Naskah drama

Pembunuhan di Restoran
oleh Anis Maryani
Tokoh : 1. Misawaki Kaname (Detektif) diperankan oleh Anis Maryani
2. Ryuujin Sakamoto (pelaku pembunuhan) diperankan oleh Byan Muda
3. Reiji (saksi) diperankan oleh Vira Revianasari
4. Chiisaki Yuta (inspektur) diperankan oleh Leonny Tania
5. Takui Hobayashi (inspektur) diperankan oleh Fakhri Pratama
6. Ryouta Nagawa (korban) diperankan oleh Hariz Ananto
7. Hozuki Kameka (tersangka 1) diperankan oleh Hariz Ananto
8. Tobahatsu Nigeiwa (tersangka 2) diperankan oleh Fakhri Pratama
9. Pelayan diperankan oleh Leonny Tania

SCENE 1
Latar : siang hari di dalam restoran
Sebuah restoran yang berlokasi di Kota Minato, Tokyo, terlihat ramai dikunjungi dari berbagai
kalangan lapisan masyarakat. FUKUJIMA RESTAURANT namanya. Restoran ini terkenal
murah, namun tak kalah kualitasnya dengan restoran-restoran kalangan atas.
Siang ini begitu terik, sementara para pengunjung silih berganti memasuki restoran tersebut.
Mereka bersenda gurau, tertawa dengan lepas membicarakan hal-hal tak penting ditemani
secangkir teh atau makanan ringan. Namun, tak lama lagi tawa itu akan menjadi sebuah tangisan
atas suatu kejadian yang menimpa seseorang diantara mereka dalam restoran itu.
Reiji
: (memasuki restoran, menduduki salah satu kursi kosong disana)
Pelayan : (menghampiri Reiji) “Permisi Tuan. Ada yang ingin Anda pesan?” (berkata sambil
memberikan sebuah buku menu)
Reiji
: (melihat-lihat menu tsb beberapa saat) “Mmm….aku ingin memesan ini.” (menunjuk
pada gambar) “Sepiring Sukiyaki beserta nasi putih dan segelas teh hangat.”
Pelayan : (mencatat pesanan pada selembar memo) “Ng…baiklah. Ada lagi?”
Reiji
: “Tidak. Itu saja dulu.”
Pelayan : “Oke. Harap tunggu sebentar ya, Tuan.” (ia membungkukkan tubuhnya, lalu pergi)
(sambil menunggu pesanannya, Reiji membaca sebuah koran yang sudah disediakan di atas
meja. Namun ia merasa terganggu dengan seseorang yang duduk di belakangnya. Orang itu
sedang berbicara dengan seseorang di luar sana melalui telpon. Samar-samar ia mendengar
percakapannya)
Ryouta : (berbicara dalam dialek Kansai) “Aku membunuhnya? Tidak itu tidak benar. Aku
tidak mengoleskan racun pada Amechan. Kau tahu, seharusnya kau yang bertanggung
jawab! Oke kita harus membicarakan hal ini. Kita memang sudah berteman sejak
kecil tapi… Apa? Kenapa disana? Ck baiklah.”
(Reiji mengerutkan keningnya mendengar percakapan orang itu, lalu memerhatikan gerakgeriknya ketika pemuda itu berjalan melewatinya menuju toilet. Beberapa saat kemudian
makanan yang ia pesan pun datang)
Pelayan : “Ini pesanan Anda Tuan.” (menaruh sepiring Sukiyaki beserta nasi putih dan segelas
teh hangat di atas meja di hadapan Reiji) “Silahkan dinikmati.” (ia membungkukkan tubuhnya
lalu kembali pergi)
Reiji pun menikmati makanan yang baru saja disajikan.

SCENE 2
Latar : di dalam toilet restoran
Di dalam toilet, Ryouta tengah memenuhi permintaan seseorang dari sebrang sana yang
memintanya datang ke tempat itu. Meskipun ia merasa bingung, namun ia tak perduli.
Sayangnya, sesuatu hal yang tak terduga terjadi padanya.
Ryouta : (membuka pintu toilet, namun ia tak menyadari seseorang yang bersembunyi
menunggunya di balik pintu)
Sakamoto : (dengan pakaian serba hitam yang membuat identitasnya tak terlihat, ia membekap
Ryouta dengan sapu tangan yang telah dibubuhi dengan obat bius, membuat pemuda itu tak
sadarkan diri. Setelah itu dengan tergesa ia membopong Ryouta, membawanya ke dalam salah
satu ruang dalam toilet itu)

SCENE 3
Latar : di dalam toilet restoran
(Reiji membuka pintu toilet, berjalan memasukinya. Dibelakangnya seorang pria bersuit
menyusul memasuki toilet kemudian berbelok pada sebuah wastafel, sementara Reiji membuka
pintu salah satu ruang dalam toilet tsb. Saat ia hendak memasuki ruang itu, ekor matanya
menangkap sebuah aliran air yang berasal dari ruang di sebelah kirinya.)
Reiji
: (membuka pintu yang menutup ruang itu, kemudian memekik ketika melihat sesuatu di
dalamnya) “Kyaaaaaaa!!!”
#bgm : kematian
Sakamoto : (terkejut saat mendengar pekikan Reiji lalu segera menghampirinya, dan kembali
terkejut ketika melihat sesuatu di dalamnya) “Ce-cepat panggil polisi! Dan halangi siapa pun
yang hendak keluar dari restoran ini!”
Ternyata, keterkejutan mereka dikarenakan melihat Ryouta yang tengah terduduk pada sebuah
pispot sedang pada sudut bibirnya mengeluarkan busa. Air yang keluar dari keran disampingnya
pun turut mengalir deras memenuhi penampungnya, hingga tumpah meruah menggenangi lantai
toilet.

SCENE 4
Latar : di dalam restoran
Tak berapa lama kemudian datanglah dua orang polisi bersama seorang detektif. Namun mereka
terlihat bingung ketika melihat seorang pria bersuit yang berdiri tegap di depan toilet pria seakan
menghalangi pengunjung lain untuk memasukinya.
#bgm : langkah kaki
#bgm : musik yg sering muncul dlm film detektif
Kaname : (mendekati Sakamoto seraya memerhatikan pakaian pria itu) “Kenapa kau tidak
membaur dengan pengunjung yang lain dan malah berjaga disini?”
Sakamoto : “Aku berdiri disini untuk berjaga-jaga agar pengunjung lain tak memasuki toilet ini.
Yah, sekalian menunggu polisi datang.”
Yuta
: “Apakah ada pengunjung yang keluar-masuk restoran sebelum kami datang?”
Sakamoto : “Tidak ada. Tenang saja. Aku sudah meminta petugas untuk berjaga di depan
restoran mengawasi pengunjung agar tidak keluar-masuk restoran sebelum polisi
datang.”
Hobayashi : “Wah kau ini tanggap sekali. Memangnya kau seorang detektif ya?”
Sakamoto : (membungkukkan tubuhnya memberi tanda hormat) “Perkenalkan, namaku Ryuujin
Sakamoto. Merupakan mahasiswa jurusan kriminologi. Aku bercita-cita menjadi
seorang detektif dan suatu saat akan menjadi inspektur seperti kalian.”
Kaname : “Pantas saja kau begitu tanggap begitu terjadi insiden ini. Aku Misawaki Kaname,
berprofesi sebagai detektif lepas yang sering membantu kepolisian pusat dalam
memecahkan berbagai kasus terutama kasus pembunuhan.”
Yuta
: “Aku Chiisaki Yuta, kepala inspektur kepolisian pusat.”
Hobayashi: “Dan aku Takui Hobayashi seorang inspektur kepolisian pusat.”
Yuta
: “Siapa yang menemukan korban pertama kali?”
Reiji
: “Aku.” (bangkit dari duduknya) “Saat aku hendak memasuki salah satu ruang dalam
toilet, tiba-tiba ekor mataku menangkap aliran air yang keluar melalui pintu ruang di
sebelah kiriku. Saat aku membuka pintu itu, terlihatlah seorang pemuda yang tengah
terduduk pada pispot dan mulutnya mengeluarkan busa.”
