Definisi Pengendalian Internal
MenurutStandar Profesional Akuntan Publik pada SA319. Per 06 :
Pengendalian intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh Dewan Komisaris dan
Manajemen, dan personil lain entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai
tentang pencapaian 3 golongan tujuan berikut ini :
a. Keandalan pelaporan keuangan
b. Efektivitas dan efisien operasi
c. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
3.
3
Aktivitas Pengendalian
Aktivitas pengendalianadalah kebijakan dan prosedur yang membantu
memastikan bahwa arahan manajemen dilaksanakan.
Aktivitas tersebut membantu memastikan bahwa Tindakan yang diperlukan
untuk menanggulangi risiko dalam pencapaian tujuan entitas, sudah
dilaksanakan.
4.
Tujuan Pengendalian Internal& Komponen
Pengendalian Internal
Tujuan Pengendalian Internal
Pengendalian internal merupakan tanggapan manajemen terhadap resiko yang diketahui. Dengan lain
perkataan, pengendalian internal mencapai tujuan pengendalian (control objective) tertentu.
Tujuan pengendalian internal secara garis besarnya dapat dibagi dalam empat kelompok sebagai
berikut :
1. Tujuan strategis, dengan sasaran-sasaran utama mendukung misi entitas.
2.Tujuan pelaporan keuangan, agar laporan keuangan bebas dari salah saji material tepat waktu dan
tepat guna.
3.Tujuan operasional, dimana pengendalian mengamnakan operasi entitas, yang dikenal sebagai
operational contols.
4.Tujuan kepatuhan terhadap peraturan hukum dan ketentuan perundang-undangan, pengendalian
internal yang relevan untuk suatu audit ialah pengendalian dengan tujuan pelaporan keuangan,
khususnya yang berhubungan dengan tujuan entitas membuat laporan keuangan untuk keperluan
eksternal.
5.
Komponen Pengendalian Internal
Istilah“internal control” yang digunakan ISA 315 lebih luas dari kegiatan
pengendalian (control activities) seperti pemisahan tugas (segregation of duties),
proses otorisasi (authorization), dan rekonsiliasi saldo. Pengendalian internal
dalam ISA 315 terdiri atas lima komponen, yaitu :
A.Control Envirotment (Lingkungan Pengendalian)
B.Risk Assessment (Penilaian Resiko)
C.Information System (Sistem Informasi)
D.Control Activities (Kegiatan Pengendalian)
E.Monitoring (Pemantauan)
Yang bertanggung jawabatas Pengendalian Intern
suatu entitas
Penanggung
jawab
Manajemen
Personel
entitas lain
Auditor
intern
Dewan
Komisaris dan
Komite Audit
Auditor
independen
8.
Control Envirotment (LingkunganPengendalian)
Kutipan dari ISA 315
“Auditor wajib memahami lingkungan pengendalian. Sebagai bagian dari upaya pemahaman
ini, ia wajib mengevaluasi apakah :
a. Manajemen menciptakan dan mempertahankan budaya jujur dan perilaku etis yang diawasi Those
Charged With Governance (TCWG) atau orang/organisasi yang mengawasi tata Kelola pengawasan
atau proses laporan keuangan, dan
b. Komponen-komponen lingkungan pengendalian internal lainnya, dan apakah komponen pengandalian
internal lainnya tidak diperlemah oleh kekurangan/defisiensi dalam lingkungan pengendalian.
Lingkungan pengendalian internal merupakan dasar bagi pengendalian internal yang efektif.
Ia memberikan disiplin dan struktur bagi entitas. Ia menjadi kompas bagi entitas, membuat karyawan
sadar akan pengendalian (control conciousness) dalam organisasi itu.
9.
Lingkungan Pengendalian padaEntitas Kecil
Pada entitas kecil mungkin auditor tidak menemukan dokumen yang mendukung pengendalian dalam lingkungan
penegndalian. Konsekuensinya ialah bahwa sikap, perilaku, tindakan owner-manager menjadi dasar begi penilaian terhadap
pengendalian ini. Pada entitas besar, ada aturan perilaku (code of conduct) tertulis yang harus dibaca seluruh karyawan. Dalam
entitas yang lebih kecil, aturan ini dikomunikasikan secara lisan dan mungkin dengan contoh perilaku atasan atau sikap
manajemen ketika menghadapi masalah tertentu.
Jika tidak ada dokumentasi pendukung tentang pengendalian dalam komponen lingkungan pengendalian, auditor
menulis memo untuk file. Contoh, ketika mendokumentasikan apakah ada komunikasi dan penegasan dalam bentuk tindakan
mengenai perilaku integritas dan perilaku beretika lainnya, auditor dapat :
✘ Mengidentifikasi nilai-nilai etika dan penegakannya (enforcement) melalui percakapan dengan manajemen. Dari
percakapan ini, auditor dapat menyimpulkan apakah pengendalian ini memedai dari segi rancangannya.
