Cermin 1984 Dunia Kedokteran 
34. Masalah Otak
No 34, 1984 
Cermin 
Dunia Kedokteran 
International Standard Serial Number : 0125—913X Diterbitkan oleh : 
Pusat Ps'nelitian dan P.np.mbanpan P.T. Kalbe Farina 
Cermin 
Dunia Kedokteran 
34. Masalah Otak 
Karya Sriwidodo 
Tulisan dalam majalah ini merupakan pandang-an/ 
pendapat masing-maeing penulie dan tidak 
eelalu merupakan pandangan atau kebijakan 
inetansl/lembaga/bagian tempat kerja ai penulie. 
Artikel : 
3 Afasia Sebagai Gangguan Komunikasi Pada Kelainan 
Otak 
7 Gangguan Bahasa, Persepsi dan Memori Pada Kelainan 
Otak 
12 Disfungsi Otak Minor 
Kesulitan Belajar ditinjau dari Segi Neurologis 
15 Gangguan Kesadaran 
20 Beberapa Obat yang Digunakan pada Insufisiensi 
Serebral dan Demensia 
25 Penanggulangan Bencana Peredaran Darah di Otak 
28 Peranan Radiologik Pada Kelainan Otak 
32 Cedera Otak dan Dasar-dasar Pengelolaannya 
39 Infeksi Intrakranial 
42 Tumor Otak : Tinjauan Kepustakaan 
47 Ketulian : Pemeriksaan dan Penyebabnya 
50 Rodamin B dan Metanil Kuning ("Metanil Yellow") 
Sebagai Penyebab Toksik pada Mencit dan Tikus 
Percobaan 
56 Perkembangan : Obat-obat & Insomnia 
Pengobatan Preleukemia 
58 Hukum & Etika : Tepatkah Tindakan Saudara ? 
60 Catatan Singkat 
61 Humor Ilmu Kedokteran 
63 Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran 
64 Abstrak-abstrak
gangguan wicara mencakup 
fungsi dasar : 
- respirasi 
- resonansi 
- fonasi 
- artikulasi 
- lafal 
- prosodi 
Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 3 
Artikel 
Afasia Sebagai Gangguan Komunikasi 
Pada Kelainan Otak 
dr. Lily Sidiarto dan dr. Sidiarto Kusumoputro 
Klinik Gangguan Wicara - Bahasa Bagian Neurologi FKUI/RSCM, Jakarta 
PENDAHULUAN 
Dengan bertambahnya jumlah gangguan peredaran darah 
otak (CDV) dan trauma kapitis, maka jumlah kasus dengan 
gejala sisa neurologik juga makin meningkat. Gejala sisa ele-menter 
yang paling menyolok adalah hemiparesis dan gejala sisa 
fungsi luhur yang paling banyak adalah afasia. Pada kasus CVD, 
kemungkinan seorang pasien menderita afasia adalah 25%, 
karena separuhnya menderita hemiparesis dekstra dan separuh 
dari ini mungkin menderita afasia. Karena afasia tergolong 
kelainan komunikasi dan komunikasi merupakan bagian yang 
penting dalam kehidupan manusia, maka rehabilitasi afasia tidak 
dapat diabaikan. Mungkin saja seorang dengan gejala sisa 
kelumpuhan menduduki jabatannya semula tetapi akan sangat 
sulit bagi orang yang menderita afasia. Bukannya ini berarti 
tidak mungkin; sebagian pasien afasia dapat juga kembali 
menduduki jabatan semula asal afasinya yang tidak terlalu berat 
mendapatkan rehabilitasi yang cepat dan tepat. Untuk maksud 
itu, kecepatan dan ketepatan diagnosis sangat diperlukan untuk 
menolong nasib pasien afasia. 
Makalah ini menguraikan secara singkat masalah afasia ditin-jau 
secara klinik. 
GANGGUAN KOMUNIKASI 
Seorang yang berkomunikasi menggunakan sederetan fungsi 
sebagai berikut : 
1. simbolisasi, yaitu melakukan formulasi dan menyimak ba-hasa 
dan simbol-simbol lain yang lazim disebut berbahasa. 
2. respirasi, yang diperlukan untuk mendapatkan tenaga gu-na 
berbicara (speech). 
3. resonansi : menghasilkan nada-nada tertentu. 
4. fonasi (pembunyian) : tenaga yang didapat dipakai untuk 
menggerakkan pita suara. 
5. artikulasi : menghasilkan vokal dan konsonan untuk berbicara. 
6. lafal : menghasilkan pengucapan bunyi bahasa. 
7. prosodi : yang membuat lagu kalimat. 
8. kemampuan komunikasi, yaitu kemauan, kesediaan dan 
kemampuan untuk berinteraksi lewat komunikasi. 
Jenis gangguan komunikasi dapat disebabkan oleh kelainan 
pada salah satu atau beberapa dari fungsi tersebut diatas. 
Bagan gangguan wicara-bahasa (speech and language disorder) 
Gangguan komunikasi juga disebut sebagai gangguan wicara 
bahasa dan istilah ini lebih sering dipakai. Gangguan ini dapat 
terjadi pada anak dan dewasa. 
Sebuah bagan sederhana disajikan dibawah ini : 
Gangguan wicara—bahasa 
a. gangguan multimodalitas : 
— afasia 
b. gangguan modalitas tunggal : 
—agnosia 
—apraksia 
c. gangguan "berpikir" : 
—demensia 
— confusion (kusut pikir) 
— psikogemic 
Untuk memahami jenis-jenis gangguan wicara-bahasa se-baiknya 
dikenal juga komponen-komponen dari proses pusat 
bahasa di otak. Menurut Brown, model pusat bahasa di otak
terdiri dari 4 komponen : 
1. kosa kata (leksikal) yang didapat sejak kecil dan dikem-bangkan 
terus seumur hidup. 
2. sintaktikal, suatu aturan yang dikuasai untuk membentuk 
kalimat yang benar. 
3. rentang ingatan auditif (auditory retention span) yang cu-kup 
lama untuk dapat memproses apa yang didengar. 
4. pemilihan saluran, suatu kemampuan untuk menyaring 
dan memilih masukan (input) dan keluaran (output) yang 
diperlukan untuk berbahasa menurut hirargi. 
Komponen-komponen ini diperlukan untuk mempelajari 
bahasa dan mempergunakannya secara baik dan benar. Pene-rapan 
penggunaan komponen-komponen tersebut dalam ber-bahasa 
dapat dilihat dari ketrampilan penggunaan modalitas 
bahasa sebagai berikut : 
1. berbicara 
2. menyimak 
3. menulis 
4. membaca 
Jenis-jenis gangguan bahasa dapat diterangkan berdasarkan 
ketrampilan menggunakan modalitas bahasa diatas. 
GANGGUAN WICARA—BAHASA 
Seseorang dapat terganggu wicaranya saja (speech disorder) 
ataukah bahasanya (language disorder). Kedua gangguan yang 
disatukan tersebut sebenarnya mempunyai perbedaan yang 
nyata. Gangguan wicara : bersifat perifer, disebabkan oleh 
kelainan-kelainan saraf perifer, otot dan struktur yang dipakai 
untuk berbicara. 
Gangguan bahasa : bersifat sentral, disebabkan oleh kelainan 
pada korteks serebri (fungsi luhur). 
1. Gangguan wicara : Sering disebut juga sebagai gangguan 
wicara dan suara (speech and voice disorder), karena memang 
mencakup kedua fungsi tadi. Lazim juga disebut dengan satu 
kata "disartria" untuk kemudahan. Kelainan-kelainan neuro-logik 
banyak yang menyebabkan gangguan wicara ini dan letak 
lesinya dapat ditetapkan berdasarkan gangguan fungsi dasar 
yang ditemukan. Juga penyakit-penyakit lain seperti THT, 
mulut, gigi-geligi, paru dan sebagainya dapat menyebabkan 
gejala "disartria" ini. Kami tidak membahas hal ini lebih lanjut. 
2. Gangguan bahasa : Gangguan ini lebih kompleks sifatnya. 
Gangguan bahasa dapat ditinjau dari aspek gangguan modal itas 
bahasa (berbicara, menyimak, menulis dan membaca), untuk 
membedakan afasia dari agnosia dan apraksia. Sedangkan dari 
aspek gangguan "berpikir" dan "cara penggunaan bahasa" dapat 
dibedakan demensia, kusut pikir (confusion) dan kasus 
psikiatrik. 
• gangguan multimodalitas bahasa : Afasia adalah gangguan 
bahasa yang meliputi semua modalitas yaitu berbicara, 
menyimak, menulis dan membaca. Tidak ada afasia yang 
salah satu modalitasnya masih sempurna. Biasanya semua 
terkena, hanya yang satu lebih berat daripada yang lain. 
• gangguan modalitas tunggal : Sering dijumpai pasien tidak 
4 Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 
dapat berbicara dan menyimak bahasa, tetapi masih dapat 
menulis dan membaca. Pasien ini menderita agnosia auditif. 
Sebaliknya pasien yang menderita apraksia tidak mampu 
menulis, tetapi mampu berbicara. 
gangguan "berpikir" : Penggunaan bahasa yang tidak benar 
dapat juga disebabkan oleh gangguan cara berpikir dan salah 
menggunakan bahasa. Hal ini membedakan dari afasia, 
agnosia dan apraksia yang disebabkan oleh gangguan mo-dalitas 
bahasa. Contoh dari gangguan "berpikir" adalah de-mensia, 
kusut pikir (confusion) dan kasus psikiatrik. Di 
bawah ini akan dibahas sepintas tentang pola berbahasa pada 
contoh tersebut untuk memberikan gambaran bahwa ada 
gangguan bahasa yang non-afasia. Pola berbahasa pada 
pasien demensia menunjukkan kesalahan-kesalahan pada 
semua segi bahasa. Yang menyolok ialah ketidak mampuan 
untuk memberikan makna sebuah pepatah. Tidak mampu 
melaksanakan tugas verbal yang abstrak, seperti tidak dapat 
menyebutkan nama-nama benda dalam satu kategori (nama-nama 
hewan piaraan rumah). Reaksinya lambat, sukar 
mengikuti pembicaraan yang beralih dari satu judul ke judul 
yang lain. Pasien lupa apa yang baru saja dibicarakan. Selain 
gangguan bahasa, pasien demensia juga menunjukkan 
gangguan fungsi luhur lainnya seperti gangguan persepsi, 
memori, kognitif dan emosi. 
Pola berbahasa pasien kusut pikir (confused) tampaknya 
sepintas masih normal. la masih dapat menyebutkan nama 
benda, membaca kalimat pendek dan mudah, berhitung se-derhana. 
Tetapi mengalami kesukaran kalau tugas tersebut agak 
sulit. Pasien akan mengalami kesulitan menjawab pertanyaan 
yang terbuka, yang harus ia jawab dengan menyusun kalimat. la 
akan mengalami kesulitan pula dalam memberi makna sebuah 
pepatah. Walaupun kalimatnya benar tetapi isinya sering tidak 
cocok. la tidak sadar bahwa ia telah membuat kesalahan dalam 
pembicaraannya. Pasien juga mengalami gangguan orientasi 
waktu, orang dan tempat disamping gangguan yang tersebut 
diatas. Juga pasien sukar mempertahankan interaksinya dengan 
orang lain dalam waktu lama dan tidak dapat mengikuti 
pembicaraan terus menerus. Biasanya keadaan kusut pikir ini 
sementara (transient) sifatnya. Pola berbahasa pada kasus 
psikiatrik tidak dibahas disini. 
SINDROMA AFASIA 
Afasia adalah gangguan bahasa yang multimodalitas, artinya 
tidak mampu berbicara, menyimak, menulis dan membaca. 
Tergantung dari jenis afasinya, ketidak mampuan dalam moda-litas 
tersebut tidak merata tetapi satu lebih menonjol dari yang 
lain. 
Dari segi klinik, jenis afasia yang mudah dikenali adalah : 
1. afasia Broca (menonjol : tidak dapat bicara) 
2. afasia Wernicke (menonjol : tidak dapat menyimak) 
3. afasia anomik (menonjol : tidak dapat menyebut nama benda) 
4. afasia konduksi (menonjol : tidak dapat mengulang kalimat) 
5. afasia global (semua tidak dapat) 
Masih ada jenis-jenis afasia lain yang tidak dicantumkan, ka-
Ciri bicara Non-fluent Fluent 
Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 5 
rena jarang dan sukar dikenali secara klinik. 
Ciri-ciri afasia 
Afasia adalah gangguan bahasa dan biasanya tanpa gangguan 
fungsi luhur lainnya seperti gangguan persepsi, memori, emosi 
dan kognitif (kalaupun ada tidak seberat gangguan bahasanya). 
Disini letak perbedaan dengan demensia, yang mengalami 
gangguan pada semua fungsi luhur secara merata. 
Afasia dapat dibagi dalam 2 golongan besar : afasia non-fluent 
dan afasia fluent. Penggolongan ini dilakukan dengan memper-inci 
ciri-ciri bicara spontan pasien. Afasia dapat ditentukan 
jenisnya dari analisis kemampuan linguistiknya (bicara spontan, 
menyimak, mengulang dan menyebut). Afasia yang berat dan 
sedang dapat ditetapkan secara klinik non formal, sedangkan 
afasia yang ringan atau meragukan perlu ditetapkan secara 
formal dengan tes afasia. Penetapan jenis afasia (Broca, 
Wernicke dan sebagainya) diperlukan untuk menentukan letak 
lesi di otak (diagnostik) dan program rehabilitasinya (bina wicara 
= speech therapy). 
Langkah-langkah penetapan afasia 
1. menentukan bahasa yang dikuasai pasien. 
2. menentukan kecekatan tangan (handedness) 
3. menetapkan golongan afasia non fluent dan fluent. 
4. menetapkan jenis afasia. 
5. menetapkan fungsi-fungsi luhur lainnya (persepsi, memori, 
emosi, kognitif). 
6. menetapkan dengan tes formal (Token Test, Peabody Vo-cabulary 
Test, Boston Diagnostic Aphasia Test). 
7. menetapkan fungsi-fungsi luhur lainnya dengan formal (tes 
psikometrik). 
Cara dan makna penetapan 
1. Pada afasia, biasanya bahasa ibu merupakan bahasa yang 
paling sedikit terkena dibandingkan bahasa-bahasa lain yang 
dipelajari oleh pasien poliglot. 
2. Hemisfer kiri pada orang kinan (right-handed) dianggap me-rupakan 
hemisfer yang dominan. Dominansi serebral ini dapat 
diketahui dari kecekatan tangan pasien. Kemutlakan dominansi 
serebral dapat dipakai sebagai ancar-ancar untuk menentukan 
prognosis afasia. Dikatakan bahwa dominansi yang mutlak 
mempunyai prognosis yang kurang baik dibandingkan do-minansi 
yang tidak mutlak. Kemutlakan ini dapat diketahui dari 
kecekatan tangan, mata dan kaki pasien. Orang dianggap kinan 
mutlak bila ia cekat dalam hal penggunaan tangan, mata dan 
kaki kanan serta tidak ada keluarga yang kidal. Orang dianggap 
kinan tidak mutlak bila cekat tangan kanan disertai cekat mata 
atau kaki kiri, atau bila ada keluarga yang kidal. Cara 
menentukan cekat tangan biasanya dilihat dari tangan mana yang 
dipakai untuk bekerja, menulis dan makan minum. Cekat mata 
ditentukan dengan mata mana pasien mengintip sebuah lubang 
dan cekat kaki dengan cara kaki mana yang dipakai untuk 
berdiri diatas satu kaki. Cara-cara tersebut sudah cukup untuk 
menentukan kecekatan. Ada cara-cara lain yang lebih terperinci 
yang tidak dibahas disini. Hal-hal tersebut tidak berlaku 
seluruhnya bagi pasien kidal. 
3. Bicara spontan yang non fluent dan fluent dapat ditentu-kan 
dengan menganalisis ciri-ciri bicara sebagai berikut : 
- tempo berbicara menurun meningkat 
- usaha bicara meningkat normal 
- banyak bicara menurun meningkat (logore) 
- isi substantif predikatif 
- panjang frase pendek panjang 
- parafasia jarang ada 
Menentukan ciri bicara ini penting dalam menetapkan letak lesi. 
Afasia non fluent : biasanya letak lesi di bagian anterior he-misfer 
kiri (dominan). 
Afasia fluent : letak lesi biasanya di bagian posterior. 
Pada penentuan ciri bicara ini pasien disuruh berbicara secara 
spontan untuk beberapa saat. Dari pembicaraannya dapat dinilai 
ciri-ciri tadi. Tentu hal ini dilakukan secara global dalam 
penetapan secara klinik. Dalam penetapan formal terdapat 
patokan penilaian tertentu dari ciri bicara ini. 
4. Penetapan jenis afasia dipakai kemampuan linguistik bicara 
spontan, menyimak, mengulang dan menyebut sebagai patokan. 
Secara klinik, bicara spontan telah. dibahas diatas. Penyimakan 
bahasa dapat ditentukan secara klinik dengan menanyakan 
beberapa pertanyaan pada pasien dan pertanyaan yang diajukan 
mula-mula sederhana makin lama makin kompleks. Pertanyaan 
dibuat sedemikian hingga cukup dijawab oleh pasien dengan ya 
atau tidak, bila perlu dengan anggukan dan gelengan kepala. Hal 
ini terutama bila kita memeriksa pasien afasia yang non-fluent. 
Contoh pertanyaan : "Apakah ibu yang ada disamping saya ini 
istri bapak?" "Apakah bapak sudah sarapan pagi tadi?" 
Pertanyaan dapat disusun dan disesuaikan dengan latar bela-kang 
pendidikan dan kedudukan social pasien. Pertanyaan-pertanyaan 
formal pada tes afasia tentu menggunakan kalimat 
yang dibuat sedemikian rupa hingga mempunyai kesukaran 
linguistik. Pengulangan kata/kalimat juga dimulai dari yang 
sederhana sampai yang sulit. Contoh kata yang sederhana "ma-kan" 
dan yang sulit "menjajagi". Kalimat mudah "Udara hari ini 
cerah" dan kalimat sulit "Musim kemarau yang panjang dan 
kering tahun ini merupakan bencana bagi kami". 
Penyebutan nama benda dapat dilakukan dengan menyuruh 
pasien menyebutkan beberapa nama benda yang ada diseki-tarnya. 
Jenis afasia ditentukan dengan kemampuan linguistik sebagai berikut : 
Afasia bicara spontan penyimakan pengulangan penyebutan 
Wernicke 
Broca 
konduksi 
global 
anomik 
fluent 
non-fluent 
fluent 
non-fluent 
fluent 
buruk 
baik 
baik 
buruk 
baik 
buruk 
buruk 
buruk 
buruk 
baik 
buruk 
buruk 
buruk 
buruk 
buruk 
Penetapan jenis afasia ini mempunyai makna : diagnostik, 
prognostik dan terapeutik sebagai berikut : 
• Afasia Broca terletak di bagian anterior di daerah posterior 
girus frontalis.
• Afasia Wernicke terletak di bagian posterior di daerah girus 
temporalis posterior-superior 
• Afasia konduksi lesinya berada di fasikulus arkuatus diantara 
Broca dan Wernicke. 
• Afasia global mempunyai lesi yang luas meliputi seluruh 
korteks. Prognosisnya juga sangat buruk ada yang menye-butnya 
sebagai afasia irreversible Jenis inilah yang sering 
mirip dengan demensia. 
• Afasia anomik atau anomia dapat terjadi di beberapa tempat. 
Tidak mempunyai nilai lokalisasi. Paling sering di daerah 
girus angularis. Sering mgrupakan gejala sisa dari afasia yang 
berat. 
5. Penetapan afasia dengan tes formal yang dipakai di Klinik 
Gangguan Wicara Bahasa FKUI/RSCM dipilihkan dari tes yang 
bersifat multilingual. Artinya, tes yang dapat dialih bahasakan 
ke bahasa lain. Namun demikian, kesulitan linguistik dalam 
modifikasi tes tersebut masih ada. Afasia adalah ilmu yang 
prinsip, konsep dan tes formalnya tidak dapat diambil alih 
begitu saja dari bahasa aslinya. 
Penanganan terpadu afasia oleh neurolog, psikolog, linguist dan 
ahli bina-wicara sangat mutlak. 
DASAR-DASAR REHABILITASI 
Bina wicara (speech therapy) pada afasia didasarkan pada : 
1. Dimulai seawal mungkin. Segera diberikan bila keadaan 
umum pasien sudah memungkinkan pada fase akut penya-kitnya. 
2. Dikatakan bahwa bina wicara yang diberikan pada bulan 
pertama sejak mula sakit mempunyai hasil yang paling baik. 
3. Hindarkan penggunaan komunikasi non-linguistik (seperti 
isyarat). 
4. Program terapi yang dibuat oleh terapis sangat individual dan 
tergantung dari latar belakang pendidikan, status sosial dan 
kebiasaan pasien. 
5. Program terapi berlandaskan pada penumbuhan motivasi 
pasien untuk mau belajar (re-learning) bahasanya yang hi-lang. 
Memberikan stimulasi supaya pasien memberikan 
tanggapan verbal. Stimuli dapat berupa verbal, tulisan atau-pun 
taktil. Materi yang telah dikuasai pasien perlu diulang-ulang 
(repetisi). 
6. Terapi dapat diberikan secara pribadi dan diseling dengan 
terapi kelompok dengan pasien afasi yang lain. 
7. Penyertaan keluarga dalam terapi sangat mutlak. 
KEPUSTAKAAN 
1. Benson DF. Aphasia, Alexia and Agraphia. New York: Churchill 
Livingstone, 1979. 
2. Darley FL. And Spriestersbach DC. Diagnostic Methods in Speech 
Pathology. New York: Harper and Row, 1978. 
3. Eisenson J. Adult Aphasia, Assessment and Treatment. San Fran-cisco: 
Appleton-Century-Crofts, 1973. 
4. Espir M and Rose FC. The Neurology of Speech. London : Black-well 
Scientific Publications, 1976. 
5. Watson R. How to examine the patient with aphasia. Geriatrics, Des. 
1975;73-77. 
S I M D I TteWu N 
MEN66G6crR KAN 
KAt.D l N 6 A N . 
APAKA H B E N 4 ? 
B a N A R , SA yA TEL-414 
MEN6606URkAN 
KEHAM►b.14N 100 E?coR 
TlKtdS ( L t K 
PERCOBAAN (LMIA 
6 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
Gangguan Bahasa, Persepsi dan Memori 
Pada Kelainan Otak 
dr. Sidiarto Kusumoputro dan dr. Lily Sidiarto 
Klinik Gangguan Wicara - Bahasa Bagian Neurologi FKUI/RSCM, Jakarta 
Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 7 
PENDAHULUAN 
Tiga unsur tingkah laku manusia terhadap alam sekeliling-nya 
ialah pengamatan, pikiran dan tindakan. Dalam bidang 
neurologi tiga unsur tersebut tertuang dalam fungsi sensorik. 
luhur dan motorik. Dalam keadaan sakit, unsur-unsur tadi dapat 
terganggu. Gangguan tersebut dapat berupa gejala neurologik 
elementer, misalnya hemiparesis, hemihipestesia, koma, kejang 
dan sebagainya tetapi dapat pula berupa gejala neurologik luhur, 
yang merupakan kelainan integratif yang kompleks dari ke tiga 
fungsi di atas. 
Yang dimaksud dengan fungsi luhur atau fungsi kortikal 
luhur adalah fungsi-fungsi : 
1. bahasa 
2. persepsi 
3. memori 
4. emosi 
5. kognitif 
Dalam neurologi, gejala elementer dan luhur dipergunakan un-tuk 
menetapkan adanya kerusakan di otak, baik tentang loka-lisasi 
maupun luas lesinya. Ke dua fungsi tersebut sama pen-tingnya 
dalam penetapan diagnosis. Juga keduanya menuruti 
prinsip organisasi lateral dan longitudinal serebral yang akan 
diuraikan kemudian. Karena gejala fungsi luhur ini kerap di-lupakan 
atau diabaikan, maka penulis ingin menguraikan secara 
singkat peranan fungsi ini, terutama fungsi bahasa, persepsi dan 
memori pada kelainan otak. Kelainan otak disini dibatasi pada 
penyakit-penyakit yang frekuen, yaitu gangguan peredaran darah 
di otak (Cerebro-Vascular Disorder) dan trauma kapitis. 
Peranan fungsi luhur dalam klinik 
Seperti halnya gejala elementer, maka gejala fungsi Iuhur ini 
dapat dipakai untuk menetapkan diagnosis dan rehabilitasi pasien 
dengan penyakit otak. Pada kerusakan difus dan berat 
dari otak, maka semua fungsi-fungsi luhur tersebut dapat ter-kena 
dan hasilnya adalah suatu demensia atau retardasi mental. 
Tetapi pada kerusakan yang fokal, maka biasanya hanya satu 
atau beberapa dari fungsi ini terganggu. Justru pada kerusakan 
otak yang fokal inilah, gejala luhur mempunyai peranan penting. 
Pada pasien dengan kelainan tingkah laku, perlu ditentukan 
apakah kelainan ini disebabkan oleh kerusakan otak (brain 
damage) ataukah sesuatu yang fungsional (kasus psikiatrik). 
Penelusuran gangguan fungsi luhur inilah yang dapat membe-dakan 
kedua kemungkinan tadi. 
Menetapkan gangguan fungsi luhur 
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan neurologik memer-lukan 
waktu yang cukup lama dan kompleks. Apabila di dalam 
pemeriksaan itu juga dibebani penetapan fungsi Iuhur secara 
rutin, maka waktu pemeriksaan akan bertambah lama lagi. 
Untuk menghemat waktu, maka penetapan fungsi luhur secara 
artifisial dapat dilakukan bertahap. Tahap awal merupakan 
observasi terhadap kemungkinan adanya gangguan fungsi 
luhur, yang dilakukan selama pemeriksaan neurologik rutin. 
Apabila diduga adanya gangguan fungsi luhur ini, maka pasien 
bersangkutan perlu diperiksa lebih teliti secara klinis pada tahap 
berikutnya. Selanjutnya pada tahap terakhir dipertimbangkan 
untuk suatu penetapan secara formal dengan tes psikometrik. 
Tahap terakhir ini melibatkan psikolog yang berwenang 
melakukan tes tersebut. Jenis tes akan dipilih yang khusus 
dipergunakan untuk menentukan adanya gangguan otak (a.l. 
Raven's Progressive Matrices). Khusus untuk gangguan bahasa 
perlu dilakukan tes afasia (a.l. Token Test) yang melibatkan ahli 
bina wicara. Dokter sebaiknya mengenal penetapan awal dan 
klinis gangguan fungsi Iuhur ini, karena dialah yang akan 
berhadapan pertama kali dengan pasien-pasien dengan gangguan 
tersebut.
Tahap-tahap penetapan fungsi luhur 
1. Penetapan awal. 
Pada saat membuat anamnesis dan melakukan pemeriksaan 
neurologik rutin, sebaiknya menambah anamnesis yang tertuju 
untuk mengungkapkan gangguan fungsi luhur. Syarat mutlak 
adalah pasien harus kompos mentis. 
Pertanyaan-pertanyaan meliputi : 
— data-data lengkap tentang pribadi pasien termasuk riwayat 
dahulu. 
— mengapa ia dirawat atau datang berobat dan apa sakitnya. 
— dimana ia sekarang berada dan siapa orang yang ada dide-katnya 
serta jam berapa sekarang ini. 
— dimana ia tinggal, bagaimana ia mencapai tempat ini. 
— dengan apa dan siapa ia datang kemari. 
— apa yang ia lakukan selama 24 jam terakhir ini. 
— Kejadian apa yang diketahuinya atau dibacanya akhir-akhir 
ini (peristiwa sekitar rumah, dalam kota, dalam negeri 
atau luar negeri). 
— cobalah pasien disuruh mengurangi angka 100 dengan 7 
dan hasilnya dikurangi lagi dengan 7 dan seterusnya. 
— cobalah suruh pasien mengulangi 6 digit yang kita sebutkan. 
— cobalah suruh pasien memberi makna sebuah pepatah. 
— cobalah suruh pasien mengulangi kalimat pendek dan pan-jang 
yang kita sebutkan. 
— cobalah suruh pasien menyebut nama benda yang kita 
tunjukkan. 
— nilailah cara bicara pasien dari segi kecepatan, lagu dan 
panjang kalimat. 
Sekali lagi, pasien harus sadar, kompos mentis. Kalau ada per-tanyaan 
yang kurang benar jawabnya, maka ada alasan untuk 
menduga adanya gangguan fungsi luhur. 
2. Penetapan klinis. 
Akan diuraikan kemudian. 
3. Penetapan secara formal dilakukan oleh psikolog. 
Sebaiknya diberikan pengarahan tentang apa yang kita kehen-daki 
supaya tidak menyulitkan psikolog mencari tes yang tepat. 
Penetapan fungsi luhur secara klinis 
Dalam menetapkan secara klinis dianut prinsip organisasi 
lateral dan longitudinal serebral. Artinya, bagian-bagian otak 
tertentu mempunyai fungsi tertentu. Prinsip pusat lokalisasi 
fungsi pada otak ini tidak mutlak. Pusat-pusat di otak ini me-rupakan 
suatu sistem pusat fungsional yang kompleks (Luria). 
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa fungsi bahasa me-nempati 
hemisfer kiri (disebut hemisfer dominan bagi orang yang 
kinan atau right-handed), fungsi persepsi menempati hemisfer 
kanan (non-dominan) dan fungsi memori menempati hemisfer 
kanan dan kiri, tepatnya di lobus temporalis. Dengan demikian 
dikenal sindroma hemisfer kiri dan kanan dengan perincian 
sebagai berikut : 
• Sindroma hemisfer dominan terdiri dari : 
1. sindroma afasia (termasuk aleksia dan agrafia) 
2. sindroma Gerstmann (right-left confusion, agnosia jari, 
agrafia dan akalkulia). 
8 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
• Sindroma hemisfer non-dominan terdiri dari : 
1. neglect 
2. anosognosia 
3. kesukaran visuospatial 
4. apraksia konstruksional 
5. apraksia berpakaian 
Sindroma ini tidak ditulis lengkap, masih ada gejala yang tidak 
dicantumkan. 
• Sindroma lobus temporalis kiri dan kanan terdiri dari gangguan: 
1. immediate memory 
2. short-term memory 
3. long-term memory 
Gangguan memori disebut sebagai amnesia; bila mengenai lobus 
temporalis kiri menyebabkan gangguan memori verbal dan bila 
kanan menyebabkan memori visual. 
Sindroma afasia 
Secara klinis kita kenal afasia : 
1. Broca 
2. Wernicke 
3. konduksi 
4. anomia 
5. global 
Uraian masing afasia secara singkat ialah sebagai berikut : 
Afasia Broca : ciri bicara spontan pasien ialah lambat, ter-bata- 
bata, monoton dan kalimat pendek-pendek (disebut non 
fluent). Penyimakan bahasa baik, pengulangan kalimat buruk 
dan penyebutan nama benda buruk. 
Afasia Wernicke : ciri bicara spontan cepat, kadang-kadang 
terlalu cepat, lagu kalimat baik, panjang kalimat cukup 
(disebut fluent). Penyimakan bahasa buruk, pengulangan 
kalimat buruk dan penyebutan nama benda buruk. 
Afasia konduksi : ciri bicara fluent, penyimakan dan pe-nyebutan 
nama benda baik, hanya pengulangan kalimat 
buruk. 
Afasia nominal atau anomia : ciri bicara spontan fluent, hanya 
penyebutan nama benda yang buruk, yang lain baik. Afasia 
global : ciri bicara spontan non-fluent, lain-lain buruk 
semua. 
Dengan menilai gangguan segi bahasa tersebut, dapat di-tentukan 
pasien menderita jenis afasia apa dan dimana letak 
lesinya. Broca terletak di bagian anterior, Wernicke di bagian 
posterior, konduksi di jaras antara Broca dan Wernicke, global 
di seluruh hemisfer kiri dan anomia tidak mempunyai letak lesi 
yang tetap. 
Sindroma Gerstmann 
lalah sekelompok gejala yang terdiri dari agnosia jari (tidak 
mengenali jari-jari sendiri dan pemeriksa), right-left dis-orientation, 
disgrafia (tidak mampu menulis) dan akalkulia 
(tidak mampu berhitung). Sindroma ini disebabkan kerusakan 
hemisfer kiri daerah lobus parietalis. 
Right-left disorientation ialah ketidak mampuan pasien mem-bedakan 
kanan dan kiri dari anggota tubuh sendiri dan dari 
ruang sekitarnya. Pasien tidak sanggup menunjuk tangan ka-
Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 9 
nannya, kaki kirinya, dan juga tidak dapat menunjukkan tangan 
yang benar dari pemeriksa bila diminta. 
Unilateral Spatial neglect merupakan gangguan persepsi ruang 
yang sering mengakibatkan pasien membentur benda yang ber-ada 
di sisi kirinya atau pasien tampak mengabaikan benda-benda 
yang berada di lapangan pandang kirinya. Kelainan ini dapat 
dikenali dengan menyuruh pasien membuat gambar yang 
simetris dan ia akan menghilangkan sisi kiri dari gambar tadi. 
Misalnya disuruh membuat gambar jam, maka hasilnya ialah 
sebuah gambar jam yang angka-angka 8, 9 dan 10 tidak 
tergambar. 
Anosognosia ialah gangguan persepsi karena kerusakan hemis-fer 
non-dominan lobus parietalis. Pasien tidak mempunyai 
pandangan dan kesadaran tentang dirinya dan anggota tubuh-nya. 
Pasien tidak memberi perhatian pada kelainan tubuhnya, 
bahkan sampai menyangkal bahwa anggota tubuhnya lumpuh. 
Gangguan visuospatial ialah gangguan utuk menafsirkan posisi, 
jarak, gerak, bentuk dan hubungan anggota tubuhnya terhadap 
objek sekitarnya. la seakan-akan tidak tahu terhadap konsep 
atas-bawah, depan- belakang, dan dalam-luar. Pasien meng-alami 
kesukaran bila harus melewati sebuah gang, ia tidak ingat 
lagi tata ruang yang pernah dikenalnya, tidak tahu letak kamar 
tidurnya, tidak kenal peta rumah tinggalnya. Pasien tidak dapat 
menjiplak sebuah gambar bergaris, tidak sanggup menggambar 
kubus atau binatang dan tidak dapat menyusun balok-balok yang 
diperlihatkan kepadanya. Gangguan orientasi ini disebabkan 
kelainan hemisfer non-dominan. 
Apraksia konstruksional : ketidak mampuan untuk mencontoh 
bentuk- bentuk gambar dan menyusun balok-balok atau batang-batang 
korek api menurut contoh yang diberikan. Kemampuan 
ini termasuk fungsi kognitif yang kompleks dan diperankan 
oleh semua lobi dengan lobus parietalis non-dominan yang 
terpenting. 
Apraksia berpakaian merupakan gangguan orientasi ruang yang 
menyebabkan pasien sukar mengenakan pakaian karena sukar 
membedakan bagian mana yang diperuntukkan lengan, tungkai 
dan sebagainya. 
Amnesia 
Gangguan immediate memory mudah dikenali dengan menyu-ruh 
pasien mengulangi 6 digit yang kita sebutkan. Gangguan 
short-term memory dapat dikenali karena pasien tidak dapat 
mengingat apa yang telah terjadi beberapa saat yang lalu. Ia tidak 
dapat menceritakan kejadian pada hari itu. Sedangkan long-term 
memory terganggu bila pasien tidak lagi mengenali riwayat 
hidupnya. 
Umumnya amnesia yang terjadi adalah gangguan short-term 
memory. Pada kelainan lobus temporalis kiri menyebabkan 
gangguan memori verbal (tidak ingat apa yang disebutkan) 
sedangkan lobus temporalis kanan menyebabkan memori visual 
(apa yang diperlihatkan). Gangguan memori ini merupakan 
gangguan yang paling sering dikeluhkan. _ 
Peranan pada gangguan peredaran darah di otak (cerebro-vas-cular 
disorder). 
1. Gangguan memori yang disebut sebagai transient global am-nesia 
sering menjadi manifestasi dari gangguan peredaran darah 
otak jenis transient ischemic attack's (TIA's) . Jenis CVD ini 
umumnya dikenal karena adanya gangguan neurologik ele-menter 
seperti hemiparesis, hemihipestesia dan sebagainya yang 
timbul secara tiba-tiba dan sentara (transient) dan berlangsung 
tidak lebih dari 24 jam serta tanpa memberikan gejala sisa. 
Serangan sentara ini dapat berulang-ulang. Tidak jarang 
serangan ini berupa gangguan bahasa seperti afasia atau 
gangguan memori seperti amnesia. TIA'S dengan gejala afasia 
mudah dikenali karena gejala yang jelas, tetapi tidak demikian 
halnya dengan gangguan memori. Transient global amnesia 
sebagai manifestasi TIA's biasanya dikenali dari perubahan 
tingkah laku pasien. Pasien tampak seperti bingung-bingung, 
banyak bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan oleh dirinya. 
Kalau kita agak waspada dan mengajukan pertanyaan pada 
pasien akan terungkap bahwa ia tidak ingat apa yang telah 
dilakukan beberapa saat yang lalu, tetapi orientasi pasien, 
immediate memory dan long-term memory masih baik. Perlu 
dibedakan dengan keadaan confuse. Ungkapan adanya TIA's 
sangat penting karena merupakan suatu peringatan bahwa suatu 
ketika pasien dapat mengalami stroke serebral yang manifes bila 
tidak diobati. 
2. Sering pula, gangguan bahasa, afasia, merupakan satu-satu-nya 
gejala gangguan peredaran darah otak yang menetap (iso-lated 
stroke). Pada afasia Broca, gejala tunggal ini mudah dike-nali, 
tetapi anomia lebih sulit dikenali sedangkan afasia Wernic-ke 
sering sukar dikenali karena pasien dengan bicara spontan 
banyak akan disalah tafsirkan sebagai kasus psikiatrik. 
3. Walaupun pada gangguan peredaran darah otak terdapat gejala 
hemiparesis yang nyata hingga diagnosis mudah ditegakkan, 
sebaiknya adanya gangguan bahasa, persepsi dan memori perlu 
mendapat perhatian. Hal ini perlu untuk rehabilitasi pasien 
selanjutnya terutama pada hemiparesis kiri. 
Peranan pada trauma kapitis. 
1. Pada keadaan akut trauma kapitis, maka gangguan memori 
mempunyai peranan penting. Amnesia post- trauma kapitis dapat 
meliputi kejadian sebelum trauma (retrograd amnesia) atau 
setelah trauma (anterograd amnesia). Lamanya amnesia tersebut 
dapat dipakai sebagai patokan akan luas lesi yang terjadi di otak. 
Umumnya amnesia ini meliputi gangguan short-term memory 
saja. Apabila ternyata long-term memory juga terkena maka ini 
menandakan adanya kelainan otak yang difus, berat dan 
mempunyai prognosis yang kurang baik. Juga disini perlu dicatat 
bahwa pasien umumnya hanya terganggu memorinya tanpa 
kehilangan fungsi-fungsi lain. 
2. Pada keadaan lanjut trauma kapitis, dapat dijumpai berbagai 
kelainan fungsi luhur, baik sebagai gejala tunggal atau bersama-sama 
gejala elementer. Pada keadaan yang pertama kita perlu 
waspada karena gejala yang tidak jelas. Sering pasien mengeluh 
tentang kurangnya konsentrasi, cepat lupa setelah mengalami 
trauma kapitis. Masalah yang juga disebut sebagai sindroma post 
- trauma kapitis ini perlu penanganan serius. Perlu dibedakan 
antara keadaan pribadi yang neurastenis yang sudah ada 
premorbid dengan gejala gangguan persepsi, memori atau bahasa 
yang disebabkan trauma. Keadaan akhir
ini dapat dikenali kalau kita sempat melakukan observasi selama 
pasien mengalami trauma. Pada mulanya lebih banyak gejala 
yang ditemukan yang lambat laun makin berkurang dan akhirnya 
hanya tersisa satu atau dua gejala saja. Selain yang akut, trauma 
kapitis menahun juga membawa pengaruh terhadap timbulnya 
gangguan luhur ini. Salah satu contoh trauma kapitis menahun 
ialah olah raga tinju. Sudah sering diungkapkan bahwa olah raga 
ini dapat merusak saraf. Yang dimaksudkan kerusakan saraf ini 
ialah gangguan fungsi luhur, bukan gangguan elementer yang 
mudah dikenali oleh awam. 
Adanya afasia ringan, gangguan persepsi atau memori pada 
trauma kapitis akut dan menahun perlu ditelusuri. Penelusuran ini 
perlu karena biasanya pasien tidak mengeluh secara jelas. Lagi 
pula gejala fungsi luhur post-trauma kapitis ini dapat 
menyebabkan masalah dalam hubungan kerja pasien dengan 
majikan. Pasien mengeluh tetapi majikan tidak melihat alasan 
keluhan tadi. Atau juga bagi dokter yang harus menentukan 
apakah pasien dengan trauma kapitis sudah sembuh benar dan 
dapat kembali kerja menduduki jabatan semula. Tentu kita harus 
berhati-hati kalau .berhadapan dengan kasus demikian. Dan yang 
terakhir yang akan menyebabkan masalah adalah asuransi 
kesehatan. 
Rehabilitasi 
Disamping rehabilitasi gejala hemiparesis pada CVD, maka 
rehabilitasi terhadap gangguan bahasa, persepsi perlu mendapat 
perhatian. Terutama hal ini penting bagi pasien dengan 
hemiparesis kiri. Sering pasien demikian ini juga menunjukkan 
gejala gangguan persepsi-orientasi yang menghambat latihan-latihan 
untuk paresisnya. Pasien tidak acuh terhadap tungkainya 
yang lumpuh, pasien tidak mengenali posisi tungkainya, pasien 
tidak memperhatikan lapangan pandang sisi kirinya, semua ini 
menyukarkan fisioterapi. Sebaiknya rehabilitasi juga ditujukan 
kepada gangguan persepsi orientasi ini. Demikian pula pada 
pasien dengan hemiparesis kanan yang menderita juga afasia. 
Latihan fisioterapi perlu disertai latihan bina wicara (speech 
therapy). 
Latihan afasia berupa bina wicara dapat diberikan oleh 
seorang yang profesional dan oleh keluarga yang telah mendapat 
petunjuk-petunjuk untuk ini di rumah, karena pasien 
membutuhkan latihan terus menerus. Prinsip bina wicara ialah 
motivasi, stimulasi dan repetisi. Pasien perlu mendapat motivasi 
untuk melatih bicaranya. Jangan dibiarkan menggunakan bahasa 
isyarat dalam percakapan sehari-hari, juga di rumahnya. 
Keluarga diberi tahukan untuk tidak membiarkan pasien 
memakai bahasa isyarat. Pasien harus dipaksakan mengucapkan 
kata disamping isyarat yang dipakainya. Terapis akan membuat 
program latihan bagi pasien yang disesuaikan dengan latar 
belakang pendidikan dan berat-ringan afasinya. Program ini 
ditujukan untuk memberikan stimulasi yang kontinu secara 
auditif atau tertulis. Pengulangan atau repetisi perlu dilakukan 
secara teratur. Stimulasi taktil juga dapat dipakai bila diperlukan. 
Pada gangguan anosognosia dimana pasien mengabaikan 
anggota tubuhnya yang sakit, maka anggota bersangkutan perlu 
dirangsang supaya lambat laun pasien menyadarinya. 
10 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
Pasien dilatih untuk memandangi anggota yang sakit terse-but 
yang sedang digerak-gerakan oleh terapis kesegala arah, juga 
arah melewati garis tengah tubuhnya. Selanjutnya pasien 
diminta melakukan hal tersebut tanpa bantuan terapis, tetapi 
dengan bantuan anggotanya yang tidak sakit. Pasien dilatih 
menunjuk benda yang dipegang oleh terapis dan digerak-ge-rakan 
kesegala arah termasuk arah melewati garis tengah tu-buhnya. 
Pasien diminta berdiri diatas garis lantas menempatkan 
kaki-kakinya diatas tempat-tempat yang telah diberi tanda. 
Pasien diminta menirukan terapis yang menunjuk-nunjuk 
anggota tubuhnya. Kemudian pasien diminta menunjuk atas 
perintah terapis. 
Pada pasien yang mengalami gangguan visuospatial, dimana 
ia mengalami kesukaran menafsir keadaan dirinya terhadap 
ruang sekelilingnya, maka tata ruang dimana pasien tinggal 
perlu mendapat perhatian. Ruangan sebaiknya tidak terlalu 
penuh dengan alat-alat rumah tangga dan benda-benda, cukup 
terang, tidak berwarna terlalu menyolok dan tenang. Hal-hal ini 
akan membantu pasien dalam kehidupan sehari-hari. Pada 
pasien lebih baik diberikan instruksi secara verbal yang jelas 
daripada instruksi yang menggunakan isyarat. Cermin yang 
besar sangat menolong pasien dalam menafsirkan dirinya ter-hadap 
ruang sekitarnya. Latihan-latihan menjiplak gambar-gambar 
perlu diberikan. 
Pasien dengan gangguan unilateral spatial neglect, yang me-nyebabkan 
pasien mengabaikan lapangan pandang sisi kirinya, 
perlu dibantu dengan mengatur tata ruangnya secara khusus. 
Semua alat mmah tangga dan benda diletakkan ke arah kanan 
dari titik pusat aktivitas pasien. Dengan letak khusus ini di-maksudkan 
supaya pasien dapat melihat bila ada orang lain yang 
sedang bekerja di dalam ruangnya. Juga Ietak TV, meja kursi 
perlu diatur demikian. Letak makanan dalam piringnya juga 
perlu mendapat perhatian. Latihan memberikan rangsangan 
verbal dan taktil perlu diberikan dari arah kiri pasien. 
Pasien dengan apraksia konstruksional perlu dilatih menyu-sun 
balok atau batang korek api membuat konstruksi 3 dimen-sional. 
Mula-mula bentuk sederhana, kemudian makin kom-pleks. 
Latihan-latihan mengenakan pakaian perlu diberikan pada 
pasien dengan apraksia berpakaian. Bila perlu diberikan tanda 
pada salah satu bagian baju atau celananya untuk dijadikan 
patokan bagi pasien dalam mengenakan pakaian tadi. Secara 
ringkas dapat disebutkan bahwa rehabilitasi pasien dengan 
gangguan bahasa umumnya perlu : 
1. menimbulkan motivasi agar pasien mau belajar berbicara lagi, 
2. memberikan banyak stimulasi verbal dan tulisan. 
3. melakukan repetisi secara kontinu. 
Pada rehabilitasi pasien dengan gangguan persepsi perlu : 
1. mengatur ruangannya supaya sederhana, tidak semrawut. 
2. aktivitas rutin yang di-arahkan pada latihan penguatan 
(reinforces learning) dan dilakukan banyak repetisi. 
3. stimulasi sensorik yang menimbulkan kesadaran (awa-reness)
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 11 
KEPUSTAKAAN 
4. 
University Press, 1976. 
Luria AR. The Working Brain. London The Penguin Press, 1973. 
1. Benson DF. Aphasia, Alexia and Agraphia. New York: Churchill 5. O'Brien MT and Pallett PJ. Total care of the Stroke patient USA: 
2. 
Livingstone, 1979. 
Cummings J, Benson F, and Lovermen S. Reversible Dementia. 6. 
Little, Brown and Company (Inc), 1978. 
Valenstein E. Making sense of cerebral dominance and syndrome 
JAMA. 243, 1980; 2434 - 2439. of the nondominant hemisphere. Geriatrics, Nov. 1976; 111 - 117. 
3. Lezak M.D. Neuropsychological Assessment. New York: Oxford
Disfungsi Otak Minor 
Kesulitan Belajar Ditinjau Dari Segi Neurologis 
dr. Lily Sidiarto 
Klinik Gangguan Wicara - Bahasa Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta. 
PENDAHULUAN 
Di Amerika dilaporkan bahwa lebih kurang 10% dari jumlah 
anak usia sekolah mengalami kesulitan belajar (Silver, 1982). 
WHO melaporkan 5 - 25% dari anak-anak usia sekolah 
menderita disfungsi otak minor. Belum ada data mengenai anak-anak 
usia sekolah yang mengalami disfungsi otak minor di 
Indonsia, karena sering tidak terdeteksi. Anak-anak dengan 
disfungsi otak minor biasanya mengalami kesulitan belajar di 
sekolah. Kesulitan belajar dapat disebabkan oleh beberapa hal, 
yaitu : 
1. retardasi mental 
2. gangguan fungsi sistem saraf 
3. problema emosional primer 
Anak-anak dengan kesulitan belajar karena retardasi mental 
lebih mudah dideteksi/dikenal, dan untuk anak-anak ini telah ada 
wadahnya yaitu Sekolah Pendidikan Luar Biasa C. Lagi pula 
gangguan fungsi sistem sarafnya lebih difus, mencakup hampir 
semua fungsi kortikal, sehingga tidak akan disinggung dalam 
makalah ini. Problema emosional primer yang merupakan 
penyebab lain dari kesulitan belajar merupakan bidang 
psikologi/psikiatri. Yang akan dibahas dalam tulisan ini ialah 
anak-anak dengan kesulitan belajar tertentu/spesifik, yang di-sebabkan 
karena gangguan pada beberapa fungsi sistem saraf 
pusat atau lebih terkenal dengan nama Minimal Brain Dys-function 
(M .B .D), atau Disfungsi Otak Minor (D.0.M.). Anak-anak 
dengan D.O.M. sering tidak terdiagnosis, sehingga tidak 
mendapat penanganan yang semestinya. Ini mengakibatkan 
timbulnya problema sosial dan emosional sekunder. Bila hal ini 
terjadi, maka akan merupakan problema hidup (life disability), 
dimana penanganan akan lebih kompleks. 
SINDROMA KLINIS 
Disfungsi Otak Minor atau Minimal Brain Dysfunction 
(M.B.D) terdiri dari berbagai macam gejala klinis, merupakan 
12 Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 
suatu sindroma sehingga lebih tepat bila digunakan nama Mi-nimal 
Brain Dysfunction Syndrome atau Sindroma Disfungsi 
Otak Minor (S.D.O.M.). 
Apakah definisi dari S.D.O.M 
Anak-anak dengan S.D.O.M. adalah anak-anak dengan inteli-gensi 
mendekati rata-rata, rata-rata (average) atau diatas rata-rata 
dengan kesulitan belajar dan perilaku (behaviour) yang 
disertai dengan kelainan fungsi sistem saraf. 
Gejala klinis 
Gejala klinis dapat berupa : 
1. Kesulitan belajar yang spesifik (satu atau lebih). 
2. Hiperaktivitas dan/atau distraktibilitas dengan short attention 
span. 
3. Disfungsi motorik. 
4. Problema emosional sekunder. 
Gejala-gejala tersebut di atas tidak harus ada seluruhnya, dapat 
berupa kombinasi dari satu atau lebih gejala tersebut. 
Kesulitan belajar yang spesifik 
Kesulitan belajar dapat dimanifestasikan dalam gangguan 
memproses (processing) masukan sensoris (gangguan persepsi), 
gangguan dalam mengintergrasikan masukan tersebut (gang-guan 
kognitif), gangguan dalam menyimpan dan mendapatkan 
kembali data (gangguan memori), atau gangguan dalam mem-proses 
keluaran (gangguan bahasa, gangguan motorik). Beberapa 
ahli menekankan pada problema spesifik yang timbul, sehingga 
disebut dengan disleksia (kesulitan membaca), disgrafia 
(kesulitan menulis), diskalkuli (kesulitan menghitung) dan 
disfasia (kesulitan berbahasa). 
Hiperaktivitas/hiperkinetik 
Hiperaktivitas atau aktivitas motorik yang berlebihan pada 
S.D.O.M. bersifat fisiologis. Ini harus dibedakan dari hiper-aktivitas 
yang disebabkan oleh keadaan cemas (anxiety). Hi-
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 13 
peraktivitas pada S.D.O.M. timbul pada setiap saat dan dimana 
saja, tidak tergantung dari tempat dan waktu, sedangkan yang 
disebabkan oleh keadaan cemas, hiperaktivitas hanya timbul pada 
saat-saat tertentu. Perbedaan ini perlu diketahui oleh seorang 
dokter, karena terapi yang diberikan berlainan. Silver 
mengemukakan bahwa hiperaktivitas terdapat pada kira-kira 40% 
dari kasus dengan S.D.O.M. 
Masukan sensoris baik visual maupun auditoris yang masuk 
ke korteks tidak dapat disaring, karena untuk proses tersebut 
diperlukan perhatian. Anak ini menunjukkan suatu distrakti-bilitas. 
Karena perhatian cepat dialihkan pada setiap rangsangan 
visual maupun auditoris, maka timbul short attention span. 
Disfungsi motorik 
Biasanya kelainan yang menonjol dalam bentuk gangguan 
motorik halus dan koordinasi. Dalam klinik disamping peme-riksaan 
neurologis umum, dilakukan pemeriksaan neurologis 
minor. 
Problema emosional sekunder 
Telah disebutkan di atas bahwa sering kesulitan belajar 
spesifik tidak dikenal dan tidak mendapatkan penanganan yang 
tepat, sehingga anak-anak ini karena mengalami kegagalan demi 
kegagalan menjadi frustrasi. Sehingga stres emosional akan 
menjadi suatu kelainan perilaku atau problema watak (character) 
. Bila hal ini terjadi, kadang-kadang sukar untuk membedakan 
apakah problema emosional ini bersifat primer atau sekunder, 
sehingga penanganan kurang memuaskan hasilnya. Lagi pula 
anak-anak ini akan mendapatkan kesulitan dalam perkembangan 
psikososial selanjutnya. Problema yang dihadapi akan lebih 
kompleks, karena problema ini tidak saja melibatkan anak itu 
sendiri, tetapi juga keluarganya, sekolahnya dan masyarakat. Hal 
ini sudah merupakan suatu sindroma yang multi-dimensional, 
dimana banyak pihak yang terlibat dalam penanganannya. 
PENYEBAB/ETIOLOGI 
- Kelainan genetik. 
- Kelainan metabolik. 
- Gangguan otak (brain insult) pada masa prenatal dan 
perinatal. 
- Penyakit dan trauma dari susunan saraf pusat terutama 
pada masa krisis dari perkembangan dan maturasi dari 
susunan saraf pusat. 
TATALAKSANA 
Untuk dapat mendiagnosis S.D.O.M., diperlukan data leng-kap 
yang mencakup : 
RIWAYAT MEDIS 
Meliputi riwayat pada masa kehamilan (prenatal), perinatal dan 
posnatal terutama 2 tahun pertama. 
Aktivitas yang kurang wajar dari sejak bayi : tidak dapat diam 
dalam gendongan ibu, berguling-guling dalam box, lari sebelum 
berjalan, makan tidak dapat diam di kursi, tidak betah 
menonton TV dan sebagainya. 
Riwayat perkembangan : Biasanya riwayat perkembangan mo-torik 
kasar tidak terlambat, tapi adanya riwayat anak sering 
tersandung dan jatuh mengingatkan pada suatu inkoordinasi. 
Riwayat motorik halus : kesulitan mengikat tali sepatu, meng-ancing 
baju, kesulitan menggunting, melipat dan mewarnai. 
Adanya riwayat anak sering "bengong" atau kejang-kejang. 
Riwayat keluarga : adanya kasus kesulitan belajar dalam ke-luarga, 
hubungan antar keluarga. 
PEMERIKSAAN 
Pemeriksaan Sindroma Disfungsi Otak Minor terdiri dari : 
1. Pemeriksaan neurologik umum 
2. Pemeriksaan daya penglihatan dan pendengaran (sensoric 
input) 
3. Pemeriksaan jenis hiperaktivitas (fisiologik atau emosional). 
4. Pemeriksaan neurologik minor : 
a. penetapan dominansi serebral (kecekatan tangan, mata dan 
kaki). 
b. penetapan fungsi kortikal luhur : 
— fungsi persepsi-orientasi 
— fungsi kognitif (abstraksi dan matematik) 
— fungsi memori 
— fungsi Wicara-bahasa 
c. pemeriksaan koordinasi motorik halus (ketrampilan) 
d. pemeriksaan koordinasi motorik kasar (ketangkasan) 
PENANGGULANGAN 
1. Terapi medikamentosa : 
a. untuk hiperaktivitas yang berdasarkan fisiologik dapat 
diberikan psikostimulan seperti golongan amfetamin, efedrin 
dan sebagainya. Penggunaan dalam jangka waktu lama dapat 
menyebabkan kemunduran psikik. 
b. pada hiperaktivitas karena keadaan cemas dapat diberikan 
anxiolitik. Pemberian obat-obat ini tidak tanpa gejala sam-ping, 
hingga dianjurkan pemberian dalam jangka waktu 
pendek dan dosis yang tepat. 
c. obat golongan cerebro-metabolic-vasodilators dapat diberi-kan 
untuk stimulasi metabolisme otak. 
2. Remedial teaching programme 
Program pendidikan khusus yang diberikan di sekolah dapat 
memperbaiki penampilan anak. 
3. Untuk membantu anak-anak dengan kesulitan belajar secara 
menyeluruh, para profesional perlu mengikut-sertakan orang tua 
dalam program pendidikan. Orang tua diberi keterangan 
mengenai kelemahan dan kemampuan dari anaknya, serta 
bagaimana cara menanganinya guna memperoleh keberhasilan 
secara maksimal dan mengurangi kegagalan se-minimal 
mungkin. 
KESIMPULAN 
Setiap anak dengan kesulitan belajar sebaiknya dilakukan 
pemeriksaan neurologik untuk mengenali adanya disfungsi
otak minor. Hal ini akan sangat membantu dalam penanggu-langannya. 
KEPUSTAKAAN 
1. Peter FE, Romine JS and Dykman RA. A Special-Neurological 
Examination of Children with Learning Disabilities. Develop Med Child 
Neurol 1975;17 : 63 - 78. 
2. Pray BS. Learning Principles from Psychoneurology. People With 
Special Needs, Down Syndrome Report. Vol 5 No 3, 1983. 
3. Touwen BCL and Sporrel T. Soft Signs and MBD. Develop Med Child 
Neurol. 1979; 21 : 528 - 529. 
4. Wilson EB. Sensory Integrative Therapy for Children With Learning 
Disorders. Rehabilitation in Australia. Jan 1975; 27 - 29. 
5. Wright FS, Schain RJ, Weinberg WA and Rapin I. Learning disabilitie 
and associated conditions. In : The Practice of Pediatric neurology 
Edited by Swaiman KF & Wright FS. Saint Louis : The CV Mosby 
Company, 1975; pp 883 - 926. 
14 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
Gangguan Kesadaran 
dr. Manthurio dan dr. P Nara 
Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin/RSU Ujung Pandang 
PENDAHULUAN 
Kesadaran merupakan fungsi utama susunan saraf pusat. 
Untuk mempertahankan fungsi kesadaran yang baik, perlu suatu 
interaksi yang konstan dan efektif antara hemisfer serebri yang 
intak dan formasio retikularis di batang otak. Gangguan pada 
hemisfer serebri atau formasio retikularis dapat menimbulkan 
gangguan kesadaranl. 
Bergantung pada beratnya kerusakan, gangguan kesadaran 
dapat berupa apati, delirium, somnolen, sopor atau koma. Koma 
sebagai kegawatan maksimal fungsi susunan saraf pusat 
memerlukan tindakan yang cepat dan tepat, sebab makin lama 
koma berlangsung makin parah keadaan susunan saraf pusat 
sehingga kemungkinan makin kecil terjadinya penyembuhan 
sempurna.2 
Makalah ini membahas anatomi fisiologi, etiologi, patofi-sologi, 
klinik serta penanggulangan gangguan kesadaran. 
ANATOMI FISIOLOGI : 
Lintasan asendens dalam susunan saraf pusat yang menya-lurkan 
impuls sensorik protopatik, propioseptik dan perasa 
pancaindra dari perifer ke daerah korteks perseptif primer di-sebut 
lintasan asendens spesifik atau lintasan asendens lem-niskal. 
3-5 Ada pula lintasan asendens aspesifik yakni formasio 
retikularis di sepanjang batang otak yang menerima dan me-nyalurkan 
impuls dari lintasan spesifik melalui koleteral ke pusat 
kesadaran pada batang otak bagian atas serta meneruskannya ke 
nukleus intralaminaris talami yang selanjutnya disebarkan difus ke 
seluruh permukaan otak4,5 
Pada hewan, pusat kesadaran(arousal centre) terletak di rostral 
formasio retikularis daerah pons sedangkan pada manusia pusat 
kesadaran terdapat didaerah pons, formasio retikularis daerah 
mesensefalon dan diensefalon. Lintasan aspesifik ini 
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 15 
Sub dan 
Hip otalamus Pons 
Mesensefalon Med. oblong 
Sistema aseudens difus aspesifik 
Neuron substansia reau-laris 
diensefalon, "peng-galak 
kewaspadaan".
oleh Merruzi dan Magoum disebut diffuse ascending reticular 
activating system (ARAS). Melalui lintasan aspesifik ini, suatu 
impuls dari perifer akan menimbulkan rangsangan pada seluruh 
permukaan korteks serebri.6 Dengan adanya 2 sistem lrntasan 
tersebut terdapatlah penghantaran asendens yang pada pokok-nya 
berbeda. 
Lintasan spesifik menghantarkan impuls dari satu titik pada 
alat reseptor ke satu titik pada korteks perseptif primer. 
Sebaliknya lintasan asendens aspesifik menghantarkan se-tiap 
c 
e 
m 
e 
impuls dari titik manapun pada tubuh ke seluruh korteks 
serebri. 
Neuron-neuron di korteks serebri yang digalakkan oleh 
impuls asendens aspesifik itu dinamakan neuron pengemban 
kewaspadaan, sedangkan yang berasal dari formasio retikularis 
dan nuklei intralaminaris talami disebut neuron penggalak 
kewaspadaan. Gangguan pada kedua jenis neuron tersebut oleh 
sebab apapun akan menimbulkan gangguan kesadaran.4,5 
hipoglikemia, diabetik ketoa-sidosis, 
uremia, gangguan he-par, 
hipokalsemia, hiponatre-mia. 
penyakit paru berat, kegagalan 
jantung berat, 
rat. anemia be- 
— toksik : keracunan CO, logam berat, obat, alkohol. 
B. Menurut mekanisme gangguan serta letak lesi : 
- gangguan kesadaran pada lesi supratentorial. 
— gangguan kesadaran pada lesi infratentorial. 
— gangguan difus (gangguan metabolik). 
Benyamin Chandral menggunakan istilah cemented yang me-rupakan 
huruf-huruf pertama penyebab gangguan kesadaran. 
= circulation (gangguan sirkulasi darah). 
= ensefalomeningitis. 
metabolisme (gangguan metabolisme). 
elektrolit and endokrin (gangguan elektrolit dan endok-rin) 
• neoplasma. 
trauma kapitis. 
• epilepsi 
drug intoxication. 
16 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
PATOFISIOLOGI 
Lesi Supratentorial 
Pada lesi supratentorial, gangguan kesadaran akan terjadi 
baik oleh kerusakan langsung pada jaringan otak atau akibat 
penggeseran dan kompresi pada ARAS karena proses terse-but 
maupun oleh gangguan vaskularisasi dan edema yang di-akibatkannya. 
Proses ini menjalar secara radial dari lokasi lesi 
kemudian ke arah rostro-kaudal sepanjang batang otak.4'6 
Gejala-gejala klinik akan timbul sesuai dengan perjalan pro-ses 
tersebut yang dimulai dengan gejala-gejala neurologik fokal 
sesuai dengan lokasi lesi. Jika keadaan bertambah berat dapat 
timbul sindroma diensefalon, sindroma mesei►sefalon bahkan 
sindroma ponto-meduler dan deserebrasi.2'4'6 
Oleh kenaikan tekanan intrakranial dapat terjadi herniasi 
girus singuli di kolong falks serebri, herniasi transtentoril dan 
herniasi unkus lobus temporalis melalui insisura tentorii.4'6 
Lesi infratentorial 
Pada lesi infratentorial, gangguan kesadaran dapat terjadi 
karena kerusakan ARAS baik oleh proses intrinsik pada batang 
otak maupun oleh proses ekstrinsik.2'6 
Gangguan difus (gangguan metabolik) 
Pada penyakit metabolik, gangguan neurologik umumnya 
bilateral dan hampir selalu simetrik. Selain itu gejala neurolo-giknya 
tidak dapat dilokalisir pada suatu susunan anatomik 
tertentu pada susunan saraf pusat.2 
Penyebab gangguan kesadaran pada golongan initerutama 
akibat kekurangan 02 , kekurangan glukosa, gangguan sirkulasi 
darah serta pengaruh berbagai macam toksin.6 
Kekurangan 02 
Otak yang normal memerlukan 3.3 cc 02/100 gr otak/menit 
yang disebut Cerebral Metabolic Rate for Oxygen (CMR 02). 
CMR 02 ini pada berbagai kondisi normal tidak banyak berubah. 
Hanya pada kejang-kejang CMR 02 meningkat dan jika timbul 
gangguan fungsi otak, CMR 02 menurun. Pada CMR 02 kurang 
dari 2.5 cc/100 gram otak/menit akan mulai terjadi gangguan 
mental dan umumnya bila kurang dari 2 cc 02/100 gram 
otak/menit terjadi koma.6 
Glukosa 
Energi otak hanya diperoleh dari glukosa. Tiap 100 gram otak 
memerlukan 5.5 mgr glukosa/menit. Menurut Hinwich pada 
hipoglikemi, gangguan pertama terjadi pada serebrum dan 
kemudian progresif ke batang otak yang letaknya lebih kaudal. 
Menurut Arduini hipoglikemi menyebabkan depresi selektif 
pada susunan saraf pusat yang dimulai pada formasio reti-kularis 
dan kemudian menjalar ke bagian-bagian lain.6 Pada 
hipoglikemi, penurunan atau gangguan kesadaran merupakan 
gejala dini. 
Gangguan sirkulasi darah 
Untuk mencukupi keperluan 02 dan glukosa, aliran darah ke 
otak memegang peranan penting. Bila aliran darah ke otak 
berkurang, 02 dan glukosa darah juga akan berkurang. 
ETIOLOGI 
A. Menurut kausa : 1. 
1. Kelainan otak 
—trauma 
—gangguan sirkulasi 
— radang 
— neoplasma 
— epilepsi 
2. Kelainan sistemik 
— gangguan metabolis- : 
me dan elektrolit 
— hipoksia 
komosio, kontusio, laserasio, 
hematoma epidural, hematoma 
subdural. 
perdarahan intraserebral, in-fark 
otak oleh trombosis dan 
emboli. 
ensefalitis, meningitis. 
primer, metastatik. 
status epilepsi.
Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 17 
Toksin 
Gangguan kesadaran dapat terjadi oleh toksin yang berasal 
dari penyakit metabolik dalam tubuh sendiri atau toksin yang 
berasal dari luar/akibat infeksi. 
KLINIK 
Kesadaran mempunyai 2 aspek yakni derajat kesadaran dan 
kualitas kesadaran. Derajat kesadaran atau tinggi rendahnya 
kesadaran mencerminkan tingkat kemampuan sadar seseorang 
dan merupakan manifestasi aktifitas fungsional ARAS terhadap 
stimulus somato-sensorik. 
Kualitas kesadaran atau isi kesadaran menunjukkan kemam-puan 
dalam mengenal diri sendiri dan sekitarnya yang merupa-kan 
fungsi hemisfer serebri.2 Perbedaan kedua aspek tersebut 
sangat penting sebab ada beberapa bentuk gangguan kesadaran 
yang derajat kesadarannya tidak terganggu tetapi kualitas 
kesadarannya berubah.3,4,5,7 
Dalam klinik dikenal tingkat-tingkat kesadaran : kompos 
mentis, inkompos mentis (apati, delir, somnolen, sopor, koma) 
Kompos mentis : Keadaan waspada dan terjaga pada seseorang 
yang bereaksi sepenuhnya dan adekuat terhadap rangsang vi-suil, 
auditorik dan sensorik. 
Apati : sikap acuh tak acuh, tidak segera menjawab bila ditanya. 
Delir : kesadaran menurun disertai kekacauan mental dan mo-torik 
seperti desorientasi, iritatif, salah persepsi terhadap 
rangsang sensorik, sering timbul ilusi dan halusinasi. 
Somnolen : penderita mudah dibangunkan, dapat lereaksi se-cara 
motorik atau verbal yang layak tetapi setelah membe-rikan 
respons, ia terlena kembali bila rangsangan dihentikan. 
Sopor (stupor) : penderita hanya dapat dibangunkan dalam 
waktu singkat oleh rangsang nyeri yang hebat dan berulang-ulang. 
Koma : tidak ada sama sekali jawaban terhadap rangsang nyeri 
yang bagaimanapun hebatnya. 
PENENTUAN TINGKAT KESADARAN 
Batas antara berbagai derajat kesadaran tidak jelas. 
Untuk menentukan derajat gangguan kesadaran dapat digunakan: 
A. Glasgow Coma Scale = CGS8, yang pertama kali diperke-nalkan 
oleh Teasdale & Jennet dalam tahun 1974 dan banyak 
digunakan dalam klinik. 
B. Glasgow Pitsburgh Coma Scale = GPCS (modifikasi CGS)2 
Pada GSC tingkat kesadaran dinilai menurut 3 aspek : 
1. kemampuan membuka mata : EYE opening = E 
2. aktifitas motorik : MOTOR response = M 
3. kemampuan bicara : VERBAL response = V 
1. Kemampuan membuka mata 
a. dapat membuka mata sendiri secara spontan : 4 
b. dapat membuka mata atas perintah : 3 
c. dapat membuka mata atas rangsang nyeri : 2 
d. tak dapat membuka mata dengan rangsang : 1 
nyeri apapun 
2. Aktifitas motorik 
Dinilai anggota gerak yang memberikan reaksi paling baik 
dan tidak dinilai pada anggota gerak dengan fraktur/kelum-puhan. 
Biasanya dipilih lengan karena gerakannya lebih 
bervariasi daripada tungkai. 
a. mengikuti perintah : 6 
b. adanya gerakan untuk menyingkirkan rang- : 5 
sangan yang diberikan pada beberapa tempat 
c. gerakan fleksi cepat disertai dengan abduksi : 4 
bahu 
d. fleksi lengan disertai aduksi bahu : 3 
e. ekstensi lengan disertai aduksi : 2 
f. tidak ada gerakan : 1 
3. Kemampuan bicara 
Menunjukkan fungsi otak dengan integritas yang paling ting-gi. 
a. orientasi yang baik mengenai tempat, orang : 5 
dan waktu 
b. dapat diajak bicara tetapi jawaban kacau : 4 
c. mengeluarkan kata-kata yang tidak dimenger- : 3 
ti 
d. tidak mengeluarkan kata, hanya bunyi : 2 
e. tidak keluar suara : 1 
tgl. 
jam 
kemampuan membuka mata E 
a. 4 
b. 3 
c. 2 
d. 1 
aktifitas motorik M 
a. 6 
b. 5 
c. 4 
d. 3 
e. 2 
f. 1 
Kemampuan bicara V 
a. 5 
b. 4 
c 3 
d. 2 
e. 1 
-' - ~ i 
`J 
- --~ ~•--- 
E + M + V = 3 - 15 
E + M + V : bergeser antara 3 dan 15. Teasdale & Jennet 
menemukan pada 700 kasus trauma kepala skor E+M+V se-bagai 
berikut : >9 tidak ada kasus koma, nilai 8 : 58% dengan 
koma dan <7 : koma 100%. Penilaian aspek kesadaran
harus dilakukan tiap hari beberapa jam sekali yang dicatat pada 
tabel sehingga memberikan suatu grafik. Keuntungan sistem ini.7 
• sangat sederhana dan tidak memerlukan alat khusus. 
• mudah dikerjakan oleh petugas kesehatan. 
• derajat dan lamanya kesadaran dapat diukur secara kuan-titatif. 
PEMERIKSAAN KLINIK 
Pemeriksaan klinik penting untuk etiologi dan letaknya 
proses patologik (hemisfer batang otak atau gangguan siste-mik). 
Pemeriksaan sistematis dilakukan sebagai berikut : 
Anamnesis 
— penyakit-penyakit yang diderita sebelumnya. 
— keluhan penderita sebelum terjadi gangguan kesadaran. 
— obat-obat diminum sebelumnya. 