Kaname : “Lalu setelah itu kau berteriak dan datanglah pria ini?” (menunjuk Sakamoto)
Reiji
: “Dia masuk ke dalam toilet bersamaan denganku. Lalu dia menghampiriku saat aku
berteriak.”
Yuta
: “Apa yang kau lakukan sebelum itu?”
Reiji
: “Aku sedang makan di tempat ini.” (menunjuk tempat duduknya) “Dan dia, si
korban, duduk dibelakangku. Aku mendengar percakapannya dengan seseorang
melalui telpon. Kalau tidak salah ia berkata ‘kau tidak membunuhnya. Kau tidak
meracun Abechan. Seharusnya aku yang bertanggungjawab. Kita memang sudah
berteman sejak kecil dan harus membicarakan hal ini.’ Ia berbicara dengan logat
Kansai…sepertinya. Jadi aku kurang begitu paham.”
Hobayashi : (menaik-turunkan wajahnya) “Hmm.. bunuh diri ya.. Jadi motifnya adalah merasa
bersalah karna telah membunuh orang yang bernama Abe itu? Sepertinya ketiga
orang ini teman dekat. Tapi kenapa korban membunuhnya?”
Kaname : “Tunggu dulu. Jika ia berbicara dalam dialek Kansai, bukankah kalimatnya menjadi
seperti ini ‘aku tidak membunuhnya. Aku tidak mengoles racun pada Abechan.
Seharusnya kau yang bertanggungjawab..’”
Reiji
: “Itu dia! Persis seperti apa yang ia katakan!”
Yuta
: (menoleh kearah Kaname) “Bagaimana kau mengetahuinya?”
Kaname : “Tentu saja. Ayahku lahir di Osaka. Jadi aku sudah terbiasa dengan dialek seperti
itu.”
Hobayashi: “Lantas, apa maksud dari kalimat ‘mengoles racun pada Abechan’? Abechan itu
bukan nama orang?”
Sakamoto : “Bukan Abechan. Tapi seharusnya ia berkata…Amechan!”
(dengan serentak Kaname, Yuta, Reiji, dan Hobayashi menoleh kearahnya)
Hobayashi : “A-amechan?”
Sakamoto : “Iya. Dalam dialek Kansai, Amechan merupakan sebutan dari permen. Setidaknya
itulah yang kutahu setelah mempelajari sejarah literatur Osaka.”
Kaname : “Ya, dia benar. Jadi, si pelaku membunuh korban karna mengira korban telah
membunuh seseorang yang—mungkin teman dekatnya—dengan cara mengoles
racun pada permen yang kemudian dihisap oleh orang ketiga itu. Jadi motif
pembunuhan kali ini adalah balas dendam atas dasar kesalahpahaman.”
Yuta
: “Kalau begitu, berarti kita harus mencari orang yang berumur antara 18-25 tahun
serta berlogat Kansai. Hobayashi, segera cari!”
Hobayashi: “Baik!”
Sakamoto : “Aku juga akan membantu mencarinya.”
Sakamoto dan Hobayashi pun mencari pengunjung yang kira-kira berusia sebaya dengan korban.
Tak hanya itu, Yuta telah memerintahkan anak buahnya yang lain untuk mengotopsi korban.
Selang beberapa saat kemudian, mereka telah berhasil menemukan dua orang tersangka yang tak
memiliki alibi—datang sendiri. Inspektur Yuta pun mendapatkan laporan mengenai adanya
sesuatu dalam lambung korban.
Yuta

: (membaca catatan kecil yang sebelumnya diberikan oleh tim forensik dengan keras)
“Berdasarkan hasil forensik, dalam lambung korban yang bernama Ryouta Nagawa
ditemukan sebuah permen yang telah dicampuri dengan sianida. Dalam saku korban
pun ditemukan permen yang sama.”
Reiji
: “Jadi itu penyebab kematiannya ya? Pantas saja mulutnya berbusa.”
Yuta
: (menoleh ke arah Reiji) “Ya. Kemungkinannya seperti itu.”
Kaname : “Sudah kuduga. Pelaku menggunakan trik pembunuhan yang sama dengan penyebab
motif pembunuhan balas dendam ini.”
Sakamoto : “Dan aku telah menemukan dua orang tersangka.” (menyela pembicaraan Kaname)
“Mereka inilah yang kira-kira berusia sama dengan korban dan tak memiliki alibi
alias datang sendiri.”
Kaname : (menatap kedua tersangka yang kini sudah terduduk di depannya) “Kemungkinan
pelaku adalah orang Kansai. Jadi sebaiknya aku yang bertanya pada mereka.”
Yuta
: “Silahkan.”
Kaname : (menghampiri tersangka pertama) “Siapa namamu? Apa pekerjaanmu?”
Hozuki : “Namaku Hozuki Kameka. Aku bekerja part time di salah satu kafe di Minato.”
Sakamoto : “Kau seorang buttler?”
Hozuki : “Ya. Begitulah..”
Kaname : “Lalu, darimana asalmu? Dan..dimana tempat tinggalmu?”
Hozuki : “Aku lahir dan dibesarkan di Tokyo. Tempat tinggalku..yah..merupakan sebuah
rumah sederhana di Kota Minato.”
(Kaname mengelus-elus dagunya, kemudian menghampiri tersangka kedua. Namun seakan
mengetahui apa yang ingin ditanyakan, tersangka tersebut segera memberikan jawabannya)
Tobahatsu : “Namaku Tobahatsu Nigeiwa. Aku sedang tidak memiliki pekerjaan apa pun atau
bisa disebut pengangguran. Aku tinggal menumpang di rumah temanku, di Kota
Beika.”
Sakamoto : (memerhatikan jubah panjang yang dikenakan Tobahatsu serta sebuah lup yang
tergeletak di samping tangan kanannya) “Apakah kau seorang detektif otaku?”
Tobahatsu : “Ya, bisa dibilang begitu. Aku sangat menyukai sosok detektif seperti Sherlock
Holmes. Tapi sayangnya hormon insulin di otakku terbatas, jadi aku tak memiliki
kemampuan selayaknya detektif.”
Kaname : (kembali mengelus-elus dagunya) “Tidak ada tanda-tanda yang membuktikan
adanya orang Kansai diantara para tersangka ini.” (ujarnya dalam hati) “Mereka pun
berlogat fasih khas Tokyo.” (kemudian ia melirik ke arah Sakamoto yang berdiri
dibelakangnya. Sedari awal, dia memang merasa curiga dengan pria itu) “Apakah
aku harus memeriksamu juga?”
Sakamoto : “Silahkan jika itu dapat membantumu menyelesaikan kasus ini.”
Reiji
: “Kurasa dia tidak ada sangkut pautnya dengan kasus ini. Aku yakin tak ada
pengunjung yang keluar masuk toilet saat korban berada di dalamnya. Hingga aku
masuk ke dalam toilet, korban pun tak kunjung keluar, lalu dia (ekor matanya
mengarahkan Sakamoto) turut memasuki toilet di belakangku.”
(Kaname kembali mengelus-elus dagunya, berpikir cukup lama. Lalu disaat-saat itu inspektur
Yuta mengambil semangkuk kecil miso—yang terlihat masih baru—yang tersedia di setiap meja
disana)
Yuta
: (menyeruput miso yang baru saja diambilnya) “Asin!” (pekiknya sambil
mengkerutkan wajahnya. Sontak kelima orang yang sedang bersamanya pun menoleh kearahnya)
“M-maaf. Aku merasa sedikit lapar. Jadi kucicipi saja miso yang sedang dianggurkan
ini.” (ujarnya salah tingkah)
Sakamoto : “Maaf, jika aku tidak dicurigai, bolehkah aku pergi? Ada urusan yang harus aku
selesaikan sekarang juga.” (ujarnya tiba-tiba)
Yuta
: “Ya ya silahkan kau pergi saja. Lagipula bukan kau pelakunya.”
