MODEL,PENDEKATAN DAN TEKNIK SUPER VISI PENDIDIKAN.
A. MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN
odel supervisi dalam konteks pendidikan adalah pendekatan yang digunakan oleh para
administrator atau pemimpin sekolah untuk mendukung pengembangan guru dan
peningkatan kualitas pendidikan di sebuah lembaga pendidikan. Model ini memiliki berbagai
pendekatan dan strategi yang dapat digunakan untuk membantu guru mengembangkan
keterampilan mereka, meningkatkan efektivitas pengajaran, dan mencapai tujuan pendidikan
yang telah ditetapkan. Berikut adalah beberapa model supervisi pendidikan yang umum
digunakan:
1. Model Supervisi Klinis: Model ini sering digunakan untuk membantu guru-guru baru.
Supervisor bekerja sama dengan guru secara individual untuk memberikan umpan balik yang
spesifik tentang pengajaran mereka. Guru dan supervisor berkolaborasi untuk merencanakan
tindakan perbaikan dan pengembangan.
2. Model Supervisi Formatif: Model ini berfokus pada pengembangan profesional guru.
Supervisor dan guru bekerja sama untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan
pengembangan profesional yang sesuai dengan kebutuhan guru. Model ini lebih berorientasi
pada perbaikan pengajaran daripada pemantauan atau penilaian.
3. Model Supervisi Transformasional: Model ini berusaha untuk mengubah budaya sekolah dan
meningkatkan kualitas pengajaran secara keseluruhan. Supervisor bekerja sama dengan tim
pengajar untuk mengidentifikasi masalah yang lebih besar dalam pendidikan dan
mengembangkan strategi perbaikan yang lebih luas.
4. Model Supervisi Pengajaran Kolaboratif: Model ini mendorong kolaborasi antara guru dan
supervisor. Supervisor bekerja sebagai rekan yang mendukung guru dalam merencanakan
dan mengembangkan pengajaran. Guru dan supervisor bekerja sama untuk menentukan
tujuan pembelajaran yang jelas dan memantau kemajuan.
5. Model Supervisi Pemeriksaan: Model ini lebih berfokus pada pemantauan dan evaluasi
pengajaran. Supervisor melakukan pemantauan reguler terhadap kinerja guru dan
memberikan umpan balik serta saran. Model ini lebih bersifat penilaian.
6. Model Supervisi Diri: Model ini mendorong guru untuk menjadi lebih otonom dalam
pengembangan profesional mereka. Guru merencanakan dan memantau pengajarannya
sendiri, seringkali dengan dukungan supervisor sebagai sumber umpan balik.
7. Model Supervisi Desentralisasi: Model ini memberikan lebih banyak kontrol kepada guru
dalam proses supervisi. Guru dan tim pengajar memiliki kendali lebih besar dalam
merencanakan dan melaksanakan pengembangan profesional mereka sendiri.
Setiap model memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan pemilihan model
supervisi tergantung pada konteks, tujuan, dan kebutuhan sekolah atau lembaga pendidikan
tertentu. Penting untuk diingat bahwa supervisi pendidikan harus mendukung pertumbuhan
profesional guru dan peningkatan kualitas pengajaran, bukan hanya sebagai alat evaluasi
atau pemantauan.
B. PENDEKATAN SUPERVISI PENDIDIKAN
Pendekatan supervisi dalam konteks pendidikan adalah suatu proses di mana seorang
supervisor atau pengawas pendidikan bekerja sama dengan seorang guru atau pendidik
untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran di kelas. Pendekatan ini
bertujuan untuk memberikan dukungan, umpan balik, dan bimbingan kepada guru agar
mereka dapat mengembangkan keterampilan mengajar mereka, memotivasi siswa, dan
mencapai tujuan pembelajaran. Ada beberapa pendekatan supervisi pendidikan yang
berbeda, di antaranya adalah:
1) Pendekatan Formatif (Formative Approach): Pendekatan ini lebih fokus pada
perkembangan profesional guru. Supervisor bekerja sama dengan guru untuk
merencanakan, mengamati, memberikan umpan balik, dan merancang strategi
perbaikan. Tujuannya adalah untuk membantu guru memahami kekuatan dan
kelemahan mereka serta memberikan dukungan untuk perbaikan berkelanjutan.
2) Pendekatan Sumatif (Summative Approach): Pendekatan ini lebih berfokus pada
penilaian hasil akhir dari pengajaran. Supervisor mengumpulkan data dan informasi
tentang kinerja guru selama periode tertentu, dan hasilnya dapat digunakan untuk
keputusan penilaian, seperti promosi atau penggantian guru. Pendekatan ini kurang
berfokus pada pengembangan profesional guru.
