PT.HUTAMA KARYA (PERSERO) – DIVISI EPC
PROYEK OPEN ACCESS
RU-VII KASIM SORONG
TRAINING
HSSE HK
Permenaker No 9 Tahun 2016
PemeriksaanWebbing Full Body Harness Lengkap.pdf
TERIMA KASIH
HSSE HK
PT.HUTAMA KARYA (PERSERO) – DIVISI EPC
PROYEK OPEN ACCESS
RU-VII KASIM SORONG
TRAINING
HSSE HK
Isi Materi
Definisi Ruang Terbatas (Confined Space)
Menjabarkan pengertian dari ruang terbatas, ciri-ciri, kategori dan perihal ruang lingkup
dari Ruang Terbatas
Program Pengendalian dan Penilaian
Bahaya Ruang Terbatas (Confined Space)
Menjelaskan cara-cara pengendalian bahaya dan menilai risiko ketika bekerja di Ruang
Terbatas
Potensi Bahaya di Ruang Terbatas
(Confined Space)
Menjelaskan apa saja potensi bahaya dan risiko yang ada ketika bekerja di Ruang Terbatas
Do & Don’ts di Ruang Terbatas (Confined
Space)
Menjelaskan apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan ketika bekerja di
Ruang Terbatas
Pelatihan
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Definisi Ruang Terbatas
(Confined Space)
Menjabarkan pengertian dari ruang terbatas, ciri-ciri, kategori dan perihal
ruang lingkup dari Ruang Terbatas
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Undang-Undang
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Dasar Hukum mengenai Ruang Terbatas (Confined Space)
Ketentuan perundangan dan peraturan keselamatan kerja yang berkaitan dengan bekerja di Ruang Terbatas
• Undang-Undang No. 3 tahun 1969 tentang Persetujuan
Konvensi ILO No. 120 mengenai Hygiene dalam Perniagaan
dan Kantor-Kantor
• Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja
• Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
• Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 187/Men/1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja
• Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. SE.01/Men/1997 tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Kimia di udara Lingkungan Kerja
• Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.
SE.117/Men/PPKPKK/III/2005 tentang Pemeriksaan Menyeluruh
Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pusat Perbelanjaan,
Gedung Bertingkat, dan Tempat-Tempat Publik Lainnya
Kepmen, SE
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Pengertian Ruang Terbatas (Confined Space)
Definisi, contoh dan kategori sebuah Ruang Terbatas
Yang dimaksud memasuki ruang terbatas adalah apabila seseorang bekerja dengan sebagian maupun seluruh anggota
tubuhnya berada di dalam ruang terbatas.
Sebuah tempat kerja di katakan Ruang terbatas (confined spaces) apabila memiliki
kategori sebagai tempat yang:
Cukup luas dan memiliki konfigurasi sedemikian rupa sehingga pekerja dapat
masuk dan melakukan pekerjaan di dalamnya;
Mempunyai akses keluar masuk yang terbatas. Seperti pada
tank, kapal, silo, tempat penyimpanan, lemari besi atau ruang lain
yang mungkin mempunyai akses yang terbatas).
Tidak dirancang untuk tempat kerja secara berkelanjutan atau terus-
menerus di dalamnya.
Memiliki
potensi
kekurangan
oksigen dan
gas beracun
apabila
bekerja di
dalamnya
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Pengertian Ruang Terbatas (Confined Space)
Definisi, contoh dan kategori sebuah Ruang Terbatas
Contoh lokasi kerja yang termasuk ruang terbatas antara
lain;
• Tangki penyimpanan, bejana transpor, boiler,
dapur/tanur, silo dan jenis tangki lainnya yang
mempunyai lubang lalu orang;
• Ruang terbuka di bagian atas yang melebihi kedalaman
1,5 meter seperti lubang lalu orang yang tidak
mendapat aliran udara yang cukup;
• Jaringan perpipaan, terowongan bawah tanah dan
struktur lainnya yang serupa;
• Ruangan lainnya di atas kapal yang dapat dimasuki
melalui lubang yang kecil seperti tangki kargo, tangki
minyak dan sebagainya
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Pengertian Ruang Terbatas (Confined Space)
Definisi, contoh dan kategori sebuah Ruang Terbatas
Berbagai jenis pekerjaan yang menyebabkan orang memasuki ruang terbatas, antara lain:
• Pemeliharaan (pencucian atau
pembersihan)
• Pemeriksaan
• Pengelasan, pelapisan dan pelindungan
karat
• Perbaikan
• Penyelamatan dan memberikan
pertolongan kepada pekerja yang cidera
atau pingsan dari ruang terbatas; dan
• Jenis pekerjaan lainnya yang
mengharuskan masuk ke dalam ruang
terbatas
Potensi Bahaya di Ruang
Terbatas (Confined Space)
Menjelaskan apa saja potensi bahaya dan risiko yang ada ketika bekerja di
Ruang Terbatas
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Lingkungan yang berbahaya
(Hazardous Environment)
Potensi Bahaya (Hazard
Potential)
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Lingkungan yang berbahaya
(Hazardous Environment)
▪ Lingkungan berbahaya berarti lingkungan yang dapat menyebabkan pekerja menghadapi
risiko kematian, hendaya atau ketidakmampuan menyelamatkan diri secara mandiri,
kecelakaan, terluka, atau penyakit akut akibat satu atau beberapa sebab berikut ini :
• Gas, uap atau kabut uap yang mudah terbakar dengan
konsentrasi melebihi 10% dari BRDM nya.
• Debu di udara yang mudah meledak dengan konsentrasi
setara atau melebihi BRDM. Catatan: konsentrasi ini dapat
diperkirakan jika debu dapat terlihat secara visual pada
jarak 5 kaki (1,52 m) atau kurang.
• Konsentrasi oksigen di udara dibawah 19,5 % atau melebihi
23,5 %
• Konsentrasi substansi yang konsentrasinya atau nilai ambang
batasnya dimuat dalam Surat Edaran Menaker No. SE.
01/Men/1997
• Setiap keadaan lingkungan yang langsung berbahaya bagi
kesehatan atau dapat mengakibatkan kematian.
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Potensi Bahaya (Hazard Potential)
▪ Semua bahaya yang ditemukan di ruang kerja biasa juga dapat ditemukan di ruang
terbatas. Namun, bahaya di ruang terbatas bisa lebih berbahaya daripada di tempat kerja
biasa. Potensi bahaya yang ditemui di ruang terbatas, antara lain :
• Kondisi kualitas udara yang
buruk
• Paparan bahan kimia yang
digunakan (kontak dengan kulit
dan pernapasan)
• Suara bising
• Titik Jepit, Struktur penyokong
yang tidak stabil, peralatan kerja
• Penggunaan Radiasi
• Peningkatan Suhu
• Pergerakan material
• Jarak pandang yang pendek
• Energi yang berbahaya
• Hewan (ular, biawak, kelabang,
kalajengking, dll)
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
RUANG TERBATAS
LEBIH BERBAHAYA DARI LOKASI KERJA LAINNYA
“Kesalahan dalam mengidentifikasi atau mengevaluasi potensi bahaya dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih serius. Dalam
beberapa kasus, kondisi di ruang terbatas selalu sangat berbahaya. Dalam kasus lain, kondisi yang mengancam nyawa dalam
kombinasi keadaan yang tidak biasa“
1. Pintu masuk/keluar ruang
terbatas yang tidak
memungkinkan pekerja
untuk keluar tepat waktu
jika terjadi kondisi
berbahaya
2. Penyelamatan diri oleh
pekerja akan lebih sulit.
3. Penyelamatan korban
lebih sulit.
4. Konfigurasi interior
ruang tertutup sering
kali tidak
memungkinkan
pergerakan orang atau
peralatan di dalamnya
dengan mudah.
5. Konfigurasi interior
ruang terbatas tidak
memungkinkan
pergerakan udara yang
mudah di dalamnya.
6. Ventilasi alami saja
sering kali tidak cukup
untuk menjaga kualitas
udara yang dapat
dihirup.
7. Kondisi dapat berubah
dengan sangat cepat.
8. Ruang di luar ruang
terbatas dapat
berdampak pada
kondisi di dalam ruang
terbatas dan
sebaliknya.
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
RUANG TERBATAS
LEBIH BERBAHAYA DARI LOKASI KERJA LAINNYA
“Kesalahan dalam mengidentifikasi atau mengevaluasi potensi bahaya dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih serius. Dalam
beberapa kasus, kondisi di ruang terbatas selalu sangat berbahaya. Dalam kasus lain, kondisi yang mengancam nyawa dalam
kombinasi keadaan yang tidak biasa“
uang
rja
aktu
eh
t.
n
4. Konfigurasi interior
ruang tertutup sering
kali tidak
memungkinkan
pergerakan orang atau
peralatan di dalamnya
dengan mudah.
5. Konfigurasi interior
ruang terbatas tidak
memungkinkan
pergerakan udara yang
mudah di dalamnya.
6. Ventilasi alami saja
sering kali tidak cukup
untuk menjaga kualitas
udara yang dapat
dihirup.
7. Kondisi dapat berubah
dengan sangat cepat.
8. Ruang di luar ruang
terbatas dapat
berdampak pada
kondisi di dalam ruang
terbatas dan
sebaliknya.
9. Aktivitas kerja dapat
menimbulkan
bahaya yang
awalnya tidak ada
Program Pengendalian
dan Penilaian Bahaya
Ruang Terbatas (Confined
Space)
Menjelaskan cara-cara pengendalian bahaya dan menilai risiko ketika
bekerja di Ruang Terbatas
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
PERSYARTAN KESELAMATAN
DAN KESEHATAN KERJA DI
RUANG TERBATAS
Persyaratan Umum
• Melakukan identifikasi dan evaluasi
terhadap tempat kerja apakan
termasuk ruang terbatas yang
memerlukan ijin khusus
• Jika Iya, wajib menginformasikan
kepada seluruh pihak dengan
memasang tanda bahaya mengenai
lokasi kerja tersebut
• Jika lokasi tersebut tidak di perbolehkan
pekerja memasukinya, lakukan langkah-
langkah pencegahan dan pelarangan
akses ke lokasi kerja tersebut
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Persyaratan Khusus
1. Akses menuju lokasi kerja ruang terbatas
harus diberikan penutup ataupun
selusur sementara agar pekerja tidak
memasuki ruang terbatas tersebut
Persyaratan yang wajib dilakukan untuk memasuki ruang terbatas dengan
ijin khusus :
2. Dilakukan pengujian udara dengan alat
yang sudah dilakukan kalibrasi untuk
mengetahui kada oksigen, gas dan uap
mudah terbakar dan kontaminan udara
yang berbahaya
Jika terdapat gas berbahaya,
pekerja dilarang bekerja di
dalam lokasi kerja tersebut
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Persyaratan Khusus
3. Memberikan sistem aliran udara bersih
yang kontinyu (dari sumber yang bersih,
diarahkan ke pekerja dan terus menerus)
Persyaratan yang wajib dilakukan untuk memasuki ruang terbatas dengan
ijin khusus :
4. Dilakukan pengecekan udara sesering
mungkin untuk memastikan pengaturan
udara berjalan dengan baik
Jika terdapat gas berbahaya ketika
pengecekan, pekerja harus segera
keluar dan pengawas melakukan
evaluasi terhadap kemungkinan
penyebab dan penanggulangannya
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Persyaratan Khusus
5. Membuat Entry Log untuk mencatakan
setiap kali pemeriksaan dan pekerja
yang memasuki ruang terbatas agar bisa
terawasi dengan baik
Persyaratan yang wajib dilakukan untuk memasuki ruang terbatas dengan
ijin khusus :
6. Jika terjadi perubahan konfigurasi,
pengawas harus melakukan evaluasi
ulang terhadap ruang terbatas tersebut
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Persyaratan Khusus
Ruangan terbatas dengan ijin khusus dapat
di klasifikasikan menjadi ruang terbatas
tanpa ijin khusus apabila;
• Dapat dipastikan bahaya ruang terbatas
tersebut dapat terbebas dari udara
berbahaya
• Dapat menghilangkan potensi bahaya di
dalamnya dengan pengujian dan
pemeriksaan sebagai pembuktian
• Mendokumentasikan dasar penetuan
bahwa seluruh bahaya telah dihilangkan
melalui sertifikasi yang dapat di baca oleh
seluruh pekerja yang memasuki ruangan
tersebut
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Persyaratan Kesehatan
Persyaratan kesehatan untuk orang yang akan bekerja di
Ruang Terbatas;
Pengawas wajib memastikan petugas yang bekerja di ruang terbatas dalam keadaan sehat secara fisik dan
dinyatakan oleh dokter pemeriksa kesehatan kerja bahwa petugas tersebut tidak mempunyai riwayat;
• Sakit sawan atau epilepsi
• Penyakit jantung atau gangguan jantung
• Asma, bronchitis atau sesak napas apabila kelelahan
• Gangguan pendengaran
• Sakit kepala seperti migrain ataupun vertigo yang dapat
• menyebabkan disorientasi
• Klaustrofobia, atau gangguan mental lainnya
• Gangguan atau sakit tulang belakang
• Kecacatan penglihatan permanen
• Penyakit lainnya yang dapat membahayakan keselamatan
selama bekerja di ruang terbatas
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Program Memasuki Ruang Terbatas
dengan Ijin Khusus
1. Pencegahan masuknya orang yang
tidak berkepentingan ke ruang
terbatas
Memasang safety sign
ruang terbatas sebagai
informasi di akses masuk
Memasang hard barricade
(pembatas) pada akses masuk
Melakukan evaluasi terhadap
tindakan pencegahan yang
dilakukan terhadap potensi
bahaya
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Program Memasuki Ruang Terbatas
dengan Ijin Khusus
2. Identifikasi dan Evaluasi potensi
bahaya sebelum pekerja
memasukinya Identifikasi potensi bahaya ; udara
berbahaya, akses masuk, zat kimia,
konfigurasi ruang dan akses
penyelamatan,dll
Memberikan informasi kepada
seluruh pekerja yang terlibat terkait
potensi bahaya yang ada
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Program Memasuki Ruang Terbatas
dengan Ijin Khusus
3. Pengembangan dan penggunaan
peralatan, prosedur dan praktik
yang diperlukan.
Menentukan kondisi yang masih di perbolehkan
untuk dilakukan
Melakukan isolasi pada ruangan
Melakukan pembersihan, pengisian gas inert, pembilasan
ataupun pengaliran udara ke dalam ruang
Melakukan pembersihan, pengisian gas inert,
pembilasan ataupun pengaliran udara ke
daam ruang
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Program Memasuki Ruang Terbatas
dengan Ijin Khusus
4. Penyedian perlatan keselamatan pendukung
Peralatan penguji dan
pemantauan
Peralatan
pengaliran
udara
Peralatan
komunikasi
Alat Pelindung
Diri (ADP)
Peralatan
Penyelamatan Darurat
Tangga
Penerangan
Tambahan
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Program Memasuki Ruang Terbatas
dengan Ijin Khusus
5. Lakukan Evaluasi jika ingin
melakukan pekerjaan di dalam raung
terbatas dengan ijin khusus
Uji kondisi ruangan, jika tidak bisa melakukan
isolasi, maka lakukan pengawasan dengan
persyaratan keselamatan yang sudah di penuhi
Pastikan bahwa standar kualitas udara di dalam
ruang terbatas sesuai dengan baku mutu yang
disyaratkan
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Program Memasuki Ruang Terbatas
dengan Ijin Khusus
6. Menetapkan personil untuk pengawasan
kegiatan di ruang terbatas
Jika terdapat ruangan lebih dari satu yang harus
dipantau oleh seorang pengawas perlu diatur cara
dan prosedur yang dapat memudahkan petugas
madya tersebut merespon keadaan gawat darurat
Menetapkan 1 pengawas (supervisor / hole
watcher / attendant) di setiap raung terbatas
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
IZIN KERJA
PERMIT TO WORK
Menyiapkan dokumen izin kerja untuk
bekerja di ruang terbatas
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
SISTEM IZIN KERJA
Penyiapan Dokumen
Izin Kerja
Tanda Tangan Pengawas
K3
IZIN KERJA
RUANG
TERBATAS
Sebelum pekerjaan dimulai, pengawas menyiapkan
dokumen izin permit dan kelengkapannya sesuai
prosedur yang tertera
Dokumen Izin Kerja yang telah disiapkan, diajukan
kepada pengawas K3 untuk di review dan
ditandatangani sebagai bentuk persetujuan
Tanda Tangan Pengawas
Lain
Dokumen Izin Kerja yang telah di review, diajukan kepada
petugas yang ditunjuk sebagai peninjau tambahan agar
pekerjaan dapat dilakukan secara tepat dan aman
Waktu Izin kerja sesuai
dengan pengajuan
Periode izin kerja yang diajukan harus sesuai dengan
waktu yang di ajukan, tidak boleh melebihi
Pembatalan Izin Kerja
Apabila waktu izin kerja selesai, kondisi
yang tidak di perbolehkan di temui di dalam
ruang terbatas terkait
Pencatatan
Pembatalan Izin Kerja
Izin kerja yang dibatalkan minimal 1 tahun wajib di
kaji ulang sebagai bahan perbaikan untuk sistem izin
kerja
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
IZIN KERJA DIRUANG TERBATAS
Izin Kerja yang dimaksud membuat beberapa hal sebagai
berikut:
1. Ruang terbatas dengan ijin
khusus yang akan dimasuki
2. Kegiatan yang dilangsungkan di
dalamnya
3. Tanggal dan durasi kegiatan
yang telah disahkan dalam ijin
kegiatan
4. Para pekerja yang bekerja
dalam ruangan, baik dengan
penulisan nama atau yang lain.
5. Nama pengawas yang bertugas
6. Nama ahli K3 yang bertugas,
7. Bahaya dari ruangan yang akan
dimasuki
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
IZIN KERJA DIRUANG TERBATAS
Izin Kerja yang dimaksud membuat beberapa hal sebagai
berikut:
8. Langkah-langkah yang diambil
untuk mengisolasi ruangan dan
untuk menghilangkan atau
mengendalikan bahaya dari
ruang terbatas dengan ijin
khusus tersebut sebelum
dimulai kegiatan
9. Kondisi yang masih
diperbolehkan untuk melakukan
kegiatan
10. Hasil dari pengujian awal dan
berkala yang seperti yang
diatur dalam pedoman ini
disertai nama atau inisial
petugas penguji dan waktu
pengujian dilaksanakan
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
IZIN KERJA DIRUANG TERBATAS
Izin Kerja yang dimaksud membuat beberapa hal sebagai
berikut:
11. Tim penyelamat dan tim
tanggap darurat yang dapat
dipanggil dan cara untuk
memanggilnya
12. Prosedur komunikasi yang
digunakan oleh pengawas
13. Peralatan, seperti APD,
peralatan pengujian, alat
komunikasi, system alarm, alat-
alat penyelamatan yang harus
disediakan Informasi lain yang
dirasakan perlu, sesuai dengan
kondisi ruangan, untuk
14. Ijin tambahan lainnya, seperti
untuk melakukan kerja panas,
Do & Don’ts di Ruang
Terbatas (Confined Space)
Menjelaskan apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan
ketika bekerja di Ruang Terbatas
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Hal-hal apa saja yang diperbolehkan dan tidak di
Ruang terbatas 1. SEGERA MELAPOR JIKA
TERJADI KEADAAN
DARURAT AGAR TIM
PENYELAMATAN SEGERA
MERESPON
2. JIKA MAMPU
MENYELAMATKAN DIRI,
BANTU DIRI DAN REKAN-
REKAN DI AREA SEKITAR
UNTUK KELUAR
MENYELEMATKAN DIRI.
3. PENYELAMATAN DARI
LUAR HARUS
DILAKUKAN OLEH TIM
PENYELAMAT DAN
SESUAI PROSEDUR
1. JANGAN TINGGALKAN
POS ANDA DI TITIK
MASUK KE RUANG
TERTUTUP SAMPAI TIM
PENYELAMAT TIBA.
2. JANGAN IZINKAN SIAPA
PUN KECUALI TIM
PENYELAMAT YANG
DITUNJUK UNTUK
MEMASUKI RUANG
TERTUTUP DALAM
KEADAAN DARURAT.
PT.HUTAMA KARYA (PERSERO) – DIVISI EPC
PROYEK OPEN ACCESS
RU-VII KASIM SORONG
TRAINING
HSSE HK
PT.HUTAMA KARYA (PERSERO) – DIVISI EPC
PROYEK OPEN ACCESS
RU-VII KASIM SORONG
TRAINING
HSSE HK
Definisi & Jenis Pekerjaan Panas
BAGIAN 1
Pekerjaan Panas
Welding
• Adalah operasi sementara yang melibatkan penggunaan api
terbuka atau menghasilkan percikan atau panas dan
memiliki potensi untuk memicu kebakaran atau ledakan
Definisi
Beberapa jenis pekerjaan umum yang masuk dalam kategori
pekerjaan panas, yaitu;
• Pengelasan (Welding),
• Pemotongan (Cutting),
• Pematrian Brazing,
• Penyolderan Soldering,
• Penggerindaan (Grinding), dll
Jenis-jenis
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Pengelasan
Welding
• Pengelasan adalah proses yang menyatukan material dengan
mencairkan benda kerja logam bersama dengan logam pengisi
untuk membentuk sambungan yang kuat.