Sakamoto : (menoleh kearah Kaname) “Bagaimana?”
Kaname : “Kenapa bertanya padaku? Inspektur Yuta sudah membolehkanmu pergi dan aku tak
punya hak untuk melarangnya.” (meskipun yakin kalau Sakamoto pantas dijadikan
tersangka, namun ia tak memiliki bukti dan melepaskannya dengan berat hati)
(setelah membungkukkan badan member tanda hormat, Sakamoto pun segera pergi
meninggalkan restoran)
Yuta
: “Jadi, bagaimana? Apakah kau sudah memiliki kesimpulan mengenai pelakunya?”
(suaranya mengejutkan Kaname yang sedang merenung)
Kaname : “Ng….belum.. Sebenarnya bisa saja mereka berbohong ketika menjawab
pertanyaan dariku, namun sayangnya aku tak tahu siapa diantara mereka yang tak
mengatakan yang sesungguhnya.” (ia menaikkan sebelah alisnya) “Tapi ketika kau
memekik saat memakan miso tadi, aku jadi memiliki ide mengenai cara apa yang
ampuh untuk membuktikan kebohongan si pelaku.”
Yuta
: “Wah, bagaimana caranya?”
Kaname : (menyunggingkan senyum misterius) “Dengan masakan ajaib!”
Setelah mengatakan hal itu, kemudian Kaname memesan dua mangkuk miso paling asin disana.
Ia menyerahkan dua mangkuk miso itu pada masing-masing tersangka.
Kaname
: “Silahkan. Miso itu khusus untuk kalian.”
Hozuki
: “Kau yakin?”
Kaname
: “Ya. Tentu aku sangat yakin.”
Yuta
: (mendekatkan bibirnya ke telinga Kaname, berbisik) “Kenapa kau memberi mereka
miso? Memangnya miso itu masakan ajaib?”
Kaname : “Kau tenang saja. Kita lihat apa yang terjadi setelah ini.” (jawabnya setengah
berbisik)
Hozuki
: (mengkerutkan wajahnya) “Asin!!” –logat Tokyo—
Tobahatsu : “Hoek! Makanan macam apa ini?! Asin sekali!” –logat Tokyo—
Kaname : (terbelalak dengan pekikan mereka) “Kenapa tak ada diantara mereka yang memekik
dengan dialek Kansai? Bukankah seseorang akan menunjukkan jati dirinya dalam
keadaan genting?” (ujarnya dalam hati) (ia yang merasa semakin gusar,
membalikkan tubuhnya, menghadap Yuta) “Inspektur, mohon berikan izin untukku
pergi ke toilet sebentar saja. Ada yang ingin kurenungi.” (berkata sambil
menundukkan wajahnya)
Yuta
: “Tentu.” (saat Kaname melewatinya, ia memegang pundaknya, hingga membuat
wanita itu menghentikan langkahnya) “Jangan terlalu memaksakan dirimu.” (Kaname hanya
tersenyum kecut atas ucapannya)
Kaname berjalan gontai menuju toilet. Ia merasa semakin dipusingkan dengan kasus
pembunuhan ini dan makin yakinlah ia bahwa calon detektif bernama Sakamoto yang ia relakan
kepergiannya tadi adalah tersangka yang seharusnya ia curigai.

SCENE 5
Latar : ruang lain dalam restoran
Saat melewati sebuah ruangan dekat toilet wanita, tanpa sengaja ekor mata Kaname menagkap
sosok seseorang yang sepertinya tak asing baginya.
#bgm : klasik
Kaname : (memundurkan langkahnya, kemudian memicingkan matanya agar dapat melihat
sosok yang memunggunginya dari jarak yang agak jauh itu dengan jelas) “Bukankah itu
Sakamoto?” (ujarnya setengah berbisik, kemudian ia bersembunyi di balik tembok
yang membatasi ruangan itu) “Kenapa dia ada disini? Bukankah ia berpamitan karna
ingin mengurusi hal penting?”
(seorang pelayan yang menjunjung sebuah nampan berisi kare menghampiri Sakamoto. Setelah
pelayan itu pergi, Sakamoto pun segera memakan karenya)
Sakamoto : “Yek, asin!!” –dialek Kansai—
(Kaname terbelalak. Seperti yang ia duga, ternyata sebenarnya Sakamoto berdarah Kansai)
Sakamoto : “Tak kusangka kare pedas yang kupesan, berubah menjadi asin saat aku
memikirkannya kembali.” (tersenyum tipis, lalu bangkit dari duduknya, sementara
pelupuk matanya meneteskan buliran bening dan beranjaklah ia menuju pintu keluar.
Kaname memerhatikan benar apa yang baru saja terjadi. Sementara itu, seorang
petugas kepolisian datang menghampirinya)
Hobayashi : (mengejutkan Kaname) “Kaname-san, kami baru saja berhasil menemukan
kendaraan yang diduga milik korban, lalu menemukan benda ini pada dashboardnya.” (menyodorkan sebuah buku bersampul hijau pada Kaname) “Tadi aku sudah
memberitahukannya pada inspektur Yuta. Tapi dia bilang, aku juga harus
menyerahkannya padamu, karna ini merupakan petunjuk yang mungkin dapat
mempercepat penyelesaian kasus ini.”
Kaname : (segera mengambil benda yang diberikan Hobayashi) “Terimakasih.”
(setelah itu, Hobayashi pun pergi. Sementara Kaname membuka lembar pertama pada buku yang
baru saja diberikan padanya. Lalu ia membuka lembaran kedua. Matanya menyipit beberapa saat
—tanda berpikir—kemudian ia nampak terkejut setelah memahami isi dari buku itu)

SCENE 6
Latar : sore hari di sekitar pantai
Di luar sana, Sakamoto berjalan gontai menyusuri bibir pantai. Matanya sayu memandang butirbutir pasir yang diinjaknya, sedangkan nyawanya seakan telah pergi dari raganya.
#bgm : angin
(Sakamoto terus berjalan melewati seorang penjual bir, kemudian berhenti beberapa meter
membelakangi penjual yang sedang menjajakan beberapa botol sake itu. Ia mengangkat
wajahnya, menoleh kearah belakang, membalikkan tubuhnya lalu berjalan mendekati penjual itu)
Penjual : “Sake murah… Sake murah…”
Sakamoto : “Adakah sake yang dapat memabukkanku hanya dalam tegukan pertama?”
Penjual : “Oh, tentu ada Tuan!” (mengedarkan bola matanya ke beberapa botol sake jualannya)
“Aha, ini dia!” (mengambil salah satu dari beberapa botol sake, kemudian
memberikannya pada Sakamoto)
Sakamoto : (mengamati botol sake yang baru saja ia terima di genggamannya) “Berapa
harganya?”
Penjual : “Hanya ¥ 100, Tuan!” (Sakamoto memberikan dua lembar uang ¥ 50 pada pedagang
itu, dan pedagang itu pun menerimanya) “Terimakasih Tuan!”
(setelah membeli sake, Sakamoto berjalan menuju bibir pantai. Ia menduduki sebuah batu besar,
lalu memandang jauh pada cakrawala ditemani suara deburan ombak yang sesekali gulungan itu
mengenai ujung kakinya)
#bgm : Hitoto Yo – Hanamizuki
Sakamoto : (membuka tutup botol sake, meneguknya sekali) “Kenapa aku begitu bodoh?
Melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu? Huh, apakah yang seperti ini
pantas dijadikan detektif?” (ia memaksa untuk tersenyum, meskipun merasa hatinya
teriris) “Bodoh! Aku begitu bodoh! Bodoh!” (ia meneguk sakenya sekali lagi, namun
kali ini dengan tegukan yang lebih banyak)
(tanpa ia sadari, dibelakangnya Kaname terus memerhatikannya. Perlahan Kaname pun
menghampiri Sakamoto)
Kaname : “Hamparan laut ini begitu indah, bukan? Ia menampakkan sinar bintang-bintang yang
sedang bertengger dengan indah di langit.”