— apakah gangguan kesadaran terjadi mendadak atau perla-han- 
lahan. 
Pemeriksaan fisik 
— tanda-tanda vital : nadi, pernapasan, tensi, suhu. 
— kulit : ikterus, sianosis, luka-luka karena trauma 
— toraks : paru-paru, jantung. 
— abdomen dan ekstremitas 
Pemeriksaan neurologis' '3,9 
1. OBSERVASI UMUM . 
• gerakan primitif : gerakan menguap, menelan dan memba-sahi 
mulut. 
• posisi penderita : dekortikasi dan deserebrasi. 
2. POLA PERNAPASAN : dapat membantu melokalisasi lesi dan 
kadang-kadang menentukan jenis gangguan. 
Cheyne-Stokes 
bPaeirkn.apasan makin lama makin dalam kemudian makin dangkal 
Hiperventilasi neurogen sentral 
pernapasan cepat dan dalam dengan frekuensi ± 25 per menit. 
Lokasi lesi pada tegmentum batang otak antara mesensefalon 
dan pons. 
j  k y i Ai ) ( 
i, ;1111 
, , i 
IiU~iv~4Y'~~'~rrr~ Ill 
Apnestik 
inspirasi yang memanjang diikuti apnoe dalam; ekspirasi de-ngan 
frekuensi 1 - 2/menit. Pola pernapasan ini dapat diikuti 
18 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
Klaster ("Cluster breathing") 
respirasi yang berkelompok diikuti oleh apnoe. Ditemukan pa-da 
lesi pons. 
i i o t 
Ataksik 
pernapasan tidak teratur, baik dalamnya maupun iramanya. Lesi 
di medulla oblongata dan merupakan stadium preterminal. 
3. KELAINAN PUPIL : Perlu diperhatikan besarnya pupil (normal, 
midriasis, miosis), bentuk pupil (isokor, anisokor), dan refleks. 
Midriasis dapat terjadi oleh stimulator simpatik (kokain, efedrin, 
adrenalin dan lain-lain), inhibitor parasimpatik (atropin, 
skopolamin dan lain-lain). 
Miosis dapat terjadi oleh stimulator parasimpatik dan inhibitor 
simpatik. Lesi pada mesensefalon menyebabkan dilatasi pupil 
yang tidak memberikan reaksi terhadap cahaya. Pupil yang 
masih bereaksi menunjukkan bahwa mesensefalon belum rusak. 
Pupil yang melebar unilateral dan tidak bereaksi berarti adanya 
tekanan pada saraf otak III yang mungkin dapat disebabkan oleh 
herniasi tentorial. 
4. REFLEKS SEFALIK : Refleks-refleks mempunyai pusat pada 
batang otak. Dengan refleks ini dapat diketahui bagian mana 
batang otak yang terganggu misalnya refleks pupil (me-sensefalon), 
refleks kornea (pons), Doll's head manoeuvre ( 
pons), refleks okulo-auditorik (pons), refleks okulo-vestibuler = 
uji kalori (pons), gag reflex (medulla oblongata). 
5. REAKSI TERHADAP RANGSANG NYERI : 
Penderita dengan kesadaran menurun dapat memberikan respons 
yang dapat dikategorikan sebagai berikut : 
a. sesuai (appropriate) 
Penderita mengetahui dimana stimulus nyeri dirasakan. Hal 
ini menunjukkan utuhnya sistem sensorik dalam arti sistem 
asendens spesifik. 
b. tidak sesuai (inappropriate) 
Dapat terlihat pada jawaban berupa rigiditas dekortikasi dan 
rigiditas deserebrasi. 
6. FUNGSI TRAKTUS PIRAMIDALIS : Bila terdapat hemiparesis, 
dipikirkan ke suatu kerusakan strukturil. Ella traktus piramidalis 
tidak terganggu, dipikirkan gangguan metabolisme. 
7. PEMERIKSAAN LABORATORIK : 
— darah : glukose, ureum, kreatinin, elektrolit dan fungsi hepar. 
— pungsi likuor untuk meningitis dan ensefalitis. 
— funduskopi mutlak dilakukan pada tiap kasus dengan kesa-daran 
menurun untuk melihat adanya edema papil dan tan-p
Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 19 
da-tanda hipertensi. 
— dan lain-lain seperti EEG, eko-ensefalografi, CT-scan dila-kukan 
bila perlu. 
PENANGGULANGAN 
Harus dilakukan cepat dan tepat. Gangguan yang berlang-sung 
lama dapat menyebabkan kerusakan yang ireversibel 
bahkan kematian. Terapi bertujuan mempertahankan homeos-tasis 
otak agar fungsi dan kehidupan neuron dapat terjamin. 
Terapi umum : 
1. resusitasi kardio-pulmonal-serebral meliputi : 
a. memperbaiki jalan napas berupa pembersihan jalan 
napas, sniffing position, artificial airway, endotracheal 
inlubation, tracheotomy. 
b. pernapasan buatan dikerjakan setelah jalan napas sudah 
bebas berupa : 
— pernapasan mulut ke mulut/hidung. 
— pernapasan dengan balon ke masker. 
— pernapasan dengan mesin pernapasan otomatis. 
c. peredarah darah 
Bila peredaran darah terhenti, diberikan bantuan sirkulasi 
berupa : 
— kompresi jantung dari luar dengan tangan. 
— kompresi jantung dari luar dengan alat. 
d. obat-obatan 
Dalam keadaan darurat dianjurkan pemberian obat secara 
intravena, seperti epinefrin, bikarbonas, deksametason, 
glukonas kalsikus dan lain-lain. 
e. elektrokardiogram dilakukan untuk membuat diagnosis 
apakah terhentinya peredaran darah karena asistol, fib-rilasi 
ventrikel atau kolaps kardiovaskuler. 
f. resusitasi otak tidak banyak berbeda dengan orang dewasa, 
bertujuan untuk melindungi otak dari kerusakan lebih 
lanjut. 
g. intensive care 
2. anti konvulsan bila kejang. 
Terapi kausal : segera dilakukan setelah diagnosis ditegakkan. 
RINGKASAN 
Untuk mempertahankan fungsi kesadaran yang baik, perlu 
interaksi yang konstan dan efektif antara hemisfer serebri dan 
formasio retikularis di batang otak. Penyebab gangguan 
kesadaran ialah multi faktorial dengan proses patologis yang 
berlokasi supratentorial, infratentorial ataupun difus dalam 
susunan saraf pusat. 
Pada lesi supratentorial dan infratentorial, gangguan kesa-daran 
terjadi karena kerusakan pada "ARAS" sedangkan gang-guan 
difus oleh kekurangan 02, kekurangan glukosa, gangguan 
peredaran darah serta pengaruh toksin. 
Kesadaran meliputi dua aspek yakni derajat kesadaran dan 
kualitas kesadaran. Tingkat kesadaran dapat berupa kompos 
mentis, apati, delir, sopor dan koma. 
Untuk menentukan derajat gangguan kesadaran sehari-hari 
dalam klinik dapat digunakan Glasgow Coma Scale yang 
menilai kesadaran menurut 3 aspek yaitu kemampuan membu-ka 
mata, aktifitas motorik dan kemampuan bicara. 
Pemeriksaan klinik dan neurologik secara sistematis perlu 
untuk dapat mengetahui etiologi dan letaknya proses patologik 
penyebab gangguan kesadaran. 
Penanggulangan gangguan kesadaran harus dilakukan cepat 
dan tepat untuk menghindari terjadinya kematian dan kerusakan 
otak yang lebih berat. 
KEPUSTAKAAN 
1. Chandra B. Diagnostik dan penanggulangan penderita dalam koma 
Cermin Dunia Kedokteran, nomor khusus, 1979; 95 - 100. 
2. Yusuf Misbach. Penatalaksanaan umum penderita koma. Media 
Aesculapius 30 September 1983. 
3. Bannister R. Consciousness and Unconciousness. Brain's clinical 
Neurology 5th ed. Oxford : The English Book Society Oxford 
University Press, 1978; pp 150 - 160. 
4. Mahar Mardjono dan Priguna Sidharta. Kesadaran dan fungsi luhur. 
Neurologi klinis Dasar, cetakan 3 PT Dian Rakyat, Jakarta 1978; 
hal. 184 - 200. 
5. Priguna Sidharta. Penilaian derajat dan kualitas kesadaran. Tata 
Pemeriksaan Dalam Neurologi, cetakan 1 PT Dian Rakyat, Jakarta 
1980; bal. 500 - 512. 
6. Rizal T. Rumawas. Patologi dan patofisiologi gangguan kesadaran. 
Simposium Koma, Jakarta 3 September 1983; hal 1 - 13. 
7. Andrari S. Penilaian tingkat gangguan kesadaran dengan Glasgow 
Coma Scale Simposium Koma, Jakarta 3 September 1983; hal 71-77. 
8. Teasdale G and Jennet B. Assessment of coma and impaired cons-ciousness 
Lancet 1974; 2 : 81 - 83. 
9. Pedoman Praktis Pemeriksaan Neurologi FK UI. Jakarta 1978; hal. 39 
- 40. 
10. Kasim YA. Cardio-Pulmonal-Cerebral-Resuscitation pada anak. 
Critical Care Pediatrics Berita Klink 1980; 6 : 17 - 41. 
11. Lumbantobing SM. Koma. Kedaruratan dan kegawatan medik. FK UI, 
Jakarta 1981; hal. 55 - 61.
Beberapa Obat Yang Digunakan Pada 
Insufisiensi Serebral dan Demensia 
dr. Sardjono O. Santoso dan dr. Santoso Wibowo 
Bagian Farmakologi dan Bagian Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 
PENDAHULUAN 
Otak merupakan organ penting bagi manusia, karena otaklah 
yang membedakan manusia dengan mahluk-mahluk Tuhan lain 
yang hidup di dunia ini. Meskipun besarnya kalah dibandingkan 
dengan otak gajah atau kerbau misalnya, tetapi otak manusia 
jauh lebih unggul. 
Walaupun ukuran otak relatif kecil dibandingkan dengan 
ukuran tubuh manusia secara keseluruhan, otak menerima darah 
yang cukup banyak yakni 750 ml per menit atau 15 persen dari 
seluruh curah jantung dalam keadaan istirahat. Aliran darah yang 
menuju ke jaringan otak adalah 50 - 55 ml per 100 grarn otak per 
menit.l Jumlah darah yang mengalir ini relatif tidak mengalami 
variasi yang begitu besar walau dalam keadaan yang ekstrim 
sekalipun. Ini disebabkan terdapatnya mekanisme khusus yang 
mengatur tetapnya aliran darah ke otak. Tentu saja terdapat 
kekecualian yakni bila terdapat karbondioksida yang berlebihan 
dalam otak atau otak mengalami kekurangan oksigen yang berat. 
Pada usia lanjut, fungsi-fungsi sentral menurun, sehingga 
antara lain terjadi penurunan proses belajar dan berpikir, 
aktivitas seksual, kebutuhan tidur, motivasi dan aktivitas pada 
umumnya. Dalam proses menua yang berjalan normal, massa 
otak pada usia 70 tahun menurun sampai 10 - 15%. Belum jelas 
apakah terjadi penurunan jumlah sel atau terjadi suatu 
"pengerutan". Pada kira-kira 10% manusia yang berumur 60 - 70 
tahun, terjadi penurunan massa otak sampai lebih dari 30% dan 
terdapat 3 golongan yaitu : 
1. Demensia senilis/presenilis dari type Alzheimer dengan atrofi 
primer berupa degenerasi atau penurunan jumlah sel dari 
otak besar. 
2. Demensia multiinfark dengan kausa vaskuler sebagai akibat 
suatu arterioklerosis serebral. 
3. Bentuk-bentuk lain terutama karena kausa ekstrakranial.2 
Dengan sendirinya suatu terapi farmakologik hanya bisa 
berhasil bila terdapat suatu gangguan fungsional pada SSP. 
20 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
Perubahan-perubahan fisiologik dan patologik pada proses 
menua sangat kompleks, dan bisa menyebabkan gangguan afek-tif 
serta intelektual. 
ANATOMI - FISIOLOGI ALIRAN DARAH OTAK 
Aliran darah yang menuju otak berasal dari dua buah arteri 
karotis dan sebagian berasal dari arteri vertebralis. Kedua arteri 
vertebralis bergabung membentuk arteri basilaris otak belakang 
dan arteri ini berhubungan dengan kedua arteri karotis interna 
yang juga berhubungan satu dengan lainnya membentuk suatu 
sirkulus Willisi. Dengan demikian terjadilah jalinan kolateral 
yang cukup besar pada arteri-arteri besar yang mengurus 
jaringan otak. Adanya kolateral yang besar ini, maka pada orang 
muda kedua arteri karotis biasanya dapat disumbat tanpa 
menimbulkan efek yang merugikan fungsi serebral. Sedangkan 
pada orang tua, arteri besar pada dasar otak sering mengalami 
sklerosis dan menyumbat arteri karotis, sehingga penyediaan 
darah ke otak berkurang sedemikian rupa sampai terjadi 
gangguan fungsi serebral.3 
Terdapat beberapa hal yang mengatur aliran darah otak, yakni 
1. Pengaturan metabolisme 
Bila metabolisme neuronal meningkat, produk CO2 akan me-ningkat, 
sedangkan pH ekstra seluler akan menurun sehingga 
terjadi vasodilatasi serebral yang menyebabkan peningkatan 
aliran darah. 
2. Autoregulasi serebral 
Pengaturan ini merupakan kapasitas bawaan pembuluh darah 
untuk mempertahankan aliran darah otak. Pembuluh darah otak 
menyesuaikan lumennya pada ruang lingkupnya sedemikian 
rupa, sehingga aliran darah menetap, walaupun tekanan perfusi 
berubah. Pengaturan diameter lumen ini di sebut autoregulasi. 
Walaupun teori ini cukup menarik, tetapi terdapat bukti-bukti 
yang menunjukkan pengaruh faktor neurogenik pada 
autoregulasi ini.
Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 21 
3. Pengaturan neurogenik 
Peran faktor neurogenik telah dibuktikan yakni berupa 
pengawasan susunan saraf otonom yang terletak di batang otak 
dan diensefalon, serta inervasi alfa dan beta adrenergik dan 
kolinergik. Adrenergik alfa bersifat vasokonstriktif, sedangkan 
adrenergik beta dan kolinergik mengakibatkan vasodilatasi. 
Peningkatan aliran darah hemisferik dapat disebabkan oleh 
perangsangan formasio retikularis. Agaknya hal ini diakibatkan 
oleh peran faktor neurogenik dan akibat meningkatnya 
metabolisme otak. 
PATOFISIOLOGI INSUFISIENSI SEREBRAL DAN DEMEN 
SIA 
Insufisiensi serebral merupakan salah satu jenis penyakit 
serebrovaskuler yang banyak dijumpai terutama pada usia lanjut. 
Proses patologik yang terjadi yaitu iskemia otak, yakni aliran 
darah ke suatu bagian otak berkurang sehingga menimbulkan 
manifestasi klinik berupa gangguan fungsi serebral. Tergantung 
dari bagian otak yang mengalami iskemia maka gangguan 
fungsi serebral dapat berupa : tinitus, vertigo, gangguan berfikir, 
dan sebagainya. Terjadinya insufisiensi serebral dan gangguan 
metabolisme otak saling berkaitan. Kelainan yang satu dapat 
menyebabkan atau memperberat kelainan yang lain. Oleh karena 
itu, kadang-kadang obat-obat yang digunakan atau dinyatakan 
bermanfaat pada insufisiensi serebral dapat pula digunakan 
untuk meningkatkan atau memperbaiki metabolisme otak. 
Pada usia lanjut terjadi penurunan katekolamin terutama 
fungsi-fungsi dopamin pada berbagai daerah otak, sehingga bisa 
terjadi suatu ketidak-seimbangan antara dopamin dan asetikolin 
atau lebih baik disebut antara dopamin dan GABA. Dilain fihak 
juga terjadi penurunan dari sistem kolinergik yaitu asetilkolin, 
asetikolinesterase dan asetilkolinetransferase, dimana antara lain 
telah diperiksa bahwa pada usia 50 tahun terjadi penurunan 40 - 
60% dari asetilkolintransferase dibanding dengan pada umur 20 
tahun. 
Pada proses berpikir, maka informasi didapat lalu disimpan 
(teoritis disimpan sampai mati), sehingga seharusnya informasi 
tersebut setiap waktu dapat dipanggil (diingat) kembali. 
• Penyimpanan (Storage. ) mula-mula terjadi pada proses 
pemikiran jangka pendek (PPJP) (KZG = Kurzzeitgedacht-nis) 
yang lamanya beberapa detik sampai menit, mungkin 
juga beberapa hari, kemudian disimpan dalam : 
• Proses Pemikiran Jangka Panjang (PPJPa) (LZG = Lang-zeitgedachtnis) 
dimana isi pikiran dikonsolidasi. 
Ada pendapat bahwa sebelum PPJP terdapat suatu Fase Inisial 
yang pendek dan antara PPJP dan PPJPa juga terdapat suatu 
Fase Peralihan. Mekanisme fase pertama (PPJP) agaknya 
terjadi dalam neuron-neuron pertama sedangkan pada fase kedua 
(PPJPa), terjadi sintesis protein yang diperkuat atau diubah 
sebagai akibat suatu peninggian RNA. Yang masih belum jelas 
ialah apakah dalam fase kedua (PPJPa) ini : 
— isi pikiran disimpan di dalam kode/file berupa sekuens asam 
amino atau : 
— apakah karena perubahan morfologik terjadi proses transmisi 
pada berbagai sinaps yang lebih efisien. 
Adalah suatu kenyataan bahwa tiap-tiap fase proses berpikir 
dapat dipengaruhi secara farmakologik. 
Beberapa contoh : 
Fase Inisial dan mungkin juga PPJP dapat dipengaruhi antara 
lain oleh renjatan listrik (Elektroshock) dan Narkosis. 
Skopolamin menghambat konsolidasi atau pemindahan isi 
pikiran dari PPJP ke PPJPa dan efek ini dapat dihilangkan 
dengan Fisostigmin : juga Benzodiazepin agaknya mem-punyai 
efek yang sama. 
Zat-zat yang dengan suatu cara tertentu mempengaruhi 
mekanisme transmisi dalam sinaps terutama bekerja pada 
PPJP, tetapi juga ada pengaruh pada PPJPa, sedangkan 
zat-zat yang mempengaruhi sintesis protein (seperti Puro-misin, 
Sikloheksimid, dan Anisomisin) terutama hanya 
mempengaruhi PPJP dalam arti suatu amnesia retrograd. 
Efek zat-zat tersebut pada proses berpikir tidak hanya tergantung 
dari dosis tapi juga dari waktu kapan diberikan. 
Anatomi lokalisasi proses berpikir belum jelas benar tetapi 
umumnya dianggap terdapat suatu kerjasama antara diense-falon, 
hipokampus dan struktur-struktur fungsi limbik yang lain. 
Secara eksperimental zat-zat yang mempengaruhi proses berpikir 
dinilai dari kerjanya zat-zat tersebut pada proses belajar. 
Idealnya ialah bila bisa dibuktikan bahwa dengan pengaruh 
suatu zat terjadi suatu reaksi tertentu yang lebih cepat dengan 
kesalahan yang lebih sedikit dan dapat dikerjakan terus menerus 
dalam waktu yang lebih lama. 
OBAT-OBAT YANG DIGUNAKAN UNTUK GANGGUAN 
FUNGSI SEREBRAL 
Gangguan fungsi serebral dapat disebabkan oleh berbagai 
macam sebab. Obat-obat yang dibicarakan di sini adalah untuk 
gangguan fungsi akibat insufisiensi serebral dan menurunnya 
metabolisme otak. Manfaat obat-obat ini untuk menanggulangi 
gangguan fungsi serebral masih belum mantap, karena data yang 
tersedia umumnya pada hewan percobaan sedangkan data uji 
klinik pada manusia belum meyakinkan. Selain itu, parameter 
perbaikan fungsi serebral sukar diukur dengan pasti dan di-perlukan 
waktu yang lama dan dana yang besar untuk menilai 
manfaat penggunaan obat-obat ini. 
Penggolongan obat berdasarkan cara kerjanya : 
1. Zat-zat dengan kerja utama pada peredaran darah serebral 
— vasodilator misalnya Naftidrofuril, xantinolnikotinat. 
— antikoagulan, plasmaekspander, penghambat agregasi. 
2. Zat-zat dengan kerja utama pada sel saraf 
— zat yang mempengaruhi transmisi sinaps misalnya L-DOPA 
dan zat-zat sejenis DOPA (lergotril, Amfetamin); Inhibitor 
MAO; Fisostigmin. 
— Psikostimulan dan Analeptik sentral seperti Pemolin, Di-metilantinoetanol, 
Fenkamfamin, Meklofenoksat.
— zat-zat yang mempengaruhi sintesis protein misalnya asam 
orotik. 
— Lain-lain misalnya Piritinol, Pirasetam, Kavain dan Prokain. 
Seringkali terjadi tumpang tindih dalam penggolongan di atas 
misalnya Amfetamin yang merupakan zat sejenis DOPA juga 
adalah suatu Psikostimulan. 
Penggolongan obat berdasarkan struktur kimianya : 
— Alkaloid misalnya Dihidroergotoksin, Papaverin, derivat-derivat 
vitamin. 
— Xanthin : Pentifilin, Pentoksifilin, Xantinol. 
— Piperazin : Cinarizin, Flunarizin, Piribedil. 
— Derivat asam Fenoksiasetat : Fenoksedil, Feksikain, Meklo-fenoksat. 
— Feniletanolamin : Isoksuprin, Nilidrin, Oksifedrin, Tinofedrin. 
— Lain-lain : Bensiklan, Betahistin, Siklandelat, Naftidrofuril, 
Pirasetam, Piritinol. 
Pada usia lanjut, maka prestasi serebral bisa menurun karena 
gangguan peredaran darah dan atau berkurangnya fungsi sel-sel 
saraf, sehingga bisa dibenarkan untuk memberikan obat-obat 
tersebut di atas. Tidak boleh dilupakan bahwa perbaikan selain 
oleh pengaruh obat bisa juga disebabkan oleh efek plasebo dan 
perbaikan yang spontan. Walaupun efek zat-zat tersebut masih 
sering dianggap kontroversial, akan tetapi pemikiran yang ingin 
dicapai antara lain ialah : 
• perbaikan utilisasi/pemakaian 02 dan glukosa oleh SSP 
• peningkatan resistensi jaringan otak terhadap hipoksia 
• peningkatan sintesis protein 
• perbaikan sirkulasi serebral 
• perbaikan prestasi dalam proses belajar dan berpikir. 
Obat-obat ini diindikasikan pada penurunan prestasi serebral 
yang disebabkan oleh berbagai kausa baik vaskuler maupun non-vaskuler. 
Obat-obat untuk insufisiensi serebral 
Golongan obat ini terutama diindikasikan untuk kelainan 
fungsi serebral yang diduga akibat gangguan penyediaan darah, 
atau berkurangnya aliran darah ke jaringan otak. 
1. Heksobendin 
Heksobendin (N, N-bis (3- (3,4,5-trimetoksi)-propil)-etilen-- 
diamindihidroklorid merupakan vasodilator kuat yang dapat 
meningkatkan aliran darah otak (cerebral blood flow) dan pasien 
iskemia serebral dan infark, baik pada daerah iskemik maupun 
pada daerah yang normal, tanpa adanya efeksteal4,5. Aliran darah 
otak total dan regional ini diukur dengan metode penyuntikan 
Xenon 133 intra karotis.6 Heksobendin diberikan intravena dan 
30 menit kemudian dilakukan pengukuran aliran darah otak. 
Selama penyelidikan ini diukur juga tekanan darah sistemik dan 
diambil contoh darah arteri dan vena jugularis untuk 
pemeriksaan pCO2 dan pO2. Terlihat peningkatan aliran darah 
otak sebanyak 15%, dengan penurunan resistensi vaskuler intra 
serebral yang menetap untuk 35 menit.7 Pemberian heksobendin 
secara oral juga meningkatkan aliran darah otak. 
22 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
Infra cerebral steal dapat terjadi pada pemberian CO2 kon-sentrasi 
tinggi, sehingga berdasarkan teori ini dibuatlah postulat 
bahwa pengobatan dengan vasodilator tidak efektif bahkan 
berbahaya pada pasien dengan infark akut. Tetapi penelitian lain 
pada anjing menunjukkan peningkatan aliran darah otak pada 
pemberian inhalasi campuran CO2 5% dalam 02, yakni 
konsentrasi yang sama seperti yang dianjurkan pada pemberian 
inhalasi intermiten pada manusia.a Peningkatan cerebral blood 
flow ini terjadi melalui sirkulasi kolateral ke daerah yang 
iskemik. 
Pemberian heksobendin intravena meningkatkan aliran darah 
hemisferik pada daerah infark dengan sedikit atau tanpa 
penurunan tekanan darah sistemik.9 Heksobendin juga tidak 
mempengaruhi metabolisme otak. 
2. Gabungan heksobendin, etamivan dan etofilin (Instenon) 
Etamivan merupakan perangsang susunan saraf pusat, yang 
tempat kerjanya diduga di substansia retikularis pada pusat 
pernafasan dan sirkulasi. Pemberian etamivan saja ternyata 
tidak memberikan perubahan yang berarti pada aliran darah.6 
Etifilin meningkatkan aliran darah koroner, mempunyai efek 
inotropik positif terhadap jantung serta mempunyai efek diuretik 
yang mengurangi edema serebri serta memperbaiki metabolisme 
jaringan otak. Etofilin meningkatkan aliran darah pada daerah 
iskemik, sedangkan pada daerah normal perubahan hanya 
sedikit atau hampir tidak ada.6 
Gabungan dari ke tiga preparat ini rupa-rupanya mempunyai 
efek sinergistik yakni meningkatnya aliran darah otak secara 
nyata. Penggunaan baik heksobendin maupun gabungan tiga 
preparat ini cukup popular di Eropa, tetapi di Amerika Serikat 
penggunaannya masih terbatas pada keperluan penelitian.5,9 Di 
Indonesia penggunaan obat ini masih dalam taraf permulaan dan 
belum pernah ada uji klinik atau publikasi mengenai 
penggunaan obat ini. 
3. Bensiklan 
Obat ini merupakan suatu sikloalkano eter yang menyebab-kan 
vasodilatasi dengan jalan relaksasi otot-otot pembuluh da-rah 
tanpa adanya perubahan pada transmitor adrenergik di 
daerah inervasi adrenergik. Dengan demikian maka terjadi 
vasodilatasi yang lebih banyak pada jaringan kolateral yang 
tadinya tidak berfungsi disekitar daerah yang iskemik, dan alir-an 
darah mikrosirkuler juga meningkat. Oleh karena terjadi 
peningkatan aliran darah di daerah iskemik yang lebih besar 
(40%) daripada di daerah lain (20%) maka tidak terjadi suatu 
steal syndrome. 
Obat ini meninggikan jumlah glukosa di otak, menimbulkan 
toleransi pada keadaan anoksia serta meningkatkan akumulasi 
glukosa dan kinin. Dengan demikian metabolisme otak disti-mulasi, 
dan terjadi suatu perubahan mekanisme transpor glu-kosa 
dan substrat yang lain pada sawar darah otak dengan jalan 
meningkatkan permeabilitas sawar darah otak.l0 Selain itu 
terjadi pengurangan tendensi aglutinasi platelet. Sesuai dengan 
cara kerjanya, maka obat ini terutama bermanfaat bila terdapat 
suatu insufisiensi sirkulasi otak. Dengan dosis 300-600 mg/hari 
selama 8 minggu, terlihat perbaikan dalam kriteria obyektif 
maupun subyektif pada gangguan sirkulasi serebral11
Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 23 
4. Co-dergokrin mesilat 
Obat ini terdiri dari dihidroergokornin mesilat, dihidroergo-kristin 
mesilat dan dihidroergokriptin mesilat dalam jumlah yang 
sama banyaknya. 
Khasiat campuran komponen-komponen ini antara lain adalah : 
reaktivasi neurotransmisi sentral dengan cara yang menye-rupai 
dopamin dan serotonin, yaitu stimulasi reseptor-reseptor 
post sinaptik 
menggantikan sebagian dari defisiensi neurotransmitor akibat 
proses menua dan menggunakannya secara lebih efisein 
sebagai suatu agonis dopamin dan serotonin maka obat ini 
memulihkan fungsi serebral sehingga diharapkan terjadi 
kemajuan-kemajuan gejala demensia. 
Obat ini meningkatkan aliran darah serebral (CBF) dan kon-sumsi 
oksigen, juga terjadi aktivasi suksinik oksidase (MAO), 
dan melakukan inhibisi ATP-ase, adenil siklase dan fosfodies-terase 
sehingga mengkonservasi konsumsi ATP.12 Dosis yang 
dianjurkan adalah 3 - 6 mg/hari dan perbaikan gejala diharapkan 
dalam 3 - 4 minggu, sehingga dianjurkan pemakaian dalam 
jangka waktu lama. 
5. Pentoksifilin 
Obat ini merupakan suatu derivat Xantin yang mempunyai 
mekanisme sebagai berikut : 
menghambat agregasi platelet dan eritrosit, memperbaiki 
deformabilitas eritrosit serta mengurangi viskositas darah, 
sehingga terjadi peningkatan aliran darah otak 
memperbaiki utilisasi Oksigen dan glukosa otak memperbaiki 
permeabilitas dinding sel serta fungsi sel otak sehingga 
edema serebri berkurang.13 
Dari mekanisme kerja obat ini maka dapat dimengerti bahwa 
obat ini terutama diindikasikan pada keadaan-keadaan di mana 
terdapat insufisiensi aliran darah otak. Dosis yang dianjurkan 
berkisar antara 300 - 1200 mg/hari selama 8 minggu.13-15 
Obat-obat yang meningkatkan atau memperbaiki metabolis-me 
otak 
Golongan obat ini diindikasikan untuk kelainan fungsi se-rebral 
yang terutama diduga akibat menurun atau terganggunya 
metabolisme otak. 
1. Pirasetam 
Obat ini adalah suatu derivat siklik gamma amino-butyric 
acid (GABA), tetapi tidak mempunyai sifat-sifat GABA.16 Obat 
ini disebut suatu Nootropik yang berarti : 
a. tidak mempunyai vasoaktivitas yang langsung, yakni tidak 
menyebabkan vasodilatasi atau vasokonstriksi, tidak mem-pengaruhi 
aliran darah serebral total (total CBF) dan tidak 
menyebabkan suatu steal phenomenon. 
b. tidak menyebabkan perubahan pada aktivitas dasar EEG. Obat 
ini tidak mengubah ritme dasar EEG, tetapi menurunkan 
jumlah gelombang-gelombang delta. 
c. melewati sawar darah otak (blood brain barrier) dalam ke-adaan 
normal maupun patologik 
d. mempunyai efek samping yang minimal 
e. tidak mempengaruhi sistem kardiovaskuler maupun per-napasan. 
12 
Mekanisme kerja obat ini adalah sebagai berikut : 
aktivasi metabolik peredaran darah otak 
meningkatkan kecepatan metabolik serebral oksigen dan 
glukosa regional 
menormalkan aliran darah ke daerah iskemik, bukan dengan 
suatu aktivitas langsung tetapi sekunder 
menurunkan rasio laktat/piruvat 
Dosis yang dianjurkan ialah 2,4 - 4,8 g/hari, selama 6 - 12 
minggu.16-18 Status obat ini masih dimintakan persetujuan kepada 
FDA (Food Drug Administration). 
2. Piritinol 
Suatu derivat B6 (piridoksin), yang termasuk juga golongan 
Nootropik, menyebabkan peningkatan aliran darah otak secara 
selektif terutama ke substansia grisea. Pada penyelidikan 
ditemukan peningkatan aliran darah sebanyak 12% ke substan-sia 
grisea dan 4% ke substansia alba di daerah-daerah yang 
mempunyai sirkulasi patologik. Peningkatan aliran darah ini 
merupakan akibat sekunder dari peningkatan metabolisme.19 
Dengan pemberian obat ini, konsumsi glukosa oleh otak dinor-malkan 
kembali.20 Piritinol juga menurunkan permeabilitas sawar 
darah otak terhadap fosfat, menurunkan kadar GABA dan 
GABA-transaminase dan meningkatkan RNA residual dan RNA 
ribosomal.12 Aktivasi umum yang disebabkan obat ini 
diperkirakan karena pengaruhnya terhadap membran fosfolipid 
eritrosit, di tempat mana terjadi peningkatan pengaturan molekul-molekul 
pada lapisan ganda fosfolipid.21 
Dosis yang dianjurkan ialah 600 - 800 mg/hari dan efeknya 
baru terlihat setelah 3 minggu dan jelas bermakna terhadap 
plasebo setelah 6 - 9 minggu.22 Beberapa penyelidik menge-mukakan, 
bahwa dengan dosis 600 mg/hari atau lebih selama 2 - 
4 bulan jelas memberikan hasil yang lebih baik daripada dengan 
dosis rendah atau plasebo pada organic brain syndrome 
termasuk demensia.22-24 Manfaat obat ini terutama pada pasien 
dengan gangguan serebral yang berhubungan dengan gangguan 
metabolisme glukosa.25 Walaupun demikian perlu dilakukan 
penelitian uji klinik yang lebih luas dengan rancangan yang lebih 
baik untuk memastikan manfaat obat ini. 
KESIMPULAN 
Telah dibicarakan beberapa obat yang lazim dipakai pada 
kelainan insufisiensi serebral dan demensia. Walaupun efek obat-obat 
tersebut masih sering dianggap kontroversial dan perlu 
diadakan penelitian uji klinik yang luas dengan rancangan 
penelitian yang mantap untuk dapat menilai manfaat obat-obat 
ini secara tuntas, namun agaknya persoalannya mempunyai titik 
awal pada penentuan jenis kausanya terlebih dulu. 
Dengan mengingat penggolongan obat berdasarkan cara 
kerjanya, maka obat-obat yang kerja utamanya pada sel saraf 
atau meningkatkan metabolisme sel-sel saraf dapat diberikan 
pada keadaan-keadaan degeneratif. Sedangkan obat-obat yang 
kerja utamanya pada peredaran darah serebral, dapat di berikan 
pada keadaan insufisiensi serebral. Disamping itu perlu
diperhatikan pengobatan penyakit yang mendasari kelainan 
serebral yang merupakan kausa ekstrakranial. 
Dengan demikian maka terapi farmakologik diharapkan da-pat 
memberikan manfaat yang optimal. 
KEPUSTAKAAN 
1. Guyton AC. Blood flow through special areas of the body. Text book 
of medical Physiology, 4th. edition, WB Saunders Co, 1971; p. 
367. 
2. Stumpf C. Pharmaka and Mirnleistung, in Neuropharmakologie, 
Springer Verlag, Wien New York, 1983; pp 157 - 163. 
3. Rasyad RS. Efek gabungan Hexobendin, Etamivan dan Etofilin pada 
penderita CVD, makalah Joint-session Neuropharmacology, 
Agustus, 1982. 
4. Marshall J. The management of cerebrovascular disease, 3rd ed. 
Oxford: Blackwell Scientific Publications, 1976; 1 - 60. 
5. Meyer JS. Modern concepts of cerebrovascular disease, Spectrum 
publications, New York, 1975. 
6. Meiss, WD. Drug effects on regional cerebral blood flow in focal 
cerebrovascular disease, Journal of the Neurological Science, 1973, 
19 : 461 - 482. 
7. Meyer JS et al. Effects of hexobendine on cerebral hemispheric 
blood flow and metabolism. Neurology 1971; 121. 7 : 691 - 702. 
8. Kraupp D et al. The effect of Hexobendine on cerebral blood flow 
and metabolism, Arzneim-Forsch, 1969; 19 : 1691 - 1698. 
9. McHenry L et al. Regional cerebral blood flow and cardiovascular 
effect of hexobendine in stroke patiens, Neurology, vol. 22, 1972; 
3 : 2 1 3 : 2 1 7 - 2 2 3 . 
10. Hapke HJ. The effect of Fludilat on the Blood Brain Barrier, The-rapie 
Woche, English Edition 24. Nr 25, 17; 1974. 
11. Bartles H & Schneider B. Investigation of the pharmacodynamic 
action of Fludilat in the .treatment of cerebrovascular insuffi-ciency, 
Med. Welt 1978; 29 : 1056 - 1060. 
12. Skondia V. Criteria for Clinical Development and Classification of 
Nootropic Drugs. International Symposium on Nootropic Drugs, 
Rio de Janeiro, 1979; pp 7 - 20. 
13. Muller R & Lehrach F. Haemorheology and Cerebrovascular Di-sease 
: Multifunctional approach with Pentoxifylline, Curr Med 
Res Opin Vol 7 : No. 4, 1981. 
14. Buckert D & Harwart D. Trials of BL 191 in double blind test, II 
Farmaco, 1976;5, 31. 
15. Takamatsu S, Sato K, Takamatsu M, Sakuta S & Mizuno S. Cha-nges 
in haematological and blood chemical parameters after treat-ment 
of aged arteriosclerotic patients with Pentoxifylline, Phar-matherapeutica, 
Vol. 2, No. 3, 1979. 
16. Chouinard G, Annable L, Olivier M, Fontaine F & Ross Chouinard 
A. Psychotropic and Neurophysiologic effects of Piracetam in 
Geratric Psychiatr Patients. a controlled study. preliminary report. 
International Symposium on Nootropic Drugs, Rio de Janeiro, 
1979; pp 23 - 30. 
17. Castellanos V & Suarez MV. The use of Piracetam in the Psycho- 
Organic Syndrome of Senility. International Symposium on 
Nootropic Drugs, Rio de Janeiro, 1979; pp 49 - 60. 
18. Mendivil MAC. Clinical work in Patients with a Psyeho-Organic 
Syndrome of Senility using the Drug Piracetam. International 
Symposium on Nootropic Drugs, Rio de Janeiro, 1979; pp 31 - 48. 
19. Herrschaft H. Die Wirkung von Pyritinol ouf die Gehirndurchblu-tung 
des Menschen,.Munchen Medizinische Wochenschrift, 60, 
1978. 
20. Becker K & Hoyer S. Hirnstoffwechseluntersuchungen unter der 
Behandlung mit Pyrithioxin, Deutsche Zeitschrift fur Nervenheil-kunde, 
p1966; pp 188 - 200. 
21. Martin KJ. On the Mechanism of Action of Encephabol, J. int. Med. 
Res, Vol. 2. no. 2, 1983. 
22. Hamouz W. The use of Pyritinol in patients with moderate to se-vere 
organic psychosyndrome, Pharmatherapeutica, Vol. 1 No. 6, 
1977. 
23. Cooper AJ & Magnus RV. A placebo-controlled study of Pyritinol 
in Dementia, Pharmatherapeutica, Vol 2, No. 5, 1980. 
24. Glatzel J. Dose-Effect Relationship of Drally Administered Pyriti-nol 
in the Chronic Brain Syndrome, Med. Klinik, 1978; 73. 1117- 
1121. 
25. Hoyer S, Oesterreich K & Stoll KD. Effects of Pyritinol HCL on 
blood flow and oxidative metabolism of the brain in patients with 
Dementia, Arzneim Forsch 1977; 27, 671. 
26. Kohimeyer K. The effect of Bencyclane on the General and Re-gional 
Blood supply of the brain. Investigation with the Xenon 133 
clearance method. Herz/Kreislauf 4. Nr. 5, 1972; 196 - 203. 
9A RAH 
24 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
Penanggulangan Bencana 
Peredaran Darah di Otak 
Dr. Sahala Maringan Lumban Tobing 
Bagian Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta 
Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 25 
PENDAHULUAN 
Bencana peredaran darah di otak (BPDD) sering dikenal 
dengan kata stroke atau cerebrovascular accident, merupakan 
penyebab invaliditas yang paling sering pada golongan umur di 
atas 45 tahun Di negara industri BPDD merupakan penyebab 
kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan keganasan 
Otak merupakan organ yang membutuhkan banyak oksigen 
dan glukosa Zat ini diperolehnya dari darah. Di otak hampir 
tidak ada cadangan oksigen, sehingga jaringan otak sangat 
bergantung kepada keadaan aliran darah setiap saat. Beberapa 
detik saja aliran darah terhenti maka fungsi otak akan ter-ganggu; 
bila aliran darah kesuatu daerah otak terhenti selama 
kira-kira 3 menit maka jaringan otak akan mati (infark). Gang-guan 
aliran darah di otak dapat diakibatkan oleh gangguan di 
pembuluh darah darah atau jantung atau gabungan ketiga faktor 
tersebut Adanya BPDD dapat dengan mudah diketahui, yaitu 
dari terjadinya defisit neurologik yang timbul secara mendadak 
misalnya lumpuh sebelah badan mendadak. 
Kita mengenal dua jenis stroke, yaitu : 
• Stroke non-hemoragik 
• Stroke hemoragik 
"Stroke" non-hemoragik 
Didapatkan penurunan aliran darah sampai di bawah titik kri-tis, 
sehingga terjadi gangguan fungsi pada sebagian jaringan 
otak Bila hal ini lebih berat dan berlangsung lebih lama dapat 
terjadi infark dan kematian. Berkurangnya aliran darah ke otak 
dapat disebabkan oleh berbagai hal : misalnya trombus, emboli 
yang menyumbat salah satu pembuluh darah, atau gagalnya 
pengaliran darah oleh sebab lain, misalnya kelainan jantung 
(fibrilasi, asistol). 
Stroke non-hemoragik lebih sering dijumpai daripada yang 
hemoragik. Diagnosis mudah ditegakkan, yaitu timbulnya defi-sit 
neurologik secara mendadak (misalnya hemiparesis), dan 
kesadaran penderita umumnya tidak menurun. 
Pada stroke yang ringan, iskemia berlangsung singkat, defisit 
neurologik dapat pulih sempurna. Bila pemulihan sempurna ini 
terjadi dalam jangka waktu 24 jam, ia dinamakan "serangan 
iskemia sepintas" (transient ischemic attack atau disingkat TIA). 
Bila pulih sempurna terjadi setelah waktu 24 jam, disebut defisit 
neurologik iskemia yang reversibel (reversible ischemic 
neurologic deficit atau disingkat RIND). 
Pada iskemia yang lebih berat atau berlangsung lama, terjadi 
defisit neurologik yang irreversibel, yang menetap, dan 
merupakan cacad. 
'Stroke" hemoragik 
Stroke hemoragik terjadi karena salah satu pembuluh darah di 
otak (aneurisma, mikroaneurisma, kelainan pembuluh darah 
kongenital) pecah atau robek. Keadaan penderita stroke 
hemoragik umumnya lebih parah. Kesadaran umumnya menurun. 
Mereka berada dalam keadaan somnolen, sopor atau koma pada 
fase akut. 
PENANGGULANGAN "STROKE" 
• Perawatan umum 
— Memonitor, dan bila perlu memperbaiki fungsi pernafasan, 
tekanan darah dan jantung. 
— Mengusahakan keadaan metabolisme yang optimal, mem-perhatikan 
kebutuhan akan : cairan, kalori dan elektrolit. 
— Memperhatikan fungsi miksi dan defekasi. 
— Mencegah terjadinya dekubitus, pneumonia ortostatik. 
• Mendeteksi dan bila perlu mengobati faktor risiko : 
— Hipertensi 
— diabetes mellitus 
— kelainan jantung 
— hiperlipidemia, hiperkolesterolemia 
— obesitas 
— berhenti merokok 
• Memberikan pengobatan atau tindakan khusus. 
— antiedema
— antiagregasi, antikoagulasi 
—antifibrinolisis 
—meningkatkan aliran darah dan metabolisme otak. 
• Tindakan bedah 
—Mengeluarkan hematoma (bila perlu) 
—Melakukan EC-IC shunt. 
• Melakukan rehabilitasi. 
• Mencegah berulangnya stroke. 
Hipertensi 
Sebagian terbesar penderita stroke adalah penderita hiper-tensi. 
Hipertensi adalah faktor risiko yang paling "kuat" bagi 
terjadinya stroke. Bila hipertensi diobati secara adekuat, maka 
jumlah penderita stroke dapat dikurangi. Pada fase akut kita 
harus hati-hati menurunkan tensi. Oleh karena keadaan iskemia, 
maka fungsi autoregulasi menjadi terganggu. Aliran darah di 
otak bergantung kepada tekanan perfusi (tekanan darah sistemik 
- tekanan venous). 
Bila tekanan diastole pada fase akut tidak melebihi 115 mm Hg 
tidak diberikan obat anti-hipertensi. Bila memberikan obat anti-hipertensi 
pada fase akut, harus dijaga agar turunnya tensi tidak 
terlalu banyak, cukup bila sudah mencapai 160/110 mm Hg. Bila 
fase akut sudah berlalu, maka pengobatan hipertensi adalah 
sebagai biasanya. 
Obat antiedema 
Edema di otak dapat mengakibatkan terganggunya aliran darah 
otak, terutama "mikrosirkulasi", dan dapat pula mengakibatkan 
herniasi jaringan otak yang berakibat fatal. 
Deksametason : Steroid adalah obat anti-inflamasi yang ampuh, 
yang juga dapat mengurangi sembab-otak, mungkin melalui 
pen-stabilan membran sel dan menncegah terjadinya edema intra 
dan ekstraselular. Deksametason merupakan steroid yang paling 
sering digunakan sebagai antiedema otak. Walaupun khasiatnya 
sudah dapat dibuktikan dalam mengobati edema otak pada 
keganasan (neoplasma) di otak, namun khasiatnya dalam 
mengobati edema oleh infark dan hemoragi di otak masih 
kontroversial. 
Deksametason dapat diberikan dalam dosis permulaan 10 mg 
intravena atau intramuskular, kemudian diikuti oleh 5 mg tiap 6 
jam sampai selama satu minggu dan kemudian dihentikan 
secara bertahap (tapering off). 
Efek samping steroid cukup banyak, kita harus mempertim-bangkan 
untung-ruginya pada tiap kasus. Bila terdapat riwayat 
tukak lambung sebaiknya tidak diberikan ! 
Gliserol : Larutan hiperosmolar ini dapat menarik air dari otak, 
dengan demikian mengurangi edema otak. Dosis yang di-anjurkan 
per infus ialah larutan 10% diberikan sebanyak 24-30 
tetes per menit, sampai jumlah 1 gram gliserol/kg berat ba-dan/ 
hari; Di klinik kami, untuk orang dewasa kami berikan 1 
kolf 500 ml larutan 10% gliserol sehari yang diberikan dalam 
waktu kira-kira 6 jam (28 tetes/menit). Gliserol dapat pula 
diberikan per oral, dengan dosis 1,5 gram/kg berat badan sehari, 
dibagi dalam 4 kali pemberian. Laporan mengenai hasil 
pengobatan dengan gliserol masih kontroversial. 
26 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
Obat anti-agregasi trombosit 
Trombosit mempunyai kemampuan untuk beragregasi dan dapat 
membentuk trombus atau tromboemboli. Diduga bahwa 
tromboemboli mempunyai peranan pada banyak kasus stroke. 
Untuk mencegah hal ini digunakan obat-obat anti-agregasi. 
Telah banyak dilakukan penyelidikan mengenai khasiat obat anti 
-agregasi untuk mencegah berulangnya stroke pada penderita 
TIA (transient ischemic attack) atau stroke ringan. Banyak 
laporan yang mengemukakan bahwa obat anti-agregasi seperti 
asetosal dapat mengurangi kambuhnya stroke pada penderita 
stroke ringan. Obat anti-agregasi yang dapat digunakan ialah : 
asetosal, dipiridamol, sulfinpirazon, pentoksifilin. Obat yang 
paling banyak diselidiki ialah asetosal. Dosis yang digunakan 
bermacam-macam, ada yang melakukan penyelidikan dengan 
dosis 2 x 650 mg sehari, ada dengan 2 x 500 mg sehari; 500 mg 
sehari 10 mg/kg berat badan sehari.1 Bahkan ada yang 
melaporkan bahwa Asetosal dengan dosis rendah mempunyai 
manfaat, yaitu 40 mg sehari.2 Lamanya pengobatan berkisar 
antara 2 sampai 5 tahun. Obat lainnya, yaitu dipiridamol, 
sulfinpirazon dan pentoksifilin masih kurang banyak diselidiki. 
Masih ditunggu hasil penyelidikan yang lebih luas. Hasil 
sementara melaporkan bahwa dipiridamol dan sulfinpi razone 
bila diberikan tersendiri tidak mempunyai khasiat, tetapi bila 
diberi bersama sama asetosal ada khasiatnya.3 
Obat antifibrinolisis 
Beberapa penyelidikan telah dilakukan guna menilai manfaat 
obat antifibrinolisis dalam mencegah perdarahan-ulang pada 
penderita perdarahan subaraknoid. Hasilnya masih kontrover-sial. 
Obat yang digunakan ialah asam aminokaproat dan asam 
traneksamat. 
Meningkatkan aliran darah dan metabolisme otak 
Manfaat vasodilatansia dalam meningkatkan aliran darah di 
daerah iskemia belum dapat dibuktikan. Vasodilatansia yang 
pernah digunakan ialah : dioksida karbon, papaverin, hekso-bendin, 
betahistin dihidroergonovin, nilidrin, siklandelat. 
Pemberian oksigen juga tidak berguna, kecuali bila kadar ok-sigen 
arterial memang menurun. Vasopressor pernah dicoba 
untuk meningkatkan aliran darah ke daerah iskemia. Landasan 
teoritiknya ialah : autoregulasi di daerah iskemik terganggu, 
dengan demikian aliran darah bergantung kepada tekanan per-fusi, 
yaitu tekanan darah iskemia - tekanan vena. Meningkatkan 
tekanan darah akan meningkatkan tekanan perfusi. Penyelidikan 
mengenai hal ini belum cukup dilakukan, namun ada laporan 
yang mengemukakan hasil baik. hiperventilasi untuk 
mengurangi PaCO2 tidak bermanfaat dalam pengobatan stroke. 
PENUTUP 
Stroke atau bencana peredaran darah di otak dapat didefinisikan 
sebagai gangguan yang mendadak daripada suplai darah di otak, 
atau perdarahan setempat di otak. Walaupun didapatkan 
kemajuan yang pesat dalam bidang diagnostik serta pemahaman 
patofisiologi daripada stroke, namun dalam bi-
Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 27 
dang pengobatan kemajuan sangat lambat. Bila stroke sudah 
terjadi infark atau perdarahan otak sudah terjadi maka penga-ruh 
pengobatan tidak banyak artinya. Oleh karena itu tujuan 
utama ialah pencegahan. Saat ini telah diketahui beberapa 
faktor yang menyebabkan seseorang lebih rentan terhadap 
stroke. Bila faktor risiko ini ditanggulangi dengan baik. ke-mungkinan 
mendapatkan stroke dapat dikurangi. 
KEPUSTAKAAN 
1. Bousser MG Eschwege E, Haguenau M, Lefaucconnier, Thibult N, 
Toubould D, Touboul PJ. "AICLA" controlled trial of aspirin and 
dipyridamole in the secondary prevention of atherothrombotic ce-rebral 
ischemia. Stroke 1983;14: 5 - 14. 
2. Weksler BB, Scherer P, Kent J, Rudolph D. Low dose aspirin effec-tively 
inhibits platelet function in patients with recent cerebral is-chemia. 
Stroke 1984; 15 : 183. 
3. Yatsu FM. Acute medical therapy of strokes. Stroke 1982; 13 : 524- 
526.
Peranan Radiologik Pada Kelainan Otak 
dr. Susworo 
Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta 
PENDAHULUAN 
Pemeriksaan radiologi pada kelainan otak dapat dibagi atas : 
1. Konvensional 
— tanpa kontras (foto polos) 
— dengan kontras (positif atau negatif) 
2. Radioisotop 
3. CT scanning 
Indikasi paling sering untuk melakukan pemeriksaan-peme-riksaan 
ini adalah kelainan karena trauma dan tumor (proses 
desak ruang). Dalam jumlah kecil dilakukan pada kelainan-ke-lainan 
bawaan serta degeneratif. Kelainan akibat infeksi, se-kalipun 
sering ditemukan di Indonesia jarang dilakukan peme-riksaan 
radiologik karena kurangnya manifestasi langsung yang 
dapat dilihat. 
A. FOTO POLOS 
Perubahan-perubahan yang tampak pada gambaran radiologik 
adalah merupakan akibat dari peninggian tekanan intrakranial. 
Keadaan ini telah diketahui sejak tahun tiga puluhan oleh 
Schuller, dan makin lama makin banyak fakta-fakta yang 
terungkap pada kelainan tersebut. Sepertiga dari penderita-penderita 
dengan tanda-tanda peninggian tekanan intrakranial, 
baik itu disebabkan tumor, abses atau hidrosefalus, pada orang 
dewasa atau kanak-kanak, akan menunjukkan tanda-tanda 
tersebut pada foto polos kepala. Sedangkan pada 20% penderita 
yang dengan pemeriksaan radiologik menunjukkan tanda-tanda 
kenaikan tekanan intrakranial, pada pemeriksaan klinis belum 
didapatkan adanya edema papil. 
TANDA-TANDA RADIOLOGIK 
Pada foto polos kepala kelainan intrakranial dapat menim-bulkan 
perubahan yang sifatnya umum atau lokal. 
28 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
Perubahan umum 
1. Peninggian tekanan intrakranial. 
a. Terjadi pelebaran dari ukuran sela tursika (ballooning). 
b. Pelebaran dari sutura. 
c. Ekspansi dari rongga tengkorak. 
d. Penipisan tulang batok kepala. 
e. Pelebaran dari foramina. 
2. Atrofi atau perkembangan jaringan otak yang terhambat. 
a. Penebalan tulang batok kepala. 
b. Rongga tengkorak yang kecil dengan kompensasi per-tumbuhan 
struktur organ-organ didalamnya. 
c. Sutura cepat menutup. 
Perubahan setempat 
1. Didapatkan tanda-tanda terdorongnya struktur normal oleh 
proses desak ruang. 
a. Korpus pineale mungkin terdorong sebagai akibat lang-sung 
dari tumor, atau sekunder karena herniasi jaringan 
otak melalui tentorium serebri. 
b. Pendorongan pada pleksus koroideus, falks atau tento-rium 
yang semuanya berkalsifikasi. 
2. Erosi setempat pada tulang akibat penekanan. 
3. Penipisan setempat atau penonjolan setempat tulang akibat 
penekanan massa yang berlangsung lama. 
4. Adanya tumor atau malformasi arteriovenosa akan me-nimbulkan 
kelainan pada tulang tengkorak. 
5. Hiperostosis. 
6. Adanya struktur tulang tengkorak yang abnormal dapat 
mengakibatkan kelainan neurologik yang sekunder. 
7. Akibat peradangan pada organ-organ yang berdekatan se-perti 
mastoid atau sinus frontalis. 
8. Adanya fraktur atau akibat penyembuhan dari fraktur. 
9. Pembentukan tulang yang abnormal (anomali) dengan 
kelainan neurologik. 
10. Adanya kalsifikasi patologik intrakranial.
Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 29 
Gambar 1 : Angiogram karotis normal. 
Keadaan-keadaan yang mengakibatkan peninggian tekanan 
intrakranial adalah : 
1. Massa intrakranial yang besar seperti neoplasma, abses atau 
hematoma akan menimbulkan tekanan intrakranial yang 
meninggi.Otak lebih sering tertekan dari pada tulang kepala 
apabila tumbuhnya dengan cepat. 
2. Terjadinya obstruksi parsial atau komplit dari aliran likuor 
serebrospinal, baik oleh massa intrakranial ataupun kelainan 
kongenital, atau oleh perlekatan setelah infeksi dapat 
mengakibatkan terjadinya hidrosefalus. 
3. Edema serebral yang terjadi sebagai akibat neoplasma, ab-ses, 
ensefalitis, infark serebri atau hipertensi vaskuler. 
4. Kronio stenosis, yaitu suatu keadaan dimana tengkorak te-lah 
berhenti berkembang pada saat jaringan otak masih 
membutuhkan tempat untuk berkembang. 
Manifestasi radiologik dari peninggian tekanan intrakranial 
sangat bergantung pada : periode timbulnya peninggian tersebut 
(akut atau kronik), apakah terjadinya pada saat masih bayi, 
kanak-kanak atau dewasa. Biasanya kelainan radiologik timbul 
apabila tekanan intrakranial yang tinggi telah berlangsung 5 
sampai 6 minggu. Dua daerah menjadi pegangan akan ada 
tidaknya peninggian tekanan intrakranial ini, yaitu sutura pada 
kanak-kanak dan sela tursika pada orang dewasa. 
KELAINAN RADIOLOGIK 
Efek pada tulang tengkorak 
Apabila kenaikan tekanan intrakranial ini terjadi pada periode 
ante-natal sampai minggu pertama setelah kelahiran, tulang-tulang 
tengkorak akan tampak lebih tipis dari pada normal, 
kadang-kadang menunjukkan kegagalan dalam proses 
penulangan (sebuah bentuk dari kraniolakuna). Tetapi kenaikan 
tekanan intrakranial yang terjadi secara akut tidak akan 
mempengaruhi penebalan atau bentuk tulang tengkorak. Tanda 
lain dari kenaikan tekanan intrakranial pada kanak-kanak adalah 
yang dinamakan impressiones digitatae (Convolutional 
impressions) yang terjadi pada bagian atas tulang frontal dan 
parietal. Tetapi apabila gambaran ini tampak pada tulang teng-korak 
2/3 bawah ia tidak mempunyai nilai diagnostik, melainkan 
dianggap merupakan respons dari tulang yang sedang tumbuh 
terhadap jaringan otak di bawahnya. 
Pada orang dewasa, kelainan yang berlangsung lama kadang-kadang 
menimbulkan penipisan kalvaria secara menyeluruh. 
Tetapi apabila tekanan intrakranial yang tinggi ini berlangsung 
sejak masa kanak-kanak, misalnya pada_ stenosis akuaduk akan 
terjadi pelebaran bagian supratentorial, kecuali fossa posterior 
serebri. 
Efek pada sutura 
Dalam pertumbuhan seorang anak, sutura akan menyempit 
pada rata rata usia 1 tahun pertama. Apabila sutura ini tetap lebar 
maka patut dicurigai adanya peninggian tekanan intrakranial. 
Yang paling jelas adalah sutura lambdoidea. Diastasis dari sutura 
ini lebih nyata apabila telah terjadi osifikasi yang sempurna. 
Untuk dapat melihat dengan nyata, maka diperlukan pengaturan 
posisi kepala anak sehingga tidak terjadi superposisi dengan 
jaringan lain. 
Efek pada sela tursika 
Sela tursika merupakan salah satu bagian intrakranial yang di 
gunakan sebagai tolok-ukur ada tidaknya kenaikan intrakranial. 
Untuk mendeteksi perubahan dini pada sela tursika akibat 
kenaikan tekanan intrakranial ini, diperlukan syarat-syarat 
radiologik yaitu : 
— Posisi pemotretan harus lateral murni, arah sinar-X 
tegak lurus pada bidang yang melalui sela tursika. 
(bidang sagital). 
— Teknik pemotretan harus sedemikian rupa sehingga 
dapat dilihat adanya perubahan yang men-detail pada tulang. 
Kelainan radiologik yang tampak pada sela tursika sebagai 
akibat kenaikan tekanan intrakranial, oleh du Boulay dan El 
Gammal dibagi dalam 3 kategori : 
I. Tampak erosi pada garis korteks sela tursika dekat basis dari 
dorsum sela. 
II. Destruksi dari puncak dorsum sela prosesus (klinoideus 
anterior) dengan kecendrungan terdorongnya sisa dari 
lamina dura. 
III. Apabila erosi tulang sedemikian rupa sehingga telah meli-batkan 
planum sfenoidale. 
Harus dapat dibedakan kelainan yang timbul akibat tumor 
intra atau suprasellar. Tumor intrasellar akan mengakibatkan
fosa hipofisi yang membengkak seperti balon (ballooning) se-dangkan 
tumor-tumor suprasellar menimbulkan pendataran dari 
sela (flattening). 
Pada penelitian penulis terhadap 83 orang Indonesia dewasa 
"normal" mendapat ukuran sela tursika rata rata : 1,17 cm. 
Gambar 2 : Angiogram karotis menunjukkan penekanan pada a. serebri 
anterior ke medial dan a. serebri medial ke bawah (tanda 
panah). 
B. FOTO DENGAN KONTRAS 
Foto polos tengkorak digunakan untuk menilai akibat dari 
kelainan otak pada tulang tengkorak, sedangkan jaringan otak-nya 
sendiri tidak akan tergambar, kecuali adanya pengapuran. 
Selain itu juga kelainan yang sifatnya akut, kecuali fraktur tidak 
menimbulkan jejak pada tulang tengkorak. Karena itu, 
usahakanlah melakukan pemeriksaan jaringan otak dengan 
menggunakan kontras. Pada hakekatnya, pemeriksaan dengan 
kontras terdiri atas : kontras positif, yang menimbulkan ba-yangan 
opak (angiografi); kontras negatif, apabila menimbulkan 
bayangan lusen (dengan udara; pneumoensefalografi). 
Angiografi serebral dilakukan dengan memasukkan kontras 
ke dalam pembuluh-pembuluh otak melalui arteri karotis, 
dengan pertolongan jarum atau kateter atau dengan modifikasi 
teknik Seldinger yang menggunakan kanula. Karena aliran darah 
arteri yang cepat, maka pemotretan pun harus dilaksanakan 
secara seri (serial), sehingga setiap fase di mana kontras berada 
tidak akan terluput. Fase tersebut adalah fase arteriil, kapiler dan 
venosa. Selain berseri, pemotretan sekaligus dilakukan pada 
proyeksi lateral dan anteroposterior. 
Selain angiografi karotis untuk mengevaluasi tumor-tumor 
pada muka atau nasofaring dilakukan angiografi karotis ekstema. 
Indikasi pemeriksaan ini terutama adanya proses desak ruang. 
30 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
Adanya tumor serebral akan mengakibatkan distribusi yang 
normal dari pembuluh darah otak terganggu. Lesi-lesi di daerah 
oksipital dan temporal sebelah posterior akan lebih sulit terdeteksi 
daripada bagian lainnya. Kadang-kadang jenis tumor dapat 
diperkirakan berdasarkan gambaran pembuluh darah tumor 
tersebut terutama pada jenis meningioma dan glioblastoma 
multiforme 
Perdarahan subaraknoid : Angiografi karotis merupakan salah 
satu sarana diagnostik yang menentukan adanya perdarahan 
subaraknoid. Bila faktor trauma disangkal, maka perdarahan yang 
terjadi, 50 - 70% diakibatkan aneurisma arteri intrakranial. Pada 
kasus-kasus hipertensi, perdarahan subaraknoid sering disertai 
perdarahan intraserebral yang spontan. Pada Stenosis pembuluh 
darah otak yang mengakibatkan iskemia, maka angiografi 
serebral ini diperlukan benar untuk mengetahui lokalisasi pasti 
dari penyumbatan. 
Trauma kepala dengan kecurigaan perdarahan intraserebral 
memerlukan angiografi karotis segera, sehingga hematoma dapat 
ditemukan dengan segera dan tindakan adekuat dapat pula 
dilaksanakan. 
Pada hidrosefalus, tindakan angiografi karotis jarang dila-kukan 
dan lebih bermanfaat untuk mengevaluasi hasil tindakan. 
Kelainan yang tampak pada angiografi serebral dapat di-kelompokkan 
sebagai berikut : 
1. Pendorongan pembuluh darah akibat proses desak ruang. 
2. Tanda-tanda dilatasi ventrikuler. 
3. Tanda-tanda herniasi melewati foramen magnum atau ten-torium. 
4. Tanda-tanda atrofi serebral. 
5. Sirkulasi vaskuler yang bertambah pada tumor dan angioma. 
6. Aneurisma. 
7. Tanda-tanda penyakit serebro vaskuler. 
8. Kelainan kongenital. 
9. Tanda-tanda yang berhubungan dengan trauma kepala (he-matoma). 
Ventrikulografi dan pneumoensefalografi (PEG) : 
Pneumoensefalografi lumbal adalah memasukkan udara ke 
dalam ruangan ventrikel melalui pungsi-lumbal sehingga seluruh 
ventrikel IV, akuaduk serta sisterna fosa posterior serebri, juga 
sistim ventrikel yang lain terisi udara. 
Sedangkan ventrikulografi adalah tindakan mengisi ventrikel 
secara langsung dengan udara steril, yang sebelum cairan di 
dalamnya di-tap terlebih dulu untuk memberi tempat pada udara 
tersebut. 
Indikasi untuk melakukan ventrikulografi serta PEG adalah: 
pada kasus-kasus yang klinis menunjukkan tekanan intrakranial 
yang meninggi namun tidak tampak pada pemeriksaan 
radiografik biasa. Ensefalografi terutama dilakukan untuk semua 
kasus-kasus tumor ekstra serebral yang asalnya dari basis kranii, 
pada tumor-tumor yang berasal dari cerebello-pontin angle. 
Dikatakan bahwa ventrikulografi lebih superior dibandingkan 
dengan PEG pada tumor-tumor serebelum serta tumor-tumor 
intra serebral.
Cermin Dunia Kedokteran No. 31, 1984 35 
Gambar 3 : Pneumoensefalografi normal. 
Secara umum penggunaan kontras negatif ini dilakukan 
apabila dengan foto polos atau kontras positif tidak didapatkan 
kelainan, padahal klinis amat mengarah ke hal tersebut. Makin 
lama penggunaan kontras udara ini makin terdesak karena 
tindakan ini dinilai terlalu "tidak enak" (uncomfortable), apalagi 
dengan dikembangkannya penggunaanradio isotop dan lebih-lebih 
lagi sekarang telah digunakan orang Computerized 
Tomography Scanning yang benar-benar tidak ada faktor ma-nipulasi 
pada penderita. 
PEMERIKSAAN JARINGAN OTAK DENGAN RADIO-ISOTOP 
Apabila sejumlah kecil isotop radio aktif mencapai aliran 
darah maka ia akan segera disebar keseluruh tubuh dalam jum-lah 
yang berbeda-beda. Banyak sedikitnya zat radio aktif dalam 
jaringan dapat diketahui dari jumlah radiasi yang dapat 
ditangkap kamera, sehingga akan tercipta suatu pola penyebaran 
radio aktif dalam jaringan. 
RISA (radio iodinated Serum albumen) serta technetium 99 
dalam bentuk pertechnetate merupakan materi yang digunakan 
untuk mendeteksi adanya tumor otak. Adanya proses 
patologik pada otak, seperti tumor, mengakibatkan bertam-bahnya 
cairan ekstra seluler. Komponen radio aktif diatas akan 
mengalami kumulasi terutama pada cairan ekstra seluler tadi, 
karena itu bagian ini akan memancarkan sinar radio aktif paling 
tinggi yang akan tampak sebagai hot-spot. Sebaliknya gambaran 
cold-spot menunjukkan daerah dengan vaskuler yang rendah 
pada daerah tersebut. 
Kegunaan pemeriksaan radioisotop pada jaringan otak ter-utama 
pada tumor primer (glioma, meningioma), metastasis 
tumor. Pada abses. dan hematoma jarang dilakukan karena ku-rang 
spesifik. 
CT SCAN PADA KELAINAN OTAK 
Merupakan teknik pemeriksaan yang mutakhir, mempunyai 
risiko pemeriksaan yang rendah dan memberikan nilai 
diagnostik yang amat tinggi. Hampir semua kelainan pada ja-ringan 
otak dan dasar tengkorak dapat dideteksi dalam keadaan 
yang masih dini. Sekalipun demikian, pemeriksaan ini tidak 
dapat seluruhnya menggantikan fungsi-fungsi pemeriksaan yang 
telah diuraikan sebelum ini, melainkan harus saling melengkapi. 
Kekurangan lain adalah masih langkanya sarana dan masih 
mahalnya biaya pemeriksaan ini. 
KEPUSTAKAAN 
1. Shanks SC, Kerley P. A textbook of X-rayDiagnosis. 4th ed., Phi-ladelphia: 
WB Saunders Co., 1959. 
2. Susworo. Pengukuran Sella Tursica Pada Sejumlah Orang Indonesia 
Secara Radiologik. Majalah Radiologi Indonesia 1980; 4 : 5 - 13.
Cedera Otak 
dan Dasar-dasar Pengelolaannya 
dr. Leksmono PR*, dr. A Hafid**, dr. M Sajid D** 
* Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya 
** Sie Bedah Saraf Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya 
PENDAHULUAN 
Cedera otak yang akan dibicarakan dalam makalah ini adalah 
cedera akibat rudapaksa kepala (trauma kapitis). Di negara maju, 
kecelakan lalu lintas merupakan penyebab kematian utama pada 
umur antara 2 - 44 tahun, dimana 70% diantaranya mengalami 
rudapaksa kepala 1-3 Di Surabaya, frekuensi trauma kapitis 
meningkat dengan 18% setiap tahunnya4 
Secara klasik kita kenal pembagian : komosio, kontusio dan 
laserasio serebri. Pada komosio serebri kehilangan kesadaran 
bersifat sementara tanpa kelainan PA. Pada kontusio serebri 
terdapat kerusakan dari jaringan otak, sedangkan laserasio 
serebri berarti kerusakan otak disertai robekan duramater. 
Pembagian lain menyebutkan bahwa pada komosio serebri, 
penurunan kesadaran kurang dari 15 menit dan post traumatic 
amnesia kurang dari 1 jam. Bila penurunan kesadaran melebihi 1 
jam dan post traumatic amnesia melebihi 24 jam berarti telah 
terjadi kontusio serebri. Perlu ditambahkan juga ada atau 
tidaknya gejala cedera otak fokal yang dini, dan hasil rekaman 
EEG.5 
Pembagian seperti di atas ternyata tidak memuaskan, karena 
batas antara kontusio dan komosio serebri sering kali sulit 
dipastikan.5,6 
MEKANISME 
Rudapaksa kepala dapat menyebabkan cedera pada otak 
karena adanya aselerasi, deselerasi dan rotasi dari kepala dan 
isinya.1,7,8 Karena perbedaan densitas antara tengkorak dan 
isinya, bila ada aselerasi, gerakan cepat yang mendadak dari 
tulang tengkorak diikuti dengan lebih lambat oleh otak. Ini 
mengakibatkan benturan dan goresan antara otak dengan bagian-bagian 
dalam tengkorak yang menonjol atau dengan sekat-sekat 
duramater. Bita terjadi deselerasi (pelambatan gerak), terjadi 
benturan karena otak masih bergerak cepat pada saat tengkorak 
sudah bergerak 
32 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
lambat atau berhenti. Mekanisme yang sama terjadi bila ada 
rotasi kepala yang mendadak. Tenaga gerakan ini menyebabkan 
cedera pada otak karena kompresi (penekanan) jaringan, 
peregangan maupun penggelinciran suatu bagian jaringan di atas 
jaringan yang lain. Ketiga hal ini biasanya terjadi bersama-sama 
atau berturutan.7 
Kerusakan jaringan otak dapat terjadi di tempat benturan 
(coup), maupun di tempat yang berlawanan (countre coup). 
Diduga countre coup terjadi karena gelombang tekanan dari sisi 
benturan (sisi coup) dijalarkan di dalam jaringan otak ke arah 
yang berlawanan; teoritis pada sisi countre coup ini terjadi 
tekanan yang paling rendah, bahkan se-ring kali negatif hingga 
timbul kavitasi dengan robekan jaringan. 
Selain itu, kemungkinan gerakan rotasi isi tengkorak pada 
setiap trauma merupakan penyebab utama terjadinya countre 
coup, akibat benturan-benturan otak dengan bagian dalam 
tengkorak maupun tarikan dan pergeseran antar jaringan dalam 
tengkorak.1,7,8,9 Yang seringkali menderita kerusakan-kerusakan 
ini adalah daerah lobus temporalis, frontalis dan oksipitalis. 
PATOFISIOLOGI 
Trauma secara langsung akan menyebabkan cedera yang 
disebut lesi primer. Lesi primer ini dapat dijumpai pada kulit 
dan jaringan subkutan, tulang tengkorak, jaringan otak, saraf 
otak maupun pembuluh-pembuluh darah di dalam dan di sekitar 
otak. 