Definisi
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
• Semua proses pengelasan, kecuali mematri, menggunakan suhu
yang cukup tinggi untuk melelehkan logam dasar.
• Penyatuan logam diterapkan dengan 2 syarat, yakni:
Prinsip
Panas (Heat)
Keintiman Kontak
(Intimacy of Contact)
&
Pengelasan
Hot Work
Bahan bakar yang digunakan sebagai sumber panas dapat berupa:
• Asetilena / Hidrogen di udara / Oksigen
• Busur Listrik (Electric Arc)
• Tungku Listrik, gas atau minyak
• Resistensi logam terhadap aliran listrik
Panas (Heat)
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Pengelasan
Welding
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Berdasarkan point ini, proses pengelasan dapat dibagi menjadi 2,
yaitu
• Proses Tekanan / Plastic / Non-Fusion (Pressure Processes) :
Memberikan tekanan agar tidak ada ruang antar permukaan
yang disambung
• Proses Tanpa Tekanan / Fusion (Non-Pressure Processes) :
Menyisakan ruang di antar permukaan yang diisi secara bertahap
Keintiman Kontak (Intimacy of Contact)
Pemotongan
Cutting
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
• Pemotongan / Cutting
memiliki pengertian sebagai
sebuah proses pemotongan
atau pemisahan material
menggunakan alat atau
peralatan yang menghasilkan
panas atau nyala api.
• Metode cutting dalam hot work
umumnya melibatkan penggunaan alat
seperti;
1. Mesin pemotong logam,
2. Obor pemotong (oxy-acetylene
cutting torch),
3. atau Plasma cutting
Definisi
Metode
Pematrian
Brazing
• Mematri adalah proses pengelasan menggunakan
paduan pengisi nonferrous yang tidak
mengandung besi atau baja dan memiliki titik leleh
di atas 840 ° F tetapi di bawah logam dasar.
• Mematri juga disebut 'penyolderan keras' atau
'penyolderan perak’.
• Mematri adalah satu-satunya proses pengelasan di
mana peleburan logam dasar tidak diperlukan
untuk penggabungan.
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Penyolderan
Soldering
• Penyolderan adalah proses penyambungan
menggunakan paduan pengisi non-besi.
• Solder lunak menggunakan paduan yang meleleh
antara 190 hingga 840 ° F dan digunakan dalam
elektronik, pipa ledeng, dan menyambung bagian
lembaran logam.
• Solder tidak dianggap sebagai proses pengelasan.
Timah dan timah adalah paduan yang umum
digunakan dalam penyolderan, tetapi ada juga
solder bebas timah yang lebih jarang digunakan
untuk mengurangi dampak lingkungan.
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
• Proses yang menggunakan gerakan berputar atau bergetar dari roda gerinda yang terbuat
dari bahan abrasif yang keras, seperti batu gerinda, untuk menggosok dan menghilangkan
lapisan material dari permukaan benda kerja
Definisi
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Potensi Bahaya Hot Work
BAGIAN 2
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Arc Welding
Pengelasan Busur
Potensi Bahaya Pengelasan
Welding Potential Hazard
Hindari potensi bahaya berikut dalam pengelasan busur;
Radiasi Busur
Dalam bentuk sinar
Ultraviolet dan
Inframerah
Percikan Api Las
Dalam bentuk serpihan
logam panas yang
terbang
Sengatan Listrik
Bersumber dari Kabel
Listrik yang terkelupas atau
korsleting mesin las
Fume / Asap Las
Dalam bentuk asap
logam hasil sisa proses
pengelasan
Suara Bising
Bersumber dari suara
busur, percikan, dll
Potensi Bahaya Pemotongan
Cutting Potential Hazard
Percikan Api
Dalam bentuk potongan
logam yang terbang
Suara Bising
Bersumber dari suara
gesekan antara logam
dan alat potong
Getaran
Bersumber dari getaran
mesin potong
Asap dan Debu
Dalam bentuk partikel
dan asap logam berat
hasil sisa pemotongan
Posisi Kerja
Posisi ergonomi kerja
yang tidak sesuai dengan
kaidah keselamatan
ergonomi
Sengatan Listrik
Bersumber dari Kabel
Listrik yang terkelupas atau
korsleting mesin las
Cutting & Grinding
Pemotongan
Tindakan Pencegahan Keselamatan
BAGIAN 3
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Tindakan Pencegahan Pengelasan
Welding Precaution
Pencegahan Paparan / Kontak dengan Bahaya Pengelasan sebagai berikut:
Alat Pelindung Diri Pengelasan
Radiasi
• Gunakan APD Mandatory selama pekerjaan Pengelasan
Busur Api
• Cegah orang lain mendekati lokasi pengelasan agar tidak terpapar sinar las
• Jika terkena flash yang parah, segera rujuk ke medis
Sengatan Listrik
• Gunakan Elektroda berinsulasi
• Hindari bekerja di area basah atau lembab
• Tidak melakukan pengelasan dengan area ventilasi yang baik
Percikan Api
• Gunakan APD Mandatory selama pekerjaan Pengelasan
• Singkirkan bahan yang mudah terbakar di sekitar area pengelasan
Asap Beracun
• Gunakan respirator dengan filter sesuai anjuran untuk pengelasan
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Pencegahan Paparan / Kontak dengan Bahaya Pengelasan sebagai berikut:
Gas Beracun Asap Las
Efek Kesehatan dari Menghirup Asap Las
Efek kesehatan dari paparan asap las bisa agak ringan hingga serius dalam jangka pendek,
tetapi jika tukang las terpapar dalam jangka panjang, efeknya bisa sangat serius atau fatal.
Paparan Akut (Jangka Pendek)
• Menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, asma, pusing, dan mual.
• Pertolongan : segera meninggalkan area tersebut, mencari udara segar, dan
mendapatkan bantuan medis
Paparan Kronis (Jangka Panjang)
• Menyebabkan kerusakan paru-paru dan berbagai jenis kanker, termasuk paru-
paru, laring, dan saluran kemih
Mati lemas. Gas-gas seperti helium, argon, dan karbon dioksida menggantikan
oksigen di udara dan dapat menyebabkan sesak napas, terutama ketika mengelas
di ruang terbatas atau tertutup. Gas karbon monoksida dapat terbentuk,
menimbulkan bahaya sesak napas yang serius.
Tindakan Pencegahan Pengelasan
Welding Precaution
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Tindakan Perlindungan Pengelasan
Komunikasi Bahaya
• Pengusaha dan
pengawas wajib
memberikan informasi
mengenai potensi
bahaya kepada pekerja
Kebersihan Area
Kerja
• Permukaan pengelasan
harus dibersihkan dari
lapisan apa pun yang
berpotensi
menimbulkan paparan
racun, seperti residu
pelarut dan cat.
Hembusan Angin
• Posisi pengelasan
tidak melawan arah
angin
Ventilasi Baik
• Sistem pembuangan
portabel atau
fleksibel dapat
diposisikan
sedemikian rupa
sehingga asap dan
gas ditarik menjauh
dari tukang las.
Tindakan Pencegahan Pengelasan
Welding Precaution
Jika melakukan pengelasan di kompartemen / raungan / tangki,
pastikan ruang tersebut dibuat aman, diuji dan dinyatakan aman
Lokasi Pengelasan
Welding Location
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Melakukan Pengelasan di Bengkel las / tempat yang
dinyatakan “Aman dari Api”
Prinsip bekerja dekat bahan mudah terbakar
1. Pindahkan bahan 10-15 meter
2. Jika tidak bisa, lokasi pengelasan dipindahkan 10-
15 meter
3. Jika tidak bisa, tutup / lindungi material tersebut
dengan pelindung api
4. Jika tidak bisa, batasi lokasi pengelasan dengan
membarikade lokasi dengan pelindung api (fire
blanket / terpal, dll)
Pengelasan / Pemotongan
Wadah
Welding / Cutting Containers
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Drum / Wadah Bekas Ventilasi dan Pembersihan
1. Jangan mengelas, memotong, atau melakukan
pekerjaan panas lainnya pada drum, tong,
tangki, atau wadah lain yang sudah terpakai
sampai Anda membersihkannya.
2. Beri ventilasi pada semua ruang, rongga, atau
wadah yang berongga agar udara atau gas
dapat keluar sebelum melakukan pemanasan
awal, pemotongan, atau pengelasan. Anda
harus membersihkannya dengan gas inert.
Mengoperasikan Peralatan Las Gas
Operating Gas Welding Equipment
• Gunakan peralatan yang sudah diperiksa dan diuji
• Simpan tabung di tempat kering, ber ventilasi baik, terlindung dan jauh dari
bahan mudah terbakar
• JANGAN simpan tabung oksigen bersamaan dengan tabung Asetilena / bahan
bakar gas lainnya
• Tabung disimpan posisi vertikal
• Jika tabung disimpan dalam posisi horizontal, jangan gunakan sebelum
didiamkan dalam posisi tegak setidaknya 2 jam
• Jauhkan sejauh mungkin gas silinder dari tempat pemotongan atau pengelasan
• Jauhkan tabung dari tempat yang bisa menjadi hantaran listrik
• Jangan sekali-kali mengisi tabung asetilena, mencampur gas asetilena
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Mengoperasikan Peralatan Las Gas
Operating Gas Welding Equipment
• Ketika kunci pas khusus diperlukan untuk membuka katup silinder, biarkan kunci
pas berada pada posisinya di batang katup saat menggunakan silinder sehingga
Anda dapat menutup katup dengan cepat dalam keadaan darurat.
• Jauhkan tabung oksigen dari minyak dan gemuk
• JANGAN PERNAH melumasi bagian manapun dari tabung oksigen , valve atau fitting
• Jangan jatuhkan tabung dan jangan kasar saat menggunakannya
• Selalu buka valve silinder secara perlahan
• Selalu gunakan Nozzle yang benar dan tekanan yang tepat
• Buka valve asetilena dahulu dan nyalakan gas sementara valve oksigen tertutup
saat menyalakan nozzle
• Tutup valve asetilena terlebih dahulu, lalu tutup oksiden saat memadamkan nozzle
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Mengoperasikan Peralatan Las Gas
Operating Gas Welding Equipment
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Backfire (Bumerang) Flashback (Kilas Balik)
• Adalah adanya pembakaran sesaat dari nyala api ke
dalam ujung senter. Backfire ditandai dengan bunyi
letupan atau letupan keras saat nyala api padam.
• Backfire tidak terlalu serius. Biasanya Anda dapat
menyalakan api lagi tanpa kesulitan.
• Jika backfire terus terjadi setiap kali obor dinyalakan,
periksa penyebabnya:
1. Ujung yang terlalu panas,
2. Tekanan kerja gas lebih besar dari yang
direkomendasikan untuk ukuran ujung yang
digunakan,
3. Ujung yang longgar,
4. atau Kotoran pada dudukan ujung obor.
• Adalah nyala api menyala di dalam atau di luar
ruang pencampuran obor. Suara mendesis atau
memekik biasanya menyertai kilas balik.
• Pada saat yang sama, nyala api di ujungnya menjadi
berasap dan runcing tajam
• Apabila terjadi kilas balik, segera matikan katup
oksigen senter, kemudian tutup katup asetilena.
Anda dapat menghentikan kilas balik sekaligus jika
Anda segera menutup katup oksigen.
• Pasang Flashback Arrestor untuk tabung cylinder dan
torch sebagai alat pengaman apabila terjadi
falshabck. Total ada 4 item (2 Oksigen dan 2
Asetilena)
Mengoperasikan Peralatan Las Gas
Operating Gas Welding Equipment
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Pemasangan Flashback Arrestor
Mengoperasikan Peralatan Las Busur
Operating Arc Welding Equipment
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Tindakan pencegahan untuk pengoperasian peralatan las busur logam meliputi
hal-hal berikut:
1. Gunakan peralatan yang sudah diuji dan layak guna
2. Selalu pasang grounding pada rangka mesin
3. Semua sambungan listrik dibuat aman
4. Matikan peralatan jika berhenti dalam waktu cukup lama dan
Putus aliran jika tidak digunakan
5. Gantung kabel diatas kepala jika membawa kabel agak jauh dari
mesin
6. Jaga agar kabel las tetap kering dan bebas dari minyak atau
gemuk, dalam kondisi baik, dan terlindung dari kerusakan.
Mengoperasikan Mesin Potong
Operating Cutting Equipment
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Tindakan pencegahan untuk pengoperasian peralatan potong logam meliputi hal-hal
berikut:
1. Pastikan disc dengan material logam yang akan di potong memiliki
spesifikasi yang tepat
2. Periksa kabel, saklar, pengunci mesin terpasang kuat dan layak guna
3. Gunakan klem atau alat bantu pegang agar mengurangi risiko slip
4. Jangan memaksakan mesin apabila material terlalu keras atau tebal
5. Putus saluran listrik ketika ingin mengganti Disc
6. Berikan penutup / pelindung percikan di bagian belakang cutting agar
mengurangi percikan api ke area kerja lain
Mengoperasikan Mesin Gerinda
Operating Grinding Equipment
Dokumen HSE
Langkah Awal HSE
Tindakan pencegahan untuk pengoperasian peralatan potong logam meliputi hal-hal
berikut:
1. Pastikan disc dengan material logam yang akan di potong memiliki
spesifikasi yang tepat
2. Periksa kabel, saklar, pengunci mesin terpasang kuat dan layak guna
3. Kencang Disc dengan kuat
4. Jangan memaksakan mesin apabila material terlalu keras atau tebal
5. Putus saluran listrik ketika ingin mengganti Disc
6. Perhatikan ukuran rpm disc dan mesin gerina, RPM Disc < RPM
Mechine
Dokumen
HSE
Langkah
Awal
HSE
PT.HUTAMA KARYA (PERSERO) – DIVISI EPC
PROYEK OPEN ACCESS
RU-VII KASIM SORONG
TRAINING
HSSE HK
TUJUAN PELATIHAN
MEMBEKALI PESERTA DENGAN
PENGETAHUAN, KETERAMPILAN
DAN RASA PERCAYA DIRI UNTUK
MEMBANTU MEREKA DALAM
BERTAHAN HIDUP SAAT TERJADI
KECELAKAAN DI LAUT LEPAS.
SASARAN PELATIHAN
Setelah selesai program satu hari ini peserta akan memiliki
pengetahuan dan memahami akan :
• Peralatan survival perorangan
dan teknik-teknik survival
• Peralatan rakit penyelamat dan
teknik menejemen liferaft
• Karakter Sekoci
penyelamat
• Teknik dasar penanganan
cedera di air dingin
COMPETENCY STANDARDS
Peserta pelatihan harus mendemonstrasikan kemampuan dalam :
• Memakai lifejacket dengan
benar
• Melakukan safety jump ke air
• Berenang dengan memakai
lifejackets
• Melakukan posisi HELP dan
HUDDLE secara kelompok
• Membalikan Liferaft Ketika
Posisinya Terbalik
• Menaiki liferaft dengan
memakai lifejacket
Travelling Emergency
Kapal
Peralatan keselamatan
Lifejacket
Liferaft
Sinyal darurat
Radio Beacon
Helikopter Cuaca buruk
Kebakaran
Mesin rusak
Baling2 rusak
Cuaca buruk, laut ganas
Kebakaran
Orang jatuh ke laut
Tabrakan
Bertahan
hidup
Abandon
Ditching
at Sea
Liferaft
From the
Air
By Boat
By Vessel
On Island
Pertolongan
On Site Emergency
Controlled
Uncontrolled Abandon
Donut/
descent line
Water Entry
Muster Point
Abandon
Lifeboat
Liferaft
Personnel
Basket
Frog
Wear PPE &
Lifejacket
Personal Floatation Device
Tipe I
Personal Floatation Device
Tipe II dan III
Tipe V
Tipe IV
ORANG JATUH KE AIR (MOB)
• Segera teriak “ Ada Orang Jatuh”
• Cari bantuan
• Lemparkan alat bantu apung
• Selalu lihat kearah korban
WATER ENTRY DARI KETINGGIAN
• Dilakukan sebagai pilhan
terakhir
• Pakai lifejacket dengan benar
• Cari ketinggian yang paling
rendah
• Amankan daerah jatuh
• Gunakan safety step entry
position :
• Lihat ke horison
• Lakukan safety step
• Berputar 1800 didalam air
• Timbul kepermukaan
menghadap tempat terjun
Tehknik Berjuang
dan Bertahan Hidup
di Air/Laut
Langsung
HELP & HUDDLE
 H Escape L P
− Dapat dilakukan dengan menggunakan PFD
− Menutupi hampir seluruh daerah pelepas
panas tubuh
eat essening osture
HUDDLE
− Prinsipnya sama dengan posisi
HELP
− Dilakukan dengan 3 orang atau
lebih
( HELP )
INFLATABLE LIFERAFT
Auto realease
valbe
Dikembungkan
dengan CO2
Tangga naik
Atap
Warna yang
cerah / terang
Durable
contruction
Kantung air untuk
stabilitas
Kapasitas
6 – 25
pax
TEMPAT LIFERAFT
 Penyimpanan dapat
dengan canister (tabung
fiber) atau valise (tas)
 Sebelum dikembangkan
tali painter harus terikat
kuat di kapal
 Dilepas secara manual
dengan memotong
straps, tali atau dengan
hydrostatic
PELEPASAN & PENGEMBUNGAN
Liferafts dikembungkan oleh
CO2 dari tabung
akan terkembung penuh
dalam waktu 60 detik
Aktifasi tabung dilakukan
dengan menarik keras tali
painter
Kanister atau tas
akan terlepas saat
liferaft
mengembang
Manual
DAVIT LAUNCH
18
air
memberikan
tekanan
tekanan
mengaktifkan
mekanis pelepas
AUTO RELEASE MECHANISM
strap kanister
terlepas
liferaft mengambang
kepermukaan, kapal
yang tenggelam akan
menarik tali painter
mengaktifkan
tabungCO
jika kapal terus
tenggelam, tali tipis
akan putus
Hydrostatic
PELEPASAN & PENGEMBUNGAN
MEMBALIKKAN LIFERAFT
• Putar liferaft sehingga tabung
CO2 berada dibawah angin
• Balikkan raft dengan berdiri
diatas tabung CO2 dan menarik
righting strap
• Angin akan membantu
membalikkan
WIND WIND
PROSEDUR LIFERAFT
MASUK / BOARDING
 Berbadan sehat masuk
terlebih dahulu
 Saling membantu saat
masuk ke Life Raft
 Yang terluka dimasukan
terahir dan dibantu
 Beri pertolongan kepada
personel yang luka
 Potong tali painter
jikadiperlukan
LIFERAFT MANAGEMENT
• Aktifkan EPIRB
• Rumuskan rencana
• Jelaskan pengoperasian alat
pemberitahu lokasi
• Potong tali painter
• Pindahkan ketempat
aman
• Periksa kerusakan
• Pasangsea anchor
P PROTECTION L LOCATION
O
• Pilih pimpinan
• Bagikan tugas
• Berikan P3K
ORGANIZATION
• Keringkan Liferaft
• Jemur pakaian basah
• Jaga moral & percaya diri
C COMFORT
Liferaft Eqipment
PT. Edu Talenta Sejahtera
• Oleh Kapal
FRC, Survival craft,
Fisherman, Merchant vessel
• Dari Udara
Survival kit dropped /
Helicopter hoisting
• Terdampar
Hanyut
RESCUED
kemungkinan:
b e p r e p a r e d !
PT.HUTAMA KARYA (PERSERO) – DIVISI EPC
PROYEK OPEN ACCESS
RU-VII KASIM SORONG
TRAINING
HSSE HK
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
1.Accident/Kecelakaan:
Kejadian yang tidak terduga dan menyebabkan cidera serius atau sakit
pada karyawan dan/atau juga dapat mengakibatkan kerusakan properti.
2.Incident/Insiden:
Kejadian yang tidak diinginkan dari sebuah pekerjaan yang berpotensi menyebabkan
cidera serius atau sakit/penyakit. Incident tidak mengakibatkan cidera serius atau sakit
yang parah, namun dapat menyebabkan kerusakan properti.
3.Near miss Hampir Celaka:
Setiap kejadian atau urutan peristiwa yang belum menimbulkan
kecelakaan tapi berpotensi dapat mengakibatkan kecelakaan.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
INCIDENT
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Sejarah tentang model penyebab kecelakaan sampai saat ini dapat ditelusuri dari tahun 1920-an melalui
tiga fase yang berbeda yaitu : Model linier sederhana (Simple linear models), Model linier kompleks
(Complex linear models) dan Model non-linier kompleks (Complex non-linear models). masing-masing
model tsb. didasari oleh asumsi spesifik sebagai berikut :
A. Model linier sederhana,
Mengasumsikan bahwa kecelakaan adalah puncak rangkaian kejadian atau keadaan yang saling
berinteraksi secara berurutan secara linier dan dengan demikian kecelakaan dapat dicegah dengan
menghilangkan salah satu penyebab dalam urutan linier. Contoh teori pada model ini : Teori
Domino Heinrich (1931), Bird and Germain’s Loss Causation Model (1985).