Sakamoto : (menoleh kearah asal suara perlahan) “Apa yang kau lakukan disini?”
Kaname : (menoleh pada Sakamoto seraya tersenyum kecil) “Seharusnya aku yang bertanya,
mengapa kau berada disini? Bukankah tadi kau bilang ingin mengurusi suatu hal
yang sangat penting? Apakah sake itu yang kau anggap penting?”
Sakamoto : (tersenyum kecut, kembali menatap hamparan laut) “Huh, bukan urusanmu.”
Kaname : (menduduki sebuah batu disamping Sakamoto, mengeluarkan sesuatu dari dalam
sakunya, kemudian menyodorkannya pada pria itu) “Inilah alasan mengapa aku mengikutimu
sampai kesini.” (Sakamoto mengambil buku yang diberikan Kaname) “Aku tahu
siapa pelaku pembunuhan Ryouta Nagawa, korban yang identitasnya sudah diketahui
itu berkat buku ini.”
Sakamoto : “M-maksudmu—“ [nan no koto da?]
Kaname : “Bukalah halaman pertamanya.” (Sakamoto menuruti) “Coba kau baca apa yang
tertulis disana.”
Sakamoto : “Hari ini aku akan bertemu dengan sahabat lama. Dia adalah seorang penyuka
karakter detektif, namun bukan otaku. Tapi kurasa ia cocok menjadi detektif karna ia
memiliki kemampuan itu.” (menoleh pada Kaname) “Jadi kau ingin memberitahuku
bahwa pelakunya adalah tersangka kedua si detektif otaku itu yang namanya….ng….
—“
Kaname : “Tobahatsu Nigeiwa? Oh, bukan. Bukan dia pelakunya. Yang tertulis disitu ‘dia
bukan otaku’ dan ‘memiliki kemampuan detektif’. Sedangkan tersangka kedua,
Tobahatsu Nigeiwa, dia mengaku tak memiliki kemampuan detektif dan dia
merupakan seorang otaku.”
Sakamoto : “Bisa saja dia berbohong saat mengatakannya kan?”
Kaname : (menggeleng) “Coba kau buka lembaran kedua.”
Sakamoto menuruti Kaname untuk membuka lembaran kedua. Pada lembaran itu terdapat
gambar yang mewakili 3 orang yang sedang bergandengan. Gambar yang ditengah diberi
penjelasan putri, gambar disebelah kiri diberi penjelasan aku, sedangkan gambar disebelah kanan
diberi penjelasan Tuhan dan Naga. Kata 'Tuhan' dan 'Naga' dalam huruf kanji jika disatukan akan
membentuk kata 'Ryuujin'. Seperti itulah penjelasan Kaname. Lalu ia memberitahukan, bahwa ia
sudah mencurigai Sakamoto ketika pemuda itu berkata 'dialek Kansai'. Sesungguhnya hanya
orang Kansailah yang menyebut 'dialog Kansai' dengan 'dialek Kansai'.
Sakamoto telah mengetahui kesalahannya ketika ia menyadari bahwa 'karai' dalam dialek Kansai
memiliki arti yang berbeda dengan 'karai' dalam diaolog Tokyo. Itulah alasan mengapa ia
memutuskan untuk segera meninggalkan restoran. Ia keliru mengira Ryouta meracun orang yang
disebut 'putri' itu hanya karna Ryouta memberikan sebuah permen disaat-saat sebelum Putri
terjatuh dan menghembuskan napas terakhir. Jika ditelisik lagi, Sakamotolah yang membunuh
Putri karna ia membubuhkan merica pada masakan yang diberikan untuk gadis itu. Mungkin
sebelumnya Putri pernah memberitahukan bahwa ia alergi terhadap masakan pedas. Namun
karna Sakamoto berdialek Kansai maka dari itu ia mengira 'karai' yang dimaksud memiliki arti
'asin'.
Kaname : “Polisi sudah memeriksa toilet pria pada restoran itu. Dan ternyata terdapat sebuah
pintu di ujung ruangan yang mengarah ke basement. Ternyata itulah trikmu dapat
keluar-masuk toilet tanpa terlihat oleh orang dalam restoran ya..?” (menatap wajah
sendu Sakamoto) “Dalam tempat sampah basement ditemukan sebuah sapu tangan
yang telah diberi obat bius. Berdasarkan hasil forensik, sidik jari pada sapu tangan itu
sama dengan sidik jari pada sumpit yang kau gunakan untuk memakan kare.”
Sakamoto : (menatap Kaname, terkejut) “K-kau....”
(Kaname tersenyum simpul dan mengangguk sekali)
(Sakamoto menutup buku itu dengan keras lalu menaruhnya disamping Kaname. Ia bangkit dari
duduknya, berjalan menjauhi bibir pantai dengan masih menggenggam sake)
Kaname : “Kenapa tidak menyerahkan dirimu pada polisi? Aku tahu kau merasa sangat
menyesal atas kejadian ini.” (pernyataan Kaname menghentikan langkah Sakamoto)
“Kau akan dihantui rasa bersalah jika tak bertanggung jawab.” (ujarnya seraya
menoleh kearah belakang, menatap Sakamoto)
(tubuh Sakamoto bergetar, ia sudah tak kuat menahan buliran-buliran bening untuk keluar dari
pelupuk matanya. Tangannya memukul-mukul benda keras disampingnya, lalu ia memukul botol
sake digenggamannya pada benda itu hingga botol sakenya pecah dan hanya tersisa sebagian)
Sakamoto : (berkata dengan suara yang bergetar) “Meskipun aku tahu bahwa aku bersalah, tapi
aku tak kan pernah menyerahkan diriku pada polisi!!” (ia berbalik, berlari
menghampiri Kaname, lalu menusuk lambung wanita itu dengan pecahan botol sake)
“Kau tidak berhak menceramahiku!”
(Sakamoto segera berlari meninggalkan Kaname, namun tanpa diduga inspektur Hobayashi telah
menghadangnya dari balik persimpangan)
#bgm : Egoist – Namae no Nai Kaibutsu
Hobayashi : “Angkat tanganmu!” (mengacungkan pistolnya) “Kau tidak bisa lari lagi!”
Sakamoto : (tersenyum sinis) “Huh, siapa bilang?” (dengan gerakan cepat ia menendang tangan
Hobayashi yang sedang memegang pistol hingga pistol itu terjatuh. Kemudian ia menyerang
pelipis laki-laki itu dengan kakinya)
(Hobayashi sempat terjatuh dan mengaduh kesakitan, namun ia segera bangkit dan menyerang
balik Sakamoto. Hingga akhirnya ia berhasil mengalahkan pria itu, tangannya memegang kuat
lengan Sakamoto yang ia putar kearah belakang)
Hobayashi : “Jangan berani macam-macam denganku!”
(Inspektur Yuta datang membawa borgol, lalu memasang borgol pada kedua lengan Sakamoto.
Disaat itu Kaname bangkit dari duduknya, ia mencabut pecahan botol sake yang menancap di
perutnya, lalu membuka jasnya. Terlihatlah baju pelindung yang melindunginya dari tusukan
pecahan botol tadi. Sakamoto nampak terkejut melihatnya)
Kaname : “Akan lebih terhormat jika kau menyerahkan dirimu, bukan? Kalau dengan cara
seperti ini, hanya akan memperburuk reputasimu saja.”
(Yuta dan Hobayashi berbalik badan, menarik pergi tubuh Sakamoto dengan paksa)
Sakamoto : “Tunggu.” (perkataannya itu membuat Yuta dan Hobayashi menghentikan langkah
mereka. Ia menoleh kearah belakang, menatap Kaname) “Tolong kau urus penguburan Ryouta
dengan sebaik-baiknya. Dan katakan padanya, bahwa aku sangat sangat menyesal.”