✘ Menanyakan kepada satu atau beberapa pegawai, apa pendapat mereka tentang nilai-nilai etika dan penegakannya
dientitas tersebut. Wawancara ini membantu auditor menetukan apakah nilai-nilai ini dikomunikasikan kepada karyawan,
dan memang ditegakkan.
10.
Risk Assessment (PenilaianResiko)
Istilah risk assessment atau penilaian resiko dapat dilihat dari sisi entitas dan auditor. Entitas menilai resiko dari sudut
pandang ancaman terhadap pencapaian tujuan entitas; diantaranya, ialah menghasilkan laporan keuangan yang bebas dari salah saji yang
material. Untuk itulah entitas wajib merancang, mengimplementasikan, dan memelihara pengendalian internal. Dipihak lain, auditor menilai
resiko sebagai bagian dari proses auditnya.
Jika proses penilaian resiko pada entitas yang bersangkutan sudah sesuai dengan situasi yang dihadapi entitas itu, maka
PPRE ini mendukung auditor untuk menilai seberapa besarnya resiko salah saji yang material dalam laporan keuangan yang diauditnya.
PPRE pada umumnya berurusan dengan hal-hal berikut :
1. Perubahan dalam lingkungan operasi entitas.
2. Pejabat atau karyawan senior yang baru bergabung dengan entitas.
3. Sistem (misalnya sistem informasi) yang baru atau yang mengalami perubahan besar-besaran.
4. Pertumbuhan yang cepat.
5. Teknologi baru.
6. Model bisnis, produk, atau kegiatan baru.
7. Restrukturisasi korporasi (termasuk akuisisi dan disvestasi).
8. Perluasan kegiatan diluar negri.
9. Terbitnya pernyataan akuntansi (accounting pronouncements) yang baru.
11.
Dalam entitas yanglebih kecil, PPRE-nya lebih informal. Auditor membahas dengan manajemen, bagaimana manajemen
mengidentifikasi risiko bisnis dan kemudian menanganinya (tindakan apa yang selanjutnya diambil).
Hal-hal yang menjadi perhatian auditor adalah :
✘ Penentuan mengenai risiko yang relavan terhadap pelaporan keuangan.
✘ Penaksiran seberapa signifikan dampak risiko tersebut.
✘ Penilaian tentang seberapa besar potensi terjadi risiko tersebut.
✘ Putusan mengenai bagaimana menangani risiko tersebut dalam konteks auditnya.
Jika auditor menemukan resiko-resiko yang gagal ditemukan manajemen, auditor perlu menanyakan hal berikut :
✘ Apa yang menyebabkan manajemen gagal menemukan resiko tersebut ?
✘ Apakah PPRE-nya tepat untuk situasi entitas ?
Jika auditor menemukan kelemahan dalam PPRE atau PPRE tidak ada atau tidak berfungsi, auditor wajib mengkomunikasikan hal
tersebut kepada manajemen dan TCWG.
12.
Information System (SistemInformasi)
Manajemen dan TCWG memerlukan informasi yang andal untuk :
1. Mengelola entitas, seperti perencanaan, penganggaran, pemantauan kinerja, pengalokasian sumber daya, penetapan
harga, dan pembuatan laporan keuangan;
2. Mencapai tujuan entitas; dan
3. Mengidentifikasi, menilai, dan menanggapi faktor resiko.
Suatu sistem informasi meliputi infrastruktur (komponen fisik dan perangkat keras), perangkat lunak,
manusia, prosedur, dan data. Banyak sistem informasi memanfaatkan IT. Sistem informasi mengidentifikasi, merekam,
dan menyebarkan informasi untuk mendukung tercapainya tujuan pelaporan keuangan dan tujuan pengendalian internal.
Komunikasi
Komunikasi adalah unsur kunci dalam suksesnya sistem informasi. Komunikasi yang efektif secara
internal, membantu karyawan memahami tujuan pengendalian internal, proses bisnis, dan peran serta tanggung
jawab masing-masing pegawai.
13.
Control Activities (KegiatanPengendalian)
Kegiatan-kegiatan pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang memastikan
bahwa petunjuk dan arahan manajemen (management’s directives) dilaksanakan.
Pengendalian ini merupakan tanggapan atas resiko yang jika tidak ditanggulangi(mitigated),
akan mengancam tercapainya tujuan entitas.
Kegiatan pengendalian dirancang untuk menanggulangi resiko yang bisa terjadi
dalam kegiatan sehari-hari seperti pengolahan transaksi (penjualan, pembelian,
pembayaran, dan transaksi lainnya), dan pengamanan aset (safeguarding of assets).