Pada tulang tengkorak dapat terjadi fraktur linier (±70% dari 
fraktur tengkorak), fraktur impresi maupun perforasi. Penelitian 
pada lebih dari 500 penderita trauma kepala menunjukkan 
bahwa hanya ± 18% penderita yang mengalami fraktur 
tengkorak.10 Fraktur tanpa kelainan neurologik, secara klinis 
tidak banyak berarti.7
Cermin Dunia Kedokteran No. 33, 1984 35 
Fraktur linier pada daerah temporal dapat merobek atau 
menimbulkan aneurisma pada arteria meningea media dan 
cabang-cabangnya; pada dasar tengkorak dapat merobek atau 
menimbulkan aneurisma a. karotis interna dan terjadi 
perdarahan lewat hidung, mulut dan telinga. Fraktur yang 
mengenai lamina kribriform dan daerah telinga tengah dapat 
menimbulkan rinoroe dan otoroe (keluarnya cairan serebro 
spinal lewat hidung atau telinga. 
Fraktur impresi dapat menyebabkan penurunan volume 
dalam tengkorak, hingga menimbulkan herniasi batang otak 
lewat foramen magnum.7,11 Juga secara langsung menyebabkan 
kerusakan pada meningen dan jaringan otak di bawahnya 
akibat penekanan. 
Pada jaringan otak akan terdapat kerusakan-kerusakan yang 
hemoragik pada daerah coup dan countre coup, dengan 
piamater yang masih utuh pada kontusio dan robek pada 
laserasio serebri. Kontusio yang berat di daerah frontal dan 
temporal sering kali disertai adanya perdarahan subdural dan 
intra serebral yang akut.9 Tekanan dan trauma pada kepala akan 
menjalar lewat batang otak kearah kanalis spinalis; karena 
adanya foramen magnum, gelombang tekanan ini akan 
disebarkan ke dalam kanalis spinalis. Akibatnya terjadi 
gerakan ke bawah dari batang otak secara mendadak, hingga 
mengakibatkan kerusakan-kerusakan di batang otak.7 
Saraf otak dapat terganggu akibat trauma langsung pada 
saraf, kerusakan pada batang otak, ataupun sekunder akibat 
meningitis atau kenaikan tekanan intrakranial.7 
Kerusakan pada saraf otak I kebanyakan disebabkan oleh 
fraktur lamina kribriform di dasar fosa anterior maupun 
countre coup dari trauma di daerah oksipital. Pada gangguan 
yang ringan dapat sembuh dalam waktu 3 bulan.2 Dinyatakan 
bahwa ± 5% penderita tauma kapitis menderita gangguan ini.7 
Gangguan pada saraf otak II biasanya akibat trauma di 
daerah frontal. Mungkin traumanya hanya ringan saja 
(terutama pada anak-anak)2 , dan tidak banyak yang 
mengalami fraktur di orbita maupun foramen optikum.7 
Dari saraf-saraf penggerak otot mata, yang sering terkena 
adalah saraf VI karena letaknya di dasar tengkorak.11 Ini 
menyebabkan diplopia yang dapat segera timbul akibat 
trauma, atau sesudah beberapa hari akibat dari edema otak. 
Gangguan saraf III yang biasanya menyebabkan ptosis, 
midriasis dan refleks cahaya negatif sering kali diakibatkan 
hernia tentorii 2,7,11 
Gangguan pada saraf V biasanya hanya pada cabang supra-orbitalnya, 
tapi sering kali gejalanya hanya berupa anestesi 
daerah dahi hingga terlewatkan pada pemeriksaan. 
Saraf VII dapat segera memperlihatkan gejala, atau sesudah 
beberapa hari kemudian. Yang timbulnya lambat biasanya 
cepat dapat pulih kembali, karena penyebabnya adalah 
edema2,7 Kerusakannya terjadi di kanalis fasialis, dan sering 
kali disertai perdarahan lewat lubang teli-nga. 
—Banyak didapatkan gangguan saraf VIII pada. trauma ke-pala, 
misalnya gangguan pendengaran maupun keseim-bangan. 
2 Edema juga merupakan salah satu penyebab 
gangguan.7 
—Gangguan pada saraf IX, X dan XI jarang didapatkan, 
mungkin karena kebanyakan penderitanya meninggal bila 
trauma sampai dapat menimbulkan gangguan pada saraf-saraf 
tersebut. 
Akibat dari trauma pada pembuluh darah, selain robekan 
terbuka yang dapat langsung terjadi karena benturan atau ta-rikan, 
dapat juga timbul kelemahan dinding arteri. Bagian ini 
kemudian berkembang menjadi aneurisma. Ini sering terjadi 
pada arteri karotis interna pada tempat masuknya di dasar 
tengkorak. Aneurisma arteri karotis interim ini suatu saat da-pat 
pecah dan timbul fistula karotiko kavernosa.7 
Aneurisma pasca traumatik ini bisa terdapat di semua arteri, 
dan potensial untuk nantinya menimbulkan perdarahan 
subaraknoid. Robekan langsung pembuluh darah akibat gaya 
geseran antar jaringan di otak sewaktu trauma akan menye-babkan 
perdarahan subaraknoid, maupun intra serebral. Ro-bekan 
pada vena-vena yang menyilang dari korteks ke sinus 
venosus (bridging veins) akan menyebabkan suatu subdural 
hematoma. Ada 3 macam yaitu yang akut - terjadi dalam 72 
jam sesudah trauma; subakut dan kronik. Bentuk akut dapat 
juga disebabkan oleh robekan pembuluh darah di korteks. 
Hematoma subdural akibat robekan bridging veins disebut 
juga hematoma subdural yang simple, sedangkan yang dari 
pembuluh darah korteks disebut complicated. Hal ini sehu-bungan 
dengan ada (complicated) atau tidaknya (simple) ke-rusakan 
jaringan otak di bawah hematoma.12 
Perdarahan epidural biasanya terjadi karena robekan arteri/ 
vena meningea media atau cabang-cabangnya oleh fraktur li-nier 
tengkorak di daerah temporal. Kumpulan darah di antara 
duramater dan tulang ini akan membesar dan menekan jaring-an 
otak ke sisi yang berlawanan, herniasi unkus dan akhirnya 
terjadi kerusakan batang otak. Keadaan ini terdapat pada 1 - 3% 
penderita trauma kapitis dan dapat berakibat fatal bila tidak 
mendapat pertolongan dalam 24 jam.7 
Dalam perjalanan penyakit selanjutnya bila penderita tidak 
meninggal oleh lesi primer tersebut di atas, terjadi proses 
gangguan/kerusakan yang akan menimbulkan lesi sekunder. 
Proses ini selain disebabkan faktor-faktor intrakranial juga di-pengaruhi 
oleh faktor faktor sistemik. 
Sebagai kelanjutan dari kontusio akan terjadi edema otak. 
Penyebab utamanya adalah vasogenik, yaitu akibat kerusakan 
B.B.B. (blood brain barrier). Disini dinding kapiler mengalami 
kerusakan ataupun peregangan pada sel-sel endotelnya. Cairan 
akan keluar dari pembuluh darah ke dalam jaringan otak ka-rena 
beda tekanan intra vaskuler dan interstisial yang disebut 
tekanan perfusi. Bila tekanan arterial meningkat akan mem-percepat 
terjadinya edema dan sebaliknya bila turun akan 
memperlambat.13,14 Edema jaringan menyebabkan penekanan 
pada pembuluh-pembuluh darah yang mengakibatkan aliran 
darah berkurang. Akibatnya terjadi iskemia dan hipoksia. 
Asidosis yang terjadi akibat hipoksia ini selanjutnya menim-bulkan 
vasodilatasi dan hilangnya auto regulasi aliran darah,
sehingga edema semakin hebat. Hipoksia karena sebab-sebab 
lain juga memberikan akibat yang sama.15 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan suhu tubuh 
menjadi 400 Celcius selama 2 jam akan menambah edema se-besar 
40% yang mungkin disebabkan oleh karena perubahan 
penneabilitas kapiler dan kenaikan metabolisme.16 
Akibat lain dari trauma kapitis adalah kenaikan tekanan intra 
kranial. Pada saat trauma, terdapat peningkatan tekanan pada 
sisi benturan dan penurunan tekanan pada sisi yang ber-lawanan. 
Kenaikan tekanan intrakranial yang terjadi beberapa 
waktu kemudian dapat oleh karena edema otak atau kenaikan 
volume darah otak. Bila timbulnya lebih lambat lagi (lebih dari 
10 hari), ini mungkin disebabkan oleh adanya hematoma kronik 
atau gangguan sirkulasi cairan serebro spinal. 
Kenaikan tekanan intra kranial ini menyebabkan : 
—aliran darah ke otak menurun. 
— Brain shift maupun herniasi. 
— perubahan metabolisme, yaitu terjadi asidosis metabolik 
yang selanjutnya memperberat edema. 
— gangguan faal paru-para. 
Ini terjadi karena kerusakan pada batang otak sesudah trauma 
mengakibatkan terjadinya apnea atau takipnea. Hal ini 
menimbulkan edema paru-paru yang selanjutnya mengganggu 
pertukaran gas. Gangguan ini menyebabkan hipoksia yang akan 
memperberat edema di otak maupun di paru-paru.1 
Dari hal-hal di atas terlihat bahwa gangguan intrakranial 
maupun sistemik sesudah trauma kapitis itu merupakan suatu 
lingkaran kejadian sebab akibat yang makin lama makin mem-perjelek 
keadaan penderita ("lingkaran setan"). 
PENGELOLAAN 
Pemeriksaan 5,17,18,19 
• Anamnesis. Anamnesis dapat diambil dari famili, orang di-sekitar 
kejadian, pegawai ambulans, polisi, mengenai : 
— Saat terjadinya kecelakaan, macam kecelakaan : lalu lin-tas, 
pabrik dll. 
—cara kecelakaan, untuk dapat memperkirakan intensitas 
trauma dan macam cederanya. 
—pada penderita yang sadar : ada tidaknya gangguan kesa-daran 
sebelumnya, ada tidaknya amnesia, baik retrograde 
maupun pasca traumatik. Makin lama amnesia post trau-matik, 
prognosis makin jelek. 
—penyakit yang diderita : epilepsi, hipertensi, diabetes, jan-tung 
dan lain-lain. 
—Obat-obat yang telah/sedang dipergunakan. 
• Pemeriksaan Fisik 
—fungsi-fungsi vital, kesadaran, gejala neurologik, antara lain 
gejala vegetatif : mual, muntah, pucat, (dalam hal ini harus 
dibedakan dengan pucat akibat perdarahan). Data-data 
pemeriksaan awal ini penting sebagai dasar observasi 
selanjutnya. Di Bagian Saraf dan Sie Bedah Saraf Bagian 
Bedah RS Dr. Soetomo dipakai Glasgow Coma Scale (GCS) 
untuk evaluasi kesadaran. 
—Tanda-tanda trauma di kepala, hematoma sekitar mata dan 
hematoma di belakang telinga, darah dari orifisium-orifi- 
34 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
sium di kepala. 
— Adanya tanda-tanda trauma di tempat lain, bila ada dapat 
memperburuk prognosisnya. 
• X Foto Kepala : sebaiknya dibatasi10,20 
Dianjurkan dibuat pada : 
-- trauma kepala tertutup dengan ekskoriasi ataupun hematoma 
kulit kepala. 
penderita dengan kelainan neurologik. 
adanya fraktur impresi. 
penderita akan dioperasi dengan dugaan hematoma intra-kranial. 
trauma kepala terbuka untuk mengetahui lokalisasi frak-tur/ 
fragmen-fragmennya. 
• Pemeriksaan Tambahan 17,21,22 
1. Eko - Ensefalografi 
Sebagian penulis menyatakan, pemeriksaan ini dapat mem-bantu 
mengetahui adanya pergeseran garis tengah otak bila 
dikerjakan oleh orang yang berpengalaman; penulis lain 
berpendapat bahwa pemakaiannya kurang dapat dijamin. 
2. Angiografi dan CT Scan 
Keduanya merupakan cara pemeriksaan yang dapat dian-dalkan 
untuk mengetahui adanya massa intrakranial. 
Indikasi Masuk Rumah Sakit18 
Hal ini tergantung pada berat ringannya kerusakan yang terdapat 
pada waktu masuk dan kemungkinan-kemungkinan komplikasi 
yang akan terjadi. 
1. Gangguan kesadaran. 
2. Gangguan kelainan neurologik. 
3. Fraktur tulang kepala yang menyilang jalan a. meningea media 
(untuk observasi). 
4. Kemungkinan fraktur dasar tengkorak. 
5. Fraktur impresi terbuka dan trauma kepala terbuka yang lain. 
6. Dipertimbangkan pada nyeri kepala, vertigo dan muntah yang 
terus menerus. 
Perawatan 
• Umum 
a) menjaga agar jalan nafas tetap bebas/lancar, terutama bila 
penderita koma. Posisi penderita sebaiknya miring (termasuk 
badannya), ini untuk mencegah aspirasi dan penyumbatan laring 
oleh lidah. Tungkai yang di atas sebaiknya fleksi, dan posisi 
diubah setiap 2 jam. 
Kalau perlu dapat dipertimbangkan pemasangan pipa endo-trakea/ 
trakeostomi. 
Bila ada fasilitas analisa gas darah, p02 arteri dipertahankan 
diatas 80 mmHg dan pCO2 antara 25 - 30 mmHg. 
b) Tekanan darah yang kurang dari 90 mmHg dengan nadi kecil, 
harus dicari sebab-sebabnya diluar kepala, antara lain trauma 
abdomen26 , fraktur. 
Syok harus segera diatasi dan perdarahan dihentikan. Bila ada 
anemia harus segera diperbaiki (terutama pada penderita 
arterioskeloris). 
c) Cairan, Elektrolit, Nutrisi. 
Pada umumnya diadakan pembatasan cairan ringan untuk
Cermin Dunia Kedokteran No. 35, 1984 35 
mencegah adanya overhidrasi, terutama dalam 24 jam pertama. 
27 Bila keadaan memungkinkan pemberian cairan intravena 
setelah 2 hari dapat dikombinasi/diganti dengan sonde hidung. 
Penderita dewasa, kebutuhan cairan minimal 2 liter/hari dan 
tiap kenaikan suhu 1° C ditambah ½ liter. 
Kalori yang dibutuhkan pada penderita koma minimal 2000 
kal/hari. 
d) Miksi, defekasi, kulit, mata. 
Urin ditampung untuk memperhitungkan kebutuhan cairan dan 
menjaga agar tempat tidur tetap kering. Dipasang kondon atau 
kateter. Kateter dipakai sesedikit mungkin untuk mencegah 
bahaya infeksi. 
Diusahakan tidak terdapat konstipasi yang terlalu lama ka-rena 
bahaya ileus. 
Untuk mencegah dekubitus, tempat tidur harus rata, kering 
dan lunak. 
Mata dapat dibasahi dengan larutan asam borat 2%. 
e) Hipotermi 28 
Dengan penurunan suhu tubuh menjadi 32° C, kebutuhan 02 
otak menurun sebanyak 25%; ini mengurangi risiko terjadinya 
hipoksia. Selain itu pendinginan tubuh ini juga membantu 
mengeringkan sekret, mengurangi tonus otot di saluran napas, 
dan mengurangi tekanan intrakranial. 
• Khusus/Pengobatan. 
a) Kejang-kejang. 
Sekitar 5% dari penderita mengalami kejang-kejang 6,21,29 
Bila ada fraktur impresi, insidensi naik menjadi 10%. Angka-angka 
ini untuk kejadian-kejadian pada minggu pertama, 
(epilepsi traumatik dini).7 Untuk mengatasi diberikan diazepam, 
selanjutnya difenilhidantoin dan fenobarbital. 
b) Penderita yang mulai sadar sering menjadi gelisah. Diusaha-kan 
untuk menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan penye-babnya, 
misalnya kandung kemih yang penuh atau ikatan yang 
terlalu kuat. Kegelisahan ini dapat menyebabkan peningkatan 
tensi dan lain-lain hal yang tidak diinginkan. Bila perlu dapat 
diberikan suntikan klorpromazin 25 mg23 
c) Suhu tubuh 
Kenaikan suhu tubuh dapat memperberat edema otak. Harus 
diusahakan untuk mencari penyebabnya dan mengendalikan-nya. 
Kemungkinan penyebabnya: penggantian cairan tidak ba-ik, 
infeksi pm-pm komplikasi trakeostomi, infeksi saluran 
kencing, tromboflebitis, luka operasi, reaksi transfusi, drug 
fever, gangguan hipotalamus dan batang otak. 
d) Pengobatan edema otak 
Deksametason 
Terpenting adalah deksametason karena paling kuat kerjanya 
diantara obat-obat glukokortikoid, dan dapat membantu fungsi 
membran sel dalam pertukaran ion Na+ K+ (sodium pump)22 
Takaran permulaan 8 - 12 mg dilanjutkan dengan 4 mg tiap 6 
jam selama 7 - 10 hari kemudian perlahan-lahan dihentikan. 
Dosis untuk anak-anak 1 - 4 mg kemudian 0,25 - 0,50 mg/kg/ 
hari dibagi dalam 4 kali pemberian.20 Pada trauma berat dapat 
diberikan dosis yang lebih besar. Sebaiknya diberikan juga 
antasida dan simetidin untuk mencegah terjadinya perdarahan 
karena ulkus lambung.31 
Cairan Hipertonik24 
Yang biasa dipakai adalah Manitol 20%. Diberikan pada pen-derita 
yang akan dioperasi dan bila keadaan kritis. Takaran 1 - 
1,59 gr/kg dalam 10 menit. Marshal13 menganjurkan 0,25 
gr/kg. Pemberian dapat diulang menurut keperluan. 
Diuretik 
Efeknya dalam menurunkan tekanan intrakranial belum dapat 
dipastikan. 
Di rumah sakit yang lengkap peralatannya, dapat dilakukan 
"hiperventilasi yang terkontrol", dimana PaCO2 dipertahankan 
30 torr dan PaO2 diatas 150 torr.24,28 
Observasi 
Tujuannya untuk mengikuti perjalanan penyakit penderita, 
mengetahui sedini mungkin terjadinya komplikasi, hingga dapat 
secepatnya diambil tindakan. Sebagai dasar observasi adalah 
data-data pemeriksaan fisik mengenai fungsi vital, kesadaran 
penderita dan gangguan neurologik. 
• Observasi fungsi vital mencakup hal-hal yang tersebut 
dalam Bab Perawatan. 
• Kesadaran 
Kesadaran merupakan hal yang terpenting pada observasi. Ke-sadaian 
diatur oleh dua pusat di otak yaitu oleh (Ascending 
Reticular Activating System (ARAS) yaitu untuk off-on nya 
misalnya reaksi membuka mata, sedangkan hemisfer otak me-nentukan 
"isi" dari kesadaran tersebut. Kedua pusat ini harus 
tetap dalam keadaan baik supaya seseorang dapat sadar dengan 
sepenuhnya. 
Untuk dapat memperoleh catatan/gambaran yang cukup 
obyektif mengenai kesadaran penderita di Bagian Saraf FK 
Unair dan Sie Bedah Saraf Bagian Bedah FK Unair selama be 
berapa tahun telah dipakai Glasgow Coma Scale (GCS)4,32,33 
Skala ini disusun oleh Teasdale dan Jennett pada tahun 1974. 
Disini dinilai tiga macam reaksi yaitu reaksi membuka mata, 
reaksi verbal dan reaksi motorik (Lihat Tabel) Dalam skala ini 
seseorang yang sadar sepenuhnya mendapat nilai 15, yaitu 4 
untuk reaksi buka mata, 5 untuk reaksi verbal dan 6 untuk 
reaksi motorik. Jadi penderita dapat membuka mata spontan, 
bila diajak berbicara jawabannya berorientasi (mengenal diri, 
waktu dan tempat), dan dapat melakukan hal-hal sesuai dengan 
yang diperintahkan , misalnya mengangkat tangannya. 
Penderita koma yang dalam mendapat jumlah nilai 3 yaitu 
nilai 1 untuk masing-masing reaksi. 
Dengan mengisi tabel ini pada waktu-waktu yang tertentu, 
kita dapat menilai/mengikuti perkembangan kesadaran pen-derita. 
• Gangguan Neurologik.39 
Disini antara lain diperiksa adanya lesi kompresi yang unila-teral 
dan ada atau tidaknya perkembangan kerusakan dari kra-nial 
(hemisfer) ke kaudal (batang otak/medula) --> kematian 
penderita. 
1. Lesi unilateral supratentorial. 
a. Hemiparesis. 
b. Gangguan saraf fasialis sentral. 
c. Deviasi bola mata ke arah lesi. 
d. Kompresi mesensefalon unilateral --> reaksi pupil ab-normal.
TABEL 
Bagian Saraf/Sie Bedah Saraf Bagian Bedah 
Nama . Tn. X 
Umur . 30 tahun ( l P 
Ref. 007.84 
Fakultas Kedokteran Unair/RS Dr. Soetomo 
Surabaya 
Tgl. 9 April 84 10 11 12 13 
Hari Senin 1 2 3 4 5 
S 
K 
A 
L 
A 
K 
O 
M 
A 
Reaksi 
buka 
mata 
Spontan I • • 
thd. suara ~ . I 7 thd. nyeri 1 
negatif 
Reaksi 
Verbal 
berorientasi 
bingung 
tidak sesuai I 
tidak dimengerti 
• 
• 
i 
negatif 
Reaksi 
Moto-rik 
mengikuti perintah I 
melokalisir nyeri I 
~ . 
_ • 
. _ 
• _ 
~ 
menarik diri 
fleksi j • • • • • 
ekstensi 
negatif 
2. Perkembangan kranio kaudal. 
a. Pupil dan reaksinya : integritas batang otak. 
besar normal/refleks cahaya (+) - - pin point/refleks (+) ( 
Normal) —► (lesi di pons) 
b. Gerak refleks mata 
— D o l l 's head eye movement. 
Rotasi cepat kepala penderita oleh pemeriksa akan 
memberi reaksi gerak mata konjugat ke arah yang ber-lawanan 
(batang otak masih baik). 
Tes kalori (harus dicek utuhnya membrana Timpani). 
Irigasi telinga dengan air dingin sesudah 20 - 30 detik 
akan menimbulkan gerakan mata konjugat tonik ke 
arah rangsangan (batang otak masih baik). 
c. Reaksi motorik 
Bila dirangsang nyeri dan lain-lain, posisi penderita akan 
memperlihatkan gejala-gejala dekortikasi atau deserebrasi 
atau flaksid. (Gangguan kranial —,► kaudal). 
d. Tipe pernapasan 
Hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor matabolik. 
Bila faktor-faktor tersebut dapat disingkirkan, hubungan 
lokalisasi kurang lebih sebagai berikut : 
36 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
Cheyne stokes — ~ lesi kortikal. 
Hiperventilasi (sentral) —. lesi mesensefalon. 
Iregular — ~ lesi tegmentum. 
Ataksik — Apnea — ~ lesi medula. 
Selain hal-hal tersebut diatas, diobservasi juga gejala-gejala 
neurologik lain, misalnya kemungkinan timbulnya fistula 
karotiko kavernosa dan emboli lemak. 
Fistula karotiko kavernosa dapat timbul sejak beberapa jam 
sesudah trauma. Penderita mendengar suara bising (bruit) da-lam 
kepalanya, nyeri kepala dan penglihatan ganda. Pada pe-meriksaan 
didapatkan pembengkakan dan penonjolan mata yang 
merah dan berdenyut. Dapat ditemukan gangguangangguan 
saraf kranial berturut-turut saraf 3,6,5,7,4 dan 2. Pada auskultasi 
di daerah temporal, orbita, dan diatas arteri karotis dapat 
terdengar suara bising yang sesuai dengan denyut nadi. Operasi 
ligasi dilakukan setelah evaluasi dengan arteriografi dan EEG." 
Emboli lemak dapat terjadi bila terdapat juga fraktur tulang-tulang 
panjang. Gejala dapat timbul dari beberapa jam sampai 3 
hari sesudah trauma. Mula mula akan timbul sindroma paru-paru 
dengan hipoksia, takipnea dan sesak nafas, ta-
Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 37 
hap berikutnya terjadi sindroma serebral dengan kegelisahan, 
suhu badan meningkat, penurunan kesadaran sampai koma 
yang kadang-kadang disertai dengan gejala-gejala fokal misal-nya 
hemiparesis ataupun kejang-kejang. 
Pada X-foto torak dapat terlihat gambaran snowstorm. Peng-obatan 
dengan pemberian kortikosteroid, 02 dan hipotermi.7,25,35 
Hasil-hasil observasi sangat menentukan tindakan apa yang 
selanjutnya harus dikerjakan, antara lain perlu atau tidaknya 
seseorang penderita segera dioperasi. 
Tindakan bedah darurat. 
Dari segi bedah saraf sangat penting adalah komplikasi intra-kranial, 
lesi massa, khususnya hematoma intrakranial. 
• Hematoma epidural 12 
Adalah komplikasi intrakranial yang paling mudah dicapai dan 
paling baik hasilnya dari tindakan-tindakan bedah trauma ke-pala. 
Pada umumnya alasan untuk merawat penderita dalam RS 
didasarkan atas kemungkinan timbulnya hematoma ini. 
Maka perjalanan penyakit serta gejala-gejalanya harus dikenal 
dengan baik. 
Gambaran klasik adalah kehilangan kesadaran sementara 
pada waktu trauma. Gangguan kesadaran ini membaik tanpa 
kelainan neurologik. Kemudian terjadi gangguan kesadaran 
yang kedua dengan didahului oleh nyeri kepala. Pada saat 
trauma, terjadi robekan dan perdarahan dari a. meningea me-dia. 
Perdarahan kemudian berhenti oleh karena spasme pem-buluh 
darah dan pembentukan gumpalan darah. Beberapa jam 
kemudian terjadi perdarahan ulang; penumpukan darah di ruang 
epidural_ini akan melepaskan duramater dari tulang tengkorak. 
Pada waktu nyeri kepala menghebat dan kesadaran menurun, 
telah terjadi kenaikan tekanan intrakranial yang kedua. Pada 
saat ini timbul gejala-gejala distorsi otak. 
Begitu kemampuan kompensasi ruang intrakranial habis, 
keadaan umum penderita dengan cepat menurun. Tampak pe-lebaran 
pupil ipsilateral (80%), oleh karena herniasi bagian 
mesial dari lobus temporalis menekan n. okulomotorius. 
— penurunan kesadaran bertambah. 
— hemiparesis kontralateral (dapat juga ipsilateral). 
— deserebrasi. 
Bila keadaan berlanjut tanpa tindakan, timbul 
— Pernapasan Cheyne Stokes. 
— refleks pupil dan respon kalorik negatif. 
— pernapasan paralitik, bradikardi dan akhirnya meninggal. 
Maka sangat penting diagnosis ditegakkan sedini mungkin, 
yaitu bila hanya nyeri kepala dan penurunan kesadaran saja 
yang tampak. Pada saat ini diperlukan pemeriksaan tambahan 
arteriografi atau bila mungkin CT. Bila telah tampak pelebaran 
pupil dan atau hemiparesis maka tindakan secepatnya harus 
diambil dengan atau tanpa bantuan sarana diagnosis tersebut. 
Mengirimkan penderita ke pusat yang lebih lengkap seharus-nya 
pada saat dini tersebut, yaitu pada saat baru timbul nyeri 
kepala hebat dan penurunan kesadaran. Bila tidak mungkin 
melakukan rujukan, atau bila diperkirakan terlambat untuk 
dikirim berhubung gejalanya sudah nyata, seyogyanya tindak-an 
bedah dapat dilakukan di RS setempat. 
Beberapa petunjuk pembantu menentukan lokalisasi : 
— biasanya temporal (73%)36 
— adanya jejas di kepala; laserasi kulit, hematoma subkutan, 
ekskoriasi, perdarahan dari telinga. 
— x foto kepala terdapat fraktur tulang kepala. 
Hematoma epidural terdapat pada/dibawah/sekitar garis 
fraktur. 
— dipilih terutama pada sisi pupil yang melebar. 
Pembedahan explorative burrhole, bila positif dilanjutkan 
dengan kraniotomi evakuasi hematoma dan hemostasis yang 
cermat. 
• Hematoma subdural12 
Yang terpenting dalam hal gawat darurat adalah hematoma 
subdural akut (yang terjadi dalam waktu 72 jam sesudah trau-ma). 
Hematoma subdural, khususnya yang berkomplikasi, 
gejalanya tak dapat dipisahkan dari kerusakan jaringan otak 
yang menyertainya; yang berupa gangguan kesadaran yang 
berkelanjutan sejak trauma (tanpa lusid interval) yang sering 
bersamaan dengan gejala-gejala lesi massa, yaitu hemiparesis, 
deserebrasi satu sisi, atau pelebaran pupil. 
Dalam hal hematoma subdural yang simple dapat terjadi 
lusid interval bahkan dapat tanpa gangguan kesadaran. Sering 
terdapat lesi multiple. Maka, tindakan CT Scan adalah ideal, 
karena juga menetapkan apakah lesi multiple atau single. 
Angiografi karotis cukup bila hanya hematoma subdural yang 
didapatkan. 
Bila kedua hal tersebut tak mungkin dikerjakan, sedang ge-jala 
dan perjalanan penyakit mengarah pada timbulnya lesi 
massa intrakranial, maka dipilih tindakan pembedahan. Tin-dakan 
eksploratif burrhole dilanjutkan tindakan kraniotomi, 
pembukaan dura, evakuasi hematoma dengan irigasi memakai 
cairan garam fisiologis. Sering tampak jaringan otak edematous. 
Disini dura dibiarkan terbuka, namun tetap diperlukan penu-tupan 
ruang likuor hingga kedap air. Ini dijalankan dengan 
bantuan periost. Perawatan pascabedah ditujukan pada faktor-faktor 
sistemik yang memungkinkan lesi otak sekunder. 
• Fraktur impresi. 
Fraktur impresi terbuka (compound depressed fracture). In-dikasi 
operasi terutama adalah debridement, mencegah infeksi. 
Operasi secepatnya dikerjakan. Dianjurkan sebelum lewat 24 
jam pertama. Pada impresi tertutup, indikasi operasi tidak 
mutlak kecuali bila terdapat kemungkinan lesi massa dibawah 
fraktur atau penekanan daerah motorik (hemiparesis dan lain-lain). 
Indikasi yang lain (lebih lemah), ialah kosmetik dan ke-mungkinan 
robekan dura. Diagnosis dengan x foto kepala 2 
proyeksi, kalau perlu dengan proyeksi tangensial. Impresi lebih 
dari tebal tulang kepala pada x foto tangensial, mempertinggi 
kemungkinan robekan dura. X foto juga diperlukan untuk 
menentukan letak fragmen-fragmen dan perluasan garis 
fraktur; dengan ini ditentukan pula apakah fraktur menyilang 
sinus venosus. Impresi fraktur tertutup yang menyilang garis 
tengah merupakan kontra indikasi relatif untuk operasi,
dalam arti sebaiknya tidak diangkat bila tidak terdapat gejala 
yang mengarah pada kemungkinan lesi massa atau penekanan 
otak.37 
Dalam hal fraktur impresi terbuka yang menyilang sinus 
venosus maka persyaratan untuk operasi bertambah dengan : 
— bila luka sangat kotor. 
— bila angulasi besar. 
— bila terdapat persediaan darah cukup. 
— bila terdapat ketrampilan (skill) dan peralatan yang cukup. 
PROGNOSIS 
Hal-hal yang dapat membantu menentukan prognosis : 
Usia dan lamanya koma pasca traumatik,38 makin muda usia, 
makin berkurang pengaruh lamanya koma terhadap restitusi 
mental. 
Tekanan darah pasca trauma. Hipertensi pasca trauma mem-perjelek 
prognosis.38 
Pupil lebar dengan fefleks cahaya negatif, prognosis jelek.35 
Reaksi motorik abnormal (dekortikasi/deserebrasi) biasanya 
tanda penyembuhan akan tidak sempurna.35 
Hipertermi, hiperventilasi, Cheyne-Stokes, deserebrasi: 
menjurus ke arah hidup vegetatif.35,39 
Apnea, pupil tak ada reaksi cahaya, gerakan refleks mata 
negatif, tak ada gerakan apapun merupakan tanda-tanda 
brain death. Ini perlu dilengkapi dengan EEG yang iso-elektrik. 
35 
RINGKASAN 
Dibicarakan mengenai cedera otak dan dasar-dasar pengelo-laannya, 
sehubungan dengan makin meningkatnya korban ke-celakaan 
lalu lintas dimana banyak diantaranya mengalami ce-dera 
otak. 
Akibat benturan kepala, terjadi cedera pada otak dan ja-ringan 
sekitarnya yang disebut dengan lesi primer. Bila korban 
dapat tetap bertahan, terjadi proses lebih lanjut yang dipenga-ruhi 
oleh faktor-faktor intrakranial maupun sistemik. Proses ini 
akan menghasilkan kerusakan-kerusakan yang disebut lesi 
sekunder. Mekanisme terjadinya cedera akibat benturan kepala 
dan patofisiologik proses selanjutnya telah dibicarakan; juga 
kerusakan-kerusakan pada jaringan sekitar otak. 
Pengelolaan meliputi pemeriksaan, observasi dan pengobat-an 
penderita baik secara konservatif maupun yang memerlukan 
tindakan operasi darurat. Dengan pengelolaan yang cepat, 
terutama pada saat proses terjadinya lesi-lesi sekunder, 
diharapkan dapat diperoleh hasil yang sebaik-baiknya bagi 
penderita. 
Daftar kepustakaan ada pada redaksi/penulis 
38 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
Infeksi Intrakranial 
dr. Hendro Susilo 
Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya 
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 39 
PENDAHULUAN 
Mekanisme Penanggulangan terhadap infeksi yang terjadi di 
susunan saraf pusat diduga kurang efektif dibandingkan dengan 
infeksi yang terjadi di bagian tubuh lain. Tidak jarang organisme 
yang relatif memiliki derajat patogenitas rendah dapat 
menyebabkan meningitis atau abses otak. Demikian pula cairan 
serebrospinal (CSS) pada beberapa kasus justru merupakan 
media yang ideal untuk pertumbuhan kuman disamping 
hambatan antibodi dan sel radang untuk menembus jaringan 
saraf pusat oleh karena adanya barrier darah otak. 
Dari segi klinis, infeksi intrakranial seringkali menunjukkan 
angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Hingga penting 
untuk mengenal diagnosis secara dini dan memberikan 
pengobatan yang segera, tepat dan rasional untuk menghindari 
kematian dan gejala sisa yang menetap. 
MENINGITIS 
Istilah "meningitis" menunjukkan reaksi keradangan yang 
mengenai satu atau semua lapisan selaput otak yang membung-kus 
jaringan otak dan sumsum tulang. Dalam arti yang terbatas 
menunjukkan infeksi difus yang mengenai lapisan pia dan 
araknoid (lepto meningitis).1 Pada umumnya infeksi tidak hanya 
terbatas pada selaput otak namun juga mengenai jaringan otak 
(ensefalitis) dan pembuluh darah (vaskulitis). 
Pembagian klinis : 
1. Meningitis bakteri akut 
2. Meningitis subakut dan kronis. 
MENINGITIS BAKTERI AKUT 
Patogenesis : infeksi mencapai selaput otak melalui : 
— Implantasi langsung setelah luka terbuka kepala 
— Perluasan langsung dari infeksi telinga tengah, sinus para-nasalis 
dan wajah 
— Lewat aliran darah (bakteriemia atau sepsis) 
— Perluasan dari tromboflebitis kortikal dan abses otak 
— Melalui lamina kribrosa pada rinore CSS yang kronis atau 
rekuren. 
Etiologi : Meningitis adalah kasus darurat yang memerlukan 
pengobatan segera tanpa menunggu hasil pembiakan kuman, 
sehingga perlu diketahui jenis organisme yang sering ditemukan 
berdasarkan usia penderita.2 
—Neonatus (sampai 30 hari) : Gram negatip enterobaccili, 
Streptococcus grup B, Listeria monocytogenes 
— Bayi (30 - 60 hari) : Streptococcus grup B, Haemophilus 
influenzae, Neisseria meningitidis. 
— Anak (2 - 4 tahun) : Haemophilus influenzae, Neisseria 
meningitidis, Streptococcus pneumonia. 
— Anak (lebih 4 tahun) dan dewasa : Streptococcus 
pneumonia. Neisseria meningitidis, Staphylococcus aureus, 
Haemophilus influenzae. 
Manifestasi klinis : Secara klinis meningitis purulenta pada de-wasa 
ada 3 kelompok : 
— Kelompok I : 
dengan panas, nyeri kepala dan kaku tengkuk mendadak di-ikuti 
kesadaran yang menurun. 
— Kelompok II : 
dengan panas, nyeri kepala dan kaku tengkuk yang berjalan 
antara 1 - 7 hari, dengan tanda-tanda infeksi saluran napas 
bagian atas; penderita hanya mengantuk tanpa penurunan 
kesadaran yang jelas. 
— Kelompok III : 
panas dan nyeri kepala mendadak diikuti keadaan syok 
dengan hipotensi dan takikardia oleh karena sepsis. 
Pemeriksaan neurologis seringkali dijumpai tanda rangsangan 
selaput otak (seperti kaku tengkuk, tanda Kernig dan Brudzinki), 
kelumpuhan saraf kranial (strabismus, gerakan bola mata
terganggu) dan tanda fokal lain. Pada bayi dan anak sering di-jumpai 
kejang dan kesadaran yang menurun sampai koma. 
Faktor predisposisi : Beberapa faktor predisposisi perlu di-pikirkan 
seperti otitis media dan mastoiditis, pneumonia, dia-betes 
mellitus, trauma kepala, abses otak, furunkulosis dan 
selulitis. Meningitis dapat juga merupakan komplikasi dari 
leukemia dan penyakit Hodgkin.1,2 
Diagnosis : 
Pemeriksaan CSS menunjukkan tekanan meningkat dengan 
warna keruh sampai purulen, dan peningkatan jumlah lekosit 
(500 - 35000/cmm) yang terutama terdiri sel PMN (stadium 
awal). Kadar protein meningkat dan kadar glukosa menurun. 
Hendaknya dilakukan pengecatan CSS (Gram) disamping 
pembiakkan kuman. 
Pemeriksaan lain seperti X-foto tengkorak, sinus paranasalis 
mastoid, toraks dan EEG. 
Pengobatan : 
— Pengobatan kausal dengan antibiotika dosis tinggi sesuai 
dengan usia penderita dan kuman penyebab. 
Dosis dewasa yang biasanya diberikan adalah : 
Ampisilin : 300 - 400 mg per kg (6 dosis) i.v 
Kloramfenikol : 4 - 6 g/hari (4 dosis) i.v. 
Gentamisin : 3 - 5 mg per kg (3 dosis) i.v 
Oksasilin : 10 - 12 gram (6 dosis) 
— Pengobatan suportip dan simtomatik (cairan, elektrolit, 
kejang, edema otak, febris). 
MENINGITIS TUBERKULOSIS 
Penyakit ini merupakan meningitis yang sifatnya subakut 
atau kronis dengan angka kematian dan kecacadan yang cukup 
tinggi. Menurut pengamatan, meningitis tuberkulosis merupakan 
38,5% dari seluruh penderita dengan infeksi susunan saraf pusat 
yang dirawat di bagian Saraf RS Dr Soetomo.3 
Manifestasi klinis : Penulis menemukan adanya panas (94%), 
nyeri kepala (92%), muntah muntah, kejang dan pemeriksaan 
neurologik menunjukkan adanya kaku tengkuk, kelumpuhan 
saraf kranial (terutama N III, IV, VI, VII) (30%), edema papil 
dan kelumpuhan ekstremitas (20%) serta gangguan kesadaran.4 
Diagnosis : Diagnosis Meningitis tuberkulosis ditegakkan atas 
dasar : 
1. Adanya gejala rangsangan selaput otak seperti kaku tengkuk, 
tanda Kernig dan Brudzinski. 
2. Pemeriksaan CSS menunjukkan : 
— peningkatan sel darah putih terutama limfosit 
— peningkatan kadar protein 
— penurunan kadar glukosa 
3. Ditambah 2 atau 3 dari kriteria dibawah ini : 
— ditemukannya kuman tuberkulosis pada pengecatan dan 
pembiakan CSS 
— kelainan foto toraks yang sesuai dengan tuberkulosis 
— Pada anamnesis kontak dengan penderita tuberkulosis aktif 
Stadium : Pembagian klinis ke dalam 3 stadium : 
40 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
— Stadium I : 
kesadaran penderita baik disertai rangsangan selaput otak 
tanpa tanda neurologik fokal atau tanda hidrosefalus. 
— Stadium II : 
didapatkan kebingungan dengan atau tanpa disertai tanda 
neurologis fokal misalnya kelumpuhan otot mata bagian luar 
atau adanya hemiparesis. 
— Stadium III : 
penderita dengan stupor atau delirium dengan hemiparesis/ 
paraparesis. 
Pengobatan : Beberapa kombinasi obat pernah diberikan untuk 
menanggulangi penyakit ini namun pada dasarnya obat tersebut 
harus dapat menembus barrier darah otak, berada dalam CSS 
dengan kadar yang cukup efektif dan aktivitas anti tuberkulosis 
tinggi, resistensi dan kerja samping obat yang minimal. 
Di RS Dr Soetomo dipakai kombinasi3 : 
— Streptomisin 20 - 30 mg/kg/hari selama 2 minggu kemudian 
dijarangkan 3 kali/minggu hingga klinis dan laboratorium 
baik (perlu waktu kira-kira 6 minggu). 
— INH 20 - 25 mg/kg/hari pada anak anak atau 400 mg/hari 
pada dewasa selama 18 bulan. 
— Etambutol 25 mg/kg/hari sampai sel cairan serebrospinal 
normal, kemudian diturunkan 15 mg/kg/hari selama 18 bu-lan. 
— Rifampisin 15 mg/kg/hari selama 6 - 8 minggu. 
Kortikosteroid hanya dianjurkan bila ditemukan tanda edema 
otak. 
ABSES OTAK 
Penanganan penderita dengan abses otak di RS Dr Soetomo 
akhir-akhir ini mengalami kemajuan dengan adanya sarana di-agnosis 
yang modern seperti CT scan, penanggulangan bedah 
saraf yang memadai dan pengobatan yang adekuat. Namun perlu 
diperhatikan pula adanya kegagalan dalam pengobatan, karena 
adanya pembahan pola organisme seperti ditemukannya kuman 
anaerob dan infeksi campuran serta resistensi terhadap 
antibiotika.5 
Sumber infeksi : 
— Penyebaran langsung dari otitits media, mastoiditis atau 
sinusitis frontalis, etmoidalis, sfenoidalis dan maksilaris. 
— Tromboflebitis kortikal, osteomielitis tulang tengkorak. 
— Luka tembus pada tulang tengkorak. 
— Emboli septik yang berasal dari paru (bronkiektasis, empie-ma, 
abses paru), dan jantung (SBE, penyakit jantung ko-ngenital). 
Lokalisasi : Sering daerah lobus frontalis dan parietalis, juga 
ditemukan pada lobus temporalis dan serebelum (otitis, media 
dan mastoiditis) serta abses yang multiple. 
Manifestasi klinis : 
— Gejala sistemik : panas, malaise, menggigil, bradikardia. 
— Gejala SSP non fokal : akibat kenaikan tekanan intrakranial 
(nyeri kepala, muntah, gangguan kesadaran). 
— Gejala fokal SSP : tergantung lokalisasi abses (gangguan 
motorik, mental, sensorik, kejang,ataksia).
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 41 
Diagnosis : 
— Darah : sel lekosit dan laju endap darah meningkat. 
— X-foto tengkorak, mastoiditis, sinusitis, pergeseran 
kelenjar pineal. 
— CT scan : sangat membantu diagnosis dini maupun 
follow-up pasca pengobatan/bedah. Demikian pula CT scan 
sangat membantu pada penderita dengan gejala meningitis 
yang disertai tanda lateralisasi neurologi sebelum dilakukan 
punksi lumbal 
— EEG dan arteriogram. 
Pengobatan : 
— Pemberian antibiotika yang adekuat terutama stadium 
serebritis baik terhadap kuman aerob maupun anaerob (Pe-nisilin 
G, Kloramfenikol, Metronidazole).6 
— Tindakan pembedahan. 
— Pengobatan suportif dan simtomatik. 
KEPUSTAKAAN 
1. Gilroy J, Meyer JS. Medical Neurology, 3rd Ed. New York : Mc Milian 
Co, 1979; 387 - 444. 
2. Sahs AL, Joynt RJ. Bacterial Meningitis. In Baker AB, Baker LH eds. 
Clinical Neurology,Philadelphia : Harper & Row 1981; chap 15, 
1 - 90. 
3. Hasan M, Troeboes P. Penanggulangan dari tuberkulosa susunan sa-raf 
pusat. Simposium Tuberkulosa, Surabaya, 1982. 
4. Hendro S. Treatment of Tuberculous Meningitis with Prothionamide- 
Isoniazid-Ethambutol and Streptomycin regimen, 5th Asian and 
Oceanian Congress of Neurology. Manila, 1979. 
5. Hendro S dkk. Penyulit Otitis Media Khronika-Mastoiditis Khronika 
dalam bidang Neurologi. Kongres Nasional II PNPNCh, Bandung, 
1980. 
6. De Lauvois J. Antibiotic treatment of abscesses of the central nervous 
system. Br Med J 1977; 2 : 985 - 87.
Tumor otak 
Tinjauan Kepustakaan 
dr. Ny. Herainy Hartono 
Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya. 
PENDAHULUAN 
Di dalam era CT scan dewasa ini, sering kali dibuat diagnosis 
penderita sebagai tumor otak. Dan sebagai gambaran umum 
disebutkan bahwa kurang lebih 10% tumor pada manusia 
mengenai susunan saraf pusat, dimana 80% dari padanya berada 
didalam intrakranial dan 20% di medulla spinalis. Tumor 
metastasis otak merupakan 20% dari tumor intrakranial. 
Penyebab yang pasti belum dapat ditentukan, walaupun 
penyelidikan-penyelidikan telah dilakukan. Faktor-faktor yang 
diduga sebagai penyebab yaitu : keturunan, sisa-sisa sel em-brional, 
perubahan neoplastik, trauma, virus dan bahan-bahan 
karsinogenik. 
Urutan-urutan frekuensi tumor otak adalah sebagai berikut : 
1. Glioma 41% 
2. Meningioma 17% 
3. Adenoma hipofise 13% 
4. Neurilemmoma/neurofibroma 12% 
5. Tumor metastasis 
6. Tumor pembuluh darah 
Mengenai lokalisasi tumor otak, dilaporkan bahwa pada orang 
dewasa kebanyakan di daerah supratentorial, sedangkan pada 
anak-anak di daerah infratentorial. 
Tumor-tumor metastasis otak kebanyakan berasal dari paru, 
traktus digestivus, mamma serta ginjal, din-ma 70% terletak di 
hemisfir serebri, sedangkan 30% di serebelum dan 70% multipel. 
INSIDENSI 
Insidensi umur : 
Jenis tumor saraf mempunyai kecenderungan untuk ber-kembang 
pada golongan umur tertentu. Tumor primer dari 
susunan saraf pusat yang berasal dari jaringan embrional ba-nyak 
dijumpai pada umur di bawah 10 tahun, dan jenis tumor 
lain berkisar antara umur 20 - 60 tahun. Sedangkan tumor 
metastasis otak sebagian besar terdapat pada umur 40 - 70 tahun. 
42 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
Tumor serebelum lebih sering pada anak-anak dari pada 
orang dewasa. Glioma batang otak, praktisnya di Pons lebih 
sering dijumpai pada anak-anak. 
Berdasarkan pemeriksaan histopatologi tumor, digambarkan 
sebagai berikut : 
— Meduloblastoma, pada dasa warsa I 
— Pinealoma dan astrositoma serebelum, pada dasawarsa II 
— Glioblastoma, pada dasa warsa V 
— Schwannoma, pada dasa warsa V - VI 
Insidensi jenis kelamin : 
Tumor otak yang banyak dijumpai pada laki-laki, yaitu : 
— Glioma : astrositoma, glioblastoma dan meduloblastoma 
— tumor-tumor di regio pineale 
— Tumor pituitari 
— Tumor-tumor kongenital 
— Kordoma 
Sedangkan schwannoma dan meningioma lebih sering di-jumpai 
pada wanita. 
GEJALA KLINIS 
Gejala klinis sangat dipengaruhi oleh lokalisasi dan histo-patologik 
dari tumor. 
Gejala-gejala tersebut dapat digolongkan menjadi : 
• Gejala umum 
• Gejala fokal 
Gejala umum 
Biasanya disebabkan oleh karena tekanan intrakranial yang 
meningkat. Kenaikan tekanan intrakranial dapat disebabkan 
oleh faktor-faktor : 
— langsung oleh masa tumor sendiri 
— edema serebri 
— obstruksi aliran cairan serebro spinalis 
— obstruksi sistema vena serebri 
— gangguan mekanisme absorbsi cairan serebro spinalis 
Gejala-gejala ini dapat berupa :
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 43 
1. Nyeri kepala 
2. Muntah 
3. Kejang 
4. Gangguan mental 
5. Pembesaran kepala 
6. Papil edema 
7. Sensasi abnormal di kepala 
8. Nadi lambat dan tensi meningkat 
9. False localizing sign 
10. Perubahan respirasi 
1. Nyeri kepala : 
Merupakan keluhan utama pada kira-kira 20% kasus. Dapat 
dirasakan selama perjalanan penyakitnya, dapat umum atau 
terlokalisir pada daerah yang berlainan. Sifat nyerinya 
digambarkan sebagai nyeri berdenyut atau dirasakan sebagai rasa 
penuh di kepala dan seolah-olah kepala mau "meledak". 
Timbulnya dimulai pagi hari, dikaitkan oleh karena kenaikan 
kadar CO2 selama tidur. Adanya CO2 ini menyebabkan aliran 
darah serebral meningkat serta kongesti dari sistema vena 
serebral. Ini mengakibatkan tekanan intrakranial meningkat. 
Nyeri dapat diperhebat dengan gerakan manuver valsava, batuk, 
bersin, mengejan, mengangkat barang ataupun ketegangan. 
Nyeri intermiten sering didapat pada anak-anak. Gejala ini 
mungkin karena hilang atau berkurangnya tekanan intrakranial 
dengan jalan pelebaran sutura. 
2. Muntah : 
Muntah tidak berhubungan dengan lokalisasi tumor, sering 
timbul pada pagi hari. Sifat muntah adalah khas, yaitu proyektil 
atau muncrat dan tidak didahului rasa mual. 
3. Kejang : 
Kejang dapat merupakan manifestasi pertama tumor otak pada 
15% kasus. Dikatakan, bahwa apabila terjadi kejang fokal pada 
orang berumur di bawah 50 tahun, harus dipikirkan adanya 
tumor otak, selama penyebab lain belum ditemukan. 
Dalam hal terjadinya kejang, lokasi tumor lebih penting 
daripada histologinya. Tumor yang jauh dari korteks motoris 
akan jarang menimbulkan kejang. Meningioma pada konvek-sitas 
otak, sering menimbulkan kejang fokal sebagai gejala dini. 
Sedangkan kejang urnum biasanya terjadi, apabila kenaikan 
tekanan intrakranial melonjak secara cepat misalnya pada 
Glioblastoma multiforme. 
4. Gangguan mental : 
Gejala gangguan mental tidak perlu dihubungkan dengan 
lokalisasi tumor, walaupun beberapa sarjana menyatakan bahwa 
gejala ini sering dijumpai pada tumor lobus frontalis dan 
temporalis. Juga dikatakan bahwa menigioma merupakan tumor 
yang seting menimbulkan gangguan mental. 
Gejalanya sangat tidak spesifik. Dapat berupa apatis, de-mensia, 
gangguan memori, gangguan intelegensi, gangguan 
tingkah laku, halusinasi sampai seperti psikosis. 
5. Pembesaran kepala : 
Keadaan ini hanya terjadi pada anak-anak, dimana suturanya 
belum menutup. Dengan meningkatnya tekanan intrakranial, 
sutura akan melebar dan fontanella anterior menjadi 
menonjol. Pada beberapa anak sering terlihat pembendungan 
vena didaerah skalp dan adanya eksoftalmos. Pada perkusi 
terdengar suara yang khas, disebut crack pot signs (bunyi gendi 
yang rengat). 
6. Papil edema : 
Papil edema dapat terjadi oleh karena tekanan intrakranial 
yang meningkat atau akibat langsung dari tekanan tumor pada N 
II. Derajat papil edema tidak sebanding dengan besarnya tumor 
dan tidak sama antara mata satu dan lainnya. 
Bila tekanan intrakranial meningkat dengan cepat, akan 
terjadi pembendungan vena-vena N. Optikus dan diskus optikus 
menjadi pucat serta membengkak. Sering disertai perdarahan-perdarahan 
disekitar fundus okuli. Pada papil edema yang kronis 
dapat menyebabkan gliosis N. Optikus dan akhirnya N. Optikus 
mengalami atrofi sekunder dengan akibat kebutaan. 
Dilaporkan bahwa 60% dari tumor otak memperlihatkan 
gejala papil edema, dan 50% diakibatkan oleh tumor supra-tentorial. 
7. Sensasi abnormal di kepala : 
Banyak penderita merasakan berbagai macam rasa yang 
samar-samar. Sering dikeluhkan sebagai enteng kepala (light-headness), 
pusing (dizziness) dan lain-lainnya. Keadaan ini 
mungkin sesuai dengan tekanan intrakranial yang meningkat. 
8. Bradikardi dan tensi meningkat : Keadaan ini dianggap 
sebagai mekanisme kompensatorik untuk menanggulangi 
iskemia otak. 
9. False localizing sign : 
False localizing signs dari tumor otak adalah merupakan 
gejala yang tidak semuanya berhubungan dengan gangguan 
fungsi pada tempat tumor tersebut. Biasanya terlihat sebagai 
gejala fokal dari tempat-tempat yang jauh dari tumor itu sendiri. 
Misalnya pada. tumor otak yang kecil disertai edema serebri 
yang luas, akan memperlihatkan gejala-gejala klinis yang luas. 
Sebaliknya tumor besar tanpa disertai edema serebri biasanya 
tidak memberikan gejala klinis. Hal-hal inilah yang dapat 
membingungkan untuk menentukan lokalisasi tumor. Keadaan-keadaan 
tersebut dapat disebabkan oleh karena ada nya edema 
serebri atau herniasi. 
10. Perubahan respirasi : 
Hal ini akibat tekanan intrakranial yang meningkat. Dapat 
timbul respirasi tipe Cheyne Stokes, dilanjutkan dengan hiper-ventilasi- 
respirasi irreguler-apneu, akhirnya kematian. 
Gejala fokal 
Gejala-gejala fokal sangat tergantung dengan lokalisasi tumor. 
Gejalanya sesuai dengan fungsi jaringan otak yang ditekan atau 
dirusak, dapat perlahan-lahan atau cepat. Dapat menimbulkan 
disfungsi, misalnya hemiparesis, afasia motorik ataupun paresis 
saraf kranial, sebelum tekanan intrakranial meninggi secara 
berarti. Dalam hal ini, gejala dan tanda di atas mempunyai arti 
lokalisasi/fokal. 
Dibawah ini akan diuraikan tentang beberapa gejala dan 
manifestasi fokal yang menunjukkan lokasi tumor otak.
Tumor lobus frontalis : 
Tumor di daerah ini pada umumnya menimbulkan gang-guan 
kepribadian dan mental. Dapat timbul perlahan-lahan, 
beberapa bulan sampai bertahun-tahun. Pada mulanya pende-rita 
menjadi apatis, kurang atau hilangnya perhatian/kontrol, 
kemudian kesukaran dalam pandangan kedepan (lack of fore 
sight), kesukaran dalam pekerjaan dan akhirnya regresi dalam 
tingkah laku sosial, kebiasaan dan penampilan, serta gangguan 
psikoseksual. Euforia sering dijumpai dan senang berkelakar 
(factitiousness) yang dalam beberapa kepustakaan disebut 
sebagai "witzelsucht". 
Gejala fokal lain terjadi bila tumor meluas ke jaringan se-kitarnya. 
Bila mengenai bagian posterior di dekat girus sentra-lis 
anterior, Pada penderita didapatkan graps refleks (refleks 
memegang). Kadang-kadang didapatkan spasme tonik pada 
jarijari tangan atau kaki ipsilateral tumor, monospasme, kejang 
fokal pada wajah dan transitory post convulsive paralysis 
(Todd's paralisis). 
Bila mengenai area Broca pada hemisfer dominan dapat ter-jadi 
afasia motorik. 
Kejang tonik fokal merupakan simtom fokal dari bagian 
atas posterior dari lobus frontalis di sekitar daerah premotor. 
Bila mengenai traktus kortikospinalis mengakibatkan he-miparesis 
sampai hemiplegia dengan tonus meningkat, refleks 
meningkat dan adanya ekstensor plantar refleks yang positip. 
Semua ini kontralateral lesi. 
Bila tumor tumbuh ditengah atau timbul dari groove olfac-torius, 
maka biasanya meluas ke posterior dan mengenai N. 
Optikus. Pada penderita didapatkan tanda "sindroma Foster 
Kennedy", yaitu anosmia sesisi lesi akibat tekanan N. I, atrofi 
N. II ipsilateral akibat tekanan pada N. II, dan papil edema 
kontralateral lesi akibat meningkatnya tekanan intrakranial. 
Jika tumor tumbuh didaerah falks serebri setinggi daerah 
presentral maka paraparesis inferior akan dijumpai. 
Pada tumor lobus frontalis juga dijumpai kurangnya kontrol 
sfingter dilanjutkan dengan hilangnya inhibisi kandung ken-cing 
dan akhirnya jatuh dalam inkontinensia urine. 
Urutan jenis tumor pada lobus frontalis adalah glioma (glio-blastoma 
multiforme pada orang dewasa dan astrositoma pada 
anak-anak), ependimoma, meningisma disusul kraniofaringio-masis 
dan yang jarang adalah glioma dari N. Optikus. 
Tumor lobus temporalis : 
Lobus temporalis mempunyai ambang yang rendah untuk 
timbulnya serangan epilepsi. 
Tumor yang menekan atau timbul di Unkus mengakibatkan 
uncinate fit yaitu kejang parsiil, yang dapat terjadi beberapa 
kali dalam satu hari. Biasanya dimulai dengan halusinasi bau 
atau rasa. 80% dengan halusinasi bau busuk dan 20% halu-sinasi 
bau bunga. Ini merupakan sensasi yang pertama. 
Tumor yang mengenai lobus temporalis dan insula, menim-bulkan 
psikomotor epilepsi. Penderita dapat mengalami mo-vement 
motoric automatic dengan sengaja. Penderita dapat 
berjalan, berlari, menyetir mobil, membuka pakaian atau ben-tuk- 
bentuk gerakan lain yang terkoordinir baik selama fase ini. 
Biasanya jarang merupakan gerakan-gerakan yang anti sosial 
atau agresip, dan bentuknya tetap (stereotype). 
44 Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 
Bila tumor mengenai insula, menimbulkan kejang parsiil 
dengan keluhan didaerah visera, termasuk nyeri epigastrium, 
perasaan fluttering di epigastrik atau toraks. 
Tumor pada temporalis posterior, menimbulkan kejang par-siil. 
Dimulai dengan halusinasi visual. 
Pada medial lobus temporalis, dapat meluas ke daerah basal 
ganglia dengan akibat distonia unilateral, korea atetosis dan 
tremor. 
Pada daerah midtemporal dapat disertai halusinasi pende-ngaran, 
berupa suara siulan (whistling), menyiut (hissing) atau 
suara bel. Juga didapatkan gejala "dejavu" atau "jamais Vu". 
Jenis tumor pada lobus temporalis biasanya glioblastoma 
multiforme, astrositoma, oligodendroglioma disusul tumor-tumor 
metastasis. 
Tumor lobus parietalis : 
Tumor di daerah parietalis dapat merangsang korteks sen-soris, 
sebelum manifestasi lain dijumpai. Area parietalis ini 
berguna untuk diskriminasi tekstur, berat, ukuran, bentuk dan 
identifikasi obyek yang diraba. Akibat rangsangan disini ialah 
serangan Jackson sensorik. Jika tumor menimbulkan kerusakan 
strukturil di daearah ini, maka segala macam perasaan di butuh 
kontralateral sisi lesi, tidak dapat dirasakan dan dikenal. 
Gangguan dapat berupa astereognosis, atopognosis, 
hemianestesia, tidak dapat membedakan kanan atau kiri dan 
loss of body image. 
Jenis tumor lobus parietalis meliputi glioma, glioblastoma, 
astrositoma, oligodendroglioma, meningioma, ependimoma, 
tumor-tumor metastasis dan angioma. 
Tumor lobus oksipitalis : 
Tumor di daerah ini biasanya jarang. Gejala dini yang me-nonjol 
sering berupa nyeri kepala di daerah oksipital, kemudi-an 
disusul oleh adanya gangguan yojana penglihatan. 
Tumor di daerah medial lobus oksipitalis, sering menim-bulkan 
kuadrananopsia homonimus inferior kontralateral dan 
dapat meluas menjadi hemianopsia homonim. 
Tumor di daerah ini jenis glioma, angioma dan tumor-tumor 
metastasis. 
Tumor serebellum : 
Tumor serebellum cepat mengadakan obstruksi aliran cairan 
serebro spinalis, sehingga tumor ini cepat menimbulkan te-kanan 
intrakranial yang meningkat. Gejala nyeri kepala, mun-tah 
dan papil edema sering sebagai gejala dini, disusul dengan 
gangguan gait dan gangguan koordinasi. Nyeri kepala dirasa-kan 
didaerah oksipital dan dapat menjalar ke leher bawah. 
Nyeri menghebat apabila terjadi herniasi tonsila serebellaris. 
Gangguan koordinasi dapat diperiksa dengan finger to nose 
test; heel to knee test, dan didapatkan disdiadokokinesia. Bila 
berjalan akan jatuh ke sisi lesi, Romberg test positip, ataksia, 
tremor, nistagmus hipotonia dan scanning speech positip. 
Tumor di daerah ini meliputi medulloblastoma, astrositoma, 
granuloma tuberkuloma, granuloma luetika dan tumor-tumor 
metastasis.
"UICC Classification for tumors of the brain and related structures" 
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 45 
1. Nerve cells : 
— Ganglioneuroma, gangliocytoma, ganglioglioma 
— Ganglioneuroblastoma 
— Malignant ganglioneuroma, malignant gangliocytoma, 
malignant ganglioglioma 
— Sympathicogonioma 
— Neuroblastoma, sympathicoblastoma. 
2. Neuroepithelium : 
— Ependymoma : 
Epthelial ependymoma 
Papillary ependymoma 
Cellular ependymoma 
— Malignant ependymoma, ependymoblastoma 
— Plexus papilloma 
— Olfactory neuroepithelioma. 
3. Eye : 
— Medulloepithelioma of ciliary epithelium, dyktioma 
Neuroepihtelioma, retinoblastoma 
4. Glia : 
— Astrocytoma : 
Fibrillary astrocytoma 
Gemistocytic astrocytoma 
Protoplasmatic astrocytoma 
— Astrocytoma of the nose, nasal glioma 
— Oligodendroglioma 
— Multiform glioblastoma 
— Polar spongioblastoma 
— Medulloblastoma 
5. Peripheral and cranial nerves : 
— Neurinoma, neurolemmoma, schwannoma 
— Neurofibroma 
— Malignant neurinoma, malignant neurolemmoma, 
malignant schwannoma 
6. Meningens : 
— Meningioma 
Epitheloid meningioma, 
ngioma, endotheliomatous meningioma Fibroblastic 
meningioma, fibromatous meningioma 
— Psammomatous 
7. Vascular structure of central nervous system : 
— Hemangioma of cerebellum 
— Von Hippel-Lindau disease 
8. Parapanglia : 
— Noncromaffm paraganglioma included, carotid body 
tumor, glomus caroticum tumor 
— Chemodectoma 
9. Pineal gland : 
Pinealoma 
10. Hypophysis : 
— Chromophobe adenoma : Diffuse 
chromophobe adenoma Sinusoidal 
chromophobe adenoma 
Papillary chromophobe adenoma 
— Oxyphil adenoma, eosinophil adenoma, papillary 
— Basophil adenoma 
— Craniopharyngioma, adamantinoma of ductus, 
craniopharyngeus 
— Chromophobe carcinoma. 
meningotheliomatousmeni- 
Di atas adalah kutipan kaasifikasi tumor otak berdasarkan " 
Unio Internarnationalis Contra Cancrum" (UICC). 
PROSEDUR DIAGNOSIS 
Menegakkan diagnosis tumor otak secara klinis tidaklah be- . 
gitu sulit, terutama apabila penderita menunjukkan trias gejala, 
berupa nyeri kepala; muntah dan pada pemeriksaan didapatkan 
papil edema. Namun sering kali beberapa tumor otak, hanya 
menunjukkan gejala gangguan mental sebagai gejala 
permulaan. Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan 
fisik, masih diperlukan beberapa pemeriksaan tambahan, 
dimulai cara nontraumatik sampai yang traumatik. 
1. X-foto tengkorak 
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan : 
a. Kalsifikasi intrakranial : 
— pada tumor otak kira-kira 10% mengalami kalsifikasi. 
— insidensi kalsifikasi tertinggi terjadi pada Kraniofaringi-oma 
dan Oligodendroglioma. 
b. Displacement calcified pineal gland : 
Glandula pineale sering mengalami kalsifikasi pada orang 
dewasa berupa suatu struktur di garis tengah yang tidak akan 
berpindah ke lateral lebih dari 3 mm pada gambaran foto 
tengkorak AP. Pergeseran lebih dari 3 mm sebagai indikasi 
adanya tumor otak. 
c. Tanda-tanda tekanan intra kranial yang meningkat : 
— Tanda paling dini dari kenaikan tekanan intrakranial 
adalah dekalsifikasi prosessus klinoideus posterior, di-lanjutkan 
dengan perubahan yang serupa di lantai dorsum 
sella tursika. Pada jangka waktu yang lama, keadaan ini 
dapat mengakibatkan lantai dorsum sella mengembung, 
hilang atau rusak. Juga dapat disebabkan karena ekspansi 
adenoma hipofise atau tumor-tumor disekitar sella tursika. 
— Impresio digiti. 
— Pelebaran sutura pada anak-anak. 
d. Pembentukan tulang baru (Hyperostosis) : 
Pada meningioma kira-kira 40% memperlihatkan gambaran 
hiperostosis, terutama didaerah pterion, tuberkulum sella, 
serebelepontin dan fosa kranii media. Sedangkan tumor jenis 
lain sering pada daerah dasar tengkorak. 
e. Destruksi tulang :
— Kira-kira 10% meningioma menunjukkan penipisan 
tulang. Dapat disebabkan karena infiltrasi tumor pada 
tulang atau karena erosi tulang disebabkan tekanan dari 
tumor yang tumbuh perlahan-lahan. 
— Kista epidermoid kadang-kadang dapat ditunjukkan 
dengan adanya area yang mengalami destruksi. 
2. X-foto toraks : Banyak tumor metastase otak berhubungan 
dengan adanya lesi primer di paru. 
3. "Computerized Tomography,Scan" (CT scan) : 
Merupakan pemeriksaan yang nontraumatik dan dapat 
mendeteksi adanya tumor otak kira-kira 95%. 
4. "Electroencephalography" (EEG) : 
Tumor pada hemisfer serebri, sering memberi gambaran EEG 
abnormal pada 75 - 85% kasus. Sedangkan tumor pada fosa 
posterior sering tidak memberikan kelainan EEG. 
Tumor otak sendiri tidak memberi aktifitas listrik abnormal. 
Hanya neuron-neuron yang membuat ini dan neuron-neuron pada 
daerah dekat tumor menjadi abnormal sedemikian rupa sehingga 
"hypersynchronisation" dari pelepasanpelepasan listrik dari 
beribu-ribu atau berjuta-juta sel saraf membentuk gelombang 
lambat atau gelombang runcing (spike) pada EEG. Mungkin 
tumor ini memberi kelainan metabolik neuron-neuron 
didekatnya, dengan tekanan langsung tumor, edema atau dengan 
merusak enervasi darahnya. Edema serebri mungkin adalah 
mekanisme yang paling penting. 
5. Lumbal pungsi (LP) : 
Penggunaan LP untuk metidiagnosis adanya tumor otak, 
sudah banyak ditinggalkan. Lagi pula cara ini harus dikerjakan 
pada indikasi yang tepat. L.P. masih tetap digunakan pada 
dugaan adanya meningeal carcinomatosis, granuloma kronis atau 
adanya dugaan proses desak ruang yang dengan pemeriksaan CT 
scan negatip. 
6. Arteriografi : 
Dewasa ini pemeriksaan CT scan telah mendesak arteriog-rafi. 
Arteriografi dapat memberikan tambahan dimensi tumor 
otak dan serial arteriografi dapat membantu menggambarkan 
mengenai blood supply dari tumor. 
Tumor dari kelompok meningioma biasanya sangat vaskuler 
(banyak pembuluh darah) dan sering menimbulkan pembesaran 
pada pembuluh darah arteri yang diinervasi. Gambaran yang khas 
pada meningioma adalah adanya pembuluh darah yang 
menginervasi tumor oleh cabang-cabang dari sistim karotis 
eksterna. Arteriografi juga membantu adanya dugaan proses 
tumor di fosa posterior, tumor kecil di batang otak atau 
neurilemmoma akustikus yang tidak tampak pada CT scan. 
7. Pneumoensefalografi dan Ventrikulografi : 
Dapat menunjukkan paling jelas tumor intra ventrikuler dan 
tumor yang letaknya dalam dekat pada ventrikel, atau 
mengadakan invasi pada struktur di garis tengah (invading mid 
line structures). 
46 Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 
PENGOBATAN 
Pengobatan tumor otak pada umumnya membutuhkan 
intervensi dari bidang bedah saraf. Makin dini diagnosa dite-gakkan 
dan makin mudah dicapai lesinya, makin baik hasilnya. 
Pada prinsipnya pengobatan meliputi pengelolaan/penurunan 
dari tekanan intrakranial, tindakan operatif, pemberian radiasi 
dan obat-obat khemoterapi. 
PROGNOSIS 
Pada umumnya prognosis ditentukan oleh faktor keganasan 
dan lokalisasi dari tumor otak. 
Makin ganas jenis tumor seperti glioblastoma atau medulo-blastoma 
prognosisnya makin buruk dan tidak tergantung dari 
letak tumor. Sebaliknya tumor-tumor yang timbulnya perlahan 
seperti meningioma, relatif memberikan prognosis yang lebih 
baik. Disamping itu, tumor-tumor yang terletak di bagian yang 
sukar dicapai akan memberikan prognosis yang kurang baik. 
Demikian juga dengan tumor-tumor metastasis akan 
memberikan prognosis yang jelek. 
KEPUSTAKAAN 
1. Ausman JI. Intracranial neoplasms. In : Baker AB & Bakker LB. 
Rived ed. Vol I Chap Clinical neurology. Philadelphia:Harper & 
Row Publ. 1981; pp. 6 - 103. 
2. Chusid JG. Correlative neuroanatomy and functional neurology 17thed. 
Mauzen Asia (ptc) Ltd, 1979. 
3. De Jong RN. The Neurologic Examination 4thed. Hagertown, Ma-ryland, 
New York, London : Harper Row Publ. 1979. 
4. Gilroy J & Meyer IS. Tumor of the central nervous system. In: Me-dical 
Neurology 2nded., Mac Milian Pub Co, 1975; pp. 591 - 645. 
5. Merrit HH. Tumors in a Textbook of Neurology. 5thEd. Tokyo: 
Igaku Shoin Ltd 1973; pp. 377 - 388.
Ketulian : Pemeriksaan dan Penyebabnya 
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 47 
dr. MS Wiyadi 
Bagian Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan 
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya 
PENDAHULUAN 
Yang dimaksud "ketulian" disini adalah sama dengan "ku-rang 
pendengaran", yang dalam buku-buku ditulis deafness atau 
hearing loss. 
Di dalam buku pedoman praktis penyelenggaraan sekolah 
luar biasa Departemen P dan K, kata "tuli" menggambarkan 
adanya kekurangan pendengaran 70 db atau lebih pada telinga 
yang terbaik.l Dalam tulisan ini antara kata-kata "ketulian", 
"kurang pendengaran" dan "tuli" mempunyai arti yang hampir 
sama. 