3) Pendekatan Normatif (Normative Approach): Pendekatan ini melibatkan penggunaan
standar atau norma yang telah ditetapkan untuk menilai kinerja guru. Supervisor
membandingkan kinerja guru dengan standar tersebut dan memberikan umpan balik
berdasarkan perbedaan yang ada.
4) Pendekatan Kolaboratif (Collaborative Approach): Dalam pendekatan ini, supervisor
dan guru bekerja sama sebagai mitra dalam meningkatkan pengajaran dan
pembelajaran. Mereka berkolaborasi dalam merencanakan pelajaran, mengamati
kelas, merancang strategi perbaikan, dan membagikan tanggung jawab untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang lebih baik.
5) Pendekatan Sistemik (Systemic Approach): Pendekatan ini melibatkan pemahaman
bahwa kualitas pengajaran dan pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor di
tingkat sistem pendidikan. Supervisor bekerja untuk memahami dan mengelola
interaksi antara guru, siswa, kurikulum, dan lingkungan belajar.
6) Pendekatan Transformasional (Transformational Approach): Pendekatan ini berfokus
pada mengubah budaya sekolah dan pengajaran. Supervisor berperan sebagai
pemimpin yang menginspirasi guru untuk berinovasi, berkolaborasi, dan berfokus
pada pembaruan dalam pengajaran dan pembelajaran.
Pendekatan supervisi pendidikan yang efektif akan bervariasi tergantung pada konteks,
tujuan, dan kebutuhan individu atau sekolah. Yang terpenting, supervisi pendidikan harus
mendukung pengembangan profesional guru dan meningkatkan pengalaman belajar siswa.
C. TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN
Teknik supervisi pendidikan adalah suatu proses pengawasan dan bimbingan yang dilakukan
oleh seorang atasan atau supervisor terhadap guru atau pendidik dalam rangka
meningkatkan mutu pendidikan. Tujuan utama dari teknik supervisi pendidikan adalah untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran, meningkatkan kompetensi guru, dan mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan. Berikut adalah beberapa teknik supervisi pendidikan yang
umum digunakan:
a. Observasi Kelas: Supervisor mengamati proses pembelajaran di dalam kelas guru.
Observasi dapat dilakukan secara terjadwal atau tak terjadwal. Hasil observasi ini
kemudian digunakan untuk memberikan umpan balik kepada guru tentang kekuatan
dan kelemahan dalam pembelajaran mereka.
b. Wawancara: Supervisor melakukan wawancara dengan guru untuk membahas
berbagai aspek pembelajaran, termasuk perencanaan pelajaran, strategi pengajaran,
dan evaluasi. Wawancara ini dapat membantu supervisor memahami pandangan
guru tentang pembelajaran mereka.
c. Pemeriksaan Materi Ajar: Supervisor memeriksa bahan ajar yang digunakan oleh
guru, seperti rencana pelajaran, buku teks, dan materi pembelajaran lainnya. Hal ini
bertujuan untuk memastikan bahwa materi ajar sesuai dengan kurikulum dan
memenuhi standar pendidikan yang ditetapkan.
d. Analisis Hasil Ujian: Supervisor menganalisis hasil ujian atau evaluasi yang dilakukan
oleh guru untuk mengukur pencapaian siswa. Hasil ini dapat digunakan untuk
mengevaluasi efektivitas pengajaran guru.
e. Penyediaan Dukungan: Supervisor memberikan dukungan kepada guru dengan
memberikan saran, pelatihan, atau bahan referensi tambahan yang dibutuhkan
untuk meningkatkan kemampuan mengajar.
f. Kolaborasi Guru: Mendorong kolaborasi antara guru-guru dalam tim atau sekolah. Ini
bisa melibatkan pertemuan rutin, pertukaran ide, atau proyek bersama yang
bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran secara kolektif.
g. Pengembangan Profesional: Mendorong guru untuk terlibat dalam kegiatan
pengembangan profesional, seperti pelatihan, kursus, atau workshop yang relevan
dengan bidangnya.
h. Pemberian Umpan Balik: Supervisor memberikan umpan balik yang konstruktif
kepada guru berdasarkan pengamatan dan analisis mereka. Umpan balik ini harus
jelas, spesifik, dan membantu guru untuk memperbaiki praktik pengajaran mereka.
i. Pemantauan Perkembangan: Supervisor secara teratur memantau perkembangan
guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran mereka. Ini dapat melibatkan
pemantauan jangka panjang untuk melihat perubahan yang signifikan dalam kinerja
guru.
j. Evaluasi Kinerja: Pada tingkat tertentu, supervisor dapat melakukan evaluasi formal
terhadap kinerja guru, yang mungkin mempengaruhi promosi, kenaikan gaji, atau
kebijakan lainnya.