B. Model linier kompleks,
Didasarkan pada anggapan bahwa kecelakaan adalah akibat dari kombinasi active failure dan
kondisi bahaya laten di dalam sistem yang mengikuti jalur linier. Asumsi yang dihasilkan adalah
bahwa kecelakaan dapat dicegah dengan memusatkan perhatian pada penguatan
hambatan/barrier dan pertahanan/defences. Contoh teori pada model ini : Swiss Cheese Model
(James Reason, 1997).
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
C. Model non-linier kompleks,
Didasarkan pada pemikiran bahwa Kecelakaan dapat dianggap sebagai hasil kombinasi tidak
diharapkan / terduga (resonansi) dari variabilitas yang saling berinteraksi yang terjadi pada
performance sehari-hari di lingkungan kerja (adjustment). Model ini mengatakan bahwa
kecelakaan bisa dicegah dengan melakukan pemantauan dan mengurangi variabilitas. Contoh
model ini : Functional Resonance Accident Model (FRAM) (Holnagel, 2004).
Dari ketiga jenis model di atas, ada beberapa model/teori penyebab kecelakaan yang terkenal dan
digunakan secara luas hingga saat ini yaitu :
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
1. Teori Domino (Heinrich, 1931)
Model ini didasarkan pada asumsi bahwa terjadinya cedera yang dapat dicegah adalah puncak alami dari
rangkaian kejadian atau keadaan, yang selalu terjadi dalam urutan tetap atau logis.
Berdasarkan model domino ini, kecelakaan bisa dicegah dengan menghilangkan salah satu faktor yang
dapat mengganggu efek knockdown. Heinrich mengusulkan bahwa "tindakan yang tidak aman dan bahaya
mekanis atau fisik" merupakan faktor utama dalam urutan kecelakaan dan bahwa menghilangan faktor ini
membuat faktor-faktor sebelumnya menjadi tidak efektif. Heinrich memusatkan perhatian pada faktor
manusia, yang disebut sebagai "Man Failure", sebagai penyebab kebanyakan kecelakaan berdasarkan
analisisnya terhadap 75.000 klaim asuransi yang menyebutkan bahwa sekitar
• 88% penyebab kecelakaan (yang sebenarnya dapat dicegah) merupakan tindakan orang yang tidak
aman.
• 10% lainnya yaitu kondisi mekanis atau fisik yang tidak aman.
• 2% terakhir diakui sebagai tindakan yang tidak bisa dicegah (unpreventable).
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
2. Bird and Germain’s Loss Causation Model (1985)
Merupakan suatu modifikasi ulang dari teori domino Heinrich. Didasari dari pemikiran atas perlunya
sebuah manajemen untuk mencegah dan mengendalikan kecelakaan yang mana ternyata secara cepat
menjadi sangat kompleks karena kemajuan teknologi. Mereka mengembangkan model domino yang
telah diperbarui yang dianggap mencerminkan hubungan manajemen langsung dengan sebab-akibat
dari kecelakaan dan panah yang tergabung untuk menunjukkan interaksi multi linier dari urutan sebab-
akibat.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
3. Swiss Cheese Model (James Reason, 1997)
Tidak seperti Heinrich (1931) dan Bird & Germain (1985), Reason menyatakan bahwa kecelakaan tidak
semata-mata terjadi karena kesalahan operator individual (kegagalan aktif) namun terletak pada faktor
organisasi sistemik yang lebih luas (kondisi laten) di tingkat atas organisasi.
Ia menggambarkan berbagai lapisan barrier terjadinya kecelakaan seperti keju swiss yang memiliki
lubang-lubang tertentu. Dalam dunia yang ideal semua lapisan pertahanan akan utuh, tidak
memungkinkan terjadinya suatu kondisi penetrasi oleh jalur lintasan kecelakaan. Namun di dunia nyata,
bagaimanapun, setiap lapisan memiliki kelemahan dan celah. lubang di dalam setiap lapisan dapat
bergeser, datang dan pergi, menyusut dan meluas sebagai respons terhadap tindakan operator dan
tuntutan lokal (local demand).
Reason tidak menentukan apa yang terwakili oleh lubang-lubang pada berbagai lapisan keju. Model
tersebut memberikan ruang untuk profesional K3 melakukan penyelidikan mereka sendiri mengenai
faktor-faktor apa yang terkait di dalam organisasi tersebut. Model "Swiss Cheese" hanya suatu komponen
dari model yang lebih komprehensif yang disebut Reason Model of Systems Safety.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
4. Functional Resonance Accident Model (FRAM) (Erick Hollnagel, 2004)
Model ini menjelaskan penyebab kecelakaan pd sistem socio-technical kompleks. FRAM didasarkan
pada teori kecelakaan sistemik yang kompleks yang menganggap bahwa varians dan toleransi sistem
akan mengakibatkan kecelakaan ketika sistem tidak dapat mentolerir variasi tersebut dalam mode
operasi normalnya. Hollnagel mengenalkan bahwa sistem yang kompleks terdiri dari sejumlah besar
subsistem dan komponen dengan variabilitas kinerja yang biasanya diserap di dalam sistem dengan
sedikit efek negatif pada keseluruhan. Empat sumber utama variabilitas diidentifikasi
sebagai: Humans, Technology, Latent conditions, Barriers.
Hollnagel mengutarakan bahwa ketika variabel dalam sistem menjadi terlalu besar bagi sistem
untuk menyerapnya; kemungkinan melalui kombinasi variabel subsistem manusia, teknologi, kondisi
laten dan hambatan; maka hasilnya adalah menjadi tidak terdeteksi dan tidak diinginkan. Itu adalah
hasil 'resonansi fungsional', yang menyebabkan sistem tidak dapat mengatasi mode fungsi
normalnya.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
SEBAB AKIBAT
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
JALUR INSIDEN
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Catastrophic
1. Orang: Meninggal dunia, cacat permanent yang
serius. Biaya pengobatan untuk penyakit akibat
kerja ≥50 juta rupiah.
2. Lingkungan: Tumpahan bahan berbahaya (B3)
dan minyak lebih dari 100 barel/15,899 liter.
Beresiko terhadap kesehatan manusia dan
lingkungan yang memungkinkan atau secara
nyata memerlukan evakuasi pada area
disekitarnya.
3. Asset: Kerusakan property yang parah,
kebakaran, runtuhnya bangunan Kecelakaan yang
menyebabkan terhentinya proses secara
sementara ( lebih dari 48 jam) atau secara
permanen. Segala kecelakaan yang
mengakibatkan total biaya kerugian sama dengan
atau lebih dari 1 juta USD.
Major
1. Orang: Cidera yang mengakibatkan kehilangan hari
kerja, kecacatan secara parsial yang berpotensi
terjadinya kematian. Biaya pengobatan untuk cidera
kurang dari 10 juta rupiah hingga 50 juta rupiah
2. Lingkungan: Terjadi tumpahan bahan berbahaya (B3)
lebih dari 5 barrel hingga 100 barrel (795 liter hingga
15,899 liter) Pencemaran atau degradasi yang terus
menerus (lebih dari 3 bulan) namun efek kerusakan
pada lingkungan dan atau komunitas bersifat
reversible (dapat pulih kembali).
3. Asset: Kejadian kecelakaan yang mengakibatkan
total biaya kerugian lebih dari 100 juta USD dan
kurang dari satu juta USD. Termasuk kebakaran,
peledakan yang tidak terencana dan kegagalan.
Segala kejadian yang mengakibatkan berhentinya
proses selama 24 Jam.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Serious
1. Orang: Kecelakaan yang memerlukan pengobatan
secara medis dan kejadian kecelakaan yang
mengakibatkan hari kerja dengan kemampuan
terbatas. Biaya Pengobatan medis untuk cidera / luka
≤ 10 Juta Rupiah.
2. Lingkungan: Tumpahan minyak dan bahan kimia
kurang dari 5 barel (795 liter).
3. Asset: Setiap kejadian kecelakaan (termasuk
kebakaran, kerusakan Asset, peralatan dan kendaraan)
yang total kerugian diperkirakan antara $10.000 dan
$100.000 (USD). Setiap kejadian kecelakaan yang
mengakibatkan terhentinya produksi 4 hingga 24 jam
Minor
1. Orang: Cidera yang bisa diatasi dengan pertolongan
pertama. Biaya pengobatan untuk penyakit akibat
kerja ≤ satu juta rupiah .
2. Lingkungan: Tumpahan bahan kimia dan minyak
hingga 1 barel (159 liter) Kerugian kecil atau dampak
ke habitat (flora dan fauna) air dan tanah, tapi tidak
memiliki efek negatif pada ekosistem (contoh
kecelakaan yang merobohkan satu pohon).
3. Asset: Setiap kejadian (termasuk kebakaran kecil,
perlalatan / kerusakan kendaraan yang
mengakibatkan kerugian kurang dari $10, 000 (USD)
Setiap kejadian kecelakaan yang menyebabkan
hingga 4 jam tidak menghasilkan produk
Near Miss Tidak ada cidera, tidak ada kerusakan asset dan kecelakaan lingkungan namun berpotensi untuk terjadi
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Pada Korban / Injury Person
• Meninggal
• Sakit dan Menderita
• Kehilangan Penghasilan
• Pengeluaran Extra
• Ketidaksanggupan untuk kembali bekerja
• Merasa tak berguna (faktor psikologis korban)
• Akibat kepada tanggungan
Pada Pengawas
• Kehilangan pekerja handal
• Melatih karyawan baru
• Kehilangan Produksi
• Kerja ekstra untuk investigasi
• Kehilangan Prestise
• Kekuatiran ( Dapatkah saya mencegahnya? )
Pada Perusahaan
• Kehilangan Produksi
• Kerusakan Mesin dan Peralatan
• Premi asuransi bertambah
• Kehilangan Prestise
• Kehilangan Kontrak, klien mengukur kinerja program
pelaksanaan keselamatan kerja
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Investigasi kecelakaan kerja adalah proses sistematis
untuk mengidentifikasi penyebab suatu kecelakaan
yang terjadi di tempat kerja.
Tujuannya adalah
• Mengetahui penyebab utama kecelakaan.
• Mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
• Mengidentifikasi faktor risiko yang belum
terdeteksi.
• Meningkatkan prosedur keselamatan dan kesehatan
kerja (K3).
• Memenuhi persyaratan hukum dan regulasi terkait
K3.
• Mengurangi dampak negatif kecelakaan terhadap
pekerja dan perusahaan.
Investigasi ini mencakup pengumpulan data, analisis
penyebab, serta rekomendasi perbaikan.
Proses investigasi kecelakaan kerja umumnya melibatkan
beberapa tahap sebagai berikut:
a. Pelaporan Kecelakaan
b. Pengumpulan Data
c. Analisis Penyebab Kecelakaan
d. Penentuan Langkah Perbaikan
e. Pelaporan dan Dokumentasi
f. Implementasi dan Evaluasi
Tim Investigasi
Dibentuk dengan mempertimbangkan:
• Peraturan pemerintah dan persyaratan klien
• T
enaga ahli khusus (certified sebagai investigator
atau pernah mengikuti pelatihan investigasi).
• Bantuan Administrasi yang diperlukan.
• Variasi keahlian (Tim Ahli Khusus).
• Potensi konflik kepentingan.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Matriks Tim Investigasi
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
a. Pelaporan Kecelakaan
 Setiap kecelakaan harus segera dilaporkan kepada pihak yang berwenang, seperti atasan, petugas K3, atau pihak
manajemen.
 Dokumentasi awal dilakukan dengan mencatat waktu, lokasi, serta dampak dari kecelakaan tersebut.
b. Pengumpulan Data
 Mengamankan lokasi kejadian untuk mencegah gangguan atau perubahan bukti.
 Mengambil foto dan video dari lokasi kecelakaan.
 Mewawancarai saksi mata dan korban untuk mendapatkan gambaran detail kejadian.
 Mengumpulkan dokumen terkait, seperti laporan kerja, prosedur keselamatan, dan rekaman CCTV jika tersedia.
c. Analisis Penyebab Kecelakaan
 Menggunakan metode seperti 5 Why’s Analysis, Fishbone Diagram, atau Fault Tree Analysis untuk mengidentifikasi
akar masalah.
 Menentukan apakah kecelakaan terjadi akibat kesalahan manusia, kegagalan peralatan, lingkungan kerja yang tidak
aman, atau kombinasi faktor-faktor tersebut.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
d. Penentuan Langkah Perbaikan
 Merekomendasikan tindakan korektif untuk mencegah kejadian serupa.
 Menyusun kebijakan atau prosedur baru jika diperlukan.
 Melakukan pelatihan tambahan bagi pekerja terkait keselamatan kerja.
e. Pelaporan dan Dokumentasi
 Menyusun laporan resmi berisi kronologi kejadian, hasil analisis, dan langkah perbaikan.
 Mengarsipkan laporan untuk referensi di masa depan dan sebagai bukti kepatuhan terhadap regulasi K3.
f. Implementasi dan Evaluasi
 Melaksanakan tindakan perbaikan yang telah disarankan.
 Memantau efektivitas perbaikan dengan inspeksi berkala.
 Melakukan evaluasi ulang untuk memastikan keselamatan kerja terus meningkat.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Dalam melakukan investigasi kecelakaan kerja, beberapa faktor berikut perlu
diperhatikan:
• Aspek teknis:
kondisi alat dan mesin, pemeliharaan, serta faktor ergonomis.
• Aspek manusia:
pelatihan pekerja, kepatuhan terhadap prosedur, serta faktor kelelahan dan stres.
• Aspek lingkungan:
kondisi tempat kerja, pencahayaan, ventilasi, dan risiko lain yang mempengaruhi
keselamatan.
• Aspek prosedural:
kepatuhan terhadap regulasi dan kebijakan perusahaan terkait K3.
• Aspek organisasi:
komunikasi internal, supervisi, serta budaya keselamatan di tempat kerja.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Interogasi atau wawancara dalam
investigasi kecelakaan bertujuan untuk
mengumpulkan informasi, mengklarifikasi
kejadian, serta menemukan penyebab
utama kecelakaan.
Proses ini memerlukan pendekatan
sistematis agar informasi yang diperoleh
akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Identifikasi semua orang yang terlibat atau
mempunyai informasi dan dapatkan
pernyataannya melalui
wawancara/interogasi.
1. Persiapan Sebelum Wawancara atau
Interogasi.
2. Pelaksanaan Wawancara atau Interogasi.
3. Setelah Wawancara atau Interogasi.
4. Teknik Khusus dalam Interogasi untuk Kasus
yang Kompleks
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
1. Persiapan Sebelum Wawancara atau Interogasi
Sebelum melakukan interogasi atau wawancara, penyelidik harus:
a. Menentukan Tujuan dan Sasaran
 Menentukan informasi apa yang ingin diperoleh.
 Mengidentifikasi saksi atau pihak yang harus diwawancarai (korban, saksi mata, pekerja lain,
supervisor, dll.).
 Menyusun daftar pertanyaan yang sesuai dengan peran dan keterlibatan saksi dalam kecelakaan.
b. Mengumpulkan Data Pendukung
 Dokumen yang relevan seperti laporan kecelakaan awal, CCTV, hasil inspeksi tempat kejadian, dan
riwayat kerja saksi.
 Bukti fisik di lokasi kecelakaan seperti kendaraan, mesin, alat keselamatan, atau sisa material yang
terlibat.
c. Menentukan Lokasi dan Waktu yang Tepat
 Tempat yang tenang dan netral agar saksi nyaman berbicara.
 Waktu wawancara sebaiknya dilakukan segera setelah kecelakaan terjadi agar informasi yang
diperoleh masih segar dalam ingatan.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
2. Pelaksanaan Wawancara atau Interogasi
Ada beberapa tahapan penting yang harus diperhatikan dalam wawancara investigasi kecelakaan:
a. Membangun Hubungan dengan Saksi
 Memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan wawancara.
 Menggunakan nada suara yang tenang dan tidak mengintimidasi.
 Memastikan saksi nyaman dan merasa aman untuk berbicara.
b. Menanyakan Pertanyaan Awal yang Bersifat Umum
 "Apa yang Anda lihat saat kejadian?"
 "Di mana posisi Anda ketika kecelakaan terjadi?"
 "Apa yang Anda lakukan sebelum, selama, dan setelah kejadian?"
 "Siapa saja yang berada di lokasi pada saat kejadian?"
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
c. Menggali Informasi dengan Detail
Setelah mendapatkan gambaran umum, lanjutkan dengan pertanyaan spesifik:
 Kronologi Kecelakaan: Minta saksi menceritakan kejadian secara rinci.
 Faktor Lingkungan: Apakah ada faktor cuaca, pencahayaan, atau kondisi kerja yang berpengaruh?
 Faktor Peralatan: Apakah ada masalah teknis dengan alat atau mesin yang digunakan?
 Faktor Manusia: Apakah ada kelalaian, kelelahan, atau tekanan kerja yang memengaruhi kejadian?
 Tindakan Setelah Kecelakaan: Bagaimana respons setelah kejadian? Siapa yang pertama kali
memberikan bantuan?
d. Mengamati Bahasa Tubuh dan Ekspresi Saksi
 Perhatikan apakah saksi tampak ragu-ragu atau gelisah.
 Catat jika ada inkonsistensi dalam jawaban yang diberikan.
 Gunakan teknik observasi untuk mengidentifikasi tanda-tanda ketidaksesuaian dalam cerita.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
e. Menggunakan Teknik Klarifikasi dan Konfirmasi
 Gunakan teknik PARA-PHRASING (mengulang kembali dengan kata-kata sendiri) untuk memastikan
pemahaman.
 "Jadi, Anda mengatakan bahwa mesin mengalami malfungsi sebelum kecelakaan terjadi, benar?"
 Jika ada perbedaan pernyataan dari saksi lain, tanyakan dengan cara yang tidak menghakimi.
f. Merekam atau Mendokumentasikan Wawancara
 Jika memungkinkan, rekam wawancara dengan persetujuan saksi.
 Jika tidak bisa merekam, buat catatan yang akurat tentang jawaban yang diberikan.
Mungkin diperlukan untuk mewawancarai seseorang lebih dari satu kali seiring
perkembangan informasi dan fakta yang didapat.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
3. Setelah Wawancara atau Interogasi
Setelah sesi wawancara selesai, lakukan langkah berikut:
a. Menganalisis dan Membandingkan Informasi/Crosscheck
 Bandingkan jawaban antar saksi untuk mencari kesesuaian atau inkonsistensi.
 Cocokkan informasi yang diperoleh dengan bukti fisik di lokasi kecelakaan.
b. Membuat Laporan Wawancara
 Rangkuman hasil wawancara harus jelas, objektif, dan tidak mengandung interpretasi pribadi.
 Sertakan kutipan langsung dari saksi jika perlu untuk memperkuat bukti.
c. Menggunakan Informasi untuk Menentukan Penyebab Kecelakaan
 Identifikasi apakah kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia, teknis, atau lingkungan.
 Gunakan hasil wawancara untuk menyusun rekomendasi tindakan perbaikan atau pencegahan.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
4. Teknik Khusus dalam Interogasi untuk Kasus yang Kompleks
Jika terdapat saksi yang mencurigakan atau enggan memberikan informasi, gunakan teknik berikut:
a. Teknik Pertanyaan Berurutan
Mulai dengan pertanyaan sederhana, kemudian secara bertahap menuju pertanyaan yang lebih spesifik
untuk menghindari saksi menutup diri.
b. Teknik Konfrontasi (Jika Diperlukan)
 Jika ada perbedaan cerita, tanyakan dengan cara yang netral:
"Kami memiliki informasi berbeda dari saksi lain. Bisakah Anda menjelaskan lebih lanjut?"
 Gunakan bukti fisik atau rekaman CCTV untuk mengonfirmasi pernyataan saksi.
c. Teknik Silent Pause (Diam Sejenak)
Jika saksi tampak ragu atau menutup diri, diam sejenak dapat memberi mereka ruang untuk berpikir dan
mungkin memberikan informasi tambahan.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
d. Teknik Pengulangan
Meminta saksi menceritakan ulang kejadian dengan cara berbeda untuk melihat apakah ada ketidaksesuaian
dalam cerita mereka.
e. Pisahkan Fakta dengan Fiksi
Gunakan dasar analisis informasi NORMS
• Not Interpretation (Bukan tafsiran)
• Observable (Bisa diamati)
• Reliable (Dapat dipercaya)
• Measureable (Dapat diukur)
• Specific (Khusus)
Jika satu hal memenuhi salah satu kriteria di atas, maka itu adalah fakta.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA)
Root Cause Analysis (RCA) adalah metode sistematis untuk mengidentifikasi akar penyebab suatu
masalah atau kejadian yang tidak diinginkan, seperti kecelakaan kerja, cacat produk, atau kegagalan
sistem. RCA bertujuan untuk menemukan penyebab mendasar dari masalah, bukan hanya gejala yang
muncul, sehingga solusi yang diambil benar-benar efektif dan dapat mencegah kejadian serupa di
masa depan.
Prinsip Utama RCA:
1. Fokus pada Penyebab Utama, Bukan Gejala : RCA tidak hanya mencari apa yang terjadi, tetapi
juga mengapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi.
2. Menggunakan Data dan Fakta : Analisis harus berbasis bukti, bukan asumsi atau dugaan.
3. Pendekatan Sistematis dan Berulang : RCA dilakukan secara bertahap dan dapat diulang jika
perlu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam.
