Otitis Eksterna
Maligna
Nadia Cecilia S
102012513
B5
Hipotesis Skenario 12
 Laki-laki tersebut menderita otitis eksterna
maligna
Anamnesis
 Anamnesis diperlukan untuk mengetahui lebih
dalam dan lebih luas keluhan utama pasien.
 Keluhan utama telinga dapat berupa
gangguan pendengaran, suara berdenging
(Tinitus) , rasa pusing berputar (vertigo), rasa
nyeri di dalam telinga (otalgia) , dan keluar
cairan telinga (otore).
Pemeriksaan Fisik
 Periksa kedua telinga : yang sehat dulu
 Pemeriksaan fisik telinga mencakup beberapa
hal seperti: Pemeriksaan luar, ketajaman
pendengaran dan pemeriksaan otoskopik
 Pemeriksaan luar : inspeksi, palpasi(nodul,
deformitas, ukuran pinna, lesi),(nyeri dengan
menarik telinga ke atas dan ke bawah atau dengan
menekan tragus : infeksi telinga luar)
Anatomi telinga
Pemeriksaan Fisik
 Tes pendengaran :
 Tes weber
 Tes rinne
 Tes scwabach
 Pemeriksaan Otoskopik : menggunakan alat
otoskop(harus hati-hati)
Pemeriksaan Fisik : Otoskop
Pemeriksaan Penunjang
 Jumlah leukosit : meningkat sedikit
 LED : meningkat mendukung diagnosis
 Kimia darah : u/ ps diabetes, ps non diabetes
cek intoleransi glukosa
 Kultur dan tes sensitivitas dari liang telinga
 Pemeriksaan Radiologi
Working Diagnosis :
Otitis Eksterna Maligna
 infeksi bakteri progresif pada liang telinga luar,
mastoid, dan basis tulang tengkorak
 Umumnya : pasien diabetik atau pasien dengan
gangguan imun, kadang pada pasien leukemia
 Otitis eksterna maligna (otitis eksterna pada pasien
diabetes usia lanjut) dimulai pada otitis eksterna
Pseudomonas Aeruginosa yang biasa.
 Ps usia lanjut, yang tidak sembuh dgn terapi yang
biasa, serta bila tidak diterapi atau diterapi dengan cara
yang tidak sesuai akan menyebabkan kematian pasien.
 Gejala : gatal pada liang telinga > nyeri yang
hebat dan sekret yang banyak>
pembengkakan liang telinga
 Rasa nyeri semakin meningkat hebat, liang
telinga tertutup oleh tumbuhnya jaringan
granulasi secara subur.
 Saraf fasial dapat terkena, sehingga
menimbulkan paresis dan paralisis fasial.
Etiologi
 Secara otoskopik, didapatkan pus yang sangat
banyak, pembengkakan lapisan liang telinga, dan
sering dengan jaringan granulasi yang banyak
 Disebabkan oleh infeksi pseudomonas aeruginosa
yang invasif dan terutama terjadi pada pasien
diabetes
 Staphylococcus aureus, Proteus dan aspergillus
 Faktor predisposisi
Epidemiologi
 Di Amerika Serikat, Otitis Eksterna Maligna
lebih banyak timbul di tempat beriklim lembab
dan basah daripada iklim lain. Lebih banyak
pada laki-laki dibandingkan dengan
perempuan, dan dilaporkan menyerang
kelompok semua umur tetapi lebih banyak
pada pasien yang lebih tua
Differential Diagnosis
 Otitis Eksterna Difusa
 telinga cuaca panas ( hot weather ear), telinga
perenang ( swimmer ear).
 komplek gejala peradangan kulit liang telinga yang
terjadi sewaktu cuaca panas dan lembab dan dapat
dijumpai dalam bentuk ringan, sedang, berat dan
menahun.