Kaname : (tersenyum) “Ya. Kau bisa pegang janjiku.”
(setelah menyunggingkan segurat senyuman, Sakamoto kembali melanjutkan langkahnya)
Akhirnya, Sakamoto diberi hukuman penjara selama 10 tahun. Pihak kepolisian telah
menghubungi pihak keluarga Sakamoto dan Ryouta.
Kasus pun terselesaikan.

Naskah drama jepang - Pembunuhan di restoran

  • 1.
    Naskah drama Pembunuhan diRestoran oleh Anis Maryani Tokoh : 1. Misawaki Kaname (Detektif) diperankan oleh Anis Maryani 2. Ryuujin Sakamoto (pelaku pembunuhan) diperankan oleh Byan Muda 3. Reiji (saksi) diperankan oleh Vira Revianasari 4. Chiisaki Yuta (inspektur) diperankan oleh Leonny Tania 5. Takui Hobayashi (inspektur) diperankan oleh Fakhri Pratama 6. Ryouta Nagawa (korban) diperankan oleh Hariz Ananto 7. Hozuki Kameka (tersangka 1) diperankan oleh Hariz Ananto 8. Tobahatsu Nigeiwa (tersangka 2) diperankan oleh Fakhri Pratama 9. Pelayan diperankan oleh Leonny Tania SCENE 1 Latar : siang hari di dalam restoran Sebuah restoran yang berlokasi di Kota Minato, Tokyo, terlihat ramai dikunjungi dari berbagai kalangan lapisan masyarakat. FUKUJIMA RESTAURANT namanya. Restoran ini terkenal murah, namun tak kalah kualitasnya dengan restoran-restoran kalangan atas. Siang ini begitu terik, sementara para pengunjung silih berganti memasuki restoran tersebut. Mereka bersenda gurau, tertawa dengan lepas membicarakan hal-hal tak penting ditemani secangkir teh atau makanan ringan. Namun, tak lama lagi tawa itu akan menjadi sebuah tangisan atas suatu kejadian yang menimpa seseorang diantara mereka dalam restoran itu. Reiji : (memasuki restoran, menduduki salah satu kursi kosong disana) Pelayan : (menghampiri Reiji) “Permisi Tuan. Ada yang ingin Anda pesan?” (berkata sambil memberikan sebuah buku menu) Reiji : (melihat-lihat menu tsb beberapa saat) “Mmm….aku ingin memesan ini.” (menunjuk pada gambar) “Sepiring Sukiyaki beserta nasi putih dan segelas teh hangat.” Pelayan : (mencatat pesanan pada selembar memo) “Ng…baiklah. Ada lagi?” Reiji : “Tidak. Itu saja dulu.” Pelayan : “Oke. Harap tunggu sebentar ya, Tuan.” (ia membungkukkan tubuhnya, lalu pergi) (sambil menunggu pesanannya, Reiji membaca sebuah koran yang sudah disediakan di atas meja. Namun ia merasa terganggu dengan seseorang yang duduk di belakangnya. Orang itu sedang berbicara dengan seseorang di luar sana melalui telpon. Samar-samar ia mendengar percakapannya) Ryouta : (berbicara dalam dialek Kansai) “Aku membunuhnya? Tidak itu tidak benar. Aku
  • 2.
    tidak mengoleskan racunpada Amechan. Kau tahu, seharusnya kau yang bertanggung jawab! Oke kita harus membicarakan hal ini. Kita memang sudah berteman sejak kecil tapi… Apa? Kenapa disana? Ck baiklah.” (Reiji mengerutkan keningnya mendengar percakapan orang itu, lalu memerhatikan gerakgeriknya ketika pemuda itu berjalan melewatinya menuju toilet. Beberapa saat kemudian makanan yang ia pesan pun datang) Pelayan : “Ini pesanan Anda Tuan.” (menaruh sepiring Sukiyaki beserta nasi putih dan segelas teh hangat di atas meja di hadapan Reiji) “Silahkan dinikmati.” (ia membungkukkan tubuhnya lalu kembali pergi) Reiji pun menikmati makanan yang baru saja disajikan. SCENE 2 Latar : di dalam toilet restoran Di dalam toilet, Ryouta tengah memenuhi permintaan seseorang dari sebrang sana yang memintanya datang ke tempat itu. Meskipun ia merasa bingung, namun ia tak perduli. Sayangnya, sesuatu hal yang tak terduga terjadi padanya. Ryouta : (membuka pintu toilet, namun ia tak menyadari seseorang yang bersembunyi menunggunya di balik pintu) Sakamoto : (dengan pakaian serba hitam yang membuat identitasnya tak terlihat, ia membekap Ryouta dengan sapu tangan yang telah dibubuhi dengan obat bius, membuat pemuda itu tak sadarkan diri. Setelah itu dengan tergesa ia membopong Ryouta, membawanya ke dalam salah satu ruang dalam toilet itu) SCENE 3 Latar : di dalam toilet restoran (Reiji membuka pintu toilet, berjalan memasukinya. Dibelakangnya seorang pria bersuit menyusul memasuki toilet kemudian berbelok pada sebuah wastafel, sementara Reiji membuka pintu salah satu ruang dalam toilet tsb. Saat ia hendak memasuki ruang itu, ekor matanya menangkap sebuah aliran air yang berasal dari ruang di sebelah kirinya.) Reiji : (membuka pintu yang menutup ruang itu, kemudian memekik ketika melihat sesuatu di dalamnya) “Kyaaaaaaa!!!” #bgm : kematian
  • 3.
    Sakamoto : (terkejutsaat mendengar pekikan Reiji lalu segera menghampirinya, dan kembali terkejut ketika melihat sesuatu di dalamnya) “Ce-cepat panggil polisi! Dan halangi siapa pun yang hendak keluar dari restoran ini!” Ternyata, keterkejutan mereka dikarenakan melihat Ryouta yang tengah terduduk pada sebuah pispot sedang pada sudut bibirnya mengeluarkan busa. Air yang keluar dari keran disampingnya pun turut mengalir deras memenuhi penampungnya, hingga tumpah meruah menggenangi lantai toilet. SCENE 4 Latar : di dalam restoran Tak berapa lama kemudian datanglah dua orang polisi bersama seorang detektif. Namun mereka terlihat bingung ketika melihat seorang pria bersuit yang berdiri tegap di depan toilet pria seakan menghalangi pengunjung lain untuk memasukinya. #bgm : langkah kaki #bgm : musik yg sering muncul dlm film detektif Kaname : (mendekati Sakamoto seraya memerhatikan pakaian pria itu) “Kenapa kau tidak membaur dengan pengunjung yang lain dan malah berjaga disini?” Sakamoto : “Aku berdiri disini untuk berjaga-jaga agar pengunjung lain tak memasuki toilet ini. Yah, sekalian menunggu polisi datang.” Yuta : “Apakah ada pengunjung yang keluar-masuk restoran sebelum kami datang?” Sakamoto : “Tidak ada. Tenang saja. Aku sudah meminta petugas untuk berjaga di depan restoran mengawasi pengunjung agar tidak keluar-masuk restoran sebelum polisi datang.” Hobayashi : “Wah kau ini tanggap sekali. Memangnya kau seorang detektif ya?” Sakamoto : (membungkukkan tubuhnya memberi tanda hormat) “Perkenalkan, namaku Ryuujin Sakamoto. Merupakan mahasiswa jurusan kriminologi. Aku bercita-cita menjadi seorang detektif dan suatu saat akan menjadi inspektur seperti kalian.” Kaname : “Pantas saja kau begitu tanggap begitu terjadi insiden ini. Aku Misawaki Kaname, berprofesi sebagai detektif lepas yang sering membantu kepolisian pusat dalam memecahkan berbagai kasus terutama kasus pembunuhan.” Yuta : “Aku Chiisaki Yuta, kepala inspektur kepolisian pusat.” Hobayashi: “Dan aku Takui Hobayashi seorang inspektur kepolisian pusat.” Yuta : “Siapa yang menemukan korban pertama kali?” Reiji : “Aku.” (bangkit dari duduknya) “Saat aku hendak memasuki salah satu ruang dalam
  • 4.