4. Bertujuan untuk Pencegahan : Tujuan utama RCA adalah mencegah masalah yang sama terjadi
kembali di masa depan.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Langkah-Langkah Root Cause Analysis (RCA):
1. Identifikasi Masalah
 Tentukan masalah yang sedang terjadi.
 Definisikan dengan jelas: Apa yang terjadi? Di mana? Kapan? Seberapa sering?
 Gunakan data dan fakta untuk mendukung definisi masalah.
2. Kumpulkan Data
 Kapan dan di mana masalah terjadi?
 Siapa saja yang terlibat?
 Apa dampak dari kejadian ini?
 Gunakan bukti seperti laporan kejadian, rekaman CCTV, wawancara saksi, atau data
operasional.
ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
3. Analisis Penyebab (Mencari Akar Masalah)
Gunakan berbagai teknik analisis untuk menemukan akar penyebab masalah:
 5 Why Analysis (Analisis 5 Mengapa)
 Fishbone Diagram (Diagram Tulang Ikan/Ishikawa)
 Fault Tree Analysis (FTA)
 Pareto Analysis (Prinsip 80/20)
 Change Analysis (Analisis Perubahan)
 Kepner-Tregoe Analysis (Rational Process Analysis)
 Mind Mapping
 Bow Tie
4. Identifikasi Solusi dan Perbaikan
 Setelah mengetahui akar masalah, cari solusi yang efektif dan permanen.
 Tentukan solusi berdasarkan efektivitas dan kemudahan implementasi.
 Libatkan tim terkait untuk memastikan solusi dapat diterapkan.
ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
5. Implementasi dan Pemantauan
 Terapkan solusi yang telah dirancang.
 Pantau hasil dan pastikan masalah tidak terjadi lagi.
Lakukan audit berkala untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan.
6. Dokumentasi dan Pembelajaran
 Catat semua hasil RCA, solusi, dan tindakan yang telah diambil.
 Gunakan hasil RCA sebagai pembelajaran untuk mencegah masalah di masa depan.
Contoh solusi berdasarkan RCA:
 Jika akar masalah adalah kurangnya pela han → Buat program pelatihan berkala.
 Jika akar masalah adalah peralatan yang kurang perawatan → Buat jadwal maintenance rutin.
 Jika akar masalah adalah SOP yang dak ada → Buat dan sosialisasikan SOP baru.
ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
TEKNIK ANALISIS
Root Cause Analysis (RCA) menggunakan berbagai teknik untuk mengidentifikasi akar penyebab suatu
masalah. Berikut adalah beberapa teknik yang umum digunakan dalam RCA beserta penjelasannya :
1. 5 Why Analysis (Analisis 5 Mengapa)
Teknik ini bertujuan untuk menggali penyebab mendalam dengan bertanya
"Mengapa?" berulang kali hingga akar masalah ditemukan.
Cara Melakukan:
1. Tuliskan masalah utama.
2. Tanyakan "Mengapa?" masalah itu terjadi.
3. Jawaban dari pertanyaan pertama digunakan untuk menanyakan "Mengapa?"
lagi.
4. Ulangi hingga mencapai akar penyebab yang paling mendasar.
5 Why’s
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Contoh:
 Masalah: Mesin produksi tiba-tiba berhenti.
1. Mengapa? → Karena motor mesin rusak.
2. Mengapa motor rusak? → Karena overheat.
3. Mengapa overheat? → Karena sistem pendingin dak berfungsi.
4. Mengapa sistem pendingin tidak berfungsi? → Karena dak dilakukan
perawatan rutin.
5. Mengapa tidak dilakukan perawatan rutin? → Karena dak ada SOP perawatan
mesin.
 Akar Masalah : Tidak adanya SOP perawatan mesin.
 Solusi : Membuat SOP perawatan mesin dan melatih operator untuk mengikutinya.
Why...?
Why...?
Why...?
TEKNIK ANALISIS 5 Why’s
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
KEUNTUNGAN:
Mengidentifikasi proses yang hilang atau tidak efektif yang "memungkinkan"
terjadinya masalah, kecelakaan, atau insiden. Fokusnya adalah "orang tidak gagal,
proses yang gagal".
KEKURANGAN:
Mensyaratkan agar orang yang menjawab setiap pertanyaan tetap berpikiran
terbuka dan menghindari asumsi yang dapat mengarah pada jawaban yang tidak
terkait dengan masalah utama.
Untuk hasil terbaik, fasilitator perlu menyadari bahwa ketika jawaban menjangkau
isu yang tampaknya berada di luar jangkauan kelompok, seperti kurangnya waktu
atau uang, fasilitator sebaiknya bertanya "mengapa prosesnya gagal?"
TEKNIK ANALISIS 5 Why’s
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Fishbone Diagram (Diagram Tulang Ikan/Ishikawa)
2. Fishbone Diagram (Diagram Tulang Ikan/Ishikawa)
Diagram ini membantu mengidentifikasi berbagai kemungkinan penyebab masalah dengan
mengelompokkan penyebab ke dalam beberapa kategori utama.
Cara Melakukan:
1. Tulis masalah utama di bagian kanan diagram (kepala ikan).
2. Tarik garis utama ke kiri sebagai "tulang punggung".
3. Tambahkan kategori penyebab utama sebagai cabang tulang ikan:
o Man (Manusia): Kesalahan operator, kurang pelatihan.
o Method (Metode): SOP yang salah, prosedur tidak jelas.
o Machine (Mesin): Alat rusak, kurang perawatan.
o Material (Bahan): Bahan baku tidak sesuai standar.
o Environment (Lingkungan): Tempat kerja tidak aman.
4. Tambahkan faktor-faktor spesifik ke setiap kategori hingga menemukan akar penyebab masalah.
TEKNIK ANALISIS
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Contoh:
Jika ada kecelakaan kerja, kategori penyebab bisa berupa:
 Manusia : Kurang pelatihan.
 Metode : SOP tidak jelas.
 Mesin : Alat tidak berfungsi dengan baik.
 Lingkungan : Area kerja licin.
Kepala ikan adalah
Kejadian / Incident
TEKNIK ANALISIS Fishbone Diagram (Diagram Tulang Ikan/Ishikawa)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
TEKNIK ANALISIS Fishbone Diagram (Diagram Tulang Ikan/Ishikawa)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
TEKNIK ANALISIS Fault Tree Analysis (FTA)
3. Fault Tree Analysis (FTA)
Teknik ini berbentuk diagram pohon yang
menunjukkan hubungan logis antara masalah utama
dengan penyebabnya.
Cara Melakukan:
1. Mulai dengan masalah utama di bagian atas
(root).
2. Tambahkan cabang ke bawah untuk
menunjukkan faktor penyebab langsung.
3. Gunakan simbol logika seperti AND dan OR
untuk menunjukkan hubungan antar
penyebab.
4. Terus pecah faktor hingga mencapai akar
penyebab yang paling spesifik.
Event / Incident
Basic
Event
Basic
Event
Basic
Event
Fault Event
Basic
Event
Basic
Event
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Contoh:
Jika terjadi kecelakaan kerja, FTA bisa
terlihat seperti:
 Kecelakaan terjadi karena (OR):
o Operator tidak memakai APD.
o Mesin mengalami kegagalan
teknis.
 Mesin mengalami kegagalan teknis
karena (AND):
o Tidak ada pemeliharaan rutin.
o Komponen sudah aus.
Kecelakaan
AND
OR
Operator tidak
memakai APD
Tidak ada
Pemeliharaan
rutin
Komponen
Sudah Aus
Mesin mengalami
kegagalan teknis
TEKNIK ANALISIS Fault Tree Analysis (FTA)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
TEKNIK ANALISIS Fault Tree Analysis (FTA)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Pareto Analysis (Prinsip 80/20)
4. Pareto Analysis (Prinsip 80/20)
Teknik ini digunakan untuk menentukan penyebab utama
yang memberikan dampak terbesar terhadap masalah.
Berdasarkan prinsip 80/20, yaitu 80% masalah
disebabkan oleh 20% penyebab utama.
Cara Melakukan:
1. Kumpulkan data tentang berbagai penyebab masalah.
2. Hitung frekuensi atau dampak dari masing-masing
penyebab.
3. Urutkan penyebab dari yang paling sering terjadi hingga
yang paling jarang.
4. Buat diagram batang untuk memvisualisasikan
penyebab utama.
5. Fokuskan perbaikan pada penyebab yang memberikan
dampak terbesar.
TEKNIK ANALISIS
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Keuntungan :
1. Mempermudah Identifikasi Masalah Utama – Membantu fokus pada faktor-faktor
yang paling berpengaruh dalam suatu masalah.
2. Meningkatkan Efisiensi – Memungkinkan alokasi sumber daya yang lebih efektif
dengan menangani penyebab utama terlebih dahulu.
3. Membantu Pengambilan Keputusan – Memudahkan dalam menetapkan prioritas
tindakan berdasarkan dampaknya.
4. Dapat Diterapkan di Berbagai Bidang – Cocok digunakan dalam manajemen kualitas,
bisnis, produksi, dan berbagai industri lainnya.
5. Menyediakan Data yang Jelas dan Visual – Biasanya disajikan dalam bentuk diagram
Pareto, yang memudahkan analisis dan pemahaman.
TEKNIK ANALISIS Pareto Analysis (Prinsip 80/20)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Kekurangan :
1. Tidak Menganalisis Hubungan Sebab-Akibat Secara Mendalam – Hanya
menunjukkan frekuensi atau dampak masalah, tanpa menjelaskan hubungan
antara penyebabnya.
2. Tidak Menunjukkan Solusi Secara Langsung – Analisis Pareto hanya membantu
dalam menentukan prioritas, tetapi tidak menyediakan solusi konkret.
3. Bergantung pada Ketersediaan Data – Hasil analisis bisa kurang akurat jika data
yang digunakan tidak lengkap atau bias.
4. Tidak Cocok untuk Masalah yang Kompleks – Jika masalah memiliki banyak faktor
yang saling berhubungan, metode ini mungkin kurang efektif.
5. Dapat Mengabaikan Faktor-Faktor Minor yang Mungkin Penting – Karena hanya
fokus pada faktor terbesar, ada kemungkinan penyebab kecil tapi signifikan
terabaikan.
TEKNIK ANALISIS Pareto Analysis (Prinsip 80/20)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
TEKNIK ANALISIS Pareto Analysis (Prinsip 80/20)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
TEKNIK ANALISIS Change Analysis (Analisis Perubahan)
Teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi perubahan yang menyebabkan masalah terjadi.
Cara Melakukan:
1. Bandingkan kondisi sebelum dan sesudah masalah muncul.
2. Identifikasi perubahan signifikan dalam prosedur, peralatan, bahan, atau lingkungan.
3. Tentukan apakah perubahan tersebut terkait dengan masalah yang terjadi.
Contoh:
 Masalah: Produktivitas turun setelah perubahan shift kerja.
 Analisis: Sebelum perubahan, produktivitas stabil. Setelah perubahan, banyak pekerja mengeluh
kelelahan.
 Akar Masalah: Jadwal kerja baru tidak memberikan waktu istirahat yang cukup.
 Solusi: Sesuaikan kembali jadwal kerja agar lebih seimbang.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Keuntungan :
1. Membantu Mengidentifikasi Penyebab Masalah – Dengan membandingkan kondisi
sebelum dan sesudah perubahan, analisis ini dapat mengungkap penyebab utama
suatu masalah.
2. Cocok untuk Investigasi Kecelakaan atau Gangguan Sistem – Berguna dalam
memahami kejadian tak terduga dengan menyoroti perubahan yang terjadi.
3. Mudah Dipahami – Teknik ini relatif sederhana dan dapat digunakan oleh berbagai
tingkat keahlian dalam organisasi.
4. Dapat Digunakan di Berbagai Bidang – Analisis ini dapat diterapkan dalam
manajemen risiko, produksi, keselamatan kerja, dan teknologi informasi.
5. Meningkatkan Kesadaran akan Faktor Risiko – Dengan memahami perubahan yang
berkontribusi terhadap masalah, organisasi dapat lebih waspada dalam
pengambilan keputusan di masa depan.
TEKNIK ANALISIS Change Analysis (Analisis Perubahan)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Kekurangan :
1. Hanya Efektif Jika Perubahan Jelas – Jika tidak ada perubahan yang signifikan atau sulit dideteksi,
analisis ini menjadi kurang bermanfaat.
2. Bergantung pada Data yang Tersedia – Jika data mengenai kondisi sebelum dan sesudah perubahan
tidak lengkap, hasil analisis bisa kurang akurat.
3. Tidak Selalu Menunjukkan Hubungan Sebab-Akibat Secara Langsung – Perubahan yang diidentifikasi
mungkin hanya kebetulan dan bukan penyebab utama masalah.
4. Kurang Efektif untuk Masalah yang Kompleks – Jika suatu masalah memiliki banyak faktor yang saling
berinteraksi, metode ini mungkin tidak cukup untuk menemukan akar penyebabnya.
5. Dapat Mengabaikan Faktor Non-Perubahan – Fokus pada perubahan bisa menyebabkan faktor-faktor
lain yang berkontribusi terhadap masalah menjadi terlewatkan.
Analisis Perubahan berguna dalam banyak situasi, tetapi sering kali perlu dikombinasikan
dengan metode lain seperti Root Cause Analysis (RCA) atau Fault Tree Analysis (FTA) untuk
hasil yang lebih komprehensif.
TEKNIK ANALISIS Change Analysis (Analisis Perubahan)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
TEKNIK ANALISIS Kepner-Tregoe Analysis (Rational Process Analysis)
Kepner-Tregoe Analysis (juga dikenal sebagai Kepner-Tregoe Method atau KT Method) adalah suatu
pendekatan sistematis untuk pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang dikembangkan oleh
Charles Kepner dan Benjamin Tregoe pada tahun 1960-an. Metode ini dirancang untuk membantu individu
dan organisasi berpikir secara rasional dan objektif dalam menghadapi masalah kompleks.
Empat Langkah Utama Kepner-Tregoe Analysis:
1. Situational Analysis (Analisis Situasi)  Tujuan: Menentukan prioritas dan arah perhatian
Langkah-langkah:
•Identifikasi masalah, kekhawatiran, dan peluang yang sedang dihadapi
•Klasifikasikan berdasarkan urgensi dan dampaknya
•Tentukan mana yang harus ditangani terlebih dahulu
2. Problem Analysis (Analisis Masalah)  Tujuan: Mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah
Langkah-langkah:
•Apa masalahnya? (deskripsikan gejala)
•Dimana dan kapan masalah terjadi?
•Seberapa besar dampaknya?
•Apa saja perbedaan antara kondisi normal dan abnormal?
•Gunakan pola "Is / Is Not" (Apa yang adalah dan bukan bagian dari masalah)
•Identifikasi kemungkinan penyebab, lalu uji hipotesis tersebut terhadap fakta
3.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
3. Decision Analysis (Analisis Keputusan)  Tujuan: Memilih solusi terbaik di antara berbagai alternatif
Langkah-langkah:
•Tetapkan tujuan keputusan (misalnya: efisiensi, biaya rendah, dampak jangka panjang)
•Identifikasi opsi atau alternatif
•Evaluasi tiap alternatif berdasarkan kriteria objektif dan subyektif
•Berikan nilai atau bobot pada setiap kriteria
•Pilih opsi dengan skor tertinggi
4. Potential Problem Analysis (Analisis Masalah Potensial)  Tujuan: Mengantisipasi hambatan dan merencanakan tindakan
pencegahan
Langkah-langkah:
•Identifikasi potensi risiko dari keputusan atau rencana
•Analisis kemungkinan penyebab kegagalan
•Kembangkan tindakan pencegahan (preventive actions)
•Siapkan rencana kontingensi (corrective actions) bila masalah terjadi
TEKNIK ANALISIS Kepner-Tregoe Analysis (Rational Process Analysis)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
TEKNIK ANALISIS Kepner-Tregoe Analysis (Rational Process Analysis)
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
TEKNIK ANALISIS Mind Mapping
Mind Mapping adalah metode visualisasi informasi dalam bentuk peta pikiran yang menggambarkan
hubungan antara ide, konsep, atau informasi lainnya secara hierarkis dan bercabang. Teknik ini sangat
berguna untuk brainstorming, perencanaan, mencatat, serta analisis masalah.
Teknik ini dikembangkan oleh Tony Buzan, seorang
penulis dan pakar dalam bidang fungsi otak. Metode ini
meniru cara kerja otak manusia dalam mengasosiasikan
dan menghubungkan informasi secara non-linear.
Langkah-langkah Membuat Mind Map:
1.Tentukan topik utama → Letakkan di tengah halaman dan tulis dengan jelas.
2.Buat cabang utama (ide besar) → Dari topik pusat, buat cabang untuk tiap ide kunci yang relevan.
3.Tambah cabang sekunder (detail atau contoh) → Kembangkan lebih lanjut setiap cabang utama
dengan sub-ide.
4.Gunakan warna & simbol → Untuk membedakan cabang dan meningkatkan ingatan visual.
5.Gunakan kata kunci singkat → Hindari kalimat panjang; fokus pada inti ide.
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Contoh Topik Utama: Kecelakaan Kerja
Cabang Utama & Turunannya:
1.Penyebab Utama
1. Kelalaian pekerja
2. Alat pelindung tidak digunakan
3. Mesin rusak
4. Kurangnya pelatihan
2.Dampak
1. Cedera fisik
2. Waktu kerja hilang
3. Penurunan produktivitas
4. Biaya kompensasi tinggi
3.Langkah Tindakan
1. Pelatihan keselamatan kerja
2. Pemeliharaan mesin berkala
3. Audit keselamatan
4. Penyediaan dan pemantauan penggunaan APD (Alat Pelindung Diri)
4.Pihak Terlibat
1. Korban
2. Tim K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
3. Manajemen
4. Tim HR & Legal
5.Dokumentasi & Laporan
1. Formulir insiden
2. Laporan investigasi
3. Evaluasi risiko
TEKNIK ANALISIS Mind Mapping
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
TEKNIK ANALISIS Mind Mapping
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
TEKNIK ANALISIS Bow Tie
Teknik Analisis Bow Tie adalah metode visual yang
digunakan untuk mengidentifikasi dan mengelola
risiko dengan memetakan hubungan antara
penyebab, kejadian kritis, dan konsekuensi, serta
pengendalian pencegahan dan pemulihan.
Struktur Bow Tie (Dasar):
Visualnya menyerupai dasi kupu-kupu (bow tie) dengan:
•Bahaya (Hazard): Ancaman awal atau potensi risiko
•Peristiwa Puncak (Top Event): Kejadian kritis yang
terjadi jika kendali gagal
•Penyebab (Threats): Faktor-faktor yang dapat memicu
top event
•Konsekuensi (Consequences): Dampak jika top event
terjadi
•Pengendalian (Barriers):
• Preventive Barriers (kiri): Untuk mencegah top
event terjadi
• Mitigating Barriers (kanan): Untuk
meminimalkan dampak top event
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Langkah Teknik Bow Tie:
1.Identifikasi Bahaya (Hazard)
• Tentukan sumber bahaya yang berpotensi menyebabkan peristiwa tidak diinginkan.
2.Tentukan Top Event (Peristiwa Puncak)
• Peristiwa kritis yang terjadi jika pengendalian terhadap bahaya gagal.
3.Identifikasi Ancaman (Threats)
• Apa saja yang dapat menyebabkan top event terjadi?
4.Identifikasi Konsekuensi (Consequences)
• Apa dampaknya jika top event benar-benar terjadi?
5.Identifikasi Pengendalian Pencegahan (Preventive Barriers)
• Tindakan yang dapat mencegah ancaman menyebabkan top event.
6.Identifikasi Pengendalian Pemulihan (Mitigation Barriers)
• Tindakan yang dapat mengurangi dampak setelah top event terjadi.
7.Evaluasi Efektivitas Barriers
• Periksa apakah barrier yang ada cukup kuat, atau perlu ditingkatkan.
TEKNIK ANALISIS Bow Tie
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Contoh
Topik: Seorang pekerja mengalami cedera akibat tertimpa
beban dari forklift.
Struktur Bow Tie:
•Bahaya: Aktivitas pengangkutan material dengan forklift
•Top Event: Pekerja tertimpa beban dari forklift
Penyebab / Threats:
•Operator forklift tidak terlatih
•Area kerja tidak dibatasi
•Beban tidak diamankan dengan benar
Preventive Barriers:
•Pelatihan operator forklift
•Jalur khusus forklift & pejalan kaki dipisahkan
•SOP pengamanan beban
Konsekuensi:
•Cedera serius / fatal
•Waktu kerja hilang
•Denda atau gugatan hukum
Mitigation Barriers:
•Prosedur darurat medis
•Tim tanggap K3
•Asuransi & kompensasi
TEKNIK ANALISIS Bow Tie
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
Top Event :
Pekerja tertimpa
beban dari forklift
BAHAYA :
Aktivitas pengangkutan
material dengan forklift
Operator forklift tidak terlatih
Area kerja tidak dibatasi
Beban tidak diamankan dengan benar
Cedera serius / fatal
Waktu kerja hilang
Denda atau gugatan hukum
Preventive Barriers
Preventive Barriers
Mitigation Barriers
Pelatihan operator forklift
Jalur khusus forklift &
pejalan kaki dipisahkan
SOP pengamanan beban
Jalur khusus forklift &
pejalan kaki dipisahkan
Prosedur darurat
medis
Tim tanggap K3
Asuransi &
kompensasi
TEKNIK ANALISIS Bow Tie
Accidend Incident Investigation and Root Cause Analysis : Harya Media
TEKNIK ANALISIS Bow Tie
TERIMA KASIH

Materi Training construction tangki dan jetty

  • 1.