Secara garis besar ketulian dibagi menjadi dua. Ketulian 
dibidang konduksi atau disebut tuli konduksi dimana kelainan 
terletak antara meatus akustikus eksterna sampai dengana tulang 
pendengaran stapes. Tuli di bidang konduksi ini biasanya dapat 
ditolong dengan memuaskan, baik dengan pengobatan atau 
dengan suatu tindakan misalnya pembedahan. 
Tuli yang lain yaitu tuli persepsi (sensori neural hearing-loss) 
dimana letak kelainan mulai dari organ korti di koklea 
sampai dengan pusat pendengaran di otak. Tuli persepsi ini 
biasanya sulit dalam pengobatannya. 
Apabila tuli konduksi dan tuli persepsi timbul bersamaan, 
disebut tuli campuran. 
Untuk mengetahui jenis ketulian diperlukan pemeriksaan 
pendengaran. Dapat dari cara yang paling sederhana sampai 
dengan memakai alat elektro-akustik yang disebut audiometer. 
Dengan menggunakan audiometer ini jenis ketulian dengan 
mudah dapat ditentukan. 
Maksud dari tulisan ini adalah untuk memberi pengertian 
yang lebih mendalam tentang ketulian. 
PEMERIKSAAN PENDENGARAN2 
Dengan melakukan pemeriksaan pendengaran kita dapat 
mengetahui : 
• Apakah seseorang kurang pendengaran atau tidak. 
• Sifat ketuliannya, tuli konduksi ataukah tub persepsi. 
• Derajat ketuliannya atau besar kekurang pendengarannya. 
• Dengan diketahui sifat ketulian berarti diketahui pula letak 
kelainan, sehingga dapat ditentukan apakah perlu tindakan 
operasi, pemberian obat-obatan saja atau hanya dapat 
ditolong oleh Alat Pembantu Mendengar (APM) atau hearing 
aid. 
Macamnya tes pendengaran yaitu : 
• Tes yang paling sederhana ialah tes suara bisik dan perca-kapan 
("konversasi"). 
• Tes dengan garpu suara. 
• Di klinik yang maju dipergunakan alat elektro-akustik yaitu 
tes dengan audiometer dan, 
• Tes dengan Impedance meter. 
1. Tes suara bisik 
Caranya ialah dengan membisikkan kata-kata yang dikenal 
penderita dimana kata-kata itu mengandung huruf lunak dan 
huruf desis. Lalu diukur berapa meter jarak penderita dengan 
pembisiknya sewaktu penderita dapat mengulangi kata-kata yang 
dibisikan dengan benar. Pada orang normal dapat mendengar 
80% dari kata-kata yang dibisikkan pada jarak 6 s/d 10 meter. 
Apabila kurang dari 5 - 6 meter berarti ada kekurang 
pendengaran. Apabila penderita tak dapat mendengarkan kata-kata 
dengan huruf lunak, berarti tuli konduksi. Sebaliknya bila 
tak dapat mendengar kata-kata dengan huruf desis berarti tuli 
persepsi. 
Apabila dengan suara bisik sudah tidak dapat mendengar dites 
dengan suara konversasi atau percakapan biasa. Orang normal 
dapat mendengar suara konversasi pada jarak 200 meter. 
2. Tes Garpu Suara 
Dengan garpu suara frekuensi 64, 128, 256, 512, 1024, 2048 
dan 4096 hz, dibunyikan dengan cara tertentu lalu disuruh 
mendengarkan pada orang yang dites. Bila penderita banyak tak 
mendengar pada frekuensi rendah berarti tuli konduksi. Bila 
banyak tak mendengar pada frekuensi tinggi berarti tuli 
persepsi.
Kemudian dengan garpu suara frekuensi 256 atau 512 hz 
dilakukan tes-tes Rinne, Weber dan Schwabach sehingga lebih 
jelas lagi apakah tuli penderita dibagian konduksi atau persepsi. 
3. Tes dengan Audiometer 
Hasil dari tes pendengaran dengan audiometer ini digambar 
dalam grafik yang disebut audiogram. Apabila pemeriksaan 
dengan audiometer ini dilakukan, tes-tes suara bisik dan garpu 
suara tak banyak diperlukan lagi, sebab hasil audiogram lebih 
lengkap. Dengan audiometer dapat dibuat 2 macam audio-gram : 
• Audiogram nada murni (pure tone audiogram) 
• Audiogram bicara (speech audiogram) 
Dengan audiometer dapat pula dilakukan tes-tes : 
• tes SISI (Short Increment Sensitivity Index), tes Fowler 
dimana dapat diketahui bahwa kelainan ada di koklear atau 
bukan. 
• tes Tone Decay dimana dapat diketahui apakah kelainan 
dibelakang koklea (retro cochlear) atau bukan. Kelainan retro 
coklear ini misalnya ada tumor yang menekan N VIII 
Keuntungan pemeriksaan dengan audiometer kecuali dapat 
ditentukan dengan lebih tepat lokalisasi kelainan yang me-nyebabkan 
ketulian juga dapat diketahui besarnya ketulian 
yang diukur dengan satu db (desibel). 
4. Tes dengan "Impedance" meter 
Tes ini paling obyektif dari tes-tes yang terdahulu. Tes ini 
hanya memerlukan sedikit kooperasi dari penderita sehingga 
pada anak-anak di bawah 5 tahun pun dapat dikerjakan dengan 
baik. Dengan mengubah-ubah tekanan pada meatus akustikus 
ekterna (hang telinga bagian luar) dapat diketahui banyak 
tentang keadaan telinga bagian tengah (kavum timpani). Dari 
pemeriksaan dengan Impedancemeter dapat diketahui : 
• Apakah kendang telinga (membrana timpani) ada lobang 
atau tidak. 
• Apakah ada cairan (infeksi) di dalam telinga bagian tengah? 
• Apakah ada gangguan hubungan antara hidung dan telinga 
bagian tengah yang melalui tuba Eustachii. 
• Apakah ada perlekatan-perlekatan di telinga bagian tengah 
akibat suatu radang. 
• Apakah rantai tulang-tulang telinga terputus karena kece-lakaan 
(trauma kepala) atau sebab infeksi. 
• Apakah ada penyakit di tulang telirigastapes (otosklerosis). 
• Berapa besar tekanan pada telinga bagian tengah. 
DERAJAT KETULIAN3-7 
Untuk mengetahui derajat ketulian dapat memakai suara bisik 
sebagai dasar yaitu sebagai berikut : 
• Normal bila suara bisik antara 5 - 6 meter 
• Tuli ringan bila suara bisik 4 meter 
• Tuli sedang bila suara bisik antara 2 - 3 meter 
• Tuli berat bila suara bisik antara 0 - 1 meter. 
Apabila yang dipakai dasar audiogram nada murni, derajat 
ketulian ditentukan oleh angka rata-rata intensitas pada fre-kuensi- 
frekuensi 500, 1000 dan 2000 Hz yang juga disebut 
48 Cermin Dunia Kedokteran No. 34. 1984 
speech frequency. Konversasi biasa besarnya kurang lebih 50 db. 
Derajat ketulian berdasar audiogram nada murni adalah sebagai 
berikut : 
• Normal antara 0 s/d 20 db. 
• Tull ringan antara 21 s/d 40 db. 
• Tull sedang antara 41 s/d 60 db. 
• Tull berat antara 61 s/d 80 db. 
• Tull amat berat bila lebih dari 80 db. 
PENYEBAB KETULIAN 8-10 
Penyebab tuli konduksi 
1. Pada meatus akustikus eksterna : cairan (sekret, air) dan 
benda asing, polip telinga). 
2. Kerusakan membrana timpani : perforasi, ruptura, sikatriks. 
3. Dalam kavum timpani : kekurangan udara pada oklusio tuba, 
cairan (darah atau hematotimpanum karena trauma kepala, 
sekret pada otitis media baik yang akut maupun yang kronis), 
tumor. 
4. Pada osikula : gerakannya terganggu oleh sikatriks, meng-alami 
destruksi karena otitis media, oleh ankilosis stapes pada 
otosklerosis, adanya perlekatan-perlekatan dan luksasi karena 
trauma maupun infeksi, atau bawaan karena tak terbentuk 
salah satu osikula. 
Penyebab tuli persepsi 
• Periode prenatal 
1. Oleh faktor genetik 
2. Bukan oleh faktor genetik. 
— Terutama penyakit-penyakit yang diderita ibu pada ke-hamilan 
trimester pertama (minggu ke 6 s/d 12) yaitu pada 
saat pembentukan organ telinga pada fetus. Penyakit-penyakit 
itu ialah rubela, morbili, diabetes melitus, nefritis, 
toksemia dan penyakit-penyakit virus yang lain. 
— Obat-obat yang dipergunakan waktu ibu mengandung 
seperti salisilat, kinin, talidomid, streptomisin dan obat-obat 
untuk menggugurkan kandungan. 
• Periode perinatal 
Penyebab ketulian disini terjadi diwaktu ibu sedang melahirkan. 
Misalnya trauma kelahiran dengan memakai forceps, vakum 
ekstraktor, letak-letak bayi yang tak normal, partus lama. Juga 
pada ibu yang mengalami toksemia gravidarum. Sebab yang lain 
ialah prematuritas, penyakit hemolitik dan kern ikterus. 
• Periode postnatal 
1. Penyebab pada periode ini dapat berupa faktor genetik atau 
keturunan, misalnya pada penyakit familiar perception 
deafness. 
2. Penyebab yang bukan berupa faktor genetik atau keturunan: 
— Pada Anak-anak : 
a. Penyakit-penyakit infeksi pada otak misalnya meningitis 
dan ensefalitis. 
b. Penyakit-penyakit infeksi umum : morbilli, varisela,
parotitis (mumps), influenza, deman skarlatina, demam 
tipoid, pneumonia, pertusis, difteri dan demam yang tak 
diketahui sebabnya. 
c. Pemakaian obat-obat ototoksik pada anak-anak. 
— Pada orang dewasa : 
a. Gangguan pada pembuluh-pembuluh darah koklea, dalam 
bentuk perdarahan, spasme (iskemia), emboli dan trombosis. 
Gangguan ini terdapat pada hipertensi dan penyakit jantung. 
b. Kolesterol yang tinggi : Oleh Kopetzky dibuktikan bahwa 
penderita-penderita tuli persepsi rata-rata mempunyai kadar 
kolesterol yang tinggi dalam darahnya. 
c. Diabetes Melitus : Seringkali penderita diabetes melitus tak 
mengeluh adanya kekurangan pendengaran walaupun kalau 
diperiksa secara audiometris sudah jelas adanya kekurang 
pendengaran. Sebab ketulian disini diperkirakan sebagai 
berikut : 
— Suatu neuropati N VIII. 
— Suatu mikroangiopati pada telinga dalam (inner ear). 
— Obat-obat ototoksik. Penderita diabetes sering ter-kena 
infeksi dan lalu sering menggunakan antibiotika 
yang ototoksik 
d. Penyakit-penyakit ginjal : Bergstrom menjumpai 91 kasus 
tuli persepsi diantara 224 penderita penyakit ginjal. 
Diperkirakan penyebabnya ialah obat ototoksik, sebab 
penderita penyakit ginjal mengalami gangguan ekskresi obat-obat 
yang dipakainya. 
e. Influenza oleh virus. Oleh Lindsay dibuktikan bahwa sudden 
deafness pada orang dewasa biasanya terjadi bersama-sama 
dengan infeksi traktus respiratorius yang disebabkan oleh 
virus. 
f. Obat-obat ototoksik : Diberitakan bahwa bermacam-macam 
obat menyebabkan ketulian, misalnya : dihidrostreptomisin, 
salisilat, kinin, neomisin, gentamisin, arsenik, antipirin, 
atropin, barbiturat, librium. 
g. Defisiensi vitamin. Disebut dalam beberapa karangan, bahwa 
defisiensi vitamin A, B1, B kompleks dan vitamin C dapat 
menyebabkan ketulian. 
h. Faktor alergi. Diduga terjadi suatu gangguan pembuluh 
darah pada koklea. 
i. Trauma akustik : letusan born, letusan senjata api, tuli karena 
suara bising. 
j. Presbiakusis : tuli karena usia lanjut. 
k. Tumor : Akustik neurinoma. 
1. Penyakit Meniere 
m. Trauma kapitis. 
• Psikogen 
Ketulian psikogen dapat : 
— simulated (malingering) 
— fungsional (histeri) 
• Tak diketahui sebabnya (unknown) 
Arnvig memberitakan bahwa 21,1% dari kasus-kasusnya tak 
diketahui sebabnya. Menurut Harrison dan Livingstone besarnya 
30%, menurut Fraser 38% dari 2355 kasus dan menurut Maran 28% 
dari 464 kasus. Penulis sendiri menemukan 40,4% 
dari 5556 kasus di seksi audiologi bagian THT RS Dr. Soetomo. 
RINGKASAN 
Telah dibicarakan pengertian tentang ketulian, pemeriksaan 
pendengaran, derajat ketulian dan penyebab ketulian baik di 
bagian konduksi maupun persepsi. 
KEPUSTAKAAN 
1. Hendarmin H. Sebab Tuna Rungu di Indonesia. Kumpulan Naskah 
Kongres Nasional V Perhati di Semarang 27 - 29 Oktober 1977; 
hal 152. 
2. Wiyadi MS. Beberapa Macam Test Pemeriksaan Pendengaran. 
Airlangga. Pers Kampus Universitas Airlangga. Edisi Desember 
1979, hal 5. 
3. Katz J. Handbook of Clinical Audiology. Baltimore: The Williams 
& Wilkins Co, 1972; p. 79. 
4. Sedjawidada R dan Manukbua A. Test Bisik. Kumpulan 
Naskah Kongres Nasional V Perhati di Semarang 27 - 29 
Oktober 1977; hal 189 - 198. 
5. Strome M. Differential Diagnosis in Pediatric Otolaryngology, 1st 
ed. Boston : Little, Brown &Co, 1975; p 16. 
6. Wiyadi MS dan Iskandar A. Pemeriksaan Pendengaran Pada 
Calon Mahasiswa Universitas Airlangga. Konas Perhati ke-VI di 
Medan 30 Juni s/d 2 Juli 1980. 
7. Zaman M. Kuliah Test Suara Bisik pada Mahasiswa FK Unair 
tahun 1975. 
8. Maulani HS. Pengobatan Tuli Persepsi dengan Vitamin A. 
Karya Untuk Memperoleh ljazah Keahlian THT Fakultas 
Kedokteran Unair, 1981. 
9. Wiyadi MS. Penyebab Ketulian di Seksi Audiologi Bagian THT 
RS Dr. Soetomo/FK Unair 1974 - 1976. Kumpulan Naskah 
Kongres Nasional V Perhati di Semarang 27 - 29 Oktober 1977; 
hal 124 - 137. 
10. Wiyadi MS. Pemeliharaan Pendengaran. Majalah Kedokteran Sura-baya, 
1979; 16 : 44 - 54. 
Va, hidungnya mirip ayahnya. 
Tapi saya perhatikan matanya 
lebih mirip suami saya. 
• fF~T 1 
v d J rY~~ 
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 49
Rodamin B dan Metanil Kuning ("Metanil 
Yellow") Sebagai Penyebab Toksik 
Pada Mencit dan Tikus Percobaan 
G. Nainggolan — Sihombing 
Unit Penelitian Gizi Diponegoro 
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Dep Kes R.I., Jakarta 
PENDAHULUAN 
Dalam penyelidikan pada tahun 1978, ditemukan bahwa ro-damin 
B dan metanil kuning dipakai sebagai pewarna makanan 
di Jakarta.1 Kedua bahan pewarna ini sebenarnya diproduksi 
untuk mewarnai kertas, tekstil, kayu dan barang industri non 
pangan lainnya.2 Laporan tentang adanya kasus keracunan ma-kanan 
yang mengandung rodamin B atau metanil kuning belum 
diperoleh di kepustakaan Jakarta. Berhubung kedua bahan 
pewarna ini telah terbukti sering dan banyak digunakan peda-gang 
kecil di Jakarta untuk mewarnai makanan kecil dan mi-numan, 
maka telah dilakukan percobaan biologik pada mencit 
dan tikus putih. Data yang diperoleh kiranya dapat dipergu-nakan 
oleh para ilmuwan untuk ditafsirkan pada manusia. 
Diharapkan lambat laun masyarakat Indonesia dapat menge-tahui 
bahwa rodamin B dan metanil kuning memang berbahaya 
bagi kesehatan manusia dan menolak penggunaannya dalam 
makanan. 
BAHAN DAN METODE 
1. Zat pewarna 
Rodamin B diperoleh dari PT Krikras Jakarta asal produk 
pabrik Ciech Organik B2 Div Warsawa. (1 gram produk ekiva-len 
dengan 210 mg rodamin B murni). Metanil kuning berasal 
dari pabrik Imperial Chemical Industry Ltd London, PT Galic 
Bina Mada Jakarta. (1 gram ekivalen dengan 435 mg metanil 
kuning)1 
2. Makanan stok 
Makanan stok diperoleh dari Unit Gizi Diponegoro Badan 
Litbangkes Dep Kes Jakarta (Addendum 1).3 
Makanan yang dicampur dengan rodamin B (untuk perco-baan 
I dan II) : 1 gram bahan pewarna rodamin B dicampur 
dengan 3 kg makanan stok. Kadar rodamin B dalam makanan 
*) Ringkasan naskah Ceramah Ilmiah di PT Kalbe Farma, Jakarta tanggal 
22 Februari 1983. 
50 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
ini adalah 7 mg per 100 gram. 
Makanan yang dicampur dengan metanil kuning (untuk per-cobaan 
I) : 1 gram bahan pewarna metanil kuning dicampur 
dengan 3kg makanan stok. Kadar metanil kuning dalam ma-kanan 
ini adalah 14,5 mg per 100 gram. 
3. Hewan Percobaan 
Mencit dan tikus putih sapihan diperoleh dari Unit Gizi 
Diponegoro, Badan Litbangkes, Dep Kes, Jakarta. 
4. Perlakuan hewan percobaan 
• Percobaan I 
Delapan belas ekor mencit dibagi menjadi 3 grup, yang ma-sing- 
masing terdiri dari 6 ekor. Grup I diberi makan stok yang 
dicampur dengan rodamin B. Grup II diberi makanan stok yang 
dicampur dengan matanil kuning. Grup III diberi makanan stok 
saja dan dipakai sebagai grup kontrol. Semua hewan diberi 
makan dan minum ad libitum selama 16 minggu (Tabel 1). 
• Percobaan II 
Grup A (percobaan) dimulai dari seekor tikus jantan dan 2 
ekor tikus betina yang berumur 3 bulan untuk dikawinkan se-lama 
3 hari. Kemudian ke dua ekor tikus betina itu dipisahkan 
selama masa hamil sampai dekat pada hari melahirkan. Setelah 
beranak, anak-ananya dibiarkan tetap bersama induknya sampai 
umur 3 bulan. Pada umur ini dipilih secara acak 6 ekor anak 
jantan dan 6 ekor anak betina untuk dipergunakan sebagai 6 
pasang parent stok (FI). Sisa anak yang tidak terpakai dibuang 
dan ke 6 parent stok (keturunan grup A) ini kemudian 
dikawinkan. Dari hasil perkawinan dipilih lagi secara 
acak 6 ekor anak jantan dan 6 ekor betina yang kemudian di-pasangkan 
untuk dikawinkan (F2). Demikianlah seterusnya di-lakukan 
sampai dengan generasi ke-6 (F6) (tabel 2). Semua ti-kus 
mulai dari FI sampai F6 dari keturunan grup A ini diberi 
makanan campuran dengan rodamin B selama 12 bulan. 
Grup B (kontrol) juga dimulai dari seekor tikus jantan yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 51 
ADDENDUM 1 
"COMPOSITION OF PREPARED STOCKDIETS FOR ALBINO - RATS, STRAIN L.M.R." 
dikawinkan dengan 2 ekor tikus betina berumur 3 bulan. Perlakuan 
selanjutnya sama seperti pada grup A, untuk memperoleh 6 generasi ( 
F1 - F6). Kemudian pasangan F1 dari grup B (kontrol) merupakan 
counter. part dari F1 grup A (percobaan). Demikian seterusnya 
pasangan-pasangan F2 sampai dengan F6. Grup B menjadi counter 
part masing-masing dari pasangan F2 sampai dengan F6 grup A ( 
percobaan). Semua tikus dari semua generasi grup B hanya diberi 
makanan stok selama 12 bulan dan dipergunakan sebagai grup kontrol. 
HASIL 
• Percobaan I 
Mencit yang diberi makanan yang dicampur 
dengan rodamin B dan metanil kuning selama 16 
minggu. Pada grup rodamin G gejala menyolok 
adalah bulu-bulu menjadi kasar dan pertumbuhan 
badan terlambat kalau dibandingkan dengan 
kelompok kontrol. Mata dan air seninya 
berfluoresensi bila kena sinar matahari. Hewan-hewan 
nampak aktif sadar. Pada minggu ke-7 
mereka umumnya gelisah, sering menggaruk-garuk 
badannya sehingga mendapat luka-luka dibe-berapa 
tempat bagian tubuhnya (Gambar 1). Pada 
minggu ke-8 keaktifan mereka mulai berkurang dan 
geraknya lambat dan malas. Pada minggu ke-10 
ditemukan seekor mencit mati (Tabel 1). 
Pada kelompok mencit yang diberi meta-nil 
kuning, pertumbuhan badan juga terlambat (lihat 
Grafik), tetapi mereka aktif dan sadar. Di antara 6 
ekor mencit ditemukan 2 ekor yang menderita 
megalosefali (Gambar 2), dan 2 ekor lainnya 
mendapat pembengkakkan pada ke dua kaki 
depannya. Seperti halnya kelompok rodamin B, 
pok metanil kuning pun mulai bergerak lam-ban 
pada minggu ke-8 dan ke-9 masing-masing 
ditemukan seekor mencit mati (Tabel 1). 
Pada otopsi dari ke tiga ekor mencit yang mati ( 
1 ekor dari grup rodamin B dan 2 ekor dari grup 
metanil kuning), hanya menunjukkan keadaan gizi 
yang jelek dimana semua deposito lemak di dalam 
tubuhnya habis sama sekali. 
Sisa mencit grup 1 yang berjumlah 5 ekor 
dibunuh pada akhir minggu ke-16. Pada hati seekor 
mencit ditemukan 1 bungkul tumor hapatoma 
dengan ukuran ± 0,5 x 0,5x 0,25 cm yang terletak 
pada lobus hepatis dekstra. 
Sisa mencit yang berjumlah 4 ekor dari grup II 
dibunuh pada akhir minggu ke-16 juga. Dua ekor 
diantaranya mengalami perubahan ginjal (ginjal 
kistik). Terlihat jelas bahwa bagian pielum meluas 
dan bagian korteks menipis. 
Percobaan II 
Enam pasang tikus selama 6 generasi diberi makanan yang 
dicampur dengan rodamin B (Tabel2). 
Gejala klinik yang nyata adalah perubahan warna yang menjadi 
kemerah-merahan pada kulit dan ekor (mungkin kena sentuhan 
makanan berwarna setiap hari atau mungkin konsentrasi rodamin B di 
dalam darahnya lebih tinggi dari biasanya). Bola mata, air mata, dan air 
seni mereka juga kemerahan-merahan, air seninya berfluoresensi kalau 
kena sinar ma- 
Basic 
Foodstuff 
Protein 
% 
Fat 
% 
Weight 
in kg 
Weight 
in% 
1. Rice 
2. Soybean, boiled, dried 
3. Peanut, chelled, fried 
4. Skim milk powder, high quality 
5. Coconut-oil 
6. Kitchensalt 
7. Bonemeal 
8. Vit. B-complex tablet * 
9. Vit. A + D3 in starch ** 
10. Ferri - citrate 
7.0 
40 
27 
35 
--- 
1 
18 
44 
- 
100 
-- 
10.0 
4.5 
1.5 
2.0 
250 ml 
0.15 
0.075 
30 tab. 
++ 
54.3 
24.4 
8.1 
10.8 
1.3 
0.8 
0.4 
+++ 
±18.4 kg ±100% 
Average Composition 
as calculated : Crude Protein 19.6 % 
Total Fat 9 % 
Total Energy 370 Cals. % 
NPU-standard 60 
NPU-operative 50 
as analysed : Crude Protein 20.3 % 
For Comparison 
: Composition of Purina Laboratory Chow : 
(Ralston Purina Co St Louis, USA). 
Crude Protein 23.0 % 
Nitrogen free extract 50.6 % 
Crude fat 5.8 % 
Crude fibre 4.9 % 
Ash 7.7 % 
* B-complex, ** Rovimix A + D3 Type 500/100 Roche : 
Each table contains : 1 gram contains 500.000 IU Vit. A + 
Thiamin HO 3 mg 100.000 IU Vit. D 
Riboflavin 2 mg 125 grams Rovimix to 400 grains of starch 
Pyridoxin HCl 0.5 mg For 18.4 kg of food use 8 grams of 
Calcium pantothe- (Starch + Rovimix). 
nate 2 mg (equiv. to 0.25 g Rovimix). 
Nicotinamide 10 mg 
Sumber Unit Gizi Diponegoro - Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, De-partemen 
Kesehatan. 
Kompleks Nutrition Centre, Seameo Tropmed - U.I. 
Salemba 4 (Kampus U.l.) Jakarta. October 1978
Tabel 1 
Percobaan II : Disain percobaan dengan mencit, jumlah kematian dan jenis kelainan patologi pada mencit yang 
diberi makanan yang dicampur rodamin B dan metanil kuning.* 
Grup 
Jenis 
Makanan 
Jumlah 
Mencit 
pada 
permulaan 
Jumlah kematian 
Mencit pada 
minggu ke 
Jumlah 
Total 
Kelainan Patologi 
Keterangan 
_ 
VIII IX X Hati Ginjal 
I Rodamin B 6 0 0 1 1 1** 0 Hepatoma 
(1 ekor) 
H Metanil 
kuning 
6 1 1 0 2 0 2** Ginjal kistik 
(2 ekor) 
III Kontrol 6 0 0 0 0 0 0 
Lama percobaan 16 minggu 
Kandungan bahan pewarna rodamin B (tidak murni) adalah 1 gram (ekivalen dengan 7 mg) per 100 gram 
stokdiet. 
Kandungan bahan pewarna metanil kuning (tidak murni) adalah 1 gram (ekivalen dengan 14.5 mg) per 100 
gram stokdiet. 
** Kelainan patologi ditemukan pada mencit yang dibunuh pada akhir minggu. 
Grafik : Perobahan berat badan mencit yang diberi masing masing dari 
rodamin B dan metanil kuning dalam diet selama 16 minggu ( 
persen dari berat badan semula). 
Kontrol 
Metanil 
kuning 
Rodamin B 
Diet & 
pemberian 
— 1 gram 
per 3 
— 1 gram 
mg) 
malcan 
rodamin B ( 
ekuiv. 
kg stokdiet 
metanil kuning 
per 3 kg stokdiet 
dan minum ad. 
210 mg) 
(ekuiv. 435 
libitum 
Gambar 1 : Mencit yang mendapat benjolan dan luka pada kaki kanan, 
karena pemberian rodamin B dalam diet pada percobaan 
selama 16 minggu. 
200 
150 
100 
50 
t% 
0 1 2 3 4 
Bulan 
52 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
Gambar 2 : Mencit yang memperoleh metanil kuning dalam diet selama 16 
minggu, menderita megalosefali pada minggu ke 10.
Tabel 2 
Percobaan II : Jumlah tikus-tikus yang mati dan yang mendapat tumor pada pengamatan selama 6 minggu dengan pemberian makan-an 
yang mengandung 7 mg Rodamin B murni dalam 100 gram diet selama 12 bulan, setiap generasi (F) terdiri dari 6 pa-sang 
hewan. 
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 53 
Jumlah kematian dan Jumlah Tumor yang 
Jumlah 
Generasi Jumlah ditemukan pada bulan ke — 
ke —d 
Jumlah 
tikus 
masmg- Total 
Kemtal 
Keterangan 
(F) masing I II III N V VI VII VIII IX X XI XII 
F- 1 9 12 6 0 0 0 0 0 0 0 0 2* 2 1 0 0 5 * Ditemukan 
limfoma 
F- i 12 6 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 — — — 6 pada 1 ekor 
tikus 
F-2 9 6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1* 1 1 1 4 
d 6 0 0 0 0 1 1 1 0 1 0 0 0 0 4 
F-3 9 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 4 
12 — 
d 6 0 0 0 0 0 0 0 0 2* 0 0 0 0 4 
F-4 9 6 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 3 
12 
d 6 0 0 0 0 0 2 2* 0 0 0 0 0 0 4 
F-5 9 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 3 
12 
d 6 0 0 0 0 0 0 0 0 2* 0 1 0 0 3 
F-6 9 6 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 2 
12 
d 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 
Catatan ; — Pada kelompok kontrol tidak ada yang mati 
Pada kelompok kontrol tidak ada pertumbuhan tumor 
tahari. Tubuhnya rata-rata lebih kecil bila dibandingkan de-ngan 
hewan kontrol (Gambar 3), akan tetapi semua hewan 
menjadi aktif, malah banyak yang galak, agresif dan kanibal. 
Tikus-tikus umumnya mengalami diare sebelum mati, dan yang 
mati kemudian dimakan oleh tikus-tikus yang masih hidup dan 
aktif. Mulai bulan ke-10 banyak tikus mengalami kerusakan 
tubuh (Gambar 4). 
Angka kematian pada generasi pertama cukup tinggi, akan 
Gambar 3 : Perbedaan besar tubuh tikus yang diberi rodamin B dalam diet 
dengan kontrol pada penelitian selama 12 bulan. 
Gambar 4 Tikus yang mengalami kerusakan tubuh pada pemberian 
rodamin B dalam diet pada penelitian selama 12 bulan. 
tetapi makin lama pada generasi berikutriya menjadi makin 
berkurang (Tabel 2). 
Pada otopsi, ditemukan tumor limfoma masing-.masing 1 
ekor pada Fl, F2, F3, F4, F5 dan F6 (Tabel 2). Waktu yang 
diperlukan untuk menimbulkan tumor limfoma antara 6 sampai 
9 bulan. Limfoma yang sering ditemukan berada pada me-
diastinum dan kadang-kadang pada mesenterium. Besarnya 
bervariasi dari yang berdiameter ± 0,25 cm sampai 2,5 cm. 
Tikus-tikus dari grup kontrol tidak ada yang mati dan pada 
otopsi tidak ditemukan tumbuh ganda di dalam tubuhnya. 
Gambar 5 Beginilah label dari kemasan plastik yang berisi bahan pe-warna 
"makanan", dijual di pasaran bebas Jakarta. Per-hatikan 
"Special Colours fo all Purposes". 
Gambar 6 : Bahan pewarna dalam kemasan kaleng, botol, kantong plastik 
dijual di pasaran bebas Jakarta sebagai pewarna makanan. 
PEMBAHASAN 
Data mengenai efek toksik yang diperoleh dari percobaan 
bahan pewarna rodamin B dan metanil kuning pada mencit dan 
tikus percobaan menimbulkan pertanyaan, apakah keracunan 
serupa seperti yang terlihat pada hewan percobaan itu, akan 
terjadi juga pada manusia yang sering makan makanan yang 
mengandung pewarna rodamin B atau metanil kuning. 
Mungkin ada gunanya juga kalau diutarakan di sini, bahwa 
pada pembuatan bahan pewarna seperti pembuatan bahan-bahan 
kimia organik pada umumnya dibutuhkan proses yang rumit 
untuk memperoleh produk yang murni. Ada kalanya 
54 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
terbentuk pula produk sampingan yang tidak dikenal sifatnya. Ini 
mungkin berbahaya atau tidak berbahaya, tetapi kehadiran zat itu 
tidak diinginkan.4 
Rodamin B dibuat dari meta-dietilaminofenol dan ftalik 
anhidrid, kemudian diasamkan dengan asam hidroklorid. Kedua 
bahan baku ini bukanlah bahan yang boleh dimakan. Se-lanjutnya 
asam HC1 yang dipakai tentunya bertingkat "teknis" 
dengan kadar logam logam berat yang cukup tinggi. Begitu juga 
metanil kuning yang dibuat dari asam metanilat dan dife-nilamin. 
Kedua bahan ini toksik. Jadi, dapat kita bayangkan 
bahwa di dalam bahan pewarna baik rodamin B maupun meta-nil 
kuning, berbagai bahan lain masih ada di dalamnya. Mereka 
turut ambil bagian sebagai penyebab toksik tambahan pada 
hewan percobaan. Memang kemurnian pewarna rodamin B dan 
metanil kuning diusahakan tinggi oleh pabrik pembuatnya, tetapi 
karena bahan pewarna ini dimaksudkan untuk mewarnai 
sebangsa tekstil, kertas, kayu dan sebagainya, maka kehadiran 
logam berat serta produk sampingan lainnya yang dianggap 
rendah bagi industri non-pangan sudah cukup tinggi untuk 
pewarna makanan. 
Kontaminasi dapat pula terjadi dari kemasan bahan pewarna 
non pangan yang kurang baik mutunya sehingga menambah 
bahaya kesehatan manusia bila menggunakan bahan pewarna ini 
untuk makanan.4,5 
KESIMPULAN 
Pemberian rodamin B dan metanil kuning dalam diet mencit 
dan tikus percobaan mengakibatkan efek toksik pada hewan 
tersebut. Ini menegaskan keterangan yang ada dalam ke-pustakaan, 
yaitu baik rodamin B maupun metanil kuning adalah 
bahan pewarna untuk mewarnai barang-barang non pangan2, jadi 
tidak dapat ditolerir untuk mewarnai makanan manusia. 
Karena masyarakat Indonesia di Jakarta khususnya dan di 
Indonesia umumnya memang senang pada makanan yang ber-warna, 
maka pengadaan bahan pewarna makanan yang diizin-kan 
dengan derajat Food Grade dan memenuhi persyaratan 
higine, harus mendapat perhatian instansi pemerintah yang 
berwenang c.q. Departemen Kesehatan, Departemen Perda-gangan 
dan Departemen Perindustrian. Pengadaan ini hendak-nya 
disertai dengan harga yang kompetitif dengan harga pewar-na 
non pangan yang sebelumnya diperdagangkan sebagai pe-warna 
pangan, sehingga dapat dijangkau masyarakat luas seperti 
sediakala. 
RINGKASAN 
Dua pewarna non-pangan dikenal dengan nama rodamin B 
yang memberi efek warna merah jambu, dan metanil kuning 
yang memberi warna kuning telor digunakan luas sebagai pe-warna 
makanan di Jakarta. 
Sebagai bahan non-pangan pada umumnya bila berada di 
dalam makanan kemudian dikonsumsi manusia, dapat dira-malkan 
akan mengganggu kesehatan dalam jangka waktu pen-dek 
atau panjang. Untuk pembuktiannya telah dilakukan per-cobaan 
pada mencit dan tikus putih dengan mencampurkan 
masing-masing dari kedua bahan pewarna non-pangan tersebut
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 55 
ke dalam diet mereka sehari-hari. 
Hasil penelitian menguatkan dugaan, bahwa kedua bahan 
pewarna non-pangan ini dapat mengganggu kesehatan hewan 
percobaan. 
Ucapan terima kasih : 
Kepada Dr. Iwan T. Budiarso, ahli patologi veteriner pada Puslitbang 
Kanker, Badan Litbangkes, Dep Kes R.I., yang telah memberi penilaian 
simtom patologi dari penelitian biologik ini. 
KEPUSTAKAAN 
1. Sihombing G. An Exploratory Study on Three Synthetic Colour-ing 
Matters Commonly Used As Food Colours In Jakarta (Thesis), 
1978; p. 37 - 82. 
2. Fairhall LT. Industrial Toxicology, 2nd. Ed., New York: Hafner 
Publishing Company, 1975 ; p. 235 - 236. 
3. Unit Penelitian Gizi Diponegoro, Badan Litbangkes Depkes R.I. 
Miller DS. Worksheet for Determination of Net Protein Utilisation 
using Rats Body N Technique, 1978; p 2. 
4. Jacobs MB. The Chemical Analysis of Foods and Food Products, 3rd. 
Ed, New York : Robert E. Krieger Publishing Co., Inc. Hung-tington, 
1973; 11743, p. 103 - 105. 
5. Imperial Chemical Industries. Edicol Colours for Foodstuffs, Pat-tern 
leaflet 113. 
Kalender Kegiatan Ilmiah 
SECOND INTERNATIONAL CONGRESS on TRADITIONAL ASIAN MEDICINE 
Dates : September 2, through September 7, 1984 
I. Scientific programe : 
Theme of the congress : 
Traditional medicine in Asian countries and their place in 
pluralistic health care systems. 
Main subject areas of the congress : 
1. The sources and histories of classical traditions 
2. Popular medicine 
3. Ethnobotany, ethnopharmacology, and allied subjects 
4. Models of integration : problems and chances 
5. The social construction of illness experience 
6. Clinical and experimental studies of therapeutic practices 
7. Primary health care and education of health care workers. 
II. Social programme : 
Ladies' Programme : traditional Indonesian beauty treatment with traditional drug 
and traditional cosmetic. 
III. Cultural evening. 
Place : Bumi Hyatt Hotel, Jln. Basuki Rachmat 124 - 128. 
Phone 031 - 470875, Surabaya . 
Secretariat : Faculty of Pharmacy, Airlangga University 
J1n. Dharmahusada 47, Surabaya 
Phone (031). 43710 
Registration fee: For Indonesian participant is : Rp. 50.000,- 
and the accompanying person : Rp. 25.000,- 
Sent payment to : ICTAM II, Bank Account : BNI 46 
branch No. 11.02.090.8000 UNAIR
PERKEMBANGAN 
Pengobatan Preleukemia 
Istilah "preleukemia" dulu digunakan untuk menggambar-kan 
sekelompok kelainan morfologik sel-sel darah yang diiden-tifikasikan, 
secara retrospektif, sebagai pendahulu dari leukemia 
mieloblastik akut. Sekarang, istilah ini banyak dipakai oleh para 
hematolog, secara prospektif, untuk pasien yang diduga 
menderita leukemia, dengan prognosis buruk, tapi belum tentu 
berakhir sebagai leukemia akut. Perjalanan kliniknya bervariasi. 
Cukup banyak penderita meninggal karena kegagalan sumsum 
tulang, sebelum penyakitnya sendiri berkembang menjadi 
leukemia akut. Gambaran dari sumsum tulang biasanya 
hiperseluler; dan karena maturasi sel-sel darah kurang sem-purna, 
maka pada darah tepi didapatkan sitopenia. Pada pasien-pasien 
tua, atau bila transplantasi sumsum tulang tidak dapat 
dilakukan, pengobatan suportif dengan tranfusi darah masih 
merupakan pilihan utama. Usaha-usaha penyembuhan dengan 
rejimen pengobatan anti-leukemia yang telah dikenal, biasanya 
gagal. Juga telah dicoba pemakaian steroid androgen tanpa hasil 
yang berarti. 
Bagaimana caranya supaya sel-sel neoplastik tadi terinduk-si 
hingga berdiferensiasi? Ini akan memperbaiki keadaan darah-nya. 
Penemuan cara pembiakan dan "cloning" sel darah, baik 
yang normal maupun leukemik, telah membuka jalan untuk 
mempelajari beberapa zat kimia yang dapat menginduksi sel. 
Pada percobaan in-vitro terbukti perlunya protein induser 
supaya sel menjadi dewasa dan viable. Protein-protein ini 
dihasilkan oleh beberapa jenis sel seperti fibroblas, limfosit, 
makrofag, dan anehnya, ternyata juga dihasilkan oleh sel-sel 
mieloid leukemik sendiri. Pada sel leukemia akut, kelainan 
fenotip utamanya adalah ketidakmampuannya untuk berdi-ferensiasi 
menjadi sel dewasa. Protein induser, penambahan zat-zat 
kimia tertentu dan substansi-substansi alamiah seperti asam 
retinoat dan metabolit dari vitamin D, semua ini dapat 
menginduksi sel-sel leukemik untuk berdiferensiasi. Walaupun 
beberapa bahan tadi cukup toksik untuk digunakan dalam klinik, 
beberapa lainnya merupakan bahan standar sebagai kemoterapi. 
Contohnya ialah sitarabin. 
Klon spesifik dari sel-sel leukemik tikus akan terinduksi 
untuk berdiferensiasi oleh sitarabin. Dan pemberian terus 
menerus zat ini terhadap HL 60 human promyelocytic leuce-mic 
cell, akan meningkatkan pematangan sel sampai menyamai 
monosit atau granulosit. Jadi sel-sel leukemik jenis ini mungkin 
sangat sensitif terhadap sitarabin. Tapi cara kerjanya belum 
diketahui dengan tepat. 
Keuntungan pemakaian sitarabin dengan dosis yang jauh 
lebih rendah daripada rejimen pengobatan anti-leukemia biasa, 
telah dipelajari dan diperdebatkan. Sebagai contoh, para ahli dari 
Inggris telah melakukan penelitian terhadap pasien dengan 
anemia aplastik dan anemia refrakter. Pasien-pasien tersebut 
56 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
diobati dengan androgen, sitarabin dosis rendah, dan peng-obatan 
suportif. Penelitian meliputi faktor-faktor prognosis dan 
efek dari masing-masing pengobatan di atas. Hasilnya ternyata 
mengecewakan, karena evolusi dari penyakitnya tidak 
terpengaruh. Dalam penelitian lain, digunakan sitarabin dosis 
rendah yang diberikan subkutan secara intermittent pada 21 
pasien. Lima di antaranya menderita preleukemia, dan sisanya 
leukemia nonlimfositik akut. Hasilnya cukup baik, 50% kasus 
mencapai remisi sempurna, termasuk 4 dari pasien preleukemia 
tadi. 
Wisch dengan kolega-koleganya di Amerika telah mempe-lajari 
8 pasien preleukemia dengan berbagai gambaran morfo-logik; 
7 di antaranya dengan peningkatan sel-sel bias dalam 
sumsum tulang. Digunakan sitarabin secara infus intravena terus 
menerus dengan dosis 20 mg/m2/hari selama 21 hari. Satu 
pasien mencapai kesembuhan klinik yang sempurna, dan tetap 
baik setelah 14 bulan kemudian. Dua pasien meninggal, dan 5 
pasien menunjukkan kemajuan dalam hitung darahnya, yang 
bertahan 2 - 4 bulan setelah pemberian obat. Corak 
maturasi dalam sumsum tulang mengalami kemajuan, bahkan 1 
kasus kembali normal. Dari laporan-laporan lain juga 
ditekankan bahwa cara pengobatan demikian dapat menghasil-kan 
remisi, atau setidaknya, maturasi hematologik dalam ber-bagai 
jenis displasia sumsum tulang preleukemia. Sebelum re-misi, 
kadang-kadang ada episode-episode di mana sumsum 
tulang menjadi hipoplasia. Hal yang demikian masih dapat 
ditolerir, mengingat besarnya potensi untuk maturasi; efek dari 
obat terhadap stroma sumsum tulang, dan peranannya dalam 
mensekresi substansi-substansi penginduksi juga tak boleh 
dilupakan. 
Walaupun secara in-vitro efeknya masih belum jelas, tapi 
pengalaman dalam klinik meyakinkan kita bahwa zat tersebut 
bermanfaat sebagai kemoterapi preleukemia. Bagaimanapun 
juga, bahkan dengan dosis yang rendah, risiko terjadinya depresi 
sumsum tulang tetap ada. Dosis yang lazim dipakai sebagai 
kemoterapi preleukemia telah ditinggalkan, mungkin karena 
anggapan bahwa sumsum tulang tidak dapat kembali lagi ke 
fungsinya yang normal. Anggapan ini tidak mutlak benar; makin 
intensif pengobatan, kesempatan untuk remisi mungkin lebih 
besar, dan risiko kematian menurun. 
Efek sitarabin (dan mungkin zat-zat penginduksi lain), 
dengan dosis yang bervariasi di dalam pengobatan displasia 
sumsum tulang pada preleukemia ini, masih perlu dipelajari 
secara lebih meluas. 
Lancet 1984; i : 943-944 
Obat-obat & Insomnia 
Insomnia terjadi dalam begitu banyak keadaan, sehingga sulit 
diketahui hipnotik mana yang harus dipergunakan dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 57 
mana yang paling cocok. Dalam 10 tahun belakangan ini banyak 
kemajuan yang telah dicapai dalam pemahaman masalah tidur 
dan gangguannya; dan banyak obat, diazepin maupun non-diazepin, 
telah dibuat untukmemperbaiki tidur. Beberapa waktu 
lalu, dalam konperensi tentang "Obat-obatan dan insomnia" di 
Inggris telah dicapai suatu konsensus. Pandangan yang lebih 
jelas tentang obat-obat tadi mulai tampak, sehingga kini kita 
mempunyai pegangan sekadarnya. 
Insomnia adalah simtom dari berbagai keadaan. Ini menun-jukkan 
perlunya penilaian sistematik terhadap penyebab-penyebab 
medis, psikiatrik, ataupun lainnya. Analisis dari 
insomnia paling baik dilakukan dalam tiga bagian : transien, 
jangka pendek, dan jangka panjang. 
Insomnia transien timbul pada mereka yang biasa tidur 
nyenyak; biasanya ini karena perubahan keadaan yang me-nyertai 
tidur (misalnya, kebisingan), atau pola istirahat yang tak 
biasa, misalnya bekerja malam atau setelah perjalanan dengan 
pesawat jet ke negeri jauh. Obat hipnotik mungkin diperlukan, 
mungkin tidak, tergantung apakah pasien tadi mengeluhkannya 
atau tidak. Tapi, bila pengobatan diberikan, hipnotik yang cepat 
dieliminasi lebih cocok. Dan ia seharusnya cuma diberikan sekali 
dua kali. 
Insomnia jangka pendek biasanya berkaitan dengan problema 
emosional atau penyakit medis yang serius. Mungkin ia 
berlangsung beberapa minggu, dan bisa kumat. Diperlukan 
pengelolaan yang baik agar insomnia jangka panjang dapat 
dihindari. Yang paling penting ialah perhatian akan higiene tidur. 
Hipnotik mungkin sekali berguna, namun jangan lebih dari tiga 
minggu pemberiannya; lebih baik kalau cuma sekitar seminggu. 
Penggunaan intermiten dianjurkan, setelah beberapa hari tidur 
nyenyak. Obat yang cepat dieliminasi biasanya cocok, agar 
siangnya tidak mengantuk. Namun pada mereka yang 
menunjukkan ansietas cukup banyak, obat yang eliminasinya 
lama (diazepam misalnya) boleh dipakai. Tapi harus berhati-hati 
agar tidak terlalu mengantuk akibat akumulasi obat. 
Banyak kontroversi tentang penggunaan hipnotik pada 
insomnia kronik. Diagnosis yang tepat diperlukan sebelum 
keputusan diambil. Mungkin sepertiga sampai setengah pende-rita 
tadi punya latar belakang penyakit psikiatrik, terutama 
depresi, dan pasien-pasien demikian perlu pengobatan khusus. 
Kelompok lain termasuk mereka yang menyalahgunakan obat 
dan alkohol. Tapi ada juga kelompok yang benar-benar punya 
kelainan tidur yang spesifik. Secara praktis, yang terpenting — 
terutama pada usia lanjut — ialah apnea tidur. Pada pasien 
demikian, yang biasanya gemuk dan suka tidur mengorok, atau 
mengantuk di siang hari — sedatif dianggap merupakan 
kontraindikasi! 
Sekalipun demikian, pada banyak pasien insomnia kronik, 
penyebabnya tidak diketahui. Di sini kedua pendekatan : 
perbaikan higiene tidur dan hipnotik, akan diperlukan. Yang 
penting ialah olahraga, mengurangi stress, pantang kopi dan 
alkohol; hipnotik digunakan secara intermiten sekali dalam tiga 
malam sampai sebulan. Pada pasien-pasien ini, benzodiazepin 
jangka panjang mungkin lebih baik. Bila setelah sebulan belum 
berhasil, dapat dicoba antidepresan sedatif, misalnya selama 4 
minggu, meskipun tak tampak jelas gejala depresi. 
Namun pendekatan ini perlu dipertimbangkan benar-benar. 
Diazepin lebih menguntungkan dari barbiturat, bukan saja 
karena keamanannya, tetapi juga karena manfaat terapeutiknya. 
Masalah yang terutama timbul ialah efek sisanya di siang hari 
(yang sedikit bila memakai senyawa yang cepat dieliminasi); 
kumatnya insomnia bila obat distop (yang dapat dicegah bila 
digunakan jangka pendek dan penghentian pengobatan 
bertahap); ketergantungan obat (dapat diminimalkan dengan 
dosis kecil intermiten, pemberian jangka pendek, atau 
penghentian bertahap); dan potensiasi obat sedatif lainnya. 
Untuk menghindarkan semua itu, pasien harus diberi dosis ter-kecil, 
dengan jangka waktu sesingkat-singkatnya. Dokter perlu 
mendidik pasien untuk menggunakan dosis kecil secara inter-miten 
tersebut. 
Saran-saran di atas cukup masuk akal. Terapi dengan hip-notik 
dengan cara di atas akan banyak mengurangi masalah 
penggunaan sedatif yang terlalu lama. Selain itu dosis obat dulu 
sering terlalu tinggi. Mungkin dosis yang terlalu tinggi ini karena 
salah penilaian; pasien dengan insomnia transien atau jangka 
pendek disamakan dosisnya dengan yang untuk pasien insomnia 
kronik. 
Brit Med J 1984; 288 : 261 
Untuk segala surat-surat, pergunakan alamat : 
Redaksi Majalah Cermin Dunia Kedokteran 
P.O. Box 3105 Jakarta 10002
• Pada suatu hari, datang seorang ibu ke dokter dengan mem-bawa 
pembantu wanita yang berumur kira-kira 30 tahun. 
• Ibu rumah tangga tadi mengatakan bahwa pembantunya itu 
sedang hamil muda. Hasil pemeriksaan fisik dan tes kehamilan 
menunjukkan bahwa pembantu tersebut memang sedang hamil 
lebih kurang 10 minggu. 
Dokter tersebut mencoba melakukan tanya jawab dengan pem-bantu 
tadi, tapi wanita tersebut bungkam seribu bahasa. 
• Menyadari bahwa mungkin pembantu ini takut sekali ter-hadap 
majikannya, maka dokter mempersilahkan sang majikan 
menunggu di luar kamar periksa. Ternyata tindakan ini 
membawa hasil. Si pembantu sekarang dapat bercerita : bahwa 
ia memang hamil akibat hubungan kelamin dengan ayah mertua 
majikannya yang sudah berumur lebih kurang 65 tahun. Oom 
tua yang sudah pensiun dan tak memiliki kegiatan sehari-hari 
yang tetap, ternyata berhasil membujuk/mengancam pembantu 
ini untuk melakukan hubungan seksual sampai sebanyak tiga 
kali. Kesempatan untuk "pertemuan" ini dipilihnya waktu-waktu 
dimana rumah sedang kosong oleh karena para anggota keluarga 
semua keluar rumah, seperti pada pagi hari. 
• Dapat dibayangkan bahwa istri rumah tangga tersebut ter-kejut 
dan malu sekali setelah mendengar dari dokter tentang 
kasus kehamilan yang tak terencana ini. Setelah mengatasi 
keributan dalam keluarganya, mereka kembali ke dokter dan 
sang majikan mengatakan bahwa telah disepakati oleh para 
anggota keluarga besarnya, dimana kehamilan tersebut harus 
diakhiri. 
• Untuk meyakinkan bahwa tidak ada unsur paksaan dari pihak 
keluarga majikan, maka dokter tersebut mempersilahkan 
majikan keluar dari kamar periksa dan mengadakan tanya jawab 
dengan pembantu tersebut. 
• Dijelaskan oleh dokter tersebut : bahwa bila pembantu wanita 
itu hendak mempertahankan kehamilannya sampai kemudian 
bayinya lahir. maka dokter tersebut akan berusaha agar 
majikannya memberikan pengganti materil yang wajar sebagai 
uang pesangon si pembantu untuk pulang kedesanya. Bila tidak, 
maka akan dicarikan jalan untuk mengakhiri kehamilan ini. 
Ternyata memang si pembantu bertekad untuk tidak mene-ruskan 
kehamilannya, oleh karena tidak dapat menghadapi beban 
batin di kampungnya. 
Nah, setelah mendengar itu, dokter tersebut mengatakan kepada 
majikannya agar pembantu tersebut dibawa ke sebuah klinik 
untuk dihentikannya kehamilannya. 
Bagaimana pendapat saudara tentang "penyelesaian" kasus ini? 
OLH 
58 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
Komentar 
TANGGAPAN DARI SEGI ETIK KEDOKTERAN. 
Inti permasalahan ialah bagaimana sikap etis seorang dokter 
terhadap abortus provokatus. Dalam kasus ini, dokter tersebut 
memahami keinginan dari sang majikan dan korban untuk 
melakukan abortus provokatus dan karena itu dia menyetujui 
dengan sekaligus mengirim yang bersangkutan ke sebuah klinik 
untuk penghentian kehamilan. Indikasi untuk abortus provokatus 
itu adalah indikasi sosial dari kedua pihak, yaitu rasa "malu". 
Bicara mengenai abortus provokatus, maka secara langsung 
dokter berhadapan dengan hati nuraninya sendiri, mengingat 
sumpah jabatan dokter yang diantaranya berbunyi : "Saya akan 
menghormati hidup insani semenjak saat pembuahan". Namun 
kita juga menyaksikan bahwa penyimpangan seakanakan sudah 
lumrah terjadi. 
Di bawah "permukaan", abortus provokatus dapat dilakukan 
secara tersembunyi oleh "dukun" yang sulit diharapkan akan 
dilakukan dengan memperhatikan kriteria medis, sehingga 
sering membawa korban bagi sang calon ibu. Namun yang 
dilakukan secara baik menurut kriteria teknis medis juga ada, 
untuk mengurangi bahkan menghilangkan risiko dan efek sam-pingan 
berupa infeksi, perdarahan, dan lain-lain. Dan yang ter-akhir 
ini dilakukan oleh tenaga ahli yaitu dokter ! 
Secara resmi yang dibenarkan oleh etik kedokteran adalah bila 
ada indikasi medis yaitu bila terminasi kehamilan tidak di-lakukan 
akan membahayakan si calon ibu. Dengan demikian, 
secara tersirat, dunia kedokteran sudah sejak lama menentukan 
urutan prioritas dalam menghormati kehidupan insani. Yaitu, 
yang pertama dihormati kehidupan insani yang telah 
lengkap/telah lahir; baru kemudian insani yang belum lahir ke 
dunia ! 
Secara tidak sadar penampilan sikap "egoisme" dari manusia 
sendiri maju ke depan; membela ras manusia yang telah hadir di 
dunia, lebih penting ketimbang membela calon manusia yang 
belum kelihatan. Beberapa dasawarsa belakangan ini indikasi 
lain untuk melakukan abortus provokatus semakin luas, seperti 
indikasi sosial dalam arti luas, indikasi sosial dalam skala 
keluarga, keenganan mempunyai unwanted child demi 
kesejahteraan keluarga dan lain-lain. 
Program KB dengan Norma Keluarga Kecil yang Berbahagia 
dan Sejahtera (NKKBS) banyak pula dimanfaatkan oleh ang-gota 
masyarakat tertentu yang menjurus pada abortus provoka-tus, 
biarpun secara resmi cara ini tidak termasuk dalam program 
KB. Akan tetapi praktek seperti M.R. masih diperdebatkan 
antara yang pro dengan yang kontra, apakah itu suatu
abortus provokatus atau bukan. Bahkan, pemasangan IUD bila 
mekanismenya dalam mencegah kehamilan diyakini sebagai 
pencegahan nidasi saja, akan berarti telah menciderai sumpah 
dokter sebab pembuahan telah terjadi, hanya nidasi yang 
terhalang. 
Karena berbagai realitas hidup sehari-hari, maka secara di-am- 
diam masalah abortus provokatus menjadi semakin ringan. 
Dengan perkataan lain secara evolusi telah terjadi pergeseran 
nilai dalam kehidupan masyarakat termasuk masyarakat dokter. 
Dalam kasus kita ini mungkin sebagai suatu apologi, Sejawat 
yang mengirim ke klinik tersebut, merasa tidak bersalah karena 
dia tidak menganjurkan dan lagi pula yang melaksanakan 
bukan dia sendiri; dia cuma memberikan kemudahan dengan 
menunjukkan tempat yang baik dan aman. 
Pergeseran nilai yang lain ialah secara tersirat seolah-olah 
sudah ada klinik yang berfungsi untuk maksud abortus provo-katus 
tanpa indikasi medis, yang diterima oleh masyarakat. Kita 
juga menyaksikan bergesernya nilai sakral dari hubungan intim 
perkawinan biarpun salah satu sila dalam Pancasila adalah " 
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Makna beradab ini 
sering terlanggar, mungkin karena tolak ukurnya kurang jelas. 
Pertanyaan kita : "Apakah hubungan seksuil dalam kehi-dupan 
perkawinan masih dianggap sakral dan merupakan ra-hasia 
pribadi yang termulia, masih dianut ?" Dalam beberapa 
hal, misalnya dalam kampanye Safari KB di layar TVRI, sering 
kita menyaksikan pertanyaan dan dialog yang tidak lagi 
menghormati kesakralan dan kerahasiaan hubungan seksuil 
suami istri, seolah-olah perbuatan tersebut merupakan kegiatan 
rutin yang tak perlu disembunyikan, karena toh semua orang 
tabu juga. 
Kembali di sini masalah pergeseran nilai. Bilamana hubung-an 
seksuil dua insan yang berlainan jenis, kehilangan nilai sakral 
dan keintimannya, maka kehamilan sebagai buah dari hubungan 
tersebut juga tidak lagi dinilai sakral, maka dengan sendirinya 
penilaian pun menjadi rutin, sehingga pelaksanaan abortus 
secara berangsur-angsur akan diterima sebagai hal yang wajar 
pula. Seolah-olah kita menerima kesepakatan: "Marilah kita 
menikmati dunia ini untuk kita sendiri, tidak perlu memikirkan 
hak asasi calon manusia itu". Di sini kita sekarang berada dalam 
manifestasi kontroversialitas "species" yang namanya manusia. 
dr. H. Masri Roestam 
Direktorat Transfusi Darah PMI/ 
Ketua I.D.I. Cabang Jakarta Pusat 
TANGGAPAN DARI SEGI HUKUM KEDOKTERAN 
Ada 3 persoalan yuridis dalam kasus ini : 
• Yang pertama menyangkut rahasia pekerjaan dokter. 
Seharusnya dokter itu meminta ijin kepada pembantu rumah 
tangga untuk memberi tabu tentang kehamilannya kepada si 
majikan. Tapi dari cerita selanjutnya ternyata pembukaan rahasia 
itu adalah demi kebaikan si pembantu, sehingga tidak ada alasan 
untuk menuntut dokternya. 
• Yang kedua menyangkut ancaman. Jika ini berupa ancaman 
kekerasan, misalnya mau dibunuh, maka telah terjadi perkosaan. 
Tapi kalau hanya ditakut-takuti akan diberhentikan dari 
pekerjaan maka perbuatan ini tidak dapat dituntut. 
• Yang ketiga menyangkut abortus provokatus. Seperti kita 
ketahui, abortus provokatus yang diperbolehkan oleh hukum ( 
berdasarkan yurisprudensi dan juga sejarah pembuatan 
hukumnya) hanya yang berdasarkan indikasi medik. 
Jika indikasi untuk dilakukan abortus itu tidak tepat, maka 
dokter yang memberi tabu di klinik mana dapat dilakukan 
abortus itu dapat dituntut sebagai pembantu melakukan keja-hatan 
menurut KUH Pidana pasal 56 : 
Sebagai pembantu melakukan kejahatan dipidana : 
ke-1: orang yang dengan sengaja membantu waktu kejahatan itu 
dilakukan; 
ke-2: orang yang dengan sengaja memberi kesempatan, ikhtiar 
atau keterangan untuk melakukan kejahatan itu. 
Dalam yurisprudensi Belanda (putusan Arrondissements-rechtbank 
Amsterdam 5 Februari 1942) dibenarkan suatu abortus 
provokatus atas dasar indikasi psikiatrik, di mana psikiater 
menerangkan, bahwa si wanita itu berada dalam ketegangan 
jiwa yang hebat dengan bahaya bunuh diri (in een zeer ernstige 
overspanningstoestand met direct suicide-gevaar). Di Indonesia 
belum pernah ada yurisprudensi seperti ini, tapi dalam suatu 
perkara (tentang hal lain) dalam sidang pengadilan pernah 
terungkap adanya abortus provokatus atas dasar indikasi 
psikiatrik dan dokter yang melakukannya tidak dituntut. Jadi 
secara diam-diam (stilzwijgend)tampaknya indikasi psikiatrik 
juga diterima di sini. 
Oleh karena itu sebaiknya dokter mengirim pembantu rumah 
tangga tadi ke psikiater untuk meneliti besarnya "beban tekanan 
batin" yang diderita dan apakah dapat dipertanggungjawabkan, 
jika dilakukan abortus provokatus atas dasar "be-ban tekanan 
batin" itu. 
dr. Handoko Tjandroputranto 
Lembaga Kriminologi 
Universitas Indonesia, Jakarta
Catatan singkat 
Menteri Kesehatan Inggris bulan Mei yang lalu mencabut 
izin peredaran tablet anti-rematik yang berisi 
oksifenbutason, karena alasan keamanan. Di Inggris ia 
beredar dengan nama Tanderil, Tandacote dsb. ( di 
Indonesia: Tanderil, Rheumapax, Realin, Reozon). Apotik 
- apotik harus mengembalikan stok obat tersebut pada 
waktu yang telah ditentukan. 
Dulu fenilbutason juga mengalami nasib serupa; Tapi 
ia masih boleh dipergunakan oleh dokter di rumah sakit, 
pada keadaan tertentu. 
• 
Dari Afrika Selatan, dilaporkan adanya 19 kasus per-lukaan 
vagina setelah melakukan senggama biasa. Menga-pa 
demikian ? Penulis tersebut menduga bahwa perlukaan 
vagina tadi terbanyak pada wanita-wanita yang meng-ulang 
senggama setelah sekian lama tidak melakukannya. 
Tidak disebutkan bagaimana karakteristik dari pasangan 
wanita-wanita yang mengalami perlukaan vagina itu. 
South African Med J 1983; 64 : 746 - 7 
• 
Apakah transplantasi otak dapat dilakukan? Ya, menu-rut 
hasil penelitian baru-baru ini. Binatang yang diduga 
mengalami kerusakan pada salah satu bagian otaknya, ka-dang- 
kadang dapat diperbaiki melalui transplantasi de-ngan 
jaringan otak fetus. Dalam waktu mendatang, hal ini 
mungkin menjadi kenyataan pada manusia. 
Developmental Med and Child Neuro 1983; 25: 654-6 
• 
Pil KB ternyata dapat menimbulkan efek samping 
berupa otosklerosis. Sebaiknya pada ibu-ibu yang akan 
menggunakan pil KB tersebut, sebelumnya dilakukan 
pemeriksaan telinga. Juga penting anamnesis ada tidak-nya 
riwayat ketulian dalam keluarga. 
Br J Fam Planning 1984; 9 : 134 
• 
Pada awal tahun 1970, dilakukan screening terhadap 
2000 orang laki-laki yang tampaknya sehat, dengan usia 
antara 40 - 59 tahun. Hasilnya : 115 orang menderita 
penyakit pembuluh koroner jantung yang laten. Pada 109 
dari 115 orang ini dilakukan pemeriksaan angiografi. 
Didapatkan 36 orang dengan gambaran angiogram yang 
normal. Pada follow-up 7 tahun kemudian, dari ke 36 
orang ini, 3 orang meninggal tiba-tiba, 4 orang menderita 
kardiomiopati, dan 1 orang dengan dilatasi/regurgitasi 
aorta. Kesimpulan : angiogram normal belum tentu 
menunjukkan jantung yang normal. 
60 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
Circulation 1983; 68 : 490 - 7 
Banyak macam ukuran cuff dari sfigmomanometer 
yang dimiliki dan digunakan oleh para dokter. Cuff yang 
terlalu besar atau terlalu kecil dapat mengubah tekanan 
darah seseorang sebesar 8,5 mmHg sistolik dan 4,6 mmHg 
diastolik. 
Bila cuff terlalu kecil, tekanan darah akan terukur lebih 
tinggi dari yang sebenarnya; sedangkan bila cuff terlalu 
besar, tekanan darah akan terukur lebih rendah. Ini dapat 
menyebabkan over treatment atau under treatment. 
Circulation 1983; 68 : 763 - 6 
Penemuan antibiotika telah diikuti dengan resistensi 
kuman. Bagaimana mencegah bencana ini pada obat-obat 
antivirus? Pada infeksi bakteri, pemberian antibiotika 
profilaksis umumnya dianggap sebagai penyebab resistensi. 
Tapi pada obat antivirus, keadaannya berbeda sekali, 
terutama virus yang punya fase laten pada siklus hidupnya 
- seperti, herpes simplex, sitomegalovirus, dan adenovirus. 
Pencegahan pada penyakitpenyakit karena virus tadi dapat 
amat bermanfaat. Dan mungkin mencegah timbulnya 
resistensi. 
Lancet 1984;i:1154 
Banyak zat-zat pemanis sintetis. Tapi banyak pula yang tak 
dianjurkan karena efek sampingnya. Sakarin, misalnya, 
karena menyebabkan kanker kandung kencing, pernah 
akan dilarang di Amerika. Tapi ini ditentang oleh para 
penderita diabetes yang memerlukan. 
Tapi pemanis sintetis aspartam, oleh sebuah komite 
kesehatan di Inggris dinyatakan aman. Aspartam ini, 
setelah dimakan akan dipecah menjadi fenilalanin dan 
asam aspartat; kedua-duanya asam amino alamiah, dan 
fenilalanin asam amino yang esensial. Juga setelah makan 
aspartam, kadar fenilalanin tubuh tidak meningkat secara 
bermakna. 
Penyebab vertigo yang sering dan biasa pada orang dewasa 
justru jarang menyebabkan vertigo pada anakanak. 
Penyelidikan terhadap 50 kasus vertigo yang rekuren pada 
anak-anak, ternyata 28% disebabkan epilepsi lobus 
temporal, 22% oleh karena epilepsi subkortikal, baru 
kemudian penyebab-penyebab lainnya. Anak-anak dengan 
vertigo, seharusnya dilakukan pemeriksaan EEG dan 
audiometri. 
Up Date 1983; 1389 - 1397 
• 
• 
•
: "Bapak, darahnya tidak bisa diambil. Bapak 
sekarang tidak bisa donor" 
"Kenapa dokter?" 
"Tekanan darah Bapak ini rendah." " 
Bagaimana mengobatinya dokter?" 
"Gampang mas, makan saja "tangga", kan nanti 
tekanan darahnya jadi naik tinggi!!" 
dr. Tjandra Yoga Aditama 
Jakarta 
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 61 
TIUP BALON 
Seorang anak laki-laki berumur lebih 
kurang 4 tahun sedang berada di kamar 
bersama ibunya yang sedang berganti 
pakaian. 
Sewaktu ibunya menanggalkan kutang-nya, 
anak tadi nycletuk : "Ibu, balon-balon 
ibu kurang keras / besar, perlu 
ditiup !" 
Ibu : "Hush, ini bukan balon !" sambil 
menunjuk pada payudaranya. 
Anak : "Lho, tadi saya lihat bapak di 
gudang sedang meniup balon 
Minah (si pembantu) sampai 
keras sekali !!!" 
OLH 
K.O. 
Sewaktu masih coass, saya berdua 
dengan teman saya harus memberikan 
ceramah mengenai cara-cara per-tolongan 
partus yang benar kepada para 
dukun beranak. Sebenarnya kami masih 
hijau dalam praktek dibandingkan 
mereka. Maklum, belum lagi masuk 
kebidanan. Sebelumnya, saya buat 
perjanjian dengan teman saya; bila ada 
pertanyaan yang tidak dapat saya jawab, 
saya akan memberi kode dengan 
menyentuh kakinya agar ia yang 
menjawab. Beberapa kali hal ini berjalan 
mulus. Akhirnya, saya dibuat "knock 
out" juga, karena biar sudah saya 
tendang-tendang kakinya, ia tetap diam 
saja. Sama-sama tidak bisa 
Kris 
TEKANAN DARAH RENDAH 
Seorang sejawat ditugasi oleh Lembaga Transfusi Darah PMI DKI Jaya untuk melaksa-nakan 
kegiatan pengambilan darah pada anggota keluarga besar salah satu ludruk terke-nal 
di wilayah Jakarta. 
Setelah memeriksa seorang pasien, terjadilah percakapan sebagai berikut 
Dokter 
Pemain ludruk I 
Dokter 
Pemain ludruk I (dengan agak cemas) 
Pemain ludruk II (nyeletuk) 
JUDUL BARU 
Tiap penerbitan majalah ini selalu dirakit dalam suatu simposium dengan tema 
tertentu. Suatu ketika seorang pengumpul naskah bertanya kepada dokter penulis, suatu 
judul untuk "Simposium masalah otak" : "Dokter, dari judul-judul simposium otak ini, 
judul apa lagi yang dipandang masih perlu untuk ditambahkan?" 
Dokter membaca sederetan judul-judul, dan sambil manggut-manggut mengatakan : " 
Menurut saya sudah cukup. Tapi kalau mau ditambahkan ini menarik juga." Dengan serta 
merta si peminta naskah menulis apa yang dikatakan oleh dokter tsb : 'Resep-resep baru 
dalam pengelolaan .........masakan ......................otak kambing!' 
Sang dokter meledak ketawanya dan sang peminta naskah cepat-cepat balik minta diri 
sambil berkata : "Dan sop buntut ya dokter." 
Sri 
: 
: 
: 
:
: 
POSITIF 
Waktu menjalani kepaniteraan klinik 
di bagian neurologi, setiap coass harus 
membuat presentasi kasus secara 
bergilir. Istimewanya, untuk seorang 
dosen tertentu presentasi tersebut di-bawakan 
di rumah beliau. Jadi setiap kali 
kami berbondong-bondong ke ru-mahnya, 
dan tentu saja ..., tanpa pasien! 
Suatu kali tiba giliran saya. Karena di 
rumah sakit tidak ada kasus yang 
menarik, terpaksa kasusnya saya karang-karang 
sendiri. Status saya salin saja dari 
bekas teman saya. 
Saatnya pun tiba. Saya bacakan 
identifikasi pasien wanita itu, anam-nesis, 
dan seterusnya. Beliau manggut-manggut 
. . ., tiba-tiba dia tertawa. 
Teman-teman yang lain pun ikut ter-tawa. 
Saya bingung juga, tapi segera 
sadar. Rupanya dalam status palsu 
tersebut tertulis : refleks kremaster 
positif ! 
Kris 
62 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
MINTA TOLONG 
Disuatu ruang praktek seorang dokter, datang seorang pria umur ± 60 tahun, seorang 
wanita umur ± 25 tahun dan seorang anak kecil umur ± 2 tahun. 
Setelah dipersilahkan duduk, terjadi tanya jawab antara dokter dengan pasien tersebut. 
Dokter : "Yang sakit siapa Pak ?" 
Si wanita yang menjawab : "Itu Pak Dokter, suami saya senjatanya tidak bisa ber-gerak". 
(Maksudnya : impotent). 
Dokter (setengah kaget, karena disangkanya sang Bapak tadi adalah orang tua dari 
wanita tersebut) : "Sudah berapa lama sakitnya Pak ?" 
Bapak : "Sudah kurang lebih 5 tahun Pak Dokter". 
Dokter : "Tapi anak ibu baru ± 2 tahun, mana mungkin ?" 
Si istri mendengar pertanyaan Dokter itu senyum senyum kecil. 
Sang Bapak dengan malu-malu kucing menjawab : 
"Betul Pak Dokter, anak itu memang anak dari istri saya, tetapi bukan anak saya". 
Dokter : "Apakah istri Bapak waktu kawin dengan Bapak sudah 
janda ?" 
Bapak : "Tidak Pak Dokter, dia waktu itu masih gadis" . 
Dokter : "Lalu ?" 
Bapak : "Waktu itu saya minta tolong kepada tetangga oleh ka-rena 
saya ingin punya anak". 
Mendengar jawaban yang tidak terduga tadi sang Dokter berkata : "Kenapa Bapak dulu 
tidak minta tolong kepada saya ?" 
Si istri, mendengar perkataan Dokter tadi, terlihat senyum-senyum kecil penuh arti. 
Segera Dokter sadar, dan meralatnya. 