    toilet, tiba-tiba ekormataku menangkap aliran air yang keluar melalui pintu ruang di sebelah kiriku. Saat aku membuka pintu itu, terlihatlah seorang pemuda yang tengah terduduk pada pispot dan mulutnya mengeluarkan busa.” Kaname : “Lalu setelah itu kau berteriak dan datanglah pria ini?” (menunjuk Sakamoto) Reiji : “Dia masuk ke dalam toilet bersamaan denganku. Lalu dia menghampiriku saat aku berteriak.” Yuta : “Apa yang kau lakukan sebelum itu?” Reiji : “Aku sedang makan di tempat ini.” (menunjuk tempat duduknya) “Dan dia, si korban, duduk dibelakangku. Aku mendengar percakapannya dengan seseorang melalui telpon. Kalau tidak salah ia berkata ‘kau tidak membunuhnya. Kau tidak meracun Abechan. Seharusnya aku yang bertanggungjawab. Kita memang sudah berteman sejak kecil dan harus membicarakan hal ini.’ Ia berbicara dengan logat Kansai…sepertinya. Jadi aku kurang begitu paham.” Hobayashi : (menaik-turunkan wajahnya) “Hmm.. bunuh diri ya.. Jadi motifnya adalah merasa bersalah karna telah membunuh orang yang bernama Abe itu? Sepertinya ketiga orang ini teman dekat. Tapi kenapa korban membunuhnya?” Kaname : “Tunggu dulu. Jika ia berbicara dalam dialek Kansai, bukankah kalimatnya menjadi seperti ini ‘aku tidak membunuhnya. Aku tidak mengoles racun pada Abechan. Seharusnya kau yang bertanggungjawab..’” Reiji : “Itu dia! Persis seperti apa yang ia katakan!” Yuta : (menoleh kearah Kaname) “Bagaimana kau mengetahuinya?” Kaname : “Tentu saja. Ayahku lahir di Osaka. Jadi aku sudah terbiasa dengan dialek seperti itu.” Hobayashi: “Lantas, apa maksud dari kalimat ‘mengoles racun pada Abechan’? Abechan itu bukan nama orang?” Sakamoto : “Bukan Abechan. Tapi seharusnya ia berkata…Amechan!” (dengan serentak Kaname, Yuta, Reiji, dan Hobayashi menoleh kearahnya) Hobayashi : “A-amechan?” Sakamoto : “Iya. Dalam dialek Kansai, Amechan merupakan sebutan dari permen. Setidaknya itulah yang kutahu setelah mempelajari sejarah literatur Osaka.” Kaname : “Ya, dia benar. Jadi, si pelaku membunuh korban karna mengira korban telah membunuh seseorang yang—mungkin teman dekatnya—dengan cara mengoles racun pada permen yang kemudian dihisap oleh orang ketiga itu. Jadi motif pembunuhan kali ini adalah balas dendam atas dasar kesalahpahaman.” Yuta : “Kalau begitu, berarti kita harus mencari orang yang berumur antara 18-25 tahun serta berlogat Kansai. Hobayashi, segera cari!” Hobayashi: “Baik!” Sakamoto : “Aku juga akan membantu mencarinya.” Sakamoto dan Hobayashi pun mencari pengunjung yang kira-kira berusia sebaya dengan korban. Tak hanya itu, Yuta telah memerintahkan anak buahnya yang lain untuk mengotopsi korban.
  • 5.
    Selang beberapa saatkemudian, mereka telah berhasil menemukan dua orang tersangka yang tak memiliki alibi—datang sendiri. Inspektur Yuta pun mendapatkan laporan mengenai adanya sesuatu dalam lambung korban. Yuta : (membaca catatan kecil yang sebelumnya diberikan oleh tim forensik dengan keras) “Berdasarkan hasil forensik, dalam lambung korban yang bernama Ryouta Nagawa ditemukan sebuah permen yang telah dicampuri dengan sianida. Dalam saku korban pun ditemukan permen yang sama.” Reiji : “Jadi itu penyebab kematiannya ya? Pantas saja mulutnya berbusa.” Yuta : (menoleh ke arah Reiji) “Ya. Kemungkinannya seperti itu.” Kaname : “Sudah kuduga. Pelaku menggunakan trik pembunuhan yang sama dengan penyebab motif pembunuhan balas dendam ini.” Sakamoto : “Dan aku telah menemukan dua orang tersangka.” (menyela pembicaraan Kaname) “Mereka inilah yang kira-kira berusia sama dengan korban dan tak memiliki alibi alias datang sendiri.” Kaname : (menatap kedua tersangka yang kini sudah terduduk di depannya) “Kemungkinan pelaku adalah orang Kansai. Jadi sebaiknya aku yang bertanya pada mereka.” Yuta : “Silahkan.” Kaname : (menghampiri tersangka pertama) “Siapa namamu? Apa pekerjaanmu?” Hozuki : “Namaku Hozuki Kameka. Aku bekerja part time di salah satu kafe di Minato.” Sakamoto : “Kau seorang buttler?” Hozuki : “Ya. Begitulah..” Kaname : “Lalu, darimana asalmu? Dan..dimana tempat tinggalmu?” Hozuki : “Aku lahir dan dibesarkan di Tokyo. Tempat tinggalku..yah..merupakan sebuah rumah sederhana di Kota Minato.” (Kaname mengelus-elus dagunya, kemudian menghampiri tersangka kedua. Namun seakan mengetahui apa yang ingin ditanyakan, tersangka tersebut segera memberikan jawabannya) Tobahatsu : “Namaku Tobahatsu Nigeiwa. Aku sedang tidak memiliki pekerjaan apa pun atau bisa disebut pengangguran. Aku tinggal menumpang di rumah temanku, di Kota Beika.” Sakamoto : (memerhatikan jubah panjang yang dikenakan Tobahatsu serta sebuah lup yang tergeletak di samping tangan kanannya) “Apakah kau seorang detektif otaku?” Tobahatsu : “Ya, bisa dibilang begitu. Aku sangat menyukai sosok detektif seperti Sherlock Holmes. Tapi sayangnya hormon insulin di otakku terbatas, jadi aku tak memiliki kemampuan selayaknya detektif.” Kaname : (kembali mengelus-elus dagunya) “Tidak ada tanda-tanda yang membuktikan adanya orang Kansai diantara para tersangka ini.” (ujarnya dalam hati) “Mereka pun berlogat fasih khas Tokyo.” (kemudian ia melirik ke arah Sakamoto yang berdiri dibelakangnya. Sedari awal, dia memang merasa curiga dengan pria itu) “Apakah aku harus memeriksamu juga?”
  • 6.