14.
Monitoring (Pemantauan)
Komponen pemantauan,menilai efektifnya kinerja pengendalian internal dengan berjalannya waktu. Tujuannya ialah untuk
memastikan bahwa pengendalian berjalan sebagaimana harusnya, dan jika tidak, maka tindakan perbaikan (corrective actions) diambil.
Pemantauan memberikan umpan balik kepada manajemen mengenai apakah sistem pengendalian internal yang diracang untuk
mengatasi resiko :
1. Efektif dalam mencapai tujuan pengendalian yang ditetapkan;
2. Dilaksanakan dan dipahami dengan baik oleh karyawan;
3. Digunakan dan ditaati setiap hari; dan
4. Dimodifikasi atau disempurnakan sesuai dengan perubahan kondisi.
Pemantauan berkala (periodic monitoring) berupa evaluasi terpisah dari kegiatan yeng sedang berjalan, misalnya yang
dijalankan oleh audit internal dalam entitas besar, tidak lazim dilakukan oleh entitas.
Kegiatan pemantauan oleh manajemen juga dapat meliputi penggunaan informasi dari pihak eksternal yang mengindikasi
masalah atau menyoroti area yang memerlukan penyempurnaan.
Contoh :
5. Keluhan (complaints) dari pelanggan;
6. Komentar dari lembaga pengatur seperti lembaga keuangan dan regulator; dan
7. Komunikasi mengenai pengendalian internal dari auditor dan konsultan eksternal.
15.
Sumber Informasi untukPemantauan
Banyak informasi yang digunakan untuk pemantauan dihasilkan oleh sistem informasi entitas itu sendiri.
Manajemen mungkin cenderung menganggap informasi tersebut akurat.
Jika informasi tersebut tidak akurat, ada resiko bahwa manajemen membuat kesimpulan yang salah, dan keputusan
yang buruk. Oleh karena itu ketika auditor mengevaluasi pemantauan atas pengendalian, ia perlu memahami :
1. Sumber informasi yang berkaitan dengan kegiatan pemantauan; dan
2. Apa yang mendasari kesimpulan manajemen bahwa informasi tersebut cukup andal untuk tujuan pemantauan.
16.
AKTIVITAS PENGENDALIAN
Aktivitas pengendalianadalah kebijakan dan prosedur yang
dibuat untuk memberikan keyakinan bahwa petunjuk yang
dibuat oleh manajemen dilaksanakan.
Kebijakan dan prosedur ini memberikan keyakinan bahwa
tindakan yang diperlukan telah dilaksanakan untuk
mengurangi risiko dalam pencapaian tujuan entitas.
Aktivitas pengendalian memiliki berbagai macam tujuan
dan diterapkan dalam berbagai tingkat dan fungsi organisasi
17.
PEMANTAUAN
Pemantauan adalah prosespenilaian kualitas kinerja pengendalian
intern sepanjang waktu.
Pemantauan dilaksanakan oleh personel yang semestinya melakukan
pekerjaan tersebut -- baik pada tahap desain maupun pengoperasian
pengendalian -- pada waktu yang tepat, untuk menentukan apakah
pengendalian intern beroperasi sebagaimana yang diharapkan, dan
untuk menentukan apakah pengendalian tersebut telah memerlukan
perubahan/penyesuaian.
18.
Sumber Informasi TentangPengendalian
Intern yang Berlaku
Bagan organisasi dan deskripsi jabaan
Buku pedoman akun (account manual)
Buku pedoman sistem akuntansi
Permintaan keterangan kepada karyawan
Laporan, kertas kerja, dan program audit auditor intern
(internal auditor)
Pemeriksaan terhadap catatan akuntansi, dokumen, peralatan
mekanis, dan media lain yang digunakan untuk mencatat
transaksi, mengolah data keuangan dan data operasi
Kunjungan ke seluruh kantor dan pabrik
Laporan mengenai rekomendasi perbaikan pengendalian
intern dan laporan auditor tahun sebelumnya yang telah
diterbitkan
19.
Kesimpulan
Pengendalian internal merupakansalah satu sarana yang digunakan untuk
mengevaluasi efektivitas pengelolaan dari suatu perusahaan. Melalui pengendalian internal
ini, pihak manajemen dalam perusahaan dapat mengetahui sampai sejauh mana pelaksanaan
efektivitas perusahaan telah tercapai, masalah-masalah yang ada dalam perusahaan juga
cara-cara mengatasi masalah tersebut. Pengendalian internal perusahaan terdiri dari lima
unsur atau komponen, yaitu lingkungan pengendalian, penilaian resiko, sistem informasi,
kegiatan pengendalian dan pemantauan atau pengawasan.