    PT.HUTAMA KARYA (PERSERO)– DIVISI EPC PROYEK OPEN ACCESS RU-VII KASIM SORONG TRAINING HSSE HK
  • 2.
    Permenaker No 9Tahun 2016
  • 40.
    PemeriksaanWebbing Full BodyHarness Lengkap.pdf
  • 53.
  • 54.
    PT.HUTAMA KARYA (PERSERO)– DIVISI EPC PROYEK OPEN ACCESS RU-VII KASIM SORONG TRAINING HSSE HK
  • 55.
    Isi Materi Definisi RuangTerbatas (Confined Space) Menjabarkan pengertian dari ruang terbatas, ciri-ciri, kategori dan perihal ruang lingkup dari Ruang Terbatas Program Pengendalian dan Penilaian Bahaya Ruang Terbatas (Confined Space) Menjelaskan cara-cara pengendalian bahaya dan menilai risiko ketika bekerja di Ruang Terbatas Potensi Bahaya di Ruang Terbatas (Confined Space) Menjelaskan apa saja potensi bahaya dan risiko yang ada ketika bekerja di Ruang Terbatas Do & Don’ts di Ruang Terbatas (Confined Space) Menjelaskan apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan ketika bekerja di Ruang Terbatas Pelatihan Dokumen HSE Langkah Awal HSE
  • 56.
    Definisi Ruang Terbatas (ConfinedSpace) Menjabarkan pengertian dari ruang terbatas, ciri-ciri, kategori dan perihal ruang lingkup dari Ruang Terbatas Dokumen HSE Langkah Awal HSE
  • 57.
    Undang-Undang Dokumen HSE Langkah AwalHSE Dasar Hukum mengenai Ruang Terbatas (Confined Space) Ketentuan perundangan dan peraturan keselamatan kerja yang berkaitan dengan bekerja di Ruang Terbatas • Undang-Undang No. 3 tahun 1969 tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 120 mengenai Hygiene dalam Perniagaan dan Kantor-Kantor • Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja • Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan • Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 187/Men/1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja • Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. SE.01/Men/1997 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Kimia di udara Lingkungan Kerja • Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. SE.117/Men/PPKPKK/III/2005 tentang Pemeriksaan Menyeluruh Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pusat Perbelanjaan, Gedung Bertingkat, dan Tempat-Tempat Publik Lainnya Kepmen, SE
  • 58.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Pengertian Ruang Terbatas (Confined Space) Definisi, contoh dan kategori sebuah Ruang Terbatas Yang dimaksud memasuki ruang terbatas adalah apabila seseorang bekerja dengan sebagian maupun seluruh anggota tubuhnya berada di dalam ruang terbatas. Sebuah tempat kerja di katakan Ruang terbatas (confined spaces) apabila memiliki kategori sebagai tempat yang: Cukup luas dan memiliki konfigurasi sedemikian rupa sehingga pekerja dapat masuk dan melakukan pekerjaan di dalamnya; Mempunyai akses keluar masuk yang terbatas. Seperti pada tank, kapal, silo, tempat penyimpanan, lemari besi atau ruang lain yang mungkin mempunyai akses yang terbatas). Tidak dirancang untuk tempat kerja secara berkelanjutan atau terus- menerus di dalamnya. Memiliki potensi kekurangan oksigen dan gas beracun apabila bekerja di dalamnya
  • 59.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Pengertian Ruang Terbatas (Confined Space) Definisi, contoh dan kategori sebuah Ruang Terbatas Contoh lokasi kerja yang termasuk ruang terbatas antara lain; • Tangki penyimpanan, bejana transpor, boiler, dapur/tanur, silo dan jenis tangki lainnya yang mempunyai lubang lalu orang; • Ruang terbuka di bagian atas yang melebihi kedalaman 1,5 meter seperti lubang lalu orang yang tidak mendapat aliran udara yang cukup; • Jaringan perpipaan, terowongan bawah tanah dan struktur lainnya yang serupa; • Ruangan lainnya di atas kapal yang dapat dimasuki melalui lubang yang kecil seperti tangki kargo, tangki minyak dan sebagainya
  • 60.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Pengertian Ruang Terbatas (Confined Space) Definisi, contoh dan kategori sebuah Ruang Terbatas Berbagai jenis pekerjaan yang menyebabkan orang memasuki ruang terbatas, antara lain: • Pemeliharaan (pencucian atau pembersihan) • Pemeriksaan • Pengelasan, pelapisan dan pelindungan karat • Perbaikan • Penyelamatan dan memberikan pertolongan kepada pekerja yang cidera atau pingsan dari ruang terbatas; dan • Jenis pekerjaan lainnya yang mengharuskan masuk ke dalam ruang terbatas
  • 61.
    Potensi Bahaya diRuang Terbatas (Confined Space) Menjelaskan apa saja potensi bahaya dan risiko yang ada ketika bekerja di Ruang Terbatas Dokumen HSE Langkah Awal HSE
  • 62.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Lingkungan yang berbahaya (Hazardous Environment) Potensi Bahaya (Hazard Potential)
  • 63.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Lingkungan yang berbahaya (Hazardous Environment) ▪ Lingkungan berbahaya berarti lingkungan yang dapat menyebabkan pekerja menghadapi risiko kematian, hendaya atau ketidakmampuan menyelamatkan diri secara mandiri, kecelakaan, terluka, atau penyakit akut akibat satu atau beberapa sebab berikut ini : • Gas, uap atau kabut uap yang mudah terbakar dengan konsentrasi melebihi 10% dari BRDM nya. • Debu di udara yang mudah meledak dengan konsentrasi setara atau melebihi BRDM. Catatan: konsentrasi ini dapat diperkirakan jika debu dapat terlihat secara visual pada jarak 5 kaki (1,52 m) atau kurang. • Konsentrasi oksigen di udara dibawah 19,5 % atau melebihi 23,5 % • Konsentrasi substansi yang konsentrasinya atau nilai ambang batasnya dimuat dalam Surat Edaran Menaker No. SE. 01/Men/1997 • Setiap keadaan lingkungan yang langsung berbahaya bagi kesehatan atau dapat mengakibatkan kematian.
  • 64.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Potensi Bahaya (Hazard Potential) ▪ Semua bahaya yang ditemukan di ruang kerja biasa juga dapat ditemukan di ruang terbatas. Namun, bahaya di ruang terbatas bisa lebih berbahaya daripada di tempat kerja biasa. Potensi bahaya yang ditemui di ruang terbatas, antara lain : • Kondisi kualitas udara yang buruk • Paparan bahan kimia yang digunakan (kontak dengan kulit dan pernapasan) • Suara bising • Titik Jepit, Struktur penyokong yang tidak stabil, peralatan kerja • Penggunaan Radiasi • Peningkatan Suhu • Pergerakan material • Jarak pandang yang pendek • Energi yang berbahaya • Hewan (ular, biawak, kelabang, kalajengking, dll)
  • 65.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE RUANG TERBATAS LEBIH BERBAHAYA DARI LOKASI KERJA LAINNYA “Kesalahan dalam mengidentifikasi atau mengevaluasi potensi bahaya dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih serius. Dalam beberapa kasus, kondisi di ruang terbatas selalu sangat berbahaya. Dalam kasus lain, kondisi yang mengancam nyawa dalam kombinasi keadaan yang tidak biasa“ 1. Pintu masuk/keluar ruang terbatas yang tidak memungkinkan pekerja untuk keluar tepat waktu jika terjadi kondisi berbahaya 2. Penyelamatan diri oleh pekerja akan lebih sulit. 3. Penyelamatan korban lebih sulit. 4. Konfigurasi interior ruang tertutup sering kali tidak memungkinkan pergerakan orang atau peralatan di dalamnya dengan mudah. 5. Konfigurasi interior ruang terbatas tidak memungkinkan pergerakan udara yang mudah di dalamnya. 6. Ventilasi alami saja sering kali tidak cukup untuk menjaga kualitas udara yang dapat dihirup. 7. Kondisi dapat berubah dengan sangat cepat. 8. Ruang di luar ruang terbatas dapat berdampak pada kondisi di dalam ruang terbatas dan sebaliknya.
  • 66.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE RUANG TERBATAS LEBIH BERBAHAYA DARI LOKASI KERJA LAINNYA “Kesalahan dalam mengidentifikasi atau mengevaluasi potensi bahaya dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih serius. Dalam beberapa kasus, kondisi di ruang terbatas selalu sangat berbahaya. Dalam kasus lain, kondisi yang mengancam nyawa dalam kombinasi keadaan yang tidak biasa“ uang rja aktu eh t. n 4. Konfigurasi interior ruang tertutup sering kali tidak memungkinkan pergerakan orang atau peralatan di dalamnya dengan mudah. 5. Konfigurasi interior ruang terbatas tidak memungkinkan pergerakan udara yang mudah di dalamnya. 6. Ventilasi alami saja sering kali tidak cukup untuk menjaga kualitas udara yang dapat dihirup. 7. Kondisi dapat berubah dengan sangat cepat. 8. Ruang di luar ruang terbatas dapat berdampak pada kondisi di dalam ruang terbatas dan sebaliknya. 9. Aktivitas kerja dapat menimbulkan bahaya yang awalnya tidak ada
  • 67.
    Program Pengendalian dan PenilaianBahaya Ruang Terbatas (Confined Space) Menjelaskan cara-cara pengendalian bahaya dan menilai risiko ketika bekerja di Ruang Terbatas Dokumen HSE Langkah Awal HSE
  • 68.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE PERSYARTAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI RUANG TERBATAS Persyaratan Umum • Melakukan identifikasi dan evaluasi terhadap tempat kerja apakan termasuk ruang terbatas yang memerlukan ijin khusus • Jika Iya, wajib menginformasikan kepada seluruh pihak dengan memasang tanda bahaya mengenai lokasi kerja tersebut • Jika lokasi tersebut tidak di perbolehkan pekerja memasukinya, lakukan langkah- langkah pencegahan dan pelarangan akses ke lokasi kerja tersebut
  • 69.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Persyaratan Khusus 1. Akses menuju lokasi kerja ruang terbatas harus diberikan penutup ataupun selusur sementara agar pekerja tidak memasuki ruang terbatas tersebut Persyaratan yang wajib dilakukan untuk memasuki ruang terbatas dengan ijin khusus : 2. Dilakukan pengujian udara dengan alat yang sudah dilakukan kalibrasi untuk mengetahui kada oksigen, gas dan uap mudah terbakar dan kontaminan udara yang berbahaya Jika terdapat gas berbahaya, pekerja dilarang bekerja di dalam lokasi kerja tersebut
  • 70.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Persyaratan Khusus 3. Memberikan sistem aliran udara bersih yang kontinyu (dari sumber yang bersih, diarahkan ke pekerja dan terus menerus) Persyaratan yang wajib dilakukan untuk memasuki ruang terbatas dengan ijin khusus : 4. Dilakukan pengecekan udara sesering mungkin untuk memastikan pengaturan udara berjalan dengan baik Jika terdapat gas berbahaya ketika pengecekan, pekerja harus segera keluar dan pengawas melakukan evaluasi terhadap kemungkinan penyebab dan penanggulangannya
  • 71.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Persyaratan Khusus 5. Membuat Entry Log untuk mencatakan setiap kali pemeriksaan dan pekerja yang memasuki ruang terbatas agar bisa terawasi dengan baik Persyaratan yang wajib dilakukan untuk memasuki ruang terbatas dengan ijin khusus : 6. Jika terjadi perubahan konfigurasi, pengawas harus melakukan evaluasi ulang terhadap ruang terbatas tersebut
  • 72.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Persyaratan Khusus Ruangan terbatas dengan ijin khusus dapat di klasifikasikan menjadi ruang terbatas tanpa ijin khusus apabila; • Dapat dipastikan bahaya ruang terbatas tersebut dapat terbebas dari udara berbahaya • Dapat menghilangkan potensi bahaya di dalamnya dengan pengujian dan pemeriksaan sebagai pembuktian • Mendokumentasikan dasar penetuan bahwa seluruh bahaya telah dihilangkan melalui sertifikasi yang dapat di baca oleh seluruh pekerja yang memasuki ruangan tersebut
  • 73.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Persyaratan Kesehatan Persyaratan kesehatan untuk orang yang akan bekerja di Ruang Terbatas; Pengawas wajib memastikan petugas yang bekerja di ruang terbatas dalam keadaan sehat secara fisik dan dinyatakan oleh dokter pemeriksa kesehatan kerja bahwa petugas tersebut tidak mempunyai riwayat; • Sakit sawan atau epilepsi • Penyakit jantung atau gangguan jantung • Asma, bronchitis atau sesak napas apabila kelelahan • Gangguan pendengaran • Sakit kepala seperti migrain ataupun vertigo yang dapat • menyebabkan disorientasi • Klaustrofobia, atau gangguan mental lainnya • Gangguan atau sakit tulang belakang • Kecacatan penglihatan permanen • Penyakit lainnya yang dapat membahayakan keselamatan selama bekerja di ruang terbatas
  • 74.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Program Memasuki Ruang Terbatas dengan Ijin Khusus 1. Pencegahan masuknya orang yang tidak berkepentingan ke ruang terbatas Memasang safety sign ruang terbatas sebagai informasi di akses masuk Memasang hard barricade (pembatas) pada akses masuk
  • 75.
    Melakukan evaluasi terhadap tindakanpencegahan yang dilakukan terhadap potensi bahaya Dokumen HSE Langkah Awal HSE Program Memasuki Ruang Terbatas dengan Ijin Khusus 2. Identifikasi dan Evaluasi potensi bahaya sebelum pekerja memasukinya Identifikasi potensi bahaya ; udara berbahaya, akses masuk, zat kimia, konfigurasi ruang dan akses penyelamatan,dll Memberikan informasi kepada seluruh pekerja yang terlibat terkait potensi bahaya yang ada
  • 76.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Program Memasuki Ruang Terbatas dengan Ijin Khusus 3. Pengembangan dan penggunaan peralatan, prosedur dan praktik yang diperlukan. Menentukan kondisi yang masih di perbolehkan untuk dilakukan Melakukan isolasi pada ruangan Melakukan pembersihan, pengisian gas inert, pembilasan ataupun pengaliran udara ke dalam ruang Melakukan pembersihan, pengisian gas inert, pembilasan ataupun pengaliran udara ke daam ruang
  • 77.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Program Memasuki Ruang Terbatas dengan Ijin Khusus 4. Penyedian perlatan keselamatan pendukung Peralatan penguji dan pemantauan Peralatan pengaliran udara Peralatan komunikasi Alat Pelindung Diri (ADP) Peralatan Penyelamatan Darurat Tangga Penerangan Tambahan
  • 78.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Program Memasuki Ruang Terbatas dengan Ijin Khusus 5. Lakukan Evaluasi jika ingin melakukan pekerjaan di dalam raung terbatas dengan ijin khusus Uji kondisi ruangan, jika tidak bisa melakukan isolasi, maka lakukan pengawasan dengan persyaratan keselamatan yang sudah di penuhi Pastikan bahwa standar kualitas udara di dalam ruang terbatas sesuai dengan baku mutu yang disyaratkan
  • 79.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Program Memasuki Ruang Terbatas dengan Ijin Khusus 6. Menetapkan personil untuk pengawasan kegiatan di ruang terbatas Jika terdapat ruangan lebih dari satu yang harus dipantau oleh seorang pengawas perlu diatur cara dan prosedur yang dapat memudahkan petugas madya tersebut merespon keadaan gawat darurat Menetapkan 1 pengawas (supervisor / hole watcher / attendant) di setiap raung terbatas
  • 80.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE IZIN KERJA PERMIT TO WORK Menyiapkan dokumen izin kerja untuk bekerja di ruang terbatas
  • 81.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE SISTEM IZIN KERJA Penyiapan Dokumen Izin Kerja Tanda Tangan Pengawas K3 IZIN KERJA RUANG TERBATAS Sebelum pekerjaan dimulai, pengawas menyiapkan dokumen izin permit dan kelengkapannya sesuai prosedur yang tertera Dokumen Izin Kerja yang telah disiapkan, diajukan kepada pengawas K3 untuk di review dan ditandatangani sebagai bentuk persetujuan Tanda Tangan Pengawas Lain Dokumen Izin Kerja yang telah di review, diajukan kepada petugas yang ditunjuk sebagai peninjau tambahan agar pekerjaan dapat dilakukan secara tepat dan aman Waktu Izin kerja sesuai dengan pengajuan Periode izin kerja yang diajukan harus sesuai dengan waktu yang di ajukan, tidak boleh melebihi Pembatalan Izin Kerja Apabila waktu izin kerja selesai, kondisi yang tidak di perbolehkan di temui di dalam ruang terbatas terkait Pencatatan Pembatalan Izin Kerja Izin kerja yang dibatalkan minimal 1 tahun wajib di kaji ulang sebagai bahan perbaikan untuk sistem izin kerja
  • 82.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE IZIN KERJA DIRUANG TERBATAS Izin Kerja yang dimaksud membuat beberapa hal sebagai berikut: 1. Ruang terbatas dengan ijin khusus yang akan dimasuki 2. Kegiatan yang dilangsungkan di dalamnya 3. Tanggal dan durasi kegiatan yang telah disahkan dalam ijin kegiatan 4. Para pekerja yang bekerja dalam ruangan, baik dengan penulisan nama atau yang lain. 5. Nama pengawas yang bertugas 6. Nama ahli K3 yang bertugas, 7. Bahaya dari ruangan yang akan dimasuki
  • 83.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE IZIN KERJA DIRUANG TERBATAS Izin Kerja yang dimaksud membuat beberapa hal sebagai berikut: 8. Langkah-langkah yang diambil untuk mengisolasi ruangan dan untuk menghilangkan atau mengendalikan bahaya dari ruang terbatas dengan ijin khusus tersebut sebelum dimulai kegiatan 9. Kondisi yang masih diperbolehkan untuk melakukan kegiatan 10. Hasil dari pengujian awal dan berkala yang seperti yang diatur dalam pedoman ini disertai nama atau inisial petugas penguji dan waktu pengujian dilaksanakan
  • 84.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE IZIN KERJA DIRUANG TERBATAS Izin Kerja yang dimaksud membuat beberapa hal sebagai berikut: 11. Tim penyelamat dan tim tanggap darurat yang dapat dipanggil dan cara untuk memanggilnya 12. Prosedur komunikasi yang digunakan oleh pengawas 13. Peralatan, seperti APD, peralatan pengujian, alat komunikasi, system alarm, alat- alat penyelamatan yang harus disediakan Informasi lain yang dirasakan perlu, sesuai dengan kondisi ruangan, untuk 14. Ijin tambahan lainnya, seperti untuk melakukan kerja panas,
  • 85.
    Do & Don’tsdi Ruang Terbatas (Confined Space) Menjelaskan apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan ketika bekerja di Ruang Terbatas Dokumen HSE Langkah Awal HSE
  • 86.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Hal-hal apa saja yang diperbolehkan dan tidak di Ruang terbatas 1. SEGERA MELAPOR JIKA TERJADI KEADAAN DARURAT AGAR TIM PENYELAMATAN SEGERA MERESPON 2. JIKA MAMPU MENYELAMATKAN DIRI, BANTU DIRI DAN REKAN- REKAN DI AREA SEKITAR UNTUK KELUAR MENYELEMATKAN DIRI. 3. PENYELAMATAN DARI LUAR HARUS DILAKUKAN OLEH TIM PENYELAMAT DAN SESUAI PROSEDUR 1. JANGAN TINGGALKAN POS ANDA DI TITIK MASUK KE RUANG TERTUTUP SAMPAI TIM PENYELAMAT TIBA. 2. JANGAN IZINKAN SIAPA PUN KECUALI TIM PENYELAMAT YANG DITUNJUK UNTUK MEMASUKI RUANG TERTUTUP DALAM KEADAAN DARURAT.
  • 87.
    PT.HUTAMA KARYA (PERSERO)– DIVISI EPC PROYEK OPEN ACCESS RU-VII KASIM SORONG TRAINING HSSE HK
  • 137.
    PT.HUTAMA KARYA (PERSERO)– DIVISI EPC PROYEK OPEN ACCESS RU-VII KASIM SORONG TRAINING HSSE HK
  • 138.
    Definisi & JenisPekerjaan Panas BAGIAN 1
  • 139.
    Pekerjaan Panas Welding • Adalahoperasi sementara yang melibatkan penggunaan api terbuka atau menghasilkan percikan atau panas dan memiliki potensi untuk memicu kebakaran atau ledakan Definisi Beberapa jenis pekerjaan umum yang masuk dalam kategori pekerjaan panas, yaitu; • Pengelasan (Welding), • Pemotongan (Cutting), • Pematrian Brazing, • Penyolderan Soldering, • Penggerindaan (Grinding), dll Jenis-jenis Dokumen HSE Langkah Awal HSE
  • 140.