"Bukan begitu, kenapa tidak berobat, maksud saya !" 
dr. Sudaranto 
Puskesmas Sail, Pekanbaru, Riau 
SALAH PAKAI 
Sepasang suami istri datang menghadap seorang dokter dalam rangka KB. Oleh dokter 
tersebut diberi 1 doos kondom, sambil bertanya kepada si suami : 
"Bapak sudah tahu cara memakainya ?" 
"Sudah dok, dulu sebelum kawin saya sudah pernah pakai !" 
Pasangan suami istri tersebut kemudian pergi sambil membawa bekal kondom tadi. 
Setelah beberapa waktu si istri kembali kepada dokter dan bercerita bahwa haidnya 
belum juga datang. 
Dokter bertanya : "Apakah bapaknya tiap kali pakai alat tadi, bu ?" 
Si istri : "Wah, bapak sering malas, jadi saya yang pakai saja !" 
Dokter : "Lho, caranya bagaimana ?" 
Si istri : "Saya makan satu biji sebelum campur !" 
Dokter : "Wah, salah ! Itu tidak untuk dimakan !" 
Si istri : "Pantas sekarang tiap kali saya kentut, keluar plembungannya 
(balon) !" 
OLH 
KEMANA ? 
Pengalaman dokter gigi di desa macam-macam. 
Ada pasien, seorang kakek tua, yang gigi gerahamnya berlubang. Harus dicabut ! Ke-mudian 
dokter memberikan suntikan anestesi lokal, dan menyuruhnya menunggu di luar. 
Setelah beberapa saat dokter membuka pintu dan menyilahkan pasien tersebut masuk. 
Tapi ........................... ruangan telah kosong, pasien tersebut telah pergi, mungkin diki-ranya 
pengobatan telah selesai . . . . atau uangnya yang tidak cukup, sehingga harus 
Sri 
r
Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 63 
i‚a~ili 
RUANG PENYE GAR DAN 
PENAMBAH ILMU KEDOKTERAN 
Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini ??? 
1. Afasia adalah gangguan bahasa, dan biasanya : 
(a) disertai gangguan persepsi 
(b) disertai gangguan memori 
(c) disertai gangguan emosi 
(d) disertai gangguan kognitif 
(e) tidak disertai gangguan fungsi luhur di atas. 
2. Prinsip dari rehabilitasi(speech therapy) penderita afasia: 
(a) dimulai seawal mungkin 
(b) komunikasi dengan isyarat jangan digunakan 
(c) materi pelajaran perlu diulang-ulang 
(d) penyertaan keluarga adalah mutlak 
(e) semua di atas benar. 
3. Mengenai disfungsi otak m inor pada anak, pernyataan y ang 
tidak benar ialah : 
(a) diduga diderita oleh5 - 25% anak-anak usia sekolah. 
(b) dapat mengalami kesulitan membaca, menulis, meng-hitung, 
atau berbahasa. 
(c) anak dengan kesulitan belajar tak perlu pemeriksaan 
neurologik. 
(d) riwayatnya : tidak dapat diam, sering tersandung dan 
jatuh, sulit mengikat tali sepatu, sulit mengancing 
baju, dan lain-lain. 
(e) terapinya antara lain obat psikostimulan dan cerebral-metabolic 
vasodilators. 
4. Obat-obat untuk insufisiensi otak, umumnya masih diper-debatkan 
efektivitasnya. Tapi, secara umum, tujuannya ialah 
sebagai berikut, kecuali : 
(a) perbaikan pemakaian0 2 dan glukosa oleh otak 
(b) penghambatan sintesis protein otak, misalnya dengan 
heksobendin 
(c) peningkatan resistensi otak terhadap hipoksia. 
(d) perbaikan sirkulasi serebral, misalnya dengan nikotinat. 
(e) semua jawaban benar. 
5. Pada penanggulangan stroke; yang tidak benar ialah : 
(a) penderita hipertensi berat cukup bila tekanan ditu-runkan 
sampai 160/110 mmHg pada fase akut. 
(b) pemberian deksametason masih kontroversial. 
(c) bila pasien dapat minum, gliserol dapat diberikan per-oral, 
meskipun efeknya masih kontroversial. 
(d) pemberian vasodilatansia dan oksigen sangat berguna. 
(e) yang terpenting ialah perawatan umum dan mengobati 
faktor risiko. 
6. Pada cedera otak, manakah pernyataan beriku t yang tidak 
benar ? 
(a) fraktur tengkorak, tanpa kelainan neurologik, secara 
klinik tidak begitu berarti. 
(b) diantara saraf otot mata, yang sering terkena ialah Saraf 
III, sehingga mengalami d iplopia. 
(c) Saraf ke VII dan VIII sering cuma mengalami ganggu-an 
karena edema. 
(d) Saraf vagus jarang terkena, karena bila terkena biasanya 
penderita mati. 
(e) semua jawaban di atas benar. 
7. Tumor otak yang paling banyak didapatkan ialah jenis : 
(a) glioma 
(b) meningioma 
(c) adenoma hipofisis 
(d) tumor metastasis 
(e) tumor pembuluh darah. 
8. Pada tumor otak : 
(a) Nyeri kepala ditemukan pada sebagian besar pasien. 
(b) Pada sebagian besar pasien didapatkan kejang umum. 
(c) dapat ditemukan gejala bradikardia dan hipertensi. 
(d) Gangguan mental, seperti halusinasi, tak pernah di-jumpai 
. 
(e) Papil edema jarang ditemukan. 
9. Penanggulangan penderita insomnia kronik adalah sebagai 
berikut, kecuali : 
(a) lebih dipilih benzodiazepin y ang kerjanya singkat. 
(b) dapat dicoba pemberian antidepresan, meskipun 
gejalanya tak jelas. 
(c) higiene tidur dan olah raga penting sekali. 
(d) bila diberikan hipnotik, dipilih dosis seringan mungkin; 
kalau perlu diberikan intermiten. 
(e) benzodiazepin lebih dipilih daripada fenobarbital. 
10. Mana diantara keadaan ini y ang tak dapat menyebabkan 
ketulian ? 
(a) Keturunan 
(b) Influena 
(c) Diabetes melitus 
(d) Vitamin B-1 
(e) Penyakit Meniere. 
3 '8 fl 'b 
V 'L '£ 
D'01 S ' 9 3 ' Z 
V'6 a ' S 3 ' 1 
7I1dd)l uageMa
64 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 
ABSTRAK AB5TRAK 
PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG 
Pelayanan kesehatan jiwa di negara-negara berkembang, lebih banyak dikenal pada 
saat ini daripada 10 tahun yang lalu. Yaitu, sejak WHO membentuk suatu badan khusus 
untuk mempelajari strategi supaya pelayanan kesehatan jiwa itu berhasil. 
Berikut ini adalah kesimpulan-kesimpulan yang dicapai oleh Badan tersebut : 
(a) Kebutuhan akan pelayanan kesehatan jiwa antara masyarakat pedesaan dan 
perkotaan adalah sama besar. 
(b) Sebagai primary health care, sistem desentralisasi bagi pelayanan kesehatan jiwa 
baik di desa dan di kota untuk negara-negara berkembang, dapat dilaksanakan. 
(c) Selain oleh dokter umum, pelayanan kesehatan jiwa dapat juga dilakukan oleh 
tenaga kesehatan yang telah mendapat latihan sekedarnya. Cara seperti ini telah digu. 
nakan dibanyak pusat kesehatan, dan pedoman latihan diterbitkan dalam bahasa se-tempat. 
(d) Ketrampilan menolong penderita gangguan jiwa perlu diberikan pada semua staf 
medis; bukan hanya untuk menolong penderita gangguan jiwa, tapi untuk meningkatkan 
mutu segala bentuk pelayanan kesehatan. 
(e) Ketrampilan dalam ilmu mengenai tingkah-laku, pada saat yang bersamaan dapat 
menolong dalam formulasi dan implementasi program kesehatan masyarakat, yang 
mempromosikan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa. Kris 
WHO Technical Report Series, No 698, 1984; 30 - 31 
DUA LANGKAH UNTUK BERUBAH MENJADI KANKER 
Oleh 3 team peneliti masing-masing : R. Weinberg dari MIT, USA, E. Rodey dari Cold 
Spring Harbour U.S.A dan R.F. Newbold/R.W. Overell dari Institute of Cancer Re-search 
dari Inggeris telah ditemukan bahwa untuk perubahan sel-sel normal menjadi sel-sel 
kanker (ganas) diperlukan 2 langkah : 
Langkah I, disebut immortalization, yaitu berubahnya sel-sel normal sedemikian rupa 
sehingga dapat hidup selama-lamanya dalam laboratorium, Sel-sel normal biasanya akan 
mati setelah 1k. 50 generasi. Langkah II, diperlukan impuls atau rangsang agar sel-sel 
dapat membagi-bagi diri secara cepat. 
Urutan kedua langkah ini tidak menjadi soal, akan tetapi kedua-duanya mutlak untuk 
mengubah sel-sel normal menjadi sel yang ganas. Perubahan ini dapat disebabkan oleh 
gen-gen virus, zat-zat karsinogenik, atau oleh oncogenes, yaitu gen-gen binatang yang 
bertalian dengan jenis-jenis kanker tertentu. 
OLH 
"CHILD ABUSE" Science, Nov. 1983 
"Child abuse" merupakan suatu tragedi bagi anak. Ia merupakan contoh rasa saling tidak 
mengerti antara orang tua dengan anaknya. Bahkan sering-sering menimbulkan 
keterasingan sang ibu dari bayinya. 
Perlu dipertimbangkan di sini sensasi yang berlainan antara ibu dan bayi pada saat 
dilahirkan. Kelahiran, bagi ibu adalah peristiwa dramatik yang menyakitkan dan 
melelahkan. Sang bayi, yang biasanya hidup dalam rahim ibunya, tiba-tiba harus hidup 
dalam dunia "luar". Pelukan dan buaian dari ibunya itu perlu supaya perubahan tersebut 
tidak terlalu besar dirasakan. Tapi, yang sering terjadi, bayi dipisahkan dari ibunya, dan 
diletakkan begitu saja dalam box. Tentunya, perubahan ini terasa besar bagi bayi dan 
amat tidak menyenangkan. 
Mungkin berbicara tentang cinta sudah ketinggalan jaman, tapi bernyanyi lagu cinta 
adalah mode. Yang dibutuhkan bagi bayi dan setiap orang, yaitu keinginan untuk dicintai 
dan perasaan aman. Bayi yang tidak dicintai akan menangis. Menangis merupakan satu-satunya 
cara bagi bayi untuk menuntut sesuatu, Adalah kewajiban seorang ibu untuk 
mengetahui apa yang dimaui bayinya bila ia menangis. Misalnya, keinginan untuk 
dicintai! Kris 
Up date Jan 1984; 29

Masalah otak

  • 1.
    Cermin 1984 DuniaKedokteran 34. Masalah Otak
  • 2.
    No 34, 1984 Cermin Dunia Kedokteran International Standard Serial Number : 0125—913X Diterbitkan oleh : Pusat Ps'nelitian dan P.np.mbanpan P.T. Kalbe Farina Cermin Dunia Kedokteran 34. Masalah Otak Karya Sriwidodo Tulisan dalam majalah ini merupakan pandang-an/ pendapat masing-maeing penulie dan tidak eelalu merupakan pandangan atau kebijakan inetansl/lembaga/bagian tempat kerja ai penulie. Artikel : 3 Afasia Sebagai Gangguan Komunikasi Pada Kelainan Otak 7 Gangguan Bahasa, Persepsi dan Memori Pada Kelainan Otak 12 Disfungsi Otak Minor Kesulitan Belajar ditinjau dari Segi Neurologis 15 Gangguan Kesadaran 20 Beberapa Obat yang Digunakan pada Insufisiensi Serebral dan Demensia 25 Penanggulangan Bencana Peredaran Darah di Otak 28 Peranan Radiologik Pada Kelainan Otak 32 Cedera Otak dan Dasar-dasar Pengelolaannya 39 Infeksi Intrakranial 42 Tumor Otak : Tinjauan Kepustakaan 47 Ketulian : Pemeriksaan dan Penyebabnya 50 Rodamin B dan Metanil Kuning ("Metanil Yellow") Sebagai Penyebab Toksik pada Mencit dan Tikus Percobaan 56 Perkembangan : Obat-obat & Insomnia Pengobatan Preleukemia 58 Hukum & Etika : Tepatkah Tindakan Saudara ? 60 Catatan Singkat 61 Humor Ilmu Kedokteran 63 Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran 64 Abstrak-abstrak
  • 3.
    gangguan wicara mencakup fungsi dasar : - respirasi - resonansi - fonasi - artikulasi - lafal - prosodi Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 3 Artikel Afasia Sebagai Gangguan Komunikasi Pada Kelainan Otak dr. Lily Sidiarto dan dr. Sidiarto Kusumoputro Klinik Gangguan Wicara - Bahasa Bagian Neurologi FKUI/RSCM, Jakarta PENDAHULUAN Dengan bertambahnya jumlah gangguan peredaran darah otak (CDV) dan trauma kapitis, maka jumlah kasus dengan gejala sisa neurologik juga makin meningkat. Gejala sisa ele-menter yang paling menyolok adalah hemiparesis dan gejala sisa fungsi luhur yang paling banyak adalah afasia. Pada kasus CVD, kemungkinan seorang pasien menderita afasia adalah 25%, karena separuhnya menderita hemiparesis dekstra dan separuh dari ini mungkin menderita afasia. Karena afasia tergolong kelainan komunikasi dan komunikasi merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia, maka rehabilitasi afasia tidak dapat diabaikan. Mungkin saja seorang dengan gejala sisa kelumpuhan menduduki jabatannya semula tetapi akan sangat sulit bagi orang yang menderita afasia. Bukannya ini berarti tidak mungkin; sebagian pasien afasia dapat juga kembali menduduki jabatan semula asal afasinya yang tidak terlalu berat mendapatkan rehabilitasi yang cepat dan tepat. Untuk maksud itu, kecepatan dan ketepatan diagnosis sangat diperlukan untuk menolong nasib pasien afasia. Makalah ini menguraikan secara singkat masalah afasia ditin-jau secara klinik. GANGGUAN KOMUNIKASI Seorang yang berkomunikasi menggunakan sederetan fungsi sebagai berikut : 1. simbolisasi, yaitu melakukan formulasi dan menyimak ba-hasa dan simbol-simbol lain yang lazim disebut berbahasa. 2. respirasi, yang diperlukan untuk mendapatkan tenaga gu-na berbicara (speech). 3. resonansi : menghasilkan nada-nada tertentu. 4. fonasi (pembunyian) : tenaga yang didapat dipakai untuk menggerakkan pita suara. 5. artikulasi : menghasilkan vokal dan konsonan untuk berbicara. 6. lafal : menghasilkan pengucapan bunyi bahasa. 7. prosodi : yang membuat lagu kalimat. 8. kemampuan komunikasi, yaitu kemauan, kesediaan dan kemampuan untuk berinteraksi lewat komunikasi. Jenis gangguan komunikasi dapat disebabkan oleh kelainan pada salah satu atau beberapa dari fungsi tersebut diatas. Bagan gangguan wicara-bahasa (speech and language disorder) Gangguan komunikasi juga disebut sebagai gangguan wicara bahasa dan istilah ini lebih sering dipakai. Gangguan ini dapat terjadi pada anak dan dewasa. Sebuah bagan sederhana disajikan dibawah ini : Gangguan wicara—bahasa a. gangguan multimodalitas : — afasia b. gangguan modalitas tunggal : —agnosia —apraksia c. gangguan "berpikir" : —demensia — confusion (kusut pikir) — psikogemic Untuk memahami jenis-jenis gangguan wicara-bahasa se-baiknya dikenal juga komponen-komponen dari proses pusat bahasa di otak. Menurut Brown, model pusat bahasa di otak
  • 4.
    terdiri dari 4komponen : 1. kosa kata (leksikal) yang didapat sejak kecil dan dikem-bangkan terus seumur hidup. 2. sintaktikal, suatu aturan yang dikuasai untuk membentuk kalimat yang benar. 3. rentang ingatan auditif (auditory retention span) yang cu-kup lama untuk dapat memproses apa yang didengar. 4. pemilihan saluran, suatu kemampuan untuk menyaring dan memilih masukan (input) dan keluaran (output) yang diperlukan untuk berbahasa menurut hirargi. Komponen-komponen ini diperlukan untuk mempelajari bahasa dan mempergunakannya secara baik dan benar. Pene-rapan penggunaan komponen-komponen tersebut dalam ber-bahasa dapat dilihat dari ketrampilan penggunaan modalitas bahasa sebagai berikut : 1. berbicara 2. menyimak 3. menulis 4. membaca Jenis-jenis gangguan bahasa dapat diterangkan berdasarkan ketrampilan menggunakan modalitas bahasa diatas. GANGGUAN WICARA—BAHASA Seseorang dapat terganggu wicaranya saja (speech disorder) ataukah bahasanya (language disorder). Kedua gangguan yang disatukan tersebut sebenarnya mempunyai perbedaan yang nyata. Gangguan wicara : bersifat perifer, disebabkan oleh kelainan-kelainan saraf perifer, otot dan struktur yang dipakai untuk berbicara. Gangguan bahasa : bersifat sentral, disebabkan oleh kelainan pada korteks serebri (fungsi luhur). 1. Gangguan wicara : Sering disebut juga sebagai gangguan wicara dan suara (speech and voice disorder), karena memang mencakup kedua fungsi tadi. Lazim juga disebut dengan satu kata "disartria" untuk kemudahan. Kelainan-kelainan neuro-logik banyak yang menyebabkan gangguan wicara ini dan letak lesinya dapat ditetapkan berdasarkan gangguan fungsi dasar yang ditemukan. Juga penyakit-penyakit lain seperti THT, mulut, gigi-geligi, paru dan sebagainya dapat menyebabkan gejala "disartria" ini. Kami tidak membahas hal ini lebih lanjut. 2. Gangguan bahasa : Gangguan ini lebih kompleks sifatnya. Gangguan bahasa dapat ditinjau dari aspek gangguan modal itas bahasa (berbicara, menyimak, menulis dan membaca), untuk membedakan afasia dari agnosia dan apraksia. Sedangkan dari aspek gangguan "berpikir" dan "cara penggunaan bahasa" dapat dibedakan demensia, kusut pikir (confusion) dan kasus psikiatrik. • gangguan multimodalitas bahasa : Afasia adalah gangguan bahasa yang meliputi semua modalitas yaitu berbicara, menyimak, menulis dan membaca. Tidak ada afasia yang salah satu modalitasnya masih sempurna. Biasanya semua terkena, hanya yang satu lebih berat daripada yang lain. • gangguan modalitas tunggal : Sering dijumpai pasien tidak 4 Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 dapat berbicara dan menyimak bahasa, tetapi masih dapat menulis dan membaca. Pasien ini menderita agnosia auditif. Sebaliknya pasien yang menderita apraksia tidak mampu menulis, tetapi mampu berbicara. gangguan "berpikir" : Penggunaan bahasa yang tidak benar dapat juga disebabkan oleh gangguan cara berpikir dan salah menggunakan bahasa. Hal ini membedakan dari afasia, agnosia dan apraksia yang disebabkan oleh gangguan mo-dalitas bahasa. Contoh dari gangguan "berpikir" adalah de-mensia, kusut pikir (confusion) dan kasus psikiatrik. Di bawah ini akan dibahas sepintas tentang pola berbahasa pada contoh tersebut untuk memberikan gambaran bahwa ada gangguan bahasa yang non-afasia. Pola berbahasa pada pasien demensia menunjukkan kesalahan-kesalahan pada semua segi bahasa. Yang menyolok ialah ketidak mampuan untuk memberikan makna sebuah pepatah. Tidak mampu melaksanakan tugas verbal yang abstrak, seperti tidak dapat menyebutkan nama-nama benda dalam satu kategori (nama-nama hewan piaraan rumah). Reaksinya lambat, sukar mengikuti pembicaraan yang beralih dari satu judul ke judul yang lain. Pasien lupa apa yang baru saja dibicarakan. Selain gangguan bahasa, pasien demensia juga menunjukkan gangguan fungsi luhur lainnya seperti gangguan persepsi, memori, kognitif dan emosi. Pola berbahasa pasien kusut pikir (confused) tampaknya sepintas masih normal. la masih dapat menyebutkan nama benda, membaca kalimat pendek dan mudah, berhitung se-derhana. Tetapi mengalami kesukaran kalau tugas tersebut agak sulit. Pasien akan mengalami kesulitan menjawab pertanyaan yang terbuka, yang harus ia jawab dengan menyusun kalimat. la akan mengalami kesulitan pula dalam memberi makna sebuah pepatah. Walaupun kalimatnya benar tetapi isinya sering tidak cocok. la tidak sadar bahwa ia telah membuat kesalahan dalam pembicaraannya. Pasien juga mengalami gangguan orientasi waktu, orang dan tempat disamping gangguan yang tersebut diatas. Juga pasien sukar mempertahankan interaksinya dengan orang lain dalam waktu lama dan tidak dapat mengikuti pembicaraan terus menerus. Biasanya keadaan kusut pikir ini sementara (transient) sifatnya. Pola berbahasa pada kasus psikiatrik tidak dibahas disini. SINDROMA AFASIA Afasia adalah gangguan bahasa yang multimodalitas, artinya tidak mampu berbicara, menyimak, menulis dan membaca. Tergantung dari jenis afasinya, ketidak mampuan dalam moda-litas tersebut tidak merata tetapi satu lebih menonjol dari yang lain. Dari segi klinik, jenis afasia yang mudah dikenali adalah : 1. afasia Broca (menonjol : tidak dapat bicara) 2. afasia Wernicke (menonjol : tidak dapat menyimak) 3. afasia anomik (menonjol : tidak dapat menyebut nama benda) 4. afasia konduksi (menonjol : tidak dapat mengulang kalimat) 5. afasia global (semua tidak dapat) Masih ada jenis-jenis afasia lain yang tidak dicantumkan, ka-
  • 5.
    Ciri bicara Non-fluentFluent Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 5 rena jarang dan sukar dikenali secara klinik. Ciri-ciri afasia Afasia adalah gangguan bahasa dan biasanya tanpa gangguan fungsi luhur lainnya seperti gangguan persepsi, memori, emosi dan kognitif (kalaupun ada tidak seberat gangguan bahasanya). Disini letak perbedaan dengan demensia, yang mengalami gangguan pada semua fungsi luhur secara merata. Afasia dapat dibagi dalam 2 golongan besar : afasia non-fluent dan afasia fluent. Penggolongan ini dilakukan dengan memper-inci ciri-ciri bicara spontan pasien. Afasia dapat ditentukan jenisnya dari analisis kemampuan linguistiknya (bicara spontan, menyimak, mengulang dan menyebut). Afasia yang berat dan sedang dapat ditetapkan secara klinik non formal, sedangkan afasia yang ringan atau meragukan perlu ditetapkan secara formal dengan tes afasia. Penetapan jenis afasia (Broca, Wernicke dan sebagainya) diperlukan untuk menentukan letak lesi di otak (diagnostik) dan program rehabilitasinya (bina wicara = speech therapy). Langkah-langkah penetapan afasia 1. menentukan bahasa yang dikuasai pasien. 2. menentukan kecekatan tangan (handedness) 3. menetapkan golongan afasia non fluent dan fluent. 4. menetapkan jenis afasia. 5. menetapkan fungsi-fungsi luhur lainnya (persepsi, memori, emosi, kognitif). 6. menetapkan dengan tes formal (Token Test, Peabody Vo-cabulary Test, Boston Diagnostic Aphasia Test). 7. menetapkan fungsi-fungsi luhur lainnya dengan formal (tes psikometrik). Cara dan makna penetapan 1. Pada afasia, biasanya bahasa ibu merupakan bahasa yang paling sedikit terkena dibandingkan bahasa-bahasa lain yang dipelajari oleh pasien poliglot. 2. Hemisfer kiri pada orang kinan (right-handed) dianggap me-rupakan hemisfer yang dominan. Dominansi serebral ini dapat diketahui dari kecekatan tangan pasien. Kemutlakan dominansi serebral dapat dipakai sebagai ancar-ancar untuk menentukan prognosis afasia. Dikatakan bahwa dominansi yang mutlak mempunyai prognosis yang kurang baik dibandingkan do-minansi yang tidak mutlak. Kemutlakan ini dapat diketahui dari kecekatan tangan, mata dan kaki pasien. Orang dianggap kinan mutlak bila ia cekat dalam hal penggunaan tangan, mata dan kaki kanan serta tidak ada keluarga yang kidal. Orang dianggap kinan tidak mutlak bila cekat tangan kanan disertai cekat mata atau kaki kiri, atau bila ada keluarga yang kidal. Cara menentukan cekat tangan biasanya dilihat dari tangan mana yang dipakai untuk bekerja, menulis dan makan minum. Cekat mata ditentukan dengan mata mana pasien mengintip sebuah lubang dan cekat kaki dengan cara kaki mana yang dipakai untuk berdiri diatas satu kaki. Cara-cara tersebut sudah cukup untuk menentukan kecekatan. Ada cara-cara lain yang lebih terperinci yang tidak dibahas disini. Hal-hal tersebut tidak berlaku seluruhnya bagi pasien kidal. 3. Bicara spontan yang non fluent dan fluent dapat ditentu-kan dengan menganalisis ciri-ciri bicara sebagai berikut : - tempo berbicara menurun meningkat - usaha bicara meningkat normal - banyak bicara menurun meningkat (logore) - isi substantif predikatif - panjang frase pendek panjang - parafasia jarang ada Menentukan ciri bicara ini penting dalam menetapkan letak lesi. Afasia non fluent : biasanya letak lesi di bagian anterior he-misfer kiri (dominan). Afasia fluent : letak lesi biasanya di bagian posterior. Pada penentuan ciri bicara ini pasien disuruh berbicara secara spontan untuk beberapa saat. Dari pembicaraannya dapat dinilai ciri-ciri tadi. Tentu hal ini dilakukan secara global dalam penetapan secara klinik. Dalam penetapan formal terdapat patokan penilaian tertentu dari ciri bicara ini. 4. Penetapan jenis afasia dipakai kemampuan linguistik bicara spontan, menyimak, mengulang dan menyebut sebagai patokan. Secara klinik, bicara spontan telah. dibahas diatas. Penyimakan bahasa dapat ditentukan secara klinik dengan menanyakan beberapa pertanyaan pada pasien dan pertanyaan yang diajukan mula-mula sederhana makin lama makin kompleks. Pertanyaan dibuat sedemikian hingga cukup dijawab oleh pasien dengan ya atau tidak, bila perlu dengan anggukan dan gelengan kepala. Hal ini terutama bila kita memeriksa pasien afasia yang non-fluent. Contoh pertanyaan : "Apakah ibu yang ada disamping saya ini istri bapak?" "Apakah bapak sudah sarapan pagi tadi?" Pertanyaan dapat disusun dan disesuaikan dengan latar bela-kang pendidikan dan kedudukan social pasien. Pertanyaan-pertanyaan formal pada tes afasia tentu menggunakan kalimat yang dibuat sedemikian rupa hingga mempunyai kesukaran linguistik. Pengulangan kata/kalimat juga dimulai dari yang sederhana sampai yang sulit. Contoh kata yang sederhana "ma-kan" dan yang sulit "menjajagi". Kalimat mudah "Udara hari ini cerah" dan kalimat sulit "Musim kemarau yang panjang dan kering tahun ini merupakan bencana bagi kami". Penyebutan nama benda dapat dilakukan dengan menyuruh pasien menyebutkan beberapa nama benda yang ada diseki-tarnya. Jenis afasia ditentukan dengan kemampuan linguistik sebagai berikut : Afasia bicara spontan penyimakan pengulangan penyebutan Wernicke Broca konduksi global anomik fluent non-fluent fluent non-fluent fluent buruk baik baik buruk baik buruk buruk buruk buruk baik buruk buruk buruk buruk buruk Penetapan jenis afasia ini mempunyai makna : diagnostik, prognostik dan terapeutik sebagai berikut : • Afasia Broca terletak di bagian anterior di daerah posterior girus frontalis.
  • 6.
    • Afasia Wernicketerletak di bagian posterior di daerah girus temporalis posterior-superior • Afasia konduksi lesinya berada di fasikulus arkuatus diantara Broca dan Wernicke. • Afasia global mempunyai lesi yang luas meliputi seluruh korteks. Prognosisnya juga sangat buruk ada yang menye-butnya sebagai afasia irreversible Jenis inilah yang sering mirip dengan demensia. • Afasia anomik atau anomia dapat terjadi di beberapa tempat. Tidak mempunyai nilai lokalisasi. Paling sering di daerah girus angularis. Sering mgrupakan gejala sisa dari afasia yang berat. 5. Penetapan afasia dengan tes formal yang dipakai di Klinik Gangguan Wicara Bahasa FKUI/RSCM dipilihkan dari tes yang bersifat multilingual. Artinya, tes yang dapat dialih bahasakan ke bahasa lain. Namun demikian, kesulitan linguistik dalam modifikasi tes tersebut masih ada. Afasia adalah ilmu yang prinsip, konsep dan tes formalnya tidak dapat diambil alih begitu saja dari bahasa aslinya. Penanganan terpadu afasia oleh neurolog, psikolog, linguist dan ahli bina-wicara sangat mutlak. DASAR-DASAR REHABILITASI Bina wicara (speech therapy) pada afasia didasarkan pada : 1. Dimulai seawal mungkin. Segera diberikan bila keadaan umum pasien sudah memungkinkan pada fase akut penya-kitnya. 2. Dikatakan bahwa bina wicara yang diberikan pada bulan pertama sejak mula sakit mempunyai hasil yang paling baik. 3. Hindarkan penggunaan komunikasi non-linguistik (seperti isyarat). 4. Program terapi yang dibuat oleh terapis sangat individual dan tergantung dari latar belakang pendidikan, status sosial dan kebiasaan pasien. 5. Program terapi berlandaskan pada penumbuhan motivasi pasien untuk mau belajar (re-learning) bahasanya yang hi-lang. Memberikan stimulasi supaya pasien memberikan tanggapan verbal. Stimuli dapat berupa verbal, tulisan atau-pun taktil. Materi yang telah dikuasai pasien perlu diulang-ulang (repetisi). 6. Terapi dapat diberikan secara pribadi dan diseling dengan terapi kelompok dengan pasien afasi yang lain. 7. Penyertaan keluarga dalam terapi sangat mutlak. KEPUSTAKAAN 1. Benson DF. Aphasia, Alexia and Agraphia. New York: Churchill Livingstone, 1979. 2. Darley FL. And Spriestersbach DC. Diagnostic Methods in Speech Pathology. New York: Harper and Row, 1978. 3. Eisenson J. Adult Aphasia, Assessment and Treatment. San Fran-cisco: Appleton-Century-Crofts, 1973. 4. Espir M and Rose FC. The Neurology of Speech. London : Black-well Scientific Publications, 1976. 5. Watson R. How to examine the patient with aphasia. Geriatrics, Des. 1975;73-77. S I M D I TteWu N MEN66G6crR KAN KAt.D l N 6 A N . APAKA H B E N 4 ? B a N A R , SA yA TEL-414 MEN6606URkAN KEHAM►b.14N 100 E?coR TlKtdS ( L t K PERCOBAAN (LMIA 6 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
  • 7.
    Gangguan Bahasa, Persepsidan Memori Pada Kelainan Otak dr. Sidiarto Kusumoputro dan dr. Lily Sidiarto Klinik Gangguan Wicara - Bahasa Bagian Neurologi FKUI/RSCM, Jakarta Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 7 PENDAHULUAN Tiga unsur tingkah laku manusia terhadap alam sekeliling-nya ialah pengamatan, pikiran dan tindakan. Dalam bidang neurologi tiga unsur tersebut tertuang dalam fungsi sensorik. luhur dan motorik. Dalam keadaan sakit, unsur-unsur tadi dapat terganggu. Gangguan tersebut dapat berupa gejala neurologik elementer, misalnya hemiparesis, hemihipestesia, koma, kejang dan sebagainya tetapi dapat pula berupa gejala neurologik luhur, yang merupakan kelainan integratif yang kompleks dari ke tiga fungsi di atas. Yang dimaksud dengan fungsi luhur atau fungsi kortikal luhur adalah fungsi-fungsi : 1. bahasa 2. persepsi 3. memori 4. emosi 5. kognitif Dalam neurologi, gejala elementer dan luhur dipergunakan un-tuk menetapkan adanya kerusakan di otak, baik tentang loka-lisasi maupun luas lesinya. Ke dua fungsi tersebut sama pen-tingnya dalam penetapan diagnosis. Juga keduanya menuruti prinsip organisasi lateral dan longitudinal serebral yang akan diuraikan kemudian. Karena gejala fungsi luhur ini kerap di-lupakan atau diabaikan, maka penulis ingin menguraikan secara singkat peranan fungsi ini, terutama fungsi bahasa, persepsi dan memori pada kelainan otak. Kelainan otak disini dibatasi pada penyakit-penyakit yang frekuen, yaitu gangguan peredaran darah di otak (Cerebro-Vascular Disorder) dan trauma kapitis. Peranan fungsi luhur dalam klinik Seperti halnya gejala elementer, maka gejala fungsi Iuhur ini dapat dipakai untuk menetapkan diagnosis dan rehabilitasi pasien dengan penyakit otak. Pada kerusakan difus dan berat dari otak, maka semua fungsi-fungsi luhur tersebut dapat ter-kena dan hasilnya adalah suatu demensia atau retardasi mental. Tetapi pada kerusakan yang fokal, maka biasanya hanya satu atau beberapa dari fungsi ini terganggu. Justru pada kerusakan otak yang fokal inilah, gejala luhur mempunyai peranan penting. Pada pasien dengan kelainan tingkah laku, perlu ditentukan apakah kelainan ini disebabkan oleh kerusakan otak (brain damage) ataukah sesuatu yang fungsional (kasus psikiatrik). Penelusuran gangguan fungsi luhur inilah yang dapat membe-dakan kedua kemungkinan tadi. Menetapkan gangguan fungsi luhur Melakukan anamnesis dan pemeriksaan neurologik memer-lukan waktu yang cukup lama dan kompleks. Apabila di dalam pemeriksaan itu juga dibebani penetapan fungsi Iuhur secara rutin, maka waktu pemeriksaan akan bertambah lama lagi. Untuk menghemat waktu, maka penetapan fungsi luhur secara artifisial dapat dilakukan bertahap. Tahap awal merupakan observasi terhadap kemungkinan adanya gangguan fungsi luhur, yang dilakukan selama pemeriksaan neurologik rutin. Apabila diduga adanya gangguan fungsi luhur ini, maka pasien bersangkutan perlu diperiksa lebih teliti secara klinis pada tahap berikutnya. Selanjutnya pada tahap terakhir dipertimbangkan untuk suatu penetapan secara formal dengan tes psikometrik. Tahap terakhir ini melibatkan psikolog yang berwenang melakukan tes tersebut. Jenis tes akan dipilih yang khusus dipergunakan untuk menentukan adanya gangguan otak (a.l. Raven's Progressive Matrices). Khusus untuk gangguan bahasa perlu dilakukan tes afasia (a.l. Token Test) yang melibatkan ahli bina wicara. Dokter sebaiknya mengenal penetapan awal dan klinis gangguan fungsi Iuhur ini, karena dialah yang akan berhadapan pertama kali dengan pasien-pasien dengan gangguan tersebut.
  • 8.
    Tahap-tahap penetapan fungsiluhur 1. Penetapan awal. Pada saat membuat anamnesis dan melakukan pemeriksaan neurologik rutin, sebaiknya menambah anamnesis yang tertuju untuk mengungkapkan gangguan fungsi luhur. Syarat mutlak adalah pasien harus kompos mentis. Pertanyaan-pertanyaan meliputi : — data-data lengkap tentang pribadi pasien termasuk riwayat dahulu. — mengapa ia dirawat atau datang berobat dan apa sakitnya. — dimana ia sekarang berada dan siapa orang yang ada dide-katnya serta jam berapa sekarang ini. — dimana ia tinggal, bagaimana ia mencapai tempat ini. — dengan apa dan siapa ia datang kemari. — apa yang ia lakukan selama 24 jam terakhir ini. — Kejadian apa yang diketahuinya atau dibacanya akhir-akhir ini (peristiwa sekitar rumah, dalam kota, dalam negeri atau luar negeri). — cobalah pasien disuruh mengurangi angka 100 dengan 7 dan hasilnya dikurangi lagi dengan 7 dan seterusnya. — cobalah suruh pasien mengulangi 6 digit yang kita sebutkan. — cobalah suruh pasien memberi makna sebuah pepatah. — cobalah suruh pasien mengulangi kalimat pendek dan pan-jang yang kita sebutkan. — cobalah suruh pasien menyebut nama benda yang kita tunjukkan. — nilailah cara bicara pasien dari segi kecepatan, lagu dan panjang kalimat. Sekali lagi, pasien harus sadar, kompos mentis. Kalau ada per-tanyaan yang kurang benar jawabnya, maka ada alasan untuk menduga adanya gangguan fungsi luhur. 2. Penetapan klinis. Akan diuraikan kemudian. 3. Penetapan secara formal dilakukan oleh psikolog. Sebaiknya diberikan pengarahan tentang apa yang kita kehen-daki supaya tidak menyulitkan psikolog mencari tes yang tepat. Penetapan fungsi luhur secara klinis Dalam menetapkan secara klinis dianut prinsip organisasi lateral dan longitudinal serebral. Artinya, bagian-bagian otak tertentu mempunyai fungsi tertentu. Prinsip pusat lokalisasi fungsi pada otak ini tidak mutlak. Pusat-pusat di otak ini me-rupakan suatu sistem pusat fungsional yang kompleks (Luria). Secara garis besar dapat dikatakan bahwa fungsi bahasa me-nempati hemisfer kiri (disebut hemisfer dominan bagi orang yang kinan atau right-handed), fungsi persepsi menempati hemisfer kanan (non-dominan) dan fungsi memori menempati hemisfer kanan dan kiri, tepatnya di lobus temporalis. Dengan demikian dikenal sindroma hemisfer kiri dan kanan dengan perincian sebagai berikut : • Sindroma hemisfer dominan terdiri dari : 1. sindroma afasia (termasuk aleksia dan agrafia) 2. sindroma Gerstmann (right-left confusion, agnosia jari, agrafia dan akalkulia). 8 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 • Sindroma hemisfer non-dominan terdiri dari : 1. neglect 2. anosognosia 3. kesukaran visuospatial 4. apraksia konstruksional 5. apraksia berpakaian Sindroma ini tidak ditulis lengkap, masih ada gejala yang tidak dicantumkan. • Sindroma lobus temporalis kiri dan kanan terdiri dari gangguan: 1. immediate memory 2. short-term memory 3. long-term memory Gangguan memori disebut sebagai amnesia; bila mengenai lobus temporalis kiri menyebabkan gangguan memori verbal dan bila kanan menyebabkan memori visual. Sindroma afasia Secara klinis kita kenal afasia : 1. Broca 2. Wernicke 3. konduksi 4. anomia 5. global Uraian masing afasia secara singkat ialah sebagai berikut : Afasia Broca : ciri bicara spontan pasien ialah lambat, ter-bata- bata, monoton dan kalimat pendek-pendek (disebut non fluent). Penyimakan bahasa baik, pengulangan kalimat buruk dan penyebutan nama benda buruk. Afasia Wernicke : ciri bicara spontan cepat, kadang-kadang terlalu cepat, lagu kalimat baik, panjang kalimat cukup (disebut fluent). Penyimakan bahasa buruk, pengulangan kalimat buruk dan penyebutan nama benda buruk. Afasia konduksi : ciri bicara fluent, penyimakan dan pe-nyebutan nama benda baik, hanya pengulangan kalimat buruk. Afasia nominal atau anomia : ciri bicara spontan fluent, hanya penyebutan nama benda yang buruk, yang lain baik. Afasia global : ciri bicara spontan non-fluent, lain-lain buruk semua. Dengan menilai gangguan segi bahasa tersebut, dapat di-tentukan pasien menderita jenis afasia apa dan dimana letak lesinya. Broca terletak di bagian anterior, Wernicke di bagian posterior, konduksi di jaras antara Broca dan Wernicke, global di seluruh hemisfer kiri dan anomia tidak mempunyai letak lesi yang tetap. Sindroma Gerstmann lalah sekelompok gejala yang terdiri dari agnosia jari (tidak mengenali jari-jari sendiri dan pemeriksa), right-left dis-orientation, disgrafia (tidak mampu menulis) dan akalkulia (tidak mampu berhitung). Sindroma ini disebabkan kerusakan hemisfer kiri daerah lobus parietalis. Right-left disorientation ialah ketidak mampuan pasien mem-bedakan kanan dan kiri dari anggota tubuh sendiri dan dari ruang sekitarnya. Pasien tidak sanggup menunjuk tangan ka-
  • 9.
    Cermin Dania KedokteranNo. 34, 1984 9 nannya, kaki kirinya, dan juga tidak dapat menunjukkan tangan yang benar dari pemeriksa bila diminta. Unilateral Spatial neglect merupakan gangguan persepsi ruang yang sering mengakibatkan pasien membentur benda yang ber-ada di sisi kirinya atau pasien tampak mengabaikan benda-benda yang berada di lapangan pandang kirinya. Kelainan ini dapat dikenali dengan menyuruh pasien membuat gambar yang simetris dan ia akan menghilangkan sisi kiri dari gambar tadi. Misalnya disuruh membuat gambar jam, maka hasilnya ialah sebuah gambar jam yang angka-angka 8, 9 dan 10 tidak tergambar. Anosognosia ialah gangguan persepsi karena kerusakan hemis-fer non-dominan lobus parietalis. Pasien tidak mempunyai pandangan dan kesadaran tentang dirinya dan anggota tubuh-nya. Pasien tidak memberi perhatian pada kelainan tubuhnya, bahkan sampai menyangkal bahwa anggota tubuhnya lumpuh. Gangguan visuospatial ialah gangguan utuk menafsirkan posisi, jarak, gerak, bentuk dan hubungan anggota tubuhnya terhadap objek sekitarnya. la seakan-akan tidak tahu terhadap konsep atas-bawah, depan- belakang, dan dalam-luar. Pasien meng-alami kesukaran bila harus melewati sebuah gang, ia tidak ingat lagi tata ruang yang pernah dikenalnya, tidak tahu letak kamar tidurnya, tidak kenal peta rumah tinggalnya. Pasien tidak dapat menjiplak sebuah gambar bergaris, tidak sanggup menggambar kubus atau binatang dan tidak dapat menyusun balok-balok yang diperlihatkan kepadanya. Gangguan orientasi ini disebabkan kelainan hemisfer non-dominan. Apraksia konstruksional : ketidak mampuan untuk mencontoh bentuk- bentuk gambar dan menyusun balok-balok atau batang-batang korek api menurut contoh yang diberikan. Kemampuan ini termasuk fungsi kognitif yang kompleks dan diperankan oleh semua lobi dengan lobus parietalis non-dominan yang terpenting. Apraksia berpakaian merupakan gangguan orientasi ruang yang menyebabkan pasien sukar mengenakan pakaian karena sukar membedakan bagian mana yang diperuntukkan lengan, tungkai dan sebagainya. Amnesia Gangguan immediate memory mudah dikenali dengan menyu-ruh pasien mengulangi 6 digit yang kita sebutkan. Gangguan short-term memory dapat dikenali karena pasien tidak dapat mengingat apa yang telah terjadi beberapa saat yang lalu. Ia tidak dapat menceritakan kejadian pada hari itu. Sedangkan long-term memory terganggu bila pasien tidak lagi mengenali riwayat hidupnya. Umumnya amnesia yang terjadi adalah gangguan short-term memory. Pada kelainan lobus temporalis kiri menyebabkan gangguan memori verbal (tidak ingat apa yang disebutkan) sedangkan lobus temporalis kanan menyebabkan memori visual (apa yang diperlihatkan). Gangguan memori ini merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. _ Peranan pada gangguan peredaran darah di otak (cerebro-vas-cular disorder). 1. Gangguan memori yang disebut sebagai transient global am-nesia sering menjadi manifestasi dari gangguan peredaran darah otak jenis transient ischemic attack's (TIA's) . Jenis CVD ini umumnya dikenal karena adanya gangguan neurologik ele-menter seperti hemiparesis, hemihipestesia dan sebagainya yang timbul secara tiba-tiba dan sentara (transient) dan berlangsung tidak lebih dari 24 jam serta tanpa memberikan gejala sisa. Serangan sentara ini dapat berulang-ulang. Tidak jarang serangan ini berupa gangguan bahasa seperti afasia atau gangguan memori seperti amnesia. TIA'S dengan gejala afasia mudah dikenali karena gejala yang jelas, tetapi tidak demikian halnya dengan gangguan memori. Transient global amnesia sebagai manifestasi TIA's biasanya dikenali dari perubahan tingkah laku pasien. Pasien tampak seperti bingung-bingung, banyak bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan oleh dirinya. Kalau kita agak waspada dan mengajukan pertanyaan pada pasien akan terungkap bahwa ia tidak ingat apa yang telah dilakukan beberapa saat yang lalu, tetapi orientasi pasien, immediate memory dan long-term memory masih baik. Perlu dibedakan dengan keadaan confuse. Ungkapan adanya TIA's sangat penting karena merupakan suatu peringatan bahwa suatu ketika pasien dapat mengalami stroke serebral yang manifes bila tidak diobati. 2. Sering pula, gangguan bahasa, afasia, merupakan satu-satu-nya gejala gangguan peredaran darah otak yang menetap (iso-lated stroke). Pada afasia Broca, gejala tunggal ini mudah dike-nali, tetapi anomia lebih sulit dikenali sedangkan afasia Wernic-ke sering sukar dikenali karena pasien dengan bicara spontan banyak akan disalah tafsirkan sebagai kasus psikiatrik. 3. Walaupun pada gangguan peredaran darah otak terdapat gejala hemiparesis yang nyata hingga diagnosis mudah ditegakkan, sebaiknya adanya gangguan bahasa, persepsi dan memori perlu mendapat perhatian. Hal ini perlu untuk rehabilitasi pasien selanjutnya terutama pada hemiparesis kiri. Peranan pada trauma kapitis. 1. Pada keadaan akut trauma kapitis, maka gangguan memori mempunyai peranan penting. Amnesia post- trauma kapitis dapat meliputi kejadian sebelum trauma (retrograd amnesia) atau setelah trauma (anterograd amnesia). Lamanya amnesia tersebut dapat dipakai sebagai patokan akan luas lesi yang terjadi di otak. Umumnya amnesia ini meliputi gangguan short-term memory saja. Apabila ternyata long-term memory juga terkena maka ini menandakan adanya kelainan otak yang difus, berat dan mempunyai prognosis yang kurang baik. Juga disini perlu dicatat bahwa pasien umumnya hanya terganggu memorinya tanpa kehilangan fungsi-fungsi lain. 2. Pada keadaan lanjut trauma kapitis, dapat dijumpai berbagai kelainan fungsi luhur, baik sebagai gejala tunggal atau bersama-sama gejala elementer. Pada keadaan yang pertama kita perlu waspada karena gejala yang tidak jelas. Sering pasien mengeluh tentang kurangnya konsentrasi, cepat lupa setelah mengalami trauma kapitis. Masalah yang juga disebut sebagai sindroma post - trauma kapitis ini perlu penanganan serius. Perlu dibedakan antara keadaan pribadi yang neurastenis yang sudah ada premorbid dengan gejala gangguan persepsi, memori atau bahasa yang disebabkan trauma. Keadaan akhir
  • 10.
    ini dapat dikenalikalau kita sempat melakukan observasi selama pasien mengalami trauma. Pada mulanya lebih banyak gejala yang ditemukan yang lambat laun makin berkurang dan akhirnya hanya tersisa satu atau dua gejala saja. Selain yang akut, trauma kapitis menahun juga membawa pengaruh terhadap timbulnya gangguan luhur ini. Salah satu contoh trauma kapitis menahun ialah olah raga tinju. Sudah sering diungkapkan bahwa olah raga ini dapat merusak saraf. Yang dimaksudkan kerusakan saraf ini ialah gangguan fungsi luhur, bukan gangguan elementer yang mudah dikenali oleh awam. Adanya afasia ringan, gangguan persepsi atau memori pada trauma kapitis akut dan menahun perlu ditelusuri. Penelusuran ini perlu karena biasanya pasien tidak mengeluh secara jelas. Lagi pula gejala fungsi luhur post-trauma kapitis ini dapat menyebabkan masalah dalam hubungan kerja pasien dengan majikan. Pasien mengeluh tetapi majikan tidak melihat alasan keluhan tadi. Atau juga bagi dokter yang harus menentukan apakah pasien dengan trauma kapitis sudah sembuh benar dan dapat kembali kerja menduduki jabatan semula. Tentu kita harus berhati-hati kalau .berhadapan dengan kasus demikian. Dan yang terakhir yang akan menyebabkan masalah adalah asuransi kesehatan. Rehabilitasi Disamping rehabilitasi gejala hemiparesis pada CVD, maka rehabilitasi terhadap gangguan bahasa, persepsi perlu mendapat perhatian. Terutama hal ini penting bagi pasien dengan hemiparesis kiri. Sering pasien demikian ini juga menunjukkan gejala gangguan persepsi-orientasi yang menghambat latihan-latihan untuk paresisnya. Pasien tidak acuh terhadap tungkainya yang lumpuh, pasien tidak mengenali posisi tungkainya, pasien tidak memperhatikan lapangan pandang sisi kirinya, semua ini menyukarkan fisioterapi. Sebaiknya rehabilitasi juga ditujukan kepada gangguan persepsi orientasi ini. Demikian pula pada pasien dengan hemiparesis kanan yang menderita juga afasia. Latihan fisioterapi perlu disertai latihan bina wicara (speech therapy). Latihan afasia berupa bina wicara dapat diberikan oleh seorang yang profesional dan oleh keluarga yang telah mendapat petunjuk-petunjuk untuk ini di rumah, karena pasien membutuhkan latihan terus menerus. Prinsip bina wicara ialah motivasi, stimulasi dan repetisi. Pasien perlu mendapat motivasi untuk melatih bicaranya. Jangan dibiarkan menggunakan bahasa isyarat dalam percakapan sehari-hari, juga di rumahnya. Keluarga diberi tahukan untuk tidak membiarkan pasien memakai bahasa isyarat. Pasien harus dipaksakan mengucapkan kata disamping isyarat yang dipakainya. Terapis akan membuat program latihan bagi pasien yang disesuaikan dengan latar belakang pendidikan dan berat-ringan afasinya. Program ini ditujukan untuk memberikan stimulasi yang kontinu secara auditif atau tertulis. Pengulangan atau repetisi perlu dilakukan secara teratur. Stimulasi taktil juga dapat dipakai bila diperlukan. Pada gangguan anosognosia dimana pasien mengabaikan anggota tubuhnya yang sakit, maka anggota bersangkutan perlu dirangsang supaya lambat laun pasien menyadarinya. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 Pasien dilatih untuk memandangi anggota yang sakit terse-but yang sedang digerak-gerakan oleh terapis kesegala arah, juga arah melewati garis tengah tubuhnya. Selanjutnya pasien diminta melakukan hal tersebut tanpa bantuan terapis, tetapi dengan bantuan anggotanya yang tidak sakit. Pasien dilatih menunjuk benda yang dipegang oleh terapis dan digerak-ge-rakan kesegala arah termasuk arah melewati garis tengah tu-buhnya. Pasien diminta berdiri diatas garis lantas menempatkan kaki-kakinya diatas tempat-tempat yang telah diberi tanda. Pasien diminta menirukan terapis yang menunjuk-nunjuk anggota tubuhnya. Kemudian pasien diminta menunjuk atas perintah terapis. Pada pasien yang mengalami gangguan visuospatial, dimana ia mengalami kesukaran menafsir keadaan dirinya terhadap ruang sekelilingnya, maka tata ruang dimana pasien tinggal perlu mendapat perhatian. Ruangan sebaiknya tidak terlalu penuh dengan alat-alat rumah tangga dan benda-benda, cukup terang, tidak berwarna terlalu menyolok dan tenang. Hal-hal ini akan membantu pasien dalam kehidupan sehari-hari. Pada pasien lebih baik diberikan instruksi secara verbal yang jelas daripada instruksi yang menggunakan isyarat. Cermin yang besar sangat menolong pasien dalam menafsirkan dirinya ter-hadap ruang sekitarnya. Latihan-latihan menjiplak gambar-gambar perlu diberikan. Pasien dengan gangguan unilateral spatial neglect, yang me-nyebabkan pasien mengabaikan lapangan pandang sisi kirinya, perlu dibantu dengan mengatur tata ruangnya secara khusus. Semua alat mmah tangga dan benda diletakkan ke arah kanan dari titik pusat aktivitas pasien. Dengan letak khusus ini di-maksudkan supaya pasien dapat melihat bila ada orang lain yang sedang bekerja di dalam ruangnya. Juga Ietak TV, meja kursi perlu diatur demikian. Letak makanan dalam piringnya juga perlu mendapat perhatian. Latihan memberikan rangsangan verbal dan taktil perlu diberikan dari arah kiri pasien. Pasien dengan apraksia konstruksional perlu dilatih menyu-sun balok atau batang korek api membuat konstruksi 3 dimen-sional. Mula-mula bentuk sederhana, kemudian makin kom-pleks. Latihan-latihan mengenakan pakaian perlu diberikan pada pasien dengan apraksia berpakaian. Bila perlu diberikan tanda pada salah satu bagian baju atau celananya untuk dijadikan patokan bagi pasien dalam mengenakan pakaian tadi. Secara ringkas dapat disebutkan bahwa rehabilitasi pasien dengan gangguan bahasa umumnya perlu : 1. menimbulkan motivasi agar pasien mau belajar berbicara lagi, 2. memberikan banyak stimulasi verbal dan tulisan. 3. melakukan repetisi secara kontinu. Pada rehabilitasi pasien dengan gangguan persepsi perlu : 1. mengatur ruangannya supaya sederhana, tidak semrawut. 2. aktivitas rutin yang di-arahkan pada latihan penguatan (reinforces learning) dan dilakukan banyak repetisi. 3. stimulasi sensorik yang menimbulkan kesadaran (awa-reness)
  • 11.
    Cermin Dunia KedokteranNo. 34, 1984 11 KEPUSTAKAAN 4. University Press, 1976. Luria AR. The Working Brain. London The Penguin Press, 1973. 1. Benson DF. Aphasia, Alexia and Agraphia. New York: Churchill 5. O'Brien MT and Pallett PJ. Total care of the Stroke patient USA: 2. Livingstone, 1979. Cummings J, Benson F, and Lovermen S. Reversible Dementia. 6. Little, Brown and Company (Inc), 1978. Valenstein E. Making sense of cerebral dominance and syndrome JAMA. 243, 1980; 2434 - 2439. of the nondominant hemisphere. Geriatrics, Nov. 1976; 111 - 117. 3. Lezak M.D. Neuropsychological Assessment. New York: Oxford
  • 12.
    Disfungsi Otak Minor Kesulitan Belajar Ditinjau Dari Segi Neurologis dr. Lily Sidiarto Klinik Gangguan Wicara - Bahasa Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta. PENDAHULUAN Di Amerika dilaporkan bahwa lebih kurang 10% dari jumlah anak usia sekolah mengalami kesulitan belajar (Silver, 1982). WHO melaporkan 5 - 25% dari anak-anak usia sekolah menderita disfungsi otak minor. Belum ada data mengenai anak-anak usia sekolah yang mengalami disfungsi otak minor di Indonsia, karena sering tidak terdeteksi. Anak-anak dengan disfungsi otak minor biasanya mengalami kesulitan belajar di sekolah. Kesulitan belajar dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : 1. retardasi mental 2. gangguan fungsi sistem saraf 3. problema emosional primer Anak-anak dengan kesulitan belajar karena retardasi mental lebih mudah dideteksi/dikenal, dan untuk anak-anak ini telah ada wadahnya yaitu Sekolah Pendidikan Luar Biasa C. Lagi pula gangguan fungsi sistem sarafnya lebih difus, mencakup hampir semua fungsi kortikal, sehingga tidak akan disinggung dalam makalah ini. Problema emosional primer yang merupakan penyebab lain dari kesulitan belajar merupakan bidang psikologi/psikiatri. Yang akan dibahas dalam tulisan ini ialah anak-anak dengan kesulitan belajar tertentu/spesifik, yang di-sebabkan karena gangguan pada beberapa fungsi sistem saraf pusat atau lebih terkenal dengan nama Minimal Brain Dys-function (M .B .D), atau Disfungsi Otak Minor (D.0.M.). Anak-anak dengan D.O.M. sering tidak terdiagnosis, sehingga tidak mendapat penanganan yang semestinya. Ini mengakibatkan timbulnya problema sosial dan emosional sekunder. Bila hal ini terjadi, maka akan merupakan problema hidup (life disability), dimana penanganan akan lebih kompleks. SINDROMA KLINIS Disfungsi Otak Minor atau Minimal Brain Dysfunction (M.B.D) terdiri dari berbagai macam gejala klinis, merupakan 12 Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 suatu sindroma sehingga lebih tepat bila digunakan nama Mi-nimal Brain Dysfunction Syndrome atau Sindroma Disfungsi Otak Minor (S.D.O.M.). Apakah definisi dari S.D.O.M Anak-anak dengan S.D.O.M. adalah anak-anak dengan inteli-gensi mendekati rata-rata, rata-rata (average) atau diatas rata-rata dengan kesulitan belajar dan perilaku (behaviour) yang disertai dengan kelainan fungsi sistem saraf. Gejala klinis Gejala klinis dapat berupa : 1. Kesulitan belajar yang spesifik (satu atau lebih). 2. Hiperaktivitas dan/atau distraktibilitas dengan short attention span. 3. Disfungsi motorik. 4. Problema emosional sekunder. Gejala-gejala tersebut di atas tidak harus ada seluruhnya, dapat berupa kombinasi dari satu atau lebih gejala tersebut. Kesulitan belajar yang spesifik Kesulitan belajar dapat dimanifestasikan dalam gangguan memproses (processing) masukan sensoris (gangguan persepsi), gangguan dalam mengintergrasikan masukan tersebut (gang-guan kognitif), gangguan dalam menyimpan dan mendapatkan kembali data (gangguan memori), atau gangguan dalam mem-proses keluaran (gangguan bahasa, gangguan motorik). Beberapa ahli menekankan pada problema spesifik yang timbul, sehingga disebut dengan disleksia (kesulitan membaca), disgrafia (kesulitan menulis), diskalkuli (kesulitan menghitung) dan disfasia (kesulitan berbahasa). Hiperaktivitas/hiperkinetik Hiperaktivitas atau aktivitas motorik yang berlebihan pada S.D.O.M. bersifat fisiologis. Ini harus dibedakan dari hiper-aktivitas yang disebabkan oleh keadaan cemas (anxiety). Hi-
  • 13.
    Cermin Dunia KedokteranNo. 34, 1984 13 peraktivitas pada S.D.O.M. timbul pada setiap saat dan dimana saja, tidak tergantung dari tempat dan waktu, sedangkan yang disebabkan oleh keadaan cemas, hiperaktivitas hanya timbul pada saat-saat tertentu. Perbedaan ini perlu diketahui oleh seorang dokter, karena terapi yang diberikan berlainan. Silver mengemukakan bahwa hiperaktivitas terdapat pada kira-kira 40% dari kasus dengan S.D.O.M. Masukan sensoris baik visual maupun auditoris yang masuk ke korteks tidak dapat disaring, karena untuk proses tersebut diperlukan perhatian. Anak ini menunjukkan suatu distrakti-bilitas. Karena perhatian cepat dialihkan pada setiap rangsangan visual maupun auditoris, maka timbul short attention span. Disfungsi motorik Biasanya kelainan yang menonjol dalam bentuk gangguan motorik halus dan koordinasi. Dalam klinik disamping peme-riksaan neurologis umum, dilakukan pemeriksaan neurologis minor. Problema emosional sekunder Telah disebutkan di atas bahwa sering kesulitan belajar spesifik tidak dikenal dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat, sehingga anak-anak ini karena mengalami kegagalan demi kegagalan menjadi frustrasi. Sehingga stres emosional akan menjadi suatu kelainan perilaku atau problema watak (character) . Bila hal ini terjadi, kadang-kadang sukar untuk membedakan apakah problema emosional ini bersifat primer atau sekunder, sehingga penanganan kurang memuaskan hasilnya. Lagi pula anak-anak ini akan mendapatkan kesulitan dalam perkembangan psikososial selanjutnya. Problema yang dihadapi akan lebih kompleks, karena problema ini tidak saja melibatkan anak itu sendiri, tetapi juga keluarganya, sekolahnya dan masyarakat. Hal ini sudah merupakan suatu sindroma yang multi-dimensional, dimana banyak pihak yang terlibat dalam penanganannya. PENYEBAB/ETIOLOGI - Kelainan genetik. - Kelainan metabolik. - Gangguan otak (brain insult) pada masa prenatal dan perinatal. - Penyakit dan trauma dari susunan saraf pusat terutama pada masa krisis dari perkembangan dan maturasi dari susunan saraf pusat. TATALAKSANA Untuk dapat mendiagnosis S.D.O.M., diperlukan data leng-kap yang mencakup : RIWAYAT MEDIS Meliputi riwayat pada masa kehamilan (prenatal), perinatal dan posnatal terutama 2 tahun pertama. Aktivitas yang kurang wajar dari sejak bayi : tidak dapat diam dalam gendongan ibu, berguling-guling dalam box, lari sebelum berjalan, makan tidak dapat diam di kursi, tidak betah menonton TV dan sebagainya. Riwayat perkembangan : Biasanya riwayat perkembangan mo-torik kasar tidak terlambat, tapi adanya riwayat anak sering tersandung dan jatuh mengingatkan pada suatu inkoordinasi. Riwayat motorik halus : kesulitan mengikat tali sepatu, meng-ancing baju, kesulitan menggunting, melipat dan mewarnai. Adanya riwayat anak sering "bengong" atau kejang-kejang. Riwayat keluarga : adanya kasus kesulitan belajar dalam ke-luarga, hubungan antar keluarga. PEMERIKSAAN Pemeriksaan Sindroma Disfungsi Otak Minor terdiri dari : 1. Pemeriksaan neurologik umum 2. Pemeriksaan daya penglihatan dan pendengaran (sensoric input) 3. Pemeriksaan jenis hiperaktivitas (fisiologik atau emosional). 4. Pemeriksaan neurologik minor : a. penetapan dominansi serebral (kecekatan tangan, mata dan kaki). b. penetapan fungsi kortikal luhur : — fungsi persepsi-orientasi — fungsi kognitif (abstraksi dan matematik) — fungsi memori — fungsi Wicara-bahasa c. pemeriksaan koordinasi motorik halus (ketrampilan) d. pemeriksaan koordinasi motorik kasar (ketangkasan) PENANGGULANGAN 1. Terapi medikamentosa : a. untuk hiperaktivitas yang berdasarkan fisiologik dapat diberikan psikostimulan seperti golongan amfetamin, efedrin dan sebagainya. Penggunaan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kemunduran psikik. b. pada hiperaktivitas karena keadaan cemas dapat diberikan anxiolitik. Pemberian obat-obat ini tidak tanpa gejala sam-ping, hingga dianjurkan pemberian dalam jangka waktu pendek dan dosis yang tepat. c. obat golongan cerebro-metabolic-vasodilators dapat diberi-kan untuk stimulasi metabolisme otak. 2. Remedial teaching programme Program pendidikan khusus yang diberikan di sekolah dapat memperbaiki penampilan anak. 3. Untuk membantu anak-anak dengan kesulitan belajar secara menyeluruh, para profesional perlu mengikut-sertakan orang tua dalam program pendidikan. Orang tua diberi keterangan mengenai kelemahan dan kemampuan dari anaknya, serta bagaimana cara menanganinya guna memperoleh keberhasilan secara maksimal dan mengurangi kegagalan se-minimal mungkin. KESIMPULAN Setiap anak dengan kesulitan belajar sebaiknya dilakukan pemeriksaan neurologik untuk mengenali adanya disfungsi
  • 14.
    otak minor. Halini akan sangat membantu dalam penanggu-langannya. KEPUSTAKAAN 1. Peter FE, Romine JS and Dykman RA. A Special-Neurological Examination of Children with Learning Disabilities. Develop Med Child Neurol 1975;17 : 63 - 78. 2. Pray BS. Learning Principles from Psychoneurology. People With Special Needs, Down Syndrome Report. Vol 5 No 3, 1983. 3. Touwen BCL and Sporrel T. Soft Signs and MBD. Develop Med Child Neurol. 1979; 21 : 528 - 529. 4. Wilson EB. Sensory Integrative Therapy for Children With Learning Disorders. Rehabilitation in Australia. Jan 1975; 27 - 29. 5. Wright FS, Schain RJ, Weinberg WA and Rapin I. Learning disabilitie and associated conditions. In : The Practice of Pediatric neurology Edited by Swaiman KF & Wright FS. Saint Louis : The CV Mosby Company, 1975; pp 883 - 926. 14 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
  • 15.
    Gangguan Kesadaran dr.Manthurio dan dr. P Nara Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin/RSU Ujung Pandang PENDAHULUAN Kesadaran merupakan fungsi utama susunan saraf pusat. Untuk mempertahankan fungsi kesadaran yang baik, perlu suatu interaksi yang konstan dan efektif antara hemisfer serebri yang intak dan formasio retikularis di batang otak. Gangguan pada hemisfer serebri atau formasio retikularis dapat menimbulkan gangguan kesadaranl. Bergantung pada beratnya kerusakan, gangguan kesadaran dapat berupa apati, delirium, somnolen, sopor atau koma. Koma sebagai kegawatan maksimal fungsi susunan saraf pusat memerlukan tindakan yang cepat dan tepat, sebab makin lama koma berlangsung makin parah keadaan susunan saraf pusat sehingga kemungkinan makin kecil terjadinya penyembuhan sempurna.2 Makalah ini membahas anatomi fisiologi, etiologi, patofi-sologi, klinik serta penanggulangan gangguan kesadaran. ANATOMI FISIOLOGI : Lintasan asendens dalam susunan saraf pusat yang menya-lurkan impuls sensorik protopatik, propioseptik dan perasa pancaindra dari perifer ke daerah korteks perseptif primer di-sebut lintasan asendens spesifik atau lintasan asendens lem-niskal. 3-5 Ada pula lintasan asendens aspesifik yakni formasio retikularis di sepanjang batang otak yang menerima dan me-nyalurkan impuls dari lintasan spesifik melalui koleteral ke pusat kesadaran pada batang otak bagian atas serta meneruskannya ke nukleus intralaminaris talami yang selanjutnya disebarkan difus ke seluruh permukaan otak4,5 Pada hewan, pusat kesadaran(arousal centre) terletak di rostral formasio retikularis daerah pons sedangkan pada manusia pusat kesadaran terdapat didaerah pons, formasio retikularis daerah mesensefalon dan diensefalon. Lintasan aspesifik ini Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 15 Sub dan Hip otalamus Pons Mesensefalon Med. oblong Sistema aseudens difus aspesifik Neuron substansia reau-laris diensefalon, "peng-galak kewaspadaan".
  • 16.
    oleh Merruzi danMagoum disebut diffuse ascending reticular activating system (ARAS). Melalui lintasan aspesifik ini, suatu impuls dari perifer akan menimbulkan rangsangan pada seluruh permukaan korteks serebri.6 Dengan adanya 2 sistem lrntasan tersebut terdapatlah penghantaran asendens yang pada pokok-nya berbeda. Lintasan spesifik menghantarkan impuls dari satu titik pada alat reseptor ke satu titik pada korteks perseptif primer. Sebaliknya lintasan asendens aspesifik menghantarkan se-tiap c e m e impuls dari titik manapun pada tubuh ke seluruh korteks serebri. Neuron-neuron di korteks serebri yang digalakkan oleh impuls asendens aspesifik itu dinamakan neuron pengemban kewaspadaan, sedangkan yang berasal dari formasio retikularis dan nuklei intralaminaris talami disebut neuron penggalak kewaspadaan. Gangguan pada kedua jenis neuron tersebut oleh sebab apapun akan menimbulkan gangguan kesadaran.4,5 hipoglikemia, diabetik ketoa-sidosis, uremia, gangguan he-par, hipokalsemia, hiponatre-mia. penyakit paru berat, kegagalan jantung berat, rat. anemia be- — toksik : keracunan CO, logam berat, obat, alkohol. B. Menurut mekanisme gangguan serta letak lesi : - gangguan kesadaran pada lesi supratentorial. — gangguan kesadaran pada lesi infratentorial. — gangguan difus (gangguan metabolik). Benyamin Chandral menggunakan istilah cemented yang me-rupakan huruf-huruf pertama penyebab gangguan kesadaran. = circulation (gangguan sirkulasi darah). = ensefalomeningitis. metabolisme (gangguan metabolisme). elektrolit and endokrin (gangguan elektrolit dan endok-rin) • neoplasma. trauma kapitis. • epilepsi drug intoxication. 16 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 PATOFISIOLOGI Lesi Supratentorial Pada lesi supratentorial, gangguan kesadaran akan terjadi baik oleh kerusakan langsung pada jaringan otak atau akibat penggeseran dan kompresi pada ARAS karena proses terse-but maupun oleh gangguan vaskularisasi dan edema yang di-akibatkannya. Proses ini menjalar secara radial dari lokasi lesi kemudian ke arah rostro-kaudal sepanjang batang otak.4'6 Gejala-gejala klinik akan timbul sesuai dengan perjalan pro-ses tersebut yang dimulai dengan gejala-gejala neurologik fokal sesuai dengan lokasi lesi. Jika keadaan bertambah berat dapat timbul sindroma diensefalon, sindroma mesei►sefalon bahkan sindroma ponto-meduler dan deserebrasi.2'4'6 Oleh kenaikan tekanan intrakranial dapat terjadi herniasi girus singuli di kolong falks serebri, herniasi transtentoril dan herniasi unkus lobus temporalis melalui insisura tentorii.4'6 Lesi infratentorial Pada lesi infratentorial, gangguan kesadaran dapat terjadi karena kerusakan ARAS baik oleh proses intrinsik pada batang otak maupun oleh proses ekstrinsik.2'6 Gangguan difus (gangguan metabolik) Pada penyakit metabolik, gangguan neurologik umumnya bilateral dan hampir selalu simetrik. Selain itu gejala neurolo-giknya tidak dapat dilokalisir pada suatu susunan anatomik tertentu pada susunan saraf pusat.2 Penyebab gangguan kesadaran pada golongan initerutama akibat kekurangan 02 , kekurangan glukosa, gangguan sirkulasi darah serta pengaruh berbagai macam toksin.6 Kekurangan 02 Otak yang normal memerlukan 3.3 cc 02/100 gr otak/menit yang disebut Cerebral Metabolic Rate for Oxygen (CMR 02). CMR 02 ini pada berbagai kondisi normal tidak banyak berubah. Hanya pada kejang-kejang CMR 02 meningkat dan jika timbul gangguan fungsi otak, CMR 02 menurun. Pada CMR 02 kurang dari 2.5 cc/100 gram otak/menit akan mulai terjadi gangguan mental dan umumnya bila kurang dari 2 cc 02/100 gram otak/menit terjadi koma.6 Glukosa Energi otak hanya diperoleh dari glukosa. Tiap 100 gram otak memerlukan 5.5 mgr glukosa/menit. Menurut Hinwich pada hipoglikemi, gangguan pertama terjadi pada serebrum dan kemudian progresif ke batang otak yang letaknya lebih kaudal. Menurut Arduini hipoglikemi menyebabkan depresi selektif pada susunan saraf pusat yang dimulai pada formasio reti-kularis dan kemudian menjalar ke bagian-bagian lain.6 Pada hipoglikemi, penurunan atau gangguan kesadaran merupakan gejala dini. Gangguan sirkulasi darah Untuk mencukupi keperluan 02 dan glukosa, aliran darah ke otak memegang peranan penting. Bila aliran darah ke otak berkurang, 02 dan glukosa darah juga akan berkurang. ETIOLOGI A. Menurut kausa : 1. 1. Kelainan otak —trauma —gangguan sirkulasi — radang — neoplasma — epilepsi 2. Kelainan sistemik — gangguan metabolis- : me dan elektrolit — hipoksia komosio, kontusio, laserasio, hematoma epidural, hematoma subdural. perdarahan intraserebral, in-fark otak oleh trombosis dan emboli. ensefalitis, meningitis. primer, metastatik. status epilepsi.
