no longer, and ran laughingly to throw herself in his arms. It
was at this moment, that John Ferguson was made alive to the fact
that his home had been honoured by the visit of his friends; and he
advanced to meet his sister, and greeted her with a fond
inosculation, as a token of fraternal affection.
We do not approve of the constant eduction of scenes of
affectionate union, where the thoughts, contemplations, and
62.
utterances, the spontaneousebullitions of love, are dragged before
the gaze of all. We deem them at all times too sacred to be made
subject to the comments and criticism of uninterested parties; and
therefore, in the case of Kate's meeting with her brother, would beg
to draw a veil over the scene, and wait, in the resumption of our
apologue, until they join their friends.
The various greetings and congratulations were soon ended; and
Tom Rainsfield commenced the general conversation by asking of his
friend:
"What on earth became of you, John? When we arrived here we
were told you had gone over to our place; but you had not been
there before we left, and if you had gone by the track we should
have met. I suppose you were emulated with a desire for discovery,
and attempted to find a short cut through the bush, eh?"
"No indeed," replied John, "I kept to the road; but, I imagine, I must
have been at Strawberry Hill just before you started, for, as I was
coming up to the house, I saw saddled horses at the door. I was
called in by Mr. Billing as I was passing his cottage, as he said he
desired a little conversation with me; so I presume that, owing to
that circumstance, I missed you."
"What could have induced that inordinate old humbug," continued
Tom, "to have drawn you into his den? I suppose to tell you all about
his family affairs."
"Yes," replied John, "he certainly did treat me to a long dissertation
on his misfortunes in life; the greatest of which was his coming to
the colony, and which appears, prima facie, to be the head and front
of his offending."
"But didn't you ask for us?" enquired Tom; "or did you see my
brother? and did he not tell you that we had gone over to your
place?"
"I did see Mr. Rainsfield," said John, "but to tell you the truth, I did
not go up to the house."
63.
"And you didn'teven ask for me?" enquired Mrs. Rainsfield. "I could
hardly have believed in such thoughtlessness in any of my friends,
and especially in you. Pray, sir, will you make some explanation? I
am almost inclined to be angry with you. But, as we intend to retain
possession of your sister for some time, we shall demand of you, as
penance; a constant attendance upon us at 'The Hill.'"
"I fear, my dear Mrs. Rainsfield," replied John, "I must decline to
enlighten you on my remissness; and I am afraid also I shall prove a
refractory penitent; for, in the first place, I think it highly improbable
that I shall have the pleasure of visiting Strawberry Hill again; at
least for a time. And I must take an early opportunity of relieving
you of the protection of Kate."
"What does the man mean?" exclaimed his good-natured lady visitor,
in mock astonishment. "Am I to understand that you not only refuse
to come and see us, but that you are churlish enough to desire to
seclude your sister with yourself in mutual confinement? You are
really becoming perfectly mysterious, John Ferguson. I do not
understand all this, and must insist upon a solution. Tell me, now,"
continued she, as she went smilingly up to him, "what is it that
makes you estrange yourself from us, and studiously avoid our
society? I think I can read you better than to ascribe it to that little
fracas at our pic-nic."
"I do not wish to pain you, my dear madam," replied Ferguson, "by
making an explanation that I am confident will be extremely
disagreeable to you; rather let me remain as I am, and retain your
esteemed friendship, and believe me I have good cause for
absenting myself from your house."
"Nay, I will not be satisfied with that," replied Mrs. Rainsfield, "you
are only intensifying my curiosity by endeavouring to evade my
demand; something has occurred, I am sure, to make you so
determined in your avoidance of us; and I must know what it is. If
you decline enlightening me on the subject I must seek information
from Mr. Rainsfield, or Eleanor; so you had better make a virtue of
necessity, and tell me at once."
64.
"I had muchrather the subject had not been broached," said John;
"but, as you are determined to know the cause of my elimination, I
suppose I must communicate what I would sooner have buried in
oblivion. It appears that your husband has formed some prejudice
against me, the cause of which I am unable to account for. I
accidentally learnt from my black boys that some espionage, in
connexion with your station, was meditated by the Nungar tribe; and
I took an early opportunity of going over to Strawberry Hill to
apprise Mr. Rainsfield of the fact. He received me with marked
coolness, for what reason I am at a loss to conjecture; and actually
accused me of exercising an incentive influence over the tribe to his
detriment. I would willingly believe that he has formed some
misconception of my actions; but to impute such a motive to me is
simply ridiculous. He loaded me with invective, and wound up his
inflammatory tirade by requesting that I would discontinue my visits
to his house; and before I recovered from my surprise I found
myself alone; though, even if he had remained, I question if I should
have succeeded in disabusing his mind, for he seemed in no
disposition to listen to reason. I have no doubt but that he will very
soon discover his error; but until then, you will perceive, Mrs.
Rainsfield, it is utterly impossible that I can pay my respects to you
at 'The Hill;' and it would also, under the circumstances, be highly
inconsistent in Kate stopping longer with you than can be helped."
"I am truly grieved," replied the lady, "to hear of your rupture with
my husband, Mr. Ferguson; it gives me great pain, I can assure you.
I can't think he can be prejudiced against you, for he always
entertained the highest esteem for you. It is possible he may have
formed some erroneous impression with regard to those horrid
blacks; but, whatever is the cause of the ill feeling, I will endeavour
to dispel it; and have your friendship reestablished upon the old
footing. But, in the meantime, it is impossible that you can take Kate
away from us; you can't put her into an empty house, and you
certainly would not have the cruelty to lodge her in those huts of
yours. You must leave her with us, at least until you have made a
comfortable home for her; and even then, I don't think the poor girl
65.
will have avery enviable life, living in seclusion, without a female
near her."
"I have already thought of that," replied John, "and have hired a
man and his wife; the latter, who is a professed cook, will be entirely
under Kate's direction. Besides, our little black fellow, Joey, whom
we brought from New England with us, is as useful, if not more so,
as half the female servants in the country. So I think, on that score,
we will be able to make our sister perfectly comfortable."
"At all events," said Mrs. Rainsfield, "it is understood you leave her
with us until your furniture arrives."
"Very well," replied John, "I suppose it must be so. I need not beg of
you to refrain from mentioning to any one in your house, not even to
Kate, that any unpleasantness exists between our families; your own
good judgment will convince you of the non-necessity. But suppose
we join our friends, for we appear to have wandered quite away
from them during our conversation;" and John Ferguson, and Mrs.
Rainsfield, returned to the spot where the rest of the party stood.
"Well, it is to be hoped you two are satisfied with your 'confidential,'"
remarked Tom, as the parties thus addressed joined the menage.
"We were beginning to think you were meditating an elopement, and
were just proposing giving you chase. We are agitating the question
of return. Miss Ferguson says she does not like this dreadful
wilderness of yours, John, and is anxious to get back to Strawberry
Hill, and within the bounds of civilisation."
"Oh, what a dreadful falsehood!" cried Kate, "you know I never said
such a thing; for that I am half disposed to stop here at once, and if
I thought it would be any punishment to you, I would. I am sure my
brother would make room for me if I desired it."
"I offer an abject apology, my dear Miss Ferguson," exclaimed the
culprit; "we could not dream of losing you now; so I will make any
reparation necessary to appease you."
"Well, then behave yourself, sir, and adhere to the truth," said Kate.