    Sakamoto : “Silahkanjika itu dapat membantumu menyelesaikan kasus ini.” Reiji : “Kurasa dia tidak ada sangkut pautnya dengan kasus ini. Aku yakin tak ada pengunjung yang keluar masuk toilet saat korban berada di dalamnya. Hingga aku masuk ke dalam toilet, korban pun tak kunjung keluar, lalu dia (ekor matanya mengarahkan Sakamoto) turut memasuki toilet di belakangku.” (Kaname kembali mengelus-elus dagunya, berpikir cukup lama. Lalu disaat-saat itu inspektur Yuta mengambil semangkuk kecil miso—yang terlihat masih baru—yang tersedia di setiap meja disana) Yuta : (menyeruput miso yang baru saja diambilnya) “Asin!” (pekiknya sambil mengkerutkan wajahnya. Sontak kelima orang yang sedang bersamanya pun menoleh kearahnya) “M-maaf. Aku merasa sedikit lapar. Jadi kucicipi saja miso yang sedang dianggurkan ini.” (ujarnya salah tingkah) Sakamoto : “Maaf, jika aku tidak dicurigai, bolehkah aku pergi? Ada urusan yang harus aku selesaikan sekarang juga.” (ujarnya tiba-tiba) Yuta : “Ya ya silahkan kau pergi saja. Lagipula bukan kau pelakunya.” Sakamoto : (menoleh kearah Kaname) “Bagaimana?” Kaname : “Kenapa bertanya padaku? Inspektur Yuta sudah membolehkanmu pergi dan aku tak punya hak untuk melarangnya.” (meskipun yakin kalau Sakamoto pantas dijadikan tersangka, namun ia tak memiliki bukti dan melepaskannya dengan berat hati) (setelah membungkukkan badan member tanda hormat, Sakamoto pun segera pergi meninggalkan restoran) Yuta : “Jadi, bagaimana? Apakah kau sudah memiliki kesimpulan mengenai pelakunya?” (suaranya mengejutkan Kaname yang sedang merenung) Kaname : “Ng….belum.. Sebenarnya bisa saja mereka berbohong ketika menjawab pertanyaan dariku, namun sayangnya aku tak tahu siapa diantara mereka yang tak mengatakan yang sesungguhnya.” (ia menaikkan sebelah alisnya) “Tapi ketika kau memekik saat memakan miso tadi, aku jadi memiliki ide mengenai cara apa yang ampuh untuk membuktikan kebohongan si pelaku.” Yuta : “Wah, bagaimana caranya?” Kaname : (menyunggingkan senyum misterius) “Dengan masakan ajaib!” Setelah mengatakan hal itu, kemudian Kaname memesan dua mangkuk miso paling asin disana. Ia menyerahkan dua mangkuk miso itu pada masing-masing tersangka. Kaname : “Silahkan. Miso itu khusus untuk kalian.” Hozuki : “Kau yakin?” Kaname : “Ya. Tentu aku sangat yakin.” Yuta : (mendekatkan bibirnya ke telinga Kaname, berbisik) “Kenapa kau memberi mereka miso? Memangnya miso itu masakan ajaib?” Kaname : “Kau tenang saja. Kita lihat apa yang terjadi setelah ini.” (jawabnya setengah berbisik)
  • 7.
    Hozuki : (mengkerutkan wajahnya)“Asin!!” –logat Tokyo— Tobahatsu : “Hoek! Makanan macam apa ini?! Asin sekali!” –logat Tokyo— Kaname : (terbelalak dengan pekikan mereka) “Kenapa tak ada diantara mereka yang memekik dengan dialek Kansai? Bukankah seseorang akan menunjukkan jati dirinya dalam keadaan genting?” (ujarnya dalam hati) (ia yang merasa semakin gusar, membalikkan tubuhnya, menghadap Yuta) “Inspektur, mohon berikan izin untukku pergi ke toilet sebentar saja. Ada yang ingin kurenungi.” (berkata sambil menundukkan wajahnya) Yuta : “Tentu.” (saat Kaname melewatinya, ia memegang pundaknya, hingga membuat wanita itu menghentikan langkahnya) “Jangan terlalu memaksakan dirimu.” (Kaname hanya tersenyum kecut atas ucapannya) Kaname berjalan gontai menuju toilet. Ia merasa semakin dipusingkan dengan kasus pembunuhan ini dan makin yakinlah ia bahwa calon detektif bernama Sakamoto yang ia relakan kepergiannya tadi adalah tersangka yang seharusnya ia curigai. SCENE 5 Latar : ruang lain dalam restoran Saat melewati sebuah ruangan dekat toilet wanita, tanpa sengaja ekor mata Kaname menagkap sosok seseorang yang sepertinya tak asing baginya. #bgm : klasik Kaname : (memundurkan langkahnya, kemudian memicingkan matanya agar dapat melihat sosok yang memunggunginya dari jarak yang agak jauh itu dengan jelas) “Bukankah itu Sakamoto?” (ujarnya setengah berbisik, kemudian ia bersembunyi di balik tembok yang membatasi ruangan itu) “Kenapa dia ada disini? Bukankah ia berpamitan karna ingin mengurusi hal penting?” (seorang pelayan yang menjunjung sebuah nampan berisi kare menghampiri Sakamoto. Setelah pelayan itu pergi, Sakamoto pun segera memakan karenya) Sakamoto : “Yek, asin!!” –dialek Kansai— (Kaname terbelalak. Seperti yang ia duga, ternyata sebenarnya Sakamoto berdarah Kansai) Sakamoto : “Tak kusangka kare pedas yang kupesan, berubah menjadi asin saat aku memikirkannya kembali.” (tersenyum tipis, lalu bangkit dari duduknya, sementara pelupuk matanya meneteskan buliran bening dan beranjaklah ia menuju pintu keluar. Kaname memerhatikan benar apa yang baru saja terjadi. Sementara itu, seorang petugas kepolisian datang menghampirinya) Hobayashi : (mengejutkan Kaname) “Kaname-san, kami baru saja berhasil menemukan
  • 8.
    kendaraan yang didugamilik korban, lalu menemukan benda ini pada dashboardnya.” (menyodorkan sebuah buku bersampul hijau pada Kaname) “Tadi aku sudah memberitahukannya pada inspektur Yuta. Tapi dia bilang, aku juga harus menyerahkannya padamu, karna ini merupakan petunjuk yang mungkin dapat mempercepat penyelesaian kasus ini.” Kaname : (segera mengambil benda yang diberikan Hobayashi) “Terimakasih.” (setelah itu, Hobayashi pun pergi. Sementara Kaname membuka lembar pertama pada buku yang baru saja diberikan padanya. Lalu ia membuka lembaran kedua. Matanya menyipit beberapa saat —tanda berpikir—kemudian ia nampak terkejut setelah memahami isi dari buku itu) SCENE 6 Latar : sore hari di sekitar pantai Di luar sana, Sakamoto berjalan gontai menyusuri bibir pantai. Matanya sayu memandang butirbutir pasir yang diinjaknya, sedangkan nyawanya seakan telah pergi dari raganya. #bgm : angin (Sakamoto terus berjalan melewati seorang penjual bir, kemudian berhenti beberapa meter membelakangi penjual yang sedang menjajakan beberapa botol sake itu. Ia mengangkat wajahnya, menoleh kearah belakang, membalikkan tubuhnya lalu berjalan mendekati penjual itu) Penjual : “Sake murah… Sake murah…” Sakamoto : “Adakah sake yang dapat memabukkanku hanya dalam tegukan pertama?” Penjual : “Oh, tentu ada Tuan!” (mengedarkan bola matanya ke beberapa botol sake jualannya) “Aha, ini dia!” (mengambil salah satu dari beberapa botol sake, kemudian memberikannya pada Sakamoto) Sakamoto : (mengamati botol sake yang baru saja ia terima di genggamannya) “Berapa harganya?” Penjual : “Hanya ¥ 100, Tuan!” (Sakamoto memberikan dua lembar uang ¥ 50 pada pedagang itu, dan pedagang itu pun menerimanya) “Terimakasih Tuan!” (setelah membeli sake, Sakamoto berjalan menuju bibir pantai. Ia menduduki sebuah batu besar, lalu memandang jauh pada cakrawala ditemani suara deburan ombak yang sesekali gulungan itu mengenai ujung kakinya) #bgm : Hitoto Yo – Hanamizuki Sakamoto : (membuka tutup botol sake, meneguknya sekali) “Kenapa aku begitu bodoh? Melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu? Huh, apakah yang seperti ini pantas dijadikan detektif?” (ia memaksa untuk tersenyum, meskipun merasa hatinya
  • 9.