 Telinga menjadi gatal(garukan,trauma) serta
semakin sakit dan kulit liang telinga menjadi
kemerahan, bengkak dan dilapisi oleh sekret yang
berwarna kehijau-hijauan
Differential Diagnosis
Otitis Media Akut
 Diawali dengan infeksi pada saluran napas (radang
tenggorokan atau pilek) yang menyebar ke telinga tengah
lewat saluran Eustachius.
 Saluran membengkak dan tersumbat> sel-sel darah putih
dtg untuk melawan bakteri> terbentuklah nanah dalam
telinga tengah.
 lendir dan nanah bertambah banyak> pendengaran
terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil
penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran
di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas
 walaupun sebagian besar kasus disebabkan oleh bakteri,
hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik. Hal ini
dimungkinkan karena tanpa antibiotik pun saluran
Eustachius akan terbuka kembali sehingga bakteri akan
tersingkir bersama aliran lendir
Differential Diagnosis
 Otomikosis
 Otomikosis atau Otitis Eksterna yang
disebabkan oleh jamur
 fungal otitis externa : infeksi akut, subakut
maupun kronik oleh jamur yang menginfeksi
epitel skuamosa pada kanalis auditorius
eksternus
 komplikasi : jarang melibatkan telinga tengah
OEM OMA
Penatalaksanaan
 Ps harus dirumahsakitkan 4-6 minggu secepatnya.
 Antibiotik yang sering digunakan : ciprofloxasin, ticarcillin-
clavulanat, piperacillin (dikombinasi dengan
aminoglikosida), ceftriaxon, ceftazidine, cefepim
(maxipime), tobramicin (kombinasi dengan aminoglikosida),
gentamisin (kombinasi dengan golongan penisilin). Secara
parenteral.
 Telinga harus dibersihkan dengan teliti setiap hari dan
diolesi salep gentamisin.
 Diantara waktu membersihkan, harus diberikan obat tetes
gentamisin setiap 4-6 jam.
 Setelah terapi diberikan dan infeksi terkontrol, maka
pengangkatan jaringan granulasi manapun yang menetap
di liang telinga dan biasanya dilakukan dengan obat
anestesi lokal, akan mempercepat penyembuhan
Pencegahan
 Ubah kebiasaan suka mengorek telinga dengan
dalam.
 Jangan gunakan cotton bud karena kotoran justru
akan terdorong ke dalam.
 Jangan gunakan anting-anting yang berat.
 Cegah masuknya air ketika mandi atau berenang,
karena kulit yang basah dan lembut mudah
terinfeksi oleh bakteri dan jamur.
 Cegah masuknya air/bahan iritan (hair spray, cat
rambut)
Komplikasi
 Komplikasi Otitis Eksterna Maligna yang dapat
terjadi meliputi :
 lower cranial neuropathies
 paresis atau paralisis nervus fasial
 Meningitis
 abses otak dan kematian
 Pada otitis eksterna maligna peradangan meluas
secara progresif ke lapisan subkutis, tulang
rawan, dan ke tulang disekitarnya, sehingga
timbul kondritis, osteitis, osteomielitis, yang
menghancurkan tulang temporal.
Prognosis
 Otitis eksterna maligna kambuh sekitar satu tahun
pengobatan komplit
 Kematian berkurang sampai 20% antibiotik yang
cocok dan perbaikan modalitas imaging.
 Penelitian sekarang melaporkan kematian turun
sampai 10% tetapi kematian tetap tinggi pada
pasien dengan neuropati atau adanya komplikasi
intrakranial
Kesimpulan
 Pasien pada skenario kali ini menderita Otitis
Eksterna Maligna.
Thank You

Otitis_Eksterna_Maligna_Cecilia_b23_ppt.pptx

  • 1.
  • 2.
    Hipotesis Skenario 12 Laki-laki tersebut menderita otitis eksterna maligna
  • 3.