  • 17.
    Cermin Dania KedokteranNo. 34, 1984 17 Toksin Gangguan kesadaran dapat terjadi oleh toksin yang berasal dari penyakit metabolik dalam tubuh sendiri atau toksin yang berasal dari luar/akibat infeksi. KLINIK Kesadaran mempunyai 2 aspek yakni derajat kesadaran dan kualitas kesadaran. Derajat kesadaran atau tinggi rendahnya kesadaran mencerminkan tingkat kemampuan sadar seseorang dan merupakan manifestasi aktifitas fungsional ARAS terhadap stimulus somato-sensorik. Kualitas kesadaran atau isi kesadaran menunjukkan kemam-puan dalam mengenal diri sendiri dan sekitarnya yang merupa-kan fungsi hemisfer serebri.2 Perbedaan kedua aspek tersebut sangat penting sebab ada beberapa bentuk gangguan kesadaran yang derajat kesadarannya tidak terganggu tetapi kualitas kesadarannya berubah.3,4,5,7 Dalam klinik dikenal tingkat-tingkat kesadaran : kompos mentis, inkompos mentis (apati, delir, somnolen, sopor, koma) Kompos mentis : Keadaan waspada dan terjaga pada seseorang yang bereaksi sepenuhnya dan adekuat terhadap rangsang vi-suil, auditorik dan sensorik. Apati : sikap acuh tak acuh, tidak segera menjawab bila ditanya. Delir : kesadaran menurun disertai kekacauan mental dan mo-torik seperti desorientasi, iritatif, salah persepsi terhadap rangsang sensorik, sering timbul ilusi dan halusinasi. Somnolen : penderita mudah dibangunkan, dapat lereaksi se-cara motorik atau verbal yang layak tetapi setelah membe-rikan respons, ia terlena kembali bila rangsangan dihentikan. Sopor (stupor) : penderita hanya dapat dibangunkan dalam waktu singkat oleh rangsang nyeri yang hebat dan berulang-ulang. Koma : tidak ada sama sekali jawaban terhadap rangsang nyeri yang bagaimanapun hebatnya. PENENTUAN TINGKAT KESADARAN Batas antara berbagai derajat kesadaran tidak jelas. Untuk menentukan derajat gangguan kesadaran dapat digunakan: A. Glasgow Coma Scale = CGS8, yang pertama kali diperke-nalkan oleh Teasdale & Jennet dalam tahun 1974 dan banyak digunakan dalam klinik. B. Glasgow Pitsburgh Coma Scale = GPCS (modifikasi CGS)2 Pada GSC tingkat kesadaran dinilai menurut 3 aspek : 1. kemampuan membuka mata : EYE opening = E 2. aktifitas motorik : MOTOR response = M 3. kemampuan bicara : VERBAL response = V 1. Kemampuan membuka mata a. dapat membuka mata sendiri secara spontan : 4 b. dapat membuka mata atas perintah : 3 c. dapat membuka mata atas rangsang nyeri : 2 d. tak dapat membuka mata dengan rangsang : 1 nyeri apapun 2. Aktifitas motorik Dinilai anggota gerak yang memberikan reaksi paling baik dan tidak dinilai pada anggota gerak dengan fraktur/kelum-puhan. Biasanya dipilih lengan karena gerakannya lebih bervariasi daripada tungkai. a. mengikuti perintah : 6 b. adanya gerakan untuk menyingkirkan rang- : 5 sangan yang diberikan pada beberapa tempat c. gerakan fleksi cepat disertai dengan abduksi : 4 bahu d. fleksi lengan disertai aduksi bahu : 3 e. ekstensi lengan disertai aduksi : 2 f. tidak ada gerakan : 1 3. Kemampuan bicara Menunjukkan fungsi otak dengan integritas yang paling ting-gi. a. orientasi yang baik mengenai tempat, orang : 5 dan waktu b. dapat diajak bicara tetapi jawaban kacau : 4 c. mengeluarkan kata-kata yang tidak dimenger- : 3 ti d. tidak mengeluarkan kata, hanya bunyi : 2 e. tidak keluar suara : 1 tgl. jam kemampuan membuka mata E a. 4 b. 3 c. 2 d. 1 aktifitas motorik M a. 6 b. 5 c. 4 d. 3 e. 2 f. 1 Kemampuan bicara V a. 5 b. 4 c 3 d. 2 e. 1 -' - ~ i `J - --~ ~•--- E + M + V = 3 - 15 E + M + V : bergeser antara 3 dan 15. Teasdale & Jennet menemukan pada 700 kasus trauma kepala skor E+M+V se-bagai berikut : >9 tidak ada kasus koma, nilai 8 : 58% dengan koma dan <7 : koma 100%. Penilaian aspek kesadaran
  • 18.
    harus dilakukan tiaphari beberapa jam sekali yang dicatat pada tabel sehingga memberikan suatu grafik. Keuntungan sistem ini.7 • sangat sederhana dan tidak memerlukan alat khusus. • mudah dikerjakan oleh petugas kesehatan. • derajat dan lamanya kesadaran dapat diukur secara kuan-titatif. PEMERIKSAAN KLINIK Pemeriksaan klinik penting untuk etiologi dan letaknya proses patologik (hemisfer batang otak atau gangguan siste-mik). Pemeriksaan sistematis dilakukan sebagai berikut : Anamnesis — penyakit-penyakit yang diderita sebelumnya. — keluhan penderita sebelum terjadi gangguan kesadaran. — obat-obat diminum sebelumnya. — apakah gangguan kesadaran terjadi mendadak atau perla-han- lahan. Pemeriksaan fisik — tanda-tanda vital : nadi, pernapasan, tensi, suhu. — kulit : ikterus, sianosis, luka-luka karena trauma — toraks : paru-paru, jantung. — abdomen dan ekstremitas Pemeriksaan neurologis' '3,9 1. OBSERVASI UMUM . • gerakan primitif : gerakan menguap, menelan dan memba-sahi mulut. • posisi penderita : dekortikasi dan deserebrasi. 2. POLA PERNAPASAN : dapat membantu melokalisasi lesi dan kadang-kadang menentukan jenis gangguan. Cheyne-Stokes bPaeirkn.apasan makin lama makin dalam kemudian makin dangkal Hiperventilasi neurogen sentral pernapasan cepat dan dalam dengan frekuensi ± 25 per menit. Lokasi lesi pada tegmentum batang otak antara mesensefalon dan pons. j k y i Ai ) ( i, ;1111 , , i IiU~iv~4Y'~~'~rrr~ Ill Apnestik inspirasi yang memanjang diikuti apnoe dalam; ekspirasi de-ngan frekuensi 1 - 2/menit. Pola pernapasan ini dapat diikuti 18 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 Klaster ("Cluster breathing") respirasi yang berkelompok diikuti oleh apnoe. Ditemukan pa-da lesi pons. i i o t Ataksik pernapasan tidak teratur, baik dalamnya maupun iramanya. Lesi di medulla oblongata dan merupakan stadium preterminal. 3. KELAINAN PUPIL : Perlu diperhatikan besarnya pupil (normal, midriasis, miosis), bentuk pupil (isokor, anisokor), dan refleks. Midriasis dapat terjadi oleh stimulator simpatik (kokain, efedrin, adrenalin dan lain-lain), inhibitor parasimpatik (atropin, skopolamin dan lain-lain). Miosis dapat terjadi oleh stimulator parasimpatik dan inhibitor simpatik. Lesi pada mesensefalon menyebabkan dilatasi pupil yang tidak memberikan reaksi terhadap cahaya. Pupil yang masih bereaksi menunjukkan bahwa mesensefalon belum rusak. Pupil yang melebar unilateral dan tidak bereaksi berarti adanya tekanan pada saraf otak III yang mungkin dapat disebabkan oleh herniasi tentorial. 4. REFLEKS SEFALIK : Refleks-refleks mempunyai pusat pada batang otak. Dengan refleks ini dapat diketahui bagian mana batang otak yang terganggu misalnya refleks pupil (me-sensefalon), refleks kornea (pons), Doll's head manoeuvre ( pons), refleks okulo-auditorik (pons), refleks okulo-vestibuler = uji kalori (pons), gag reflex (medulla oblongata). 5. REAKSI TERHADAP RANGSANG NYERI : Penderita dengan kesadaran menurun dapat memberikan respons yang dapat dikategorikan sebagai berikut : a. sesuai (appropriate) Penderita mengetahui dimana stimulus nyeri dirasakan. Hal ini menunjukkan utuhnya sistem sensorik dalam arti sistem asendens spesifik. b. tidak sesuai (inappropriate) Dapat terlihat pada jawaban berupa rigiditas dekortikasi dan rigiditas deserebrasi. 6. FUNGSI TRAKTUS PIRAMIDALIS : Bila terdapat hemiparesis, dipikirkan ke suatu kerusakan strukturil. Ella traktus piramidalis tidak terganggu, dipikirkan gangguan metabolisme. 7. PEMERIKSAAN LABORATORIK : — darah : glukose, ureum, kreatinin, elektrolit dan fungsi hepar. — pungsi likuor untuk meningitis dan ensefalitis. — funduskopi mutlak dilakukan pada tiap kasus dengan kesa-daran menurun untuk melihat adanya edema papil dan tan-p
  • 19.
    Cermin Dania KedokteranNo. 34, 1984 19 da-tanda hipertensi. — dan lain-lain seperti EEG, eko-ensefalografi, CT-scan dila-kukan bila perlu. PENANGGULANGAN Harus dilakukan cepat dan tepat. Gangguan yang berlang-sung lama dapat menyebabkan kerusakan yang ireversibel bahkan kematian. Terapi bertujuan mempertahankan homeos-tasis otak agar fungsi dan kehidupan neuron dapat terjamin. Terapi umum : 1. resusitasi kardio-pulmonal-serebral meliputi : a. memperbaiki jalan napas berupa pembersihan jalan napas, sniffing position, artificial airway, endotracheal inlubation, tracheotomy. b. pernapasan buatan dikerjakan setelah jalan napas sudah bebas berupa : — pernapasan mulut ke mulut/hidung. — pernapasan dengan balon ke masker. — pernapasan dengan mesin pernapasan otomatis. c. peredarah darah Bila peredaran darah terhenti, diberikan bantuan sirkulasi berupa : — kompresi jantung dari luar dengan tangan. — kompresi jantung dari luar dengan alat. d. obat-obatan Dalam keadaan darurat dianjurkan pemberian obat secara intravena, seperti epinefrin, bikarbonas, deksametason, glukonas kalsikus dan lain-lain. e. elektrokardiogram dilakukan untuk membuat diagnosis apakah terhentinya peredaran darah karena asistol, fib-rilasi ventrikel atau kolaps kardiovaskuler. f. resusitasi otak tidak banyak berbeda dengan orang dewasa, bertujuan untuk melindungi otak dari kerusakan lebih lanjut. g. intensive care 2. anti konvulsan bila kejang. Terapi kausal : segera dilakukan setelah diagnosis ditegakkan. RINGKASAN Untuk mempertahankan fungsi kesadaran yang baik, perlu interaksi yang konstan dan efektif antara hemisfer serebri dan formasio retikularis di batang otak. Penyebab gangguan kesadaran ialah multi faktorial dengan proses patologis yang berlokasi supratentorial, infratentorial ataupun difus dalam susunan saraf pusat. Pada lesi supratentorial dan infratentorial, gangguan kesa-daran terjadi karena kerusakan pada "ARAS" sedangkan gang-guan difus oleh kekurangan 02, kekurangan glukosa, gangguan peredaran darah serta pengaruh toksin. Kesadaran meliputi dua aspek yakni derajat kesadaran dan kualitas kesadaran. Tingkat kesadaran dapat berupa kompos mentis, apati, delir, sopor dan koma. Untuk menentukan derajat gangguan kesadaran sehari-hari dalam klinik dapat digunakan Glasgow Coma Scale yang menilai kesadaran menurut 3 aspek yaitu kemampuan membu-ka mata, aktifitas motorik dan kemampuan bicara. Pemeriksaan klinik dan neurologik secara sistematis perlu untuk dapat mengetahui etiologi dan letaknya proses patologik penyebab gangguan kesadaran. Penanggulangan gangguan kesadaran harus dilakukan cepat dan tepat untuk menghindari terjadinya kematian dan kerusakan otak yang lebih berat. KEPUSTAKAAN 1. Chandra B. Diagnostik dan penanggulangan penderita dalam koma Cermin Dunia Kedokteran, nomor khusus, 1979; 95 - 100. 2. Yusuf Misbach. Penatalaksanaan umum penderita koma. Media Aesculapius 30 September 1983. 3. Bannister R. Consciousness and Unconciousness. Brain's clinical Neurology 5th ed. Oxford : The English Book Society Oxford University Press, 1978; pp 150 - 160. 4. Mahar Mardjono dan Priguna Sidharta. Kesadaran dan fungsi luhur. Neurologi klinis Dasar, cetakan 3 PT Dian Rakyat, Jakarta 1978; hal. 184 - 200. 5. Priguna Sidharta. Penilaian derajat dan kualitas kesadaran. Tata Pemeriksaan Dalam Neurologi, cetakan 1 PT Dian Rakyat, Jakarta 1980; bal. 500 - 512. 6. Rizal T. Rumawas. Patologi dan patofisiologi gangguan kesadaran. Simposium Koma, Jakarta 3 September 1983; hal 1 - 13. 7. Andrari S. Penilaian tingkat gangguan kesadaran dengan Glasgow Coma Scale Simposium Koma, Jakarta 3 September 1983; hal 71-77. 8. Teasdale G and Jennet B. Assessment of coma and impaired cons-ciousness Lancet 1974; 2 : 81 - 83. 9. Pedoman Praktis Pemeriksaan Neurologi FK UI. Jakarta 1978; hal. 39 - 40. 10. Kasim YA. Cardio-Pulmonal-Cerebral-Resuscitation pada anak. Critical Care Pediatrics Berita Klink 1980; 6 : 17 - 41. 11. Lumbantobing SM. Koma. Kedaruratan dan kegawatan medik. FK UI, Jakarta 1981; hal. 55 - 61.
  • 20.
    Beberapa Obat YangDigunakan Pada Insufisiensi Serebral dan Demensia dr. Sardjono O. Santoso dan dr. Santoso Wibowo Bagian Farmakologi dan Bagian Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia PENDAHULUAN Otak merupakan organ penting bagi manusia, karena otaklah yang membedakan manusia dengan mahluk-mahluk Tuhan lain yang hidup di dunia ini. Meskipun besarnya kalah dibandingkan dengan otak gajah atau kerbau misalnya, tetapi otak manusia jauh lebih unggul. Walaupun ukuran otak relatif kecil dibandingkan dengan ukuran tubuh manusia secara keseluruhan, otak menerima darah yang cukup banyak yakni 750 ml per menit atau 15 persen dari seluruh curah jantung dalam keadaan istirahat. Aliran darah yang menuju ke jaringan otak adalah 50 - 55 ml per 100 grarn otak per menit.l Jumlah darah yang mengalir ini relatif tidak mengalami variasi yang begitu besar walau dalam keadaan yang ekstrim sekalipun. Ini disebabkan terdapatnya mekanisme khusus yang mengatur tetapnya aliran darah ke otak. Tentu saja terdapat kekecualian yakni bila terdapat karbondioksida yang berlebihan dalam otak atau otak mengalami kekurangan oksigen yang berat. Pada usia lanjut, fungsi-fungsi sentral menurun, sehingga antara lain terjadi penurunan proses belajar dan berpikir, aktivitas seksual, kebutuhan tidur, motivasi dan aktivitas pada umumnya. Dalam proses menua yang berjalan normal, massa otak pada usia 70 tahun menurun sampai 10 - 15%. Belum jelas apakah terjadi penurunan jumlah sel atau terjadi suatu "pengerutan". Pada kira-kira 10% manusia yang berumur 60 - 70 tahun, terjadi penurunan massa otak sampai lebih dari 30% dan terdapat 3 golongan yaitu : 1. Demensia senilis/presenilis dari type Alzheimer dengan atrofi primer berupa degenerasi atau penurunan jumlah sel dari otak besar. 2. Demensia multiinfark dengan kausa vaskuler sebagai akibat suatu arterioklerosis serebral. 3. Bentuk-bentuk lain terutama karena kausa ekstrakranial.2 Dengan sendirinya suatu terapi farmakologik hanya bisa berhasil bila terdapat suatu gangguan fungsional pada SSP. 20 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 Perubahan-perubahan fisiologik dan patologik pada proses menua sangat kompleks, dan bisa menyebabkan gangguan afek-tif serta intelektual. ANATOMI - FISIOLOGI ALIRAN DARAH OTAK Aliran darah yang menuju otak berasal dari dua buah arteri karotis dan sebagian berasal dari arteri vertebralis. Kedua arteri vertebralis bergabung membentuk arteri basilaris otak belakang dan arteri ini berhubungan dengan kedua arteri karotis interna yang juga berhubungan satu dengan lainnya membentuk suatu sirkulus Willisi. Dengan demikian terjadilah jalinan kolateral yang cukup besar pada arteri-arteri besar yang mengurus jaringan otak. Adanya kolateral yang besar ini, maka pada orang muda kedua arteri karotis biasanya dapat disumbat tanpa menimbulkan efek yang merugikan fungsi serebral. Sedangkan pada orang tua, arteri besar pada dasar otak sering mengalami sklerosis dan menyumbat arteri karotis, sehingga penyediaan darah ke otak berkurang sedemikian rupa sampai terjadi gangguan fungsi serebral.3 Terdapat beberapa hal yang mengatur aliran darah otak, yakni 1. Pengaturan metabolisme Bila metabolisme neuronal meningkat, produk CO2 akan me-ningkat, sedangkan pH ekstra seluler akan menurun sehingga terjadi vasodilatasi serebral yang menyebabkan peningkatan aliran darah. 2. Autoregulasi serebral Pengaturan ini merupakan kapasitas bawaan pembuluh darah untuk mempertahankan aliran darah otak. Pembuluh darah otak menyesuaikan lumennya pada ruang lingkupnya sedemikian rupa, sehingga aliran darah menetap, walaupun tekanan perfusi berubah. Pengaturan diameter lumen ini di sebut autoregulasi. Walaupun teori ini cukup menarik, tetapi terdapat bukti-bukti yang menunjukkan pengaruh faktor neurogenik pada autoregulasi ini.
  • 21.
    Cermin Dania KedokteranNo. 34, 1984 21 3. Pengaturan neurogenik Peran faktor neurogenik telah dibuktikan yakni berupa pengawasan susunan saraf otonom yang terletak di batang otak dan diensefalon, serta inervasi alfa dan beta adrenergik dan kolinergik. Adrenergik alfa bersifat vasokonstriktif, sedangkan adrenergik beta dan kolinergik mengakibatkan vasodilatasi. Peningkatan aliran darah hemisferik dapat disebabkan oleh perangsangan formasio retikularis. Agaknya hal ini diakibatkan oleh peran faktor neurogenik dan akibat meningkatnya metabolisme otak. PATOFISIOLOGI INSUFISIENSI SEREBRAL DAN DEMEN SIA Insufisiensi serebral merupakan salah satu jenis penyakit serebrovaskuler yang banyak dijumpai terutama pada usia lanjut. Proses patologik yang terjadi yaitu iskemia otak, yakni aliran darah ke suatu bagian otak berkurang sehingga menimbulkan manifestasi klinik berupa gangguan fungsi serebral. Tergantung dari bagian otak yang mengalami iskemia maka gangguan fungsi serebral dapat berupa : tinitus, vertigo, gangguan berfikir, dan sebagainya. Terjadinya insufisiensi serebral dan gangguan metabolisme otak saling berkaitan. Kelainan yang satu dapat menyebabkan atau memperberat kelainan yang lain. Oleh karena itu, kadang-kadang obat-obat yang digunakan atau dinyatakan bermanfaat pada insufisiensi serebral dapat pula digunakan untuk meningkatkan atau memperbaiki metabolisme otak. Pada usia lanjut terjadi penurunan katekolamin terutama fungsi-fungsi dopamin pada berbagai daerah otak, sehingga bisa terjadi suatu ketidak-seimbangan antara dopamin dan asetikolin atau lebih baik disebut antara dopamin dan GABA. Dilain fihak juga terjadi penurunan dari sistem kolinergik yaitu asetilkolin, asetikolinesterase dan asetilkolinetransferase, dimana antara lain telah diperiksa bahwa pada usia 50 tahun terjadi penurunan 40 - 60% dari asetilkolintransferase dibanding dengan pada umur 20 tahun. Pada proses berpikir, maka informasi didapat lalu disimpan (teoritis disimpan sampai mati), sehingga seharusnya informasi tersebut setiap waktu dapat dipanggil (diingat) kembali. • Penyimpanan (Storage. ) mula-mula terjadi pada proses pemikiran jangka pendek (PPJP) (KZG = Kurzzeitgedacht-nis) yang lamanya beberapa detik sampai menit, mungkin juga beberapa hari, kemudian disimpan dalam : • Proses Pemikiran Jangka Panjang (PPJPa) (LZG = Lang-zeitgedachtnis) dimana isi pikiran dikonsolidasi. Ada pendapat bahwa sebelum PPJP terdapat suatu Fase Inisial yang pendek dan antara PPJP dan PPJPa juga terdapat suatu Fase Peralihan. Mekanisme fase pertama (PPJP) agaknya terjadi dalam neuron-neuron pertama sedangkan pada fase kedua (PPJPa), terjadi sintesis protein yang diperkuat atau diubah sebagai akibat suatu peninggian RNA. Yang masih belum jelas ialah apakah dalam fase kedua (PPJPa) ini : — isi pikiran disimpan di dalam kode/file berupa sekuens asam amino atau : — apakah karena perubahan morfologik terjadi proses transmisi pada berbagai sinaps yang lebih efisien. Adalah suatu kenyataan bahwa tiap-tiap fase proses berpikir dapat dipengaruhi secara farmakologik. Beberapa contoh : Fase Inisial dan mungkin juga PPJP dapat dipengaruhi antara lain oleh renjatan listrik (Elektroshock) dan Narkosis. Skopolamin menghambat konsolidasi atau pemindahan isi pikiran dari PPJP ke PPJPa dan efek ini dapat dihilangkan dengan Fisostigmin : juga Benzodiazepin agaknya mem-punyai efek yang sama. Zat-zat yang dengan suatu cara tertentu mempengaruhi mekanisme transmisi dalam sinaps terutama bekerja pada PPJP, tetapi juga ada pengaruh pada PPJPa, sedangkan zat-zat yang mempengaruhi sintesis protein (seperti Puro-misin, Sikloheksimid, dan Anisomisin) terutama hanya mempengaruhi PPJP dalam arti suatu amnesia retrograd. Efek zat-zat tersebut pada proses berpikir tidak hanya tergantung dari dosis tapi juga dari waktu kapan diberikan. Anatomi lokalisasi proses berpikir belum jelas benar tetapi umumnya dianggap terdapat suatu kerjasama antara diense-falon, hipokampus dan struktur-struktur fungsi limbik yang lain. Secara eksperimental zat-zat yang mempengaruhi proses berpikir dinilai dari kerjanya zat-zat tersebut pada proses belajar. Idealnya ialah bila bisa dibuktikan bahwa dengan pengaruh suatu zat terjadi suatu reaksi tertentu yang lebih cepat dengan kesalahan yang lebih sedikit dan dapat dikerjakan terus menerus dalam waktu yang lebih lama. OBAT-OBAT YANG DIGUNAKAN UNTUK GANGGUAN FUNGSI SEREBRAL Gangguan fungsi serebral dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab. Obat-obat yang dibicarakan di sini adalah untuk gangguan fungsi akibat insufisiensi serebral dan menurunnya metabolisme otak. Manfaat obat-obat ini untuk menanggulangi gangguan fungsi serebral masih belum mantap, karena data yang tersedia umumnya pada hewan percobaan sedangkan data uji klinik pada manusia belum meyakinkan. Selain itu, parameter perbaikan fungsi serebral sukar diukur dengan pasti dan di-perlukan waktu yang lama dan dana yang besar untuk menilai manfaat penggunaan obat-obat ini. Penggolongan obat berdasarkan cara kerjanya : 1. Zat-zat dengan kerja utama pada peredaran darah serebral — vasodilator misalnya Naftidrofuril, xantinolnikotinat. — antikoagulan, plasmaekspander, penghambat agregasi. 2. Zat-zat dengan kerja utama pada sel saraf — zat yang mempengaruhi transmisi sinaps misalnya L-DOPA dan zat-zat sejenis DOPA (lergotril, Amfetamin); Inhibitor MAO; Fisostigmin. — Psikostimulan dan Analeptik sentral seperti Pemolin, Di-metilantinoetanol, Fenkamfamin, Meklofenoksat.
  • 22.
    — zat-zat yangmempengaruhi sintesis protein misalnya asam orotik. — Lain-lain misalnya Piritinol, Pirasetam, Kavain dan Prokain. Seringkali terjadi tumpang tindih dalam penggolongan di atas misalnya Amfetamin yang merupakan zat sejenis DOPA juga adalah suatu Psikostimulan. Penggolongan obat berdasarkan struktur kimianya : — Alkaloid misalnya Dihidroergotoksin, Papaverin, derivat-derivat vitamin. — Xanthin : Pentifilin, Pentoksifilin, Xantinol. — Piperazin : Cinarizin, Flunarizin, Piribedil. — Derivat asam Fenoksiasetat : Fenoksedil, Feksikain, Meklo-fenoksat. — Feniletanolamin : Isoksuprin, Nilidrin, Oksifedrin, Tinofedrin. — Lain-lain : Bensiklan, Betahistin, Siklandelat, Naftidrofuril, Pirasetam, Piritinol. Pada usia lanjut, maka prestasi serebral bisa menurun karena gangguan peredaran darah dan atau berkurangnya fungsi sel-sel saraf, sehingga bisa dibenarkan untuk memberikan obat-obat tersebut di atas. Tidak boleh dilupakan bahwa perbaikan selain oleh pengaruh obat bisa juga disebabkan oleh efek plasebo dan perbaikan yang spontan. Walaupun efek zat-zat tersebut masih sering dianggap kontroversial, akan tetapi pemikiran yang ingin dicapai antara lain ialah : • perbaikan utilisasi/pemakaian 02 dan glukosa oleh SSP • peningkatan resistensi jaringan otak terhadap hipoksia • peningkatan sintesis protein • perbaikan sirkulasi serebral • perbaikan prestasi dalam proses belajar dan berpikir. Obat-obat ini diindikasikan pada penurunan prestasi serebral yang disebabkan oleh berbagai kausa baik vaskuler maupun non-vaskuler. Obat-obat untuk insufisiensi serebral Golongan obat ini terutama diindikasikan untuk kelainan fungsi serebral yang diduga akibat gangguan penyediaan darah, atau berkurangnya aliran darah ke jaringan otak. 1. Heksobendin Heksobendin (N, N-bis (3- (3,4,5-trimetoksi)-propil)-etilen-- diamindihidroklorid merupakan vasodilator kuat yang dapat meningkatkan aliran darah otak (cerebral blood flow) dan pasien iskemia serebral dan infark, baik pada daerah iskemik maupun pada daerah yang normal, tanpa adanya efeksteal4,5. Aliran darah otak total dan regional ini diukur dengan metode penyuntikan Xenon 133 intra karotis.6 Heksobendin diberikan intravena dan 30 menit kemudian dilakukan pengukuran aliran darah otak. Selama penyelidikan ini diukur juga tekanan darah sistemik dan diambil contoh darah arteri dan vena jugularis untuk pemeriksaan pCO2 dan pO2. Terlihat peningkatan aliran darah otak sebanyak 15%, dengan penurunan resistensi vaskuler intra serebral yang menetap untuk 35 menit.7 Pemberian heksobendin secara oral juga meningkatkan aliran darah otak. 22 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 Infra cerebral steal dapat terjadi pada pemberian CO2 kon-sentrasi tinggi, sehingga berdasarkan teori ini dibuatlah postulat bahwa pengobatan dengan vasodilator tidak efektif bahkan berbahaya pada pasien dengan infark akut. Tetapi penelitian lain pada anjing menunjukkan peningkatan aliran darah otak pada pemberian inhalasi campuran CO2 5% dalam 02, yakni konsentrasi yang sama seperti yang dianjurkan pada pemberian inhalasi intermiten pada manusia.a Peningkatan cerebral blood flow ini terjadi melalui sirkulasi kolateral ke daerah yang iskemik. Pemberian heksobendin intravena meningkatkan aliran darah hemisferik pada daerah infark dengan sedikit atau tanpa penurunan tekanan darah sistemik.9 Heksobendin juga tidak mempengaruhi metabolisme otak. 2. Gabungan heksobendin, etamivan dan etofilin (Instenon) Etamivan merupakan perangsang susunan saraf pusat, yang tempat kerjanya diduga di substansia retikularis pada pusat pernafasan dan sirkulasi. Pemberian etamivan saja ternyata tidak memberikan perubahan yang berarti pada aliran darah.6 Etifilin meningkatkan aliran darah koroner, mempunyai efek inotropik positif terhadap jantung serta mempunyai efek diuretik yang mengurangi edema serebri serta memperbaiki metabolisme jaringan otak. Etofilin meningkatkan aliran darah pada daerah iskemik, sedangkan pada daerah normal perubahan hanya sedikit atau hampir tidak ada.6 Gabungan dari ke tiga preparat ini rupa-rupanya mempunyai efek sinergistik yakni meningkatnya aliran darah otak secara nyata. Penggunaan baik heksobendin maupun gabungan tiga preparat ini cukup popular di Eropa, tetapi di Amerika Serikat penggunaannya masih terbatas pada keperluan penelitian.5,9 Di Indonesia penggunaan obat ini masih dalam taraf permulaan dan belum pernah ada uji klinik atau publikasi mengenai penggunaan obat ini. 3. Bensiklan Obat ini merupakan suatu sikloalkano eter yang menyebab-kan vasodilatasi dengan jalan relaksasi otot-otot pembuluh da-rah tanpa adanya perubahan pada transmitor adrenergik di daerah inervasi adrenergik. Dengan demikian maka terjadi vasodilatasi yang lebih banyak pada jaringan kolateral yang tadinya tidak berfungsi disekitar daerah yang iskemik, dan alir-an darah mikrosirkuler juga meningkat. Oleh karena terjadi peningkatan aliran darah di daerah iskemik yang lebih besar (40%) daripada di daerah lain (20%) maka tidak terjadi suatu steal syndrome. Obat ini meninggikan jumlah glukosa di otak, menimbulkan toleransi pada keadaan anoksia serta meningkatkan akumulasi glukosa dan kinin. Dengan demikian metabolisme otak disti-mulasi, dan terjadi suatu perubahan mekanisme transpor glu-kosa dan substrat yang lain pada sawar darah otak dengan jalan meningkatkan permeabilitas sawar darah otak.l0 Selain itu terjadi pengurangan tendensi aglutinasi platelet. Sesuai dengan cara kerjanya, maka obat ini terutama bermanfaat bila terdapat suatu insufisiensi sirkulasi otak. Dengan dosis 300-600 mg/hari selama 8 minggu, terlihat perbaikan dalam kriteria obyektif maupun subyektif pada gangguan sirkulasi serebral11
  • 23.
    Cermin Dania KedokteranNo. 34, 1984 23 4. Co-dergokrin mesilat Obat ini terdiri dari dihidroergokornin mesilat, dihidroergo-kristin mesilat dan dihidroergokriptin mesilat dalam jumlah yang sama banyaknya. Khasiat campuran komponen-komponen ini antara lain adalah : reaktivasi neurotransmisi sentral dengan cara yang menye-rupai dopamin dan serotonin, yaitu stimulasi reseptor-reseptor post sinaptik menggantikan sebagian dari defisiensi neurotransmitor akibat proses menua dan menggunakannya secara lebih efisein sebagai suatu agonis dopamin dan serotonin maka obat ini memulihkan fungsi serebral sehingga diharapkan terjadi kemajuan-kemajuan gejala demensia. Obat ini meningkatkan aliran darah serebral (CBF) dan kon-sumsi oksigen, juga terjadi aktivasi suksinik oksidase (MAO), dan melakukan inhibisi ATP-ase, adenil siklase dan fosfodies-terase sehingga mengkonservasi konsumsi ATP.12 Dosis yang dianjurkan adalah 3 - 6 mg/hari dan perbaikan gejala diharapkan dalam 3 - 4 minggu, sehingga dianjurkan pemakaian dalam jangka waktu lama. 5. Pentoksifilin Obat ini merupakan suatu derivat Xantin yang mempunyai mekanisme sebagai berikut : menghambat agregasi platelet dan eritrosit, memperbaiki deformabilitas eritrosit serta mengurangi viskositas darah, sehingga terjadi peningkatan aliran darah otak memperbaiki utilisasi Oksigen dan glukosa otak memperbaiki permeabilitas dinding sel serta fungsi sel otak sehingga edema serebri berkurang.13 Dari mekanisme kerja obat ini maka dapat dimengerti bahwa obat ini terutama diindikasikan pada keadaan-keadaan di mana terdapat insufisiensi aliran darah otak. Dosis yang dianjurkan berkisar antara 300 - 1200 mg/hari selama 8 minggu.13-15 Obat-obat yang meningkatkan atau memperbaiki metabolis-me otak Golongan obat ini diindikasikan untuk kelainan fungsi se-rebral yang terutama diduga akibat menurun atau terganggunya metabolisme otak. 1. Pirasetam Obat ini adalah suatu derivat siklik gamma amino-butyric acid (GABA), tetapi tidak mempunyai sifat-sifat GABA.16 Obat ini disebut suatu Nootropik yang berarti : a. tidak mempunyai vasoaktivitas yang langsung, yakni tidak menyebabkan vasodilatasi atau vasokonstriksi, tidak mem-pengaruhi aliran darah serebral total (total CBF) dan tidak menyebabkan suatu steal phenomenon. b. tidak menyebabkan perubahan pada aktivitas dasar EEG. Obat ini tidak mengubah ritme dasar EEG, tetapi menurunkan jumlah gelombang-gelombang delta. c. melewati sawar darah otak (blood brain barrier) dalam ke-adaan normal maupun patologik d. mempunyai efek samping yang minimal e. tidak mempengaruhi sistem kardiovaskuler maupun per-napasan. 12 Mekanisme kerja obat ini adalah sebagai berikut : aktivasi metabolik peredaran darah otak meningkatkan kecepatan metabolik serebral oksigen dan glukosa regional menormalkan aliran darah ke daerah iskemik, bukan dengan suatu aktivitas langsung tetapi sekunder menurunkan rasio laktat/piruvat Dosis yang dianjurkan ialah 2,4 - 4,8 g/hari, selama 6 - 12 minggu.16-18 Status obat ini masih dimintakan persetujuan kepada FDA (Food Drug Administration). 2. Piritinol Suatu derivat B6 (piridoksin), yang termasuk juga golongan Nootropik, menyebabkan peningkatan aliran darah otak secara selektif terutama ke substansia grisea. Pada penyelidikan ditemukan peningkatan aliran darah sebanyak 12% ke substan-sia grisea dan 4% ke substansia alba di daerah-daerah yang mempunyai sirkulasi patologik. Peningkatan aliran darah ini merupakan akibat sekunder dari peningkatan metabolisme.19 Dengan pemberian obat ini, konsumsi glukosa oleh otak dinor-malkan kembali.20 Piritinol juga menurunkan permeabilitas sawar darah otak terhadap fosfat, menurunkan kadar GABA dan GABA-transaminase dan meningkatkan RNA residual dan RNA ribosomal.12 Aktivasi umum yang disebabkan obat ini diperkirakan karena pengaruhnya terhadap membran fosfolipid eritrosit, di tempat mana terjadi peningkatan pengaturan molekul-molekul pada lapisan ganda fosfolipid.21 Dosis yang dianjurkan ialah 600 - 800 mg/hari dan efeknya baru terlihat setelah 3 minggu dan jelas bermakna terhadap plasebo setelah 6 - 9 minggu.22 Beberapa penyelidik menge-mukakan, bahwa dengan dosis 600 mg/hari atau lebih selama 2 - 4 bulan jelas memberikan hasil yang lebih baik daripada dengan dosis rendah atau plasebo pada organic brain syndrome termasuk demensia.22-24 Manfaat obat ini terutama pada pasien dengan gangguan serebral yang berhubungan dengan gangguan metabolisme glukosa.25 Walaupun demikian perlu dilakukan penelitian uji klinik yang lebih luas dengan rancangan yang lebih baik untuk memastikan manfaat obat ini. KESIMPULAN Telah dibicarakan beberapa obat yang lazim dipakai pada kelainan insufisiensi serebral dan demensia. Walaupun efek obat-obat tersebut masih sering dianggap kontroversial dan perlu diadakan penelitian uji klinik yang luas dengan rancangan penelitian yang mantap untuk dapat menilai manfaat obat-obat ini secara tuntas, namun agaknya persoalannya mempunyai titik awal pada penentuan jenis kausanya terlebih dulu. Dengan mengingat penggolongan obat berdasarkan cara kerjanya, maka obat-obat yang kerja utamanya pada sel saraf atau meningkatkan metabolisme sel-sel saraf dapat diberikan pada keadaan-keadaan degeneratif. Sedangkan obat-obat yang kerja utamanya pada peredaran darah serebral, dapat di berikan pada keadaan insufisiensi serebral. Disamping itu perlu
  • 24.
    diperhatikan pengobatan penyakityang mendasari kelainan serebral yang merupakan kausa ekstrakranial. Dengan demikian maka terapi farmakologik diharapkan da-pat memberikan manfaat yang optimal. KEPUSTAKAAN 1. Guyton AC. Blood flow through special areas of the body. Text book of medical Physiology, 4th. edition, WB Saunders Co, 1971; p. 367. 2. Stumpf C. Pharmaka and Mirnleistung, in Neuropharmakologie, Springer Verlag, Wien New York, 1983; pp 157 - 163. 3. Rasyad RS. Efek gabungan Hexobendin, Etamivan dan Etofilin pada penderita CVD, makalah Joint-session Neuropharmacology, Agustus, 1982. 4. Marshall J. The management of cerebrovascular disease, 3rd ed. Oxford: Blackwell Scientific Publications, 1976; 1 - 60. 5. Meyer JS. Modern concepts of cerebrovascular disease, Spectrum publications, New York, 1975. 6. Meiss, WD. Drug effects on regional cerebral blood flow in focal cerebrovascular disease, Journal of the Neurological Science, 1973, 19 : 461 - 482. 7. Meyer JS et al. Effects of hexobendine on cerebral hemispheric blood flow and metabolism. Neurology 1971; 121. 7 : 691 - 702. 8. Kraupp D et al. The effect of Hexobendine on cerebral blood flow and metabolism, Arzneim-Forsch, 1969; 19 : 1691 - 1698. 9. McHenry L et al. Regional cerebral blood flow and cardiovascular effect of hexobendine in stroke patiens, Neurology, vol. 22, 1972; 3 : 2 1 3 : 2 1 7 - 2 2 3 . 10. Hapke HJ. The effect of Fludilat on the Blood Brain Barrier, The-rapie Woche, English Edition 24. Nr 25, 17; 1974. 11. Bartles H & Schneider B. Investigation of the pharmacodynamic action of Fludilat in the .treatment of cerebrovascular insuffi-ciency, Med. Welt 1978; 29 : 1056 - 1060. 12. Skondia V. Criteria for Clinical Development and Classification of Nootropic Drugs. International Symposium on Nootropic Drugs, Rio de Janeiro, 1979; pp 7 - 20. 13. Muller R & Lehrach F. Haemorheology and Cerebrovascular Di-sease : Multifunctional approach with Pentoxifylline, Curr Med Res Opin Vol 7 : No. 4, 1981. 14. Buckert D & Harwart D. Trials of BL 191 in double blind test, II Farmaco, 1976;5, 31. 15. Takamatsu S, Sato K, Takamatsu M, Sakuta S & Mizuno S. Cha-nges in haematological and blood chemical parameters after treat-ment of aged arteriosclerotic patients with Pentoxifylline, Phar-matherapeutica, Vol. 2, No. 3, 1979. 16. Chouinard G, Annable L, Olivier M, Fontaine F & Ross Chouinard A. Psychotropic and Neurophysiologic effects of Piracetam in Geratric Psychiatr Patients. a controlled study. preliminary report. International Symposium on Nootropic Drugs, Rio de Janeiro, 1979; pp 23 - 30. 17. Castellanos V & Suarez MV. The use of Piracetam in the Psycho- Organic Syndrome of Senility. International Symposium on Nootropic Drugs, Rio de Janeiro, 1979; pp 49 - 60. 18. Mendivil MAC. Clinical work in Patients with a Psyeho-Organic Syndrome of Senility using the Drug Piracetam. International Symposium on Nootropic Drugs, Rio de Janeiro, 1979; pp 31 - 48. 19. Herrschaft H. Die Wirkung von Pyritinol ouf die Gehirndurchblu-tung des Menschen,.Munchen Medizinische Wochenschrift, 60, 1978. 20. Becker K & Hoyer S. Hirnstoffwechseluntersuchungen unter der Behandlung mit Pyrithioxin, Deutsche Zeitschrift fur Nervenheil-kunde, p1966; pp 188 - 200. 21. Martin KJ. On the Mechanism of Action of Encephabol, J. int. Med. Res, Vol. 2. no. 2, 1983. 22. Hamouz W. The use of Pyritinol in patients with moderate to se-vere organic psychosyndrome, Pharmatherapeutica, Vol. 1 No. 6, 1977. 23. Cooper AJ & Magnus RV. A placebo-controlled study of Pyritinol in Dementia, Pharmatherapeutica, Vol 2, No. 5, 1980. 24. Glatzel J. Dose-Effect Relationship of Drally Administered Pyriti-nol in the Chronic Brain Syndrome, Med. Klinik, 1978; 73. 1117- 1121. 25. Hoyer S, Oesterreich K & Stoll KD. Effects of Pyritinol HCL on blood flow and oxidative metabolism of the brain in patients with Dementia, Arzneim Forsch 1977; 27, 671. 26. Kohimeyer K. The effect of Bencyclane on the General and Re-gional Blood supply of the brain. Investigation with the Xenon 133 clearance method. Herz/Kreislauf 4. Nr. 5, 1972; 196 - 203. 9A RAH 24 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
  • 25.
    Penanggulangan Bencana PeredaranDarah di Otak Dr. Sahala Maringan Lumban Tobing Bagian Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 25 PENDAHULUAN Bencana peredaran darah di otak (BPDD) sering dikenal dengan kata stroke atau cerebrovascular accident, merupakan penyebab invaliditas yang paling sering pada golongan umur di atas 45 tahun Di negara industri BPDD merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan keganasan Otak merupakan organ yang membutuhkan banyak oksigen dan glukosa Zat ini diperolehnya dari darah. Di otak hampir tidak ada cadangan oksigen, sehingga jaringan otak sangat bergantung kepada keadaan aliran darah setiap saat. Beberapa detik saja aliran darah terhenti maka fungsi otak akan ter-ganggu; bila aliran darah kesuatu daerah otak terhenti selama kira-kira 3 menit maka jaringan otak akan mati (infark). Gang-guan aliran darah di otak dapat diakibatkan oleh gangguan di pembuluh darah darah atau jantung atau gabungan ketiga faktor tersebut Adanya BPDD dapat dengan mudah diketahui, yaitu dari terjadinya defisit neurologik yang timbul secara mendadak misalnya lumpuh sebelah badan mendadak. Kita mengenal dua jenis stroke, yaitu : • Stroke non-hemoragik • Stroke hemoragik "Stroke" non-hemoragik Didapatkan penurunan aliran darah sampai di bawah titik kri-tis, sehingga terjadi gangguan fungsi pada sebagian jaringan otak Bila hal ini lebih berat dan berlangsung lebih lama dapat terjadi infark dan kematian. Berkurangnya aliran darah ke otak dapat disebabkan oleh berbagai hal : misalnya trombus, emboli yang menyumbat salah satu pembuluh darah, atau gagalnya pengaliran darah oleh sebab lain, misalnya kelainan jantung (fibrilasi, asistol). Stroke non-hemoragik lebih sering dijumpai daripada yang hemoragik. Diagnosis mudah ditegakkan, yaitu timbulnya defi-sit neurologik secara mendadak (misalnya hemiparesis), dan kesadaran penderita umumnya tidak menurun. Pada stroke yang ringan, iskemia berlangsung singkat, defisit neurologik dapat pulih sempurna. Bila pemulihan sempurna ini terjadi dalam jangka waktu 24 jam, ia dinamakan "serangan iskemia sepintas" (transient ischemic attack atau disingkat TIA). Bila pulih sempurna terjadi setelah waktu 24 jam, disebut defisit neurologik iskemia yang reversibel (reversible ischemic neurologic deficit atau disingkat RIND). Pada iskemia yang lebih berat atau berlangsung lama, terjadi defisit neurologik yang irreversibel, yang menetap, dan merupakan cacad. 'Stroke" hemoragik Stroke hemoragik terjadi karena salah satu pembuluh darah di otak (aneurisma, mikroaneurisma, kelainan pembuluh darah kongenital) pecah atau robek. Keadaan penderita stroke hemoragik umumnya lebih parah. Kesadaran umumnya menurun. Mereka berada dalam keadaan somnolen, sopor atau koma pada fase akut. PENANGGULANGAN "STROKE" • Perawatan umum — Memonitor, dan bila perlu memperbaiki fungsi pernafasan, tekanan darah dan jantung. — Mengusahakan keadaan metabolisme yang optimal, mem-perhatikan kebutuhan akan : cairan, kalori dan elektrolit. — Memperhatikan fungsi miksi dan defekasi. — Mencegah terjadinya dekubitus, pneumonia ortostatik. • Mendeteksi dan bila perlu mengobati faktor risiko : — Hipertensi — diabetes mellitus — kelainan jantung — hiperlipidemia, hiperkolesterolemia — obesitas — berhenti merokok • Memberikan pengobatan atau tindakan khusus. — antiedema
  • 26.
    — antiagregasi, antikoagulasi —antifibrinolisis —meningkatkan aliran darah dan metabolisme otak. • Tindakan bedah —Mengeluarkan hematoma (bila perlu) —Melakukan EC-IC shunt. • Melakukan rehabilitasi. • Mencegah berulangnya stroke. Hipertensi Sebagian terbesar penderita stroke adalah penderita hiper-tensi. Hipertensi adalah faktor risiko yang paling "kuat" bagi terjadinya stroke. Bila hipertensi diobati secara adekuat, maka jumlah penderita stroke dapat dikurangi. Pada fase akut kita harus hati-hati menurunkan tensi. Oleh karena keadaan iskemia, maka fungsi autoregulasi menjadi terganggu. Aliran darah di otak bergantung kepada tekanan perfusi (tekanan darah sistemik - tekanan venous). Bila tekanan diastole pada fase akut tidak melebihi 115 mm Hg tidak diberikan obat anti-hipertensi. Bila memberikan obat anti-hipertensi pada fase akut, harus dijaga agar turunnya tensi tidak terlalu banyak, cukup bila sudah mencapai 160/110 mm Hg. Bila fase akut sudah berlalu, maka pengobatan hipertensi adalah sebagai biasanya. Obat antiedema Edema di otak dapat mengakibatkan terganggunya aliran darah otak, terutama "mikrosirkulasi", dan dapat pula mengakibatkan herniasi jaringan otak yang berakibat fatal. Deksametason : Steroid adalah obat anti-inflamasi yang ampuh, yang juga dapat mengurangi sembab-otak, mungkin melalui pen-stabilan membran sel dan menncegah terjadinya edema intra dan ekstraselular. Deksametason merupakan steroid yang paling sering digunakan sebagai antiedema otak. Walaupun khasiatnya sudah dapat dibuktikan dalam mengobati edema otak pada keganasan (neoplasma) di otak, namun khasiatnya dalam mengobati edema oleh infark dan hemoragi di otak masih kontroversial. Deksametason dapat diberikan dalam dosis permulaan 10 mg intravena atau intramuskular, kemudian diikuti oleh 5 mg tiap 6 jam sampai selama satu minggu dan kemudian dihentikan secara bertahap (tapering off). Efek samping steroid cukup banyak, kita harus mempertim-bangkan untung-ruginya pada tiap kasus. Bila terdapat riwayat tukak lambung sebaiknya tidak diberikan ! Gliserol : Larutan hiperosmolar ini dapat menarik air dari otak, dengan demikian mengurangi edema otak. Dosis yang di-anjurkan per infus ialah larutan 10% diberikan sebanyak 24-30 tetes per menit, sampai jumlah 1 gram gliserol/kg berat ba-dan/ hari; Di klinik kami, untuk orang dewasa kami berikan 1 kolf 500 ml larutan 10% gliserol sehari yang diberikan dalam waktu kira-kira 6 jam (28 tetes/menit). Gliserol dapat pula diberikan per oral, dengan dosis 1,5 gram/kg berat badan sehari, dibagi dalam 4 kali pemberian. Laporan mengenai hasil pengobatan dengan gliserol masih kontroversial. 26 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 Obat anti-agregasi trombosit Trombosit mempunyai kemampuan untuk beragregasi dan dapat membentuk trombus atau tromboemboli. Diduga bahwa tromboemboli mempunyai peranan pada banyak kasus stroke. Untuk mencegah hal ini digunakan obat-obat anti-agregasi. Telah banyak dilakukan penyelidikan mengenai khasiat obat anti -agregasi untuk mencegah berulangnya stroke pada penderita TIA (transient ischemic attack) atau stroke ringan. Banyak laporan yang mengemukakan bahwa obat anti-agregasi seperti asetosal dapat mengurangi kambuhnya stroke pada penderita stroke ringan. Obat anti-agregasi yang dapat digunakan ialah : asetosal, dipiridamol, sulfinpirazon, pentoksifilin. Obat yang paling banyak diselidiki ialah asetosal. Dosis yang digunakan bermacam-macam, ada yang melakukan penyelidikan dengan dosis 2 x 650 mg sehari, ada dengan 2 x 500 mg sehari; 500 mg sehari 10 mg/kg berat badan sehari.1 Bahkan ada yang melaporkan bahwa Asetosal dengan dosis rendah mempunyai manfaat, yaitu 40 mg sehari.2 Lamanya pengobatan berkisar antara 2 sampai 5 tahun. Obat lainnya, yaitu dipiridamol, sulfinpirazon dan pentoksifilin masih kurang banyak diselidiki. Masih ditunggu hasil penyelidikan yang lebih luas. Hasil sementara melaporkan bahwa dipiridamol dan sulfinpi razone bila diberikan tersendiri tidak mempunyai khasiat, tetapi bila diberi bersama sama asetosal ada khasiatnya.3 Obat antifibrinolisis Beberapa penyelidikan telah dilakukan guna menilai manfaat obat antifibrinolisis dalam mencegah perdarahan-ulang pada penderita perdarahan subaraknoid. Hasilnya masih kontrover-sial. Obat yang digunakan ialah asam aminokaproat dan asam traneksamat. Meningkatkan aliran darah dan metabolisme otak Manfaat vasodilatansia dalam meningkatkan aliran darah di daerah iskemia belum dapat dibuktikan. Vasodilatansia yang pernah digunakan ialah : dioksida karbon, papaverin, hekso-bendin, betahistin dihidroergonovin, nilidrin, siklandelat. Pemberian oksigen juga tidak berguna, kecuali bila kadar ok-sigen arterial memang menurun. Vasopressor pernah dicoba untuk meningkatkan aliran darah ke daerah iskemia. Landasan teoritiknya ialah : autoregulasi di daerah iskemik terganggu, dengan demikian aliran darah bergantung kepada tekanan per-fusi, yaitu tekanan darah iskemia - tekanan vena. Meningkatkan tekanan darah akan meningkatkan tekanan perfusi. Penyelidikan mengenai hal ini belum cukup dilakukan, namun ada laporan yang mengemukakan hasil baik. hiperventilasi untuk mengurangi PaCO2 tidak bermanfaat dalam pengobatan stroke. PENUTUP Stroke atau bencana peredaran darah di otak dapat didefinisikan sebagai gangguan yang mendadak daripada suplai darah di otak, atau perdarahan setempat di otak. Walaupun didapatkan kemajuan yang pesat dalam bidang diagnostik serta pemahaman patofisiologi daripada stroke, namun dalam bi-
  • 27.
    Cermin Dania KedokteranNo. 34, 1984 27 dang pengobatan kemajuan sangat lambat. Bila stroke sudah terjadi infark atau perdarahan otak sudah terjadi maka penga-ruh pengobatan tidak banyak artinya. Oleh karena itu tujuan utama ialah pencegahan. Saat ini telah diketahui beberapa faktor yang menyebabkan seseorang lebih rentan terhadap stroke. Bila faktor risiko ini ditanggulangi dengan baik. ke-mungkinan mendapatkan stroke dapat dikurangi. KEPUSTAKAAN 1. Bousser MG Eschwege E, Haguenau M, Lefaucconnier, Thibult N, Toubould D, Touboul PJ. "AICLA" controlled trial of aspirin and dipyridamole in the secondary prevention of atherothrombotic ce-rebral ischemia. Stroke 1983;14: 5 - 14. 2. Weksler BB, Scherer P, Kent J, Rudolph D. Low dose aspirin effec-tively inhibits platelet function in patients with recent cerebral is-chemia. Stroke 1984; 15 : 183. 3. Yatsu FM. Acute medical therapy of strokes. Stroke 1982; 13 : 524- 526.
  • 28.
    Peranan Radiologik PadaKelainan Otak dr. Susworo Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta PENDAHULUAN Pemeriksaan radiologi pada kelainan otak dapat dibagi atas : 1. Konvensional — tanpa kontras (foto polos) — dengan kontras (positif atau negatif) 2. Radioisotop 3. CT scanning Indikasi paling sering untuk melakukan pemeriksaan-peme-riksaan ini adalah kelainan karena trauma dan tumor (proses desak ruang). Dalam jumlah kecil dilakukan pada kelainan-ke-lainan bawaan serta degeneratif. Kelainan akibat infeksi, se-kalipun sering ditemukan di Indonesia jarang dilakukan peme-riksaan radiologik karena kurangnya manifestasi langsung yang dapat dilihat. A. FOTO POLOS Perubahan-perubahan yang tampak pada gambaran radiologik adalah merupakan akibat dari peninggian tekanan intrakranial. Keadaan ini telah diketahui sejak tahun tiga puluhan oleh Schuller, dan makin lama makin banyak fakta-fakta yang terungkap pada kelainan tersebut. Sepertiga dari penderita-penderita dengan tanda-tanda peninggian tekanan intrakranial, baik itu disebabkan tumor, abses atau hidrosefalus, pada orang dewasa atau kanak-kanak, akan menunjukkan tanda-tanda tersebut pada foto polos kepala. Sedangkan pada 20% penderita yang dengan pemeriksaan radiologik menunjukkan tanda-tanda kenaikan tekanan intrakranial, pada pemeriksaan klinis belum didapatkan adanya edema papil. TANDA-TANDA RADIOLOGIK Pada foto polos kepala kelainan intrakranial dapat menim-bulkan perubahan yang sifatnya umum atau lokal. 28 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 Perubahan umum 1. Peninggian tekanan intrakranial. a. Terjadi pelebaran dari ukuran sela tursika (ballooning). b. Pelebaran dari sutura. c. Ekspansi dari rongga tengkorak. d. Penipisan tulang batok kepala. e. Pelebaran dari foramina. 2. Atrofi atau perkembangan jaringan otak yang terhambat. a. Penebalan tulang batok kepala. b. Rongga tengkorak yang kecil dengan kompensasi per-tumbuhan struktur organ-organ didalamnya. c. Sutura cepat menutup. Perubahan setempat 1. Didapatkan tanda-tanda terdorongnya struktur normal oleh proses desak ruang. a. Korpus pineale mungkin terdorong sebagai akibat lang-sung dari tumor, atau sekunder karena herniasi jaringan otak melalui tentorium serebri. b. Pendorongan pada pleksus koroideus, falks atau tento-rium yang semuanya berkalsifikasi. 2. Erosi setempat pada tulang akibat penekanan. 3. Penipisan setempat atau penonjolan setempat tulang akibat penekanan massa yang berlangsung lama. 4. Adanya tumor atau malformasi arteriovenosa akan me-nimbulkan kelainan pada tulang tengkorak. 5. Hiperostosis. 6. Adanya struktur tulang tengkorak yang abnormal dapat mengakibatkan kelainan neurologik yang sekunder. 7. Akibat peradangan pada organ-organ yang berdekatan se-perti mastoid atau sinus frontalis. 8. Adanya fraktur atau akibat penyembuhan dari fraktur. 9. Pembentukan tulang yang abnormal (anomali) dengan kelainan neurologik. 10. Adanya kalsifikasi patologik intrakranial.
  • 29.
    Cermin Dania KedokteranNo. 34, 1984 29 Gambar 1 : Angiogram karotis normal. Keadaan-keadaan yang mengakibatkan peninggian tekanan intrakranial adalah : 1. Massa intrakranial yang besar seperti neoplasma, abses atau hematoma akan menimbulkan tekanan intrakranial yang meninggi.Otak lebih sering tertekan dari pada tulang kepala apabila tumbuhnya dengan cepat. 2. Terjadinya obstruksi parsial atau komplit dari aliran likuor serebrospinal, baik oleh massa intrakranial ataupun kelainan kongenital, atau oleh perlekatan setelah infeksi dapat mengakibatkan terjadinya hidrosefalus. 3. Edema serebral yang terjadi sebagai akibat neoplasma, ab-ses, ensefalitis, infark serebri atau hipertensi vaskuler. 4. Kronio stenosis, yaitu suatu keadaan dimana tengkorak te-lah berhenti berkembang pada saat jaringan otak masih membutuhkan tempat untuk berkembang. Manifestasi radiologik dari peninggian tekanan intrakranial sangat bergantung pada : periode timbulnya peninggian tersebut (akut atau kronik), apakah terjadinya pada saat masih bayi, kanak-kanak atau dewasa. Biasanya kelainan radiologik timbul apabila tekanan intrakranial yang tinggi telah berlangsung 5 sampai 6 minggu. Dua daerah menjadi pegangan akan ada tidaknya peninggian tekanan intrakranial ini, yaitu sutura pada kanak-kanak dan sela tursika pada orang dewasa. KELAINAN RADIOLOGIK Efek pada tulang tengkorak Apabila kenaikan tekanan intrakranial ini terjadi pada periode ante-natal sampai minggu pertama setelah kelahiran, tulang-tulang tengkorak akan tampak lebih tipis dari pada normal, kadang-kadang menunjukkan kegagalan dalam proses penulangan (sebuah bentuk dari kraniolakuna). Tetapi kenaikan tekanan intrakranial yang terjadi secara akut tidak akan mempengaruhi penebalan atau bentuk tulang tengkorak. Tanda lain dari kenaikan tekanan intrakranial pada kanak-kanak adalah yang dinamakan impressiones digitatae (Convolutional impressions) yang terjadi pada bagian atas tulang frontal dan parietal. Tetapi apabila gambaran ini tampak pada tulang teng-korak 2/3 bawah ia tidak mempunyai nilai diagnostik, melainkan dianggap merupakan respons dari tulang yang sedang tumbuh terhadap jaringan otak di bawahnya. Pada orang dewasa, kelainan yang berlangsung lama kadang-kadang menimbulkan penipisan kalvaria secara menyeluruh. Tetapi apabila tekanan intrakranial yang tinggi ini berlangsung sejak masa kanak-kanak, misalnya pada_ stenosis akuaduk akan terjadi pelebaran bagian supratentorial, kecuali fossa posterior serebri. Efek pada sutura Dalam pertumbuhan seorang anak, sutura akan menyempit pada rata rata usia 1 tahun pertama. Apabila sutura ini tetap lebar maka patut dicurigai adanya peninggian tekanan intrakranial. Yang paling jelas adalah sutura lambdoidea. Diastasis dari sutura ini lebih nyata apabila telah terjadi osifikasi yang sempurna. Untuk dapat melihat dengan nyata, maka diperlukan pengaturan posisi kepala anak sehingga tidak terjadi superposisi dengan jaringan lain. Efek pada sela tursika Sela tursika merupakan salah satu bagian intrakranial yang di gunakan sebagai tolok-ukur ada tidaknya kenaikan intrakranial. Untuk mendeteksi perubahan dini pada sela tursika akibat kenaikan tekanan intrakranial ini, diperlukan syarat-syarat radiologik yaitu : — Posisi pemotretan harus lateral murni, arah sinar-X tegak lurus pada bidang yang melalui sela tursika. (bidang sagital). — Teknik pemotretan harus sedemikian rupa sehingga dapat dilihat adanya perubahan yang men-detail pada tulang. Kelainan radiologik yang tampak pada sela tursika sebagai akibat kenaikan tekanan intrakranial, oleh du Boulay dan El Gammal dibagi dalam 3 kategori : I. Tampak erosi pada garis korteks sela tursika dekat basis dari dorsum sela. II. Destruksi dari puncak dorsum sela prosesus (klinoideus anterior) dengan kecendrungan terdorongnya sisa dari lamina dura. III. Apabila erosi tulang sedemikian rupa sehingga telah meli-batkan planum sfenoidale. Harus dapat dibedakan kelainan yang timbul akibat tumor intra atau suprasellar. Tumor intrasellar akan mengakibatkan
  • 30.
    fosa hipofisi yangmembengkak seperti balon (ballooning) se-dangkan tumor-tumor suprasellar menimbulkan pendataran dari sela (flattening). Pada penelitian penulis terhadap 83 orang Indonesia dewasa "normal" mendapat ukuran sela tursika rata rata : 1,17 cm. Gambar 2 : Angiogram karotis menunjukkan penekanan pada a. serebri anterior ke medial dan a. serebri medial ke bawah (tanda panah). B. FOTO DENGAN KONTRAS Foto polos tengkorak digunakan untuk menilai akibat dari kelainan otak pada tulang tengkorak, sedangkan jaringan otak-nya sendiri tidak akan tergambar, kecuali adanya pengapuran. Selain itu juga kelainan yang sifatnya akut, kecuali fraktur tidak menimbulkan jejak pada tulang tengkorak. Karena itu, usahakanlah melakukan pemeriksaan jaringan otak dengan menggunakan kontras. Pada hakekatnya, pemeriksaan dengan kontras terdiri atas : kontras positif, yang menimbulkan ba-yangan opak (angiografi); kontras negatif, apabila menimbulkan bayangan lusen (dengan udara; pneumoensefalografi). Angiografi serebral dilakukan dengan memasukkan kontras ke dalam pembuluh-pembuluh otak melalui arteri karotis, dengan pertolongan jarum atau kateter atau dengan modifikasi teknik Seldinger yang menggunakan kanula. Karena aliran darah arteri yang cepat, maka pemotretan pun harus dilaksanakan secara seri (serial), sehingga setiap fase di mana kontras berada tidak akan terluput. Fase tersebut adalah fase arteriil, kapiler dan venosa. Selain berseri, pemotretan sekaligus dilakukan pada proyeksi lateral dan anteroposterior. Selain angiografi karotis untuk mengevaluasi tumor-tumor pada muka atau nasofaring dilakukan angiografi karotis ekstema. Indikasi pemeriksaan ini terutama adanya proses desak ruang. 30 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 Adanya tumor serebral akan mengakibatkan distribusi yang normal dari pembuluh darah otak terganggu. Lesi-lesi di daerah oksipital dan temporal sebelah posterior akan lebih sulit terdeteksi daripada bagian lainnya. Kadang-kadang jenis tumor dapat diperkirakan berdasarkan gambaran pembuluh darah tumor tersebut terutama pada jenis meningioma dan glioblastoma multiforme Perdarahan subaraknoid : Angiografi karotis merupakan salah satu sarana diagnostik yang menentukan adanya perdarahan subaraknoid. Bila faktor trauma disangkal, maka perdarahan yang terjadi, 50 - 70% diakibatkan aneurisma arteri intrakranial. Pada kasus-kasus hipertensi, perdarahan subaraknoid sering disertai perdarahan intraserebral yang spontan. Pada Stenosis pembuluh darah otak yang mengakibatkan iskemia, maka angiografi serebral ini diperlukan benar untuk mengetahui lokalisasi pasti dari penyumbatan. Trauma kepala dengan kecurigaan perdarahan intraserebral memerlukan angiografi karotis segera, sehingga hematoma dapat ditemukan dengan segera dan tindakan adekuat dapat pula dilaksanakan. Pada hidrosefalus, tindakan angiografi karotis jarang dila-kukan dan lebih bermanfaat untuk mengevaluasi hasil tindakan. Kelainan yang tampak pada angiografi serebral dapat di-kelompokkan sebagai berikut : 1. Pendorongan pembuluh darah akibat proses desak ruang. 2. Tanda-tanda dilatasi ventrikuler. 3. Tanda-tanda herniasi melewati foramen magnum atau ten-torium. 4. Tanda-tanda atrofi serebral. 5. Sirkulasi vaskuler yang bertambah pada tumor dan angioma. 6. Aneurisma. 7. Tanda-tanda penyakit serebro vaskuler. 8. Kelainan kongenital. 9. Tanda-tanda yang berhubungan dengan trauma kepala (he-matoma). Ventrikulografi dan pneumoensefalografi (PEG) : Pneumoensefalografi lumbal adalah memasukkan udara ke dalam ruangan ventrikel melalui pungsi-lumbal sehingga seluruh ventrikel IV, akuaduk serta sisterna fosa posterior serebri, juga sistim ventrikel yang lain terisi udara. Sedangkan ventrikulografi adalah tindakan mengisi ventrikel secara langsung dengan udara steril, yang sebelum cairan di dalamnya di-tap terlebih dulu untuk memberi tempat pada udara tersebut. Indikasi untuk melakukan ventrikulografi serta PEG adalah: pada kasus-kasus yang klinis menunjukkan tekanan intrakranial yang meninggi namun tidak tampak pada pemeriksaan radiografik biasa. Ensefalografi terutama dilakukan untuk semua kasus-kasus tumor ekstra serebral yang asalnya dari basis kranii, pada tumor-tumor yang berasal dari cerebello-pontin angle. Dikatakan bahwa ventrikulografi lebih superior dibandingkan dengan PEG pada tumor-tumor serebelum serta tumor-tumor intra serebral.
  • 31.
    Cermin Dunia KedokteranNo. 31, 1984 35 Gambar 3 : Pneumoensefalografi normal. Secara umum penggunaan kontras negatif ini dilakukan apabila dengan foto polos atau kontras positif tidak didapatkan kelainan, padahal klinis amat mengarah ke hal tersebut. Makin lama penggunaan kontras udara ini makin terdesak karena tindakan ini dinilai terlalu "tidak enak" (uncomfortable), apalagi dengan dikembangkannya penggunaanradio isotop dan lebih-lebih lagi sekarang telah digunakan orang Computerized Tomography Scanning yang benar-benar tidak ada faktor ma-nipulasi pada penderita. PEMERIKSAAN JARINGAN OTAK DENGAN RADIO-ISOTOP Apabila sejumlah kecil isotop radio aktif mencapai aliran darah maka ia akan segera disebar keseluruh tubuh dalam jum-lah yang berbeda-beda. Banyak sedikitnya zat radio aktif dalam jaringan dapat diketahui dari jumlah radiasi yang dapat ditangkap kamera, sehingga akan tercipta suatu pola penyebaran radio aktif dalam jaringan. RISA (radio iodinated Serum albumen) serta technetium 99 dalam bentuk pertechnetate merupakan materi yang digunakan untuk mendeteksi adanya tumor otak. Adanya proses patologik pada otak, seperti tumor, mengakibatkan bertam-bahnya cairan ekstra seluler. Komponen radio aktif diatas akan mengalami kumulasi terutama pada cairan ekstra seluler tadi, karena itu bagian ini akan memancarkan sinar radio aktif paling tinggi yang akan tampak sebagai hot-spot. Sebaliknya gambaran cold-spot menunjukkan daerah dengan vaskuler yang rendah pada daerah tersebut. Kegunaan pemeriksaan radioisotop pada jaringan otak ter-utama pada tumor primer (glioma, meningioma), metastasis tumor. Pada abses. dan hematoma jarang dilakukan karena ku-rang spesifik. CT SCAN PADA KELAINAN OTAK Merupakan teknik pemeriksaan yang mutakhir, mempunyai risiko pemeriksaan yang rendah dan memberikan nilai diagnostik yang amat tinggi. Hampir semua kelainan pada ja-ringan otak dan dasar tengkorak dapat dideteksi dalam keadaan yang masih dini. Sekalipun demikian, pemeriksaan ini tidak dapat seluruhnya menggantikan fungsi-fungsi pemeriksaan yang telah diuraikan sebelum ini, melainkan harus saling melengkapi. Kekurangan lain adalah masih langkanya sarana dan masih mahalnya biaya pemeriksaan ini. KEPUSTAKAAN 1. Shanks SC, Kerley P. A textbook of X-rayDiagnosis. 4th ed., Phi-ladelphia: WB Saunders Co., 1959. 2. Susworo. Pengukuran Sella Tursica Pada Sejumlah Orang Indonesia Secara Radiologik. Majalah Radiologi Indonesia 1980; 4 : 5 - 13.
  • 32.
    Cedera Otak danDasar-dasar Pengelolaannya dr. Leksmono PR*, dr. A Hafid**, dr. M Sajid D** * Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya ** Sie Bedah Saraf Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya PENDAHULUAN Cedera otak yang akan dibicarakan dalam makalah ini adalah cedera akibat rudapaksa kepala (trauma kapitis). Di negara maju, kecelakan lalu lintas merupakan penyebab kematian utama pada umur antara 2 - 44 tahun, dimana 70% diantaranya mengalami rudapaksa kepala 1-3 Di Surabaya, frekuensi trauma kapitis meningkat dengan 18% setiap tahunnya4 Secara klasik kita kenal pembagian : komosio, kontusio dan laserasio serebri. Pada komosio serebri kehilangan kesadaran bersifat sementara tanpa kelainan PA. Pada kontusio serebri terdapat kerusakan dari jaringan otak, sedangkan laserasio serebri berarti kerusakan otak disertai robekan duramater. Pembagian lain menyebutkan bahwa pada komosio serebri, penurunan kesadaran kurang dari 15 menit dan post traumatic amnesia kurang dari 1 jam. Bila penurunan kesadaran melebihi 1 jam dan post traumatic amnesia melebihi 24 jam berarti telah terjadi kontusio serebri. Perlu ditambahkan juga ada atau tidaknya gejala cedera otak fokal yang dini, dan hasil rekaman EEG.5 Pembagian seperti di atas ternyata tidak memuaskan, karena batas antara kontusio dan komosio serebri sering kali sulit dipastikan.5,6 MEKANISME Rudapaksa kepala dapat menyebabkan cedera pada otak karena adanya aselerasi, deselerasi dan rotasi dari kepala dan isinya.1,7,8 Karena perbedaan densitas antara tengkorak dan isinya, bila ada aselerasi, gerakan cepat yang mendadak dari tulang tengkorak diikuti dengan lebih lambat oleh otak. Ini mengakibatkan benturan dan goresan antara otak dengan bagian-bagian dalam tengkorak yang menonjol atau dengan sekat-sekat duramater. Bita terjadi deselerasi (pelambatan gerak), terjadi benturan karena otak masih bergerak cepat pada saat tengkorak sudah bergerak 32 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 lambat atau berhenti. Mekanisme yang sama terjadi bila ada rotasi kepala yang mendadak. Tenaga gerakan ini menyebabkan cedera pada otak karena kompresi (penekanan) jaringan, peregangan maupun penggelinciran suatu bagian jaringan di atas jaringan yang lain. Ketiga hal ini biasanya terjadi bersama-sama atau berturutan.7 Kerusakan jaringan otak dapat terjadi di tempat benturan (coup), maupun di tempat yang berlawanan (countre coup). Diduga countre coup terjadi karena gelombang tekanan dari sisi benturan (sisi coup) dijalarkan di dalam jaringan otak ke arah yang berlawanan; teoritis pada sisi countre coup ini terjadi tekanan yang paling rendah, bahkan se-ring kali negatif hingga timbul kavitasi dengan robekan jaringan. Selain itu, kemungkinan gerakan rotasi isi tengkorak pada setiap trauma merupakan penyebab utama terjadinya countre coup, akibat benturan-benturan otak dengan bagian dalam tengkorak maupun tarikan dan pergeseran antar jaringan dalam tengkorak.1,7,8,9 Yang seringkali menderita kerusakan-kerusakan ini adalah daerah lobus temporalis, frontalis dan oksipitalis. PATOFISIOLOGI Trauma secara langsung akan menyebabkan cedera yang disebut lesi primer. Lesi primer ini dapat dijumpai pada kulit dan jaringan subkutan, tulang tengkorak, jaringan otak, saraf otak maupun pembuluh-pembuluh darah di dalam dan di sekitar otak. Pada tulang tengkorak dapat terjadi fraktur linier (±70% dari fraktur tengkorak), fraktur impresi maupun perforasi. Penelitian pada lebih dari 500 penderita trauma kepala menunjukkan bahwa hanya ± 18% penderita yang mengalami fraktur tengkorak.10 Fraktur tanpa kelainan neurologik, secara klinis tidak banyak berarti.7
  • 33.