Penting untuk dicatat bahwa teknik supervisi pendidikan harus dilakukan secara kolaboratif
dan memperhatikan kebutuhan dan aspirasi guru. Tujuannya bukan hanya untuk menilai,
tetapi juga untuk mendukung perkembangan profesional guru dan meningkatkan kualitas
pendidikan secara keseluruhan.

makalah supervisi

  • 1.
    MODEL,PENDEKATAN DAN TEKNIKSUPER VISI PENDIDIKAN. A. MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN odel supervisi dalam konteks pendidikan adalah pendekatan yang digunakan oleh para administrator atau pemimpin sekolah untuk mendukung pengembangan guru dan peningkatan kualitas pendidikan di sebuah lembaga pendidikan. Model ini memiliki berbagai pendekatan dan strategi yang dapat digunakan untuk membantu guru mengembangkan keterampilan mereka, meningkatkan efektivitas pengajaran, dan mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Berikut adalah beberapa model supervisi pendidikan yang umum digunakan: 1. Model Supervisi Klinis: Model ini sering digunakan untuk membantu guru-guru baru. Supervisor bekerja sama dengan guru secara individual untuk memberikan umpan balik yang spesifik tentang pengajaran mereka. Guru dan supervisor berkolaborasi untuk merencanakan tindakan perbaikan dan pengembangan. 2. Model Supervisi Formatif: Model ini berfokus pada pengembangan profesional guru. Supervisor dan guru bekerja sama untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan pengembangan profesional yang sesuai dengan kebutuhan guru. Model ini lebih berorientasi pada perbaikan pengajaran daripada pemantauan atau penilaian. 3. Model Supervisi Transformasional: Model ini berusaha untuk mengubah budaya sekolah dan meningkatkan kualitas pengajaran secara keseluruhan. Supervisor bekerja sama dengan tim pengajar untuk mengidentifikasi masalah yang lebih besar dalam pendidikan dan mengembangkan strategi perbaikan yang lebih luas. 4. Model Supervisi Pengajaran Kolaboratif: Model ini mendorong kolaborasi antara guru dan supervisor. Supervisor bekerja sebagai rekan yang mendukung guru dalam merencanakan dan mengembangkan pengajaran. Guru dan supervisor bekerja sama untuk menentukan tujuan pembelajaran yang jelas dan memantau kemajuan. 5. Model Supervisi Pemeriksaan: Model ini lebih berfokus pada pemantauan dan evaluasi pengajaran. Supervisor melakukan pemantauan reguler terhadap kinerja guru dan memberikan umpan balik serta saran. Model ini lebih bersifat penilaian. 6. Model Supervisi Diri: Model ini mendorong guru untuk menjadi lebih otonom dalam pengembangan profesional mereka. Guru merencanakan dan memantau pengajarannya sendiri, seringkali dengan dukungan supervisor sebagai sumber umpan balik. 7. Model Supervisi Desentralisasi: Model ini memberikan lebih banyak kontrol kepada guru dalam proses supervisi. Guru dan tim pengajar memiliki kendali lebih besar dalam merencanakan dan melaksanakan pengembangan profesional mereka sendiri. Setiap model memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan pemilihan model supervisi tergantung pada konteks, tujuan, dan kebutuhan sekolah atau lembaga pendidikan tertentu. Penting untuk diingat bahwa supervisi pendidikan harus mendukung pertumbuhan
  • 2.
    profesional guru danpeningkatan kualitas pengajaran, bukan hanya sebagai alat evaluasi atau pemantauan. B. PENDEKATAN SUPERVISI PENDIDIKAN Pendekatan supervisi dalam konteks pendidikan adalah suatu proses di mana seorang supervisor atau pengawas pendidikan bekerja sama dengan seorang guru atau pendidik untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran di kelas. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan dukungan, umpan balik, dan bimbingan kepada guru agar mereka dapat mengembangkan keterampilan mengajar mereka, memotivasi siswa, dan mencapai tujuan pembelajaran. Ada beberapa pendekatan supervisi pendidikan yang berbeda, di antaranya adalah: 1) Pendekatan Formatif (Formative Approach): Pendekatan ini lebih fokus pada perkembangan profesional guru. Supervisor bekerja sama dengan guru untuk merencanakan, mengamati, memberikan umpan balik, dan merancang strategi perbaikan. Tujuannya adalah untuk membantu guru memahami kekuatan dan kelemahan mereka serta memberikan dukungan untuk perbaikan berkelanjutan. 