    Anamnesis  Anamnesis diperlukanuntuk mengetahui lebih dalam dan lebih luas keluhan utama pasien.  Keluhan utama telinga dapat berupa gangguan pendengaran, suara berdenging (Tinitus) , rasa pusing berputar (vertigo), rasa nyeri di dalam telinga (otalgia) , dan keluar cairan telinga (otore).
  • 4.
    Pemeriksaan Fisik  Periksakedua telinga : yang sehat dulu  Pemeriksaan fisik telinga mencakup beberapa hal seperti: Pemeriksaan luar, ketajaman pendengaran dan pemeriksaan otoskopik  Pemeriksaan luar : inspeksi, palpasi(nodul, deformitas, ukuran pinna, lesi),(nyeri dengan menarik telinga ke atas dan ke bawah atau dengan menekan tragus : infeksi telinga luar)
  • 5.
  • 6.
    Pemeriksaan Fisik  Tespendengaran :  Tes weber  Tes rinne  Tes scwabach  Pemeriksaan Otoskopik : menggunakan alat otoskop(harus hati-hati)
  • 7.
  • 8.
    Pemeriksaan Penunjang  Jumlahleukosit : meningkat sedikit  LED : meningkat mendukung diagnosis  Kimia darah : u/ ps diabetes, ps non diabetes cek intoleransi glukosa  Kultur dan tes sensitivitas dari liang telinga  Pemeriksaan Radiologi
  • 9.
    Working Diagnosis : OtitisEksterna Maligna  infeksi bakteri progresif pada liang telinga luar, mastoid, dan basis tulang tengkorak  Umumnya : pasien diabetik atau pasien dengan gangguan imun, kadang pada pasien leukemia  Otitis eksterna maligna (otitis eksterna pada pasien diabetes usia lanjut) dimulai pada otitis eksterna Pseudomonas Aeruginosa yang biasa.  Ps usia lanjut, yang tidak sembuh dgn terapi yang biasa, serta bila tidak diterapi atau diterapi dengan cara yang tidak sesuai akan menyebabkan kematian pasien.
  • 10.
     Gejala :gatal pada liang telinga > nyeri yang hebat dan sekret yang banyak> pembengkakan liang telinga  Rasa nyeri semakin meningkat hebat, liang telinga tertutup oleh tumbuhnya jaringan granulasi secara subur.  Saraf fasial dapat terkena, sehingga menimbulkan paresis dan paralisis fasial.
  • 11.
    Etiologi  Secara otoskopik,didapatkan pus yang sangat banyak, pembengkakan lapisan liang telinga, dan sering dengan jaringan granulasi yang banyak  Disebabkan oleh infeksi pseudomonas aeruginosa yang invasif dan terutama terjadi pada pasien diabetes  Staphylococcus aureus, Proteus dan aspergillus  Faktor predisposisi
  • 12.
    Epidemiologi  Di AmerikaSerikat, Otitis Eksterna Maligna lebih banyak timbul di tempat beriklim lembab dan basah daripada iklim lain. Lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan, dan dilaporkan menyerang kelompok semua umur tetapi lebih banyak pada pasien yang lebih tua
  • 13.
    Differential Diagnosis  OtitisEksterna Difusa  telinga cuaca panas ( hot weather ear), telinga perenang ( swimmer ear).  komplek gejala peradangan kulit liang telinga yang terjadi sewaktu cuaca panas dan lembab dan dapat dijumpai dalam bentuk ringan, sedang, berat dan menahun.  Telinga menjadi gatal(garukan,trauma) serta semakin sakit dan kulit liang telinga menjadi kemerahan, bengkak dan dilapisi oleh sekret yang berwarna kehijau-hijauan
  • 14.
    Differential Diagnosis Otitis MediaAkut  Diawali dengan infeksi pada saluran napas (radang tenggorokan atau pilek) yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.  Saluran membengkak dan tersumbat> sel-sel darah putih dtg untuk melawan bakteri> terbentuklah nanah dalam telinga tengah.  lendir dan nanah bertambah banyak> pendengaran terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas  walaupun sebagian besar kasus disebabkan oleh bakteri, hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik. Hal ini dimungkinkan karena tanpa antibiotik pun saluran Eustachius akan terbuka kembali sehingga bakteri akan tersingkir bersama aliran lendir
  • 15.