    Pengelasan Welding • Pengelasan adalahproses yang menyatukan material dengan mencairkan benda kerja logam bersama dengan logam pengisi untuk membentuk sambungan yang kuat. Definisi Dokumen HSE Langkah Awal HSE • Semua proses pengelasan, kecuali mematri, menggunakan suhu yang cukup tinggi untuk melelehkan logam dasar. • Penyatuan logam diterapkan dengan 2 syarat, yakni: Prinsip Panas (Heat) Keintiman Kontak (Intimacy of Contact) &
  • 141.
    Pengelasan Hot Work Bahan bakaryang digunakan sebagai sumber panas dapat berupa: • Asetilena / Hidrogen di udara / Oksigen • Busur Listrik (Electric Arc) • Tungku Listrik, gas atau minyak • Resistensi logam terhadap aliran listrik Panas (Heat) Dokumen HSE Langkah Awal HSE
  • 142.
    Pengelasan Welding Dokumen HSE Langkah AwalHSE Berdasarkan point ini, proses pengelasan dapat dibagi menjadi 2, yaitu • Proses Tekanan / Plastic / Non-Fusion (Pressure Processes) : Memberikan tekanan agar tidak ada ruang antar permukaan yang disambung • Proses Tanpa Tekanan / Fusion (Non-Pressure Processes) : Menyisakan ruang di antar permukaan yang diisi secara bertahap Keintiman Kontak (Intimacy of Contact)
  • 143.
    Pemotongan Cutting Dokumen HSE Langkah AwalHSE • Pemotongan / Cutting memiliki pengertian sebagai sebuah proses pemotongan atau pemisahan material menggunakan alat atau peralatan yang menghasilkan panas atau nyala api. • Metode cutting dalam hot work umumnya melibatkan penggunaan alat seperti; 1. Mesin pemotong logam, 2. Obor pemotong (oxy-acetylene cutting torch), 3. atau Plasma cutting Definisi Metode
  • 144.
    Pematrian Brazing • Mematri adalahproses pengelasan menggunakan paduan pengisi nonferrous yang tidak mengandung besi atau baja dan memiliki titik leleh di atas 840 ° F tetapi di bawah logam dasar. • Mematri juga disebut 'penyolderan keras' atau 'penyolderan perak’. • Mematri adalah satu-satunya proses pengelasan di mana peleburan logam dasar tidak diperlukan untuk penggabungan. Dokumen HSE Langkah Awal HSE
  • 145.
    Penyolderan Soldering • Penyolderan adalahproses penyambungan menggunakan paduan pengisi non-besi. • Solder lunak menggunakan paduan yang meleleh antara 190 hingga 840 ° F dan digunakan dalam elektronik, pipa ledeng, dan menyambung bagian lembaran logam. • Solder tidak dianggap sebagai proses pengelasan. Timah dan timah adalah paduan yang umum digunakan dalam penyolderan, tetapi ada juga solder bebas timah yang lebih jarang digunakan untuk mengurangi dampak lingkungan. Dokumen HSE Langkah Awal HSE
  • 146.
    • Proses yangmenggunakan gerakan berputar atau bergetar dari roda gerinda yang terbuat dari bahan abrasif yang keras, seperti batu gerinda, untuk menggosok dan menghilangkan lapisan material dari permukaan benda kerja Definisi Dokumen HSE Langkah Awal HSE
  • 147.
    Potensi Bahaya HotWork BAGIAN 2
  • 148.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Arc Welding Pengelasan Busur Potensi Bahaya Pengelasan Welding Potential Hazard Hindari potensi bahaya berikut dalam pengelasan busur; Radiasi Busur Dalam bentuk sinar Ultraviolet dan Inframerah Percikan Api Las Dalam bentuk serpihan logam panas yang terbang Sengatan Listrik Bersumber dari Kabel Listrik yang terkelupas atau korsleting mesin las Fume / Asap Las Dalam bentuk asap logam hasil sisa proses pengelasan Suara Bising Bersumber dari suara busur, percikan, dll
  • 149.
    Potensi Bahaya Pemotongan CuttingPotential Hazard Percikan Api Dalam bentuk potongan logam yang terbang Suara Bising Bersumber dari suara gesekan antara logam dan alat potong Getaran Bersumber dari getaran mesin potong Asap dan Debu Dalam bentuk partikel dan asap logam berat hasil sisa pemotongan Posisi Kerja Posisi ergonomi kerja yang tidak sesuai dengan kaidah keselamatan ergonomi Sengatan Listrik Bersumber dari Kabel Listrik yang terkelupas atau korsleting mesin las Cutting & Grinding Pemotongan
  • 150.
  • 151.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Tindakan Pencegahan Pengelasan Welding Precaution Pencegahan Paparan / Kontak dengan Bahaya Pengelasan sebagai berikut: Alat Pelindung Diri Pengelasan Radiasi • Gunakan APD Mandatory selama pekerjaan Pengelasan Busur Api • Cegah orang lain mendekati lokasi pengelasan agar tidak terpapar sinar las • Jika terkena flash yang parah, segera rujuk ke medis Sengatan Listrik • Gunakan Elektroda berinsulasi • Hindari bekerja di area basah atau lembab • Tidak melakukan pengelasan dengan area ventilasi yang baik Percikan Api • Gunakan APD Mandatory selama pekerjaan Pengelasan • Singkirkan bahan yang mudah terbakar di sekitar area pengelasan Asap Beracun • Gunakan respirator dengan filter sesuai anjuran untuk pengelasan
  • 152.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Pencegahan Paparan / Kontak dengan Bahaya Pengelasan sebagai berikut: Gas Beracun Asap Las Efek Kesehatan dari Menghirup Asap Las Efek kesehatan dari paparan asap las bisa agak ringan hingga serius dalam jangka pendek, tetapi jika tukang las terpapar dalam jangka panjang, efeknya bisa sangat serius atau fatal. Paparan Akut (Jangka Pendek) • Menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, asma, pusing, dan mual. • Pertolongan : segera meninggalkan area tersebut, mencari udara segar, dan mendapatkan bantuan medis Paparan Kronis (Jangka Panjang) • Menyebabkan kerusakan paru-paru dan berbagai jenis kanker, termasuk paru- paru, laring, dan saluran kemih Mati lemas. Gas-gas seperti helium, argon, dan karbon dioksida menggantikan oksigen di udara dan dapat menyebabkan sesak napas, terutama ketika mengelas di ruang terbatas atau tertutup. Gas karbon monoksida dapat terbentuk, menimbulkan bahaya sesak napas yang serius. Tindakan Pencegahan Pengelasan Welding Precaution
  • 153.
    Dokumen HSE Langkah AwalHSE Tindakan Perlindungan Pengelasan Komunikasi Bahaya • Pengusaha dan pengawas wajib memberikan informasi mengenai potensi bahaya kepada pekerja Kebersihan Area Kerja • Permukaan pengelasan harus dibersihkan dari lapisan apa pun yang berpotensi menimbulkan paparan racun, seperti residu pelarut dan cat. Hembusan Angin • Posisi pengelasan tidak melawan arah angin Ventilasi Baik • Sistem pembuangan portabel atau fleksibel dapat diposisikan sedemikian rupa sehingga asap dan gas ditarik menjauh dari tukang las. Tindakan Pencegahan Pengelasan Welding Precaution
  • 154.
    Jika melakukan pengelasandi kompartemen / raungan / tangki, pastikan ruang tersebut dibuat aman, diuji dan dinyatakan aman Lokasi Pengelasan Welding Location Dokumen HSE Langkah Awal HSE Melakukan Pengelasan di Bengkel las / tempat yang dinyatakan “Aman dari Api” Prinsip bekerja dekat bahan mudah terbakar 1. Pindahkan bahan 10-15 meter 2. Jika tidak bisa, lokasi pengelasan dipindahkan 10- 15 meter 3. Jika tidak bisa, tutup / lindungi material tersebut dengan pelindung api 4. Jika tidak bisa, batasi lokasi pengelasan dengan membarikade lokasi dengan pelindung api (fire blanket / terpal, dll)
  • 155.
    Pengelasan / Pemotongan Wadah Welding/ Cutting Containers Dokumen HSE Langkah Awal HSE Drum / Wadah Bekas Ventilasi dan Pembersihan 1. Jangan mengelas, memotong, atau melakukan pekerjaan panas lainnya pada drum, tong, tangki, atau wadah lain yang sudah terpakai sampai Anda membersihkannya. 2. Beri ventilasi pada semua ruang, rongga, atau wadah yang berongga agar udara atau gas dapat keluar sebelum melakukan pemanasan awal, pemotongan, atau pengelasan. Anda harus membersihkannya dengan gas inert.
  • 156.
    Mengoperasikan Peralatan LasGas Operating Gas Welding Equipment • Gunakan peralatan yang sudah diperiksa dan diuji • Simpan tabung di tempat kering, ber ventilasi baik, terlindung dan jauh dari bahan mudah terbakar • JANGAN simpan tabung oksigen bersamaan dengan tabung Asetilena / bahan bakar gas lainnya • Tabung disimpan posisi vertikal • Jika tabung disimpan dalam posisi horizontal, jangan gunakan sebelum didiamkan dalam posisi tegak setidaknya 2 jam • Jauhkan sejauh mungkin gas silinder dari tempat pemotongan atau pengelasan • Jauhkan tabung dari tempat yang bisa menjadi hantaran listrik • Jangan sekali-kali mengisi tabung asetilena, mencampur gas asetilena Dokumen HSE Langkah Awal HSE
  • 157.
    Mengoperasikan Peralatan LasGas Operating Gas Welding Equipment • Ketika kunci pas khusus diperlukan untuk membuka katup silinder, biarkan kunci pas berada pada posisinya di batang katup saat menggunakan silinder sehingga Anda dapat menutup katup dengan cepat dalam keadaan darurat. • Jauhkan tabung oksigen dari minyak dan gemuk • JANGAN PERNAH melumasi bagian manapun dari tabung oksigen , valve atau fitting • Jangan jatuhkan tabung dan jangan kasar saat menggunakannya • Selalu buka valve silinder secara perlahan • Selalu gunakan Nozzle yang benar dan tekanan yang tepat • Buka valve asetilena dahulu dan nyalakan gas sementara valve oksigen tertutup saat menyalakan nozzle • Tutup valve asetilena terlebih dahulu, lalu tutup oksiden saat memadamkan nozzle Dokumen HSE Langkah Awal HSE
  • 158.
    Mengoperasikan Peralatan LasGas Operating Gas Welding Equipment Dokumen HSE Langkah Awal HSE Backfire (Bumerang) Flashback (Kilas Balik) • Adalah adanya pembakaran sesaat dari nyala api ke dalam ujung senter. Backfire ditandai dengan bunyi letupan atau letupan keras saat nyala api padam. • Backfire tidak terlalu serius. Biasanya Anda dapat menyalakan api lagi tanpa kesulitan. • Jika backfire terus terjadi setiap kali obor dinyalakan, periksa penyebabnya: 1. Ujung yang terlalu panas, 2. Tekanan kerja gas lebih besar dari yang direkomendasikan untuk ukuran ujung yang digunakan, 3. Ujung yang longgar, 4. atau Kotoran pada dudukan ujung obor. • Adalah nyala api menyala di dalam atau di luar ruang pencampuran obor. Suara mendesis atau memekik biasanya menyertai kilas balik. • Pada saat yang sama, nyala api di ujungnya menjadi berasap dan runcing tajam • Apabila terjadi kilas balik, segera matikan katup oksigen senter, kemudian tutup katup asetilena. Anda dapat menghentikan kilas balik sekaligus jika Anda segera menutup katup oksigen. • Pasang Flashback Arrestor untuk tabung cylinder dan torch sebagai alat pengaman apabila terjadi falshabck. Total ada 4 item (2 Oksigen dan 2 Asetilena)
  • 159.
    Mengoperasikan Peralatan LasGas Operating Gas Welding Equipment Dokumen HSE Langkah Awal HSE Pemasangan Flashback Arrestor
  • 160.
    Mengoperasikan Peralatan LasBusur Operating Arc Welding Equipment Dokumen HSE Langkah Awal HSE Tindakan pencegahan untuk pengoperasian peralatan las busur logam meliputi hal-hal berikut: 1. Gunakan peralatan yang sudah diuji dan layak guna 2. Selalu pasang grounding pada rangka mesin 3. Semua sambungan listrik dibuat aman 4. Matikan peralatan jika berhenti dalam waktu cukup lama dan Putus aliran jika tidak digunakan 5. Gantung kabel diatas kepala jika membawa kabel agak jauh dari mesin 6. Jaga agar kabel las tetap kering dan bebas dari minyak atau gemuk, dalam kondisi baik, dan terlindung dari kerusakan.
  • 161.
    Mengoperasikan Mesin Potong OperatingCutting Equipment Dokumen HSE Langkah Awal HSE Tindakan pencegahan untuk pengoperasian peralatan potong logam meliputi hal-hal berikut: 1. Pastikan disc dengan material logam yang akan di potong memiliki spesifikasi yang tepat 2. Periksa kabel, saklar, pengunci mesin terpasang kuat dan layak guna 3. Gunakan klem atau alat bantu pegang agar mengurangi risiko slip 4. Jangan memaksakan mesin apabila material terlalu keras atau tebal 5. Putus saluran listrik ketika ingin mengganti Disc 6. Berikan penutup / pelindung percikan di bagian belakang cutting agar mengurangi percikan api ke area kerja lain
  • 162.
    Mengoperasikan Mesin Gerinda OperatingGrinding Equipment Dokumen HSE Langkah Awal HSE Tindakan pencegahan untuk pengoperasian peralatan potong logam meliputi hal-hal berikut: 1. Pastikan disc dengan material logam yang akan di potong memiliki spesifikasi yang tepat 2. Periksa kabel, saklar, pengunci mesin terpasang kuat dan layak guna 3. Kencang Disc dengan kuat 4. Jangan memaksakan mesin apabila material terlalu keras atau tebal 5. Putus saluran listrik ketika ingin mengganti Disc 6. Perhatikan ukuran rpm disc dan mesin gerina, RPM Disc < RPM Mechine
  • 163.
  • 164.
    PT.HUTAMA KARYA (PERSERO)– DIVISI EPC PROYEK OPEN ACCESS RU-VII KASIM SORONG TRAINING HSSE HK
  • 165.
    TUJUAN PELATIHAN MEMBEKALI PESERTADENGAN PENGETAHUAN, KETERAMPILAN DAN RASA PERCAYA DIRI UNTUK MEMBANTU MEREKA DALAM BERTAHAN HIDUP SAAT TERJADI KECELAKAAN DI LAUT LEPAS.
  • 166.
    SASARAN PELATIHAN Setelah selesaiprogram satu hari ini peserta akan memiliki pengetahuan dan memahami akan : • Peralatan survival perorangan dan teknik-teknik survival • Peralatan rakit penyelamat dan teknik menejemen liferaft • Karakter Sekoci penyelamat • Teknik dasar penanganan cedera di air dingin
  • 167.
    COMPETENCY STANDARDS Peserta pelatihanharus mendemonstrasikan kemampuan dalam : • Memakai lifejacket dengan benar • Melakukan safety jump ke air • Berenang dengan memakai lifejackets • Melakukan posisi HELP dan HUDDLE secara kelompok • Membalikan Liferaft Ketika Posisinya Terbalik • Menaiki liferaft dengan memakai lifejacket
  • 168.
    Travelling Emergency Kapal Peralatan keselamatan Lifejacket Liferaft Sinyaldarurat Radio Beacon Helikopter Cuaca buruk Kebakaran Mesin rusak Baling2 rusak Cuaca buruk, laut ganas Kebakaran Orang jatuh ke laut Tabrakan Bertahan hidup Abandon Ditching at Sea Liferaft From the Air By Boat By Vessel On Island Pertolongan
  • 169.
    On Site Emergency Controlled UncontrolledAbandon Donut/ descent line Water Entry Muster Point Abandon Lifeboat Liferaft Personnel Basket Frog Wear PPE & Lifejacket
  • 170.
  • 171.
  • 172.
  • 173.
    ORANG JATUH KEAIR (MOB) • Segera teriak “ Ada Orang Jatuh” • Cari bantuan • Lemparkan alat bantu apung • Selalu lihat kearah korban
  • 174.
    WATER ENTRY DARIKETINGGIAN • Dilakukan sebagai pilhan terakhir • Pakai lifejacket dengan benar • Cari ketinggian yang paling rendah • Amankan daerah jatuh • Gunakan safety step entry position : • Lihat ke horison • Lakukan safety step • Berputar 1800 didalam air • Timbul kepermukaan menghadap tempat terjun
  • 175.
    Tehknik Berjuang dan BertahanHidup di Air/Laut Langsung
  • 176.
    HELP & HUDDLE H Escape L P − Dapat dilakukan dengan menggunakan PFD − Menutupi hampir seluruh daerah pelepas panas tubuh eat essening osture HUDDLE − Prinsipnya sama dengan posisi HELP − Dilakukan dengan 3 orang atau lebih ( HELP )
  • 177.
    INFLATABLE LIFERAFT Auto realease valbe Dikembungkan denganCO2 Tangga naik Atap Warna yang cerah / terang Durable contruction Kantung air untuk stabilitas Kapasitas 6 – 25 pax
  • 178.
    TEMPAT LIFERAFT  Penyimpanandapat dengan canister (tabung fiber) atau valise (tas)  Sebelum dikembangkan tali painter harus terikat kuat di kapal  Dilepas secara manual dengan memotong straps, tali atau dengan hydrostatic
  • 179.
    PELEPASAN & PENGEMBUNGAN Liferaftsdikembungkan oleh CO2 dari tabung akan terkembung penuh dalam waktu 60 detik Aktifasi tabung dilakukan dengan menarik keras tali painter Kanister atau tas akan terlepas saat liferaft mengembang Manual
  • 180.
  • 181.
    air memberikan tekanan tekanan mengaktifkan mekanis pelepas AUTO RELEASEMECHANISM strap kanister terlepas liferaft mengambang kepermukaan, kapal yang tenggelam akan menarik tali painter mengaktifkan tabungCO jika kapal terus tenggelam, tali tipis akan putus Hydrostatic PELEPASAN & PENGEMBUNGAN
  • 182.
    MEMBALIKKAN LIFERAFT • Putarliferaft sehingga tabung CO2 berada dibawah angin • Balikkan raft dengan berdiri diatas tabung CO2 dan menarik righting strap • Angin akan membantu membalikkan WIND WIND
  • 183.
    PROSEDUR LIFERAFT MASUK /BOARDING  Berbadan sehat masuk terlebih dahulu  Saling membantu saat masuk ke Life Raft  Yang terluka dimasukan terahir dan dibantu  Beri pertolongan kepada personel yang luka  Potong tali painter jikadiperlukan
  • 184.
    LIFERAFT MANAGEMENT • AktifkanEPIRB • Rumuskan rencana • Jelaskan pengoperasian alat pemberitahu lokasi • Potong tali painter • Pindahkan ketempat aman • Periksa kerusakan • Pasangsea anchor P PROTECTION L LOCATION O • Pilih pimpinan • Bagikan tugas • Berikan P3K ORGANIZATION • Keringkan Liferaft • Jemur pakaian basah • Jaga moral & percaya diri C COMFORT
  • 185.
    Liferaft Eqipment PT. EduTalenta Sejahtera
  • 186.
    • Oleh Kapal FRC,Survival craft, Fisherman, Merchant vessel • Dari Udara Survival kit dropped / Helicopter hoisting • Terdampar Hanyut RESCUED kemungkinan:
  • 187.
    b e pr e p a r e d !
  • 188.
    PT.HUTAMA KARYA (PERSERO)– DIVISI EPC PROYEK OPEN ACCESS RU-VII KASIM SORONG TRAINING HSSE HK
  • 189.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media 1.Accident/Kecelakaan: Kejadian yang tidak terduga dan menyebabkan cidera serius atau sakit pada karyawan dan/atau juga dapat mengakibatkan kerusakan properti. 2.Incident/Insiden: Kejadian yang tidak diinginkan dari sebuah pekerjaan yang berpotensi menyebabkan cidera serius atau sakit/penyakit. Incident tidak mengakibatkan cidera serius atau sakit yang parah, namun dapat menyebabkan kerusakan properti. 3.Near miss Hampir Celaka: Setiap kejadian atau urutan peristiwa yang belum menimbulkan kecelakaan tapi berpotensi dapat mengakibatkan kecelakaan.