    teriris) “Bodoh! Akubegitu bodoh! Bodoh!” (ia meneguk sakenya sekali lagi, namun kali ini dengan tegukan yang lebih banyak) (tanpa ia sadari, dibelakangnya Kaname terus memerhatikannya. Perlahan Kaname pun menghampiri Sakamoto) Kaname : “Hamparan laut ini begitu indah, bukan? Ia menampakkan sinar bintang-bintang yang sedang bertengger dengan indah di langit.” Sakamoto : (menoleh kearah asal suara perlahan) “Apa yang kau lakukan disini?” Kaname : (menoleh pada Sakamoto seraya tersenyum kecil) “Seharusnya aku yang bertanya, mengapa kau berada disini? Bukankah tadi kau bilang ingin mengurusi suatu hal yang sangat penting? Apakah sake itu yang kau anggap penting?” Sakamoto : (tersenyum kecut, kembali menatap hamparan laut) “Huh, bukan urusanmu.” Kaname : (menduduki sebuah batu disamping Sakamoto, mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, kemudian menyodorkannya pada pria itu) “Inilah alasan mengapa aku mengikutimu sampai kesini.” (Sakamoto mengambil buku yang diberikan Kaname) “Aku tahu siapa pelaku pembunuhan Ryouta Nagawa, korban yang identitasnya sudah diketahui itu berkat buku ini.” Sakamoto : “M-maksudmu—“ [nan no koto da?] Kaname : “Bukalah halaman pertamanya.” (Sakamoto menuruti) “Coba kau baca apa yang tertulis disana.” Sakamoto : “Hari ini aku akan bertemu dengan sahabat lama. Dia adalah seorang penyuka karakter detektif, namun bukan otaku. Tapi kurasa ia cocok menjadi detektif karna ia memiliki kemampuan itu.” (menoleh pada Kaname) “Jadi kau ingin memberitahuku bahwa pelakunya adalah tersangka kedua si detektif otaku itu yang namanya….ng…. —“ Kaname : “Tobahatsu Nigeiwa? Oh, bukan. Bukan dia pelakunya. Yang tertulis disitu ‘dia bukan otaku’ dan ‘memiliki kemampuan detektif’. Sedangkan tersangka kedua, Tobahatsu Nigeiwa, dia mengaku tak memiliki kemampuan detektif dan dia merupakan seorang otaku.” Sakamoto : “Bisa saja dia berbohong saat mengatakannya kan?” Kaname : (menggeleng) “Coba kau buka lembaran kedua.” Sakamoto menuruti Kaname untuk membuka lembaran kedua. Pada lembaran itu terdapat gambar yang mewakili 3 orang yang sedang bergandengan. Gambar yang ditengah diberi penjelasan putri, gambar disebelah kiri diberi penjelasan aku, sedangkan gambar disebelah kanan diberi penjelasan Tuhan dan Naga. Kata 'Tuhan' dan 'Naga' dalam huruf kanji jika disatukan akan membentuk kata 'Ryuujin'. Seperti itulah penjelasan Kaname. Lalu ia memberitahukan, bahwa ia sudah mencurigai Sakamoto ketika pemuda itu berkata 'dialek Kansai'. Sesungguhnya hanya orang Kansailah yang menyebut 'dialog Kansai' dengan 'dialek Kansai'. Sakamoto telah mengetahui kesalahannya ketika ia menyadari bahwa 'karai' dalam dialek Kansai memiliki arti yang berbeda dengan 'karai' dalam diaolog Tokyo. Itulah alasan mengapa ia memutuskan untuk segera meninggalkan restoran. Ia keliru mengira Ryouta meracun orang yang
  • 10.
    disebut 'putri' ituhanya karna Ryouta memberikan sebuah permen disaat-saat sebelum Putri terjatuh dan menghembuskan napas terakhir. Jika ditelisik lagi, Sakamotolah yang membunuh Putri karna ia membubuhkan merica pada masakan yang diberikan untuk gadis itu. Mungkin sebelumnya Putri pernah memberitahukan bahwa ia alergi terhadap masakan pedas. Namun karna Sakamoto berdialek Kansai maka dari itu ia mengira 'karai' yang dimaksud memiliki arti 'asin'. Kaname : “Polisi sudah memeriksa toilet pria pada restoran itu. Dan ternyata terdapat sebuah pintu di ujung ruangan yang mengarah ke basement. Ternyata itulah trikmu dapat keluar-masuk toilet tanpa terlihat oleh orang dalam restoran ya..?” (menatap wajah sendu Sakamoto) “Dalam tempat sampah basement ditemukan sebuah sapu tangan yang telah diberi obat bius. Berdasarkan hasil forensik, sidik jari pada sapu tangan itu sama dengan sidik jari pada sumpit yang kau gunakan untuk memakan kare.” Sakamoto : (menatap Kaname, terkejut) “K-kau....” (Kaname tersenyum simpul dan mengangguk sekali) (Sakamoto menutup buku itu dengan keras lalu menaruhnya disamping Kaname. Ia bangkit dari duduknya, berjalan menjauhi bibir pantai dengan masih menggenggam sake) Kaname : “Kenapa tidak menyerahkan dirimu pada polisi? Aku tahu kau merasa sangat menyesal atas kejadian ini.” (pernyataan Kaname menghentikan langkah Sakamoto) “Kau akan dihantui rasa bersalah jika tak bertanggung jawab.” (ujarnya seraya menoleh kearah belakang, menatap Sakamoto) (tubuh Sakamoto bergetar, ia sudah tak kuat menahan buliran-buliran bening untuk keluar dari pelupuk matanya. Tangannya memukul-mukul benda keras disampingnya, lalu ia memukul botol sake digenggamannya pada benda itu hingga botol sakenya pecah dan hanya tersisa sebagian) Sakamoto : (berkata dengan suara yang bergetar) “Meskipun aku tahu bahwa aku bersalah, tapi aku tak kan pernah menyerahkan diriku pada polisi!!” (ia berbalik, berlari menghampiri Kaname, lalu menusuk lambung wanita itu dengan pecahan botol sake) “Kau tidak berhak menceramahiku!” (Sakamoto segera berlari meninggalkan Kaname, namun tanpa diduga inspektur Hobayashi telah menghadangnya dari balik persimpangan) #bgm : Egoist – Namae no Nai Kaibutsu Hobayashi : “Angkat tanganmu!” (mengacungkan pistolnya) “Kau tidak bisa lari lagi!” Sakamoto : (tersenyum sinis) “Huh, siapa bilang?” (dengan gerakan cepat ia menendang tangan Hobayashi yang sedang memegang pistol hingga pistol itu terjatuh. Kemudian ia menyerang pelipis laki-laki itu dengan kakinya) (Hobayashi sempat terjatuh dan mengaduh kesakitan, namun ia segera bangkit dan menyerang balik Sakamoto. Hingga akhirnya ia berhasil mengalahkan pria itu, tangannya memegang kuat lengan Sakamoto yang ia putar kearah belakang) Hobayashi : “Jangan berani macam-macam denganku!”
  • 11.
    (Inspektur Yuta datangmembawa borgol, lalu memasang borgol pada kedua lengan Sakamoto. Disaat itu Kaname bangkit dari duduknya, ia mencabut pecahan botol sake yang menancap di perutnya, lalu membuka jasnya. Terlihatlah baju pelindung yang melindunginya dari tusukan pecahan botol tadi. Sakamoto nampak terkejut melihatnya) Kaname : “Akan lebih terhormat jika kau menyerahkan dirimu, bukan? Kalau dengan cara seperti ini, hanya akan memperburuk reputasimu saja.” (Yuta dan Hobayashi berbalik badan, menarik pergi tubuh Sakamoto dengan paksa) Sakamoto : “Tunggu.” (perkataannya itu membuat Yuta dan Hobayashi menghentikan langkah mereka. Ia menoleh kearah belakang, menatap Kaname) “Tolong kau urus penguburan Ryouta dengan sebaik-baiknya. Dan katakan padanya, bahwa aku sangat sangat menyesal.” Kaname : (tersenyum) “Ya. Kau bisa pegang janjiku.” (setelah menyunggingkan segurat senyuman, Sakamoto kembali melanjutkan langkahnya) Akhirnya, Sakamoto diberi hukuman penjara selama 10 tahun. Pihak kepolisian telah menghubungi pihak keluarga Sakamoto dan Ryouta. Kasus pun terselesaikan.