    Differential Diagnosis  Otomikosis Otomikosis atau Otitis Eksterna yang disebabkan oleh jamur  fungal otitis externa : infeksi akut, subakut maupun kronik oleh jamur yang menginfeksi epitel skuamosa pada kanalis auditorius eksternus  komplikasi : jarang melibatkan telinga tengah
  • 16.
  • 17.
    Penatalaksanaan  Ps harusdirumahsakitkan 4-6 minggu secepatnya.  Antibiotik yang sering digunakan : ciprofloxasin, ticarcillin- clavulanat, piperacillin (dikombinasi dengan aminoglikosida), ceftriaxon, ceftazidine, cefepim (maxipime), tobramicin (kombinasi dengan aminoglikosida), gentamisin (kombinasi dengan golongan penisilin). Secara parenteral.  Telinga harus dibersihkan dengan teliti setiap hari dan diolesi salep gentamisin.  Diantara waktu membersihkan, harus diberikan obat tetes gentamisin setiap 4-6 jam.  Setelah terapi diberikan dan infeksi terkontrol, maka pengangkatan jaringan granulasi manapun yang menetap di liang telinga dan biasanya dilakukan dengan obat anestesi lokal, akan mempercepat penyembuhan
  • 18.
    Pencegahan  Ubah kebiasaansuka mengorek telinga dengan dalam.  Jangan gunakan cotton bud karena kotoran justru akan terdorong ke dalam.  Jangan gunakan anting-anting yang berat.  Cegah masuknya air ketika mandi atau berenang, karena kulit yang basah dan lembut mudah terinfeksi oleh bakteri dan jamur.  Cegah masuknya air/bahan iritan (hair spray, cat rambut)
  • 19.
    Komplikasi  Komplikasi OtitisEksterna Maligna yang dapat terjadi meliputi :  lower cranial neuropathies  paresis atau paralisis nervus fasial  Meningitis  abses otak dan kematian  Pada otitis eksterna maligna peradangan meluas secara progresif ke lapisan subkutis, tulang rawan, dan ke tulang disekitarnya, sehingga timbul kondritis, osteitis, osteomielitis, yang menghancurkan tulang temporal.
  • 20.
    Prognosis  Otitis eksternamaligna kambuh sekitar satu tahun pengobatan komplit  Kematian berkurang sampai 20% antibiotik yang cocok dan perbaikan modalitas imaging.  Penelitian sekarang melaporkan kematian turun sampai 10% tetapi kematian tetap tinggi pada pasien dengan neuropati atau adanya komplikasi intrakranial
  • 21.
    Kesimpulan  Pasien padaskenario kali ini menderita Otitis Eksterna Maligna.
  • 22.

Editor's Notes

  • #7 Tes weber dilakukan dengan meletakkan sebuah garpu tala yang bergetar 128 siklus per detik, diletakan di tengah dahi penderita atau kita letakan pada vertex. Kemudian kita tetapkan apakah suara tersebut sama baiknya terdengar pada kedua telinga penderita. Atau mungkin penderita mendengar lebih jelas pada salah satu telinga nya. Tes Rinne dilakukan dengan meletakan garpu tala pada prosessus mastoideus, selanjutnya kita pindahkan ke depan telinga luar pada sisi yang sama. Dan menentukan perbandingan kekuatan dari kedua suara tersebut dan apakah suara yang halus dapat didengarkan pada salah satu sisi namun tidak dapat didengar pada sisi yang lain. Juga berguna untuk memeriksa pendengaran penderita dengan jam tangan atau jam kantong yang kita lakukan di samping tempat tidurnya