  • 190.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media INCIDENT
  • 191.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media
  • 192.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Sejarah tentang model penyebab kecelakaan sampai saat ini dapat ditelusuri dari tahun 1920-an melalui tiga fase yang berbeda yaitu : Model linier sederhana (Simple linear models), Model linier kompleks (Complex linear models) dan Model non-linier kompleks (Complex non-linear models). masing-masing model tsb. didasari oleh asumsi spesifik sebagai berikut : A. Model linier sederhana, Mengasumsikan bahwa kecelakaan adalah puncak rangkaian kejadian atau keadaan yang saling berinteraksi secara berurutan secara linier dan dengan demikian kecelakaan dapat dicegah dengan menghilangkan salah satu penyebab dalam urutan linier. Contoh teori pada model ini : Teori Domino Heinrich (1931), Bird and Germain’s Loss Causation Model (1985). B. Model linier kompleks, Didasarkan pada anggapan bahwa kecelakaan adalah akibat dari kombinasi active failure dan kondisi bahaya laten di dalam sistem yang mengikuti jalur linier. Asumsi yang dihasilkan adalah bahwa kecelakaan dapat dicegah dengan memusatkan perhatian pada penguatan hambatan/barrier dan pertahanan/defences. Contoh teori pada model ini : Swiss Cheese Model (James Reason, 1997).
  • 193.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media C. Model non-linier kompleks, Didasarkan pada pemikiran bahwa Kecelakaan dapat dianggap sebagai hasil kombinasi tidak diharapkan / terduga (resonansi) dari variabilitas yang saling berinteraksi yang terjadi pada performance sehari-hari di lingkungan kerja (adjustment). Model ini mengatakan bahwa kecelakaan bisa dicegah dengan melakukan pemantauan dan mengurangi variabilitas. Contoh model ini : Functional Resonance Accident Model (FRAM) (Holnagel, 2004). Dari ketiga jenis model di atas, ada beberapa model/teori penyebab kecelakaan yang terkenal dan digunakan secara luas hingga saat ini yaitu :
  • 194.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media 1. Teori Domino (Heinrich, 1931) Model ini didasarkan pada asumsi bahwa terjadinya cedera yang dapat dicegah adalah puncak alami dari rangkaian kejadian atau keadaan, yang selalu terjadi dalam urutan tetap atau logis. Berdasarkan model domino ini, kecelakaan bisa dicegah dengan menghilangkan salah satu faktor yang dapat mengganggu efek knockdown. Heinrich mengusulkan bahwa "tindakan yang tidak aman dan bahaya mekanis atau fisik" merupakan faktor utama dalam urutan kecelakaan dan bahwa menghilangan faktor ini membuat faktor-faktor sebelumnya menjadi tidak efektif. Heinrich memusatkan perhatian pada faktor manusia, yang disebut sebagai "Man Failure", sebagai penyebab kebanyakan kecelakaan berdasarkan analisisnya terhadap 75.000 klaim asuransi yang menyebutkan bahwa sekitar • 88% penyebab kecelakaan (yang sebenarnya dapat dicegah) merupakan tindakan orang yang tidak aman. • 10% lainnya yaitu kondisi mekanis atau fisik yang tidak aman. • 2% terakhir diakui sebagai tindakan yang tidak bisa dicegah (unpreventable).
  • 195.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media
  • 196.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media 2. Bird and Germain’s Loss Causation Model (1985) Merupakan suatu modifikasi ulang dari teori domino Heinrich. Didasari dari pemikiran atas perlunya sebuah manajemen untuk mencegah dan mengendalikan kecelakaan yang mana ternyata secara cepat menjadi sangat kompleks karena kemajuan teknologi. Mereka mengembangkan model domino yang telah diperbarui yang dianggap mencerminkan hubungan manajemen langsung dengan sebab-akibat dari kecelakaan dan panah yang tergabung untuk menunjukkan interaksi multi linier dari urutan sebab- akibat.
  • 197.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media 3. Swiss Cheese Model (James Reason, 1997) Tidak seperti Heinrich (1931) dan Bird & Germain (1985), Reason menyatakan bahwa kecelakaan tidak semata-mata terjadi karena kesalahan operator individual (kegagalan aktif) namun terletak pada faktor organisasi sistemik yang lebih luas (kondisi laten) di tingkat atas organisasi. Ia menggambarkan berbagai lapisan barrier terjadinya kecelakaan seperti keju swiss yang memiliki lubang-lubang tertentu. Dalam dunia yang ideal semua lapisan pertahanan akan utuh, tidak memungkinkan terjadinya suatu kondisi penetrasi oleh jalur lintasan kecelakaan. Namun di dunia nyata, bagaimanapun, setiap lapisan memiliki kelemahan dan celah. lubang di dalam setiap lapisan dapat bergeser, datang dan pergi, menyusut dan meluas sebagai respons terhadap tindakan operator dan tuntutan lokal (local demand). Reason tidak menentukan apa yang terwakili oleh lubang-lubang pada berbagai lapisan keju. Model tersebut memberikan ruang untuk profesional K3 melakukan penyelidikan mereka sendiri mengenai faktor-faktor apa yang terkait di dalam organisasi tersebut. Model "Swiss Cheese" hanya suatu komponen dari model yang lebih komprehensif yang disebut Reason Model of Systems Safety.
  • 198.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media
  • 199.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media 4. Functional Resonance Accident Model (FRAM) (Erick Hollnagel, 2004) Model ini menjelaskan penyebab kecelakaan pd sistem socio-technical kompleks. FRAM didasarkan pada teori kecelakaan sistemik yang kompleks yang menganggap bahwa varians dan toleransi sistem akan mengakibatkan kecelakaan ketika sistem tidak dapat mentolerir variasi tersebut dalam mode operasi normalnya. Hollnagel mengenalkan bahwa sistem yang kompleks terdiri dari sejumlah besar subsistem dan komponen dengan variabilitas kinerja yang biasanya diserap di dalam sistem dengan sedikit efek negatif pada keseluruhan. Empat sumber utama variabilitas diidentifikasi sebagai: Humans, Technology, Latent conditions, Barriers. Hollnagel mengutarakan bahwa ketika variabel dalam sistem menjadi terlalu besar bagi sistem untuk menyerapnya; kemungkinan melalui kombinasi variabel subsistem manusia, teknologi, kondisi laten dan hambatan; maka hasilnya adalah menjadi tidak terdeteksi dan tidak diinginkan. Itu adalah hasil 'resonansi fungsional', yang menyebabkan sistem tidak dapat mengatasi mode fungsi normalnya.
  • 200.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media
  • 201.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media SEBAB AKIBAT
  • 202.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media JALUR INSIDEN
  • 203.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Catastrophic 1. Orang: Meninggal dunia, cacat permanent yang serius. Biaya pengobatan untuk penyakit akibat kerja ≥50 juta rupiah. 2. Lingkungan: Tumpahan bahan berbahaya (B3) dan minyak lebih dari 100 barel/15,899 liter. Beresiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan yang memungkinkan atau secara nyata memerlukan evakuasi pada area disekitarnya. 3. Asset: Kerusakan property yang parah, kebakaran, runtuhnya bangunan Kecelakaan yang menyebabkan terhentinya proses secara sementara ( lebih dari 48 jam) atau secara permanen. Segala kecelakaan yang mengakibatkan total biaya kerugian sama dengan atau lebih dari 1 juta USD. Major 1. Orang: Cidera yang mengakibatkan kehilangan hari kerja, kecacatan secara parsial yang berpotensi terjadinya kematian. Biaya pengobatan untuk cidera kurang dari 10 juta rupiah hingga 50 juta rupiah 2. Lingkungan: Terjadi tumpahan bahan berbahaya (B3) lebih dari 5 barrel hingga 100 barrel (795 liter hingga 15,899 liter) Pencemaran atau degradasi yang terus menerus (lebih dari 3 bulan) namun efek kerusakan pada lingkungan dan atau komunitas bersifat reversible (dapat pulih kembali). 3. Asset: Kejadian kecelakaan yang mengakibatkan total biaya kerugian lebih dari 100 juta USD dan kurang dari satu juta USD. Termasuk kebakaran, peledakan yang tidak terencana dan kegagalan. Segala kejadian yang mengakibatkan berhentinya proses selama 24 Jam.
  • 204.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Serious 1. Orang: Kecelakaan yang memerlukan pengobatan secara medis dan kejadian kecelakaan yang mengakibatkan hari kerja dengan kemampuan terbatas. Biaya Pengobatan medis untuk cidera / luka ≤ 10 Juta Rupiah. 2. Lingkungan: Tumpahan minyak dan bahan kimia kurang dari 5 barel (795 liter). 3. Asset: Setiap kejadian kecelakaan (termasuk kebakaran, kerusakan Asset, peralatan dan kendaraan) yang total kerugian diperkirakan antara $10.000 dan $100.000 (USD). Setiap kejadian kecelakaan yang mengakibatkan terhentinya produksi 4 hingga 24 jam Minor 1. Orang: Cidera yang bisa diatasi dengan pertolongan pertama. Biaya pengobatan untuk penyakit akibat kerja ≤ satu juta rupiah . 2. Lingkungan: Tumpahan bahan kimia dan minyak hingga 1 barel (159 liter) Kerugian kecil atau dampak ke habitat (flora dan fauna) air dan tanah, tapi tidak memiliki efek negatif pada ekosistem (contoh kecelakaan yang merobohkan satu pohon). 3. Asset: Setiap kejadian (termasuk kebakaran kecil, perlalatan / kerusakan kendaraan yang mengakibatkan kerugian kurang dari $10, 000 (USD) Setiap kejadian kecelakaan yang menyebabkan hingga 4 jam tidak menghasilkan produk Near Miss Tidak ada cidera, tidak ada kerusakan asset dan kecelakaan lingkungan namun berpotensi untuk terjadi
  • 205.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Pada Korban / Injury Person • Meninggal • Sakit dan Menderita • Kehilangan Penghasilan • Pengeluaran Extra • Ketidaksanggupan untuk kembali bekerja • Merasa tak berguna (faktor psikologis korban) • Akibat kepada tanggungan Pada Pengawas • Kehilangan pekerja handal • Melatih karyawan baru • Kehilangan Produksi • Kerja ekstra untuk investigasi • Kehilangan Prestise • Kekuatiran ( Dapatkah saya mencegahnya? ) Pada Perusahaan • Kehilangan Produksi • Kerusakan Mesin dan Peralatan • Premi asuransi bertambah • Kehilangan Prestise • Kehilangan Kontrak, klien mengukur kinerja program pelaksanaan keselamatan kerja
  • 206.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Investigasi kecelakaan kerja adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi penyebab suatu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja. Tujuannya adalah • Mengetahui penyebab utama kecelakaan. • Mencegah kejadian serupa di masa mendatang. • Mengidentifikasi faktor risiko yang belum terdeteksi. • Meningkatkan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3). • Memenuhi persyaratan hukum dan regulasi terkait K3. • Mengurangi dampak negatif kecelakaan terhadap pekerja dan perusahaan. Investigasi ini mencakup pengumpulan data, analisis penyebab, serta rekomendasi perbaikan. Proses investigasi kecelakaan kerja umumnya melibatkan beberapa tahap sebagai berikut: a. Pelaporan Kecelakaan b. Pengumpulan Data c. Analisis Penyebab Kecelakaan d. Penentuan Langkah Perbaikan e. Pelaporan dan Dokumentasi f. Implementasi dan Evaluasi Tim Investigasi Dibentuk dengan mempertimbangkan: • Peraturan pemerintah dan persyaratan klien • T enaga ahli khusus (certified sebagai investigator atau pernah mengikuti pelatihan investigasi). • Bantuan Administrasi yang diperlukan. • Variasi keahlian (Tim Ahli Khusus). • Potensi konflik kepentingan.
  • 207.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Matriks Tim Investigasi
  • 208.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media a. Pelaporan Kecelakaan  Setiap kecelakaan harus segera dilaporkan kepada pihak yang berwenang, seperti atasan, petugas K3, atau pihak manajemen.  Dokumentasi awal dilakukan dengan mencatat waktu, lokasi, serta dampak dari kecelakaan tersebut. b. Pengumpulan Data  Mengamankan lokasi kejadian untuk mencegah gangguan atau perubahan bukti.  Mengambil foto dan video dari lokasi kecelakaan.  Mewawancarai saksi mata dan korban untuk mendapatkan gambaran detail kejadian.  Mengumpulkan dokumen terkait, seperti laporan kerja, prosedur keselamatan, dan rekaman CCTV jika tersedia. c. Analisis Penyebab Kecelakaan  Menggunakan metode seperti 5 Why’s Analysis, Fishbone Diagram, atau Fault Tree Analysis untuk mengidentifikasi akar masalah.  Menentukan apakah kecelakaan terjadi akibat kesalahan manusia, kegagalan peralatan, lingkungan kerja yang tidak aman, atau kombinasi faktor-faktor tersebut.
  • 209.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media d. Penentuan Langkah Perbaikan  Merekomendasikan tindakan korektif untuk mencegah kejadian serupa.  Menyusun kebijakan atau prosedur baru jika diperlukan.  Melakukan pelatihan tambahan bagi pekerja terkait keselamatan kerja. e. Pelaporan dan Dokumentasi  Menyusun laporan resmi berisi kronologi kejadian, hasil analisis, dan langkah perbaikan.  Mengarsipkan laporan untuk referensi di masa depan dan sebagai bukti kepatuhan terhadap regulasi K3. f. Implementasi dan Evaluasi  Melaksanakan tindakan perbaikan yang telah disarankan.  Memantau efektivitas perbaikan dengan inspeksi berkala.  Melakukan evaluasi ulang untuk memastikan keselamatan kerja terus meningkat.
  • 210.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Dalam melakukan investigasi kecelakaan kerja, beberapa faktor berikut perlu diperhatikan: • Aspek teknis: kondisi alat dan mesin, pemeliharaan, serta faktor ergonomis. • Aspek manusia: pelatihan pekerja, kepatuhan terhadap prosedur, serta faktor kelelahan dan stres. • Aspek lingkungan: kondisi tempat kerja, pencahayaan, ventilasi, dan risiko lain yang mempengaruhi keselamatan. • Aspek prosedural: kepatuhan terhadap regulasi dan kebijakan perusahaan terkait K3. • Aspek organisasi: komunikasi internal, supervisi, serta budaya keselamatan di tempat kerja.
  • 211.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Interogasi atau wawancara dalam investigasi kecelakaan bertujuan untuk mengumpulkan informasi, mengklarifikasi kejadian, serta menemukan penyebab utama kecelakaan. Proses ini memerlukan pendekatan sistematis agar informasi yang diperoleh akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Identifikasi semua orang yang terlibat atau mempunyai informasi dan dapatkan pernyataannya melalui wawancara/interogasi. 1. Persiapan Sebelum Wawancara atau Interogasi. 2. Pelaksanaan Wawancara atau Interogasi. 3. Setelah Wawancara atau Interogasi. 4. Teknik Khusus dalam Interogasi untuk Kasus yang Kompleks
  • 212.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media 1. Persiapan Sebelum Wawancara atau Interogasi Sebelum melakukan interogasi atau wawancara, penyelidik harus: a. Menentukan Tujuan dan Sasaran  Menentukan informasi apa yang ingin diperoleh.  Mengidentifikasi saksi atau pihak yang harus diwawancarai (korban, saksi mata, pekerja lain, supervisor, dll.).  Menyusun daftar pertanyaan yang sesuai dengan peran dan keterlibatan saksi dalam kecelakaan. b. Mengumpulkan Data Pendukung  Dokumen yang relevan seperti laporan kecelakaan awal, CCTV, hasil inspeksi tempat kejadian, dan riwayat kerja saksi.  Bukti fisik di lokasi kecelakaan seperti kendaraan, mesin, alat keselamatan, atau sisa material yang terlibat. c. Menentukan Lokasi dan Waktu yang Tepat  Tempat yang tenang dan netral agar saksi nyaman berbicara.  Waktu wawancara sebaiknya dilakukan segera setelah kecelakaan terjadi agar informasi yang diperoleh masih segar dalam ingatan.
  • 213.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media 2. Pelaksanaan Wawancara atau Interogasi Ada beberapa tahapan penting yang harus diperhatikan dalam wawancara investigasi kecelakaan: a. Membangun Hubungan dengan Saksi  Memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan wawancara.  Menggunakan nada suara yang tenang dan tidak mengintimidasi.  Memastikan saksi nyaman dan merasa aman untuk berbicara. b. Menanyakan Pertanyaan Awal yang Bersifat Umum  "Apa yang Anda lihat saat kejadian?"  "Di mana posisi Anda ketika kecelakaan terjadi?"  "Apa yang Anda lakukan sebelum, selama, dan setelah kejadian?"  "Siapa saja yang berada di lokasi pada saat kejadian?"
  • 214.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media c. Menggali Informasi dengan Detail Setelah mendapatkan gambaran umum, lanjutkan dengan pertanyaan spesifik:  Kronologi Kecelakaan: Minta saksi menceritakan kejadian secara rinci.  Faktor Lingkungan: Apakah ada faktor cuaca, pencahayaan, atau kondisi kerja yang berpengaruh?  Faktor Peralatan: Apakah ada masalah teknis dengan alat atau mesin yang digunakan?  Faktor Manusia: Apakah ada kelalaian, kelelahan, atau tekanan kerja yang memengaruhi kejadian?  Tindakan Setelah Kecelakaan: Bagaimana respons setelah kejadian? Siapa yang pertama kali memberikan bantuan? d. Mengamati Bahasa Tubuh dan Ekspresi Saksi  Perhatikan apakah saksi tampak ragu-ragu atau gelisah.  Catat jika ada inkonsistensi dalam jawaban yang diberikan.  Gunakan teknik observasi untuk mengidentifikasi tanda-tanda ketidaksesuaian dalam cerita.
  • 215.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media e. Menggunakan Teknik Klarifikasi dan Konfirmasi  Gunakan teknik PARA-PHRASING (mengulang kembali dengan kata-kata sendiri) untuk memastikan pemahaman.  "Jadi, Anda mengatakan bahwa mesin mengalami malfungsi sebelum kecelakaan terjadi, benar?"  Jika ada perbedaan pernyataan dari saksi lain, tanyakan dengan cara yang tidak menghakimi. f. Merekam atau Mendokumentasikan Wawancara  Jika memungkinkan, rekam wawancara dengan persetujuan saksi.  Jika tidak bisa merekam, buat catatan yang akurat tentang jawaban yang diberikan. Mungkin diperlukan untuk mewawancarai seseorang lebih dari satu kali seiring perkembangan informasi dan fakta yang didapat.
  • 216.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media 3. Setelah Wawancara atau Interogasi Setelah sesi wawancara selesai, lakukan langkah berikut: a. Menganalisis dan Membandingkan Informasi/Crosscheck  Bandingkan jawaban antar saksi untuk mencari kesesuaian atau inkonsistensi.  Cocokkan informasi yang diperoleh dengan bukti fisik di lokasi kecelakaan. b. Membuat Laporan Wawancara  Rangkuman hasil wawancara harus jelas, objektif, dan tidak mengandung interpretasi pribadi.  Sertakan kutipan langsung dari saksi jika perlu untuk memperkuat bukti. c. Menggunakan Informasi untuk Menentukan Penyebab Kecelakaan  Identifikasi apakah kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia, teknis, atau lingkungan.  Gunakan hasil wawancara untuk menyusun rekomendasi tindakan perbaikan atau pencegahan.
  • 217.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media 4. Teknik Khusus dalam Interogasi untuk Kasus yang Kompleks Jika terdapat saksi yang mencurigakan atau enggan memberikan informasi, gunakan teknik berikut: a. Teknik Pertanyaan Berurutan Mulai dengan pertanyaan sederhana, kemudian secara bertahap menuju pertanyaan yang lebih spesifik untuk menghindari saksi menutup diri. b. Teknik Konfrontasi (Jika Diperlukan)  Jika ada perbedaan cerita, tanyakan dengan cara yang netral: "Kami memiliki informasi berbeda dari saksi lain. Bisakah Anda menjelaskan lebih lanjut?"  Gunakan bukti fisik atau rekaman CCTV untuk mengonfirmasi pernyataan saksi. c. Teknik Silent Pause (Diam Sejenak) Jika saksi tampak ragu atau menutup diri, diam sejenak dapat memberi mereka ruang untuk berpikir dan mungkin memberikan informasi tambahan.
  • 218.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media d. Teknik Pengulangan Meminta saksi menceritakan ulang kejadian dengan cara berbeda untuk melihat apakah ada ketidaksesuaian dalam cerita mereka. e. Pisahkan Fakta dengan Fiksi Gunakan dasar analisis informasi NORMS • Not Interpretation (Bukan tafsiran) • Observable (Bisa diamati) • Reliable (Dapat dipercaya) • Measureable (Dapat diukur) • Specific (Khusus) Jika satu hal memenuhi salah satu kriteria di atas, maka itu adalah fakta.
  • 219.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media
  • 220.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA) Root Cause Analysis (RCA) adalah metode sistematis untuk mengidentifikasi akar penyebab suatu masalah atau kejadian yang tidak diinginkan, seperti kecelakaan kerja, cacat produk, atau kegagalan sistem. RCA bertujuan untuk menemukan penyebab mendasar dari masalah, bukan hanya gejala yang muncul, sehingga solusi yang diambil benar-benar efektif dan dapat mencegah kejadian serupa di masa depan. Prinsip Utama RCA: 1. Fokus pada Penyebab Utama, Bukan Gejala : RCA tidak hanya mencari apa yang terjadi, tetapi juga mengapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi. 2. Menggunakan Data dan Fakta : Analisis harus berbasis bukti, bukan asumsi atau dugaan. 3. Pendekatan Sistematis dan Berulang : RCA dilakukan secara bertahap dan dapat diulang jika perlu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam. 4. Bertujuan untuk Pencegahan : Tujuan utama RCA adalah mencegah masalah yang sama terjadi kembali di masa depan.