2) Pendekatan Sumatif (Summative Approach): Pendekatan ini lebih berfokus pada penilaian hasil akhir dari pengajaran. Supervisor mengumpulkan data dan informasi tentang kinerja guru selama periode tertentu, dan hasilnya dapat digunakan untuk keputusan penilaian, seperti promosi atau penggantian guru. Pendekatan ini kurang berfokus pada pengembangan profesional guru. 3) Pendekatan Normatif (Normative Approach): Pendekatan ini melibatkan penggunaan standar atau norma yang telah ditetapkan untuk menilai kinerja guru. Supervisor membandingkan kinerja guru dengan standar tersebut dan memberikan umpan balik berdasarkan perbedaan yang ada. 4) Pendekatan Kolaboratif (Collaborative Approach): Dalam pendekatan ini, supervisor dan guru bekerja sama sebagai mitra dalam meningkatkan pengajaran dan pembelajaran. Mereka berkolaborasi dalam merencanakan pelajaran, mengamati kelas, merancang strategi perbaikan, dan membagikan tanggung jawab untuk mencapai tujuan pembelajaran yang lebih baik. 5) Pendekatan Sistemik (Systemic Approach): Pendekatan ini melibatkan pemahaman bahwa kualitas pengajaran dan pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor di tingkat sistem pendidikan. Supervisor bekerja untuk memahami dan mengelola interaksi antara guru, siswa, kurikulum, dan lingkungan belajar. 6) Pendekatan Transformasional (Transformational Approach): Pendekatan ini berfokus pada mengubah budaya sekolah dan pengajaran. Supervisor berperan sebagai pemimpin yang menginspirasi guru untuk berinovasi, berkolaborasi, dan berfokus pada pembaruan dalam pengajaran dan pembelajaran. Pendekatan supervisi pendidikan yang efektif akan bervariasi tergantung pada konteks, tujuan, dan kebutuhan individu atau sekolah. Yang terpenting, supervisi pendidikan harus mendukung pengembangan profesional guru dan meningkatkan pengalaman belajar siswa.
  • 3.
    C. TEKNIK SUPERVISIPENDIDIKAN Teknik supervisi pendidikan adalah suatu proses pengawasan dan bimbingan yang dilakukan oleh seorang atasan atau supervisor terhadap guru atau pendidik dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Tujuan utama dari teknik supervisi pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, meningkatkan kompetensi guru, dan mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Berikut adalah beberapa teknik supervisi pendidikan yang umum digunakan: a. Observasi Kelas: Supervisor mengamati proses pembelajaran di dalam kelas guru. Observasi dapat dilakukan secara terjadwal atau tak terjadwal. Hasil observasi ini kemudian digunakan untuk memberikan umpan balik kepada guru tentang kekuatan dan kelemahan dalam pembelajaran mereka. b. Wawancara: Supervisor melakukan wawancara dengan guru untuk membahas berbagai aspek pembelajaran, termasuk perencanaan pelajaran, strategi pengajaran, dan evaluasi. Wawancara ini dapat membantu supervisor memahami pandangan guru tentang pembelajaran mereka. c. Pemeriksaan Materi Ajar: Supervisor memeriksa bahan ajar yang digunakan oleh guru, seperti rencana pelajaran, buku teks, dan materi pembelajaran lainnya. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa materi ajar sesuai dengan kurikulum dan memenuhi standar pendidikan yang ditetapkan. d. Analisis Hasil Ujian: Supervisor menganalisis hasil ujian atau evaluasi yang dilakukan oleh guru untuk mengukur pencapaian siswa. Hasil ini dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas pengajaran guru. e. Penyediaan Dukungan: Supervisor memberikan dukungan kepada guru dengan memberikan saran, pelatihan, atau bahan referensi tambahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan mengajar. f. Kolaborasi Guru: Mendorong kolaborasi antara guru-guru dalam tim atau sekolah. Ini bisa melibatkan pertemuan rutin, pertukaran ide, atau proyek bersama yang bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran secara kolektif. g. Pengembangan Profesional: Mendorong guru untuk terlibat dalam kegiatan pengembangan profesional, seperti pelatihan, kursus, atau workshop yang relevan dengan bidangnya. h. Pemberian Umpan Balik: Supervisor memberikan umpan balik yang konstruktif kepada guru berdasarkan pengamatan dan analisis mereka. Umpan balik ini harus jelas, spesifik, dan membantu guru untuk memperbaiki praktik pengajaran mereka. i. Pemantauan Perkembangan: Supervisor secara teratur memantau perkembangan guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran mereka. Ini dapat melibatkan pemantauan jangka panjang untuk melihat perubahan yang signifikan dalam kinerja guru.
  • 4.
    j. Evaluasi Kinerja:Pada tingkat tertentu, supervisor dapat melakukan evaluasi formal terhadap kinerja guru, yang mungkin mempengaruhi promosi, kenaikan gaji, atau kebijakan lainnya. Penting untuk dicatat bahwa teknik supervisi pendidikan harus dilakukan secara kolaboratif dan memperhatikan kebutuhan dan aspirasi guru. Tujuannya bukan hanya untuk menilai, tetapi juga untuk mendukung perkembangan profesional guru dan meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.