    Cermin Dunia KedokteranNo. 33, 1984 35 Fraktur linier pada daerah temporal dapat merobek atau menimbulkan aneurisma pada arteria meningea media dan cabang-cabangnya; pada dasar tengkorak dapat merobek atau menimbulkan aneurisma a. karotis interna dan terjadi perdarahan lewat hidung, mulut dan telinga. Fraktur yang mengenai lamina kribriform dan daerah telinga tengah dapat menimbulkan rinoroe dan otoroe (keluarnya cairan serebro spinal lewat hidung atau telinga. Fraktur impresi dapat menyebabkan penurunan volume dalam tengkorak, hingga menimbulkan herniasi batang otak lewat foramen magnum.7,11 Juga secara langsung menyebabkan kerusakan pada meningen dan jaringan otak di bawahnya akibat penekanan. Pada jaringan otak akan terdapat kerusakan-kerusakan yang hemoragik pada daerah coup dan countre coup, dengan piamater yang masih utuh pada kontusio dan robek pada laserasio serebri. Kontusio yang berat di daerah frontal dan temporal sering kali disertai adanya perdarahan subdural dan intra serebral yang akut.9 Tekanan dan trauma pada kepala akan menjalar lewat batang otak kearah kanalis spinalis; karena adanya foramen magnum, gelombang tekanan ini akan disebarkan ke dalam kanalis spinalis. Akibatnya terjadi gerakan ke bawah dari batang otak secara mendadak, hingga mengakibatkan kerusakan-kerusakan di batang otak.7 Saraf otak dapat terganggu akibat trauma langsung pada saraf, kerusakan pada batang otak, ataupun sekunder akibat meningitis atau kenaikan tekanan intrakranial.7 Kerusakan pada saraf otak I kebanyakan disebabkan oleh fraktur lamina kribriform di dasar fosa anterior maupun countre coup dari trauma di daerah oksipital. Pada gangguan yang ringan dapat sembuh dalam waktu 3 bulan.2 Dinyatakan bahwa ± 5% penderita tauma kapitis menderita gangguan ini.7 Gangguan pada saraf otak II biasanya akibat trauma di daerah frontal. Mungkin traumanya hanya ringan saja (terutama pada anak-anak)2 , dan tidak banyak yang mengalami fraktur di orbita maupun foramen optikum.7 Dari saraf-saraf penggerak otot mata, yang sering terkena adalah saraf VI karena letaknya di dasar tengkorak.11 Ini menyebabkan diplopia yang dapat segera timbul akibat trauma, atau sesudah beberapa hari akibat dari edema otak. Gangguan saraf III yang biasanya menyebabkan ptosis, midriasis dan refleks cahaya negatif sering kali diakibatkan hernia tentorii 2,7,11 Gangguan pada saraf V biasanya hanya pada cabang supra-orbitalnya, tapi sering kali gejalanya hanya berupa anestesi daerah dahi hingga terlewatkan pada pemeriksaan. Saraf VII dapat segera memperlihatkan gejala, atau sesudah beberapa hari kemudian. Yang timbulnya lambat biasanya cepat dapat pulih kembali, karena penyebabnya adalah edema2,7 Kerusakannya terjadi di kanalis fasialis, dan sering kali disertai perdarahan lewat lubang teli-nga. —Banyak didapatkan gangguan saraf VIII pada. trauma ke-pala, misalnya gangguan pendengaran maupun keseim-bangan. 2 Edema juga merupakan salah satu penyebab gangguan.7 —Gangguan pada saraf IX, X dan XI jarang didapatkan, mungkin karena kebanyakan penderitanya meninggal bila trauma sampai dapat menimbulkan gangguan pada saraf-saraf tersebut. Akibat dari trauma pada pembuluh darah, selain robekan terbuka yang dapat langsung terjadi karena benturan atau ta-rikan, dapat juga timbul kelemahan dinding arteri. Bagian ini kemudian berkembang menjadi aneurisma. Ini sering terjadi pada arteri karotis interna pada tempat masuknya di dasar tengkorak. Aneurisma arteri karotis interim ini suatu saat da-pat pecah dan timbul fistula karotiko kavernosa.7 Aneurisma pasca traumatik ini bisa terdapat di semua arteri, dan potensial untuk nantinya menimbulkan perdarahan subaraknoid. Robekan langsung pembuluh darah akibat gaya geseran antar jaringan di otak sewaktu trauma akan menye-babkan perdarahan subaraknoid, maupun intra serebral. Ro-bekan pada vena-vena yang menyilang dari korteks ke sinus venosus (bridging veins) akan menyebabkan suatu subdural hematoma. Ada 3 macam yaitu yang akut - terjadi dalam 72 jam sesudah trauma; subakut dan kronik. Bentuk akut dapat juga disebabkan oleh robekan pembuluh darah di korteks. Hematoma subdural akibat robekan bridging veins disebut juga hematoma subdural yang simple, sedangkan yang dari pembuluh darah korteks disebut complicated. Hal ini sehu-bungan dengan ada (complicated) atau tidaknya (simple) ke-rusakan jaringan otak di bawah hematoma.12 Perdarahan epidural biasanya terjadi karena robekan arteri/ vena meningea media atau cabang-cabangnya oleh fraktur li-nier tengkorak di daerah temporal. Kumpulan darah di antara duramater dan tulang ini akan membesar dan menekan jaring-an otak ke sisi yang berlawanan, herniasi unkus dan akhirnya terjadi kerusakan batang otak. Keadaan ini terdapat pada 1 - 3% penderita trauma kapitis dan dapat berakibat fatal bila tidak mendapat pertolongan dalam 24 jam.7 Dalam perjalanan penyakit selanjutnya bila penderita tidak meninggal oleh lesi primer tersebut di atas, terjadi proses gangguan/kerusakan yang akan menimbulkan lesi sekunder. Proses ini selain disebabkan faktor-faktor intrakranial juga di-pengaruhi oleh faktor faktor sistemik. Sebagai kelanjutan dari kontusio akan terjadi edema otak. Penyebab utamanya adalah vasogenik, yaitu akibat kerusakan B.B.B. (blood brain barrier). Disini dinding kapiler mengalami kerusakan ataupun peregangan pada sel-sel endotelnya. Cairan akan keluar dari pembuluh darah ke dalam jaringan otak ka-rena beda tekanan intra vaskuler dan interstisial yang disebut tekanan perfusi. Bila tekanan arterial meningkat akan mem-percepat terjadinya edema dan sebaliknya bila turun akan memperlambat.13,14 Edema jaringan menyebabkan penekanan pada pembuluh-pembuluh darah yang mengakibatkan aliran darah berkurang. Akibatnya terjadi iskemia dan hipoksia. Asidosis yang terjadi akibat hipoksia ini selanjutnya menim-bulkan vasodilatasi dan hilangnya auto regulasi aliran darah,
  • 34.
    sehingga edema semakinhebat. Hipoksia karena sebab-sebab lain juga memberikan akibat yang sama.15 Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan suhu tubuh menjadi 400 Celcius selama 2 jam akan menambah edema se-besar 40% yang mungkin disebabkan oleh karena perubahan penneabilitas kapiler dan kenaikan metabolisme.16 Akibat lain dari trauma kapitis adalah kenaikan tekanan intra kranial. Pada saat trauma, terdapat peningkatan tekanan pada sisi benturan dan penurunan tekanan pada sisi yang ber-lawanan. Kenaikan tekanan intrakranial yang terjadi beberapa waktu kemudian dapat oleh karena edema otak atau kenaikan volume darah otak. Bila timbulnya lebih lambat lagi (lebih dari 10 hari), ini mungkin disebabkan oleh adanya hematoma kronik atau gangguan sirkulasi cairan serebro spinal. Kenaikan tekanan intra kranial ini menyebabkan : —aliran darah ke otak menurun. — Brain shift maupun herniasi. — perubahan metabolisme, yaitu terjadi asidosis metabolik yang selanjutnya memperberat edema. — gangguan faal paru-para. Ini terjadi karena kerusakan pada batang otak sesudah trauma mengakibatkan terjadinya apnea atau takipnea. Hal ini menimbulkan edema paru-paru yang selanjutnya mengganggu pertukaran gas. Gangguan ini menyebabkan hipoksia yang akan memperberat edema di otak maupun di paru-paru.1 Dari hal-hal di atas terlihat bahwa gangguan intrakranial maupun sistemik sesudah trauma kapitis itu merupakan suatu lingkaran kejadian sebab akibat yang makin lama makin mem-perjelek keadaan penderita ("lingkaran setan"). PENGELOLAAN Pemeriksaan 5,17,18,19 • Anamnesis. Anamnesis dapat diambil dari famili, orang di-sekitar kejadian, pegawai ambulans, polisi, mengenai : — Saat terjadinya kecelakaan, macam kecelakaan : lalu lin-tas, pabrik dll. —cara kecelakaan, untuk dapat memperkirakan intensitas trauma dan macam cederanya. —pada penderita yang sadar : ada tidaknya gangguan kesa-daran sebelumnya, ada tidaknya amnesia, baik retrograde maupun pasca traumatik. Makin lama amnesia post trau-matik, prognosis makin jelek. —penyakit yang diderita : epilepsi, hipertensi, diabetes, jan-tung dan lain-lain. —Obat-obat yang telah/sedang dipergunakan. • Pemeriksaan Fisik —fungsi-fungsi vital, kesadaran, gejala neurologik, antara lain gejala vegetatif : mual, muntah, pucat, (dalam hal ini harus dibedakan dengan pucat akibat perdarahan). Data-data pemeriksaan awal ini penting sebagai dasar observasi selanjutnya. Di Bagian Saraf dan Sie Bedah Saraf Bagian Bedah RS Dr. Soetomo dipakai Glasgow Coma Scale (GCS) untuk evaluasi kesadaran. —Tanda-tanda trauma di kepala, hematoma sekitar mata dan hematoma di belakang telinga, darah dari orifisium-orifi- 34 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 sium di kepala. — Adanya tanda-tanda trauma di tempat lain, bila ada dapat memperburuk prognosisnya. • X Foto Kepala : sebaiknya dibatasi10,20 Dianjurkan dibuat pada : -- trauma kepala tertutup dengan ekskoriasi ataupun hematoma kulit kepala. penderita dengan kelainan neurologik. adanya fraktur impresi. penderita akan dioperasi dengan dugaan hematoma intra-kranial. trauma kepala terbuka untuk mengetahui lokalisasi frak-tur/ fragmen-fragmennya. • Pemeriksaan Tambahan 17,21,22 1. Eko - Ensefalografi Sebagian penulis menyatakan, pemeriksaan ini dapat mem-bantu mengetahui adanya pergeseran garis tengah otak bila dikerjakan oleh orang yang berpengalaman; penulis lain berpendapat bahwa pemakaiannya kurang dapat dijamin. 2. Angiografi dan CT Scan Keduanya merupakan cara pemeriksaan yang dapat dian-dalkan untuk mengetahui adanya massa intrakranial. Indikasi Masuk Rumah Sakit18 Hal ini tergantung pada berat ringannya kerusakan yang terdapat pada waktu masuk dan kemungkinan-kemungkinan komplikasi yang akan terjadi. 1. Gangguan kesadaran. 2. Gangguan kelainan neurologik. 3. Fraktur tulang kepala yang menyilang jalan a. meningea media (untuk observasi). 4. Kemungkinan fraktur dasar tengkorak. 5. Fraktur impresi terbuka dan trauma kepala terbuka yang lain. 6. Dipertimbangkan pada nyeri kepala, vertigo dan muntah yang terus menerus. Perawatan • Umum a) menjaga agar jalan nafas tetap bebas/lancar, terutama bila penderita koma. Posisi penderita sebaiknya miring (termasuk badannya), ini untuk mencegah aspirasi dan penyumbatan laring oleh lidah. Tungkai yang di atas sebaiknya fleksi, dan posisi diubah setiap 2 jam. Kalau perlu dapat dipertimbangkan pemasangan pipa endo-trakea/ trakeostomi. Bila ada fasilitas analisa gas darah, p02 arteri dipertahankan diatas 80 mmHg dan pCO2 antara 25 - 30 mmHg. b) Tekanan darah yang kurang dari 90 mmHg dengan nadi kecil, harus dicari sebab-sebabnya diluar kepala, antara lain trauma abdomen26 , fraktur. Syok harus segera diatasi dan perdarahan dihentikan. Bila ada anemia harus segera diperbaiki (terutama pada penderita arterioskeloris). c) Cairan, Elektrolit, Nutrisi. Pada umumnya diadakan pembatasan cairan ringan untuk
  • 35.
    Cermin Dunia KedokteranNo. 35, 1984 35 mencegah adanya overhidrasi, terutama dalam 24 jam pertama. 27 Bila keadaan memungkinkan pemberian cairan intravena setelah 2 hari dapat dikombinasi/diganti dengan sonde hidung. Penderita dewasa, kebutuhan cairan minimal 2 liter/hari dan tiap kenaikan suhu 1° C ditambah ½ liter. Kalori yang dibutuhkan pada penderita koma minimal 2000 kal/hari. d) Miksi, defekasi, kulit, mata. Urin ditampung untuk memperhitungkan kebutuhan cairan dan menjaga agar tempat tidur tetap kering. Dipasang kondon atau kateter. Kateter dipakai sesedikit mungkin untuk mencegah bahaya infeksi. Diusahakan tidak terdapat konstipasi yang terlalu lama ka-rena bahaya ileus. Untuk mencegah dekubitus, tempat tidur harus rata, kering dan lunak. Mata dapat dibasahi dengan larutan asam borat 2%. e) Hipotermi 28 Dengan penurunan suhu tubuh menjadi 32° C, kebutuhan 02 otak menurun sebanyak 25%; ini mengurangi risiko terjadinya hipoksia. Selain itu pendinginan tubuh ini juga membantu mengeringkan sekret, mengurangi tonus otot di saluran napas, dan mengurangi tekanan intrakranial. • Khusus/Pengobatan. a) Kejang-kejang. Sekitar 5% dari penderita mengalami kejang-kejang 6,21,29 Bila ada fraktur impresi, insidensi naik menjadi 10%. Angka-angka ini untuk kejadian-kejadian pada minggu pertama, (epilepsi traumatik dini).7 Untuk mengatasi diberikan diazepam, selanjutnya difenilhidantoin dan fenobarbital. b) Penderita yang mulai sadar sering menjadi gelisah. Diusaha-kan untuk menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan penye-babnya, misalnya kandung kemih yang penuh atau ikatan yang terlalu kuat. Kegelisahan ini dapat menyebabkan peningkatan tensi dan lain-lain hal yang tidak diinginkan. Bila perlu dapat diberikan suntikan klorpromazin 25 mg23 c) Suhu tubuh Kenaikan suhu tubuh dapat memperberat edema otak. Harus diusahakan untuk mencari penyebabnya dan mengendalikan-nya. Kemungkinan penyebabnya: penggantian cairan tidak ba-ik, infeksi pm-pm komplikasi trakeostomi, infeksi saluran kencing, tromboflebitis, luka operasi, reaksi transfusi, drug fever, gangguan hipotalamus dan batang otak. d) Pengobatan edema otak Deksametason Terpenting adalah deksametason karena paling kuat kerjanya diantara obat-obat glukokortikoid, dan dapat membantu fungsi membran sel dalam pertukaran ion Na+ K+ (sodium pump)22 Takaran permulaan 8 - 12 mg dilanjutkan dengan 4 mg tiap 6 jam selama 7 - 10 hari kemudian perlahan-lahan dihentikan. Dosis untuk anak-anak 1 - 4 mg kemudian 0,25 - 0,50 mg/kg/ hari dibagi dalam 4 kali pemberian.20 Pada trauma berat dapat diberikan dosis yang lebih besar. Sebaiknya diberikan juga antasida dan simetidin untuk mencegah terjadinya perdarahan karena ulkus lambung.31 Cairan Hipertonik24 Yang biasa dipakai adalah Manitol 20%. Diberikan pada pen-derita yang akan dioperasi dan bila keadaan kritis. Takaran 1 - 1,59 gr/kg dalam 10 menit. Marshal13 menganjurkan 0,25 gr/kg. Pemberian dapat diulang menurut keperluan. Diuretik Efeknya dalam menurunkan tekanan intrakranial belum dapat dipastikan. Di rumah sakit yang lengkap peralatannya, dapat dilakukan "hiperventilasi yang terkontrol", dimana PaCO2 dipertahankan 30 torr dan PaO2 diatas 150 torr.24,28 Observasi Tujuannya untuk mengikuti perjalanan penyakit penderita, mengetahui sedini mungkin terjadinya komplikasi, hingga dapat secepatnya diambil tindakan. Sebagai dasar observasi adalah data-data pemeriksaan fisik mengenai fungsi vital, kesadaran penderita dan gangguan neurologik. • Observasi fungsi vital mencakup hal-hal yang tersebut dalam Bab Perawatan. • Kesadaran Kesadaran merupakan hal yang terpenting pada observasi. Ke-sadaian diatur oleh dua pusat di otak yaitu oleh (Ascending Reticular Activating System (ARAS) yaitu untuk off-on nya misalnya reaksi membuka mata, sedangkan hemisfer otak me-nentukan "isi" dari kesadaran tersebut. Kedua pusat ini harus tetap dalam keadaan baik supaya seseorang dapat sadar dengan sepenuhnya. Untuk dapat memperoleh catatan/gambaran yang cukup obyektif mengenai kesadaran penderita di Bagian Saraf FK Unair dan Sie Bedah Saraf Bagian Bedah FK Unair selama be berapa tahun telah dipakai Glasgow Coma Scale (GCS)4,32,33 Skala ini disusun oleh Teasdale dan Jennett pada tahun 1974. Disini dinilai tiga macam reaksi yaitu reaksi membuka mata, reaksi verbal dan reaksi motorik (Lihat Tabel) Dalam skala ini seseorang yang sadar sepenuhnya mendapat nilai 15, yaitu 4 untuk reaksi buka mata, 5 untuk reaksi verbal dan 6 untuk reaksi motorik. Jadi penderita dapat membuka mata spontan, bila diajak berbicara jawabannya berorientasi (mengenal diri, waktu dan tempat), dan dapat melakukan hal-hal sesuai dengan yang diperintahkan , misalnya mengangkat tangannya. Penderita koma yang dalam mendapat jumlah nilai 3 yaitu nilai 1 untuk masing-masing reaksi. Dengan mengisi tabel ini pada waktu-waktu yang tertentu, kita dapat menilai/mengikuti perkembangan kesadaran pen-derita. • Gangguan Neurologik.39 Disini antara lain diperiksa adanya lesi kompresi yang unila-teral dan ada atau tidaknya perkembangan kerusakan dari kra-nial (hemisfer) ke kaudal (batang otak/medula) --> kematian penderita. 1. Lesi unilateral supratentorial. a. Hemiparesis. b. Gangguan saraf fasialis sentral. c. Deviasi bola mata ke arah lesi. d. Kompresi mesensefalon unilateral --> reaksi pupil ab-normal.
  • 36.
    TABEL Bagian Saraf/SieBedah Saraf Bagian Bedah Nama . Tn. X Umur . 30 tahun ( l P Ref. 007.84 Fakultas Kedokteran Unair/RS Dr. Soetomo Surabaya Tgl. 9 April 84 10 11 12 13 Hari Senin 1 2 3 4 5 S K A L A K O M A Reaksi buka mata Spontan I • • thd. suara ~ . I 7 thd. nyeri 1 negatif Reaksi Verbal berorientasi bingung tidak sesuai I tidak dimengerti • • i negatif Reaksi Moto-rik mengikuti perintah I melokalisir nyeri I ~ . _ • . _ • _ ~ menarik diri fleksi j • • • • • ekstensi negatif 2. Perkembangan kranio kaudal. a. Pupil dan reaksinya : integritas batang otak. besar normal/refleks cahaya (+) - - pin point/refleks (+) ( Normal) —► (lesi di pons) b. Gerak refleks mata — D o l l 's head eye movement. Rotasi cepat kepala penderita oleh pemeriksa akan memberi reaksi gerak mata konjugat ke arah yang ber-lawanan (batang otak masih baik). Tes kalori (harus dicek utuhnya membrana Timpani). Irigasi telinga dengan air dingin sesudah 20 - 30 detik akan menimbulkan gerakan mata konjugat tonik ke arah rangsangan (batang otak masih baik). c. Reaksi motorik Bila dirangsang nyeri dan lain-lain, posisi penderita akan memperlihatkan gejala-gejala dekortikasi atau deserebrasi atau flaksid. (Gangguan kranial —,► kaudal). d. Tipe pernapasan Hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor matabolik. Bila faktor-faktor tersebut dapat disingkirkan, hubungan lokalisasi kurang lebih sebagai berikut : 36 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 Cheyne stokes — ~ lesi kortikal. Hiperventilasi (sentral) —. lesi mesensefalon. Iregular — ~ lesi tegmentum. Ataksik — Apnea — ~ lesi medula. Selain hal-hal tersebut diatas, diobservasi juga gejala-gejala neurologik lain, misalnya kemungkinan timbulnya fistula karotiko kavernosa dan emboli lemak. Fistula karotiko kavernosa dapat timbul sejak beberapa jam sesudah trauma. Penderita mendengar suara bising (bruit) da-lam kepalanya, nyeri kepala dan penglihatan ganda. Pada pe-meriksaan didapatkan pembengkakan dan penonjolan mata yang merah dan berdenyut. Dapat ditemukan gangguangangguan saraf kranial berturut-turut saraf 3,6,5,7,4 dan 2. Pada auskultasi di daerah temporal, orbita, dan diatas arteri karotis dapat terdengar suara bising yang sesuai dengan denyut nadi. Operasi ligasi dilakukan setelah evaluasi dengan arteriografi dan EEG." Emboli lemak dapat terjadi bila terdapat juga fraktur tulang-tulang panjang. Gejala dapat timbul dari beberapa jam sampai 3 hari sesudah trauma. Mula mula akan timbul sindroma paru-paru dengan hipoksia, takipnea dan sesak nafas, ta-
  • 37.
    Cermin Dania KedokteranNo. 34, 1984 37 hap berikutnya terjadi sindroma serebral dengan kegelisahan, suhu badan meningkat, penurunan kesadaran sampai koma yang kadang-kadang disertai dengan gejala-gejala fokal misal-nya hemiparesis ataupun kejang-kejang. Pada X-foto torak dapat terlihat gambaran snowstorm. Peng-obatan dengan pemberian kortikosteroid, 02 dan hipotermi.7,25,35 Hasil-hasil observasi sangat menentukan tindakan apa yang selanjutnya harus dikerjakan, antara lain perlu atau tidaknya seseorang penderita segera dioperasi. Tindakan bedah darurat. Dari segi bedah saraf sangat penting adalah komplikasi intra-kranial, lesi massa, khususnya hematoma intrakranial. • Hematoma epidural 12 Adalah komplikasi intrakranial yang paling mudah dicapai dan paling baik hasilnya dari tindakan-tindakan bedah trauma ke-pala. Pada umumnya alasan untuk merawat penderita dalam RS didasarkan atas kemungkinan timbulnya hematoma ini. Maka perjalanan penyakit serta gejala-gejalanya harus dikenal dengan baik. Gambaran klasik adalah kehilangan kesadaran sementara pada waktu trauma. Gangguan kesadaran ini membaik tanpa kelainan neurologik. Kemudian terjadi gangguan kesadaran yang kedua dengan didahului oleh nyeri kepala. Pada saat trauma, terjadi robekan dan perdarahan dari a. meningea me-dia. Perdarahan kemudian berhenti oleh karena spasme pem-buluh darah dan pembentukan gumpalan darah. Beberapa jam kemudian terjadi perdarahan ulang; penumpukan darah di ruang epidural_ini akan melepaskan duramater dari tulang tengkorak. Pada waktu nyeri kepala menghebat dan kesadaran menurun, telah terjadi kenaikan tekanan intrakranial yang kedua. Pada saat ini timbul gejala-gejala distorsi otak. Begitu kemampuan kompensasi ruang intrakranial habis, keadaan umum penderita dengan cepat menurun. Tampak pe-lebaran pupil ipsilateral (80%), oleh karena herniasi bagian mesial dari lobus temporalis menekan n. okulomotorius. — penurunan kesadaran bertambah. — hemiparesis kontralateral (dapat juga ipsilateral). — deserebrasi. Bila keadaan berlanjut tanpa tindakan, timbul — Pernapasan Cheyne Stokes. — refleks pupil dan respon kalorik negatif. — pernapasan paralitik, bradikardi dan akhirnya meninggal. Maka sangat penting diagnosis ditegakkan sedini mungkin, yaitu bila hanya nyeri kepala dan penurunan kesadaran saja yang tampak. Pada saat ini diperlukan pemeriksaan tambahan arteriografi atau bila mungkin CT. Bila telah tampak pelebaran pupil dan atau hemiparesis maka tindakan secepatnya harus diambil dengan atau tanpa bantuan sarana diagnosis tersebut. Mengirimkan penderita ke pusat yang lebih lengkap seharus-nya pada saat dini tersebut, yaitu pada saat baru timbul nyeri kepala hebat dan penurunan kesadaran. Bila tidak mungkin melakukan rujukan, atau bila diperkirakan terlambat untuk dikirim berhubung gejalanya sudah nyata, seyogyanya tindak-an bedah dapat dilakukan di RS setempat. Beberapa petunjuk pembantu menentukan lokalisasi : — biasanya temporal (73%)36 — adanya jejas di kepala; laserasi kulit, hematoma subkutan, ekskoriasi, perdarahan dari telinga. — x foto kepala terdapat fraktur tulang kepala. Hematoma epidural terdapat pada/dibawah/sekitar garis fraktur. — dipilih terutama pada sisi pupil yang melebar. Pembedahan explorative burrhole, bila positif dilanjutkan dengan kraniotomi evakuasi hematoma dan hemostasis yang cermat. • Hematoma subdural12 Yang terpenting dalam hal gawat darurat adalah hematoma subdural akut (yang terjadi dalam waktu 72 jam sesudah trau-ma). Hematoma subdural, khususnya yang berkomplikasi, gejalanya tak dapat dipisahkan dari kerusakan jaringan otak yang menyertainya; yang berupa gangguan kesadaran yang berkelanjutan sejak trauma (tanpa lusid interval) yang sering bersamaan dengan gejala-gejala lesi massa, yaitu hemiparesis, deserebrasi satu sisi, atau pelebaran pupil. Dalam hal hematoma subdural yang simple dapat terjadi lusid interval bahkan dapat tanpa gangguan kesadaran. Sering terdapat lesi multiple. Maka, tindakan CT Scan adalah ideal, karena juga menetapkan apakah lesi multiple atau single. Angiografi karotis cukup bila hanya hematoma subdural yang didapatkan. Bila kedua hal tersebut tak mungkin dikerjakan, sedang ge-jala dan perjalanan penyakit mengarah pada timbulnya lesi massa intrakranial, maka dipilih tindakan pembedahan. Tin-dakan eksploratif burrhole dilanjutkan tindakan kraniotomi, pembukaan dura, evakuasi hematoma dengan irigasi memakai cairan garam fisiologis. Sering tampak jaringan otak edematous. Disini dura dibiarkan terbuka, namun tetap diperlukan penu-tupan ruang likuor hingga kedap air. Ini dijalankan dengan bantuan periost. Perawatan pascabedah ditujukan pada faktor-faktor sistemik yang memungkinkan lesi otak sekunder. • Fraktur impresi. Fraktur impresi terbuka (compound depressed fracture). In-dikasi operasi terutama adalah debridement, mencegah infeksi. Operasi secepatnya dikerjakan. Dianjurkan sebelum lewat 24 jam pertama. Pada impresi tertutup, indikasi operasi tidak mutlak kecuali bila terdapat kemungkinan lesi massa dibawah fraktur atau penekanan daerah motorik (hemiparesis dan lain-lain). Indikasi yang lain (lebih lemah), ialah kosmetik dan ke-mungkinan robekan dura. Diagnosis dengan x foto kepala 2 proyeksi, kalau perlu dengan proyeksi tangensial. Impresi lebih dari tebal tulang kepala pada x foto tangensial, mempertinggi kemungkinan robekan dura. X foto juga diperlukan untuk menentukan letak fragmen-fragmen dan perluasan garis fraktur; dengan ini ditentukan pula apakah fraktur menyilang sinus venosus. Impresi fraktur tertutup yang menyilang garis tengah merupakan kontra indikasi relatif untuk operasi,
  • 38.
    dalam arti sebaiknyatidak diangkat bila tidak terdapat gejala yang mengarah pada kemungkinan lesi massa atau penekanan otak.37 Dalam hal fraktur impresi terbuka yang menyilang sinus venosus maka persyaratan untuk operasi bertambah dengan : — bila luka sangat kotor. — bila angulasi besar. — bila terdapat persediaan darah cukup. — bila terdapat ketrampilan (skill) dan peralatan yang cukup. PROGNOSIS Hal-hal yang dapat membantu menentukan prognosis : Usia dan lamanya koma pasca traumatik,38 makin muda usia, makin berkurang pengaruh lamanya koma terhadap restitusi mental. Tekanan darah pasca trauma. Hipertensi pasca trauma mem-perjelek prognosis.38 Pupil lebar dengan fefleks cahaya negatif, prognosis jelek.35 Reaksi motorik abnormal (dekortikasi/deserebrasi) biasanya tanda penyembuhan akan tidak sempurna.35 Hipertermi, hiperventilasi, Cheyne-Stokes, deserebrasi: menjurus ke arah hidup vegetatif.35,39 Apnea, pupil tak ada reaksi cahaya, gerakan refleks mata negatif, tak ada gerakan apapun merupakan tanda-tanda brain death. Ini perlu dilengkapi dengan EEG yang iso-elektrik. 35 RINGKASAN Dibicarakan mengenai cedera otak dan dasar-dasar pengelo-laannya, sehubungan dengan makin meningkatnya korban ke-celakaan lalu lintas dimana banyak diantaranya mengalami ce-dera otak. Akibat benturan kepala, terjadi cedera pada otak dan ja-ringan sekitarnya yang disebut dengan lesi primer. Bila korban dapat tetap bertahan, terjadi proses lebih lanjut yang dipenga-ruhi oleh faktor-faktor intrakranial maupun sistemik. Proses ini akan menghasilkan kerusakan-kerusakan yang disebut lesi sekunder. Mekanisme terjadinya cedera akibat benturan kepala dan patofisiologik proses selanjutnya telah dibicarakan; juga kerusakan-kerusakan pada jaringan sekitar otak. Pengelolaan meliputi pemeriksaan, observasi dan pengobat-an penderita baik secara konservatif maupun yang memerlukan tindakan operasi darurat. Dengan pengelolaan yang cepat, terutama pada saat proses terjadinya lesi-lesi sekunder, diharapkan dapat diperoleh hasil yang sebaik-baiknya bagi penderita. Daftar kepustakaan ada pada redaksi/penulis 38 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984
  • 39.
    Infeksi Intrakranial dr.Hendro Susilo Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 39 PENDAHULUAN Mekanisme Penanggulangan terhadap infeksi yang terjadi di susunan saraf pusat diduga kurang efektif dibandingkan dengan infeksi yang terjadi di bagian tubuh lain. Tidak jarang organisme yang relatif memiliki derajat patogenitas rendah dapat menyebabkan meningitis atau abses otak. Demikian pula cairan serebrospinal (CSS) pada beberapa kasus justru merupakan media yang ideal untuk pertumbuhan kuman disamping hambatan antibodi dan sel radang untuk menembus jaringan saraf pusat oleh karena adanya barrier darah otak. Dari segi klinis, infeksi intrakranial seringkali menunjukkan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Hingga penting untuk mengenal diagnosis secara dini dan memberikan pengobatan yang segera, tepat dan rasional untuk menghindari kematian dan gejala sisa yang menetap. MENINGITIS Istilah "meningitis" menunjukkan reaksi keradangan yang mengenai satu atau semua lapisan selaput otak yang membung-kus jaringan otak dan sumsum tulang. Dalam arti yang terbatas menunjukkan infeksi difus yang mengenai lapisan pia dan araknoid (lepto meningitis).1 Pada umumnya infeksi tidak hanya terbatas pada selaput otak namun juga mengenai jaringan otak (ensefalitis) dan pembuluh darah (vaskulitis). Pembagian klinis : 1. Meningitis bakteri akut 2. Meningitis subakut dan kronis. MENINGITIS BAKTERI AKUT Patogenesis : infeksi mencapai selaput otak melalui : — Implantasi langsung setelah luka terbuka kepala — Perluasan langsung dari infeksi telinga tengah, sinus para-nasalis dan wajah — Lewat aliran darah (bakteriemia atau sepsis) — Perluasan dari tromboflebitis kortikal dan abses otak — Melalui lamina kribrosa pada rinore CSS yang kronis atau rekuren. Etiologi : Meningitis adalah kasus darurat yang memerlukan pengobatan segera tanpa menunggu hasil pembiakan kuman, sehingga perlu diketahui jenis organisme yang sering ditemukan berdasarkan usia penderita.2 —Neonatus (sampai 30 hari) : Gram negatip enterobaccili, Streptococcus grup B, Listeria monocytogenes — Bayi (30 - 60 hari) : Streptococcus grup B, Haemophilus influenzae, Neisseria meningitidis. — Anak (2 - 4 tahun) : Haemophilus influenzae, Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumonia. — Anak (lebih 4 tahun) dan dewasa : Streptococcus pneumonia. Neisseria meningitidis, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae. Manifestasi klinis : Secara klinis meningitis purulenta pada de-wasa ada 3 kelompok : — Kelompok I : dengan panas, nyeri kepala dan kaku tengkuk mendadak di-ikuti kesadaran yang menurun. — Kelompok II : dengan panas, nyeri kepala dan kaku tengkuk yang berjalan antara 1 - 7 hari, dengan tanda-tanda infeksi saluran napas bagian atas; penderita hanya mengantuk tanpa penurunan kesadaran yang jelas. — Kelompok III : panas dan nyeri kepala mendadak diikuti keadaan syok dengan hipotensi dan takikardia oleh karena sepsis. Pemeriksaan neurologis seringkali dijumpai tanda rangsangan selaput otak (seperti kaku tengkuk, tanda Kernig dan Brudzinki), kelumpuhan saraf kranial (strabismus, gerakan bola mata
  • 40.
    terganggu) dan tandafokal lain. Pada bayi dan anak sering di-jumpai kejang dan kesadaran yang menurun sampai koma. Faktor predisposisi : Beberapa faktor predisposisi perlu di-pikirkan seperti otitis media dan mastoiditis, pneumonia, dia-betes mellitus, trauma kepala, abses otak, furunkulosis dan selulitis. Meningitis dapat juga merupakan komplikasi dari leukemia dan penyakit Hodgkin.1,2 Diagnosis : Pemeriksaan CSS menunjukkan tekanan meningkat dengan warna keruh sampai purulen, dan peningkatan jumlah lekosit (500 - 35000/cmm) yang terutama terdiri sel PMN (stadium awal). Kadar protein meningkat dan kadar glukosa menurun. Hendaknya dilakukan pengecatan CSS (Gram) disamping pembiakkan kuman. Pemeriksaan lain seperti X-foto tengkorak, sinus paranasalis mastoid, toraks dan EEG. Pengobatan : — Pengobatan kausal dengan antibiotika dosis tinggi sesuai dengan usia penderita dan kuman penyebab. Dosis dewasa yang biasanya diberikan adalah : Ampisilin : 300 - 400 mg per kg (6 dosis) i.v Kloramfenikol : 4 - 6 g/hari (4 dosis) i.v. Gentamisin : 3 - 5 mg per kg (3 dosis) i.v Oksasilin : 10 - 12 gram (6 dosis) — Pengobatan suportip dan simtomatik (cairan, elektrolit, kejang, edema otak, febris). MENINGITIS TUBERKULOSIS Penyakit ini merupakan meningitis yang sifatnya subakut atau kronis dengan angka kematian dan kecacadan yang cukup tinggi. Menurut pengamatan, meningitis tuberkulosis merupakan 38,5% dari seluruh penderita dengan infeksi susunan saraf pusat yang dirawat di bagian Saraf RS Dr Soetomo.3 Manifestasi klinis : Penulis menemukan adanya panas (94%), nyeri kepala (92%), muntah muntah, kejang dan pemeriksaan neurologik menunjukkan adanya kaku tengkuk, kelumpuhan saraf kranial (terutama N III, IV, VI, VII) (30%), edema papil dan kelumpuhan ekstremitas (20%) serta gangguan kesadaran.4 Diagnosis : Diagnosis Meningitis tuberkulosis ditegakkan atas dasar : 1. Adanya gejala rangsangan selaput otak seperti kaku tengkuk, tanda Kernig dan Brudzinski. 2. Pemeriksaan CSS menunjukkan : — peningkatan sel darah putih terutama limfosit — peningkatan kadar protein — penurunan kadar glukosa 3. Ditambah 2 atau 3 dari kriteria dibawah ini : — ditemukannya kuman tuberkulosis pada pengecatan dan pembiakan CSS — kelainan foto toraks yang sesuai dengan tuberkulosis — Pada anamnesis kontak dengan penderita tuberkulosis aktif Stadium : Pembagian klinis ke dalam 3 stadium : 40 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 — Stadium I : kesadaran penderita baik disertai rangsangan selaput otak tanpa tanda neurologik fokal atau tanda hidrosefalus. — Stadium II : didapatkan kebingungan dengan atau tanpa disertai tanda neurologis fokal misalnya kelumpuhan otot mata bagian luar atau adanya hemiparesis. — Stadium III : penderita dengan stupor atau delirium dengan hemiparesis/ paraparesis. Pengobatan : Beberapa kombinasi obat pernah diberikan untuk menanggulangi penyakit ini namun pada dasarnya obat tersebut harus dapat menembus barrier darah otak, berada dalam CSS dengan kadar yang cukup efektif dan aktivitas anti tuberkulosis tinggi, resistensi dan kerja samping obat yang minimal. Di RS Dr Soetomo dipakai kombinasi3 : — Streptomisin 20 - 30 mg/kg/hari selama 2 minggu kemudian dijarangkan 3 kali/minggu hingga klinis dan laboratorium baik (perlu waktu kira-kira 6 minggu). — INH 20 - 25 mg/kg/hari pada anak anak atau 400 mg/hari pada dewasa selama 18 bulan. — Etambutol 25 mg/kg/hari sampai sel cairan serebrospinal normal, kemudian diturunkan 15 mg/kg/hari selama 18 bu-lan. — Rifampisin 15 mg/kg/hari selama 6 - 8 minggu. Kortikosteroid hanya dianjurkan bila ditemukan tanda edema otak. ABSES OTAK Penanganan penderita dengan abses otak di RS Dr Soetomo akhir-akhir ini mengalami kemajuan dengan adanya sarana di-agnosis yang modern seperti CT scan, penanggulangan bedah saraf yang memadai dan pengobatan yang adekuat. Namun perlu diperhatikan pula adanya kegagalan dalam pengobatan, karena adanya pembahan pola organisme seperti ditemukannya kuman anaerob dan infeksi campuran serta resistensi terhadap antibiotika.5 Sumber infeksi : — Penyebaran langsung dari otitits media, mastoiditis atau sinusitis frontalis, etmoidalis, sfenoidalis dan maksilaris. — Tromboflebitis kortikal, osteomielitis tulang tengkorak. — Luka tembus pada tulang tengkorak. — Emboli septik yang berasal dari paru (bronkiektasis, empie-ma, abses paru), dan jantung (SBE, penyakit jantung ko-ngenital). Lokalisasi : Sering daerah lobus frontalis dan parietalis, juga ditemukan pada lobus temporalis dan serebelum (otitis, media dan mastoiditis) serta abses yang multiple. Manifestasi klinis : — Gejala sistemik : panas, malaise, menggigil, bradikardia. — Gejala SSP non fokal : akibat kenaikan tekanan intrakranial (nyeri kepala, muntah, gangguan kesadaran). — Gejala fokal SSP : tergantung lokalisasi abses (gangguan motorik, mental, sensorik, kejang,ataksia).
  • 41.
    Cermin Dunia KedokteranNo. 34, 1984 41 Diagnosis : — Darah : sel lekosit dan laju endap darah meningkat. — X-foto tengkorak, mastoiditis, sinusitis, pergeseran kelenjar pineal. — CT scan : sangat membantu diagnosis dini maupun follow-up pasca pengobatan/bedah. Demikian pula CT scan sangat membantu pada penderita dengan gejala meningitis yang disertai tanda lateralisasi neurologi sebelum dilakukan punksi lumbal — EEG dan arteriogram. Pengobatan : — Pemberian antibiotika yang adekuat terutama stadium serebritis baik terhadap kuman aerob maupun anaerob (Pe-nisilin G, Kloramfenikol, Metronidazole).6 — Tindakan pembedahan. — Pengobatan suportif dan simtomatik. KEPUSTAKAAN 1. Gilroy J, Meyer JS. Medical Neurology, 3rd Ed. New York : Mc Milian Co, 1979; 387 - 444. 2. Sahs AL, Joynt RJ. Bacterial Meningitis. In Baker AB, Baker LH eds. Clinical Neurology,Philadelphia : Harper & Row 1981; chap 15, 1 - 90. 3. Hasan M, Troeboes P. Penanggulangan dari tuberkulosa susunan sa-raf pusat. Simposium Tuberkulosa, Surabaya, 1982. 4. Hendro S. Treatment of Tuberculous Meningitis with Prothionamide- Isoniazid-Ethambutol and Streptomycin regimen, 5th Asian and Oceanian Congress of Neurology. Manila, 1979. 5. Hendro S dkk. Penyulit Otitis Media Khronika-Mastoiditis Khronika dalam bidang Neurologi. Kongres Nasional II PNPNCh, Bandung, 1980. 6. De Lauvois J. Antibiotic treatment of abscesses of the central nervous system. Br Med J 1977; 2 : 985 - 87.
  • 42.
    Tumor otak TinjauanKepustakaan dr. Ny. Herainy Hartono Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya. PENDAHULUAN Di dalam era CT scan dewasa ini, sering kali dibuat diagnosis penderita sebagai tumor otak. Dan sebagai gambaran umum disebutkan bahwa kurang lebih 10% tumor pada manusia mengenai susunan saraf pusat, dimana 80% dari padanya berada didalam intrakranial dan 20% di medulla spinalis. Tumor metastasis otak merupakan 20% dari tumor intrakranial. Penyebab yang pasti belum dapat ditentukan, walaupun penyelidikan-penyelidikan telah dilakukan. Faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab yaitu : keturunan, sisa-sisa sel em-brional, perubahan neoplastik, trauma, virus dan bahan-bahan karsinogenik. Urutan-urutan frekuensi tumor otak adalah sebagai berikut : 1. Glioma 41% 2. Meningioma 17% 3. Adenoma hipofise 13% 4. Neurilemmoma/neurofibroma 12% 5. Tumor metastasis 6. Tumor pembuluh darah Mengenai lokalisasi tumor otak, dilaporkan bahwa pada orang dewasa kebanyakan di daerah supratentorial, sedangkan pada anak-anak di daerah infratentorial. Tumor-tumor metastasis otak kebanyakan berasal dari paru, traktus digestivus, mamma serta ginjal, din-ma 70% terletak di hemisfir serebri, sedangkan 30% di serebelum dan 70% multipel. INSIDENSI Insidensi umur : Jenis tumor saraf mempunyai kecenderungan untuk ber-kembang pada golongan umur tertentu. Tumor primer dari susunan saraf pusat yang berasal dari jaringan embrional ba-nyak dijumpai pada umur di bawah 10 tahun, dan jenis tumor lain berkisar antara umur 20 - 60 tahun. Sedangkan tumor metastasis otak sebagian besar terdapat pada umur 40 - 70 tahun. 42 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 Tumor serebelum lebih sering pada anak-anak dari pada orang dewasa. Glioma batang otak, praktisnya di Pons lebih sering dijumpai pada anak-anak. Berdasarkan pemeriksaan histopatologi tumor, digambarkan sebagai berikut : — Meduloblastoma, pada dasa warsa I — Pinealoma dan astrositoma serebelum, pada dasawarsa II — Glioblastoma, pada dasa warsa V — Schwannoma, pada dasa warsa V - VI Insidensi jenis kelamin : Tumor otak yang banyak dijumpai pada laki-laki, yaitu : — Glioma : astrositoma, glioblastoma dan meduloblastoma — tumor-tumor di regio pineale — Tumor pituitari — Tumor-tumor kongenital — Kordoma Sedangkan schwannoma dan meningioma lebih sering di-jumpai pada wanita. GEJALA KLINIS Gejala klinis sangat dipengaruhi oleh lokalisasi dan histo-patologik dari tumor. Gejala-gejala tersebut dapat digolongkan menjadi : • Gejala umum • Gejala fokal Gejala umum Biasanya disebabkan oleh karena tekanan intrakranial yang meningkat. Kenaikan tekanan intrakranial dapat disebabkan oleh faktor-faktor : — langsung oleh masa tumor sendiri — edema serebri — obstruksi aliran cairan serebro spinalis — obstruksi sistema vena serebri — gangguan mekanisme absorbsi cairan serebro spinalis Gejala-gejala ini dapat berupa :
  • 43.
    Cermin Dunia KedokteranNo. 34, 1984 43 1. Nyeri kepala 2. Muntah 3. Kejang 4. Gangguan mental 5. Pembesaran kepala 6. Papil edema 7. Sensasi abnormal di kepala 8. Nadi lambat dan tensi meningkat 9. False localizing sign 10. Perubahan respirasi 1. Nyeri kepala : Merupakan keluhan utama pada kira-kira 20% kasus. Dapat dirasakan selama perjalanan penyakitnya, dapat umum atau terlokalisir pada daerah yang berlainan. Sifat nyerinya digambarkan sebagai nyeri berdenyut atau dirasakan sebagai rasa penuh di kepala dan seolah-olah kepala mau "meledak". Timbulnya dimulai pagi hari, dikaitkan oleh karena kenaikan kadar CO2 selama tidur. Adanya CO2 ini menyebabkan aliran darah serebral meningkat serta kongesti dari sistema vena serebral. Ini mengakibatkan tekanan intrakranial meningkat. Nyeri dapat diperhebat dengan gerakan manuver valsava, batuk, bersin, mengejan, mengangkat barang ataupun ketegangan. Nyeri intermiten sering didapat pada anak-anak. Gejala ini mungkin karena hilang atau berkurangnya tekanan intrakranial dengan jalan pelebaran sutura. 2. Muntah : Muntah tidak berhubungan dengan lokalisasi tumor, sering timbul pada pagi hari. Sifat muntah adalah khas, yaitu proyektil atau muncrat dan tidak didahului rasa mual. 3. Kejang : Kejang dapat merupakan manifestasi pertama tumor otak pada 15% kasus. Dikatakan, bahwa apabila terjadi kejang fokal pada orang berumur di bawah 50 tahun, harus dipikirkan adanya tumor otak, selama penyebab lain belum ditemukan. Dalam hal terjadinya kejang, lokasi tumor lebih penting daripada histologinya. Tumor yang jauh dari korteks motoris akan jarang menimbulkan kejang. Meningioma pada konvek-sitas otak, sering menimbulkan kejang fokal sebagai gejala dini. Sedangkan kejang urnum biasanya terjadi, apabila kenaikan tekanan intrakranial melonjak secara cepat misalnya pada Glioblastoma multiforme. 4. Gangguan mental : Gejala gangguan mental tidak perlu dihubungkan dengan lokalisasi tumor, walaupun beberapa sarjana menyatakan bahwa gejala ini sering dijumpai pada tumor lobus frontalis dan temporalis. Juga dikatakan bahwa menigioma merupakan tumor yang seting menimbulkan gangguan mental. Gejalanya sangat tidak spesifik. Dapat berupa apatis, de-mensia, gangguan memori, gangguan intelegensi, gangguan tingkah laku, halusinasi sampai seperti psikosis. 5. Pembesaran kepala : Keadaan ini hanya terjadi pada anak-anak, dimana suturanya belum menutup. Dengan meningkatnya tekanan intrakranial, sutura akan melebar dan fontanella anterior menjadi menonjol. Pada beberapa anak sering terlihat pembendungan vena didaerah skalp dan adanya eksoftalmos. Pada perkusi terdengar suara yang khas, disebut crack pot signs (bunyi gendi yang rengat). 6. Papil edema : Papil edema dapat terjadi oleh karena tekanan intrakranial yang meningkat atau akibat langsung dari tekanan tumor pada N II. Derajat papil edema tidak sebanding dengan besarnya tumor dan tidak sama antara mata satu dan lainnya. Bila tekanan intrakranial meningkat dengan cepat, akan terjadi pembendungan vena-vena N. Optikus dan diskus optikus menjadi pucat serta membengkak. Sering disertai perdarahan-perdarahan disekitar fundus okuli. Pada papil edema yang kronis dapat menyebabkan gliosis N. Optikus dan akhirnya N. Optikus mengalami atrofi sekunder dengan akibat kebutaan. Dilaporkan bahwa 60% dari tumor otak memperlihatkan gejala papil edema, dan 50% diakibatkan oleh tumor supra-tentorial. 7. Sensasi abnormal di kepala : Banyak penderita merasakan berbagai macam rasa yang samar-samar. Sering dikeluhkan sebagai enteng kepala (light-headness), pusing (dizziness) dan lain-lainnya. Keadaan ini mungkin sesuai dengan tekanan intrakranial yang meningkat. 8. Bradikardi dan tensi meningkat : Keadaan ini dianggap sebagai mekanisme kompensatorik untuk menanggulangi iskemia otak. 9. False localizing sign : False localizing signs dari tumor otak adalah merupakan gejala yang tidak semuanya berhubungan dengan gangguan fungsi pada tempat tumor tersebut. Biasanya terlihat sebagai gejala fokal dari tempat-tempat yang jauh dari tumor itu sendiri. Misalnya pada. tumor otak yang kecil disertai edema serebri yang luas, akan memperlihatkan gejala-gejala klinis yang luas. Sebaliknya tumor besar tanpa disertai edema serebri biasanya tidak memberikan gejala klinis. Hal-hal inilah yang dapat membingungkan untuk menentukan lokalisasi tumor. Keadaan-keadaan tersebut dapat disebabkan oleh karena ada nya edema serebri atau herniasi. 10. Perubahan respirasi : Hal ini akibat tekanan intrakranial yang meningkat. Dapat timbul respirasi tipe Cheyne Stokes, dilanjutkan dengan hiper-ventilasi- respirasi irreguler-apneu, akhirnya kematian. Gejala fokal Gejala-gejala fokal sangat tergantung dengan lokalisasi tumor. Gejalanya sesuai dengan fungsi jaringan otak yang ditekan atau dirusak, dapat perlahan-lahan atau cepat. Dapat menimbulkan disfungsi, misalnya hemiparesis, afasia motorik ataupun paresis saraf kranial, sebelum tekanan intrakranial meninggi secara berarti. Dalam hal ini, gejala dan tanda di atas mempunyai arti lokalisasi/fokal. Dibawah ini akan diuraikan tentang beberapa gejala dan manifestasi fokal yang menunjukkan lokasi tumor otak.
  • 44.
    Tumor lobus frontalis: Tumor di daerah ini pada umumnya menimbulkan gang-guan kepribadian dan mental. Dapat timbul perlahan-lahan, beberapa bulan sampai bertahun-tahun. Pada mulanya pende-rita menjadi apatis, kurang atau hilangnya perhatian/kontrol, kemudian kesukaran dalam pandangan kedepan (lack of fore sight), kesukaran dalam pekerjaan dan akhirnya regresi dalam tingkah laku sosial, kebiasaan dan penampilan, serta gangguan psikoseksual. Euforia sering dijumpai dan senang berkelakar (factitiousness) yang dalam beberapa kepustakaan disebut sebagai "witzelsucht". Gejala fokal lain terjadi bila tumor meluas ke jaringan se-kitarnya. Bila mengenai bagian posterior di dekat girus sentra-lis anterior, Pada penderita didapatkan graps refleks (refleks memegang). Kadang-kadang didapatkan spasme tonik pada jarijari tangan atau kaki ipsilateral tumor, monospasme, kejang fokal pada wajah dan transitory post convulsive paralysis (Todd's paralisis). Bila mengenai area Broca pada hemisfer dominan dapat ter-jadi afasia motorik. Kejang tonik fokal merupakan simtom fokal dari bagian atas posterior dari lobus frontalis di sekitar daerah premotor. Bila mengenai traktus kortikospinalis mengakibatkan he-miparesis sampai hemiplegia dengan tonus meningkat, refleks meningkat dan adanya ekstensor plantar refleks yang positip. Semua ini kontralateral lesi. Bila tumor tumbuh ditengah atau timbul dari groove olfac-torius, maka biasanya meluas ke posterior dan mengenai N. Optikus. Pada penderita didapatkan tanda "sindroma Foster Kennedy", yaitu anosmia sesisi lesi akibat tekanan N. I, atrofi N. II ipsilateral akibat tekanan pada N. II, dan papil edema kontralateral lesi akibat meningkatnya tekanan intrakranial. Jika tumor tumbuh didaerah falks serebri setinggi daerah presentral maka paraparesis inferior akan dijumpai. Pada tumor lobus frontalis juga dijumpai kurangnya kontrol sfingter dilanjutkan dengan hilangnya inhibisi kandung ken-cing dan akhirnya jatuh dalam inkontinensia urine. Urutan jenis tumor pada lobus frontalis adalah glioma (glio-blastoma multiforme pada orang dewasa dan astrositoma pada anak-anak), ependimoma, meningisma disusul kraniofaringio-masis dan yang jarang adalah glioma dari N. Optikus. Tumor lobus temporalis : Lobus temporalis mempunyai ambang yang rendah untuk timbulnya serangan epilepsi. Tumor yang menekan atau timbul di Unkus mengakibatkan uncinate fit yaitu kejang parsiil, yang dapat terjadi beberapa kali dalam satu hari. Biasanya dimulai dengan halusinasi bau atau rasa. 80% dengan halusinasi bau busuk dan 20% halu-sinasi bau bunga. Ini merupakan sensasi yang pertama. Tumor yang mengenai lobus temporalis dan insula, menim-bulkan psikomotor epilepsi. Penderita dapat mengalami mo-vement motoric automatic dengan sengaja. Penderita dapat berjalan, berlari, menyetir mobil, membuka pakaian atau ben-tuk- bentuk gerakan lain yang terkoordinir baik selama fase ini. Biasanya jarang merupakan gerakan-gerakan yang anti sosial atau agresip, dan bentuknya tetap (stereotype). 44 Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 Bila tumor mengenai insula, menimbulkan kejang parsiil dengan keluhan didaerah visera, termasuk nyeri epigastrium, perasaan fluttering di epigastrik atau toraks. Tumor pada temporalis posterior, menimbulkan kejang par-siil. Dimulai dengan halusinasi visual. Pada medial lobus temporalis, dapat meluas ke daerah basal ganglia dengan akibat distonia unilateral, korea atetosis dan tremor. Pada daerah midtemporal dapat disertai halusinasi pende-ngaran, berupa suara siulan (whistling), menyiut (hissing) atau suara bel. Juga didapatkan gejala "dejavu" atau "jamais Vu". Jenis tumor pada lobus temporalis biasanya glioblastoma multiforme, astrositoma, oligodendroglioma disusul tumor-tumor metastasis. Tumor lobus parietalis : Tumor di daerah parietalis dapat merangsang korteks sen-soris, sebelum manifestasi lain dijumpai. Area parietalis ini berguna untuk diskriminasi tekstur, berat, ukuran, bentuk dan identifikasi obyek yang diraba. Akibat rangsangan disini ialah serangan Jackson sensorik. Jika tumor menimbulkan kerusakan strukturil di daearah ini, maka segala macam perasaan di butuh kontralateral sisi lesi, tidak dapat dirasakan dan dikenal. Gangguan dapat berupa astereognosis, atopognosis, hemianestesia, tidak dapat membedakan kanan atau kiri dan loss of body image. Jenis tumor lobus parietalis meliputi glioma, glioblastoma, astrositoma, oligodendroglioma, meningioma, ependimoma, tumor-tumor metastasis dan angioma. Tumor lobus oksipitalis : Tumor di daerah ini biasanya jarang. Gejala dini yang me-nonjol sering berupa nyeri kepala di daerah oksipital, kemudi-an disusul oleh adanya gangguan yojana penglihatan. Tumor di daerah medial lobus oksipitalis, sering menim-bulkan kuadrananopsia homonimus inferior kontralateral dan dapat meluas menjadi hemianopsia homonim. Tumor di daerah ini jenis glioma, angioma dan tumor-tumor metastasis. Tumor serebellum : Tumor serebellum cepat mengadakan obstruksi aliran cairan serebro spinalis, sehingga tumor ini cepat menimbulkan te-kanan intrakranial yang meningkat. Gejala nyeri kepala, mun-tah dan papil edema sering sebagai gejala dini, disusul dengan gangguan gait dan gangguan koordinasi. Nyeri kepala dirasa-kan didaerah oksipital dan dapat menjalar ke leher bawah. Nyeri menghebat apabila terjadi herniasi tonsila serebellaris. Gangguan koordinasi dapat diperiksa dengan finger to nose test; heel to knee test, dan didapatkan disdiadokokinesia. Bila berjalan akan jatuh ke sisi lesi, Romberg test positip, ataksia, tremor, nistagmus hipotonia dan scanning speech positip. Tumor di daerah ini meliputi medulloblastoma, astrositoma, granuloma tuberkuloma, granuloma luetika dan tumor-tumor metastasis.
  • 45.
    "UICC Classification fortumors of the brain and related structures" Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 45 1. Nerve cells : — Ganglioneuroma, gangliocytoma, ganglioglioma — Ganglioneuroblastoma — Malignant ganglioneuroma, malignant gangliocytoma, malignant ganglioglioma — Sympathicogonioma — Neuroblastoma, sympathicoblastoma. 2. Neuroepithelium : — Ependymoma : Epthelial ependymoma Papillary ependymoma Cellular ependymoma — Malignant ependymoma, ependymoblastoma — Plexus papilloma — Olfactory neuroepithelioma. 3. Eye : — Medulloepithelioma of ciliary epithelium, dyktioma Neuroepihtelioma, retinoblastoma 4. Glia : — Astrocytoma : Fibrillary astrocytoma Gemistocytic astrocytoma Protoplasmatic astrocytoma — Astrocytoma of the nose, nasal glioma — Oligodendroglioma — Multiform glioblastoma — Polar spongioblastoma — Medulloblastoma 5. Peripheral and cranial nerves : — Neurinoma, neurolemmoma, schwannoma — Neurofibroma — Malignant neurinoma, malignant neurolemmoma, malignant schwannoma 6. Meningens : — Meningioma Epitheloid meningioma, ngioma, endotheliomatous meningioma Fibroblastic meningioma, fibromatous meningioma — Psammomatous 7. Vascular structure of central nervous system : — Hemangioma of cerebellum — Von Hippel-Lindau disease 8. Parapanglia : — Noncromaffm paraganglioma included, carotid body tumor, glomus caroticum tumor — Chemodectoma 9. Pineal gland : Pinealoma 10. Hypophysis : — Chromophobe adenoma : Diffuse chromophobe adenoma Sinusoidal chromophobe adenoma Papillary chromophobe adenoma — Oxyphil adenoma, eosinophil adenoma, papillary — Basophil adenoma — Craniopharyngioma, adamantinoma of ductus, craniopharyngeus — Chromophobe carcinoma. meningotheliomatousmeni- Di atas adalah kutipan kaasifikasi tumor otak berdasarkan " Unio Internarnationalis Contra Cancrum" (UICC). PROSEDUR DIAGNOSIS Menegakkan diagnosis tumor otak secara klinis tidaklah be- . gitu sulit, terutama apabila penderita menunjukkan trias gejala, berupa nyeri kepala; muntah dan pada pemeriksaan didapatkan papil edema. Namun sering kali beberapa tumor otak, hanya menunjukkan gejala gangguan mental sebagai gejala permulaan. Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, masih diperlukan beberapa pemeriksaan tambahan, dimulai cara nontraumatik sampai yang traumatik. 1. X-foto tengkorak Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan : a. Kalsifikasi intrakranial : — pada tumor otak kira-kira 10% mengalami kalsifikasi. — insidensi kalsifikasi tertinggi terjadi pada Kraniofaringi-oma dan Oligodendroglioma. b. Displacement calcified pineal gland : Glandula pineale sering mengalami kalsifikasi pada orang dewasa berupa suatu struktur di garis tengah yang tidak akan berpindah ke lateral lebih dari 3 mm pada gambaran foto tengkorak AP. Pergeseran lebih dari 3 mm sebagai indikasi adanya tumor otak. c. Tanda-tanda tekanan intra kranial yang meningkat : — Tanda paling dini dari kenaikan tekanan intrakranial adalah dekalsifikasi prosessus klinoideus posterior, di-lanjutkan dengan perubahan yang serupa di lantai dorsum sella tursika. Pada jangka waktu yang lama, keadaan ini dapat mengakibatkan lantai dorsum sella mengembung, hilang atau rusak. Juga dapat disebabkan karena ekspansi adenoma hipofise atau tumor-tumor disekitar sella tursika. — Impresio digiti. — Pelebaran sutura pada anak-anak. d. Pembentukan tulang baru (Hyperostosis) : Pada meningioma kira-kira 40% memperlihatkan gambaran hiperostosis, terutama didaerah pterion, tuberkulum sella, serebelepontin dan fosa kranii media. Sedangkan tumor jenis lain sering pada daerah dasar tengkorak. e. Destruksi tulang :
  • 46.
    — Kira-kira 10%meningioma menunjukkan penipisan tulang. Dapat disebabkan karena infiltrasi tumor pada tulang atau karena erosi tulang disebabkan tekanan dari tumor yang tumbuh perlahan-lahan. — Kista epidermoid kadang-kadang dapat ditunjukkan dengan adanya area yang mengalami destruksi. 2. X-foto toraks : Banyak tumor metastase otak berhubungan dengan adanya lesi primer di paru. 3. "Computerized Tomography,Scan" (CT scan) : Merupakan pemeriksaan yang nontraumatik dan dapat mendeteksi adanya tumor otak kira-kira 95%. 4. "Electroencephalography" (EEG) : Tumor pada hemisfer serebri, sering memberi gambaran EEG abnormal pada 75 - 85% kasus. Sedangkan tumor pada fosa posterior sering tidak memberikan kelainan EEG. Tumor otak sendiri tidak memberi aktifitas listrik abnormal. Hanya neuron-neuron yang membuat ini dan neuron-neuron pada daerah dekat tumor menjadi abnormal sedemikian rupa sehingga "hypersynchronisation" dari pelepasanpelepasan listrik dari beribu-ribu atau berjuta-juta sel saraf membentuk gelombang lambat atau gelombang runcing (spike) pada EEG. Mungkin tumor ini memberi kelainan metabolik neuron-neuron didekatnya, dengan tekanan langsung tumor, edema atau dengan merusak enervasi darahnya. Edema serebri mungkin adalah mekanisme yang paling penting. 5. Lumbal pungsi (LP) : Penggunaan LP untuk metidiagnosis adanya tumor otak, sudah banyak ditinggalkan. Lagi pula cara ini harus dikerjakan pada indikasi yang tepat. L.P. masih tetap digunakan pada dugaan adanya meningeal carcinomatosis, granuloma kronis atau adanya dugaan proses desak ruang yang dengan pemeriksaan CT scan negatip. 6. Arteriografi : Dewasa ini pemeriksaan CT scan telah mendesak arteriog-rafi. Arteriografi dapat memberikan tambahan dimensi tumor otak dan serial arteriografi dapat membantu menggambarkan mengenai blood supply dari tumor. Tumor dari kelompok meningioma biasanya sangat vaskuler (banyak pembuluh darah) dan sering menimbulkan pembesaran pada pembuluh darah arteri yang diinervasi. Gambaran yang khas pada meningioma adalah adanya pembuluh darah yang menginervasi tumor oleh cabang-cabang dari sistim karotis eksterna. Arteriografi juga membantu adanya dugaan proses tumor di fosa posterior, tumor kecil di batang otak atau neurilemmoma akustikus yang tidak tampak pada CT scan. 7. Pneumoensefalografi dan Ventrikulografi : Dapat menunjukkan paling jelas tumor intra ventrikuler dan tumor yang letaknya dalam dekat pada ventrikel, atau mengadakan invasi pada struktur di garis tengah (invading mid line structures). 46 Cermin Dania Kedokteran No. 34, 1984 PENGOBATAN Pengobatan tumor otak pada umumnya membutuhkan intervensi dari bidang bedah saraf. Makin dini diagnosa dite-gakkan dan makin mudah dicapai lesinya, makin baik hasilnya. Pada prinsipnya pengobatan meliputi pengelolaan/penurunan dari tekanan intrakranial, tindakan operatif, pemberian radiasi dan obat-obat khemoterapi. PROGNOSIS Pada umumnya prognosis ditentukan oleh faktor keganasan dan lokalisasi dari tumor otak. Makin ganas jenis tumor seperti glioblastoma atau medulo-blastoma prognosisnya makin buruk dan tidak tergantung dari letak tumor. Sebaliknya tumor-tumor yang timbulnya perlahan seperti meningioma, relatif memberikan prognosis yang lebih baik. Disamping itu, tumor-tumor yang terletak di bagian yang sukar dicapai akan memberikan prognosis yang kurang baik. Demikian juga dengan tumor-tumor metastasis akan memberikan prognosis yang jelek. KEPUSTAKAAN 1. Ausman JI. Intracranial neoplasms. In : Baker AB & Bakker LB. Rived ed. Vol I Chap Clinical neurology. Philadelphia:Harper & Row Publ. 1981; pp. 6 - 103. 2. Chusid JG. Correlative neuroanatomy and functional neurology 17thed. Mauzen Asia (ptc) Ltd, 1979. 3. De Jong RN. The Neurologic Examination 4thed. Hagertown, Ma-ryland, New York, London : Harper Row Publ. 1979. 4. Gilroy J & Meyer IS. Tumor of the central nervous system. In: Me-dical Neurology 2nded., Mac Milian Pub Co, 1975; pp. 591 - 645. 5. Merrit HH. Tumors in a Textbook of Neurology. 5thEd. Tokyo: Igaku Shoin Ltd 1973; pp. 377 - 388.
  • 47.
    Ketulian : Pemeriksaandan Penyebabnya Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 47 dr. MS Wiyadi Bagian Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya PENDAHULUAN Yang dimaksud "ketulian" disini adalah sama dengan "ku-rang pendengaran", yang dalam buku-buku ditulis deafness atau hearing loss. Di dalam buku pedoman praktis penyelenggaraan sekolah luar biasa Departemen P dan K, kata "tuli" menggambarkan adanya kekurangan pendengaran 70 db atau lebih pada telinga yang terbaik.l Dalam tulisan ini antara kata-kata "ketulian", "kurang pendengaran" dan "tuli" mempunyai arti yang hampir sama. Secara garis besar ketulian dibagi menjadi dua. Ketulian dibidang konduksi atau disebut tuli konduksi dimana kelainan terletak antara meatus akustikus eksterna sampai dengana tulang pendengaran stapes. Tuli di bidang konduksi ini biasanya dapat ditolong dengan memuaskan, baik dengan pengobatan atau dengan suatu tindakan misalnya pembedahan. Tuli yang lain yaitu tuli persepsi (sensori neural hearing-loss) dimana letak kelainan mulai dari organ korti di koklea sampai dengan pusat pendengaran di otak. Tuli persepsi ini biasanya sulit dalam pengobatannya. Apabila tuli konduksi dan tuli persepsi timbul bersamaan, disebut tuli campuran. Untuk mengetahui jenis ketulian diperlukan pemeriksaan pendengaran. Dapat dari cara yang paling sederhana sampai dengan memakai alat elektro-akustik yang disebut audiometer. Dengan menggunakan audiometer ini jenis ketulian dengan mudah dapat ditentukan. Maksud dari tulisan ini adalah untuk memberi pengertian yang lebih mendalam tentang ketulian. PEMERIKSAAN PENDENGARAN2 Dengan melakukan pemeriksaan pendengaran kita dapat mengetahui : • Apakah seseorang kurang pendengaran atau tidak. • Sifat ketuliannya, tuli konduksi ataukah tub persepsi. • Derajat ketuliannya atau besar kekurang pendengarannya. • Dengan diketahui sifat ketulian berarti diketahui pula letak kelainan, sehingga dapat ditentukan apakah perlu tindakan operasi, pemberian obat-obatan saja atau hanya dapat ditolong oleh Alat Pembantu Mendengar (APM) atau hearing aid. Macamnya tes pendengaran yaitu : • Tes yang paling sederhana ialah tes suara bisik dan perca-kapan ("konversasi"). • Tes dengan garpu suara. • Di klinik yang maju dipergunakan alat elektro-akustik yaitu tes dengan audiometer dan, • Tes dengan Impedance meter. 1. Tes suara bisik Caranya ialah dengan membisikkan kata-kata yang dikenal penderita dimana kata-kata itu mengandung huruf lunak dan huruf desis. Lalu diukur berapa meter jarak penderita dengan pembisiknya sewaktu penderita dapat mengulangi kata-kata yang dibisikan dengan benar. Pada orang normal dapat mendengar 80% dari kata-kata yang dibisikkan pada jarak 6 s/d 10 meter. Apabila kurang dari 5 - 6 meter berarti ada kekurang pendengaran. Apabila penderita tak dapat mendengarkan kata-kata dengan huruf lunak, berarti tuli konduksi. Sebaliknya bila tak dapat mendengar kata-kata dengan huruf desis berarti tuli persepsi. Apabila dengan suara bisik sudah tidak dapat mendengar dites dengan suara konversasi atau percakapan biasa. Orang normal dapat mendengar suara konversasi pada jarak 200 meter. 2. Tes Garpu Suara Dengan garpu suara frekuensi 64, 128, 256, 512, 1024, 2048 dan 4096 hz, dibunyikan dengan cara tertentu lalu disuruh mendengarkan pada orang yang dites. Bila penderita banyak tak mendengar pada frekuensi rendah berarti tuli konduksi. Bila banyak tak mendengar pada frekuensi tinggi berarti tuli persepsi.
  • 48.