  • 221.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Langkah-Langkah Root Cause Analysis (RCA): 1. Identifikasi Masalah  Tentukan masalah yang sedang terjadi.  Definisikan dengan jelas: Apa yang terjadi? Di mana? Kapan? Seberapa sering?  Gunakan data dan fakta untuk mendukung definisi masalah. 2. Kumpulkan Data  Kapan dan di mana masalah terjadi?  Siapa saja yang terlibat?  Apa dampak dari kejadian ini?  Gunakan bukti seperti laporan kejadian, rekaman CCTV, wawancara saksi, atau data operasional. ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA)
  • 222.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media 3. Analisis Penyebab (Mencari Akar Masalah) Gunakan berbagai teknik analisis untuk menemukan akar penyebab masalah:  5 Why Analysis (Analisis 5 Mengapa)  Fishbone Diagram (Diagram Tulang Ikan/Ishikawa)  Fault Tree Analysis (FTA)  Pareto Analysis (Prinsip 80/20)  Change Analysis (Analisis Perubahan)  Kepner-Tregoe Analysis (Rational Process Analysis)  Mind Mapping  Bow Tie 4. Identifikasi Solusi dan Perbaikan  Setelah mengetahui akar masalah, cari solusi yang efektif dan permanen.  Tentukan solusi berdasarkan efektivitas dan kemudahan implementasi.  Libatkan tim terkait untuk memastikan solusi dapat diterapkan. ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA)
  • 223.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media 5. Implementasi dan Pemantauan  Terapkan solusi yang telah dirancang.  Pantau hasil dan pastikan masalah tidak terjadi lagi. Lakukan audit berkala untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan. 6. Dokumentasi dan Pembelajaran  Catat semua hasil RCA, solusi, dan tindakan yang telah diambil.  Gunakan hasil RCA sebagai pembelajaran untuk mencegah masalah di masa depan. Contoh solusi berdasarkan RCA:  Jika akar masalah adalah kurangnya pela han → Buat program pelatihan berkala.  Jika akar masalah adalah peralatan yang kurang perawatan → Buat jadwal maintenance rutin.  Jika akar masalah adalah SOP yang dak ada → Buat dan sosialisasikan SOP baru. ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA)
  • 224.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media TEKNIK ANALISIS Root Cause Analysis (RCA) menggunakan berbagai teknik untuk mengidentifikasi akar penyebab suatu masalah. Berikut adalah beberapa teknik yang umum digunakan dalam RCA beserta penjelasannya : 1. 5 Why Analysis (Analisis 5 Mengapa) Teknik ini bertujuan untuk menggali penyebab mendalam dengan bertanya "Mengapa?" berulang kali hingga akar masalah ditemukan. Cara Melakukan: 1. Tuliskan masalah utama. 2. Tanyakan "Mengapa?" masalah itu terjadi. 3. Jawaban dari pertanyaan pertama digunakan untuk menanyakan "Mengapa?" lagi. 4. Ulangi hingga mencapai akar penyebab yang paling mendasar. 5 Why’s
  • 225.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Contoh:  Masalah: Mesin produksi tiba-tiba berhenti. 1. Mengapa? → Karena motor mesin rusak. 2. Mengapa motor rusak? → Karena overheat. 3. Mengapa overheat? → Karena sistem pendingin dak berfungsi. 4. Mengapa sistem pendingin tidak berfungsi? → Karena dak dilakukan perawatan rutin. 5. Mengapa tidak dilakukan perawatan rutin? → Karena dak ada SOP perawatan mesin.  Akar Masalah : Tidak adanya SOP perawatan mesin.  Solusi : Membuat SOP perawatan mesin dan melatih operator untuk mengikutinya. Why...? Why...? Why...? TEKNIK ANALISIS 5 Why’s
  • 226.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media KEUNTUNGAN: Mengidentifikasi proses yang hilang atau tidak efektif yang "memungkinkan" terjadinya masalah, kecelakaan, atau insiden. Fokusnya adalah "orang tidak gagal, proses yang gagal". KEKURANGAN: Mensyaratkan agar orang yang menjawab setiap pertanyaan tetap berpikiran terbuka dan menghindari asumsi yang dapat mengarah pada jawaban yang tidak terkait dengan masalah utama. Untuk hasil terbaik, fasilitator perlu menyadari bahwa ketika jawaban menjangkau isu yang tampaknya berada di luar jangkauan kelompok, seperti kurangnya waktu atau uang, fasilitator sebaiknya bertanya "mengapa prosesnya gagal?" TEKNIK ANALISIS 5 Why’s
  • 227.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Fishbone Diagram (Diagram Tulang Ikan/Ishikawa) 2. Fishbone Diagram (Diagram Tulang Ikan/Ishikawa) Diagram ini membantu mengidentifikasi berbagai kemungkinan penyebab masalah dengan mengelompokkan penyebab ke dalam beberapa kategori utama. Cara Melakukan: 1. Tulis masalah utama di bagian kanan diagram (kepala ikan). 2. Tarik garis utama ke kiri sebagai "tulang punggung". 3. Tambahkan kategori penyebab utama sebagai cabang tulang ikan: o Man (Manusia): Kesalahan operator, kurang pelatihan. o Method (Metode): SOP yang salah, prosedur tidak jelas. o Machine (Mesin): Alat rusak, kurang perawatan. o Material (Bahan): Bahan baku tidak sesuai standar. o Environment (Lingkungan): Tempat kerja tidak aman. 4. Tambahkan faktor-faktor spesifik ke setiap kategori hingga menemukan akar penyebab masalah. TEKNIK ANALISIS
  • 228.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Contoh: Jika ada kecelakaan kerja, kategori penyebab bisa berupa:  Manusia : Kurang pelatihan.  Metode : SOP tidak jelas.  Mesin : Alat tidak berfungsi dengan baik.  Lingkungan : Area kerja licin. Kepala ikan adalah Kejadian / Incident TEKNIK ANALISIS Fishbone Diagram (Diagram Tulang Ikan/Ishikawa)
  • 229.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media TEKNIK ANALISIS Fishbone Diagram (Diagram Tulang Ikan/Ishikawa)
  • 230.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media TEKNIK ANALISIS Fault Tree Analysis (FTA) 3. Fault Tree Analysis (FTA) Teknik ini berbentuk diagram pohon yang menunjukkan hubungan logis antara masalah utama dengan penyebabnya. Cara Melakukan: 1. Mulai dengan masalah utama di bagian atas (root). 2. Tambahkan cabang ke bawah untuk menunjukkan faktor penyebab langsung. 3. Gunakan simbol logika seperti AND dan OR untuk menunjukkan hubungan antar penyebab. 4. Terus pecah faktor hingga mencapai akar penyebab yang paling spesifik. Event / Incident Basic Event Basic Event Basic Event Fault Event Basic Event Basic Event
  • 231.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Contoh: Jika terjadi kecelakaan kerja, FTA bisa terlihat seperti:  Kecelakaan terjadi karena (OR): o Operator tidak memakai APD. o Mesin mengalami kegagalan teknis.  Mesin mengalami kegagalan teknis karena (AND): o Tidak ada pemeliharaan rutin. o Komponen sudah aus. Kecelakaan AND OR Operator tidak memakai APD Tidak ada Pemeliharaan rutin Komponen Sudah Aus Mesin mengalami kegagalan teknis TEKNIK ANALISIS Fault Tree Analysis (FTA)
  • 232.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media TEKNIK ANALISIS Fault Tree Analysis (FTA)
  • 233.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Pareto Analysis (Prinsip 80/20) 4. Pareto Analysis (Prinsip 80/20) Teknik ini digunakan untuk menentukan penyebab utama yang memberikan dampak terbesar terhadap masalah. Berdasarkan prinsip 80/20, yaitu 80% masalah disebabkan oleh 20% penyebab utama. Cara Melakukan: 1. Kumpulkan data tentang berbagai penyebab masalah. 2. Hitung frekuensi atau dampak dari masing-masing penyebab. 3. Urutkan penyebab dari yang paling sering terjadi hingga yang paling jarang. 4. Buat diagram batang untuk memvisualisasikan penyebab utama. 5. Fokuskan perbaikan pada penyebab yang memberikan dampak terbesar. TEKNIK ANALISIS
  • 234.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Keuntungan : 1. Mempermudah Identifikasi Masalah Utama – Membantu fokus pada faktor-faktor yang paling berpengaruh dalam suatu masalah. 2. Meningkatkan Efisiensi – Memungkinkan alokasi sumber daya yang lebih efektif dengan menangani penyebab utama terlebih dahulu. 3. Membantu Pengambilan Keputusan – Memudahkan dalam menetapkan prioritas tindakan berdasarkan dampaknya. 4. Dapat Diterapkan di Berbagai Bidang – Cocok digunakan dalam manajemen kualitas, bisnis, produksi, dan berbagai industri lainnya. 5. Menyediakan Data yang Jelas dan Visual – Biasanya disajikan dalam bentuk diagram Pareto, yang memudahkan analisis dan pemahaman. TEKNIK ANALISIS Pareto Analysis (Prinsip 80/20)
  • 235.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Kekurangan : 1. Tidak Menganalisis Hubungan Sebab-Akibat Secara Mendalam – Hanya menunjukkan frekuensi atau dampak masalah, tanpa menjelaskan hubungan antara penyebabnya. 2. Tidak Menunjukkan Solusi Secara Langsung – Analisis Pareto hanya membantu dalam menentukan prioritas, tetapi tidak menyediakan solusi konkret. 3. Bergantung pada Ketersediaan Data – Hasil analisis bisa kurang akurat jika data yang digunakan tidak lengkap atau bias. 4. Tidak Cocok untuk Masalah yang Kompleks – Jika masalah memiliki banyak faktor yang saling berhubungan, metode ini mungkin kurang efektif. 5. Dapat Mengabaikan Faktor-Faktor Minor yang Mungkin Penting – Karena hanya fokus pada faktor terbesar, ada kemungkinan penyebab kecil tapi signifikan terabaikan. TEKNIK ANALISIS Pareto Analysis (Prinsip 80/20)
  • 236.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media TEKNIK ANALISIS Pareto Analysis (Prinsip 80/20)
  • 237.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media TEKNIK ANALISIS Change Analysis (Analisis Perubahan) Teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi perubahan yang menyebabkan masalah terjadi. Cara Melakukan: 1. Bandingkan kondisi sebelum dan sesudah masalah muncul. 2. Identifikasi perubahan signifikan dalam prosedur, peralatan, bahan, atau lingkungan. 3. Tentukan apakah perubahan tersebut terkait dengan masalah yang terjadi. Contoh:  Masalah: Produktivitas turun setelah perubahan shift kerja.  Analisis: Sebelum perubahan, produktivitas stabil. Setelah perubahan, banyak pekerja mengeluh kelelahan.  Akar Masalah: Jadwal kerja baru tidak memberikan waktu istirahat yang cukup.  Solusi: Sesuaikan kembali jadwal kerja agar lebih seimbang.
  • 238.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Keuntungan : 1. Membantu Mengidentifikasi Penyebab Masalah – Dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah perubahan, analisis ini dapat mengungkap penyebab utama suatu masalah. 2. Cocok untuk Investigasi Kecelakaan atau Gangguan Sistem – Berguna dalam memahami kejadian tak terduga dengan menyoroti perubahan yang terjadi. 3. Mudah Dipahami – Teknik ini relatif sederhana dan dapat digunakan oleh berbagai tingkat keahlian dalam organisasi. 4. Dapat Digunakan di Berbagai Bidang – Analisis ini dapat diterapkan dalam manajemen risiko, produksi, keselamatan kerja, dan teknologi informasi. 5. Meningkatkan Kesadaran akan Faktor Risiko – Dengan memahami perubahan yang berkontribusi terhadap masalah, organisasi dapat lebih waspada dalam pengambilan keputusan di masa depan. TEKNIK ANALISIS Change Analysis (Analisis Perubahan)
  • 239.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Kekurangan : 1. Hanya Efektif Jika Perubahan Jelas – Jika tidak ada perubahan yang signifikan atau sulit dideteksi, analisis ini menjadi kurang bermanfaat. 2. Bergantung pada Data yang Tersedia – Jika data mengenai kondisi sebelum dan sesudah perubahan tidak lengkap, hasil analisis bisa kurang akurat. 3. Tidak Selalu Menunjukkan Hubungan Sebab-Akibat Secara Langsung – Perubahan yang diidentifikasi mungkin hanya kebetulan dan bukan penyebab utama masalah. 4. Kurang Efektif untuk Masalah yang Kompleks – Jika suatu masalah memiliki banyak faktor yang saling berinteraksi, metode ini mungkin tidak cukup untuk menemukan akar penyebabnya. 5. Dapat Mengabaikan Faktor Non-Perubahan – Fokus pada perubahan bisa menyebabkan faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap masalah menjadi terlewatkan. Analisis Perubahan berguna dalam banyak situasi, tetapi sering kali perlu dikombinasikan dengan metode lain seperti Root Cause Analysis (RCA) atau Fault Tree Analysis (FTA) untuk hasil yang lebih komprehensif. TEKNIK ANALISIS Change Analysis (Analisis Perubahan)
  • 240.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media TEKNIK ANALISIS Kepner-Tregoe Analysis (Rational Process Analysis) Kepner-Tregoe Analysis (juga dikenal sebagai Kepner-Tregoe Method atau KT Method) adalah suatu pendekatan sistematis untuk pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang dikembangkan oleh Charles Kepner dan Benjamin Tregoe pada tahun 1960-an. Metode ini dirancang untuk membantu individu dan organisasi berpikir secara rasional dan objektif dalam menghadapi masalah kompleks. Empat Langkah Utama Kepner-Tregoe Analysis: 1. Situational Analysis (Analisis Situasi)  Tujuan: Menentukan prioritas dan arah perhatian Langkah-langkah: •Identifikasi masalah, kekhawatiran, dan peluang yang sedang dihadapi •Klasifikasikan berdasarkan urgensi dan dampaknya •Tentukan mana yang harus ditangani terlebih dahulu 2. Problem Analysis (Analisis Masalah)  Tujuan: Mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah Langkah-langkah: •Apa masalahnya? (deskripsikan gejala) •Dimana dan kapan masalah terjadi? •Seberapa besar dampaknya? •Apa saja perbedaan antara kondisi normal dan abnormal? •Gunakan pola "Is / Is Not" (Apa yang adalah dan bukan bagian dari masalah) •Identifikasi kemungkinan penyebab, lalu uji hipotesis tersebut terhadap fakta 3.
  • 241.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media 3. Decision Analysis (Analisis Keputusan)  Tujuan: Memilih solusi terbaik di antara berbagai alternatif Langkah-langkah: •Tetapkan tujuan keputusan (misalnya: efisiensi, biaya rendah, dampak jangka panjang) •Identifikasi opsi atau alternatif •Evaluasi tiap alternatif berdasarkan kriteria objektif dan subyektif •Berikan nilai atau bobot pada setiap kriteria •Pilih opsi dengan skor tertinggi 4. Potential Problem Analysis (Analisis Masalah Potensial)  Tujuan: Mengantisipasi hambatan dan merencanakan tindakan pencegahan Langkah-langkah: •Identifikasi potensi risiko dari keputusan atau rencana •Analisis kemungkinan penyebab kegagalan •Kembangkan tindakan pencegahan (preventive actions) •Siapkan rencana kontingensi (corrective actions) bila masalah terjadi TEKNIK ANALISIS Kepner-Tregoe Analysis (Rational Process Analysis)
  • 242.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media TEKNIK ANALISIS Kepner-Tregoe Analysis (Rational Process Analysis)
  • 243.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media TEKNIK ANALISIS Mind Mapping Mind Mapping adalah metode visualisasi informasi dalam bentuk peta pikiran yang menggambarkan hubungan antara ide, konsep, atau informasi lainnya secara hierarkis dan bercabang. Teknik ini sangat berguna untuk brainstorming, perencanaan, mencatat, serta analisis masalah. Teknik ini dikembangkan oleh Tony Buzan, seorang penulis dan pakar dalam bidang fungsi otak. Metode ini meniru cara kerja otak manusia dalam mengasosiasikan dan menghubungkan informasi secara non-linear. Langkah-langkah Membuat Mind Map: 1.Tentukan topik utama → Letakkan di tengah halaman dan tulis dengan jelas. 2.Buat cabang utama (ide besar) → Dari topik pusat, buat cabang untuk tiap ide kunci yang relevan. 3.Tambah cabang sekunder (detail atau contoh) → Kembangkan lebih lanjut setiap cabang utama dengan sub-ide. 4.Gunakan warna & simbol → Untuk membedakan cabang dan meningkatkan ingatan visual. 5.Gunakan kata kunci singkat → Hindari kalimat panjang; fokus pada inti ide.
  • 244.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Contoh Topik Utama: Kecelakaan Kerja Cabang Utama & Turunannya: 1.Penyebab Utama 1. Kelalaian pekerja 2. Alat pelindung tidak digunakan 3. Mesin rusak 4. Kurangnya pelatihan 2.Dampak 1. Cedera fisik 2. Waktu kerja hilang 3. Penurunan produktivitas 4. Biaya kompensasi tinggi 3.Langkah Tindakan 1. Pelatihan keselamatan kerja 2. Pemeliharaan mesin berkala 3. Audit keselamatan 4. Penyediaan dan pemantauan penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) 4.Pihak Terlibat 1. Korban 2. Tim K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) 3. Manajemen 4. Tim HR & Legal 5.Dokumentasi & Laporan 1. Formulir insiden 2. Laporan investigasi 3. Evaluasi risiko TEKNIK ANALISIS Mind Mapping
  • 245.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media TEKNIK ANALISIS Mind Mapping
  • 246.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media TEKNIK ANALISIS Bow Tie Teknik Analisis Bow Tie adalah metode visual yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko dengan memetakan hubungan antara penyebab, kejadian kritis, dan konsekuensi, serta pengendalian pencegahan dan pemulihan. Struktur Bow Tie (Dasar): Visualnya menyerupai dasi kupu-kupu (bow tie) dengan: •Bahaya (Hazard): Ancaman awal atau potensi risiko •Peristiwa Puncak (Top Event): Kejadian kritis yang terjadi jika kendali gagal •Penyebab (Threats): Faktor-faktor yang dapat memicu top event •Konsekuensi (Consequences): Dampak jika top event terjadi •Pengendalian (Barriers): • Preventive Barriers (kiri): Untuk mencegah top event terjadi • Mitigating Barriers (kanan): Untuk meminimalkan dampak top event
  • 247.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Langkah Teknik Bow Tie: 1.Identifikasi Bahaya (Hazard) • Tentukan sumber bahaya yang berpotensi menyebabkan peristiwa tidak diinginkan. 2.Tentukan Top Event (Peristiwa Puncak) • Peristiwa kritis yang terjadi jika pengendalian terhadap bahaya gagal. 3.Identifikasi Ancaman (Threats) • Apa saja yang dapat menyebabkan top event terjadi? 4.Identifikasi Konsekuensi (Consequences) • Apa dampaknya jika top event benar-benar terjadi? 5.Identifikasi Pengendalian Pencegahan (Preventive Barriers) • Tindakan yang dapat mencegah ancaman menyebabkan top event. 6.Identifikasi Pengendalian Pemulihan (Mitigation Barriers) • Tindakan yang dapat mengurangi dampak setelah top event terjadi. 7.Evaluasi Efektivitas Barriers • Periksa apakah barrier yang ada cukup kuat, atau perlu ditingkatkan. TEKNIK ANALISIS Bow Tie
  • 248.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Contoh Topik: Seorang pekerja mengalami cedera akibat tertimpa beban dari forklift. Struktur Bow Tie: •Bahaya: Aktivitas pengangkutan material dengan forklift •Top Event: Pekerja tertimpa beban dari forklift Penyebab / Threats: •Operator forklift tidak terlatih •Area kerja tidak dibatasi •Beban tidak diamankan dengan benar Preventive Barriers: •Pelatihan operator forklift •Jalur khusus forklift & pejalan kaki dipisahkan •SOP pengamanan beban Konsekuensi: •Cedera serius / fatal •Waktu kerja hilang •Denda atau gugatan hukum Mitigation Barriers: •Prosedur darurat medis •Tim tanggap K3 •Asuransi & kompensasi TEKNIK ANALISIS Bow Tie
  • 249.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media Top Event : Pekerja tertimpa beban dari forklift BAHAYA : Aktivitas pengangkutan material dengan forklift Operator forklift tidak terlatih Area kerja tidak dibatasi Beban tidak diamankan dengan benar Cedera serius / fatal Waktu kerja hilang Denda atau gugatan hukum Preventive Barriers Preventive Barriers Mitigation Barriers Pelatihan operator forklift Jalur khusus forklift & pejalan kaki dipisahkan SOP pengamanan beban Jalur khusus forklift & pejalan kaki dipisahkan Prosedur darurat medis Tim tanggap K3 Asuransi & kompensasi TEKNIK ANALISIS Bow Tie
  • 250.
    Accidend Incident Investigationand Root Cause Analysis : Harya Media TEKNIK ANALISIS Bow Tie
  • 251.