    Kemudian dengan garpusuara frekuensi 256 atau 512 hz dilakukan tes-tes Rinne, Weber dan Schwabach sehingga lebih jelas lagi apakah tuli penderita dibagian konduksi atau persepsi. 3. Tes dengan Audiometer Hasil dari tes pendengaran dengan audiometer ini digambar dalam grafik yang disebut audiogram. Apabila pemeriksaan dengan audiometer ini dilakukan, tes-tes suara bisik dan garpu suara tak banyak diperlukan lagi, sebab hasil audiogram lebih lengkap. Dengan audiometer dapat dibuat 2 macam audio-gram : • Audiogram nada murni (pure tone audiogram) • Audiogram bicara (speech audiogram) Dengan audiometer dapat pula dilakukan tes-tes : • tes SISI (Short Increment Sensitivity Index), tes Fowler dimana dapat diketahui bahwa kelainan ada di koklear atau bukan. • tes Tone Decay dimana dapat diketahui apakah kelainan dibelakang koklea (retro cochlear) atau bukan. Kelainan retro coklear ini misalnya ada tumor yang menekan N VIII Keuntungan pemeriksaan dengan audiometer kecuali dapat ditentukan dengan lebih tepat lokalisasi kelainan yang me-nyebabkan ketulian juga dapat diketahui besarnya ketulian yang diukur dengan satu db (desibel). 4. Tes dengan "Impedance" meter Tes ini paling obyektif dari tes-tes yang terdahulu. Tes ini hanya memerlukan sedikit kooperasi dari penderita sehingga pada anak-anak di bawah 5 tahun pun dapat dikerjakan dengan baik. Dengan mengubah-ubah tekanan pada meatus akustikus ekterna (hang telinga bagian luar) dapat diketahui banyak tentang keadaan telinga bagian tengah (kavum timpani). Dari pemeriksaan dengan Impedancemeter dapat diketahui : • Apakah kendang telinga (membrana timpani) ada lobang atau tidak. • Apakah ada cairan (infeksi) di dalam telinga bagian tengah? • Apakah ada gangguan hubungan antara hidung dan telinga bagian tengah yang melalui tuba Eustachii. • Apakah ada perlekatan-perlekatan di telinga bagian tengah akibat suatu radang. • Apakah rantai tulang-tulang telinga terputus karena kece-lakaan (trauma kepala) atau sebab infeksi. • Apakah ada penyakit di tulang telirigastapes (otosklerosis). • Berapa besar tekanan pada telinga bagian tengah. DERAJAT KETULIAN3-7 Untuk mengetahui derajat ketulian dapat memakai suara bisik sebagai dasar yaitu sebagai berikut : • Normal bila suara bisik antara 5 - 6 meter • Tuli ringan bila suara bisik 4 meter • Tuli sedang bila suara bisik antara 2 - 3 meter • Tuli berat bila suara bisik antara 0 - 1 meter. Apabila yang dipakai dasar audiogram nada murni, derajat ketulian ditentukan oleh angka rata-rata intensitas pada fre-kuensi- frekuensi 500, 1000 dan 2000 Hz yang juga disebut 48 Cermin Dunia Kedokteran No. 34. 1984 speech frequency. Konversasi biasa besarnya kurang lebih 50 db. Derajat ketulian berdasar audiogram nada murni adalah sebagai berikut : • Normal antara 0 s/d 20 db. • Tull ringan antara 21 s/d 40 db. • Tull sedang antara 41 s/d 60 db. • Tull berat antara 61 s/d 80 db. • Tull amat berat bila lebih dari 80 db. PENYEBAB KETULIAN 8-10 Penyebab tuli konduksi 1. Pada meatus akustikus eksterna : cairan (sekret, air) dan benda asing, polip telinga). 2. Kerusakan membrana timpani : perforasi, ruptura, sikatriks. 3. Dalam kavum timpani : kekurangan udara pada oklusio tuba, cairan (darah atau hematotimpanum karena trauma kepala, sekret pada otitis media baik yang akut maupun yang kronis), tumor. 4. Pada osikula : gerakannya terganggu oleh sikatriks, meng-alami destruksi karena otitis media, oleh ankilosis stapes pada otosklerosis, adanya perlekatan-perlekatan dan luksasi karena trauma maupun infeksi, atau bawaan karena tak terbentuk salah satu osikula. Penyebab tuli persepsi • Periode prenatal 1. Oleh faktor genetik 2. Bukan oleh faktor genetik. — Terutama penyakit-penyakit yang diderita ibu pada ke-hamilan trimester pertama (minggu ke 6 s/d 12) yaitu pada saat pembentukan organ telinga pada fetus. Penyakit-penyakit itu ialah rubela, morbili, diabetes melitus, nefritis, toksemia dan penyakit-penyakit virus yang lain. — Obat-obat yang dipergunakan waktu ibu mengandung seperti salisilat, kinin, talidomid, streptomisin dan obat-obat untuk menggugurkan kandungan. • Periode perinatal Penyebab ketulian disini terjadi diwaktu ibu sedang melahirkan. Misalnya trauma kelahiran dengan memakai forceps, vakum ekstraktor, letak-letak bayi yang tak normal, partus lama. Juga pada ibu yang mengalami toksemia gravidarum. Sebab yang lain ialah prematuritas, penyakit hemolitik dan kern ikterus. • Periode postnatal 1. Penyebab pada periode ini dapat berupa faktor genetik atau keturunan, misalnya pada penyakit familiar perception deafness. 2. Penyebab yang bukan berupa faktor genetik atau keturunan: — Pada Anak-anak : a. Penyakit-penyakit infeksi pada otak misalnya meningitis dan ensefalitis. b. Penyakit-penyakit infeksi umum : morbilli, varisela,
  • 49.
    parotitis (mumps), influenza,deman skarlatina, demam tipoid, pneumonia, pertusis, difteri dan demam yang tak diketahui sebabnya. c. Pemakaian obat-obat ototoksik pada anak-anak. — Pada orang dewasa : a. Gangguan pada pembuluh-pembuluh darah koklea, dalam bentuk perdarahan, spasme (iskemia), emboli dan trombosis. Gangguan ini terdapat pada hipertensi dan penyakit jantung. b. Kolesterol yang tinggi : Oleh Kopetzky dibuktikan bahwa penderita-penderita tuli persepsi rata-rata mempunyai kadar kolesterol yang tinggi dalam darahnya. c. Diabetes Melitus : Seringkali penderita diabetes melitus tak mengeluh adanya kekurangan pendengaran walaupun kalau diperiksa secara audiometris sudah jelas adanya kekurang pendengaran. Sebab ketulian disini diperkirakan sebagai berikut : — Suatu neuropati N VIII. — Suatu mikroangiopati pada telinga dalam (inner ear). — Obat-obat ototoksik. Penderita diabetes sering ter-kena infeksi dan lalu sering menggunakan antibiotika yang ototoksik d. Penyakit-penyakit ginjal : Bergstrom menjumpai 91 kasus tuli persepsi diantara 224 penderita penyakit ginjal. Diperkirakan penyebabnya ialah obat ototoksik, sebab penderita penyakit ginjal mengalami gangguan ekskresi obat-obat yang dipakainya. e. Influenza oleh virus. Oleh Lindsay dibuktikan bahwa sudden deafness pada orang dewasa biasanya terjadi bersama-sama dengan infeksi traktus respiratorius yang disebabkan oleh virus. f. Obat-obat ototoksik : Diberitakan bahwa bermacam-macam obat menyebabkan ketulian, misalnya : dihidrostreptomisin, salisilat, kinin, neomisin, gentamisin, arsenik, antipirin, atropin, barbiturat, librium. g. Defisiensi vitamin. Disebut dalam beberapa karangan, bahwa defisiensi vitamin A, B1, B kompleks dan vitamin C dapat menyebabkan ketulian. h. Faktor alergi. Diduga terjadi suatu gangguan pembuluh darah pada koklea. i. Trauma akustik : letusan born, letusan senjata api, tuli karena suara bising. j. Presbiakusis : tuli karena usia lanjut. k. Tumor : Akustik neurinoma. 1. Penyakit Meniere m. Trauma kapitis. • Psikogen Ketulian psikogen dapat : — simulated (malingering) — fungsional (histeri) • Tak diketahui sebabnya (unknown) Arnvig memberitakan bahwa 21,1% dari kasus-kasusnya tak diketahui sebabnya. Menurut Harrison dan Livingstone besarnya 30%, menurut Fraser 38% dari 2355 kasus dan menurut Maran 28% dari 464 kasus. Penulis sendiri menemukan 40,4% dari 5556 kasus di seksi audiologi bagian THT RS Dr. Soetomo. RINGKASAN Telah dibicarakan pengertian tentang ketulian, pemeriksaan pendengaran, derajat ketulian dan penyebab ketulian baik di bagian konduksi maupun persepsi. KEPUSTAKAAN 1. Hendarmin H. Sebab Tuna Rungu di Indonesia. Kumpulan Naskah Kongres Nasional V Perhati di Semarang 27 - 29 Oktober 1977; hal 152. 2. Wiyadi MS. Beberapa Macam Test Pemeriksaan Pendengaran. Airlangga. Pers Kampus Universitas Airlangga. Edisi Desember 1979, hal 5. 3. Katz J. Handbook of Clinical Audiology. Baltimore: The Williams & Wilkins Co, 1972; p. 79. 4. Sedjawidada R dan Manukbua A. Test Bisik. Kumpulan Naskah Kongres Nasional V Perhati di Semarang 27 - 29 Oktober 1977; hal 189 - 198. 5. Strome M. Differential Diagnosis in Pediatric Otolaryngology, 1st ed. Boston : Little, Brown &Co, 1975; p 16. 6. Wiyadi MS dan Iskandar A. Pemeriksaan Pendengaran Pada Calon Mahasiswa Universitas Airlangga. Konas Perhati ke-VI di Medan 30 Juni s/d 2 Juli 1980. 7. Zaman M. Kuliah Test Suara Bisik pada Mahasiswa FK Unair tahun 1975. 8. Maulani HS. Pengobatan Tuli Persepsi dengan Vitamin A. Karya Untuk Memperoleh ljazah Keahlian THT Fakultas Kedokteran Unair, 1981. 9. Wiyadi MS. Penyebab Ketulian di Seksi Audiologi Bagian THT RS Dr. Soetomo/FK Unair 1974 - 1976. Kumpulan Naskah Kongres Nasional V Perhati di Semarang 27 - 29 Oktober 1977; hal 124 - 137. 10. Wiyadi MS. Pemeliharaan Pendengaran. Majalah Kedokteran Sura-baya, 1979; 16 : 44 - 54. Va, hidungnya mirip ayahnya. Tapi saya perhatikan matanya lebih mirip suami saya. • fF~T 1 v d J rY~~ Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 49
  • 50.
    Rodamin B danMetanil Kuning ("Metanil Yellow") Sebagai Penyebab Toksik Pada Mencit dan Tikus Percobaan G. Nainggolan — Sihombing Unit Penelitian Gizi Diponegoro Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Dep Kes R.I., Jakarta PENDAHULUAN Dalam penyelidikan pada tahun 1978, ditemukan bahwa ro-damin B dan metanil kuning dipakai sebagai pewarna makanan di Jakarta.1 Kedua bahan pewarna ini sebenarnya diproduksi untuk mewarnai kertas, tekstil, kayu dan barang industri non pangan lainnya.2 Laporan tentang adanya kasus keracunan ma-kanan yang mengandung rodamin B atau metanil kuning belum diperoleh di kepustakaan Jakarta. Berhubung kedua bahan pewarna ini telah terbukti sering dan banyak digunakan peda-gang kecil di Jakarta untuk mewarnai makanan kecil dan mi-numan, maka telah dilakukan percobaan biologik pada mencit dan tikus putih. Data yang diperoleh kiranya dapat dipergu-nakan oleh para ilmuwan untuk ditafsirkan pada manusia. Diharapkan lambat laun masyarakat Indonesia dapat menge-tahui bahwa rodamin B dan metanil kuning memang berbahaya bagi kesehatan manusia dan menolak penggunaannya dalam makanan. BAHAN DAN METODE 1. Zat pewarna Rodamin B diperoleh dari PT Krikras Jakarta asal produk pabrik Ciech Organik B2 Div Warsawa. (1 gram produk ekiva-len dengan 210 mg rodamin B murni). Metanil kuning berasal dari pabrik Imperial Chemical Industry Ltd London, PT Galic Bina Mada Jakarta. (1 gram ekivalen dengan 435 mg metanil kuning)1 2. Makanan stok Makanan stok diperoleh dari Unit Gizi Diponegoro Badan Litbangkes Dep Kes Jakarta (Addendum 1).3 Makanan yang dicampur dengan rodamin B (untuk perco-baan I dan II) : 1 gram bahan pewarna rodamin B dicampur dengan 3 kg makanan stok. Kadar rodamin B dalam makanan *) Ringkasan naskah Ceramah Ilmiah di PT Kalbe Farma, Jakarta tanggal 22 Februari 1983. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 ini adalah 7 mg per 100 gram. Makanan yang dicampur dengan metanil kuning (untuk per-cobaan I) : 1 gram bahan pewarna metanil kuning dicampur dengan 3kg makanan stok. Kadar metanil kuning dalam ma-kanan ini adalah 14,5 mg per 100 gram. 3. Hewan Percobaan Mencit dan tikus putih sapihan diperoleh dari Unit Gizi Diponegoro, Badan Litbangkes, Dep Kes, Jakarta. 4. Perlakuan hewan percobaan • Percobaan I Delapan belas ekor mencit dibagi menjadi 3 grup, yang ma-sing- masing terdiri dari 6 ekor. Grup I diberi makan stok yang dicampur dengan rodamin B. Grup II diberi makanan stok yang dicampur dengan matanil kuning. Grup III diberi makanan stok saja dan dipakai sebagai grup kontrol. Semua hewan diberi makan dan minum ad libitum selama 16 minggu (Tabel 1). • Percobaan II Grup A (percobaan) dimulai dari seekor tikus jantan dan 2 ekor tikus betina yang berumur 3 bulan untuk dikawinkan se-lama 3 hari. Kemudian ke dua ekor tikus betina itu dipisahkan selama masa hamil sampai dekat pada hari melahirkan. Setelah beranak, anak-ananya dibiarkan tetap bersama induknya sampai umur 3 bulan. Pada umur ini dipilih secara acak 6 ekor anak jantan dan 6 ekor anak betina untuk dipergunakan sebagai 6 pasang parent stok (FI). Sisa anak yang tidak terpakai dibuang dan ke 6 parent stok (keturunan grup A) ini kemudian dikawinkan. Dari hasil perkawinan dipilih lagi secara acak 6 ekor anak jantan dan 6 ekor betina yang kemudian di-pasangkan untuk dikawinkan (F2). Demikianlah seterusnya di-lakukan sampai dengan generasi ke-6 (F6) (tabel 2). Semua ti-kus mulai dari FI sampai F6 dari keturunan grup A ini diberi makanan campuran dengan rodamin B selama 12 bulan. Grup B (kontrol) juga dimulai dari seekor tikus jantan yang
  • 51.
    Cermin Dunia KedokteranNo. 34, 1984 51 ADDENDUM 1 "COMPOSITION OF PREPARED STOCKDIETS FOR ALBINO - RATS, STRAIN L.M.R." dikawinkan dengan 2 ekor tikus betina berumur 3 bulan. Perlakuan selanjutnya sama seperti pada grup A, untuk memperoleh 6 generasi ( F1 - F6). Kemudian pasangan F1 dari grup B (kontrol) merupakan counter. part dari F1 grup A (percobaan). Demikian seterusnya pasangan-pasangan F2 sampai dengan F6. Grup B menjadi counter part masing-masing dari pasangan F2 sampai dengan F6 grup A ( percobaan). Semua tikus dari semua generasi grup B hanya diberi makanan stok selama 12 bulan dan dipergunakan sebagai grup kontrol. HASIL • Percobaan I Mencit yang diberi makanan yang dicampur dengan rodamin B dan metanil kuning selama 16 minggu. Pada grup rodamin G gejala menyolok adalah bulu-bulu menjadi kasar dan pertumbuhan badan terlambat kalau dibandingkan dengan kelompok kontrol. Mata dan air seninya berfluoresensi bila kena sinar matahari. Hewan-hewan nampak aktif sadar. Pada minggu ke-7 mereka umumnya gelisah, sering menggaruk-garuk badannya sehingga mendapat luka-luka dibe-berapa tempat bagian tubuhnya (Gambar 1). Pada minggu ke-8 keaktifan mereka mulai berkurang dan geraknya lambat dan malas. Pada minggu ke-10 ditemukan seekor mencit mati (Tabel 1). Pada kelompok mencit yang diberi meta-nil kuning, pertumbuhan badan juga terlambat (lihat Grafik), tetapi mereka aktif dan sadar. Di antara 6 ekor mencit ditemukan 2 ekor yang menderita megalosefali (Gambar 2), dan 2 ekor lainnya mendapat pembengkakkan pada ke dua kaki depannya. Seperti halnya kelompok rodamin B, pok metanil kuning pun mulai bergerak lam-ban pada minggu ke-8 dan ke-9 masing-masing ditemukan seekor mencit mati (Tabel 1). Pada otopsi dari ke tiga ekor mencit yang mati ( 1 ekor dari grup rodamin B dan 2 ekor dari grup metanil kuning), hanya menunjukkan keadaan gizi yang jelek dimana semua deposito lemak di dalam tubuhnya habis sama sekali. Sisa mencit grup 1 yang berjumlah 5 ekor dibunuh pada akhir minggu ke-16. Pada hati seekor mencit ditemukan 1 bungkul tumor hapatoma dengan ukuran ± 0,5 x 0,5x 0,25 cm yang terletak pada lobus hepatis dekstra. Sisa mencit yang berjumlah 4 ekor dari grup II dibunuh pada akhir minggu ke-16 juga. Dua ekor diantaranya mengalami perubahan ginjal (ginjal kistik). Terlihat jelas bahwa bagian pielum meluas dan bagian korteks menipis. Percobaan II Enam pasang tikus selama 6 generasi diberi makanan yang dicampur dengan rodamin B (Tabel2). Gejala klinik yang nyata adalah perubahan warna yang menjadi kemerah-merahan pada kulit dan ekor (mungkin kena sentuhan makanan berwarna setiap hari atau mungkin konsentrasi rodamin B di dalam darahnya lebih tinggi dari biasanya). Bola mata, air mata, dan air seni mereka juga kemerahan-merahan, air seninya berfluoresensi kalau kena sinar ma- Basic Foodstuff Protein % Fat % Weight in kg Weight in% 1. Rice 2. Soybean, boiled, dried 3. Peanut, chelled, fried 4. Skim milk powder, high quality 5. Coconut-oil 6. Kitchensalt 7. Bonemeal 8. Vit. B-complex tablet * 9. Vit. A + D3 in starch ** 10. Ferri - citrate 7.0 40 27 35 --- 1 18 44 - 100 -- 10.0 4.5 1.5 2.0 250 ml 0.15 0.075 30 tab. ++ 54.3 24.4 8.1 10.8 1.3 0.8 0.4 +++ ±18.4 kg ±100% Average Composition as calculated : Crude Protein 19.6 % Total Fat 9 % Total Energy 370 Cals. % NPU-standard 60 NPU-operative 50 as analysed : Crude Protein 20.3 % For Comparison : Composition of Purina Laboratory Chow : (Ralston Purina Co St Louis, USA). Crude Protein 23.0 % Nitrogen free extract 50.6 % Crude fat 5.8 % Crude fibre 4.9 % Ash 7.7 % * B-complex, ** Rovimix A + D3 Type 500/100 Roche : Each table contains : 1 gram contains 500.000 IU Vit. A + Thiamin HO 3 mg 100.000 IU Vit. D Riboflavin 2 mg 125 grams Rovimix to 400 grains of starch Pyridoxin HCl 0.5 mg For 18.4 kg of food use 8 grams of Calcium pantothe- (Starch + Rovimix). nate 2 mg (equiv. to 0.25 g Rovimix). Nicotinamide 10 mg Sumber Unit Gizi Diponegoro - Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, De-partemen Kesehatan. Kompleks Nutrition Centre, Seameo Tropmed - U.I. Salemba 4 (Kampus U.l.) Jakarta. October 1978
  • 52.
    Tabel 1 PercobaanII : Disain percobaan dengan mencit, jumlah kematian dan jenis kelainan patologi pada mencit yang diberi makanan yang dicampur rodamin B dan metanil kuning.* Grup Jenis Makanan Jumlah Mencit pada permulaan Jumlah kematian Mencit pada minggu ke Jumlah Total Kelainan Patologi Keterangan _ VIII IX X Hati Ginjal I Rodamin B 6 0 0 1 1 1** 0 Hepatoma (1 ekor) H Metanil kuning 6 1 1 0 2 0 2** Ginjal kistik (2 ekor) III Kontrol 6 0 0 0 0 0 0 Lama percobaan 16 minggu Kandungan bahan pewarna rodamin B (tidak murni) adalah 1 gram (ekivalen dengan 7 mg) per 100 gram stokdiet. Kandungan bahan pewarna metanil kuning (tidak murni) adalah 1 gram (ekivalen dengan 14.5 mg) per 100 gram stokdiet. ** Kelainan patologi ditemukan pada mencit yang dibunuh pada akhir minggu. Grafik : Perobahan berat badan mencit yang diberi masing masing dari rodamin B dan metanil kuning dalam diet selama 16 minggu ( persen dari berat badan semula). Kontrol Metanil kuning Rodamin B Diet & pemberian — 1 gram per 3 — 1 gram mg) malcan rodamin B ( ekuiv. kg stokdiet metanil kuning per 3 kg stokdiet dan minum ad. 210 mg) (ekuiv. 435 libitum Gambar 1 : Mencit yang mendapat benjolan dan luka pada kaki kanan, karena pemberian rodamin B dalam diet pada percobaan selama 16 minggu. 200 150 100 50 t% 0 1 2 3 4 Bulan 52 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 Gambar 2 : Mencit yang memperoleh metanil kuning dalam diet selama 16 minggu, menderita megalosefali pada minggu ke 10.
  • 53.
    Tabel 2 PercobaanII : Jumlah tikus-tikus yang mati dan yang mendapat tumor pada pengamatan selama 6 minggu dengan pemberian makan-an yang mengandung 7 mg Rodamin B murni dalam 100 gram diet selama 12 bulan, setiap generasi (F) terdiri dari 6 pa-sang hewan. Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 53 Jumlah kematian dan Jumlah Tumor yang Jumlah Generasi Jumlah ditemukan pada bulan ke — ke —d Jumlah tikus masmg- Total Kemtal Keterangan (F) masing I II III N V VI VII VIII IX X XI XII F- 1 9 12 6 0 0 0 0 0 0 0 0 2* 2 1 0 0 5 * Ditemukan limfoma F- i 12 6 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 — — — 6 pada 1 ekor tikus F-2 9 6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1* 1 1 1 4 d 6 0 0 0 0 1 1 1 0 1 0 0 0 0 4 F-3 9 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 4 12 — d 6 0 0 0 0 0 0 0 0 2* 0 0 0 0 4 F-4 9 6 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 3 12 d 6 0 0 0 0 0 2 2* 0 0 0 0 0 0 4 F-5 9 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 3 12 d 6 0 0 0 0 0 0 0 0 2* 0 1 0 0 3 F-6 9 6 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 2 12 d 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 Catatan ; — Pada kelompok kontrol tidak ada yang mati Pada kelompok kontrol tidak ada pertumbuhan tumor tahari. Tubuhnya rata-rata lebih kecil bila dibandingkan de-ngan hewan kontrol (Gambar 3), akan tetapi semua hewan menjadi aktif, malah banyak yang galak, agresif dan kanibal. Tikus-tikus umumnya mengalami diare sebelum mati, dan yang mati kemudian dimakan oleh tikus-tikus yang masih hidup dan aktif. Mulai bulan ke-10 banyak tikus mengalami kerusakan tubuh (Gambar 4). Angka kematian pada generasi pertama cukup tinggi, akan Gambar 3 : Perbedaan besar tubuh tikus yang diberi rodamin B dalam diet dengan kontrol pada penelitian selama 12 bulan. Gambar 4 Tikus yang mengalami kerusakan tubuh pada pemberian rodamin B dalam diet pada penelitian selama 12 bulan. tetapi makin lama pada generasi berikutriya menjadi makin berkurang (Tabel 2). Pada otopsi, ditemukan tumor limfoma masing-.masing 1 ekor pada Fl, F2, F3, F4, F5 dan F6 (Tabel 2). Waktu yang diperlukan untuk menimbulkan tumor limfoma antara 6 sampai 9 bulan. Limfoma yang sering ditemukan berada pada me-
  • 54.
    diastinum dan kadang-kadangpada mesenterium. Besarnya bervariasi dari yang berdiameter ± 0,25 cm sampai 2,5 cm. Tikus-tikus dari grup kontrol tidak ada yang mati dan pada otopsi tidak ditemukan tumbuh ganda di dalam tubuhnya. Gambar 5 Beginilah label dari kemasan plastik yang berisi bahan pe-warna "makanan", dijual di pasaran bebas Jakarta. Per-hatikan "Special Colours fo all Purposes". Gambar 6 : Bahan pewarna dalam kemasan kaleng, botol, kantong plastik dijual di pasaran bebas Jakarta sebagai pewarna makanan. PEMBAHASAN Data mengenai efek toksik yang diperoleh dari percobaan bahan pewarna rodamin B dan metanil kuning pada mencit dan tikus percobaan menimbulkan pertanyaan, apakah keracunan serupa seperti yang terlihat pada hewan percobaan itu, akan terjadi juga pada manusia yang sering makan makanan yang mengandung pewarna rodamin B atau metanil kuning. Mungkin ada gunanya juga kalau diutarakan di sini, bahwa pada pembuatan bahan pewarna seperti pembuatan bahan-bahan kimia organik pada umumnya dibutuhkan proses yang rumit untuk memperoleh produk yang murni. Ada kalanya 54 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 terbentuk pula produk sampingan yang tidak dikenal sifatnya. Ini mungkin berbahaya atau tidak berbahaya, tetapi kehadiran zat itu tidak diinginkan.4 Rodamin B dibuat dari meta-dietilaminofenol dan ftalik anhidrid, kemudian diasamkan dengan asam hidroklorid. Kedua bahan baku ini bukanlah bahan yang boleh dimakan. Se-lanjutnya asam HC1 yang dipakai tentunya bertingkat "teknis" dengan kadar logam logam berat yang cukup tinggi. Begitu juga metanil kuning yang dibuat dari asam metanilat dan dife-nilamin. Kedua bahan ini toksik. Jadi, dapat kita bayangkan bahwa di dalam bahan pewarna baik rodamin B maupun meta-nil kuning, berbagai bahan lain masih ada di dalamnya. Mereka turut ambil bagian sebagai penyebab toksik tambahan pada hewan percobaan. Memang kemurnian pewarna rodamin B dan metanil kuning diusahakan tinggi oleh pabrik pembuatnya, tetapi karena bahan pewarna ini dimaksudkan untuk mewarnai sebangsa tekstil, kertas, kayu dan sebagainya, maka kehadiran logam berat serta produk sampingan lainnya yang dianggap rendah bagi industri non-pangan sudah cukup tinggi untuk pewarna makanan. Kontaminasi dapat pula terjadi dari kemasan bahan pewarna non pangan yang kurang baik mutunya sehingga menambah bahaya kesehatan manusia bila menggunakan bahan pewarna ini untuk makanan.4,5 KESIMPULAN Pemberian rodamin B dan metanil kuning dalam diet mencit dan tikus percobaan mengakibatkan efek toksik pada hewan tersebut. Ini menegaskan keterangan yang ada dalam ke-pustakaan, yaitu baik rodamin B maupun metanil kuning adalah bahan pewarna untuk mewarnai barang-barang non pangan2, jadi tidak dapat ditolerir untuk mewarnai makanan manusia. Karena masyarakat Indonesia di Jakarta khususnya dan di Indonesia umumnya memang senang pada makanan yang ber-warna, maka pengadaan bahan pewarna makanan yang diizin-kan dengan derajat Food Grade dan memenuhi persyaratan higine, harus mendapat perhatian instansi pemerintah yang berwenang c.q. Departemen Kesehatan, Departemen Perda-gangan dan Departemen Perindustrian. Pengadaan ini hendak-nya disertai dengan harga yang kompetitif dengan harga pewar-na non pangan yang sebelumnya diperdagangkan sebagai pe-warna pangan, sehingga dapat dijangkau masyarakat luas seperti sediakala. RINGKASAN Dua pewarna non-pangan dikenal dengan nama rodamin B yang memberi efek warna merah jambu, dan metanil kuning yang memberi warna kuning telor digunakan luas sebagai pe-warna makanan di Jakarta. Sebagai bahan non-pangan pada umumnya bila berada di dalam makanan kemudian dikonsumsi manusia, dapat dira-malkan akan mengganggu kesehatan dalam jangka waktu pen-dek atau panjang. Untuk pembuktiannya telah dilakukan per-cobaan pada mencit dan tikus putih dengan mencampurkan masing-masing dari kedua bahan pewarna non-pangan tersebut
  • 55.
    Cermin Dunia KedokteranNo. 34, 1984 55 ke dalam diet mereka sehari-hari. Hasil penelitian menguatkan dugaan, bahwa kedua bahan pewarna non-pangan ini dapat mengganggu kesehatan hewan percobaan. Ucapan terima kasih : Kepada Dr. Iwan T. Budiarso, ahli patologi veteriner pada Puslitbang Kanker, Badan Litbangkes, Dep Kes R.I., yang telah memberi penilaian simtom patologi dari penelitian biologik ini. KEPUSTAKAAN 1. Sihombing G. An Exploratory Study on Three Synthetic Colour-ing Matters Commonly Used As Food Colours In Jakarta (Thesis), 1978; p. 37 - 82. 2. Fairhall LT. Industrial Toxicology, 2nd. Ed., New York: Hafner Publishing Company, 1975 ; p. 235 - 236. 3. Unit Penelitian Gizi Diponegoro, Badan Litbangkes Depkes R.I. Miller DS. Worksheet for Determination of Net Protein Utilisation using Rats Body N Technique, 1978; p 2. 4. Jacobs MB. The Chemical Analysis of Foods and Food Products, 3rd. Ed, New York : Robert E. Krieger Publishing Co., Inc. Hung-tington, 1973; 11743, p. 103 - 105. 5. Imperial Chemical Industries. Edicol Colours for Foodstuffs, Pat-tern leaflet 113. Kalender Kegiatan Ilmiah SECOND INTERNATIONAL CONGRESS on TRADITIONAL ASIAN MEDICINE Dates : September 2, through September 7, 1984 I. Scientific programe : Theme of the congress : Traditional medicine in Asian countries and their place in pluralistic health care systems. Main subject areas of the congress : 1. The sources and histories of classical traditions 2. Popular medicine 3. Ethnobotany, ethnopharmacology, and allied subjects 4. Models of integration : problems and chances 5. The social construction of illness experience 6. Clinical and experimental studies of therapeutic practices 7. Primary health care and education of health care workers. II. Social programme : Ladies' Programme : traditional Indonesian beauty treatment with traditional drug and traditional cosmetic. III. Cultural evening. Place : Bumi Hyatt Hotel, Jln. Basuki Rachmat 124 - 128. Phone 031 - 470875, Surabaya . Secretariat : Faculty of Pharmacy, Airlangga University J1n. Dharmahusada 47, Surabaya Phone (031). 43710 Registration fee: For Indonesian participant is : Rp. 50.000,- and the accompanying person : Rp. 25.000,- Sent payment to : ICTAM II, Bank Account : BNI 46 branch No. 11.02.090.8000 UNAIR
  • 56.
    PERKEMBANGAN Pengobatan Preleukemia Istilah "preleukemia" dulu digunakan untuk menggambar-kan sekelompok kelainan morfologik sel-sel darah yang diiden-tifikasikan, secara retrospektif, sebagai pendahulu dari leukemia mieloblastik akut. Sekarang, istilah ini banyak dipakai oleh para hematolog, secara prospektif, untuk pasien yang diduga menderita leukemia, dengan prognosis buruk, tapi belum tentu berakhir sebagai leukemia akut. Perjalanan kliniknya bervariasi. Cukup banyak penderita meninggal karena kegagalan sumsum tulang, sebelum penyakitnya sendiri berkembang menjadi leukemia akut. Gambaran dari sumsum tulang biasanya hiperseluler; dan karena maturasi sel-sel darah kurang sem-purna, maka pada darah tepi didapatkan sitopenia. Pada pasien-pasien tua, atau bila transplantasi sumsum tulang tidak dapat dilakukan, pengobatan suportif dengan tranfusi darah masih merupakan pilihan utama. Usaha-usaha penyembuhan dengan rejimen pengobatan anti-leukemia yang telah dikenal, biasanya gagal. Juga telah dicoba pemakaian steroid androgen tanpa hasil yang berarti. Bagaimana caranya supaya sel-sel neoplastik tadi terinduk-si hingga berdiferensiasi? Ini akan memperbaiki keadaan darah-nya. Penemuan cara pembiakan dan "cloning" sel darah, baik yang normal maupun leukemik, telah membuka jalan untuk mempelajari beberapa zat kimia yang dapat menginduksi sel. Pada percobaan in-vitro terbukti perlunya protein induser supaya sel menjadi dewasa dan viable. Protein-protein ini dihasilkan oleh beberapa jenis sel seperti fibroblas, limfosit, makrofag, dan anehnya, ternyata juga dihasilkan oleh sel-sel mieloid leukemik sendiri. Pada sel leukemia akut, kelainan fenotip utamanya adalah ketidakmampuannya untuk berdi-ferensiasi menjadi sel dewasa. Protein induser, penambahan zat-zat kimia tertentu dan substansi-substansi alamiah seperti asam retinoat dan metabolit dari vitamin D, semua ini dapat menginduksi sel-sel leukemik untuk berdiferensiasi. Walaupun beberapa bahan tadi cukup toksik untuk digunakan dalam klinik, beberapa lainnya merupakan bahan standar sebagai kemoterapi. Contohnya ialah sitarabin. Klon spesifik dari sel-sel leukemik tikus akan terinduksi untuk berdiferensiasi oleh sitarabin. Dan pemberian terus menerus zat ini terhadap HL 60 human promyelocytic leuce-mic cell, akan meningkatkan pematangan sel sampai menyamai monosit atau granulosit. Jadi sel-sel leukemik jenis ini mungkin sangat sensitif terhadap sitarabin. Tapi cara kerjanya belum diketahui dengan tepat. Keuntungan pemakaian sitarabin dengan dosis yang jauh lebih rendah daripada rejimen pengobatan anti-leukemia biasa, telah dipelajari dan diperdebatkan. Sebagai contoh, para ahli dari Inggris telah melakukan penelitian terhadap pasien dengan anemia aplastik dan anemia refrakter. Pasien-pasien tersebut 56 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 diobati dengan androgen, sitarabin dosis rendah, dan peng-obatan suportif. Penelitian meliputi faktor-faktor prognosis dan efek dari masing-masing pengobatan di atas. Hasilnya ternyata mengecewakan, karena evolusi dari penyakitnya tidak terpengaruh. Dalam penelitian lain, digunakan sitarabin dosis rendah yang diberikan subkutan secara intermittent pada 21 pasien. Lima di antaranya menderita preleukemia, dan sisanya leukemia nonlimfositik akut. Hasilnya cukup baik, 50% kasus mencapai remisi sempurna, termasuk 4 dari pasien preleukemia tadi. Wisch dengan kolega-koleganya di Amerika telah mempe-lajari 8 pasien preleukemia dengan berbagai gambaran morfo-logik; 7 di antaranya dengan peningkatan sel-sel bias dalam sumsum tulang. Digunakan sitarabin secara infus intravena terus menerus dengan dosis 20 mg/m2/hari selama 21 hari. Satu pasien mencapai kesembuhan klinik yang sempurna, dan tetap baik setelah 14 bulan kemudian. Dua pasien meninggal, dan 5 pasien menunjukkan kemajuan dalam hitung darahnya, yang bertahan 2 - 4 bulan setelah pemberian obat. Corak maturasi dalam sumsum tulang mengalami kemajuan, bahkan 1 kasus kembali normal. Dari laporan-laporan lain juga ditekankan bahwa cara pengobatan demikian dapat menghasil-kan remisi, atau setidaknya, maturasi hematologik dalam ber-bagai jenis displasia sumsum tulang preleukemia. Sebelum re-misi, kadang-kadang ada episode-episode di mana sumsum tulang menjadi hipoplasia. Hal yang demikian masih dapat ditolerir, mengingat besarnya potensi untuk maturasi; efek dari obat terhadap stroma sumsum tulang, dan peranannya dalam mensekresi substansi-substansi penginduksi juga tak boleh dilupakan. Walaupun secara in-vitro efeknya masih belum jelas, tapi pengalaman dalam klinik meyakinkan kita bahwa zat tersebut bermanfaat sebagai kemoterapi preleukemia. Bagaimanapun juga, bahkan dengan dosis yang rendah, risiko terjadinya depresi sumsum tulang tetap ada. Dosis yang lazim dipakai sebagai kemoterapi preleukemia telah ditinggalkan, mungkin karena anggapan bahwa sumsum tulang tidak dapat kembali lagi ke fungsinya yang normal. Anggapan ini tidak mutlak benar; makin intensif pengobatan, kesempatan untuk remisi mungkin lebih besar, dan risiko kematian menurun. Efek sitarabin (dan mungkin zat-zat penginduksi lain), dengan dosis yang bervariasi di dalam pengobatan displasia sumsum tulang pada preleukemia ini, masih perlu dipelajari secara lebih meluas. Lancet 1984; i : 943-944 Obat-obat & Insomnia Insomnia terjadi dalam begitu banyak keadaan, sehingga sulit diketahui hipnotik mana yang harus dipergunakan dan
  • 57.
    Cermin Dunia KedokteranNo. 34, 1984 57 mana yang paling cocok. Dalam 10 tahun belakangan ini banyak kemajuan yang telah dicapai dalam pemahaman masalah tidur dan gangguannya; dan banyak obat, diazepin maupun non-diazepin, telah dibuat untukmemperbaiki tidur. Beberapa waktu lalu, dalam konperensi tentang "Obat-obatan dan insomnia" di Inggris telah dicapai suatu konsensus. Pandangan yang lebih jelas tentang obat-obat tadi mulai tampak, sehingga kini kita mempunyai pegangan sekadarnya. Insomnia adalah simtom dari berbagai keadaan. Ini menun-jukkan perlunya penilaian sistematik terhadap penyebab-penyebab medis, psikiatrik, ataupun lainnya. Analisis dari insomnia paling baik dilakukan dalam tiga bagian : transien, jangka pendek, dan jangka panjang. Insomnia transien timbul pada mereka yang biasa tidur nyenyak; biasanya ini karena perubahan keadaan yang me-nyertai tidur (misalnya, kebisingan), atau pola istirahat yang tak biasa, misalnya bekerja malam atau setelah perjalanan dengan pesawat jet ke negeri jauh. Obat hipnotik mungkin diperlukan, mungkin tidak, tergantung apakah pasien tadi mengeluhkannya atau tidak. Tapi, bila pengobatan diberikan, hipnotik yang cepat dieliminasi lebih cocok. Dan ia seharusnya cuma diberikan sekali dua kali. Insomnia jangka pendek biasanya berkaitan dengan problema emosional atau penyakit medis yang serius. Mungkin ia berlangsung beberapa minggu, dan bisa kumat. Diperlukan pengelolaan yang baik agar insomnia jangka panjang dapat dihindari. Yang paling penting ialah perhatian akan higiene tidur. Hipnotik mungkin sekali berguna, namun jangan lebih dari tiga minggu pemberiannya; lebih baik kalau cuma sekitar seminggu. Penggunaan intermiten dianjurkan, setelah beberapa hari tidur nyenyak. Obat yang cepat dieliminasi biasanya cocok, agar siangnya tidak mengantuk. Namun pada mereka yang menunjukkan ansietas cukup banyak, obat yang eliminasinya lama (diazepam misalnya) boleh dipakai. Tapi harus berhati-hati agar tidak terlalu mengantuk akibat akumulasi obat. Banyak kontroversi tentang penggunaan hipnotik pada insomnia kronik. Diagnosis yang tepat diperlukan sebelum keputusan diambil. Mungkin sepertiga sampai setengah pende-rita tadi punya latar belakang penyakit psikiatrik, terutama depresi, dan pasien-pasien demikian perlu pengobatan khusus. Kelompok lain termasuk mereka yang menyalahgunakan obat dan alkohol. Tapi ada juga kelompok yang benar-benar punya kelainan tidur yang spesifik. Secara praktis, yang terpenting — terutama pada usia lanjut — ialah apnea tidur. Pada pasien demikian, yang biasanya gemuk dan suka tidur mengorok, atau mengantuk di siang hari — sedatif dianggap merupakan kontraindikasi! Sekalipun demikian, pada banyak pasien insomnia kronik, penyebabnya tidak diketahui. Di sini kedua pendekatan : perbaikan higiene tidur dan hipnotik, akan diperlukan. Yang penting ialah olahraga, mengurangi stress, pantang kopi dan alkohol; hipnotik digunakan secara intermiten sekali dalam tiga malam sampai sebulan. Pada pasien-pasien ini, benzodiazepin jangka panjang mungkin lebih baik. Bila setelah sebulan belum berhasil, dapat dicoba antidepresan sedatif, misalnya selama 4 minggu, meskipun tak tampak jelas gejala depresi. Namun pendekatan ini perlu dipertimbangkan benar-benar. Diazepin lebih menguntungkan dari barbiturat, bukan saja karena keamanannya, tetapi juga karena manfaat terapeutiknya. Masalah yang terutama timbul ialah efek sisanya di siang hari (yang sedikit bila memakai senyawa yang cepat dieliminasi); kumatnya insomnia bila obat distop (yang dapat dicegah bila digunakan jangka pendek dan penghentian pengobatan bertahap); ketergantungan obat (dapat diminimalkan dengan dosis kecil intermiten, pemberian jangka pendek, atau penghentian bertahap); dan potensiasi obat sedatif lainnya. Untuk menghindarkan semua itu, pasien harus diberi dosis ter-kecil, dengan jangka waktu sesingkat-singkatnya. Dokter perlu mendidik pasien untuk menggunakan dosis kecil secara inter-miten tersebut. Saran-saran di atas cukup masuk akal. Terapi dengan hip-notik dengan cara di atas akan banyak mengurangi masalah penggunaan sedatif yang terlalu lama. Selain itu dosis obat dulu sering terlalu tinggi. Mungkin dosis yang terlalu tinggi ini karena salah penilaian; pasien dengan insomnia transien atau jangka pendek disamakan dosisnya dengan yang untuk pasien insomnia kronik. Brit Med J 1984; 288 : 261 Untuk segala surat-surat, pergunakan alamat : Redaksi Majalah Cermin Dunia Kedokteran P.O. Box 3105 Jakarta 10002
  • 58.
    • Pada suatuhari, datang seorang ibu ke dokter dengan mem-bawa pembantu wanita yang berumur kira-kira 30 tahun. • Ibu rumah tangga tadi mengatakan bahwa pembantunya itu sedang hamil muda. Hasil pemeriksaan fisik dan tes kehamilan menunjukkan bahwa pembantu tersebut memang sedang hamil lebih kurang 10 minggu. Dokter tersebut mencoba melakukan tanya jawab dengan pem-bantu tadi, tapi wanita tersebut bungkam seribu bahasa. • Menyadari bahwa mungkin pembantu ini takut sekali ter-hadap majikannya, maka dokter mempersilahkan sang majikan menunggu di luar kamar periksa. Ternyata tindakan ini membawa hasil. Si pembantu sekarang dapat bercerita : bahwa ia memang hamil akibat hubungan kelamin dengan ayah mertua majikannya yang sudah berumur lebih kurang 65 tahun. Oom tua yang sudah pensiun dan tak memiliki kegiatan sehari-hari yang tetap, ternyata berhasil membujuk/mengancam pembantu ini untuk melakukan hubungan seksual sampai sebanyak tiga kali. Kesempatan untuk "pertemuan" ini dipilihnya waktu-waktu dimana rumah sedang kosong oleh karena para anggota keluarga semua keluar rumah, seperti pada pagi hari. • Dapat dibayangkan bahwa istri rumah tangga tersebut ter-kejut dan malu sekali setelah mendengar dari dokter tentang kasus kehamilan yang tak terencana ini. Setelah mengatasi keributan dalam keluarganya, mereka kembali ke dokter dan sang majikan mengatakan bahwa telah disepakati oleh para anggota keluarga besarnya, dimana kehamilan tersebut harus diakhiri. • Untuk meyakinkan bahwa tidak ada unsur paksaan dari pihak keluarga majikan, maka dokter tersebut mempersilahkan majikan keluar dari kamar periksa dan mengadakan tanya jawab dengan pembantu tersebut. • Dijelaskan oleh dokter tersebut : bahwa bila pembantu wanita itu hendak mempertahankan kehamilannya sampai kemudian bayinya lahir. maka dokter tersebut akan berusaha agar majikannya memberikan pengganti materil yang wajar sebagai uang pesangon si pembantu untuk pulang kedesanya. Bila tidak, maka akan dicarikan jalan untuk mengakhiri kehamilan ini. Ternyata memang si pembantu bertekad untuk tidak mene-ruskan kehamilannya, oleh karena tidak dapat menghadapi beban batin di kampungnya. Nah, setelah mendengar itu, dokter tersebut mengatakan kepada majikannya agar pembantu tersebut dibawa ke sebuah klinik untuk dihentikannya kehamilannya. Bagaimana pendapat saudara tentang "penyelesaian" kasus ini? OLH 58 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 Komentar TANGGAPAN DARI SEGI ETIK KEDOKTERAN. Inti permasalahan ialah bagaimana sikap etis seorang dokter terhadap abortus provokatus. Dalam kasus ini, dokter tersebut memahami keinginan dari sang majikan dan korban untuk melakukan abortus provokatus dan karena itu dia menyetujui dengan sekaligus mengirim yang bersangkutan ke sebuah klinik untuk penghentian kehamilan. Indikasi untuk abortus provokatus itu adalah indikasi sosial dari kedua pihak, yaitu rasa "malu". Bicara mengenai abortus provokatus, maka secara langsung dokter berhadapan dengan hati nuraninya sendiri, mengingat sumpah jabatan dokter yang diantaranya berbunyi : "Saya akan menghormati hidup insani semenjak saat pembuahan". Namun kita juga menyaksikan bahwa penyimpangan seakanakan sudah lumrah terjadi. Di bawah "permukaan", abortus provokatus dapat dilakukan secara tersembunyi oleh "dukun" yang sulit diharapkan akan dilakukan dengan memperhatikan kriteria medis, sehingga sering membawa korban bagi sang calon ibu. Namun yang dilakukan secara baik menurut kriteria teknis medis juga ada, untuk mengurangi bahkan menghilangkan risiko dan efek sam-pingan berupa infeksi, perdarahan, dan lain-lain. Dan yang ter-akhir ini dilakukan oleh tenaga ahli yaitu dokter ! Secara resmi yang dibenarkan oleh etik kedokteran adalah bila ada indikasi medis yaitu bila terminasi kehamilan tidak di-lakukan akan membahayakan si calon ibu. Dengan demikian, secara tersirat, dunia kedokteran sudah sejak lama menentukan urutan prioritas dalam menghormati kehidupan insani. Yaitu, yang pertama dihormati kehidupan insani yang telah lengkap/telah lahir; baru kemudian insani yang belum lahir ke dunia ! Secara tidak sadar penampilan sikap "egoisme" dari manusia sendiri maju ke depan; membela ras manusia yang telah hadir di dunia, lebih penting ketimbang membela calon manusia yang belum kelihatan. Beberapa dasawarsa belakangan ini indikasi lain untuk melakukan abortus provokatus semakin luas, seperti indikasi sosial dalam arti luas, indikasi sosial dalam skala keluarga, keenganan mempunyai unwanted child demi kesejahteraan keluarga dan lain-lain. Program KB dengan Norma Keluarga Kecil yang Berbahagia dan Sejahtera (NKKBS) banyak pula dimanfaatkan oleh ang-gota masyarakat tertentu yang menjurus pada abortus provoka-tus, biarpun secara resmi cara ini tidak termasuk dalam program KB. Akan tetapi praktek seperti M.R. masih diperdebatkan antara yang pro dengan yang kontra, apakah itu suatu
  • 59.
    abortus provokatus ataubukan. Bahkan, pemasangan IUD bila mekanismenya dalam mencegah kehamilan diyakini sebagai pencegahan nidasi saja, akan berarti telah menciderai sumpah dokter sebab pembuahan telah terjadi, hanya nidasi yang terhalang. Karena berbagai realitas hidup sehari-hari, maka secara di-am- diam masalah abortus provokatus menjadi semakin ringan. Dengan perkataan lain secara evolusi telah terjadi pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat termasuk masyarakat dokter. Dalam kasus kita ini mungkin sebagai suatu apologi, Sejawat yang mengirim ke klinik tersebut, merasa tidak bersalah karena dia tidak menganjurkan dan lagi pula yang melaksanakan bukan dia sendiri; dia cuma memberikan kemudahan dengan menunjukkan tempat yang baik dan aman. Pergeseran nilai yang lain ialah secara tersirat seolah-olah sudah ada klinik yang berfungsi untuk maksud abortus provo-katus tanpa indikasi medis, yang diterima oleh masyarakat. Kita juga menyaksikan bergesernya nilai sakral dari hubungan intim perkawinan biarpun salah satu sila dalam Pancasila adalah " Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Makna beradab ini sering terlanggar, mungkin karena tolak ukurnya kurang jelas. Pertanyaan kita : "Apakah hubungan seksuil dalam kehi-dupan perkawinan masih dianggap sakral dan merupakan ra-hasia pribadi yang termulia, masih dianut ?" Dalam beberapa hal, misalnya dalam kampanye Safari KB di layar TVRI, sering kita menyaksikan pertanyaan dan dialog yang tidak lagi menghormati kesakralan dan kerahasiaan hubungan seksuil suami istri, seolah-olah perbuatan tersebut merupakan kegiatan rutin yang tak perlu disembunyikan, karena toh semua orang tabu juga. Kembali di sini masalah pergeseran nilai. Bilamana hubung-an seksuil dua insan yang berlainan jenis, kehilangan nilai sakral dan keintimannya, maka kehamilan sebagai buah dari hubungan tersebut juga tidak lagi dinilai sakral, maka dengan sendirinya penilaian pun menjadi rutin, sehingga pelaksanaan abortus secara berangsur-angsur akan diterima sebagai hal yang wajar pula. Seolah-olah kita menerima kesepakatan: "Marilah kita menikmati dunia ini untuk kita sendiri, tidak perlu memikirkan hak asasi calon manusia itu". Di sini kita sekarang berada dalam manifestasi kontroversialitas "species" yang namanya manusia. dr. H. Masri Roestam Direktorat Transfusi Darah PMI/ Ketua I.D.I. Cabang Jakarta Pusat TANGGAPAN DARI SEGI HUKUM KEDOKTERAN Ada 3 persoalan yuridis dalam kasus ini : • Yang pertama menyangkut rahasia pekerjaan dokter. Seharusnya dokter itu meminta ijin kepada pembantu rumah tangga untuk memberi tabu tentang kehamilannya kepada si majikan. Tapi dari cerita selanjutnya ternyata pembukaan rahasia itu adalah demi kebaikan si pembantu, sehingga tidak ada alasan untuk menuntut dokternya. • Yang kedua menyangkut ancaman. Jika ini berupa ancaman kekerasan, misalnya mau dibunuh, maka telah terjadi perkosaan. Tapi kalau hanya ditakut-takuti akan diberhentikan dari pekerjaan maka perbuatan ini tidak dapat dituntut. • Yang ketiga menyangkut abortus provokatus. Seperti kita ketahui, abortus provokatus yang diperbolehkan oleh hukum ( berdasarkan yurisprudensi dan juga sejarah pembuatan hukumnya) hanya yang berdasarkan indikasi medik. Jika indikasi untuk dilakukan abortus itu tidak tepat, maka dokter yang memberi tabu di klinik mana dapat dilakukan abortus itu dapat dituntut sebagai pembantu melakukan keja-hatan menurut KUH Pidana pasal 56 : Sebagai pembantu melakukan kejahatan dipidana : ke-1: orang yang dengan sengaja membantu waktu kejahatan itu dilakukan; ke-2: orang yang dengan sengaja memberi kesempatan, ikhtiar atau keterangan untuk melakukan kejahatan itu. Dalam yurisprudensi Belanda (putusan Arrondissements-rechtbank Amsterdam 5 Februari 1942) dibenarkan suatu abortus provokatus atas dasar indikasi psikiatrik, di mana psikiater menerangkan, bahwa si wanita itu berada dalam ketegangan jiwa yang hebat dengan bahaya bunuh diri (in een zeer ernstige overspanningstoestand met direct suicide-gevaar). Di Indonesia belum pernah ada yurisprudensi seperti ini, tapi dalam suatu perkara (tentang hal lain) dalam sidang pengadilan pernah terungkap adanya abortus provokatus atas dasar indikasi psikiatrik dan dokter yang melakukannya tidak dituntut. Jadi secara diam-diam (stilzwijgend)tampaknya indikasi psikiatrik juga diterima di sini. Oleh karena itu sebaiknya dokter mengirim pembantu rumah tangga tadi ke psikiater untuk meneliti besarnya "beban tekanan batin" yang diderita dan apakah dapat dipertanggungjawabkan, jika dilakukan abortus provokatus atas dasar "be-ban tekanan batin" itu. dr. Handoko Tjandroputranto Lembaga Kriminologi Universitas Indonesia, Jakarta
  • 60.
    Catatan singkat MenteriKesehatan Inggris bulan Mei yang lalu mencabut izin peredaran tablet anti-rematik yang berisi oksifenbutason, karena alasan keamanan. Di Inggris ia beredar dengan nama Tanderil, Tandacote dsb. ( di Indonesia: Tanderil, Rheumapax, Realin, Reozon). Apotik - apotik harus mengembalikan stok obat tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Dulu fenilbutason juga mengalami nasib serupa; Tapi ia masih boleh dipergunakan oleh dokter di rumah sakit, pada keadaan tertentu. • Dari Afrika Selatan, dilaporkan adanya 19 kasus per-lukaan vagina setelah melakukan senggama biasa. Menga-pa demikian ? Penulis tersebut menduga bahwa perlukaan vagina tadi terbanyak pada wanita-wanita yang meng-ulang senggama setelah sekian lama tidak melakukannya. Tidak disebutkan bagaimana karakteristik dari pasangan wanita-wanita yang mengalami perlukaan vagina itu. South African Med J 1983; 64 : 746 - 7 • Apakah transplantasi otak dapat dilakukan? Ya, menu-rut hasil penelitian baru-baru ini. Binatang yang diduga mengalami kerusakan pada salah satu bagian otaknya, ka-dang- kadang dapat diperbaiki melalui transplantasi de-ngan jaringan otak fetus. Dalam waktu mendatang, hal ini mungkin menjadi kenyataan pada manusia. Developmental Med and Child Neuro 1983; 25: 654-6 • Pil KB ternyata dapat menimbulkan efek samping berupa otosklerosis. Sebaiknya pada ibu-ibu yang akan menggunakan pil KB tersebut, sebelumnya dilakukan pemeriksaan telinga. Juga penting anamnesis ada tidak-nya riwayat ketulian dalam keluarga. Br J Fam Planning 1984; 9 : 134 • Pada awal tahun 1970, dilakukan screening terhadap 2000 orang laki-laki yang tampaknya sehat, dengan usia antara 40 - 59 tahun. Hasilnya : 115 orang menderita penyakit pembuluh koroner jantung yang laten. Pada 109 dari 115 orang ini dilakukan pemeriksaan angiografi. Didapatkan 36 orang dengan gambaran angiogram yang normal. Pada follow-up 7 tahun kemudian, dari ke 36 orang ini, 3 orang meninggal tiba-tiba, 4 orang menderita kardiomiopati, dan 1 orang dengan dilatasi/regurgitasi aorta. Kesimpulan : angiogram normal belum tentu menunjukkan jantung yang normal. 60 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 Circulation 1983; 68 : 490 - 7 Banyak macam ukuran cuff dari sfigmomanometer yang dimiliki dan digunakan oleh para dokter. Cuff yang terlalu besar atau terlalu kecil dapat mengubah tekanan darah seseorang sebesar 8,5 mmHg sistolik dan 4,6 mmHg diastolik. Bila cuff terlalu kecil, tekanan darah akan terukur lebih tinggi dari yang sebenarnya; sedangkan bila cuff terlalu besar, tekanan darah akan terukur lebih rendah. Ini dapat menyebabkan over treatment atau under treatment. Circulation 1983; 68 : 763 - 6 Penemuan antibiotika telah diikuti dengan resistensi kuman. Bagaimana mencegah bencana ini pada obat-obat antivirus? Pada infeksi bakteri, pemberian antibiotika profilaksis umumnya dianggap sebagai penyebab resistensi. Tapi pada obat antivirus, keadaannya berbeda sekali, terutama virus yang punya fase laten pada siklus hidupnya - seperti, herpes simplex, sitomegalovirus, dan adenovirus. Pencegahan pada penyakitpenyakit karena virus tadi dapat amat bermanfaat. Dan mungkin mencegah timbulnya resistensi. Lancet 1984;i:1154 Banyak zat-zat pemanis sintetis. Tapi banyak pula yang tak dianjurkan karena efek sampingnya. Sakarin, misalnya, karena menyebabkan kanker kandung kencing, pernah akan dilarang di Amerika. Tapi ini ditentang oleh para penderita diabetes yang memerlukan. Tapi pemanis sintetis aspartam, oleh sebuah komite kesehatan di Inggris dinyatakan aman. Aspartam ini, setelah dimakan akan dipecah menjadi fenilalanin dan asam aspartat; kedua-duanya asam amino alamiah, dan fenilalanin asam amino yang esensial. Juga setelah makan aspartam, kadar fenilalanin tubuh tidak meningkat secara bermakna. Penyebab vertigo yang sering dan biasa pada orang dewasa justru jarang menyebabkan vertigo pada anakanak. Penyelidikan terhadap 50 kasus vertigo yang rekuren pada anak-anak, ternyata 28% disebabkan epilepsi lobus temporal, 22% oleh karena epilepsi subkortikal, baru kemudian penyebab-penyebab lainnya. Anak-anak dengan vertigo, seharusnya dilakukan pemeriksaan EEG dan audiometri. Up Date 1983; 1389 - 1397 • • •
  • 61.
    : "Bapak, darahnyatidak bisa diambil. Bapak sekarang tidak bisa donor" "Kenapa dokter?" "Tekanan darah Bapak ini rendah." " Bagaimana mengobatinya dokter?" "Gampang mas, makan saja "tangga", kan nanti tekanan darahnya jadi naik tinggi!!" dr. Tjandra Yoga Aditama Jakarta Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 61 TIUP BALON Seorang anak laki-laki berumur lebih kurang 4 tahun sedang berada di kamar bersama ibunya yang sedang berganti pakaian. Sewaktu ibunya menanggalkan kutang-nya, anak tadi nycletuk : "Ibu, balon-balon ibu kurang keras / besar, perlu ditiup !" Ibu : "Hush, ini bukan balon !" sambil menunjuk pada payudaranya. Anak : "Lho, tadi saya lihat bapak di gudang sedang meniup balon Minah (si pembantu) sampai keras sekali !!!" OLH K.O. Sewaktu masih coass, saya berdua dengan teman saya harus memberikan ceramah mengenai cara-cara per-tolongan partus yang benar kepada para dukun beranak. Sebenarnya kami masih hijau dalam praktek dibandingkan mereka. Maklum, belum lagi masuk kebidanan. Sebelumnya, saya buat perjanjian dengan teman saya; bila ada pertanyaan yang tidak dapat saya jawab, saya akan memberi kode dengan menyentuh kakinya agar ia yang menjawab. Beberapa kali hal ini berjalan mulus. Akhirnya, saya dibuat "knock out" juga, karena biar sudah saya tendang-tendang kakinya, ia tetap diam saja. Sama-sama tidak bisa Kris TEKANAN DARAH RENDAH Seorang sejawat ditugasi oleh Lembaga Transfusi Darah PMI DKI Jaya untuk melaksa-nakan kegiatan pengambilan darah pada anggota keluarga besar salah satu ludruk terke-nal di wilayah Jakarta. Setelah memeriksa seorang pasien, terjadilah percakapan sebagai berikut Dokter Pemain ludruk I Dokter Pemain ludruk I (dengan agak cemas) Pemain ludruk II (nyeletuk) JUDUL BARU Tiap penerbitan majalah ini selalu dirakit dalam suatu simposium dengan tema tertentu. Suatu ketika seorang pengumpul naskah bertanya kepada dokter penulis, suatu judul untuk "Simposium masalah otak" : "Dokter, dari judul-judul simposium otak ini, judul apa lagi yang dipandang masih perlu untuk ditambahkan?" Dokter membaca sederetan judul-judul, dan sambil manggut-manggut mengatakan : " Menurut saya sudah cukup. Tapi kalau mau ditambahkan ini menarik juga." Dengan serta merta si peminta naskah menulis apa yang dikatakan oleh dokter tsb : 'Resep-resep baru dalam pengelolaan .........masakan ......................otak kambing!' Sang dokter meledak ketawanya dan sang peminta naskah cepat-cepat balik minta diri sambil berkata : "Dan sop buntut ya dokter." Sri : : : :
  • 62.
    : POSITIF Waktumenjalani kepaniteraan klinik di bagian neurologi, setiap coass harus membuat presentasi kasus secara bergilir. Istimewanya, untuk seorang dosen tertentu presentasi tersebut di-bawakan di rumah beliau. Jadi setiap kali kami berbondong-bondong ke ru-mahnya, dan tentu saja ..., tanpa pasien! Suatu kali tiba giliran saya. Karena di rumah sakit tidak ada kasus yang menarik, terpaksa kasusnya saya karang-karang sendiri. Status saya salin saja dari bekas teman saya. Saatnya pun tiba. Saya bacakan identifikasi pasien wanita itu, anam-nesis, dan seterusnya. Beliau manggut-manggut . . ., tiba-tiba dia tertawa. Teman-teman yang lain pun ikut ter-tawa. Saya bingung juga, tapi segera sadar. Rupanya dalam status palsu tersebut tertulis : refleks kremaster positif ! Kris 62 Cermin Dunia Kedokteran No. 34, 1984 MINTA TOLONG Disuatu ruang praktek seorang dokter, datang seorang pria umur ± 60 tahun, seorang wanita umur ± 25 tahun dan seorang anak kecil umur ± 2 tahun. Setelah dipersilahkan duduk, terjadi tanya jawab antara dokter dengan pasien tersebut. Dokter : "Yang sakit siapa Pak ?" Si wanita yang menjawab : "Itu Pak Dokter, suami saya senjatanya tidak bisa ber-gerak". (Maksudnya : impotent). Dokter (setengah kaget, karena disangkanya sang Bapak tadi adalah orang tua dari wanita tersebut) : "Sudah berapa lama sakitnya Pak ?" Bapak : "Sudah kurang lebih 5 tahun Pak Dokter". Dokter : "Tapi anak ibu baru ± 2 tahun, mana mungkin ?" Si istri mendengar pertanyaan Dokter itu senyum senyum kecil. Sang Bapak dengan malu-malu kucing menjawab : "Betul Pak Dokter, anak itu memang anak dari istri saya, tetapi bukan anak saya". Dokter : "Apakah istri Bapak waktu kawin dengan Bapak sudah janda ?" Bapak : "Tidak Pak Dokter, dia waktu itu masih gadis" . Dokter : "Lalu ?" Bapak : "Waktu itu saya minta tolong kepada tetangga oleh ka-rena saya ingin punya anak". Mendengar jawaban yang tidak terduga tadi sang Dokter berkata : "Kenapa Bapak dulu tidak minta tolong kepada saya ?" Si istri, mendengar perkataan Dokter tadi, terlihat senyum-senyum kecil penuh arti. Segera Dokter sadar, dan meralatnya. "Bukan begitu, kenapa tidak berobat, maksud saya !" dr. Sudaranto Puskesmas Sail, Pekanbaru, Riau SALAH PAKAI Sepasang suami istri datang menghadap seorang dokter dalam rangka KB. Oleh dokter tersebut diberi 1 doos kondom, sambil bertanya kepada si suami : "Bapak sudah tahu cara memakainya ?" "Sudah dok, dulu sebelum kawin saya sudah pernah pakai !" Pasangan suami istri tersebut kemudian pergi sambil membawa bekal kondom tadi. Setelah beberapa waktu si istri kembali kepada dokter dan bercerita bahwa haidnya belum juga datang. Dokter bertanya : "Apakah bapaknya tiap kali pakai alat tadi, bu ?" Si istri : "Wah, bapak sering malas, jadi saya yang pakai saja !" Dokter : "Lho, caranya bagaimana ?" Si istri : "Saya makan satu biji sebelum campur !" Dokter : "Wah, salah ! Itu tidak untuk dimakan !" Si istri : "Pantas sekarang tiap kali saya kentut, keluar plembungannya (balon) !" OLH KEMANA ? Pengalaman dokter gigi di desa macam-macam. Ada pasien, seorang kakek tua, yang gigi gerahamnya berlubang. Harus dicabut ! Ke-mudian dokter memberikan suntikan anestesi lokal, dan menyuruhnya menunggu di luar. Setelah beberapa saat dokter membuka pintu dan menyilahkan pasien tersebut masuk. Tapi ........................... ruangan telah kosong, pasien tersebut telah pergi, mungkin diki-ranya pengobatan telah selesai . . . . atau uangnya yang tidak cukup, sehingga harus Sri r
  • 63.
    Cermin Dunia KedokteranNo. 34, 1984 63 i‚a~ili RUANG PENYE GAR DAN PENAMBAH ILMU KEDOKTERAN Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini ??? 1. Afasia adalah gangguan bahasa, dan biasanya : (a) disertai gangguan persepsi (b) disertai gangguan memori (c) disertai gangguan emosi (d) disertai gangguan kognitif (e) tidak disertai gangguan fungsi luhur di atas. 2. Prinsip dari rehabilitasi(speech therapy) penderita afasia: (a) dimulai seawal mungkin (b) komunikasi dengan isyarat jangan digunakan (c) materi pelajaran perlu diulang-ulang (d) penyertaan keluarga adalah mutlak (e) semua di atas benar. 3. Mengenai disfungsi otak m inor pada anak, pernyataan y ang tidak benar ialah : (a) diduga diderita oleh5 - 25% anak-anak usia sekolah. (b) dapat mengalami kesulitan membaca, menulis, meng-hitung, atau berbahasa. (c) anak dengan kesulitan belajar tak perlu pemeriksaan neurologik. (d) riwayatnya : tidak dapat diam, sering tersandung dan jatuh, sulit mengikat tali sepatu, sulit mengancing baju, dan lain-lain. (e) terapinya antara lain obat psikostimulan dan cerebral-metabolic vasodilators. 4. Obat-obat untuk insufisiensi otak, umumnya masih diper-debatkan efektivitasnya. Tapi, secara umum, tujuannya ialah sebagai berikut, kecuali : (a) perbaikan pemakaian0 2 dan glukosa oleh otak (b) penghambatan sintesis protein otak, misalnya dengan heksobendin (c) peningkatan resistensi otak terhadap hipoksia. (d) perbaikan sirkulasi serebral, misalnya dengan nikotinat. (e) semua jawaban benar. 5. Pada penanggulangan stroke; yang tidak benar ialah : (a) penderita hipertensi berat cukup bila tekanan ditu-runkan sampai 160/110 mmHg pada fase akut. (b) pemberian deksametason masih kontroversial. (c) bila pasien dapat minum, gliserol dapat diberikan per-oral, meskipun efeknya masih kontroversial. (d) pemberian vasodilatansia dan oksigen sangat berguna. (e) yang terpenting ialah perawatan umum dan mengobati faktor risiko. 6. Pada cedera otak, manakah pernyataan beriku t yang tidak benar ? (a) fraktur tengkorak, tanpa kelainan neurologik, secara klinik tidak begitu berarti. (b) diantara saraf otot mata, yang sering terkena ialah Saraf III, sehingga mengalami d iplopia. (c) Saraf ke VII dan VIII sering cuma mengalami ganggu-an karena edema. (d) Saraf vagus jarang terkena, karena bila terkena biasanya penderita mati. (e) semua jawaban di atas benar. 7. Tumor otak yang paling banyak didapatkan ialah jenis : (a) glioma (b) meningioma (c) adenoma hipofisis (d) tumor metastasis (e) tumor pembuluh darah. 8. Pada tumor otak : (a) Nyeri kepala ditemukan pada sebagian besar pasien. (b) Pada sebagian besar pasien didapatkan kejang umum. (c) dapat ditemukan gejala bradikardia dan hipertensi. (d) Gangguan mental, seperti halusinasi, tak pernah di-jumpai . (e) Papil edema jarang ditemukan. 9. Penanggulangan penderita insomnia kronik adalah sebagai berikut, kecuali : (a) lebih dipilih benzodiazepin y ang kerjanya singkat. (b) dapat dicoba pemberian antidepresan, meskipun gejalanya tak jelas. (c) higiene tidur dan olah raga penting sekali. (d) bila diberikan hipnotik, dipilih dosis seringan mungkin; kalau perlu diberikan intermiten. (e) benzodiazepin lebih dipilih daripada fenobarbital. 10. Mana diantara keadaan ini y ang tak dapat menyebabkan ketulian ? (a) Keturunan (b) Influena (c) Diabetes melitus (d) Vitamin B-1 (e) Penyakit Meniere. 3 '8 fl 'b V 'L '£ D'01 S ' 9 3 ' Z V'6 a ' S 3 ' 1 7I1dd)l uageMa
  • 64.
    64 Cermin DuniaKedokteran No. 34, 1984 ABSTRAK AB5TRAK PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG Pelayanan kesehatan jiwa di negara-negara berkembang, lebih banyak dikenal pada saat ini daripada 10 tahun yang lalu. Yaitu, sejak WHO membentuk suatu badan khusus untuk mempelajari strategi supaya pelayanan kesehatan jiwa itu berhasil. Berikut ini adalah kesimpulan-kesimpulan yang dicapai oleh Badan tersebut : (a) Kebutuhan akan pelayanan kesehatan jiwa antara masyarakat pedesaan dan perkotaan adalah sama besar. (b) Sebagai primary health care, sistem desentralisasi bagi pelayanan kesehatan jiwa baik di desa dan di kota untuk negara-negara berkembang, dapat dilaksanakan. (c) Selain oleh dokter umum, pelayanan kesehatan jiwa dapat juga dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah mendapat latihan sekedarnya. Cara seperti ini telah digu. nakan dibanyak pusat kesehatan, dan pedoman latihan diterbitkan dalam bahasa se-tempat. (d) Ketrampilan menolong penderita gangguan jiwa perlu diberikan pada semua staf medis; bukan hanya untuk menolong penderita gangguan jiwa, tapi untuk meningkatkan mutu segala bentuk pelayanan kesehatan. (e) Ketrampilan dalam ilmu mengenai tingkah-laku, pada saat yang bersamaan dapat menolong dalam formulasi dan implementasi program kesehatan masyarakat, yang mempromosikan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa. Kris WHO Technical Report Series, No 698, 1984; 30 - 31 DUA LANGKAH UNTUK BERUBAH MENJADI KANKER Oleh 3 team peneliti masing-masing : R. Weinberg dari MIT, USA, E. Rodey dari Cold Spring Harbour U.S.A dan R.F. Newbold/R.W. Overell dari Institute of Cancer Re-search dari Inggeris telah ditemukan bahwa untuk perubahan sel-sel normal menjadi sel-sel kanker (ganas) diperlukan 2 langkah : Langkah I, disebut immortalization, yaitu berubahnya sel-sel normal sedemikian rupa sehingga dapat hidup selama-lamanya dalam laboratorium, Sel-sel normal biasanya akan mati setelah 1k. 50 generasi. Langkah II, diperlukan impuls atau rangsang agar sel-sel dapat membagi-bagi diri secara cepat. Urutan kedua langkah ini tidak menjadi soal, akan tetapi kedua-duanya mutlak untuk mengubah sel-sel normal menjadi sel yang ganas. Perubahan ini dapat disebabkan oleh gen-gen virus, zat-zat karsinogenik, atau oleh oncogenes, yaitu gen-gen binatang yang bertalian dengan jenis-jenis kanker tertentu. OLH "CHILD ABUSE" Science, Nov. 1983 "Child abuse" merupakan suatu tragedi bagi anak. Ia merupakan contoh rasa saling tidak mengerti antara orang tua dengan anaknya. Bahkan sering-sering menimbulkan keterasingan sang ibu dari bayinya. Perlu dipertimbangkan di sini sensasi yang berlainan antara ibu dan bayi pada saat dilahirkan. Kelahiran, bagi ibu adalah peristiwa dramatik yang menyakitkan dan melelahkan. Sang bayi, yang biasanya hidup dalam rahim ibunya, tiba-tiba harus hidup dalam dunia "luar". Pelukan dan buaian dari ibunya itu perlu supaya perubahan tersebut tidak terlalu besar dirasakan. Tapi, yang sering terjadi, bayi dipisahkan dari ibunya, dan diletakkan begitu saja dalam box. Tentunya, perubahan ini terasa besar bagi bayi dan amat tidak menyenangkan. Mungkin berbicara tentang cinta sudah ketinggalan jaman, tapi bernyanyi lagu cinta adalah mode. Yang dibutuhkan bagi bayi dan setiap orang, yaitu keinginan untuk dicintai dan perasaan aman. Bayi yang tidak dicintai akan menangis. Menangis merupakan satu-satunya cara bagi bayi untuk menuntut sesuatu, Adalah kewajiban seorang ibu untuk mengetahui apa yang dimaui bayinya bila ia menangis. Misalnya, keinginan untuk dicintai! Kris Up date Jan 1984; 29